Anda di halaman 1dari 6

KOLOKIUM

Komposisi Kimia Dan Aktivitas Antimikrobial Minyak Atsiri Spesies Guatteriopsis Dari
Amazon

Nama : Raudhatul Jannah


Nim : 0608103010037
PEMBIMBING: Binawati Ginting, M.Si
TANGGAL SEMINAR 24 Mei 2010

ABSTRAK

Minyak atsiri dari Guatteriopsis blepharophylla, Guatteriopsis friesiana dan Guatteriopsis hispida dihasilkan dengan metode destilasi
dan dianalisis menggunakan GC dan GC/MS. Senyawa utama yang ditemukan pada daun tanaman tersebut adalah minyak Guatteriopsis
blepharophylla yaitu caryophyllene oksida (1) (69,25%). Minyak pada daun Guatteriopsis friesiana mengandung predominan β-
eudesmol (2) (51,60%), γ-eudesmol (3) (23,70%), dan α-eudesmol (4) (14,56%). Senyawa utama yang diidentifikasi dalam daun
Guatteriopsis hispida adalah β-pinen (38,18%), α-pinene (30,77%) dan (E)-karyophyllen (20,59%). Aktivitas antimikroba minyak atsiri
diuji terhadap 11 jenis mikroorganisme. Minyak atsiri Guatteriopsis friesiana menunjukkan aktivitas antimikroba yang signifikan untuk
semua mikroorganisme uji, sedangkan Guatteriopsis hispida dan Guatteriopsis blepharophyla memiliki aktivitas yang besar terhadap
Rhodococcus equi dengan nilai MIC sebesar 50 μg/mL. Unsur utama dari masing-masing minyak atsiri juga diuji secara terpisah, dan
menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak mentah. Selain itu, campuran dari unsur utama, dalam proporsi
yang sama ditemukan pada minyak Guatteriopsis friesiana dan minyak Guatteriopsis hispida, tidak menunjukkan aktivitas yang sama
dengan minyak aslinya.

1. Pendahuluan 1976). Tanaman yang belum diuji secara fitokimia (kecuali


Annonaceae adalah tanaman tropis dan substropis yang Guatteriopsis blepharophylla) dan diuji aktivitas biologis akan
memiliki sekitar 120 genera dan lebih dari 2000 spesies diteliti pada penelitian ini.
(Leboeuf et al., 1982). Tanaman ini merupakan sumber buah- Ketiga spesies ini merupakan tanaman tingkat rendah yang
buahan yang dapat dimakan, sebagai bahan baku kosmetik dan dikenal sebagai '’envireira". Morfologi tanaman ini memiliki
industri parfum, serta sebagai tanaman obat (Leboeuf et al., kulit yang tebal berwarna kekuningan, dan ditemukan di daerah
1982; Boyom et al., 2003; Braga, 1976; Gemtchújnicov, 1976). Amazon, Brazil (Ribeiro et al., 1999), namun tidak begitu
Meskipun tanaman ini digunakan sebagai tanaman obat untuk dikenal pada literatur akademik.
masyarakat, namun jumlah spesies yang telah diketahui
kandungan zat kimianya masih sedikit yang diselidiki (ca 150 2. Hasil dan Pembahasan
spesies yang termasuk dari 41 genera) (Castedo et al., 1991). Minyak dari daun tanaman Guatteriopsis blepharophylla
Unsur utama kimia dari jenis famili tanaman ini adalah diperoleh sebanyak 0,24%, Guatteriopsi friesiana sebanyak
alkaloid, karbohidrat, lipid, asam amino, protein, polifenol, 0,50% dan Guattreiopsis hispida 0,41% yield (relatif terhadap
terpen, senyawa aromatik dan asetogenin (Leboeuf et al., 1982; berat sampel kering). Hasil analisis minyak atsiri ditunjukkan
Rupprecht et al, 1990). Walaupun Annonaceae memiliki pada Tabel 1. Komposisi utama minyak atsiri mengandung
keragaman kandungan kimia, namun yang lebih diutamakan monoterpen dan seskuiterpen. Seskuiterpen mewakili lebih dari
untuk dipelajari adalah senyawa alkaloid pada tanaman tersebut, 90% dari minyak Guattriopsis blepharophylla (90,56%),
yang memiliki Kemotaksonomi (Castedo et al., 1991). Guatteriopsis friesiana (97,13%), dan Guatteriopsis hispida
Guatteriopsis adalah genus kecil dari famili tanaman ini yang 29,25%. Monoterpen mewakili lebih dari 70% dari minyak
dikenal sebagai envireira, yang terdiri dari empat spesies Guattreiopsis hispida. Walaupun minyak yang dihasilkan dari
tanaman tingkat rendah, yang tumbuh di Amerika Tengah dan tanaman Annonaceae bersifat volatil, namun berbeda secara
Amerika Selatan (Hutchinson, 1964). Hanya satu studi fitokimia kualitatif dan kuantitatif (lihat Tabel 1). Komponen utama yang
