Anda di halaman 1dari 6

KOMENTARI PASAL dari PASAL 291 PASAL 300

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN


2008
TENTANG
PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,
DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN
RAKYAT DAERAH

Pasal 291
Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan
suara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 (dua puluh
empat) bulan dan paling lama 60 (enam puluh) bulan dan denda
paling sedikit Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) dan
paling banyak Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
Komentar: Saya setuju dengan Pasal 291 dimana memang
seharusnya setiap orang berhak dengan hak suaranya, jadi tidak
boleh

ada

seorang

atau

sekelompok

pun

yang

berhak

menggagalkan suatu pemungutan suara.


Pasal 292
Seorang
kepada

majikan/atasan
seorang

pemungutan

pekerja

suara,

yang

tidak

untuk

kecuali

memberikan

memberikan

dengan

alasan

kesempatan

suaranya
bahwa

pada

pekerjaan

tersebut tidak bisa ditinggalkan, dipidana dengan pidana penjara


paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan
dan denda paling sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan
paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Komentar: Menurut saya setiap orang berhak atas hak nya


termasuk hak atas memberikan suaranya dalam pemungutan suara
walaupun orang tersebut dalam posisi sebagai pegawai/karyawan.
Jadi tidak ada seorangpun yang bisa melarang hak tersebut
walaupun orang tersebut itu adalah majikan/atasannya.
Pasal 293
Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan
hasil pemungutan suara yang sudah disegel, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama
36

(tiga

puluh

enam)

bulan

dan

denda

paling

sedikit

Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan paling banyak


Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).
Komentar: Menurut saya orang yang dengan sengaja merusak
atau menghilangkan hasil pemungutan suara memang sepantasnya
di pidana sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 293, karena
hasil pemungutan suara yang sudah di segel adalah hak suara
seseorang yang telah memberikan hak suaranya jadi tidak boleh
dengan sengaja dirusak maupun dihilangkan oleh siapapun yang
ingin berbuat curang.
Pasal 294
Ketua dan anggota KPPS/KPPSLN yang dengan sengaja tidak
memberikan surat suara pengganti hanya satu kali kepada pemilih
yang menerima surat suara yang rusak dan tidak mencatat surat
suara yang rusak dalam berita acara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 155 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling
sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan paling banyak
Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Komentar: Menurut saya ketua dan anggota KPPS/KPPSLN memang


seharusnya menyediakan atau memberikan surat suara pengganti
kepada pemilih suara untuk menjaga-jaga jika ada surat suara yang
rusak atau tidak layak dipakai, karena jika surat suara rusak maka
hak suara seseorang dianggap tidak sah.
Pasal 295
Setiap orang yang bertugas membantu pemilih yang dengan
sengaja

memberitahukan

pilihan

pemilih

kepada

orang

lain

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (2), dipidana dengan


pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 12 (dua
belas) bulan dan denda paling sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta
rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
Komentar: Menurut saya bagi orang yang bertugas membantu
pemilih tidak boleh memberitahukan pilihan pemilih kepada orang
lain dengan sengaja maupun tidak sengaja, karena pilihan pemilih
tersebut adalah hak suara si pemilih yang tidak boleh diberitahu
kepada orang lain.
Pasal 296
(1) Dalam hal KPU kabupaten/kota tidak menetapkan pemungutan
suara ulang di TPS sementara persyaratan dalam Undang-Undang
ini telah terpenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220 ayat (2),
anggota KPU kabupaten/kota dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan
dan denda paling sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan
paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).
Komentar: Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220 ayat (2),
anggota KPU kabupaten/kota harus dilaksanakan pemungutan suara
ulang di TPS untuk jaga-jaga jika ada salah satu pihak yang
melakukan kecurangan.

(2)

Ketua

dan

anggota

KPPS

yang

dengan

sengaja

tidak

melaksanakan ketetapan KPU kabupaten/kota untuk melaksanakan


pemungutan suara ulang di TPS dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan
dan denda paling sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan
paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
Komentar: Saya setuju dengan Pasal 296 ayat (2), siapapun yang
dengan sengaja tidak melaksanakan ketetapan KPU kabupaten/kota
untuk melaksanakan pemungutan suara ulang di TPS harus dipidana
walaupun

itu

ketua

maupun

anggota

KPPS.

Karena

untuk

menghindari kecurangan dari salah satu pihak calon maupun


penyelenggara.
Pasal 297
Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau
hilangnya berita acara pemungutan dan penghitungan suara dan
sertifikat hasil penghitungan suara yang sudah disegel, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan
paling lama 60 (enam puluh) bulan dan denda paling sedikit
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Komentar: Menurut saya bagi orang yang ditugaskan untuk
menjaga berita acara pemungutan dan penghitungan suara dan
sertifikat hasil penghitungan suara yang sudah disegel, harus
melaksanakan tugasnya dengan baik dan tidak ceroboh, karena
dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Pasal 298
Setiap orang yang dengan sengaja mengubah berita acara hasil
penghitungan suara dan/atau sertifikat hasil penghitungan suara,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan

dan paling lama 60 (enam puluh) bulan dan denda paling sedikit
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Komentar: Menurut saya setiap orang tidak berhak mengubah
berita acara hasil penghitungan suara dan/atau sertifikat hasil
penghitungan suara dengan sengaja maupun tidak sengaja, karena
dapat menimbulkan suatu hal kecurangan yang dilakukan oleh
oknum-oknum yang tidak jujur.
Pasal 299
(1) Anggota KPU, KPU provinsi, KPU kabupaten/kota, dan PPK yang
karena kelalaiannya mengakibatkan hilang atau berubahnya berita
acara hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara dan/atau
sertifikat penghitungan suara, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan
dan denda paling sedikit Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan
paling banyak Rp12.000.000,00 (duabelas juta rupiah).
Komentar:

Seharusnya

anggota

KPU,

KPU

provinsi,

KPU

kabupaten/kota, dan PPK melaksanakan tugasnya dengan baik dan


teliti supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti hilang
atau berubahnya berita acara hasil rekapitulasi penghitungan
perolehan suara dan/atau sertifikat penghitungan suara.
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan karena kesengajaan, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 24 (dua puluh
empat) bulan dan denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas
juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat
juta rupiah).
Komentar: Menurut saya bagi anggota KPU, KPU provinsi, KPU
kabupaten/kota,

dan

PPK

yang

dengan

sengaja

lalai

yang

mengakibatkan
rekapitulasi

hilang

atau

penghitungan

berubahnya

perolehan

berita

suara

acara

dan/atau

hasil

sertifikat

penghitungan suara memang pantas dipidana sesuai dengan Pasal


299

ayat(2),

karena

anggota

KPU,

KPU

provinsi,

KPU

kabupaten/kota, dan PPK secara tidak langsung telah hak suara


seseorang untuk memilih pilihan mereka masing-masing.
Pasal 300
Setiap orang yang dengan sengaja merusak, mengganggu, atau
mendistorsi sistem informasi penghitungan suara hasil Pemilu,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 60 (enam puluh)
bulan dan paling lama 120 (seratus dua puluh) bulan dan denda
paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Komentar: Menurut saya tidak ada seorangpun yang dengan
sengaja merusak, mengganggu, atau mendistorsi sistem informasi
penghitungan suara hasil Pemilu, karena dapat merusak hak suara
setiap orang yang telah menggunakan hak suaranya untuk memilih.