Anda di halaman 1dari 10

POLA DARI TERAPI PENURUNAN LIPID PADA ANAK USIA 8-20 TAHUN

Data patologis dan epidemiologi menunjukkan bahwa aterosklerosis dimulai pada


usia muda dan pengobatan dini dapat mengurangi prekursor untuk penyakit
kardiovaskular (CVD) di kemudian hari. Beberapa studi observasional dan uji klinis
telah menunjukkan efikasi dari obat-batan untuk terapi penurun lipid dalam
mengurangi tanda-tanda CVD. Mayoritas penelitian pediatrik telah berfokus pada
anak-anak dengan hiperkolesterolemia familial (FH), kondisi genetik yang bersifat
dominan negative yang ditandai dengan meningkatnya low-density lipoprotein
kolesterol yang signifikan sejak lahir. Hal ini juga diakui bahwa anak-anak dengan
FH berada pada risiko yang jauh lebih tinggi untuk kejadian koroner lebih muda saat
dewasa dan menunjukan prekursor untuk CVD pada akhir masa remaja dan dewasa
muda.

Meskipun

modifikasi

gaya

hidup

saja

tidak

cukup

sebagai

sarana

pengurangan resiko, farmakoterapi tampaknya memberikan manfaat.


Sebagai hasil dari bukti berkembangnya intervensi dini, pada tahun 2008, American
Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan pernyataan kebijakan " Lipid Health and
Cardiovascular Screening in Childhood," yang memperbarui pernyataan kebijakan
1998 "Cholesterol in Childhood", dengan memasukkan pengobatan farmakologis
dengan statin pada anak-anak 8 tahun ke atas - pravastatin secara eksklusif untuk
anak-anak berusia 8-10, dan semua statin untuk anak-anak diatas 10 tahun- yang
memiliki resiko tertinggi untuk CVD. Kebijakan 2008 ini diikuti pada tahun 2011 oleh
sebuah laporan dari sebuah panel ahli yang ditugaskan oleh National Heart, Lung,
and Blood Institute (NHLBI) dan disahkan oleh AAP, yang merekomendasikan
pedoman pengobatan yang sama dengan pengecualian bahwa usia minimum yang
disarankan untuk memulai terapi penurun lipid adalah 10 tahun. Kedua set
pedoman ini memiliki kontroversi ketika dirilis. Kritikus berpendapat bahwa
pedoman untuk mengobati anak-anak tersebut tidak disertai bukti yang cukup
dalam hal keamanan jangka panjang penggunaan terapi penurun lipid dan
memperingatkan sebuah "epidemi" pengobatan farmakologis pada anak-anak.
Sebelum dirilisnya pedoman dari AAP dan NHLBI, perkiraan prevalensi penggunaan
statin pada anak di bawah usia 18 tahun, baik pada pasien dengan asuransi pribadi
dan penerima Medicaid, adalah antara 0,0112% dan 0,0168%. Keduan perkiraan ini

