Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Perdagangan internasional terwujud karena adanya kesepakatan antara penjual dan


pembeli yang mereka tuangkan dalam kontrak. Dalam kontrak ini biasanya mereka juga
cantumkan bagaimana cara, sistem atau klausul pembayarannya, pengangkutannya
dan mata uang yang akan dipergunakan.
Sistem pembayaran ini merupakan salah satu hal yang penting dalam transaksi
perdagangan. Dalam transaksi dagang yang sifatnya terbatas di mana penjual dan
pembeli berada dalam wilayah atau tempat yang sama, pembayaran dan penyerahan
barang dapat dilakukan secara langsung. Lain halnya dengan perdagangan
internasional. Para pihak mungkin kurang begitu saling kenal. Domisili mereka
berjauhan.
Dalam perdagangan Internasional, pembeli dan penjual terpisah oleh jarak yang jauh.
Mereka juga acap kali memiliki praktek pembiayaan yang berbeda di masing-masing
negara.
Di samping itu pula, terdapat kepentingan para pihak yang berbeda dalam perdagangan
internasional. Penjual berupaya dan berkepentingan untuk menguasai dan mengontrol
barangnya sampai ia menerima harga yang disepakati dalam kontrak. Selain itu penjual
juga berkepentingan agar pembayaran (proceeds atau dana hasil ekspor) dapat segera
diterimanya tanpa harus menunggu berbulan- bulan lamanya tatkala barangnya masih
dalam perjalanan di kapal (in transit).
Di pihak lain, pembeli berkepentingan untuk tidak segera membayar sejumlah uang
yang dia janjikan sesuai kontrak selama ia belum memeriksa barangnya apakah sesuai
dengan spesifikasi yang dicantumkan dalam kontrak, atau setidaknya ada bukti tertulis
bahwa barangnya telah dikapalkan.
Hal ini berarti menimbulkan kesulitan bagi penjual untuk menentukan cara pembayaran
yang akan digunakan oleh pembeli asing. Demikian juga bagi pembeli mengalami
kesulitan untuk mempercayai reputasi dan integritas penjual asing.
Pertanyaan :
Dalam perdagangan internasional, bagaimana metode pembayaran, mekanisme
pembayaran, pengangkutan, mata uang yang dipergunakan disertai alasannya.

PEMBAHASAN

Pengertian pembayaran internasional adalah pembayaran atas transaksi yang


dilakukan oleh negara-negara yang terlibat dalam perdagangan internasional
berdasarkan kesepakatan yang telah dirundingkan sebelumnya. Pembayaran dalam
perdagangan internasional pada umumnya dilaksanakan melalui bank. Bagi pebisnis,
terutama export import, pengetahuan mengenai cara pembayaran adalah sangat
penting.
A. Metode pembayaran dalam perdagangan internasional yang lazim dipergunakan
adalah :
1.

Advance Payment (Cash in Advance)

2.

Open Account

3.

Consignment

4.

Collection Basis

5.

Letter of Credit

Selain dari jenis-jenis pembayaran tersebut masih banyak cara-cara pembayaran yang
masih dipergunakan seperti barter, barter konsinyasi dan sebagainya sesuai dengan
kesepakatan antara penjual dan pembeli. Cara pembayaran mana yang dipilih
tergantung dari kepercayaan masing-masing pihak terhadap mitra dagangnya,
hubungan serta iklim ekonomi dinegara masing-masing.

B. Mekanisme pembayaran dalam perdagangan internasional :

1. Advance Payment (Pembayaran dimuka)


Pembeli membayar harga barang sebelum barang tersebut diterimanya atau
dikapalkan/ dikirimkan kepadanya. Ini berarti bahwa pembeli pada hakekatnya telah
memberikan kredit kepada penjual (buyers credit), sehingga penjual dengan kredit
tersebut dapat menyiapkan barang yang akan dikirimkannya kepada pembeli.

