Anda di halaman 1dari 17

HUKUM DAGANG

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Perkuliahan


Pengantar Tata Hukum Indonesia
Dosen Pengampu:
Teguh Setia Budi, M.Hi.

Oleh :
Ahmad Khamim Jazuli (12220184)
Muhajirin
Hanan Syarifah

(12220)
(12220)

Fakultas Syariah
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
2013

Kata Pengantar
Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat kepada semua
makhluk-Nya. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada Nabi
Muhammad SAW, Sang pembawa rahmat bagi semesta.
Selanjutnya kami sangat bersyukur kepada Allah, yang atas izin-Nya makalah
yang berjudul Hukum Dagang ini dapat terselesaikan. Kemudian, tidak lupa
kami ucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Teguh
Setia Budi, M.Hi. selaku dosen pengampu mata kuliah PTHI yang telah bersedia
membimbing kami dalam pembelajaran bidang tersebut, dan teman-teman
seperjuangan serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.

Idza tamma amrun bada naqshuhu, maka kami pun sadar bahwa dalam makalah
ini sangat banyak kekurangan, apalagi penyusun memang pemula dalam hal ini.
Maka, kami meminta kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran
agar makalah ini menjadi lebih baik. Kami berharap semoga karya yang
sederhana ini bisa bermanfaat, baik bagi kami sendiri maupun bagi para
pembaca. Amin ya Robbal alamin.
Malang, 9 Desember 2013
Penyusun
Daftar Isi
Halaman Sampul
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I. 1
PENDAHULUAN.. 1
A.

Latar Belakang. 1

B.

Rumusan Masalah. 1

C.

Tujuan. 2

BAB II. 3
PEMBAHASAN.. 3
A.

Pengertian Hukum Dagang. 3

B.

Selayang Pandang Sejarah KUHD.. 4

C.

Sistematika Hukum Dagang. 6

D.

Hubungan Hukum Perdata dengan KUHD.. 7

E.

Perantaraan dalam Hukum Dagang. 9

F.

Sumber-Sumber Hukum Dagang. 11

G.

Pengangkutan. 11

H.

Asuransi 14

I.

Persekutuan. 16

BAB III. 18
PENUTUP. 18

A.

Kesimpulan. 18

Daftar Pustaka. 20

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam rangka menciptakan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa,
Pemerintah Indonesia berusaha menerapkan hukum dalam berbagai aspek
kerakyatan yang ada di negeri ini. Namun, tugas negara tidak hanya sekedar itu,
bahkan teramat luas daripadanya. Pembangunan yang ada di dalam negeri ini
tidak dapat terpisahkan daripada intervensi pemerintah, misalnya saja
pembangunan dalam bidang ekonomi, baik yang bergerak di sektor mikro
maupun makro. Inti permasalahan dari keterlibatan negara dalam aktivitas
ekonomi bersumber pada politik perekonomian suatu negara. Munculnya corak
sosial ekonomi dalam konsep Kedaulatan berkaitan dengan munculnya hukum
yang mengatur transaksi di dalamnya. Dalam kaitan dengan cabang-cabang
hukum yang beragam maka negara membuat hukum yang mengatur urusan
tersebut. KUHD adalah produk yang dijadikan pedoman dasar untuk
memutuskan suatu hukum yang berkembang di masyarakat.
Untuk menata dan membenahi pengelolaan transaksi sehingga lebih teratur
maka pemerintah mengeluarkan KUHD, di dalamnya diatur berbagai macam
ketentuan khusus yang mengatur dunia usaha. Dalam kaidah-kaidah KUHPerdata
dan KUHDagang mempunyai sifat yang sama, yang berlandaskan faham
liberalisme. Untuk itu, ada identifikasi masalah Apa pengertian Hukum Dagang,
bagaimana sejarah munculnya KUHD, bagaimana sistematika Hukum Dagang,
bagaimana hubungan Hukum Perdata dengan KUHD dan lain sebagainya akan
kami sajikan dalam makalah ini.
1. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Hukum Dagang?
2. Bagaimana sejarah munculnya KUHD?
3. Bagaimana sistematika Hukum Dagang?
4. Bagaimana hubungan Hukum Perdata dengan KUHD?
5. Apa saja yang menjadi sumber Hukum Dagang?
6. Bagaimana perantaraan dalam Hukum Dagang?
7. Seperti apa pengangkutan dalam Hukum Dagang?
8. Apa yang dimaksud dengan asuransi?

