LAPORAN AKHIR

BAB V. KAJIAN LINGKUNGAN WILAYAH KOTA MAKASSAR

A. KAJIAN LINGKUNGAN FISIK 1. KLIMATOLOGI Makassar beriklim tropis karena wilayah ini

Kota

dipengaruhi monsoon barat dan pola curah hujan ekuatorial karena letak geografisnya di dekat ekuator. Suhu rata-rata sepanjang tahun 2008 berkisar antara 26,60°C -28,90 °C. Suhu udara maksimum berkisar antara 29,80°C – 32,90°C dan suhu udara minimum berkisar antara 23,60°C – 25,30°C. Kelembapan udara ratarata wilayah Kota Makassar berdasarkan data tahun 2008 adalah 81,5%,dengan persentase penyinaran matahari di Kota Makassar berkisar antara 25,5% - 87,5%, dengan rata-rata penyinaran sekitar 61,02%. a. Curah hujan Berdasarkan analisis data curah hujan dari Stasiun BMG Paotere, curah hujan rata-rata bulanan terjadi di musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan dengan curah hujan rata-rata bulanan lebih besar dari 200 mm terjadi pada bulan Desember sampai April. Musim kemarau dengan curah hujan rata-rata bulanan lebih kecil dari 200 mm terjadi pada bulan Mei sampai November. Besar curah hujan rata-rata bulanan berkisar antara 6 sampai 685 mm dengan curah hujan terendah terjadi pada bulan September dan tertinggi pada bulan Februari. Variasi curah hujan rata-rata bulanan dapat dilihat pada Tabel 5-1.
Tabel 5-1 Data Curah Hujan Rata-Rata Bulanan
Tahun Jan 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rata 529 167 1277 823 445 1042 492 928 531 398 694 666 Feb 846 110 994 778 893 813 695 618 718 587 486 685 Mar 193 240 433 1114 813 435 534 690 235 649 283 511 Apr 189 220 580 338 687 617 157 624 200 353 197 378 Mei 21 87 140 337 163 139 110 54 139 265 36 136 4 23 76 37 11 87 147 59 6 26 130 55 Bulan Jun Jul 14 257 31 180 92 31 5 33 2 137 4 71 Agt 0 110 6 67 0 2 15 0 35 1 3 22 Sep 0 56 12 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Okt 0 174 126 47 6 0 7 0 0 0 16 34 Nop 25 684 225 84 20 1.5 20 24 165 0 215 133 Des 176 862 836 303 550 97 104 129 225 20 869 379

Sumber: Badan Metereologi dan Geofisika Wilayah IV, Makassar, 2008

V-1

b. Hari Hujan Berdasarkan data rata-rata hari hujan dari Stasiun BMG, jumlah hari hujan yang terjadi sepanjang tahun 2008 berlangsung selama 197 hari. Rata-rata hari hujan adalah 1 sampai 29 hari hujan, bulan yang mempunyai hari hujan yang terendah adalah September, sedangkan yang tertinggi adalah pada bulan Februari (lihat tabel 5-2)
Tabel 5-2 Jumlah Hari Hujan dirinci Menurut Bulan pada Stasiun Maritim Paotere Makassar

Bulan
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember

Jumlah Hujan (hari)
27 29 22 16 7 8 10 8 4 13 26 27

Sumber Makassar dalam Angka Tahun 2008

c. Intensitas Hujan Berdasarkan analisis frekuensi untuk mendapatkan curah hujan rancangan periode ulang 2, 5, 10, dan 25 tahun menggunakan metode Gumbel dan pendekatan Mononobe diperoleh hasil perhitungan intensitas hujan

ditunjukkan pada Tabel 5-3 dan pada Gambar 5-1 diperlihatkan hubungan antara intensitas dan durasi hujan.
Tabel 5-3 Hasil perhitungan Intensitas Hujan

tc menit 5 10 15 20 30 40 50 60 75 90 105 120 150 180 Jam 0.0833 0.1667 0.2500 0.3333 0.5000 0.6667 0.8333 1.0000 1.2500 1.5000 1.7500 2.0000 2.5000 3.0000

I2 (mm/jam) 349.46 220.15 168.00 138.68 105.84 87.37 75.29 66.67 57.46 50.88 45.91 42.00 36.20 32.05

I5 (mm/jam) 497.38 313.33 239.11 197.38 150.63 124.34 107.16 94.89 81.78 72.42 65.34 59.78 51.52 45.62

I10 (mm/jam) 595.30 375.01 286.19 236.24 180.29 148.82 128.25 113.57 97.88 86.67 78.21 71.55 61.66 54.60

I25 (mm/jam) 719.05 452.98 345.69 285.36 217.77 179.76 154.92 137.19 118.22 104.69 94.47 86.42 74.48 65.95

Sumber: Hasil Perhitungan Penyusunan Studi AMDAL

V-2

Curva Intensitas - durasi
800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 30 60 90 120 150 180 210 t (me nit)
I2 I5 I10 I25

I (mm/jam)