Setelah barang dikirimkan si penjual mengirim dokumen pengangkutan disertai invoice


yang mencantumkan pembayaran telah dilakukan in advance. Cara ini tentunya sangat
menguntungkan penjual, karena :

Mendapatkan kredit;
Menerima pembayaran atas barang yang dijual;
Tidak ada resiko;

Namun pembeli menanggung resiko yaitu kemungkinan penjual tidak mengirimkan


barang yang telah dibayarnya. Jika hal tersebut terjadi pembeli tidak mempunyai bukti
otentik untuk dapat menuntut penjual melalui pengadilan. pembayaran dilakukan
dengan TT (Telegraphic Transfer) sebelum delivery barang atau dengan kata lain
dimuka.
2. Open Account (Perhitungan kemudian)
Open Account adalah sistem pembayaran dimana belum dilakukan pembayaran apaapa oleh importir kepada eksportir sebelum barang dikapalkan atau tiba dan diterima
importir atau sebelum waktu tertentu yang telah disepakati.

Open Account (sistem rekening terbuka) biasanya terjadi pada pemasaran ekspor
dengan kantor cabang atau perwakilan di luar negeri atau dengan mitra dagang yang
sudah dipercaya. Eksportir setelah melakukan pengapalan barang akan mengirimkan
invoice kepada importir. Dalam invoice tersebut eksportir akan mencantumkan tanggal
dan waktu tertentu kapan importir harus melakukan pembayaran. Sistem Pembayaran
ini dapat terjadi apabila :

Ada kepercayaan penuh antara eksportir dan importir;

Barang-barang dan dokumen akan langsung dikirim kepada pembeli;

Eksportir kelebihan dana;

Eksportir yakin tidak ada peraturan di negara importir yang melarang transfer
pembayaran.

Namun diluar itu Open Account memiliki resiko resiko yang dapat terjadi dalam
sistem pembayaran ini antara lain :

Eksportir tidak mendapat perlindungan apakah importir akan membayar.


Dalam hal importir tidak membayar, eksportir akan kesulitan dalam
membuktikannya di pengadilan karena tidak ada bukti-bukti

Penyelesaian perselisihan akan menimbulkan biaya bagi eksportir.

3. Consignment (Konsinyasi)

Cara pembayaran ini, pembeli menerima barang yang secara hukum masih milik
penjual. Barang tersebut dititipkan ke pembeli untuk dijual. Bila barang tersebut tidak
laku, akan dikembalikan kepada penjual. Dalam hal ini pembeli hanya perlu membayar
jumlah barang yang telah terjual saja. Risiko ada pada penjual karena barang tersebut
baru akan dibayar setelah barang terjual. Bisa juga barang sudah dijual tapi pembeli
tetap tidak membayar uangnya, dengan alasan barang belum terjual.
Untung - rugi pembayaran dengan konsinyasi biasanya Cara ini paling menguntungkan
bagi importir karena tidak perlu modal yang besar untuk menjual barang modal yang
dikeluarkan paling hanya space untuk gudang atau tempat menjualnya, sedangkan bagi
eksportir timbul resiko, antara lain kemungkinan lamanya modal tertahan karena
menunggu sampai terjualnya barang, atau adanya keterlambatan pembayaran walau
barang sudah terjual. Untuk mengurangi resiko, eksportir dapat menggunakan
jasa "bonded warehouse" (entreport) sebagai pihak yang menyimpan barang untuk
dititipkan sampai barang terjual.

4. Collection

Yang dimaksud dengan cara pembayaran "Collection" adalah penagihan pembayaran


dari pembeli dilakukan melalui Bank, yaitu pengiriman dokumen ekspor kepada importir
(tertarik/tertagih/drawee) dengan menggunakan jasa Bank untuk menagih
pembayarannya. Jadi eksportir baru memperoleh pembayaran setelah dananya tertagih
atau dibayar oleh importir.
Untung-rugi cara pembayaran Collection yaitu Cara pembayaran dengan Collection ini
lebih menguntungkan pembeli (importir), karena pemesanan barang tidak diikuti dengan
kewajiban menyetor dana. Bagi eksportir, cara pembayaran ini tidak menguntungkan
karena tidak adanya kepastian pembayaran oleh importir. Walaupun kepemilikan
barang masih tetap ditangan eksportir, resiko yang dihadapi adalah jika importir
menolak melakukan pembayaran / akseptasi meskipun barang dan dokumen sudah
dikirim. Eksportir akan mengalami kesulitan untuk mengurus barang - barang yang
sudah berada di luar negeri. Demikian pula walaupun akseptasi telah dilakukan oleh
importir, masih ada resiko yaitu tidak adanya pembayaran pada saat jatuh tempo jadi
Importir bisa saja membayar dalam waktu yang sangat lama bahkan tidak melakukan
pembayaran apa-apa (fraud) dan tidak mengambil document ekspor pada tempat
Importir melakukan Banking. Hal ini dilakukan oleh pihak-pihak yang telah saling
percaya dan telah menjalin kerjasama dalam jangka waktu yang relatif lama. Cara
pembayaran Collection ini diatur dalam URC (Uniform Rules for Collection) edisi
terakhir.
5. Letter Of Credit
Letter of credit adalah jaminan pembayaran yang diterbitkan oleh bank atas permintaan
buyer, pembayaran dilakukan dengan pencairan letter of credit oleh eksportir pada
bank. Letter of credit dapat berupa kondisi sight (atas unjuk) atau usance (berjangka)
sesuai dengan kesepakatan. Yang membedakan cara ke-5 dengan cara lainnya (1 s/d
4) adalah adanya instrumen L/C yang merupakan jaminan pembayaran yang diterbitkan

