Anda di halaman 1dari 41

er

30 undefined
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan
merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat
membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk
mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai
tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan
bermasyarakat.
Sedangkan pengertian orang tua di atas, tidak terlepas dari pengertian
keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian
besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak-anak.Menurut Arifin (dalam Suhendi, Wahyu, 2000:41) keluarga
diartikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
dihubungkan dengan pertalian darah,perkawinan atau adopsi (hukum) yang
memiliki tempat tinggal bersama.Selanjutnya, Abu Ahmadi (dalam Suhendi,
Wahyu, 2000: 44 -52), mengenai fungsi keluarga adalah sebagai suatu
pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau diluar keluarga.
Adapun fungsi keluarga terdiri dari:

a. Fungsi Sosialisasi Anak.


Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk
kepribadian anak. Melalui fungsi ini, keluarga berusaha mempersiapkan
bekal selengkap-lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola
tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan
oleh mereka. Dengan demikian, sosialisasi berarti melakukan proses
pembelajaran terhadap seorang anak.
b.Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa
cinta. Pandangan psikiatrik mengatakan bahwa penyebab utama gangguan
emosional, perilaku dan bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta, yakni
tidak adanya kehangatan dan hubungan kasih syang dalam suatu lingkungan
yang intim. Banyak fakta menunjukan bahwa kebutuhan persahabatan dan
keintiman sangat penting bagi anak. Data-data menunjukan bahwa
kenakalan anak serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang tidak
mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang.

c. Fungsi Edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik anak. Hal itu dapat
dilihat dari pertumbuhan sorang anak mulai dari bayi, belajar jalan, hingga

mampu berjalan.

d. Fungsi Religius
Dalam masyarakat Indonesia dewasa ini fungsi di keluarga semakin
berkembang, diantaranya fungsi keagamaan yang mendorong
dikembangkannya keluarga dan seluruh anggotanya menjadi insan-insan
agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai


cara, yaitu:
1) Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilkan penghayatan
dan perilaku keagamaan dalam keluarga.
2) Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga.
3) Aspek sosial berupa hubungan sosial antara anggota keluarga dan
lembaga-lembaga keagamaan. Pendidikan agama dalam keluarga, tidak saja
bisa dijalankan dalam keluarga, menawarkan pendidikan agama, seperti
pesantren, tempat pengajian, majelis taklim, dan sebagainya.

e. Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya. Fungsi ini
bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang
negatif. Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik,
ekonomis, dan psikologis bagi seluruh anggotanya.

f. Fungsi Rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang sangat gembira dalam
lingkungan. Fungsi rekreatif dijalankan untuk mencari hiburan. Dewasa ini,
tempat hiburan banyak berkembang diluar rumah karena berbagai fasilitas
dan aktivitas rekreasi berkembang dengan pesatnya. Media TV termasuk
dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.

g. Fungsi Ekonomis
Pada masa lalu keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit
kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri. Keperluan rumah tangga
itu, seperti seni membuat kursi, makanan, dan pakaian dikerjakan sendiri
oleh ayah, ibu, anak dan sanak saudara yang lain untuk menjalankan fungsi

ekonominya sehingga mereka mampu mempertahankan hidupnya.

h. Fungsi Penemuan Status


Dalam sebuah keluarga, seseorang menerima serangkaian status
berdasarkan umur, urutan kelahiran, dan sebagainya. Status/kedudukan
ialah suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau
posisi kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya. Status tidak
bisa dipisahkan dari peran. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari
seseorang yang mempunyai status.
Pola Bimbingan Orang Tua Pada Anak Selain bimbingan disekolah, bimbingan
dirumah sangat penting, karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya
dilingkungan keluarga. Untuk itu keluarga dituntut untuk dapat menerapkan
pendidikan keimanan guna sebagai pegangan anak di masa depan.

Menurut Shochib,menyebutkan ada delapan yang perlu dilakukan orang tua


dalam membimbing anaknya;
1.Perilaku yang patut dicontoh Artinya, setiap perilakunya tidak sekedar
bersifat mekanik, tetapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa
perilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anakanaknya. Oleh karena itu pengaktualisasiannya harus senantiasa dirujukan
pada ketaatan pada nilai-nilai moral.

2.Kesadaran diri ini juga harus ditularkan pada anak-anaknya dengan


mendorong mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui
komunikasi dialogis, baik secara verbal maupun nonverbal tentang prilaku
yang taat moral. Karena dengan komunikasi yang dialogis akan
menjembatani kesenjangan dan tujuan diantara dirinya dan anak-anaknya.

3.Komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anak-anaknya,


terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk
memecahkan permasalan, berkenaan dengan nilai-nilai moral. Dengan
perkataan lain orang tua telah mampu melakukan kontrol terhadap perilakuperilaku anak-anaknya agar tetap memiliki dan meningkatkan nilai-nilai
moral sebagai dasar berperilaku.

4.Upaya selanjutnya untuk menyuburkan ketaatan anak-anak


terhadap nilai-nilai moral data diaktualisasikan dalam menata lingkungan
fisik yang disebut momen fisik. Hal ini data mendukung terciptanya iklim
yang mengundang anak berdialog terhadap nilai-nilai moral yang
dikemasnya. Misalnya adanya hiasan dinding, mushola, lemari atau rak-rak
buku yang berisi buku agama yang mencerminkan nafas agama; ruangan
yang bersih, teratur, dan barang-barang yang tertata rapi mencerminkan
nafas keteraturan dan kebersihan; pengaturan tempat belajar dan suasana
yang sunyi mencerminkan nafas kenyamanan dan ketenangan anak dalam
melakukan belajar, pemilihan tempat tinggal dapat berisonansi untuk
mengaktifkan, menggumulkan, dan menggulatkan anak-anak dengan nilainilai moral.

