Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penyebab timbulnya karies pada daerah servikal gigi antara lain
adanya invasi kuman, resesi gingival, oral hygine yang buruk dan
cara penyikatan gigi yang salah. Karies yang terjadi pada bagian
servikal gigi sering diklasifikasikan sebagai Karies Kelas V yang
dikenal dengan klasifikasi menurut G. V. Black. Jenis karies ini sulit
penanganannya karena berbatasan dengan daerah gingival mulut.
Penatalaksanaan karies kelas V ini dapat dilakukan dengan cara
penumpatan. Bahan tumpat yang dipilih juga berbagai macam,
salah satunya adalah Semen Ionomer Kaca, begitu juga dengan
teknik

penumpatannya

dan

langkah-langkah

perawatannya.

Terkadang pasien yang terkena karies kelas V ini merasa sakit pada
giginya, hal ini terjadi karena karies telah menembus lebih dari
setengah bagian dentin dan harus dilakukan perlindungan pulpa
agar gigi tidak mati.
Berdasarkan hal tersebut di atas perlu dilakukan diskusi
tentang masalah ini. Diharapkan dengan dibuatnya laporan ini,
mahasiswa

mengerti

dan

memahami

tentang

hal-hal

yang

berkaitan dengan topik yang dibahas.


2.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Batasan Masalah
Definisi Karies Klas V
Klasifikasi Karies Klas V
Syarat dan Prinsip Preparasi Klas V
Pembersihan Kavitas (Toilet of Cavity)
Sifat, Klasifikasi dan Prosedur Penumpatan GIC
Perlindungan Diri
Kontrol Infeksi di Ruang Kerja

1 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
I.

Definisi Karies Klas V


Karies Menurut Mount & Hume, Site 3
- Lesi site 3 terjadi di 1/3 gingiva mahkota atau pada permukaan
-

akar yang terbuka.


Sama dengan klasifikasi Black klas V, namun klasifikasi Black
tidak membedakan lesi pada gingiva 1/3 permukaan aproximal
(khususnya karies permukaan akar) dari lesi klas II. Sementara
pada klasifikasi Mount&Hume dibagi menjadi lesi erosi/abrasi
atau kavitas kecil termasuk #3.1 atau #3.2, sementara lesi

II.

interproksimal termasuk #3.3 atau #3.4.


Karies dapat terjadi di mana saja disekeliling gigi sebagai

dampak kurangnya kebersihan dan akumulasi plak.


Karies permukaan akar juga terjadi di mana saja di permukaan

akar mengikuti adanya resesi gingiva.


Abrasi/erosi juga termasuk di kategori ini.

Klasifikasi Karies Klas V


Karies Site 3 dibagi menjadi 4 size, yaitu size 1, 2, 3 dan 4
Site 3, Size 1 #3.1 (Klasifikasi G.V Black- Klas V)
Preparasi
Lesi

karies

bisanya

ditemukan

di

margin

gingiva

sehubungan dengan tingginya tingkat karies dan kebersihan oral


yang

buruk.

Sebuah

keputusan

harus

dibuat

apakah

remineralisasi dan peningkatan kebersihan oral akan cukup


untuk menstabilkan situasi atau apakah perlu menempatkan
restorasi.
Jika restorasi diperlukan, cukup untuk membuang dentin
yang karies saja menggunakan bur bulat kecil. Kadang, bila
enamel sangat rapuh, kavitas dapat dilebarkan namun tidak
perlu membuang lesi putih yang merepresentasikan enamel
yang ter demineralisasi. Gunakan silinder diamond kecil pada
kecepatan tinggi intermediet dibawah spray air udara untuk
pelebaran yang terbatas.

2 | Page

Dengan penempatan glass ionomer, keadaan enamel


tidak penting karena pelepasan fluoride yang kontinu akan
mendukung remineralisasi.
Bila kavitas akan direstorasi dengan resin komposit,
outline perlu diperluas untuk mencapai kedalaman, enamel yang
termineralisasi secara penuh yang dapat di etsa dengan aman
untuk menyediakan perlekatan micromechanical. Karena materi
adesif akan digunakan untuk restorasi, maka tidak perlu
membuat desin retensi.
Tidak ada instrumen yang dibutuhkan utnuk restorasi lesi
erosi. Hati-hati untuk mencegah kerusakan jaringan gingiva
karena pendarahan akan mencampuri adhesi. Kontrol rembesan
dan pendarahan gingiva dapat diperoleh dengan pengaplikasian
asam

trikloroasetik.

Sebagai

alternatif,

penempatan

dari

retraktor gingiva yang pendek ke dalam crevice gingiva dapat


membantu menggeser jaringan lunak dari kavitas.
Site 3, Size 2 #3.2 (Klasifikasi G.V Black- Klas V)
Lesi #3.2 hampir sama dengan lesi #3.1 kecuali bahwa
lesi ini lebih ekstensif dan dimungkinkan lebih kompleks untuk
direstorasi. Normalnya berupa lesi karies besar pada permukaan
fasial atau lingual gigi, timbul karena teknik oral hygiene yang
jelek dengan keberadaan karies rampan. Karies ini kadang dapat
dilihat pada pasien dengan xerostomia.
Preparasi
Ikuti langkah yang dideskripsikan di atas (karies #3.1),
tetap dengan mempertahankan struktur gigi alami sebanyak
mungkin. Perhatikan potensi untuk remineralisasi pada enamel
dan dentin.
Gunakan

bur

bulat

pada

kecepatan

rendah

untuk

membuang dentin yang terinfeksi dari dinding dan dentin yang


terpengaruh pada dinding aksial. Gunakan bur diamond kecil
pada kecepatan tinggi intermediet untuk mempertegas outline
enamel

tapi

tetap

konservatif

dengan

enamel

yang

terdemineralisasi.
Site 3, Size 3 #3.3 (Klasifikasi G.V Black- Klas V)

3 | Page

Kategori ini merepresentasikan lesi aproksimal yang telah


berkembang, baik menjadi karies permukaan akar primer yang
mengikuti resesi gingiva atau karies rekuren pada margin
gingiva dari retorasi yang sudah ada. Pembongkaran dari
seluruh retorasi asli tidak diperlukan; pendekatan konservatif
untuk merawat struktur gigi yang tersisa secara maksimal dapat
dibuat dari sisi fasial atau lingual tergantung dari posisi lesi
karies.

Penampilan

estetik

jarang

menjadi

masalah,

tapi

aksesnya mungkin terbatas. Penempatan rubber dam dapat


digunakan sebagai bantuan dan gingivektomi minor dnegan
elektrosurgeri atau perawatan laser dapat dibenarkan.
Preparasi
Bila ada resiko ke permukaan akar dari gigi yang
bersebelahan, pasang pita matriks metal pendek dan baji pada
tempat yang sesuai sebelum mulai preparasi kavitas.
Gunakan silinder diamond tapered bur pada kecepatan
tinggi intermediet di bawah spray air udara dan dekati lesi dari
porsi oklusal karies menuju gingiva. Bukan secara konservatif,
cukup untuk mendapat visibilitas yang memungkinkan. Lakukan
gingivektomi bila diperlukan dan kontrol pendarahan dengan
asam trikloroasetik. Buang karies di sekeliling dinding dan lantai
gingiva dengan bur bulat kecil, dengan shank panjang bila
diperlukan dan tegaskan outline kavitas. Lakukan dengan hatihati pada dinding aksial karena dentin yang terpengaruh
demineralisasi dapat diremineralisasi dan dapat tetap menutup
pulap selama margin dilindungi. Kadang sulit mengidentifikasi
terbukanya pulpa pada kavitas dan perhatian diperlukan untuk
menghindarinya. Bila dimungkinkan, pertahankan dinding gigi
pada sisi seberang dari akses kavitas karena akan memfasilitasi
konstruksi matriksa dan penempatan restorasi.
Site 3, Size 4 #3.4 (Klasifikasi G.V Black- Klas V)
Kategori ini merepresentasikan kombinasi dari dua atau
lebih kavitas di sekitar margin servikal dari gigi mana saja.
Situasi yang sering terjadi di sekitar kaninus bawah yang berdiri
sendiri dimana lesi #3.2 labial bergabung dengan lesi #3.3 yang

4 | Page

lain pada sisi distal dan dimungkinkan ada lesi #3.2 lain pada
sisi lingual. Perawatan tetap sama dengan lesi individual namun
lebih kompleks untuk dilaksanakan.
Preparasi
Pertahankan struktur gigi sebanyak mungkin, dengan
memperhatikan

dinding

aksial

dari

kavitas.

Dentin

yang

terpengaruh demineralisasi dapat saja diremineralisasi dan bila


mungkin sebaiknya tidak dibuang. Ikuti rekomendasi di bawah
reknik atraumatic restorative treatment jika diindikasikan.
Bersihkan

dindingnya

saja,

menggunakan

diamond

tapered kecil dan rawat enamel sebanyak mungkin. Buang


dentin yang terinfeksi dari dindung menggunakan bur bulat
kecil. Kondisikan (dengan kondisioner) kavitas seperti biasa
sebelum penempatan semen.
Klasifikasi Karies Klas V menurut Pickard
I. Karies Permukaan Halus
Karies ini biasanya terjadi di sekitar leher molar dan
premolar serta di permukaan labio-servikal insisif. Karies jarang
terjadi di permukaan palatal insisif atas kecuali pada ceruk
singulum dan sangat jarang terjadi di permukaan lingual insisif
bawah. Jika terjadi resesi gingival, karies sering mulai di
pertautan email-dentin yang akan menyebabkan menggaungnya
email.
II. Karies akar
Karies ini terjadi setelah adanya resesi gingival dan tidak
perlu melalui tahap menembus email serta seringkali dimulai
dengan terjadinya lesi yang lua di akar. Sering terbentuk
disekeliling akar dan tidak ada batas yang jelas antara lesi
aproksimal, bukal dan lesi lingual. Pada umunya, merupakan
penyakit orang tua karena banyaknya resesi gingiva, walaupun
bisa juga terjadi pada umur yang lebih muda jika akarnya
terbuka.

