Anda di halaman 1dari 3

Politik Lingkungan dan Sumber Daya Alam: Sharing Environmental Benefit dan

Sharing Environmental Cost


Oleh:
Kitta Aquillah - 1506686356 Siti Shafira - 1506756034
Eva Aurelia - 1506735830 M. Asadullah Al Ghozi - 1506724221

Sharing environmental benefit merupakan suatu konsep yang menjelaskan


keuntungan lingkungan yang dimanfaatkan tersebut dapat dibagikan kepada pihak
lain yang secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab untuk memelihara
lingkungan. Kebalikan dari sharing environmental benefit adalah sharing
environmental cost yang mana lebih menekankan kepada pembagian biaya
lingkungan yang ditimbulkan akibat pengelolaan yang tidak mempertimbangkan
keberlanjutan.
Salah satu contoh sharing environmental cost ialah fenomena banjir pada
musim hujan di DKI Jakarta tahun 2013. Permasalahan banjir Jakarta sudah terjadi
sejak masih bernama Batavia tahun 1872 hingga banjir terbesar tahun 2013. Ketika
pada kondisi normal (tidak banjir), maka itu merupakan benefit karena aktivitas
perekonomian dan pemerintahan tidak terganggu. Namun sebaliknya, banjir menjadi
cost yang harus ditanggung oleh DKI Jakarta. Jika menelisik lebih jauh, aliran sungai
yang bermuara di Jakarta beasal dari Kab. Bogor dan Cianjur. Selain faktor iklim
seperti curah hujan yang tinggi, faktor yang menjadi penyebab banjir di Jakarta terjadi
setiap tahun adalah pengalihfungsian daerah resapan air di daerah Bogor Puncak dan
Cianjur. Berdasarkan data yang diperoleh sampai 2008, wilayah vegetasi yang hilang
mencapai 30 persen. Angka tersebut semakin bertambah pada sepuluh tahun terakhir.
Luas 4.918 ha lahan berkurang hingga 74 persen menjadi 1.265 ha. Dari 4.550 tanah
terbuka hanya menjadi 14 ha. Di saat lahan terbuka berkurang, luas pemukiman
bertambah dari 24.833 ha menjadi 35.750 ha. Faktor perubahan geografis tersebut
yang kami tangkap sebagai permasalahan awal.
Biaya yang harus ditanggung Jakarta dapat mencapai 20 triliun dari segi
material (antaranews.com, 2013). Dari segi aktivitas masyarakat dan korban, banjir di
tahun 2013 menyebabkan 20 korban jiwa, 33.502 mengungsi menurut BNPB. Banjir
pada Januari 2014 memakan biaya sosial yang tinggi, 37 kecamatan tergenang,
245.950 jiwa terdampak, 23 korban meninggal, dan 122.417 pengungsi (tirto.id,
2013).
Kami melihat bahwa ketika tidak terjadi banjir, pihak yang diuntungkan
adalah Provinsi DKI Jakarta yang—kondisi banjir atau tidak banjir—sangat
bergantung kepada pengelolaan air di daerah hulu seperti Bogor, Cianjur. Dengan
membandingkan data Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta, Kab. Bogor dan
Kab. Cianjur, maka pengalihan fungsi lahan akan menjadi wajar untuk meningkatkan
PAD. Pendapatan DKI Jakarta terlalu besar jika dibandingkan Bogor dan Cianjur
yang berjumlah 26,9 triliun, Bogor 1,3 triliun, dan Cianjur hanya 266,1 milliar
(databoks.katadata.co.id, 2013). Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengalih
fungsi lahan untuk menggerakkan ekonomi, yang di sisi lain berdampak pada
permasalahan banjir di Jakarta.
Dari permasalahan yang tampak jelas tersebut, kami berargumen bahwa cost
yang ditanggung harus “dibagikan”. Dalma hal ini, beban yang harus dikeluarkan
Pemprov DKI Jakarta adalah untuk mencegah terjadinya banjir tidak hanya di dalam
wilayah DKI Jakarta namun juga di daerah Puncak dan Cianjur. Kami berpendapat
DKI Jakarta harus memberikan insentif baik itu materiil maupun non-materiil kepada
Pemerintah Kab Bogor dan Kab Cianjur untuk mempertahankan keberlangsungan dan
kepentingan DKI Jakarta agar mengurangi banjir. Antar pemerintahan harus menjalin
relasi untuk berkompromi dan negosisasi pengelolaan bersama daerah aliran sungai
yang bermuara di Jakarta. Cooperative government seperti ini dapat menjadi contoh
bagi pemerintah lokal lain untuk tetap melestarikan lingkungan. Di samping itu, hal
yang lebih penting adalah untuk memaksimalkan manfaat (benefit), dan berusaha
mengurangi biaya/potensi biaya (cost).

Daftar pustaka
Antaranews.com. (2013, 22 Januari). Kerugian akibat banjir Jakarta diperkirakan
Rp20 triliun. Diakses pada
https://www.antaranews.com/berita/354430/kerugian-akibat-banjir-jakarta-
diperkirakan-rp20-triliun
https://tirto.id/berapa-kerugian-akibat-banjir-di-jakarta-cjo4
Katadata. Jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) di DKI Jakarta 1994 – 2013.
Diakses pada https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/05/12/jumlah-
pendapatan-asli-daerah-pad-di-dki-jakarta-1994-2013
Katadata. Jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat
1994 – 2013. Diakses pada
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/05/12/jumlah-pendapatan-
asli-daerah-pad-di-kabupaten-bogor-jawa-barat-1994-2013
Katadata. Jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
1994 – 2013. Diakses pada
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/05/12/jumlah-pendapatan-
asli-daerah-pad-di-kabupaten-cianjur-jawa-barat-1994-2013
Lahan Resapan Air di Puncak Kritis. Diakses pada
http://www.ampl.or.id/digilib/read/61-lahan-resapan-air-di-puncak-
kritis/47816