Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peningkatan persaingan dalam pasar global menyebabkan persaingan dalam
dunia bisnis tidak hanya bergantung pada harga dan kualitas, tetapi juga pada
bervariasinya jenis produk dan kecepatan menghantarkan produk ke pasar. Proses
perancangan

produk

suatu perusahaan berpengaruh terhadap kemampuan

perusahaan tersebut bersaing di pasar. Faktor-faktor persaingan seperti harga,


kualitas, estetika produk, dan kecepatan menghantarkan produk ke pasar ditentukan
oleh tahap desain yang terjadi sebelum dilakukan proses manufaktur.
Produk merupakan titik awal dan titik akhir kesuksesan dalam industri
manufaktur. Oleh karena itu, kesuksesan dalam persaingan industri tersebut akan
ditentukan oleh keberhasilan mengembangkan produk sesuai dengan keinginan dan
harapan konsumen. Pengertian desain produk industri adalah salah satu aktifitas
luas dari inovasi teknologi yang berhubungan dengan pengembangan bentuk,
pengembangan teknik, proses produksi dan peningkatan pasar suatu produk industri
(Prasetyowibowo, 1999). Hasil desain produk industri mencakup kegiatan kegiatan
yang berhubungan dengan sarana dan prasarana manusia melalui proses industri,
antara lain alat transportasi, alat kedokteran, alat pertanian, alat militer, alat olahraga,
asesoris produk dan aplikasi teknologi. Perancangan dan pengembangan produk
adalah semua proses yang berhubungan dengan keberadaan produk yang meliputi
segala aktivitas mulai dari identifikasi keinginan konsumen sampai fabrikasi,
penjualan dan pengiriman dari produk (Widodo, 2003). Perancangan dan
pengembangan produk inilah yang menjadi suatu bagian dari perubahan abstrak
yang ada dalam dunia usaha.
Quality Function Deployment (QFD) merupakan metode yang penting dalam
mendukung

perencanaan

multifungsional

dalam

concurrent

engineering.

Permasalahan dan keinginan konsumen diidentifikasi dengan menggunakan metode


QFD. QFD bertujuan untuk mendapatkan suatu matriks yang menghubungkan
karakteristik teknis produk dan keinginan responden akan produk dan masalah yang
dihadapi selama proses pengerjaan produk. QFD dapat digunakan untuk
mengurangi

waktu

siklus

pengembangan

produk,

meningkatkan

kepuasan

pelanggan, dan meningkatkan persaingan.


Maka dari itu diambil sebuah Studi kasus diambil dari Jurnal Application of a
Quality Function Deployment Technique to Design and Develop Furniture
Products oleh Chatree Homkhiew, Thanate Ratanawilai*, and Klangduen Pochana
untuk mengetahul lebih dalam mengenai desain produk dngan pendekatan Quality

2
Function Deployment (QFD) . Dimana lemari kayu lapis terpilih sebagai bahan studi
untuk penelitian ini karena angka penjualan yang tinggi dan yang kebanyakan bentuk
rumit dibandingkan dengan produk lain, seperti showcase, meja kantor, dan meja.
Tujuan utama dari ini penelitian ini adalah untuk merancang dan memproduksi jenis
baru prototype plywood lemari untuk industri mebel.
Dimana Keinginan pelanggan tersebut akan ditejemahkan kedalam House of
Quality. Teknik Ini diterapkan untuk merancang bentuk-bentuk baru melalui
perubahan, misalnya, bentuk produk, pola, warna, fungsi, dan kualitas bahan yang
digunakan.
1.2 Perumusan masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah yang
dihadapi dapat dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana melakukan perancangan desain produk dengan pendekatan Quality
Function Deployment (QFD)
1.3. Batasan Masalah
Permasalahan dibatasi hanya pada studi kasus yang telah ditentukan yakni dari
Jurnal Application of a Quality Function Deployment Technique to Design and
Develop Furniture Products oleh Chatree Homkhiew, Thanate Ratanawilai*, and
Klangduen Pochana
1.4

Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam paper ini adalah:
1. Memahami apa itu Desain Produk
2. Melakukan analisis desain produk dengan pendekatan Quality Function
Deployment (QFD)

1.5

Manfaat
Manfaat yang ingin dicapai dalam paper ini adalah:
1. Mampu Memahami apa itu Desain Produk
2. Mampu Melakukan analisis desain produk dengan pendekatan Quality Function
Deployment (QFD)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian dan Hierarki Produk
Selama lebih dari 35 tahun yang lalu, Peter Drucker memperhatikan bahwa
tugas pertama sebuah perusahaan adalah menciptakan pelanggan. Akan tetapi,
pelanggan masa kini menghadapi beraneka ragam pilihan produk dan merek, harga,
dan pemasok. Para pelanggan memperkirakan pilihan penawaran yang akan
menyerahkan nilai tertinggi. Para pelanggan menginginkan nilai maksimum, dengan
dibatasi oleh biaya pencarian serta keterbatasan pengetahuan, mobilitas, dan
penghasilan. Mereka membentuk suatu harapan akan nilai dan bertindak
berdasarkan hal itu.
Nilai bagi pelanggan (customer delivered value) adalah selisih antara nilai
pelanggan total dan biaya pelanggan total. Nilai pelanggan total (total customer
value) adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk
atau jasa tertentu. Biaya pelanggan total (total customer cost) adalah sekumpulan
biaya yang diharapkan oleh konsumen yang dikeluarkan untuk mengevaluasi,
mendapatkan, menggunakan, dan membuang produk atau jasa. Proses memperluas
konsep produk meliputi pendefinisian manfaat produk yang akan ditawarkan.
Manfaat yang diperoleh dan terjalin selalu memiliki atribut produk, misalnya mutu,
ciri, dan model. Setelah produk tadi diperkenalkan di pasar, maka atribut-atribut ini
harus dimodifikasi agar bisa bertahan menghadapi tantangan dalam setiap tahap
daur hidup produk.
Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul
setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja (atau hasil)
suatu produk dan harapan-harapannnya. Seperti dijelaskan dalam definisi tersebut,
kepuasan merupakan fungsi dari persepsi/kesan atas kinerja dan harapan. Jika
kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi
harapan, pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas dan
senang. Banyak perusahaan memfokuskan pada kepuasan tinggi karena para
pelanggan yang kepuasannya hanya pas mudah untuk berubah pikiran bila
mendapat tawaran yang lebih baik.
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk
diperhatikan, dimiliki, dipakai, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan (Philip Kotler, Manajemen Pemasaran: Analisis,
Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Edisi Keenam Jilid 2, Hal. 54).
Produk merupakan keluaran dari suatu proses. Sebagian besar produk yang

4
dibayangkan adalah berupa produk fisik, seperti misalnya mobil, sepatu, telur, dan
buku. Akan tetapi, produk juga mencakup jasa (kadang-kadang disebut produk jasa),
seperti misalnya pemangkasan rambut, konser dan wisata. Jadi, dapat dikatakan
bahwa produk dalam pengertian luas mencakup segala sesuatu yang dapat
dipasarkan, termasuk benda-benda fisik, jasa manusia, tempat organisasi, dan
gagasan.
Dalam mengembangkan suatu produk, seorang perencana produk harus
berpikir dalam tiga tingkat. Tingkat yang paling dasar adalah inti produk yang akan
menjawab pertanyaan: Apa yang sebenarnya dibeli oleh seorang pembeli? Pada
hakikatnya setiap produk merupakan sebungkus pemecahan masalah. Tugas
seorang pemasar ialah mengupas kebutuhan yang tersembunyi di balik setiap
produk dan menjual manfaat, bukan dalam bentuk lahiriah (features). Seorang
perencana produk harus mengubah inti produk menjadi suatu wujud produk. Contoh
dari wujud produk dapat saja lipstik, komputer, seminar atau pun calon anggota DPR.
Wujud produk ini memiliki sebanyak lima karakteristik, yaitu, ciri-ciri khas, corak,
gaya/model, merek dan kemasan.
Dengan jalan pikiran ini, maka pemasar akan menjumpai banyak peluang untuk
menambah segala produknya dengan cara yang efektif. Levitt mengatakan:
Jenis persaingan baru berlangsung bukannya antar produk yang diproduksi oleh
perusahaan-perusahaan di pabrik, melainkan antar segala macam yang mereka
tambahkan pada hasil pabrik tersebut, seperti bentuk kemasan, jasa pelayanan,
periklanan, persyaratan kredit, jasa penghantaran, pergudangan dan apa saja yang
dihargai oleh konsumen. (

Gambar 2.1 Tiga Tingkat Produk


Sumber : Theodore Levitt, The Marketing Mode, New York: McGraw-Hill, 1969,
Hal.2).