pada genus ini yang telah dilaporkan, yaitu isolasi dan ditemukan dalam minyak daun Guatteriopsis blepharophylla
identifikasi minyak atsiri dari daun Guatteriopsis adalah Caryophyllene oksida (1) (69,25%). Minyak daun
blepharophylla (Maia et al., 2005). Tetapi penelitian yang Guatteriopsis friesiana mengandung dominan β-eudesmol (2)
melibatkan aktivitas biologis baik dari senyawa atau ekstrak (51,60%), γ-eudesmol (3) (23,70%) dan α-eudesmol (4)
genus ini belum dilakukan. (14,56%) (Gambar 1). Senyawa utama dalam minyak daun
Dalam tulisan ini kami melaporkan komposisi kimia dan Guatteriopsis hispida adalah β-pinena (38,18%), α-pinena
aktivitas antimikroba minyak atsiri dari daun Guatteriopsis (30,77%) dan (E)-caryophyllena (20,59%). Isomer eudesmol
blepharophylla, Guatteriopsis friesiana dan Guatteriopsis berhasil dipisahkan dengan KLT menggunakan silika gel dengan
hispida, yang merupakan tiga spesies tanaman dari Amazon, AgNO3. Semua isomer dikarakterisasi lebih lanjut menggunakan
Brazil. analisis spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonansi).
Jenis tumbuhan yang dipilih didasarkan pada seringnya Minyak atsiri dari jenis tanaman Guatteriopsis
penggunaan spesies dari famili tanaman ini dalam pengobatan blepharophylla telah dilakukan uji fitokimia (Maia et al., 2005).
tradisional (Boyom et al., 2003; Braga, 1976; Gemtchújnicov, Unsur utama yang terkandung dalam minyak atsiri dari
Guatteriopsis blepharophylla pada literatur, sama dengan Carissone 1926
penelitian sebelumnya yaitu menggunakan analisis spektroskopi Monoterpenes
1
H dan 13C NMR menunjukkan senyawa Caryophyllene oksida identified 70.52 0.08 0.18
(1). Dalam penelitian ini dilaporkan bahwa identifikasi senyawa Sesquiterpenes
telah dilakukan sebelumnya. identified 29.25 90.56 97.13
Minyak atsiri Guatteriopsis friesiana mengandung senyawa
Table 1 tertentu yang tidak diamati dalam minyak lainnya. Namun,
Komposisi kimia dari minyak atsiri pada spesies Guatteriopsis
beberapa senyawa seperti α-selinena dan spathulenol, ada dalam
Unsur RIa G. G. G.
Hispid blepharophylla Friesiana minyak ini yang juga dimiliki pada spesies famili Annonaceae
(%) (%) (%) lain (Maia et al., 2005). Senyawa (2), (3), dan (4) ditemukan
pada minyak atsiri Hexalobus crispiflorus (Annonaceae)
α-Pinene 934 30.77
Camphene 944 0.43 (Boyom et al.,2003). Isolasi kedua senyawa tersebut yang
β-Pinene 977 38.18 berasal dari minyak atsiri famili Annonaceae telah dilaporkan.
Myrcene 991 0.47 Pada penelitian ini juga diamati bahwa senyawa (1), (E)-
p-Cymene 1022 0.10 caryophyllene, γ-gurjunene, δ-cadinene, β-selinene, α-trans-
Limonene 1026 0.36 bergamotene dan humulene epoksida II ditemukan dalam
Citronellal 1152 0.08 minyak atsiri dari Guatteriopsis hispida dan Guatteriopsis
α-Terpinen-4-ol 1174 0.08 blepharophylla dan ternyata hasil analisis ini sama dengan
α–Terpineol 1188 0.13
laporan penelitian lain pada famili Annonaceae (Leboeuf et al.,
δ-Elemene 1336 0.11
Cyclosativene 1368 0.12
1982).
α–Ylangene 1373 0.27 0.89 Penelitian terbaru (Maia et al., 2005; Founier et al., 1997)
β-Bourbonene 1388 0.21 menunjukkan bahwa senyawa (1) dan spathulenol merupakan
β–Elemene 1390 1.18 senyawa volatil penting yang terdapat dalam minyak dari daun
(E)-caryophyllene 1420 20.59 0.99 Guatteria ouregou, Guatteria sagotiana dan Guatteria
β–Ylangene 1425 0.12 wachenheimi, berasal dari Guyana Prancis. Pada literatur,
α-Trans- dinyatakan bahwa genus Guatteriopsis bukan dari genus
0.33
bergamotene 1434 0.13 Guatteria, dikarenakan keunikan pada kelopak bunga yang khas
Aromadendrene 1441 0.10 yaitu berbentuk belah ketupat pada permukaan. Berdasarkan
α–Humulene 1451 0.70
analisis, komposisi dari minyak yang dihasilkan tanaman genus
(E)-b-Farnesene 1458 0.40
ini, memiliki kesamaan secara struktur dengan Annonaceae pada
Trans-cadina-1-
(6),4-diene 1475 0.16 literatur (Maia et al., 2005; Founier et al, 1997).
