Anda di halaman 1dari 19

STUDI KELAYAKAN (FEASIBILITY STUDY)

PADJADJARAN FARMA
LATIHAN KASUS
Diajukan untuk memenuhi tugasmata kuliah Manajemen Farmasi
Dosen: H. Made Pasek Narendra, M.M., Apt.

PUTRI ARYUNI
260112140095
Kelas :B

PROGRAM PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014
STUDI KELAYAKAN
Dalam upaya kesehatan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan yang meliputi
upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan
kesehatan. Penyelenggaraan upaya kesehatan ini salah satunya ditunjang oleh sarana pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, yaitu apotek. Keberadaan sebuah apotek yang memberikan
pelayanan dalam bidang konseling dan informasi obat dapat membantu masyarakat yang
semakin sadar akan pentingnya kesehatan. Apotek menjadi salah satu sarana bagi masyarakat
yang membutuhkan informasi tentang obat sehingga apoteker dituntut untuk bekerja secara
professional dalam melayani masyarakat.Hal ini disebabkan karena apotek adalah salah satu
tempat pendistribusian dan sarana pelayanan obat serta perbekalan Farmasi lainnya.Disamping
itu juga apotek merupakan wadah formal tempat pengabdian profesi seorang apoteker untuk
melakukan praktek dan pengembangan profesinya.
Apoteker sebagai pengelola apotek dan sumber informasi bagi masyarakat harus selalu
meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya baik dalam bidang Farmasi sendiri, maupun
bidang manajerial serta hubungan antarpersonal sehingga dengan kemampuan tersebut
diharapkan apoteker dapat menjadi sumber informasi obat dan kesehatan lainnya yang lengkap
serta terpercaya bagi masyarakat luas.
Dalam konteks peranan apoteker sebagai salah satu elemen pekerja Farmasi maka
perkembangan infrastruktur dalam pelayanan kesehatan akan membawa dampak pada model
interaksi apoteker dengan pasiennya. Secara umum kualitas pelayanan hanya dapat terlaksana
dengan baik apabila ada manajemen yang efektif dan efisien. Pelayanan Farmasi yang baik
adalah sifat pelayanan yang berorientasi langsung dalam proses penggunaan obat kepada pasien
yang bertujuan menjamin keamanan, efektifitas, dan kerasionalan penggunaan obat dengan
menerapkan ilmu pengetahuan dan fungsi perawatan penderita.

Apotek PADJADJARAN FARMA memberikan pelayanan produk, dan pelayanan


kefarmasian yang berbasis pada Pharmaceutical Caremeliputi pelayanan informasi obat dan
konseling. Keunggulan dari apotek PADJADJARAN FARMA yaitu selalu berorientasi pada
kepuasan pelanggan (customer satisfaction) yang diwujudkan melalui pelayanan Pharmaceutical
Care, melalui pendekatan personal, pelayanan apotek yang ramah, suasana apotek yang nyaman
dan ketersediaan fasilitas yang memudahkan akses pelayanan kesehatan.
Lokasi apotek PADJADJARAN FARMA terletak di jalan AH. Nasution Kel.
Sindangjaya.Kec.Mandalajati-Bandung.Lokasi apotek ini strategis karena berdekatan dengan
pemukiman penduduk yang senantiasa berkembang dalam beberapa tahun kedepan.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk mendirikan apotek PADJADJARAN FARMA adalah
sebesar Rp. 69.450.000; sumber investasi tersebut berasal dari modal milik pribadi.
Langkah-langkah :

Tetapkan visi dan misi apotek.


Buat analisis SWOT.
Analisis potensi pasarnya dan analisis distribusi resep.
Strategi pemasaran.
Tetapkan struktur karyawannya antara lain :
Apoteker
Asisten Apoteker
Karyawan Umum
Analisis finansialnya :
Dana investasi Rp. 70.000.000
Harga rata-rata tiap resep Rp. 50.000
Harga rata-rata OTC Rp. 8.000
Jumlah resep per hari diasumsikan rata-rata 5 lembar.
Disekitar apotek jumlah penduduk kira-kira 4.500 jiwa.
Sarana penunjang yang diperlukan apotek kira-kira Rp. 20.000.000.
Modal kerja kira-kira Rp. 50.000.000
Tetapkan biaya pengelolaan (listrik, air, telepon, pajak penjualan, dll).
Jasa profesi apoteker Rp 1.500.000 per bulan.
Asisten apoteker Rp. 800.000 per bulan.
Karyawan umum Rp. 500.000 per bulan.

