Anda di halaman 1dari 8

Filsafat Modern

Semester 5

Kelompok 3

Utilitarianisme dan Kebebasan


Menurut J.S. Mill

Pendahuluan: Tesis Dasar


J.S. Mill lahir di London pada tahun 1806. Ayahnya adalah James Mill, yang
bersama Jeremy Bentham mengembangkan filsafat radikal. Ayahnya mendidiknya sejak kecil
untuk menggali utilitarianisme. Hasilnya adalah dalam usia muda J.S. Mill sudah menjadi
pemimpin dari kelompok filsuf radikal muda. Sangat dipahami bahwa J.S. Mill mengerti
betul teori-teori Bentham tentang utilitarisme, bahkan ia menjadi penulis dalam jurnal
Bentham. Namun, ia mengalami depresi dan tidak mempercayai lagi ajaran Bentham. Ia
kemudian memulai penggaliannya sendiri tentang filsafat. Pada tahun 1859-1865 ia menulis
bukunya On Liberty, Representative Government, Utilitarianism yang membuatnya sangat
dikenal dan dikagumi. Ia kemudian bergabung dengan partai radikal sejak tahun 1865 dan
mengadakan pembelaan terhadap hak-hak kaum wanita, perang, perbudakan, dan hal-hal
kemanusiaan lain. Ia meninggal di Avignon 1873 setelah menulis Autobiography.1
Bentham berfilsafat dengan berlandaskan pada hedonisme psikologis. Hedonisme
yang dimaksud di sini, yakni bahwa manusia menurut kodratnya berusaha untuk mengejar
kesenangan dan menghindari rasa sakit. Bagi Bentham, kebahagiaan manusia perlu
diusahakan dan semakin besar jumlah orang yang menikmatinya semakin baiklah pilihan
tersebut. Mill sependapat dengan Bentham sampai pada tahap ini. Namun, bagi Mill tidak
cukup jika hanya sampai di situ. Kebahagiaan itu sendiri punya kualitasnya, sehingga tolak
ukur sebuah pilihan bukan hanya aspek kuantitatif tapi juga aspek kualitatif. Suatu perbuatan
adalah benar sejauh perbuatan itu menghasilkan kebahagiaan yang berkualitas.
Mill juga berbicara mengenai kebebasan. Menurutnya, kebebasan berpikir dalam
diri manusia seringkali terhalangi oleh pendapat-pendapat umum yang sudah diterima oleh
seluruh umat manusia dan kesejahteraan bersama justru ditentukan oleh kebebasan
individual.
1. Sesuatu Perbuatan Adalah Benar Sejauh Perbuatan Itu Menghasilkan
Kebahagiaan yang Berkualitas
Apa yang baik adalah berguna, berfaedah dan menguntungkan. Sebaliknya yang
jahat atau yang buruk itu tidak berguna, tidak berfaedah dan tidak menguntungkan. Sejalan
dengan Bentham, bagi Mill tujuan perbuatan manusia itu pada akhirnya harus mendatangkan
kebahagiaan bagi banyak orang dan bukan kerugian dan kesakitan.
1 Bdk, Colin Heydt, John Stuart Mill, dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Last updated:
October 24, 2006. Diunduh pada tanggal 1 November 2013.
Page | 1