Gambar 5-1 Curva Intensitas – Durasi Hujan, 2008

Intensitas hujan mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya waktu (durasi hujan dari 2 – 25 tahun). Intensitas hujan maksimum sebesar 719,05 mm/jam dan intensitas hujan minimum sebesar 32,05. Berdasarkan data-data klimatologi di atas maka Kota Makassar masuk dalam kriteria hujan lebat karena intensitas hujan lebih besar dari 20 mm/jam. Indikasi ini menunjukkan bahwa Kota Makassar diprediksi menjadi daerah rawan banjir di tahun yang akan datang. Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi lebih disebabkan karena tingginya evaporasi yang terjadi. Selain dari faktor curah hujan dan intensitasnya, kondisi bentang alamnya yang diklasifikasikan datar hingga miring landai (0 – 21 m) serta berada dekat dengan kawasan pantai dan sebagai tempat muara 2 sungai besar (Sungai Jeneberang dan Sungai Tallo) dan kondisi baik buruknya sistem drainase kota (seperti kanal) juga berpengaruh terhadap terbentuknya genangan air dan potensi banjir. Tingginya curah hujan yang terjadi dapat mempengaruhi aliran drainase kota, dimana volume tampungan aliran tidak sesuai dengan volume hujan yang turun. Adanya fenomena La Nina yang terjadi juga dapat menjadi salah satu faktor terjadinya banjir, Fenomena La Nina dapat mengakibatkan besarnya curah hujan yang turun terjadi diatas rata-rata dan volumenya tidak merata dengan jumlah hari hujan, sehingga mampu meningkatkan debit aliran drainase hingga ke aliran sungai, Fenomena La Nina terhadap cuaca di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5-2.

Gambar 5-2 Fenomena La Nina Terhadap Cuaca di Indonesia

V-3

2.

TOPOGRAFI Secara topografi Kota Makassar dicirikan dengan keadaan dan kondisi sebagai berikut: tanah relatif datar, bergelombang, dan berbukit serta berada pada ketinggian 0-25 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan tingkat kemiringan lereng (elevasi) 0-15%. Sementara itu, dilihat dari klasifikasi kelerengannya, sebagian besar berada pada kemiringan 0-8%.
Tabel 5-4 .Peta Kemiringan Makassar, 2007
KODE WIL. (1) 010 020 030 031 040 050 060 070 080 090 100 101 110 111 KECAMATAN (2) MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR UJUNG PANDANG WAJO BONTOALA UJUNG TANAH TALLO PANAKKUKANG MANGGALA BIRINGKANAYA TAMALANREA BUJUR (3) 5º9’59‖ 5º9’05‖ 5º10’30‖ 5º11’20‖ 5º8’40‖ 5º8’15‖ 5º7’45‖ 5º7’54‖ 5º7’47‖ 5º7’16‖ 5º9’40‖ 5º10’03‖ 5º4’50‖ 5º8’25‖ LINTANG (4) 119º24’30‖ 119º25’04‖ 119º24’28‖ 119º26’30‖ 119º25’25‖ 119º24’27‖ 119º24’40‖ 119º25’24‖ 119º25’23‖ 119º26’10‖ 119º27’35‖ 119º29’29‖ 119º30’10‖ 119º29’31‖ TINGGI DPL (M) (5) 1–4 1–5 1–6 2–6 1–4 1–3 1–4 1–4 1–4 1–3 1- 13 2 – 22 1 – 19 1- 22

Sumber: Badan Pertanahan, 2008

Berdasarkan tabel 5-4 menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan kecamatan Kota Makassar berelief datar. Beberapa kawasan tersebut, yaitu: kecamatan Mariso, ujung pandang, Tallo dll. Kondisi kawasan seperti ini terancam rawan banjir akibat luapan kanal pada saat hujan rata-rata maksimum 200 mm/jam. Akan tetapi wilayah dengan topografi relative datar berpotensi sebagai kawasan pemukiman, usaha ataupun industri. Kawasan pemukiman dilakukan secara vertical bagi kawasan/kecamatan perkotaan, dimana kawasan tersebut memiliki lahan yang relative terbatas. Begitu juga sebaliknya, dilakukan pembangungan secara horizontal bagi kawasan yang memiliki lahan kosong masih relative luas. Selain itu, dapat juga dilakukan pengembangan kawasan usaha/industry sesuai dengan potensi dari tiap kawasan tersebut, yakni dengan memiliki tingkat aksesbilitas yang tinggi dan potensial alam yang dimilikinya.

Gambar 5-3 Peta Geomorfologi Kota Makassar, 2008

V-4

Berdasarkan Gambar 5-3 menunjukkan bahwa keadaan geomorfologi Kota Makassar dicirikan dengan daratan bergelombang miring denudasial dan pedataran flufial. Dari hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa untuk kondisi ruang seperti ini Kota Makassar sangat berpotensi untuk pengembangan kegiatan permukiman, perdagangan, jasa, industri, rekreasi, pelabuhan laut dan fasilitas penunjang lainnya. Melihat kondisi real makassar saat ini, daerah yang cenderung relatif datar akan memungkinkan untuk terjadi genagan air atau banjir akibat meluapnya air permukaan pada saat musim hujan. Air akan terakumulasi di daerah dengan relief lebih rendah. 3. GEOLOGI

a. Geologi Umum

Gambar 5-4 Peta Geologi Kota Makassar, 2008

Berdasarkan gambar peta di atas menunjukkan bahwa kondisi geologi umum Kota Makassar disusun atas 3 satuan batuan: 1) Satuan Aluvial Satuan batuan alluvial mendominasi seluruh wilayah kota dengan luas 11.693,83 ha yang penyebaran di sekitar daratan sampai ke pantai. Daerah yang mengandung kandungan alluvial cocok untuk pengembangan daerah pertanian. Hal ini karena alluvial banyak mengandung mineral dan miskin basa sehingga alluvial merupakan jenis tanah yang sangat subur. Di Makassar jenis tanah tersebut tersebar disekitar kecamatan Mariso, Tamalate, Wajo, Tamalanrea, Ujung Tanah dan lainnya. 2) Satuan Basal Satuan batuan basal terdapat di Kota Makassar hanya terdapat di dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Tamalanrea dengan luas 3,201 ha dan di Kecamatan Biringkanaya dengan luas 25,027 ha. 3) Satuan Tufa dan Breksi Satuan tufa dan breksi terdapat di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Panakukang dan Kecamatan Manggala. Sedangkan Stratigrafi berupa endapan alluvium, rawa dan pantai. Di bawahnya terdapat batuan gunung api Lompobatang (QW), sedangkan batuan tertua adalah batuan sedimen flysch kapur atas yang dipetakan sebagai formasi Marada (Km). Batuan gunung api Lompobatang tersusun atas konglomerat, lava, breksi, endapan lahar dan tufa.

