Anda di halaman 1dari 26

PENUNTUN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

BLOK 14
HEMATOLOGI DAN LIMFATIK
NAMA
: M Ath Thaariq Prasetiyo
NPM
: 04101401077
SEMESTER : V

BAGIAN PATOLOGI KLINIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRI
PALEMBANG
2012

A. FLEBOTOMI
1. Flebotomi Vena
Pada orang dewasa biasanya dipakai salah satu vena dalam fossa cubiti (daerah lipatan siku)
misalnya v. mediana cubiti. Pada bayi dapat dipakai vena jugularis superficialis atau darah
dari sinus sagittalis superior.
Cara:
a. bersihkanlah kulit tempat darah akan diambil dengan kapas alkohol 70% dan
biarkanlah sampai menjadi kering lagi.
b. Pasanglah ikatan pembendung pada lengan atas di sebelah atas tempat yang akan
diambil darahnya dan mintalah orang itu mengepal dan membuka tangannya berkalikali agar vena jelas terlihat. Pembendungan vena tidak perlu terlalu erat, secukupnya
saja untuk menonjolkan vena agar terlihat.
c. Tegangkanlah kulit di atas vena itu dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak
dapat bergerak
d. Tusuklah kulit sampai jarum masuk ke dalam lumen vena kemudian lepaskan atau
renggangkan pembendungan. Secara perlahan-lahan tarik pengisap semprit sampai
jumlah darah yang dikehendaki didapat
e. Lepaskan pembendungan jika masih terpasang
f. Taruhlah kapas steril di atas tempat tusukan dan tariklah jarum dengan gerakan searah
g. Mintalah orang tersebut untuk menekan tempat tusukan tersebut dengan kapas tadi
hingga darah tidak keluar lagi
h. Lepaskan jarum dari semprit dan alirkanlah (jangan semprotkan) darah ke dalam
wadah atau tabung yang tersedia melalui dindingnya secara perlahan-lahan, hindarilah
jangan sampai terjadi buih
2. Flebotomi Kapiler
Pada orang dewasa darah kapiler diambil di ujung jari atau anak daun telinga, pada bayi dan
anak kecil boleh juga diambil di tumit atau ibu jari kaki.
a. Bersihkanlah daerah yang akan diambil darahnya dengan alkohol 70% dan biarkan
sampai kering lagi
b. Peganglah bagian yang akan ditusuk supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya
rasa nyeri berkurang
c. Tusuklah dengan cepat memakai lanset steril. Pada jari tusuklah dengan arah tegak
lurus pada garis-garis sidik kulit jari, jangan sejajar dengan itu. Bila memakai anak
daun telinga tusuklah pinggirnya, jangan sisinya. Tusukan harus cukup dalam supaya
darah mudah keluar, jangan sampai menekan-nekan jari atau telinga untuk mendapat
cukup darah. Darah yang diperas keluar semacam itu telah bercampur dengan cairan
jaringan sehingga menjadi encer dan menyebabkan kesalahan.
d. Buanglah tetes darah pertama yang keluar dengan menggunakan kapas, tetes darah
berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan.

B. PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI

5 Biarkan 4 menit agar hemoglobin berubah menjadi asam hematin.1 N ke dalam tabung Sahli 2 Isap 20 l darah dengan pipet Sahli. 3 Masukkan darah tersebut dengan hati-hati ke dalam tabung Sahli yang sudah berisikan HCl 0. bersihkan darah yang menempel pada bagian luar pipet. . Bahan pemeriksaan: Darah kapiler atau darah vena dengan antikoagulan EDTA. sampai warna larutan sama dengan warna standar (pembanding). Alat dan reagen: 1 Hemoglobinometer Sahli 2 HCL 0.1 N 3 aquadest. Cara pengambilan darah kapiler (perifer):  Ujung jari atau lateral tumit (untuk bayi) didesinfeksi dengan kapas alkohol 70%  Biarkan kering  Tusuk dengan lanset ± 3 mm.Prinsip: Darah ditambah asam (HCL 0.1 N beberapa kali. penusukan tegak lurus dengan garis kulit  Darah yang pertama keluar (tanpa ditekan) dibersihkan dengan kapas kering steril Cara kerja: 1 Masukkan 5 tetesHCl 0.1 N) akan membentuk asam hematin yang berwarna coklat. 4 Bilas darah dalam pipet dengan cara menghisap dan mengeluarkan HCl 0. 6 Encerkan larutan dengan aquadest tetes demi tetes. sambil dikocok tiap kali menembahkan aquadest.1 N. 7 Hasil harus dibaca dalam waktu 5 menit 8 Tinggi bagian bawah meniskus menunjukkan kadar hemoglobin (g/dl) Kerugian metode ini: 1 Kurang teliti. Warna coklat yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar. kesalahannya besar.

sedang menstruasi) Gambar 1.2 3 4 5 6 Warna asam hematin yang terbentuk tak stabil. 19 tahun. Tabung yang dipakai tidak selalu sama isinya. 2 pemeriksaan dilakukan dalam kamar yang terang/cahaya siang hari. sudah menyebabkan kesalahan besar. Kalibrasi pada tabung sangat rapat Jumlah darah yang dipakai sedikit sekali sehingga kelebihan/kekurangan sedikit saja. kolom darah tidak boleh berisi gelembung-gelembung udara. Membersihkan alat-alat: 1 sesudah dipakai. 2 pipet dibersihkan berturut-turut dengan: a aquadest b aseton c ether atau alkohol 3 keringkan dengan air pengering 4 alat dalam keadaan bersih diserahkan kembali kepada asisten. Hasil dari pemeriksaan hemoglobin Interpretasi: . Warna standar dapat berubah dalam beberapa bulan. alat dicuci dengan air lalu dibilas dengan aquadest kemudian keringkan dengan kain yang tersedia.0 gr/dl (ket: wanita. Hasil Praktikum: Hb = 11. Syarat-syarat: 1 Pada waktu menghisap darah dengan pipet Sahli.