γ-Gurjunene 1479 0.63 0.24 Telah dilaporkan sebelumnya bahwa senyawa (1), (E)-
γ–muurolene 1478 0.15 caryophyllene dan spathulenol dimiliki pada tanaman spesies
γ–curcumene 1482 0.68 Xylopia, Guatteria, Hexalobus, Pachypodanthium dan Duguetia
γ-Himachalene 1485 1.44 (Maia et al., 2005; Founier et al.,1997; Boyom et al., 2003;
Germacrene D 1489 0.14 Fechine et al., 2002; Lima et al, 2003). Tanaman spesies ini
epi-Cubebol 1492 0.14 dikenal sebagai kemotaksonomi pada genera Annonaceae
β–Selinene 1493 0.78 0.39 (Founier et al., 1997; Fechine et al., 2002; Lima et al.,2003).
Cuparene 1496 Hasil pengujian aktivitas antimikroba minyak atsiri
β–Bisabolene 1507 0.31
ditunjukkan pada Tabel 2. Minyak atsiri yang paling efektif
γ–Cadinene 1511 0.18
δ–Cadinene 1523 1.20 1.07 adalah minyak Guatteriopsis friesiana dikarenakan aktivitas
Trans-cadina- antimikroba yang diperoleh signifikan untuk semua
1(2),4-diene 1531 0.38 mikroorganisme uji, yaitu sangat menghambat
α-Calacorene 1541 0.69 aktivitas mikroba seperti Bacillus sustilis, Staphylococcus
Elemol 1551 2.16 epidermides, Enterococcus hirae, Candida albicans,
Trans-cadinene- Micrococcus luteus, Staphylococcus aureus dan Rhodococcus
ether 1551 2.03 equi dengan nilai MIC masing-masing adalah 60, 100, 100, 125,
Germacrene B 1554 0.31 125, 125 dan 50 μg/mL. Guatteriopsis blepharophylla
Spathulenol 1578 2.64
menunjukkan nilai MIC untuk aktivitas antimikroba pada
Caryophyllene
Candida albicans, Micrococcus luteus dan Staphylococcus
oxide (1) 1581 2.77 69.25
β -Copaen-4-α-ol 1592 0.70 aureus masing-masing adalah 700, 1000 dan 1000 μg/mL dan
Humulene epoxide
menunjukkan aktivitas antimikroba yang kuat terhadap
II 1609 0.12 1.98 Rhodococcus equi dengan nilai MIC sebesar 50 μg/mL.
10-epi-γ-eudesmol 1617 1.40 Guatteriopsis hispida menunjukkan aktifitas yang selektif
1-epi-Cubenol 1627 0.33 terhadap Rhodococcus equi dengan nilai MIC sebesar 50 μg/mL.
Cis-cadin-4-en-7-ol 1631 1.84
Caryophylla-
4(14),8(15)-dien-5-
olb 1636 0.55
γ-Eudesmol (3) 1638 23.70
Hinesol 1641 0.89
Cubenol 1641 0.42
β-Eudesmol (2) 1660 51.60
α-Eudesmol (4) 1662 14.56
14-hydroxy-9-epi-
(E)-caryophyllene 1670 2.50
Ishwarone 1679 2.01
14-oxy-α–
muurolene 1770 0.22
Gambar 1. Struktur dari senyawa isolasi dari minyak atsiri pada
Guatteriopsis friesiana dan Guatteriopsis blepharophylla

Tabel 2
Aktivitas antimicrobial dari minyak atsiri, senyawa murni dan campuaran A dan B dari spesies Guatteriopsis.
Minyak atsiri/senyawa Konsentrasi inhibitor minimum (μg/mL)