Menurut utilitarianisme suatu perbuatan baru dapat dinilai jika akibat dan tujuan
sudah dipertimbangkan. Dasar argumen bahwa manusia itu tidak hidup sendirian melainkan
hidup bersama-sama. Apabila ada kebijakan atas nama kepentingan bersama, maka
kepentingan pribadi harus tunduk pada kepentingan bersama. Karena suatu perbuatan itu
lebih mendatangkan kebahagiaan kepada banyak orang.2
Utilitarianisme Mill sebenarnya merupakan sebuah utilitarianisme yang minimal di
mana ia berargumen bahwa kita secara moral wajib untuk menjauhkan diri dari beban yang
membahayakan atau dengan kata lain kita secara aktif menghindari bahaya. Dengan
demikian, seseorang melakukan sesuatu harus memperhatikan kebahagiaan bagi banyak
orang.
Kebahagiaan dapat menjadi kesenangan dan kebebasan dari rasa sakit atau sesuatu
itu dibebaskan sejauh mungkin dari kemungkinan penderitaan dan kaya dalam kesenangan.
Kebahagiaan kemudian dapat menjadi sesuatu yang sangat diinginkan sebagai tujuan akhir.
Aspek minimalis dari utilitarianisme mengizinkan Mill untuk memberi saran bahwa dalam
melakukan sesuatu harus membangkitkan kebahagiaan yang berkualitas kepada banyak
orang. 3
Menurut pemikiran utilitarian bahwa perlu juga standar moralitas di mana dapat
menegaskan aturan-aturan untuk memimpin manusia. Hasil pokok dari utilitarianisme
sebagai sebuah teori moral adalah untuk membedakan suatu tindakan yang benar dan yang
salah dari kebaikan atau keburukan dari pribadi yang melakukan suatu perbuatan. Seorang
dapat menjadi baik secara moral dalam pandangan bahwa ia dapat selalu bertindak dari
maksud yang baik. 4 Dari sini kita dapat mengerti bahwa kesenangan dan kebahagiaan tidak
diukur secara kuantitatif melainkan secara kualitatif. Begitu pula kesenangan manusia harus
lebih tinggi dari pada kesenangan hewan yang tidak mempunyai kemampuan yang sama
dengan manusia.
Standar moral dari kebahagiaan utilitarian dari apa yang benar tidak hanya baik
menurut diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Kaum utilitarian
sendiri menunjuk pada aturan emas (golden rule) Yesus dari Nazaret bahwa lakukanlah apa
yang engkau ingin lakukan. Lakukanlah apa yang hendak kau lakukan, dan cintailah orang
lain seperti dirimu sendiri. Kata-kata ini menegaskan kesempurnaan ideal dari moralitas
utilitarian.5
2. Kebebasan Berpikir dan Bertindak
2 Daniel Kolak & Garret Thomson, On Liberty, dalam The Longman Standard History of
Philosophy (New York: Pearson Longman, 2006), hlm. 836.
3 John R. Fitzpatrick, John Stuart Mill's Political Philosophy (London: Continuum, 1988), hlm. 108.
4 Richard H. Popkin dan Avrum Stroll, Philosophy Made Simple (London: W. H. Allen & Company
Ltd, 1969), hlm. 34.
5 Bdk. Kolak, Daniel & Garret Thomson. On Liberty. Ibid., hlm. 839.
Page | 2