5.Penataan lingkungan fisik yang melibatkan anak-anak dan berangkat


dari dunianya akan menjadikan anak semakin kokoh dalam kepemilikan
terhadap nilai-nilai moral dan semakin terundang untuk meningkatkannya.
Hal tersebut akan terjadi jika orang tua dapat mengupayakan anak-anak
untuk semakin dekat, akrab, dan intim dengan nilai-nilai moral.

6.Penataan lingkungan sosial dapat menghadirkan situasi kebersamaan


antara anak-anak dengan orang tua. Situasi kebersamaan merupakan sarat
utama bagi terciptanya penghayatan dan pertemuan makna antara orang
tua dan anak-anak. Pertemuan makna ini merupakan kulminasi dari
penataan lingkungan sosial yang berindikasikan penataan lingkungan
pendidikan.

7.Penataan lingkungan pendidikan akan semakin bermakna bagi anak


jika mampu menghadirkan iklim yang menggelitik dan mendorong
kejiwaannya untuk mempelajari nilai-nilai moral.

8.Penataan suasana psikologis semakin kokoh jika nilai-nilai moral secara


transparan dijabarkan dan diterjemahkan menjadi tatanan sosial dan budaya
dalam kehidupan keluarga. Inilah yang dinamakan penataan sosiobudaya
dalam keluarga.
Dari kedelapan pola pembinaan terhadap anak di atas sangat diperlukan
sebagai panduan dalam membuat perubahan dan pertumbuhan anak,
memelihara harga diri anak, dan dalam menjaga hubungan erat antara
orang tua dengan anak.

Category: 2 komentar
Home
Parenting
Bayi
Balita
Anak
Dewasa
Keluarga
Masyarakat
Islam
Info Islam
Ramadan
Alquran
Hunian
Desain dan Interior
Opini
Fashion
Kesehatan
Kecantikan
Kehamilan
Makanan
Resep
Kisah
Cerita Anak
Inspirasi
Contoh Kasus

Fun
Resensi Buku
Resensi Film
Cerpen
DIY (Do It Yourself)
Puisi
Komunitas
Desa Quran

Yuk, Ketahui 5 Peran Anak dalam Keluarga Ini!

July 19, 2015 by idaarmala


Yuk, Ketahui 5 Peran Anak dalam Keluarga Ini!

Bagikan di Facebook

Peran anak dalam keluarga mempunyai aturan khusus. Seperti halnya orang tua
yang mempunyai peran mendidik anak secara baik, peran anak adalah mematuhi
aturan yang diberikan oleh orang tuanya. Dalam Islam, ada adab-adab anak
terhadap orang tua. Berikut 5 peran anak dalam keluarga.
1. Tidak Berkata Ah ketika Disuruh

Begitu pentingnya perintah untuk berbakti kepada orang tua, seorang anak bahkan
tidak diperbolehkan untuk berkata Ah tatkala salah satu atau kedua orang tuanya
meminta atau memerintahkan sesuatu. Jika perkataan Ah saja termasuk dosa
kepada orang tua kita, bagaimana dengan membentak, memukul, atau hal lain
yang lebih kejam dari itu? Tentu dosanya akan jauh lebih besar lagi, bukan? Selain
itu, Allah pun memerintahkan kita agar senantiasa bersikap lemah lembut kepada
orang tua kita dan selalu mendoakan keduanya.

Dan, Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia. (Q.S. Al Isra: 23)
2. Taat kepada Keduanya selama Tidak Menyimpang

Anak yang saleh adalah anak yang berbakti terhadap orang tuanya. Peran anak
dalam keluarga yang kedua adalah mengikuti perintah orang tua kita, selama
aturan yang diberlakukan tidak menyimpang dari aturan Allah, tidak menyakiti
perasaannya, berkata secara baik, apalagi hingga membuat mereka menangis.

Dan, jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu


yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya
. (Q.S. Lukman: 15)
3. Merawat dengan Ikhlas ketika Keduanya Tua Renta
Merawat dengan Ikhlas ketika Keduanya Tua RentaKetika orang tua sudah renta,
anak berperan untuk merawatnya dengan ikhlas. (sumber:
motivasi.blogekstra.com)

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak
sepanjang jalan. Artinya, seorang ibu sampai kapan pun akan sayang dan tidak
pernah mengeluh capai untuk mengurus anaknya. Namun, seorang anak bisa lelah
untuk mengurus orang tuanya.

Justru, ketika orang tua kita sudah tua renta, sakit-sakitan, peran kita sebagai anak
harus merawatnya dengan ikhlas. Jangan langsung dilemparkan ke panti jompo.
Kasihan orang tua kita. Mereka sudah berjuang membesarkan kita, saatnya kita
membalas kebaikan yang telah mereka curahkan. Insya Allah pahala akan mengalir
dalam diri kita.
4. Berusaha untuk Menjadi Anak yang Saleh dan Salihah

Hal yang bisa menyelamatkan orang tua kita ketika sudah tiada hanyalah 3 amalan,
yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariah, dan anak yang saleh dan salihah. Untuk
menjadi anak yang saleh dan salihah, tentu kita harus selalu taat terhadap perintah
Allah. Salat 5 waktu, berbakti kepada kedua orang tua, dan selalu menerapkan
syariat/aturan Islam di dalam kehidupan sehari-hari kita. Oleh karena itu, menjadi
anak yang saleh/salihah adalah salah satu peran anak dalam keluarga.
5. Tidak Menyaut saat Orang Tua Marah

Dalam keluarga, pastilah orang tua pernah marah kepada anak. Mereka marah
tentu ada sebabnya, entah anaknya berbuat nakal atau membantah saat diarahkan.
Marahnya orang tua adalah bentuk kasih sayang mereka terhadap kita. Kita sebagai
anak tidak perlu menyaut dengan kata-kata jika orang tua sedang memarahi.
Dengarkan hal yang mereka sampaikan, lalu instropeksilah diri kita. Mengapa orang
tua bisa sampai marah? Sering membuat marah orang tua akan mengakibatkan
mereka kurang percaya terhadap kita. Efeknya, jika ada sesuatu atau kita hendak
izin pergi, seringkali tidak dibolehkan karena sikap kita yang kurang baik terhadap
mereka. Jadi, jika sudah tahu peran anak dalam keluarga ini, sebaiknya kita diam
saja ketika orang tua sedang marah, lalu jangan ulangi perbuatan buruk lagi.
Begitulah seharusnya peran anak dalam keluarga

