Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL 2

PENERAPAN INFORMASI OPERASIONAL DAN SISTEM


INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN ALIRAN PASIEN DI
RUMAH SAKIT

PAPER

Oleh:
Ahmad Irawan
Inacio Da Costa
Rahmadani

PROGRAM STUDI PASCASARJANA S2 ILMU FARMASI


UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
2016
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1
BAB II LANDASAN TEORI............................................................................. 2
2.1 Manajemen Tempat Tidur dan Aliran Pasien di Rumah Sakit
National
Health
Service 2
............................................................................................................
2.2 Pentingnya Informasi........................................................................... 3
2.3 Meningkatkan Pengelolaan Arus Pasien.............................................. 4
2.4 Mengatasi Hambatan Dalam Mendukung Sistem Informasi Yang
Efektif
Bagi
Arus
Pasien 5
............................................................................................................

BAB III DISKUSI............................................................................................... 7


DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rumah sakit mempunyai fungsi dan tujuan sebagai sarana pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat jalan, pelayanan
rawat inap, pelayanan gawat darurat, pelayanan rujukan yang mencakup
pelayanan rekam medis dan penunjang medis serta kegiatan untuk pendidikan,
pelatihan, dan penelitian bagi para tenaga kesehatan.
Di Inggris, Modernisation Agency menjalankan beberapa program untuk
membantu dalam meningkatkan arus pasien dan ini didukung oleh Program
Nasional Teknologi Informasi yang akan telah diluncurkan sejak tahun 2004-2010
(Granger, 2003). Sistem informasi pada saat ini kurang memadai dalam
manajemen rawat inap dan begitu sedikit dalam pengaplikasiannya yang dilihat
dari data operasional yaitu data real-time pada tingkat masing-masing pasien.
Salah satu masalah dalam meningkatkan arus rawat inap bahwa tidak adanya
suatu sistem di rumah sakit yang berfungsi dalam mengambil gambaran atau yang
bertanggung jawab dalam mengelola itu. Hal ini kontras dengan lingkungan
manufaktur, dimana manajer produksi dianggap sebagai bagian integral dan
penting dalam manajemen organisasi.
Yang paling terlibat di rumah sakit National Health Service Inggris adalah
manajemen rawat inap. Hal ini umumnya dikelola oleh perawat senior dan
didukung oleh tenaga kesehatan lainnya. Beberapa pandangan menggunakan
istilah berbeda, dan di dalam manajemen rawat inap-nya memiliki tanggung
jawab tambahan, terutama di luar jam kerja normal. Beberapa pandangan untuk
adanya pengembangan kualitas arus manajerial dan perbaikan kerja dari
Modernisation Agency.
Makalah ini dimulai dengan peran khusus penggunaan informasi dalam
manajemen tempat tidur di rumah sakit pada National Health Service. Sistem

informasi diaggap mempunyai potensi kontribusi dalam peningkatan manajemen


tempat tidur dan aliran atau arus pasien.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Manajemen Tempat Tidur dan Arus Pasien di Rumah Sakit National
Health Service
Manajemen tempat tidur meliputi pengelolaan kapasitas dan operasional
termasuk konfigurasi tempat tidur di rumah sakit. Sementara itu pengelolaan
operasional tempat tidur berkaitan dengan arus pasien rawat inap yang sehari-hari
yang menggunakan tempat tidur. Manajemen operasional tempat tidur digunakan
dalam keadaan atau lingkungan penggunaan tempat tidur yang tinggi dengan lama
waktu harian dan mingguan. Rata-rata penggunaan tempat tidur dan masa
perawatan mencapai 97 persen dan dapat memberikan penerimaan yang tinggi.
Tantangan untuk mengakomodasi penerimaan pasien yang darurat telah
menyebabkan pihak rumah sakit menyulap tempat lain menjadi tempat tidur
karena kekurangan tempat tidur.
Gambar. 1