oleh bank yang mengakibatkan dari segi cost cara ini akan lebih mahal bagi buyer
ataupun eksportir.
Namun, secara umum akan lebih aman dan lebih terjamin khususnya bagi eksportir
dengan pengecualian cara advance payment secara 100 % yang tentunya paling aman
bagi eksportir (relatif jarang). Yang harus dicermati bila memilih advance payment
adalah berapa jumlah persentase uang muka yang akan dibayar karena sisanya yang
biasanya akan dibayar setelah delivery barang merupakan potensi risiko bagi eksportir.
Cara collection draft kondisi D/P) adalah salah satu pilihan yang relatif aman bagi
eksportir selain dari cara ke-1 atau ke-5 dengan biaya yang relatif murah pula. Akhirakhir ini cara open account juga sudah divariasi dengan menggunakan jaminan bank
dalam bentuk standby letter of credit dengan catatan transaksi dilaksanakan secara
rutin dalam jangka panjang. Cara ini juga patut dipertimbangkan.

C. Pengangkutan dalam perdagangan internasional :


Pengangkutan memiliki fungsi dalam memindahkan barang atau orang dari suatu
tempat ke tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai.
Jadi, peningkatan daya guna dan nilai merupakan tujuan dari pengangkutan, yang
berarti bila daya guna dan nilai barang di tempat baru itu tidak naik, maka
pengangkutan itu merupakan suatu tindakan yang merugikan. Tujuan pengangkutan
yang demikian itu tidak hanya berlaku di dunia perniagaan saja, tetapi juga berlaku di
bidang lainnya, misal: bidang pemerintahan, politik, sosial, pendidikan, Hukum dan
HAM, dan lain-lain.
Menurut Pasal 466 titel VA Buku II KUH Dagang :
Pengangkut adalah orang yang baik karena penggunaan penyediaan kapal menurut
waktu atau penggunaan penyediaan kapal menurut perjalanan, maupun karena
perjanjian lainnya, mengikat diri untuk melaksanakan pengangkutan barang-barang
seluruhnya atau sebagian menyeberang laut
Menurut The Hague Rules artikel I :
Pengangkut adalah termasuk pemilik kapal atau pihak pengguna penyedia kapal
dalam hal kapal di charter yang telah mengadakan perjanjian pengnagkutan
Menurut The Hamburg Rules 1978 pasal 1 ;
Pengangkut (carrier) itu adalah setiap orang untuk siapa atau atas nama siapa
perjanjian pengangkutan barang di laut itu diadakan dengan pihak mereka yang
berkepentingan dengan barang-barang muatan, sedang apa yang diartikan sebagai
pengangkut sesungguhnya (actual carrier) itu ialah mereka yang melaksanakan
pengangkutan barang atau sebagian pengangkutan yang telah dipercayakan padanya
oleh pengangkut (carrier) dan termasuk pula orang lain terhadap siapa pelaksanaanya
telah dipercayakan padanya

Dari pengertian beberapa sumber mengenai pengertian pengangkut maka dapat


disimpulkan bahwa Pengangkut (carrier) tersebut merupakan pihak yang merupakan
perusahaan yang melaksanakan pengangkutan muatan barang dan/atau penumpang
dari pelabuhan muatan ke pelabuhan tujuannya.