Secara umum kehadiran anak dalam keluarga dapat dilihat dari faktor yang menguntungkan
orang tua dari segi psikologis, ekonomi dan sosial. Hal ini dikutip dari pendapat Horowirz
(1985), Suparlan (1989), Zinn dan Eitzen (1990), yaitu:
1. Anak sebagai pengikat tali perkawainan. Kehadiran anak mendorong komunikasi antara
suami isteri karena mereka merasakan pengalaman bersama anak mereka.
2. Orang tua merasa lebih muda dengan membayangkan masa muda mereka melalui
kegiatan anak mereka.
3. Anak merupakan simbol penghubung antara masa lalu dan masa depan.
4. Adanya tujuan hidup yang ingin dimiliki orang tua dengan adanya anak.
5. Anak sebagai sumber kasih sayang dan perhatian.
6. Anak dapat meningkatkan status seseorang. Pada masyarakat dengan keadaan tertentu,
individu baru mempunyai hak suara setelah ia memiliki anak.
7. Anak sebagai penerus keturunan terutama yang menganut sistem patrilineal. Bahwa anak
laki-laki sebagai penerus keturunan, bila tidak maka keluarga itu dianggap akan punah.

8. Anak sebagai pearis harta pusaka. Bagi masyarakat penganut sistem matrilineal anak
perempuan sebagai penerus dan penjaga harta pusaka yang diwarisinya, sebaliknya pada
masyarakat penganut sistem patrilineal.
9. Anak mempunyai nilai ekonomis yang penting. Di daerah Jawa, anak sudah dapat
membantu orang tua pada usia yang sangat muda. White (1982) menemukan bahwa
umumnya anak mulai teratur membantu orang tua pada usia 7-9 tahun, tetapi juga
ditemukan beberapa kasus anak yang membantu sejak mereka berumur 5-6 tahun.

10.

CINTA KELUARGA PERANAN PENTING


MEMBENTUK KEPRIBADIAN

11.
12. Lingkungan memiliki peran penting dalam kepribadian seseorang. Khususnya lingkungan
keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran penting ini. Lingkungan keluarga adalah
sebuah awal kehidupan bagi setiap manusia. Dikarenakan bahwa pentingnya pengaruh
keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah,
budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan
pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung
pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya dan tidak lepas dengan
etika dan penyampaian sesuatu dari kedua orang tua tersebut.
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi seseorang.
Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki
pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian
manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam
lingkungan keluarga.
Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian seseorang
1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya.Ketika anak-anak
mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, makaSaat mereka
terkena masalah di dalam atau di luar kehidupan atau lingkungan keluarga, mereka bisa
mengatasinya dengan baik karena ada dukungan kasih sayang dan cinta dari kedua
orangtuanya.
2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan

ketenangan jiwa anak-anak.Hal ini dapat membantu anak menjadi lebih kreatif dan
berfikir secara dewasa,logis dan bijaksana. Karena lingkungan berdampak besar terhadap
siklus perkembangan anak.
3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak.Saling menghormati artinya
dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan
perilaku mereka serta menciptakan kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang
bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak mereka yang terkait dengan diri
mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau
menghormati sesamanya.
4. Mewujudkan kepercayaan.Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anakanak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini
akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan
anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima
kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin
dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa
keberadaannya bermanfaat dan penting.
5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga.Hal ini di maksudkan agar ada
keterkaitan atau hubungan lebih khusus antara orangtua dan anak. Momen ini juga bisa di
gunakan untuk saling tanya jawab, bercerita tentang masalah atau kejadian yang menarik
bagi diri anak maupun orangtua. Seperti sesi curhat. Hal ini juga bisa lebih mendekatkan
hubungan orangtua dan anak. Psikis yang di terima oleh anak pun menjadi bagus
daripada tidak mengadakan perkumpulan keluarga sama sekali
13.

14.

CINTA KELUARGA PERANAN PENTING


MEMBENTUK KEPRIBADIAN

15.
16. Lingkungan memiliki peran penting dalam kepribadian seseorang. Khususnya lingkungan
keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran penting ini. Lingkungan keluarga adalah
sebuah awal kehidupan bagi setiap manusia. Dikarenakan bahwa pentingnya pengaruh
keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah,
budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan
pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung

pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya dan tidak lepas dengan
etika dan penyampaian sesuatu dari kedua orang tua tersebut.
Ayah dan ibu adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi seseorang.
Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki
pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian
manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam
lingkungan keluarga.
Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian seseorang
1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya.Ketika anak-anak
mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, makaSaat mereka
terkena masalah di dalam atau di luar kehidupan atau lingkungan keluarga, mereka bisa
mengatasinya dengan baik karena ada dukungan kasih sayang dan cinta dari kedua
orangtuanya.
2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan
ketenangan jiwa anak-anak.Hal ini dapat membantu anak menjadi lebih kreatif dan
berfikir secara dewasa,logis dan bijaksana. Karena lingkungan berdampak besar terhadap
siklus perkembangan anak.
3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak.Saling menghormati artinya
dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan
perilaku mereka serta menciptakan kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang
bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak mereka yang terkait dengan diri
mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau
menghormati sesamanya.
4. Mewujudkan kepercayaan.Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anakanak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini
akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan
anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima
kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin
dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa
keberadaannya bermanfaat dan penting.
5. Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga.Hal ini di maksudkan agar ada
keterkaitan atau hubungan lebih khusus antara orangtua dan anak. Momen ini juga bisa di
gunakan untuk saling tanya jawab, bercerita tentang masalah atau kejadian yang menarik
bagi diri anak maupun orangtua. Seperti sesi curhat. Hal ini juga bisa lebih mendekatkan
hubungan orangtua dan anak. Psikis yang di terima oleh anak pun menjadi bagus
daripada tidak mengadakan perkumpulan keluarga sama sekali
17.

