Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI KEMASAN PANGAN
“”
Dosen: Ir. Bambang Purwanto MP
Teknisi: Rizal Umami

Disusun Oleh :
Jihan Rosa Khairunnisa W (B32140841)
Semester/Golongan: IV/C

PROGRAM STUDY TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016

BAB I
Pendahuluan
1.1 Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan memahami Undang-undang No 69 th
1999 tentang label dan iklan pangan.
2. Mahasiswa diharapkan mampu menganalisa dan membandingkan jenis kemasan
dengan peraturan Undang-undang No 69 tahun 1999.
1.2 Dasar Teori
Dalam media massa baik media elektronik maupun media cetak, telah
menginformasikan adanya perubahan arah yang terjadi pada industri pangan di Indonesia.
Perubahan tersebut ditandai dengan bertumbuhnya industri pangan fungsional dan
pangan suplemen. Pangan fungsional adalah pangan yang tidak hanya memberikan zatzat gizi esensial pada tubuh manusia, melainkan juga memberikan efek perlindungan
terhadap tubuh bahkan untuk penyembuhan terhadap beberapa gangguan penyakit.
Pertumbuhan pangan fungsional ini didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen
yang berhubungan erat dengan makanan, gizi dan kesehatan.
Pengedaran produk pangan baik fungsional maupun suplemen tersebut dapat
terlihat dari label dan iklan produk-produk pangan yang ditawarkan oleh para produsen
pangan. Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak iklan dan label, yang menggunakan
berbagai istilah yang tidak atau kurang jujur, dan cenderung menyesatkan. Bahkan sering
dijumpai pula berbagai klaim yang “terkesan” atau “seolah-olah ilmiah” sehingga
membingungkan dan menyesatkan konsumen.
Pelabelan produk pangan menjadi penting karena merupakan sarana informasi
dari produsen kepada konsumennya mengenai produk yang akan dijualnya. Sehingga
konsumen benar-benar mengetahui bahan-bahan apa saja yang digunakan, termasuk
perisa yang ditambahkan pada produk yang akan dikonsumsinya. Pelabelan yang benar
dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku akan membantu terciptanya perdagangan yang
jujur dan bertanggung jawab, dimana semua pihak akan memperoleh informasi yang

. Sehingga akan memudahkan dalam pengawasan keamanan pangan dan melindungi konsumen dari terciptanya persepsi yang salah.benar mengenai suatu produk.

yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.1 Jenis-jenis produk makanan SUSU HILO COKELAT MIE INSTAN INDOMIE THE CELUP SARIWANGI PERMEN FOX QTELA BALADO 2.2 Peraturan pemerintah nomor 69 tahun 1999 tentang Label pangan BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. dan bahan . termasuk bahan tambahan pangan.BAB II DATA 2. bahan baku pangan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. baik yang diolah maupun tidak diolah.

baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. 2. 3. menyiapkan. mengemas. 5. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan. Pangan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam. yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Iklan. pengolahan. bahan tambahan pangan. tulisan. 4. Iklan pangan adalah setiap keterangan atau pernyataan mengenai pangan dalam bentuk gambar. mengolah. baik yang menyangkut bahan baku pangan. dimasukkan ke dalam. 6. membuat. bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan iradiasi pangan. tulisan. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat. protein. atau merupakan bagian kemasan pangan. atau bentuk lain yang disertakan pada pangan. 8. Pengangkutan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka memindahkan pangan dari satu tempat ke tempat lain dengan cara atau sarana . dan atau pembuatan makanan atau minuman. dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. ditempelkan pada. yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Label. dan yang pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam. dan atau mengubah bentuk pangan. vitamin. 7. kombinasi keduanya. Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar.lain yang digunakan dalam proses penyiapan. mengawetkan. atau bentuk lain yang dilakukan dengan berbagai cara untuk pemasaran dan atau perdagangan pangan. mengemas kembali. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan. lemak. 9. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan atau membungkus pangan.