5 | Page

Secara klinis, baik lesi aktif maupun lesi yang bergerak


lambat dapat jelas dilihat. Lesi aktif terasa lunak, kekuningkuningan atau coklat muda, sementara karies terhenti atau
karies yang penyebarannya lambat terasa lebih keras dan
tampak lebih berwarna tua,sering malah hamper hitam.
Pencegahan dini dapat dilakukan dengan cara pengendalian
plak, konsultasi diet, dan pemberian fluor topical. Kadangkadang penghalusan dan pemolesan permukaan akar yang
lunak akan membantu pengendalian plak dan memudahkan
terhentinya karies.
III. Prinsip Preparasi Klas V Menurut G.V.Black
1. Bentuk Ragangan
o Bervariasi tergantung karies/tingkat dekalsifikasi yang
o

terjadi
Ragangan biasanya persegi panjang dengan sudut yang

membulat, ovoid, atau berbentuk ginjal


Dinding aksial berada pada kedalaman 1,5 mm dari

permukaan gigi
2. Retention form
o Resistence form sama seperti prinsip pada pembuatan
restorasi klasifikasi lainnya

6 | Page

Retensi dibuat pada oklusal(insisal) dan dinding gingival di

o
o

pertautan dengan dinding aksial


Tidak boleh ada undercut pada dinding mesial/distal
Kedalaman retensi dibentuk dengan menggunakan

diameter bur
3. Bevel
Bevel dibuat pada seluruh bagian preparasi yang dikelilingi
email, tetapi tidak dibuat pada preparasi yang berakhir di
sementum.
IV. Pembersihan Kavitas (Toilet Of Cavity)
Yang termasuk dalam prinsip Toilet of the Cavity adalah:
1) Isolasi daerah kerja
Isolasi daerah kerja merupakan suatu keharusan. Hal ini
ditujukan agar mendapatkan

daerah kerja/kavitas yang

kering serta pandangan yang jelas. Gigi selalu dibasahi


saliva, lidah yang mengganggu penglihatan, dan gingiva
yang berdarah merupakan beberapa masalah yang harus
diatasi sebelum kerja yang teliti dan tepat dapat dilkukan.
Beberapa cara mengisolasi daerah kerja, antara lain :
1. Dengan Saliva Ejektor

Saliva ejector berdiameter 4 mm, digunakan untuk


menghisap saliva yang tertumpuk di dasar mulut. Saliva
ejector

dapat

dipegang

oleh

pasien

atau

dibiarkan

tergantung di dasar mulut. Saliva ejector dihubungkan


dengan suatu ujung yang dapat dibengkokkan, yang

7 | Page

desainnya ada beberapa macam. Ada yang terbuat dari


plastik dan dapat dibuang setelah sekali pakai. Selain itu
ada yang terbuat dari logam yang dilengkapi dengan
semacam sayap untuk meretraksi dan melindungi lidah
dan dasar mulut, yang seperti ini bermanfaat bagi
operator yang bekerja sendiri. Bagian yang paling kritis
dari saliva ejector adalah ujungnya. Karena terus berada
di dasar mulut, di bawah tekanan negatif yang konstan,
dapat menarik jaringan lunak ke dalam orifisnya sehingga
menimbulkan suatu lesi yang jelek.

2. Dengan Evakuator Kecepatan Tinggi (HVE)


Evakuator kecepatan tinggi (HVE) dengan diameter 10
mm, digunakan untuk menyerap semua air dan debris
dari daerah kerja. Biasanya dioperasikan oleh asisten gigi.
HVE sangat efektif bila dokter gigi dan asistennya bekerja
sebagai suatu tim yang berpengalaman dan terampil.
3. Dengan Cotton Rolls
Tujuan untuk menggunakan ini adalah untuk menyerap
saliva dan cairan lainnya, untuk menarik pipi, bibir dan
lidah. Cotton roll ini diletakkan di gigi2 yang kita
preparasi. Cotton rolls dapat mengisap saliva dalam waktu
yang cukup singkat. Selama prosedur restorasi di lakukan
cotton rolls harus selalu diganti jika sudah cukup basah
oleh saliva. Cotton rolls yang sering digunakan adalah
No.2

dengan

panjang

11/2

dan

diameter

3/8.

8 | Page

Digunakan untuk memblokir daerah sekitar gigi yang di


bantu dengan saliva ejector.
Cara menempatkan dan lokasi dari cotton rolls di dalam
rongga mulut adalah sbb :
a. Untuk mengisolasi daerah kerja pada gigi RA
Caranya : dengan menggunakan kaca mulut bibir
dan pipi pasien di tarik atau di angkat ke atas, lalu
cotton rolls di tempatkan di ruang vestibulum oris.
Lokasinya :
a) Pada Gigi Posterior
Cotton rolls di letakan di samping gigi yang akan
di restorasi dan juga gigi tetangga serta menutup
tempat muara kelenjar parotis.
b) Pada Gigi Anterior
Cotton rools di letakkan mulai dari gigi caninu
menuju kea rah posterior, baik pada rahang
kanan maupaun kiri.
b. Untuk mengisolasi daerah Kerja Gigi RB
Selain di tempatkan di vestibulum oris juga di
tempatkan didasar mulut dan menutupi muara
kelenjar submandibularis.
Lokasinya :
a) Pada Gigi Posterior
Cotton rolls di letakan di bagian bukal dan lingual
dari

yang

akan

di

restorasi

dan

juga

gigi

tetangganya.
b) Pada Gigi Anterior
Cotton rolls di letakan di bagian kanan dan kiri
mulai dari gigi caninus menuju kea rah posterior
baik pada bagian bukal/ labial maupun lingual.
4. Dengan Isolator Karet
Cara paling sempurna untuk mengendalikan cairan dalam
mulut adalah dengan menggunakan isolator karet (rubber
dam). Gigi atau gigi-gigi yang akan diterapi, bersamasama dengan gigi sebelahnya, ditempatkan dalam lubang
karet isolator dan yang terlihat hanya mahkotanya dan
mencegah kebasahan serta infeksi.
Keuntungan pemakaian isolator karet
Memungkinkan dilakukannya isolasi

gigi

dengan

sempurna dari ludah, darah, atau eksudat cairan


9 | Page

gingiva. Hal ini penting bagi semua restorasi terutama


pada tumpatan adhesif .
Membantu isolasi dari bakteri yang terdapat di ludah
sehingga diindikasikan untuk menghindari infeksi dari
bagian lain di mulut misalnya pada perawatan saluran
akar dan pulp caping baik direk maupun direk.
Melindungi pasien dari kemungkinan tertelan atau
terhisapnya instrumen ke trakea atau esofagus, seperti
pin dentin, patahan bur, serpihan amalgam, wedge,
mahkota,

inlay,

instrumen

saluran

akar,

sayap

penyedot ludah, bahkan kepala henpis.


Melindungi dokter gigi dari kemungkinan terinfeksi
oleh pasien. Penggunaan isolator karet diindikasikan
pada semua pasien yang dalam darah atau ludahnya
potensial untuk mentransmisikan penyakit kepada
dokter gigi atau stafnya. (misalnya pembawa hepatitis
B).
Mempunyai efek fisik dan psikologis, memisahkan
dokter gigi dari pasien. Tidak hanya dari sisi dokter gigi
isolator

karet

mempunyai

velositas

tinggi

dalam

membersihakan air, debu, debris, tetapi pasien sering


kali merasakan lebih aman, tidak merasakan hampir
semua apa yang sedang dilakukan dokternya.
Memungkinkan bekerja lebih cepat dan lebih aman.
Mulut yang basah, gangguan lidah, bibir, dan pasien
yang banyak omong bukan gangguan lagi dengan
pemakaian isolator karet.
Kerugian pemakaian isolator karet
Pasien tidak lagi dapat berbicara dengan mudah.
Percakapan yang terjadi hanya satu arah.
Sebagian pasien tidak menyukai isolator karet karena
adanya

klaustrofobia

(phobia

pada

ruang

yang

sempit).
Isolator karet dipegang pada gigi-gigi posterior dengan
cengkeram dan gigi masih merasa sensitif beberapa
jam setelah cengkeram dibuka.
Memerlukan waktu dalam memegang dan membuka,
walaupun dokter gigi yang sudah berpengalaman

10 | P a g e

hanya memerlukan beberapa menit saja. Sebenarnya,


setelah

isolator

karet

dipasang,

kondisi

operasi

meningkat dan banyak waktu yang dihemat.

Peralatan Isolator Karet

1. Karet isolator
Berbentuk lembaran-lembaran 15 cm persegi.
Karet ini tahan robekan, melekat ketat ke gigi dan
meretraksi jaringan gingiva dengan baik. Selain itu,
bahan karet harus yang baru. Setelah 2-3 tahun dalam
rak, isolator mudah berubah dan mudah koyak bila
tertarik di atas gigi.
Isolator
karet
ketebalan:

tipis

(0,15

tersedia
mm);

dalam
sedang

berbagai
(0,20

mm)

berwarna biru; tebal (0,25 mm) berwarna hijau; ekstratebal (0,30 mm); dan khusus ekstra-tebal (0,35 mm).
11 | P a g e

Isolator yang tipis mudah dipasang dan memberikan


rasa nyaman pada pasien, yang lebih tebal mampu
menarik jaringan lunak dan memiliki daya tahan
terhadap

goresan

bur

gigi.

Ketebalan

medium

dianjurkan untuk molar, tebal (atau ekstra-tebal) untuk


gigi-gigi anterior dan premolar.
2. Pembolong
Hasil lubangnya harus bersih karena jika tidak
demikian akan timbul titik lemah di tepi lubang yang
mungkin bisa robek. Sejumlah pembolong memiliki
lubang

dengan

diameter

berbeda;

makin

besar

lubangnya, makin mudah memasukkannya ke gigi.


Makin kecil lubangnya, makin ketat letak karet ke gigi.
3. Setempel
Digunakan untuk menandai posisi lubang.
Setempel ini akan menghasilkan serangkain titik pada
karet isolator yang sesuai dengan posisi rata-rata gigi.
Jika isolator terpasang, posisinya mencapai suatu titik
persis di bawah hidung sehingga rongga mulut akan
tertutupi tetapi hidung tetap bebas. Untuk itu, ketika
mengaplikasikan isolator pada gigi-gigi atas atau molar
ketiga bawah, posisi incisivus sentral atas harus
distempelkan sekitar 2,5 cm dari ujung atas karet
isolator.