Peran Ayah dalam Keluarga


01 Sep
Peran ayah untuk anak dalam keluarga adalah sebagai penyeimbang hubungan anak dengan
orang tua baik ayah ataupun ibu. Mengingat keadaan sosial saat ini yang bisa membuat ayah
semakin banyak berpikir dan fokus untuk memenuhi dari sisi keuangan keluarga bisa membuat
hubungan tidak seimbang antara anak dengan orang tua.
Peran Ayah untuk anak dalam keluarga hanyalah pada pokok komunikasi selain pada sisi
keuangan. Artinya bahwa ayah bisa membangun sebuah hubungan dengan anak dalam berbagai
bentuk komunikasi yang terjadi sesuai dengan usia anak.
Ada sisi yang bisa saja tidak dimiliki seorang ibu untuk anaknya ketika berkomunikasi. Karena
itu sosok ayah haruslah bisa membangun komunikasi yang baik. Harapannya bahwa sosok ayah
bisa mengenali sisi emosi yang besar terhadap anak. Maka dari itu sosok ayah harus juga bisa
mengendalikan emosi yang besar dalam dirinya untuk menghadapi anak dengan berbagai macam
masalah yang ada. Jangan mudah untuk ringan tangan atau memukul, manfaatkan keadaan emosi
yang besar agar bisa mengenali sisi emosi anak. Membantu anak lebih percaya diri, menanamkan
nilai-nilai hidup, dan memberikan nilai-nilai sosial.
Dalam membangun kecerdasan emosional anak, peran ayah juga sangat diharapkan. Komunikasi
yang terjalin dengan baik bisa memberikan manfaat yang baik terhadap anak.
Mendekatkan diri pada anak bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti:
1. Meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga
2. Bermain dengan anak
3. Memberikan keteladanan dengan bijaksana
4. Mengakui kesalahan, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada anak
5. Menjadi penyemangat dan pendukung anak
6. Menjadi pendengar yang baik jika anak sedang mengutarakan permasalahannya
7. Menghindari tindakan kasar yang merugikan fisik dan psikologi anak
8. Mengajak anak untuk berolah-raga dan tamasya
9. Kenali siapa teman anak Anda
10. Mendidik Anak Lewat Permainan dan Tanya Jawab

Ayah adalah bagian yang tak terpisahkan dalam keluarga. Keluarga bukan hanya urusan para Ibu,
sementara urusan Ayah adalah mencari nafkah. Pembagian peran yang kaku antara Ayah dan Ibu
tidak memadai dan bukan zamannya lagi. Baik Ayah maupun Ibu, semuanya menjalani peranmulti di dalam keluarga.
Ada 4 peran Ayah di dalam keluarga sebagaimana yang dinyatakan oleh Najeela Shihab. Peran
itu adalah:
1. Player (teman bermain)
Sebagai player, Ayah menjadi teman bermain bagi anak-anaknya. Permainan membuat anak
merasa nyaman dan menjadi sarana membangun ikatan. Semakin sering Ayah bermain dengan
anak, biasanya semakin berkualitas mental anak.
2. Teacher (sebagai pendidik dan pengasuh)
Seorang ayah yang baik juga harus bisa berperan sebagai guru. Guru itu berarti sumber
pengetahuan bagi anak. Peran penting Ayah sebagai guru bukan hanya untuk mentransfer
pengetahuan, tetapi juga untuk memelihara rasa keingintahuan anak.
Bidang-bidang yang biasanya dikuasai Ayah dan lebih baik dari Ibu adalah pelajaran ABCD
(Ally/sekutu, Boundaries/batas, Challenge/tantangan, Dreams/mimpi).
3. Protector (pelindung)
Setiap Ayah pasti memiliki naluri untuk melindungi anaknya sejak lahir. Tapi fungsi Ayah
sebagai pelindung bukan hanya itu. Justru, yang terpenting adalah mengajarkan anak-anak untuk
melindungi dirinya sendiri karena orangtua tak mungkin bersama mereka setiap waktu.
Sebagai pelindung, Ayah perlu menjadi Spy, dalam arti berusaha mengenali dunia anak:
mengetahui apa kesukaannya, apa yang dibencinya, teman-teman dekatnya, dan dunia yang
ditekuni anak. Semakin Ayah mengetahui dunia anak, semakin mudah menjalin komunikasi dan
koneksi dengan mereka. Sebaliknya, semakin Ayah tak mengetahui dan asing dengan dunia yang
sedang disenangi anak, semakin jauh hubuan Ayah-Anak.
4. Partner (mitra)
Sebagai partner, fungsi Ayah bukanlah mendukung Ibu dalam pengasuhan anak, tetapi equal
partner. Artinya, Ayah memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan Ibu.
Sebagai partner, Ayah tidak boleh hanya berharap dan bergantung pada Ibu, tetapi juga terlibat
aktif. Ayah juga memiliki hak untuk bermain bersama anak, tak hanya berfungsi sebagai bad
cop untuk menakut-nakuti anak.
Karena Ayah dan Ibu adalah partner, maka peraturan rumah tangga pun perlu disepakati dan
tidak boleh berseberangan. Ayah dan Ibu perlu punya suara sama. Jika Ayah mengatakan tidak,
Ibu juga mengatakan yang sama. Demikian sebaliknya.
Kehadiran ayah dalam kehidupan anak, ternyata punya makna yang besar sekali. Hal ini karena
ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam kehidupan anak:

1. Kasih ibu bersifat tidak bersyarat sedangkan Cinta Ayah lebih bersifat kualitatif dan melekat
pada performance anak
2. Ibu kuatir tentang bagaimana bayinya bisa bertahan hidup sedangkan Ayah berpikir bagaimana
anaknya dapat menghadapi masa depan
3. Ibu men-disiplin anak-anak waktu demi waktu sedangkan Ayah mendisplin anak dengan
peraturan
4. Dari ibu, anak belajar segi emosinya sedangkan dari Ayah, anak belajar untuk hidup di tengah
masyarakat
5. Ibu memberitahukan anak-anak untuk hati-hati ini dan itu didalam bermain sedangkan Ayah
justru mendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru.
Jadi, dari keberbedaan kualitatif antara apa yang dilakukan ibu dan ayah terhadap anaknya
tersebut di atas, menunjukkan betapa pentingnya kehadiran ayah di tengah-tengah anaknya.
Buku Five Key Habits of Smart Dads menunjukkan riset yang dilakukan terhadap anak-anak
yang dibesarkan tanpa adanya peran ayah di tengah kehidupannya cenderung mempunyai
beberapa kekurangan psikologis antara lain berupa:
1. Kepercayaan diri sendiri yang rendah
2. Tidak mempunyai kepedulian sosial yang baik
3. Sulit untuk menyesuaikan diri untuk keadaan tertentu
4. Resiko yang lebih tinggi untuk perkembangan masalah psiko-seksual.
PENGERTIAN KELUARGA

Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga kulawarga yang berarti
anggota dan kelompok kerabat. Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa
orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu. Keluarga inti (nuclear
family) terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian dari keluarga :

A. Menurut Departemen Kesehatan RI (1998)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.

B. Menurut Ki Hajar Dewantara

Keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan
lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki,esensial, enak
dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan
masing-masing anggotanya.

C. Menurut Salvicion dan Ara Celis

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam
suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masingmasing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas 2 orang atau lebih dengan adanya ikatan
perkawinan atau pertalian yang hidup dalam satu rumah tangga di bawah asuhan
seorang kepala rumah tangga dan berinteraksi diantara sesama anggota keluarga
yang setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing sehingga
diciptakan untuk mempertahankan suatu kebudayaan.

2. BENTUK-BENTUK KELUARGA

Keluarga dibagi menjadi beberapa bentuk berdasarkan garis keturunan, jenis


perkawinan, pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan.

Berdasarkan Garis Keturunan

Patrilinear adalah keturunan sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

Matrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa ganerasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
Berdasarkan Jenis Perkawinan

Monogami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan seorang istri.
Poligami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan lebih dari satu
istri.
Berdasarkan Pemukiman

Patrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga
sedarah suami.
Matrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan
keluarga satu istri
Neolokal adalah pasangan suami istri, tinggal jauh dari keluarga suami maupun
istri.
Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga

Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anakanak.
Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak
saudara. Misalnya : kakak, nenek, keponakan, dan lain-lain.
Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian
atau kematian.
Keluarga Berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya
berpoligami dan hidup secara bersama.
Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan
tetapi membentuk suatu keluarga.
Berdasarkan Kekuasaan

Patriakal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah dipihak ayah.
Matrikal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah pihak ibu.
Equalitarium adalah keluarga yang memegang kekuasaan adalah ayah dan ibu.

3. FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila
kelak dewasa.
2. Fungsi Sosialisasi Anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah
bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari
tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung
dan merasa aman.
4. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam
berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling
pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan
mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan
tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain
yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
6. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumbersumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala
keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian
rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
7. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi
ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara
nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
8. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk
meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.

9. Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta


membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
4. PERANAN KELUARGA
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari
kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan
sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Peranan Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
5. TUGAS POKOK KELUARGA
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya
masing-masing.
4. Sosialisasi antar anggota keluarga.
5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

KONSEP PERAN DAN FUNGSI KELUARGA


A. KONSEP KELUARGA
1. Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup
dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam
peranannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan
kebudayaan. (Bailon dan Maglaya, 1989 dikutip Nasrul Effendy,
1998, hal ; 32 - 33).
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di
suatu
tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketegantungan.
( Departemen Kesehatan RI, 1988 dikutip Nasrul Effendy,1998, hal ;
32).
Dari kedua definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga
adalah :
1. Unit terkecil dari masyarakat
2. Terdiri dari 2 orang atau lebih
3. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
4. Hidup dalam satu rumah tangga
5. Di bawah asuhan seorang kepala keluarga
6. Berinterkasi diantara sesama anggota keluarga

7. Setiap anggota keluarga mempunyai perannya masing-masing


8. Menciptakan, mempertahankan suatu budaya
2. Ciri ciri Struktur Keluarga
Menurut Anderson Carter , dikutip Nasrul Effendy 1998 hal 33
dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Terorganisasi : Saling berhubungan, saling ketergantungan antara
anggota keluarga.
2. Ada Keterbatasan : Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi
mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya masing masing.
3. Ada perbedaan dan kekhususan : Setiap anggota keluarga
mempunyai peranan dan fungsinya masing masing.
4. Tipe Keluarga
Menurut Nasrul Effendy (1998) hal 33 34 tipe keluarga terdiri dari :
a.

Keluarga inti (Nuclear Family)


Adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak- anak.

b. Keluarga besar (Extended Family)


Adalah keluarga inti di tambah sanak saudara, misalnya ; nenek,
kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c.

Keluarga berantai (Serial Family)


Adalah keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang menikah lebih
dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.

d. Keluarga duda atau janda (Single Family)


Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e.

Keluarga berkomposisi (Compocite)


Adalah keluarga yang berpoligami yang hidup bersama.

f.

Keluarga kabitas (Cahabitation)


Adalah keluarga yang terdiri dari dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.

3. Peran Keluarga
Berbagai peranan yang terdapat didalam keluarga menurut
Nasrul Effendy 1998, hal 34 adalah sebagai berikut :
a.

Peran ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak anak,
berperan sebagai pencari nafkah,pendidik, pelindung, dan pemberi
rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

b. Peran ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak anaknya. Ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai
pengasuh dan pendidik anak anaknya, pelindung dan sebagai salah
satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan
sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c.