Tugas :
Menetapkan studi kelayakan berdasarkan perhitungan sebagai berikut :

Pay Back Period (PP)


ROI (% untuk 1 tahun) dengan asumsi kredit untuk investasi berkisar antara 22,5% per tahun.
Break event point (BEP)

A. Tujuan Pendirian Apotek


1. Tempat pengabdian profesi apoteker setelah mengucapkan sumpah jabatan.
2. Memberikan pelayanan produk dan praktek pelayanan kefarmasian sebagai bentuk
pengabdian profesi apoteker yang berbasis pada pharmaceutical care, meliputi
pelayanan informasi obat dan konseling kepada masyarakat sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan,
khususnya obat, dan cara pengobatan yang tepat
3. Melayani kebutuhan obat, alat kesehatan, dan perbekalan farmasi lainnya sesuai
dengan kebutuhan masyarakat yang berorientasi kepada kepentingan dan kepuasan
pasien.
B. Visi dan Misi
1. Visi
Menjadi

apotek

berkualitas

dalam

pelayanan

kefarmasian

yang

berbasis

Pharmaceutical care dengan mengedepankan kepuasan pelanggan dan penyedian obat


serta perbekalan kesehatan yang lengkap dengan harga yang terjangkau untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
2. Misi

Menyediakan obat, alat kesehatan serta perbekalan kefarmasian lainnya yang

berkualitas, legal, dan harga yang terjangkau oleh masyarakat,


Melaksanakan pelayanan kefarmasian berbasis Pharmaceutical care melalui
pendekatan personal, pelayanan apotek yang ramah, suasana apotek yang nyaman
dan ketersediaan fasilitas yang memudahkan akses pelayanan kesehatan.

C. Aspek Lokasi dan Pasar


1. Nama Apotek
Alamat

: PADJADJARAN FARMA
: Jl. AH. Nasution Kel. Sindangjaya, Kec. Mandalajati, Bandung

2. Pemilik Sarana Apotek


Nama
:Putri Aryuni, S.Farm, Apt.
SIPA
: SP/SK-19991
3. Apoteker Pengelola Apotek
Nama
:Putri Aryuni, S.Farm, Apt.
SIPA
: SP/SK-19991
Lokasi apotek strategis karena berdekatan dengan pemukiman penduduk yang senantiasa
berkembang dalam beberapa tahun kedepan dan akan menentukan keberhasilan apotek
serta erat hubungannya dengan aspek pasar.
1. Denah lokasi : terlampir
2. Data-data pendukung
a. Kepadatan penduduk
Apotek PADJADJARAN FARMA berada di daerah dengan kepadatan penduduk
yang tinggi, dekat dengan pemukiman penduduk dan lingkungan kampus yang
b.

senantiasa berkembang dalam beberapa tahun ke depan.


Tingkat sosial dan ekonomi
Tingkat pendidikan masyarakat relatif tinggi mengingat

letak Apotek

PADJADJARAN FARMA yang berada di lingkungan kampus dan pemukiman


penduduk. Dengan demikian, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya
kesehatan cukup baik. Keadaan ekonomi masyarakat secara relatif juga cukup
c.

baik.
Jumlah pesaing
Jumlah apotek sebagai pesaing adalah 2, yaitu Sahabat Farma dan Apotek
Generik.Akan tetapi, dengan melihat lokasi yang sangat strategis maka

d.

diharapkan apotek dapat bersaing dengan apotek lainnya.