9. Bagaimana konsep persekutuan dalam Hukum Dagang?


1. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Hukum Dagang.
2. Mengetahui sejarah munculnya Hukum Dagang.
3. Mengetahui sistematika Hukum Dagang.
4. Mengetahui hubungan Hukum Perdata dengan KUHD.
5. Mengetahui sumber Hukum Dagang.
6. Mengetahui perihal perantaraan dalam Hukum Dagang.
7. Mengetahui perihal pengangkutan dalam Hukum Dagang.
8. Mengetahui perihal asuransi.
9. Mengetahui konsep persekutuan dalam Hukum Dagang.

1. 1.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Hukum Dagang
Telah kita ketahui bahwa hukum dagang terletak dalam lapangan hukum
perikatan, yang khusus timbul dari lapangan perusahaan. Perikatan-perikatan
itu ada yang bersumber dari perjanjian dan ada yang bersumber dari undangundang.
1. Yang bersumber dari perjanjian misalnya: pengangkutan, asuransi, jualbeli perusahaan, makelar, komisioner, wesel, cek dan lain-lain.
2. Yang bersumber dari undang-undang misalnya: tubrukan kapal, (pasal
534) dan lain-lain.
Jadi, hukum dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan
perusahaan.[1]
Pada zaman yang modern ini perdagangan adalah pemberian perantaraan
antara produsen dan konsumen untuk membelikan dan menjualkan barangbarang yang memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan.
Ada beberapa macam pemberian perantaraan kepada produsen dan konsumen :
1. Pekerjaan orang-orang perantara sebagai makelar, komisioner, pedagang
keliling dan sebagainya.

2. Pembentukan badan-badan usaha (asosiasi), seperti perseroan terbatas


(PT), perseroan firma (VOF=Fa) Perseroan Komanditer, dsb yang tujuannya
guna memajukan perdagangan.
3. Pengangkutan untuk kepentingan lalu lintas niaga baik didarat, laut
maupun udara.
4. Pertanggungan (asuransi)yang berhubungan dengan pengangkutan,
supaya si pedagang dapat menutup resiko pengangkutan dengan
asuransi.
5. Perantaraan Bankir untuk membelanjakan perdagangan.
6. Mempergunakan surat perniagaan (Wesel/ Cek) untuk melakukan
pembayaran dengan cara yang mudah dan untuk memperoleh kredit.[2]
1. Selayang Pandang Sejarah KUHD
Pembagian hukum privat (sipil) ke dalam hukum perdata dan Hukum Dagang
sebenarnya bukanlah pembagian yang asasi, tetapi pembagian yang
berdasarkan sejarah dari Hukum Dagang.
Bahwa penbagian tersebut bukan bersifat asasi, dapatlah kita lihat dalam
ketentuan yang tercantum dalam pasal 1 KUHD yang menyatakan bahwa
peraturan-peraturan KUH Per dapat juga dijalankan dalam penyelesaian soal-soal
yang disinggung dalam KUHD terkecuali dalam penyelesaian soal-soal yang
semata-matadiadakan oleh KUHD itu.
Kenyataan-kenyataan lain yang membuktikan bahwa pembagian itu bukan
pembagian asasi ialah:
1. Perjanjian jual beli yang merupakan perjanjian terpenting dalam bidang
perdagangan tidaklah ditetapkan dalam KUHD, tetapi diatur dalam KUH
Per.
2. Perjanjian pertanggungan (asuransi) yang sangat penting juga bagi soal
keperdataan ditetapkan dalam KUHD.[3]
Adapun perkembangan Hukum Dagang sebenarnya telah dimulai sejak abad
pertengahan di Eropa, kira-kira dari tahun 1000 sampai tahun 1500. Asal mula
perkembangan hukum ini dapat kita hubungkan dengan terjadinya kota-kota di
Eropa Barat. Pada zaman itu di Italia dan Prancis Selatan telah lahir kota-kota
sebagai pusat perdagangan (Genoa, Florence, Venesia, Marseille, Barcelona, dan
lain-lain). Hukum Romawi ternyata tidak dapat menyelesaikan perkara-perkara
yang timbul di bidang perdagangan. Oleh karena itulah di kota-kota Eropa Barat
disusun peraturan-peraturan Hukum baru yang berdiri sendiri di samping Hukum
Romawi yang berlaku.[4]
Hukum yang baru ini berlaku bagi golongan pedagang dan disebut Hukum
Pedagang. Kemudian pada abad ke-16 dan ke-17 sebagian besar kota di prancis

