Anda di halaman 1dari 27

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Manusia
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan makhluk
ciptaan Allah yang lain. Dikatakan paling sempurna karena manusia dibekali akal sekaligus
nafsu. Meskipun manusia mempunyai nafsu tetapi yang paling berperan adalah akal. Akal ini
bertujuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akal juga sebagai alat untuk
berfikir, berhitung, dan berkreasi sehingga kerja sama antara keduanya sangat diperlukan dalam
kehidupan manusia.
2.2. Sains
Sains merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan alamiah,
dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari suatu sistem serta
penjelasan tentang pola laku sistem tersebut. Sistem yang dimaksud dapat berupa sistem alami
maupun sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam
tatanan kehidupan bermasyarakat.
Kita dapat mempelajari sains dari alam semesta yang dimulai dengan bertanya kepada alam atau
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang alam. Dari pertanyaan itulah kemudian muncul
sebuah hipotesis yang akan diajukan secara empiris sehingga dari pengujian empiris tersebut
diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya.
Sains dan hasilnya dapat dirasakan dalam semua aspek kehidupan manusia. Untuk itu sains harus
menjadi bagian internal dari sistem pendidikan nasional supaya para siswa menjadi warga negara
dan masyarakat yang sadar akan pentingnya sains di era masa kini. Namun pada kenyataanya
sains tidak selamanya berjalan dengan baik dalam memberikan manfaat kepada umat manusia,
karena sains dapat berakibat buruk jika dipersalahgunakan.
2.3 Teknologi
Teknologi merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah
yang berisikan informasi preskriptif mengenai penciptaan sistem-sistem ciptaan tersebut.
Penggunaan teknologi bertujuan untuk memudahkan segala aktifitas yang berkaitan dengan
efisien waktu dan tenaga.
Penciptaan teknologi ini didorong oleh ciri otomatisme dari fenomena teknik kehidupan masa
kini yang menginginkan segala sesuatu menjadi lebih cepat dan mudah, sama dengan sains,
penggunaan teknologi dan hasilnya juga memberikan kontribusi yang besar dari kesejahteraan
hidup manusia disegala aspek kihidupan. Namun sayangnya sekarang ini tidak semua teknologi
dapat membantu pekerjaan manusia, justru adapula teknologi yang malah membantu menjadi
boomerang akibat salah dalam memanfaatkannya. Oleh karena itu dalam memanfaatkan

teknologi haruslah didasari dengan moral dan etika yang baik serta tanggungjawab sosial yang
beradab.
Contoh-contoh teknologi:
1.

Teknologi komunikasi

Suatu sistem yang memungkinkan kita dapat berkomunikasi dengan siapapun, kapanpun, dan
dimanapun tidak terbatas pada tempat, jarak dan waktu. Misal: internet, handphone, bairless, dll.
2.

Teknologi informasi

Suatu sistem yang memudahkan kita untuk memperoleh berbagai macam info yang dibutuhkan
secara praktis dan dalam waktu yang relative singkat. Misal: internet, tv.
3.

Bioteknologi

Suatu teknologi yang mampu memanipulasi proses alami secara dramatis. Misal: cloning pada
hewan dan tumbuhan.
2.4. Peran Sains dan Teknologi
Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di
negara-negara maju karna didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem
informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam
penguasaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Jadi jelaslah bahwa maju atau tidaknya suatu
negara sangat di tentukan oleh penguasaan teirhadap informasi, karena informasi merupakan
modal utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan.teknologi yang menjadi senjata
pokok untuk membangun negara. Sehingga apabila satu negara ingin maju dan tetap eksis dalam
persaingan global, maka negara tersebut harus menguasai informasi.
Di era globalisasi dan informasi ini penguasaan terhadap informasi tidak cukup harnya sekedar
menguasai, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Sebab hampir tidak ada guna menguasai
informasi yang telah usang, padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat
cepat mengakibatkan usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain, informasi lama
akan diabaikan dengan adanya informasi yang lebih baru.
Masukan dan kontribusi langsung dari para pemegang peran yang lain; siswa, orang tua dan
anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan meningkatkan
dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika obyektifitas utamanya adalah
memaksimalkan pendidikan sumber daya manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan
komunikasi kita dengan seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran.
Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi harus terfokus pada saling berbagi
komunikasi terbuka dan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala
bidang.

Kehidupan kita sekarang perlahan lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah
menjadi era informasi di balik pengaruh majunya era globalisasi dan informatika menjadikan
computer, internet dan pesatnya perkembangan teknologi informasi sebagai bagian utama yang
harus ada atau tidak boleh kekurangan dikehidupan kita. Aktifitas network globalisasi ekonomi
yang disebabkan oleh kemajuan dari teknologi informasi bukan hanya mengubah pola
produktivitas ekonomi tetapi juga meningkatkan tingkat produktivitasdan pada saat bersamaan
juga menyebabkan perubahan structural dalam kehidupan politik, kebudayaan, kehidupan sosial
masyarakat dan juga konsep waktu dalam dalam berbagai lapisan masyarakat.
Dalam globalisasi ekonomi, perekonomian dunia tidak akan lagi mengenal batas-batas negara
dan bahkan peranan negara diramalkan akan semakin berkurang. Arus globalisasi ekonomi
dipercepat oleh kemajuan teknologi yang makin pesat khususnya di bidang transportasi,
telekomunikasi dan informasi yang memungkan arus orang, barang, jasa, dan informasi bergerak
dengan lebih cepat, dalam jumlah yang semakin besar, dengan kualitas yang semakin baik, dan
dengan biaya yang semakin murah. Persaingan antar bangsa dalam memproduksi barang dan jasa
akan semakin kuat dan ketat. Kemajuan teknologi itu pulalah yang akan makin mempercepat
proses globalisasi di berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan demikian, maka penguasaan
iptek dari suatu bangsa yang akan menentukan keberhasilan bangsa itu menghadapi globalisasi
dalam bidang ekonomi dan bidang kehidupan lainnya.
2.5. Pengaruh Sains dan Teknologi
Baik sains, teknologi dan hasil produknya dapat dirasakan disetiap aspek kehidupan manusia.
Sehingga pengaruh sains dan teknologi bagi manusia dalam masyarakat dapat berpengaruh baik
secara negatif maupun secara positif.