Pokok mengenai kebebasan berpikir dan bertindak dapat menghantar kita pada
pertanyaan-pertanyaan berikut ini,
1 Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa kebebasan berpikir seringkali terhalangi oleh
pendapat-pendapat umum yang sudah ada, diterima, bahkan dihidupi oleh berbagai
kalangan, golongan bahkan negara?
2 Pendapat-pendapat umum apa yang sudah tidak dapat diganggu gugat?
3 Diskusi yang bebas tidaklah sebebas arti kata itu. Mengapa hal itu bisa terjadi ?
4 Apa yang menyebabkan diskusi bebas tidaklah sebebas arti kata bebas itu?
Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu:
Manusia diciptakan dan dilahirkan di dunia ini memiliki kodrat yang sama. Thomas Hobbes
dalam filsafat politiknya mengatakan apabila seseorang itu sungguh mengerti dan mengenal
kodrat manusia maka ia bisa menyusun filsafat politik. Menurut Thomas Hobbes, manusia
mempunyai kodrat yang sama misalnya mempunyai hak yang sama, mempunyai kebebasaan
yang sama, mempunyai kekuasaan atas individu, mempunyai rasa takut dan gelisah, manusia
itu tidak jauh berbeda dengan serigala (homo homini lupus) dan mempunyai keinginan untuk
bertahan hidup dan melindungi hidupnya.
Untuk mencapai suatu hidup yang damai manusia sepakat untuk menyerahkan hakhaknya dan membiarkan kebebasannya dibatasi. Itu yang dinamakan dengan kontrak sosial
(persetujuan antar individu). Oleh kontrak sosial itu, lahirnya suatu pemerintahan/penguasa
dan negara di mana rakyat memberikan haknya pada penguasa yang dipilih (bisa satu orang
atau dewan) untuk mengatur rakyat agar terciptalah suatu kehidupan yang damai.
Dalam pemerintahan ada peraturan-peraturan yang telah dibuat dengan tujuan untuk
menciptakan kedamaian, ketertiban, dan keteraturan. Peraturan-peraturan tersebut sudah
mencakup berbagai bidang kehidupan misalnya politik ekonomi, sosial-budaya, pendidikan,
keagamaan bahkan hidup privasi tiap-tiap keluarga. Tentu bagi seseorang yang telah sepakat
untuk menjadi warga negara suatu negara sudah harus menerima peraturan-peraturan itu
(pendapat-pendapat umum tersebut) bahkan menghidupi pendapat-pendapat umum tersebut.
Sama halnya dengan seseorang yang secara sadar dan ingin masuk dalam satu komunitas
keagamaan, tentu ia mau menerima segala peraturan yang ada dalam komunitas kegamaan itu
bahkan menghidupi peraturan-peraturan dalam komunitas itu (pendapat-pendapat umum).
Tetapi pertanyaannya adalah ketika muncul sesorang yang dengan sadar menggunakan hak
bebasnya dalam berpikir lalu mengutarakan pendapatnya bagi suatu negara atau agama
apalagi pendapatnya itu bertentangan dengan peraturan-peraturan agama atau negara yang
sudah diterima, berjalan bahkan dihidupi oleh masyarakat, tidak jarang orang itu segera
disingkirkan bahkan dihilangkan dalam muka bumi ini. Banyak orang sebenarnya
mempunyai pikirannya sendiri mengenai negara atau agama tapi mengurungkan niatnya
dalam mengutarakan pendapatnya di hadapan publik karena mengingat apa yang ingin
disampaikan bertentangan dengan pendapat-pendapat umum yang sudah ada.
Pemerintah yang paling baik tidak lebih berhak untuk menggunakan paksaan daripada
pemerintah yang tidak baik. Hal itu berbahaya, atau lebih berbahaya lagi apabila dilakukan
sesuai dengan pendapat umum daripada apabila berlawanan dengan pendapat umum. Jika
seluruh umat manusia minus satu orang sependapat, maka umat manusia tidak lebih benar
karena membungkam orang yang satu itu daripada karena membungkam umat manusia, jika
Page | 3