menggunakan basis data yang dikeluarkan oleh CVS Caremark, yang terbatas pada
tahun 2004 dan 2007, dan kurangnya data untuk kovariat klinis.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pola, dan variabel
klinis yang terkait dengan, inisiasi terapi penurunan lipid pada populasi dengan
asuransi komersil pada anak-anak berusia 8-20 tahun antara tahun 2005 dan 2010,
yang dengan demikian mencakup ditegakan nya pedoman manajemen lipid untuk
tahun 2008. Kami berhipotesis bahwa tingkat inisiasi terapi penurunan lipid akan
meningkat seiring waktu dan bahwa anak-anak yang lebih tua dan anak-anak
dengan beberapa penyakit penyerta akan lebih mungkin untuk menerima terapi
penurun lipid. Kami selanjutnya berhipotesis bahwa kehadiran komorbiditas tertentu
dapat menyebabkan dokter untuk lebih agresif dengan skrining dislipidemia atau
lebih mungkin untuk mengobati anak-anak untuk dislipidemia tersebut. Karena
adanya fokus khusus pada anak-anak dengan dislipidemia genetic yang ada dalam
pedoman AAP 2008, tujuan kedua penelitian adalah untuk menyelidiki faktor yang
terkait dengan inisiasi terapi penurun lipid pada anak-anak dengan diagnosis FH
atau dislipidemia lainnya yang memiliki asuransi komersial.
Metode
Data karakteristik demografi, klaim farmasi, dan diagnosis klinis diambil dari
database Truven Health Analytics MarketScan (Truven Health Analytics, Ann Arbor,
Michigan) tahun 2004 sampai 2010. Semua data diidentifikasi, dan tidak
memerlukan persetujuan kelembagaan dewan peninjau. Database MarketScan
meliputi data klaim oleh karyawan dan tanggungan mereka dari pengguna dan
asuransi kesehatan. Database pendaftaran digunakan untuk menilai kelayakan, dan
informasi klinis dikumpulkan dari database klaim rawat inap dan rawat jalan.
Penggunaan terapi penurun lipid dikumpulkan dari database klaim apotek rawat
jalan dan termasuk semua penggunaan statin, niasin, ezetimibe, turunan asam
fibric, atau asam empedu sequestrant.
Hasil utama dari penelitian ini adalah insiden terapi penurun lipid, yang
didefinisikan sebagai diberikannya minimal 1 agen penurun lipid setelah tidak
adanya penggunaan yang tercatat selama periode 12 bulan berturut-turut. Kami
menggunakan langkah-langkah dari insidensi bukan prevalensi, untuk menangkap
perubahan keputusan untuk memulai terapi penurun lipid, untuk ukuran prevalensi

dapat tercerminkan dari perubahan dalam penghentian terapi penurun lipid dan
diferensial. Pasien berusia 8-20 tahun diantara tahun 2005 dan 2010 dengan
setidaknya 12 bulan dari pendaftaran dan terus menerus berada dalam rencana
kesehatan yang memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam analisis. Waktu tindak
lanjut untuk inisiasi terapi penurun lipid berisiko dimulai pada hari pertama setelah
12 bulan dari pendaftaran terus menerus, karena itu, diperkirakan inisiasi terapi
penurun lipid dimulai pada tahun 2005. Untuk analisis kami, kami menilai sia dan
jenis kelamin serta diagnosis klinis diidentifikasi sebagai faktor risiko CVD dalam
pernyataan konsensus disahkan oleh AAP " Cardiovascular Risk Reduction in HighRisk Pediatric Patients " menggunakan Klasifikasi Internasional (ICD-9) Kode: FH
( 272,0) dan dislipidemia lainnya (270,1-270,9), hipertensi (401.xx-404.xx, 796,0,
796,2), diabetes mellitus tipe I (252.x1, 252.x3) dan II (252.x0, 252.x2) , obesitas
(278.xx), penyakit jantung bawaan (746), penyakit ginjal kronis / tahap akhir
penyakit ginjal (585), penyakit Kawasaki (446,1), dan transplantasi jantung (V42.1,
996,83)

dan

penyakit

inflamasi

kronik

(375,1,

375,3).

FH

didefinisikan

menggunakan ICD-9 kode 272,0, namun, karena kode ini juga termasuk jenis
Fredrickson

type

IIa

hyper

hyperlipoproteinemia,

hyperbetalipoproteinemia,

hyperlipidemia group A, and low-density-lipid hyperlipoproteinemia, kami tidak bisa


memastikan bahwa diagnosis ini dimaksudkan untuk secara khusus mengacu ke FH.
Dengan demikian, pasien dengan ICD-9 kode untuk 272,0, tetapi tidak dikonfirmasi,
memiliki FH. Diagnosis klinis ditegakan ketika diidentifikasi setidaknya klaim 2 kali
rawat jalan atau 1rawat inap dalam 12 bulan terakhir. Sebagai diagnosis klinis
penyakit kronis, sekali diidentifikasi,l mereka diasumsikan bertahan selama masa
tindak lanjut. Selain itu, kami menandai 3 penanda biner untuk pemanfaatan
pelayanan kesehatan yang diukur selama 12 bulan terakhir: (1) adanya 5 atau lebih
kunjungan rawat jalan; (2) 1 atau lebih dalam kunjungan pasien; dan (3) pemberian
2 atau lebih resep obat selain terapi penurun lipid.