Pada metode Sahli.16 gr/dl Pada praktikum ini. hemolet 4. antara lain metode Sahli. jumlah darah yang hilang akibat menstruasi juga cukup besar. C. maka kadar hemoglobin juga akan menurun.0 gr/dl Nilai Normal 12-16 gr/dl Interpretasi Anemia Pembahasan: Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah atau eritrosit. Akan tetapi metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%. hemoglobin dihidrolisi dengan HCl menjadi globin ferroheme. yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Dan perdarahan akibat menstruasi yang dialaminya cukup besar. mikroskop Cara: 6. Dalam praktikum ini. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan. alkohol 70% 2. Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0. Cairan Hayem atau Gower 5.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. yang memberi warna merah pada darah. Menghitung Sel-Sel Darah 1. sample darah diambil dari wanita yang sedang menstruasi.18 gr/dl Wanita dewasa : 12 . Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar.kamar hitung . warna standar dibuat konstan. Adapun beberapa hal yang menjadi sumber kesalahan. metode yang digunakan adalah metode Sahli. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara. oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Hemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen. antara lain:  Kemampuan untuk membedakan warna tidak sama  Sumber cahaya yang kurang baik  Warna asam hematin yang terbentuk tak stabil  Kelelahan mata  Alat-alat kurang bersih Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang.pipet karet . Hemocytometer lengkap: .pipet eritrosit . Oleh karena itu.Hasil Praktikum 11. kapas 3.kaca penutup . Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang akan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna cokelat. Pria dewasa : 14 . Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar.Menghitung Jumlah RBC (Eritrosit) Alat-alat: 1.

000 (4 angka 0) Hasil Praktikum Gambar 2.2 Sample darah setelah diisikan ke dalam kamar hitung Gambar 2.1 Darah di dalam pipet eritrosit setelah di putar-putar selama 3 menit Gambar 2.3 Contoh hasil gambaran mikroskopik eritrosit Interpretasi: .1. 3. buanglah 4 tetesan yang pertama lalu diisikan ke dalam kamar hitung yang bersih. hapuslah kelebihan darah yang melekat di ujung luar pipet. Isap ke dalam pipet (1) cairan Hayem (atau Gower) sampai tanda 101. Kocok lagi selama 3 menit. sambil memutar-mutar pipetnya. lepaskan karetnya. 2. 5. Kocok pipet 10-15 detik dalam posisi horizontal sambil diputar-putar. Hitung di bawah mikroskop dengan: Kamar hitung Improved Neubauer: Eritrosit : dengan HPF dalam 80 kotak kecil atau dalam 5 x 16 kotak kecil dan hasilnya dikalikan dengan 10.5. biarkan 2-3 menit. Isap darah kapiler dengan pipet eritrosit sampai tanda 0. 4.

kemudian tambahkan dengan Reagen hayem dengan cara menghisapnya dengan pipet thoma sampai batas 101.5ml. kemudian darah selanjutnya yang keluar dihisap dengan pipet thoma sebanyak 0. pria 4.5 juta/mm3 darah pada laki-laki dan 4.5. Pertama-tama darah diambil adalah darah kapiler.5 juta/mm3 Kadar eritrosit normal. lalu kocok pipet thoma sampai Reagen hayem dan sampel darah tercampur homogen. atau jenis sel laindi suspensi. Interpretasi hasil: Normal Pembahasan: Sel darah merah adalah sel darah yang tidak memiliki inti. yaitu Uji Red Blood Cell Count (RBCL: menghitung jumlah total sel darah merah). Usapkan darah yang pertama kali keluar.Dari praktikum penghitungan jumlah RBC (eritrosit). Kemudian teteskan dalam kamar hitung danamati dalam mikroskop. dengan menggunakan alat Hemositometer atau haemocytometer. berbentuk bulat pipih dan cekung pada bagian tengahnya. Untuk menghitung jumlah sel darah merah dalam darah dapat dilakukan dengan tiga cara.0 .000 = 4. Uji Hemoglobin (HB atau HGB). sel darah merah akan mati dan diubah menjadi bilirubin atau zat warna empedu.5.5.5 .5 . dan Uji Hematokrit (HI yang menghitung persentase sel darah merah). sel-sel darah dalam cairan tulang punggung ke otak setelah melakukan tusukan lumbal.0 . Pada orang dewasa sel darah merah dibentuk dalam hati dan limpa. didapatkan hasil sebagai berikut: Probandus Jenis Kelamin Usia Jumlah eritrosit 80 kotak kecil Jumlah eritrosit rata-rata : Ashita Hulwah Adwirianny : Perempuan : 19 tahun : 450 : 450 x 10. organel dalam sel.5 juta/mm3 darah dan wanita 4. Pada orang dewasa sel darah merah berjumlah 4. Setelah berumur 120 hari.0 juta/mm3 darah. Pada praktikum Hitung Jumlah Eritrosit dalam darah kali ini yaitu.0 juta/mm3 darah pada perempuan. Haemocytometer terdiri dari sebuah slide mikroskop kaca tebal dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar hitung dan pipet thoma. Eritrosit berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah.5. Hemocytometers sering digunakan untuk menghitung sel-sel darah. .

