Anda di halaman 1dari 12

Anemia pada Penyakit Kronik

Guenter Weiss, M. D., and Lawrence T.


Goodnough, M. D.

Pembimbing : dr. Wizhar,


SpPD
Indah Libryan S
110.2003.131

Gambaran Patofisiologi
Anemia pada penyakit kronik dikendalikan oleh imun; sitokin dan sel
sistem retikuloendotelial
Eritropoeisis dapat dipengaruhi oleh penyakit yang menyertai anemia
pada penyakit kronik melalui infiltrasi sel tumor pada sumsum tulang
atau mikroorganisme.
Sel tumor merusak sel progenitor eritroid.
Perdarahan, defisiensi vitamin (seperti kobalamin dan asam folat),
hipersplenism, hemolisis autoimun, disfungsi ginjal dan intervensi
radio dan kemoterapi anemia.
Anemia dengan penyakit ginjal kronik penurunan pada produksi
eritropoetin, dimediasi oleh insufisiensi ginjal dan antiproliferatif
mempengaruhi akumulasi toksin uremia

Disregulasi Hemostasis Besi


Ciri khas anemia pada penyakit kronik adalah perkembangan
gangguan hemostasis besi, dengan peningkatan ambilan dan retensi
besi dalam sel sistem retikuloendotelial.
Pada inflamasi kronik, besi yang didapat oleh makrofage berlangsung
melalui eritrofagositosis dan impor transmembran besi ferro oleh
protein pengantar besi divalen 1 (DMT1).
Interferon , lipopolisakarida, dan TNF- mengatur peningkatan
expresi DMT1, dengan peningkatan ambilan besi pada makrofage
yang teraktivasi.
Stimuli proinflamasi menginduksi retensi besi pada makrofage oleh
pengaturan penurunan expresi ferroportin, sehingga menghambat
pelepasan besi

Ferroportin adalah pengekspor besi transmembran, sebuah proses


yang dipercaya bertanggung jawab untuk transfer besi ferro yang
diserap dari enterosit duodenal ke sirkulasi.
Gangguan hemostasis besi dengan pembatasan dari avaibilitas besi
untuk sel progenitor eritroid tampak merusak proliferasi sel ini
dengan secara negatif mempengaruhi biosintesis heme.

Gangguan Proliferasi Sel Progenitor


Eritroid
Pada pasien dengan anemia pada penyakit kronik, proliferasi dan
diferensiasi prekursor eritroid dirusak dan dikaitkan dengan efek
penghambatan interferon ,-, dan , TNF-, dan interleukin -1.
Sitokin menggunakan efek toksik langsung pada sel progenitor
dengan penginduksian pembentukan radikal bebas yang labil seperti
oksida nitrit atau anion peroksida oleh sel seperti makrofage yang
berdekatan.

Respon Eritropoeitin yang Tumpul


Eritropoetin mengatur proliferasi sel eritroid secara terpusat. Eritropoetin
berkaitan dengan oksigenasi jaringan dan kadar hemoglobin.
Sitokin interleukin-1 dan TNF- secara langsung menghambat ekspresi
eritropoietin invitro, membalikan efek afinitas pengikatan faktor transkripsi
yang menginduksi eritopoietin dan juga merusak sel yang menghasilkan
eritropoietin.
Respon eritropoetin menurun
trjd krn penghambatan sitokin
proinflamasi krn proliferasi sel progenitor eritroid, regulasi penurunan
paralel dari reseptor eritropoietin, keterbatasan avaibilitas besi untuk
mengkontribusi proliferasi sel & sintesis hemoglobin peningkatan
eritrofagosistosis menyebabkan penurunan waktu paruh eritrosit
anemia

Evaluasi Laboratorium
Status Besi
Anemia pada penyakit kronik adalah anemia normokromik,
normositik yang dicirikan dari ringan (kadar hemoglobin 9,5 g/dl)
hingga sedang (kadar hemoglobin 8 g/dl). Pasien dengan kondisi
jumlah retikulosit yang rendah mengindikasikan produksi sel darah
merah yang rendah.
Pada anemia penyakit kronik, penurunan saturasi transferin sebuah
cerminan penurunan kadar besi serum.
Eritropoetin
Pengukuran kadar eritropoietin berguna hanya untuk pasien dengan
kadar hemoglobin kurang dari 10 g/dl.
Kadar eritropoietin pada anemia penyakit kronik dengan kadar
hemoglobin kurang dari 10 g/dl harus melakukan perhitungan derajat
anemia.

Terapi
Transfusi
Transfusi darah sebagai intervensi terapetik cepat dan efektif.
Transfusi membantu pada konteks baik anemia berat ( pada kadar
hemoglobin kurang dari 8 g/ dl) atau anemia yang mengancam jiwa (
kadar hemoglobin kurang dari 6,5 g/dl), khususnya jika kondisi
diperburuk dengan komplikasi yang melibatkan perdarahan.
Terapi Besi
Besi adalah nutrien esensial untuk proliferasi mikroorganisme,
penyimpanan besi dari mikroorganisme atau sel tumor ke sistem
retikuloendotelial dipercaya efektif untuk menghambat pertumbuhan
patogen.
Besi parenteral meningkatkan tingkat respon terapi dengan agen
eritropoietik pada pasien dengan kanker yang menjalani kemoterapi
dan pasien yang menjalani hemodialisis.

Agen Eritropoietik
Efek terapetik melibatkan penetralan efek antiproliferasi sitokin,
bersama dengan stimulasi ambilan besi dan biosintesis heme pada sel
progenitor eritroid. Respon yang buruk pada terapi eritropoietik
dikaitkan dengan peningkatan kadar sitokin proinflamatori dan
avaibilitas besi yang buruk.
Pemberian epoetin jangka panjang telah dilaporkan menurunkan
kadar TNF- pada pasien dengan penyakit ginjal kronik
Terapi kombinasi dengan epoetin dan besi tidak hanya meningkatkan
kadar hemoglobin tetapi juga menghasilkan penurunan aktivitas
penyakit.
Pasien yang menerima agen eritropoietik, target kadar hemoglobin
sebaiknya 11-12 g/dl.

Pengawasan Terapi
Untuk pengawasan respon pada agen eritropoietik, kadar
hemoglobin sebaiknya ditentukan setelah empat minggu terapi dan
interval 2-4 minggu setelahnya. Jika kadar hemoglobin meningkat
kurang dari 1 g/dl, status besi sebaiknya dievaluasi ulang dan
suplementasi besi sebaiknya dipertimbangkan.
Dosis agen eritropoietik sebaiknya disesuaikan bilamana kadar
hemoglobin mencapai 12 g/dl. Jika respon tidak tercapai pasien
dipertimbangkan tidak responsif terhadap agen eritropoietik.

Kesimpulan
1.

Anemia penyakit kronis tjd krn


gangguan hemostasis besi
kerusakan proliferasi sel progenitor eritroid
respon eritropoitin yang tumpul terhadap anemia

2. Anemia pd penyakit kronik adalah normositik normokrom


3. Terapi kombinasi epoetin dan besi tdk hanya meningkatkan kadar
Hb tetapi menurunkan aktivitas penyakit
4. Penggunaan terapi kelasi besi dapat meningkatkan pembentukan
eritropoetin endogen