Anda di halaman 1dari 2

Aku Ingin Rumah Tanggaku Sakinah

Publikasi: 10/11/2003 11:58 WIB


Assalaamu'alaikum wr. wb.
Dulu saya berniat menikahi dia apapun adanya yang penting jadi istri sholehah yang setia dan sayang
suami serta keluarga. Kebetulan sebelum nikah dia ngaku sudah tak perawan lagi, karena sewaktu kecil
jatuh dari sepeda dan vaginanya mengeluarkan darah. Bagi saya nggak masalah, kalaupun sebab lain
asal dia bisa jadi istri yang seperti saya harapkan.
Saya kelahiran 70 sedang istri 76, kini kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang baru berumur 8 bulan
setahun setelah kami menikah. Dalam berumah tangga kami juga mengalami pertengkaran, namun
semula itu saya anggap sebagai hal yang wajar terjadi bagi rumah tangga baru, masih membutuhkan
penyesuaian.
Masa pacaran kami memang sangat singkat sekitar 4 bulan sebelum nikah, meskipun kami sudah lama
kenal dan berhubungan lewat surat dari tahun 1996. Banyak sekali hal-hal perselisihan yang membuat
saya sakit hati, saya juga menyadari dia juga mengalami. Misalnya: saya tegur/ungkapkan tak suka kalau
istri keluar rumah tidak pakai jilbab/atau pakai jilbab tapi ada peluang aurat terbuka, istri malah marah
saya dianggap terlalu mengekang, harusnya maklum karena belum bisa belikan baju atau adik-adik saya
saja engga berjilbab.
Masih banyak hal lagi yang membuat kami sering bertengkar. Kini kami tidak satu rumah, karena istri
diterima jadi CPNS dan penempatannya di tempat yang jauh dari tempat saya kerja, jarak tempuh
dengan bus sekitar 23 jam. Bagi saya memang berat, hidaup berpisah bergini. Tapi saya berusaha untuk
dapat melauinya dengan selamat, saya butuh dukungan dan bantuan istri.
Bagi saya komunikasi kuncinya. Tapi kenyataannya kalau dikunjungi istri selalu keberatan dengan
alasan buang-buang duit harusnya bisa untuk keperluan anak. Kalau ditelpon atau disuruh telpun
maupun komunikasi dengan surat juga dengan alasan yang sama.
Saya jadi jengkel, merasa enggak diperhatikan istri. Dulu sebelum dapat kerja istri pernah bilang ingin
bantu suami dan dapat kerjaan yang dekat suami. Tapi ketika saya tanyakan hal itu jawabnya hal itu
berlaku kalau kerja swasta. Sebelum berangkatpun telah saya wanti-wanti kalau setahun tidak dapat
pindah ya keluar saja dan istri setuju. Tapi sekarang lain. Hubungan kami dari hari kehari sejak istri jauh
saya rasakan tak hangat tak harmonis lagi, terus terang saya enggak bahagia. Hal ini saya ungkapkan ke
istri, tapi enggak ditanggapi. Selama berumah tangga istri juga tak jarang menolak bersenggama atau
ogah-ogahan, akhirnya saya hanya onani saja.
Saya makin stress hadapi sikap istri yang kian dingin dan tak perduli akan kehadiran dan keberadaan
suami. Saya kecewa dan kesal, hingga suatu hari saya ingin tau ada apa gerangan, apa sebenarnya
kemauan istriku. Hingga saya kesal tanya: rumah tangganya mau diteruskan atau selesai sampai disini.
Semuanya tidak saling menyakiti. Jawabannya sangat mengejutkan dan mengesalkan jawabannya jelas
sekali kearah berhenti alias cerai. Saya sangat kalut, kecewa, marah; entah sadar atau tidak saya
umumkan pilihannya itu lewat SMS ke adik, saudara maupun atasannya. Saya enggak ingin ada
perceraian, dianggapnya saya jatuhkan talak. Saya mengalam, turuti kemauannya/pandangannya. Istri
bilang kalau ingin rujuk saya harus datang menemuinya ke mertua.
Saya juga datang, tapi apa yang terjadi istri pulang ke kampung seolah tak tau menau/tak terjadi apa-apa
dan alasan mampir rumah karena ada urusan kerjaan. Sebelum berangkat ke ortu saya sudah siap untuk
disalahkan, dimarahi. Kini rumah tanggaku terhindar dari perceraian, tapi sikap istriku masih tak seperti
yang kuharapkan. Bicaranya sering ketus, seolah menang dan di atas angin. Enggak suka ditelpun, sudah
1.5 minggu juga istri belum pernah nelpun saya. Saya ngalahi telpun dan kirim surat, malah saya hanya
diijinkan nengok istri dua bulan sekali.
Sakit rasanya menerima perlakuan ini, tapi saya sudah tak bisa apa-apa lagi karena waktu
menyelamatkan rumah tangga ini saya berjanji untuk nuruti itu semua. Saya bingung, tolong ustat
carikan jalan keluarnya dan jawab pertanyaan ini 1. Karena sikap istri tersebut saya jadi tak meridhoi
istri kerja dan bahkan melaknatnya. Apakah ini benar menurut Islam, apa hukumnya. Bagaimana
penyelesaiannya?
2. Apa kesalahan saya sebagai suami terhadap istri?