Analisis Statistik
Kami memplot tingkat kejadian terapi penurun lipid kasar serta tingkat yang
dikelompokkan berdasarkan usia ($ 15 vs <15 tahun) selama periode penelitian
untuk semua pasien yang memenuhi syarat. Untuk mengidentifikasi hubungan

antara karakteristik klinis dan inisiasi terapi penurun lipid, kami membuat sebuah
analisis kasus-kontrol yang bersifat nested yang termasuk semua kasus insiden
penggunaan terapi penurun lipid dan menggunakan kepadatan kejadian sampling
untuk memilih satu juta kontrol yang matched. Kami menggunakan desain kasus
kontrol bersifat nested dan tidka menggunakan desain kohort karena keterbatasan
dalam daya komputasi yang diperlukan untuk menyesuaikan model dengan waktu
bervariasi kovariat dan lebih dari 300 juta orang-bulan yang ada dalam database.
Insidensi kepadatan sampling, yang merupakan sampel kontrol sebanding dengan
orang-waktu, memberikan perkiraan langsung dari rasio tingkat kejadian dan
mempertahankan distribusi kovariat orang-waktu yang akan ditemukan dalam
analisis kohort.
Kami mencocokan model regresi logistik univariat, dan melakukan regresi hasil
terapi inisiasi penurun lipid (ya / tidak) pada demografi, diagnosis klinis, dan
langkah-langkah pemanfaatan kesehatan. Kami kemudian melakukan regresi
logistik multivariabel, pemodelan hubungan tahun dan usia untuk inisiasi terapi
penurun

lipid

setelah

disesuaikan

dengan

jenis

kelamin

dan

pemanfaatan

kesehatan. Dalam subanalysis, kami memasukan interaksi antara usia dan tahun
untuk menguji tren yang berbeda pada inisiasi terapi penurun lipid dari waktu ke
waktu oleh kelompok umur. Efek waktu tidak berbeda dengan kelompok usia, dan,
dengan demikian, istilah interaksi tidak termasuk dalam analisis akhir.
Kami melakukananalisis sekunder membatasi sampel kami hanya anak-anak
dengan diagnosis FH atau dislipidemia. Kami membandingkan inisiasi terapi
penurun

lipid

pada

subpopulasi

ini

dengan

demografi,

komorbiditas

dan

pemanfaatan kesehatan. Model regresi logistik dibuat sepanjang skema yang sama
rinci dalam analisis primer. Semua analisis dilakukan menggunakan SAS v 9.3 dari
sistem SAS untuk Windows (SAS Institute Inc, Cary, North Carolina). Signifikansi
statistik dinilai pada P <0,05.
Hasil
Populasi penelitian terdiri dari 13.262.087 pasien yang unik yang berusia 8-20 tahun
dengan rata-rata waktu follow-up 38 bulan. Dari populasi ini, kami mengidentifikasi
total 665 pasien yang memulai terapi penurun lipid antara tahun 2005 dan 2010
sesuai dengan tingkat kejadian keseluruhan sebesar 2,6 (95% CI 0,1-2,7) per 100

