Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN DISKUSI SKENARIO 4

TOPIK : MAKANAN SELALU MENYANGKUT DAN NGILU

FASILITATOR

: drg. Yuli Nugraeni , Sp.KG

KETUA DISKUSI : NOVITA HARERA P.

145070401111024

SEKRETARIS

145070400111006

: MOCHAMMAD YUSUF

ANGGOTA DISKUSI KELOMPOK 3


RAHMAWATI ISNANINGRUM

145070400111005

HILDA OCTAVIANI

145070401111014

DONNY RAMADHAN

145070401111015

ANNA PERMADANI

145070401111025

ELSAVIRA ASKANDAR

145070401111026

DYAN NOVITA W.

145070401111029

FAISAL RIFAI

145070407111006

ISRA

145070407111006

JOHN VICTOR TAMPUBOLON

145070407111024

ELISA DIANTI TIURLINA R.

145070407111025

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
SKENARIO

Pasien laki-laki 22 tahun dating ke dokter gigi mengeluh gigi bawah kanan
berlubang dan terasa ngilu tajam jika terkena makanan dan minuman dingin.
Selanjutnya dokter gigi melakukan pemeriksaan intraoral dengan sonde dan
ditemukan karies yang dalam pada oklusal gigi 47. Pada pemeriksaan radiograf
terlihat gambaran radiolusen mencapai dentin dan hampir ke pulpa pada gigi 47
dan didapatkan diagnose pulpitis reversible pada gigi 47. Selanjutnya dilakukan
perawatan pulp capping dengan cara kavitas dibersihkan terlebih dahulu
kemudian diberi 2 macam bahan pelapis. Pasien diminta dating 2-4 minggu lagi
untuk dilakukan evaluasi melalui pemeriksaan klinis dan radiografs sebelum
dilakukan penumpatan.
KATA SULIT
-

Pulp capping : Aplikasi selapis / lebih material pelindung untuk


perawata diatas pulpa yang terbuka, contohnya kalsium
hidroksida

KATA KUNCI
-

Gigi 47 berlubang dan terasa ngilu tajam

Gigi 47 karies dalam nyaris ke pulpa

Diagnosa pulpitis reversible

Pulp capping

Bahan pelapis

Evaluasi 2-4 minggu

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Mengapa gigi 47 berlubang & terasa ngilu tajam?
2. Apakah penyebab karies gigi semakin dalam?
3. Termasuk jenis karies apakah gigi 47 pada pemeriksaan radiograf?
4. Apa saja bahan pulp capping?
5. Apa tujuan dilakukannya pulp capping?
6. Ada berapa macam perawatan pulp capping?
7. Mengapa dalam perawatan pulp capping harus diberi 2 macam bahan
pelapis?
8. Mengapa harus dilakukan pulp capping? Tidak langsung ditumpat saja?
9. Bagaimana prosedur pulp capping?

10. Apa saja macam bahan pelapis?


11. Syarat dan kriteria dari bahan pelapis?
12. Mengapa evaluasi dilakukan dalam jangka waktu 2-4 minggu ?
13. Apa indicator keberhasilan dari evaluasi tersebut?
14. Apa tujuan dilakukannya evaluasi sebelum dilakukan dan sesudah
dilakukan pulp capping?
15. Apakah perlu dilakukan pemeriksaan radiograf setelah perawatan pulp
capping?
BRAINSTORMING
1. Karena karies sudah hampir mencapai pulpa, dan didalam pulpa terdapat
syaraf.
Karena