3. Apakah salah suami melepun, menyurati atau datang kunjungi istri karena kangen dan sayang?
Bagaimana hukumnya kalau istri menolok dengan alasan keuangan dan sebagainya?
4. Apakah dosa suami lakukan onani ditubuh istri atau sendiri karena istri jauh? Upaya untuk hindari
syahwat telah saya lakukan.
5. Apakah ini yang namanya tidak berjodoh? Apa benar keadaan rumah tangga saya dibuat orang yang
suka istri dengan guna-guna? Katanya saya dibuat menakutkan/myebelin dihadapan istri bahkan dibuat
agar jadi gila dan istri dibuat seolah tak punya suami/kecewa?
6. Bagaimana pemecahan masalah ini? Saya sangat mencintai istri dan anak saya, saya ingin hidup
tenang, bahagia dan dapoatkan ridho Alloh SWT bersama mereka.
Wassalaamu'alaikum wr. wb.
hamba Alloh ogor
Assalamu'alaikum Wr Wb,
1. Jika seorang suami tak meridhoi sebuah perbuatan istri, ia punya hak untuk itu. Terutama karena ia
berada dalam posisi benar. Jika ia salah, maka istrinya tak bisa di salahkan. Tetapi janganlah teralu
mudah melaknat. Khawatr kelak anda sendiri menyesalinya.
2. Jika anda bertanya apa kesalahan anda sebagai suami kepada kami, kami hanya bisa mendapatkan
gambaran sebagaimana penuturan anda. Kami disini tak bertugas untuk menjadi tukang stempel atau
tukang vonis. Mudah-mudahan kami bisa menawarkan solusi. Jika bawahan kita bersalah atau bandel,
pertama yang perlu kita tanyakan, apakah kebandelan diri kita sendiri kepada atasan kita, dalam hal
ini anda sebagai suami, maka atasan anda adalah Allah. Kira-kira apa kesalahan anda pada Allah?
Adakah anda sendiri sering melalaikan perintah-perintah Allah? Adakah anda sering melalaikan hak-hak
Allah dan hak-hak bawahan anda ? Mungkin masukan lain yang bisa kami berikan sehubungan dengan
sejarah awal anda menikahi wanita ini. Apakah anda dahulu memang yakin ia wanita shalihah? Apakah
dahulu anda menikahinya bukan karena terburu nafsu melihat kecantikannya saja? Atau kekayaannya?
Jika dulu ia tampak shalihah dan karena itu anda menikahinya, maka kami yakin persoalan anda
sekarang tak terallu sulit di atasi. Namun jikadahulu sebenarnya anda sudah tahu bahwa ia lumayan
bermasalah, dan anda menikahinya dengan alasan suka, kemudian menempelkan niat kelak ingin
rumahtangga sakinah, maka MNGKIN masalah anda agak lebih rumit.
3. Soal onani, jika terlalu sering terpaksa anda melakukannya, apakah tidak lebih baik anda berkumpul
saja lagi dengan istri. Jika sulit juga menghindari konflik dengan istri dan sulit rekonsiliasi, maka
tanyakanlah padanya apa pendapatnya jika anda poligami saja?
4. Soal guna-guna, jika tak ada bukti nyata, jangan percaya bisikan setan di hati. Bisikan tersebut bisa
berkembang menjadi kecurigaan berkepanjangan, selain makan hati, juga berbahaya perpecahan bukan
hanya antar suami istri, tetapi sampai ke keluarga besar. Namun anda bisa memagarinya dengan cara
anda (1) meningkatkan ibadah (2) mencari/ memilih dan mengamalkan wirid-wirid yang disunnahkan
Nabi SAW sebagai penangkal hal seperti ini. Ada sebuah buku wirid berjudul Al Matsurat antara lain
terbitan GIP. Itu yang kami amalkan sehari-hari. Insya Allah itu bagus. (3) Tak kalah pentingnya adalah
anda secara pribadi memeriksa apakah diantara segala perbuatan, sikap maupun kebiasaan anda ada yang
mengandung kemusyrikan. Misalnya masih suka nyekar kemakam orang shaleh dan minta sesuatu di
sana. Masih suka menuruti nasehat orang untuk memasang jimat, dan lain-lain??? Jika masih ada, maka
segeralah buang dan taubat. Tak mungkin seseorang terbebas dari gangguan jin jika masih melakukan
hal-hal kemusyrikan.
5. Tingkatkanlah seluruh kualitas dan kuantitas serta hubungan anda kepada Allah. Jangan seharipun
anda lewatkan tanpa mengambil beberapa menit merenung setelah shalat dan menghubungkan hati
kepada Allah. Terbaik saat tengah malam setelah shalat tahajjud. Teruslah minta pada Allah petunjuk dan
jalan keluar dari ini semua.
6. Tingkatkanlah pengetahuan anda tentang Islam. Terutama tentang masalah rumahtangga.
7. jangan sedikitpun kehilangan kepercayaan dan sangka baik pada Allah, sebab hanya Allah-lah yang
bisa menolong anda.
Wallahualam bishshowwaab
Wa'alaikumsalam Wr. Wb.