Anda di halaman 1dari 3

Selalu ada Jalan Keluar

Oleh Sutrisno
www.sutrisno.wordpress.com

Di suatu pagi, mentari tampak meredupkan cahayanya, tak


seperti biasanya yang selalu tersenyum lebar dan menebarkan
aroma cahaya kecerahan pada setiap insan di muka bumi.

Sementara di sebelah sanapun sang hujan mulai menggoda,


mulai melambai-lambaikan godaan awan seolah mengejek sang
mentari tuk mulai bersenda gurau, "pagi yang menyejukkan .."
guraunya.

Sang mentaripun tersenyum simpul mendengar ejekan sang


hujan, dengan lirihpun berucap, "wangi aroma cahayaku tak
sirna oleh lambaian godaan awanmu....". Sang hujanpun balas
mengejek, "bagaimana mungkin engkau tak kan terhalang,
sedang aroma cahayamu tak sampai di muka bumi ?".

Sang mentari dengan tegas menjawab, "wangi aroma cahayaku


akan selalu terpancar oleh hati-hati hamba yang beriman,
walau mendung awan menyelemuti bumi mereka". Mendengar
jawaban demikian sang hujanpun berujar, "sungguh engkau
telah benar !".

Itulah sepenggal kalimat yang barangkali menjadi sebuah


bahan inspirasi, bahwa pada dasarnya sinar cahaya akan
selalu benderang menghiasi ruangan - ruangan hati hamba yang
beriman. Sang cahaya tak hilang walau diterjang berbagai
awan yang melintang, karena sesungguhnya awan itu hanyalah
sebuah "sarana penegasan" untuk bisa melihat sang cahaya
kembali.

Begitulah, kita hidup di dunia ini, terkadang karena


berbagai problema hidup seolah menenggelamkan sumber cahaya
abadi yang ada dalam hati ini, padahal justru karena
problema hidup itu, "nilai" kita semakin teruji. Bagaimana
mungkin kita bisa dibedakan dengan makhluk Allah yang lain,
bila kita tidak pernah diuji.

Justru karena ujian, kita "dipaksa" untuk selalu mengasah


akal dan fikiran kita. Justru karena ujian, kita selalu dan
selalu melihat tanda -tanda kekuasaan Allah. Karena
sesungguhnya bagi seorang mu'min "segalanya merupakan
kebaikan".

Dalam sebuah haditspun Rasulullah pernah bersabda, "


Sungguh unik perkara orang mukmin itu ! Semua perkaranya
adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu
menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah
ia bersabar, maka itu juga menjadi sebuah kebaikan baginya.
Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin."

Terkadang, saat kita mengalami sebuah persoalan ekonomi


misalnya, begitu berat gundah gulana melanda fikiran kita,
perasaan kita bahkan hati kita terasa kacau balau. Namun
sadarkah kita, bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi
"pasti" sesuai ukuran yang Allah berikan kepada kita. Ini
yang harus senantiasa menjadi sebuah "keyakinan mutlak"
dalam diri kita.

Sikap kita terhadap sebuah permasalahan, ternyata lebih


penting dibanding masalah itu sendiri. Kita sadar di dunia
ini tidak ada satupun manusia yang tidak mempunyai masalah,
karena memang karena itulah manusia terlahir ke muka bumi,
untuk merampungkan masalah. Melalui sebuah masalah, sungguh-
sungguh nilai kita diuji oleh Allah. Akankah karena suatu
masalah membawa kita semakin dekat kepada Allah ? atau malah
mungkin semakin jauh dari bimbingan Allah ?

Tatkala karena suatu masalah menimpa kita, lalu setahap demi


setahap semakin bisa melihat "betapa besar kekuasaan Allah",
maka insya Allah balasan dari Allah lebih besar dari masalah
itu sendiri. Namun jika kita semakin membawa diri kepada
sebuah kemalasan, kejenuhan, hilangnya motivasi diri....
jangan-jangan kita terbawa kepada sebuah "tipu daya" dari
nafsu kita sendiri, yang pada akhirnya membawa kepada sebuah
kesengsaraan hakiki.

Sikap kita bisa "selamat", tatkala pada titik puncak


"keyakinan hakiki" mengatakan bahwa, "tiada daya dan upaya
kecuali karena Allah semata", bukan karena fikiran kita,
bukan karena strategi kita, bukan karena kelihaian lobby
kita, bukan karena skill kita.... dan bla.. bla ......
Tatkala kita "merasa" bisa mengatasi permasalahan namun
dalam hati kita, berkata " karena kemampuan fikiran saya"
dan melupakan "pemberi" fikiran kita sendiri... maka
sesungguhnya lambat laun tanpa sadar... kita terbawa pada
arus "kesombongan diri".."Na'udzubillah !!!!.
Maka, seandainya saja, kita sudah bisa melihat "rahasia"
sebuah masalah, maka sungguh "penglihatan akan keagungan
kekuasaan Allah semakin terbuka". Yang terbuka oleh mata
hati ini..... karena hati ini telah bisa melihat, maka
pancaran cahayanyapun akan menyinari sang fikiran untuk
berfikir lebih jernih... lebih terarah..., juga kan
menyinari setiap langkah dan lintasan fikiran kita....
hingga "jalan keluarpun" akan diturunkan oleh "Sang Pemberi
Cahaya".

Dalam do'a Ibnu Athaillah, disebutkan, “Inilah aku mendekat


pada-Mu dengan perantara kefakiranku (kebutuhanku) kepada-
Mu, Dan bagaimana aku akan dapat berperantara kepada-Mu,
dengan sesuatu yang mustahil akan dapat sampai kepada-Mu
(yakni tidak ada perantara kepada Allah dengan sesuatu
selain Allah). Dan bagaimana aku akan menyampaikan kepada-
Mu keadaanku, padahal tidak tersembunyi daripada-Mu. Dan
bagaimana akan saya jelaskan pada-Mu halku, sedang kata-
kata itu pula daripada-Mu dan kembali kepada-Mu. Atau
bagaimana akan kecewa harapanku, padahal telah datang
menghadap kepada-Mu. Atau bagaimana tidak akan menjadi
baik keadaanku, sedang ia berasal daripada-Mu dan kembali
pula kepada-Mu."