Anda di halaman 1dari 15

Pendahuluan

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas daaerah kepala dan leher yang
terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan
karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%),
laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam presentase rendah.
Berdasarkan data Laboratorium Patologi Anatomik, tumor ganas nasofaring sendiri selalu berada
dalam kedudukan lima besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas serviks uteri,
tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit.1
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel permukaan
(mukosa) nasofaring atau kelenjar yang terdapat pada nasofaring. Telah di ketahui bahawa faktor
genetik, lingkungan dan infeksi virus menjadi penyebab utama terjadi karsinoma nasofaring.
Gejala awal yang sering ditemukan ialah hidung buntu, perdarahan dari hidung, pendengaran
menurun, tinitus dan sakit kepala. Diagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun cukup
sulit dilakukan, karena nasofaring tersembunyi di belakang tabir langit- langit dan terletak di
bawah dasar tengkorak serta berhubungan dengan banyak daerah penting di dalam tengkorak dan
ke lateral maupun ke posterior leher.1,2
Oleh karena letak nasofaring tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli,
seringkali tumor ditemukan terlambat dan mmenyebabkan metastasis ke leher lebih sering
ditemukan sebagai gejala pertama. Sampai saat ini terapi yang memuaskan belum ditemukan.
Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh stadium penderita.1
Untuk dapat berperan dalam pencegahan, deteksi dini, terapi maupun rehabilitasi, dokter
perlu mengetahui seluruh aspeknya, antara lain epidemiologi, etiologi, diagnostic, pemeriksaan
serologi, serta perawatan paliatif pasien yang pengobatannya tidak berhasil baik.

Isi
Anatomi
Nasofaring merupakan suatu rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral
yang secara anatomi termasuk bagian faring. Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung
melalui koana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan
yang sering timbul. Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke supero-anterior dan
terletak di bawah os sfenoid, sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang
retrofaring, fasia pre vertebralis dan otot-otot dinding faring. Pada dinding lateral nasofaring
terdapat orifisium tuba eustasius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus
tubarius, sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba
eustasius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah posterosuperior dari torus tubarius
terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring. Pada atap
nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub mukosa,
dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring umumnya tidak rata. Hal ini
disebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening
yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). 1,2
Epidemiologi
KNF jarang ditemukan di negara-negara barat, tetapi endemik di China. Insidens tertinggi
dilaporkan dari Provinsi Guangdong, Cina Selatan, di mana KNF merupakan keganasan ketiga
yang paling sering terjadi, dengan angka insidens 15-50 per 100000. Ditemukan pula cukup
banyak kasus di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair dan Tunisia, pada orang Eskimo di
Alaska dan Tanah Hijau yang diduga penyebabnya adalah karena mereka memakan makanan
yang di awetkan dalam musim dingin dengan mengunakan bahan pengawet nitrosamine.1
Di Indonesia frekuensi pasien ini hamper merata di setiap daerah. Di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS. Hasan Sadikin Bandung
rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang 25 kasus, Palembang 25 kasus, 15 kasus setahun di Denpasar
dan 11 kasus di Padang dan Bukittinggi.1
Etiologi
2

Sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah Virus
Epstein-Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EB yang cukup
tinggi. Titer ini lebih tinggi dari titer orang sehat, pasien tumor ganas leher dan kepala lainnya,
tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada kelainan nasofaring yang lain sekalipun.
Banyak penyelidikan mengenai perangai dari virus ini dikemukakan, tetapi virus ini
bukan satu-satunya faktor, karena banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan
timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan,
kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit.2
Letak geografis sudah disebutkan diatas, demikian pula faktor rasial. Tumor ini lebih
sering ditemukan pada laki-laki dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti,
mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain-lain.2
Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia, asap sejenis kayu
tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan kebiasaan makan
makanan terlalu panas. Terdapat hubungan antara kadar nikel dalam air minum dan makanan
dengan mortalitas karsinoma nasofaring, sedangkan adanya hubungan dengan keganasan lain
tidak jelas.2
Kebiasaan penduduk Eskimo memakan makanan yang diawetkan (daging dan ikan)
terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya kejadian karsinoma ini. Tentang faktor
genetik telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari pasien karsinoma nasofaring
dengan keganasan pada organ tubuh lain. Suatu contoh terkenal di Cina Selatan, satu keluarga
dengan 49 anggota dari dua generasi didapatkan 9 pasien karsinoma nasofaring dan 1 menderita
tumor ganas payudara. Secara umum didapatkan 10% dari pasien karsinoma nasofaring
menderita keganasan organ lain. Pengaruh genetik terhadap karsinoma nasofaring sedang dalam
pembuktian dengan mempelajari cell-mediated immunity dari virus EB dan tumor associated
antigens pada karsinoma nasofaring. Sebagian besar pasien adalah golongan sosial ekonomi
rendah dan hal ini menyangkut pula dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. Pengaruh
infeksi dapat dilihat dengan menurunnya kejadian malaria akan diikuti oleh menurunnya pula
Limfoma Burkitt, suatu keganasan yang disebabkan oleh virus yang sama.1-3
3

Patofisiologi
Rongga nasofaring diselaputi selapis mukosa epitel tipis, terutama berupa epitel
skuamosa, epitel torak besilia berlapis semu dan epitel transisional. Di dalam lamina propria
mukosa sering terdapat sebukan limfosit, di submukosa terdapat kelenjar serosa dan musinosa.
KNF adalah tumor ganas yang berasal dari epitel yang melapisi nasofaring. Infeksi virus EpsteinBarr dapat menyebabkan KNF. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan
protein-protein laten pada penderita KNF. Pada penderita ini sel yang terinfeksi oleh EBV akan
menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan
kelangsungan virus di dalam sel host. Protein laten ini dapat dipakai sebagai petanda (marker)
dalam mendiagnosa KNF, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP- 2A dan LMP-2B. Dari semua
antigen yang diekspresikan oleh EBV pada KNF, latent membrane protein-1 (LMP-1)
merupakan faktor penting yang berkontribusi dalam pathogenesis KNF sebab LMP-1 ini
menginduksi pertumbuhan selular dan mempengaruhi mekanisme pengontrolan pertumbuhan
seluler. LMP-1 merupakan onkogen viral dari EBV yang mengubah sel fibroblast embrio tikus.
LMP-1 juga diketahui menginduksi reseptor faktor pertumbuhan epidermis dan gen A20 yang
berperan dalam menghentikan apopotosis pada sel epitel yang dimediasi oleh p-53.6. 3-5
Lokasi predileksi KNF adalah dinding lateral nasofaring (terutama di resesu faringeus)
dan dinding superoposterior. Tingkat keganasan KNF tinggi, tumbuh infiltratif, dapat langsung
menginfiltrasi berekspansi ke struktur yang berbatasan: ke atas dapat langsung merusak basis
cranial, juga dapat melalui foramen sfenotik, foramen ovale, foramen spinosum, kanalis karotis
internal atau sinus sphenoid dan selula etmoidal posterior, lubang saluran atau retakan alamiah
menginfiltrasi intracranial, mengenai saraf cranial; ke anterior menyerang rongga nasal, sinus
maksilaris, selula etmoidales anterior, kemudian ke dalam orbita, juga dapat melalui
intrakranium, fisura orbitalis superior atau kanalis pterigoideus, resesus pterigopalatina lalu ke
orbita; ke lateral tumor dapat menginfiltrasi celah parafaring, fossa intratemporal dan kelompok
otot mengunyah; ke posterior menginfiltrasi jaringan lunak prevertebra servikal, vertebra
servikal; ke inferior mengenai orofaring, bahkan laringofaring. 3-5
Manifestasi Klinis