Peran anak : Anak anak melaksanakan peranan psikososial sesuai


dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan
spiritual.

4. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman, 1998 hal 100, didefinisikan
sebagai hasil atau konsekwensi dari struktur keluarga. Lima fungsi
keluarga yang paling berhubungan erat saat mengkaji dan
mengintervensi keluarga adalah ;
a.

Fungsi Afektif (Fungsi pemeliharaan kepribadian) : untuk stabilitas


kepribadian kaum dewasa, memenuhi kebutuhan kebutuhan para
anggota keluarga.

b. Sosialisai dan Fungsi penempatan sosial : untuk sosialisasi primer


anak anak yang bertujuan untuk membuat mereka menjadi anggota
masyarakat yang produktif, dan juga sebagai penganugrahan status
anggota keluarga.
c.

Fungsi Reproduksi : untuk menjaga kelangsungan


keturunan/generasi dan menambah sumber daya manusia, juga untuk
kelangsungan hidup masyarakat.

d. Fungsi Ekonomis : untuk mengadakan sumber sumber ekonomi


yang memadai dan mengalokasikan sumber sumber tersebut
secara efektif.
e.

Fungsi Perawat Kesehatan : untuk mengadalan kebutuhankebutuhan fisik pangan, sandang, papan dan perawatan kesehatan.

5. Tahap perkembangan keluarga


Menurut Duvall (1977) dikutip Friedman, 1998; hal 109 135,
tahap dan tugas perkembangan keluarga ada 8, yaitu:
a.

Keluarga pemula

membangun perkawinan yang saling memuaskan

menghububgkan jaringan persaudaraan secara harminis

keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai


orangtua

b. Keluarga sedang mengasuh anak

Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap.

Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan


kebutuhan anggota keluarga.

Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan

Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan


menambahkan peran-peran orangtua dan kakek nenek

c.

Keluarga dengan anak usia prasekolah

Memenuhi kebutuhan anggota keluarga se[erti rumah, ruang


bermain, privasi, keamanan

Mensosialisasikan anak

Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi


kebutuhan anak-anak yang lain

Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga

d. Keluarga dengan anak usia sekolah

Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prastasi


sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang
sehat

Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan

Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.

e.

Keluarga dengan anak remaja

Mengembangkan kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja


menjadi dewasa dan semakin mandiri

Memfokuskan kembali hubungan perkawinan

Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak

f.

Keluarga melepaskan anak dewasa muda

Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga


baru didapatkan melalui perkawinan anak-anak

Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali


hubungan perkawinan

Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami maupun


istri

g. Orangtua usia pertengahan

Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan

Mempertahankan hubungan hubungan yang memuaskan dan


penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak

Memperkokoh hubungan perkawinan

h. Keluarga lansia

Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan

Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun

Mempertahankan hubungan perkawinan

Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan

Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi

Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan dan


integrasi hidup)

6.

Tugas Kesehatan Keluarga


Tugas kesehatan keluarga menurut Nasrul effendy, 1998, hal 42,
adalah sebagai berikut :

a.

Mengenal masalah kesehatan.

b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.


c.

Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.

d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.


e.

Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas


kesehatan masyarakat.
Ayah adalah pemimpin sebuah keluarga. Ibarat kapal layar, ayah adalah
seorang nakhoda yang menentukan ke mana arah jalannya kapal,
menentukan bagaimana kapal beroperasi, memimpin para awak dalam
berbagai

kondisi,

dan

mengayomi

awak-awak

yang

menapukan

kepercayaanya pada sang nakhoda. Berat ringannya, sukses tidaknya


suatu perjalanan bergantung dari peran orang tua dalam mendidik anak,
bagaimana kecakapan sang nakhoda dalam memimpin sebuah kapal.

Namun bagaimana sebenarnya peran ayah dalam suatu keluarga. Nah,


berikut adalah beberapa contoh bagaimana peran seorang ayah sehingga
ia bisa menjadi nakhoda yang cakap dalam keluarganya.
1. Menjadi pemimpin yang bijak
Sudah jelas bahwa fungsi utama seorang ayah seperti yang dijelaskan
dalam kiasan sebelumnya adalah untuk menjadi pemimpin keluarga. Ia
harus

mampu

membuat

suatu

keputusan

yang

bijak

dengan

mepertimbangkan baik buruknya dampak pada rumah tangga. Sebagai


pemimpin yang bijak, ia harus mau dan mampu mendengar masukan dan
pertimbangan dari istri dan bahkan anak-anaknya. Maka, keluarga dengan
pemimpin yang demokratis tentu saja akan membuat kebahagiaan
keluarga berbeda dengan pemimpin yang otoriter.
2. Menjadi pelindung keluarga
Sebuah keluarga suatu waktu pastilah rentan akan ancaman dari bahaya.
Bukan saja ancaman manusia namun juga ancaman dari bencana atau
kecelakaan. Bila hal ini terjadi, ayah harus berada di garda depan sebagai
pelindung keluarga. Ia harus mampu berpikir kritis untuk segera
memecahkan masalah yang ada agar kejadian buruk yang menimpa
keluarga tidak berlarut-larut dan menjadi lebih berbahaya.
3. Menjadi teladan keluarga
Ayah pasti ingin istrinya menjadi istri yang baik begitupun anaknya menjadi
anak yang berlaku baik, santun, dan beradap. Namun demikian sebelum
anggota keluarga lain menjadi seperti yang ayah inginkan, ayah harus