000 orang-tahun (PY). Tingkat inisiasi terapi penurun lipid tertinggi pada tahun 2005
dengan kejadian 4,1 per 100 000 PY (95% CI 3,3-4,8) dan secara signifikan lebih
rendah dari semua tahun-tahun berikutnya dengan pengecualian tahun 2008 di
mana insiden mencapai 3,9 per 100 000 PY (95% CI 3,3-4,5). Pola temporal yang
mirip meskipun kami memperhitungkan semua terapi penurun lipid, statin saja,
atau terapi penurun lipid nonstatin saja, serta ketika dikelompokkan berdasarkan
usia (Gambar 1 dan 2; Gambar 1 tersedia atwww.jpeds.com).
Dalam analisis univariat, inisiasi terapi penurun lipid berhubungan dengan usia lebih
dari sama dengan 15 tahun (OR 2,9, 95% CI 2,5-3,5) dan laki-laki (OR 2,1, 95% CI
1,7-2,4). Selanjutnya, dengan mengeksklusi penyakit Kawasaki dan penyakit
inflamasi kronis, dan kasus yang tidak ada terapi penurun lipid, semua diagnosis
klinis dalam analisis secara signifikan berhubungan dengan insiden yang lebih tinggi
untuk insiasi terapi penurun lipid. Dua atau lebih obat yang diresepkan selain obat
penurun lipid dalam 12 bulan terakhir ,adalah satu-satunya variabel yang diteliti
berhubungan negatif dengan inisiasi terapi penurunan lipid (OR 0,2, 95% CI 0,2-0,3;
Tabel I).
Dalam model multivariabel yang disesuaikan untuk diagnosis klinis termasuk dalam
univariat analisis dan kalender tahun yang digunakan, usia lebih dari sama dengan
15 tahun (OR 3,1, 95% CI 2,6-3,6), kelamin laki-laki (OR 2,0, 95% CI 1,7-2,4), dan
lebih dari sama dengan 5 kali kunjungan rawat jalan di 12 bulan terakhir (OR 2,55,
95% CI 2,1-3,1) berhubungan dengan peningkatan tingkat inisiasi terapi penurun
lipid, sedangkan, dibandingkan dengan perkiraan kasar, terdapat pelemahan dari
pengaruh >1 rawat inap dalam 12 bulan terakhir (OR 1.26,95% CI 0,8-2,1). Serupa
dengan tingkat kejadian kasar terapi penurun lipid, tingkat kejadian inisiasi terapi
penurun lipid yang disesuaikan/adjusted, secara signifikan lebih besar pada tahun
2005 dibandingkan tahun-tahun lainnya dengan pengecualian 2008 di mana tidak
ada perbedaan yang signifikan (Tabel II).
Dalam subanalysis dari anak dengan diagnosis FH atau dislipidemia lainnya, inisiasi
terapi penurun lipid lebih sering ditemukan pada laki-laki (OR 1,9, 95% CI 1,4-2,6),
dan cenderung pada mereka dengan diabetes tipe II (OR 0,2, 95 % CI 0,0-0,6),
obesitas (OR 0,4, 0,2-0,9), dan mereka dengan pemberian resep lebih banyak sama

dengan 2, dibandingkan terapi penurun lipid dalam 12 bulan terakhir (OR 0,1, CI
0,0-0,1 95%; Tabel III).
Diskusi
Pada populasi anak berasuransi komersial berusia 8-20 tahun diantara tahun 2005
dan 2010, kami menemukan tingkat yang sangat rendah untuk inisiasi terapi
penurunan lipid. Selama periode ini, terdapat penurunan umum dalam hal insiden
terapi penurunan lipid pada populasi ini, dengan pengecualian untuk peningkatan
yang bertepatan dengan terbitnya pedoman AAP 2008. Laporan NHLBI tahun 2011
dirilis setelahmasa studi dan, sehingga laporan ini tidak berkontribusi pada temuan
dalam studi kami. Penurunan tren sementara ini secara keseluruhan serupa dengan
berbagai jenis tipe terapi penurunan lipid (statin vs terapi penurun lipid lainnya) dan
seluruh kelompok usia yang berbeda (<15 vs vs >= 15 tahun). Anak-anak yang
teridentifikasi dislipidemia atau dengan diagnosis klinis lain dan orang-orang yang
menggunakan layanan kesehatan yang lebih besar lebih mungkin untuk memulai
terapi penurun lipid, sedangkan anak-anak pada beberapa pengobatan lainnya
kurang.
Fokus dari penggunaan terapi penurunan lipid pada anak terjadi dilakukan dalam
konteks tingginya prevalensi obesitas dan sindrom metabolik. Beberapa ketakutan
dari pemberi pengobatan adalah pengobatan untuk dislipidemia genetik yang cukup
langka, pedoman profil lipid pada anak dapat disalahartikan menjadi untuk
mendorong banyak anak-anak dengan gaya hidup terkait dislipidemia untuk
ditempatkan pada terapi medis yang tidak tepat. Data terbaru dari National Health
and Nutrition Examination Survey menunjukkan bahwa sekitar 0,85% dari anakanak Amerika usia 12-17 tahun memenuhi syarat untuk dilakukan pemberian terapi
penurunan lipid sesuai dengan rekomendasi AAP / NHLB. Meskipun analisis kami
menunjukkan bahwa diagnosis FH atau tipe dislipidemia lainnya meningkatkan
kemungkinan inisiasi terapi penurunan lipid, pemberian terapi penurunan lipid dari
2,6 per 100 000 PY ini besarnya masih lebih rendah dari perkiraan prevalensi
populasi 0,2% dari FH. Insidensi rendah inisiasi terapi penurunan lipid yang tak
terduga