V-5

b. Geologi wilayah Karakteristik litologi Kota Makassar dibagi menjadi beberapa bagian antara lain: a) Daerah Aliran Sungai Jeneberang Bagian hulu daerah aliran Sungai Jeneberang disusun oleh batuan gunung api yang terdiri dari aglonmerat, breksi, lava, endapan lahar dan tufa. Batuan gunungapi tersebut termasuk dalam batuan gunung api BattrapeCindako dan batuan gunung api Lompobattang. Beberapa diantara batuan gunung api tersebut tidak mengalami kompaksi yang sempurna, sehingga sangat mudah mengalami longosoran dan erosi. Bagian tengah daerah aliran Sungai Jeneberang, selain batuan gunungapi, dijumpai juga batuan sedimen laut dari formasi Camba yang terdiri dari batupasir, batulempung, napal, batu gamping, konglomerat dan breksi gunung api. Bagian hilir Sungai Jeneberang tersusun atas endapan fluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lempung, lumpur dan batu gamping koral. Batuan yang menyusun daerah perairan pantai di sekitar muara Sungai Jeneberang sebagai endapan aluvial pantai terdiri dari pasir, lempung dan lumpur. Dalam pengolahannya endapan berupa pasir tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai material campuran dalam pembuatan konstruksi bangunan. b) Daerah Pantai Kota Makassar Batuan alas yang menyusun pada Pantai Kota Makassar berasal dari formasi Camba yang berumur miosen tengah sampai miosen akhir, batuan alas ini terdiri dari satuan batupasir, batu lempung, tufa dan breksi. Bagian atas batuan alas yang berbentuk cekungan diisi oleh endapan pasir kasar dari Sungai Jeneberang dan endapan pasir halus dari Sungai Tallo. Sedangkan di sepanjang daerah pantai, ditemukan pasir berbutir kasar dan halus yang berwarna abu abu hingga kehitaman. c. Geologi Permukaan Berdasarkan peta jenis tanah menunjukkan bahwa secara geologi Makassar tersusun oleh jenis tanah inceptisol dan ultisol, Jenis tanah inceptisol dominan berada di bagian barat dan selatan Kota Makassar. Jenis tanah ini terdiri dari tanah alluvial, andosol, regosol dan gleihumus. Daerah bagian barat dan selatan berpotensi untuk pengembangan pemukiman, bisnis dan pariwisata. Hal ini disebabkan karena jenis tanah inceptisol memiliki tingkat porositas yang rendah dan permeabilitas yang tinggi sehingga kemungkinan terjadinya erosi kecil bila dilihat dari segi geologinya.Sebagai contoh, Kecamatan Mariso yang potensial sebagai kawasan pariwisata yang ditunjang dengan adanya ‖land mark‖ Kota Makassar di daerah tersebut yaitu Pantai Losari. Sebaliknya jenis tanah ultisol dominan berada di sebelah utara Kota Makassar. Jenis tanah ini termasuk didalamnya podzolik merah kuning, latosol dan hidromorf kelabu. Daerah utara tidak cocok dijadikan sebagai kawasan pertambakan karena jenis tanah ini banyak mengandung lapisan tanah liat dan bersifat asam serta miskin unsur hara. Daerah ini lebih diarahkan pada pengembangan pemukiman. Hal ini ditunjang oleh masih luasnya areal yang belum terbangun dan jumlah penduduknya masih sedikit sehingga tidak terjadi konsentrasi penduduk di pusat kota. Bagian timur Kota Makassar jenis tanahnya merupakan kombinasi kedua jenis tanah. Pengembangan kawasan di daerah ini lebih beragam mulai dari kawasan pendidikan, kawasan pemukiman hingga kawasan riset. Daerah ini juga merupakan jalur lingkar baru Kota Makassar sehingga dapat mengurangi kemacetan dari pusat kota.

V-6

4.