terkena

rangsangan

makanan

dan

minuman

dingin

yang

disalurkan melalui tubuli dentin


2. Jika sudah mencapai dentin, akan berkembang lebih cepat karena dentin
lebih lunak dari pada email dan tidak segera dilakukan perawatan
3. Termasuk jenis karies moderate dilihat dari progresiftasnya
Dalam pemeriksaan klinis termasuk karies media
4. Kalsium hidroksida
- Zinc Oxide Eugenol
- Zinc fosfat
- GIC
- Zinc Polykarboksilat
5. Untuk melindungi atap pulpa
6. Direk & Indirek
7. Bahan pelapis pertama untuk menyembuhkan dentin & Bahan pelapis
kedua untuk melindungi pulpa
8. Karen ajika tidak di pulp capping atap pulpa akan teriritasi oleh bahan
tumpatan
9. Menyiapkan alat & bahan
- Mengisolasi daerah kerja
- Preparasi kavitas dengan bur sampai bersih, untuk membersihkan
jaringan dentin yang terinfeksi
- Diberikan desinfektan
- Diberi pasta kalsium hidroksida

- Diberikan basis
- Diberikan cotton pellet, lalu ditumpat sementara
10.
11. Tidak menyebabkan iritasi pulpa
- Tidak toxic
- Solubilitas rendah
- Dapat meredakan dentin yang sensitive
- Dapat merangsang pembentukan dentin reparative
- Tidak menimbulkan rasa panas saat diaplikasikan
- Mempunyai kekuatan yang cukup
- Mudah diaplikasikan
12.Untuk

merangsang

pembentukan

dentin

reparative

sehingga

membutuhkan waktu 2-4 minggu


13.Terbentuknya dentin reparative
14.Untuk mengetahui apakan dentin reparative telah terbentuk dan siap
untuk dilakukan penumpatan
15.Perlu, untuk mengetahui hasil pulp capping
HIPOTESIS

Pasien

Gigi 47 berlubang & Ngilu

Pulpitis reversibel

Pulp capping

Tumpat sementara

Evaluasi

LEARNING ISSUES
1. Perawatan Pulp Capping
a) Defnisi
b) Tujuan
c) Macam
d) Prosedur
e) Indikasi & Kontraindikasi
2. Bahan Pelapis
a) Defnisi
b) Tujuan
c) Macam
d) Syarat & Kriteria
3. Evaluasi
a) Tujuan
b) Indikator
LEARNING OUTCOMES
I.

PERAWATAN PULP CAPPING


a) Defnisi
Pulpa capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan

untuk perawatan diatas pulpa yang terbuka, misalnya kalsium hidroksida yang
akan merangsang pembentukan dentin reparative (Harty dan Oston, 1993)
b) Tujuan
-

Tujuan Pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi

ke

jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa


dapat

mempertahankan

vitalitasnya.

Dengan

demikian

terbukanya jaringan pulpa dapat terhindari. Bahan yang biasa

digunakan untuk pulp capping adalah kalsium hidroksida


karena dapat merangsang pembentukkan dentin sekunder
secara efektif dibandingkan bahan lain.
c) Macam
Kaping pulpa (pulp capping) dibagi menjadi dua, yaitu kaping pulpa
indirek (indirect pulp capping) dan kaping pulpa direk (direct pulp
capping). (Walton & Torabinejad, 2008 ; 429)
1) Indirek Pulp Capping
Prosedur kaping pulpa indirek digunakan dalam manajemen lesi karies
yang dalam yang jika semua dentin yang karies dibuang mungkin akan
menyebabkan

terbukanya

pulpa.

