Anda di halaman 1dari 13

Protein

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Segelas susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein.
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa
organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer
asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein
berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan
polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan
salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns
Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA
ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan
ribosom.[1] Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino
proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi
penuh secara biologi.[2][3]
[sunting] Struktur
Struktur tersier protein. Protein ini memiliki banyak struktur sekunder beta-sheet dan alpha-helix
yang sangat pendek. Model dibuat dengan menggunakan koordinat dari Bank Data Protein
(nomor 1EDH).
Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu),
sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat):[4][5]
• struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang
dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Frederick Sanger merupakan ilmuwan yang
berjasa dengan temuan metode penentuan deret asam amino pada protein, dengan
penggunaan beberapa enzim protease yang mengiris ikatan antara asam amino tertentu,
menjadi fragmen peptida yang lebih pendek untuk dipisahkan lebih lanjut dengan
bantuan kertas kromatografik. Urutan asam amino menentukan fungsi protein, pada tahun
1957, Vernon Ingram menemukan bahwa translokasi asam amino akan mengubah fungsi
protein, dan lebih lanjut memicu mutasi genetik.
• struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam
amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur
sekunder misalnya ialah sebagai berikut:
○ alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino
berbentuk seperti spiral;
○ beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaran-lembaran lebar yang
tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan
hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
○ beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
○ gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").[4]
• struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder.
Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi
secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer,
trimer, atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener.
• contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin.
Struktur primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode: (1) hidrolisis protein dengan
asam kuat (misalnya, 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan
instrumen amino acid analyzer, (2) analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan
degradasi Edman, (3) kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa, dan (4)
penentuan massa molekular dengan spektrometri massa.
Struktur sekunder bisa ditentukan dengan menggunakan spektroskopi circular dichroism (CD)
dan Fourier Transform Infra Red (FTIR).[6] Spektrum CD dari puntiran-alfa menunjukkan dua
absorbans negatif pada 208 dan 220 nm dan lempeng-beta menunjukkan satu puncak negatif
sekitar 210-216 nm. Estimasi dari komposisi struktur sekunder dari protein bisa dikalkulasi dari
spektrum CD. Pada spektrum FTIR, pita amida-I dari puntiran-alfa berbeda dibandingkan
dengan pita amida-I dari lempeng-beta. Jadi, komposisi struktur sekunder dari protein juga bisa
diestimasi dari spektrum inframerah.
Struktur protein lainnya yang juga dikenal adalah domain. Struktur ini terdiri dari 40-350 asam
amino. Protein sederhana umumnya hanya memiliki satu domain. Pada protein yang lebih
kompleks, ada beberapa domain yang terlibat di dalamnya. Hubungan rantai polipeptida yang
berperan di dalamnya akan menimbulkan sebuah fungsi baru berbeda dengan komponen
penyusunnya. Bila struktur domain pada struktur kompleks ini berpisah, maka fungsi biologis
masing-masing komponen domain penyusunnya tidak hilang. Inilah yang membedakan struktur
domain dengan struktur kuartener. Pada struktur kuartener, setelah struktur kompleksnya
berpisah, protein tersebut tidak fungsional.
[sunting] Kekurangan Protein
Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang
keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang dewasa harus sedikitnya
mengkonsumsi 1 g protein pro kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada
perempuan yang mengandung dan atlet-atlet.
Kekurangan Protein bisa berakibat fatal:
• Kerontokan rambut (Rambut terdiri dari 97-100% dari Protein -Keratin)
• Yang paling buruk ada yang disebut dengan Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein.[7]
Biasanya pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya
busung lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga
menimbulkan odem.Simptom yang lain dapat dikenali adalah:
○ hipotonus
○ gangguan pertumbuhan
○ hati lemak
• Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.
[sunting] Sintese protein
Artikel utama: Proteinbiosynthese
Dari makanan kita memperoleh Protein. Di sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi
peptid peptid yang strukturnya lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan
bantuan enzim. Tubuh manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini
tidak dapat disintesa sendiri oleh tubuh esensiil, sedangkan sebagian asam amino dapat disintesa
sendiri atau tidak esensiil oleh tubuh. Keseluruhan berjumlah 21 asam amino. Setelah
penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah membawa asam amino itu ke setiap sel
tubuh. Kode untuk asam amino tidak esensiil dapat disintesa oleh DNA. Ini disebut dengan
DNAtranskripsi. Kemudian karena hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau
retikulum endoplasma, disebut sebagai translasi.
[sunting] Sumber Protein
• Daging
• Ikan
• Telur
• Susu, dan produk sejenis Quark
• Tumbuhan berbji
• Suku polong-polongan
• Kentang
Studi dari Biokimiawan USA Thomas Osborne Lafayete Mendel, Profesor untuk biokimia di
Yale, 1914, mengujicobakan protein konsumsi dari daging dan tumbuhan kepada kelinci. Satu
grup kelinci-kelinci tersebut diberikan makanan protein hewani, sedangkan grup yang lain
diberikan protein nabati. Dari eksperimennya didapati bahwa kelinci yang memperoleh protein
hewani lebih cepat bertambah beratnya dari kelinci yang memperoleh protein nabati. Kemudian
studi selanjutnya, oleh McCay dari Universitas Berkeley menunjukkan bahwa kelinci yang
memperoleh protein nabati, lebih sehat dan hidup dua kali lebih lama.
[sunting] Keuntungan Protein
• Sumber energi
• Pembetukan dan perbaikan sel dan jaringan
• Sebagai sintesis hormon,enzim, dan antibodi
• Pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel

A. Definisi

Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama")
adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan
polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain
dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam
struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.

Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain
berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang
membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan
(imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen
penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu
sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang
tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).

Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan
polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein
merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein
ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.

Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa
DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang
dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari
asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein
yang memiliki fungsi penuh secara biologi.

Tahapan Sintesis Protein

*Tahap-tahap sintesis Protein.* Sintesis protein merupakan reaksi yang menghubungkan


fungsi DNA

dengan penyusunan molekul tubuh, yaitu protein.

Protein yang dibentuk melalui sintesis protein akan mengalami banyak modifikasi, ada yang
menjadi

protein struktur, proteksi, dan enzim (biokatalisator).

Kita tahu bahwa semua proses atau reaksi dalam tubuh kita hampir tidak terjadi tanpa
adanya

enzim. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya enzim dalam tubuh kita, dan proses dasar
atau awal

pembuatan enzim yang berasal dari proses sintesis protein.

Sintesis protein terjadi di ribosom, yang mana bisa berada melekat pada retikulum
endoplasma

kasar ataupun berada bebas pada sitoplasma. Setelahselesai disintesis, protein pertama kali

mengalami modifikasi pada organel Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim.
Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang
membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun)
sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam
biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai
sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut
(heterotrof).
badan golgi. Proses pemindahan protein dari RE ke badan golgi

melalui suatu struktur gelembung atau sering dinamakan sebagai vesikula.

Note: Vesikula yang membawa protein dari RE merupakan hasil pelepasan membran pada
RE dan
bisa melalukan fusi atau penggabungan membran dengan badan golgi. Oleh karena itu,
struktur

membran pada RE dan badan golgi memiliki persamaan. Selain itu, secara garis besar,
badan golgi

dan RE memiliki persamaan model, yaitu membran yang berlipat-lipat.

Apakah Sintesis Protein?

Sintesis protein secara singkat dapat didefinisikan sebagai proses penerjemahan informasi
yang ada

pada DNA (sumber materi genetik) yang mengkode asam-asam amino sehingga menjadi
rantai

peptida (rantai protein). Akan tetapi, pengertian yang semacam bisa didapati berbeda,
tergantung

dari sumber yang digunakan sebagai acuan meskipun isinya sebenarnya sama saja.

Komponen yang Berperan

Komponen yang berperan dalam sintesis protein adalah inti sel, RE kasar, Ribosom (rRNA),
mRNA,

tRNA, RNA polimerase.

a. Inti sel

Inti sel merupakan lokasi dimana sumber informasi genetik berada, yaitu DNA. Jadi,
informasi yang

akan diterjemahkan pada sintesis protein berasal dari inti sel.

b. RE kasar & Ribosom (rRNA)

RE kasar merupakan lokasi dimana ribosom melekat. Selain itu, rRNA atau Ribosomal RNA

merupakan tempat terjadinya sintesis protein.

c. tRNA (RNA transfer)

tRNA merupakan salah satu jenis RNA yang bertugas untuk mengikat asam amino dari
sitoplasma

dan menggabungkannya dengan asam amino lain pada tahapan sintesis protein.

d. RNA polimerase

RNA polimerase merupakan enzim yang berperan dalam proses perangkaian molekul RNA
dari

molekul DNA.

