Anda di halaman 1dari 7

1.

Terangkan penyebab terjadinya kasus LH :


Jawab :
Secara umum dapat dikemukakan bahwa timbulnya sengketa lingkungan ini adalah
disebabkan beberapa faktor sebagai berikut :
1. Adanya perbuatan manusia atau korporasi yang menimbulkan dampak negatif
yang merusak atau mencemari lingkungan sehingga merugikan bagi anggota
masyarakat atau negara. Kegiatan manusia atau korporasi yang berdampak negatif
ini, diancam dengan berbagai sanksi yakni sanksi administratif, sanksi perdata,
dan sanksi pidana.
2. Adanya kebijaksanaan pemerintah berkenaan dengan pemanfaatan atau
pengalokasian sumber daya tertentu yang tidak atau kurang memperhitungkan
dampak lingkungan yang terjadi. Contoh yang dapat diambil adalah benturan
kepentingan yang terjadi dalam pembukaan lahan baru untuk suatu proyek
terhadap penguasaan hak ulayat oleh indegenous group. Kebijaksanaan yang
dimaksud berkaitan pula dengan keputusan pemerintah di bidang perizinan untuk
kegiatan atau usaha tertentu. Kekeliruan dalam pemberian izin dapat berakibat
fatal terhadap lingkungan. Salah satu instrumen untuk mencegah terjadinya
sengketa lingkungan yang diakibatkan oleh kebikjaksanaan publik ini adalah
dengan mengikuti prosedur ketentuan seperti tercantum dalam PP Nomor 51
Tahun 1993 sebagaimana diperbaiki dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Arndal) serta
peraturan lainnya; dan
3. Lemahnya penegakan hukum. Hal ini berkaitan dengan aspek pengawasan,
pelaporan, dan peradilan. Hal yang penting dicennati adalah peranan penegak
hukum dalam menjalankan tugasnya. Aparat pemerintah yang mengetahui
terjadinya perusakan atau pencemaran lingkungan ini harus tanggap dan
mcnyelesaikannya menurut ketentuan perundang-undangan.
2. Terangkan perbedaan yang jelas antara penyelesaian sengketa lingkungan di luar
pengadilan dengan melalui pengadilan
Jawab :
a. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan
Pcnyelesaian kasus lingkungan di luarpengadilan sering pula disebut Alternative
Dispute Resolution (ADR) yang juga telah dikembangkan di berbagai negara
seperti Amerika, Jepang, Singapura, dan negara Jainnya. Alternative Dispute
Resolution (ADR) sering pula diartikan sebagai alternative to litigation, atau
alternative to adjudication yang dari istilah ini tentu memiliki konsekuensi
tertentu. Dari peristilahan ini mengandung arti bahwa ADR sebagai alternatif
penyelesaian kasus lingkungan dapat meliputi mekanisrne penyelcsaian sengketa
secara musyawarah para pihak yang bersifat konsensual sepcrti halnya mediasi,
konsiliasi, dan negosiasi.
b. Jalur Pengadilan
Penyelesaian kasus lingkungan melalui proses pengadilan udalah upaya terakhir
yang dapat dilakukan setelah kcsepakatan melalui jalur musyawarah tidak
berhasil. Hal ini hanya berlaku untuk perkara administrasi maupun pcrdata,
sedangkan perkara pidana tetap mengikuti prosedur hukum acara pidana.
Ketentuan ini tercautum dalam Pasal 8793 UUPPLH. Pada saat berlakunya