0 .pipet karet Cara: 1. Menghitung Jumlah WBC (Leukosit) Alat-alat: 1.Rumus menghitung Eritrosit:Jumlah Eritrosit (/µL darah) = Nilai kadar eritrosit normal. hemolet 4. sambil memutar-mutar pipetnya.5.kamar hitung .0 juta/µL darah. 3. Kocok pipet 10-15 detik dalam posisi horizontal sambil diputar-putar. Hemocytometer lengkap: . 6. alkohol 70% 2.5. mikroskop 2. lepaskan karetnya.pipet leukosit . 2. biarkan 2-3 menit. buanglah 4 tetesan yang pertama lalu diisikan ke dalam kamar hitung yang bersih.5 juta/µL darah dan wanita 4. Isap ke dalam pipet (1) cairan Turk sampai tanda 11. pria 4.5. 4.5 . 5. kapas 3. hapuslah kelebihan darah yang melekat di ujung luar pipet. Isap darah kapiler dengan pipet leukosit sampai tanda 0. Cairan Turk 5. Hitung di bawah mikroskop dengan: Kamar hitung Improved Neubauer: Leukosit : dengan HPF dalam 64 kotak kecil atau dalam 4 x 16 kotak kecil dan hasilnya dikalikan dengan 50 Hasil Praktikum: .kaca penutup . Kocok lagi selama 3 menit.

Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) artinya tubuh kita sedang melawan infeksi. misalnya asma atau alergi kulit.Gambar 3. Fungsi basofil tidak begitu dipahami. Sel ini terlibat dengan alergi dan reaksi terhadap parasit. Darah di dalam pipet leukosit setelah di putar-putar selama 3 menit Interpretasi: Dari praktikum penghitungan jumlah WBC (leukosit). eosinofil. basofil. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit. neutrofil. dan limfosit (Campbell.500/mm3 Kadar leukosit normal yaitu 5. Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang. Menurut terbitan New Mexico AIDS InfoNet (2009) jenis-jenis leukosit dan jumlahnyaadalah sebagai berikut :    Neutrofil.2004). Leukosit rendah disebut leukopenia atau sitopenia yang berarti tubuh kurang mampu melawan infeksi (Yayasan Spiritia. Interpretasi hasil: Normal Pembahasan: Terdapat lima jenis utama sel darah putih yaitu monosit.10.000/mm3 darah.000 . namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang. Biasanya 1-3% leukosit. didapatkan hasil sebagai berikut: Probandus Jenis Kelamin Usia Jumlah leukosit 64 kotak kecil Jumlah leukosit rata-rata : Ashita Hulwah Adwirianny : Perempuan : 19 tahun : 110 : 110 x 50 = 5. Basofil. 2004). Untuk mengetahui adanya infeksi dapat dilakukan penghitungan sel darah putih. . Eosinofil. Berfungsi melawan infeksi bakteri jumlahnya normalnya berkisar antara 55-70%.

Bila monosit ada di jaringan tubuh. Monosit beredar dalam darah. Isaplah darah itu ke dalam pipet Westergreen sampai garis bertanda 0 mm. Bacalah tingginya lapisan plasma dengan milimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah b. Bacalah tingginya lapisan plasma dengan milimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah Sangat penting untuk menaruh pipet atau tabung laju endap darah dalam sikap tegak-lurus benar karena selisih kecil dari garis vertikal sudah dapat berpengaruh banyak terhadap hasil laju endap darah.  Limfosit: Ada dua jenis utama limfosit yaitu sel B untuk membuat antibodi dan sel T untuk menyerang dan membunuh kuman. Lakukanlah pungsi vena dengan spuit itu dan isaplah 1. 2. serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.2 mm/jam ≈ 0 mm/jam Interpretasi: a. Dengan memakai pipet Wintrobe masukkanlah darah yang telah dicampur dengan antikoagulan ke dalam tabung Wintrobe setinggi garis tanda 0 mm. Hasil Praktikum: LED dengan menggunakan metode Westergreen : 2 mm/jam LED dengan menggunakan metode Wintrobe : 0. Cara Westergreen 1. Monosit: Disebut juga makrofag.6 ml darah sehingga mendapatkan campuran sebanyak 2. D. Biarkan tabung Wintrobe itu dalam sikap tegak-lurus selama 60 menit 3. LED (Laju Endap Darah) a. Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit. Sel ini melawan infeksi dengan memakan kuman.8% yang steril dalam spuit yang steril juga 2. Isaplah 0. Biasanya berjumlah 2-8%. Metode Westergren: Nilai Normal Pria : 0-15 mm/jam Wanita : 0-20 mm/jam Hasil Praktikum Interpretasi 2 mm/jam Normal . kemudian biarkan pipet itu dalam sikap tegak lurus dalam rak Westergreen selama 60 menit 5. Masukkanlah campuran itu ke dalam tabung dan campurlah baik-naik 4.0 ml 3.4 ml larutan natrium sitrat 3. mereka disebut makrofag. Cara Wintrobe 1. Jumlah monosit yang tinggi menunjukkan adanya infeksi bakteri. Jagalah jangan sampai terjadi gelembung hawa atau busa.