(2) Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya. tidak mudah luntur atau rusak.angkutan apapun dalam rangka proses produksi. BAB II LABEL PANGAN Bagian Pertama Umum Pasal 2 (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan Label pada. termasuk penawaran untuk menjual pangan. . baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak. 13. dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan. 12. peredaran dan atau perdagangan pangan. Pasal 3 (1) Label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berisikan keterangan mengenai pangan yang bersangkutan. 10. di dalam.Perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan atau pembelian pangan. baik untuk diperdagangkan maupun tidak. nama produk. 11.Standar Nasional Indonesia adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca. dan atau di kemasan pangan.Setiap orang adalah orang perseorangan dan badan usaha.Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat. (2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya : a.

(2) Setiap orang dilarang memberikan keterangan atau pernyataan tentang pangan yang diperdagangkan melalui. Pasal 5 (1) Keterangan dan atau pernyataan tentang pangan dalam Label harus benar dan tidak menyesatkan. dan atau dengan Label apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan atau menyesatkan. daftar bahan yang digunakan. dan tahun kedaluwarsa. dalam. berat bersih atau isi bersih. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. Pasal 7 Pada Label dilarang dicantumkan pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat. (2) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara dan persyaratan pen-cantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri Kesehatan. untuk pangan olahan tertentu Menteri Kesehatan dapat menetapkan pencantuman keterangan lain yang berhubungan dengan kesehatan manusia pada Label sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 6 (1) Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.b. e. d. gambar. Pasal 4 Selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2). c. atau bentuk apapun lainnya. . tanggal. baik mengenai tulisan. bulan.

(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan pedoman dan tata cara yang ditetapkan oleh Menteri Agama dengan memperhatikan pertimbangan dan saran lembaga keagamaan yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Pasal 10 (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dan menyatakan bahwa pangan tersebut halal bagi umat Islam. setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan. Bagian Kedua Bagian Utama Label Pasal 12 . wajib memeriksakan terlebih dahulu pangan tersebut pada lembaga pemeriksa yang telah diakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Pernyataan tentang halal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Label. Pasal 9 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan. Pasal 11 (1) Untuk mendukung kebenaran pernyataan halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1). dilarang mencantumkan Label yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini.Pasal 8 Setiap orang dilarang mencantumkan pada Label tentang nama. bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan tersebut dan wajib mencantumkan keterangan atau tulisan halal pada Label. logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis tentang produk pangan tersebut.

Bagian Ketiga Tulisan pada Label Pasal 15 Keterangan pada Label. yang dapat mengaburkan tulisan pada bagian utama Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1). angka dan huruf selain bahasa Indonesia. nama produk. (2) Dilarang menggunakan latar belakang. atau dalam rangka perdagangan pangan ke luar negeri. b.Dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (2). Pasal 13 (1) Bagian utama Label sekurang-kurangnya memuat tulisan tentang keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dengan teratur. ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia. (2) Huruf dan angka yang tercantum pada Label harus jelas dan mudah dibaca. tidak berdesak-desakan. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. Bagian Keempat Nama Produk Pangan . berat bersih atau isi bersih. angka Arab dan huruf Latin. Pasal 14 Bagian utama Label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 harus ditempatkan pada sisi kemasan pangan yang paling mudah dilihat. warna maupun hiasan lainnya. Pasal 16 (1) Penggunaan bahasa. c. bagian utama Label sekurangkurangnya memuat: a. jelas dan dapat mudah dibaca. diamati dan atau dibaca oleh masyarakat pada umumnya. baik berupa gambar. angka Arab dan huruf Latin diperbolehkan sepanjang tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan padanannya.