murni
B. S. E. E. E. M. P. R. S. S. C.
subtilis epidermides faecium hirae coli luteus aeruginosa equi choleraesuis aureus albicans
G. hispida f f f F f f f 50 f F F
G. blepharophylla f f f F f 1000 f 50 f 1000 700
G. friesiana 60 100 250 100 900 125 900 50 600 125 125
Caryophyllene oxide (1) e e e E e f e 500 f E 600
β-eudesmol (2) 300 600 e 300 f f f 125 f F 125
γ-eudesmol (3) 800 700 f F f 800 300 800 e 600 500
α-eudesmol (4) 800 700 f 600 e 300 200 100 e 250 125
mixture A a 100 300 e E e 400 e 400 e 250 800
α –pinene e e e E e e e 500 e E 100
β –pinene e e e E e e e 800 e E 500
(E)-caryophyllene e e e E e e e 800 e E 250
mixture B b e e e E e e e 700 e E 700
Chloramphenicolc 20 40 70 120 40 50 850 40 60 20
Nystatind 50

a adalah campuran dari β -eudesmol, γ , α –eudesmol (1,0;0,5;0,3)


b adalah campuran dari α-pinene, β -pinene, (E)-caryophyllene (1,0;0,8;0,5)
c adalah obat sebagai control pada bakteri
d adalah obat sebagai control jamur
e adalah tidak diuji
f> adalah 1000μg/ml

Aktivitas antimikroba yang kuat dari minyak Guatteriopsis Uji antimikroba senyawa (3) terhadap mikroorganisme
friesiana dan Guatteriopsis blepharophylla mungkin Micrococcus luteus, Rhodococcus equi dan Candida albicans,
disebabkan karena kandungan seskuiterpen yang tinggi yaitu ternyata merupakan penyebab aktivitas lebih rendah pada
97,13% dan 90,56%. Aktivitas antimikroba Guatteriopsis minyak campuran, dibandingkan dengan senyawa (2) dan (4)
friesiana juga dikarenakan adanya seskuiterpenoid sebesar murni (Tabel 2).
89,86% dari total minyak yang dianalisis yang mengandung Menurut hasil penelitian, senyawa yang diisolasi dari
senyawa (2) (51,60%), senyawa (3) (23,70%) dan senyawa (4) Guatteriopsis friesiana tidak dapat berperan sebagai
(14,56%), tetapi pada uji hayati yang dilakukan menggunakan antimikroba pada Enterococcus faecium atau Escherichia coli
seskuiterpenoid yang diisolasi tidak menunjukkan aktivitas pada minyak atsiri mentah. Hal ini disebabkan karena pengujian
yang sama seperti hasil penelitian pada minyak mentahnya terhadap Enterococcus dan Pseudomonas hirae aeruginosa
(Tabel 2). Hal ini mungkin terjadi karena efek sinergis dari menggunakan minyak mentah dan senyawa dari daun
campuran senyawa ini, begitu juga pada minyak ini (campuran Guateriopsis friesiana adalah aktif sebagai antimikroba, tetapi
A), telah diuji dan menunjukkan aktivitas yang lebih rendah campuran A tidak aktif sebagai antimikroba dengan berbagai
dari minyak mentah (Tabel 2). konsentrasi pengujian (hingga 1000 μg/mL).
Perbandingan aktivitas antara campuran A dengan senyawa Aktivitas biologis dari β-eudesmol (2) sudah diketahui yaitu
hasil isolasi, telah diamati memiliki efek sinergis pada Bacillus sebagai diuretik, aktivitas hipotensi, antihepatotoksit atau agen
subtilis dan Staphylococcus epidermides (Tabel 2), tetapi pada antiepileptik, dan insektidal dan juga bersifat antimikrobial
masing-masing senyawa murni ternyata memberikan aktivitas (Kusuma et al., 2004; Ding et al., 2000; Arora et al., 1967; Kiso
yang lebih aktif menghambat Candida albicans daripada et al., 1983; Chiou et al., 1997; Marinho dkk., 2005; Miyakado
campuran A (800 μg/mL). Pada penelitian ini aktivitas dari et al., 1976). Hal ini disebabkan karena seskuiterpenoid dan
minyak mentah sama seperti yang diamati pada senyawa (2) turunannya dapat berfungsi sebagai aksi biologis, termasuk
dan senyawa (4) yaitu memiliki niilai MIC sebesar 125 μg/mL. antiasthmatik, antibakteri, antijamur, antiinflamasi, dan
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas dari minyak mentah aktivitas antineoplastik (Founier et al., 1997).
disebabkan adanya kedua senyawa ini. Aktivitas antimikroba dari minyak Guatteriopsis hispida
secara selektif dapat disebabkan karena adanya α dan β-pinene
serta (E)-caryophyllene, dan untuk aktivitas antimikroba dari Ketiga sampel daun (masing-masing 250 g) dari jenis
minyak Guattreiopsis blepharophylla dapat disebabkan karena Guatteriopsis dikeringkan pada suhu kamar selama 5 hari dan
adanya senyawa (1), yang sudah dikenal dapat berfungsi kemudian didestilasi selama 4 jam, menggunakan alat jenis
sebagai antimikrobial (Boyom et., 2003; Juven et al., 1994; Clevenger. Selanjutnya minyak dikeringkan dengan Na2SO4
Harbone dan Williams, 1995; Kim et al., 1995; Cimanga et al., anhidrat dan persentase komposisi minyak dihitung berdasarkan
2002; Shunying et al., 2005; Sibanda et al, 2004.). berat kering bahan tanaman. Minyak disimpan pada suhu 4 oC
Senyawa murni utama dari Guatteriopsis hispida (yaitu α- hingga dilakukan analisa lebih lanjut. Semua spesimen
pinene, β-pinene dan (E)-caryophyllene) menunjukkan aktivitas diperoleh dari tanaman berbunga.