pada

populasi

ini

menunjukkan

bahwa,

dibandingkan

"epidemi"

penggunaannya, terapi penurun lipid kurang dimanfaatkan pada populasi ini.

Kami menemukan bahwa anak-anak dengan kunjungan rawat jalan yang lebih
besar, lebih mungkin untuk memulai terapi penurun lipid, dan hal ini tidak
mengherankan mengingat bahwa setiap kunjungan memberikan kesempatan untuk
dilakukan inisiasi pengobatan. Meskipun begitu, hal ini dapat mencerminkan
peningkatan pengujian lipid atau kunjungan ke spesialis sebelum memulai
pengobatan atau inisiatif yang lebih besar dari keluarga untuk mencari kesehatan
dan keterlibatan mereka dalam terapi pencegahan, yang telah diidentifikasi dalam
literatur epidemiologi kesehatan mengenai klaim database administrasi sebagai
bias "health-user. Namun, temuan kami yang menunjukan bahwa anak-anak
dengan pemberian => 2 resep terapi penurunan nonlipid dalam 12 bulan terakhir
secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk memulai terapi penurun lipid,
ini tak terduga. Kami berhipotesis bahwa pasien yang memulai terapi penurun lipid
akan

menjadi

kenyataannya,

tidak

ragu-ragu

beberapa

untuk

penelitian

menggunakan

telah

obat

menunjukkan

lain

dan

peningkatan

pada
tingkat

polifarmasi pada populasi pediatrik. Namun, tingkat yang lebih rendah untuk
polifarmasi pada anak-anak yang memulai terapi penurun lipid dalam sampel kami,
mencerminkan ketidaknyamanan dokter dalam meresepkan terapi penurunan lipid
sebagai terapi utama untuk anak-anak, dan karena itu, muncul keengganan dalam
meresepkan

obat

tambahan.

Dalam

sebuah

survei

dokter

pediatrik,

83%

mengatakan bahwa mereka tidak nyaman dalam memberikan pengobatan penurun


lipid

dan

57%

mengatakan

bahwa

mereka menentang

penggunaan

terapi

penurunan lipid pada anak-anak. Selanjutnya, dalam survei manajemen lipid pada
populasi pediatrik lainnya menunjukan, setelah diagnosis FH, hanya 26% dari dokter
yang dilaporkan meresepkab farmakoterapi untuk pasien mereka.
Ketika kami membatasi analisis menjadi pasien yang hanya sesuai dengan definisi
FH atau tipelain dari dislipidemia (2 kunjungan rawat jalan dalam waktu 12 bulan
atau 1 kunjungan rawat inap dengan diagnosis pada ICD-9 kode 272,0-272,9),
hanya jenis kelamin laki-laki dan pemberian =>2 resep obat terapi penurun
nonlipid, yang berhubungan positif dengan inisiasi terapi penurunan lipid, dan
diabetes tipe II dan obesitas berhubungan negatif dengan inisiasi terapi penurunan
lipid. Rekomendasi AAP 2008 mengutip adanya FH sebagai alasan yang cukup untuk
memulai terapi penurun lipid dapat menjelaskan mengapa kondisi risiko tambahan
atau faktor risiko yang ada, tidak secara bertahap menambah kemungkinan