Dekat Pusat Keramaian
Apotek PADJADJARAN FARMA dekat dengan pusat keramaian seperti Pasar
Modern Sayang, Toko Buku Gramedia, sentral handphone dan komputer, Mc
Donald, kantor bank swasta, kampus, sekolah, pom bensin, dan kawasan

e.

perkantoran.
Aman
Lingkungan Apotek PADJADJARAN FARMA relatif aman dan dekat dengan pos

f.

polisi dan kantor polisi.


Mudah dijangkau
Lokasi apotek sangat mudah dijangkau karena terletak di pinggir jalan, dapat
dijangkau dengan berbagai kendaraan umum, dan merupakan jalur karyawan

pulang kerja.Apotek ini juga memiliki area parkir yang cukup luas dan toilet yang
memadai.
3. Data Hasil Survey
Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan terhadap peta lokasi dan
peta pasar terutama keberadaan apotek-apotek lain yang lebih dahulu berdiri sebagai
calon kompetitor di sekitar lokasi, diperoleh data-data sebagai berikut:
a. Apotek Kompetitor
No
.
1
2

Nama Apotek
Apotek Sewindu
Apotek ECA

Alamat
Jl.Majapahit No. 35
Jl. Sumbawa No. 37

Jarak dari
apotek (m)
+ 700
+1500

b. Praktek Dokter
Perkiraan
No.

1
2
5
6
7
8

Nama Dokter

Agung
Wais
Khonsa
Hanas kaloka
Apfia
Fika

Spesialisasi

Umum
Umum
Sp. KK
Sp. OG
Sp. Internist
Sp. Anak

Alamat Praktek

Jl. MawaNo.7
Jl. Anggrek No.20
Jl. PelangiNo.5
Jl. Aninda No.10
Jl. RamenNo.40
Jl. BragaNo.19

Jumlah

Jarak dari Apotek

Pasien per

PADJADJARAN

bulan

FARMA (meter)

(orang)
90
100
65
50
50
100

+700
+800
+250
+850
+500
+900

c. Jumlah Penduduk Kecamatan Mandalajati menurut Jenis Kelamin


Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

Jumlah (orang)
2.000
2.500
4.500

d. Jumlah Penduduk Kecamatan Mandalajati menurut Komposisi Usia


Usia (tahun)
0-5

Jumlah (orang)
300

6-15
16-25
26-55
55 ke atas
Total

600
1.600
1.800
200
4.500

D. Alat dan Perbekalan Farmasi yang Diperlukan


1.
Bangunan :
- Tanah dan bangunan : milik sendiri
Luas bangunan : 10 x 8 m2
2.

Perlengkapan :
- Alat pembuatan, pengolahan, dan peracikan :
Gelas ukur
Labu Erlenmeyer
Beker glass
Literan plastik 1 dan 2 liter
Corong
Timbangan dan anak timbangan (g/mg)
Thermometer
Mortar dan stamper
Spatel logam/tanduk plastic atau posrselen
Batang pengaduk
Penangas air
Kompor atau alat penangas yang sesuai
Panci
Rak tempat pengeringan alat
-

Alat perbekalan farmasi


Botol berbagai ukuran
Pot plastic berbagai ukuran
Lemari pendingin
Lemari dan rak penyimpanan obat
Lemari untuk penyimpanan racun, narkotika, psikotropika, dan bahan obat
berbahaya lainnya.

Wadah pembungkus dan pengemas :


Etiket
Kertas puyer
Strepler
Wadah pengemas untuk obat (plastic klip)
Kantong plastic

Alat Administrasi
Blanko pemesanan obat
Blanko kartu stok obat

Blanko salinan resep


Blanko faktur dan blanko nota penjualan
Buku defecta
Buku ED
Buku farmakope
Buku ISO dan MIMS
Buku pembelian
Buku penerimaan
Buku pembukuan keuangan
Buku pencatatan narkotika
Buku pesanan obat narkotik
Buku laporan obat narkotik
Buku pencatatan penyerahan resep
Buku resep jika dokter akan beli obat
Kuitansi
Alat tulis dan kertas
-

Perlengkapan lainnya :
Alat pemadam kebakaran

Perbekalan farmasi yang diperlukan :