terhadap mikroorganisme Rhodococcus equi dan Candida
albicans, namun nilai MIC pada mikroorganisme Rhodococcus 4.4. Analisis GC/FID
equi dari senyawa isolasi dan campuran B (campuran senyawa Analisis senyawa atsiri dilakukan menggunakan sistem
utama, yang ditemukan dalam minyak) lebih tinggi Hewlett Packard 6890 GC dengan kolom kapiler menyatu (30
dibandingkan minyak mentah (Tabel 2), Hal ini mungkin m x 0,25 mm x 0,25 μm HP-5SM, Crossbond fenil 5%,
disebabkan efek sinergis senyawa lain yang ada dalam minyak. Dimetilpolisiloksan 95% Sigmaâ-Aldrich) langsung
Efek sinergis ini mungkin juga terjadi pada minyak digabungkan ke ionisasi nyala detektor. Kondisi injeksi telah
Guatteriopsis blepharophylla dan senyawa (1). diubah dari Adams (2001): injektor suhu 240 oC; suhu oven
program 60-300 oC pada tingkat 3 oC/menit; 20:1 split selama
3. Kesimpulan 1,50 menit, gas pembawa He: 1 mL/menit, konstan aliran;
Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan hasil analisis volume sample 1 μL.
senyawa volatil, aktivitas antimikroba, isolasi dan karakterisasi
senyawa utama dari daun Guatteriopsis friesiana, Guatteriopsis 4.5. Analisis GC/MS analisis
hispida dan Guatteriopsis blepharophylla. Analisis GC/MS dilakukan dalam modus EI pada Hewlett
Hal yang menarik dari hasil pengujian ini, yaitu terjadi Packard GC-6890 sistem dengan kolom kapiler menyatu (30 m
perbedaan antara penggunaan minyak mentah, senyawa isolasi x 0,25 mm x 0,25 μm, HP-5MS, Crossbond 5% fenil, 95%
dan campurannya, yang dipengaruhi pada jenis mikroorganisme Dimetilpolisiloksan) langsung digabungkan pada Hewlett
dan efek sinergis. Packard 5973 detektor selektif massa. Kondisi injeksi adalah
Minyak dari seskuiterpenoid maupun campurannya sama seperti yang dijelaskan di atas. Spektrometer massa
menunjukkan aktivitas yang sama pada penelitian dan sangat dioperasikan pada 70 eV. Unsur dari minyak atsiri diidentifikasi
potensil terhadap aktivitas antimikrobial untuk Rhodococcus dengan perbandingan pola spektrum massa dan indeks retensi
equi, yaitu bakteri penyebab radang paru-paru pada hewan dan (RI) dengan yang diberikan dalam literatur (Adams, 2001).
manusia. Indeks retensi ini (RI) dihitung menurut van den Dool dan
Senyawa hasil Isolasi dan identifikasi dari minyak atsiri Kratz (1963).
sangat penting sebagai kemotasonomi dari keluarga
Annonaceae, terutama dari kelompok Guatteria, yang memiliki 4.6. Fraksinasi Minyak atsiri
empat genera (Guatteria, Guatteriopsis, Guatteriella dan 4.6.1. Guatteriopsis Blepharophyla
Heteropetalum) yang memiliki perbedaan dalam karakter Minyak atsiri (200 mg) difraksinasi dengan kromatografi
morfologi. kolom silika gel 60 (1,5 x 43,0 cm) (Merck, 0.063-0,200 mm)
menggunakan eluen petroleum eter dengan jumlah CH2Cl2%
yang bertambah (0, 5%, 10%, 20%, 50% dan 80%) selanjutnya
4. Eksperimental dengan CH2Cl2 dengan jumlah EtOAc yang bertambah (0%,
4.1. Peralatan 5%, 10%, 20% dan 50%). Diperoleh empat puluh lima fraksi
Spektrum NMR direkam dalam sebuah ARX Bruker-200 (25 mL). Fraksi eluen diuji dan dianalisis menggunakan KLT.