Pada Karsinoma nasofaring metastase ke kelenjar leher dilaporkan sebagai gejala yang
terlihat pada 29 50 %. Jangka waktu antara dirasakan gejala pertama oleh pasien sampai
mendapat pemeriksaan medik dapat berlangsung 3 10 bulan tergantung factor predisposisi dan
yang memperberat.2,3 Gejala karsinoma nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok2-3 :
1. Gejala Hidung
Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung, untuk itu
nasofaring harus diperiksa dengan cermat, kalua perlu nasofaringoskop, karena sering
gejala belum ada sedangkan tumor sudah tumbuh atau tumor tidak tampak karena masih
terdapat di bawah mukosa (creeping tumor)
2. Gejala Telinga
Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor
dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinnitus, rasa
tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia). Tidak jarang pasien
dengan gangguan pendengaran ini baru kemudian disadari bahwa penyebabnya adalah
KNF
3. Gejala Mata dan Saraf
o Gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma ini
dikarenakan posisi anatomi nasofaring yang berhubungan dekat dengan rongga
tengkorak melalui beberapa lubang/foramen. Penjalaran melalui foramen laserum
akan mengenai saraf otak ke II, IV, VI dan dapat pula ke V, sehingga tidak jarang
gejala diplopia lah yang membawa pasien lebih dahulu ke dokter mata. Neuralgia
trigeminal merupakan gejala yang sering ditemukan oleh ahli saraf jika belum
terdapat keluhan lain yang berarti.
o Sebelum terjadi kelumpuhan saraf kranial, didahului oleh gejala subyektif dari
penderita seperti : kepala sakit atau pusing, hipestesia daerah pipi dan hidung,
kadang sulit menelan atau disfagia. Perluasan kanker primer ke dalam kavum kranii
akan menyebabkan kelumpuhan N. II, III, IV, V dan VI akibat kompresi maupun
infiltrasi atau perluasan tumor menembus jaringan sekitar atau juga secara
hematogen. Gejala saraf kranialis meliputi :

Kerusakan N.I bisa terjadi karena karsinoma nasofaring sudah mendesak N.I
melalui foramen olfaktorius pada lamina kribrosa. Penderita akan mengeluh
anosmia,

Sindroma Petrosfenoidal. Pada sindroma ini nervi kranialis yang terlibat


secara berturut-turut adalah N.IV, III, VI dan yang paling akhir mengenai N.II.
Paresis N.II, apabila perluasan kanker mengenai kiasma optikum maka
N.optikus akan lesi sehingga penderita memberikan keluhan penurunan tajam
penglihatan. Paresis N.III menimbulkan kelumpuhan mata m.levator palpebra
dan m.tarsalis superior sehingga menyebabkan oftalmoplegia serta ptosis
bulbi (kelopak mata atas menurun), fissura palpebra menyempit dan kesulitan
membuka mata. Paresis N.III, IV dan VI akan menimbulkan keluhan diplopia

Parese N.V yang merupakan saraf motorik dan sensorik, akan menimbulkan
keluhan parestesi sampai hipestesi pada separuh wajah atau timbul neuralgia
pada separuh wajah

Sindroma parafaring. Proses pertumbuhan dan perluasan lanjut karsinoma,


akan mengenai saraf otak N.kranialis IX, X, XI, dan XII jika penjalaran
melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring.
Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson. Bila sudah mengenai
seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral. Dapat pula disertai dengan
destruksi

tulang

tengkorak

dengan

prognosis

buruk.

Parese

N.IX

menimbulkan gejala klinis : hilangnya refleks muntah, disfagia ringan, deviasi


uvula ke sisi sehat, hilangnya sensasi pada laring, tonsil, bagian atas
tenggorok dan belakang lidah, salivasi meningkat akibat terkenanya pleksus
timpani pada lesi telinga tengah, takikardi pada sebagian lesi N.IX mungkin
akibat gangguan refleks karotikus. Paresis N.X akan memberikan gejala :
gejala motorik (afoni, disfoni, perubahan posisi pita suara, disfagia, spasme
otot esofagus), gejala sensorik (nyeri daerah faring dan laring, dispnea,
hipersalivasi). Parese N.XI akan menimbulkan kesukaran mengangkat dan
memutar kepala dan dagu. Parese N.XII akibat infiltrasi tumor melalui kanalis
n.hipoglossus atau dapat pula karena parese otot-otot yang dipersarafi yaitu
m.stiloglossus, m.longitudinalis superior dan inferior, m.genioglossus (otot6

