Anda di halaman 1dari 5

Muhammad Asadullah Al Ghozi

1506724221

Pengantar Antropologi
Review buku Culture Antrophology: Appreciating Cultural Diversity 14th edition karya
Conrad Phillip Kottak (bab 7 & 8)
Manusia, di dalam garis waktu sejarah, mempunyai tahapan-tahapan perkembangan
peradabannya. Peradaban manusia berkembang dari hal yang sederhana kepada hal yang
semakin terspesialisasi. Di zaman berburu dan meramu, manusia mempertahankan hidupnya
dengan berburu dan meracik makanannya. Pemabagian kerja pada zaman ini juga masih
sederhana. Kemdian setelah zaman berburu dan meramu, manusia mulai menanam tumbuhan
yang dapat dimanfaatkan. Pembagian kerja mulai terdiferensiasi dan alat-alat hidup manusia
bertambah.
Menurut Yehudi Cohen (1974b) menggunakan kata strategi adaptif untuk menggambarkan
sistem kelompok produksi ekonomi. Cohen mengatakan bahwa alasan penting kesamaan
antara dua atau lebih masyarakat yang tidak terhubung adalah kepemilikan mereka atas
strategi adaptif yang sama.
Peradaban manusia dari sepuluh ribu tahun lalu selalu berubah. Hingga saat ini, peradaban
manusia masih bergerak menuju kehidupan yang serba canggih. Perubahan ini pula yang
menjadikan setiap masyarakat di dunia berbeda. Walaupun, bisa jadi, mereka mengalami
jalan peradaban yang sama, tetapi faktor alam tempat manusia tinggal sangat mempengaruhi
kebudayaannya.
Pada zaman berburu dan meramu, manusia mencari makan di dalam hutan, laut, ataupun
sumber-sumber makanan terdekat. Mereka berburu di hutan, mengambil ikan dan karang di
pantai, kemudian mengolah di tempat tinggalnya. Pembagian kerja zama berburu dan
meramu masih sangat sederhana. Manusia dituntut untuk bisa berburu agar bertahan hidup.
Benda-benda hasil kebudayaan zaman berburu dan meramu adalah alat serpih untuk
menguliti binatang buruan yang terbuat dari batu, kapak batu untuk memotong daging, dan
lainnya.
Kehidupan manusia kemudian berubah menjadi zaman bercocok tanam. Dalam Cohen
tipologi, tiga strategi adaptif berdasarkan produksi makanan dalam masyarakat non-industri
adalah hortikultura, berkebun, dan beternak. Setiap strategi adaptasi mengacu pada aktivitas
ekonomi utama. Contohnya, zaman pastoralis (beternak), manusia mengonsumsi daging,
susu, mentega mencukur bulu domba.
Hortikultur, berdasarkan Cohen, adalah penanaman yang menggunakan penggunaan intensif
dari faktor bukan produksi: lahan, pekerja, modal, dan teknologi. Hortikultur menggunakan
cara sederhana dalam menanam dan mengembangkan tanaman. Hortikultur sering
menggunakan teknik slash and burn, artinya manusia membabat hutan dan membakar; hutan
terbakar, vegetasi musnah, binatang terbunuh, dan debu hasil pembakarannya menyuburkan
tanah.
Setelah sebidang lahan ditanami, dan tanah menjadi tidak produktif lagi, manusia akan
berpindah ke lahan lain yang baru. Kemudian mereka akan membabat dan membakar; begitu