Pengaruh positif terdiri dari :

1.
Meningkatkan kesejahteraan hidup manusia (secara individu maupun kelompok) terhadap
perkembangan ekonomi, politik, militer, dan pemikiran-pemikiran dalam bidang sosial budaya.
2.
Pemanfaatan sains dan teknologi secara tepat dapat lebih mempermudah proses pemecahan
berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.
3.
Sains dan teknologi dapat memberikan suatu inspirasi tentang perkembangan suatu
kebudayaan yang ada di Indonesia.

Pengaruh negatif terdiri dari :

Selain untuk memberikan pengaruh positif sains dan teknologi juga dapat memberikan pengaruh
yang negatif bagi perubahan peradaban manusia. Pemanfaatan dari sains dan teknologi, sering
kali menimbulkan masalah baru dalam kehidupan manusia terutama dalam hal kerusakan
lingkungan, mental dan budaya bangsa, seperti:
a.

Menipisnya lapisan ozon

b.

Terjadi polusi udara, air dan tanah

c.

Terjadi pemanasan global

d.

Rusaknya ekosistem laut

e.
Iptek dikembangkan untuk memenuhi kesenangan-kesenangan materi. Menjamurnya
produk-produk mainan (contoh: game online)
f.
Kemajuan teknologi yang serba praktis serta budaya asing yang berpengaruh dominan
terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai model untuk ditiru.
Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya
gayahidup yang dianggap superior dibandingkan dengan gaya hidup lama.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada hakekatnya manusia secara kodrati bersifat sebagai makhluk individu sekaligus makhluk
sosial. Dikatakan sebagai makhluk individu karena setiap manusia berbeda-beda dengan manusia
yang lain dalam hal kepribadian, pola pikir, kelebihan, kekurangan dan kreatifitas untuk
mencapai cita-cita. Sehingga sebagai pribadi-pribadi yang khas tersebut manusia berusaha
mengeluarkan segala potensi yang ada pada dirinya dengan cara menciptakan sesuatu untuk
memenuhi kebutuhan hidup tanpa bantuan orang lain. Potensi-potensi manusia sebagai makhluk
individu dapat dituangkan dalam sains, dan teknologi.
Baik sains, teknologi dan hasil produknya dapat dirasakan disetiap aspek kehidupan manusia.
Sehingga pengaruh sains dan teknologi bagi manusia dalam masyarakat dapat berpengaruh baik
secara negatif maupun secara positif.

Pengaruh positif ;

1.
Meningkatkan kesejahteraan hidup manusia (secara individu maupun kelompok) terhadap
perkembangan ekonomi, politik, militer, dan pemikiran-pemikiran dalam bidang sosial budaya.
2.
Pemanfaatan sains dan teknologi secara tepat dapat lebih mempermudah proses
pemecahan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.
3.
Sains dan teknologi dapat memberikan suatu inspirasi tentang perkembangan suatu
kebudayaan yang ada di Indonesia.

Pengaruh negatif;

Selain untuk memberikan pengaruh positif sains dan teknologi juga dapat memberikan pengaruh
yang negatif bagi perubahan peradaban manusia. Pemanfaatan dari sains dan teknologi, sering
kali menimbulkan masalah baru dalam kehidupan manusia terutama dalam hal kerusakan
lingkungan, mental dan budaya bangsa, seperti:
a.

Menipisnya lapisan ozon

b.

Terjadi polusi udara, air dan tanah

c.

Terjadi pemanasan global

d.

Rusaknya ekosistem laut

e.
Iptek dikembangkan untuk memenuhi kesenangan-kesenangan materi. Menjamurnya
produk-produk mainan (contoh: game online)
Kemajuan teknologi yang serba praktis serta budaya asing yang berpengaruh dominan terhadap
satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai model untuk ditiru. Kecenderungan
meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup yang
dianggap superior dibandingkan dengan gaya hidup lama.
Oleh karena itu agar sains dan teknologi dapat memberikan pengaruh yang positif bagi manusia,
maka sains dan teknologi seharusnya mampu mengkolaborasikan antara nilai-nilai empiris
dengan nilai-nilai moral dan menyesuaikan dengan nilai-nilai religius, keagamaan, dan
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
3.2. Saran
1.
Perkembangan teknologi yang melanda hidup manusia harus dikuasai pemanfaatannya.
Jangan sampai perkembangan media menjadikan manusia sebagai objek, menyeret dan
memaksanya pada kehidupan yang menyimpang.
2.
Sains dan teknologi harus memberikan pengaruh yang baik, karena kasus yang terjadi sains
dan teknologi ini dikembangkan untuk memenuhi kesenangan-kesenangan materi dan
mengorbankan alam semesta.
3.
Perubahan gaya hidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya
gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri.
Saran tersebut ditujukan kepada generasi muda yang dapat memberikan pengaruh yang positif
bagi perubahan peradaban manusia. Dan Supaya Pemanfaatan dari sains dan teknologi, tidak
menimbulkan masalah baru dalam kehidupan manusia terutama dalam hal kerusakan
lingkungan, mental dan budaya bangsa.
Tak bisa dibantah, negara-negara Asia pernah mengalami masa kejayaan di bidang
sains dan teknologi. Justru ketika negara Barat mengalami apa yang disebut dengan

"abad kegelapan". Islam punya peranan penting di bidang tersebut. Sayang, itu adalah
masa silam. Kolonialisme membuat sains dan teknologi diambil alih oleh Barat, dan
menjadikan negara terjajah termasuk Indonesia hanya sebagai negara "satelit".
Sebuah kilas balik dari sisi sejarah dan filosofi ini semoga mampu membuat kita
menguraikan kembali kesuksesan yang pernah kita ukir di masa lampau. Dan berpikir,
bahwa saat ini pun kita harus kembali merebut sejarah itu. Berikut bagian pertama
dari 2 (dua) tulisan.
Di bagian penutup dari buku Aborted Creativity: Science and Creativity in the
Third World, Susantha Goonatilake menyimpulkan bahwa:
The major carriers of science in the Third World, the universities and the research
institutes, , produce a large number of scientists as well as impressive output.
This science, though important practically, is of mediocre creativity;
it has failed to produce any significant originality in thinking.
Dalam buku tersebut dimuat berbagai hasil studi terhadap perkembangan sains dan
teknologi di negara-negara berkembang baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin
pada periode pra-kolonial, kolonial dan pasca-kolonial. Istilah aborted creativity
digunakan untuk menegaskan adanya pola umum dalam perkembangan pengetahuan
di Dunia Ketiga, dimana kreativitas yang pernah tumbuh berkembang di masa prakolonial, mengalami marjinalisasi, tekanan-tekanan, sehingga akhirnya tidak mampu
meraih tahap perkembangan yang lebih tinggi.
Dengan perkataan lain, kreativitas yang berakar pada tradisi-tradisi prakolonial di
Dunia Ketiga gugur sebelum berkembang mencapai kematangannya; kreativitas ini
teraborsi. Di sisi lain, pengetahuan yang berkembang di Dunia Ketiga di pasca-kolonial
merupakan sains dan teknologi yang pilar-pilarnya dikembangkan melalui transformasi
peradaban Barat sejak Renaissance sampai Revolusi Industri di Inggris.
Sains dan Teknologi Negara Ketiga
Berbeda dengan sains dan teknologi di Barat, di Dunia Ketiga perkembangan sains dan
teknologi ini cenderung imitatif, tidak memiliki orisinalitas, dan rendah dalam
kreativitas. Menurut Goonatilake, gejala ini dipengaruhi oleh struktur sosial, kondisi
psikologi dan persoalan epistemologi yang membuat sains dan teknologi di Dunia
Ketigameskipun sudah meraih kemerdekaanselalu bergantung pada sains dan
teknologi di Barat.
Dalam sebuah pertemuan resmi negara-negara Asia di New Delhi tahun 1947, Sutan
Sharir, Perdana Menteri Republik Indonesia waktu itu, menegaskan makna
kemerdekaan:
... the sentiment which has impelled the races of Asia to struggle for independence
is not only based on truth and justice, but us also in keeping with the insistent call of
progress and absolutely in harmony with the dictates of humanity. But here it is