b. malignansi. Metode Wintrobe: Nilai Normal Pria : 0-10 Wanita : 0-15 Hasil Praktikum Interpretasi 1 mm/jam Normal Pembahasan: Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate. beberapa dokter masih mengharuskan uji LED bila ingin membuat perhitungan kasar mengenai proses penyakit. LED tidak andal karena tidak spesifik. dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis yang menyebabkan temuan tidak akurat. Pemeriksaan CRP dipertimbangkan lebih berguna daripada LED karena kenaikan kadar CRP terjadi lebih cepat selama proses inflamasi akut. Laju endap darah ( LED ) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma ( mm/jam ). dan sebaliknya bila Laju Endap Darah normalpun belum tentu tidak ada masalah. dengan satuan mm/jam. o Faktor Plasma • Peningkatan kadar fibrinogen dalam darah akan mempercepat pembentukan rouleaux→ LED ↑. • Peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih) → biasanya terjadi pada proses infeksi akut maupun kronis . LED dapat meningkat karena : o Faktor Eritrosit • Jumlah eritrosit kurang dari normal • Ukuran eritrosit yang lebih besar dari ukuran normal. LED merupakan uji yang tidak spesifik. Sebagian ahli hematologi. faktor plasma dan faktor teknik. sehingga lebih mudah/cepat membentuk rouleaux → LED ↑. Jika nilai LED meningkat. rheumatoid. Tinggi ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita. Namun. terutama saat terjadi radang. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut. dan lebih cepat juga kembali ke kadar normal daripada LED. suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. infeksi akut dan kronis. dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Namun ternyata orang yang anemia. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam. maka uji laboratorium lain harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah klinis yang muncul. sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah yang tinggi. kerusakan jaringan (nekrosis). ESR) yang juga disebut kecepatan endap darah (KED) atau laju sedimentasi eritrosit adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku. Di dalam tubuh. dan bermanfaat untuk mengikuti perjalanan penyakit. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah tinggi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) adalah faktor eritrosit. penyakit kolagen.

Semakin tua seseorang. dalam praktikum ini terdapat perbedaan hasil antara LED Wintrobe dan Westergren. a. infeksi akut dan kronis. Namun. dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). hasil normal LED darah dengan menggunakan metode wintrobe adalah: Pria : 0-10 Wanita : 0-15 Sebenarnya. Metode Westergren Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan rouleaux – sel darah merah berkumpul membentuk kolom. Dewasa (Metode Westergren): • Pria < 50 tahun = kurang dari 15 mm/jam • Pria > 50 tahun = kurang dari 20 mm/jam • Wanita < 50 tahun = kurang dari 20 mm/jam • Wanita > 50 tahun = kurang dari 30 mm/jam Anak-anak (Metode Westergren): • Baru lahir = 0 – 2 mm/jam • Baru lahir sampai masa puber = 3 – 13 mm/jam Dalam praktikum ini. Namun. • Suhu saat pemeriksaan lebih tinggi dari suhu ideal (>20̊ C) akan mempercepat pengendapan→ LED ↑. Nilai ini masuk ke dalam range nilai normal untuk kedua jenis kelamin. rheumatoid. darah yang diambil adalah sample darah yang telah tersedia di laboratorium. Hal ini disebabkan karena sample darah yang diambil untuk metode Wintrobe berbeda dengan sample darah untuk metode Westergren. LED sample darah (dengan metode Westergren) menunjukkan nilai 2 mm/jam. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi/peradangan akut. LED orang tersebut semakin tinggi. perhitungan LED dengan menggunakan metode Wintrobe dan Westergren tidak terlalu berbeda jauh hasilnya. tahap pengendapan dan tahap pemadatan. LED juga dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. hal itu disebabkan panjang pipet Westergren yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Dengan menggunakan metode Westergren. Metode Wintrobe Berbeda dengan metode Westergren. . tidak diketahui nama. Sehingga. malignansi. jenis kelamin dan usia dari pemilik darah tersebut. bisa didapat nilai yang lebih tinggi. kerusakan jaringan (nekrosis). b.o Faktor Teknik Pemeriksaan • Tabung pemeriksaan digoyang/bergetar akan mempercepat pengendapan → LED ↑. penyakit kolagen.

Hematokrit a. Perhatikan: . E. 4.International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen. Mikrometode 1.000 rpm (sentrifuge mikrohematokrit). Masukkan tabung kapiler itu ke dalam sentrifuge khusus yang mencapai kecepatan besar.Kebanyakan orang lebih memilih metode Westergren daripada metode Wintrobe. Makrometode menurut Wintrobe 1. Isilah tabung mikrokapiler yang khusus dibuat untuk penetapan mikrohematokrit dengan darah 2. Tutuplah ujung satu dengan nyala api ( atau dengan bahan penutup khusus) 3.buffy coat . yaitu lebih dari 16. Tabung Wintrobe yang sudah dipakai pada (b) diputar selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm 2. peningkatan LED tidak dapat dilihat dan kurang meyakinkan. Hal ini disebabkan karena dengan menggunakn metode Wintrobe.plasma untuk icterus index b.berapa hematokrit . Pusinglah selama 3-5 menit 5. Bacalah hematokrit dengan menggunakan grafik atau alat khusus Hasil Praktikum: Hematokrit = 47% . Selain itu.