HIDROLOGI

a. Air Permukaan Pada dasarnya sistem aliran Kota Makassar di pengaruhi oleh dua faktor, yakni sistem aliran dari sungai Jeneberang dan sungai Tello. Komponen DAS Kota Makassar pada umumnya sudah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan aktivitas manusia lainnya, akibatnya hujan yang jatuh di DAS Kota Makassar menghasilkan genangan air. Air hujan yang jatuh seharusnya teresap langsung ke dalam tanah dan mengalirkan airnya pada kantongkantong resapan sebelum masuk ke sungai atau laut, mengalami gangguan, sehingga membentuk genangan banjir pada daerah yang mempunyai relief lebih rendah. b. Kajian Kecenderungan DAS Jeneberang Debit sungai jeneberang berkisar antara 238,8 – 1.152 m3/detik dengan debit ratarata tahunan sebesar 33,05 m3/detik. Debit aliran sungai ini mengalami penurunan tiap tahunnya akibat meningkatnya derajat sebaran lumpur (sedimen) dari daerah hulu. Dengan Panjang sungai 75,6 km dan debit 33,05 m3/detik kondisi sungai ini masih relatif aman. Dalam artian bahwa kondisi sungai ini tetap stabil/aman jika dalam pengelolaan dan pemeliharaan dam Bili-Bili dilakukan secara kontinyu. Jika stabilitas dam Bili-bili menurun hingga secara teknis tidak mampu berfungsi dengan maksimal, hal ini akan memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap pedataran Kota Makassar. Karena penurunan stabilitas Dam ini akan menaikkan besarnya kecepatan aliran debris. Kecepatan alir yang terlalu besar memungkinkan gaya gravitasi bumi sangat kuat yang dapat mengikis permukaan tanah yang sampai akhirnya dapat menyebabkan longsor. Ancaman ini akan semakin besar dikarenakan tekstur tanah yang tersusun dan tersebar di kawasan ini merupakan struktur tanah yang tidak terkompaksi secara maksimal. c. Kajian Kecenderungan DAS Tello Debit aliran sungai Tello 143,07 liter/detik dengan panjang sungai 61,2 km. Sistem DAS Sungai Tallo penyebab utama dalam pembentukan daerah rawan banjir Kota Makassar, sehingga apabila hujan datang dengan rata-rata 592,54 mm/bulan daerah Kota Makassar yang masuk dalam sisitem DAS ini akan membentuk banjir, terkhusus di sekitar samping kiri dan kanan. d. Air Tanah Makassar sebagai kota bisnis dan daerah industri di wilayah indonesia Timur, membutuhkan ruang/wilayah yang cukup besar untuk beroperasi, sehingga sering terjadi peralihan fungsi ruang. Laju industri dan bisnis yang cukup pesat mengakibatkan tingkat Kebutuhan sumberdaya air terus meningkat, Meskipun sering tidak diimbangi oleh siklus air yang relatif tetap. Perubahan lahan akibat tekanan aktifitas penduduk yang mengakibatkan perubahan badan air yang terbentuk di daratan. Contoh nyata di berbagai wilayah pada saat musim hujan selalu/menjadi banjir, sedangkan pada saat musim kemarau daerah yang sama mengalami kekeringan. Perubahan ini mengakibatkan penduduk di beberapa wilayah seperti, daerah Tamalanrea, sering terjadi kekeringan pada saat kemarau dan terjadi luapan muka air yang cukup signifikan akibat pengaruh hujan. Luapan muka air juga disebabkan oleh adanya siklus pola aliran yang tidak tetap dan tidak terencana. Siklus air yang relatif tidak tetap diakibatkan oleh ketidak seimbangan antara meningkatnya ekstensifikasi pembangunan dengan desentralisasi daerah resapan air. Secara abstrak tingkat kebutuhan air tanah yang dieksplorasi saat ini disentralisasikan untuk penggunaan air bersih, sehingga penggunaan air tanah relatif meningkat cukup signifikan.

V-7

Akibat dari eksploitasi berlebih ini mulai terasa dampaknya, yakni menurunnya muka air tanah secara berkala yang mengakibatkan keringnya sumur-sumur setempat, amblesan tanah, intrusi air laut dan banyak lagi. Untuk menentukan atau memetakkan derah resapan air tidak hanya di tinjau dari tingkat kemiringan lereng dan gravitasi tanah, tetapi perlu juga pengkajian geologi dan struktur tanah wilayah Makassar

Gambar 5-5 Peta Kawasan Rawan Genangan air Kota Makassar, 2008

Berdasarkan gambar 5-5 menunjukkan bahwa kawasan yang rawan terjadi genangan air disebabkan oleh topografi yang relatif landai dan ketidakmampuan sistem saluran yang tidak optimal. Daerah tersebut sering terjadi pada daerah kecamatan Tallo, Biringkanaya, dan Tamalanrea. e. Sedimen Sebaran sedimentasi daerah Kota Makassar terbentuk di sekitar Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang, yang membentuk endapan delta dan tersebar mengikut pesisir pantai kota membentuk spit dan gundukan pulau. Proses sedimentasi ini menjadikan penampang sungai menjadi sempit, sehingga sangat mempengaruhi terjadinya limpasan air pada saat musim hujan kearah samping kiri/kanan sungai. Berdasarkan hasil penelitian ―Lingkungan hidup Kota Makassar”, 2007 menunjukkan bahwa sebaran sedimen diketahui dengan mengacu pada debit sungai Janeberang, yaitu antara 238,8 – 1.152 m3/detik dengan debit ratarata tahunan sebesar 33,05 m3/ detik dengan kadar lumpur yang terbawa antara 25 – 200 gr/liter. Pengaruh perkembangan sedimentasi ini berdampak pada daerah sekitar Tanjung Bunga relatif kearah barat laut hingga utara. Namun mengingat berfungsinya DAM Bili-bili sebagai alternatif pembendungan muatan sedimentasi, diperkirakan muatan sedimentasi menuju muara akan menurun hingga 0,2 x 106 m/tahun atau seperempat kali volume semula. Sebaran sedimen yang lain datang dari sungai Tallo dengan debit alir 143,07 liter/detik. Kecepatan sedimentasi sungai Tallo yang bermuara di pelabuhan Paotere berkisar antara 29,6 – 76,1 cm dengan rata-rata kecepatan sedimentasi 52,85 cm/tahun. Lambatnya kecepatan aliran sungai Tallo dengan laju sedimentasi yang cukup tinggi, menimbulkan kecenderungan mengalami perubahan alur membentuk meander. Ditambah dengan kondisi kemiringan yang landai (1/10.000) dan pasang surut air laut yang dapat menjalar hingga jarak 20 km, maka kecepatan sedimentasi seperti ini menjadi rawan bagi daerah pelabuhan Paotere, pemukiman termasuk Kawasan Industri Makassar.