kecuali vitamin. (3) Penggunaan nama selain yang termasuk dalam Standar Nasional Indonesia harus menggunakan nama yang lazim atau umum. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 5 ayat (1). produk pangan yang bersangkutan dapat menggunakan nama jenis produk pangan yang telah ditetapkan. produk pangan yang bersangkutan dapat menggunakan nama jenis produk pangan yang ditetapkan oleh Menteri teknis sepanjang memenuhi persyaratan bagi penggunaan nama jenis produk pangan yang bersangkutan. dilarang menggunakan nama jenis produk yang diberikan bagi produk pangan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. dapat diberlakukan wajib dengan keputusan Menteri teknis. . (2) Dalam hal nama jenis produk pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. Pasal 18 (1) Dalam hal produk pangan telah memenuhi persyaratan tentang nama produk pangan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia.Pasal 17 (1) Nama produk pangan harus menunjukkan sifat dan atau keadaan yang sebenarnya. (2) Penggunaan nama produk pangan tertentu yang sudah terdapat dalam Standar Nasional Indonesia. Bagian Kelima Keterangan tentang Bahan Yang Digunakan Pasal 19 (1) Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan dicantumkan pada Label sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai dari bagian yang terbanyak. mineral dan zat penambah gizi lainnya. (3) Produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia atau Menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(2) Air atau bahan pada pangan yang mengalami penguapan seluruhnya selama proses pengolahan pangan. pada Label wajib dicantumkan indeks pewarna yang bersangkutan. (3) Dalam hal Bahan Tambahan Pangan berupa pewarna. atau zat penambah gizi lain tidak dilarang. Pasal 21 Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan telah ditambah. kecuali Bahan Tambahan Pangan berupa pewarna. tidak perlu dicantumkan.(2) Nama yang digunakan bagi bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah nama yang lazim digunakan. selain pencantuman golongan dan nama Bahan Tambahan Pangan. pada Label wajib dicantumkan golongan Bahan Tambahan Pangan. diperkaya atau difortifikasi dengan vitamin. (3) Dalam hal nama bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. kecuali apabila air itu merupakan bagian dari bahan yang digunakan. mineral. Pasal 22 (1) Untuk pangan yang mengandung Bahan Tambahan Pangan. dan tidak menyesatkan. pada Label dapat dicantumkan nama Bahan Tambahan dan kode internasional dimaksud. pencantumannya pada Label hanya dapat dilakukan apabila nama bahan yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. Pasal 20 (1) Air yang ditambahkan harus dicantumkan sebagai komposisi pangan. (2) Dalam hal Bahan Tambahan Pangan yang digunakan memiliki nama Bahan Tambahan Pangan dan atau kode internasional. . sepanjang hal tersebut benar dilakukan pada saat pengolahan pangan tersebut.

Pasal 25 Label yang memuat keterangan jumlah takaran saji harus memuat keterangan tentang berat bersih atau isi bersih tiap takaran saji. selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dengan ukuran isi atau berat untuk makanan semi padat atau kental. b. pada Label wajib pula dicantumkan nama dan alamat pihak yang mengedarkan tersebut. (2) Dalam hal menyangkut pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia. Bagian Kedelapan Tanggal Kedaluwarsa .Bagian Keenam Keterangan tentang Berat Bersih atau Isi Bersih Pangan Pasal 23 Berat bersih atau isi bersih harus dicantumkan dalam satuan metrik : a. dengan ukuran berat untuk makanan padat c. Bagian Ketujuh Keterangan tentang Nama dan Alamat Pasal 26 (1) Nama dan alamat pihak yang memproduksi pangan wajib dicantumkan pada Label. selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Pasal 24 Pangan yang menggunakan medium cair harus disertai pula penjelasan mengenai berat bersih setelah dikurangi medium cair. pada Label wajib pula dicantumkan nama dan alamat pihak yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia (3) Dalam hal pihak yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berbeda dari pihak yang mengedarkannya di dalam wilayah Indonesia. dengan ukuran isi untuk makanan cair.

melabel kembali pangan yang diedarkan b. pada Label pangan olahan yang bersangkutan harus dicantumkan Nomor Pendaftaran Pangan. . mencabut.Pasal 27 (1) Tanggal. (2) Pencantuman tanggal. sesuai dengan jenis dan daya tahan pangan yang bersangkutan. bulan. diperbolehkan untuk hanya mencantumkan bulan dan tahun kedaluwarsa saja. bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan setelah pencatuman tulisan "Baik Digunakan Sebelum". dan terletak pada bagian yang mudah untuk dilihat dan dibaca. Bagian Kesembilan Nomor Pendaftaran Pangan Pasal 30 Dalam rangka peredaran pangan. bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dicantumkan pada Label. (3) Dalam hal produk pangan yang kedaluwarsanya lebih dari 3 (tiga) bulan. mengganti label. baik produksi dalam negeri maupun yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia. dan tahun kedaluwarsa pangan yang diedarkan. bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib dicantumkan secara jelas pada Label. wadah atau kemasan pangan. Pasal 28 Dilarang memperdagangkan pangan yang sudah melampaui tanggal. menukar tanggal. bagi pangan olahan yang wajib didaftarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 29 Setiap orang dilarang : a. menutup. menghapus. Bagian Kesepuluh Keterangan tentang Kode Produksi Pangan Pasal 31 (1) Kode produksi pangan olahan wajib dicantumkan pada Label.

