Anda di halaman 1dari 2

Langkah Penatalaksanaan Syok Kardiogenik

Langkah 1 Tindakan Resusitasi Segera


-

Tujuannya adalah untuk mencegah kerusakan organ, mempertahankan


tekanan arterirata-rata untuk mencegah sekuele neurologi dan ginjal.
Memberikan aliran oksigen, intubasi atau ventilasi harus dilakukan segera
jikaditemukan abnormalitas difusi oksigen.
Dopamin dan noradrenalin (norepinefrin) untuk meningkatkan tekanan arteri
rata-ratadengan hipotensi
Dobutamin dan dopamin dalam dosis sedang untuk keadaan low output
tanpahipotensi yang nyata.
Intra-aortic ballon counterpulsation (IABP) dikerjakan jika tersedia
sebelumtransportasi.
Memonitor gas darah dan memberi tekanan udara positif berkelanjutan jika
adaindikasi.
Memonitor EKG dan mempersiapkan alat defribilator, obat antiaritmia
sepertiamiodaron dan lidokain
Terapi fibrinolitik harus dimulai pada pasien dengan elevasi ST jika
diantisipasiketerlambatan angiografi lebih dari 2 jam.
Pada infark miokard dengan elevasi non ST yang menunggu kateterisasi,
diberikaninhibitor glikoprotein IIb/IIIa

Langkah 2. Menentukan secara dini Anatomi Koroner


Hal ini merupakan langkah penting dalam tatalaksana syok kardiogenik yang
berasal darikegagalan pompa ( pump failure) iskemik yang perdominan. Hipotensi
diatasi segera denganIABP. Syok mempunyai ciri penyakit 2 pembuluh darah
Langkah 3. Melakukan revaskularisasi
Trial SHOCK merekomendasikan CABG emergensi pada pasien left main atau 3
pembuluhdarah besar
Terapi Atrial Flutter:
1. Pada pasien simtomatis dengan atrial flutter yang baru, terapinya kardioversi
elektrik untuk mengembalikan irama sinus.2.
2. Flutter dapat diterminasi dengan stimulasi atrial dengan menggunakan
pacemakersementara atau permanen. Prosedur ini digunakan setelah
pemasangan kabelpacemaker pada tindakan operasi. Selain itu, beberapa
jenis pacemaker dan implantasidefibrilator dapat diprogram jika terjadi atrial
flutter.3.
3. Pasien yang tidak memerlukan tindakan kardioversi segera dapat memulai
terapifarmakologis. Pertama, kecepatan ventrikular diperlambat dengan obat
AV block (beta blocker, CCB, atau digoxin). Setelah efektif diperlambat, dapat
diberi obat yangmemperlambat atau memperpanjang periode refraktori
(class IA, IC, III)

4. Untuk terapi kronik dapat ditangani dengan ablasi kateter. Pada metode ini,
elektrodakateter dimasukkan melalui vena femoralis, melewati inferior vena
cava, danmelakukan lokalisasi dan ablasi pada bagian reentran untuk
menghentikan secarapermanen.