seterusnya. Kebiasaan berladang berpindah ini tidak ramah lingkungan, banyak lahan-lahan
yang sudah rusak, dan sudah sangat banyak hewan dan vegetasi yang punah.
Pertanian berbeda dengan hortikultur. Pertanian adalah penanaman yang membutuhkan lebih
banyak pekerja dibanding hortikultur, karena menggunakan lahan secara intensif dan
berkesinambungan. Permintaan pekerja yang lebih banyak berhubungan dengan menjinakkan
hewan, irigasi dan terasering.
Banyak penanam menggunakan hewan dalam tujuan produksitransportasi, membajak
lahan, dan pupuk lahan. Petani biasanya menggunakan kerbau dan sapi dalam pertaniannya;
biasanya digunakan untuk membajak lahan. Dan juga, agrikultur mengumpulkan kotoran sapi
dan kerbau untuk dijadikan pupuk. Untuk mengairi lahan, petani membuat suatu sistem
pengairan yang disebut irigasi. Manusia menciptakan sistem pengairan yang tidak harus
menunggu hujan; walaupun sedang musim kemarau, lahan tetap terairi dengan air yang
berasal dari waduk, danau, sungai, telaga dan sumber air lainnya. Irigasi merupakan
komponen penting dalam pertanian karena agrikultur menggunakan lahan dan mencoba
menghasilkan hasil yang berlanjut. Agrikultur juga memanfaatkan lahan miring, dikenallah
istilah terasering. Terasering adalah seperti membuat jenjang di lahan yang miring. Tujuan
membuat terasering adalah agar pada saat hujan, lahan pertanian tidak rusak. Terasering juga
salah satu metode terasering, jadi, air yang berada di lahan paling atas turun sedikit demi
sedikit ke lahan bawahnya dan begitu seterusnya.
Peternak hidup di Afrika Utara, Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Para peternak atau
pengembala adalah orang yang aktivitasnya berfokus pada hewan jinak seperti domba,
kambing, unta, yak dan kerbau. Manusia mengembala dan membesarkan hewan ternak untuk
dijadikan makanan. Masyarakat yang mengembala biasanya berpindah, kebiasaanya ini
karena pengembala mengikuti hewannya mencari makan. Dalam masyarakat pastoralis
nomaden, seluruh kelompoktermasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anakberpindah
dengan hewan ternaknya sepanjang tahun. Pada masyarakat lain, hanya sebagian kelompok
yang berpindah mengikuti hewan ternaknya; sebagian kelompok menetap di suatu tempat dan
sebagian lagi berpindah.
Ketiga tipologi berdasarkan Cohen tadi mempunyai maksud untuk produksi. Ekonomi adalah
sistem produksi, distribusi dan konsumsi sumberdaya; ekonomi adalah studi sistem.
Antropologi ekonomi mempelajari ekonomi dalam perbadingan prespektif. Cara produksi
adalah cara mengorganisasi produksi.
Masyarakat mewakili tiap-tiap strategi adaptasi, seperti bertani. Perbedaan dalam cara
produksi didalam strategi dapat mencerminkan perbedaan lingkungan, sumber daya target,
atau tradisi (Kelly, 1995).
Alat-alat, dan faktor produksi dalam masyarakat non industrial termasuk lahan, teknologi,
dan buruh. Pada masyarakat berburu dan meramu, manusia belum menggunakan lahan secara
intensif. Manusia masuk ke hutan dan berburu hewan besar untuk dimakan. Waktu itu, hutanhutan masih terjaga karena tidak ada perusakan; hewan buruan tidak ada punah. Zaman
bercocok tanam, manusia menggunakan lahan dengan membuka lahan (membabat dan
membakar) dan mulai memanfaatkan lahan. Lahan menjadi sangat penting dalam bercocok
tanam, tanpa lahan manusia tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi. Dalam keadaan ini,
peranan tanah atau lahan meningkat dan menjadi semakin penting. Kemudian pada manusia

