Anda di halaman 1dari 2

Pengelolaan Benda Tenggelam di Perairan Indonesia,

Harta Karun Bernilai Tinggi


Posted By: Redaksion: December 02, 2014In: Featured, Kelautan

BERHARGA Seorang penyelam tengah mengeksplorasi rongsokan pesawat di Biak,


Papua Barat. (Foto: Matthew Old Field/Photoshelter)
Jakarta, JMOL ** Domain maritim menyangkut seluruh aspek yang berkaitan dengan pengelolaan
sumberdaya dalam teluk, selat, sungai, danau, laut, samudera, maupun bawah air, dan ruang udara
di atasnya yang dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
Di bawah air terdapat berbagai sumberdaya yang menjadi komoditas bernilai tinggi. Salah satunya,
benda tenggelam. Komoditas seperti ini banyak ditemui di Indonesia. Meski demikian,
pengelolaannya belum maksimal.
Oleh karena itu, Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) mengadakan sosialisasi pengelolaan
benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam (BMKT) yang disampaikan Mayor Laut (KH)
Hery Supriyatno, dari Dinas Hukum Kolinlamil, bertempat di Gedung Laut Natuna, Mako Kolinlamil,
Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (2/12/2014).
Dalam sosialisasi BMKT tersebut, penceramah menyampaikan Keppres 18 tahun 2007 pasal 1
angka 1 bahwa yang dimaksud BMKT adalah benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam.
Benda berharga yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan ekonomi, serta
tenggelam di wilayah perairan, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia
paling singkat berumur lima puluh tahun.
Penceramah juga mengatakan bahwa TNI Angkatan Laut tidak hanya dituntut untuk menjaga batas
teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman pihak luar, melainkan turut menjaga
sumberdaya laut yang termasuk did alamnya BMKT.
Oleh karena itu, TNI AL harus terus memperketat pengawasannya menjaga sumberdaya tersebut
dari aksi survei maupun pengangkatan ilegal. Berdasarkan data Badan Penelitian dan

Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), terdapat 463 titik kapal tenggelam di
Indonesia. Bahkan data UNESCO menyebutkan, kurang lebih ada tiga juta kapal karam yang belum
ditemukan di dunia dan banyak di antaranya berada di sekitar kawasan Asia Tenggara.
Pentingnya Pengelolaan
Sementara itu, pengamat maritim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari
Pramodhawardani, menyatakan, bukan rahasia lagi jika di Indonesia menjadi pusat penelitian benda
berharga tenggelam. Karena, sejarah Nusantara mengalami perjalanan panjang dalam aspek
kemaritiman. Maka dari itu, pengelolaan warisan tersebut menjadi suatu yang wajib bagi negara jika
ingin mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Yang lebih pentingnya lagi dalam hal menjaga harta karun berupa kapal-kapal karam milik Portugis,
Spanyol, Belanda, Inggris, dan kapal-kapal milik kerajaan Nusantara yang karam atau tenggelam di
perairan kita memiliki nilai triliunan rupah. Kita tiba-tiba mendengar itu dicuri dengan kapal yang
lebih canggih kemudian dipamerkan di badan-badan lelang atau museum-museum di luar negeri.
Akhirnya, kita hanya bisa gigit jari, tandas Dani, begitu ia akrab disapa