Spektrometer (200 MHz untuk 1H dan 50 MHz untuk 13C) Fraksi 20-25 (50 mg) merupakan caryophyllene oksida (1)
menggunakan pelarut kloroform deuterium. Nilai pergeseran cukup murni dari hasil analisis spektroskopi NMR.
kimia dilaporkan dalam bagian per juta (ppm) dengan referensi
ke TMS. Analisis GC/FID dilakukan menggunakan Hewlett 4.6.2. Guatteriopsis friesiana
Packard 6890 GC sistem dengan FID dan GC/MS analisis Minyak atsiri (300 mg) diperlakukan pada kondisi yang sama
Hewlett Packard pada 6890 GC digabungkan dengan model seperti di atas dan diperoleh empat fraksi (30 mL). Fraksi elusi
selektif 5973 massa detektor. diuji dan dianalisis menggunakan KLT. Selanjutnya dilakukan
kromatografi pemisahan fraksi 24-28 (50 mg) menggunakan
4.2. Sampel Tanaman KLT preparatif dan 1% gel silika AgNO3 Doping, eluen
Daun Guatteriopsis blepharophylla dan Guatteriopsis petroleum eter-EtOAc (80:20, v/v), menghasilkan β-eudesmol
friesiana berasal dari Universitas Federal Amazonas (UFAM), (2), γ-eudesmol (3) dan α-eudesmol (4) yang cukup murni, yang
Manaus, AM, Brazil yang diambil pada bulan Januari 2005. dianalisis dengan spektroskopi NMR.
Daun Guatteriopsis hispida diperoleh pada Adolpho Ducke
Reserve, di sekitar Manaus, AM, Brasil diambil pada Februari 4.6.3. Caryophyllene oksida (1)
2005. Sampel tanaman dikumpulkan secara random tanpa Senyawa ini merupakan minyak bening (50,0 mg).
memperkirakan usia dari tanaman, dan digabung menjadi 1 Spektroskopi data 1H dan 13C NMR: sama dengan data yang
sampel. Sampel tanaman tersebut diidentifikasi oleh spesialis dilaporkan dalam Raharivelomanana et al. (1995). Data EIMS :
Dr. Antônio Annonaceae Carlos Webber dari Universitas sama dengan data yang dilaporkan dalam Sköld et al. (2006)
Federal Amazonas (UFAM). Voucher spesimen Guatteriopsis dan Raharivelomanana et al. (1995).
blepharophylla (no. 7340), Guatteriopsis friesiana (no. 7341)
dan Guatteriopsis hispida (no. 7707) yang disimpan di 4.6.4. β-Eudesmol (2)
laboratorium Herbarium Departemen Biologi, UFAM, Manaus, Senyawa ini berupa solid berbentuk amorf (15,0 mg). Data
Amazonas, Brazil. spektroskopi 1H dan 13C NMR serta EIMS : sama dengan data
yang dilaporkan dalam Kusuma et al. (2004) dan
4.3. Isolasi minyak atsiri Raharivelomanana et al. (1995).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Antônio
4.6.5. γ-Eudesmol (3) Carlos Webber dari Federal University of Amazonas (UFAM),
Berupa minyak bening (8.0 mg). Data spektroskopi 1H dan Brazil, untuk identivikasi botanical dan CNPq serta Fundac_ão
13C NMR: sama dengan data yang dilaporkan dalam Araucária–PR untuk motivasinya.
Raharivelomanana et al. (1995). Data EIMS: sama dengan data
yang dilaporkan dalam van Beek et al. (1989). Daftar Pustaka

4.6.6. α-Eudesmol (4) Adams, R.P., 2001. Identification of Essential oil Components by Gas
Berupa padatan berbentuk amorf (6,4 mg). Data spektroskopi Chromatography/Quadrupole Mass Spectroscopy. Allured Publishing
1H dan 13C NMR: sama dengan data yang dilaporkan dalam Corporation, Carol Stream, Illinois.
Raharivelomanana et al. (1995). Data EI-MS: sama dengan data Arora, C.K., Arora, R.B., Mesta, C.K., Shanbag, S.N., Seshari, R.,
yang dilaporkan dalam van Beek et al. (1989). Maheshari, M.L.,
Battacharya, S.C., 1967. Hypotensive activity of b-eudesmol and some
related sesquiterpenes. Ind. J. Med. Res. 55, 463–472. van Beek, T.A.,
4.7. Kultur Mikroorganisme Kleis, R., Posthumus, M.A., van Veldhuizen, A., 1989. Essential oil of
Pertumbuhan aktivitas hambat dari minyak atsiri diuji Amyris balsamifera. Phytochemistry 28, 1909–1911.
terhadap 11 mikroorganisme (Bacillus subtilis ATCC 5061, Boyom, F.F., Ngouana, V., Zollo, P.H.A., Menut, C., Bessiere, J.M., Gut, J.,
Candida albicans ATCC 10.231, Enterococcus faecium CCT Rosenthal, P.J., 2003. Composition and anti-plasmodial activities of
5079, Enterococcus hirae ATCC 10541, Escherichia coli essential oils from some Cameroonian medicinal plants.
Phytochemistry 64, 1269–1275.
ATCC 11.775, Micrococcus luteus ATCC 4698, Pseudomonas
Braga, R., 1976. Plantas do Nordeste especialmente do Ceará, 4a ed. Editora
aeruginosa ATCC 13388, Rhodococcus equi ATCC 6939, Universitária UFRN, Natal-Rio Grande do Norte.
