Anda di halaman 1dari 4

Siswa Polah Guru Kepradah I

Sebut saja Kemangi (17 tahun), siswi SMA swasta di kalasan diamankan polisi kare
na diduga melakukan tindakan aborsi bersama pacarnya, senin (3/1). Orok berumur
15 minggu hasil hubungan di luar nikah dibuang di tong sampah ruang laboratorium
RS Bhayangkara Yogyakarta. Menurut pengakuannya bahwa tiga sebelumnya meminum a
ir pelancar datang bulan dan sebuah pil yang diberikan pacarnya. Kemangi juga me
ngaku kalau pacarnya masih satu sekolah. Di duga kehamilan ini belum diketahui o
leh orang tuanya, pasalnya ketika orangtuanya datang ke RS Bhayangkara terlihat
shock mengetahui anaknya telah hamil (Koran Merapi, 4 Januari 2011).
Di tempat terpisah, siswa SMA Widya Wacana Solo, Andi Wibowo (15 tahun) mati dib
unuh oleh Rk (16 tahun) dan Rn (16 tahun). Rk merupakan siswa SMK di solo, sedan
gkan Rk tak lain teman sekelas korban di SMA Widya Wacana. Peristiwa pembunuhan
ini disulut oleh perkara yang sepele, Rk dendam terhadap Andi karena korban bebe
rapa kali memainkan gas motor di hadapannya (bleyer/nggleyer), sedangkan Rn bern
iat memiliki HP dan motor korban (solo pos, 4 Januari 2011).
Inilah setitik nila yang merusak susu “pendidikan “ sebelanga, setitik polah siswa y
ang membuat kepradah guru. Kasus ini, mungkin, hanyalah peristiwa gunug es, hany
a segelintir yang bisa diekspos di media massa, masih banyak kasus yang terpenda
m dibawah permukaan masyarakat yang tak kelihatan. Masih banyak kasus demoralisa
si yang tak diketahui oleh masyarakat atau bahkan masyarakat sendiri berusaha me
nyembunyikan kebobrokan elemennya atau bisa juga sebenarnya sudah muak dengan ka
sus-kasus semacam itu sehingga menganggap hal itu sesuatau yang wajar tapi memua
kkan.
Siapa yang akan disalahkan jika terjadi kasus semacam ini? Pendidikankah (dalam
hal ini guru), masyarakatkah atau individu tersebut?. Kebanyakan kasus semacam i
ni (yang melibatkan siswa) pastinya yang dituding adalah pendidikan (guru). Guru
dianggap tak mampu mendidik para siswanya, dengan rasa tak bermasalah kebanyaka
n penghakiman diberikan dengan kata-kata: anak-anak kita di sekolah diajari apa
tho? Apa guru sekarang hanya mengajarkan mata pelajaran belaka tanpa mengarahkan
ke moralitas yang baik, toh bukankah selama ini ada pendikan moral, akhlak dan
sebagainya yang ada dikurikulum pendidikan tapi mengapa siswa masih berkelakuan
yang tidak benar.
Begitu mudahnya kita mencari kambing hitam, untuk sekedar mengelak dari tanggung
jawab. Tanggung jawab anak-anak, saudara, dan bagian dari kita sendiri. Seolah
sekolah adalah lembaga sulap yang bisa dengan mudah merubah manusia dari X ke Y,
dari kurang baik menjadi baik. Sekolah bukalah kumpulan para nabi, ulama, pasto
r atau apapun yang dengan gampangnya bisa merubah manusia. Sekolah tak lebih ada
lah bagian dari masyarakat itu sendiri. Sekolah hanya sepenggal tubuh masyarakat
yang berfungsi untuk meraih cita-cita masyarakat. Jadi cita-cita, kehendak yang
ada di masyarakat sebetulnya yang menjadikan sekolah mengalami kondisi sekarang
ini.