beternak, peran lahan adalah sebagai sumber makanan bagi hewan ternak. Lahan dengan
banyak sumber makanannya akan lebih lama disinggahi hewan ternak untuk mencari makan.
Hewan ternak akan menghindari lahan dan tempat yang sedikit potensi makanannya.
Buruh, peralatan, dan spesialisasi sama seperti lahan, juga merupakan faktor-faktor produksi
dalam masyarakat non idustri. Akses lahan dan buruh datang melalui hubungan sosial seperti
kekerabatan, perkawinan, dan keturunan.
Masyarakat non-industri dan masyarakat industri dibedakan dengan faktor teknologi.
Manufaktur sering berhubungan dengan umur dan gender. Wanita memintal dan laki-laki
membuat tembikar. Jika wanita yang sudah kawin, biasanya membuat keranjang, hampir atau
semua wanita yang sudah kawin mengetahui cara membuat keranjang; mereka berbagi
pengetahuan yang sama.
***
Organisasi politik terdiri atas bagian-bagian dari organisasi sosial yang secara khusus
berhubungan dengan individu atau kelompok yang mengelola urusan kebijakan publik atau
berusaha untuk mengontrol aturan-aturan atau kegiatan individu atau kelompok. (Fried 1967,
hlm. 20-21).
Elman Service (1962) membagi empat tipe dan level organisasi politik: gerombolan, suku,
chiefdom dan negara. Gerombolan adalah grup yang hubungannya didasarkan pada
kekerabatan atau ikatan perkawinan. Suku mendasarkan ekonomi pada non-intensif produksi
makanan (hortikultur dan pastoralis). Chiefdom mengaju pada bentuk organisasi sosialpolitik menengah antara suku dan negara. Pada chiefdom, hubungan sosial banyak
berdasarkan pada keturunan, perkawinan, usia, generasi dan gender. Negara adalah bentuk
organisasi sosial-politik berdasarkan pada struktur pemerintahan formal dan stratifikasi
sosial-ekonomi.
Dalam gerombolan (bands) dan suku, hubungan sosial masih berdasarkan kekerabatan, begitu
pula bentuk pemerintahannya. Suku dan bands dipimpin oleh seorang kepala suku (pada
buku Kottak disebut Village Head) yang jabatannya diturunkan melalui keturunan. Kepala
suku akan menurunkan jabatannya kepada anaknya ketika ia sudah tidak sanggup lagi.
Villeage head dibantu oleh pembantu-pembantunya (dalam buku Kottak disebut Big Man)
yang mengurusi bidang kemasyarakatan. Seorang Big Man tidak bisa menjadi kepala suku
karena tidak dari satu keturunan. Contoh suku yang terdapat Big Man dan Village Head-nya
adalah suku Minangkabau di Sumatera Barat. Etnis Minangkabau terbagi lagi ke dalam
beberapa suku. Pada setiap suku dipimpin oleh seorang Village Head (kepala suku) dan
dibantu 3 Big Man. Pemerintahan di Minangkabau disebut Tungku Tigo Sajarangan. Tiga Big
Man itu: alim ulama, cadiak pandai dan penghulu. Ketiga Big Man membantu pemerintahan
kepala suku. Alim ulama bertanggung jawab untuk mengajari agama Islam dan menjadi
tempat bertanya tentang agama dan penerapannya. Cadiak pandai artinya orang yang cerdik,
pandai dan berpendidikan tinggi, ia bertanggung jawab dalam pendidikan (nonformal)
masyarakat suku dan menjadi tempat bertanya tentang pengetahuan. Penghulu adalah
pembantu kepala suku yang mengurusi bagian pemerintahan dari kepala suku kepada rakyat.
Jumlah penghulu, cadiak pandai, dan penghulu tidak selalu 3 (masing-masing satu), tetapi
jumlahnya bisa lebih dari tiga orang.

Kehidupan bands masih bergantung pada alam. Alam memengaruhi bands dalam bentuk
musim, suhu, dan cuaca. Saat musim kemarau, akan sulit mengumpulkan air dan makanan.
Saat musim hujan, air berlimpah dan tumbuhan tumbuh lebat.
Berbeda dengan bands, pada tingkat suku sudah bercocok tanam. Seperti di Papua Nugini
dan Amerika Selatan, dimana prinsip-prinsip kesukuan masih berjalan. Suku-suku secara
khusus memiliki sistem pastoralis dan cocok tanam yang diatur oleh kehidupan desa atau
kelompok keturunan. Seperti bands, masyarakat kesukuan cenderung egaliter, walaupun
terdapat stratifikasi gender. Kampung hortikultur biasanya kecil dengan kerapatan populasi
rendah dan membuka akses sumber daya.
Chiefdom adalah bentuk transisi masyarakat kesukuan menjadi negara. Chiefdom dan negara,
seperti kategori lain yang digunakan ilmuwan adalah tipe ideal. Chiefdom sudah mempunyai
ciri-ciri bentuk negara, tetapi masih memegang prinsip kesukuanseperti kekeluargaan,
keturunan, kehormatan, stratifikasi gender.
Dalam chiefdom, hubungan sosial didasarkan atas kekeluargaan, perkawinan, keturunan, usia
generasi dan genderseperi bands dan suku (Kottak, 2012). Negara membawa non-keluarga
kedalam kesetiaan pada negara. Kekuasaan pada chiefdom cenderung adalah permanen
regulasi politik. Peraturannya dibuat oleh ketua dan beberapa asisten. Ketua (raja) atau
pembantu raja bisa berganti akibat kematian atau mengundurkan diri Sebagai contoh,
Mahapatih Gadjah Mada yang merupakan pembantu Raja Hayam Wuruk pada masa
Majapahit. Kekuasaan Gadjah Mada melekat permanen, tetapi pada ia meninggal, posisinya
dapat digantikan. Pada saat Gadjah Mada digantikan, kerajaan Majapahit mengalami
kemunduuran.
Negarabentuk terahir tipologi Elman Serviceadalah unit otonomi politik dengan kelas
sosial dan pemerintahan formal yang berdasarkan hukum (Kottak, 2012). Menurut Kottak, di
setiap negara terdapat fungsi: pengendalian populasi, pengadilan, penyelenggaraan, dan
fiskal.
Fungsi pengendalian populasi suatu negara dilakukan melalui sensus. Sensus dilakukan
dengan batas demarkrasi wilayah negara. Pengendalian populasi juga mencakup angka
kelahiran, kematian, pertumbuhan, usia produktif, usia anak-anak, dan lainnya. Populasi
suatu negara yang terlalu banyak atau terlalu sedikit menjadi masalah dalam negara. Negara
dengan populasi tinggi akan menimbulkan banyak masalah sosial, dan negara berpopulasi
kecil rentan diserang oleh negara lain. Oleh karena itu, negara mengusahakan segala hal yang
menyangkut populasi stabil, dan ideal untuk menjamin kesejahteraan negara.
Negara di dunia memiliki hukumtermasuk hukum tertulis maupun tidak tertulis. Walaupun
tanpa ditulis, hukum bisa berasal dari tradisi lisan.
Hukum mengatur hubungan individu dan kelompok. Kejahatan adalah kekerasan atas kode
legal, dengan tipe hukuman spesifik (Kottak 2012). Di Amerika Utara, atau seluruh dunia,
hukum sekiranya adalah buta pada perbedaan sosialkaya dan miskin. Untuk menghindari
penyelewengan hukum yang harus ditegakkan, negara memiliki pengadilan. Sebagai contoh,
di Indonesia terdapat Mahkamah Agung untuk memutus perkara pada tahap kasasi, dibawah
Mahkamah Agung, terdapat Peradilan Tinggi Negeri (tingkat kota dan provinsi).