5
Hierarki Produk
Pada dasarnya setiap produk secara hierarkis berhubungan dengan produk tertentu
lainnya. Hierarki produk ini dimulai dari kebutuhan dasar sampai dengan tipe produk
yang akan memuaskan kebutuhan tersebut. Berikut ini identifikasi tujuh tingkat
hierarki produk dengan contoh untuk asuransi jiwa:
1. Kelompok kebutuhan. Kelompok kebutuhan merupakan kebutuhan inti yang
nantinya akan membentuk kelompok produk. Misalnya: rasa aman.
2. Kelompok produk. Seluruh kelas produk yang dapat memuaskan suatu
kebutuhan inti dengan tingkat efektivitas yang kurang lebih memadai. Misalnya:
tabungan dan penghasilan.
3. Kelas produk. Sekumpulan produk di dalam kelompok produk yang dianggap
memiliki hubungan fungsional tertentu. Misalnya: instrumen keuangan.
4. Lini produk. Sekumpulan produk di dalam kelas produk yang berhubungan erat,
karena fungsinya yang sama atau karena dijual pada kelompok konsumen yang
sama atau karena dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama, atau karena
harganya berada dalam skala yang sama. Misalnya: asuransi jiwa.
5. Tipe produk. Adalah barang atau hal yang berada dalam lini produk dan memiliki
bentuk tertentu dari sekian banyak kemungkinan bentuk, misalnya: asuransi jiwa
berjangka.
6. Merek. Nama yang dapat dihubungkan/diasosiasikan dengan satu atau lebih
barang atau hal yang melihat dalam lini produk dan digunakan untuk mengenal
sumber atau ciri barang/hal tersebut. Misalnya: Bumiputera (asuransi).
7. Jenis produk. Sesuatu yang khusus di dalam suatu merek atau lini produk yang
dapat dibedakan dengan ukuran, harga penampilan atau atribut yang lain. Ini
disebut stockkeeping unit, varian produk, atau subvarian. Misalnya: asuransi
yang dapat diperbaharui.
Contoh lain lagi, misalnya kebutuhan berupa harapan menimbulkan adanya
kelompok produk yang disebut alat-alat kecantikan, dan suatu kelas produk yang
dinamakan kosmetika. Dalam kelas produk kosmetika tadi terdapat satu lini yaitu
lipstik, yang memiliki beberapa jenis produk seperti misalnya lipstik dengan tabung;
dan yang terakhir ini dipasarkan dengan merek Revlon dengan jenis tertentu, seperti
frosted. Di samping pengelompokkan di atas, ada dua lagi yang perlu diketahui.
Sekelompok jenis barang tertentu yang berbeda tapi berhubungan erat karena
kesesuaiannya (compatible) disebut sistem produk. Sebagai contoh, Nikon Company
menjual kamera 35 mm di samping seperangkat lengkap lensa, filter dan peralatan
kamera lain yang secara bersama-sama membentuk suatu produk. Selain itu, ada

6
yang disebut bauran produk, yaitu kumpulan semua jenis produk yang dijual oleh
satu perusahaan.

2.2

Desain Produk
Desain Produk adalah sebagai alat manajemen untuk menterjemahkan hasil

kegiatan

penelitian

dan

pengembangan

yang

dilakukan

sebelum

menjadi

rangcangan yang nyata yang akan diproduksi dan dijual dengan menghasilkan laba.
Salah satu fungsi manajemen terpenting dalam semua organisasi adalah
menjamin bahwa masukan masukan berbagai sumber daya organisasi
menghasilkan produk produk atau jasa yang dirancang secara

tepat atau

menghasilkan keluaran keluaran yang dapat memuaskan keinginan para


pelanggan.
Untuk

menghasilkan keluaran keluaran yang tepat guna dan sesuai

dengan keinginan pelanggan maka perlu adanya desain produk. Ada pun beberapa
pengertian tentang desain produk menurut para ahli.
Sebelum menerangkan tentang pengertian desain produk, maka produk pun
memiliki pengertian sendiri sebagaimana dikemukakan oleh W.J. Stanton ( 1981 ;
192 ), dimana :
A product is a set of tangible and intangible attributes, including, packaging, color,
price, manufakture prestige, retailer prestige, and manufacture and retailer service,
which the buyer may accept as offering want satisfaction
Yang telah diterjemahkan oleh DR. Buchori Alma dalam bukunya Manajemen
Pemasaran dan pemasaran jasa, yaitu :
Yang dikatakan produk adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak
berwujud, termasuk didalamnya masalah warna, harga nama baik perusahaan,
nama baik toko yang menjual, dan pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer
yang diterima pembeli guna memuaskan keinginannya.
2.3

Maksud dan Tujuan Desain Produk


Berdasarkan beberapa pengertian Desain Produk tersebut diatas ternyata

bahwa Produk Desain mempunyai maksud dan tujuan untuk membantu perusahaan
dalam menciptakan dan mengembangkan produk baru atau untuk menjamin hasil
produki yang sesuai dengan keinginan pelanggan disatu pihak serta dipihak lain
untuk menyesuaikan dengan kemampuan perusahaan.
Maksud dari Desain Produk, antara lain :

Untuk menghindari kegagalan kegagalan yang mungkin terjadi


dalam pembuatan suatu produk.

Untuk memilih metode yang paling baik dan ekonomis dalam pembuatan
produk.

Untuk menentukan standarisasi atau spesifikasi produk yang dibuat.

Untuk menghitung biaya dan menentukan harga produk yang dibuat.

Untuk mengetahui kelayakan produk tersebut apakah sudah memenuhi


persyaratan atau masih perlu perbaikan kembali.

Sedangkan tujuan dari Desain Produk itu sendiri, adalah :

Untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan mempunyai nilai jual
yang tinggi.

Untuk menghasilkan produk yang trend pada masanya.

Untuk membuat produk seekonomis mungkin dalam penggunaan bahan baku


dan biaya biaya dengan tanpa mengurangi nilai jual produk tersebut.

2.4 Tahapan tahapan kegiatan Desain Produk


Seorang

product

designer

harus

melalui

tahapan

tahapan

dalam

merencanakan suatu produk, tahapan tersebut yaitu :


1. Memformulasikan hasil marketing research
Adapun yang menjadi titik tolak dalam tahapan kegiatan Desain Produk adalah
riset pemasaran. Untuk mengetahui produk yang diinginkan pelanggan, product
designer dapat memperoleh data dari riset pemasaran yang langsung berhubungan
dengan pelanggan. Riset ini dilakukan baik untuk produk yang betul betul baru
maupun untuk produk yang sudah ada.
Pengembangan suatu riset dalam perusahaan akan menghasilkan sebuah
gagasan atau ide untuk membuat suatu produk, dimana ide tersebut diperoleh dari
data yang didapatkan saat riset itu sendiri dilakukan. Dalam riset pembuatan produk
baru

atau

pengembangan

produk

yang

sudah

ada,

perusahaan

harus

mempertimbangkan hal hal sebagai berikut :


-

Keinginan pelanggan dalam hal kegunaan, kualitas, modal dan warna dari
produknya denga tidak mengabaikan penentuan harga

Biaya dari pembuatan produk baru atau pengembangan dari produk yang sudah
ada apakah perusahaan mampu untuk membayarnya.
Untuk hal hal tersebut diatas, maka riset ini perlu ditunjang dengan faktor

faktor yang berupa waktu untuk menjalankan penelitian, mencari informasi atau
keterangan berdasarkan pengalaman.

8
2. Mempertimbangkan kemampuan fasilitas perusahaan
Untuk melaksanakan kegiatan pembuatan suatu produk, maka desainer harus
mempertimbangkan kemampuan dari perusahaan itu sendiri, diantaranya : tenaga
kerja, mesin mesin, peralatan penunjang dan perkakas lainnya. Dalam membuat
produk, desainer harus mempertimbangkan biaya yang seekonomis mungkin.
3. Membuat sketsa
Dalam membuat sketsa, bentuk dari produk yang akan dibuat akan terlihat jelas
satu dengan yang lainnya. Sketsa tersebut dibuat untuk mempermudah dalam
pembuatan gambar kerja ( blue Print ), sketsa dari masing masing produk
walaupun sketsa ini tidak menunjukan ukuran ukuran yang sebenarnya, tapi dapat
terlihat dal skala perbandingan.
4. Membuat gambar kerja
Pembuatan gambar kerja ini adalah merupakan tahap akhir dalam kegiatan
Desain Produk, dimana dalam gambar kerja ini dapat digambarkan bentuk dan
ukuran yang sebenarnya dengan skala yang diperkecil. Selain itu, dalam gambar
kerja juga diperlihatkan bahan bahan yang akan dipergunakan dalam pembuatan
produk tersebut. Setelah gambar kerja tersebut selesai dirancang, kemudian
diserahkan kepada pelaksana kegiatan untuk segera dipelajari dan dikerjakan lebih
lanjut cara proses produksinya.
2.5 Faktor faktor yang mempengaruhi Desain Produk
Desain produk sebagai alat bantu dalam manajemen produksi bertitik tolak
penelitian dan pengembangan yang dilakukan sebelumnya. Pentingnya desain
produk terletak pada penetapan secara rinci disain produk atau jasa yang akan
dibuat, serta klasifikasi agar sesuai dengan tujuan yang dikendaki.
Sedangkan faktor faktor yang mempengaruhi desain produk adalah sebagai
berikut :
1.

Fungsi produk

2.

Standar dan Spesifikasi desain

3.

Tanggung jawab Produk

4.

Harga dan Volume


Keempat faktor tersebut dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai

berikut :

Product Design

Design Specification and Standard


Product Liability
Function

Price and Volume

Prototype
Gambar 2.2 Faktor faktor yang mempengaruhi Desain Produk
( Yus R. Hardjadinata Manajemen Produksi / Operasi ( 1995 ; 20 ) )
Faktor faktor yang mempengaruhi Desain Produk :
1.