UULH, secara eksplisit menyatakan bahwa bilamana tim yang terdiri atas pihak
penderita atau kuasanya dan unsur pemerintah tidak mencapai kata sepakat dalam
batas waktu tertentu, maka penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan negeri.
Keputusan hakim terutama dalam kasus pidana diharapkan akan sangat
berpengaruh dalarn rangka mengefektifkan sanksi, baik dalam fungsi pereventif
atau reprcsif. Dalam kasus perdata, hakim yang memeriksa dan mengadili perkara
masih diharapkan untuk menjalankan fungsi mediator. Landasan hukumnya
tercantum dalam Pasal 14 ayat (2) UV Pokok Kekuasaan Kehakiman yang
berbunyi : "Ketentuan dalam ayat (I) tidak menutup kemungkinan untuk usaha
penyelesaian perkara perdata secara perdamaian". Dengan demikian hakim dalam
tugas pokoknya untuk memeriksa dan mengadili perkara memiliki dua fungsi
pokok
yaitu berfungsi yudikatif dan mediator. Pada saat berlakunya UUPLH,
dinyatakan bahwa "Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan
hidup di luar pengadilan, gugatan melalui. pengadilan hanya dapat ditcmpuh
apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak
yang bersengketa". Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang
berbeda mengenai suatu sengketa lingkungan hidup untuk menjamin kepastian
hukum".
3. Terangkan apa yang dimaksud dengan environmental mediation dan bagaimanakah
praktek mediasi ini di Amerika Serikat da Kanada serta Jepang. Berikan contoh.
Jawab :
Environmental mediation artinya pemanfaatan mediasi lingkungan. Mediasi
lingkungan adalah suatu bantuan pihak ketiga untuk penyelesaian kasus lingkungan
yang tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.
Mediasi, adalah prosedur yang dilakukan para pihak berdasarkan "itikad baik", dan
selanjutnya mediator menyampaikan pcsan antara para pihak, mengatur pertemuan,
dan pada umumnva melaksanakan komunikasi. Melalui kcbebasan yang dimiliki
mediator dimungkinkan memberikan penyelesaian yang inovatif melalui suatu bentuk
penyelesaian yang tidak dilakukan olch pcngadilan. Keputusan sebagai hasil akhir
perundingan akan diambil sendiri oleh para pihak yang bersengketa.
Di Amerika Serikat dan Kanada, dcmikian juga di Jepang, penyclesaian kasus
lingkungan lebih mengutamakan penggunaan environmental mediation (mediasi
lingkungan) dibanding dengan cara lainnya seperti konsiliasi atau arbitrasi. Pilihan ini
dikaitkan dengan kesederhanaan dalam prosedumya dan kebebasan para pihak untuk
mencntukan pilihan dalarn perundingan, hal apa scbaiknya yang dilakukan untuk
rnengakhiri sengketa dengan bantuan fasilitator (mediator). Karakteristik mcdiasi
lingkungan ini pada prinsipnya adalah: (1) kesukarelaan, (2) persetujuan, dan (3) prosesuya
tidak mengikat. Prinsip penyelesaian secara sukarela ini dimaksudkan agar pada pihak
tidak memaksakan kehendaknya untuk menyelesaikan kasus. Perundingan dilakukan
dengan cara kckeluargaan dan bebas dari prasangka buruk. Persetujuan yang dicapai
mcrupakan hasil dari perundingan yang dilakukan dengan bantuan mediator yang
tidak memihak.

Contoh kasus :
Studi Kasus di PT. Indo Acidatama Chemical Industry dengan Warga
Petani Desa Sroyo Pencemaran lahan pertanian Desa Sroyo disebabkan karena
pembangunan pupuk cair limbah PT. Indo Acidatama Chemical Industry
yang dialirkan ke lahan pertanian milik warga petani.

4. Dalam penegakan hukum lingkungan, beberapa hal perlu diperhatikan antara (1)
perlunya kesamaan persepsi kalangan penegak hukum (2) perapan sanksi hukum (3)
penghitungan kerugian (4) dan peran serta masyarakat. Harap saudara jelaskan
masing2 hal tersebut pada sub (1) s/d (4)
Jawab :
1. Pcrlu Kcsamaan Persepsi
Kalangan penegak hukum hendaknya memiliki kesamaan persepsi terhadap
pemahaman asas, tujuan, dan ruang lingkup perlindungan dao pengelolaan
lingkuogan hidup yang tercantum dalam Pasal 2, 3, dan 4 UUPPLH. Dalam hat
ini perlu diberi perhatian akan makna pembangunan berkelanjutan seperti
dimaksud dalarn Pasal I butir 3 UUPPLH bahwa "pembangunan berkelanjutan
adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup,
sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan
lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan", Pcmbangunan berkelanjutan telah
dijabarkan dalam berbagai ketentuan perundang-undangan untuk. menyelamatkan