2.2. Pentingnya Informasi


Manajemen operasional tempat tidur mempunyai proses yang ditempati
dengan bagian-bagian. Sistem informasi manajemen tempat tidur mencakup
kemampuan lingkungan yaitu jumlah tempat tidur, staf, pelayanan paien, jenis
penempatan pasien yang dibagi dalam bangsal. Jadi hampir semua manajemen
tempat tidur memakan waktu karena adanya faktor lingkungan tersebut, hal ini
disebabkan rumah sakit cenderung mengumpulkan dan menggunakan data
berdasarkan data retrospektif. Staf operasional di rumah sakit jarang
menggunakan sistem informasi untuk menganalisis pola dan memantau kinerja
terdahulu. Fakta ini menunjukkan bahwa sangat sedikit rumah sakit mempunyai
data berdasarkan sistem informasi untuk mengelola sistem secara efektif. Maka
dapat disimpulkan manajemen yang aktif menggunakan sistem informasi dari
proses perawatan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap lama
tinggal pasien di rumah sakit.

Gambar 2

2.3. Meningkatkan Pengelolaan Arus Pasien


Dalam mempertimbangkan manajemen tempat tidur, dan perencanaan
kapasitas operasional diperlukan sistem manajemen yang efektif dan terintegrasi.
Misalnya seperti seringnya terjadi masalah dalam menunggu troli kemudian
permasalahan operasi yang dibatalkan karena kurangnya tempat tidur. Kapasitas
bukanlah tentang masalah tempat tidur, melainkan tentang kemampuan system
dalam memfasilitasi pasien yang tepat apabila diperlukan dan memberikan
perawatan yang tepat. Komisi Audit menyimpulkan bahwa kebanyakan pihak
merasa sangat memerlukan lebih banyak tempat tidur, namun lebih dari itu
sebenarnya penggunaan tempat tidur yang lebih efisien sangat diperlukan demi
meningkatkan pengalaman pasien dan menghindari kemungkinan pelayanan yang
buruk. Ada banyak inisiatif yang dilakukan untuk meningkatkan manajemen
tempat tidur dan aliran pasien di Departemen Kesehatan. Inisiatif pendidikan
nasional sangat diutamakan dengan Program Manajer Pengembangan dan
Moderenisasi Departemen Kesehatan Nasional serta peningkatan kemitraan
Rumah Sakit.

Program Nasional untuk teknologi informasi dan sistem informasi tempat


tidur atau aliran pasien. Sistem program nasional manajemen informasi untuk
teknologi informasi berusaha untuk mengintegrasikann sistem informasi dan
memperkenalkan hal yang baru. Moderenisasi ini dikembangkan penting untuk
manajemen tempat tidur dan manajemen aliran pasien demi terpadunya jalur
perawatan. Manajemen aliran pasien digunakan untuk sequencing, penjadwalan
dan mengintegrasikan paket perawatan. Pelayanan perawatan yang terpadu untuk
memungkinkan berbagai informasi sepanjang dilakukan perawatan kepada pasien
demi manajemen sumber daya yang lebih baik dan audit perawatan. Program
nasional untuk Teknologi Informasi mempunyai spesifikasi yang harus dipenuhi
untuk perawatan pelayanan yang terpadu yaitu kemampuan yang relevan dengan
tempat tidur dan manajemen arus pasien, jenis tempat tidur, real time tinggal
pasien, alokasi. Layanan perawatan terpadu dan jalur perawatan terpadu yang
mendasari program nasional untuk visi teknologi informasi harus menjalankan
sistem yang baru untuk memfokuskan kepada aliran pasien di rumah sakit.
Ditingkatkannya sistem informasi akan memungkinkan manajemen arus pasien
menjadi lebih efektif dan meningkatkan kontribusi kepada rumah sakit.