Fungsi pelaksaan atau penyelenggaraan negara adalah menerapkan kebijakan, menegakkan


hukum yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Walaupun negara menjatuhkan
keluarga, tetapi juga memberi keuntungan. Lebih jelas lagi, negara menyediakan
perlindungan dari orang asing dan memelihara tatatertib internal (Kottak, 2012).
Sistem ekonomi yang berkaitan dengan fungsi ekonomi suatu negara adalah komponen
penting dalam menjalankan negara. Sistem ekonomi menjadi aturan konsumsi, dan produksi
negara. Bahkan dewasa ini, salah satu indikator negara maju atau berkembang adalah sistem
ekonomi. Sistem ekonomi menjadi penitng ketika ia berhubungan ekonomi dengan negara
lain dalam hal perdagangan. Dalam chiefdom, bands atau suku, mereka menggunakan sistem
ekonomi barter yang masih sangat sederhana. Barter secara murni tidak dapat digunakan
dalam negara karena hubungan ekonomi yang lebih luas dan membutuhkan regulasi
perdagangan yang komprehensif.
Antonio Gramsci (1971) mengembangkan suatu konsep yang dinamakannya hegemoni untuk
tatanan stratifikasi dimana kelompok subordinat menurut serta dominasi oleh internalisasi
aturan nilai dan menerimanya menjadi hal biasa. Secara sederhana, hegemoni adalah kondisi
dimana kelompok subordinat menerima hirarki sebagai alami. Setiap tatanan sosial
mencoba membuatnya menjadi sewenang-wenang (Bourdieu, 2997, p. 164). Hegemoni juga
termasuk internalisasi ideologi kelompok dominan, yang merupakan cara-cara kelompok
dominan memepertahankan status quo dan kelompok subordinat menerimanya sebagai
suatu yang alamiah.
Kehidupan manusia berkembang dari era yang sederhana kepada era modern dan semakin
kompleks. Dari era berburu dan meramu, bercocok tanam, beternak dan era modern
kehidupan berkembang melalui komplesitasnya. Jika melihat bab 7 dan bab 8, awal
kehidupan manusia berawal dari hal sederhanayang berdasarkan kekeluargaan, dan
keturunanmengalami perubahan dalam sosial dan budaya, terutama dalam sistem
politiknya. Dalam tipologi Service, mulai dari bands hingga negara, masyarakat semakin
terstratifikasi, adanya pembagian tugas, dan masyarakat menjadi semakin kompleks.
Perubahan ini juga terdapat pada bab 7 yang mengenai perkembangan peradaban masyarakat;
tetapi tipologi Elman Service lebih melihat kompleksitasnya dalam sistem politik, berbeda
dengan analisis Yehudi Cohen yang mengemukakan strategi adaptif manusia. Analisis Yehudi
Cohen dan tipologi Elman Service mempunyai kesamaan bahwa setiap zaman yang
berkembang dari sederhana hingga zaman modern mengalami perubahan yang sama, yaitu
sama-sama bertransformasi dari kekeluargaan kepada sistem yang diformalkan. Sistem
masyarakat berubah bisa disebabkan karena semakin kompleksnya kehidupan manusia, oleh
karena itu diperlukan sistem ekonomi dan sistem politik yang diformal-legalkan. Dapat
dilihat bahwa sistem ekonomi dan sistem politik berubah dalam satu garis kompleksitas yang
serupa.