ia mempunyai kekuasaan.6 Kita ambil contoh, misalnya Sokrates dan Yesus sendiri.
Bagaimana ketika Sokrates yang memiliki pikiran sendiri mengenai negara tetapi
bertentangan dengan pendapat umum dianggap penyesat bagi kaum muda, lantas dijatuhi
hukuman mati. Bagaimana Yesus yang mempunyai pandangan sendiri mengenai hal kerajaan
Allah yang sangat bertentangan dengan pendapat-pendapat umum saat itu juga dijatuhi
hukuman mati.
Menurut John Stuart Mill, itu adalah kejahatan apabila mematikan hak untuk mengungkapkan
pendapat. Itu seperti merampok umat manusia baik generasi yang di kemudian hari maupun
yang ada sekarang ini lebih-lebih terhadap mereka yang menolak pendapat itu ketimbang
mereka yang berpegang pada pendapat tersebut.7 Menolak mendengarkan pendapat pihak lain
yang mempunyai pendapat sendiri (karena kebebasan pikirnya) itu disebabkan karena
mempunyai kepastian bahwa pendapat itu salah. Itu mengasumsikan bahwa kepastian mereka
yang menolak itu sendiri adalah kepastian mutlak. 8 Dalam keputusan praktis manusia,
meskipun setiap orang benar-benar tahu bahwa ia sendiri dapat keliru, namun hanya sedikit
orang saja yang menganggap perlu untuk mengambil tindakan mencegah kekeliruan mereka. 9
Pendapat yang berbeda dari berbagai pendapat umum yang sudah ada tentu juga dapat
mengoyahkan keutuhan suatu komunitas yang sedang berjalan dan matang. Komunitas
merasa ada duri dalam daging yang mesti segera dikeluarkan dan dihilangkan agar komunitas
itu dapat berjalan dengan baik kembali.
Bebas berarti tidak ada paksaan, tidak ada halangan, tidak ada hambatan, terlepas dari segala
belenggu-belenggu yang ada. Dalam diskusi terdapat berbagai pendapat yang muncul, baik
dari pendapat pribadi dalam peserta diskusi maupun pendapat-pendapat yang memang sudah
ada terlebih dahulu yang mendahului pendapatpendapat pribadi, misalnya pendapatpendapat umum yang sudah tertanam dalam diri setiap peserta diskusi. Tapi tak jarang, dalam
berjalannya diskusi seringkali terjadi pembungkaman pendapat yang dilakukan salah satu
pihak pada pihak yang lain. Membungkam suatu diskusi berarti mengandaikan diri sendiri
tidak dapat keliru (infallibility). Melarang suatu diskusi boleh jadi didasarkan atas argumen
umum ini, tidak terlalu jelek sebagai argumen.10 Seringkali dalam berdiskusi ketika
melemparkan pendapat oleh seseorang dan pendapat itu diserang maka yang melemparkan
pendapat itu segera mempertahankan pendapatnya. Seringkali pendapat itu hanya diterima
oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan yang sama dengan yang melemparkan
pendapat (misalnya sekte yang sama, partai yang sama, golongan yang sama). Dalam
berdiskusi ada suatu fenomena yaitu aneh bahwa orang mau menerima keabsahan argumen6 Bdk. Ibid., hlm. 846.
7 Bdk. Ibid.
8 Bdk. Ibid.
9 Ibid.
10 Ibid.
Page | 4