Media Pengangkutan dalam Perdagangan Internasional :


Mekanisme pengangkutan barang dalam transaksi perdagangan internasional memiliki
banyak alternatif media pengangkutannya. Dalam praktek perdagangan internasional,
terdapat beberapa alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh eksportir atau penjual
barang untuk mengirim barang-barang yang telah disepakati dalam transaksi
perdagangan internasional.
1.

Jasa Angkutan Laut

Kegiatan operasional pengangkutan laut dijalankan oleh perusahaan pelayaran


samudera (ocean shipping company) yang bertindak sebagai carrier dalam kontrak
pengangkutan laut. Media pengangkutan yang paling sering digunakan dalam
mekanisme transaksi perdagangan internasional adalah media pengangkutan laut
(shipping). Berdasarkan data statistik tahun 2005, diperkirakan sekitar 71% transaksi
perdagangan internasional menggunakan sarana pengangkutan laut. Bila dilihat
berdasarkan data volume/berat barang, maka kurang lebih 96% volume barang dalam
transaksi perdagangan internasional menggunakan sarana pengangkutan laut (Bank
Ekspor Impor Indonesia, 2005). Kelebihan utama dari jasa angkutan laut dibanding
dengan jasa angkutan lainnya dalam pengangkutan internasional terletak pada biaya
yang relatif murah dengan volume barang yang lebih besar.
Berdasarkan pola transportasi yang diterapkan dalam jasa angkutan laut, terdapat
beberapa alternatif sebagai berikut :
Liner, yaitu pola pengangkutan dengan trayek tertentu dan telah ditentukan
waktunya secara reguler. Keberangkatan dan kedatangan kapal telah terjadwal dengan
baik.
Tramper, adalah pola pengangkutan laut yang tidak memiliki trayek dan jadwal
waktu yang jelas (independence services). Sifat jasa pengangkutan mengikuti keinginan
pihak yang mengoperasikan kapal namun disesuaikan dengan pihak yang
mengontrak space muatan kapal.
Charter, adalah pola pengangkutan laut dengan cara menyewa secara penuh hak
pengoperasian kapal. Perjanjian sewa-menyewa antara pemilik kapal dengan pihak
yang mencarternya disebut sebagai charter party.
Kontrak Pengangkutan
Kontrak pengangkutan (contract of carriage atau contract of affreightment) adalah
perikatan antara pengirim (shipper) dengan pihak pengangkut (carrier) untuk

mengangkut barang dari suatu tempat di negara eksportir hingga sampai di suatu
tempat di negara importir. Sebagai bukti adanya perjanjian pengangkutan dan sekaligus
adanya bukti penyerahan barang darishipper kepada carrier maka akan dibuatkan
dokumen bill of lading. Secara umum pihak-pihak yang terlibat dan disebutkan secara
tegas dalam kontrak pengangkutan adalah sebagai berikut:

Carrier.

Yaitu pihak yang memberikan jasa pengangkutan barang atau dengan pengertian lain
adalah pihak yang mengendalikan/mengoperasikan sarana pengangkut untuk tujuan
pengangkutan barang. Jasa pengangkutan barang tersebut dapat berupa jasa publik
(common carrier) dengan pengertian bahwa carrier dapat menerima muatan darisiapa
saja atau jasa pengangkutan yang bersifat khusus (private carrier)artinya bahwa sarana
pengangkut secara penuh telah disewa olehshipper, khusus untuk mengangkut barangbarang milik shipper saja.

Shipper.

Kedudukan shipper dalam kontrak pengangkutan adalah sebagai pihak yang


mengontrak carrier untuk mengangkut barang dari suatu tempat di negaranya hingga
sampai di tempat tujuan. Berkaitan dengan kontrak perdagangan (sales contract) maka
posisi shipper adalah sebagai penjual (eksportir) sehingga kewajibannya adalah
mengirimkan barang yang diperjualbelikan kepada pembeli (importir).

Consignee.

Adalah pihak yang ditunjuk oleh shipper untuk menerima barang yang diangkut di
pelabuhan tujuan. Mekanisme penunjukan consignee dalam kontrak pengangkutan
dapat berupa penunjukan langsung, artinya bahwa nama dan alamat perusahaan yang
berhak menerima barang telah dicantumkan di dalam B/L. Kemudian cara kedua adalah
dengan menyebutkan consignee dengan klausul to order artinya bahwashipper akan
memberikan instruksi pengapalan (shipping instruction) yang akan di-endorse kepada
pihak mana barang tersebut nantinya harus diserahkan oleh carrier.