Saya tak ingin membela sekolah, guru. Juga tidak akan menyalahkan masyarakat. Sa
ya hanya ingin mengajak merenungkan keadaan kehidupan sekarang ini, khususnya an
ak-anak, kawula muda yang berada dalam kesimpah siuran tujuan hidupnya. Yang sab
an hari diajari oleh kesemuan. Nikmat yang semu, orientasi semu, kebutuhan yang
semu. Intinya, anak-anak kita ajari untuk memperoleh sesuatu yang bisa dinikmati
secara instan, gemerlapnya dunia, dengan kata lain saban hari disuguhi bagaiman
a menumpuk dan menikmati materialism dunia.
Kasus di atas memberikan gambaran bahwa remaja begitu nafsunya menguasai benda y
ang lagi marak-maraknya, HP. Saying keinginan terhadap benda itu dicapai dengan
cara yang nista. OK lah, mungkin masih banyak anak yang memperoleh benda itu den
gan cara yang wajar, entah dengan meminta ke ortunya, kalau ortunya punya duwit
dan membolehkan.
Kasus hamilnya siswa juga menambah panjang daftar betapa perilaku remaja semakin
menggila. Pernah ada teman yang seloroh ketika mendengar ada siswa yang hamil b
ahwa hal itu wajar karena sudah punya potensi hamil. Saya yakin itu bukan jawaba
n yang ingin mewajarkan dan mengabsahkan pergaulan anak muda, apalagi dengan lep
as tanggung jawab dengan bersembunyi dibalik “potensi untuk hamil”. Saya yakin kalau
selorohnya hanyalah sebuah kekesalan kaena semakin hari trend “kumpul kebo” semakin
merajalela. Kalau dulu kumpul kebo banyak dialamatkan ke mahasiswa yang jauh da
ri pantuan orang tuannya tapi trend tersebut juga terjadi di remaja yang masih d
uduk di bangku sekolah menengah.
Sebetulnya siapa yang menjadikan demoralisasi ini semakin parah? Apakah kita aka
n menyalahkan pendidikan khususnya sekolah sebagai institusi yang bertanggung ja
wab mencerdaskan kehdupan bangsa? Bukankah sekolah hanyalah sebagai institusi, a
rtinya eksistensinya tak lebih sebagai benda mati dan keberadaannya, khususnya h
al yang akan diajarkan, sangat tergantung kebijakan pemerintah? Kalau begitu apa
kah yang salah pemerintah? Belum tentu juga. Perlu penelusuran yang jeli, untuk
membongkar keterpurukan ini.
**********
Pendidikan sebagaimana definisi yang diberikan UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003 ada
lah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembel
ajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memil
iki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ak
hlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyaraka, bangsa dan Neg
ara.
Melihat apa dan tujuan pendidikan di Negara ini sesungguhnya begitu mulia. Bagai
mana tidak? Coba ihat saja, masalah “diri” tak hanya disebut satu kali tetapi diulan
g lagi: memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, a
khlak mulia. Ini bukti betapa pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual yang
harus dimiliki manusia Indonesia. Kecerdasan ini tak bisa diletakkan paling akh
ir dari tujuan pendidikan nasional. Pendidikan, sebagaimana yang tersirat, bukan
bertujuan memenuhi “keinginan” orang lain, melainkan harus bisa memenuhi “kebutuhan” pr
ibadi itu sendiri.
Tujuan yang sempurna (perfect) ini, menurut saya, dilatar belakangi keadaan akhi
r-akhir bangsa ini. Masyarakat yang terlalu sering kehilangan control diri, iman
keagamaan yang terombang ambing, moral yang jauh dari “adat timur” serta ketrampila
n yang tak bisa mengikuti perkembangan zaman, yang notabenenya disetir dengan ke
majuan dari Negara-Negara Barat.
Kenyataannya, pendidikan di sekolah hanya berorientasi pada point terakhir, ketr
ampilan. Mengapa itu yang terjadi? Memenuhi permintaan pasar. Ya, sekolah, kampu
s telah berubah mejadi pabrik. Pabrik yang menuruti kehendak konsumen (sayang se
kolah tak mampu menjadi pabrik yang mengarahkan keinganan konsumen layaknya pabr
ik-pabrik seperti sekarang yang mampu mengarahkan, mendikte apa yang harus dikom
sumsi konsumen). Inilah ironisnya pendidikan kita. Munculnya sekolah kejuruan, k
ursus-kursus ketrampilan setidaknya bisa menunjukkan kepada kita: siswa harus bi
sa bekerja dengan tuntutan perusahaan.
saya bukan meragukan bahwa di sekolah-sekolah kejuruan tidak diajarkan moralitas
, akhlak atau semacamnya. Hanya saja, seberapa banyak jam untuk pelajaran agama,
pendidikan moral, muatan local diberikan? Apakah pembelajaran itu hanya sekedar
pemenuhan terhadap kurikulum saja? Apakah pembelajaran agama, akhlak dan muatan
local masih diminati para siswa?