berhasil menjadi seperti apa yang ia inginkan dari keluarga lainnya. Ia


harus menjadi contoh yang baik sehingga anggota keluarga lainnya akan
mengikuti kebiasaan sang ayah.
4. Menjadi guru yang cakap
Pendidikan primer bukan berasal dari sekolah, taman kanak-kanak,
maupun pendidikan anak usia dini. Pendidikan pertama berasal dari
keluaga itu sendiri. Ayah beserta ibu harus mendidik sedari awal anakanaknya tentang nilai baik buruknya sesuatu. Dari sudut pandang
pendidikan formal, ayah dapat membantu misalnya dengan mengerjakan
pekerjaan rumah anaknya bersama-sama termasuk mengajarkan anak
tentang fungsi tata tertib sekolah, agar mudah dipatuhi.
5. Menjadi pemberi nafkah yang baik
Sudah menjadi tugas wajib seorang ayah untuk menafkahi keluarganya,
memberi makan keluarganya. Namun nafkah yang diberikan haruslah
nafkah yang baik, bukan berasal dari hasil kejahatan atau korupsi misalnya.
Jangan karena ingin bergelimang materi maka proses dalam mencari
materi itu diabaikan nilai baik buruknya.
6. Menjadi teman diskusi
Seorang pemimpin yang bijak akan mau berdiskusi dengan anggotanya,
begitupun dengan sosok ayah. Ayah yang baik akan dengan senang hati
berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya untuk menentukan sesuatu. Di
lain pihak, apabila anggota keluarga lainnya butuh berdiskusi maka sang

ayah harus bersedia dan memberikan saran dan pandangannya. Itulah


ayah yang mampu mengerti keluarganya.
7. Menjadi penghibur keluarga
Ada kalanya keluarga mengalami musibah dan kemalangan. Sebagai ayah,
ia harus mampu menenangkan anggota keluaga lainnya dan membuat
situasi tidak semakin kacau. Ayah dituntut untuk mendahulukan logika
sehingga masa sulit dapat teratasi dengan cepat.
8. Menjadi perencana keuangan
Memang pada umumnya sang istrilah yang menjadi manajer keuangan
dala suatu rumah tangga. Namun demikian, sebagai sumber keuangan, tak
ada salahnya ayah ikut andil dalam perencanaan keuangan. Pastikan
keuangan dibangi untuk kebutuhan, keinginan, tabungan, dan investasi.
9. Menjadi perencana masa depan
Masa depan rumah tangga menjadi tanggung jawab setiap anggotanya,
namun demikian sebagai desainer rumah tangga, ayah harus mampu
membuat grand design dari rumah tangga itu sendiri. Mulai dari tempat
tinggal

di

mana,

bagaimana

nanti

pendidikan

anak-anak,

akan

menghabiskan masa tua dengan cara apa, dan sebagainya. Masa depan
yang baik tentu dimulai dari perencanaan yang matang di masa kini.
10. Menjadi imam keluarga
Selain menjadi teladan dalam nilai-nilai kehidupan, seorang ayah harus
dapat menjadi imam yang baik. Imam dalam artian di sini yaitu memberikan

nilai-nilai agama kepada anak-anaknya dan juga istrinya sesuai dengan


agama yang dianutnya. Berikan nilai karena keluarga yang baik bukan
hanya bahagia di dunia saja namun juga di akhirat.
11. Menjadi delegasi untuk kerabat dan lingkungan
Karena merupakan pemimpin keluarga, ayah harus menjadi sosok yang
merepresentasikan keluarga kepada lingkungan sekitar. Ayah pun harus
menjaga tali silaturahmi dengan keluarga baik dari pihaknya maupun pihak
istri. Ayah harus bisa memperluas relasi, karena dengan relasi yang luas,
kesempatan pun akan semakin banyak.
12. Menjadi penegak aturan rumah tangga
Setiap rumah tangga pasti memiliki aturan yang harus dipatuhi, mulai dari
jam makan hingga kebersihan rumah. Demi rumah tangga yang lebih
teratur maka ayah harus menegakan aturan dengan cara yang baik.
Artinya, ayah pun harus menaati aturan baru ia dapat berfungsi sebagai
penegak aturan rumah tangga. Harus diingat lagi bahwa dalam menegakan
aturan, ayah haruslah konsisten.
13. Menjadi penengah dalam keluarga
Suatu rumah tangga pasti tak luput dari percekcokan. Bila sang ayah
termasuk dalam percekcokan itu maka ia harus dapat berpikir jernih. Bila
anggota keluarga lain yang bercekcok, ayah harus dapat menengahi dan
mendamaikan kedua belah pihak tanpa memihak. Memang sulit, namun
itulah seni menjadi seorang ayah.
14. Menjadi penganggung jawab kesehatan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Itulah pepatah yang memang


benar adanya dan dapat diaplikasikan dalam rumah tangga. Sebagai
pemimpin, ayah harus dapat menentukan arah rumah tangga agar
kesehatan terjamin. Ayah harus mengerti sanitasi rumah dan berkoordinasi
dengan ibu untuk menyediakan makan bergizi pada keluarga, sebagai
contohnya. Ayah harus selalu siaga sehingga dalam keadaan darurat, ayah
dapat bersikap tepat dan minimal mengetahui pertolongan pertama.
15. Menjadi orang yang meluangkan waktu bagi keluarga
Tentu semua peran ayah di atas tidak akan berfungsi apabila ayah tidak
hadir secara lahir dan batin di tengah-tengah keluarga. Maka, peran ayah
yang terpenting adalah mampu menjadi seseorang yang mampu
meluangkan

waktunya

untuk

keluarga.

Ayah

harus

menemani

perkembangan anak-anak dan rumah tangga. Barulah, ketika ia berhasil


meluangkan waktunya, peran lain ayah lainnya dapat dijalankan.
Sering dikatakan bahwa ibu adalah jantung dari keluarga. Jantung dalam tubuh
merupakan alat yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Apabila jantung
berhenti berdenyut maka orang itu tidak bisa melangsungkan hidupnya. Perumpaan
ini menyimpulkan bahwa kedudukan seorang ibu sebagai tokoh sentral dan sangat
penting untuk melaksanakan kehidupan. Pentingnya seorang ibu terutama terlihat
sejak kelahiran anaknya (Gunarsa, 2000). Peran ibu sangat banyak, peranan ibu
sebagai istri dan ibu dari anakanaknya, mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak anaknya, dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Disamping itu, ibu
juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya (Effendy,
1998). Menurut Friedman dalam Effendy (1998), peran ibu didefinisikan sebagai
kemampuan untuk mengasuh, mendidik dan menentukan nilai kepribadian. Peran
pengasuh adalah peran dalam memenuhi kebutuhan 7 Universitas Sumatera Utara
pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya terpelihara sehingga
diharapkan mereka menjadi anak anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan
spiritual. Selain itu peran pengasuh adalah peran dalam memberikan kasih sayang,
perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga
memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