Tahapan Sintesis Protein


Sintesis protein secara garis besar dibagi menjadi dua tahapan utama, yaitu proses
pembuatan

molekul mRNA pada inti sel (transkripsi) dan proses penerjemahan mRNA oleh rRNA serta

perangkaian asam amino di ribosom (translasi).

1. Transkripsi

Transkripsi terjadi di inti sel. Pada tahapa ini, RNA polimerase akan melekat pada rantai DNA

sehingga rantai membuka. Salah satu rantai DNA yang akan diterjemahkan (DNA
template/rantai

sense) mulai mendapatkan basa pasangannya, sehingga tercipta rantai komplemen. Rantai

komplemen inilah yang kemudian akan menjadi mRNA (messenger RNA).

Note: pada proses pembuatan mRNA, kode A pada rantai sense akan berkomplemen
dengan kode U

(urasil), bukan T atau timin seperti pada DNA.

RNA polimerase selanjutnya akan bergerak sepenjang rantai DNA hingga kode-kode yang
diperlukan

selesai diterjemahkan menjadi mRNA primer.

Peristiwa ini hanya terjadi pada rantai sense atau DNA template saja, sedangkan pada rantai

antisense atau DNA non-template tidak akan terjadi. Setelah selesai, mRNA primer akan
dilepaskan

dan selanjutnya akan melalui beberapa proses.

a. capping dan polyadenilasi

b. intron dihilangkan dan ekson akan bergabung splicing

c. splicing akan berlanjut hingga terbentuk mRNA siap pakai.

Note: mRNA terdiri dari dua macam kode, yaitu ekson dan intron. Ekson adalah kode yang
dipakai,

sedangkan intron akan dibuang.

mRNA matang selanjutnya akan ditransfer ke sitoplasma untuk menuju tahapan selanjutnya,
yaitu

translasi di ribosom.

2. Translasi

Tahapan translasi merupakan tahapan dimana mRNA matang dari dalam inti sel yang telah

ditransfer ke sitoplasma, tepatnya diribosom, segera diterjemahkan.

Translasi sendiri terdiri dari tiga tahapan, yaitu inisiasi, elongasi dan terminasi.
a. Inisiasi

Pada saat mRNA sampai di ribosom, proses pertama kali yang terjadi adalah inisiasi. Yaitu
proses

pengenalan kodon (pasangan 3 kode: cth. UAA, AUG), yang dimana sintesis akan dimulai
dari kodon

pemula (kodon start) yang merupakan asam amino Metionin, dengan kode AUG. Setelah
kodon ini

terbaca, asam amino pertama akan berada diribosom untuk selanjutnya digabungkan
dengan asam

amino selanjutnya.

Asam amino berada bebas disitoplasma dan dibawa menuju ribosom oleh RNA transfer atau
tRNA.

b. Elongasi

Elongasi merupakan proses kelanjutan dari inisiasi. Pada tahapan ini, kodon akan terus
dibaca dan

tRNA akan terus menerus membawa asam amino ke ribosom sesuai dengan kodon yang
ada pada

mRNA.

Pada proses elongasi, ribosom biasanya akan berada pada posisi agregat atau kumpulan.
Dua atau

lebih ribosom akan melekat pada rantai mRNA secara bersama-sama sehingga terlihat
seperti

sedang bergerombol.

Fenomena ribosom yang berkelompok ini disebut dengan polisom dan fungsinya adalah

mempercepat proses sintesis protein.

c. Terminasi

Terminasi merupakan proses terakhir dari translasi. Proses ini mulai terjadi ketika kodon
yang

terbaca adalah kodon-kodon yang mengkode berhentinya sintesis protein. Kodon ini
dinamakan

dengan kodon stop, yang terdiri dari tiga kodon yaitu UAA, UAG, dan UGA. Ketika salah satu
kodon-

kodon tersebut terbaca, faktor pelepas akan memberhentikan proses sintesis rantai asam
amino.