Kelahiran pendidikan tidak dimulai masa-masa filuf-filsuf Yunani atau pasca Mase
hi, apalagi era industry. Jauh sebelum itu semua pendidikan sudah ada. Kelahiran
pendidikan bersamaan dengan kelahiran manusia itu ada. Sejak Adam dan Hawa dici
ptakan, sejak Adam dan Hawa bergulat dengan keinginan-keinginan untuk memakan bu
ah kuldi, sejak Adam dan Hawa telanjang karena melanggar perintah Tuhan yang kem
udian mengambil daun-daun dirangkai dijadikan sebagai penutup tubuh, saat itulah
pendidikan lahir. Pendidikan lahir seiring dengan perkembangan pikiran manusia,
ada gejolak keinginan serta terjadinya dialektika antara nafsu dan kata hati. J
adi pendidikan lahir bukan diera-era filsu-filsuf apalagi era reinensaince. Era
itu hanya kelahiran wadahya saja, institusinya saja.
Tujuan pendidikan, menurut Paulo Freire, adalah memanusiakan manusiaa, pemerdeka
an atau pembebasan manusia dari situasi yang menindas dari luar kehendaknya ata
u bertujuan menggugah kesadaran manusia dari magis menuju kesadaran naïf dan akhir
nya sampai kesadaran kritis (conscientizacao). Sedangkan John Dewey menyatakan b
ahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan pendapat-pendapat mendasar, bersifat i
ntelektual, tentang alam serta tentang sesama manusia. Al-Ghazali sendiri menyeb
utkan bahwa tujuan pendidikan, yang nantinya melahirkan manusia yang berilmu, ta
k lain sebagai penggemblengan kefitrahan manusia yang sejak dulu kala sudah disi
apkan oleh Tuhan sebagai wakilnya di bumi (kholifatullah fil ardh). Dengan demik
ian pendidikan setidaknya mirip dengan Gua Hira’ bagi Muhammad SAW, bukit Tursina
bagi Musa, Pohon Kurma bagi Maryam , dan Pohon Bodi bagi Sidharta Gautama meneri
ma wahyu Tuhan.
Dengan demikian pendidikan adalah tempat suci untuk menjemput, mendalami kefitra
han, tujuan manusi ada di dunia ini. Bukan sekedar sebagai tempat penyelarasan k
ebutuhan zaman, yang kenyataannya kebutuhan, tuntutan zaman itu tak lain dibuat
oleh industry-industri besar yang bertangan kapitalis.
Meminjam istilah yang dilontarkan oleh Max Raferrty, pendidikan di negeri ini ha
ruslah “pendidikan yang mendalam”. Pendidikan yang bukan mengembalikan kita semua ke
masa silam yang indah yang telah lama mati. Yang tidak sekedar mengajarkan “tiga
R” (Reading, Writing, Arithmetic), itu semua hanyalah batu loncatan untuk menuju k
e pelajaran lain yang lebih kompleks.
Pendidikan mendalam tidak percaya bahwa anak-anak adalah milik sekolahan. Mereka
milik orang tua. Sekolah tidak didirikan untuk memberi makan anak-anak, bukan u
ntuk mengkondisikan mereka secara psikologis, bukan untuk menghibur mereka, buka
n untuk memberi mereka pakaian, dan sebagainya; tepatnya sekolah harus tidak mel
akukan apapun kecuali mengajar anak-anak.