important to bear in mind that that sentiment must be so nurtured that it will not
stray from the path of truth, justice, humanity and idealism. For, should we fall prey
to careless ways of thought, this self-same sentiment will turn itself into an
instrument of destruction and all our idealistic visions of a brave new world will end
in Dead-Sea fruit.
Melalui pernyataan di atas, Dr. Sharir menegaskan kebenaran, keadilan dan
kemanusiaan sebagai pijakan bagi perjuangan untuk meraih kemerdekaan, dan
mengingatkan agar pijakan ini terus-menerus dihidupkan untuk mencegah
penyimpangan-penyimpangan yang justeru dapat merusak nilai-nilai ideal dari suatu
kemerdekaan.
Kurang dari satu dekade setelah Konperensi Asian Relations di New Delhi, negaranegara Dunia Ketiga kembali menyelenggarakan pertemuan yang dikenal dengan
Konperensi Asia-Afrika, di Bandung, Indonesia, pada tahun 1955. Ini merupakan
pertemuan monumental negara-negara Dunia Ketiga yang melahirkan sebuah
kesepakatan penting yang dikenal dengan Dasasila Bandung. Sepuluh prinsip yang
terkandung dalam Dasasila Bandung menegaskan penghormatan dan perlindungan atas
hak-hak dasar manusia, kedaulatan dan integritas setiap bangsa, persamaan bagi
setiap ras, dan menolak segala tindakan campur tangan, tindakan penekanan dan
kekerasan, tindakan penyimpangan hukum dari bangsa mana pun di dunia.
Setengah abad Dasasila Bandung dicetuskan sudah. Sebagian besar negara-negara di
Asia, Afrika, dan Amerika Latin, masih belum meraih keadaan sebagaimana yang
diaspirasikan melalui Dasasila Bandung tersebut. Bencana moneter yang dialami
negara-negara Dunia Ketiga di sepanjang 1990-an memperlihatkan rendahnya
kemerdekaan ekonomi dan politik dari negara-negara tersebut. Fakta ini, dan
didukung dengan fakta tentang tingginya kebergantungan negara-negara Dunia Ketiga
dalam sains dan teknologi di era pasca-kolonial, memperlihatkan bahwa kemerdekaan
yang diraih negara-negara Dunia Ketiga belum meraih wujud yang utuh dan matang.
Sains dan Teknologi di Dunia Islam dan Asia
Perkembangan pengetahuan yang signifikan pernah terjadi di masa jaya para pemikir
dari Dunia Islam, pada abad ke 7 sampai abad ke 10 Masehi. Pada masa ini, khazanah
intelektual Yunani digali dan disempurnakan oleh pemikir besar seperti Ibnu Sina, Ibnu
Kaitsam, Al Khawarizm, dan lain-lain. Tradisi filsafat Yunani mendapatkan ruh yang
baru di masa itu, dan dasar-dasar penelitian empirik diletakkan oleh para saintis
muslim. Astronomi, Kimia, Optika, Matematika, Kesusasteraan, Politik dan Kenegaraan
mengalami kemajuan yang sangat pesat di periode ini.
Logos (kehendak, kesadaran) yang mendasari pencarian intelektual di masa ini
mendapat pengaruh besar dari sistem ajaran Islam yang khas tentang manusia,
masyarakat, dunia material dan alam eternal. Hingga belahan pertama milenium II
(sampai 1400-an), pengetahuan berkembang meluas di negara-negara Asia dan Afrika
lain seperti India, Cina, dan Mesir, yang dikenal sebagai bangsa-bangsa yang memiliki

peradaban besar. Dalam catatan Susantha Goonatilake, terdapat sistem pengetahuan


formal tentang dunia fisis yang dikenal dengan nama Ayurveda, yang berakar pada
sistem ajaran agama Buddha. Di abad ke 13, sistem pengetahuan Ayurveda berhasil
mengembangkan penggunaan zat-zat kimia untuk keperluan medis.
Sedangkan bangsa-bangssa Eropa pada masa-masa itu mengalami apa yang oleh
pemikir Eropa Modern disebut sebagai Masa Kegelapan (Dark Age) yang dicirikan oleh
dominasi kerajaan-kerajaan barbar. Abad ke 14 sampai abad ke 17 merupakan masa
Renaissance bagi Barat di mana berlangsung pergerakan kultural mulai dari Italia, dan
meluas ke Jerman, Perancis, Inggris, dan negara-negara Eropa Barat lainnya.
Renaissance merupakan transformasi peradaban Eropa dari masa kegelapan menuju
era baru yang disebut dengan Enlightment. Perubahan peradaban ini ditandai dengan
transformasi sosialpolitik-ekonomi, dan perubahan dalam world view, yang dipelopori
oleh, di antaranya, Leonardo da Vinci, Copernicus, Bacon, Newton, Hume, dan August
Comte.
Melalui Renaissance ini, khususnya memasuki abad 19, sains dan teknologi mengalami
perkembangan yang sangat pesat dengan watak yang khas, yang oleh Martin Heidegger
disebut dengan memerangkap alam. Ilmu pengetahuan yang semula dikembangkan
dengan tujuan utama memahami alam, bergeser menjadi kontrol dan manipulasi
alam. Kesadaran (logos) untuk memerangkap alam ini menjadi pendorong
pengembangan teknologi modern di pasca Revolusi Industri.
Sains dan Teknologi di Barat

