Anda di halaman 1dari 4

Keanekaragaman Ekosistem

Dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 29 Tahun 2009 Tentang Pedoman
Konservasi Keanekaragaman Hayati di Daerah, yang dimaksud ekosistem adalah tatanan unsur
lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam
membentuk keseimbangan, stabillitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Data mengenai
keanekaragaman ekosistem hendaknya dapat menggambarkan keberadaan berbagai tipe
ekosistem di daerah. Ekosistem di Kota Surabaya terbagi menjadi enam tipe ekosistem, yaitu:
1. Ekosistem Pesisir
2. Ekosistem Sungai
3. Ekosistem Waduk
4. Ekosistem Ruang Terbuka Hijau (RTH)
5. Ekosistem Pertanian
6. Ekosistem Tambak
Persebaran ekosistem di Kota Surabaya

Ekosistem pesisir terbagi menjadi dua wilayah, yaitu daratan (ekosistem mangrove) dan perairan.
Wilayah pesisir Surabaya meliputi sebelas Kecamatan dan dibagi menjadi empat unit
pengembangan pesisir. Pesisir Kota Surabaya terbagi menjadi dua, yaitu Pantai Timur Surabaya
(PAMURBAYA) dan Pantai Utara Surabaya (PANTURBAYA).
Pamurbaya terletak di bagian timur Kota Surabaya dan berbatasan langsung dengan Selat
Madura. Lokasi Pamurbaya:
1.
2.
3.
4.
5.

Kecamatan Gunung Anyar : Kelurahan Gunung Anyar Tambak


Kecamatan Rungkut : Kelurahan Medokan Ayu, dan Wonorejo
Kecamatan Sukolilo : Kelurahan Keputih
Kecamatan Mulyorejo : Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kalisari dan Kejawan Putih Tambak
Kecamatan Bulak : Kelurahan Kedung Cowek, Bulak, Komplek Kenjeran, Kenjeran, dan

Sukolilo
6. Kecamatan Kenjeran : Kelurahan Tambak Wedi dan Bulak Banteng
Sumber : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Kota Surabaya Tahun 2011
Panturbaya terletak di bagian utara Kota Surabaya dan berbatasan langsung dengan Selat
Madura. Lokasi Panturbaya:
1. Kecamatan Benowo : Kelurahan Romokalisari, Tambak Osowilangun
2. Kecamatan Asemrowo : Kelurahan Tambaklangon, Greges, Kalianak, Genting, dan
Asemrowo
3. Kecamatan Krembangan : Kelurahan Morokrembangan dan Perak Barat
4. Kecamatan Semampir : Kelurahan Ujung
5. Kecamatan Pabean Cantikan : Kelurahan Perak Utara
Sumber : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Kota Surabaya Tahun 2011

Kawasan konservasi hutan mangrove yang terletak di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut
Surabaya Timur, dengan luas kawasan sekitar 200 hektar. Ekowisata manggrove merupakan
salah satu tempat wisata yang sudah menjadi ikon warga Surabaya di mata pelancong wisatawan

lokal maupun wisatawan mancanegara. Di kawasan ini terdapat sedikitnya 30 spesies burung dan
mangrove. Seperti:
Pantai Timur Surabaya termasuk dalam kawasan perlindungan bawahan (kawasan yang memiliki
potensi untuk memperkecil atau melindungi kawasan lain dari bahaya banjir melalui peresapan
air ke dalam tanah, sehingga dapat meningkatkan volume air tanah untuk melindungi ekosistem
pada kawasan tersebut) yang memiliki fungsi penting dalam mencegah banjir dan bencana,
terutama dalam hal resapan air.
Pamurbaya terkenal dengan Ekowisata mangrove yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 2010.
Ekowisata mangrove di Surabaya terdapat dua tempat dari ekowisata mangrove di Surabaya
yaitu di Wonorejo dan Gunung Anyar.
Ekowisata Mangrove dianggap justru membahayakan kawasan ekosistem mangrove yang berada
disana. Hal ini dikarenakan banyaknya pengunjung yang ada di sana dan merusak lingkungan,
dan penanaman yang dilakukan hanya bersifat formalitas sehingga tidak ada keberlanjutan dari
perawatan pohon yang sudah ditanam.
Dari data terakhir yang dimiliko BLH Surabaya mengindikasikan total luas mangrove Indonesia
dalam waktu dua puluh tahun terakhir telah berkurang hampir 1,1 juta hektar atau sekitar 75%
akibat konversi.
Hal ini menunjukan bahwa ekosistem mangrove merupakan salah satu di antara habitat lahan
basah pantai yang mengalami tekanan-tekanan pembangunan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Selain itu masyarakat juga memiliki andil dalam rusaknya ekosistem mangrove, kurangnya
persepsi di kalangan masyarakat umum tentang pentingnya ekosistem mangrove ini.
Kawasan pantai timur Surabaya (Pamurbaya) yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi
sendiri belum memiliki garis batas yang jelas. Hal ini diakui oleh Staff BLH bahwasanya masih
susah untuk menentukan garis batas lahan konservasi mangrove yang ada di pamurbaya, hal ini
mengakibatkan hak milik pribadi masyarakat kawasan mangrove dan pemerintah belum jelas.
Kasus pembalakan liar oleh masyarakat sekitar di mangrove pamurbaya menjadi tidak dapat
disalahkan karena bias garis batas lahan konservasi mangrove tersebut.
Kondisi mangrove di Pantai Utara Surabaya dapat dikatakan kurang baik dibandingkan kondisi
mangrove yang berada di Pamurbaya. Hal ini dikarenakan memang peruntukan kawasan ini lebih
banyak digunakan untuk industri dan pelayaran. Peruntukan kawasan pantura yang tidak
digunakan untuk konservasi mengakibatkan banyak terjadinya perusakan mangrove yang lebih
parah, bukan hanya pencemaran bahkan hingga kasus reklamasi.