Anda di halaman 1dari 4

Casey Sloan

INDO 3020
Reaksi kedua

Kontroversi Sang Kolaborator

Selama Perang Dunia Kedua, ketika Indonesia diduduki Jepang, strategi

Sukarno untuk mencapai kemerdekaan adalah menjadi kolaborator. Hal ini sudah

diketahui pada umumnya. Bukan rahasia. Dalam buku yang berjudul Kontroversi Sang

Kolaborator, karya Hendri F. Isnaeni, pertanyaannya bukan apakah Sukarno-Hatta

benar-benar bekerja sama dengan penjajah Jepang. Melainkan, apakah cara ini yang

paling baik untuk membebaskan bangsa Indonesia? Berkat kenyataan bahwa Sukarno

menyetujui permintaan pemerintah Jepang yang menduduki Indonesia untuk menjadi

kolaborator, memang penderitaan orang pribumi meningkat. Apakah kolaborasi

Sukarno yang menyebabkan penderitaan itu, atau justru kolaborasinya yang mencegah

meningkatnya penderitaan rakyat? Pertanyaan ini yang dikemukakan dalam buku ini.

Dalam pendahuluannya, Dr. Anhar Gonggong menceritakan pada tahun 2002

waktu dia diundang oleh Bagian Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar

Indonesia dalam rangka penulisan sejarah yang mereka rencanakan, yang diadakan di

Den Haag, Negara Belanda. Waktu itu sedang ramai-ramainya orang berdiskusi

tentang kenyataan pemimpin Indonesia di masa pendudukan Jepang, yaitu Sukarno

dan Hatta, menjadi kolaborator. Menurut sebuah pihak orang yang berwarga negara

Indonesia yang ikut percakapannya, fakta itu merupakan cacat kemerdekaan.

Dikatakannya proklomasi kemerdekaan bangsa Indonesia buatan Jepang saja,


menyebabkan pemerintah Belanda tetap berkehendak mengembalikan kekuasaan

kolonialnya di Indonesia setelah Jepang dipaksa keluar. Menurut mereka, persetujuan

menjadi kolaborator Sukarno mencurigakan membuat Belanda tidak mengakui

proklamasi itu. Dr. Gonggong menjawabnya, “Apa perlunya dibicarakan, toh kita harus

merdeka apa dan bagaimanapun caranya!” (xiii).

Dia berpendapat tidak ada pilihan yang lain. Akhirnya Isnaeni setuju dengan

pendapat itu. Waktu itu, kemerdekaan Indonesia pasti tak bisa diperjuangkan dari

tentara Jepang yang agak kuat. Kalau begitu, menurut Isnaeni, pemberontakannya

memang gagal. Dari sudut Sukarno, tidak ada jalan yang lain menuju kemerdekaan.

Dia tahu orang pribumi akan mengalami banyak hal yang agak buruk dan tahan

menderita. Dan waktu penderitaannya semakin bertambah akibat tuntutan-tuntutan

tentara Jepang, ada yang mau langsung memberontaki. Dan pasti Sukarno sendiri

yang disalahkan. Dia yang menjadi sasaran kemarahan rakyat, tapi tetap melanjutkan

perannya sebagai kolaborator. Ada banyak yang bisa kita sebut sebagai krisis dalam

waktu tiga setengah tahun itu Sukarno bekerja sama dengan Jepang. Tapi selama

krisis-krisis itu, Sukarno tetap menegakkan semangatnya mengenai pencapaian

kemerdekaan. Menurut Dr. Gonggong, hanya seorang yang bersemangat seperti

Sukarno yang bisa mencapai kemerdekaan atas bangsa Indonesia lewat semua

kesulitan itu. Kata dia, “di tengah-tengah krisis itu, taruhan untuk menunjukkan kualitas

kepemimpinan seseorang, justru diuji dengan tingkat kesulitan yang amat-amat tinggi.

Karena itu, tidak semua pemimpin dapat melewati ujian itu dengan berhasil. Sukarno

justru berhasil!” (xv).


Apa krisis-krisis yang ditunjuk Dr. Gonggong itu? Ada dua yang agak buruk,

yaitu romusa dan jungun iangfu. Isnaeni mengatakan “jika orang Indonesia diminta

untuk mengatakan satu fakto yang menjadi pengalaman paling mengerikan selama

pendudukan Jepang, mungkin dia akan menjawab Romusa” (69). Ini sejenis

kerjapaksa. Banyak orang pribumi yang kehidupannya sederhana, pada umumnya

petani biasa, terpaksa (“diminta”) melakukan pekerjaan yang kasar dan sulit sekali bagi

tentara Jepang. Mungkin mereka diperintahkan supaya bekerja membangun jalan,

pembangunan macam apa saja, atau bekerja di sebuah pabrik membuat peluru-peluru

atau pakaian untuk serdadu Jepang. Ada jutaan orang Jawa yang digunakan sebagai

buruh paksa di antaranya banyak yang dikirim ke luar pualu Jawa bahkan di luar negeri.

Banyak yang meninggal waktu bekerja akibat kondisi kesehatan yang sangat buruk.

Selain itu, ada lebih banyak lagi yang terserang berbagai penyakit karena kekurangan

gizi atau terkena luka-luka. Lagi pula kehilangan sejumlah petani yang begitu tinggi

menyebabkan pendapatan pertanian jatuh rendah (69).

Jugun Ianfu berarti orang perempuan pribumi yang terlibat dalam perbudakan

seks selama Perang Dunia Kedua. Pemerintah Jepang meminta supaya Sukarno

membantu menyakinkan perempuan Indonesia menjadi Jugun Ianfu agar “memenuhi

kebutuhan” serdadu Jepang. Meskipun menurut Isnaeni Sukarno menemukan cara

yang paling baik untuk memenuhi permintaan ini - yaitu, keterlibatan perempuan tuna

susila untuk pekerjaan ini - kejadian itu masih memalukan orang Indonesia waktu itu.

Akhirnya, Sukarno mengakui dia membantu pemerintah Jepang menggunakan

orang pribumi sebagai buruh untuk mengerjakan proyek-proyeknya dan menjadi Jugun
Ianfu. Mengakuinya agak sulit dan pahit baginya. Kata Sukarno, “adalah bekas-bekas

luka yang akan kubawa sampai liang kubur” (75). Menurutnya kejadian ini harga yang

harus dibayar atas nama kemerdekaan. Justru karena itu hal kolaborasi Sukarno ini

dipanggil “kontroversi.”