Anda di halaman 1dari 39

Kebakaran Hutan Ancam Populasi Satwa Liar

Rabu, 21 Oktober 2015 14:44


Editor: Arief
Sumber:

http://pontianak.tribunnews.com/2015/10/21/kebakaran-hutan-ancam-populasi-satwa-

liar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BOGOR - Kebakaran hutan yang saat ini terjadi di banyak
wilayah Nusantara, sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup satwa liar.
Pakar Satwa Liar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ani Mardiastuti mengatakan, ujung
dari bencana ini adalah punahnya satwa liar.
"Kebakaran hutan dapat menyebabkan kematian langsung satwa liar. Mereka terbakar api dan
kekurangan oksigen akibat menghirup asap pembakaran," kata dia, Rabu (21/10/2015).
"Kita bisa menjumpai bangkai serangga, kucing hutan, ayam hutan, landak, trenggiling dan
sebagainya di sekitar area kebakaran," kata Ani lagi.
"Bahkan pernah dijumpai bangkai orang utan terbakar di pohon," sambungnya.
Ani mencontohkan, populasi Harimau Sumatera yang dulu ribuan, kini dalam beberapa tahun
terakhir menurun menjadi 400 sampai 500 ekor saja.
Sekarang, ditambah dengan adanya kebakaran hutan di Jambi, Riau dan Sumatera Selatan,
jumlah populasinya pasti kian menurun," kata Ani.
Menurut dia, satwa liar mempunyai manfaat yang tidak bisa dipandang remeh. Satwa liar
berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem alam. Jika populasinya menurun, keseimbangan alam
pasti terganggu.
Beberapa hewan seperti serangga dan kelelawar berfungsi sebagai polenator atau membantu
proses penyerbukan tanaman. Dengan kepunahan hewan tersebut, dikhawatirkan produksi
pangan turun.

Khusus di area kebakaran, bila sekiranya dijumpai satwa liar yang berkeliaran hendaknya
dihalau saja. Jangan diganggu, kalau mereka tidak mengganggu," kata dia.

WWF: Kebakaran Hutan Ancam Kepunahan Satwa


Dilindungi
Tanggal: 13 October 2014 19:04
Penulis: Fazar Muhardi
Sumber:

www.antarariau.com/berita/43986/wwf:-kebakaran-hutan-ancam-kepunahan-satwa-

dilindungi
Pekanbaru, (Antarariau.com) - Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara terus
menerus di Provinsi Riau dapat mengancam percepatan punahnya satwa-satwa dilindungi seperti
gajah dan harimau, demikian Organisasi World Wide Fund (WWF).
"Salah satu dampak akibat kebakaran yang terus marak, adalah menyempitnya habitat sehingga
potensi konflik antara manusia dengan satwa dilindungi itu semakin tinggi," kata Humas WWF
Riau, Syamsidar kepada Antara di Pekanbaru, Senin.
Menurut dia, jika penyempitan habitat terjadi secara terus menerus, maka hewan yang memiliki
daya jelajah jauh seperti gajah dan harimau akan memaksa keluar.
Syamsidar mengatakan, kebanyakan habitat gajah dan harimau yang sebelumnya merupakan
hutan alam, beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan dan hutan tanam industri, hal itu yang
pada akhirnya menyebabkan konflik dengan manusia.
"Karena mereka masih menganggap kawasan HTI dan perkebunan yang telah digarap manusia
itu masih merupakan kawasan jelajah mereka," katanya.
Setiap tahun sejak 17 tahun silam, kebakaran hutan dan lahan terjadi secara terus menerus,
menyebabkan jutaan hektare hutan kini telah beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan dan
HTI.
Tahun ini, demikian Syamsidar, tingkat kematian gajah bahkan meningkat tajam seiring dengan
maraknya peristiwa kebakaran hutan dan lahan.

WWF menyatakan sepanjang 2012 hingga 2014 telah ada sebanyak 43 kasus pembunuhan gajah
Sumatera liar di Provinsi Riau namun belum juga terungkap, sehingga dikhawatirkan akan makin
mempercepat laju berkurangnya populasi satwa dilindungi itu menuju kepunahan.
Menurut data WWF Riau, kasus pembunuhan gajah Sumatera liar pada 2012 yang belum
terungkap mencapai 15 kasus. Pada 2013, jumlahnya juga tinggi yakni mencapai 14 kasus
dimana 13 kematian gajah terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.
Sedangkan, pada 2014 jumlahnya makin meningkat karena pada kurun Januari-Maret sudah
ditemukan 14 kasus pembunuhan gajah.
Bahkan, satu kasus kematian terjadi dalam proses relokasi gajah liar dari habitatnya di hutan
Kabupaten Rokan Hulu ke Pusat Konservasi Gajah di Minas, Kabupaten Siak pada 1 Januari
lalu.
Sementara itu, satu kasus pembunuhan gajah ditemukan di konsesi perusahaan industri
kehutanan di daerah Duri, Kabupaten Bengkalis. Kemudian, 11 kasus kematian gajah juga
ditemukan di konsesi perusahaan di Kabupaten Pelalawan dimana belasan gajah mati baru
ditemukan ketika sudah dalam wujud kerangka.
Selain itu, satu gajah yang dipasang kalung GPS juga mati di Taman Nasional Tesso Nilo pada
Maret.
Syamsidar mengatakan, populasi gajah berdasarkan estimasi tahun 2009 di Riau mencapai 150200 ekor.
Namun, kata dia, jumlah itu kemungkinan besar berkurang jauh karena tingginya kasus
pembunuhan gajah pada tiga tahun terakhir.
Sementara itu berkaitan Harimau Sumatera, dia mengatakan WWF mengalami kesulitan dalam
menghitung populasi hewan dilindungi itu.
WWF Indonesia mulai menghitung populasi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sejak
tahun 2004 dan berdasarkan data kasar yang mereka peroleh dari tahun 1994, terdapat sekitar
400 ekor.

Sementara itu, berdasarkan Tiger Summit tahun 2010 di St. Petersburg, Rusia, negara-negara di
dunia yang memiliki harimau memperkirakan populasi harimau dunia berjumlah kurang dari
3.200 ekor. Harimau secara alami relatif berumur pendek dengan tingkat produktivitas tinggi
sehingga ketika survei, WWF harus memastikan tidak ada kelahiran, kematian dan migrasi.

Populasi harimau Sumatera masuki tahap kritis


Jerome Wirawan BBC Indonesia
5 Februari 2015
Sumber:
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/02/150205_harimau_sumatera_lingkungan

