Anda di halaman 1dari 18

PANCASILA

SEBAGAI PARADIGMA
OLEH: HERMIANTO, S.IP
Email:
hermiantohelmi@yahoo.co.id
*) materi ini sebagian besar disarikan dari Kaelan dalam
bukunya yang berjudul Pendidikan Pancasila, 2010, hal:
226-264.

PENGERTIAN PARADIGMA
Istilah paradigma pada awalnya berkembang
dalam dunia ilmu pengetahuan terutama dalam
kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan;
Secara terminologis tokoh yang mengembangkan
istilah tersebut Thomas S. Khun dalam bukunya
yang berjudul The Structure of Scientific
Revolution (1970).
Intisari pengertian paradigma adalah suatu
asumsi2 dasar dan asumsi2 teoritis yang umum
(merupakan suatu sumber nilai), shg merupakan
suatu sumber hukum2, metode, serta penerapan
dalam ilmu pengetahuan shg sangat menentukan
sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu
sendiri;

Ilmu pengetahuan sifatnya sangat dinamis


hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya
hasil2 penelitian manusia, shg dalam
perkembangannya
terdapat
suatu
kemungkinan yg sangat besar ditemukannya
kelemahan2 pada teori yang telah ada.
Jikalau demikian, ilmuan akan kembali pada
asumsi2 dasar serta asumsi teoritis shg
dengan
demikian
perkembangan
ilmu
pengetahuan kembali mengkaji paradigma
dari ilmu pengetahuan tersebut atau dengan
lain perkataan ilmu pengetahuan harus
mengkaji dasar ontologis dari ilmu itu sendiri.

B. PANCASILA SEBAGAI
PARADIGMA PEMBANGUNAN
Secara filosofis hakikat kedudukan Pancasila
sebagai paradigma pembanguann nasional
mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembangunan kita harus
mendasarkan pada hakikat nilai2 Sila2
Pancasila. Karena hakikat nilai2 Pancasila
mendasarkan diri pada dasar ontologis
manusia sebagai subyek pendukung pokok
sila-sila pada kenyataan obyektif bahwa
Pancasila dasar negara dan negara adalah
organisasi (persekutuan hidup) manusia.

Konsekuensinya dalam realisasi pembangunan


nasional dalam berbagai bidang untuk
mewujudkan penignkatan harkat dan martabat
manusia secara konsistem berdasarkan pada
nilai2
kodrat
manusia
tersebut.
Maka,
pembangunan nasional harus meliputi aspek
jiwa (rohani) yang mencakup akal, rasa dan
kehendak; aspek raga (jasmaniah) , aspek
individu, aspek mahluk sosial, aspek pribadi
dan juga aspek kehidupan ketuhanannya.
Kemudian pada gilirannya dijabarkan dalam
berbagai bidang pembangunan antara lain
politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial,
budaya ,ilmu pengetahuan dan teknologi serta
bidang kehidupan beragama.

1. Pancasila Sbg Paradigma


Pengembangan Iptek
Manusia
mengembangkan
ilmu
(pengetahuan) dan teknologi dalam
upaya mewujudkan kesejahteraan
dan
peningkatan
harkat
dan
martabatnya.
Ilmu (pengetahuan) dan teknologi
pada hakikatnya merupakan suatu
kreativitas rohani manusia berupa
aspek akal, rasa dan kehendak.

Berdasarkan sila pertama, Iptek tidak


hanya memikirkan apa yang ditemukan,
dibuktikan dan diciptakan tetapi juga
dipertimbangkan
maksudnya
dan
akibatnya apakah merugikan manusia dgn
lingkungan sekitarnya.
Sila ini menempatkan manusia di alam
semesta
bukan
sebagai
pusatnya
melainkan sebagai bagian yang sistematis
dari alam yang diolahnya.

Sila kedua, memberikan dasar2 moralitas


bahwa manusia dalam mengembangkan
Iptek haruslah bersifat beradab.
Karena itu, pengembangan iptek harus
didasarkan pada hakikat tujuan demi
kesejahteraan umat manusia. Iptek bukan
untuk kesombongan, kecongkaan dan
keserakahan
manusia
namun
harus
diabdikan demi pgkatan harkat dan
martabat manusia.

Sila ketiga, Iptek diarahkan demi


kesejahtera-an
umat
manusia,
termasuk di dalamnya kesejahteraan
bangsa Indonesia.
Pengembangan
Iptek
hendaknya
dapat
mengembangkan
rasa
nasionalisme,
kebesaran
bangsa
serta keluhuran bangsa sebagai
bagian dari umat manusia di dunia.