(2) Keterangan tentang kandungan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan dengan urutan : a. maka pada Label untuk pangan tersebut wajib memuat hal-hal berikut : a. dan atau zat gizi lainnya yang ditambahkan b. protein. (3) Jika pelabelan kandungan gizi digunakan pada suatu pangan. wajib ditambahkan vitamin. vitamin. mineral. lemak jenuh. . kolesterol. protein dan karbohidrat b. mineral. dengan perincian berdasarkan jumlah energi yang berasal dari lemak. kandungan energi per takaran saji d.(2) Kode produksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang mutu dan gizi pangan. jumlah keseluruhan karbohidrat. ukuran takaran saji b. sekurang-kurangnya dapat memberikan penjelasan mengenai riwayat produksi pangan yang bersangkutan. dan atau zat gizi lainnya. kandungan lemak per sajian (dalam gram). jumlah sajian per kemasan c. jumlah keseluruhan lemak. gula. jumlah keseluruhan energi. kandungan protein per sajian (dalam gram) e. disertai pernyataan bahwa pangan mengandung vitamin. serat. dan mineral. Bagian Kesebelas Keterangan tentang Kandungan Gizi Pasal 32 (1) Pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada Label wajib dilakukan bagi pangan yang : a. kandungan karbohidrat per sajian ( dalam gram) f.

pada Label cukup dicantumkan keterangan tentang perlakuan iradiasi pada bahan yang diiradiasi tersebut saja. (4) Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilarang. tanggal iradiasi dalam bulan dan tahun. (3) Selain pencatuman tulisan sebagaimana dimaksud ayat (1). (2) Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan mengandung suatu zat gizi lebih unggul dari pada produk pangan yang lain.g. nama negara tempat iradiasi dilakukan. apabila iradiasi tidak dilakukan sendiri oleh pihak yang memproduksi pangan b. nama dan alamat penyelenggara iradiasi. Pasal 33 (1) Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan merupakan sumber suatu zat gizi tidak dilarang sepanjang jumlah zat gizi dalam pangan tersebut sekurangkurangnya 10% lebih banyak dari jumlah kecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji bagi pangan tersebut. wajib dicantumkan tulisan TIDAK BOLEH DIIRADIASI ULANG. persentase dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. (2) Dalam hal pangan yang mengalami perlakuan iradiasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan bahan yang digunakan dalam suatu produk pangan. tujuan iradiasi. . pada Label harus tercantum a. dan apabila tidak boleh diiradiasi ulang. c. Bagian Keduabelas Keterangan Tentang Iradiasi Pangan dan Rekayasa Genetika Pasal 34 (1) Pada Label untuk pangan yang mengalami perlakuan iradiasi wajib dicantumkan tulisan PANGAN IRADIASI. pada Label dapat dicantumkan logo khusus pangan iradiasi.

pada Label cukup dicantumkan keterangan tentang pangan rekayasa genetika pada bahan yang merupakan pangan hasil rekayasa genetika tersebut saja. (3) Selain pencatuman tulisan sebagaimana dimaksud ayat (1). apabila pangan itu mengandung bahan alamiah yang bersangkutan tidak kurang dari kadar minimal yang ditetapkan dalam Standardisasi Nasional Indonesia. (2) Pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah yang telah menjalani proses lanjutan.Pasal 35 (1) Pada Label untuk pangan hasil rekayasa genetika wajib dicantumkan tulisan PANGAN REKAYASA GENETIKA. Pasal 37 Pada Label untuk pangan yang dibuat tanpa menggunakan atau hanya sebagian menggunakan bahan baku alamiah dilarang mencantumkan pernyataan atau keterangan bahwa pangan yang bersangkutan seluruhnya dibuat dari bahan alamiah. pada labelnya wajib diberi keterangan yang menunjukan bahwa bahan yang bersangkutan telah mengalami proses lanjutan. Bagian Keempatbelas Keterangan lain pada Label tentang Pangan Olahan Tertentu Pasal 38 . (2) Dalam hal pangan hasil rekayasa genetika sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan bahan yang digunakan dalam suatu produk pangan. pada Label dapat dicantumkan logo khusus pangan hasil rekayasa genetika Bagian Ketigabelas Keterangan tentang Pangan yang Dibuat dari Bahan Baku Alamiah Pasal 36 (1) Pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah dapat diberi label yang memuat keterangan bahwa pangan itu berasal dari bahan alamiah tersebut.