Penurunan populasi satwa langka di Asia sudah memasuki tahap kritis. Di Indonesia, jumlah
harimau Sumatera hanya tersisa kurang dari 400 ekor, meski langkah pemerintah untuk
menaikkan populasi harimau sudah dimulai sejak 2010 lalu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara berkala, lembaga konservasi lingkungan hidup
World Wildlife Fund, WWF, memprediksi jumlah harimau Sumatera terus menurun. Tanda-tanda
penurunan populasi harimau tampak di beberapa daerah di Sumatera, terutama di wilayah Riau.
Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF Indonesia, Sunarto, mengatakan populasi
harimau di wilayah Riau utara dulu cukup padat. Namun, saat ini boleh dibilang tidak ada,
kecuali di satu blok hutan yang relatif kecil di Senepis.
Kemudian di bagian selatan yang mengalami deforestasi sangat hebat, termasuk di daerah Tesso
Nilo, populasi harimau yang ditemukan akhir-akhir ini sangat sedikit.
Ini indikasi kuat bahwa harimau mengalami penurunan atau justru menghilang di tempat-tempat
yang habitatnya rusak atau terfragmentasi, kata Sunarto.
Perambahan hutan
Penyebab penurunan populasi harimau di Sumatera, menurut Sunarto, cukup beragam. Namun,
yang utama ialah perambahan hutan dan konversi lahan ke perkebunan sawit.
Hal ini diamini Rusmadya Maharuddin, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia. Khusus di
Riau, menurutnya, perambahan hutan dan konversi lahan terjadi di Senepis, Rimbang Baling,

dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Laju deforestasi tersebut praktis menghancurkan habitat
alami harimau dan satwa lainnya.
Soal deforestasi hutan pernah ditelaah mantan peneliti di Kementerian Kehutanan dan kini
bekerja di Universitas Maryland, Amerika Serikat, Belinda Margono. Dia menyebutkan
Indonesia mengalahkan angka deforestasi Brasil seluas 460.000 hektare, setahun setelah
moratorium penebangan hutan diberlakukan. Namun, Kementerian Kehutanan mengatakan laju
deforestasi jauh lebih kecil dibandingkan hasil penelitian tersebut.
Kalau kita lihat di Sumatera, hutannya hanya tersisa 25% hingga maksimum 27%. Kemudian
populasi harimau di bawah 400 ekor. Ini dua angka yang saling terhubung, kata Nyoman
Iswarayoga, direktur WWF Indonesia.
Image caption Aksi perambahan hutan dan ulah pemburu menjadi faktor penyebab penurunan
populasi harimau.
Ulah pemburu
Selain perambahan hutan, perburuan juga memiliki dampak negatif bagi populasi harimau.
Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF Indonesia, Sunarto, mengaku kerap
menemukan jerat yang khusus digunakan memerangkap harimau. Lalu ada pula jerat untuk
satwa mangsa harimau.
Harimau itu unik dalam artian bobot hewan buruannya di atas 20 kilogram, seperti rusa, kijang,
dan babi hutan. Kalau satwa-satwa itu semakin langka, harimau sulit untuk mendapat mangsa
dan populasinya pun terancam, kata Sunarto.
Penurunan populasi harimau di Sumatera, terutama di Riau, terjadi meski pemerintah telah
mencanangkan upaya menaikkan jumlah hewan tersebut sejak 2010. Sebagai gambaran peliknya
upaya tersebut, luas hutan di Riau mencapai ratusan ribu hektare yang harus dijaga segelintir
petugas.
Kita punya 426.000 hektare. Hutan di Rimbang Baling saja 90-an ribu hektare. Sedangkan
jumlah polisi hutan tidak sebanding dengan luas kawasan, kata Kamal Amas, kepala Balai
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau.

KEBAKARAN HUTAN ANCAM POPULASI


ORANG UTAN
06 Oct 2015 // 07:30 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

Sumber: http://suarakawan.com/kebakaran-hutan-ancam-populasi-orang-utan/
JAKARTA (suarakawan.com) Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera, Riau dan
Kalimantan bisa menyebabkan punahnya spesies orang utan di daerah tersebut.
Diperkirakan spesies seperti orang utan itu akan punah, karena mereka kan bergantung pada
pohon dan biji-bijian serta binatang-binatang kecil untuk makan. Jadi kalau terjadi kebakaran
yang memusnahkan sumber pangan mereka, kemungkinan mereka juga akan terdampak, kata
Rosihan Ubaidillah, Kepala Laboratorium Entomologi LIPI, seperti ditulis Selasa (6/10).
Rosihan menambahkan, bukan hanya orang utan yang terancam punah, namun beberapa spesies
binatang lain yang belum terinventarisir dengan baik bisa jadi punah tanpa diketahui.
Baseline studi kita masih sangat lemah jadi mungkin bahkan binatang yang kita tidak tahu pun
bisa jadi sudah punah. Beberapa jenis serangga kecil-kecil itu bisa jadi sudah hilang, katanya.
Rosihan mencontohkan, untuk invertebrata saja, Indonesia baru mampu menginventarisir kurang
dari 10 persen jumlah spesies yang ada. Padahal jumlah invertebrata di Indonesia sangat banyak
jumlahnya.
Makanya kita kejar-kejaran untuk invetarisasir kekayaan biodiversity kita kalau ada musibah
kebakaran begini, katanya.
Semua binatang immobile atau yang pergerakannya lamban pasti punah. Kalau burung sudah
pasti bisa terbang. Tapi binatang tanah, mikroba yang berpotensi untuk dijadikan obat akan
musnah, kata dia.
Akibatnya, kata Rosihan, saat spesies tersebut diperlukan untuk kesejahteraan umat manusia
seperti obat-obatan, maka kita sudah tidak akan mempunyai sumber daya lagi.
Kenapa kita lambat dalam inventarisir? Itu karena kita terbentur teknologi untuk inventarisir,
makanya kita menjalin kerjasama dengan negara lain. Jujur kalau masalah teknologi kita masih
kalah sama mereka tapi soal kekayaan alam kita luar biasa banyaknya, pungkasnya. (ant/rur)

Harimau Sumatera Hampir Punah, Balitbang


Bengkalis Teken Perjanjian Kerjasama dengan
BBKSDA Riau
Rabu, 29 Juli 2015 12:55 WIB
Sumber:

http://www.goriau.com/berita/lingkungan/harimau-sumatera-hampir-punah-balitbang-

bengkalis-teken-perjanjian-kerjasama-dengan-bbksda-riau.html
BENGKALIS, GORIAU.COM - Pemerintah kabupaten Bengkalis melalui Badan Penelitian
dan Pengembangan (Balitbang), Selasa (28/7/2015) kemarin meneken perjanjian kerjasama
tentang penelitian dan pengembangan dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
(BBKSDA) Riau dibawah pengawasan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik
Indonesia di Jakarta.
Perjanjian ini dalam rangka penguatan fungsi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu yang masuk
dalam kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu (CB GSK-BB) di kabupaten
Bengkalis. Kepala Balitbang kabupaten Bengkalis DR Sopyan Hadi SPi MT langsung
menandatangani perjanjian tersebut dengan Kepala BBKSDA Riau Ir Kemal Amas MSc di
gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.
"Balitbang dalam hal ini memiliki tujuan dan fungsi organisasi, untuk menggali ilmu
pengetahuan dalam penguatan fungsi di cagar biosfer akan melakukan rencana keterpaduan aksi
riset implementasi penangkaran semi alami harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) Tiger
Sanctuary Zone Cagar Biosphere SM Bukit Batu," ungkap Sopyan Hadi kepada GoRiau.com,
Rabu (29/7/2015) siang.
Lanjut Kepala Balitbang kabupaten Bengkalis juga dikenal sebagai pemerhati lingkungan dan
perintis penangkaran penyu di pulau Jemur, bahwa kerjasama riset ini didasari atas keberadaan
Cagar Biosfer dan keunikan harimau sumatera yang ada di Riau. Dimana dalam kondisi belum
dioptimalkan sebagai sumber ilmu pengetahuan alam tropis terbesar di dunia dan kondisinya
semakin memprihatinkan.