mengadakan pengadilan-pengadilan istimewa khusus menyelesaikan perkaraperkara di bidang perdagangan (pengadilan pedagang).
Hukum pedagang ini pada mulanya belum merupakan unifikasi berlakunya
sistem hukum untuk seluruh daerah, karena berlakunya masih bersifat
kedaerahan. Tiap-tiap daerah mempunyai hukum pedagangnya sendiri-sendiri
yang berlain-lainan satu sama lainnya.
Kemudian disebabkan bertambah eratnya hubungan perdagangan antardaerah,
maka dirasakan perlu adanya suatu kesatuan hukum di bidang Hukum pedagang
ini. Oleh karena itu, di Prancis pada abad ke-17 diadakanlah kodifikasi dalam
hukum pedagang. Menteri keuangan dari Raja Louis XIV (1643-1715) yaitu
Colbert membuat suatu peraturan yaitu Ordonannance du Commerce(1673).
Peraturan ini mengartur hukum pedagang itu sebagai hukum untuk golongan
tertentu yakni kaum pedagang. Ordonannance du Commerce ini dalam tahun
1681 disusul dengan suatu peraturan lain yakni Ordonnance de la Marine, yang
mengatur hukum perdagangan laut (untuk pedagang-pedagang kota pelabuhan).
Pada tahun 1807 di Prancis di samping adanya Code ivil des Francais, yang
mengatur Hukum Perdata Prancis, telah dibuat lagisuatu Kitab Fundang-Undang
Hukum Dagang tersendiri, yakniCode de Commerce.
Dengan demikian pada tahun 1807 di Prancis terdapat Hukum Dagang yang
dikodifikasikan dalamCode de Commerce yang dipisahkan dari Hukum Perdata
yang dikodifikasikan dalam Code Civil. Code de Commerce ini memuat
peraturan-peraturan hukum yang timbul dalam bidang perdagangan sejak
zaman pertengahan. Adapun yang menjadi dasar bagi penyusun Code de
commerce (1807) itu ialah antara lain Ordonnance du Commerce (1673)
dan Ordonnance de la Marine (1681) tersebut.
Kemudian kodifikasi-kodifikasi hukum Prancis tahun 1807 (yakni Code Civil dan
Code de Commerce) dinyatakan berlaku juga di Belanda sampai tahun 1838.
Dalam pada itu, pemerintah Belanda menginginkan adanya Hukum Dagang
sendiri, dalam usul KUHD yang terdiri atas 3 kitab, akan tetapi di dalamnya tidak
mengakui lagi pengadilanistimewa yang menyelesaikan perkara-perkara yang
timbul di bidang perdagangan, akan tetapi perkara-perkara dagang diselesaikan
di muka pengadilan biasa.
Usul KUHD Belanda inilah yang kemudian disahkan menjadi KUHD Belada tahun
1838. Akhirnya, berdasarkan asas konkordansi, maka KUHD Belanda ini
kemudian menjadi contoh bagi pembuatan KUHD IndonesiA 1848.
Pada akhir abad ke-19, Prof. Molengraaff merencanakan suatu Undang-Undang
Kepailitan yang akan menggantikan Buku III dari KUHD Belanda. Rancangan
Molengraaf ini kemudian berhasil dijadikan Undang-Undang Kepailitan tahun
1893 (berlaku pada 1896).

Dan berdasaekan asas konkordansi pula, perubahan ini diadakan juga di


Indonesia pada tahun 1906. Pada tahun 1906 itulah Kitab III KUHD diganti
dengan peraturan kepailitan yang berdiri sendiri (di luar KUHD). Sehingga
semenjak tahun 1906 KUHD Indonesia hanya terdiri atas dua kitab saja, yakni
Kitab I yang berjudul: tentang Dagang Umumnya dan Kitab II berjudul:
tentangHak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban yang Terbit dari Pelayaran.[5]
1. Sistematika Hukum Dagang
Sistem hukum dagang menurut arti luas dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.

Hukum dagang tertulis, adalah hukum yang dituliskan atau dicantumkan


dalam perundang-undangan. Contoh: hukum pidana dituliskan pada
KUHPidana, hukum perdata dicantumkan pada KUHPerdata.