Salmonella choleraesuis ATCC 10708, Staphylococcus aureus Castedo, L., Granja, J.A., Lera, A.R., Villaverde, M.C., 1991. Alkaloids
ATCC 6538 dan Staphylococcus epidermides ATCC 12228). from Guatteria goudotiana. Phytochemistry 30, 2781–2783.
Mikroorganisme diperoleh dari Tropical Culture Collection Chiou, L.C., Ling, J.Y., Chang, C.C., 1997. Chinese herbs constituent b-
(TCC) dari Tosello André Yayasan, Campinas, São Paulo, eudesmol alleviated the electroshock seizures in mice and
Brazil. Mikroorganisme dipilih berdasarkan penggunaan secara electrographic seizures in rat hippocampal slices. Neurosci. Lett. 231,
171–174.
medis yang digunakan di laboratorium sebagai bagian dari
program skrining dengan tujuan mengidentifikasi produk alami
yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai obat antimikroba
baru. Pertumbuhan aktivitas hambat dari senyawa berikut ini
diujikan, meliputi : caryophyllene oksida (1), β-eudesmol (2), γ-
eudesmol (3), α-eudesmol (4) (semua diisolasi dari minyak), α-
pinene, β-pinene, (E)-caryophyllene (Dari Aldrich Chemical
Cimanga, K., Kambu, K., Tona, L., Apers, S., Bruyne, I., Hermans, N.,
Company, Milwaukee, Wisconsin, USA), campuran A
Totté, J., Pieters, L., Vlietinck, A.J., 2002. Correlation between
(perbandingan β-eudesmol, γ, α–eudesmol adalah 1.0:0.5:0.3) chemical composition and antibacterial activity of essential oils of
dan campuran B (perbandingan β-pinene, α-pinene, (E)- some aromatic medicinal plants growing in the Democratic Republic
caryophyllene adalah 1.0:0.8:0.5). of Congo. J. Ethnopharmacol. 79, 213–220.
Ding, H.Y., Wu, Y.C., Lin, H.C., 2000. Phytochemical and pharmacological
4.7.1. Determination of Minimal Inhibitory Concentration studies on Chinese changzhu. J. Chinese Chem. Soc. 47, 561–566.
(MIC) Ellof, J.N., 1998. A sensitive and quick microplate method to determine the
minimal inhibitory concentration of plant extracts for bacteria. Planta
Strain bakteri ditumbuhkan semalaman pada suhu 36 oC Med. 64, 711–713.
dalam media agar (Merck), sedangkan C. albicans ditumbuhkan Fechine, I.M., Navarro, V.R., Da Cunha, E.V.L., Silva, M.S., Maia, J.G.S.,
di media agar Saboraud Dextrose. Inokulum untuk uji disiapkan Barbosa-Filho, M., 2002. Alkaloids and volatile constituents from
dengan melarutkan 0,85% larutan NaCl, disesuaikan dengan Duguetia flagellaris. Biochem. Syst. Ecol. 30, 267–269.
skala McFarland 0,5 dan diukur menggunakan spektofotometri Founier, G., Hadjiakhoondi, A., Lebouef, M., Cavé, A., 1997. Essential oils
pada panjang gelombang 580 nm. Suspensi sel diencerkan of Annonaceae. Part. VIII. Volatile constituents of the essential oils
menjadi 104 UFC/ml untuk digunakan dalam uji aktivitas. Uji from three Guatteria species. J. Essent. Oil Res. 9, 275–278.
Gemtchújnicov, I.D., 1976. Manual de Taxonomia Vegetal: plantas de
Konsentrasi Hambat Minimal (MIC) dilakukan sesuai dengan interesse econômico. Ed. Agronômica Ceres, São Paulo-SP.
metode Ellof (1998), menggunakan broth Müller-Hinton pada Harbone, J.B., Williams, C.A., 1995. Anthocyanins and other flavonoids.
plat kultur jaringan uji (96 sumur). Setiap bahan tanaman diuji Nat. Prod. Rep. 7, 453–455.
dengan pengulangan dua kali. Larutan stok minyak atsiri, Hutchinson, J., 1964. The Genera of Flowering Plants, vol. 1. University
senyawa murni dan campuran A dan B diencerkan dan Press, Oxford.
dipindahkan, dan pengenceran serial dilakukan sehingga Juven, B.J., Kanner, J., Schved, F., Weisslowic, H., 1994. Factors that
konsentrasi dalam kisaran 1,0-0,016 mg/mL (1,0, 0,5, 0,25, interact with antibacterial action of thyme essential oil and its active
constituents. J. Appl. Bacteriol. 76, 626–631.
