Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

WAR, PEACE OR NEUTRALITY: AN OVERVIEW OF ISLAMIC POLITYS


BASIS OF INTER-STATE RELATIONS
Kali ini saya akan me-review bacaan mengenai sudut pandang Islam
terhadap hubungannya, baik dengan sesama negara muslim maupun nonmuslim yang ditulis oleh Muhammad Hanif Hasan. Dasar dari hubungan
internasional dalam Islam dapat ditinjau dari tiga pilihan yang salah
satunya mungkin bisa dijadikan acuan bagi negara Islam tersebut dalam
menjalankan hubungan internasionalnya. Tiga pilihan tersebut ialah
perang, perdamaian, dan netralitas.
Kajian Islam dalam hubungan internasional tidak terlepas dari
tingginya minat para akademisi untuk mempelajari lebih lanjut mengenai
Islam itu sendiri. Berawal dari artikel berjudul Clash of Civilization yang
ditulis oleh Samuel P Huntington, intensitas perdebatan mengenai Islam di
kalangan para akademisi terus meningkat, ditambah lagi dengan
peristiwa 9/11 yang semakin membuat nama Islam menjadi momok
tersendiri bagi non-muslim.
Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai hubungan internasional
dalam Islam, terlebih dahulu kita bahas bagaimana hubungan antara
Islam dan politik. Politik adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. Ada dua
konsep yang membahas keterkaitan antara Islam dan politik, yaitu:
1. Islam adalah jalan hidup yang dimana semua aspek kehidupan
manusia telah diatur didalamnya termasuk politik yang menjadi
bagian dari aspek kehidupan manusia.
2. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi. Maka dari
itu untuk menjalankan roda kehidupan di muka bumi manusia harus
berpedoman pada Al-quran dan Hadist untuk menjalankan
kehidupannya di bumi.
Berdasarkan argumen di atas akademisi klasik mengklasifikan negara
menjadi dua kategori, yaitu:
1. Dar Al-Islam: Dar yang menetapkan hukum Islam sebagai landasan
hukum negaranya, mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah
tersebut, serta penduduknya aman dari ancaman eksternal.
2. Dar Al-Harb: Dar yang tidak menerapkan hukum Islam di wilayahnya
serta warga muslim yang menetap di wilayah tersebut tidak merasa
aman dari ancaman eksternal.
Dalam memahami dasar relasi antara Dar Al-Islam dan non Dar AlIslam dapat ditinjau dari apakah perang, damai, atau netralitas yang
menjadi dasar dari hubungan antara dua entitas politik tersebut. Tingkat
individu menjadi dasar dalam memahami hubungan antara dua entitas
politik ini, karena akademisi percaya bahwa hubungan internasional
adalah perpanjangan tangan dari hubungan individu.
Hubungan dua entitas politik yang didasarkan pada peperangan
dirujuk pada hadist Nabi yang menyebutkan bahwa,Perangilah kaum

musyrik sampai mereka mengucapkanTiada Tuhan selain Allah. Dalam


hal ini jihad dipandang sebagai sebuah keharusan yang harus dilakukan
oleh kaum muslim untuk memerangi orang musyrik sampai Islam tersebar
ke seluruh dunia. Ide inilah yang menjadi awal munculnya kategori Dar AlIslam dan Dar Al-Harb.
Kategori kedua adalah perdamaian yang dijadikan sebagai dasar
hubungan dari dua entitas politik tersebut. Akademisi yang mendukung
kategori ini berpendapat bahwa ayat-ayat jihad yang ditafsirkan oleh para
penganut kategori pertama adalah kesalahan besar. Seharusnya dalam
menafsirkan ayat-ayat tersebut harus saling dikaitkan satu sama lain agar
ditemukan konklusi yang tepat. Para penganut kategori kedua
berpendapat bahwa Al-Quran dan Hadist harus ditafsirkan secara
kondisional agar masalah yang ada pada saat itu dapat diselesaikan
secara damai serta sesuai dengan apa yang diharapkan.
Penganut kategori ini percaya bahwa perang bukanlah hal yang tepat
dalam menyelesaikan permasalahan antara dua entitas politik ini pada
masa modern. Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, cinta, dan
kasih sayang. Dalam Al-Quran sendiri disebutkan bahwa tidak ada
paksaan dalam memeluk agama Islam. Atas dasar dari argumen-argumen
di atas dapat disimpulkan bahwa Islam lebih mengutamakan penyelesaian
masalah dengan cara diplomasi terlebih dahulu dan menjadikan perang
sebagai opsi terakhir apabila opsi-opsi lain mengalami kegagalan.
Walaupun perang menjadi opsi terakhir akan tetapi perlu diperhatikan
bahwa perang dilakukan apabila manfaat yang diperoleh lebih besar
daripada kerugian yang ditimbulkan.
Kategori selanjutnya adalah netralitas yang mengacu pada hukum
internasional saat ini, menyatakan bahwa,Tidak berpihak pada siapapun
dalam perang serta mepertahankan status netralnya dalam berhubungan
dengan pihak yang sedang berperang. Dalam hukum internasional
netralitas dibagi menjadi dua bagian yaitu netralitas permanen serta
netralitas non-permanen dimana suatu negara menyatakan kenetralannya
dalam perang tertentu. Dalam literatur Islam sendiri netralitas tidak
dijelaskan secara rinci seperti peperangan dan perdamaian. Pada
dasarnya akademisi sepakat bahwa netralitas tergantung pada sikap yang
diambil oleh penguasa muslim dengan mempertimbangkan kemaslahatan
umat Islam.
Di akhir tulisannya penulis menjelaskan bahwa sebenarnya dasar dari
hubungan antara Dar Al-Islam dan non Dar Al-Islam yang asli adalah
perdamaian. Perang hanya diperbolehkan saat umat muslim benar-benar
dalam kondisi sangat terdesak dan tidak ada jalan lain yang bisa
ditempuh selain mengobarkan peperangan. Walaupun peperangan
diperbolehkan dalam keadaan tertentu, para pemimpin muslim harus
mempertimbangkan esensi islam yang sangat fundamental yaitu
perdamaian, harmoni, dan toleransi sebelum melakukan peperangan.