Kaping

pulpa

indirek

hanya

dipertimbangkan jika tidak ada riwayat pulpagia atau tidak ada tandatanda pulpitis irreversible. (Walton & Torabinejad, 2008 ; 429)
Indirect Pulp Capping adalah perawatan pada pulpa yang masih tertutup
lapisan dentin tipis karena karies yang dalam. Pada teknik ini obat-obatan
yang digunakan tidak berkontak langsung dengan pulpa.Pulp capping
tidak langsung memerlukan lebih dari dua kali kunjungan. Indirect pulp
capping dirasa lebih memberi hasil yang diharapkan dari pada metode
direct pulp capping. Dilakukan bila pulpa belum terbuka, tapi atap pulpa
sudah sangat tipis sekali, yaitu pada karies profunda.
Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari
inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan
ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah
dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi yaitu
amputasi pulpa (Pulpotomi).
Dilakukan bila pulpa belum terbuka, tapi atap pulpa sudah sangat tipis
sekali, yaitu pada karies profunda. Tekniknya meliputi pembuangan
semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan bor bundar kecepatan
rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin
lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa. Basis pelindung
pulpa yang biasanya dipakai adalah Zinc Okside Eugenol atau dapat juga
dipakai kalsium hidroksida yang diletakkan didasar kavitas. Apabila pulpa
tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karis diharapkan jaringan pulpa akan
berekasi secara fsiologis terhadap lapisan pelindung dengan membentuk

dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital
dan bebas dari inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat
dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya
adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi
yaitu amputasi pulpa (Pulpotomi).

Gambar 1. Perawatan pulp capping indirek


2) Direct Pulp Capping
Ada dua hal yang menyebabkan prosedur ini harus dilakukan yakni jika
pulpa terbukas ecara mekanis (tidak sengaja) dan pulpa terbuka karena
karies. Terbukanya pulpa secara mekanis dapat terjadi pada preparasi
kavitas atau preparasi mahkota yang berlebihan, penempatan pin atau
alat bantu retensi. Kedua tipe terbukanya pulpa ini berbeda ; jaringan
pulpanya masih normal pada kasus pemajanan mekanis yang tidak
sengaja, sementara pada pulpa yang terbuka karena karies yang dalam
kemungkinan besar pulpanya telah terinfalamsi. (Walton & Torabinejad,
2008 ; 429)
Direct Pulp Capping adalah perawatan sekali kunjungan. Direct Pulp
Capping juga digunakan dalam contoh di mana ada pembusukan yang
mendalam mendekati pulpa tapi tidak ada gejala infeksi. Direct Pulp
Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan
pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva,
kalsium hidroksida dapat diletakkan di dekat pulpa dan selapis semen
Zinc Okside Eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lapisan pulpa dan
biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila
gigi direstorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan
akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini

berhasil maka pulpa disekitar daerah terbuka harus vital dan dapat terjadi
proses perbaikan.
Keuntungan Direct Pulp Capping antara lain :
1.Mempertahankan ketuhan dan vitalitas pulpa.
2.Memperbaiki dan penutup pulpa yang terbuka
3.Menghemat waktu perawatan.
4.Mempertahankan fungsi gigi.
Bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka
tidak

boleh

terkontaminasi

oleh

saliva,

kalsium

hidroksida

dapat

diletakkan di dekat pulpa dan selapis semen Zinc Okside Eugenol dapat
diletakkan di atas seluruh lapisan pulpa dan biarkan mengeras untuk
menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi direstorasi. Pulpa
diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik jika
membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa
disekitar daerah terbuka harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan.
d) Prosedur
1) Indirect Pulp Capping
PROSEDUR
a. Daerah gigi harus diisolasi dari kelembaban dan disarankan
memakai isolator karet.
b. Semua dentin bagian tepi yang karies disingkirkan dengan bur
bulat besar atau ekskavator.
c. Bagian

dalam

yang

langsung

berdekatan

dengan

pulpa

dibersihkan hanya sampai denti yang lunak.


d. Kavitas dicuci dan dikeringkan.
e. Campuran

dari

semen

OSE

dimasukkan

sekalian

sebagai

tambalan sementara.
f.