V-8

B. KAJIAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA UNGGUL Untuk pengembangan Kota Makassar saat ini pemerintah daerah tidak hanya merevisi infrastruktur kota tetapi juga dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Karena manusia merupakan subyek sekaligus objek dalam mobilitas pembangunan kota. Peningkatan sumber daya manusia sangat erat hubungannya dengan kualitas pendidikan. Secara statistik, tingkat sumber daya manusia berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan SDM adalah dengan cara memberikan subsidi penuh sekitar 400 sekolah negeri, dari SD hingga SMP di 14 kecamatan. Subsidi penuh ini di kenal dengan program sekolah gratis. Selain itu dilakukan pula program penghapusan ―Buta Aksara‖ di beberapa daerah, khususnya para orang tua yang buta huruf. Ditinjau dari aspek infrastruktur kota, pemerintah kota merevisi dan mengembangkan sarana dan prasarana sekolah. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah sekolah dalam tiap tahun. Selain itu, Berdasarkan data BPS 2008 menunjukkan bahwa jumlah sekolah SD 448 unit, SMP 172 unit, dan SMU sebanyak 110 unit. Mengacu pada data BPS yang sama, jumlah pencari kerja menurut tingkat pendidikan terlihat bahwa tingkat pendidikan SMA yang menempati peringkat pertama yaitu sekitar 50,87 persen disusul tingkat pendidikan Sarjana sekitar 30,51 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas sumber daya manusia di Kota Makassar masih tergolong sedang. Namun peningkatan jumlah Enginer dan lulusan sarjana cukup real setiap periodenya. Upaya-upaya pemerintah Kota Makassar masih terus berjalan, yakni dengan dibangunnya sarana universitas terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa pemerintah Kota Makassar memberi kesempatan seluasnya kepada masyarakat yang tidak mampu untuk dapat mengenyam bangku perkuliahan. Selain itu diadakannya pula kegiatan pelatihan-pelatihan tenaga siap kerja kepada para lulusan kerja. Strategi-strategi terus dilakukan pemerintah sehingga tercipta masyarakat sebagai sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, dimana sesuai dengan visi Makassar sendiri ― Menuju Kota Dunia dengn kearifan lokal. C. KAJIAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN Kajian Aspek Lokasi Makassar sebagai kawasan yang cukup strategis dan potensial, sangat memungkinkan untuk menjadi kota yang unggul, mandiri dan bahkan berpeluang untuk menjadi kota dunia. Kawasan-kawasan di kota ini memiliki banyak kelebihan, mulai dari aspek eksotisme ekologis, seni tradisi yang kuat serta nialai-nilai budaya yang khas. Kajian Aspek Sumberdaya Alam Dari aspek sumber daya alam, Makassar tidak potensial untuk daerah tambang, karena secara geologi daerah ini tidak ditemukan titik/sumber tambang. Untuk wilayah darat sebagian masyarakat memanfaatkan pasir sebagai bahan bangunan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pengerukan masyarakat di sekitar Maccini Sombala. Pasir tersebut merupakan akumulasi sedimen dari Dam bili-bili. Dari sektor maritim, Kota Makassar cukup potensial untuk peningkatan sumber daya alam. Keanekaraman hayati yang dimiliki cukup menarik perhatian wisatawan, selain itu Makassar juga memiliki gugusan pulau-pulau yang masing-masing memiliki karakter eksotik yang berbeda-beda. Sebagai contoh pulau Kodingareng Keke, pulau ini memiliki nilai estetika Coral reefs dengan formasi yang membentuk lereng vertikal.

V-9

Makassar saat ini telah menjadi kota pengekspor ikan jenis pelagis dan ikan karang untuk kawasan Negara-negara Asia (Singapura, Hongkong, Cina, dan Filipina) dan bahkan ke benua Amerika (Amerika serikat). Selain itu terdapat pula jenis karang keras yang di budidayakan untuk penghias akuarium. Jenis Karang ini juga telah berhasil di ekspor ke luar negeri. Dengan keadaan seperti ini, tentunya dapat meningkatkan kualitas ekonomi daerah. Selain itu Kota Makassar dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya dapat terekspos secara luas. Keadaan seperti ini sangat menguntungkan terhadap perkembangan wilayah makassar pada umumnya, karena akan semakin banyak wisatawan atau tourism yang akan berkunjung dan menarik investor-investor baru. 1. Budidaya Perikanan dan Pantai Makassar berbatasan langsung dengan Selat Makassar, mempunyai garis pantai sepanjang 32 Km serta mencakup 12 pulau dengan luas keseluruhan 178.5 Ha atau 1,1% dari luas wilayah daratan. Dengan kondisi geografis yang demikian, maka prospek pengembangan wilayah pesisir dan kepulauan dengan melakukan eksplorasi terhadap potensi kelautan dan perikanan, harusnya sangat kondusif bagi peningkatan investasi. Perkembangan sektor perikanan di Kota Makassar tidak hanya terpusat pada potensi perikanan laut tetapi juga perikanan darat (tambak). Berdasarkan peta kawasan tambak kota (Gambar 5-24), menunjukkan bahwa luas areal kawasan penggunaan lahan tambak masih tergolong besar yakni sebesar 2354,183 ha, yang terkonsentrasi di beberapa kecamatan yang letaknya berdekatan dengan daerah aliran sungai yakni Kec. Biringkanaya, Tamalanrea, Tallo, dan Tamalatea.