"Kritisnya populasi harimau Sumatera di dunia sudah masuk katagori 1 dan dikhawatirkan akan
segera punah. Oleh sebab itu perlu keterpaduan seluruh stake holder dan pencinta ilmu
pengetahuan serta lingkungan untuk sama-sama mendukung dan memperkuat kerjasama Tiger
Sanctuary Zone Cagar Visioner GSK-BB ini," ujarnya.
Menurut penerima penghargaan lingkungan KEHATI dan Setia Lestari Bumi tingkat nasional ini,
jangan sampai rencana ini terlambat dan hanya sebagai kenangan yang tidak dapat diwariskan
dan dilihat kelak hingaa anak cucu.
"Munculnya konflik habitat antara satwa khususnya harimau dengan manusia di beberapa
wilayah yang ada di kabupaten Bengkalis, perlu dilakukan upaya penyiapan tempat rehabilitasi
yang layak secara alamiah, seperti semi captive breeding dalam perlindungan harimau
kedepannya," katanya lagi.
Tujuan yang mendesak dari konservasi harimau, bagi Sopyan Hadi adalah untuk mengatasi
penurunan populasi harimau melalui strategi konservasi dengan metode penangkaran untuk
keperluan re-stocking populasi di alam melalui riset beberapa model dan ilmu pengetahuan
penangkaran harimau Sumatera di Indonesia.
"Model tempat penangkaran ini juga diharapkan dapat menjadi center of excelence studi
harimau Sumatera di Asia, yang keberadaannya satu-satunya berada di Riau yang sudah
mendunia," tutup Sopyan Hadi menjelaskan kepada GoRiau.com.(ric)

Populasi Harimau Sumatera Susut, 6 Kota


Kampanyekan Penyelamatan
By Reza Perdana
on 09 Agu 2015 at 19:31 WIB
Sumber:

http://news.liputan6.com/read/2289745/populasi-harimau-sumatera-susut-6-kota-

kampanyekan-penyelamatan
Liputan6.com, Medan - Prihatin dengan kian menurunnya jumlah harimau sumatera, sejumlah
elemen masyarakat menggelar kampanye memperingati Global Tiger Day atau Hari Harimau
Sedunia di Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara hari ini. Selain di Medan, kegiatan ini
serentak dihelat di 6 kota di Indonesia.
Menurut Ketua Forum HarimauKita, Yoan Dinata, menurunnya jumlah harimau sumatera
(Panthera tigris sumatrae) yang dalam data International Union for Conservation of Nature
(IUCN) tinggal 400-600 ekor, dikategorikan kritis dalam kepunahan daftar merah. Hal ini karena
semakin berkurangnya luasan hutan sebagai habitatnya.
Berdasarkan penelitian yang dipimpin Margono pada 2014, dalam rentang 2000-2012, ada
sekitar 2,8 juta hektare habitat harimau yang hilang. Itu sama dengan 590 hektare per hari atau
setara 900 kali lapangan sepak bola.
Ini adalah kali ketiga anak harimau Sumatera lahir di Kebun Binatang Chester, Inggris.
Berkurangnya luas hutan karena beruubah menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman
industri untuk bahan baku kertas, mebel, juga perambahan liar.
"Harimau sumatera merupakan jenis harimau terakhir yang masih tersisa di Indonesia setelah
punahnya harimau jawa dan harimau bali pada 1940-an dan 1980-an yang mana oleh pemerintah
dilindungi melalui UU RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistemnya," ucap Margono di Medan, Minggu (9/8/2015).

"Kami mengajak masyarakat untuk ambil bagian melindungi harimau sumatera dengan menjaga
dan melestarikan habitatnya," sambung Margono.

A. Orangutan Sumatera
Nama latin: Pongo abelii
Orangutan Sumatera adalah jenis orangutan yang paling terancam di antara dua spesies
orangutan yang ada di Indonesia. Dibandingkan dengan 'saudaranya' di Borneo, orangutan
Sumatera mempunyai perbedaan dalam hal fisik maupun perilaku. Spesies yang saat ini hanya
bisa ditemukan di propinsi-propinsi bagian utara dan tengah Sumatera ini kehilangan habitat
alaminya dengan cepat karena pembukaan hutan untuk perkebunan dan pemukiman serta
pembalakan liar.
Terdapat 13 kantong populasi orangutan di pulau Sumatera. Dari jumlah tersebut
kemungkinan hanya tiga kantong populasi yang memiliki sekitar 500 individu dan tujuh kantong
populasi terdiri dari 250 lebih individu. Enam dari tujuh populasi tersebut diperkirakan akan
kehilangan 10-15% habitat mereka akibat penebangan hutan sehingga populasi ini akan
berkurang dengan cepat.
Menurut IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi orangutan Sumatera telah mengalami
penurunan sebanyak 80%. Dalam kurun waktu 1998 da 1999, laju kehilangan tersebut dilaporkan
mencapai sektar 1000 orangutan per tahun dan terdapat di Ekosistem Leuser, salah satu luasan
hutan terbesar di bagian utara Pulau Sumatera. Saat ini populasi orangutan Sumatera
diperkirakan hanya tersisa sekitar 6.500-an ekor (Rencana Aksi dan Strategi Konservasi
Orangutan, Dephut 2007) dan dalam IUCN Red List edisi tahun 2002, orangutan Sumatera
dikategorikan Critically Endangered atau sudah sangat terancam kepunahan.
Ciri-ciri Fisik
Kebalikan dari orangutan Borneo, orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang
panjang pada orangutan jantan. Panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Berat
orangutan dewasa betina sekitar 30-50 kilogram, sedangkan yang jantan sekitar 50-90 kilogram.
Bulu-bulunya berwarna coklat kemerahan.

Jantan dewasa umumnya penyendiri sementara para betina sering dijumpai bersama
anaknya di hutan. Rata-rata setiap kelompok terdiri dari 1-2 orangutan dan kedua jenis kelamin
mempunyai daya jelajah sekitar 2-10 kilometer yang banyak bertumpang tindih tergantung pada
ketersediaan buah di hutan. Setelah disapih pada umur 3,5 tahun, anak orangutan akan
berangsur-angsur independen dari induknya setelah kelahiran anak yang lebih kecil. Orangutan
Sumatera betina mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi
sekitar 15 tahun.
Pola Makan
Sekitar 60% makanan orangutan adalah buah-buahan seperti durian, nangka, leci,
mangga dan buah ara, sementara sisanya adalah pucuk daun muda, serangga, tanah, kulit pohon
dan kadang-kadang telur serta vertebrata kecil. Mereka juga tidak hanya mendapatkan air dari
buah-buahan tetapi juga dari lubang-lubang pohon. Orangutan Sumatera diketahui menggunakan
potongan ranting untuk mengambil biji buah. Hal ini menunjukkan tingkat intelegensi yang
tinggi pada orangutan Sumatera.
Ancaman
Ancaman terhadap populasi orangutan Sumatera mencakup hilangnya habitat hutan yang
menjadi perkebunan sawit, pertambangan, pembukaan jalan, legal dan illegal logging, kebakaran
hutan dan perburuan.

Penurunan dan Hilangnya Habitat


Habitat orangutan di Sumatera menghilang dengan sangat cepat. Di Sumatera Utara,
diperkirakan tutupan hutan telah berkurang dari sekitar 3,1 juta hektar di tahun 1985
menjadi 1,6 juta hektar pada 2007. Sebaran orangutan di masa yang lalu diperkirakan
hingga ke Sumatera Barat (Yeager, 1999), tetapi saat ini sebaran orangutan di habitat
aslinya hanya terdapat di Aceh dan Sumatera Utara serta areal reintroduksi orangutan di
perbatasan Jambi dan Riau.
Sebuah rencana untuk membangun jalan besar melalui Ekosistem Leuser di bagian utara
Sumatera saat ini mengancam habitat orangutan. Jalan raya ini setidaknya akan

memotong Ekosistem Leuser di sembilan tempat dan unit-unit habitat tambahan


orangutan di bagian utara yang lebih jauh. Diperkirakanjika jalan raya tersebut dibuat
melintasi kawasan hutan, penebangan liar pun akan semakin meluas sehingga
meningkatkan ancaman terhadap habitat orangutan Sumatera.