Ilustrasi (thelesbianmafia.com)
Hingga akhir abad 19, perkembangan sains dan teknologi berlangsung hanya dengan
dukungan dan campur tangan yang sangat terbatas dari pemerintah. Kemajuan sains
di era modern sebagian besar berlangsung melalui upaya-upaya individualpara
saintis 'amatir' yang bekerja di Eropa, khususnya Inggris, Perancis, Jerman, Austria dan
negara-negara Skandinavia. Istilah 'amatir' di sini digunakan untuk menegaskan bahwa
sains bukan merupakan sejenis profesi di masa itu. Mata pencaharian utama para

saintis di masa itu seringkali tak terpaut dengan sains yang mereka tekuni. Komunikasi
di antara mereka berlangsung secara pribadi, tidak melalui forum-forum formal.
Upaya-upaya saintifik mengalami reformasi selama abad 19 seiring dengan
meningkatnya relasi-relasi antara kepentingan pemerintah dan kegiatan S dan T. Di
masa itu perhatian pemerintah untuk menggunakan sains menjadi tumbuh pesat
terutama di Eropa, Amerika Serikat dan Kanada. Perang Dunia I menandai awal mula
bersatunya para saintis dengan pemerintah. Ketika itu untuk pertama kalinya para
saintis dikerahkan untuk mengabdikan sains bagi kepentingan perang, dan
menghasilkan lembaga-lembaga besar seperti Departemen Riset Saintifik dan
Industrial, Dewan Riset Nasional di AS.
Setelah Perang Dunia I, hubungan-hubungan ini berkembang lebih jauh. Akibat
Revolusi Rusia dan pengukuhan negara Soviet, sains digalang untuk melayani ideologi
komunis. Sains bukan hanya menjadi aset kapital nasional, tetapi juga layanan publik
dan dipadukan dengan kekuatan produksi. Perencanaan dan koordinasi sentral riset
saintifik untuk tujuan pembangunan ekonomik kemudian dilembagakan. Industrialisasi
Rusia yang fenomenal dan berlangsung dalam sekejap, sebagian besar didorong oleh
kebijakan pemerintah Rusia bagi sains. Ini membangkitkan kepercayaan bahwa sains
dapat, dan harus direncanakan untuk kepentingan masyarakat.
Pengalaman di masa perang memperlihatkan bahwa kemajuan sains dan teknologi
dapat dipercepat melalui koordinasi riset secara nasional dan dukungan pemerintah
secara terorganisasi. Meluasnya peranan sains dan teknologi dalam pemerintahan
dimotivasi utamanya oleh keinginan negara-negara pada masa itu untuk memelihara
pembangunan ekonomi dan ketahanan militer. Buah dari upaya seperti ini dapat
diarahkan menuju prioritas kebijakan nasional. Seusai masa perang, formulasi
kebijakan sains dan teknologi nasional menjadi objektif yang penting di antara
negara-negara industri. Ini terlihat pada pendirian Dewan Penasihat Kebijakan Sains di
Inggris, Komisi Energi Atom di Perancis, dan Fondasi Sains Nasional di AS.
Perang Dingin
Sesudah Perang Dunia II, di masa Perang Dingin, sains dan teknologi yang terpaut
dengan kegiatan militer mendapat pendanaan yang sangat besar. Dengan suksesnya
Manhattan Project dan pengembangan senjata nuklir, sains fisik menerima kelayakan
politik yang sangat tinggi. Untuk alasan yang serupa, sebagai konsekuensi kompetisi
antara AS dan Uni Soviet, sains yang terpaut dengan program luar angkasa seperti
sains material, aspek tertentu dari astronomi, memperoleh pendanaan besar. Tetapi
pada periode berikutnya kedua program ini mengalami pengurangan anggaran yang
sangat berarti, sebagai akibat menurunnya ketegangan di antara dua negara besar
tersebut.
Di era 1940-an, sains fisika mendapat dukungan politis jauh lebih besar dari sains
sosial. Sehelai surat yang ditandatangani 5000 saintis disampaikan pada Presiden AS di
tahun 1945. Surat itu menyatakan bahwa merupakan kesalahan besar untuk

melibatkan para saintis sosial di dalam National Science Foundation (NSF). Sains sosial
bersifat kontroversial sehingga rentan terhadap serangan politik, dan membuat NSF
kesulitan dalam memobilisasi sumber-sumber daya. Tetapi di pertengahan 1960-an,
dengan berkembangnya kritik terhadap Perang Vietnam, kritik terhadap sains sosial
menjadi bumerang bagi sains fisik itu sendiri. Sains-sains sosial bangkit dan
berkembang dalam tubuh saintifik Amerika.
Pada periode ini tumbuh disiplin-disiplin ilmu yang mempelajari dampak sains pada
masyarakat. Rangkuman pengalaman negara-negara maju ini memperlihatkan bahwa
techne di era modern bukan lagi merupakan urusan individu ataupun komunitas
berskala kecil.
Techne mencakup upaya-upaya saintifik dan teknnologis, serta kebijakan S dan T pada
skala nasional. Logos dari techne modern ini berorientasikan tujuan-tujuan nasional
pada wilayah ideologi, militer, ataupun ekonomi dan berbentuk kesadaran nasional
untuk menggali sumber-sumber alam guna mewujudkan produksi berskala massal.
Sains dan Teknologi di Dunia Ketiga di Pasca-Kolonial
Perkembangan ilmu pengetahuan di negara-negara bekas kolonial menghadirkan isu
yang vital berkenaan dengan karakteristik pengetahuan mereka. Istilah satellitic
science telah digunakan oleh para pengamat sains di Dunia Ketiga untuk
menggambarkan situasi ini. Apa-apa yang dipandang sebagai pengetahuan saintifik di
Dunia Ketiga adalah apa-apa yang telah diakui absah di dalam tradisi modernis Barat.
Pengetahuan yang absah ini kemudian diimitasi di periferal melalui kebergantungan
sosial dan kultural.
Model Perkembangan Pengetahuan Difusionis
Umumnya dalam model perkembangan pengetahuan demikian, proses akuisisi
pengetahuan sebagian besar bersifat difusionis (dari pusat ke periferi). Pengetahuan
fundamental dan mendasar tumbuh sebagian besar di Barat dan dialihkan ke negaranegara berkembang dalam konteks hubungan intelektual yang bergantung. Sebagian
besar pekerjaan penting, isu-isu utama, dan paradigma utama dalam sains
berlangsung di pusat sementara isu-isu minor dan sub-problem yang ditangani saintis
di negara-negara yang bergantung. Legitimasi pengetahuanproses yang melaluinya
output pengetahuan tertentu dicap absah dan relevan, mengambi bentuk berbeda di
pusat dan di periferi.
Di pusat, legitimasi berlangsung melalui perdebatan yang sengit dan negosiasi sosial
pada isu-isu saintifik oleh para saintis di pusat. Di periferi yang terikat, akumulasi
pengetahuan terjadi melalui difusi ide-ide yang berasal dari pusat, dan legitimasi
terjadi dengan merujuk dan mengacu pada tulisan-tulisan dan para penulis di pusat.
Reputasi saintifik di sebuah negara periferial seringkali dibentuk tidak atas dasar
kriterian saintifik, tetapi cara-cara personal-politis.