pemberian farmakoterapi pada pasien dengan FH. Atau, mungkin saja dokter
berbeda pendapat dengan rekomendasi yang ada, dan memilih untuk tidak
mengobati pasien dengan risiko yang sangat tinggi terutama yang memiliki FH yang
disertai kondisi risiko tinggi lainnya seperti diabetes. Kemungkinan ketiga adalah
dokter melakukan kesalahan dalam memberikan kode peningkatan kolesterol yang
lebih bersifat low-density lipoprotein atau dislipidemia lain seperti FH pada anakanak dengan diagnosis lain yang relevan. Tanpa pemeriksaan laboratorium,
bagaimanapun,

hal

yang

tidak

mungkin

untuk

memastikan

sejauh

mana

misklasifikasi dalam pengkodean FH. Meskipun prevalensi diagnosis klinis tidak


berbeda secara signifikan antara kasus dan kontrol ketika terbatas hanya pada
anak-anak dengan FH atau tipe dislipidemia lainnya, prevalensi diagnosis klinis
tambahan lebih besar ditemukan pada anak-anak dengan FH daripada populasi
keseluruhan. Perbedaan dalam prevalensi dari beberapa diagnosis klinis diantara
studi populasi penuh VS populasi yang hanya meliputi dyslipidemia dapat
mencerminkan kecenderungan untuk dokter mengobati anak-anak dengan kondisi
yang relevan seperti hipertensi atau diabetes, dan juga mengenali dislipidemia.
Kami tidak dapat menentukan alasan untuk kurang digunakannya terapi penurunan
lipid pada anak-anak yang sudah ditetapkan dalam pedoman rekomendasi. Statin
memiliki profil manfaat-risiko yang menguntungkan pada orang dewasa, namun,
belum ada studi tentang risiko jangka panjang dari statin yang melibatkan
partisipan selama 60-80 tahun, bila mulai diberikan sejak masa kecil. Namun,
temuan kami menunjukan bahwa antara 25% dan 50% dari semua inisiasi terapi
penurun lipid selama masa studi adalah nonstatins dan hal ini menjadi fokus kami,
karena terapi tersebut belum direkomendasikan untuk digunakan pada populasi
anak. Meskipun penelitian menunjukkan efek menguntungkan dari pengguanaan
terapi penurun lipid dalam prekursor CVD di kemudian hari pada anak-anak dengan
FH, kemungkinan bahwa dokter merasa ragu-ragu untuk memulainya pada anak
dengan dislipidemia genetik sebagai perawatan medis seumur hidup untuk kondisi
kronis mereka.
Ada beberapa keterbatasan penelitian kami. Pertama, anak-anak dalam sampel
kami, yang memiliki asuransi komersial, tidak mewakili populasi umum. Dengan
demikian, peneliti harus berhati-hati ketika melakukan ekstrapolasi hasil untuk
populasi non-asuransi komersil. Kedua, karena data dari asuransi yang dikumpulkan

ini dilakukan untuk tujuan penagihan, kami akan berekspektasi adanya sensitivitas
rendah pada kondisi yang tidak mempengaruhi penggantian dana asuransi. Selain
itu, perkiraan kami, untuk pemberian resep terapi penurun lipid, hal ini didasarkan
pada penggantian untuk resep yang diisi dan dengan demikian cenderung
meremehkan kebenaran jumlah dari resep yang sebenarnya diberikan. Selanjutnya,
meskipun

kami

tidak

dapat

mengidentifikasi

diagnosis

klinis

yang

belum

didokumentasikan, kami memerlukan setidaknya 2 kunjungan rawat jalan atau 1


rawat inap untuk menegakan diagnosis klinis. Kami memerlukan definisi ini untuk
menghindari kesalahan klasifikasi dari kondisi yang dikarenakan adanya hal seperti
"mengesampingkan