Fungsi Produk
Setiap produk yang akan dihasilkan mempunyai fungsi atau kegunaan yang

berbeda, hal ini tergantung untuk keperluan apa produk itu dibuat. Dengan demikian
bahwa desain produk itu berhubungan bentuk dan fungsi dari suatu produk.
Keduanya memegang peranan penting dalam menentukan suatu desain produk
yang pada dasarnya untuk memberikan kepuasan yang maksimal bagi konsumen
atau pelanggan baik segi kualitan maupun segi kuantitas.
2.

Standar dan Spesifikasi Desain


Dalam hal spesifikasi dan standar desain suatu produk akan terlihat dari :

Sambungan - sambungan
Dalam hal ini perusahaan harus merencanakan bagaimana menyambung bagian
- bagian supaya tidak terlihat ada bagian yang kosong.

Bagian

Bagian ini berfungsi untuk menyesuaikan ukuran keserasian desain

disambung

dengan bagian lainnya, sehingga apabila disatukan menjadi satu kesatuan yang kuat
-

Bentuk
Pada waktu mendesain bentuk perlu diperhatikan mengenai keindahan dengan
Penyesuaian menurut fungsi dan kegunaannya.

10
-

Ukuran

Yaitu merencanakan ukuran yang seimbang dari bagian bagian produk secara
keseluruhan.
-

Mutu

Mutu suatu produk harus disesuaikan menurut fungsi produk tersebut, apabila akan
digunakan dalam jangka waktu lama, maka mutu produk tersebut harus tinggi bila
dibandingkan dengan produk yang akan digunakan dalam jangka waktu yang
pendek.
-

Bahan

Apabila produk yang akan digunakan ingin mempunyai mutu yang baik, maka bahan
yang dipergunakan pun harus dapat menunjang agar semua yang diharapkan dapat
terwujud dan pelanggan merasakan kepuasan tersendiri.
-

Warna

Warna mempunyai arti tersendiri bagi konsumen, karena tiap orang mempunyai ciri
dan kesukaan yang khas terhadap warna tertentu. Dan hal inilah yang harus
dicermati oleh perusahaan agar dapat bersaing dengan perusahaan lain yang
sejenis.
3. Tanggungjawab Produk
Ini adalah merupakan salah satu tanggung jawab dari produsen sebagai
pembuat produk kepada konsumen akan keselamatan dan kenyamanan pemakai
produk tersebut. Oleh karena itu faktor ini menjadi sangat penting untuk
dipertimbangkan oleh perusahaan pada waktu mendesain produk tersebut.
4.

Harga dan Volume


Harga dihubungkan dengan jumlah produk yang akan dibuat, untuk produk

yang akan dibuat

berdasarkan pesanan biasanya harga jualnya akan berbeda

dengan produk yang dibuat untuk dipasakan kepada konsumen luas yang harganya
relatif lebih murah sehingga desain produknya akan berbeda pula.
5.

Prototype
Prototype merupakan model produk yang pertama yang akan dibuat,

prototype ini memperlihatkan bentuk serta fungsi yang sebenarnya, sehingga


sebelum perusahaan memproduksi maka prototype diusahakan untuk dibuat terlebih
dahulu.
Dari pengujian prototype tersebut, apabila lulus uji coba mungkin memberikan
gambaran mengenai perubahan perubahan yang perlu dilakukan serta sebagai
informasi dalam penyusunan terakhir desain produk.
2.6 Identifikasi Kepuasan Pelanggan

11
Sebelum melakukan identifikasi terhadap kepuasan pelanggan terhadap produk
yang dihasilkan oleh perusahaan, langkah awal adalah melakukan identifikasi
terhadap pelanggan selaku konsumen produk. Pelanggan adalah pihak yang akan
terkena dampak atau terpengaruh oleh produk dan proses dalam pencapaian tujuan
kualitas. Pelanggan mencakup pihak-pihak baik yang terkena dampak bila tujuan
tercapai maupun yang terkena dampak bila tujuan tidak tercapai.

Gambar 2.3 Diagram Input-Output untuk Mengidentifikasi Pelanggan


Sumber: J.M. Juran: Merancang Mutu, Buku Kesatu, Gambar 3.1, Hal. 49
Kebutuhan manusia tampaknya tidak terbatas, baik dalam hal jumlah maupun
jenisnya. Sebagian besar manusia bersifat akuisitif. Bila diberi peluang, mereka akan
menguasai

sebanyak-banyaknya

wilayah,

sebanyak-banyaknya

uang

dan

seterusnya. Tentu saja, setiap individu tak pernah mencapai keadaan maksimal.
Rumitnya kebutuhan manusia ini selanjutnya lebih diperumit lagi oleh adanya
variabel-variabel seperti budaya masyarakat, tingkat teknologi dan lain-lain. Pertama
yang harus dilakukan oleh produsen sebagai pihak yang bertugas dalam memenuhi
kebutuhan pelanggan, harus mengklasifikasi kebutuhan manusia tersebut dengan
cara yang logis. Setelah kebutuhan-kebutuhan tersebut diklasifikasi, maka akan
mudah untuk melakukan identifikasi terhadap kebutuhan-kebutuhan pelanggan serta
lebih mudah dalam menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan tersebut ke dalam bahasa
yang memungkinkan para pemasok mengambil tindakan responsif.
Terdapat berbagai cara untuk mengklasifikasikan kebutuhan pelanggan, diantaranya
dengan memilih suatu klasifikasi yang berdasarkan pada:
1. Kebutuhan yang dinyatakan.
2. Kebutuhan yang sesungguhnya.
3. Kebutuhan yang dirasakan.
4. Kebutuhan kultural.
5. Kebutuhan yang dapat dilacak ke penggunaan yang tidak direncanakan.

12
Dalam upaya mengidentifikasi kebutuhan pelanggan yang berkaitan dengan
kepuasan produk perlu dilakukan klasifikasi untuk memisahkan antara kepuasan dan
ketidakpuasan produk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan produk adalah:
1. Teknologi
Munculnya teknologi-teknologi baru dapat menjawab kebutuhan pelanggan untuk
mencapai

kepuasan

produk.

Produk-produk

berteknologi

seperti

listrik,

pelayanan telepon, transportasi dan lain-lain memberikan manfaat yang sangat


besar bagi manusia. Namun demikian, akhirnya manusia menjadi tergantung
kepada barang-barang tersebut. Bila terjadi gangguan pasokan seperti misalnya
listrik atau gangguan telepon, maka dampak yang timbul adalah krisis mulai dari
kegelisahan

banyak

orang

sampai

teror

terhadap

sekelompok

orang.

Ketergantungan tersebut telah menciptakan kategori baru untuk kebutuhan


konsumen dan menggeser nilai penting kategori lama.
2. Keselamatan Manusia
Teknologi telah mengakibatkan jatuhnya produk-produk yang berbahaya ke
tangan para amatir. Teknologi juga menciptakan produk samping yang
berbahaya, yang mengancam kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Dampak ini begitu hebat, sehingga banyak upayadalam perencanaan produk dan
proses harus diarahkan kepada pengurangan resiko sampai pada tingkat yang
dapat diterima. Banyak peraturan perundang-undangan, baik pidana maupun
perdata, menuntut hal tersebut. Pelatihan yang ekstensif dilaksanakan agar para
perencana dapat melaksanakan upaya-upaya tadi secara efektif.
3. Keakraban dengan Pemakai
Status amatir dari banyak pemakai telah menyebabkan munculnya istilah
keakraban dengan pemakai untuk menjelaskan bahwa keistimewaan produk
yang memungkinkan para amatir siap menggunakan produk-produk teknologi.
Misalnya:
-

Bahasa informasi yang dipublikasikan harus dibuat sederhana, jelas, dan


mudah dipahami.

Barang harus dilengkapi dengan dokumen kepemilikan, petunjuk pemakaian,


formulir yang harus diisi.

Formulir yang digunakan secara luas (misalnya Pemberitahuan Pajak) harus


di uji coba di lapangan terhadap orang-orang yang diperkirakan akan
mengalami kesulitan dalam pengisian.

Produk harus dibuat kompatibel seluas mungkin. Upaya semacam ini telah
banyak dilakukan melalui panitia standarisasi, atau melalui monopoli alamiah
seperti sistem telekomunikasi.