Pengetahuan saintifik di pusat oleh karenanya, tumbuh di dalam lingkungan yang


kreatif melalui proses organik. Di perferi, struktur kebergantungan menghasilkan
pengetahuan imitatif atau pengetahuan yang dilegitimasi pada kriteria non-saintifik.
Pengetahuan justru beraksi untuk menekan kreativitas. Watak lain dari pengetahuan
yang tumbuh di periferi adalah ia merupakan pemetaan pengetahuan di pusat. Oleh
karena tidak seluruh realitas dari pusat yang datang dipetakan, maka pengetahuan di
periferi cenderung terfragmentasi. Para saintis di periferi cenderung mencari
legitimasi dan kemajuan sosial dalam cara-cara yang superfisial.

Sains merupakan ilmu yang mempelajari alam semesta beserta seluruh isinya. Seseorang yang
ahli di bidang sains dikenal dengan sebutan saintis.

Teknologi adalah suatu sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Teknologi merupakan penerapan sains yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Sebagai contoh, pada abad-abad sebelum ada alat bedah canggih, seorang pasien yang
memerlukan operasi pembedahan harus menghadapi alat-alat operasi yang mengerikan. Hal itu
membuat nyalinya ciut dan dapat mengakibatkan sakitnya makin parah. Dengan adanya
perkembangan sains dan teknologi, alat bedahpun makin ramah. Pasien tidak takut lagi
menghadapi operasi pembedahan. Selain itu, keberhasilan operasi pembedahan pun semakin
meningkat.

Peranan Sains Dan Teknologi Dalam Kehidupan Manusia

Sains dan teknologi lahir dari hasil pemikiran manusia. Kehidupan manusia tidak dapat lepas
dari sains dan teknologi. Tahukah kalian bagaimana hubungan antara sains, teknologi, dan
masyarakat ?
Beruntunglah kita dapat menikmati hasil perkembangan teknologi saat ini. Kita dapat mencegah
menularnya suatu penyakit dengan vaksinasi, mengetahui jenis kelamin janin sejak masih dalam
kandungan, atau kita dapat mengganti organ tubuh yang sudah tidak berfungsi melalui teknik
cangkok organ. Coba bayangkan jika seandainya kalian hidup pada zaman dahulu ketika sains
dan teknologi belum maju. Kita mungkin tidak dapat berbuat apa-apa ketika suatu wabah
penyakit menyerang. Kita mungkin hanya menunggu giliran kapan penyakit itu hilang atau
mungkin hanya menunggu kematian.
Hubungan antara sains, teknologi, dan masyarakat sangat erat dan bahkan tidak dapat
dipisahkan. Teknologi dan hasil penemuan di bidang sains menjadi tidak berarti jika tidak dapat
di terapkan dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu, hasil penelitian sains dan teknologi harus di
sebarluaskan kepada masyarakat. Dengan cara seperti ini, diharapkan suatu penelitian dapat
cepat diketahui sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut contoh keterkaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat.

Sifat Sains Sebagai Ilmu

1. a.

Sains Bersifat Pasti

Sains dikatakan ilmu pasti jika hasil suatu penelitian selalu sama walaupun dilakukan pada
tempat yang bebeda. Namun, syarat objek dan metode yang digunakan sama.

Contoh :
Reaksi fotosintesis selalu sama walaupun terjadi pada tumbuhan yang hidup di tempat yang
berbeda, misalnya dataran tinggi dan dataran rendah.

6CO + 6HO

1. b.

CHO + 6O

Sains Bersifat Nisbi

Sains terkadang bersifat nisbi. Hal ini terjadi ketika suatu konsep hasil penelitian terbantahkan
dengan adanya konsep baru yang didukung dengan bukti-bukti dan penelitian yang lebih dapat
dipertanggungjawabkan.

Contoh :
Dahulu makhluk hidup hanya dibagi menjadi dua golongan, yaitu hewan dan tumbuhan. Ketika
itu, jamur masuk dalam golongan tumbuhan. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan sains,
penggolongan makhluk hidup pun bergeser. Adanya penemuan baru itu, suatu golongan mungkin
masuk ke golongan lainnya, atau menjadi golongan tersendiri. Sebagai contoh, munculnya
penggolongan atau klasifikasi baru menurut Whittaker. Menurut Whittaker, makhluk hidup
digolongkan menjadi lima, yaitu monera, protista, jamur, tumbuhan, dan hewan. Dari contoh itu
jelas bahwa jamur yang semula masuk golongan tumbuhan, akhirnya menjadi golongan
tersendiri.

1. c.

Sains Bersifat Terbatas

Sampai detik ini sudah banyak sekali hasil temuan-temuan baru dibidang sains dan teknologi.
Namun demikian, hingga saat ini pula masih banyak permasalahan yang belum dapat diatasi
dengan sains.

Contoh :
Manusia selalu ingin tampak awet muda. Berbagai usaha dilakukan untuk tetap tampil segar dan
menarik. Namun, sains belum mampu menemukan gen yang dapat mencegah penuaan, hanya
sebatas cara merawat kulit supaya tetap segar sehingga tampak awet muda.