Gambar 5-6 Peta Kawasan Tambak Kota Makassar, 2008

V - 10

Tabel 5-5 Produksi Perikanan Menurut Kecamatan (dalam ton)

Kecamatan MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR UJUNG PANDANG WAJO BONTOALA UJUNG TANAH TALLO PANAKKUKANG MANGGALA BIRINGKANAYA TAMALANREA
Sumber: BPS, 2008

Perikanan Perikanan Jumlah Laut Darat Total 1227 2696 6709 2784 1725 409 38.4 74.9 59.1 149.8 190.1 1227 38.4 2696 6709 2858.9 59.1 1874.8 599.1

Tabel 5-6 Produksi Perikanan dari Tahun 2006-2008 (dalam ton)

Tahun Perikanan Laut 2008 2007 2006 15550 15619 20338

Perikanan Darat 512.30 453.20 712.10

Total

16062.30 16072.30 21051.10

Sumber: BPS, 2008

Mengacu pada data BPS 2008 (tabel 5-6) menunjukkan bahwa produksi perikanan tiap kecamatan bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik masing-masing kecamatan serta letak kecamatan dari laut berbeda-beda. Nilai produksi ikan terbesar dimiliki oleh Kecamatan Tallo sebesar 2858.9 ton dan terendah di Kecamatan Mamajang sebesar 38.4 ton. Selanjutnya dari tahun 2006 hingga tahun 2008 (Tabel 5-6), produksi perikanan laut dan darat berfluktuatif bahkan cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh sarana dan prasarana yang kurang memadai, seperti alat tangkap nelayan yang cenderung masih Manual serta kurangnya keterlibatan pihak Engineer dalam bidang tersebut. Yakni minimnya kegiatan penyuluhan terhadap petani tambak mengenai cara peningkatan jumlah produksi ikan hasil budidaya. Selain itu pula, adanya penurunan kualitas air laut yang mempengaruhi jumlah tangkapan nelayan dan menurunnya kualitas tanah tambak. Penurunan produktivitas tambak lebih dipengaruhi oleh pesatnya aktivitas industri di kecamatan Biringkanaya, desakan pemukiman penduduk di beberapa kecamatan yang merubah fungsi kawasan tambak dan peningkatan pencemaran (air,udara dan tanah) kawasan tambak.

V - 11

2. Pulau-Pulau Dalam kapasitas pemanfaatan lahan untuk lingkungan wilayah lautnya dari wilayah administratif Makassar tercatat bahwa pemanfaatan lahan terbatas hanya pada pemanfaatan 12 pulau dan 1 gusung yang dimiliki Makassar, dengan luas lahan pulau yang mencapai ±140 ha dengan luas laut yang mencapai ±10.000 ha. Berikut ini data potensi yang menyangkut karakteristik dan potensi dari 12 pulau berpasir putih yang dimiliki Makassar(sumber: Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan), sebagai berikut: Pulau Lajukkang Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 6,3 Ha : 40,17 Km (pulau terluar Makassar) : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 32 Jiwa (9 kepala keluarga) : Dermaga belum ada Belum Ada transportasi reguler Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 750.000,Ciri Spesifik : Pasir Putih Terumbu karang 11 Ha Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon Pinus, Pohon kelapa, dan Pohon pisang ditengah pulau Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Pemancing Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, dan Sport Fishing

Foto Pulau Lajukkang (September, 2004)

Pulau Langkai Luas Pulau Jarak dari Makassar Jarak dari Pulau Terdekat Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 26,7 Ha : 35,8 Km (3 pulau terluar Makassar) : 3,3 mil dari P. Lajukkang : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 430 Jiwa (127 KK) : Dermaga Belum Ada transportasi reguler Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 750.000,Ciri Spesifik : Pasir Putih Terumbu karang 142,2 Ha Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon kelapa Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Pancing, Nelayan Pukat, Pengrajin Perahu, Pedagang Kelontong, Guru dan pegawai Negeri Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, dan Sport Fishing

V - 12

Foto Pulau Langkai (September, 2004)

Pulau Lumu-Lumu Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 3,75 Ha : 27,54 Km (pulau terdekat dari 3 pulau terluar Makassar) : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 984 Jiwa, dengan tingkat kepadatan 262 jiwa/ha : Dermaga Belum ada transportasi reguler Perahu carteran (10Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 400.000,Masjid Permanen :(1 buah) Puskesmas :(1 buah) Sekolah Dasar :(1 buah) Ciri Spesifik : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon kelapa, Pohon Kayu Cina Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Pancing, Nelayan Pukat, Aktivitas Wisata : Sport Fishing, Swimming

Foto Pulau Lumu-Lumu (September, 2004)

Pulau Bonetambung Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 5 Ha : 17,87 Km (3 pulau terluar Makassar) : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 481 Jiwa : Dermaga Belum ada transportasi reguler Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 350.000,Masjid Permanen (1 buah) Puskesmas Pembantu (1 buah) Sekolah Dasar (1 buah)

V - 13

Instalasi Listrik (generator); beroperasi pada pukul 18.00-22.00 wita : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon kelapa Biota laut : Kepiting, crustasea, molusca, cacing pasir, kerang-kerangan, bintang laut, bulu babi; cumi-cumi, baronang, papakulu, mairo (teri), katamba, banyar. Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Ikan Kerapu Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, dan Sport Fishing Ciri Spesifik

Foto Pulau Bonetambun (September, 2004)

Pulau Kodingareng Lompo Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 14 Ha : 15,05 Km : Ujung Tanah/Barrang Caddi 4.170 Jiwa (891 KK) : Dermaga Tersedia Transportasi Reguler Rp. 4.000/penumpang Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 250.000,Masjid Permanen (2 buah); Mushalla (2 buah) Puskesmas Pembantu (1 buah) Pos Yandu Bantu (1 buah) Taman Kanak-Kanak (1 buah) Sekolah Dasar (2 buah) Pos Obat Desa (1 buah) Lapangan Sepak Bola Instalasi Listrik (generator), beroperasi selama 12 jam. Ciri Spesifik : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon kelapa Biota : Bulu babi, ubur-ubur, kepiting, bintang laut; beseng-beseng, giru, leto-leto, cepa, belawas (sejenis baronang) Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Tangkap