Untuk

gigi

bawah,

lubang-lubang

harus

diletakkan lebih ke depan lagi untuk menghindari


penutupan hidung.
4. Cengkeram isolator karet (Klem)
Berupa klip logam yang pas dengan leher gigi
dan menjaga isolator pada posisinya. Bahan dasar
untuk cengkeram adalah dua jaw, dan 4 prong, busur,
lubang-lubang dan sayap. Ukuran cengkeram dan
lokasi prong ditentukan oleh keliling eksternal dan
bentuk gigi. Selain itu, ada kalanya membantu retraksi
gingiva. Perangkat cengkeram dibawah ini biasanya
cukup bagus untuk digunakan:

12 | P a g e

Cengkeram molar BW, JW, tanpa sayap ; dipakai

jika cengkeram dipasang dahulu sebelum karetnya.


Cengkeram
molar
K,
bersayap;
sayapnya
memungkinkan penempatan karet dan cengkeram

bersama-sama.
Cengkeram premolar GM
Cengkeram EW, dipakai untuk setiap gigi yang

kecil.
Cengkeram molar AW, tanpa sayap; hanya dipakai
untuk

gigi

yang

erupsi

sebagian.

Rahang

cengkeram ini retentif dan mengarah ke gingiva,


sehingga membantu retensi pada satu gigi yang

kecembungan maksimalnya ada di subgingiva.


Cengkeram servikal, pola Ferrier, untuk dipakai
pada gigi anterior jika diperlukan retraksi karet atau
gingiva

untuk

servikal.
5. Cunam cengkeram
Suatu instrumen

memudahkan

untuk

akses

meletakkan

ke

kavitas

cengkeram,

mengatur dan melepaskannya.


6. Pelumas isolator karet
7. Gel berbahan dasar air biasanya disertakan untuk
keperluan ini, tetapi krim pencukur tanpa sikat sudah
cukup

memadai.

Pelumas

diulaskan

di

sekeliling

13 | P a g e

lubang pada karet sebelum memasang karet pada gigi


agar isolator karet lebih mudah dipasang. Gosok
permukaan batangan sabun yang basah, ambil yang
hancur dengan jari dan oleskan ke lubang-lubang pada
permukaan dalam isolator karet tersebut.
8. Pita atau benang gigi yang dilapisi malam
Bahan ini dipakai agar karet dapat melewati titik
kontak yang ketat
9. Handuk
Digunakan untuk kenyamanan pasien. Keringat dan
saliva yang keluar mudah diblok oleh handuk untuk
memisahkan isolator dari kulit.
10.Kerangka atau pemegang isolator karet
Kerangka akan memegang ujung karet yang bebas dan
mencegahnya jatuh ke dalam mulut atau kembali ke
arah muka pasien. Ada berbagai tipe dan desain
pemegang isolator karet. Pada dasarnya meliputi:
(a) traksi servikal, dengan strap di sekeliling kepala
atau leher; traksi servikal memberikan akses yang
lebih besar dan memperbaiki tumpuan jari, karena
tangan operator dapat diletakkan lebih dekat ke
daerah

kerja.

Tetapi,

strap

kadang-kadang

mengganggu pasien dan jika metode fiksasi strap


digunakan akan lebih sulit menempatkan penyedot
kecepatan tinggi dan mengontrol aliran air selama
prosedur pengeboran.
(b) rangka

fasial

yang

sirkumferensial

di

Rangka

lebih

fasial

menghasilkan

sekeliling
mudah

tarikkan

mulut

itu

dan

lebih

sendiri.
cepat

dipasangdan lebih bisa ditoleransi oleh pasien.


Tetapi, rangka menghambat pergerakan operator
dan

tidak

memberikan

keamanan

dan

penjangkaran sebanyak tipe servikal.


Pemasangan Isolator Karet
1. Pemasangan klem.
2. Pemberian pelumas karet.

14 | P a g e

3. Pemasangan karet ke gigi distal dan klem termasuk


semua sayap. Lubang besar memungkonkan operator
dengan jari telunjuknya menarik dan menggeser karet
dari klem hingga masuk pas pada leher gigi.
4. Pemasangan handuk isolator.
5. Pemasangan pemegang. Suatu tanda identifikasi
dalam bentuk lubang dibuat pada sudut kanan bawah
dari karet untuk patokan dalam mengorientasikan
karet sebelum pemasangan pemegang. Perhatikan
bahwa gigi yang diberi klem adalah satu-satunya gigi
yang

menonjol

pemsangan

ini.

keluar

dari

Lipatan

pada

karet
batas

pada

tahap

atas

untuk

menambah kenyamanan pasien.


6. Karet kemudian ditarik ke gigi seberangnya. Biasanya
caninus atau premolar.
7. Bekerja dari gigi ini ke belakang klem, karet ditarik
dengan ibu jari pada permukaan labial dan jari telunjuk
pada permukaan lingual untuk meningkatkan septum
karet sehingga dapat melewati titik kontak.
8. Gunakan pita gigi untuk melewatkan karet melalui satu
atau dua titik kontak yang tersisa.

15 | P a g e

2) Pengambilan Debris

Setelah isolasi daerah kerja, permukaan gigi dibersihkan

dari plak dan debris dengan lumpur profilaksis non-fluor.


Pasta-pasta yang diperdagangkan sebaiknya dihindari
karena dapat menimbulkan lapisan tipis berminyak pada

gigi, yang dapat menghalangi bonding semen.


Permukaan gigi dipersiapkan dengan mengoleskan asam
poliakrilik 25% yang dapat membantu dengan aksi
pembersihannya dan dapat membuang sebagian smear

layer, tapi menyebabkan tubulus dentin tertutup.


Persiapan ini dilakukan dengan pemberian asam poliakrilik
selama 10 detik, kemudian semprot air sebanyak 30 detik
dan dikeringkan dengan baik.

16 | P a g e

3) Sterilisasi Kavitas
Tujuan: menghilangkan mikroorganisme yang masih ada
di dalam kavitas sehingga dapat mencegah terjadinya
karies kembali.
Syarat bahan untuk sterilisasi:
- tidak menyebabkan kerusakan jaringan karies gigi
- tidak meerubah warna gigi
- tidak mengiritasi pulpa
Jenis bahan yang digunakan:
a. Hidrogen peroksida 3%
b. Alkohol 70% dapat mengiritasi dentin dan pulpa
sehingga penggunaannya saat ini terbatas.
c. Liquid polycarboxilat cement
d. Silver nitrat yang dilarutkan dengan eugenol, phenol,

thymol, serta potassium ferrocyanide


Pengeringan Kavitas
a. Tujuan: untuk menambah daya adhesi (kerapatan
bahan restorasi terhadap dinding kavitas).
b. Cara pengeringan:
- menyemprotkan udara kering dengan chip blower
- Menyemprotkan udara kering dengan kompresor

udara (terdapat pada dental unit)


Teknik Sterilisasi dan Pengeringan Kavitas
a. Semua debris diambil dengan memakai ekskavator,
kemudian sisa-sisa yang masih tertinggal disemprot
dengan air. Lalu kavitas dikeringkan dengan cotton
pellet/semprotan udara kering.
b. Kavitas diperiksa lagi untuk memastikan benar-benar
bersih.
c. Sterilisasi

kavitas

menggunakan

dengan

cotton

pellet,

larutan
baik

desinfektan,

dalam

kavitas

maupun pada permukaan gigi sekitar kavitas.


d. Mengeringkan kavitas serta permukaan gigi sekitarnya
dengan menyemprotkan udara kering/cotton pellet.
e. Apabila kavitas sudah benar-benar kering, bahan
restorasi siap diinsersikan ke dalam kavitas.
V. Restorasi Karies Klas V
A. Akses ke Karies
Instrument yang digunakan adalah bur miniature daan
henpis miniature dan pembersihan lesi akan lebih mudah jika
mulut dalam keadaan setengah tertutup. Akses ke karies jauh

17 | P a g e

lebih mudaj dibandingkan dengan klas lain,namun masalah


dalam

akses

yaitu

yang

berkaitan

dengan

struktur

sekelilingnya misalnya akses ke karies servikal di permukaan


bukal molar 2 dan 3 atas agak sukar karena adanya
processus koronoideus mandibula jika mulut terbuka lebarlebar.
B. Pembuangan Karies
Jika terdapat lesi bercak putih atau coklat dapat
dihentikan dengan upaya preventif misalnya pengendalian
plak; aplikasi fluor dalam bentuk pasta gigi, obat kumur atau
pernis; analisis dan konsultasi diet. Alas an penatalaksanaan
restorative selain pencegahan adalah memugar keutuhan
permukaan

gigi,

membantu

pengendalian

plak,

dan

melindingi pulpa.
Pencegahan karies harus dimulai di daerah yang telah
ada kavitas dan preparasi dengan menggunakan bur bulat
baja kecepatan rendah. Dentin lunak harus dibuang, tetapi
dentin yang keras dan kecoklatan dapat dibiarkan sekalipun
terletak bersebalahan dengan daerah yang harus diretorasi.
Jika menggunakan bur bulat dalam membuang dentin karies
pada permukaan akar, bur harus dijaga agar tetap bersudut
45 derajat terhadap permukaan gigi.
C. Regangan,Retensi dan Bevel
Bentuk regangan restorasi klas V tidak seragam
sehingga dapat bervariasi tergantung karies atau tingkat
dekalsifikasi yang terjadi. Bila jaringan yang rusak telah
disingkirkan dan tepinya berada pada email yang baik,
regangan biasanya berbentuk persegi panjang dengan sudut
yang membulat (bevel), ovoid atau berbentuk ginjal.
Pertama-tama dalam mempreparasi kavitas digunakan
round bur dan setelah mencapai dentin dilanjutkan dengan
pemakaian bur fissure berujung datar untuk membuat
dinding kavitas. Dasar kavitas dapat dihaluskan dengan
menggunakan bur inverted. Biasanya dinding aksial akan
berada pada kedalaman 1,5 mm dari permukaan gigi.
Retensi dibuat pada insisal dan dinding gingival di
pertautan dengan dinding aksial, menggunakan round bur no

18 | P a g e

atau . Tidak boleh ada ubderkut pada dinding mesial


dan

distal.