argumen untuk diskusi yang bebas, tetapi menolak kalau argumen-argumen itu diteruskan
sampai ekstrem. Adalah aneh bahwa mereka harus membayangkan bahwa diri mereka tidak
dapat sesat padahal mereka mengakui bahwa harus ada diskusi bebas tentang segala hal yang
mungkin diragukan, tetapi berpendapat bahwa suatu prinsip atau ajaran tertenu tidak boleh
dipermasalahkan karena demikian pastinya, artinya karena mereka merasa pasti bahwa hal itu
pasti. Dengan kata lain sebenarnya bukan diskusi yang bebas karena tidak diperbolehkan
mengutak-atik yang sudah pasti meskipun para peserta diskusi mempunyai pikiran yang
mungkin berbeda dengan hal yang pasti itu.
Pada umumnya pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapat umum hanya
dapat memperoleh sidang pendengar kalau menggunakan bahasa yang dengan sengaja
diperlunak dan kalau dengan sangat hati-hati menghindari rasa sakit hati yang tidak perlu.
Inilah jalan keluar yang ditawarkan Mill.
3. Kesejahteraan Bersama Justru Ditentukan oleh Kebebasan Individual
Kebebasan individu harus dibatasi sejauh menjadi gangguan bagi orang lain.
Kebebasan individu menurut Mill bukanlah semau gue. Berarti kebebasan orang lain
membatasi kebebasan individu. Namun, serentak hal tersebut menyiratkan pengertian bahwa
saat seseorang tidak mengganggu orang lain melainkan menyangkut dirinya sendiri maka ia
harus bebas mengungkapkan dan melaksanakan pendapat-pendapatnya tanpa boleh diganggu.
It is desirable that in things which do not primarily concern others, individuality should
assert itself.11 Apa yang dapat menggangu?
Kebebasan individu sangat terkait dengan kebahagiaan manusia karena kemajuan
individu dan sosial ditentukan oleh watak orang sendiri. Hal ini nampak dalam banyak hal
yakni peradaban, pengajaran, pendidikan dan kebudayaan. Perkembangan semua hal itu
terletak dalam individualitas. Hal ini dipertentangkan dengan tradisi atau ikut kebiasaan
orang lain. Itulah yang menjadi pengganggu bahkan penghalang perkembangan.
Perkembangan tidak terjadi dalam ikut-ikutan saja tradisi dan kebiasaan orang lain. Sebabnya
adalah dalam tradisi dan kebiasaan spontanitas individual tidak diakui. Mill sendiri mengakui
bahwa orang perlu belajar dan berlatih untuk mengetahui dan memperoleh manfaat dari hasilhasil pengalaman manusia; itulah yang diperoleh dalam tradisi. Tapi, hal itu harus dipandang
menjadi bukti saja dari apa yang telah diajarkan pengalaman, bukan menjadi yang utama.
Mengapa demikian? Mill berpendapat,
But in the first place, their experience may be too narrow, or they may not
have interpreted it rightly. Secondly, their interpretation of experience may be
correct, but unsuitable to him. Customs are made for customary circumstances
and his character may be uncostumary. Thirdly, though the customs be both
good as customs, and suitable to him, yet to conform to costom, merely as
costom, does not educate or develop in him any of the qualities which are the
distinctive endowment of a human being.12

11 Ibid., hlm. 855.


Page | 5

Dengan demikian, Mill menekankan pada pengembangan sifat-sifat yang merupakan


anugerah khusus dari seorang manusia. Pengembangan sifat-sifat khas ini tak akan terjadi
dalam himpitan tradisi dan kebiasaan, bahkan dapat dilihat sebagai yang bertentangan.
Kebahagiaan dan perkembangan manusia dapat terwujud jika manusia tidak
dipandang sebagai mesin yang bekerja otomatis. Manusia memiliki watak. Seorang dikatakan
berwatak jika memiliki keinginan dan dorongannya sendiri yang merupakan pengungkapan
kodratnya sendiri sebagaimana telah berkembang dan dimodifikasi oleh kebudayaannya.
Bagi Mill, melihat, memutuskan, merasa dengan jelas, melakukan aktivitas mental dan
bahkan untuk mengadakan pilihan moral, hanya dilatih dengan mengadakan pilihan;
sebagaimana otot manusia hanya dapat berkembang jika digunakan terus menerus. Dengan
mengikuti kebiasaan maka orang tidak mengadakan pilihan, berarti manusia dijadikan robot
yang dikendalikan dari luar. Daya hidupnya dimatikan jika mendirikan rumah, mengadili
perkara, mendirikan gereja, dan berdoa dilakukan dengan gaya mesin.
Setiap orang itu bernilai bagi dirinya sendiri dan fakta ini membuat orang sekaligus
yakin bahwa ia bernilai bagi orang lain. Di sini Mill mau menegaskan bahwa individualitas
tidak hanya berpengaruh bagi diri sendiri tapi terlebih secara sosial. Baginya, dengan adanya
kebebasan maka orang mungkin untuk mengendalikan segi egoistiknya. Pengendalian ini
menyebabkan kodrat sosialnya berkembang. Hal ini lebih jelas dalam pandangannya
mengenai individu dalam masyarakat.
Perkembangan suatu masyarakat itu sendiri ditentukan oleh individu-individu
dengan perbedaannya yang khas. Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat itu berbeda-beda,
dan tidak harus bahwa masyarakat itu disama-ratakan. Perbedaan-perbedaan ini justru yang
membawa kemajuan. Mill melihat bahwa peran dari orang-orang jenius itu penting. Memang
orang jenius tidak banyak tapi bukan berarti bahwa pendapat mereka harus dikalahkan oleh
pendapat massa yang belum tentu baik. Mill mengatakan bahwa orang jenius hanya bernapas
dalam suasana kebebasan. Dalam suasana itu mereka membiarkan diri untuk berkembang
secara bebas baik dalam pikiran maupun dalam praktek.
Justru hal-hal bijaksana dilahirkan oleh individu dalam individualitasnya. Mill
melihat bahwa yang menolong Eropa dari kejatuhannya bukanlah uniformitas, melainkan
perbedaan watak dan budaya. Bahaya dari uniformitas itu sendiri yakni manusia tidak akan
mampu lagi memahami perbedaan karena tidak terbiasa melihatnya. 13 Kebebasan individu ini
sendiri sudah ada sejak dahulu. Sangat jelas bahwa pemegang kekuasaan adalah individu
yang memiliki bakat atau kedudukan sosial. Tapi, kini individu hilang dalam massa
(individuals are lost in the crowd). Mill berpendapat bahwa massa itu tidak lain dari pada
keadaan bersemangat sedang-sedang yang kolektif (collective mediocrity). Tentu semangat
sedang-sedang saja tidak akan memberikan dampak banyak karena terikat pada jumlah. Mill
melihat bahwa meski massa selalu berbicara mengenai watak bersama tapi sebenarnya watak
dari massa adalah tanpa watak tertentu.
12 Ibid., hlm. 856.
13 Mankind speedly become unable to conceive diversity, when they have been for some time
unaccustomed to see it. Ibid., hlm. 861.
Page | 6