1. Hukum dagang tidak tertulis, adalah hukum yang tidak dituliskan atau
tidak dicantumkan dalam perundang-undangan. Contoh: hukum adat tidak
dituliskan atau tidak dicantumkan pada perundang-undangan tetapi
dipatuhi oleh daerah tertentu.
1. Hubungan Hukum Perdata dengan KUHD
Prof. Subekti, S. H. berpendapat bahwa terdapatnya KUHD di samping KUH
Perdata sekarang ini dianggap tidak pada tempatnya, oleh karena sebenarnya
Hukum Dagang tidaklah lain daripada Hukum Perdata, dan perkataan dagang
bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu pengertian perekonomian.
Seperti telah kita ketahui, pembagian Hukum Sipil ke dalam KUH Per dan KUHD
hanyalah berdasarkan sejarah saja, yaitu karena dalam Hukum Romawi (yang
menjadi sumber terpenting dari Hukum Perdata Eropa Barat) belum terkenal
peraturan-peraturan sebagai yang sekarang termuat dalam KUHD, sebab
perdagangan antarnegara baru mulai berkembang dalam abad pertengahan.
Di Netherlands sekarang ini sudah ada aliran yang bertujuan menghapuskan
pemisahan Hukum Perdata dalam dua kitab undang-undang itu (bertujuan
mempersatukan Hukum Perdata dan Hukum Dagang dalam suatu kitab undangundang saja).
Pada beberapa negara lainnya, misalnya Amerika Serikat dan Swiss, tidaklah
terdapat suatu Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang terpisah dari KUH Per.
Dahulu memang peraturan-peraturan yang termuat dalam KUHD dimaksudkan
hanya berlaku bagi orang-orang pedagang saja, misalnya:
1. Hanyalah orang pedagang diperbolehkan membuat surat wesel
2. Hanyalah orang pedagang dapat dinyatakan pailit, akan tetapi sekarang
ini KUHD berlaku bagi setiap orang, juga orang bukan pedagang
sebagaimana juga KUH Per berlaku bagi setiap orang termasuk juga
seorang pedagang. Malahan dapat dikatakan bahwa sumber yang
terpenting dari Hukum Dagang ialah KUH Per. Hal ini memang dinyatakan
dalam Pasal 1 KUHD, yang berbunyi: KUH Per dapat juga berlaku dalam

hal-hal yang diatur dalam KUHD sekadar KUHD itu tidak khusus
menyimpang dari Kuh Per.
Hal ini berarti bahwa untuk hal-hal yang diatur dalam KUHD sepanjang tidak
terdapat peraturan-peraturan khusus yang berlainan, juga berlaku peraturanperaturan dalam KUH Per. Menurut Prof. Subekti, dengan demikian sudahlah
diakui bahwa kedudukan KUHD terhadap KUH Per adalah sebagai hukum khusus
terhadap hukum umum. Dengan perkataan lain menurut Prof. Sudiman
Kartohadiprojo, KUHD merupakan suatu lex specialis terhadap KUH Per sebagai
lex generalis, maka sebagai lex specialis kalau andaikata dalam KUHD terdapat
ketentuan mengenai hal yang dapat aturan pula dalam KUH Per, maka ketentuan
dalam KUHD itulah yang berlaku. Adapun pendapat sarjana hukum lainnya
tentang hubungan kedua hukum ini antara lain sebagai berikut:
1. Van Kan beranggapan, bahwa Hukum Dagang adalah suatu tambahan
Hukum Perdata yaitu suatu tambahan yang mengatur hal-hal yang khusus.
KUH Per memuat Hukum Perdata dalam arti sempit, sedangkan KUHD
memuat penambahan yang mengatur hal-hal khusus hukum perdata
dalam arti sempit itu.
2. Van Apeldoorn menganggap Hukum Dagang suatu bagian istimewa dari
lapangan hukum perikatan yang tidak dapat ditetapkan dalam Kitab III
KUH Per.
3. Sukrdono menyatakan, bahwa Pasal 1 KUHD memelihara kesatuan antara
Hukum Perdata Umum dengan Hukum Dagang sekedar KUHD itu tidak
khusus menyimpang dari KUH Per.
4. Tirtaamidjaja menyatakan, bahwa Hukum Dagang adalah suatu Hukum
Sipil yang istimewa.
Dalam hubungan Hukum Dagang dan Hukum Perdata ini dapat pula kita
bandingkan dengan sistem hukum yang bersangkutan di negara Swiss. Seperti
juga di tanah air kita, di negara Swiss juga berlaku dua buah kodifikasi, yang
kedua-duanya mengatur bersama hukum perdata.[6]
1. Perantaraan dalam Hukum Dagang
Seorang pedagang, terutama seorang yang menjalankan perusahaan yang besar
dan berarti, biasanya tidak dapat bekerja seorang diri. Dalam menjalankan
perusahaannya ia memerlukan bantuan orang-orang yang bekerja padanya
sebagai seorang bawahan, ataupun orang yang berdiri sendiri dan mempunyai
perusahaan sendiri dan yang mempunyai perhubungan tetap ataupun tidak
tetap dengan dia.
Sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan yang demikian pesat dewasa ini,
pengusaha-pengusaha kebanyakan tidak lagi berusaha seorang diri, melainkan
bersatu dalam persekutuan-persekutuan atau perseroan-perseroan yang
menempati gedung-gedung untuk kantornya dengan sedikit pegawai. Orang lalu
membedakan antara perusahaan kecil (yang mempunyai 1-5 pekerja),