otot lidah). Gejala yang timbul berupa lidah yang deviasi ke sisi yang lumpuh
saat dijulurkan, suara pelo dan disfagia.
4. Gejala Lanjut
Gejala di leher terjadi jika sudah terjadi metastasis, karena sebelumnya tidak terdapat
keluhan lain. Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat
mencapai kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan
berkembang biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan di leher bagian
samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar akan berkembang dan melekat
pada otot sehingga sulit digerakkan. Gejala-gejala karena metastase melalui aliran getah
bening, dapat ditandai dengan terjadi pembesaran kelenjar leher yang terletak dibawah
ujung planum mastoid, dibelakang angulus mandibula, medial dari ujung bagian atas
m.stornocleido mastoideus, bisa unilateral dan bilateral. Metastase dapat terjadi pada
organ hati, paru-paru, ginjal, limpa, tulang dan sebagainya.
Diagnosis
Persoalan diagnostik sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-Scan daerah
kepala dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan terlalu sulit
ditemukan.1
Diagnosis pasti ditegakan dengan melakukan biopsy nasofaring. Biopsy dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu dari hidung atau dari mulut. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat
jelas tumornya (blind biopsy). Cunam biopsy dimasukkan melalui rongga hidung menyelusuri
konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy.1
Biopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui
hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama-sama
ujung kateter yang hidung. Demikian juga dengan kateter yang dihidung. Demikian juga dengan
kateter dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian dengan kaca
laring dilihat daerah nasofaring. Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsy
dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang
dimasukkan melalui mulut, massa tumor akan terlihat jelas. Biopsy tumor nasofaring umumnya
dilakukan dengan analgesia topical dengan Xylocain 10.1
7

Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan
pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis.1
Histopatologi
Telah disetujui oleh WHO bahwa hanya ada 3 bentuk karsinoma (epidermoid) pada
nasofaring yaitu karsinoma sel squamosal (berkeratinisasi), karsinoma tidak berkeratinisasi dan
kersinoma tidak berdiferensiasi. Semua yang kita kenal selama ini dengan limfoepitelioma, sel
transisional, sel spindle, sel clear, anaplastik dan lain-lain dimasukkan dalam kelompok tidak
berdiferensiasi.
Stadium
Penentuan stadium dilakukan berdasarkan atas kesepakatan antara UICC (Union Internationale
Centre Cancer ) dan AJCC (Americant Joint Committe on Cancer). Untuk karsinoma nasofaring
pembagian TNM adalah sebagai berikut :

T menggambarkan keadaan tumor primer, besar dan perluasannya


T : Tumor primer
T0 : Tidak tampak tumor
T1 : Tumor terbatas pada nasofaring
T2 : Tumor meluas ke orofaring dan atau fossa nasal
T2a : Tanpa perluasan ke parafaring
T2b : Dengan perluasan ke parafaring
T3 : Invasi ke struktur tulang dan atau sinus paranasal
T4 : Tumor meluas ke intrakranial dan atau mengenai syaraf otak, fossa
infratemporal, hipofaring atau orbita

N menggambarkan keadaaan kelenjar limfe regional


N : Pembesaran kelenjar getah bening regional
NX : Pembesaran kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar
N1 : Terdapat pembesaran kelenjar unilateral < 6 cm
N2 : Terdapat pembesaran kelenjar bilateral < 6 cm
8

N3 : Terdapat pembesaran kelenjar > 6 cm atau ekstensi ke supraklavikula


N3a : Ukuran > 6 cm
N3b : Di dalam fossa supraklavikula

M menggambarkan metastase jauh


M : Metastasis jauh
Mx : Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 : Tidak ada metastase jauh
M1 : Terdapat metastase jauh

Berdasarkan TNM tersebut diatas, stadium penyakit dapat ditentukan :