13
4. Kecepatan Pelayanan
Pelayanan harus cepat. Di beberapa kultur, unsur utama persaingan adalah
kecepatan pelayanan (tumbuhnya industri fast food terutama didasarkan pada
persaingan

dalam

kecepatan

pelayanan),

jadwal

yang

saling

berkait

(sebagaimana pada pengantaran surat atau angkutan udara) merupakan


penyebab lain dari timbulnya tuntutan akan kecepatan. Contoh lain adalah
tumbuhnya istilah manufaktur Just In Time, yang menuntut pengantaran barang
yang andal guna meminimalkan penyimpanan persediaan. Maka dari itu unsur
waktu perlu diperhitungkan dalam perencanaan agar dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan.
5. Mengupayakan Pelanggan Selalu Tahu
Pelanggan adalah pihak yang sangat sensitif untuk dijadikan korban dari
tindakan-tindakan rahasia para pemasok. Untuk itu, produk-produk yang akan
dikirim ke pelanggan harus sudah siap sepenuhnya dalam arti sesuai dengan
spesifikasi kebutuhan pelanggan. Untuk itu perlu perusahaan perlu menyediakan
layanan keluhan dan keinginan konsumen yang menyertai suatu produk karena
langkah ini akan sangat menolong dalam upaya identifikasi kebutuhan
pelanggan.
2.7 Quality Function Deployment (QFD)
Konsep dasar dari QFD yang sebenarnya adalah suatu cara pendekatan untuk
mendesain produk agar dapat memenuhi keinginan konsumen. Konsep ini
diperkenalkan oleh Yoji Akao, Professor of Management Engineering dari Tanagawa
University yang dikembangkan dari praktek dan pengalaman industri-industri di
Jepang. Pertama kali dikenal di Jepang pada tahun 1972 oleh perusahaan
Mitsubishi, dan berkembang dengan berbagai cara oleh Toyota dan perusahaan
lainnya. (Cohen L., 1995)
QFD adalah suatu metodologi untuk menterjemahkan kebutuhan dan keinginan
konsumen kedalam suatu produk yang memiliki persyaratan teknis dan karakteristik
Menurut Oakland.j.s (1993), Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu sistem
untuk mendesain sebuah produk atau jasa. Yang berdasarkan permintaan
pelanggan, dengan melibatkan partisipasi semua fungsi-fungsi yang terdapat dalam
organisasi tersebut. (Cohen L., 1995)
Metoda QFD bertujuan untuk pengembangan produk yang dapat memuaskan
konsumen dengan menterjemahkan keinginan konsumen ke dalam karakteristik
teknis yang menjadi sasaran desain dan elemen pengendalian mutu untuk
digunakan di seluruh proses produksi. Kemampuan menghasilkan produk sesuai

14
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen merupakan faktor kunci yang harus
dimiliki oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan produk yang berdaya saing
tinggi.
Tujuan dari prinsip QFD adalah untuk memastikan bahwa kebutuhan dan
keinginan pelanggan dapat terpenuhi dalam proses penurunan suatu produk. Karena
itulah dikatakan mengapa QFD bermula dari suara pelanggan (VOC = voice of
customer) dan sering dalam bahasa Inggris QFD disebut sebagai customer-driven
product development atau customer-fucosed design
2.8 House Of Quality (HOQ)
Aplikasi QFD dilakukan dalam bentuk matriks besar yang sering disebut sebagai
House of Quality (HOQ). House of Quality adalah suatu framework atas pendekatan
dalam mendesain manajemen yang dikenal sebagai Quality Function Deployment,
terdapat dalam fase pertama dari QFD yang disebut juga dengan Customer
Requirements. Konsep House of Quality (HOQ), intinya bersumber pada sebuah
tabel kualitas. House of Quality memperlihatkan struktur untuk mendesain dan
membentuk suatu siklus, dan bentuknya menyerupai sebuah rumah. Kunci dalam
membangun HOQ adalah difokuskan pada kebutuhan pelanggan, sehingga proses
desain dan pengembangannya lebih sesuai dengan yang diinginkan oleh
pelanggan daripada dengan teknologi inovasi. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi yang penting dari pelanggan.
Kunci input bagi matriks adalah data kebutuhan dan keinginan konsumen
(importance to customer) serta kepuasan konsumen (customer satisfaction
performance) yang selanjutnya akan digunakan dalam perhitungan matriks
perencanaan (planning matriks). Proses penyusunan konsep dimulai dengan
serangkaian kebutuhan konsumen dan spesifikasi target diakhiri dengan terciptanya
suatu konsep produk. Informasi lain yang terdapat dalam HOQ adalah nilai target
HOQ yang mengandung beberapa bagian, masing-masing bagian dapat dan harus
disesuaikan agar dapat berfungsi dengan baik.
2.8.1. Kebutuhan Pelanggan (Customer Needs)
Berisi data atau informasi yang diperoleh dari hasil penelitian pasar tentang
kebutuhan dan keinginan konsumen. Bagian suara konsumen dalam Rumah
Kualitas terdiri dan daftar-daftar berstruktur kebutuhan dan keinginan konsumen
yang telah didapat untuk perencanaan kualitas jasa. Langkah-langkah yang selalu
dilakukan pada bagian ini adalah :
1. Mengumpulkan suara konsumen dengan wawancara dan keluhan konsumen. .

15
2. Mengelompokkan suara konsumen.
3. Menyusun kebutuhan dan keinginan dalam bagian suara konsumen.
Data kebutuhan dan keinginan konsumen ini diperoleh dari hasil identifikasi
kebutuhan dan keinginan konsumen dengan cara penyebaran kuesioner penelitian.
Data ini yang selanjutnya disebut sebagai atribut produk fire extinguisher yang
menjadi input dalam pembentukan HOQ.
2.8.2. Matriks Perencanaan (Planning Matriks)
Berdasarkan atribut produk fire extinguisher yang telah diperoleh, maka dilakukan
perencanaan prioritas untuk masing-masing atribut tersebut. Perencanaan prioritas
tersebut adalah dengan menggunakan matriks perencanaan (planning matriks) yang
terdiri dari:
2.8.3. Tingkat Kepuasan Konsumen (Importance to Costumer)
Importance to customer digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan
konsumen yang paling penting dalam bentuk tree diagrams. Untuk itu terlebih dahulu
dilakukan perhitungan frekuensi terhadap masing-masing atribut berdasarkan tingkat
kepentingan masing-masing. Perhitungan tingkat kepentingan menggunakan modus,
yaitu dengan melihat nilai/bobot yang paling banyak muncul.
2.8.4. Current Satisfaction Performance
Current Satisfaction Performance merupakan penilaian tingkat kepuasan dari produk
fire extinguisher yang ada. Nilai ini diperoleh pada saat penyebaran kuesioner
penelitian. Perhitungan Current Satisfaction Performance secara matematis adalah:

Tingkat Kepuasan

Performanc e Weight
Number of Respondent

......................................................(2.4)
Performance Weight = Number of Respondent * Performance (Scale). ............................

(2.5)

Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
Keterangan:
Performance adalah nilai tingkat kepuasan yang didapat dari hasil penyebaran
kuesioner.
2.8.5. Goal

16
Penentuan goal dilakukan melalui diskusi dengan tim ahli perancang produk fire
extinguiher. Di dalam penentuan goal skala penilaian mengacu pada nilai
Importance to Customer. Skala penilaian goal ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Tabel Skala Goal


Skal

Penjelasan

a
1

Tidak

2
3

Memuaskan
Memuaskan
Sangat
Memuaskan

Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
2.8.6. Improvement Ratio
Improvement Ratio digunakan untuk menunjukkan besarnya perubahan atau
perbaikan yang harus dilakukan. Dalam bentuk matematis penentuan nilai
Improvement Ratio adalah:

Improvement Ratio

Goal
Current Satisfaction Performanc e

.................................................(2.6)
Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
Arti nilai Improvement Ratio dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Tabel Improvement Ratio
Nilai
<1

Arti
Tidak ada

perubahan
Perbaikan

1,5
> 1,5

sedang
Perbaikan

menyeluruh
Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
2.8.7. Sales Point

17
Sales point menyatakan besarnya nilai jual atribut produk dalam peningkatan
penjualan produk. Nilai ini diperoleh dari hasil diskusi dengan tim ahli perancang
produk tersebut dalam perusahaan. Arti nilai sales point dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 2.3 Tabel Sales Point


Nilai
1

Arti
Tidak ada

1,2

sales point
Sales point

1,5

sedang
Sales point

kuat
Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
2.8.8. Raw Weight and Normalized Raw Weight
Digunakan untuk menunjukkan besarnya perbaikan suatu kriteria customer needs
produk fire extinguisher. Dalam bentuk matematis penentuan nilai Raw Weight and
Normalized Raw Weight adalah:
Raw Weight = Importance to customer * Improvement Ratio * Sales Point

Normalized Raw Weight

..........................(2.7)

Raw Weight
Raw Weight Total

.................................................................(2.8)
Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
2.8.9. Matriks Hubungan (Relationship Matriks)
Matriks ini digunakan untuk melihat hubungan sebab akibat yang ditimbulkan antara
kebutuhan dan keinginan konsumen (customer needs) dengan karakteristik teknik
(technical respons). Hubungan terbentuk antara
pendeskripsian

teknis

dapat

menjadi

sangat

persyaratan konsumen dan


membingungkan

karena

masing-masing persyaratan pelanggan dapat mempengaruhi satu atau lebih


pendeskripsian teknis dan sebaliknya. Dalam bentuk matematis penentuan nilai
Relationship Matriks adalah:

18
Relationship Matriks = Nilai Raw Weight * Bobot Penilaian Tingkat Hubungan

.................(2.9)

Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
Tingkat hubungan dan bobot/nilai Relationship Matriks dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 2.4 Tingkat Hubungan dan Bobot/Nilai Relationship Matriks

Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
Keterangan:

Nilai 9: hubungan berpengaruh kuat. Artinya perubahan yang relatif kecil pada
karakteristik teknis akan memberikan pengaruh yang sangat berarti pada
kepuasan pelanggan.

Nilai 3: hubungan berpengaruh sedang. artinya perubahan yang relatif besar


karakterisik teknik akan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada
kepuasan pelanggan.

Nilai 1: hubungan berpengaruh lemah. artinya perubahan yang relatif kecil


karakterisik teknik akan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada
kepuasan pelanggan.