sumber daya alam di darat dan di laut. Pembangunan tersebut hendaknya


dilakukan secara berencana untuk menggunakan dan mengelola sumber daya
secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinarnbungan uotuk
meningkatkan mutu hidup. Pembangunan berwawasan lingkungan (menurut
istilah UULH) atau pembangunan bcrkelanjutan (menurut istilah UUPLH dan
UUPPLH) adalah satu tujuan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia yakni
terlaksananya pembangunan untuk. kepentingan generasi sekarang dan
rnendatang.
2. Penerapan Sanksi Hukum
Untuk menciptakan agar anggota masyarakat mematuhi hukum maka diperlukan
sanksi hukum. Sanksi hukum di sini diartikan sebagai : "Sarana untuk melindungi
kepentingan individu atau pun badan (kemerdekaan, jiwa, harta, dan badan)
dengan jalan mengancam hukuman sebagai sanksi terhadap setiap pelanggaran
hukum?". Sanksi ini dipertahankan oleh pemerintah untuk menjadikan anggota
masyarakat mematuhi hukum sebagaimana yang dikehendaki oleh peraturan92
Untuk itu, pembcbanan sanksi terhadap perbuatan seseorang yang melanggar
hukum merupakan sarana utama yang dapat digunakan oleh lembaga kcncgarann
untuk mempcngaruhi pelaksanaan undang-undang,
3. Pcnghituogan Kcrugian Lingkungan
Penghitungan kerugian lingkungan berdasarkan ketentuan yang baku, sudah
waktunya dilakukan agar tercipta kesamaan pcrscpsi dan cara dalam menaksir
suatu kerugian lingkungan yang dituntut olch pihak korban. Kerugian dalam
kasus lingkungan rnengalami perkembangan scjalan dengan perkembangan
teknologi schingga memerlukan dukungan saksi ahli dalam menilai dan
mcnghitung kcrugian lingkungan yang terjadi. Untuk perhitungan kerugian dan
kompensasi lingkungan, pcrlu ada ketentuan baku sehingga ada kepastian untuk
menuntut nilai kcrugian lingkungan hak alas lingkungan yang terjadi. Hakim
dalam
menilai ganti kerugian, memiliki kebebasan untuk mcngamhil
pcrbandingan dalarn menghitung kerugian lingkungan yang tcrjadi di berbagai
negara, mengingat pollutant (bahan pencemar) mcmiliki karakteristik yang sama
atau hampir sama secara keseluruhan.
4. Peran scrta masyarakat
Peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup meliputi pcran individu scbagai
pihak yang dikcnai peraturan dan peran scna kelompok dan organisasi
kemasyarakatan lainnya. Pada saat berlakunya UULH, di situ diatur tentang
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mencakup antara Jain (a) kelompok
profesi,yang berdasarkan profesinya tergerak menangani masalah lingkungan; (b)
kelompok hobi, yang mencintai kehidupan alam dun terdorong untuk
meleslarikannya; (c) kelompok minat, yang berminat untuk berbuat sesuatu bagi
pengembangan lingkungan hidup.
5. Terangkan dasar hukum dan kelembagaan Alternatif Dispute Resolution (ADR)
Jawab :
Dasar Hukum ADR :
1. Hukum Adat

Dalam Hukum Adat, penyelesaian sengketa melalui musyawarah adat/di luar


pengadilan terhadap kasus-kasus yang terjadi sudah dikenal sejak lama dan masih
berlangsung hingga kini pada masyarakat tertentu. Musyawarah Adat di berbagai
tempat (daerah) digunakan sebagai sarana pokok dalam menyelesaikan konflik
yang berlaku baik pelanggaran pcrdata maupun kasus pidana.
2. UU tentang Kekuasaan Kehakiman
'Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
tidak menutup kemungkinan penyelesaian perkara di luar pengadilan. Penjelasan
Pasal 3
ayat (I) undang-undang ini menegaskan bahwa penyelesaian di luar peradilan
dilakukan melalui perdamaian atau arbitrase. Lebih lanjut Pasal 16 undangundang ini antara lain menyatakan bahwa pengadilan wajib mengadili, dan
memutus suatu perkara yang diajukan kepadanya, serta tidak menutup
kemungkinan usaha penyelesaian perkara perdata secara perdamaian.
3 UUPPLH
Di bidang pengelolaan lingkungan hidup, upaya penyelesaian sengketa yang
terjadi telah diatur sejak berJakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pcngelolaan Lingkungann Hidup (UULH).
Ketentuan ini juga diatur dalarn UUPLH sebagai pengganti UULH. Dalam
UULH. ganti kerugian dan biaya pemulihan lingkungan. Pasal 20 ayat (2)
berbunyi: tata cara pengaduan oleh penderita, tata cara penelitian oleh tim
tentang bentuk, jenis, clan besarnya kerugian scrta tata cara penuntutan ganti
kerugian diatur dengan peraturan perundang-undangan .
Lembaga Penyelesaian Sengketa Lingkungan
- Upaya untuk menyelesaikan sengketa dengan bantuan pihak ketiga dimungkinkan
oleh Pasal 86 ayat ( 1) UUPPLH untuk dikembangkan dengan jalan pembentukan
lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup (LPJPSLH) yang
bersifat bebas dan tidak berpihak.
6. Harap Saudara berikan komentar tahap-tahap proses ADR
Jawab :
Tahap-tahap proses ADR
Suatu perundingan diharapkan dapat-menghasilkan kesepakatan yang disetujui
bersama. Untuk itu diperlukan tahapan-tahapan perundingan yang harus dilalui untuk
sampai
kepada tahap akhir yang membuahkan basil positif

7. Terangkan makna pembangunan berwawasan lingkungan dan bagaimana makna


penegakan hukum lingkungan dari segi pendekatan budaya.
Jawab :

Pembangunan hukum lingkungan hidup di Indonesia secara terstruktur telah dimulai


dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang KetcntuanKetentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH). Lima belas tahun
kemudian UULH dicabut dan digantikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), dun sejak tanggal 3 Oktober
diundangkan Undang-Undang Nomor 32 tentang ,. Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UUPPLH) yang mencabut berlakunya UUPLH.
Pembangunan berwawasan lingkungan (menurut istilah UULH) atau pembangunan
bcrkelanjutan (menurut istilah UUPLH dan UUPPLH) adalah satu tujuan pengelolaan
lingkungan hidup di Indonesia yakni terlaksananya pembangunan untuk. kepentingan
generasi sekarang dan rnendatang.