Kedalaman

retensi

dibentuk

menggunakan

diameter bur dan tidak akan melebihi diameter bur.


Bevel dapat dibuat pada seluruh bagian preparasi
yang dikelilingi emal tapi tidak dibuat pada preparasi yang
berakhir di sementum.
D. Pemilihan Bahan Tumpatan
Jika semua dinding kavitasnya terdiri atas email,
pilihan yang baik adalah memakai resin komposit yang
retensinya melalui etsa. Dalam kasus seperti ini, tepi email
dapat dibevel yang akan membuat paduan baik antara resin
komposit dengan sisa email yang ada. Jika penampilan
merupakan factor utama maka dipilih resin komposit mikrofil
karena partikel pengisiannya yang lebih kecil sehingga
memungkinkan dilakukan pemolesan.
Pada karies akar atau servikal, bahan pilihannya
adalah

semen

ionomer

kaca

atau

cermet

karena

keadhesifannya pada dentin dan fluor yang dikeluarkannya


menjadikannya

berefek

kariostatik.

Komposit

bukan

merupakan bahan ideal karena email untuk retensi dengan


etsa sudah tidak ada. Dengan amalgam juga dijumpai
masalah retensi karena sukarnya membuat kavitas retentif
berhubung lesi sudah luas dan mengelilingi gigi dan akan
melemahkan jaringan.
Jika tepi servikalnya terletak pada dentin dan tepi
oklusalnya pada email, semen ionomer kaca dan resin
komposit dapat digabung dalam tambalan berlapis (teknik
sandwich). Semen ionomer kaca berfungsi menggantikan
dentin dan jika sudah mengeras dapat dietsa bersama-sama
dengan

email

untuk

kemudian

ditambal

dengan

resin

komposit. Teknik ini menggabungkan sifat adhesive dan


kariostatik semen ionomer kaca dengan penampilan yang
baik dan tahan aus dari resin komposit.
E. Pelapikan
Karies dalam, terutama pada orang muda, harus
dilapik dengan hidroksida kalsium. Pada kavitas yang harus
ditambal dengan resin komposit, dentin harus dilindungi dulu

19 | P a g e

sebelum emailnya dietsa dengan asam. Pada kavitas yang


dangkal, tidak memerlukan pelapik hidroksida kalsium karena
basis dari semen ionomer sudah memberikan perlindungan
yang diperlukan. Semen ini dapat adhesive ke dentin dan
mengeluarkan fluor secara berkelanjutan.
Semen ionomer dicampur dan ditambal di dasar
kavitas, menutupi seluruh dentin sampai di tepi kavitas yang
tidak

beremail

kelebihannya

lagi.
dapat

Jika

telah

dikurangi

benar-benar
dengan

mengeras,

bur

sebelum

mengetsasemen ionomer dan tepi emailnya.


F. Pemasangan
matriks,
Penambalan,

serta

Penyelesaiannya
1) Resin komposit
Mula-mula operator harus memutuskan komposit mana
yang digunakan. Pemilihannya meliputi :
Bahan : bahan mikrofil, konvensional atau hybrid.
Polimerisasi : dengan polimerisasi cahaya atau kimia.
Polomerisasai cahaya memberikan waktu kerja yang
lebih

lama

sehingga

disukai

pada

kavitas

yang

kompleks.
Warna : harus yang sesuai dengan warna gigi.
Jika yang dipilih adalah resin komposit polimerisasi
cahaya, lapisan resin bondingnya disinari dahulu sebelum
ditambal. Jika kedalamannya tidak lebih dari 2 mm,
seluruh kavitas dapat direstorasi langsung dan dibentuk
sebelum

disinar.

menggunakan

Pada

teknik

kavitas

yang

penumpatan

lebih

dalam,

inkremen

demi

inkremen.
Jika diperlukan matriks, tersedia dalam beberepa tipe
yang dapat dipakai, diantaranya :
Matriks asetat selulosa : berbentuk
mempunyai

pegangan

pendek,

khusus

sehingga

dan
dapat

dipegang oleh pinset. Matriks ini lentur dan dapat


digunakan pada resin komposit sinar.
Matriks berlapis timah : atau matriks logam yang
hanya dipakai untuk resin komposit polimerisasi kimia.
Sebelum penambalan, matriks ini diburnis dengan
instrument plastis datar dari logam agar sesuai dengan

20 | P a g e

giginya. Kemudian instrument plastis datar tersebut


dihangatkan di api Bunsen dan dicelupkan pada malat
pencekat kemudian diletakkan kembali pada matriks,
sehingga matriks akan menempel pada instrument
plastis datar.
Matriks lembaran mylar : dikelilingkan sekitar gigi
melewati

titik

kontak,

kemudian

ditekan

ke tepi

gingival untuk membentuk bahan tambalan di servikal.


Setiap kelebihan di oklusal dibiarkan dan dibuang
setelah bahan tambal mengeras.
2) Semen ionomer kaca
Restorasi
ini
biasanya
dilakukan

dengan

menggunakan isolator karet, dan memakai matriks agar


dapat melindungi bahan tambalan ketika mengeras serta
membentuknya

sehingga

tidak

memerlukan

proses

penyelesaian terlalu banyak.


Setelah isolator karet terpasang, permukaan gigi
dibersihkan dari plak dan debris dengan lumpur profilaksi
non-fluor. Pasta-pasta yang diperdagangkan sebaiknya
dihindari

karena

dapat

menimbulkan

lapisan

tipis

berminyak pada gigi yang dapat menghalangi bonding


semen.
Permukaan gigi dipersiapkan dengan mengoleskan
as

poliakrilik

25%

yang

dapat

membantu

aksi

pembersihannya dan bisa membuang sebagian smear


layer,

tetapi

menyebabkan

tubulus

dentin

tertutup.

Pembersihan asam poliakrilik dilakukan selama 10 detik,


kemudian semprot air selama 30 detik dan dikeringkan.
Bahan tumpatan GIC yang sedikit berlebih
ditempatkan ke dalam kavitas yang bersih dan kering.
Matriks dipasang diatasnya dan ditahan pada posisinya
sampai bahan mengeras. Hanya tekanan ringan yang
diperbolehkan untuk aplikasi matriks, sehingga matriks
tidak akan berubah bentuk dan kontur restorasi tidak akan
berubah.
Matriks logam berbentuk ginjal yang konkaf dapat
digunakan untuk mereproduksi baik kontur mesio-distal

21 | P a g e

maupun insiso-gingival. Matriks ini cukup lunak untuk


dibentuk sehingga dapat menciptakan posisi tepi yang
baik.
dapat

Untuk

mempermudah

dapat

dicekatkan

pemasangannya,

sementara

berbentu silindris dengan varnish.


Bila matriks tidak digunakan,
kelebihan

semen

dibuang

instrument

plastis

untuk

diinginkan.

Hal

ini

harus

ke

pemampat

sebagian

dengan

membentuk
cepat

matriks

besar

menggunakan
kontur

dilakukan,

yang
ketika

permukaan masih basah untuk mencegah kerusakan bila


semen tersebut telah mengeras.
Setelah matriks dilepaskan, permukaan tambalan
akan segera menjadi basah dan mulai saat ini tambalan
tersebut

tidak

boleh

diganggu.

Bahan

ini

tidak

terpengaruh oleh cairan setelah terjadi pengerasan awal.


Jika pemasangan matriksnya baik sekali, pemolesan tidak
lagi begitu diperlukan. Bur karbida tungsten berbilah
banyak dapat dipakai untuk membuang ketidakrataan dan
digunakan dalam kecepatan rendah dan restorasinya
dapat dilakukan dengan disk. Tambalan harus diulas
dengan Vaseline sebelum memakai instrument poles.
Terakhir, keringkan permukaan tambalan tersebut
dan oleskan selapis vernis atau bahan bonding yang
diaktifkan sinar sebagai pelindung terhadap cairan untuk
beberapa jam, segera setelah isolator karet dilepas.
Fungsi bahan pelindung varnish atau bonding rsin
dengan pengerasan sinar :
Sebagai pelindung terhadap cairana tau saliva agar

bahan tambalan GIC tidak larut.


Sebagai pelindung terhadap dehidrasi bahan tambalan
GIC.
Jika digunakan varnish maka daerah permukaan

tambalan GIC yang dilapisanya harus menggunakan suhu


kamar, bukan dengan semprotan udara karena dapat
menggeser varnish dan membuat permukaan terbuka dari
semen yang mengering dan menimbulkan keretakan.

22 | P a g e

VI. Prosedur Penumpatan GIC pada Kavitas Klas V


1. Bahan tumpat gic yang sedikit berlebih ditempatkan ke
dalam kavitas yang bersih dan kering (setelah diberi bahan
conditioner). Matriks dipasang di atasnya dan ditahan pada
posisinya sampai bahan mengeras.
2. Matriks logam berbentuk ginjal yang konkav dapat di
gunakan untuk memproduksi baik kontur mesiodistal maupun
insiso gingival. Matriks ini cukup lunak untuk dibentuk
sehingga dapat menciptakan aposisi yang baik. Untuk
mempermudah pemasangan matriks ini. Matriks ini dapat di
cekatkan

sementara

ke

pemempat

berbentuk

silindris

dengan vernis.