klaim,"

yang

kadang-kadang

terjadi

pada

klaim

untuk

membenarkan prosedur yang digunakan untuk "menyingkirkan" suatu kondisi,


bukan prosedur karena menegakan diagnosis.
Berdasarkan jumlah diagnosa pada Tabel I, dan perhitungan pada anak-anak
dengan diagnose multipel, kami menemukan bahwa hanya 204 (25%) anak-anak
yang memulai terapi penurun lipid yang memiliki catatan alasan indikasi
penggunaan terapi penurunan lipid, meskipun tingkat inisiasinya rendah, anak-anak
tanpa indikasi mungkin lebih tidak diberikan terapi penurun lipid. Namun, tidak
tertutup kemungkinan bahwa prevalensi yang relatif rendah dari pencatatan
indikasi untuk penggunaan terapi penurun lipid merupakan hasil dari indikasi terapi
penurun lipid yang teridentifikasi sebelum dimasukan dalam database Marketscan,
atau teridentifikasi tetapi tidak dicatat untuk tujuan penagihan. Dalam satu studi
yang menggunakan klaim asuransi kesehatan untuk mempelajari risiko kejadian
kardiovaskular terkait dengan farmakoterapi untuk sindrom iritasi usus, hanya 32%
dari pasien yang memiliki klaim untuk sindrom iritasi usus besar selama 6 bulan
sebelum memulai pengobatan. Demikian pula, dalam sebuah studi pada pasien
penyakit paru obstruktif kronik yang menggunakan long acting beta agonis/agonis
beta kerja lama, kurang dari 50% dari mereka memiliki klaim untuk penyakit paru
obstruktif kronis atau asma dalam 6 bulan sebelum penggunaan beta agonis kerja
lama. Dengan demikian, kurangnya indikasi untuk penggunaan terapi penurunan
lipid mungkin dikarenakan keterbatasan klaim asuransi kesehatan dan bukan
merupakan indikasi dari pola perepan. Jadi, meskipun kesalahan klasifikasi dapat
memainkan peran dalam rendahnya tingkat pencatatan indikasi penggunaan terapi
penurun lipid, hal yang tidak mungkin untuk sepenuhnya memperhitungkan 75%

dari pasien tanpa indikasi untuk terapi penurun lipid. Pada akhirnya, insiden
rendahnya terapi penurun lipid mungkin telah membatasi kekuatan kita untuk
mendeteksi hubungan antara penyakit penyerta dan inisiasi terapi penurunan lipid
pada pasien dengan diagnosis FH atau dislipidemia lainnya. Namun, temuan utama
kami mengenai tren temporal dalam inisiasi terapi penurun lipid cukup kuat dalam
tipe kesalahan klasifikasi.

Meskipun adanya keterbatasan ini, analisis kami ini mencakup periode waktu
selama rekomendasi dalam penggunaan terapi penurun lipid pada populasi
pediatrik. Peningkatan terisolasi pada inisiasi terapi penurun lipid yang diamati pada
tahun 2008, ketika pedoman baru yang dirilis, diikuti dengan kembali tren
penurunan yang diamati tahun 2005-2007, menunjukkan bahwa pedoman mungkin
hanya

memiliki

efek

sementara

pada

peresepan

dan

tidak

menyebabkan

overtreatment pada anak-anak dengan gaya hidup yang berhubungan dyslipidemia.


Selanjutnya,

insiden

pengobatan

dengan

terapi

penurun

lipid

nonstatin

menunjukkan bahwa terdapat kurangnya kepatuhan pada pedoman AAP 2008, dan
pengobatan yang dianjurkan untuk anak-anak yang berisiko tinggi dengan FH tidak
dilakukan. Meskipun kami tidak dapat menguji secara formal efek dari pedoman
dengan data yang tersedia oleh kami, temuan ini bersifat konsisten dengan laporan
yang baru-baru ini diterbitkan yang mencatat adanya peningkatan yang signifikan
dalam tingkat skrining lipid.