Perburuan
Meskipun telah dilindungi oleh hukum di Indonesia sejak 1931, perdagangan liar
orangutan untuk dijadikan hewan peliharaan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi
satwa langka ini. Saat ini di beberapa lokasi di sumatera utara dilaporkan telah terjadi
konflik antara orangutan dan manusia akibat adanya pembukaan hutan alam untuk
pengembangan perkebunan kelapa sawit di habitat atau wilayah jelajah orangutan. Akibat
fatal biasanya menimpa orangutan.

Upaya yang dilakukan WWF


WWF-Indonesia membantu Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen
Pekerjaan Umum dan Departemen Kehutanan dalam mengembangkan Rencana Tata Ruang
Berbasiskan Ekosistem Pulau Sumatera, sebagai upaya penyelamatan sebagai restorasi hutan
tersisa di Sumatera. WWF juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melindungi lansekap
hutan yang tersisa di Bukit Tiga Puluh dan Jambi di mana lansekap tersebut juga merupakan
areal introduksi orangutan Sumatera di alam.
WWF Indonesia juga bekerja bersama sejumlah LSM yang bergerak di bidang pelestarian
orangutan dalam mempublikasikan panduan teknis Penanganan Konflik Manusia dan Orangutan
di Dalam dan Sekitar Perkebunan Kelapa Sawit. Dokumen tersebut dimaksudkan untuk
membantu sektor industri dalam mengidentifikasi dan menentukan langkah-langkah yang tepat
untuk mengadopsi praktik-praktik pengelolaan yang lebih baik (Beter Management
Practices/BMP) yang bermanfaat bagi konservasi dan industri. WWF juga terlibat secara aktif
dalam pengembangan Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Orangutan yang dirilis oleh
Presiden RI tahun 2007.

Pongo abelii

Taxonomy [top]
Kingd
om

Phylum

Animali
Chordata
a

Class
Mammalia

Order
Primates

Family
Hominidae

Scientific
Pongo abelii
Name:
Species
Lesson, 1827
Authority:
Common Name(s):
Engli
sh

Sumatran
Orangutan

Frenc
h

Orang-outan De
Sumatra

Historically, the Sumatran and Bornean Orangutans were considered


subspecies of Pongo pygmaeus (e.g., Courtenay et al. 1988, Rijksen and
Meijaard 1997). Recent taxonomic reviews (Groves 2001, Brandon-Jones
Taxonomi
et al. 2004) support the acceptance of the Sumatran Orangutan (Pongo
c Notes:
abelii) as distinct from its Bornean relative (Pongo pygmaeus). This
classification has since been widely adopted (e.g., Singleton et al.
2004).

Assessment Information [top]


Red List Category & Criteria: Critically Endangered A2cd ver 3.1
Year Published:

2008

Date Assessed:

2008-06-30

Assessor(s):

Singleton, I., Wich, S.A. & Griffiths, M.

Reviewer(s):

Mittermeier, R.A. & Williamson, E.A. (Primate Red


List Authority)

Justification:
There has been an estimated decline of over 80% over the last 75 years (assuming
a generation length of at least 25 years; Wich et al. in press). This decline
continues, as forests within its range are under major threat. Most orangutans are
outside of protected areas, including within potential logging areas and conversion
forests. After a period of relative stability, pressure on these forests is increasing
once again as a result of the recent peace accord, and a dramatic increase in
demand for timber and other natural resources after the December 2004 tsunami.
200 Critically

Endangered (CR)
Previously published Red List 7
assessments:
200 Critically

0
Endangered (CR)

Geographic Range [top]


Pongo abelii is endemic to the island of Sumatra, Indonesia. It is
generally restricted to the north of the island, north of the Batang Toru
river on the west coast of North Sumatra province (Wich et al. 2003). It
was once far more widespread and populations occurred as far south as
Jambi and Padang up until at least the mid 1800s (see Rijksen 1978).
There were reports of its existence in some parts of West Sumatra
province as recently as the 1960s. However, surveys by Wich et al.
(2003) found no evidence of their continuing survival south of the
Batang Toru river.

Range
Descriptio The majority of wild Sumatran orangutans survive in the province of
n:
Aceh (more formally known as Nanggroe Aceh Darussalam, or NAD), at
the northernmost tip of the island. There are populations within North
Sumatra province, but the largest of these also straddles the border with
Aceh. Only two potentially viable populations lie entirely within North
Sumatra province: West Batang Toru and East Sarulla, both near, but
south-west of lake Toba (for precise locations see Singleton et al. 2004).
Within Aceh, almost all remaining forest patches of any size still harbour
orangutans at the lower altitudes, but there are few, if any reproducing
populations in the large tracts of forest above 1,000 m asl.

Countries Native:
occurrenc
Indonesia (Sumatera)
e:
Range
Map:

Click here to open the map viewer and explore range.

Population [top]
The most recent estimate for Pongo abelii is around 7,300 (Singleton et
al. 2004), occupying forests that cover 20,552 km, but of which only
those regions below 1,000 m asl (circa 8,992 km) harbour permanent
orangutan populations. Each population listed in Table 1 (Supplementary
Material) is considered to comprise a single contiguous population, but
increasing fragmentation may result in further subdivisions in the near
future. All except Seulawah have been adopted by the UNEP/UNESCO
GRASP (Great Ape Survival Programme: see Caldecott and Miles 2005)
initiative as priority populations for conservation. A few small fragments
of forest outside of those listed may still contain small numbers of
Populatio
orangutans but none are considered viable in the long term
n:
(see Supplementary Material).
See the Supplementary Material for Table 1: Pongo abelii populations.
In addition to the above, original wild populations, a new population is
being established in the Bukit Tigapuluh National Park (Jambi and Riau
Provinces) via the re-introduction of confiscated illegal pets. This
population currently numbers around 70 individuals and is reproducing.
For further information about this species, see 39780_Pongo_abelii.pdf.
A PDF viewer such as Adobe Reader is required.
Current
Populatio
n Trend:

Additional
data:

Decreasing

Population severely
fragmented:

No

Habitat and Ecology [top]


The Sumatran orangutan is almost exclusively arboreal. Females virtually
never travel on the ground and adult males do so only rarely. This is in
contrast to Bornean orangutans (especially adult males) which more often
descend to the ground. While both species depend on high-quality primary
forests, Bornean orangutans appear better able to tolerate habitat
disturbance. In Sumatra densities plummet by up to 60% with even
selective logging (see Rao and van Schaik 1997).
Sumatran orangutans are primarily frugivores, but also eat leaves, insects
(termites and ants) and on occasion, the meat of slow loris (Fox et al.
Habitat 2004, Wich et al. 2006). Female home ranges are 800 to 1,500 ha. The
true extent of male home range size is not fully known, although ranges in
and
Ecology: excess of 3,000 ha are inferred (Singleton and van Schaik 2001).
Females first give birth at about 15 years of age (Wich et al. 2004).
Interbirth intervals are 8.2 to 9.3 years (compared with 6.1 to 7.7 years for
P. pygmaeus; Wich et al. 2004, van Noordwijk and van Schaik 2005) and
gestation lasts approximately 254 days (Kingsley 1981). Males exhibit
bimaturism, whereby fully flanged adult males and the smaller unflanged
males are both capable of reproducing, but employ differing mating
strategies to do so (see Utami Atmoko et al. 2002). Longevity in the wild
has been estimated at 58 years for males and 53 years for females (Wich
et al. 2004).
Systems
Terrestrial
:

Threats [top]
Major This species is seriously threatened by logging (both legal and illegal),
Threat( wholesale conversion of forest to agricultural land and oil palm plantations,
s):
and fragmentation by roads. Animals are also illegally hunted and
captured for the international pet trade but this appears to be more a
symptom of habitat conversion, as orangutans are killed as pests when
they raid fruit crops at the forest edge.
A new threat is the Ladia Galaska road network in Aceh province, which if
legitimized by the government will rapidly fragment most of the
populations listed above. Another major concern is the re-issuing of
logging
permits
for
large
tracts
of
forest
in
Aceh.
An assessment of forest loss in the 1990s concluded that forests
supporting at least 1,000 orangutans were lost each year within the Leuser
Ecosystem alone (van Schaik et al. 2001). These loss rates subsequently

dropped dramatically during major civil conflict in the province, and the
imposition of a moratorium on logging in Aceh. A peace deal negotiated in
2005 led to political stability and many new applications to open up
logging concessions and palm oil estates in orangutan habitat.
In parts of North Sumatra orangutans are also still hunted on occasions for
food.

Conservation Actions [top]


Pongo abelii is listed on Appendix I of CITES and is strictly protected
under Indonesian domestic legislation (UU No 5/1990). Protection of
large areas of primary forest below 1,000 m asl is needed to secure
their long term future.
A major stronghold is the Leuser Ecosystem conservation area: 2.6
million ha supporting circa 75% of remaining Sumatran orangutans. The
Leuser Ecosystem was inaugurated by Presidential Decree in 1998 and
its conservation is called for in the Act of Parliament No 11/2006
concerning Governance in Aceh. Management of the Ecosystem does
not exclude non-forest uses, but stresses the importance of sustainable
Conservati management with conservation of natural resources as the primary
on
goal. Within the Leuser Ecosystem is the designated 900,000 ha
Actions:
Gunung Leuser National Park, but this mountainous area supports only
25% of the orangutans. The Gunung Leuser National Park is also a Man
and Biosphere reserve and part of the Tropical Rainforest Heritage of
Sumatra World Heritage Cluster Site. Outside of the Leuser Ecosystem
there are no other notable large conservation areas harbouring this
species.
In the wake of the December 2004 tsunami, efforts are also underway
to establish a second "Ulu Masen" ecosystem along similar lines to
Leuser, incorporating the North East and North West Aceh populations.
However, this process is in its early stages and there are already
threats to open at least four large logging concessions in this area.

Singleton, I., Wich, S.A. & Griffiths, M. 2008. Pongo abelii. The IUCN Red
Citation List of Threatened Species 2008: e.T39780A10266609.
:
http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T39780A10266609.en .
Downloaded on 29 October 2015.

Disclaim
To make use of this information, please check the <Terms of Use>.
er:
If you see any errors or have any questions or suggestions on what is
Feedbac
shown on this page, please provide us with feedback so that we can
k:
correct or extend the information provided

B. Harimau Sumatera
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam sub-spesies
harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis
yang terancam punah (critically endangered)
Berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi harimau Sumatera di alam bebas hanya
sekitar 400 ekor saja. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan
populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara
mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka
kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal
dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obatobatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di
pulau Sumatera, Indonesia.
Ciri-ciri Fisik

Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua subspesies harimau yang hidup saat ini.

Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki
mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata
198 cm dan berat hingga 91 kg.

Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai
dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Ancaman
Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak
terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang
dikeluarkan oleh TRAFFIC program kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN,
untuk monitoring perdagangan satwa liar menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang
subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian
tubuh harimau. Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50
harimau Sumatera telah diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Penindakan
tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di
Sumatera.
Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok
hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini
terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan
oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat
mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan seringkali

dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa
sengaja dengan manusia.
Propinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera.
Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami
penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir. Pada tahun 2007, diperkirakan hanya
tersisa 192 ekor harimau Sumatera di alam liar Propinsi Riau.
Upaya yang Dilakukan WWF
WWF Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, industri yang mengancam
habitat harimau, organisasi konservasi lainnya serta masyarakat lokal untuk menyelamatkan
Harimau Sumatera dari kepunahan. Pada tahun 2004, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan
kawasan penting, Tesso Nilo, sebagai Taman Nasional untuk memastikan masa depan yang aman
bagi keberadaan Harimau Sumatera. Tahun 2010, pada KTT Harimau di St. Petersburg,
Indonesia dan 12 negara lainnya yang melindungi harimau berkomitmen dalam sebuah tujuan
konservasi spesies ambisius dan visioner yang pernah dibuat: TX2 untuk menambah kelipatan
jumlah harimau sampai pada akhir tahun 2022, tahun Harimau selanjutnya.
Program Nasional Pemulihan Harimau Indonesia sekarang merupakan bagian dari tujuan
global dan meliputi enam lansekap prioritas Harimau Sumatera ini: Ulumasen, KamparKerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan
Selatan.
WWF saat ini tengah melakukan terobosan penelitian tentang Harimau Sumatera di
Sumatera Tengah, menggunakan perangkap kamera untuk memperkirakan jumlah populasi,
habitat dan distribusi untuk mengidentifikasi koridor satwa liar yang membutuhkan
perlindungan. WWF juga menurunkan tim patroli anti-perburuan dan unit yang bekerja untuk
mengurangi konflik manusia-harimau di masyarakat lokal. WWF Indonesia bangga menjadi
bagian penting dari TX2.

Panthera tigris ssp. sumatrae

Taxonomy [top]
Kingd Phylu
om
m

Class

Order

Fami
ly

Animal Chorda Mammal Carnivo Felid


ia
ta
ia
ra
ae

Scientific
Panthera tigris ssp. sumatrae
Name:
Species
Authority Pocock, 1929
:
Parent
See Panthera tigris
Species:
Common Name(s):
Engli
sh

Sumatran
Tiger

Synonym(
Panthera sumatrae Cracraft et al., 1998
s):
The Sumatran Tiger is distinguishable from tigers elsewhere by both
genetic (Cracraft et al. 1998, Luo et al. 2004) and morphological (Mazak
and Groves 2006) analysis. It has been classically considered a
Taxonomi
subspecies since first named by Pocock (1929). The genetic analysis of
c Notes:
Luo et al. (2004) supports this, but Cracraft et al. (1998) and Mazak and
Groves (2006) have proposed that the differences are sufficient for the
Sumatran Tiger be considered a distinct species.

Assessment Information [top]


Red List Category &
Criteria:

Critically Endangered C2a(i) ver 3.1

Year Published:

2008

Date Assessed:

2008-06-30

Assessor(s):

Linkie, M., Wibisono, H.T., Martyr, D.J. & Sunarto, S.