Sila keempat, mendasari pengembangan


Iptek secara demokratis. Artinya setiap
ilmuan haruslah memiliki kebebasan untuk
mengembangkan Iptek. Selain itu, dalam
pengembangan Iptek, setiap ilmuan juga
harus menghormati dan menghargai
kebebasan orang lain dan harus memiliki
sikap yang terbuka artinya terbuka untuk
dikritik, dikaji ulang maupun dibandingkan
dengan penemuan teori lainnya.

Sila kelima, Iptek harus dapat


menjaga
keseimbangan
keadilan
dalam kehidupan kemanusiaan yaitu
keseimbangan
keadilan
dalam
hubungannya dengan dirinya sendiri,
manusia dengan tuhannya, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan
masyarakat bangsa dan negara serta
manusia dengan alam lingkungannya.

2. Pancasila sbg Paradigma


Pbanguanan
Poleksosbudhankam

Pembangunan
pada
hakikatnya
merupakan suatu realisasi praktis untuk
mencapai
tujuan
bangsa.
Adapaun
pembangunan dirinci dalam berbagai
macam
bidang
antara
lain
POLEKSOSBUDHANKAM. Dalam bidang
kenegaraan penjabaran pembangunan
dituangkan dalam GBHN yang dirinci
dalam bidang2 operasional srt target
pencapaiannya.

Pembangunan merupakan realisasi praktis


dalam negara utk mencapai tujuan seluruh
warga hrs mendasarkan pada hakikat
manusia sebagai subyek pelaksana sekaligus
tujuan pembangunan. Karena itu, hakikat
manusia merupakan sumber nilai bagi
pengembangan POLEKSOSBUDHANKAM. Hal
inilah yang sering diungkapkan dalam
pelaksanaan
pembangunan
bahwa
pembangunan
hakikatnya
membangun
manusia secara lengkap, secara utuh
meliputi seluruh unsur hakikat manusia
monopluralis, atau dengan lain perkataan
mbangun martabat manusia.

3. Pancasila sebagai
Paradigma Reformasi
Gerakan Reformasi yang bergulir tahun
1997 pada dasarnya memiliki tujuan
yaitu memperbaiki kinerja pemerintahan
di bawah kepemimpinan Soeharto.
Sebab
nilai-nilai
kehidupan
yang
demokratis mulai ditinggalkan. Lembaga
perwakilan rakyat tidak mencerminkan
sebagai lembaga yg demokratis, tetapi
lebih
berfungsi
sebagai
lembaga
justifikasi.

Kondisi
yang
memprihatinkan,
telah
menggugah semangat para mahasiswa dan
tokoh2 reformis untuk melakukan gerakan
yang dikenal sebagai gerakan reformasi.
Sampai saat ini gerakan tersebut terus
menggelinding untuk mencapai sasaran
yang dicita-citakan sesuai dengan nilai-nilai
moral bangsa Indonesia.
Gerakan reformasi ini berhasil memaksa
Soeharto mundur dari jabatan pada bulan
Mei 1998, namun bukan berarti bahwa
gerakan reformasi telah berhasil mencapai
tujuannya.

Gerakan reformasi sebagai upaya


memperbaiki
kehidupan
bangsa
Indonesia ini harus dibayar mahal,
terutama yang berkaitan dengan
dampak politik, ekonomi, sosial, dan
terutama kemanusiaan.
Para elit politik cenderung hanya
memanfaatkan gelombang reformasi
ini guna meraih kekuasaan sehingga
tidak mengherankan apabila banyak
terjadi perbenturan kepentingan.

Berkaitan dengan hal tersebut, secara


historis bahwa para pendiri negara
telah
menentukan
suatu
asas,
sumber nilai serta sumber norma
yang
fundamental
dari
negara
Indonesia
yaitu
Pancasila
yang
bersumber dari apa yang dimiliki oleh
Bangsa Indonesia sendiri yaitu nilai2
yang merupakan pandangan hidup
sehari-hari Bangsa Indonesia.

Berdasarkan
uraian
tersebut,
maka
Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai
dasar yang diyakini kebenarnanya dapat
diterima oleh Bangsa Indonesia dapat
dipergunakan sebagai tolok ukur atau
paradigma dalam setiap aktivitasnya.
Artinya, setiap perubahan (ucapan dan
tindakan)
bangsa
dapat
dibenarkan
selama tidak bertentangan dengan nilainilai Pancasila.
Sejalan dengan pemikiran ini, maka
pembangunan dan gerakan reformasi
harus
menggunakan
Pancasila
sbg
paradigmanya. ***