Bagian Kelimabelas Keterangan tentang Bahan Tambahan Pangan Pasal 43 . Pasal 42 Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. ibu yang sedang hamil atau menyusui. dan atau keterangan lain yang perlu diketahui.Keterangan pada Label tentang pangan olahan yang diperuntukkan bagi bayi. maka pencantuman keterangan dimaksud sekurangkurangnya dilakukan pada wadah atau kemasan Pangan. Pasal 40 Dalam hal mutu suatu pangan tergantung pada cara penyimpanan atau memerlukan cara penyimpanan khusus. wajib dicantumkan keterangan tentang cara penyiapan dan atau penggunaannya dimaksud. wajib memuat keterangan tentang peruntukan. Pasal 39 (1) Pada Label untuk pangan olahan yang memerlukan penyiapan dan atau penggunaannya dengan cara tertentu. cara penggunaan. orang lanjut usia. Pasal 40 dan Pasal 41 ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. termasuk mengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan manusia. anak berumur dibawah lima tahun. maka petunjuk tentang cara penyimpanan harus dicantumkan pada label. orang yang menjalani diet khusus. dan orang yang berpenyakit tertentu. (2) Apabila pencantuman keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mungkin dilakukan pada Label. Pasal 41 Pada Label untuk pangan yang terbuat dari bahan setengah jadi atau bahan jadi. dilarang dimuat keterangan atau pernyataan bahwa pangan tersebut dibuat dari bahan yang segar.

tulisan Bahan Tambahan Pangan b. (2) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara dan persyaratan tentang Label Bahan Tambahan Pangan diatur oleh Menteri Kesehatan. nama golongan Bahan Tambahan Pangan c. . nama Bahan Tambahan Pangan. pada Label untuk Bahan Tambahan Pangan wajib dicantumkan : a. dan atau nomor kode internasional yang dimilikinya.(1) Selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).

Pada ayat (2) tentang “Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya. dan atau di kemasan pangan”. dan pasal 3 ayat (2) tentang informasi yang terdapat pada masing-masing kemasan tersebut. Permen Fox Fruits. Pada kemasan produk Susu cokelat Hilo. tidak mudah luntur atau rusak. b. Produk yang akan di review meliputi Susu Cokelat Hilo. nama produk. Permen Fox Fruits. . tanggal. berat bersih atau isi bersih d. serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca”.BAB III PEMBAHASAN Dalam laporan Teknologi Kemasan Pangan kali ini akan membahas tentang jenis-jenis produk dan informasi kemasan yang ada di pasaran untuk kemudian membandingkan atau me review sesuai dengan peraturan pemerintah RI Nomor 69 tahun 1999. Mie Instant Indomie. di dalam. c. dan tahun kadaluwarsa. Teh celup Sariwangi dan Keripik singkong Qtela. the celup Sariwangi. Pasal 3 ayat (2) tentang “Keterangan sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya. Sehingga 5 jenis kemasan produk diatas sudah sesuai dengan isi peraturan pemerintah RI Nomor 69 tahun 1999 Bab II bagian pertama pasal 2 ayat (1) dan (2). daftar bahan yang digunakan. dan keripik singkong Qtela sudah sesuai dengan peraturan pemerintah RI Nomor 69 tahun 1999 Bab II Label Pangan bagian pertama pasal 2 ayat (1) tentang “Setiap orang yang memproduksi atau menghasilkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan Label pada. Mi Instant Indomie. bulan. a. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia. e.