Reviewer(s):

Nowell, K., Breitenmoser-Wursten, C., Breitenmoser, U. (Cat


Red List Authority) & Schipper, J. (Global Mammal
Assessment Team)

Justification:
The Sumatran Tiger occurs in about 58,321 km of forested habitat in 12 potentially
isolated Tiger Conservation Landscapes totalling 88,351 km (Sanderson et al.
2006), with about 37,000 km protected in ten national parks (Govt of Indonesia
2007). The tiger population was estimated at 400-500 in the first and second
national tiger action plans (Govt of Indonesia 1994, 2007a), and at 342-509 in six
major protected areas (estimates from Shepherd and Magnus 2004). However,
incorporating more recent research, covering most of tiger estimated habitat
(Sanderson et al. 2006) suggests the population could be higher (see Table 1 in
Supplementary Material).
There is no recent information from Berbak or Gunung Leuser, and both of these
estimates are considered speculative. Completion of a research in the three Tiger
Conservation Landscapes in Riau province by Sunarto et al. (2007) will improve
efforts
to
assess
the
Sumatran
Tiger
population.
IUCN Guidelines (IUCN 2006) define population as the number of mature individuals,
defined as individuals known, estimated or inferred to be capable of reproduction.
While in general this refers to all reproductive-age adults in the population, the
Guidelines also stress that the intention of the definition of mature individuals is to
allow the estimate of the number of mature individuals to take account of all the
factors that may make a taxon more vulnerable than otherwise might be expected.
Two factors which increase the tiger's vulnerability to extinction are their low
densities (relative to other mammals, including their prey species) and relatively
low recruitment rates (where few animals raise offspring which survive to join the
breeding population) (Smith and McDougal 1991, Kerley et al. 2003). Low densities
means that relatively large areas are required for conservation of viable
populations; it has long been recognized that many protected areas are too small to
conserve viable tiger populations (Nowell and Jackson 1996, Dinerstein et al. 1997,
Sanderson et al. 2006). Low recruitment rates also require larger populations and
larger areas to conserve viable populations, as well as mortality reduction in nonprotected areas to maintain population size through connectivity (Carroll and
Miquelle 2006). High mortality rates can be offset by an abundant prey base
(Karanth et al. 2006), but prey base depletion was considered a leading threat to
tigers across much of their range (Sanderson et al. 2006). The IUCN Guidelines
advise that mature individuals that will never produce new recruits should not be
counted. Low recruitment rates indicate that fewer adults than would be expected
produce new recruits. Defining population size as the total estimated number of
reproductive age adults in the taxon would also not take into account that many
occur in subpopulations which are too small or too threatened for long-term viability.
Instead, the number of mature individuals is defined as equivalent to the estimated
effective population size.
Effective population size (Ne) is an estimator of the genetic size of the population,

and is generally considered representative of the proportion of the total adult


population (N) which reproduces itself through offspring which themselves survive
and reproduce. Ne is usually smaller than N, as has been documented for the tiger.
The effective population size of tigers in Nepals Chitwan National Park was
equivalent to just 40% of the actual adult population (Smith and McDougal 1991).
Therefore, the number of viable mature Sumatran tigers is projected to be 40% of
the total estimated population, in the range of 176271 (based on the detailed
figures given above), with no subpopulation having an effective population size
larger than 50, following the precautionary principle in selecting the lower bound
subpopulation sizes for Kerinci Seblat, Gunung Leuser and Bukit Tigapuluh.
The Sumatran Tiger is declining due to high rates of habitat loss (3.25.9%/yr;
Achard et al. 2002, FWI/GFW 2001, Uryu et al. 2007) and fragmentation, which also
occur, to a lesser extent, inside protected areas (Gaveau et al. 2007, Kinnaird et al.
2003, Linkie et al. 2003, 2004, 2006). There are high levels of human-tiger conflict
(Nyhus and Tilson 2004, Browne and Martyr 2007), as well as illegal trade in tiger
parts (Nowell 2000, Nowell 2007). From 1998-2002 at least 51 tigers per year were
killed, with 76% for purposes of trade and 15% out of human-tiger conflict
(Shepherd and Magnus 2004). Ng and Nemora (2007) found the parts of at least 23
tigers for sale in market surveys around the island.

For further information about this species, see 15966_Panthera_tigris_sumatrae.pdf.


A PDF viewer such as Adobe Reader is required.
199 Critically

Previously published 6
Endangered (CR)
Red List
199 Critically
assessments:

6
Endangered (CR)

Geographic Range [top]


Countries
occurrence:
Range Map:

Native:
Indonesia (Sumatera)
Click here to open the map viewer and
explore range.

Population [top]
Current Population
Trend:

Decreasing

Population severely
fragmented:

Ye
s

Additional data:

Habitat and Ecology [top]

Threats [top]
Major
Habitat loss due to expansion of oil palm plantations and planting of
Threat(s) Acacia plantations. Illegal trade, primarily for domestic market. Prey-base
:
depletion.

Linkie, M., Wibisono, H.T., Martyr, D.J. & Sunarto, S. 2008. Panthera tigris
ssp. sumatrae. The IUCN Red List of Threatened Species 2008:
Citation
e.T15966A5334836.
:
http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T15966A5334836.en
.
Downloaded on 29 October 2015.
Disclaim
To make use of this information, please check the <Terms of Use>.
er:
If you see any errors or have any questions or suggestions on what is
Feedbac
shown on this page, please provide us with feedback so that we can
k:
correct or extend the information provided

C. Gajah Sumatera
Nama latin: Elephas maximus sumatrensis
Gajah Sumatera (Elephas maximus) saat ini, terutama seluruh gajah Asia dan subspesiesnya, termasuk satwa terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies
terancam punah yang keluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN, termasuk Gajah
Sumatera. Di Indonesia, Gajah Sumatera juga masuk dalam satwa dilindungi menurut UndangUndang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan
diatur dalam peraturan pemerintah yiatu PP 7/1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan
Satwa. Masuknya Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dalam daftar tersebut
disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta
pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Perburuan biasanya hanya diambil gadingnya saja,
sedangkan sisa tubuhnya dibiarkan membusuk di lokasi.
Gajah Sumatera merupakan spesies payung bagi habitatnya dan mewakili keragaman
hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Artinya konservasi satwa besar ini
akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya,
sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya. Dalam satu hari, gajah
mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20
kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke

seluruh areal hutan yang dilewatinya dan membantu proses regenerasi hutan alam.

Ancaman
Namun kini diperkirakan telah menurun jauh dari angka tersebut karena habitatnya terus
menyusut dan pembunuhan yang terus terjadi. Kajian WWF-Indonesia menunjukkan bahwa
populasi gajah Sumatera kian hari makin memprihatinkan, dalam 25 tahun, gajah Sumatera telah
kehilangan sekitar 70% habitatnya, serta populasinya menyusut hingga lebih dari separuh.
Estimasi populasi tahun 2007 adalah antara 2400-2800 individu, namun kini diperkirakan telah
menurun jauh dari angka tersebut karena habitatnya terus menyusut dan pembunuhan yang terus
terjadi.
Khusus untuk di wilayah Riau dalam seperempat abad terakhir ini estimasi populasi gajah
Sumatera, yang telah lama menjadi benteng populasi gajah, menurun sebesar 84% hingga tersisa
sekitar 210 ekor saja di tahun 2007. Lebih dari 100 individu Gajah yang sudah mati sejak tahun
2004. Ancaman utama bagi gajah Sumatera adalah hilangnya habitat mereka akibat aktivitas
penebangan hutan yang tidak berkelanjutan perburuan dan perdagangan liar juga konversi hutan
alam untuk perkebunan (sawit dan kertas) skala besar.
Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan laju deforestasi hutan terparah di
dunia dan populasi gajah berkurang lebih cepat dibandingkan jumlah hutannya. Penyusutan atau
hilangnya habitat satwa besar ini telah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk
sehingga memicu konflik manusia dan gajah, yang sering berakhir dengan kematian gajah dan
manusia, kerusakan lahan kebun dan tanaman dan harta benda.
Pengembangan industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit sebagai salah satu
pemicu hilangnya habitat gajah di Sumatera, mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang
semakin hari kian memuncak. Pohon-pohon sawit muda adalah makanan kesukaan gajah dan
kerusakan yang ditimbulkan gajah ini dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan (umumnya
dengan peracunan) dan penangkapan. Ratusan gajah mati atau hilang di seluruh Provinsi Riau
sejak tahun 2000 sebagai akibat berbagai penangkapan satwa besar yang sering dianggap hama
ini.