Notify Party

Adalah pihak yang ditunjuk shippers dalam B/L sebagai pihak yang harus diberitahukan
oleh carrier setelah barang tiba di pelabuhan tujuan, lazimnya atas permintaan
importir. Notify party bukan bertindak sebagai penerima barang namun memiliki
keterkaitan dengan pihak importir. Kondisi ini biasanya diberlakukan terhadap B/L yang
bersifatnegotiable, artinya bahwa importir mengalihkan kepemilikan barang kepada
pihak lain, dan untuk hal tersebut importir hanya
akan bertindak
sebagai notify party dalam kontrak pengangkutan.
Shipping Instruction
Setelah shipper mendapat kepastian mengenai terms of payment yang telah disepakati
dalam sales contract maka shipper berkewajiban untuk melakukan pengiriman barang.

Untuk itu shipper akan menghubungi perusahaan jasa angkutan (carrier) untuk
dibukakan kontrak pengangkutan barang. Pihak carrier hanya berkepentingan dalam
hal pengaturan jadwal keberangkatan sarana pengangkut dan besarnya ongkos angkut
yang akan dikenakan. Oleh karenanya agar kontrak pengangkutan dapat segera
disusun maka shipper akan mengeluarkan instruksi dan sekaligus informasi mengenai
pengiriman barang. Dokumen inilah yang disebut sebagaishipping instruction (SI).
Bill of Lading
Bill of lading (B/L) adalah dokumen pengangkutan barang yang dikirim melalui sarana
pengangkutan laut. Istilah lengkap untuk B/L adalah MarineBill of Lading atau Ocean
Bill of Lading, yang diterbitkan oleh maskapai pelayaran (carrier) atau agen kapal
sebagai bukti telah diterimanya barang untuk dikirimkan kepada penerima di luar
negeri. Dalam bahasa Indonesia istilah B/L dikenal dengan nama konosemen.
Fungsi Bill of Lading :

Sebagai bukti penerimaan barang (documents of receipt); pengertiannya adalah B/L


merupakan bukti sah bahwa barang-barang yang akan dikapalkan telah diterima
oleh carrier dari pengirim barang yang selanjutnya akan dikirim dan
diserahterimakan kepada penerima di luar negeri.

Sebagai bukti adanya kontrak pengangkutan dan penyerahan barang (carriage


contract). B/L merupakan dokumen perikatan antara pihak pengirim barang (shipper)
dengan pengangkut (carrier).

Sebagai bukti kepemilikan barang (document of title); pemegang dokumen asli B/L
atau pihak yang ditunjuk sebagai consignee merupakan pihak yang secara sah
memiliki hak untuk penguasaan barang.

Jumlah set lengkap Bill of Lading


Jumlah set lengkap bill of lading yang diterbitkan oleh maskapai pelayaran biasanya
sebanyak tiga lembar asli yang ditandatangani dan diberikan cap negotiable copies
oleh carrier. Ketiga lembar asli inilah yang disebut sebagai full set dan berlaku klausul
one for all and all for one, pengertiannya adalah bahwa apabila salah satu lembar asli
telah dipergunakan untuk mengklaim barang/ telah ditukar dengan delivery order, maka
2 lembar asli lainnya tidak berfungsi lagi. Ketiga lembar asli tersebut peruntukannya
adalah 1 (satu) lembar untuk shipper dan 2 (dua) lembar lainnya untuk consignee.
Stowage Plan
Stowage plan merupakan suatu diagram yang menggambarkan penempatan cargo
atau kontainer di ruang muatan (palka-palka kapal) agar di pelabuhan tujuan kegiatan
bongkar muat barang dapat berjalan dengan baik. Stowage plan dibuat berdasarkan
denah yang telah tersedia untuk masingmasing kapal, sesuai dengan karakteristik
ruang muatan setiap kapal selain itu berguna untuk memperlihatkan kedudukan posisi

muatan, jenis muatan, yang berada pada masing-masing pelabuhan muat dan
pelabuhan tujuan.

2.