Nilai 0: tidak ada hubungan. hubungan artinya perubahan pada karakterisik


teknik tidak akan berpengaruh pada performansi kepuasan pelanggan.

Nilai -1: hubungan berpengaruh lemah berlawanan. artinya perubahan yang


relatif kecil karakterisik teknik akan memberikan pengaruh yang cukup berarti
pada kepuasan pelanggan dari hubungan yang berlawanan.

Nilai -3: hubungan berpengaruh sedang berlawanan. artinya perubahan yang


relatif besar karakterisik teknik akan memberikan pengaruh yang cukup berarti
pada kepuasan pelanggan dari hubungan yang berlawanan.

19

Nilai -9: hubungan berpengaruh kuat berlawanan. Artinya perubahan yang relatif
kecil pada karakteristik teknis akan memberikan pengaruh yang sangat berarti
pada kepuasan pelanggan dari hubungan yang berlawanan.

2.8.10 Korelasi Karakteristik Teknik (Technical Correction)


Karakteristik teknis adalah pernyataan yang digunakan oleh perusahaan, bahasa
teknik dari sebuah organisasi yang digunakan untuk layanan-layanan jasa.
Karakteristik teknis untuk mengartikan kebutuhan dan keinginan konsumen (suara
konsumen). Atribut keinginan konsumen diterjemahkan kedalam karakteristik
teknis. Karakteristik teknis ini merupakan karakteristik kualitas perusahaan atau
mewakili suara penyedia jasa. Pada karakteristik teknis akan memperbaiki atap
atau lantai kedua dari Rumah Kualitas. Masing-masing karakteristik teknis harus
langsung mempengaruhi persepsi konsumen dan dijelaskan dalam bagian yang
diukur.
Korelasi antar karakteristik teknik menunjukkan interaksi antara karakteristik teknik
masing-masing atribut. Masing-masing karakteristik teknik tersebut dibandingkan
satu sama lain. Simbol yang digunakan untuk menunjukkan korelasi karakteristik
teknik adalah:
1. Simbol untuk arah perubahan pada setiap karakteristik teknik
Tabel 2.5 Tabel Simbol Korelasi Karakteristik Teknik untuk Arah Perubahan

Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
2.8.12 Penilaian Persaingan (Benchmarking)
Penilaian

persaingan

adalah

sepasang

tabel

bobot

(atau

grafik)

yang

menggambarkan bagian bagaimana membandingkan persaingan produk dengan

20
produk yang ada pada organisasi. Tabel penilaian persaingan dibagi kedalam dua
kategori :
-

Penilaian persaingan melalui konsumen


Merupakan Cara yang baik untuk menentukan jika persyaratan pelanggan telah
terpenuhi

dan

mengidentifikasi

bidang

yang

akan

difokuskan

pada

perancangan selanjutnya. Juga berisi suatu penilaian dimanakah kedudukan


organisasi terhadap para pesaing utamanya dalam setiap persyaratan
pelanggan.
-

Penilaian persaingan secara teknis


Penilaian ini sering berguna dalam membuka kesenjangan dalam penilaian
secara teknik. Ketika suatu deskripsi secara teknis berhubungan secara
langsung terhadap persyaratan pelanggan, suatu perbandingan dibuat antara
evaluasi persaingan pelanggan dan tingkat ukuran tujuan.

2.8.13. Tahap Pemilihan Prioritas Target


Setelah matriks HOQ dibuat berdasarkan data kebutuhan dan keinginan konsumen,
maka tahap selanjutnya dapat dilakukan formulasi terhadap hasil target spesifikasi
produk. Formulasi strategi ini berguna dalam memberikan informasi kepada pihak
perusahaan untuk dapat mengembangkan produk yang dihasilkannya sehingga
mampu memberikan kepuasan kepada konsumen. Selain itu, formulasi strategi ini
juga ditujukan agar perusahaan memperoleh informasi mengenai kualitas dan desain
produk yang telah dihasilkannya dengan kualitas dan desain produk dari perusahaan
pesaing yang memproduksi produk jenis serupa, sehingga perusahaan dapat
melakukan pengembangan terhadap produk yang dihasilkan dengan lebih mudah.
Perusahaan dapat menentukan alternatif-alternatif strategi untuk mengembangkan
produknya lebih dari satu alternatif sesuai kebutuhan.
Setelah alternatif-alternatif strategi pengembangan produk disusun, langkah
pemilihan strategi berdasarkan target spesifikasi dapat dilakukan. Perusahaan dapat
memilih salah satu alternatif yang paling mudah dari beberapa alternatif yang ada
untuk dilakukan, atau perusahaan dapat melakukan perbaikan secara menyeluruh
terhadap desain produk yang dihasilkan dengan mengurutkan alternatif-alternatif
yang ada berdasarkan prioritas kepentingan perusahaan. Alternatif-alternatif yang
terpilih

tersebut

kemudian

digunakan

oleh

perusahaan

sebagai

dasar

pengembangan produk menjadi lebih baik, sehingga diharapkan perusahaan mampu


menghasilkan produk yang mampu bersaing dari segi desain dan kualitas produk
dengan perusahaan pesaingnya.

21

2.8.14 Diagram Matriks House of Quality (HOQ)


Setelah data diolah, langkah selanjutnya adalah penyajian data ke dalam bentuk
tabel maupun diagram matriks HOQ. Bentuk matriks umum House of Quality adalah
sebagai berikut:

Gambar 2.4 Bentuk Matriks Umum House of Quality (HOQ)


Sumber: Cohen L., QFD: How To Make QFD Work for You, 1995.
Keterangan:
1) Bagian A : Berisi data atau informasi yang diperoleh dari hasil penelitian pasar
tentang kebutuhan dan keinginan konsumen.
2) Bagian B : Berisi 3 jenis data, yaitu:

Tingkat kepentingan kebutuhan dan keinginan konsumen

Data

tingkat

kepuasan

konsumen

terhadap

produk

yang

dihasilkan oleh perusahaan dan produk pesaing

Tujuan strategis untuk produk atau jasa baru yang akan


dikembangkan

3) Bagian C : Berisi persyaratan-persyaratan teknis untuk produk atau jasa baru


yang akan dikembangkan. Data ini diturunkan berdasarkan informasi yang
diperoleh mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen (matriks A).
4) Bagian D : Berisi penilaian manajemen mengenai kekuatan hubungan antara
elemen-elemen yang terdapat pada bagian persyaratan teknis (matriks C)
terhadap kebutuhan konsumen (matriks A) yang dipengaruhinya. Kekuatan
hubungan ditunjukkan dengan menggunakan simbol tertentu.

22
5) Bagian E : Menunjukkan korelasi antara persyaratan teknis yang satu dengan
persyaratan-persyaratan teknis yang lain yang terdapat dalam matriks C.
Korelasi

antara

kedua

persyaratan

teknis

tersebut

ditunjukkan

dengan

menggunakan simbol-simbol tertentu.


6) Bagian F : Berisi 3 jenis data, yaitu:

Urutan tingkat kepentingan (rank) persyaratan teknis

Informasi hasil perbandingan kinerja persyaratan teknis produk


terhadap kinerja produk pesaing

Target

kinerja

persyaratan

teknis

produk

baru

yang

dikembangkan.
BAB III
ANALISIS STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus dan Identifikasi Permasalahan


Studi kasus diambil dari Jurnal Application of a Quality Function
Deployment Technique to Design and Develop Furniture Products oleh Chatree
Homkhiew, Thanate Ratanawilai*, and Klangduen Pochana dimana diketahui
Operasi manufaktur di furniture Thai industri saat ini sangat kompetitif. Masalah yang
disebabkan oleh stagnasi ekonomi telah mengakibatkan situasi saat ini bahwa
industri dari semua jenis harus mengembangkan perusahaan lebih baik
, menghasilkan produk berkualitas tinggi, dan lebih baik menanggapi kebutuhan
pelanggan.
Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan di bidang manufaktur furnitur telah
tumbuh secara dramatis. Hal ini diperlukan bagi pengusaha untuk meningkatkan
kualitas produk mereka dan untuk mengembangkan proses termasuk kualitas
manajemen untuk mendapatkan desain produk baru dan pengembangan produk
termutakhir.
Pentingnya mengembangkan produk yang memenuhi pelanggan kebutuhan
merupakan prioritas dalam pengembangan produk. Hal ini juga penting untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan dengan karakteristik produk, yang dapat dicapai
dengan menggunakan penyebaran Quality Function Deployment (QFD) (Bergquist
dan Abeysekera, 1996). Penggunaan QFD akan memperbesar peluang sukses,
menghasilkan kualitas yang lebih tinggi dari produk, dan mengurangi biaya dan
memakan waktu di pengembangan produk (Vairaktarakis, 1999; Benner et al,. 2003).