Kerugian
Selama tahun 2013 saja, kerugian ekonomi yang disebabkan oleh konflik Gajah di Riau
menyebabkan sekitar 1,99 miliar. Belum lagi jika ditambahkan dengan angka keseluruhan
konflik Gajah di Sumatera.
Upaya yang dilakukan WWF-Indonesia
WWF bekerja di tiga wilayah di Sumatera yang dinilai sangat penting bagi upaya
konservasi gajah. Terobosan-terobosan besar telah berhasil dicapai dengan dideklarasikannya
Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (tahap I seluas 38,576 ha) oleh Departemen Kehutanan pada
tahun 2004. Pada tahun 2006, Menteri Kehutanan menetapkan Provinsi Riau sebagai Pusat
Konservasi Gajah Sumatera melalui Permenhut No. 5/2006. Hal ini merupakan langkah besar
bagi penyelamatan habitat gajah di Sumatera.
Pada tahun 2004, WWF memperkenalkan Tim Patroli Gajah Flying Squad pertama di
Desa Lubuk Kembang Bunga yang berada di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo yang baru
ditetapkan. Tim ini, yang terdiri dari sembilan pawang dan empat gajah latih, mengarahkan
gajah-gajah liar untuk kembali ke hutan apabila mereka memasuki ladang maupun kebun milik
masyarakat desa tersebut. Sejak mulai beroperasi, Tim Flying Squad Tesso Nilo berhasil
mengurangi kerugian ekonomi yang dialami masyarakat setempat yang timbul akibat serangan
gajah dan mencegah pembunuhan gajah akibat konflik.
Untuk memitigasi konflik manusia dan gajah, sejak Juli 2009, WWF-Indonesia
bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Way
Kambas (TNWK), Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat, serta Forum Komunikasi
Mahout Sumatera (FOKMAS) melakukan pemasangan GPS Satellite Collar. Alat ini dipasang
pada Gajah liar untuk mengetahui keberadaan sebagai upaya monitoring keberadaan dan
pergerakannya, dan sebagai peringatan dini untuk mitigasi konflik Gajah sehingga dapat
mencegah masuknya Gajah liar ke area pemukiman atau perkebunan sehingga dapat
meminimalkan konflik antara Gajah dan manusia.
Tahun 2012, WWF-Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Biologi
Molekular Eijkman. Tujuannya adalah mengetahui sebaran, populasi dan hubungan kekerabatan

Gajah khususnya di Tesso Nilo melalui DNA gajah. Lembaga penelitian ini juga memberikan
pelatihan untuk pengambilan sampel kotoran gajah dan memastikan penggunaan alat dan bahan
yang tepat. Sampel kotoran ini kemudian akan di ekstraksi, amplifikasi dan analisa DNA. Selain
mengetahui sebaran dan populasi gajah di Tesso Nilo, studi ini diharapkan dapat mengungkapkan
keanekaragaman genetika gajah Sumatera di Tesso Nilo serta hubungan kekerabatan antar
individu maupun antar kelompok Gajah.

Elephas maximus ssp. sumatranus

Taxonomy [top]
Kingd Phylu
om
m

Class

Order

Family

Animal Chorda
Mammal Proboscid Elephantid
ia
ta
ia
ea
ae

Scientific
Name:

Elephas maximus ssp. sumatranus

Species
Authority:

Temminck, 1847

Parent

See Elephas maximus

Species:
Common Name(s):
Engli
sh

Sumatran
Elephant

Taxonomic
Notes:

While subspecies taxonomy of Elephas maximus has varied among authors, the
most recent treatment (Shoshani and Eisenberg 1982) recognizes three
subspecies: E. m. indicus on the Asian mainland, E. m. maximus on Sri Lanka,
and E. m. sumatranus on the Indonesian island of Sumatra. Borneo's Elephants
have traditionally been included in E. m. indicus (Shoshani and Eisenberg 1982)
or E. m. sumatranus (Medway 1977, but see Fernando et al. 2003 and Cranbrook
et al. 2008 for discussion of whether the elephants of Borneo are indigenous to
the island). These subspecies designations were based primarily on body size
and minor differences in coloration, plus the fact that E. m. sumatranus has
relatively larger ears and an extra pair of ribs (Shoshani and Eisenberg 1982).
The Sri Lankan subspecies designation is only weakly supported by analysis of
allozyme loci (Nozawa and Shotake 1990), but not by analysis of mitochondrial
DNA (mtDNA) sequences (Hartl et al. 1996, Fernando et al. 2000, Fleischer et
al. 2001). However, current patterns of mtDNA variation suggest that the
Sumatran subspecies is monophyletic (Fleischer et al. 2001), and consequently
this taxon could be defined as an evolutionarily significant unit (ESU). This
suggests that Sumatran Elephants should be managed separately from other
Asian elephants in captivity, and is also an argument for according particularly
high priority to the conservation of Sumatran Elephants in the wild.

Assessment Information [top]


Red List Category &
Critically Endangered A2c ver 3.1
Criteria:
Year Published:

2011

Date Assessed:

2011-08-01

Assessor(s):

Gopala, A., Hadian, O., Sunarto, ., Sitompul, A., Williams, A.,


Leimgruber, P., Chambliss, S.E. & Gunaryadi, D.

Reviewer(s):

Hedges, S., Desai, A. & Tyson, M.

Justification:

The Sumatran Elephant (E. m. sumatranus) meets criterion A2c for Critically
Endangered (CR). Taking ca. 25 years as a single generation (sensu IUCN 2001) for
Asian Elephants, then over 69% of potential Sumatran Elephant habitat has been
lost within just one generation (the last 25 years) and the driving forces that are
causing the habitat loss are still continuing essentially unchecked. There is clear
direct evidence from two provinces (Riau and Lampung) to show that entire
elephant populations have disappeared as a result of the habitat losses of the past
25 years: nine populations have been lost since the mid-1980s in Lampung (Hedges
et al. 2005) and a 2009 survey of nine forest blocks in Riau that had elephant herds
in 2007 revealed that six herds had gone extinct (Desai and Samsuardi 2009). That
this pattern will continue seems certain.
Note that we use the term potential elephant habitat when discussing the rate of
elephant habitat loss since 1985. This is because some of the forested areas that
have been lost since 1985 elephants did not contain elephants in 1985; however, it
is entirely reasonable to infer that elephants occurred much more widely across
Sumatra in the 1930s than they did in 1985 since the 1985 elephant distribution
map was the first time we had an island-wide understanding of elephant distribution
on the island, and it was not a complete picture even then. Thus we infer that all the
forest lost since 1985 was elephant habitat in the 1930s, or in other words the
forest lost since 1985 alone represents a loss of 69% of Sumatran Elephant habitat
since the 1930s (three elephant generations). Since elephants almost certainly
occurred in areas outside their 1985 distribution in the 1930s and because much of
the forest and other land cover types lost have been the better quality (preferred)
lowland elephant habitat, we conclude that the inferred or suspected population
size reduction for Sumatran Elephants over the last three generations must have
been at least 80%. This conclusion is greatly strengthened by the fact that much of
the remaining forest cover is in blocks smaller than 250 km, which are too small to
contain viable elephant populations: this has the effect of increasing the real impact
on elephant numbers of habitat loss beyond the figures suggested by forest loss
alone. Therefore E. m. sumatranus meets criterion A2c for Critically Endangered
(CR).