Obat keras (obat dengan resep dan OWA)
Obat bebas (OTC) dan bebas terbatas
Alat kesehatan : masker, perban, thermometer, sarung tangan, alkes steril,
perbekalan rumah sakit
Perlengkapan bayi
Suplemen dan vitamin

E. Tenaga Kerja
Untuk dapat mengelola sebuah apotek diperlukan tenaga kerja yang sesuai
bidangnya, oleh karena itu diperlukan sumber daya manusia yang efektif dan efisien
sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Apotek merekrut 4 karyawan dengan susunan
sebagai berikut :
- Apoteker Pendamping : 1 orang
- Asisten Apoteker : 2 orang
- Karyawan Umum : 1 orang
Kerjasama dan hubungan antar karyawan harus dijaga sehingga dapat
menciptakan suasan kerja yang kondusif serta mampu memberikan kenyamanan pada
pasien.Karenanya diperlukan adanya pembagian tugas, wewenang, hak, dan kewajiban
serta rasa memiliki terhadap apotek dari para karyawan.Untuk itu kemampuan manajerial

dari apoteker sangat diperlukan. Berikut merupakan tugas dan kewajiban tenaga kerja di
apotek PADJADJARAN FARMA:
a.

APA atau PSA (Apoteker Pengelola Apotek atau Pemilik Sarana Apotek)
i. Memimpin seluruh kegiatan apotek
ii. Berkewajiban serta bertanggung jawab penuh untuk mengelola apotek yang
meliputi beberapa bida, antara lain:

Pelayanan kefarmasian

Administrasi dan keuangan

Ketenagakerjaan dan personalia

Penelitian dan pengembangan apotek


iii. Mengawasi jalannya kegiatan apotek
b.
Apoteker Pendamping, Asisten Apoteker
i. Melayani konsumen
ii. Memberikan informasi tentang penggunaan obat sesuai dengan resep
iii. Meracik obat
iv. Mengontrol persediaan barang
v. Bertindak sebagai kasir
vi. Mengurus pemesanan produk ke PBF
vii. Bertanggung jawab terhadap penyediaan obat di apotek
c.
Karyawan Umum
i. Memelihara kebersihan apotek
ii. Menjaga keamanan apotek
iii. Mengambil pemesanan pbat
iv. Sewaktu-waktu dapat menjadi kasir (apabila jumlah pasien lebih banyak)
Adapun untuk lebih jelasnya struktur organisasi Apotek PADJADJARAN Farma adalah
sebagai berikut :
K
A
P
p
s
a
A
o
i
r
t
s
y
e
t
a
k
e
w
e
n
a
r
n
U
m
u
m

Dasar pertimbangan perekrutan karyawan tersebut adalah :


1. Jam kerja : 07.0022.00 dengan pembagian jam kerja menjadi 2 shift yaitu shift pagi
(07.00-14.30) dan shift sore (14.50-22.00).

2. Volume pekerjaan :
jumlah pasien setiap hari : 100 pasien, dengan pasien resep 5 orang, dan non resep 100
orang,

Setiap pasien resep membutuhkan waktu : 15 menit, sehingga :


waktu untuk 5 pasien : 5 orang x 15 menit = 75 menit = 1 jam 15 menit.

Setiap pasien non resep membutuhkan waktu : 5 menit, sehingga :


waktu untuk pasien non resep : 95 orang x 5 = 475 menit = 7 jam 55 menit.

Konseling masing-masing pasien : 5 menit, sehingga :


waktu untuk konseling : 100 orang x 5 menit = 500 menit = 8 jam 20 menit.