diare berat. penisilin). pemeriksaan ini paling dapat dipercaya di antara pemeriksaan yang lainnya. vitamin C). malnutrisi protein. sehingga nilai hematokrit bisa meningkat. emfisema pulmonar tahap akhir. yaitu kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. ulkus peptikum. iskemia serebrum sementara. eritrositosis. mielositik. luka bakar. Pengaruh obat : antineoplastik. sideroblastik. hemolitik. polisitemia vera. diabetes asidosis. anemia (aplastik. mieloma multipel. Berdasarkan reprodusibilitas dan sederhananya. malignansi organ. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. obat radioaktif. kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol sehingga darah terencerkan. Pengambilan darah kapiler : tusukan kurang dalam sehingga volume yang diperoleh sedikit dan darah harus diperas-peras keluar. sel sabit).Interpretasi: Nilai Normal Pria: 40%-54% Wanita: 36%-47% Hasil Praktikum Interpretasi 36% Normal Pembahasan: Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume. terjadi bekuan dalam tetes darah karena lambat dalam bekerja. penyakit Hodgkin. kehamilan. PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. SLE. limfosarkoma. defisiensi asam folat. sampel darah yang dibutuhkan juga sedikit dan dapat dipergunakan untuk sampel tanpa antikoagulan yang dapat diperoleh secara langsung. gagal. eklampsia. ginjal kronis. Masalah Klinis Penurunan kadar : kehilangan darah akut. nilai hematokrit cenderung rendah karena terjadi hemodilusi. Dapat dipergunakan sebagai tes penyaring sederhana terhadap anemia. defisiensi vitamin (tiamin. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :    Jika sampel darah diambil pada daerah lengan yang terpasang jalur intra-vena. . pernisiosa. pembedahan. Peningkatan kadar : dehidrasi/hipovolemia. leukemia (limfositik. Metode mikrohematokrit lebih banyak digunakan karena selain waktunya cukup singkat. monositik). Pemasangan tali turniket yang terlalu lama berpotensi menyebabkan hemokonsentrasi. antibiotik (kloramfenikol. fistula lambung atau duodenum. sirosis hati.

MCV (Mean Corpuscular Volume) = VER (Volume Eritrosit Rata-rata) Vol.Pada praktikum ini. dan hematokrit didapatkan hasil sebagai berikut: Probandus Jenis Kelamin Usia Nilai Hb Nilai eritrosit Nilai hematokrit : Ashita Hulwah Adwirianny : Perempuan : 19 tahun : 11 gr/dl : 4. MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) = KHER (Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata) = Kadar Hb yang didapat pereritrosit. dinyatakan dengan persen (%) Cara Perhitungan N. MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) = HER (Hemoglobin Eritrosit Rata-rata) Banyaknya Hb per eritrosit. disebut dengan pikogram (pg) 3.C. MENILAI INDEKS ERITROSIT (MCV. MCHC) M. Tentang : ukuran rata-rata eritrosit & banyaknya Hb per eritrosit. namun. Values : Nilai Eritrosit Rata-rata  Memberi ket. MCH.5 juta/mm3 .  Nilai yang banyak dipakai ialah : 1.E. angka 47% masih termasuk normal baik untuk wanita maupun pria. walaupun jenis kelamin dari pemilik sample darah yang diuji tidak diketahui.5 juta/mm3 : 36 vol % Sehingga nilai indeks eritrositnya adalah: 36 vol % 4.R VER = HER = Ht Hb KHER = Hb x 10 = ……………femtoliter (fL) x 10 = ……………pikogram (pg) x 100 = ……………persen (%) Ht Nilai normal untuk VER = 82 – 92 fL HER = 27 – 31 pg KHER = 32 – 37 % Interpretasi: Dari praktikum penghitungan kadar Hb. rata-rata sebuah eritrosit disebut dengan femtoliter (fL) 2. eritrosit.

gelas ukur 10 cc . Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata (mean corpuscular hemoglobin concentration. kaca objek 12. kertas saring 5. konsentrasi hemoglobin. yaitu sel berukuran normal. hemolet 11. kapas 10. Batas normal MCHC adalah 30 sampai 36 g/100 ml darah. MCHC) mengukur jumlah hemoglobin dalam 100 ml (1dl) eritrosit packed. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata (mean corpuscular hemoglobin. Nilai normal adalh sekitar 27 sampai 31 pg/eritrosit.5 % Interpretasi hasil: Menurun Pembahasan: Hasil dari hitung sel darah merah. dan ditentukan melalui pembagian jumlah hemoglobin dalam 1000 ml darah melalui jumlah eritrosit permilimeter kubik darah. xylol 8. Wright stain 2. Giemsa stain 15. MEMBUAT PREPARAT APUS DARAH Alat-alat: 1. aquadest 16. F. yang mencerminkan ukuran eritrosit. dan dinyatakan dalam gram/100 ml (g/dl). dan hematokrit digunakan untuk menghitung indeks eritrosit. sol buffer 4. MCHC didapat dengan membagi ukuran hemoglobin dengan hematokrit. MCV).5 juta/mm3 x 100 = 11 gr/dl 36 vol % x 10 = 80 fL Interpretasi hasil: Menurun x 10 = 24. dengan rentang nilai normal dari 81 hingga 96 µm3.VER = Ht x 10 = Hb HER = KHER = x 10 = Hb Ht 11 gr/dl 4. MCH dinyatakan dalam pikogram hemoglobin/eritrosit. alkohol 70% 9. disebut normokromik. rak pengecatan 13. Pembagian hematokrit berdasarkan jumlah eritrosit akan menghasilkan volume eritrosit rata-rata (mean corpuscular volume. mikroskop 6. dan konsentrasinya. pipet tetes 6 buah 3. Eritrosit dalam batas-batas tersebut disebut sebagai normositik. minyak imersi 7. methyl alkohol 14. MCV yang kurang dari 81 µm3 menunjukkan sel mikrositik karena berukuran lebih kecil dari 7 µm3 pada sediaan apus. MCH) mengukur jumlah hemoglobin yang terdapat dalam satu eritrosit. kadar hemoglobin.44 pg Interpretasi hasil: Menurun x 100 = 30. Ini adalah pengukuran besarnya sel yang dinyatakan dalam mikrometer kubik. kain pembersih 17. hasil yang kurang dari 30 g/100 ml darah hipokromik karena sel-sel ini tampak pucat pada sediaan hapus. sedangkan MCV yang lebih besar dari 96 µm 3 menunjukkan sel-sel makrositik yang berukuran lebih besar dari 8 µm3 pada sediaan hapus.