0,125, 0,063, 0,032 dan 0,016 mg/mL). Kloramfenikol dan Kim, J., Marshall, M.R., Wei, C., 1995. Antibacterial activity of some
nistatin (Merck) digunakan sebagai acuan kontrol antibiotik essential oil components against five foodborne pathogens. J. Agric.
dalam kisaran 0,25-0,002 mg/mL (0,25, 0,125, 0,063, 0,032, Food Chem. 43, 2839– 2845.
0,016, 0,008, 0,004 dan 0,002 mg/mL). Inokulum yang Kiso, Y., Tohkin, M., Hikino, H., 1983. Antihepatotoxic principles of
ditambahkan untuk semua sumur dan plat diinkubasi pada 36 Atractylodes rhizomes. J. Nat. Prod. 46, 651–654.
o
C selama 48 jam. Aktivitas antimikrobial dideteksi dengan Kusuma, I.W., Ogawa, T., Itoh, K., Tachibana, S., 2004. Isolation and
menambahkan 20 μL TTC 5% larutan air (triphenyl tetrazolium identification of an antifungal sesquiterpene alcohol from Amboyna
wood. Pak. J. Biol. Sci. 7, 1735–1740.
klorida, Merck). MIC didefinisikan sebagai konsentrasi Leboeuf, M., Cavé, A., Bhaumik, P.K., Mukherjee, B., Mukherjee, R., 1982.
terendah dari minyak atsiri, senyawa murni dan campuran A phytochemistry of the Annonaceae. Phytochemistry 12, 2783–2913.
dan B yang menghambat pertumbuhan seperti ditunjukkan oleh Lima, M.A., Fechine, I.M., Silva, M.S., Maia, J.G.S., Cunha, E.V.L.,
pewarnaan sel TTC (sel yang mati tidak ternoda oleh TTC). Barbosa-Filho, J.M., 2003. Alkaloids and volatile constituents from
Guatteria juruensis. Biochem. Syst. Ecol. 31, 423–425.
Maia, J.G.S., Andrade, E.H.A., Carreira, L.M.M., Oliveira, J., Araújo, J.S.,
Ucapan Terima Kasih 2005. Essential oils of the Amazon Guatteria and Guatteriopsis
species. Flavour Frag. J. 20, 478– 480.
Marinho, C.G.S., Della Lucia, T.M.C., Guedes, R.N.C., Ribeiro, M.M.R.,
Lima, E.R., 2005. b-eudesmol-induced aggression in the leaf-cutting
ant Atta sexdens rubropilosa. Entomol. Exper. Applic. 117, 89–93.
Miyakado, M., Kato, T., Ohno, N., Mabry, T.J., 1976. Pinocembrin and (+)-
b-eudesmol from Hymenoclea monogyra and Bacharis glutinosa.
Phytochemistry 15, 846.
Raharivelomanana, P., Bianchini, J.P., Cambon, A., Azzaro, M., Faure, R.,
1995. Twodimensional NMR of sesquiterpenes. Magn. Reson. Chem.
33, 233– 235.
Ribeiro, J.E.L.S., Maas, P.J.M., Maas, H., Miralha, J.M., Webber, A., 1999.
Annonaceae. In: Ribeiro, J.E.L.S., Hopkins, M.J.G., Vicentini, A.,
Sothers, C.A., Costa, M.A.S., Brito, J.M., Souza, M.A.D., Martins,
L.H.P., Lohmann, L.G., Assunc_ão, P.A.C.L.,
Pereira, E.C., Silva, C.F., Mesquita, M.R., Procópio, L.C. (Eds.), Flora da
Reserva Ducke Guia de Identificac_ão das plantas vasculares de uma
floresta de terrafirme na Amazônia Central. DFID (Departamento for
International Development), INPA, Manaus – Amazonas, pp. 121–
135.
Rupprecht, J.K., Hui, Y.H., MacLaughlin, J.L., 1990. Annonaceous
acetogenins: a review. J. Nat. Prod. 53, 237–278.
Shunying, Z., Yang, Y., Huaidong, Y., Yue, Y., Guolin, Z., 2005. Chemical
composition and antimicrobial activity of the essential oils of
Chrysanthemum indicum. J. Ethnopharmacol. 96, 151–158.
Sibanda, S., Chigwada, G., Poole, M., Gwebu, E.T., Noletto, J.A., Schmidt,
J.M., Rea, A.I., Setzer, W.N., 2004. Composition and bioactivity of the
leaf essential oil of Heteropyxis dehniae from Zimbabwe. J.
Ethnopharmacol. 92, 107–111.
Sköld, M., Kalberg, A.T., Matura, M., Börje, A., 2006. The fragrance
chemical bcaryophyllene- air oxidation and skin sensitization. Food
Chem. Toxicol. 44, 538–545.
Van den Dool, H., Kratz, P.D., 1963. A generalization of the retention index
system including linear temperature programmed gas–liquid
partitionchromatography. J. Chromatogr. A 11, 463–471.