Stadium 0 : T1s, N0, M0
Stadium I : T1, N0, M0
Stadium IIA : T2a, N0, M0
Stadium IIB : T1, N1, M0,
T2a, N1, M0
T2B, N0-1, M0
Stadium III : T1-2, N2, M0
T2a-b, N2, M0
T3, N2, M0
Stadium IVA: T4, N0-2, M0
Stadium IVB: Tiap T, N3, M0
StadiumIV C: Tiap T, Tiap N, M1

Penatalaksanaan
Stadium 1 : Radioterapi
Stadium II & III : Kemoradiasi
Stadium IV dengan N < 6cm : Kemoradiasi
Stadium IV dengan N > 6cm : Kemoterapi dosis penuh dilanjutkan kemoradiasi

Diagnosis Banding

1. Polip Nasal
Polip nasal merupakan lesi abnormal yang berasal dari mukosa nasal atau sinus paranasal.
Polip merupakan hasil akhir dari berbagai proses penyakit di kavum nasi. Polip hidung
mengandung banyak cairan, berwarna putih keabu-abuan. Pada pemeriksaan rinoskopi
anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan
mudah digerakkan.1,2
2. Limfoma Non-Hodgkin
Sering pada pemuda dan remaja, pembesaran kelenjar limfe leher, dapat mengenai banyak
lokasi, secara bersamaan dapat terjadi pembesaran kelenjar limfe naksila, inguinal,
mediastinum, dll. Konsistensi tumor agak lunak dan mudah digerakkan.1,2
3. TB Nasofaring
Umumnya pada orang muda, dapat timbul erosi, ulserasi dangkal atau benjolan
granulomatoid, eksudat permukaan banyak dan kotor, bahkan mengenai seluruh
nasofaring. Khususnya perlu ditegaskan apakah terdapat TB dan kanker bersama-sama,
atau apakah terjadi reaksi tuberkuloid akibat KNF.1,2
4. TB Kelenjar Limfe Leher
Lebih banyak pada pemuda dan remaja. Konsistensi agak keras, dapat melekat dengan
jaringan sekitarnya membentuk massa, kadang terdapat nyeri tekan atau undulasi, pungsi
aspirasi jarum menemukan materi mirip keju.1,2
5. Angiofibroma Nasofaring
Sering ditemukan pada orang muda, pria jauh lebih banyak dari wanita. Dengan
nasofaringoskop tampak permukaan timor licin, warna mukosa menyerupai jaringan
normal, kadang tampak vasodilatasi di permukaannya, konsistensi kenyal padat. Bila
secara klinis dicurigai penyakit ini, biopsi tidak dianjurkan karena mudah terjadi
perdarahan masif. 1,3

Penatalaksanaan
Radioterapi masih merupakan pengobatan utama dan ditekankan pada penggunaan
megavoltage dan pengaturan dengan komputer. Radioterapi merupakan terapi pilihan utama
karena karsinoma nasofaring adalah tumor yang radiosensitif, biaya relatif murah, dan cukup
efektif terutama terhadap tumor yang belum mengadakan invasi ke intrakranial. Tetapi jika
sudah metastase jauh maka radiasi merupakan pengobatan yang bersifat paliatif. Dosis untuk
radioterapi radikal adalah 6000-7000 rad dengan aplikasi radium dalam 7 hari atau 50006000 rad dengan sinar X dalam waktu 5-6 minggu. Untuk terapi paliatif diberikan pada
10