2 Tambahkan tetesan sol buffer yang sama jumlahnya dengan tetesan Wright yang dipakai sampai rata bercampur dengan (1). kalau akan mengering tetesi lagi catnya. dibilasi dengan aquadest lalu dengan air mengalir. Pengecatan menurut Giemsa 1 fiksasi dengan metil alkohol 3-5 menit 2 bilasi dengan aquadest 3 encerkan Giemsa stain 1 cc menjadi 10 cc dengan aquadest 4 cat dengan (3) selama 30 menit 5 cat dibuang. 3 Buatlah sediaan yang cukup tipis. 4 Sediaan yang memenuhi syarat dikeringkan di udara lalu diwarnai.Cara membuat preparat apus: 1 Sediakan beberapa kaca benda yang bersih di atas meja (bersihkan dengan alkohol) lalu keringkan dengan kain. biarkan 5-10 menit. a. b Pengecatan menurut Wright 1 Ratakan 10 tetes Wright stain di atas sediaan. 2 Ambillah darah kapiler (ujung jari dan hemolet di-disinfeksi terlebih dulu). tunjukkan kepada asisten apakah sudah memenuhi syarat. Warna hijau mengkilat menunjukkan pengecatan telah cukup. 3 Siram dengan aquadest 30 detik lalu siram dengan air mengalir . biarkan 2-3 menit.

Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaan lemah (10 x /LPF) untuk melihat apakah pengecatan memuaskan: a bila nukleus (inti) belum ter-cat.4 Keringkan miring di udara pada kertas saring Pemeriksaan Sediaan: 1. apakah sediaan dan pengecatan sudah memenuhi syarat. tambahkan cat Wright dan segera dibilasi aquadest. Sediaan yang baik diberi etiket dengan: o nama penderita o tanggal pembuatan o nama sediaan lalu diserahkan kepada asisten. . berarti pengecatan sempurna 2. c bila nukeus (inti) belum ter-cat kontras dengan sitoplasma. 3. b bila ada presipitasi. ulangi pengecatan seperti di atas. Periksa dengan minyak imersi mulai dari daerah sediaan yang tipis. granula eosinofil ter-cat kemerahan dan sitoplasma eritrosit ter-cat merah muda.

Hasil pewarnaan dengan Giemsa pada darah manusia akan memperlihatkan eritrosit berwarna merah muda. Sel leukosit terlihat mencolok pada preparat karena intinya yang . lebih baik jika dilengkapi gambar): A. granula dari lekosit eosinofil berwarna ungu tua. Berkaitan dengan fungsinya sebagai antibodi. Sediaan preparat apusan darah setelah diwarnai Sedian apus darah tepi merupakan slide untuk mikroskop (kaca objek) yang pada salah satu sisinya di lapisi dengan lapisan tipis darah venayang diwarnai dengan pewarnaan (biasanya Giemsa. yaitu mencapai 55-70% dari jumlah leukosit yang ada. granula dari lekosit netrofil dan lekosit basofil berwarna ungu.Pembahasan (beserta hasil hitung jenis leukosit. Hal ini berkaitan dengan jumlah/ presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah. Wright) dan diperiksa di bawah/ dengan menggunakan mikroskop. Pembuatan preparat apus darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles (metode smear) yang merupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau membuat selaput (film) dan substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda yang bersih dan bebas lemak untuk kemudian difiksasi. Sedangkan pada gambar preparat yang keempat dapat ditemui adanya limfosit. Sediaan preparat apusan darah sebelum diwarnai B. Pada preparat tampak terlihat leukosit yang ditemukan adalah neutrofil dan limfosit. Sediaan apus darah ini tidak hanya digunakan untuk mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah. 2003). sitoplasma lekosit berwarna sangat ungu muda. maka kita dapat memprediksi bahwa probandus yang keempat sedang mengalami gangguan fisik (sakit). diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup (Handari. nukleolus lekosit berwarna ungu kebiru-biruan.