Jasa Angkutan Udara

Jasa angkutan udara walaupun porsinya tidak sebesar jasa angkutan laut, namun
kehadirannya sangat dibutuhkan para pelaku perdagangan. Kelebihan utama jasa
angkutan udara dibanding jasa angkutan lainnya adalah dalam hal efisiensi waktu.
Sebagian besar pengguna jasa angkutan cargo udara adalah user yang berkepentingan
terhadap kecepatan waktu sampainya barang ke tangan pembeli. Meskipun untuk
pencapaian tersebut dibutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibanding jasa angkutan
lainnya. Jenis barang yang dikirim pada umumnya adalah barang-barang yang bersifat
perishable (tidak tahan lama), bernilai tinggi (expensive goods), atau barang-barang
yang peka waktu (koran, majalah, dan sebagainya). Dalam kontrak pengangkutan
udara, pola transportasi yang digunakan dapat bersifat reguler maupun charter. Pola
reguler digunakan terhadap maskapai penerbangan yang telah memiliki rute tertentu
dan jadwal penerbangan yang reguler. Pola charter digunakan apabila sifat kontrak
adalah secara menyeluruh (borongan).
Secara umum angkutan udara dapat dikategorikan seabagai berikut :
1.

Passenger Aircraft, barang disimpan di lower deck

2.

All Cargo Aircraft, angkutan udara yang khusus mengangkut cargo

3.
Mixed / Combined Airfreight, kapal terbang yang dapat membawa cargo/
passenger pada main deck.
Konvensi Internasional mengenai angkutan udara, yaitu :

Warsawa Convention 1929

The Hague Protocol 1956

Guadalajara Convention 1961

Nibtreak Convention Protovol 1975

Pada dasarnya konvensi internasional tersebut membahas mengenai tanggungjawab


pengangkutan udara , yaitu :
Periode ditetapkannya
Tanggung jawab atas kerusakan, keterlambatan
Jika ada kerusakan mengadu paling lambat 14 hari dan keterlambatan paling lambat
21 hari setelah kapal tiba

Hilang, rusak dan keterlambatan, tanggung jawab terbatas 17 SDR per kg


Periode claim 2 tahun setelah kapal tiba.
Dokumen-dokumen angkutan udara :
Airway Bill (AWB)
Atas kontrak pengangkutan melalui sarana transportasi udara, shipper
akan menerima dokumen pengangkutan berupa airway bill. Berbeda dengan fungsi B/L,
fungsi airway bill bukanlah sebagai dokumen kepemilikan (document of tittle). Oleh
karena itu setiap penerbitan airway billselalu diberikan klausul non-negotiable, yang
artinya bahwa dokumen tersebut tidak dapat diperjualbelikan.
Dokumen airway bill umumnya diterbitkan dalam rangkap 3 yang diperuntukan bagi
pengirim (consignor), maskapai penerbangan dan penerima (consignee).
Lembar airway bill yang harus ditandatangani oleh consignor adalah lembar untuk
maskapai penerbangan dan lembar untuk consignee. Untuk lembar bagi consignee,
maka cara pengirimannya adalah on board atau diikutsertakan bersama-sama dengan
barangnya. Dalam jasa angkutan udara terdapat suatu asosiasi pengangkutan udara
yang dikenal sebagaiInternational Air Transport Association (IATA), yang anggotanya
adalah maskapai-maskapai penerbangan. Asosiasi ini bertujuan untuk membantu
menciptakan persaingan yang sehat dan untuk mencapai keseragaman dalam
penetapan harga. Disamping hal tersebut, para anggota IATA diberikan kelonggaran
untuk saling mengkonsultasikan harga/freight angkutan cargo udara.

Master AWB / House AWB

Shipping Instruction

Commercial Invoice

Shippers Declaration of Dangerous Cargo

Shippers Certificate for Arms and Ammunition

Special Cargo

Live animal

Dangerous cargo

Valuable cargo

Barang-barang yang memerlukan special handling :


1. alat-alat kesehatan khusus
2. alat-alat berbahaya
3. pathological specimen

4. air mail
5. barang cepat rusak
6. barang mudah rusak
7. mayat
Uang tambang untuk angkutan udara (air freight) didasarkan pada perhitungan berat
dalam kilogram atau berat volume (voleme weight) tergantung mana yang lebih besar.
Contoh : - Berat ditimbang
- Volumetric weight
- Dikalkulasikan : P x L x T cm
6000
0,6 cm atau lebih dibulatkan jadi 1 cm, kurang dari 0,6 cm dihapus
3.