perusahaan sedang (jumlah pekerja 5-50 orang), dan perusahan besar (jumlah
pekerjanya lebih dari 50 orang).
Pada tiap-tiap toko dapat dilihat aneka warna pekerja-pekerja, seperti penjual,
penerima uang, pengepak, dan lain-lain. Kesemuanya itu bekerja dalam posisi
masing-masing dan dapat dianggap sebagai pengganti penguasa itu sendiri,
yang bertindak sebagai wakilnya dalam hubungan dengan dunia luar atau
dengan pihak ketiga. Mereka semua adalah sebagai perantara. Mereka menurut
Prof. Sukardono tergolong dalam golongan-golongan pelayan-pelayan perniagaan
atau pekerja-pekerja perniagan (handelsbedienden). Termasuk juga dalam
golongan pekerja-pekerja perniagaan dalam lingkungan perusahaan adalah:
1. Pemimpin perusahaaan (manager);
2. Pemegang prokurasi (procurantie houder atau general agent);
3. Pedagang berkeliling (commercial traveller).
Di samping itu terdapat pula golongan perantara yang bekerja di luar lingkungan
perusahaan, seperti:
1. Agen perniagaan (commercial agent);
2. Makelar (broker);
3. Komisioner (factor);
4. Pengusaha bank.
Sebuah perusahaan besar biasanya mempunyai:
1. Kantor
Perusahaan-perusahaan atau jawatan-jawatan perlu sekali mengadakan kantor
agar pegawai dapat dipusatkan dalam suatu tempat. Dari tempat inilah semua
instruksi-instruksi dikeluarkan. Sebuah kantor yang besar biasanya dibagi dalam
beberapa bagian, yaitu bagian direksi, bagian administrasi, bagian keuangan,
bagian urusan kepegawaian, dan bagian arsip.
1. Toko
Sebuah toko dipimpin oleh kepala toko yang dibantu oleh pekerja-pekerja toko
(toko bedienden) dan pemegang kas toko.
1. Gudang
Dipimpin oleh kepala gudang (magazijnmeester) yang mengurus keluar
masuknyabarang-barang yang dicatat dalam buku gudang. Ia membuat laporan
tentang persediaan barang-barang.[7]
1. Sumber-Sumber Hukum Dagang
Hukum dagang di Indonesia terutama bersumber pada (diatur dalam):

1. Hukum tertulis yang dikodifikasikan


1)
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau Wetboek van Koorphandel
Indonesia (W.v.K.).
2)

Kitab Undang-Undang Hukum Sipil atau Burgerlijk Wetboek Indonesia (BW).


2. Hukum tertulis yang belum dikodifikasikan, yakni peraturan perundangan
khusus yang mengatur tentang hal-hal yang berhubungan dengan
perdagangan.[8]
1. Pengangkutan
2. 1.

Definisi pengangkutan.

Pengangkutan berasal dari kata dasar angkut yang berarti angkat dan bawa,
muat dan bawa atau kirimkan. Pengangkutan sendiri merupakan sebuah proses
kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan,
membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan dan
menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang
ditentukan. Selain itu pengangkutan dapat di artikan sebagai suatu keseluruhan
peraturan-peraturan yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur
hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barangbarang dan orang- orang dari suatu tempat ke tempat lain untuk memenuhi
perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga
peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. Aspekaspek yang terkait dengan pengangkutan adalah[9] :
1. Pelaku, merupakan orang yang melakukan pengangkutan. Hal ini dapat
berupa badan usaha seperti perusahaan pengangkutan, dapat berupa
manusia pribad seperti buruh pengangkutan di pelabuhan.
2. Alat Pengangkutan, adalah alat yang digunakan untuk pengangkutan, alat
ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang
seperti kendaraan bermotor, kapal laut dan darat.
3. Barang penumpang, merupakan muatan yang diangkut, barang
perdagangan yang sah menurut undang-undang. Dalam ini pengertian
barang termasuk juga hewan.
4. Perbuatan, yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa definisi pengangkutan udara adalah
orang atas badan hukum yang mengadakan perjanjian angkutan untuk
mengangkut penumpang dengan alat angkut dan dengan menerima suatu
imbalan. Pengangkutan udara diatur dengan undang-undang No 15 Tahun 1992
Tentang Penerbangan. Angkutan udara diadakan dengan perjanjian antara pihak
pihak.
1. 2.

Jenis- Jenis Pengangkutan dan Pengaturannya

Dalam dunia perdagangan ada tiga jenis pengangkutan antara lain:


1. a.