3. Dana yang tersedia (bagian aspek modal dan biaya),


4. Sumber daya manusia merupakan aset terbesar dari apotek itu sendiri. Kerjasama antar
karyawan harus dijaga sehingga dapat menciptakan suasana kerja yang kondusif serta
mampu memberikan kenyamanan pada pasien.Karenanya diperlukan adanya pembagian
tugas, wewenang, hak dan kewajiban serta rasa memiliki terhadap apotek dari para
karyawan.Untuk itu kemampuan manajerial dari apoteker sangat diperlukan.
F. Prospek Pemasaran
Prospek pemasaran Apotek PADJADJARAN FARMA sangat menjanjikan karena
berada di pinggir jalan yang ramai dilalui arus kendaraan, mudah dijangkau dengan
berbagai kendaraan umum, dan merupakan jalur karyawan pulang kerja.Selain itu, apotek
PADJADJARAN FARMA berdekatan dengan tempat pelayanan kesehatan lainnya seperti
rumah sakit, praktek dokter dan puskesmas sehingga diharapkan terjadi peningkatan
penjualan obat dan alat kesehatan yang disediakan di apotek.
Apotek PADJADJARAN FARMA juga terletak di daerah yang dekat dengan
komplek perumahan masyarakat yang baru berkembang dimana terdapat banyak keluarga
baru yang memiliki latar belakang sosial dan pendidikan yang beragam.Hal ini menjadi
peluang bagi apotek PADJADJARAN FARMA untuk menyediakan kebutuhan obat dan
alat kesehatan yang bervariasi bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam serta
pemenuhan kebutuhan keluarga.

G. Analisis SWOT
Berdasarkan datadata yang diperoleh dari survey pendahuluan terhadap posisi strategis
daerah/peta lokasi dan keberadaan kompetitor, dapat diterangkan beberapa hal yang
penting. Hal ini dapat dilihat dari aspek kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
terhadap apotek baru yang akan didirikan:
1) Kekuatan (Strength)
Yang menjadi kekuatan kompetitif apotek baru yang akan didirikan adalah sebagai
berikut:
Apotek dengan konsep layanan patient oriented yang berbasis layanan

kefarmasian pharmaceutical care.


Pelayanan dilakukan dengan cara pendekatan personal, pelayanan apotek yang

ramah, cepat, dan tepat.


Letak/lokasi apotek berada di Jl. AH. Nasution Kel. Sindangjaya, Kec.
Mandalajati, Bandung yang ramai dilalui arus kendaraan mudah dijangkau
dengan berbagai kendaraan umum, dan merupakan jalur karyawan pulang

kerja.
Suasana apotek yang nyaman dan ketersediaan fasilitas yang memudahkan

akses pelayanan.
Petugas apotek yang handal, terdiri dari tenaga yang sudah berpengalaman dan

yang penuh semangat dan kreatif.


Apoteker siap memberikan layanan dan konsultasi seputar obat, baik

swamedikasi maupun resep dokter.


Apoteker yang selalu siaga di apotek.
Apotek menyediakan layanan delivery service.
Apotek memiliki lahan parkir yang luas.
Apotek memiliki layanan konsultasi obat melalui telepon maupun datang

langsung ke apotek.
Fasilitas ruang tunggu yang nyaman, luas, penyediaan brosur dan bulletin

kesehatan,air minum gratis, dan televise.


Tersedia cafeteria di sebelah ruangan apotek.

2) Kelemahan (Weakness)
Merupakan apotek baru, belum dikenal oleh masyarakat, dan belum
mempunyai pelanggan yang loyal.

Merupakan apotek swasta yang berdiri sendiri dan bukan suatu apotek jaringan

atau waralaba.
Merupakan apotek swasta yang berdiri sendiri sehingga manajemennya harus

selalu diperbaiki dan ditingkatkan untuk mencapai standar terbaik.


Di sekitar Jl. A.H. Nasution sudah terdapat beberapa apotek.

Untuk menutupi kelemahan tersebut maka:

Nama apotek harus dibuat besar begitu juga dengan tulisan pada papan nama

tersebut dan neon box, tanda/mark apotek di tepi jalan.


Papan praktek apoteker dibuat dalam ukuran besar, seperti Pelayanan
Konsultasi Obat oleh Apoteker atau Kepuasan Anda adalah Keberhasilan

Kami
Disediakan parkir yang luas dan gratis.

3) Peluang (Opportunity)
Potensi Daerah
a. Jumlah Penduduk, terutama daerah Bandung (sekitar lokasi apotek), cukup
b.

padat, sehingga menjadi sumber pelanggan apotek yang potensial,


Penduduk dengan latar belakang sosial yang beragam, sangat

c.

memungkinkan untuk membeli obat dengan jenis yang variatif.