Proses terminasi diakhiri dengan terbentuknya rantai asam amino yang sangat panjang, atau
lebih
sering dinamakan dengan rantai polipeptida. Penamaan ini didasarkan pada ikatan antara
satu asam

amino dengan asam amino lainnya yang dinamakan dengan ikatan peptida. Rant

ai polipeptida inilah

yang kita sebut dengan protein, lebih tepatnya protein primer.

Protein atau rantai polipeptida dari hasil sintesis protein merupakan rantai protein primer.
Protein

ini harus mengalami modifikasi agar bisa digunakan dalam tubuh. Proses modifikasi akan
dilakukan

dibadan golgi setelah ditransfer dari retikulum endoplasma.

Referensi:

Hickman, et all. 2001. Integrated principles of zoology, 11 th ed. McGraw-Hill Companies,


Inc.: New

York.

dari

proses

dalam

dari

(fewer)

Top of Form

Proses‐proses translasi (inisiasi, elongasi, dan


terminasi)
Proses‐proses translasi (inisiasi, elongasi, dan terminasi) pada bakteria dan eukariot

Walaupun arsitektur ribosom bakteria dan eukariot mirip, ada perbedaan jelas
dalam hal cara bagaimana translasi dilakukan oleh dua kelompok organisme ini.
Perbedaan yang paling penting terjadi pada tahap awal translasi (pembentukan
kompleks inisiasi translasi), yaitu ketika ribosom mengikat pada mRNA, tepatnya
pada posisi sebelah hulu (upstream) kodon inisiasi.

Pada bakteria inisiasi translasi meliputi tahap‐tahap sebagai berikut:


1. Proses inisiasi diawali ketika subunit kecil ribosom, bersamaan dengan faktor
inisiasi IF3 mengikat pada situs pengikatan ribosom (ribosome binding site), juga
dikenal sebagai urutan Shine‐
Dalgarno (Shine‐Dalgarno sequence).
• Urutan Shine‐Dalgarno ini, yang mempunyai urutan konsensus 5′‐AGGAGGU‐3′
pada E. coli
• Urutan Shine‐Dalgarno terletak kurang lebih 3–10 basa di sebelah hulu kodon
inisiasi (titik awal
translasi). Situs pengikatan ribosom ini komplemen dengan daerah ujung 16S rRNA.
• Selain mengikat situs pengikatan ribosom, subunit kecil ribosom juga mengikat
kodon inisiasi
• Kodon inisiasi biasanya adalah 5′‐AUG‐3′, yang menyandi metionin, walaupun
kadang‐kadang kodon 5′‐GUG‐3′ and 5′‐UUG‐3′ juga digunakan sebagai kodon
inisiasi. Ketiga kodon ini dikenali oleh tRNA inisiator yang sama.
• Pada awalnya tRNA inisiator mengikat metionin, selanjutnya metionin tersebut
dikonversi menjadi N‐formilmetionin.

2. tRNAiMet inisiator dibawa ke subunit kecil ribosom oleh faktor inisiasi kedua, IF‐2,
bersama molekul GTP (molekul sebagai sumber energi pada tahap akhir inisiasi).
Perlu diingat bahwa tRNAiMet hanya dapat mengenali kodon inisiasi, tRNAiMet tidak
dapat mengenali kodon 5′‐AUG‐3′ internal pada mRNA.
3. Tahap inisiasi translasi diakhiri setelah faktor inisiasi, IF‐1, mengikat kompleks
inisiasi ini. Peran faktor inisiasi IF‐1 tidak jelas, tetapi diduga memicu perubahan
konformasi kompleks inisiasi sehingga memungkinkan subunit besar ribosom
menempel pada kompleks ini. Penempelan subunit besar, membutuhkan energi
yang diperoleh dari hidrolisis GTP, menyebabkan pelepasan faktor-faktor inisiasi
translasi.

Inisiasi translasi pada eukariot


Oleh karena hanya sedikit mRNA eukariot yang mempunyai situs pengikatan
ribosom, maka pengikatan awal subunit kecil ribosom terjadi pada ujung 5′ mRNA
dan kemudian melakukan pergeseran posisi (scanning) sampai mencapai kodon
inisiasi. Proses ini memerlukan banyak faktor inisiasi dan beberapa faktor inisiasi ini
masih belum diketahui fungsinya.