Pasien disuruh pulang dan gigi dibiarkan tanpa diganggu selama


3 bulan atau lebih.

g. Pada kunjungan beriktnya, gigi diisolasi kembali lalu semen


dibuka dan permukaan dalam kavitas diperiksa. Selama periode

tersebut dentin mengalami remineralisasi dan menjadi lebih


keras.
h. Dengan bertambahnya perlindungan dari remineralisasi dan
pembentukkan dentin sekunder dlam pulpa, operator dapat
membuang dentin lunak yang tersisa dan kavitas selanjutnya
ditambal permanen.
2) Direct Pulp Capping
PROSEDUR
a. Ekskavasi
Enamel dipotong untuk mendapatkan akses, tetap tidak
terlalu banyak agar keutuhan untuk mempertahankan semen
tetap terpelihara. Bila terlihat bagian yang terbuka, karies di
tepidentin dibuang terlebih dahulu. Setelah 90% bagian terkena
karies dibuang, operator memberi memberi perhatian terhadap
dentin di atas pulpa. Dengan hati-hati dentin yang lunak dan
karies dibuang agar tidk menekan dentin yang karies ke kamar
pulpa akibat gerakan ekskavator.
Sebagai bahan pembersih gunakan air bersih dan segar
(lebih baik jika air suling/aquadest) atau larutan salin. Besar dan
tipe pendarahan yang dialami selama pulpa terbuka merupakan
alat diagnosis untuk menegakkan prognosis. Umunya, jika daerah
yang terbuka sangat kecil dan darah berwarna merah terang,
perawatan endodonti dihindari.
b. Capping
Jika pendarahan pada sisi yang terbuka terhenti dan daerah
tersebut kering, pasta kalsium hidroksida adalah bahan pilihan
untuk pulp caping. Pemberian pasta diperluas pada dentin keras
1-2 mm dari perforasi pulpa.
c. Sealing
Perhatian

ditujukan

terhadap

penempatan

kalsium

hidroksida dan dilapisi semen OSE. Semen kecil dan bulat


diletakkan pada ujung sonde dan dimasukkan ke bagian pulpa
yang terbuka. Semen akan melekat ke dentin dan siap untuk
dibentuk ke daerah underkut dengan memakai gulungan kapas

kecil dan kering. Berikan tekanan ringan pada kapas di atas


daerah pulpa dengan hati-hati untukmenghindari masuknya
semen ke dalam kamar pulpa.
Pada fase ini, pulpa harus dilindungi oleh lapisan internal
dari kalsium hidroksida dan ditutupi oleh semen OSE yang mudah
mengeras. Jika semen telah terletak dengan baik dan tepat,
menutupi daerah di atas pulpa serta melindungi bagian terbuka
dari

tekanan.

Kemudian

kavitas

dapat

dibersihkan

dan

memperbaikinya tanpa takut bahan pulp caping terlepas dan


pulpa terbuka kembali. Setelah itu, gigi dapat ditumpat permanen
dengan

amalgam

atau

tambalan

sementara

menggunakan

mahkota aluminium.
e) Indikasi & Kontraindikasi
1) Indirect Pulp Capping
Perawatan ini dapat dilakukan pada gigi sulung dan gigi permanen
muda yang kariesnya telah luas dan sangat dekat dengan pulpa.
Tujuannya adalah untuk membuang lesi dan melindungi pulpanya
sehingga jaringan pulpa dapat melaksanakan perbaikannya sendiri
dengan membuat dentin sekunder. Dengan demikian terbukanya
jaringan

pulpa

dapat

terhindarkan.

Indikasi
Lesi dalam dan tanpa gejala yang secara radiografk sangat dekat
ke pulpa tetapi tidak mengenai pulpa.
Pulpa masih vital.
Bisa dilakukan pada gigi sulung dan atau gigi permanen muda.
Kontra Indikasi
Nyeri spontan nyeri pada malam hari.
Pembengkakan.
Fistula.
Peka terhadap perkusi.
Gigi goyang secara patologik.
Resorpsi akar eksterna.
Resorpsi akar interna.
Radiolusensi di periapeks atau di antara akar.

Kalsifkasi jaringan pulpa.