Realitas peran ibu kini adalah bahwa di banyak keluarga, tanggung jawab utama
atas anak maupun pekerjaan rumah tangga dan bentuk lainnya dari pekerjaan
keluarga masih dibebankan di pundak ibu (Barnard & Martell, 1995 dalam Santrock,
2007) 1.1 Ibu bekerja Ibu bekerja adalah ibu yang melakukan suatu kegiatan di luar
rumah dengan tujuan untuk mencari nafkah untuk keluarga. Selain itu salah satu
tujuan ibu bekerja adalah suatu bentuk aktualisasi diri guna menerapkan ilmu yang
telah dimiliki ibu dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain dalam bidang
pekerjaan yang dipilihnya (Santrock, 2007). Beberapa alasan yang mendukung
tujuan ibu bekerja menurut Gunarsa (2000) adalah: (1) karena keharusan ekonomi,
untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Hal ini terjadi karena ekonomi keluarga
yang menuntut ibu untuk bekerja. Misalnya saja bila kehidupan ekonomi
keluarganya kurang, penghasilan suami kurang untuk mencukupi kebutuhan sehari
hari keluarga sehingga ibu harus bekerja, (2) karena ingin mempunyai atau
membina pekerjaan. Hal ini terjadi sebagai wujud aktualisasi diri ibu, misalnya bila
ibu seorang sarjana akan lebih memilih bekerja untuk membina pekerjaan, (3)
proses untuk mengembangkan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang lain
dan 8 Universitas Sumatera Utara menambah pengalaman hidup dalam lingkungan
pekerjaan, (4) karena kesadaran bahwa pembangunan memerlukan tenaga kerja
baik tenaga kerja pria maupun wanita. Hal ini terjadi karena ibu mempunyai
kesadaran nasional yang tinggi bahwa negaranya memerlukan tenaga kerja demi
melancarkan pembangunan, (5) pihak orang tua dari ibu yang menginginkan ibu
untuk bekerja, (6) karena ingin memiliki kebebasan finansial, dengan alasan tidak
harus bergantung sepenuhnya pada suami untuk memenuhi kebutuhan sendiri,
misalnya membantu keluarga tanpa harus meminta dari suami, (7) bekerja
merupakan suatu bentuk penghargaan bagi ibu, (8) bekerja dapat menambah
wawasan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pola asuh anak anak.
Alasan alasan diatas menjadi dasar terjadinya pergeseran nilai peran seorang ibu.
Ibu harus menjalankan peran ganda dalam melaksanakan perannya sebagai sosok
seorang ibu. Peran ganda ini berpengaruh positif maupun negatif terhadap kondisi
keluarga terutama terhadap anak. Pengaruh ibu yang bekerja pada hubungan anak
dan ibu, sebagian besar bergantung pada usia anak pada waktu ibu mulai bekerja.
Jika ibu mulai bekerja sebelum anak telah terbiasa selalu bersamanya, yaitu
sebelum suatu hubungan tertentu terbentuk, maka pengaruhnya akan minimal.
Tetapi jika hubungan yang baik telah terbentuk, anak itu akan menderita akibat
deprivasi maternal, kecuali jika seorang pengganti ibu yang memuaskan tersedia,
yaitu seorang pengganti yang disukai anak dan yang mendidik anak dengan cara
yang tidak akan menyebabkan kebingungan atau kemarahan di pihak anak
(Hurlock, 2007). 9 Universitas Sumatera Utara 1.2 Ibu tidak bekerja Ibu yang tidak
bekerja memiliki tanggung jawab untuk mengatur rumah tangga. Dalam konteks
inilah peran seorang ibu berlaku, yaitu mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak anaknya, dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya (Santrock, 2007).
Ibu yang tidak bekerja dapat lebih memahami bagaimana sifat dari anak anaknya.
Karena sebagian besar waktu yang dimiliki ibu yang tidak bekerja dihabiskan di

rumah sehingga bisa memantau kondisi perkembangan anak. Kebanyakan


pekerjaan yang dilakukan ibu di rumah meliputi membersihkan, memasak, merawat
anak, berbelanja, mencuci pakaian, dan mendisiplinkan. Dan kebanyakan ibu yang
tidak bekerja seringkali harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus
(Santrock, 2007). Namun, karena ikatan kasih sayang dan melekat dalam hubungan
keluarga pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh ibu memiliki arti yang
kompleks dan juga berlawanan (Villiani, 1997 dalam Santrock, 2007). Banyak
perempuan merasa pekerjaan rumah tangga itu tidak cerdas namun penting.
Mereka biasanya senang memenuhi kebutuhan orang orang yang mereka kasihi
dan mempertahankan kehidupan keluarga, karena mereka merasa aktivitas
tersebut menyenangkan dan memuaskan. Pekerjaan keluarga bersifat positif dan
negatif bagi perempuan. Mereka tidak diawasi dan jarang dikritik, mereka
merencanakan dan mengontrol pekerjaan mereka sendiri, dan mereka hanya perlu
memenuhi standart mereka sendiri. Namun, pekerjaan rumah tangga perempuan
sering kali menyebalkan, 10 Universitas Sumatera Utara melelahkan, kasar,
berulang ulang, mengisolasi, tidak terselesaikan, tidak bisa dihindari, dan sering
kali tidak dihargai (Santrock, 2007). Namun, semua perempuan secara kodrat harus
menerima peran yang harus dijalankan, yaitu sebagai istri sekaligus ibu dari anak
anaknya dan menjalankan perannya sebagai ibu dalam keluarga yang memiliki
tanggung jawab penuh untuk megatur rumah tangga.