4. Penutup: Beberapa Pertimbangan


Ada beberapa kekuatan dan kelemahan dari prinsip moral dari J.S. Mill, antara lain:
a. Kekuatan
Utilitarianisme Mill sendiri menggunakan sebuah prinsip yang jelas dan rasional. Di
samping itu juga utilitarianisme mempunyai unsur yang cocok bagi suatu moralitas manusia
sebagai makhluk sosial. Kita harus bertindak sedemikian rupa sehingga apa yang kita lakukan
itu harus berdampak bagi kepentingan dan kebahagiaan banyak orang dan bukan
mendatangkan kesakitan dan penderitaan. Utilitarianisme menciptakan suasana
pertanggungjawaban suatu keputusan, sikap dan tindakan moral. Demikianpun prinsip ini
berlaku pada pemerintah di mana ia mempunyai pegangan yang jelas untuk membentuk
kebijaksanaan dan mengatur masyarakat.14
Kebebasan berpikir, sebagaimana pemikiran Mill, sangat dibutuhkan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan. Kita ambil contoh Galileo Galilei. Pikiran dan
pendapatnya mengenai sistem tata surya sudah melalui berbagai uji coba dan penelitian.
Pendapat ini sungguh ditentang oleh Gereja, sampai akhirnya ia diberi hukuman
ekskomunikasi. Namun, terbukti kemudian bahwa teorinya memang benar. Selain itu,
kebebasan berpikir diperlukan juga dalam banyak bidang lain seperti bidang teknologi.
Kebebasan berpikir dapat memicu lahirnya teknologi-teknologi muktahir yang dapat
membantu hidup manusia. Dulu orang tidak pernah terpikir mengenai komunikasi tatap muka
dengan jarak yang jauh, tapi kini hal tersebut mungkin dengan teknologi komunikasi skype.
Kebebasan berpikir bisa membangun atau menghancurkan tergantung dari maksud pribadi itu
sendiri.
Pandangan Mill mengenai individualitas menjadi kritik bagi kehidupan manusia
yang berjalan bagaikan mesin. Menjadi kenyataan bahwa manusia sepertinya menjadi robot
karena ia dikendalikan oleh hal-hal di luar dirinya. Dalam gaya hidup sekuler, seorang
pekerja melakukan pekerjaan dan tindakan yang sama setiap hari, tanpa sempat berpikir
mengenai mengembangkan hidup, membina keluarga yang baik, apalagi tentang Tuhan.
Sedangkan ada orang yang mengaku diri beriman dengan memeluk agama tertentu, tapi
hanya menjalankan agamanya sebagai kewajiban, sebagai kegiatan yang harus dilakukan,
menaati hukum agamanya secara buta, berdoa sekedar saja, serta mengucapkan kata-kata
dalam ibadah dengan cepat-cepat dan tanpa penghayatan. Hidup adalah pilihan. Dan, yang
memilih adalah individu. Sehingga setiap tindakan perlu untuk dihayati. Manusia tidak boleh
hidup dengan meleburkan diri pada massa, melainkan berani berpendapat, bebas, mandiri,
dan membuat keputusan-keputusan mengenai hidup yang penuh nilai dan berkembang.
b. Kelemahan
Suatu perbuatan moral disebut baik jika apa yang dilakukan oleh seseorang itu
membawa kegunaan dan keuntungan. Di sini yang sangat ditekankan oleh Mill adalah
kegunaan dan keuntungan. Pertanyaannya, berguna untuk siapa? Mill sendiri menekankan
14 Bdk. Frans Magnis Suseno, Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 125.
Page | 7