Geographic Range [top]


Home to the Sumatran Elephant subspecies (E. m. sumatranus),
Range
Sumatra is thought to hold some of the most significant Asian Elephant
Descriptio populations outside of India. Yet, within the Asian Elephants range,
n:
Sumatra has experienced one of the most rapid deforestation rates
(Uryu et al. 2010).
Countries Native:
occurrenc
Indonesia (Sumatera)
e:
Range

Click here to open the map viewer and explore range.

Map:

Population [top]
Populatio In mid 1980s, when about 50% of natural forest remained on the island, elephant
n:
populations persisted in 44 discrete populations on all of the islands eight

provinces (Hedges et al. 2005).


1985: An island-wide rapid survey suggested that between 2,800 and 4,800
elephants lived in the wild in 44 ranges in all eight mainland provinces of Sumatra
(Blouch and Haryanto 1984). Riau Province was believed to have the largest
elephant population in Sumatra.
2002: Sumatra was still thought to contain some of the largest populations of Asian
elephants outside of India and Sri Lanka. Rigorous dung density based surveys in
Lampung Provinces two national parks, Bukit Barisan Selatan and Way Kambas,
produced population estimates of 498 (95% CI=[373, 666]) and 180 (95%
CI=[144, 225]) elephants, respectively. But province-wide surveys at the same time
also showed that by 2002 elephants had gone locally extinct in nine of 12 elephant
ranges recorded in Lampung in the early 1980s (Hedges et. al. 2005).
2007: Guesstimates suggested that between 2,400 and 2,800 elephants live in the
wild (Soehartono et al. 2007). Given the very high number of elephants brought
into captivity since 1985 (Mikota et al. 2003), the high mortality experienced
during these government capture-and-translocation operations, and the high
numbers of elephants lost to retaliatory killing after humanelephant conflict
(WWF 2008) and poaching (based on local newspaper reports), it is highly likely
that Sumatras total elephant population size in 1985 might actually have been
greater than even that years high estimate of 4,800 elephants suggests. In any case,
in only one generation (between 1985 and 2007) Sumatra may have lost up to 50%
of its elephants.
2008: By 2008, elephants had become locally extinct in 23 of the 43 ranges
identified in Sumatra in 1985, indicating a very significant decline of the Sumatran
elephant population up to that time. By 2008, the elephant was locally extinct in
one of Sumatras eight mainland provinces (West Sumatra) and at risk of being lost
from North Sumatra Province too. Only ca. 350 elephants survived across nine
separate ranges in Riau Province, which in 1985 was considered to have the largest
elephant population in Sumatra with over 1,600 individuals.
Post-2008: Simple extrapolations from past population history
suggests that Riaus last surviving elephants may soon disappear if the
current trend of forest loss continues (Uryu et al. 2008). Indeed, a 2009
survey of nine forest blocks in Riau that had elephant herds in 2007
revealed that six herds had gone extinct (Desai and Samsuardi 2009).

Systematic study on the population of Sumatran Elephants is lacking from most of


the elephants distributional range. Province-wide assessments have been
conducted in Riau (Desai and Samsuardi 2009) and Lampung (Hedges et al. 2005).
However, rigorous population estimates are only available from two protected
areas in Lampung, namely Way Kambas National Park and Bukit Barisan Selatan
National Park (Hedges et al. 2005, Soehartono et al. 2007).

Current
Populatio
n Trend:
Additional
data:

Riau. Harboring extensive flat lowland forest that is a prime


habitat for elephant, Riau province was one of the strongholds for
elephant conservation. However, elephant numbers in this
province dropped by 84% in less than 25 years (Uryu et al.
2007). The population declined from ca. 1,342 in 1984 to ca. 210
in 2007. Due to habitat fragmentation, the number of fragmented
elephant populations (pockets) increased from nine in 1984 to
16 in 1999. By 2007, mainly due to removal and killings related to
conflicts, elephants were completely extirpated in several
pockets including Rokan Hilir, Kerumutan, Koto Panjang, Bukit
Rimbang Baling, Tanjung Pauh and Bukit Suligi. Thorough
population estimates are not yet available the latest assessment
indicates that all but two of these fragmented elephant
populations are unlikely to survive over the long term.
West Sumatra. Elephants have been completely extirpated from
this province.
Lampung. Twelve of the 44 Sumatran elephant populations
identified in the mid-1989s occurred in Lampung Province. But,
according to surveys conducted in 2001 and 2002 only three
were still extant in 2002, and one of those was not considered
viable (Hedges et al. 2005). Surveys in the early 2000s using
dung density based methods in Lampung Provinces two national
parks, Bukit Barisan Selatan and Way Kambas, produced
population estimates of 498 (95% CI=[373, 666]) and 180 (95%
CI=[144, 225]) elephants, respectively (Hedges et al. 2005). New
field surveys using fecal DNA based capturerecapture methods
are currently underway in the two national parks (S. Hedges pers
comm).

Decreasing

Population severely
fragmented:

Ye
s

Habitat and Ecology [top]


Elephants largely use lowland forests and gentle hills below an altitude of 300 m.
While the elephants in Sumatra may have habitat use patterns that differ, it is
generally known from long-term studies of elephants across Asia that lowland
forests are a preferred habitat (Alfred el. al. 2005, Williams 2010). Forest loss in
the lowlands is higher than forest loss at all altitudes and including habitats such
as peat forests, where elephants are not present.
Habitat
and
Ecology:

See the Supplementary Material for further information about national loss of
natural forest in Sumatra.

For further information about this species, see


199856_Elephas_maximus_sumatranus.pdf.
A PDF viewer such as Adobe Reader is required.
Systems:

Terrestrial

Use and Trade [top]


Use
The Asian elephant is hunted for ivory, food, leather and other products.
and
Live animals are also removed from the wild and used in forestry
Trade: operations and for ceremonial purposes.

Threats [top]
Due to conversions of forests into human settlement and agricultural
areas, many of the Sumatran Elephant populations have come into serious
Major conflicts with human. As the results, many wild elephants have been
Threat( removed from the wild, or directly killed. In addition to killing related to
s):
conflicts, elephants are also targets of illegal killing for their ivory. Now,
Sumatran Elephant lives only in seven provinces, many of which are under
increased pressure of habitat loss and imminent conflicts with human.

Conservation Actions [top]


Conservati Although as a species Sumatran Elephants are protected under
on Actions: Indonesia law, 85% of their habitats which are located outside of
protected areas, are outside of the protection system and likely to be

converted to agricultural and other purposes.

Gopala, A., Hadian, O., Sunarto, ., Sitompul, A., Williams, A., Leimgruber, P.,
Chambliss, S.E. & Gunaryadi, D. 2011. Elephas maximus ssp. sumatranus.
Citation
The IUCN Red List of Threatened Species 2011: e.T199856A9129626.
:
http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2011-2.RLTS.T199856A9129626.en
.
Downloaded on 29 October 2015.
Disclaim
To make use of this information, please check the <Terms of Use>.
er:
If you see any errors or have any questions or suggestions on what is
Feedbac
shown on this page, please provide us with feedback so that we can
k:
correct or extend the information provided