nasofaring dan kelenjar limfe servikal kanan dan kiri. Dosisnya adalah dua pertiga dari dosis
radikal. Evaluasi pasca radiasi diadakan setiap bulan pada tahun pertama, kemudian setiap 3
bulan pada tahun kedua, dan setiap 6 bulan selama 5 tahun. 3-5 Pengobatan tambahan yang
diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon,
kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus.
Semua pengobatan tambahan ini masih dalam pengembangan, sedangkan kemoterapi
masih tetap terbaik sebagai terapi ajuvan (tambahan). Berbagai macam kombinasi
dikembangkan, yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti.
Obat-obatan sitostatika yang direkomendasikan adalah1,2 :
a) Obat tunggal
- Methotrexate, dosis 25 mg / minggu per oral
- Cyclophosphamide, dosis 1 gram / minggu intravena
- Bleomycin, dosis 10 mg / m2 luas permukaan tubuh / minggu im
- 5 Fluorouracil atau 5FU dan Cisplatin
Cisplatin menghambat sintesis DNA dan proliferasi sel dengan jalan membuat rantai
silang pada DNA dan menyebabkan denaturasi helik ganda. 5FU akan menghambat
sintesis timidilat dan juga mempengaruhi fungsi dan sintesi RNA, berpengaruh terhadap
DNA, dan berguna pada pengobatan paliatif pada pasien dengan penyakit yang
progresif.6
b) Obat-obatan ganda
COMP :
Hari I :
Cyclophosphamide 500 mg intravena
Vincristine 1 mg intravena
5 FU 750 mg intravena
Hari VIII : Cyclophosphamide 500 mg intravena
Vincristine 1 mg intravena
Methotrexate 50 mg intravena
Diulang setiap 4 minggu
Methotrexate-Bleomycin-Cisplatin :
Hari I :

Bleomycin 10 mg / m 2 intravena
11

Methotrexate 20 mg / m2 intravena
Diulang setiap 2 minggu sampai 4 kali
Hari II:

CispIatin 80 mg / m2 intravena
Diulang setelah 10 minggu

Harus diperhatikan efek samping dengan cara melakukan kontrol yang baik terhadap
fungsi hemopoitik, fungsi ginjal dan sebagainya. Karena tingginya insiden kerusakan
jaringan regional akibat radioterapi dan juga karena tingginya metastase jauh dari kanker
nasofaring, maka kombinasi modalitas therapi radiasi dan kemotherapi adalah konsep
yang cukup atraktif. Kombinasi ini dapat saling melengkapi atau bahkan sinergis. Ada
beberapa cara untuk kombinasi ini, dimana dapat diberikan secara neoadjuvan
(kemoterapi yang diikuti dengan radiotherapi) atau sebagai adjuvant therapi
(radiotherapi yang diikuti dengan kemoterapi). Kombinasi kemo-radioterapi dengan
mitomycin C dan 5-fluorouracil oral setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat
radiosensitizer memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total
pasien karsinoma nasofaring.5-6
Pemberian anjuvan kemoterapi Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluororacil dengan hasil
sementara yang cukup memuaskan. Demikian pula telah dilakukan penelitian pemberian
kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum, meskipun ada efek samping yang
cukup berat, tetapi memberikan harapan kesembuhan lebih baik. 5,6 Kombinasi kemo-radioterapi
dengan mitomycin C dan 5-fluoroucil oral setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat
radiosensitizer memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total pasien
karsinoma nasofaring.
Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal dilakukan terhadap benjolan di leher yang
tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi
dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan
serologi.6 Operasi tumor induk sisa (residu) atau kambuh (residif) diindikasikan, tetapi sering
timbul komplikasi yang berat akibat operasi.
Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif guna meringankan beban penderita kanker
terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Dikatakan terutama pada yang tidak mungkin
12

disembuhkan karena tindakan ini tidak hanya dilakukan pada penderita yang tidak bisa
disembuhkan tapi dikerjakan juga pada penderita yang masih punya harapan untuk sembuh
bersama-sama dengan tindakan-tindakan atau pengobatan kuratif, dengan maksud untuk
meringankan atau menghilangkan gejala-gejala yang mengganggu atau bahkan memperberat
penderitaan penderita.
Tindakan aktif yang dimaksud adalah antara lain menghilangkan rasa nyeri dan keluhan
keluhan lain, perbaikan dalam aspek psikologi, sosial dan spiritual. Semua ini bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup yang maksimal bagi penderita dan keluarga.5,6
Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. Mulut rasa
kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Tidak
banyak yang dapat dilakukan selain menasihatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah,
membawa minuman kemanapun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa
asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut
karena jamur, rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran, sakit kepala,
kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual.
Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana tumor
tetap ada (residu) atau kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastatis jauh pasca
pengobatan seperti ke tulang, paru, hati, otak. Pada kedua keadaan tersebut di atas tidak banyak
tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtimatis untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien. Pasien akhirnya meninggal akibat keadaan umum yang buruk, perdarahan dari
hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat-alat vital akibat
metastasis tumor.6
Pencegahan
Pemberian vaksinasi dengan vaksin spesifik membran glikoprotein virus Epstein Barr
yang dimurnikan pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko
tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah resiko tinggi ke tempat lainnya.
Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk
mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Penyuluhan mengenai
lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial ekonomi dan berbagai hal yang
berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik IgA anti
VCA dan IgA anti EA secara massal di masa yang akan datang bermanfaat dalam menemukan
karsinoma nasofaring secara lebih dini.4-6
13