2) Direct Pulp Capping
Perawatan ini dapat dilakukan terhadap gigi yang pulpanya terbuka
karena karies atau trauma tetapi kecil dan diyakini keadaan jaringan
di sekitar tempat terbuka itu tidak dalam keadaan patologis. Dengan
demikian pulpa dapat tetap sehat dan bahkan mampu melakukan
upaya perbaikan sebagai respons terhadap medikamen yang dipakai
dalam

perawatan

pulp

capping.

Indikasi
Gigi sulung dengan pulpa terbuka karena sebab mekanis dengan
besar tidak lebih dari 1mm persegi dan di kelilingi oleh dentin bersih
serta

tidak

ada

gejala.

Gigi permanen dengan pulpa terbuka karena sebab mekanis atau


karena karies dan lebarnya tidak lebih dari 1 mm persegi dan tidak
ada

gejala.

Pulpa masih vital.


Hanya berhasil pada pasien di bawah usia 30 tahun, misalnya pulpa
terpotong oleh bur pada waktu preparasi kavitas dan tidak terdapat
invasi bakteri maupun kontaminasi saliva.
Kontraindikasi
Nyeri spontan nyeri pada malam hari.
Pembengkakan.
Fistula.
Peka terhadap perkusi.
Gigi goyang secara patologik.
Resorpsi akar eksterna.
Resorpsi akar interna.
Radiolusensi di periapeks atau di antara akar.
Kalsifkasi jaringan pulpa.
Terbukanya pulpa secara mekanis dan instrumen yang dipakai telah
memasuki jaringan pulpa.
Perdarahan yang banyak sekali pada tempat terbukanya pulpa.
Terdapat pus atau eksudat pada tempat terbukanya pulpa.

II.

BAHAN PELAPIS
a) Defnisi
Adalah bahan-bahan yang diletakkan berupa lapisan tipis dan funsi
utamanya untuk memberikan suatu perlindungan terhadap iritasi
kimiawi. Bahan ini tidak berfungsi sebagai penyekat panas.
b) Tujuan
-

Sebagai

lapisan

menghasilkan

pelindung

penyekat

terhadap

terhadap

panas,

iritasi
dan

kimia,
menahan

tekanan selama pemampatan restoratif.


-

Sebagai pengganti dentin pelindung yang rusak karena karies,


pengeburan kavitas, atau keduanya.

Mendukung

pemulihan

dari

pulpa

yang

cedera

dan

melindunginya dari berbagai trauma (syok panas/ iritasi


kimia).
-

Melindungi pulpa dari bahan restorasi

Melindungi tekanan saan proses penumpatan

c) Macam
1) Bahan Pelapik
Oksida Seng Eugenol (OSE)

Sifat-sifat:

Penghantar panas yang rendah

Kelarutan terhadap saliva tinggi

Bakteriostatik

Kekuatannya rendah

Perlekatan terhadap enamel dan dentin rendah

Fungsi:

Sebagai liner

Sebagai pulp capping (indirek)

Tumpatan sementara

Pengisi salurwn akar

Manipulasi:

Perbandingan bubuk : cairan 4 : 1 atau 6 : 1

Pencampuran pada glass slab atau kertas pad

Dioleskan ke dalam kavitas dan hindari tepi kavitas dari pasta

Kalsium hidroksida :

Sifat-sifat:

Dapat menetralisir asam

Kelaritan terhadap saliva tinggi

Kekuatannya rendah, namun cukup untuk sebagai fondasi


bahan tambalan

pH alkalis (11-12)

Dapat menbentuk dentin sekunder

Bakteriostatik

Fungsi:

Liner di bawah basis

Bahan pulp capping

Liner di bawah restorasi polimer

Meningkatkan

atau

mempercepat

pembentukan

dentin

sekunder/reparative (dentil tebal) untuk melindungi pulpa dari


bahan restorative atau agen-agen yang merusak (berpenetrasi
melalui kebocoran mikro)

Manipulasi:

Umumnya tersedia dalam 2 pasta yaitu base dan katalis

Dicampur sampai konsistensi seperti krim pada kertas pad atau


glass slab
Bahan diaplikasikan pada dasar kavitas dengan bantuan semen

stopper dan hindari jangan mengenai tepi kavitas.