23 | P a g e

3. Hanya tekanan ringan yang boleh diaplikasikan sehingga


matriks tidak akan berubah bentuk dan kontur restorasi tidak
akan berubah.
4. Bila bahan penumpatan sudah mengeras, matriks dapat di
lepas.
5. Setiap kelebihan tumpatan yang besar dibersihkan dengan
menggunakan eskavator yang tajam atau skapel.
VII. Prosedur Penggunaan GIC
Untuk mendapatkan restorasi yang tahan lama ada 3 hal yang
harus diperhatikan:
1. preparasi permukaan kavitas harus benar.
2. pengadukan yang benar (manilupasi).
3. penyelesaian
serta
perlindungan
permukaan

selama

pengerasan semen
Preparasi permukaan.
Permukaan harus bersih adhesi. Dapat dicuci dengan
pumis untuk menghilangkan lapisan yang terbentuk selama
preparasi kavitas. Metode lain : mengoleskan larutan asam
poliakrilat 10 % kepermukaan selama 10 15 detik, diikuti
dengan pembilasan air selama 30 detik (proses : kondisioning).
Setelah kondisioning harus kering. Kondisoner, yaitu asam
lemah

yang

digunakan

untuk

membuang

debris

organic

sebelum menambalkan gic yang akan ber- adhesi secara kimia


ke email dan dentin.
Persiapan bahan.
Rasio bubuk : cairan yang dianjurkan oleh pabrik haruslah
ditaati. Untuk pengadukan manual mixip pad. Atau bisa
menggunakan glass slab dengan suhu dingin memperpanjang
working time tidak dianjurkan mengurangi compressive
strength.
Waktu manipulasi :45 60 detik permukaan adonan
mengkilap dan mencapain konsistensi yang sesuai.
Penempatan bahan.
Adukan harus langsung diaplikasiakn dengan plastic filling
atau disuntikan. Penundaan permukaan kusan pengerasan

24 | P a g e

berkembang, setelah itu dipasang matriks, supaya : kontur


maksimal, permukaan utuh, melindungi semen yang sedang
mengeras dari hilang atau bertambahnya air.
Penyelesaian

permukaan

dari

semen

yang

telah

mengeras, harus ditunda selama paling sedikit 24 jam setelah


penumpatan.
Pengulasan bahan pelindung GIC
Setelah restorasi dibentuk dan dipoles, restorasi dapat
segera di lapisi dengan varnish menggunakan pinset dan
gulungan kapas. Cara ini akan mencegah agar semen tidak
kehilangan atau mendapat kandungan air.
Vernis merupakan larutan resin, shellac, sandarac, dan
medikamen lain dalam pelarut yang mudah menguap seperti
eter atau alkohol. Pada penguapan membentuk lapisan yang
lengket

atau

film

yang

merupakan

barier

terhadap

efek

berbahaya dari cairan atau bahan pengiritasi. Terjadi penurunan


yang nyata dalam hitungan radiaktif dari dentin yang terletak
dibawah dinding kavitas yang dilapisi vernis, dibandingkan
dengan yang tidak.
Vernis juga mencegah penetrasi produk-produk korosi dari
amalgam

ke

dalam

tubula

dentin

dan

dengan

demikian

mengurangi pewarnaan gigi yang tidak diinginkan dengan


restorasi amalgam.
VIII.

Pemilihan bahan Tumpatan


Glass Ionomer Cement ( GIC )
Semen ini sensitive terhadap kelembaban. Oleh karena itu, semen
yang

baru

mengeras

dilindungi

dari

kelembapan

dengan

menggunakan vernis.

Komposisi
Powder: SiO2 , Al2O3, CaF2, Na3AlF6, AlF3, AlPO4
Liquid : larutan polyacrylic acid

Sifat
1. Melekat secara kimia dengan enamel dan dentin
2. Compressive strength lebih besar dari zinc phosphate

25 | P a g e

3. Bond strength lebih kecil dari komposit, di daerah servikal


lebih baik dari komposit.
4. Fluoride release
5. Thermal diffusi rendah
6. Harus dlindungi varnish
7. Estetik bagus

Aplikasi
1. Semen permanen
2. Basis
3. Tumpatan kelas V
4. Pit dan fissure sealant
5. Penyemenan orthodontic bands

Klasifikasi ( Combe,1992 )
Tipe I :
- luting cement, powder halus
- Kegunaan : restorasi gigi estetik
- Seting rate : fast set
- Powder : liquid = 3 : 1 atau lebih
- Sebagian besar radiopak
Tipe II :
bahan restorasi
abrasi dan erosi
restorasi gigi sulung
restorasi kelas V
memperbaiki restorasi lama
Kegunaan : meningkatkan sifat fisik tetapi estetik tidak
terlalu diperhatikan
Setting rate : fast set
Powder : liquid = 3 : 1 atau lebih
Selalu radiopak
Tipe III :
bahan lining ( bawah komposit ) dan fissure sealant ( pada

oklusal )
Kegunan : lapisan yang tipis untuk pembatas termal pada

restorasi logam
Setting rate : fast set
Powder : liquid = 1,5 : 1
Base ( pengganti dentin)
Kegunaan : kombinasi dengan

laminasi
Setting rate : fast set
Powder : liquid = 3 : 1 atau lebih

komposit pada tehnik

26 | P a g e

Selalu radiopak

IX. Sifat Utama Gic


1. Adhesi
Keunikan GIC ini adalah kemampuan GIC untuk berikatan
dengan dentin dan email secara kimia. Bahan ini digunakan
secara luas pada abrasi servikal tanpa harus melakukan
preparasi kavitas.
2. GIC dapat digunakan sebagai restorasi tunggal atau dapat
dipakai sebagai basis dan di atasnya dilapisi oleh resin
komposit (restorasi sandwich).
3. Bond to collagen
4. Mempunyai

sifat

biokompatibilitas

dengan

jaringan

periodontal dan pulpa.


GIC dapat ditumpatkan di dalam kavitas tanpa mengiritasi
pulpa sekalipun tanpa diberi pelapik. Namun, agar tidak
timbul reaksi yang tidak diinginkan pada kavitas yang dalam,
pelapik tetap diberikan. Peradangan tetap timbul bila semen
langsung diletakkan di atas pulpa terbuka.
5. Kelarutan pada air tinggi.
6. Sebagai antikariogenik karena melepas fluoride.
7. Tidak cocok untuk dipakai di gigi posterior karena britel.
X. Klasifikasi Glass Ionomer Cements (Mount and Hume)
Type I Luting
Kegunaan sementasi crown, bridge, inlay, perangkat

ortodonsi
Tingkat Setting fast set
Perbandingan Bubuk:Likuid 1,5:1
Radiopak- secara umum
Ketebalan film - <20 m

Type II- Restoratif


Type II.1 Restoratif Estetik
Kegunaan restorasi estetik
Tingat setting : fast set
Autocure ketahanan lambat terhadap masuk dan lepasnya
air

27 | P a g e

Resin-modified

fast

set,

ketahanan

segera

terhadap

masuknya air
Perbandingan Bubuk: Likuid 3:1 atau lebih besar
Radiopak- sebagian besar material
Type II.2 Retoratif Reinforced
Kegunaan-

peningkatan

sifat

fisik

namun

estetik

tidak

dipentingkan
Kecepatan setting fast set
Perbandingan Bubuk : Likuid 3:1 atau lebih besar
Radiopak selalu
Type III Lining atau Basis
Lining
Kegunaan pada bagian tipis sebagai pembatas thermal di
bawah restorasi metal
Kecepatan setting fast set
Perbandingan Bubuk : Likuid 1,5:1
Basis- Dentin Substitute
Kegunaan kombinasi dengan resin komposit dalam teknik
laminasi
Kecepatan setting fast set
Perbandingan Bubuk : Likuid 3:1 atau lebih besar
Radiopak selalu.
INDIKASI
-

Simpel dan tidak mahal

Ikatan kimia dengan gigi mencegah dari kebocoran mikro

Melepaskan Flouride

Estetika baik

Ideal untuk gigi dengan resiko karies tinggi

Stabil dilingkungan mulut

Dapat menjadi basis resin komposit

Restorasi lesi servikal

Restorasi Klas V di mana faktor estetik tidak begitu


diperhatikan

KONTRA INDIKASI
-

Tidak dapat bertahan dengan beban oklusal berat

Membutuhkan proteksi dan dukungan dari sisa jaringan gigi


atau material tumpatan lain

28 | P a g e

Transluaensi diperoleh setelah beberapa hari, jika terkena air


akan menjadi kusam.

Tidak begitu cocok dengan warna gigi asli, perlu dilapisi


komposit.

Pengganti amalgam

Restorasi yang melibatkan daerah oklusal

Pengganti cusp yang rusak

Bila digunakan pada restorasi klas IV dan VIkarena formula


kurang kuat dan pada daerah tersebut masih peka terhadap
keausan.

XI. GIC Modifikasi


a) Modifikasi Resin
Self cure hybrid ionomer
Untuk penyemenan permanent dari crown, bridge, metal
inlays-onlays perawatan orthodontic
Light cured hybrid ionomer
Untuk liner dan basis
Kepekaan terhadap semen dan kekuatan awal yang
rendah dari GIC adalah akibat reaksi pengerasan asam
basa yang lambat. Gugus fungsional yang terpolimerisasi
ditambahkan dalam formula semen untuk mempercepat
proses pematangan sehingga semen ini dapat mengatasi
kedua kekurangannya dan memungkinkan bahan yang
tebal menjadi matang dalam reaksi asam basa.
Di

pasaran

tersedia

berdasarkan

reaksi

produk
kimia

yang

pengerasannya

maupun

berdasarkan

penggunaan sinar tertentu. Kelompok bahan ini disebut


semen ionomer kaca dengan modifikasi resin.

Komposisi dan Reaksi Pengerasan :


Komponen bubuk dari bahan yang dikeraskan dengan
sinar mengandung kaca yang dapat melepaskan ion-ion
dan inisiator untuk pengerasan dengan sinar atau kimiawi
atau keduanya.

29 | P a g e

Komponen

cairan

biasanya

mengandung

air,

asam

poliakrilat, atau asam poliakrilat dengan beberapa gugus


karbosilik yang dimodifikasi dengan monomer metakrilat
dan hidroksietil metakrilat.
Kedua bahan ini bertanggung jawab untuk polimerisasi.
Pengerasan awal bahan ini ditimbulkan oleh polimerisasi
gugus-gugus metakrilat. Pengerasan dengan reaksi asambasa akan lebih lambat.

Sifat fisik :
-

Translusensi berkurang karena adanya perbedaan yang


besar pada index refraksi

antara bubuk dengan

matriks resin yang telah mengeras.


-

Transluensi setelah light cure langsung terjadi dan


hasilnya bisa cocok dengan warna gigi asli.

Fluoride yang dilepas sama dengan GIC.

Kekuatan perlekatan pada dentin antara 10-14 Mpa


lebih tinggi daripada composite cements.

pH awalnya kurang lebih 3,5 dan secara bertahap


meningkat.

Semen tidak mempunyai sifat very low solubility.

Post operative sensitivity minimal.