Definisi, Perbedaan, dan Penerapan Sains dan Teknologi


Definisi Sains dan Teknologi
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian
kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku sistem. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
tertentu.
Teknologi, teknologi merupakan berasal dari bahasa Yunani, yaitu tekne, yang berari pekerjaan,
dan logos, berarti suatu studi peralatan, prosedur dan metode yang digunakan pada berbagai
cabang industri.
Kesimpulannya, ilmu pengetahuan mempunyai teori-teori atau rumus-rumus yang tetap, dan
teknologi merupakan praktek atau ilmu terapan dari teori-teori yang berasal dari ilmu
pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai saling mempunyai hubungan.
Jika tidak ada ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan ada.
(http://enjelnjel.blogspot.com/2011/09/pengertian-ilmu-pengetahuan-dan.html)

Perbedaan Sains dan Teknologi


Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan
pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia . Segi-segi ini dibatasi
agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi
lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan
berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat
metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk
karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu
pengetahuan adalah produk dari istemologepi.
Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau
dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang
diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
(http://tugasteknikmesin.blogspot.com/2011/12/definisi-ilmu-pengetahuan.html)

Penerapan Sains dan Teknologi


Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :

1.
Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress)
Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi
faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
2.
Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological
progress)
Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh
meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai
dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
3.
Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological
progress)
Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi
dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk
menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.
Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara
berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi
asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang.
Di lain pihak suatu kebijaksanaan pintu yang lama sekali terbuka terhadap arus teknologi asing,
terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang
lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena
ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang
melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sain dan Teknologi
1. Sains
Sains merupakan pengetahuan teoritis yang disusun secara khusus
melalui metode ilmiah dengan melakukan pengamatan. Perlu kita ketahui
bersama bahwa sains terdiri dari tiga elemen esensial yaitu dengan
pencarian pemahaman, memiliki hukum hukum atau prinsip-prinsip dari
generalitas paling tinggi dan dapat diuji secara eksperimen. Akan tetapi
pengertian sains tidak sampai pada hal itu saja, sebab banyak perumusan
lain yang

berusa menjelaskan perihal sains seperti yang nampak pada

definisi Carin (1993) mendefinisikan sains sebagai suatu kemampuan


pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang dalam penggunaannya
secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

2. Teknologi
Kata teknologi berasal dari bahasa texere yang berarti menyusun atau
membangun. Akan tetapi, dikalangan masyarakat yang pada umumnya
mengartikan

teknologi

sebatas

pada

penggunaan

mesin

dan

sering

digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang pada kenyataan


bahwa teknologi tidak terbatas pada penggunaan mesin itu saja. Seperti
halnya menurut Gorokhov (1998) yang menyatakan bahwa teknologi
memiliki tiga makna prinsip yaitu:
a. Teknologi (secara teknis) sebagai agrerat dari semua artifak-artifak manusia
yang dipergunakan, mulai dari perkakas sampai dengan sistem teknologis
kompleks yang berskala besar.
b. Teknologi sebagai agregat dari seluruh aktivitas teknis, penemuan yang
bersifat penciptaan dan penemuan, riset dan pengembangan, dan tahapantahapan dalam penciptaan teknologis yang berhasil, serta penyebarannya ke
c.

masyarakat secara luas.


Teknologi sebagai agregat dari keseluruhan pengetahuan teknis, mulai dari
teknik yang sangat khusus dan praktik-praktiknya sampai pada sistem
teknologis-saintifik teoretis termasuk pengetahuan mengenai perekayasaan.

B. Keterkaitan Sains dengan Teknologi


Pada hakekatnya sains merupakan sebuah produk dan proses. Sains
melandasi

perkembangan

teknologi,

sedangkan

teknologi

menunjang

perkembangan sains. Pada umumnya sains digunakan untuk aktivitas dalam


upaya

memperoleh

penjelasan

tentang

objek

dan

fenomena

alam.

Sedangkan teknologi merupakan aplikasi sains yang dapat dijadikan upaya


untuk mendapatkan suatu produk yang dilakukan oleh manusia dengan
memanfaatkan

perangkat-perangkat

atau

peralatan,

proses

dan

sumberdayanya.
Dalam artian lain sains merupakan ilmu yang sistematisasi, metodis
dan logis yang diperoleh melalui penelitian. Penelitian ini merupakan
penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan. Penelitian
memegang peranan dalam :
a. Membantu manusia memperoleh pengetahuan

b. Memperoleh jawaban suatu pertanyaan


c. Memberikan pemecahan atas suatu masalah.
Dari hal tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu
mendorong munculnya teknologi dengan teknologi mendorong adanya
penelitian, dari penelitian tersebut menghasilkan ilmu pengetahuan baru
yang kemudian memunculkan teknologi baru. Dengan demikian sains dan
teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
C. Keterkaitan Sains, Teknologi dengan Nilai Sosial Masyarakat
Pada dasarnya pendekatan sains teknologi dan masyarakat dalam
pandangan ilmu-ilmu sosial memberikan pemahaman mengenai kepekaan
penilaian seseorang terhadap dampak lingkungan. Keputusan yang dibuat
oleh

masyarakat

biasanya

memerlukan

penggunaan

teknologi

untuk

melaksanakannya. Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan (sains)


membutuhkan teknologi sebagai sarana untuk menyimpan dan mencari
informasi.
Berdasarkan hal tersebut kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa
sains, teknologi dan niali sosial masyarakat saling terkait satu sama lain. Hal
ini sesuai dengan penjelasan Widyatiningtyas, 2009 yang menyatakan
bahwa sains merupakan suatu tubuh pengetahuan dan proses penemuan
pengetahuan.
perangkat

Teknologi

lunak

yang

merupakan
digunakan

suatu
untuk

perangkat
memecahkan

keras

ataupun

masalah

bagi

pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok


manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial
tertentu.
Contohnya : Seorang anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas
sebagai ruang belajar sains. Dalam pengalaman belajar yang ditempuhnya,
anak tersebut dapat mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data
yang berkaitan dengan suatu masalah, mempertimbangkankan solusi
alternatif dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan
tertentu di dukung dengan adanya teknologi untuk mempublikasikan hasil
penemuannya yang dimana hal itu dapat bermanfaat bagi masyarakat.