Ketebalan kurang lebih 0.25 mm sudah cukup efektif.

Prosedur penumpatan:

Pelapik diulaskan pada dinding-dinding preparasi kavitas

Larutan pembawanya akan menguap dan meninggalkan selapis


tipis kalsium hidroksida pada dinding kavitas.

2) Liner / Basis
Semen oksida seng eugenol

Sifat-sifat:

pH mendekati 7 paling sedikit mengiritasi.

Memiliki efek paliatif terhadap pulpa.

Mampu meminimalkan kebocoran mikro.

Memberikan perlindungan terhadap pulpa.

Sering dipakai untuk lesi karies.

Fungsi: sebagai basis insulatif (penghambat)

Manipulasi:

Campur bubuk dengan eugenol di atas kertas pad.

Sebagian kecil dilekatkan ke ujung eksplorer dan dioleskan


ke kavitas.

Hindari mengenai tepi kavitas.

Menekan bahan dan membentuknya dalam kavitas dengan


kapas kering menggunakan pinset.

Penambahan bahan dapat dilakukan berulang kali, dengan


cara yang sama sampai diperoleh ketebalan yang cukup.

Semen zink fosfat


Sifat-sifat:

Keras dan kuat tapi mengiritasi pulpa.

pH rendah, antara 2-6 dan netral setelah mengeras.

Mudah larut.

Kekuatan cukup.

Sebagai isolator.

Perlekatan terhadap enamel dan dentin bersifat mekanis.

Semen

yang

perlindungan

baru

diaduk

vernis/

basis

mengiritasi
lain

dapat

pulpa

tanpa

menyebabkan

kerusakan pulpa ireversible.


Fungsi:

Untuk

merekatkan

restorasi-restorasi

pengecoran

gigi,

terutama restorasi tuang.


-

Digunakan

sebagai

kompresif besar.

bahan

basis

bila

pelu

kekuatan

Manipulasi:

Memasukkan sejumlah kecil bubuk ke dalam cairan, diaduk


dengan gerakan memutar, kemudian ditambahkan bubuk
yang lebih banyak.

Dalam mengaduk semen digunakan permukaan slab yang


luas dan konsistensi yang benar (untuk basis konsistensi
seperti krim kental/putty).

Diletakkan ke dasar kavitas dengan ekskavator.

Diratakan dengan semen stopper.

Semen polikarboksilat

Sifat-sifat:
-

Iritasi terhadap pulpa sangat kecil.

Adhesi terhadap enamel dan pulpa lebih baik.

Larut terhadap saliva.

Kekuatan mekanik sama dengan semen fosfat.

Isolator termis yang baik.

Melekat baik pada komponen kalsium struktur gigi.

Fungsi:
-

Sebagai basis atau semen.

Perekat restorasi tuang.

Manipulasi:
-

Mencampur

bubuk

dan

cairan

dengan

perbandingan

mengikuti petunjuk pabrik.


-

Cairan tidak boleh dikeluarkan sampai tepat sebelum waktu


pengadukan dilaksanakan.

Rasio bubuk : cairan untuk basis pada umumnya adalah 2:1.

Bahan tersebut harus diaduk pada suatu permukaan yang


tidak menyerap cairan, yaitu glass slab.

Campuran tersebut harus sudah selesai diaduk dalam waktu


30 40 detik untuk mendapatkan waktu kerja yang cukup
dalam melakukan tindakan membuat basis.

Prosedur peletakan dan penyempurnaan permukaan semen


sama dengan prosedur seng fosfat.

Semen ionomer kaca (GIC)


Sifat-sifat:

Adhesi terhadap enamel dan dentin sangat baik.