Kekuatan GIC dengan Modifikasi Resin :


Kekuatan tarik garis tengah dari GIC resin modified adalah
lebih tinggi dari GIC, yang berkaitan dengan lebih
banyaknya deformasi plastic yang dapat ditahan oleh
bahan

sebelum

terjadi

fraktur.

Sifat-sifat

lain

sulit

dibandingkan karena perbedaan di dalam bahan dan cara


pengetesan.

Adhesi dengan Struktur Gigi :


Mekanisme ikatannya serupa dengan GIC (semen ionomer
kaca konvensional).

Adhesi dengan Bahan Tambalan Lain :


Bisa

digunakan

untuk

restorasi,

meskipun

terutama

digunakan untuk basis/pelapik. Dibandingkan dengan GIC,

30 | P a g e

semen ini mempunyai kekuatan ikatan yang lebih tinggi


dengan resin komposit.

Adaptasi Tepi :
Akibat polimerisasi, bahan ini memiliki derajat penyusutan
yang lebih besar ketika mengeras. Lebih sedikitnya
kandungan air dan asam karboksilik juga mengurangi
kemampuan
sehingga

semen

keadaan

untuk
ini

membasahi

akan

banyak

substrat

gigi

meningkatkan

kebocoran mikro dibandingkan GIC.

Kepekaan Air :
Pelapik dari bahan ini masih peka terhadap dehidrasi dan
bahwa

bahan

ini

dapat

menyerap

air

sehingga

menghasilkan perubahan bentuk yang cukup berarti.

Pertimbangan Klinis / Indikasi :


Pertimbangan klinis dari bahan ini adalah sebagai :

Pelapik
penutup fisur
basis
pembangun badan inti
restorasi
adhesive untuk bracket orthodonti
bahan perbaikan untuk inti atau tonjol amalgam yang

rusak
bahan pengisi saluran akar retrograd.
Lesi servikal
Karies Klas III dan V
Gigi susu
Klas I pada anak-anak
Teknik sandwich (Klas II)
Resiko karies tinggi

Kekurangan / Kontraindikasi :
Kebocoran mikro meningkat dari GIC

b) Modifikasi Logam
Untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan terhadap fraktur,
dan ketahanan terhadap keausan mka GIC telah dimodifikasi
dengan mengikatkan partikel logam sebagai bahan pengisi.
Ada 2 metode modifikasi :

31 | P a g e

1. Campuran

bentuk

logam

campuran

amalgam

yang

berpartikel sferis dengan GIC tipe II, dinamakan gabungan


logam campur perak.
2. Campuran bentuk kaca dengan partikel perak dengan
menggunakan pemanasan tinggi, dinamakan cermet.
Sifat Umum
Dari suatu ujicoba keausan didapatkan bahwa bahan
cermet

jauh lebih tahan keausan dibandingkan GIC

konvensional. Peningkatan ketahanan terhadap keausan


berkaitan dengan penambahan bahan pengisi logam,
seperti

dibuktikan

oleh

penampilan

mengkilap

yang

terjadi jika logam dikenai tes keausan ini.


Pelepasan Fluorida
Jumlah fluoride yang dilepaskan dari kedua system
modifikasi ini cukup besar. Namun, fluor yang dilepaskan
cermet lebih sedikitdaripada yang dilepaskan oleh GIC
konvensional, hal ini terjadi karena sebagian partikel kaca

yang asli (yang mengandung fluor) telah dilapisi logam.


Pertimbangan Klinis
Dengan meningkatnya daya tahan terhadap keausan dan
potensi anti kariesnya, semen-semen dengan modifikasi
logam ini telah dianjurkan untuk penggunaan yang
terbatas sebagai alternative dari amalgam atau komposit
untuk restorasi gigi posterior. Meskipun demikian, bahan
ini masih diklasifikasikan sebagai bahan rapuh, sehingga
penggunaannya tebatas pada restorasi konservatif dan
umumnya untuk restorasi karies klas I. Bahan ini juga
cocok terutama untuk pasien muda yang rentan terhadap
karies.
XII. Laminasi / Teknik Sandwich
Menggunakan 2 bahan yang berbeda. Keuntungannya yaitu
mengurangi

penggunaan

resin

komposit,

meminimkan

pengerutan dan hemat waktu karena jumlah inkremen yang


harus dibuat menjadi minim
Prinsipnya:
-

gunakan GI yang terkuat

32 | P a g e

hindari sub-basis seperti kalsium hidroksida yang kaan


mengurang area adhesi dentin

aplikasi conditioner pada permukaan kavitas untuk adhesi


ion-exchange yang penuh

letakkan GI, dan biarkan setting dahulu sebelum proses


selanjutnya

buat space yang cukup untuk ketebalan komposit

buat area kontak pada komposit daripada di GI

kembangkan union/persatuan antara komposit dan GI

selalu gunakan GI yang radiopak

Laminasi di atas GI autocure


Dapat membuat mechanical interlock antara resin komposit
sekuat antara resin komposit dan enamel.
Setelah material setting etsa GI dan enamel biarkan 15
detik cuci dan keringkan aplikasikan resin enamel bonding
viskositas rendah light cure aplikasikan resin komposit
seperti pada umumnya
Laminasi di atas GI resin-modified
Tidak perlu dietsa, karena kapasitas bonding sudah cukup dalam
HEMA. Langkahnya seperti langkah di atas (laminasi di atas GI
autocure), etsa pada enamel saja aplikasi bonding light cure
aplikasi resin komposit dengan inkremen
Laminasi dengan amalgam
Digunakan pada restorasi gigi molar. Gunakan GI paling kuat
pastikan setting seluruhnya siapkan space yang cukup
buka ename margin buat retensi amalgam sapukan 45%
asam poliakrilik untuk chemical union antara GI dan amalgam
pada semen yang setting packing amalgam. Namun kekuatan
ikatannya masih dipertanyakan.
XIII.

Perlindungan Diri
a. Kebersihan diri

33 | P a g e

Kebersihan diri yang baik dapat mengurangi terjadinya infeksi


silang pada praktek dokter gigi. Secara umum pada waktu
merawat pasien seorang dokter gigi harus:

Hindari memegang sesuatu yang tidak dibutuhkan pada


waktu merawat pasien, hindari kontak tangan dengan
mata, hidung, mulut, dan rambut serta hindari memegang
luka atau abrasi.

Tutupi luka atau lecet-lecet pada jari dengan plester sebab


luka

tersebut

dapat

merupakan

tempat

masuknya

mikroorganisme patogen (harus memakai sarung tangan).


Cuci tangan dengan baik sebelum dan setelah merawat
pasien dengna memakai sabun antimicrobial sebelum
memakai sarung tangan.
b. Pemakaian baju praktek

Dokter gigi dan stafnya harus memakai baju yang bersih


dan baru dicuci.

Baju tersebut harus diganti setiap hari dan harus diganti


saat terjadi kontaminasi.

Baju praktek harus dicuci dengan air panas dan deterjen


serta pemutih klorin, untuk baju yang terkontaminasi perlu
penanganan tersendiri.

c. Proteksi
Untuk maksud ini harus menggunakan:

Sarung tangan
Tangan

merupakan

alat

transmisi

dari

mikroorganisme pada saluran pernafasan dan mulut yang


utama. Kuku harus digunting pendek dan tidak boleh
memakai perhiasan seperti cincin, gelang, dan jam tangan
pada saat merawat pasien. Tangan harus dicuci dengan
sikat dan sabun yang mengandung zat antimikrobial seperti
iodofor (1% iodine), klorheksidin glukonat (2-4%), paraklormeta-silenol (PMCX) 0,5-3% atau alkohol (70% isopropil
aklohol) dan lain-lain. Tangan digosok paling sedikit selama

34 | P a g e

10 detik dan dikeringkan dengan memakai pengering


otomatis atau tissue.
Semua dokter gigi dan stafnya harus memakai
sarung tangan lateks atau vinil sekali pakai. Hal ini untuk
melindungi baik dokter gigi atau stafnya maupun pasien.
Sarung tangan vinil dapat dipakai untuk mereka yang alergi
terhadap lateks, walaupun hal ini jarang terjadi.
Ada tiga macam sarung tangan yang dipakai dalam
kedokteran gigi yaitu:
-

Sarung tangan lateks yang bersih harus digunakan pada


saat dokter gigi memeriksa mulut pasien atau merawat
pasien tanpa kemungkinan terjadinya perdarahan.

Sarung

tangan

melakukan

steril

tindakan

yang
bedah

harus
atau

digunakan

saat

mengantisipasi

kemungkinan terjadinya perdarahan pada perawatan.


-

Sarung tangan heavy duty harus dipakai manakala


harus membersihkan alat, permukaan kerja atau bila
menggunakan bahan kimia.

Semua luka dan lecet-lecet pada kulit harus ditutup


dengna plester yang kedap air sebelum memakai sarung
tangan. Jangan merawat pasien bila sedang mengalami
luka yang bernanah atau dermatitis yang terbuka hingga
luka tersebut benar-benar sembuh.

Kacamata pelindung
Kacamata pelindung harus dipakai oleh dokter gigi
dan stafnya untuk melindungi mata dari splatter dan debris
yang diakibatkan oleh high speed handpiece, pembersihan
karang gigi baik secara manual maupun ultrasonik.
Rambut hendaknya jangan menutupi pandangan dan
diikat bagi dokter gigi yang memiliki rambut panjang serta
dilindungi dari percikan dan aerosol dengan memakai
penutup kepala, sebaiknya dokter gigi mencuci muka
sebelum makan dan juga mencuci muka serta rambut
sebelum

tidur.

Bakteri

patogen

dan

beberapa

virus

35 | P a g e

terutama virus hepatitis B dapat hidup pada pakaian


selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

Masker
Pemakaian masker seperti masker khusus untuk
bedah

sebaiknya

digunakan

instrumen

berkecepatan

terhirupnya

aerosol

pada

saat

tinggi

yang

dapat

menggunakan

untuk

mencegah

menginfeksi

saluran

pernafasan atas maupun bawah. Efektivitas penyaringan


dari masker tergantung dari :
-

Bahan yang dipakai, masker polipropilen lebih baik


daripada masker kertas.