Begitu juga sebaliknya. sedang kandungan oksigen di dataran tinggi lebih sedikit sehingga membutuhkan banyak Hb untuk mengikat oksigen. Pada individu yang hidup di dataran tinggi membutuhkan asupan oksigen yang cukup. didapatkan hasil sebagai berikut: Probandus : Sapo Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 3 tahun C. sehingga jika direaksikan dengan pewarna basa maka sel tersebut akan menyerap warnanya. Interpretasi : Dari praktikum perhitungan jenis sel leukosit (differential count). Ini terkait dengan kebutuhan fisiologinya. Sedian apus yang baik adalah yang ketebalannya cukup dan bergradari dari kepala (awal) sampai ke ekor (akhir). Sehingga kita dapat membedakannya dengan eritrosit. Contoh hasil gambaran mikroskopik leukosit . Monosit. Ini dapat disebabakan oleh beberapa faktor. salah satunya adalah ketinggian tempat. Zona morfologi sebaiknya paling kurang 2 cm. Jumlah eritrosit antara individu yang satu dengan individu yang lain itu berbeda-beda. Hitung jumlah leukosit : stab / batang Segmen Eosinofil. Basofil Limfosit. Inti leukosit bersifat basa. Individu yang hidup di daerah dataran tinggi akan memiliki jumlah eritrosit lebih banyak dibandingkan individu yang hidup di dataran rendah. Eritrosit memiliki kadar yang paling banyak dalam darah jika dibandingkan dengan leukosit dan trombosit.berwarna biru.

Hitung jenis Nilai Normal Interpretasi 0-1% 1-3% 2-6% 50 . Kapas 7. Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit.8 % 36 % 6% Normal Normal Normal Normal Normal Normal Pembahasan :  Neutrofil. Semprit 5 cc 10.  Eosinofil. Biasanya berjumlah 2-8%. Stetoskop 5. MENGUKUR BLEEDING TIME (WAKTU PERDARAHAN) H. MENGUKUR CLOTING TIME (WAKTU PEMBEKUAN) I. namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang. Tensimeter 4. Bila monosit ada di jaringan tubuh. Selama percobaan berlangsung tekanan tetap setinggi itu c. G.  Monosit: Disebut juga makrofag. Biasanya 1-3% leukosit. mereka disebut makrofag. Tegangkanlah kulit lengan bawah dengan sebelah tangan dan tusuklah dengan lanset darah pada satu tempat kira-kira 3 jari di bawah lipat siku sampai 3 mm dalamnya.70 % Hasil Praktikum 0% 1% 6% 51 % Basofil Eosinofil Neutrofil batang Neutrofil segmen Limposit Monosit 20 . Stopwatch (G) Mengukur Waktu Perdarahan 1. Fungsi basofil tidak begitu dipahami. FRAGILITET KAPILER ( TES TOURNIQUET) J. Alkohol 70% 6. Tabung serologis 2. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan reaksi terhadap parasit. Berfungsi melawan infeksi bakteri jumlahnya normalnya berkisar antara 55-70%. Kain Pengering 3. GOLONGAN DARAH Alat-alat: 1. Jumlah monosit yang tinggi menunjukkan adanya infeksi bakteri. Kertas Saring 9.40 % 2. Hemolet 8. Monosit beredar dalam darah. Bersihkanlah bagian volar lengan bawah dengan alkohol 70% dan biarkan kering lagi b. . Sel ini melawan infeksi dengan memakan kuman. misalnya asma atau alergi kulit. Kenakan ikatan sfigmomanometer pada lengan ata dan pompalah sampai tekanan 40 mmHg.  Limfosit: Ada dua jenis utama limfosit yaitu sel B untuk membuat antibodi dan sel T untuk menyerang dan membunuh kuman. serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.  Basofil. Cara Ivy a.

Cara Duke a. b. f.d. Interpretasi: a. jagalah jangan sampai menekan kulit pada waktu mengisap darah. Teruskan percobaan seperti cara Ivy langkah 4. Catatlah waktu darah tidak dapat diisap lagi. jalankanlah stopwatch e. Jika terlihat darah mulai keluar. Isaplah tetes darah yang keluar itu tiap 30 detik memakai sepotong kertas saring. Bersihkan anak daun telinga dengan alkohol 70% dan biarkan kering lagi. 2. b Cara Duke Praktikum ini tidak dilakukan. Cara Ivy Nilai Normal 1-7 menit Hasil Praktikum 3 menit Interpretasi Normal Pembahasan: Waktu perdarahan (bleeding time. Pemeriksaan ini mengukur hemostasis dan koagulasi. BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris. 19 tahun  6 tetes selama 3 menit. 5 dan 6 Hasil Praktikum: a Cara Ivy Laki-laki. fungsi pembuluh darah kapiler dan . Tusuklah pinggir anak daun telinga itu dengan lanset darah sedalam 2 mm c. Masa perdarahan tergantung atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi.

Sediakan dalam rak 3 tabung berdiameter 7-8 mm 2. Ada 2 teknik yang dapat digunakan. Teknik Duke nilai normal 1-8 menit. jalankanlah stopwatch (catatlah waktu itu). Dalam tindakan itu jagalah jangan sampai tabung lain terganggu. yaitu teknik Ivy dan Duke. 3.  Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama perdarahan (H) Mengukur waktu pembekuan 1. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya pada kertas penghisap. Catatlah waktu ini. Lakukanlah punksi vena dengan semprit 5 atau 10 ml. Pada praktikum ini. Setelah darah dalam tabung pertama itu beku. yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi. hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan. Prinsip pemeriksaan ini adalah menghitung lamanya perdarahan sejak terjadi luka kecil pada permukaan kulit dan dilakukan dalam kondisi yang standard. 6. yaitu:  Metode yang digunakan. 4. Kepekaan teknik Ivy lebih baik dengan nilai normal 16 menit. periksalah tabung kedua tiap 30 detik juga terhadap adanya pembekuan. Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit. Adapun beberapa kesalahan dan factor yang mungkin dapat terjadi yang mempengaruhi hasil temuan laboratorium. Isaplah 5 ml darah. 5. Tiap 30 detik tabung pertama diangkat dari rak dan dimiringkan untuk melihat apakah telah terjadi pembekuan. Masa pembekuan itu dilaporkan dengan dibulatkan sampai ½ menit Hasil Praktikum: Tabung I : 9 menit 30 detik Tabung II: 10 menit Tabung III: 9 menit 30 detik . Aspirin dan antiinflamasi dapat memperlama waktu perdarahan. Teknik Ivy menggunakan lengan bawah untuk insisi merupakan teknik yang paling terkenal. pada saat darah kelihatan masuk dalam semprit.trombosit. teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam daripada yang seharusnya. Tindakan sama dilakukan berturut-turut ialah masa pembekuan rata-rata dari tabung kedua dan ketiga. waktu perdarahan yang dialami hanya 3 menit dan merupakan lingkup normal untuk waktu perdarahan dengan metode Ivy. Angkatlah jarum dari semprit dan alirkanlah perlahan-lahan kira-kira 1 ml darah ke dalam tiap tabung yang dimiringkan pada waktu diisi dengan darah.