Setelah melihat jenis kemasan produk diatas dapat diketahui bahwa keterangan label atau produk ditulis dan dicetak dengan jelas menggunakan Bahasa Indonesia kecuali Permen Fox dan Susu Hilo yang menggunakan Bahasa Inggris pada label atau nama produknya. Pasal 16 ayat (2) tentang “Huruf dan angka yang tercantum pada Label harus jelas dan mudah dibaca”. berat bersih dan nama perusahaan yang memproduksi sangat jelas dan tertulis serta label dan informasi yang diumuat disusun secara teratur dan tidak berdesak-desakan. produk pangan yang bersangkutan dapat menggunakan nama jenis produk pangan yang ditetapkan oleh Menteri teknis sepanjang memenuhi persyaratan bagi penggunaan nama jenis produk pangan yang bersangkutan” karena ke 4 jenis kemasan produk yang lain tidak terdapat nomor SNI tetapi terdapat nomor atau kode dari BPOM. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia”. jelas dan dapat mudah dibaca”. tidak berdesak. nama produk. karena pada kemasan mie instan terdapat nomer SNI yang tercantum sedangkan 4 jenis kemasan lain sesuai dengan Pasal 18 ayat (2) tentang “Dalam hal nama jenis produk pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. dapat diberlakukan wajib dengan keputusan Menteri teknis”. bagian utama label sekurang kurangnya memuat: a.desakan. Pasal 13 ayat (1) tentang “Bagian utama label sekurang-kurangnya memuat tulisan tentang keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dengan teratur. berat bersih atau isi bersih. Bagian keempat mengenai Nama Produk Pangan 5 jenis kemasan produk sesuai dengan Pasal 17 ayat (1) tentang “Nama produk pangan harus menunjukkan sifat dan atau keadaan yang sebenarnya”. nama produk. . ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bagian ketiga mengenai Tulisan Pada Label 5 jenis kemasan produk sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah pasal 15 tentang ” Keterangan pada Label. Sedangkan untuk Mi instant Indomie sesuai dengan pasal 17 ayat (2) tentang “Penggunaan nama produk pangan tertentu yang sudah terdapat dalam Standar Nasional Indonesia.Bagian kedua mengenai Bagian Utama Label Pada pasal 12 tentang “Dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (2). c. b. angka Arab dan huruf Latin”. jelas serta mudah untuk dibaca. Sehingga dari isi peraturan pemerintah tersebut dapat dilihat bahwa 5 kemasan produk diatas sesuai karena label.

” Karena kelima jenis kemasan produk tersebut mencantumkan daftar bahan dan informasi gizi secara berurutan dan menggunakan bahan-bahan tambahan yang lazim. kecuali vitamin.” Pasal 25 tentang “Label yang memuat keterangan jumlah takaran saji harus memuat keterangan tentang berat bersih atau isi bersih tiap takaran saji. Bagian ketujuh mengenai Keterangan tentang Nama dan Alamat 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 26 ayat (1) tentang “Nama dan alamat pihak yang memproduksi pangan wajib dicantumkan pada Label. pada Label dapat dicantumkan nama Bahan Tambahan dan kode internasional dimaksud.” Berdasarkan pasal 22 ayat (1) (2) dan (3) hanya The celup Sariwangi yang tidak mencantumkan bahan tambahan makanan karena tidak menggunakan bahan tambahan makanan lain sedangkan 4 produk yang lain sudah sesuai dengan peraturan pemerintah pasal 22 ayat (1) (2) dan (3) karena sudah mencantumkan secara jelas jenis bahan tambahan makanan seperti pewarna dan lain-lain secara jelas sesuai peraturan undang-undang nomor 69 tahun 1999. Pada pasal 22 ayat (1) tentang “Untuk pangan yang mengandung Bahan Tambahan Pangan.” Ayat (3) tentang “Dalam hal Bahan Tambahan Pangan berupa pewarna.Bagian kelima mengenai Keterangan tentang Bahan Yang Digunakan. dengan ukuran berat untuk makanan padat c. dengan ukuran isi atau berat untuk makanan semi padat atau kental. dengan ukuran isi untuk makanan cair b. 5 jenis kemasan produk sesuai dengan pasal 19 ayat (1) tentang “Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan dicantumkan pada Label sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai dari bagian yang terbanyak. kecuali Bahan Tambahan Pangan berupa pewarna. pada Label wajib dicantumkan golongan Bahan Tambahan Pangan.” Dan pasal (2) tentang “Nama yang digunakan bagi bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah nama yang lazim digunakan.” Ayat (2) tentang “Dalam hal Bahan Tambahan Pangan yang digunakan memiliki nama Bahan Tambahan Pangan dan atau kode internasional.” Karena dari ke lima jenis kemasan produk tersebut sudah mencantumkan berat bersih produk dengan sangat jelas. selain pencantuman golongan dan nama Bahan Tambahan Pangan.” Ayat (2) tentang “Dalam hal menyangkut pangan yang . Bagian keenam mengenai Keterangan tentang Berat Bersih atau Isi Bersih Pangan 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 23 tentang “Berat bersih atau isi bersih harus dicantumkan dalam satuan metrik a. mineral dan zat penambah gizi lainnya. pada Label wajib dicantumkan indeks pewarna yang bersangkutan.