Jasa Angkutan Darat

Jasa angkutan perdagangan lintas negara yang melalui jalur darat hanya dimiliki oleh
negara negara yang berbatasan darat dengan negara-negara lainnya. Contoh wilayah
yang memiliki batas darat dan sering melakukan pertukaran perdagangan lewat jalur
darat adalah negara-negara di wilayah Asia Tengah dan Eropa. Sarana transportasi
yang tersedia dan umum dipakai dalam angkutan darat adalah jasa kereta api (railway
company) dan jasa perusahaan truk (trucking company). Atas penyerahan muatan
cargo kepada perusahaan angkutan kereta api, maka dokumen yang diterbitkan
adalah consignment note (surat angkutan kereta api).
Railway Consignment Note
Pengangkutan barang melaui sarana kereta api lazim dilakukan di negara-negara yang
telah memiliki akses langsung railway (contoh : di Eropa). Atas penyerahan barang
untuk diangkut melalui kereta api, eksportir akan menerima surat angkutan kereta api
yang lazim disebut sebagai consignment note. Struktur dokumen ini minimal harus
menyebutkan nama stasiun pemberangkatan, tujuan, nama pengirim barang, nama
penerima barang dan deskripsi singkat barang yang diangkut serta harus dicap oleh
perusahaan pengangkutan kereta api yang bersangkutan.
4.

Jasa Angkutan Multimodal / Intermodal

Definisi angkutan Multimodal berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008


adalah angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit dua moda angkutan yang
berbeda atas dasar satu kontrak pengangkutan, yang menggunakan dokumen
angkutan multimoda dari satu tempat diterimanya barang oleh operator angkutan
multimoda ke suatu tempat yang ditentukan untuk penyerahan barang tersebut. Secara
sederhana dapat dijelaskan bahwa kontrak angkutan multimoda menyangkut

pengangkutan barang ekspor atau impor dari suatu tempat ke tempat lain di dalam
negeri, kemudian akan dilanjutkan dengan pemindahan (transhipment) dengan sarana
pengangkut laut ke luar negeri.
Penerapan Sistem Transportasi Intermoda (STI) di negara-negara maju tumbuh
dengan pesat sejalan dengan peningkatan penggunaan peti kemas, dengan standar
ISO (International Standard Organisation) yang dirasakan dapat memberikan berbagai
keuntungan antara lain mengurangi waktu pada titik transhipment, pelaksanaan
pengangkutan relatif cepat, mengurangi keruwetan formalitas dan dokumentasi,
memerlukan hanya satu agen/ operator, penghematan biaya, sehingga dapat menekan
harga barang serta meningkatkan daya saing.
Meskipun transportasi intermoda telah berkembang dengan pesat di negara maju,
namun dari aspek pengaturan legalitas sesungguhnya negara-negara tersebut belum
memberlakukan The International Multimodal Transport Convention of Goods dari PBB,
melainkan masih menggunakan peraturan-peraturan yang ditetapkan asosiasi atau
lembaga swasta, antara lain International Chamber of Commerce (ICC) dan Federation
International des Associations de Transitaires et Assimiks (FIATA).
Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia pertumbuhan angkutan
intermoda masih relatif lamban. Hal ini disebabkan antara lain oleh keadaan/ tingkat
kemajuan ekonomi negara, pembatasan operator asing dan keperluan investor besar
dengan standar internasional. Khusus di Indonesia, dalam 10 tahun terakhir telah mulai
tampak berkembang pengangkutan untuk ekspor dan impor dengan menggunakan peti
kemas, yang merupakan bentuk penerapan awal STI.
Perkembangan lanjut penerapan sistem ini di Indonesia masih relatif lamban antara lain
karena belum adanya dukungan legalitas yang memadai , dimana sampai saat ini
belum ada peraturan perundang-undangan nasional yang mengatur pengangkutan
intermoda.
Di samping itu dewasa ini masih ada berbagai pembatasan terhadapfreight
forwarder atau multimodal transpor operator (MTO) asing, sehingga perusahaan
Indonesia dalam bidang ini juga masih relatif sulit untuk bekerja sama dengan pihak
asing
tersebut.
Transportasi
intermoda
yang
dilakukan
oleh
Freight
Forwarder/perusahaan jasa pengurusan transportasi nasional selama ini hanya
berdasarkan pada ketentuan KUHD, KEPMENHUB No. KM 10/1988 dan ketentuan
internasional yang belum diratifikasi.
Ada beberapa istilah yang sering digunakan dalam intermodal transport :
1. Multimodal Transport Opertaion
2. Thorugh Transport
3. Combined Transport
4. Integrated Transport