subyektifitas yang menilai apakah menguntungkan atau tidak. Padahal pandangan untuk
membawa kegunaan dan keuntungan itu dipandang berbeda oleh banyak orang. Jika
subyektivisme yang ditekankan jalan menuju relativisme terbuka lebar. Pandangan tentang
yang berguna, bermanfaat, menguntungkan berbeda dari orang ke orang.
Pandangan Mill terlalu menekankan akibat dan bukan hakekat dari suatu perbuatan.
Atas nama kebahagiaan sebesar-besarnya untuk banyak orang, orang tidak perlu sibuk
memikirkan apa hakikat dari suatu perbuatan, tetapi akibatnya bagi hidup kita. Tidak jarang
atas nama kebahagiaan sebesar-besarnya dengan tenang melanggar hak asasi manusia seperti
hak milik.15
Mill menyepelekan tradisi sebagai sebuah sumber pengetahuan dan mengandalkan
kebebasan individu. Memang baik jika dikatakan bahwa setiap orang pada hakekatnya
bernilai pada dirinya sendiri, hal ini tidak dapat disangkal. Namun, dalam tradisi tergambar
banyak hal. Dengan tradisi kita dapat belajar banyak dari apa yang sudah dialami oleh
generasi terdahulu dengan demikian kita tidak mengulangi kesalahan itu. Memang salah jika
kemudian tradisi dijadikan pelarian dari ketakberdayaan manusia, baik dalam memecahkan
persoalan atau dalam menghadapi tantangan hidup. Tradisi bukan menjadi tempat pelarian
melainkan sebagai sarana untuk berkonsultasi.

Daftar Pustaka
Fitzpatrick, John R. John Stuart Mill's Political Philosophy. London: Continuum, 1988.
Heydt, Colin. John Stuart Mill. Dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Last updated:
October 24, 2006. Diunduh pada tanggal 1 November 2013.
Kolak, Daniel & Garret Thomson. On Liberty. Dalam, The Longman Standard History of
Philosophy. New York: Pearson Longman, 2006.
Mangunhardjana, A. Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z. Yogyakarta: Kanisius, 1997.
Popkin, Richard H. dan Avrum Stroll. Philosophy Made Simple. London: W. H. Allen &
Company Ltd, 1969.
Suseno, Frans Magnis. Etika Dasar. Yogyakarta: Kanisius, 1987.

15 A. Mangunhardjana, Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm.
230.
Page | 8