Bagian kesepuluh mengenai Keterangan tentang Kode Produksi Pangan . selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Bagian kesembilan mengenai Nomor Pendaftaran Pangan. pada Label wajib pula dicantumkan nama dan alamat pihak yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia” ayat (3) tentang “Dalam hal pihak yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berbeda dari pihak yang mengedarkannya di dalam wilayah Indonesia. sekurang-kurangnya dapat memberikan penjelasan mengenai riwayat produksi pangan . bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib dicantumkan secara jelas pada Label. wadah atau kemasan pangan. pada Label wajib pula dicantumkan nama dan alamat pihak yang mengedarkan tersebut. pada Label pangan olahan yang bersangkutan harus dicantumkan Nomor Pendaftaran Pangan. 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 30 tentang “Dalam rangka peredaran pangan. dan terletak pada bagian yang mudah untuk dilihat dan dibaca. bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan setelah pencatuman tulisan "Baik Digunakan Sebelum". sesuai dengan jenis dan daya tahan pangan yang bersangkutan. bagi pangan olahan yang wajib didaftarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 31 ayat (1) tentang “Kode produksi pangan olahan wajib dicantumkan pada Label.” Dan ayat (2) tentang “Kode produksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).” Dan pasal (2) tentang “Pencantuman tanggal. selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia.” Karena kelima kemasan produk tersebut sudah mencantumkan tanggal kadaluarsa produk pada kemasannya secara jelas. baik produksi dalam negeri maupun yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia.” Karena pada label kemasan produk tersebut sudah jelas tercantum nomor pendaftran makanan seperti pada Mi Instant terdapat nomor makanan dari SNI sedangak keempat kemasan produk yang lain terdapat nomor makanan dari BPOM. Bagian kedelapan mengenai Tanggal Kadaluarsa 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 27 ayat (1) tentang “Tanggal.” Karena dari 5 jenis kemasan produk yang sudah diamati kelimanya sudah mencantumkan secara lengkap dan jelas Nama dan Alamat perusahaan yang memproduksi sehingga sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.

protein. dengan perincian berdasarkan jumlah energi yang berasal dari lemak.” Ayat (2) tentang “Pangan yang dibuat dari bahan baku . f. apabila pangan itu mengandung bahan alamiah yang bersangkutan tidak kurang dari kadar minimal yang ditetapkan dalam Standardisasi Nasional Indonesia. maka pada Label untuk pangan tersebut wajib memuat hal-hal berikut a. persentase dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. vitamin. kandungan protein per sajian (dalam gram). gula. b. dan atau zat gizi lainnya yang ditambahkan. (2) dan (3) karena kelima produk tersebut sudah mencantumkan kandungan gizi secara detail lengkap dan jelas seperti yang terkandung pada pasal bagian kesebelas ini. e.” Dari hasil pengamatan terhadap jenis kemasan produk yang diamati kelima jenis kemasan sudah sesuai dengan pasal 32 ayat (1). protein dan karbohidrat. atau b. ukuran takaran saji. lemak jenuh. b. mineral. kandungan karbohidrat per sajian ( dalam gram). jumlah keseluruhan energi.” Ayat (2) tentang “Keterangan tentang kandungan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan dengan urutan a. serat. Bagian ketiga belas mengenai Keterangan tentang Pangan yang Dibuat dari Bahan Baku Alamiah menunjukkan bahwa 5 jenis kemasan produk telah sesuai dengan pasal 36 ayat (1) tentang “Pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah dapat diberi label yang memuat keterangan bahwa pangan itu berasal dari bahan alamiah tersebut. jumlah sajian per kemasan. wajib ditambahkan vitamin. Bagian kesebelas mengenai Keterangan tentang Kandungan Gizi pasal 32 ayat (1) tentang “Pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada Label wajib dilakukan bagi pangan yang a. dan mineral. dan atau zat gizi lainnya. kandungan energi per takaran saji. jumlah keseluruhan lemak.” Ayat (3) tentang “Jika pelabelan kandungan gizi digunakan pada suatu pangan. mineral.yang bersangkutan. d. kolesterol. c. Bagian kedua belas mengenai Keterangan Tentang Iradiasi Pangan dan Rekayasa Genetika kelima jenis kemasan maupun produk diatas tidak menggunakan cara Iradiasi dan Rekayasa Genetika sehingga tidak perlu mencantumkan tentang keterangan Iradiasi dan rekayasa genetika. disertai pernyataan bahwa pangan mengandung vitamin. kandungan lemak per sajian (dalam gram) g.” Karena 5 jenis kemasan produk tersebut secara lengkap mencantumkan kode produksi dengan diikuti tanggal kadaluarsa. jumlah keseluruhan karbohidrat. dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang mutu dan gizi pangan.