Pengangkutan melalui darat yang diatur dalam:

2. KUHD, Buku I, Bab V, Bagian 2 dan 3, mulai pasal 90-98.


3. Peraturan khusus lainnya, misalnya, Undang-Undang Nomor 13 Tahun
1992 tentang Perkeretaapian.
4. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi.
1. b.

Pengangkutan melalui laut

Jenis pengangkutan ini diatur dalam :


1. KUHD, Buku II, Bab V tentang Perjanjian Carter Kapal.
2. KUHD, Buku II, Bab V A tentang pengangkutan barang-barang.
3.

KUHD, Buku II, Bab VB tentang pengangkutan orang.

4. Peraturan-peraturan khusus lainnya.


1. c.

Pengangkutan udara

Jenis pengangkutan udara diatur dalam :


1. S. 1939 Nomor 100 ( Luchtvervoerordonnatie ).
2. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang penerbangan.
3. Peraturan-peraturan khusus lainnya.
3. Sifat dan Prinsip Tanggung Jawab Pengangkutan
Secara umum sifatnya sama dengan perjanjian lainnya, yaitu:[10]
1. Timbal balik dalam arti para pihak dalam melakukan perjanjian
menimbulkan hak dan kewajibannya masing-masing.
2. Perjanjian berkala seperti merupakan perjanjian yang menggunakna jasa
pengirim secara berkala di masyarakat diistilahkan dengan borongan.
3. Perjanjian sewa menyewa, yang disewa adalah alat angkut/kendaraan
untuk mengangkut barang disewa oleh pihak pengirim untuk mengirim
sendiri ke pihak penerima. Obyek sewa menyewa adalah alat angkutnya.
Adapun prinsip-prinsip Tanggung Jawab Pengangkut,yaitu:
1. Tanggungjawab praduga tak bersalah. Prinsip ini intinya bahwa si
pengangkut selalu dianggap bersalah apabila hal-hal yang tidak diinginkan
kecuali dalam hal si pengangkut dapat membuktikan bahwa ia tidak
bersalah (pasal 468 ayat 2 KUHD).

2. Tanggungjawab atas dasar kesalahan (kebalikan praduga tak bersalah).


Intinya bahwa yang dirugikanlah yang seharusnya membuktikan bahwa si
pengangkut bersalah baik pengirim maupun penerima (pasal 1365
KUHPerdata).
3. Tanggung jawab penanggung mutlak. Sesuai dengan istilahnya,
pengangkut bertanggungjawab mutlak atas kesalahan-kesalahan yang
menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian
dalam pengangkutan. (bisa diterapkan tanpa pembuktian).
Tanggungjawab ini bisa dialihkan ke perusahaan asuransi, pengangkut
wajib mendaftarkan apa yang diangkutnya ke pihak asuransi agar jika
terjadi kesalahan.
1. Asuransi
2. 1.

Pengertian Asuransi

Asuransi atau Pertanggungan adalah Perjanjian dengan mana penanggung


mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi untuk
memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari
suatu evenemen (peristiwa tidak pasti).[11]
Dalam Undangundang No.2 tahun 1992 tertanggal 11 Pebruari 1992 tentang
Usaha Perasuransian (UU Asuransi), Asuransi atau pertanggungan adalah
perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan mana pihak penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk
memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada
pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu
peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang
didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Berdasarkan definisi tersebut di atas maka asuransi merupakan suatu bentuk
perjanjian dimana harus dipenuhi syarat sebagaimana dalam Pasal 1320 KUH
Perdata, namun dengan karakteristik bahwa asuransi adalah persetujuan yang
bersifat untung-untungan sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1774 KUH
Perdata.
1. 2.

Unsur-Unsur Asuransi

Unsur-unsur yang harus ada pada Asuransi adalah:


1. Subyek hukum (penanggung dan tertanggung);
2. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung;
3. Benda asuransi dan kepentingan tertanggung;
4. Tujuan yang ingin dicapai;

5. Resiko dan premi;


6. Evenemen (peristiwa yang tidak pasti) dan ganti kerugian;
7. Syarat-syarat yang berlaku;
8. Polis asuransi.
1. 3.

Tujuan Asuransi

Adapun tujuan dari asuransi, yaitu[12]:


a. Pengalihan Risiko
Tertanggung mengadakan asuransi dengan tujuan mengalihkan risiko yang
mengancam harta kekayaan atau jiwanya. Dengan membayar sejumlah premi
kepada perusahaan asuransi (penanggung), sejak itu pula risiko beralih kepada
penanggung.
b. Pembayaran Ganti Kerugian
Jika suatu ketika terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian (risiko berubah
menjadi kerugian), maka kepada tertanggung akan dibayarkan ganti kerugian
yang besarnya seimbang dengan jumlah asuransinya. Dalam prakteknya
kerugian yang timbul itu dapat bersifat sebagian (partial loss), tidak semuanya
berupa kerugian total (total loss). Dengan demikian, tertanggung mengadakan
asuransi bertujuan untuk memperoleh pembayaran ganti kerugian yang sangat
ketat.
Dalam pembayaran ganti kerugian oleh perusahaan asuransi berlaku prinsip
subrogasi (diatur dalam pasal 1400 KUH Per) dimana penggantian hak si
berpiutang (tertanggung) oleh seorang pihak ketiga (penanggung/pihak
asuransi) yang membayar kepada si berpiutang (nilai klaim asuransi) terjadi
baik karena persetujuan maupun karena undang-undang.
1. Persekutuan
2. 1.

Pengertian persekutuan

Perusahaan persekutuan adalah suatu kerjasama 2 (dua) orang atau lebih untuk
secara bersama menjalankan perusahaan dengan tujuan memperoleh laba.
Beberapa ciri perusahaan persekutuan, adalah:
1. Umur yang terbatas
Perusahaan persekutuan sangat mudah bubar apabila ada seorang sekutu
mengundurkan diri atau mati. Demikian juga apabila ada sekutu baru yang
masuk dapat merubah komposisi perusahaan.
1. Kewajiban yang tidak terbatas

Masing-masing sekutu mempunyai kewajiban untuk membayar hutang yang


dibuat perusahaan. Tanggungjawabnya tidak terbatas sebesar modal yang
ditanam tetapi juga termasuk kekayaan pribadinya.
1. Kekayaan menjadi milik bersama
Harta yang ditanam dalam persekutuan menjadi milik bersama. Apabila terjadi
pembubaran dan harta-harta tersebut dibagi, maka masing-masing berhak
menuntut sebesar saldo modal mereka.
1. Partisipasi dalam laba
Laba maupun rugi dibagi antara para sekutu sesuai dengan perjanjian yang
mereka buat. Dalam hal tidak ada perjanjian, laba/rugi dibagi sama rata.
1. Perjanjian persekutuan
Harus ada pasal-pasal perjanjian yang jelas mengenai pembagian laba, masuk
dan keluarnya sekutu dan lain-lain.
1. 2.

Macam-Macam Persekutuan

Adapun macam-macam persekutuan yang ada di Indonesia adalah[13] :


1. Firma
Firma adalah suatu bentuk perusahaan yang diatur bersama-sama dengan
perseroan komanditer dalam bagian II dari bab III kitab 1 KUHD dari pasal
16 sampai dengan pasal 35. Adapun isi dari pendirian firma dalam pasal
26 KUHD yaitu:
i.
Nama, nama depan atau kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para
perseroan firma.
ii.
Menyebutkan firma mereka dengan keterangan apakah perseroan itu
untuk umum atau hanya terbatas pada suatu mata perusahaan yang khusus dan
dalam hal yang belakangan ini, dengan menyebutkan mata perusahaan
khususnya untuk itu.
iii.
Penunjukan persero-persero yang dikecualikan dari hak
menandatangani untuk firma.
iv.

Saat berlakunya dan berakhirnya perseroan firma.\

v.
Selanjutnya (dan pada umumnya) bagian-bagian lain-lainnya dari
perjanjian (mendirikan perseroan firma) yang perlu guna menentukan hak-hak
pihak ketiga terhadap perseroan.
1. Perseroan
Perseroan adalah bentuk perusahaan yang diatur dalam KUHD. Menurut
Tirtaamidjaja SH. Perseroan adalah bentuk pokok untuk perusahaan yang
diatur dalam KUHD dan juga diatur di luar KUHD.

Para anggota perseroan mengatur segala sesuatu atas dasar persetujuan


yang berisi tentang:
i.

Bagian yang dimasukkan oleh tiap-tiap peserta dalam perseroan.

ii.

Cara bekerja.

iii.

Tujuan bekerja sama.

iv.

Lamanya (waktunya).

v.

Hal-hal lain yang dianggap perlu.

vi.

Perseroan terbatas (PT)

Dalam KUHD tidak memberikan definisi tentang pereroan terbatas (PT) dan
KUHD hanyalah mengatur bentuk perseroan ini secara terbatas dan sederhana.
Hanya ada 20 buah pasal dalam KUHD yang khusus mengatur PT yaitu pasal 36
sampai dengan 56.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Hukum dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan
perusahaan.
perkembangan Hukum Dagang sebenarnya telah dimulai sejak abad
pertengahan di Eropa, kira-kira dari tahun 1000 sampai tahun 1500. Asal mula
perkembangan hukum ini dapat kita hubungkan dengan terjadinya kota-kota di
Eropa Barat. Pada zaman itu di Italia dan Prancis Selatan telah lahir kota-kota
sebagai pusat perdagangan (Genoa, Florence, Venesia, Marseille, Barcelona, dan
lain-lain). Hukum Romawi ternyata tidak dapat menyelesaikan perkara-perkara
yang timbul di bidang perdagangan. Oleh karena itulah di kota-kota Eropa Barat
disusun peraturan-peraturan Hukum baru yang berdiri sendiri di samping Hukum
Romawi yang berlaku.
Sistem hukum dagang menurut arti luas dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
3.