dapat mengakibatkan pendarahan yang serius. yaitu penyakit yang mengakibatkan darah sukar membeku. plasma protein yang diubah menjadi thrombin selama proses pembekuan darah. sayatan. Waktu pembekuan darah yaitu 9 menit 30 detik. Vitamin K mengontrol proses pembekuan darah karena berkaitan langsung dengan prothrombin. Hemofilia. praktikan menghitung waktu pendarahan menggunakan stopwatch. Lepaskanlah ikatan dan tunggulah sampai tanda-tanda stasis darah lenyap lagi. Kekurangn vitamin K bisa meningkatkan risiko perdarahan tidak terkontrol. 3. atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat. Jika tidak ada vitamin K maka prothrombin tidak akan terbentuk. Carilah adanya dan hitunglah banyaknya petechiae yang timbul dalam lingkaran bergaris tengah kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti. Adanya gangguan pada factor koagulasi terutama yang membentuk tromboplastin. protein yang tidak larut air yang akan memampatkan pengentalan darah. Jika si penderita mengalami luka ringan. Pada penderita hemofilia darah sukar sekali membeku. Kekurangan prothombin akan mengurangi jumlah thrombin yang sangat bereperan dalam proses pembekuan darah. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh benturan fisik. Pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan. (I) Fragilitet Kapiler 1. Waktu pembekuan adalah waktu yang diperlukan dari saat darah keluar sampai berbentuk benang fibrin pada proses pembekuan darah. Pada percobaan dalam praktikum.Rata-rata : 9 menit 40 detik ≈ 9 menit 30 detik Interpretasi: Nilai Normal 9. Dalam praktikum yang ini. .15 menit Hasil Praktikum 9 menit 30 detik Interpretasi Normal Pembahasan: Test waktu pembekuan digunakan u ntuk menentukan lamanya waktu yang diperlukan darah untuk membeku. Kekurang thrombin akan meningkatkan kecenderungan tubuh mengalami perdarahan jika mengalami luka. Pertahankan tekanan itu selama 10 menit. 4. Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah serta mencegah perdarahan. Pasanglah ikatan sfigmomanometer pada lengan atas dan pompalah sampai tekanan di tengah-tengah nilai sistolik dan diastolik. 2. Thrombin ini selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin. maka waktu pembekuan akan memanjang.

B Golongan Darah O + + A + + B + + + AB Hasil Praktikum: .Hasil Praktikum: Jumlah ptekie yang tampak setelah ditahan di 100mmHg selama 5 menit adalah lebih dari 10 ptekie. tak boleh ada sisa-sisa zat kimia atau darah karena pencemaran akan menyebabkan aglutinasi palsu 2 Setetes kecil darah diteteskan kepada serum itu dan dicampur dengan ujung lidi. yaitu: c Kurang vitamin C d Menstruasi e DBD (J). Interpretasi: Nilai Normal Hasil Praktikum Interpretasi Lebih dari 10 (sangat Kurang dari 10 ptekie trombositopenia banyak) Pembahasan: Ptekie yang muncul pada praktikum ini. Probandus adalah seorang wanita. dapat terjadi karena 3 hal (factor resiko). Kaca objek yang dipakai harus bersih benar. 19 tahun.B juga di sampingnya untuk mendapatkan subgrup A yang lemah yang tidak bereaksi dengan serum Anti-A. 3 Goyangkan kaca dengan membuat gerakan lingkaran 4 Perhatikan adanya aglutinasi dengan mata dan pastikan juga dengan menggunakan mikroskop Tafsiran hasil: (+ aglutinasi) Anti-A Anti-B Anti-A. PENENTUAN GOLONGAN DARAH Cara dengan kaca objek: 1 Taruhlah di sebelah kiri kaca objek 1 tetes serum anti-A dan di sebelah kanan 1 tetes serum Anti-B. Darah yang dipakai boleh darah kapiler segar atau darah vena. baru selesai menstruasi dan memiliki resiko terkena DBD. Dianjurkan menggunakan serum Anti-A.

Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif. hanya saja lebih jarang dijumpai. Hal ini disebapkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). golongan darah yang teridentifikasi adalah golongan darah A Rhesus positif. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh. gagal ginjal. Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Pada praktikum ini. dan kematian. dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. . Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat memengaruhi janin pada saat kehamilan.Anti A (+) Anti B (-) Anti AB (+) Rhesus (+) Interpretasi: Anti A Anti B Anti AB Rhesus + - + + Golongan Darah A Rh + Pembahasan: Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. syok. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Sehingga.