Warna sama dengan gigi asli.

Biokompatibilitas baik.

Antikariogenik

Bakteriostatik

Termal ekspansi rendah.


Fungsi:

Core gigi posterior

Tumpatan teknik sandwich.

Perekat restorasi tuang.

Sebagai bahan restorasi untuk perawatan daerah erosi.

Sebagai bahan penyemenan.

3) Varnish
Suatu bahan dari resin yang dilarutkan dalam suatu pelarut dan
membuat lapisan tipis/flm pada kavitas setelah diulaskan.

Sifat-sifat:

Isolator

Visikositasnya rendah sehingga dapat menetrasi ke dalam


tubulus dentin

Mencegah kebocoran tepi

Tidak dapat digunakan bila tambalannya komposit atau resin


nirpasi karena dapat menghambat polimerisasi resin.

Dapat digunakan untuk bahan yang mengiritasi pulpa (semen


ZnPO4)

Fungsi:

Sebagai liner

Menutupi tepi tumpatan

Manipulasi:

Vernis kavitas berupa resin alami atau sintetis yang diencerkan


dengan bahan pengencer yaitu eter atau kloroform

Kemudian pengencer menguap dan akan menghasilkan lapisan


tipis

pada

preparasi

kavitas

yang

merupakan

pembalut

terhadap dentin yang terpotong.


d) Syarat & Kriteria
-

Bahan

harus

merangsang

perbaikan

pulpa

yaitu

dengan

menghasilkan dentin sekunder/ preparasi di dekat daerah iritasi.


-

Bahan harus melindungi pulpa dari bahan toksik pada beberapa


bahan tambal dan sebagai penyekat panas.

Pada tambalan amalgam dapat memberikan pondasi yang kuat


untuk mendukung tekanan pemampat.

III.

Tidak larut dalam cairan rongga mulut

Mencegah konduksi panas/dingin dari restorasi

EVALUASI
a) Tujuan
-

Untuk mengetahui apakah dentin reparative sudah terbentuk


atau tidak

Untuk menegakkan diagnosis dan membantu menentukan


langkah perawatan selanjutnya

b) Indikator
Perawatan berhasil :
-

Tidak ada keluhan subyektif.

Gejala klinis baik.

Pada gambaran radiografk terbentuk dentin barrier pada


bagian pulpa yang terbuka.

Tidak ada kelainan pulpa dan periapikal.

1) Indirek Pulp Capping


Faktor Kegagalan dan Keberhasilan Indirect Pulp Capping
o

Faktor keberhasilan

Keberhasilan perawatan pulp capping direct, ditandai dengan


hilangnya rasa sakit, serta reaksi sensitive terhadap rangsang
panas atau dingin yang dilakukan pada pemeriksaan subjektif
setelah perawatan. Kemudian pada pemeriksaan objektif ditandai
dengan pulpa yang tinggal akan tetap vital, terbentuknya
jembatan dentin yang dapat dilihat dari gambaran radiograf
pulpa, berlanjutnya pertumbuhan akar dan penutupan apikal.
Sebagian besar peneliti memakai criteria jembatan dentin
sebagai

indicator keberhasilan perawatan karena jembatan

dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk melindungi jaringan


pulpa dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi,
tetap

vital,

penutupan

membantu
apikal

pada

kelanjutan

pertumbuhan

gigi

pertumbuhannya

yang

akar

dan

belum

sempurna. Jembatan dentin terbentuk karena adanya fungsi sel


odontoblas

pada

daerah

pulpa

yang

terbuka.