Hukum dagang tertulis

1. Hukum dagang tidak tertulis


Prof. Subekti, S. H. berpendapat bahwa terdapatnya KUHD di samping KUH
Perdata sekarang ini dianggap tidak pada tempatnya, oleh karena sebenarnya
Hukum Dagang tidaklah lain daripada Hukum Perdata, dan perkataan dagang
bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu pengertian perekonomian.
Pada tiap-tiap toko dapat dilihat aneka warna pekerja-pekerja, seperti penjual,
penerima uang, pengepak, dan lain-lain. Kesemuanya itu bekerja dalam posisi
masing-masing dan dapat dianggap sebagai pengganti penguasa itu sendiri,

yang bertindak sebagai wakilnya dalam hubungan dengan dunia luar atau
dengan pihak ketiga. Mereka semua adalah sebagai perantara. Mereka menurut
Prof. Sukardono tergolong dalam golongan-golongan pelayan-pelayan perniagaan
atau pekerja-pekerja perniagan (handelsbedienden).
Hukum dagang di Indonesia terutama bersumber pada (diatur dalam):
3. Hukum tertulis yang dikodifikasikan
4. Hukum tertulis yang belum dikodifikasikan
Pengangkutan sendiri merupakan sebuah proses kegiatan memuat barang atau
penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang
dari tempat pemuatan ke tempat tujuan dan menurunkan barang atau
penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan.
Asuransi atau Pertanggungan adalah Perjanjian dengan mana penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi untuk
memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari
suatu evenemen (peristiwa tidak pasti
Perusahaan persekutuan adalah suatu kerjasama 2 (dua) orang atau lebih untuk
secara bersama menjalankan perusahaan dengan tujuan memperoleh laba.

Daftar Pustaka
http://putratok.wordpress.com/category/hukum-pengangkutan/
Kansil, C.S.T., dan Christine S.T. Kansil. Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum
Dagang Indonesia.2002. Jakarta: Sinar Grafika.
Kansil,Chrstine S.T.. Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia. 2002.
Jakarta: Sinar Grafika.
Kansil. Pengantar Hukum Indonesia. 1999. Jakarta: Sinar Grafika.
Khairandy, Ridwan., dkk.. Pengantar Hukum Dagang Indonesia. 1999.
Yogyakarta: Gama Media.
Purwosutjicto, H.M.N.. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia. 2007. Jakarta:
Djambatan.
Tjakranegara, Soegijahta. Hukum Pengangkutan Barang dan Penumpang. 1995.
Jakarta: PT Rineka Cipta.

[1] H.M.N. Purwosutjicto, S.H., Pengertian Pokok Hukum Dagang


Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2007), hal 5.

[2] Ridwan Khairandy dkk, S.H., M.H., Pengantar Hukum Dagang


Indonesia, Yogyakarta: Gama Media, 1999
[3] Chrstine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia,
( Jakarta: Sinar Grafika, 2002),hlm. 22
[4] Chrstine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia,
( Jakarta: Sinar Grafika, 2002),hlm. 23
[5] Chrstine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia,
( Jakarta: Sinar Grafika, 2002),hlm. 24
[6] Prof. Drs. C.S.T. Kansil, S.H., dan Christine S.T. Kansil, S.H., M.H., Pokok-Pokok
Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hal 30-32.
[7]Prof. Drs. C.S.T. Kansil, S.H., dan Christine S.T. Kansil, S.H., M.H., hal 42-46.
[8]Prof. Drs. C.S.T. Kansil, S.H., dan Christine S.T. Kansil, S.H., M.H., hal 20.
[9] http://putratok.wordpress.com/category/hukum-pengangkutan/
[10] Soegijahta tjakranegara, Hukum pengangkutan barang dan penumpang,
(Jakarta: PT Rineka Cipta,1995), hal 68.
[11] Menurut Ketentuan Pasal 246 KUHD
[12] Kansil, Pengantar Hukum Indonesia,(Jakarta:Sinar Grafika, 1999.), hal. 172.
[13] Kansil, Pengantar Hukum Indonesia, hal 152.