Foto Pulau Kodingareng Lompo (September, 2004)

V - 14

Pulau Kodingareng Keke Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 1 Ha : 13,48 Km : Ujung Tanah/Barrang Caddi : --: Dermaga tidak ada Belum ada transportasi reguler Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 300.000,Tersedia tempat peristirahatan yang dipersewakan oleh seorang warga negara Belanda : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah : Pohon Pinus : Ikan Karang : Camping, Swimming, Diving

Ciri Spesifik Vegetasi Biota Aktivitas Wisata

Foto Pulau Kodingareng Keke (September, 2004)

Pulau Barrang Lompo Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 19,23 Ha : 12,77 Km : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 3.563 Jiwa : Dermaga (2 buah) Tersedia transportasi reguler dengan biaya Rp. 4000/sekali jalan Masjid Permanen (2 buah); Mushalla (2 buah) Puskesmas (1 buah); Puskesmas Pembantu (1 buah) Taman Kanak-Kanak (1 buah) Sekolah Dasar (2 buah) Marine Field Station – Universitas Hassanuddin Instalasi Listrik (2 generator; 360 KVA), beroperasi dari pukul 18.00-06.00 Wita. Ciri Spesifik : Pasir Putih, kuburan tua Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon Asam, Pohon Pisang, Pohon Sukun Mata Pencaharian Penddk : Nelayan pemancing, pedagang, pegawai negeri Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, Sport Fishing, dan Wisata Budaya

V - 15

Foto Pulau Barrang Lompo (September, 2004)

Pulau Barrang Caddi Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 4 Ha : 11,15 Km : Ujung Tanah/Barrang Caddi : 1263 Jiwa : Dermaga Tersedia transportasi reguler dengan biaya Rp. 4000/ sekali jalan Puskesmas Pembantu (1 buah) Pos Yandu (1 buah) Taman Kanak-Kanak (1 buah) Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Terdapat fasilitas penyulingan air laut menjadi air tawar bantuan Pemerintah Jepang Tersedia Instalasi Listrik Ciri Spesifik : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon Kelapa Mata Pencaharian Penddk : Nelayan tradisional (bubu, pancing, rengge, dan lepa-lepa) Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, Sport Fishing, Wisata Budaya.

Foto Pulau Barrang Caddi (September, 2004)

V - 16

Pulau Samalona Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 2,34 Ha : 6,8 Km : Mariso/Mariso : 82 Jiwa : Dermaga rusak Belum Tersedia Transportasi Reguler Perahu carteran (10 Penumpang) bisa disewa dengan biaya sewa pulang pergi Rp. 200.000,Musahallah Rumah Sewa lengkap MCK Tersedia Instalasi Listrik dari PLN yang beroperasi dari pukul 18.00-22.00 Wita Ciri Spesifik : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah Vegetasi : Pohon Kelapa, Pohon Cina, Tammate, Mata Pencaharian Penddk : Nelayan tangkap, pedagang wisata Aktivitas Wisata : Camping, Snorkling, Sport Fishing

Foto Pulau Samalona (September, 2004)

Pulau Kayangan Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 1 Ha : 0,8 Km : Ujung Pandang/Bulo Gading : ---: Dermaga Transportasi Reguler dengan biaya Rp. 10.000,-/org pulang-pergi (seninminggu); bila ada atraksi wisata biaya bisa mencapai Rp. 15.000,-/org pulangpergi Tempat penginapan yang cukup representatif Mushollah Tersedia Air Bersih Tersedia Instalasi Listrik dari PLN yang beroperasi dari pukul 18.00-22.00 Wita : Pasir Putih Panorama bawah air sangat indah : Camping dan rekreasi

Ciri Spesifik Aktivitas Wisata

Foto Pulau Kayangan (September, 2004)

V - 17

Pulau Lae-Lae Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Fasilitas : 11,6 Ha : 1,2 Km : Ujung Pandang/Lae-Lae : 1.500 Jiwa : Dermaga Tersedia Transportasi Reguler Rp. 2.000/org/sekali jalan Masjid Permanen Puskesmas Pos Yandu Sekolah Dasar Pos Air bersih yang disupplai dari Makassar Instalasi Listrik (2 generator), beroperasi dari pukul 17.30-21.00 Wita. Ciri Spesifik : Pasir Putih Vegetasi : Pohon kelapa Mata Pencaharian Penddk : Nelayan Tangkap (ikan kerapu) Aktivitas Wisata : Rekreasi, berjemur

Foto Pulau Lae-Lae (September, 2004)

Pulau Lae-Lae Kecil Luas Pulau Jarak dari Makassar Kecamatan/Kelurahan Jumlah Penduduk Ciri Spesifik Vegetasi : 2 Ha : 1,6 Km : Ujung Pandang/Lae-Lae : Tidak berpenghuni : Pulau Gusung (Sand Barrier) : Tidak ada pohon, ada tanaman rumput dan perdu pantai

Foto Pulau Lae-Lae Kecil (September, 2004)