” Karena kelima jenis kemasan produk tersebut telah mencantumkan nama-nama bahan yang dipakai sesuai dengan peraturan yang ada. ibu yang sedang hamil atau menyusui. orang yang menjalani diet khusus. nama Bahan Tambahan Pangan.” Karena pada kemasan produk Susu Hilo dicantumkan keterangan yang tidak diperuntukkan bagi bayi sedangkan pada kemasan produk Teh celup sariwangi dan Mi instan Indomie sesuai dengan pasal 39 ayat (1) tentang “Pada Label untuk pangan olahan yang memerlukan penyiapan dan atau penggunaannya dengan cara tertentu. Bagian Keempat belas mengenai Keterangan lain pada Label tentang Pangan Olahan Tertentu kemasan produk Susu Hilo sesuai dengan pasal 38 tentang “Keterangan pada Label tentang pangan olahan yang diperuntukkan bagi bayi. pada labelnya wajib diberi keterangan yang menunjukan bahwa bahan yang bersangkutan telah mengalami proses lanjutan. wajib dicantumkan keterangan tentang cara penyiapan dan atau penggunaannya dimaksud. Bagian kelima belas mengenai Keterangan tentang Bahan Tambahan Pangan kelima jenis kemasan sudah sesuai dengan pasal 43 ayat (1) tentang “Selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).alamiah yang telah menjalani proses lanjutan.” Karena dari kelima kemasan produk tersebut pada daftar komposisi sudah mencantumkan komposisi bahan tambahan yang digunakan beserta golongan bahan tambahan tersebut. orang lanjut usia. anak berumur dibawah lima tahun. termasuk mengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan manusia. dan orang yang berpenyakit tertentu. dan atau nomor kode internasional yang dimilikinya. Sedangkan kemasan produk permen Fox dan Qtela tidak mencantumkan nama penyajian karena produknya dapat langsung dkonsumsi tanpa perlu ada proses selanjutnya. .” Dan pasal 37 tentang “Pada Label untuk pangan yang dibuat tanpa menggunakan atau hanya sebagian menggunakan bahan baku alamiah dilarang mencantumkan pernyataan atau keterangan bahwa pangan yang bersangkutan seluruhnya dibuat dari bahan alamiah. cara penggunaan. tulisan Bahan Tambahan Pangan b. wajib memuat keterangan tentang peruntukan. dan atau keterangan lain yang perlu diketahui. nama golongan Bahan Tambahan Pangan c.” Karena pada kedua kemasan produk tersebut mencantumkan cara penyajian produk sebelum dikonsumsi dengan jelas dan mudah dipahami. pada Label untuk Bahan Tambahan Pangan wajib dicantumkan: a.

2. 3.1 Kesimpulan Dari data. Kelima jenis kemasan yang sudah di review kemudian dibandingkan dengan peraturan pemerintah nomor 69 tahun 1999 sebagian besar sudah memenuhi aturan yang terdapat pada peraturan pemerintah tersebut. .BAB IV Penutup 4. Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1999 membahas secara detail tentang peraturan label kemasan dan iklan dalam imdustri makanan. hasil dan pembahasan yang telah didapat dapat diperoleh kesimpulan yaitu: 1. Hanya satu kemasan saja yang tercantum dalam SNI sedangkan yang lainnya tercantum pada BPOM.