Prognosis
Diagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun cukup sulit dilakukan, karena
nasofaring tersembunyi di belakang langit-langit dan terletak di bawah dasar tengkorak serta
berhubungan dengan banyak daerah penting di dalam tengkorak dan ke lateral maupun ke
posterior leher. Oleh karena letak nasofaring tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli,
seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher lebih sering
ditemukan sebagai gejala pertama.4
Perbedaan prognosis (angka bertahan hidup 5 tahun) dari stadium awal dengan stadium
lanjut sangat mencolok, yaitu 76,9% untuk stadium I, 56 % untuk stadium II, 38,4% untuk
stadium III, dan hanya 16,4% untuk stadium IV.3 Tidak seperti keganasan kepala leher yang
lainnya, KNF mempunyai risiko terjadinya rekurensi sehingga follow up jangka panjang
diperlukan. Kekambuhan tersering terjadi kurang dari 5 tahun, 5-15% kekambuhan seringkali
terjadi antara 5-10 tahun. Sehigga pasien KNF perlu difollow-up setidaknya 10 tahun setelah
terapi.4

Penutup
Penyakit karsinoma nasofaring merupakan penyakit keganasan bidang THT,
yang memiliki prognosis yang cukup buruk, dengan insiden cukup tinggi
pada ras tertentu dan banyak ditemukan pada laki-laki usia lanjut. Epstein
barr virus diduga sebagai penyebab utama. Diagnosa ditentukan dengan
melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik yang sesuai , CT scan, dan biopso.
Terapi utama dilakukan dengan radioterapi, dan kemoterapi sebagai
tambahan. Perlu dilakukan

beberapa upaya pencegahan diantaranya

dengan meakukan vaksinasi. Terapi yag dilakukan pada penderita juga harus
di

follow up untuk mengevaluasi keberhasilan terapi yang diakukan.


14

Pencegahan dan terapi dini sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan


kualitas hidup.

Daftar Pustaka
1. Efiaty A. Karsinoma nasofaring. Dalam: Nurbaiti,Jenny,Ratna, editor. Buku ajar ilmu
kesehatan THT kepala & leher Edisi VI. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007; 182-87.
2. Desen W. Tumor kepala dan leher. Dalam: Desen W, editor. Buku ajar onkologi klinis Edisi
II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007; 263-78.
3. Dhingra PL. Disease of Pharynx. Disease of Ear, Nose and Throat 4th edition. New Delhi:
Elsevier, 2007; 223-7, 232-5.
4. Adams GL. Penyakit-penyakit nasofaring dan orofaring. Dalam: Adams, Boies, Higler,
editors. Boies: Buku ajar penyakit THT Edisi VI. Jakarta: EGC, 1997; 320-55.
5. Ballenger JJ. Tumor dan Kista di Muka, Faring, dan Nasofaring. Penyakit Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala dan Leher Edisi 13 Jilid 1.Jakarta: Binarupa Aksara, 1994; 391-6.
6. Kalwani AK. Benign and Malignant Lesions of the Nasopharynx. Current Diagnosis and
Treatment: Otolaryngology Head and Neck Surgery. USA: Mc Graw Hill, 2007; 1-7.

15