Berada di daerah yang akan berkembang dengan pesat ke depannya

d.

sehingga akan memberikan omset yang lebih besar


Penduduk dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Golongan
masyarakat ini lebih kritis, lebih bisa menerima pikiran logis, dan
mungkin lebih peduli dengan pola hidup sehat.Untuk menarik pelanggan
dari golongan ini, salah satu kegiatan apotek bisa mengarahpada mereka
(khususnya), contohnya memberikan informasi kesehatan lewat brosur,
menyediakan majalah kesehatan, progam konsultasi obat secara langsung

e.

dll.
Penduduk golongan pediatrik cukup banyak. Kaum pediatrik banyak
mengalami

masalah

kesehatan,

terutama

penyakitpenyakit

imunologi.Apotek dapat menyediakan obat-obat imunologi dalam jumlah


f.

yang lebih banyak dibandingkan obat lainnya.


Penduduk golongan remaja juga menjadi sumber pelanggan utama bagi
apotek, contohnya dengan memberikan brosur, komunikasi langsung

maupun via telepon tentang edukasi NAPZA, alkohol, Sex bebas, dan
g.

merokok.
Penduduk geriatri juga menjadi sumber pelanggan. Kaum geriatri banyak
mengalami

masalah

kesehatan,

terutama

penyakit-penyakit

degeneratif.Apotek dapat menerbitkan brosur, melakukan komunikasi

langsung maupun via telepon untuk menarik perhatian mereka.


Jumlah dokter yang membuka praktek di sekitar lokasi apotek cukup sehingga
diharapkan pasien yang datang ke apotek juga banyak.

4) Ancaman (Threats)
Ancaman terutama datang dari kompetitor/pesaing, yaitu apotek laindisekitar

lokasi (Sahabat Farma dan Apotek Generik).


Kinerja pegawai yang kurang baik sehingga pelayanan menjadi tidak

maksimal.
Karena manajemen keuangan yang kurang baik, maka apotek mengalami

kerugian.
Jumlah ataupun jenis obat yang tersedia tidak sesuai dengan permintaan pasar.

H. Analisis Potensi Pasar dan Distribusi Resep


1) Potensi pasar
Letak yang sangat strategis dari Apotek PADJADJARAN FARMA menjadikan
apotek ini cukup menjanjikan dalam hal potensi pasar.
Perkiraan konsumen:
Jumlah penduduk di wilayah pemukiman kurang lebih sebanyak 4.500 jiwa.
Karena terdapat balai pengobatan dan puskesmas, diasumsikan untuk awal
berdiri, jumlah resep per hari rata-rata sebanyak 5 lembar.
Karena jumlah penduduk banyak dan wilayah terus berkembang kebutuhan obat
yang diperlukan masyarakat selain resep, juga obat-obat bebas dan bebas
terbatas.
2) Market Share
Jumlah pesaing di sekitar apotek PADJADJARAN FARMA : 2 apotek
Asumsi : konsumen Apotek PADJADJARAN FARMA adalah 100 pasien setiap
hari, baik yang menebus resep dokter maupun pembelian OTC dan komiditi lain.
Distribusi produk dan pelayanan dapat diperoleh dengan cara datang langsung ke Apotek
dan dengan cara delivery service.

I. Strategi Pemasaran
1. Menjamin bahwa seluruh proses terapi obat yang diberikan merupakan terapi obat
yang tepat, efektif, nyaman dan aman bagi pasien,
2. Mengatasi masalah baru yang timbul dalam terapi obat dan mencegah timbulnya
masalah lain di masa yang akan datang,
3. Menjalankan program No Pharmacist No Service (Apoteker selalu berada di apotek)
4. Memberikan pelayanan kepada pasien atau masyarakat yang ingin melakukan
pegobatan mandiri,
5. Melakukan efisiensi biaya kesehatan masyarakat,
6. Memberikan informasi dan konsultasi obat,
7. Melakukan monitoring obat dan evaluasi penggunaan obat,
8. Merancang SOP (Standard Operating Procedure) dan standar organisasi kerja,
9. Memberlakukan sistam reward dan punishment bagi seluruh karyawan,
10. Sistem Delivery Service,
11. Ruangan apotek yang bersih dan nyaman,
12. Tersedia lahan parkir yang cukup luas.
J. Analisis Keuangan
1.