Mengajar untuk menjadi manusia yang memiliki orientasi kehidupan yang lebih baik
, menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak pernah berakhir untuk ditelusuri. Keb
enaran yang tidak cukup ditulisan di atas kertas, dibaca, diujikan dan dinilai d
engan angka-angka. Kebenaran yang diajarkan itu harus menjadi bagian dari hidupn
ya, jiwanya, sebagai nilai agung, sebagai “sesuatu” yang dicari tanpa henti hingga k
ebenaran yang sejati itu ditemukan. Kebenaran harus menjadi tempat akhir pemberh
entian siswa.
Setidaknya pendidikan dewasa ini memiliki landasan filosofis seperti yang dituli
skan oleh Theodare Brameld: perenielisme, esensialisme, progresifisme dan rekons
truksionisme. Saya kutipkan penjelaskan keempat landasan filosofis ini dari T. B
rameld.
Ujar Brameld, perenialisme pada dasarnya adalah sudut pandang di mana sasaran ya
ng laik dicapai oleh pendidikan adalah “kepemilikan atas prinsip-prinsip tentang k
enyataan, kebenaran, dan nilai yang abadi, tak terlihat waktu, tak terikat ruang”.
Perenialisme berakar pada tradisi filosofi yang bisa dilacak kembali ke filosof
ofi Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas, dan ia mengajukan keberadaan pola-po
la yang tak bisa berubah dan bersifat universal, yang melatari dan menentukan se
luruh obyek serta peristiwa yang ada dalam kenyataan (obyek dan peristiwa actual
).
Esensialisme, berpegang pada pernyataan bahwa “alam semesta beserta segala unsurny
a diatur oleh hukum yang mencakup semuanya serta tatanan yang sudah mapan sebelu
mya, karena itu tugas utama manusia adalah untuk memahami hukum dan tatanan ini
sehingga ia bisa menghargai dan menyesuaikan diri dengannya”.
Dalam hal progresifisme, tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan kecerdas
an praktis, untuk membuat siswa lebih efektif dalam memecahkan belbagai problema
yang disajikan dalam konteks pengalaman pada umumnya.
Rekonstruksionisme, yang berpandangan bahwa sekolah semestinya “diabdikan kepada p
encapaian tatanan demokratis yang mendunia”. Secara filosofis, seorang rekonstruks
ionis yakin bahwa teori puncaknya tak terpisahkan dari latar belakang social dal
am suatu era kesejarahan tertentu. Pikaran, dengan begitu, adalah sebuah keluara
n atau prosuk dari kehidupan disebuah masyarakat tertentu di suatu dunia ( W.F.
O’neil. 2008. Ideologi-Ideologi Pendidikan.) hlm. 22.
Sayang, apa yang diajarkan di sekolaha sekarang ini jauh tak lebih dari proses p
engajaran yang hanya memenuhi “kurikulum” dan serangkain “upacara” pendidikan: rencanaka
n, ajarkan, dan ujilah. “upacara’ ini bukanlah hal yang buruk, hanya saja muatan yan
g ada di dalamnya haruslah muatan yang bisa membawa ke kasadaran siswa, menyadar
kan mereka siapa sebenarnya, mengapa mereka “ada”, mengapa harus belajar, mengapa me
reka harus meyakini Tuhan, seumpama mereka tak percaya tuhan apakah mereka masih
bisa bertahan hidup secara jasmani dan rohani?. Menyadarkan tentang negaranya (
baik keadaan atau system yang sekarang dianut).
Butuh berapa tahun untuk menyadarkan kemanuasian siswa? Tak lama jika semua manu
sia di negeri ini menyadari bahwa mereka manusia dan ada rasa tanggung jawab ter
hadap hari esok anak cucunya, tidak melapaskan tanggung jawabnya sebagai orang y
ang mempunyai amanah Tuhan, dan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolahan sebagai
penyusu ilmu anak-anaknya. Harus disadari sekolahan memiliki waktu yang sangat t
erbatas untuk menanggung beban perbaikan mental. Toh, yang diajarkan disekolahan
tak hanya satu ilmu, melainkan banyak ilmu sehingga untuk proses penghayatan pa
ra siswa sangat minim sekali. Semua harus jadi guru, semua tempat adalah sekolah
, madrasah, semua yang ada di hadapan kita adalah buku. Buku yang harus dibaca d
an direnungkan.