5. Door To Door Transport


6. Angkutan Terpadu
7. House to House Transport
Keuntungan digunakannya Intermodal Transport :
1. Mengurangi waktu terbuang di tempat-tempat transhipment
2. Menghasilkan transit time pendek
3. Mengurangi penggunaan dokumen
4. Mengurangi cost
5. Penanggung jawab angkutan hanya 1 tangan
6. Mengurangi biaya-biaya ekspor
Tipe-tipe operasional Intermodal :
1. Sea / Air
2. Air / Road
3. Rail / Road / Inland Waterways Sea atau Rail / Road / Inland Waterways
4. Mini Bridge
5. Land Bridge
6. Piggyback
7. Sea Train
Tipe-tipe operator Intermodal :
1. Vessel Operating Intermodal Transport Operators
2. Non Vessel Operating Intermodal Transport Operators
Ruang lingkup Pelayanan Intermodal :
1. FCL
2. LCL
3. CFS
4. Consolidation
5. Booking Space
6. Container Yards

7. Liasion with customs


8. Insurance coverage
9. Return of Leased Containers
10.Communication
Jenis Dokumen yang diperlukan dalam jasa angkutan intermodal:
1. COMBIDOC : berdasarkan Baltic and International Maritime Conference(BIMCO)
2. FIATA : Combined Transport Bill of Loading (FBL)
3. MULTIDOC : dibuat UNCTAD (PBB)

D. Mata uang dalam perdagangan internasional :


Valas adalah alat pembayaran Perdagangan Internasional, Perdagangan Internasional
tidak sama dengan perdagangan biasa, salah satu perbedaannya adalah alat
pembayaran yang digunakannya. Kalau perdagangan biasa di dalam suatu negara, alat
pembayarannya adalah uang negara tersebut, sedangkan perdagangan internasional
menggunakan alat pembayaran berupa Valas atau valuta asing atau forex atau foreign
exchange.
Valuta asing atau valas merupakan alat pembayaran yang digunakan dalam transaksi
perdagangan internasional. Adapun wujud dari valuta asing berupa mata uang asing.
Tidak setiap mata uang asing dapat dipakai langsung untuk membayar transaksi
perdagangan internasional, tetapi harus ditukarkan terlebih dahulu dengan mata uang
yang
berlaku
secara
internasional.
Mata uang yang sering digunakan dan berlaku sebagai alat pembayaran dalam
transaksi kauangan dan perdagangan internasional disebut hard currency, yaitu mata
uang yang nilainya kuat dan relatif stabil serta mengalami apresiasi atau kenaikan nilai
terhadap mata uang lain. Contoh dari hard currency adalah mata uang-mata uang dari
negara-negara maju seperti dollar Amerika, yen Jepang dan euro. Sedangkan mata
uang yang nilainya lemah dan relatif kurang stabil nilainya serta jarang digunakan
sebagai alat pembayaran dalam transaksi perdagangan internasional disebut soft
currency. Mata uang yang termasuk soft currency ini sering megalami depresiasi atau
penurunan nilai mata uang terhadap mata uang lain. Contoh mata uang yang soft
currency adalah mata uang dari negara-negara berkembang seperti rupiah Indonesia,
kyat Myanmar, kina PapuaNugini, dong Vietnam, peso Filipina dan bath Thailand. Bagi
para importir Indonesia yang mau membayar impor barang dari luar negari harus
menukar mata uang rupiah terlebih dahulu di bursa valuta asing atau Money
Changer dengan mata uang yang hard currency seperti dollar Amerika sesuai dengan
nilai kurs yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Burton Simatupang Richard, Aspek Hukum Dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta 1996
Depdikas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. Balan Pustaka, Jakarta, 1994.
Friedman, Jack. P, Dictionary of Business Term. New York, USA, Barons Educational
Services, Inc, 1987:66
Fuadi Munir, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern Di Era Global, Citra
Adytya Bakti, Bandung 2002.
Nurani.nina, Hukum Bisnis Suatu Pengantar, Insan Mandiri, Bandung 2009