Sarana fisik
Tanah dan gedung

Rp

100.000.000

Biaya perlengkapan untuk :

Rp

20.000.000

Modal Tetap

Rp

50.000.000

Total

Rp

peralatan dan perlengkapan untuk resep


perabotan apotek
peralatan kantor
perlengkapan ruang praktek dokter
buku-buku wajib/farmasi

2.

170.000.000

Tenaga personalia pertahun (x12 bulan)


Asisten Apoteker 2 orang @Rp.800.000

Rp

19.200.000

Apoteker Pendamping 1 orang @ Rp. 1.500.000

Rp

18.000.000

Karyawan biasa 1 orang @ Rp. 500.000

Rp

6.000.000

THR

Rp

3.600.000

Total

Rp

46.800.000

3.

Biaya pengelolaan Tahun ke 1


a. Gaji pegawai

Rp

46.800.000

b. Pajak pendapatan 10%

Rp

4.680.000

Objek Pajak Kena Pajak)

Rp

250.000

d. Penyusutan gedung (5%)

Rp

4.000.000

e. Penyusutan alat

Rp

500.000

f. Biaya listrik + air + telepon (Rp 600.000 x 12 bulan)

Rp

7.200.000

g. Perlengkapan (Administrasi, alat-alat kebersihan dll)

Rp

450.000

h. Biaya lain-lain

Rp

600.000

Total

Rp

c. Pajak bumi dan bangunan (0,5% x 20% x Nilai Jual

Perhitungan-perhitungan :
1. Modal
Modal kerja

Rp.

50.000.000,-

Modal sarana penunjang

Rp.

20.000.000,- +

Total

Rp.

70.000.000,-

Rp.

46.800.000,-

Rp.

17.680.000,- +

2. Biaya pengelolaan terdiri dari


Biaya personalia
Biaya pengelolaan
Total

:
:

Rp. 64.480.000,-

3. Omzet
Obat dengan resep

5 resep x Rp 50.000 x (360 hari) = Rp 90.000.000,Obat OTC

95 x Rp 8.000 x (360 hari)

= Rp 273.600.000,-+

64.480.000

Total

Rp 363.600.000,-

4. HPP (Harga Pokok Penjualan)


Faktor harga jual resep tunai = 1,3
HPP = (100 %)= 100% - 23,07% = 76,93 %
Maka HPP :
76,93 % dari Rp. 363.600.000 : Rp. 279.717.480
5. Laba = Omzet HPP Biaya Pengelolaan
= Rp. 363.600.000 - Rp. 279.717.480 - Rp 64.480.000
= Rp. 19.402.520,-

Kelayakan Apotek PADJADJARAN FARMA :


1.

Analisis Payback Periode (PP)


Payback Periode (PP) adalah pengukuran periode yang diperlukan dalam menutup investasi
dengan menggunakan aliran kas yang akan diterima.
Payback Periode (PP) = Jumlah total investasi x 1 tahun
Laba netto per tahun
Payback Periode :
a. Tanpa uang tanah gedung :
Rp. 70.000.000 x 1 tahun = 3 tahun 7 bulan 6 hari
Rp. 19.402.520
b. Dengan uang tanah dan gedung :
Rp. 170.000.000 x 1 tahun = 8 tahun 9 bulan 4 hari
Rp. 19.402.520

Indikatornya adalah :
Bila PP yang diperoleh waktunya <

maksimum PP yang ditetapkan, maka proyek

tersebut layak dilaksanakan.


Bila PP yang diperoleh waktunya > lama dari maksimum PP yang ditetapkan, maka

proyek tersebut tidak layak dilaksanakan.


Bila PP yang diperoleh waktunya = maksimum PP yang ditetapkan, maka proyek tersebut

dikatakan boleh dilaksanakan dan juga boleh tidak.