Tahapan inisiasi translasi pada eukariot adalah sebagai berikut;


1. Tahap pertama meliputi pembentukan kompleks pre‐inisiasi (pre‐initiation
complex). Struktur ini
terdiri dari subunit 40S ribosom, ‘ternary complex' yang tersusun dari faktor inisiasi
eIF‐2 yang terikat tRNAMet inisiator, molekul GTP, dan tiga faktor eIF‐1, eIF‐1A, eIF‐
3.
• Seperti pada bakteria, tRNA inisiator ini tidak mengenali kodon internal 5′‐AUG‐3′.
Berbeda dengan bacteria, tRNA inisiator eukariot diaminoasetilasi dengan metionin
normal, bukan oleh N‐formilmetionin.
2. Kompleks pre‐inisiasi selanjutnya bergabung dengan ujung 5′ the mRNA. Tahap
ini memerlukan kompleks pengikatan tudung (cap binding complex), kadang‐
kadang disebut eIF‐4F, yang terdiri dari faktor inisiasi eIF‐4A, eIF‐4E dan eIF‐4G.
• Faktor inisiasi eIF‐4G berfungsi sebagai jembatan antara eIF‐4E (yang terikat pada
tudung) dan eIF‐3 (yang terikat pada kompleks pre‐inisiasi) (Hentze, 1997). Hasil
dari tahap ini adalah kompleks pre‐inisiasi menjadi terikat pada daerah ujung 5′
mRNA. Pengikatan ini juga dipengaruhi oleh ekor poli (A) ujung 3′ mRNA. Interaksi
ini diduga dimediasi oleh protein PADP (polyadenylate‐binding protein), yang terikat
pada ekor poli(A).
3. Setelah kompleks pre‐inisiasi mengikat ujung mRNA, kompleks ini sekarang
disebut kompleks inisiasi (initiation complex), harus menggeserkan posisinya
(scanning) sepanjang mRNA sampai mencapai kodon inisiasi.
• Daerah yang harus dipindai (scanning) ini, disebut daerah leader mRNA
eukariotik, panjangnya dapat beberapa puluh, atau bahkan ratusan nukleotida dan
seringkali mengandung daerah yang membentuk struktur tusuk konde (hairpins)
dan struktur pasangan basa lain. Ada dugaan, struktur tersebut dihilangkan oleh
kombinasi faktor inisisiasi eIF‐4A dan eIF‐4B.
• Faktor inisiasi eIF‐4A, dan mungkin juga eIF‐4B, mempunyai aktivitas helikase
yang dapat memutuskan ikatan basa intramolekuler mRNAhas sehingga dapat
melapangkan jalan kompleks inisiasi.
• Kodon inisiasi, yang biasanya 5′‐AUG‐3′ pada eukariot, dapat dikenali sebab
urutan ini terdapat dalam urutan konsensus pendek, 5′‐ACCAUGG‐3′, yang dikenal
sebagai konsensus Koza (Kozak consensus).
4. Ketika kompleks inisiasi telah menduduki kodon inisiasi, subunit besar ribosom
akan mengikat kompleks inisiasi ini. Seperti pada bakteria, tahap ini memerlukan
hidrolisis GTP dan pelepasan faktor‐faktor inisiasi. Faktor inisiasi terakhir yang
terlibat pada tahap ini adalah eIF‐5 (yang membantu pelepasan faktor‐faktor inisiasi
lain) dan eIF‐6 (yang bergabung dengan subunit besar yang tidak terikat dan
mencegah untuk menempel pada subunit kecil di dalam sitoplasma).
(bersambung ke artikel lanjutan -->>

Transkripsi (bahasa Inggris: transcription) dalam genetika adalah pembuatan RNA dengan
menyalin sebagian berkas DNA.[1][2][3][4][5] Transkripsi adalah bagian dari rangkaian ekspresi
genetik. Pengertian asli "transkripsi" adalah alih aksara atau penyalinan. Di sini, yang dimaksud
adalah mengubah "teks" DNA menjadi RNA. Sebenarnya, yang berubah hanyalah basa nitrogen
timina di DNA yang pada RNA digantikan oleh urasil.

Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Proses
• 2 Hasil
• 3 Rujukan
• 4 Lihat pula
• 5 Pranala luar

[sunting] Proses
Transkripsi berlangsung di dalam inti sel atau di dalam matriks mitokondria dan plastida.
Transkripsi dapat dipicu oleh rangsangan dari luar maupun tanpa rangsangan. Pada proses tanpa
rangsangan, transkripsi berlangsung terus-menerus (gen-gennya disebut gen konstitutif atau "gen
pengurus rumah", house-keeping genes). Sementara itu, gen yang memerlukan rangsangan
biasanya gen yang hanya diproduksi sewaktu-waktu; gennya disebut gen regulatorik karena
biasanya mengatur mekanisme khusus. Rangsangan akan mengaktifkan bagian promoter inti,[6]
segmen gen yang berfungsi sebagai pencerap RNA polimerase[7] yang terletak di bagian hulu
bagian yang akan disalin (disebut transcription unit), tidak jauh dari ujung 5' gen.[7] Promoter inti
terdiri dari kotak TATA, kotak CCAAT dan kotak GC.[8]
Sebelum RNA polimerase dapat terikat pada promoter inti, faktor transkripsi TFIID akan
membentuk kompleks dengan kotak TATA.[9] Inhibitor dapat mengikat pada kompleks TFIID-
TATA dan mencegah terjadinya kompleks dengan faktor transkripsi lain, namun hal ini dapat
dicegah dengan TFIIA yang membentuk kompleks DA-TATA. Setelah itu TFIIB dan TFIIF
akan turut terikat membentuk kompleks DABF-TATA. Setelah itu RNA polimerase akan
mengikat pada DABF-TATA, dan disusul dengan TFIIE, TFIIH dan TFIIJ.
Kompleks tersebut terjadi pada bagian kotak TATA yang terletak sekitar 10-25 pasangan basa di
bagian hulu (upstream) dari kodon mulai (AUG). Adanya faktor transkripsi ini akan menarik
enzim RNA polimerase mendekat ke DNA dan kemudian menempatkan diri pada tempat yang
sesuai dengan kodon mulai (TAC pada berkas DNA). Berkas DNA yang ditempel oleh RNA
polimerase disebut sebagai berkas templat, sementara berkas pasangannya disebut sebagai
berkas kode (karena memiliki urutan basa yang sama dengan RNA yang dibuat). Pada awal
transkripsi, enzim guaniltransferase menambahkan gugus m7Gppp pada ujung 5' untai pre-
mRNA.[10] Sejumlah ATP diperlukan untuk membuat RNA polimerase mulai bergerak dari ujung
3' (ujung karboksil) berkas templat ke arah ujung 5' (ujung amino). pre-mRNA yang terbentuk
dengan demikian berarah 5' → 3'. Pergerakan RNA polimerase akan berhenti apabila ia menemui
urutan basa yang sesuai dengan kodon berhenti, dan deret AAUAAA akan ditambahkan pada
pangkal 3' pre-mRNA.[10] Setelah proses selesai, RNA polimerase akan lepas dari DNA,
sedangkan pre-mRNA akan teriris sekitar 20 bp dari deret AAUAAA dan sebuah enzim, poli(A)
polimerase akan menambahkan deret antara 150 - 200 adenosina untuk membentuk pre-mRNA
yang lengkap yang disebut mRNA primer.[10]
Tergantung intensitasnya, dalam satu berkas transcription unit sejumlah RNA polimerase dapat
bekerja secara simultan. Intensitas transkripsi ditentukan oleh keadaan di sejumlah bagian
tertentu pada DNA. Ada bagian yang disebut suppressor yang menekan intensitas, dan ada yang
disebut enhancer yang memperkuatnya.
[sunting] Hasil
Hasil transkripsi adalah berkas RNA yang masih "mentah" yang disebut mRNA primer.[11] Di
dalamnya terdapat fragmen berkas untuk protein yang mengatur dan membantu sintesis protein
(translasi) selain fragmen untuk dilanjutkan dalam translasi sendiri, ditambah dengan bagian
yang nantinya akan dipotong (intron). Berkas RNA ini selanjutnya akan mengalami proses yang
disebut sebagai proses pascatranskripsi (post-transcriptional process).