Reaksi jaringan dentin terhadap kalsium hidroksida terjadi pada


hari pertama hingga minggu kesembilan, sehingga pasien dapat
diminta datang 2 bulan setelah perawatan untuk melakukan
control. Kemudian secara periodic setiap 6 bulan sekali dalam
jangka waktu 2 sampai 4 tahun untuk menilai vitalitas pulpa.
o

Faktor kegagalan

Pada saat pengeburan, ada kemungkinan mata bur membuat


perforasi atap pulpa. Hal ini perawatan pulp capping indirect
berganti menjadi pulp capping direct.
2) Direk Pulp Capping
Faktor Kegagalan dan Keberhasilan Direct Pulp Capping
o

Keberhasilan perawatan

Pulp capping direct sampai saat ini masih merupakan suatu


metode perawatan yang valid di bidang endodontic, karena bila
perawatan ini berhasil maka vitalitas dari gigi dengan pulpa
terbuka dapat dipertahankan. Kondisi ini sangat tergantung pada
diagnosis yang tepat sebelum perawatan, tidak ada bakteri yang
mencapai pulpa dan tidak ada tekanan pada daerah pulpa yang
terbuka.

Keberhasilan perawatan pulp capping direct, ditandai dengan


hilangnya rasa sakit, serta reaksi sensitive terhadap rangsang
panas atau dingin yang dilakukan pada pemeriksaan subjektif
setelah perawatan. Kemudian pada pemeriksaan objektif ditandai
dengan pulpa yang tinggal akan tetap vital, terbentuknya
jembatan dentin yang dapat dilihat dari gambaran radiograf
pulpa, berlanjutnya pertumbuhan akar dan penutupan apikal.
Sebagian besar peneliti memakai criteria jembatan dentin
sebagai

indicator keberhasilan perawatan karena jembatan

dentin bertindak sebagai suatu barrier untuk melindungi jaringan


pulpa dari bakteri sehingga pulpa tidak mengalami inflamasi,
tetap

vital,

penutupan

membantu
apikal

kelanjutan

pertumbuhan

gigi

pertumbuhannya

pada

yang

akar

dan

belum

sempurna. Jembatan dentin terbentuk karena adanya fungsi sel


odontoblas

pada

daerah

pulpa

yang

terbuka.

Reaksi jaringan dentin terhadap kalsium hidroksida terjadi pada


hari pertama hingga minggu kesembilan, sehingga pasien dapat
diminta datang 2 bulan setelah perawatan untuk melakukan
control. Kemudian secara periodic setiap 6 bulan sekali dalam
jangka waktu 2 sampai 4 tahun untuk menilai vitalitas pulpa.
o

Kegagalan perawatan

Perdarahan yang terjadi dapat berperan sebagai penghalang


sehingga tidak terjadi kontak antara bahan kalsium hidroksida
dengan

jaringan

pulpa.

penyembuhan

Hal

ini

menyebabkan

pulpa

proses

terhambat.

Kegagalan perawatan ditandai dengan pemeriksaan subjektif


yaitu

timbulnya

keluhan,

misalnya

gigi

sensitive

terhadap

rangsang panas dan dingin atau gejala lain yang tidak diinginkan.
Kemudian pada pemeriksaan objektif dengan radiograf dilihat
adanya gambaran radiolusen yang menunjukkan gumpalan darah
atau terjadinya resorpsi internal.

DAFTAR PUSTAKA
Baum, Lloyd, dkk. 1997. Ilmu Konservasi Gigi Edisi 3. Jakarta: EGC.
Baum, Philips. 1995. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi Edisi 3. Jakarta : EGC.
E.A.M Kidd, B.G.N. Smith, H.M Pickard. 2002. Manual Konservasi Restorasi
Menurut Pickard. Jakarta : EGC.
Ford, T. R Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Jakarta: EGC.
Heasman,

Peter.

2003.

Master

Dentistry-Restorative

Dentistry,

Dentistry and Orthodontics. Publisher : A Churchill Livingstone.

Paediatric

Kidd, Edwina A.M. & Sally Joyston Bechal. 1992. Dasar-dasar Karies. Jakarta :
EGC.
Mount, G.J, Hume, W.R. 1998. The Preservation and Restoration of Tooth
Structure. Publisher : Mosby.