Lama pemakaian, lama pemakaian yang efektif adalah


30-60 menit, terutama bila masker itu basah. Jadi
sebaiknya memakai 1 masker untuk tiap pasien

Rubber dam
Rubber dam harus digunakan pada operasi untuk
menghindari terjadinya aerosol. Pemakaian rubber dam
memungkinkan :
-

Mendapat

gambaran

yang

jelas

setelah

jaringan

diangkat.
-

Mengurangi kontak instrumen dengan mukosa, sehingga


mengurangi

terjadinya

luka

pada

jaringan

dan

mengurangi perdarahan.
-

Mengurangi terjadinya aerosol karena tidak terjadi


pengumpulan saliva diatas rubber dam.

d. Imunisasi
Dokter gigi dan mereka yang bekerja dalam bidang
kedokteran gigi harus memiliki data imunisasi yang baru. Di
Inggris vaksin hepatitis B, tuberkulosis dan rubella (bagi dokter
gigi wanita) dianjurkan untuk mereka yang bekerja dalam
bidang kedokteran gigi sebagai tambahan dari imunisasi rutin
seperti tetanus, poliomyelitis dan difteri. Di USA dianjurkan
imunisasi terhadap semua penyakit ini kecuali TBC dan
influenza. (2)

36 | P a g e

XIV.

Metode asepsis
Selama perawatan gigi banyak benda, instrumen, dan peralatan di
kamar praktek yang terkontaminasi baik secara langsung melalui
tangan atau melalui splatter dan aerosol. Usahakan agar barangbarang yang dibutuhkan di ruang praktek seminimal mungkin dan
tentukan mana yang dapat ditutupi, disterilkan atau didisinfeksi.
Tentukan mana yang harus dibersihkan tiap hari dan mana yang
cukup dibersihkan seminggu sekali, lantai dan juga permukaan
lain yang datar harus didisinfeksi.
Penutupan
Dengan menutupi benda dapat mengurangi kebutuhan untuk
desinfeksi. Penutupan yang paling berguna dan sederhana adalah
kertas, plastik atau aluminium foil dan diganti tiap pasien.
Alat-alat yang dapat ditutupi :
a. Baki instrumen, tutupi dengan bib yaitu kertas yang dilapisi
plastik.
b. Ujung alat rontgen ditutupi dengan plastik atau kertas yang
diberi selotip.
c. Tombol-tombol pada unit gigi ditutupi dengan plastik atau
aluminium foil.
d. Sandaran kepala dibungkus dengan penutup dari plastik atau
kantung khusus.
e. Three

way

syringe

dilapisi

dengan

plastik,

dapat

pula

menggunakan ujung sekali pakai (disposable) atau yang dapat


disterilkan.
f.

Ujung dari blood suction dilapisi dengan kantung plastik yang


ujungnya digunting untuk memasukkan ujungnya.

g. Pegangan lampu ditutupi dengan aluminium foil, kertas atau


sepon berukuran 4 x 4 inci. Untuk beberapa unit terdapat
pegangan yang dapat disterilkan.
h. Ujung dari alat untuk menyinari tumpatan komposit, pegangan
dan tombol trigger ditutupi dengan pembungkus plastik dan
diberi selotip.
XV.

Tindakan Pencegahan Infeksi

37 | P a g e

1. Hand care
Cuci tangan merupakan cara yang paling penting untuk
mencegah perpindahan agen infeksi dari satu orang ke orang
lain ataupun dari daerah yang sangat banyak mengandung
mikroba, ex: mulut, hidung, ataupun usus untuk mencapai
tempat yang poensial terhadap infeksi. Cuci tangan secara
teratur

sangat

baik

dilakukan

tanpa

disinfektan

untuk

mengurangi kulit menjadi kering, iritasi dan sensitisasi kulit.


Sabun dan air hangat secara efisien dan efektif menghilangkan
bakteri. Fingers are the most common vehicles of infection
transmission. This fact is poorly recognized by all.
a. Cara Pencucian Tangan
Untuk mencuci tangan harus diusahakan tersedia sabun
antiseptic dan mengalir atau kran.
1. Melepaskan benda di sekitar tangan (jam tangan, cincin,
gelang, dll),
2. Gunakan tissue untuk membuka tombol kran untuk
menghindari tangan kotor atau terkontaminasi dengan
tombol air kran,
3. Basahi tangan dan pergelangan tangan, kemudian
tuangkan lebih 5 c sabun cair ditelapak tangan,
4. Menggosok dengan busa semua permukaan secara
mekanik selama 15-30 detik dan dilanjutkan dengan
membilas pada air yang mengalir,
5. Keringkan tangan dengan alat pengering atau handuk
kering.
Ada 2 kategori organisme yang ada di tangan:
1. Organisme residen ( flora normal )
Ex:

S.

aureus,

diphteroids

tidak

hilang

secara

permanen )
2. Organisme transien
Karena kontak, contoh : E. Colli (mudah dihilangkan
dengan cuci tangan efektif)
b. Macam-macam cara mencuci tangan
Mencuci tangan dengan air

38 | P a g e

Praktek mencuci tangan yang dianjurkan pada


umumnya adalah dilakukan dibawah air yang mengalir,
karena air dalam keadaan diam dan digunakan untuk
mencuci tangan yang kotor bisa menjadi tempat sup
kuman karena berkumpulnya kotoran yang mungkin
mengandung kuman penyakit di satu tempat dan
menempel

lagi

saat

tangan

diangkat

dari

wadah

pendapat

yang

mencuci tangan tersebut.

Mencuci tangan dengan air panas


Walaupun

ada

beberapa

mengatakan bahwa mencuci tangan dengan air panas


lebih

efektif

untuk

membersihkan

tangan,

namun

pendapat ini tidak disertai dengan pembuktian ilmiah.


Temperatur dimana manusia dapat menahan panas air
tidak

efektif

untuk

membunuh

kuman.

Beberapa

pendapat lain menyatakan bahwa air panas dapat


membersihkan kotoran, minyak, ataupun zat-zat kimia,
namun pendapat populer ini sebenarnya tidak terbukti,
air panas tidak membunuh mikro organisme. Temperatur
yang nyaman untuk mencuci tangan adalah sekitar 45
derajat celsius, dan temperatur ini tidak cukup panas
untuk membunuh mikro organisme apapun. Namun
temperatur yang jauh lebih panas (umumnya sekitar
100 derajat celsius) memang dapat membunuh kuman.
Tidak efektifnya temperatur air untuk membunuh kuman
juga

dinyatakan

dalam

prosedur

standar

mencuci

tangan untuk operasi medis dimana air keran dibiarkan


mengalir deras hingga 2 galon per menit dan kederasan
air inilah yang membersihkan kuman, sementara tinggi
rendahnya temperaturnya tidak signifikan.

Mencuci tangan dengan sabun


Mencuci tangan dengan sabun adalah praktek
mencuci tangan yang umum dilakukan setelah mencuci
tangan dengan air saja. Walaupun perilaku mencuci
tangan dengan sabun diperkenalkan pada abad 19
39 | P a g e

dengan tujuan untuk memutus mata rantai kuman,


namun pada prakteknya perilaku ini dilakukan karena
banyak hal diantaranya, meningkatkan status sosial,
tangan dirasakan menjadi wangi, dan sebagai ungkapan
rasa sayang pada anak.
Pada fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah
sakit, mencuci tangan bertujuan untuk melepaskan atau
membunuh patogen mikroorganisme (kuman) dalam
mencegah

perpindahan

mereka

pada

pasien.

Penggunaan air saja dalam mencuci tangan tidak efektif


untuk membersihkan kulit karena air terbukti tidak
dapat melepaskan lemak, minyak, dan protein dimana
zat-zat ini merupakan bagian dari kotoran organik.
Karena itu para staf medis, khususnya dokter bedah,
sebelum melakukan operasi diharuskan mensterilkan
tangannya dengan menggunakan antiseptik kimia dalam
sabunnya (sabun khusus atau sabun anti mikroba) atau
deterjen. Untuk profesi-profesi ini pembersihan mikro
organisme tidak hanya diharapkan "hilang" namun
mereka harus bisa memastikan bahwa mikro organisme
yang tidak bisa "bersih" dari tangan, mati, dengan zat
kimia antiseptik yang terkandung dalam sabun. Aksi
pembunuhan mikroba ini penting sebelum melakukan
operasi dimana mungkin terdapat organisme-organisme
yang kebal terhadap antibiotik.

Mencuci tangan dengan cairan


Pada akhir tahun 1990an dan awal abad ke 21,
diperkenalkan cairan alkohol untuk mencuci tangan
(juga dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik,
atau sanitasi tangan) dan menjadi populer. Banyak dari
cairan ini berasal dari kandungan alkohol atau etanol
yang

dicampurkan

pengental

seperti

bersama

dengan

karbomer,

kandungan

gliserin,

dan

menjadikannya serupa jelly, cairan, atau busa untuk


memudahkan penggunaan dan menghindari perasaan

40 | P a g e

kering karena penggunaan alkohol. Cairan ini mulai


populer digunakan karena penggunaannya yang mudah,
praktis karena tidak membutuhkan air dan sabun.
Sesuai perkembangan zaman, dikembangkan juga
cairan pembersih tangan non alkohol. Namun apabila
tangan benar-benar dalam keadaan kotor, baik oleh
tanah, darah, ataupun lainnya, maka penggunaan air
dan sabun untuk mencuci tangan lebih disarankan
karena cairan pencuci tangan baik yang berbahan dasar
alkohol

maupun

membunuh
tangan,

kuman

ataupun

non

alkohol

cairan

ini

walaupun
tidak

membersihkan

efektif

membersihkan

material

organik

lainnya.
Namun cairan pembersih tangan berbahan dasar
alkohol tidak efektif dalam membunuh bakteria yang
lain seperti e-coli dan salmonela. Karena alkohol tidak
menghancurkan spora-spora namun dengan mencuci
tangan dengan sabun spora-spora tersebut terbasuh
dari

tangan.

Menurutnya

metode

terbaik

adalah

menentukan saat keadaan tidak memungkinkan untuk


mengakses air dan sabun, maka cairan pencuci tangan
jauh lebih baik daripada tidak menggunakan apapun.
Cairan pembunuh kuman yang berbahan dasar
alkohol tidak efektif untuk mematikan materi organik,
dan virus-virus tertentu seperti norovirus, spora-spora
bakteria

tertentu,

dan

protozoa

tertentu.