23
Sebuah lemari kayu lapis terpilih sebagai kendaraan studi untuk penelitian ini
karena angka penjualan yang tinggi dan yang kebanyakan bentuk rumit
dibandingkan dengan produk lain, seperti showcase, meja kantor, dan meja. Tujuan
utama dari ini penelitian ini adalah untuk merancang dan memproduksi jenis baru
prototype plywood lemari untuk industri mebel.
Dimana Keinginan pelanggan ditejemahkan kedalam House of Quality. Teknik Ini
diterapkan untuk merancang bentuk-bentuk baru melalui perubahan, misalnya,
bentuk produk, pola, warna, fungsi, dan kualitas bahan yang digunakan.
kepuasan produk dievaluasi oleh pelanggan menyusun kelompok-kelompok
pengguna produk dan toko agen penjualan. Hasil mengungkapkan bahwa nilai
kepuasan rata-rata prototipe baru meningkat 2,71-4,08 poin atas produk saat ini
(Kenaikan sekitar 54,87%). pengujian hipotesis kepuasan pelanggan antara saat ini
dan desain baru itu ditemukan meningkat secara signifikan berkaitan dengan
pendekatan QFD

3.2 Metodologi Penelitian


3.2.1

Pengumpulan dan pengolahan data


Metodologi penelitian adalah langkah-langkah dan prosedur yang akan
dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi untuk memecahkan masalah dan
uji hipotesis penelitian. Salah satu elemen yang paling penting dalam metodologi
penelitian adalah penggunaan metode ilmiah sebagai alat untuk mengidentifikasi
objek atau fenomena. Tidak hanya itu, tetapi juga mencari solusi untuk masalah yang
sedang dipelajari, sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
Metodologi dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif,
dimana peneliti melakukan survei atau pengamatan langsung dan pengolahan data
kuantitatif.
Data ini baik kualitatif maupun kuantitatif dan ketika diolah akan menghasilkan
informasi yang diinginkan. Berdasarkan jenis, data dibagi menjadi dua jenis yakni
data primer dan data sekunder.
1. Data primer

24
Dalam penelitian ini data primer yang digunakan meliputi survei ,pengamatan
langsung , dan wawancara tehadap sample group yang telah ditentukan untuk
menentukan voice of customers, kebutuhan pelanggan, dan kepuasan
pelanggan
2. Data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya
Dalam penelitian ini data sekunder adalah data historis perusahaan seperti:
penjualan produk mebel, desain awal produk lemari kayu lapis di Thailand
Untuk mencapai tujuan penelitian ini digunakan Quality Function Deployment
QFD . Data fundamental dikumpulkan melalui kuesioner dimana diambil sample yang
terdiri dari pengguna produk dan toko agen penjualan. Karena jumlah yang tidak
diketahui dari pelanggan, ukuran sampel untuk mengeksplorasi kebutuhan
pelanggan
dan rating kepuasan pelanggan melalui empat kuesioner telah dihitung ,yakni:
1. Kuesioner pertama
digunakan untuk survei kebutuhan pelanggan seperti yang ditunjukkan bahwa
Pada 90% confidence interval, ditemukan bahwa setidaknya 58 pelanggan perlu
disurvei untuk mendapatkan informasi customer needs
2. Kuesioner kedua
dilakukan untuk mendapatkan signifikansi Level dari tingkat kebutuhan
3. kuesioner ketiga
Digunakan untuk mendapatkan satisfaction Rating dari Case Study Factory
yang dibandingkan Factory lainnya yang sejenis
4. Kuesioner Keempat
kuesioner ini diperlukan untuk membandingkan kepuasan pelanggan antara
lemari kayu lapis saat ini dan yang baru dikembangkan. Pada interval kepercayaan
95% , 3 kuesionair yang lain membutuhkan jumlah sample yang sama yakni 323
sample

25

3.2.3 Tahapan Pemecahan Masalah


Tiga langkah utama untuk melaksanakan rumah kualitas(HOQ) teknik QFD
dijelaskan sebagai berikut
1. Customer Voice Collections
Dalam rangka untuk merancang dan memproduksi jenis baru dari prototype
wardrobe dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, kebutuhan
pelanggan dikumpulkan. Untuk mendapatkan informasi ini, dua kelompok utama dari
kedua pengguna produk dan toko agen diselidiki dengan open-ended kuesioner.
Sebanyak 58 kuesioner dikumpulkan; 29 masing-masing dari pengguna produk dan
toko agen penjualan. Jenis informasi utama ini, yang terdiri dari ide pribadi dari
setiap pelanggan, sehingga seringkali tidak digunakan bahasa resmi dan
karenanyaperlu direvisi untuk mengelompokkan dan menyelesaikan kebingungan.
Penataan dan analisis dapat dilakukan dengan menggunakan afinitas diagram (lihat
Gambar 3.1) dan diagram pohon (Cohen, 1995).

Gambar 3.1 Customer Requirement

2. Customer Requirement Ranking


Berdasarkan data dasar yang diperoleh dari langkah pertama, dua kuesioner
yang diproduksi untuk menyampaikan signifikansi tingkat kebutuhan dan tingkat
kepuasan pada plywood lemari saat studi kasus perbandingan pabrik dengan industri
sejenis lainnya. Sebanyak 323 sampel yang digunakan pada setiap kuesioner
berfokus pada dua kategori utama; Format dan material dari produk. Responden
diberi pilihan evaluasi pada skala dari 1 sampai 5, dengan nilai 5 sebagai kategori

26
paling penting hingga1 yang merupakan kategori kurang penting. Geometris berarti
persamaan digunakan untuk menghitung data primer dari dua kuesioner tersebut
(Kengpol, 2004). Untuk menyelesaikan tugas ini, bobot pentingnya kebutuhan
'dikalikan oleh nilai-nilai rasio peningkatan, menghasilkan peringkat tingkat
kepentingan
3. Perencanaan Produk Matriks, atau Pengembangan House Of Quality
Matriks pertama dari metode QFD disebut Rumah Kualitas yang dibangun untuk
menganalisis dan menerjemahkan kebutuhan pelanggan (Apa) ke dalam persyaratan
teknis(Bagaimana). Struktur dasar dari HOQ disajikan pada Gambar 3.2

Gambar 3.2 Struktur dasar dari HOQ


Bangunan HOQ terdiri dari 6 bagian dasar (Vairaktarakis, 1999), Berikut merupakan
pembagiannya:
Bagian 1: Persyaratan pelanggan dan signifikansi tingkat kebutuhan yang
dikumpulkan dari kebutuhan pelanggan yang ada. Informasi ini diidentifikasi melalui
survei yang pertama dan kuesioner kedua. Item Yang paling Sering disebutkan
ditetapkan sebagai "Customer Requirements" (Whats) (Boonyanuwat et al., 2008).
Bagian 2: Tingkat kepuasan dari studi kasus dari Pabrik yang dibandingkan dengan
industri sejenis lainnya, yang digambarkan pada gambar 3.3

27

Gambar 3.3 House Of Quality Result


Yang ditugaskan kepada responden dari kuesioner ketiga. Hasil akhir dari
tingkat kepuasan di setiap kebutuhan pelanggan adalah dipilih dari nilai maksimum
antara nilai studi kasus perbandingan pabrik dengan industri lain yang sejenis. Rasio
peningkatan dari setiap kebutuhan pelanggan dapat dievaluasi dengan membagi
nilai sasaran dengan rating kepuasan nilai pabrik studi kasus. Terakhir, nilai tingkat
kepentingan untuk setiap kebutuhan pelanggan ditentukan dengan mengalikan rasio
perbaikan dengan signifikansi tingkat kebutuhan.
Bagian 3: Persyaratan Teknis (Hows) .Hasil kelompok curah pendapat dari berbagai
bagian di pabrik termasuk kepemilikan dan tim manajemen, pemasaran, departemen
produksi, desain, dan pengiriman. dua klasifikasi yang dikategorikan; Format dan

28
material. Sebuah diagram sebab akibat diaplikasikan untuk menganalisis hubungan
teknis persyaratan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan hal ini dapat dilihat pada
gambar 3. Hasilnya, nilai target persyaratan teknis ditetapkan untuk mengukur dan
menentukan arah hasil dari improvement.

Gambar 3.4 Ilustrasi Diagram Sebab Akibat


Bagian 4: Penilaian dari hubungan antara kebutuhan pelanggan dan persyaratan
teknis adalah dievaluasi oleh sekelompok tim pengembangan produk. Hubungan
matriks kemudian dibangun untuk menyediakan daftar bagaimana persyaratan teknis
mewakili masing-masing pelanggan kebutuhan pada skala 1, 3, dan 9. Peringkat
skala 1 merupakan hubungan sedikit atau mungkin, 3 merupakan moderat
hubungan, dan 9 singkatan hubungan yang kuat (Boonyanuwat, et al., 2008).
Bagian 5: hubungan Prioritas terdiri dari dua bagian, tingkat signifikansi mutlak dan
relative persyaratan teknis. Ini adalah pengukuran dari Hows. Penggunaan nilai
signifikansi adalah untuk menentukan prioritas dan arah untuk perbaikan Hows
(Benner et al., 2003). Nilai tingkat signifikansi persyaratan teknis mutlak (SL_ABS)
merupakan persyaratan teknis yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan,

absolute importance= (ratarata nilai existing product x nilai kekuatan hubunganroom 3)


relative importance=

absolute importance
x 100
absolute importance

Bagian 6: Korelasi teknis, ditugaskan di atap pada HOQ , adalah hasil brainstorming
kelompok untuk menentukan hubungan antara "Hows" dan menunjukkan apa "
Hows " mempengaruhi tiap teknik (Benner et al., 2003). Indikasi ini menunjukkan
bahwa unsur-unsur teknis mempengaruhi kinerja masing-masing yang lain, yang
diwakili oleh