D. Keterkaitan Sains, Teknologi dengan Nilai Budaya Masyarakat


Kata "kebudayaan" berasal dari kata Sansekerta yaitu buddhayah, ialah
bentuk jamak dari buddhi yang berarti "budi" atau "akal". Dengan demikian
kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Kebudayaan adalah hasil karya manusia, yang meliputi hasil akal, rasa, dan
kehendak manusia. Oleh karena itu maka kebudayaan tidak pernah berhenti,
terus berlangsung sepanjang zaman, dan merupakan suatu proses yang
memerlukan waktu yang panjang untuk memenuhi keinginan manusia untuk
lebih berkualiatas.
Apabila kebudayaan adalah hasil karya manusia, maka ilmu sebagai hasil
akal pikir manusia juga merupakan kebudayaan. Namun, ilmu dapat
dikatakan sebagai hasil akhir dalam perkembangan mental manusia dan
dapat dianggap sebagai hasil yang paling optimal dalam kebudayaan
manusia.
Menurut C. Kluckhohn ada tujuh unsur dalam kebudayaan universal, yaitu
sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan,
sistem pengetahuan, sistem mata pencarian hidup, sistem teknologi dan
peralatan, bahasa, serta kesenian. (Widyosiswoyo, 1996).
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang dapat berupa sains. Untuk
mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu yaitu memerlukan suatu
metode dan mempergunakan sistem, mempunyai obyek formal dan obyek
material yang kemudian dapat ditunjang dengan adanya teknologi. Daruni
1991 menyatakan bahwa pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan,
maka ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendiriya juga
merupakan salah satu unsur kebudayaan.
Selain

ilmu

merupakan

unsur

dari

kebudayaan,

antara

ilmu

dan

kebudayaan terdapat hubungan pengaruh timbal-balik. Perkembangan ilmu


tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan
ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan
kebudayaan, saling tergantung dan saling mendukung. Pada beberapa
kebudayaan, ilmu dapat berkembang dengan subur. Disini ilmu mempunyai

peran ganda yakni mendukung pengembangan kebudayaan dan mengisi


pembentukan watak bangsa.
E. Keterkaitan Sains, Teknologi dengan Nilai Moral Masyarakat
Dalam bahasa Latin, etika disebut dengan moral yang memiliki
pengertian kebiasaan atau kesusilaan mengenai baik, buruk, semestinya,
benar, salah dalam melakukan suatu hal yang dapat berupa ide seseorang.
Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis,
mereka dapat saja hanya memfungsikan idenya, sehingga dapat dipastikan
bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang
destruktif.
Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai
etika(moral) adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut manusia dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar
kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu
pengetahuan juga mempunyai bias negatif dan destruktif, maka diperlukan
nilai dan norma untuk mengendalikan potensi ide manusia ketika hendak
bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan
pengetahuan yang baik . Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang
sangat berperan penting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan
manusia.
Contohnya: Dalam membuat atau memanfaatkan ilmu pengetahuan,
moral seseorang sangat di tentukan, yang dimana apakah orang tersebut
akan

memunculkan

ide

buruk

atau

baik

dalam

pemanfaatan

ilmu

pengetahuannya dengan ditunjang oleh keberadaan teknologi canggih.


Dalam hal ini, apabila seorang memanfaatkan ilmu pengetahuan dengan
lebih mementingkan ego dari pada hati nurani, maka kebaikan yang
diperoleh dan hasil perolehan ilmu pengetahuannya akan sangat minim,
sebab tidak berdampak baik bagi kehidupan masyarakat.
F. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa


sains, teknologi dan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat baik itu
nilai sosial, moral maupun budaya memiliki keterkaitan satu sama lain.
Sebab, sains atau ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa adanya
penunjang dari teknologi sebagai pendorong munculnya sebuah penelitian,
dimana penelitian tersebut akan melahirkan ilmu pengetahuan baru.
Ilmu pengetahuan yang telah berkembang tentunya perlu kita
sosialisasikan

kepada

masyarakan,

sebab

tujuan

utama

(hakikat)

dibentuknya ilmu pengetahuan adalah untuk kepentingan dan kesejahtraan


masyarakat.

Dari

ilmu

pengetahuan

tersebut,

masyarakat

dapat

mengaplikasikan dalam kehidupan sosial maupun budayanya.


Selain itu, dalam pembentukan sains(ilmu pengetahuan) memerlukan
adanya nilai moral yang benar untuk dapat menggunakan pengetahuan
sebagai mana hakikatnya sehingga mampu membantu masyarakat dalam
mencapai suatu kesejahtraan bukan sebaliknya.
A. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
1. Definisi Ilmu
IPTEK adalah akronim dai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yang dimaksud dengan atau
pengertian tentang ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta di
mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku sistem. Kamus Besar Bahasa
Indonesia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan
gejala-gejala tertentu. Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli seperti yang dikutip oleh
Bakhtiar tahun 2005 diantaranya adalah :
a) Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum
kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya
tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
b) Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum
dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
c) Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten
tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
d) Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu
sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip
tentang hal yang sedang dikaji.

e) Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan
suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang
terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera
manusia. Lebih lanjut ilmu didefinisikan sebagai suatu cara menganalisis yang mengijinkan
kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : jika .... maka .
f) Afanasyef, menyatakan ilmu adalah manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia
mencerminkan alam dan konsep-konsep, katagori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan
kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Yang dimaksud dengan atau pengertian tentang ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang
didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku
sistem. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah
pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang
dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu.
Ilmu pengetahuan menurut Horton, P, B., dan Chester L, H merupakan upaya pencarian
pengetahuan yang dapat diuji dan diandalkan, yang dilakukan secara sistematis menurut tahaptahap yang teratur dan berdasarkan prinsip-prinsip serta prosedur tertentu sedangkan
tekonologi adalah penerapan penemuan-penemuan ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah
praktis.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan
yang disusun sebagai berikut:
1) Ontologis, dapat diartikan sebagai hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas
ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya, dengan kata lain ontologis merupakan
objek formal dari suatu pengetahuan
2) Epistemologis, dapat diartikan sebagai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan
disusun menjadi tubuh pengetahuan
3) Aksiologis, merupakan asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
2. Definisi Teknologi
Teknologi, teknologi merupakan berasal dari bahasa Yunani, yaitu tekne, yang berari
pekerjaan, dan logos, berarti suatu studi peralatan, prosedur dan metode yang digunakan pada
berbagai cabang industri. Berikut ini definisi teknologi menurut para ahli:

a) Menurut Prayitno dalam Ilyas (2001), teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode, teknik
benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu maupun untuk
memenuhi kebutuhan manusia.
b) Menurut Mardikanto (1993), teknologi adalah suatu perilaku produk, informasi dan praktekpraktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan atau diterapkan oleh
sebagian warga masyarakat dalam suatu lokasi tertentu dalam rangka mendorong terjadinya
perubahan individu dan atau seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.
c) Wikipedia.org mendefenisikan teknologi merupakan perkembangan suatu media / alat yang
dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah.
Kesimpulannya, ilmu pengetahuan mempunyai teori-teori atau rumus-rumus yang tetap, dan
teknologi merupakan praktek atau ilmu terapan dari teori-teori yang berasal dari ilmu
pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai saling mempunyai hubungan.
Jika tidak ada ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan ada.
B. Dampak Perkembangan IPTEK
1. Bidang Informasi dan Komunikasi
Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat. Dari
kemajuan dapat kita rasakan dampak positipnya antara lain:
a) Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian
manapun melalui internet
b) Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan
melalui handphone
c) Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah, dan lain-lain.
Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi
tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain:
a) Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas).
b) Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah
gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu.
c) Kerahasiaan alat tes semakin terancam Melalui internet kita dapat memperoleh informasi
tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari
internet. Kecemasan teknologi, selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer.
Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer

inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi. Rusaknya modem internet karena
disambar petir.
2. Bidang Pendidikan
Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain:
a)

Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat

pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
b) Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam
proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang
membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan
bantuan teknologi bisa dibuat abstrak.
c) Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka Dengan kemajuan teknologi proses
pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa
pos internet dan lain-lain.
Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses pendidikan antara lain:
a) Kerahasiaan alat tes semakin terancam Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential
Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes
psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu
dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.
b) Penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita
tahu bahwa kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi
tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tingi maka orang
akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan lain-lain.
C. Dampak Kemajuan Teknologi terhadap Perkembangan Emosi Anak
Kemajuan teknologi misalnya internet ternyata berdampak kepada emosi anak. Dampak
kemajuan teknologi terhadap perkembangan emosi anak dapat dibagi menjadi 2. Dampak
kemajuan teknologi ada yang positif dan ada yang negatif. Adanya kemajuan teknologi sisi
positifnya anak lebih berfikir kritis, logis, dan terbuka. Selain itu, kemampuan verbal dan non
verbal anak lebih berkembang. Namun, ada sisi negatif dari kemajuan teknologi, yaitu anak
kurang terasah kreatifitasnya, anak kurang berkembang kecerdasannya baik intelektual maupun
emosionalnya, anak cenderung menjadi anak yang pasif, dan egois. Kemajuan teknologi
berpengaruh terhadap psikis anak termasuk emosi anak. Hal ini tentu saja kurang baik bagi

perkembangan mental atau pribadi anak di kemudian hari. Adanya kemajuan teknologi
menjadikan seorang anak terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Dan anak menjadi kurang
bersosialisasi dengan lingkungan, padahal kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Sosialisasi dan komunikasi adalah hal yang ikut menentukan seseorang berhasil dalam hidupnya.
Sosialisasi meliputi aspek kerja sama atau gotong royong, kesabaran, sportivitas, kejujuran, dan
tenggang rasa. Selain itu dengan kurang terlatihnya pengendalian emosi di waktu masih kanakkanak maka dikuatirkan saat dewasa tingkat emosinya belum matang. Hal ini dapat menjadi
masalah tersendiri bagi anak bila dewasa kelak.
Kemajuan teknologi memang bertujuan untuk semakin memudahkan kegiatan yang dilakukan
manusia. Namun perlu diingat bahwa kemajuan teknologi memiliki dampak buruk bagi
perkembangan emosi dan mental anak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai dampak kemajuan teknologi terhadap perkembangan
emosi anak yaitu:
1. Orangtua tidak boleh acuh tak acuh dalam kegiatan dan aktivitas anak. Sebaiknya orangtua ikut
aktif berperan dan mengarahkan setiap aktivitas yang dilakukan anak.
2. Orangtua sebaiknya selalu memperbaharui informasi tentang kemajuan teknologi yang mungkin
akan bersentuhan dengan dunia anak, misalnya tentang game online, gadget terbaru, dan
informasi yang berhubungan dengan kemajuan teknologi lainnya.
3. Jadikan anak sebagai teman dan sahabat, sehingga anak tidak canggung atau kaku bila berbicara
dengan orangtua. Orangtua hendaknya menjadi sahabat yang dapat dipercaya oleh anak. Berkata
yang benar, dan tidak menakuti atau mengancam merupakan cara mempererat hubungan dengan
anak. Hal ini akan berpengaruh positif bagi emosi anak, yaitu anak akan terbuka untuk
menceritakan semua aktivitas yang dilakukannya. Begitu pula dalam hal emosi, emosi bukan
hanya sekedar rasa marah saja, namun rasa sedih, takut, bingung, cemas, frustasi juga termasuk
rasa emosi. Bila hubungan anak dan orangtua dekat, baik dan tidak bermasalah, maka anak akan
lebih dapat mengontrol emosi yang terjadi dan buruknya dampak kemajuan teknologi terhadap
perkembangan emosi anak dapat diminimalkan.
D. Tingkatan Teknologi Berdasarkan Penerapannya
1. Teknologi Tinggi ( Hi tech )
Suatu jenis teknologi mutakhir yang dikembangkan dari hasil penerapan ilmu pengetahuan
terbaru. Contoh : komputer, laser, bioteknologi, satelit komunikasi dan sebagainya. Ciri-ciri
teknologi ini adalah padat modal, didukung rasilitas riset dan pengembangannya, biaya
perawatan tinggi, ketrampilan operatornya tinggi dan masyarakat penggunanya ilmiah.

2. Teknologi Madya
Suatu jenis teknologi yang dapat dikembangkan dan didukung masyarakat yang lebih
sederahan dan dapat digunakan dengan biaya dan kegunaan yang paling menguntungkan. Ciri
teknologi madya adalah tidak memerlukan modal yang terlalu besar dan tidak memerlukan
pengetahuan baru, karena telah bersifat rutin. Penerapan teknologi maday ini bersifat setengah
padat modal da padat karya, unsure-unsur yang mendukung industrinya biasanya dapat diperoleh
di dalam negeri dan keterampilan pekerjanya tidak terlalu tinggi.
3. Teknologi Tepat Guna
Teknologi ini dicirikan dengan skala modal kecil, peralatan yang digunakan sederhana dan
pelaksanaannya bersifat padat karya. Biasanya dilakukan di Negara-negara berkembang, karena
dapat membantu perekonomian pedesaan, mengurangi urbanisasi dan menciptakan tradisi
teknologi dari tingkat paling sederhana.
Dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang teknologi
informasi dan teknologi transportasi yang dicapai manusia pada unjung pertengahan kedua abad
ke XX, memungkinkan arus informasi menjadi serba cepat: apa dan oleh siapa dari seluruh muka
bumi (bahkan sebagian jagat raya) menembus ke seluruh lapisan masyarakat dengan bebas
tanpa membedakan siapa dia si penerima. Tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras,
kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.