Untuk

membersihkan mikro organisme - mikro organisme


tersebut tetap disarankan menggunakan sabun dan air.

Mencuci tangan dengan tisu basah


Tisu

basah

menjadi

alternatif

membersihkan

tangan setelah mencuci tangan dengan sabun karena


lebih praktis dan tidak memerlukan air. Beberapa tisu
basah telah mengembangkan kandungan wewangian
beralkohol, atau anti bakteri, ataupun minyak almond
untuk menjaga kulit tangan agar tidak terasa kering.

41 | P a g e

Dalam beberapa kasus khusus, sebuah perusahaan di


AS mengeluarkan tisu basah yang berlabel Rediwipes
yang menyatakan dapat membunuh 99.9 persen bakteri
yang terdapat dirumah termasuk bakteri Salmonella dan
E. coli. Tisu ini dianjurkan untuk digunakan dalam
membersihkan tangan dan peralatan dapur lainnya
sebelum masak agar mencegah kontaminasi bakteri
silang antara tangan, bahan masakan, dan peralatan
dapur sehingga tidak menyebar .
Waktu yang Mengharuskan untuk Mencuci Tangan:
-

Sebelum dan sesudah melakukan sesuatu


Setelah kontak dengan cairan tubuh
Setelah memegang alat yang terkontaminasi (eg:

jarum suntik)
Sebelim dan sesudah kontakdengan pasien di ruang

isolasi
- Setelah menggunakan kamar mandi
- Sebelum melayani makan dan minum
2. Pembuangan sampah bekas praktek
Pembuangan barang-barang bekas pakai seperti sarung
tangan, masker, tissue bekas dan penutup permukaan yang
terkontaminasi darah atau cairan tubuh harus ditangani secara
hati-hati dan dimasukkan dalam kantung plastik yang kuat dan
tertutup rapat untuk mengurangi kemungkinan orang kontak
dengan benda-benda tersebut. Benda-benda tajam seperti
jarum atau pisau scalpel harus dimasukkan dalam tempat yang
tahan terhadap tusukan sebelum dimasukkan dalam kantung
plastik. Jaringan tubuh juga harus mendapat perlakuan yang
sama dengan benda tajam.
Ada 3 jenis sarung tangan yang sering digunakan:
1) bersih, berkualitas tinggi, gloves pelindung latex, harus
digenakan ketika memeriksa mulut pasien atau ketika
memberikan tindakan rutin yang tidak terdapat darah.
2) Steril gloves untuk operasi yang terdapat pendarahan.
3) Gloves untuk tugas berat digunakan untuk memegang
bahan kimia.

42 | P a g e

XVI. Kontrol Infeksi Di Ruang Kerja


Hal-hal

yang

perlu

dilakukan

secara

rutin

untuk

melindungi orang-orang yang bekerja di praktik dokter gigi dan


mencegah

penularan

penyakit

antarpasien

menurut

ADA

(American Dentist Association) antara lain:


1. Sarung tangan harus selalu dipakai saat merawat pasien.
2. Menggunakan masker untuk melindungi mukosa mulut dan
hidung dari percikan darah dan air ludah.
3. Mata dilindungi dengan semacam kacamata dari percikan
darah dan air ludah.
4. Metode sterilisasi untuk membunuh kuman pada alat-alat
dokter

gigi,

seperti

autoklaf,

oven

pemanasan

kering,

sterilisasi uap kimia, dan sterilisasi kimia.


5. Memperhatikan bahan untuk membersihkan instrumen
menggosok dengan cairan deterjen dan mengelap dengan
cairan desinfektan (iodine atau chlorine).
6. Bahan-bahan disposible yang telah

digunakan

harus

dipegang dengan hati-hati dan dikumpulkan dalam satu

kantung plastik.
Asepsis pada Praktiknya
a. Tangan
Kuku harus pendek
Aksesoris seperti cincin dan gelang harus ditanggalkan.
Mencuci tangan dengan cermat menggunakan sikat dan

sabun tangan.
Tangan disabun dan dibilas minimal 3x dengan air dingin
dan

dikeringkan

dengan

tisu,

masing-masing

dicuci

selama 10 detik.
Sarung tangan harus diganti secara rutin bila menyentuh

darah, saliva atau selaput lendir mulut.


Sarung tangan tebal digunakan untuk mendesinfeksi

instrumen dokter gigi.


b. Proteksi wajah
Digunakan masker operasi dan kacamata pelindung untuk

melindungi dari percikan darah dan cairan tubuh lainnya.


Dipakai saat membilas, memoles, menskeling, dan saat

memakai bur.
c. Rambut dan pakaian
Menggunakan tutup kepala untuk mencegah rambut
terkena percikan aerosol.

43 | P a g e

Mencuci muka sebelum makan.


Mencuci muka dan rambut sebelum tidur.
Mencuci dan mengganti pakaian secara teratur karena
bekteri patogen dan beberapa virus terutama hepatitis B

dapat hidup beberapa hari di pakaian.


Asepsis Lapangan Kerja
a. Penutup
Beberapa aplikasi untuk penutup:
1. Baki instrumen digunakan oto penutup plastik atau
Saran Wrap. Bila diperlukan dapat diletakkan lembaran
kertas di atas oto. Setelah kerja selesai instrumen dapat
diambil beserta lembar kertas di atas oto atau Saran
Wrap.
2. Konus sinar-X dan kepala sinar-X lembaran plastik atau
kerats yang direkatkan dengan plester perekat.
3. Saklar, kontrol, danm tombol keran air plastik atau foil
aluminium kecil.
4. Sandaran kepala kantung plastik.
5. Semprot triplek (air/udara) kantung plastik kecil (2 x
6) dibungkuskan dan direkat dengan plester perekat.
Ujung semprit tersedia yang sekli pakai atau yang
disterilisasi.
6. Vakum berkecepatan tinggi kantung plastik (2 x 6)
dibungkuskan di bagian sambungan dan kontrol, sampai
ke ujung tempat pemasangan ujung vakum.
7. Pegangan lampu foil aluminium dibungkuskan ke
seluruh pegangan.
8. Saklar lampu sedotan soda yang agak panjang
dibungkuskan ke saklar lampu.
9. Lampu komposit plastik dibungkuskan ke sekeliling
ujung

lampu

direkatkan

dengan

pleseter

perekat.

Pegangan dan pemicu lampu dapat dibungkus dengan


plastik.
10.Henpis disterilisasi dengan pemanasan autiklaf 121C
atau chemiclave 132C.
b. Sterilisasi alat
Persyaratan pertama untuk mensterilisasi instrumen adalah
membersihkan debris, darah, serta lekatan air ludah. Perawat
memakai sarung tangan besar untuk membuang alat-alat
disposible dan kemudian membersihkan atau merendam

44 | P a g e

instrumen lainnya dalam cairan desinfeksi untuk mencegah


keringnya debris organis sebelum dilakukan pembersihan.
1. Sterilisasi Autoklaf
Kata autoklaf berarti mengunci sendiri, digunakan untuk
alat sterilisasi yang mempergunakan uap di bawah
tekanan.

Uap

yang

dihasilkan

lebih

efisien

untuk

memusnahkan bakteri dibandingkan dengan air mendidih


atau panas kering. Jadi, adanya udara di dalam bungkus
menghalangi penetrasi uap dan menghambat proses
sterilisasi.
2. Sterilisasi Panas Kering
Teknik membutuhkan waktu sterilisasi yang lebih lama
karena waktu pemanasan untuk instrumen yang banyak
selama 10-90 menit persiklus. Keuntungan metode ini di
samping bisa memuat banyak, murah harganya, dan tidak
membuat berkarat, atau tumpuknya instrumen.
3. Sterilisasi Uap Kimia (chemiclave)
Metode ini mengunakan panas 270F atau 132C pada 2040 psi dalam waktu 20 menit. Alat ini harus dipanaskan
dahulu sebelum digunakan. Keuntungannya siklus cepat,
efisien, serta karat dan korosi lebih sedikit.
4. Sterilisasi Glutaraldehid
Sterilisasi dengan glutaraldehid efektif sampai 28 hari
setelah digunakan. Glutaralehid sangan berguna sebagai
cairan pencelup untuk instrumen dan sterilisasi. Pada
metode ini, diperlukan 6 sampai 10 jam untuk sterilisasi
pada temperatur kamar.
c. Penyimpanan instrumen
Cara penyimpanan yan paling

baik

adalah

menimpan

instrumen dalam bungkusan yang berbeda-beda. Bungkusan


ini kemudian disimpan, setelah sterilisasi, pada laci tertutup
dan hanya dibuka pada saat hendak digunakan. Untuk
mengambil instrumen dari laci penyimpanan dibutuhkan tang
pengambil atau spons 2 x 2 atau handuk kertas.
d. Laboratorium
Peteknik gigi dapat tertular bakteri patogen yang berasal dari
bahan cetak atau alat gigi. Untuk mencegah penularan pada
teknik ini, amat dianjurkan agar cetakan disemprot lebih
dahulu dengan Omni II sebeum model diisi. Jika perlu tahan

45 | P a g e

dulu cetakan tersebut dan setelah beberapa jam baru


cetakan tersebut diisi.

46 | P a g e

Daftar Pustaka
Baum, Lloyd, dkk. 1997. Ilmu Konservasi Gigi Edisi 3. Jakarta: EGC.
Baum, Philips. 1995. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi Edisi 3. Jakarta :
EGC.
E.A.M Kidd, B.G.N. Smith, H.M Pickard. 2002. Manual Konservasi
Restorasi Menurut Pickard. Jakarta : EGC.
Ford, T. R Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Jakarta: EGC.
Heasman,

Peter.

2003.

Master

Dentistry-Restorative

Dentistry,

Paediatric Dentistry and Orthodontics. Publisher : A Churchill


Livingstone.
Kidd, Edwina A.M. & Sally Joyston Bechal. 1992. Dasar-dasar Karies.
Jakarta : EGC.
Mount, G.J, Hume, W.R. 1998. The Preservation and Restoration of
Tooth Structure. Publisher : Mosby.

47 | P a g e