29
menandai "X" untuk hubungan lemah dan "O" untuk hubungan yang kuat (Pinta,
2002). Penerapan HOQ matriks "Apa vs Bagaimana"
3.2.3

Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.5 Diagram Alir Penelitian


3.3 Penerapan QFD
HOQ dari teknik QFD diterapkan untuk merancang dan menghasilkan produk
jenis baru dari lemari prototipe kayu lapis. Hasil dari teknik QFD memberikan catatan
dari

karakteristik yang diinginkan pelanggan. Sebagai contoh, lima syarat yang

paling penting yang ditunjukkan tergantung pada nilai tertinggi dari yang signifikan
relatif teknis kebutuhan. Parameter ini meliputi weight, size, number of color, number
of assembly part, and color brightness (Kolom 1, 2, 4, 9, dan 11, masing-masing,
dapat dilihat pada lembar lampiran). Hal ini dapat dilihat bahwa persyaratan teknis

30
(Hows) yang sangat terkait dengan berbagai kebutuhan pelanggan dan akan
memiliki dampak yang tinggi untuk meningkatkan kepuasan nilai prototipe lemari
kayu lapis. Oleh karena itu produk dirancang dan diproduksi berdasarkan
persyaratan penting, terutama pada lima parameter seperti yang dibahas di atas.
Untuk menentukan kepuasan pelanggan dari prototipe baru lemari kayu lapis atas
yang saat ini, Kuesioner keempat digunakan untuk evaluasi. Dikarenakan tidak
mungkin bagi total 323 responden untuk memeriksa dan mencoba menggunakan
produk, evaluasi diperlihatkan dan diatur melalui gambar dan deskripsi produk. Satu
kelemahan utama adalah bahwa, terdapat tiga item; seperti keamanan bahan,
kemudahan penggunaan, dan berat yang sesuai, tidak dapat dilakukan di bawah
produk ini representasi dan harus diabaikan. Namun, foto-foto sebelum dan sesudah
perbaikan yang sangat hati-hati diambil untuk memberikan informasi yang
dibutuhkan, dan terkait fitur yang benar-benar dijelaskan dalam rangka untuk
memudahkan penentuan peringkat.
3.3.1 Analisis House of Quality
Analisa Room 1
Analisis Room 1 berisikan mengenai kebutuhan pelanggan yang didapat dari
hasil pengujian kuesioner yang telah diuji validitasnya adalah suara pelanggan yang
direkap pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1 Voice of Customer
Voice Of Customer
Shape Sefety
Beauty
Ease to Use
Functionally
Modern Format
Suitable Size
Diversity Format
Beautiful tracery
Suitable weight
Uncomplicated Form
Modern Part
Assambly Part
Material Safety
Quality of Material
Ease of Cleaning
Quality Part

31
Metode ini dimulai dengan pengidentifikasian pelanggan dan pandangan
mereka terhadap kebutuhan mereka dan atribut produk yang mereka inginkan. Pada
Tabel Voice Of Customer didapatkan dari hasil pengujian validitas dimana
pernyataan yang valid dimasukkan ke Room 1.
2)

Analisa Room 2,3,dan 6


Selanjutnya adalah melakukan analisa Room 2, 3, dan 6 Dimana pada Room 2

merupakan tanggapan dari tim terhadap kebutuhan pelanggan yang ada di Room 1
Pada Room 3 menunjukkan hubungan antara kebutuhan konsumen dengan
tanggapan dari tim yang ditunjukkan dengan simbol = kuat ; o = sedang dan =
lemah

Gambar 3.6 Room 2. 3 dan 6


a)

Room 2

32
Room 2 adalah Voice Of Design Team, yaitu tanggapan dari perusahaan atau
tim pengembang terhadap kebutuhan pelanggan yang tercantum dalam voice of
customer. Voice of Design Team juga disebut corporate expectation. Pada Room 2
ditentukan atribut desain (karakteristik desain) yang akan digunakan dalam sebuah
layanan Atribut inilah yang akan menentukan cara bagi tim desain untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan.
Tabel 3.2 Voice of Customer
Voice Of Customers
Weight
Size
Strength
Number of Colour
Convenient Door and
Drawer
Product Comes
Diversity Of Product
More Functionally
Number of Assembly
Part
Modern Material
Brightness
Durability of Colour
and Material
Quality of the Used
Material
Ease of Cleaning
Surface
Quality of Suppliert
b)

Room 3
Room 3 berisi tentang hubungan antara kebutuhan pelanggan dengan

karakteristik dari perusahaan Di Room 3 digunakan metode prioritas matriks


Semakin banyak suatu elemen persyaratan teknik yang berhubungan dengan
elemen persyaratan konsumen maka elemen persyaratan teknik dianggap
berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan konsumen Pada matrix ini dikenal
dengan matrix priotas (priorization matrix) yang merupakan bagian terbesar dari
matrix dan pekerjaan perancang Matrix ini menghubungkan antara kebutuhan dan
keinginan konsumen dengan karakteristik teknik yang menunjukan nilai kepuasan
pelanggan Pada Room 3 ini merupakan korelasi antara Room 1 dan Room 2
Hubungan pada Room 3 ini kuat, sedang dan lemah.
Pada Room 3 menunjukkan hubungan antara kebutuhan konsumen dengan
tanggapan dari tim yang ditunjukkan dengan simbol = kuat ; o = sedang dan =

33
lemah. Setiap kebutuhan pelanggan dibandingkan dengan semua tanggapan tim
mengenai kebutuhan tersebut, lalu tim menentukan bagaimana hubungan diantara 2
variabel tersebut, apakah lemah, sedang ataupun kuat. Berikut dibawah ini
merupakan gambaran dari Room 3:

Format
Suitable Size
Diversity

weight
Uncomplicated
Form
Modern Part

3) Room 4

Ease of

Quality of

Cleaning

Suppliert

Quality of the
Used

Durability of

Colour and

Brightness

Modern

Number of

More

Diversity Of

Product

Convenient

Safety
Quality of

Cleaning
Quality Part

Assambly Part
Material

Material
Ease of

Format
Beautiful
tracery
Suitable

Material

Assembly

Functionally
Modern

Functionally

Product

Ease to Use

Comes

Door and

Shape Sefety
Beauty

Number of
Colour

Strength

Quality

Size

Demanded

Weight

Tabel 3.3 1 Room 3

34
Room 4 yaitu bencmarking yang menjelaskan tentang hubungan antara existing
produk dengan competitive product . Dari Room ini dapat dianalisa kelebihan
masing-masing produk. Hubungan tersebut digambarkan pada gambar dibawah ini.
Tabel 3.4 2 Room 4
Case
Study
Voice Of Customer
Shape Sefety
Beauty
Ease to Use
Functionally
Modern Format
Suitable Size
Diversity Format
Beautiful tracery
Suitable weight
Uncomplicated Form
Modern Part
Assambly Part
Material Safety
Quality of Material
Ease of Cleaning
Quality Part

Factory
2.2
3.1
3.1
3.7
3.2
4.7
3.6
2.8
3.6
4.3
3.1
1.1
3.1
3.5
3.2
3.1

Others
Factory
2.3
3.4
3.6
4
3.1
4.6
3.4
3.2
2.4
3.5
3.9
1.3
3.1
3.4
3.3
3.8

Goals
1

2.3
3.4
3.6
4
3.2
4.7
3.6
3.2
3.6
4.3
3.9
1.3
3.1
3.5
3.5
3.8

Kolom putih merupakan atribut kebutuhan pelanggan, kolom bitu muda


merupakan cutomer rate dan kolom putih menunjukan nilai tingkat kepentingan
masing-masing produk. Pada kolom putih terdapat 3 simbol yaitu simbol persegi,
segitiga dan lingkaran. Simbol lingkatan menunjukan nilai tingkat kepentingan atribut
kebutuhan pelanggan terhada

existing product,

sedangkan simbol persegi

menunjukan nilai tingkat kepentingan atribut kebutuhan pelanggan terhadap


competitor product 1, dan simbol segi tiga menunjukan nilai tingkat kepentingan
atribut kebutuha pelanggan terhadap competitor product 2. Garis hitam pada gambar
diatas menghubungkan nilai kepentingan untuk existing product masing-masing
atribut. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa existing produk tidak lebih unggul dari
kompetitornya, namun memiliki nilai tingkat kepentingan yang seragam untuk
beberapa atribut kebutuhan pelanggan.
4) Room 5
Pada Room

5 dijelaskan mengenai bagaimana target desain karakteristik

produk yang akan dirancang atau exixting product itu sendiri yang kemudian

35
dibandingkan dengan competitor product 1 dan competitor product 2. Dan pada hal
ini dikarenakan kurangnya data yang ada dilakukan brainstorming dalam
menentukan nilai tingkat kesulitan dan nilai dari technical requirement target. Berikut
ini adalah gambar analisa Room 5.