2.4. Mengatasi Hambatan Dalam Mendukung Sistem Informasi yang Efektif


Bagi Arus Pasien
Dalam beberapa kasus, mereka memberikan beberapa pendapat bagaimana
cara mengatasinya. Pengembangan sistem informasi yang terintegrasi telah
dipertimbangkan oleh program nasional untuk teknologi informasi yang dapat
menyelesaikan masalah sistem administrasi pasien. Namun, tantangan yang lebih
serius dalam penggunaan sistem informasi operasional yaitu membujuk staf klinis
untuk menggunakannya. Sistem informasi yang digunakan dibangsal oleh perawat
jika terjadi kesalahan dapat diatasi dengan meningkatkan beban kerja dan

meningkatkan kualitas pelayanan meski bertentangan dengan budaya (Wilson,


2002).
Setiap sistem pelaporan tempat tidur di bangsal (terutama dengan tujuan
real-time informasi) akan membutuhkan tingkat yang tinggi sesuai tempat tidur /
jumlah pasien yang diketahui. Beberapa sistem informasi manajemen telah
memperbaiki lingkungan staf dengan program pelatihan, membebaskan staf dari
konstan repot-repot dari jumlah tempat tidur, atau memberikan motivasi
terhadap kinerja staf. Staf lebih memilih menggunakan sistem komputerisasi yang
mampu merakam informasi yang mereka inginkan (Bourke, 2003). Namun,
seperti perubahan budaya sistem informasi belum dipublikasikan dalam
penelitian. Banyak staf rumah sakit yang menganggap kesalahan ini dari staf
bangsal, dan contoh dari perubahan budaya hanya dilaporkan melalui konferensi
pelayanan kesehatan. Audit kepatuhan (nama dan jenis kelamin, nama dan gelar),
seperti yang telah digunakan untuk mendorong inisiatif dan disiplin yang dapat
berkontribusi. Imbalan untuk dokter tergantung jumlah pasien rawat inap sehingga
lebih mudah bagi tim untuk menemukan pasien mereka (dimana sistem lebih up
to date dari sistem administrasi pasien), terutama jika pasien outlier, dan sumber
daya yang efektif dalam mengobati pasien.
Faktor yang memotivasi ruang lingkup staf rumah sakit yaitu sistem
aplikasi klinis untuk manajemen logistic (CALM) (Royal Shrewbury Rumah
Sakit NHS Trust, 1999), dimana pelaksanaan dipimpin oleh seorang farmasi
klinis. Namun, seperti dengan sistem rawat inap, diperlukan tingkat kepatuhan
jika obat dipesan tidak melalui apotek sentral, penjadwalan dan koordinasi tidak
berjalan dengan baik. Seperti itu memerlukan kemauan dan kepemimpinan.
Manfaat yang jelas yaitu menggunakan jadwal tidur pasien dan perekrutan staf
klinis yang berpengalaman untuk kemajuan pelayanan.
BAB III
DISKUSI

Rumah sakit akan melalui perubahan yang cukup besar, sebagian besar
didorong pengetatan sistem pelayanan kesehatan nasional. Perubahan besar lebih
lanjut dalam praktek operasional akan diperlukan dalam mencapai tahap akhir,
dan untuk melaksanakan perencanaan dalam pemesanan, pilihan pasien dan arus
keuangan. Pentingnya sistem informasi operasional telah diakui, dan program
sistem informasi nasional (program nasional untuk teknologi informasi)
spesifikasi mencakup bayak fiktur yang akan mendukung manajemen operasional,
dan memperpanjang rantai melalui seluruh sistem kesehatan. Tidak ada sistem
informasi dapat berhasil tanpa komitmen dari penggunanya. Ini adalah masalah
dalam manajemen sistem informasi yang digunakan staf klinis. Jadi pelaporan
dari sistem manajemen tempat tidur harus dimanfaatkan. Artikel ini berupaya
menyoroti potensi sistem informasi manajemen tempat tidur untuk berkontribusi
dalam meningkatkan arus pasien rawat inap, dan kemajuan yang dibuat dalam
mengembangkan dan menerapkan sistem tersebut. Pada akhirnya semua bagian
dari sistem mendapat keuntungan dari informasi yang lebih baik dan koordinasi
sumber daya, mengakibatkan arus baik dan tidak sedikit pasien yang dirawat.

DAFTAR PUSTAKA
N.C. Proudlove, R. Boaden. 2005. Using operational information and information
systems to improve in-patient flow in hospitals. Manchester Business
School, The University of Manchester, Manchester, UK.