Kesimpulan :
Untuk pengembalian modal investasi senilai Rp 70.000.000,- (tanpa gedung dan
bangunan:
Jika lama pinjaman yang diberikan adalah sama pada umumnya yaitu 5 tahun, maka proyek
layak dilaksanakan. Karena PP dapat tercapai dalam waktu kurang dari 5 tahun, yaitu 3
tahun 7 bulan 6 hari.
Untuk pengembalian modal investasi ditambah gedung dan bangunan senilai Rp
170.000.000,- :
Jika lama pinjaman yang diberikan adalah sama pada umumnya yaitu 5 tahun, maka proyek
tidak layak dilaksanakan. Karena PP dapat tercapai dalam waktu lebih dari 5 tahun, yaitu 8
tahun 9 bulan 4 hari.

2.

Analisis Return On Investment (ROI)


Return On Investment (ROI)adalah pengukuran besaran tingkat return (%) yang akan
diperoleh selama periode investasi dengan cara membandingkan jumlah nilai laba bersih
pertahun dengan nilai investasi.
ROI

= laba bersih / total investasi x 100 %

Untuk pengembalian modal investasi senilai Rp 70.000.000,- (tanpa gedung dan


bangunan:
ROI

= Rp. 19.402.520,- x 100% = 27,72 %


Rp. 70.000.000,-

Untuk pengembalian modal investasi ditambah gedung dan bangunan senilai Rp


170.000.000,- :
ROI

= Rp. 19.402.520,- x 100% = 11,41 %


Rp. 170.000.000,-

Indikatornya adalah :
Bila ROI yang diperoleh > dari bunga pinjaman, maka proyek layak dilaksanakan.
Bila ROI yang diperoleh < dari bunga pinjaman, maka proyek tidak layak dilaksanakan.
Bila ROI yang diperoleh = dari bunga pinjaman, maka proyek boleh dilaksanakan dan
boleh juga tidak.
Kesimpulan :Bila tanpa uang investasi tanah dan gedung, Proyek layak dilaksanakan,
karena nilai ROI yang diperoleh, yaitu 27,72%> dari bunga pinjaman (kredit untuk investasi)
yang ditetapkan, yaitu 22,5%.
Bila dengan uang investasi tanah dan gedung, Proyek tidak layak dilaksanakan, karena
nilai ROI yang diperoleh yaitu 11,41 % < dari bunga pinjaman (kredit untuk investasi) yang
ditetapkan, yaitu 22,5%.

3.

Analisis Break Point Even (BEP)


Break Point Even (BEP)adalah suatu titik yang menggambarkan bahwa keadaan kinerja
apotek berada pada posisi yang tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak memperoleh
kerugian. Posisi keadaan kinerja apotek seperti ini disebut sebagai posisi titik pulang pokok
atau titik impas.
TR = TC atau TR TC = 0
Untuk mengetahui resep pertahun atau perbulan maupun perhari melalui langkah-langkah
sebagai berikut :

TR adalah Total Revenue (total pendapatan)


Persamaan Total Revenue :
P : Harga rata-rata obat yang dibeli konsumen (OTC + Resep)
Q : Jumlah konsumen
TR
=PxQ
= (Rp 50,000,- + Rp 8,000,-) x Q

= Rp 58,000 Q

TC (Total Cost)
Biaya tetap (FC)
- Sarana penunjang

: Rp 20.000.000,-

- Gaji Pegawai

: Rp 46.800.000,- +

Total

: Rp 66.800.000,-

Variabel cost ditetapkan sebesar 75%


Persamaan Total Cost:
TC
= FC + (VC setiap konsumen x Q)
= Rp 66.800.000 + (75% x Rp 58.000 Q)
= Rp 66.800.000 + Rp 43.500 Q

BEP (Break Event Point)


TR

= TC

Rp 58.000 Q = Rp 66.800.000 + Rp 43.500 Q


Rp 14.500 Q = Rp 66.800.000
Q

= 4.606,90 ~ 4.607 konsumen

Jadi, BEP terjadi pada jumlah penjualan 4.607 konsumen dengan nilai (4.067 x Rp
58,000,-) = Rp 235.886.000,-