Gambar 3.7 Room 5


Pada kolom putih terdapat tiga simbol yaitu segitiga, lingkaran dan persegi.
Simbol persegi menunjukan posisi atribut pada Room 2 yang ditentukan tim
perancang terhadap existing product, sedangkan simbol lingkaran menunjukan posisi
atribut pada Room 2 yang ditentukan tim perancang terhadap other factory, dan
simbol segitiga menunjukan posisi atribut pada Room 2 yang ditentukan tim
perancang terhadap study case factory. Garis hitam pada gambar diatas
menghubungkan posisi existing product masing-masing atribut. Dari gambar diatas
dapat dilihat bahwa existing produk belum unggul dalam semua hal dibandingkan
dengan kompetitornya karena nilainya lebih kecil dari nilai kompetitor.
5) Analisa Room 6
Room 6 adalah matriks hubungan antara kebutuhan pelanggan dengan
technical response Matriks ini digunakan untuk dokumen dalam substitute quality
characteristic Pada Room 6 menggambarkan hubungan antara komponenkomponen pada Room 2. Korelasi antara atribut-atribut ini ditetapkan untuk
mengidentifikasi

sejauh

mana penguatan

atau

konflik

yang perlu

dipertimbangkan dalam desain. Pada Room 6 menunjukkan hubungan antara


kebutuhan konsumen dengan tanggapan dari tim yang ditunjukkan dengan simbol o
= kuat dan x = lemah. Dan untuk pergerakan nilai target value
semakin baik,

= Semakin tinggi

= Semakin kecil semakin baik dan O = Target yang sesuai

36

Gambar 3.6 Room 6


5) Room 7 & 8
Analisa Room 7 merupakan anailis mengenai nilai abslute importance yang
dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut.

absolute importance= (ratarata nilai existing product x nilai kekuatan hubunganroom 3)

Quality of

Ease of Cleaning
Surface

Suppliert

Quality of the
Used Material

Durability of
Colour and

Brightness

Modern Material

More Functionally

Number of
Assembly Part

Diversity Of

Product Comes

Convenient Door

Shape

Product

4.14

Quality

and Drawer

ance

ed

Number of Colour

Import

Demand

Strength

Size

Weight

Weight

Tabel 3.5 Room 7 dan 8

4.06
3.89
3.8
3.64
3.63
3.39

3.39

3.35
3.3
4.29

4.24

4.07
3.64

ally
Modern
Format
Suitable
Size
Diversity

weight
Uncompli
cated

y Part
Material

Safety
Quality
of

Cleaning
Quality

Quality of

Material
Ease of

Suppliert

Ease of Cleaning
Surface

Durability of

Brightness

Number of

More Functionally

Form
Modern
Part
Assambl

Diversity Of

Format
Beautiful
tracery
Suitable

Quality of the

Use
Function

Colour and

Ease to

Modern Material

Used Material

4.12

Beauty

Assembly Part

4.12

and Drawer

Sefety

Product

Product Comes

Quality

Convenient Door

ance

ed

Number of Colour

Import

Demand

Strength

Size

Weight

Weight

37

86.

51.

64.

42.

12.

57
7.7

48
8.9

54
5.3

71
6.6

04
4.3

87
1.3

Part
Sig of

79

12

54.

10

14

7.

48

58

80

75.

absolute
Sig of

.8
8.

2.6
12.

02
5.5

5
10

.3
1.

37
7.

.6

.4
6.

.4
8.

relative

22

63

.8

47

66

02

28

Nilai absolute importance ditunjukan pada gambar Pada gambar diatas


menunjukan bahwa nilai absolute importance pada size memiliki nilai yang paling
besar. Artinya pada atribut ini memiliki hubungan yang paling banyak dan kuat
dengan kebutuhan konsumen. Sedangkan pada atribut quantity of supplier memiliki
nilai absolute importance yang paling kecil. Artinya atribut ini memiliki hubungan yang
paling sedikit dengan kebutuhan pelanggan.
Pada Room 8 menganalisis relative importance. Nilai nilai relative importance
dapat dihitung dengan menggunakan formula sebegai berikut.

38
relative importance=

absolute importance
x 100
absolute importance

Dari gambar diatas juga menunjukan bahwa nilai relative importance pada
atribut variasi size memiliki nilai paling besar dan pada atribut quantity of supplier
memiliki nilai relative importance yang paling kecil dibanding atribut yang lainnya.
3.1 Pengujian hipotesis kepuasan
Untuk

membandingkan

kepuasan

pelanggan

sebelum

dan

sesudah

menerapkan teknik QFD, persentase perubahan nilai dari 13 kebutuhan pelanggan


(apa) yang dianggap sebagai study vehicle (lihat Tabel 1). Rata-rata kepuasan
pelanggan nilai-nilai menunjukkan bahwa bagian perakitan dan keragaman format
memberi nilai tertinggi sebesar 115,38% dan nilai terendah 21,0%. Selanjutnya,
pengujian hipotesis
rata-rata kepuasan pelanggan antara desain baru dan desain yang sekarang secara
statistik dilakukan pada tingkat signifikansi 0,05: H0: Rata-rata kepuasan pelanggan
xi tidak berbeda antara desain saat ini dengan desain baru. H1: rata-rata kepuasan
pelanggan dari desain baru lebih tinggi dari desain saat ini, dengan i = 1 sampai 13.
Hasilnya menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan rata-rata mengenai desain
baru setiap fitur meningkat secara signifikan, berdasarkan pendekatan QFD. Oleh
karena itu, dapat mengklaim bahwa fitur lainnya, yang memiliki nilai persentase
perubahan yang lebih tinggi dari kepuasan pelanggan juga akan diterima secara
signifikan.

38
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Teknik

Quality

Function

Deployment

(QFD)

dapat

digunakan

dalam

pengembangan pengolahan kayu lapis prototipe baru untuk meningkatkan kepuasan


pelanggan. Kebutuhan pelanggan diubah ke dalam House of Quality. Produk baru
didesain dan dikembangkan dengan variasi dalam bentuk, pola, warna, fungsi dan
kualitas bahan yang digunakan. Kepuasan produk dievaluasi oleh pelanggan yang
terdiri dari kelompok pengguna dan agen penjualan. Hasil penelitian menunjukkan
rata-rata nilai kepuasan terhadap produk baru, semua tipe produk mengalami
peningkatan dibandingkan produk saat ini produk, dari tingkat 2,71 menjadi 4,08
(54,87%) hal ini dapat dilihat pada table 4.1 . Pengujian hipotesa mengenai rata-rata
kepuasan pelanggan antara produk saat ini dan produk dengan desain baru
ditemukan mengalami peningkatan secara signifikan dengan pendekatan QFD.
Tabel 4.1 Perbandingan Kepuasan Desain Produk Baru dan Lama

Dan sebagai perbandingan antara desain awal dan desain lemari berdasalkan hasil
dari penerapan QFD. Hasilnya menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan rata-rata
mengenai desain baru setiap fitur meningkat secara signifikan, berdasarkan
pendekatan QFD. Oleh karena itu, dapat disipulkan bahwa fitur-fitur bedasarkan
voice pendekatan QFD memiliki persentase yang lebih tinggi dan perubahan nilai
kepuasan pelanggan juga akan secara signifikan diterima. hal ini dapat dilihat pada
gambar 4.1

39

Gambar 4.1 Presentase Perbandingan Customer Need Desain Lama dan Desain
Baru
4.2 Kritik
Jurnal ini dinilai cukup baik , namun ada beberapa kritik dan saran yang dapat
diberikan
1. Pada industry mebel sekarang ini tidak hanya diperlukan suara konsumen saja,
namun faktor seperti ke-ergonomisan

juga diperlukan perhatian khusus ,

sehingga untuk kedepannya bisa menggabungkan desain produk dengan


memadu padakan produk yang ergonomis (melakukan analisis ergonomis) dan
juga sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan (QFD)
2. Untuk mendapatkan desain produk yang lebih jelas dapat dilakukan penelitian
lanjutan dengan memberikan pilihan untuk beberapa konsep yang didasari dari
hasil QFD sebelumnya untuk mendapatkan konsep terbaik untuk desain lemari ,
dan untuk memeilih konsep terbaik yang bisa digunakan kemudian dapat
menghitungnya dengan AHP.

40
DAFTAR PUSTAKA
Benner, M. J., & Tushman, M. L. (2003). Exploitation, exploration, and process
management: The productivity dilemma revisited. Academy of management
review, 28(2), 238-256
Bergquist, K., & Abeysekera, J. (1996). Quality function deployment (QFD)A
means for developing usable products. International journal of industrial
ergonomics, 18(4), 269-275.
Boonyanuwat, N., Suthummanon, S., Memongkol, N., & Chaiprapat, S. (2008).
Application of quality function deployment for designing and developing a
curriculum for Industrial Engineering at Prince of Songkla University. W ras n
Songkhl Nakharin, 30(3), 349.
Cohen, L., & Cohen, L. (1995). Quality function deployment: how to make QFD work
for you. Reading, MA: Addison-Wesley.
Homkhiew, C., Ratanawilai, T., & Pochana, K. (2012). Application of a quality function
deployment technique to design and develop furniture products.Songklanakarin
Journal of Science & Technology, 34(6).
Homkhiew, C., Ratanawilai, T., & Pochana, K. (2012). Application of a quality function
deployment technique to design and develop furniture products.Songklanakarin
Journal of Science & Technology, 34(6).
Juran, J. M. (1995). Merancang Mutu. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.
Kotler, P., & Susanto, A. B. (2000). Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis,
Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Jakarta: Salemba Empat.
Levitt, T. (1969). The marketing mode: Pathways to corporate growth. McGraw-Hill.
LAMPIRAN

16