Dari luas keseluruhan pulau yang dimiliki Makassar kurang lebih 140 ha, perkembangan laju pembangunan yang ada belum menunjukkan perkembangan yang berarti dan relatif orientasi kegiatan masyarakatnya masih berfokus pada kegiatan nelayan. Belum banyak diantaranya yang sudah dikelola dengan baik untuk dijadikan sebagai objek wisata yang bernilai jual, kecuali untuk pulau kodingareng keke yang secara swakelola telah dikembangkan oleh sepasang suami istri berkewarganegaraan Belanda atas nama Pemerintah Kota Makassar. Potensi untuk mengembangakan pulau-pulau diatas menjadi objek wisata sesungguhnya cukup menjanjikan, selain karena memiliki jarak yang relatif dekat dengan Kota Makassar juga secara lingkungan cukup menarik
V - 18

untuk dijual karena semua pulau-pulau diatas berpasir putih dan memiliki panorama bawah laut yang cukup menarik. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan dari menjadi pulau-pulau ini menjadi objek wisata diantaranya kegiatan snorkling, rekreasi pulau, sport fishing, wisata budaya dan lain-lain. Pertumbuhan Wisata Pada tahun 2007, jumlah objek wisata di Kota Makassar sebanyak 83 buah. Sebanyak 12 buah diantaranya adalah objek wisata pulau. Sementara itu, objek wisata sungai yang ada sebanyak 8 buah, Objek wisata pantai 6 buagh, objek wisata budaya dan sejarah sebanyak 31 buah, objek wisata belanja atau niaga sebanyak 13 buah, objek wisata pendidikan 8 buah dan objek wisata olahraga sebanyak 5 buah. Pada tahun 2008, jumlah objek kunjungan wisata yang ada di Kota Makassar mengalami peningkatan menjadi 88 buah. Peningkatan ini dialami terjadi pada objek wisata belanja ata niaga yang bertambah 5 buah, dari 83 menjadi 88 buah. Sementara itu untuk objek wisata lain, jumlahnya tidak berubah. Perkembangan Kota Makassar yang telah bertransformasi menjadi kota Metropolitan memang memberi peluang yang lebih besar untuk tumbuh kembangnya pariwisata belanja atau niaga. Bentuk konkritnya adalah berdirinya sejumlah pusat perbelanjaan baru di beberapa titik di Kota Makassar.
Tabel 5-7 , Jenis Obyek Wisata di Kota Makassar

No 1 2 3 4 5 6 7

Jenis obyek/Daya Tarik Wisata obyek Wisata Pulau Obyek Wisata Sungai/Kanal Obyek Wisata Pantai/Pelabuhan Obyek Wisata budaya dan Sejarah Obyek wisata belanja /niaga Obyek wisata pendidikan Obyek Wisata Olahraga JULMLAH

2007 12 8 6 31 13 8 5 83

2008 12 8 6 31 17 8 5 87

Pertumbuhan objek wisata cukup signifikan dari beberapa tahun terakhir ini, sebagai contoh konkritnya, yakni pada tahun 2009, bertambahnya objek wisata moderen hadir di Kota Makassar, yaitu Transtudio Park Trans Studio, yang merupakan bagian dari Para Group, adalah Indoor Theme Park terbesar di dunia. Di Trans Studio ini ada 21 wahana, seperti Dunia Lain, Si Bolang, Jelajah, Magic Thunder Coaster, Ayun Ombak, Angin Beliung, dan masih banyak lagi wahana yang menarik dan seru. Para pengunjung dapat merasakan bagaimana menjadi seorang bintang di depan kamera, serta menjadi orang-orang di balik layar dari tayangan-tayangan favorit Trans TV dan Trans7, seperti: Ceriwis, Dunia Lain, dan Jelajah. Kehadiran Transtudio di tengah-tengah Kota Makassar merupakan genjatan awal dalam peranserta Kota Makassar menuju kota Dunia. Makassar mampu menampakkan jati dirinya kepada dunia melalui objek-objek wisata yang dimilikinya. Namun, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Kota Makassar tidak hanya dari satu segi saja, dari segi/aspek pemerintahan dan pendidikan, niaga dan aspek lainnya juga mendapat perhatian yang sama. Selain itu, ada juga da Studio Central, sebuah kawasan menakjubkan yang menampilkan gemerlap dunia layar lebar dan TV dalam tampilan a'la Hollywood era tahun 60-an. Zona ini menyingkap rahasia-rahasia di balik layar. Ada juga The Lost City, suatu kawasan super seru yang dikemas secara apik untuk dinikmati para petualang sejati. Sejumlah titik kunjungan pariwisata berwawasan global lain juga rencananya akan di bangun di Kota Makassar. Hal ini untuk mewujudkan Kota Makassar sebagai kota yang berkelas dunia namun tetap memelihara kearifarnkearifan lokalnya.

V - 19

D. KAJIAN PENGEMBANGAN SOSIAL BUDAYA 1. Tatanan Perkembangan Ruang Wilayah Kota Makassar

Sejak abad ke-16, Makassar merupakan pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, dan kemudian menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. menerapkan Raja-raja Makassar kebijakan

perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke

Makassar

berhak

melakukan

perniagaan disana, dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk

memperoleh hak monopoli di kota tersebut. Selain itu, sikap yang toleran terhadap agama berarti bahwa meskipun Islam semakin menjadi agama yang utama di wilayah tersebut, pemeluk agama Kristen dan kepercayaan lainnya masih tetap dapat berdagang di

Makassar. Hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat yang

penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku, dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagang-pedagang dari Eropa dan Arab.Semua keistimewaan ini tidak terlepas dari kebijaksanaan Raja Gowa-Tallo yang memerintah saat itu (Sultan Alauddin, Raja Gowa & Sultan Awalul Islam Raja Tallo). Kepentingan Makassar menurun seiring semakin kuatnya Belanda di wilayah tersebut, dan semakin mampunya mereka menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah seperi keinginan mereka. Pada tahun 1669, Belanda, bersama dengan La Tenri Tatta Arung Palakka dan beberapa kerajaan sekutu Belanda Melakukan penyerangan terhadap kerajaan Islam kembar Gowa-Tallo yang mereka anggap sebagai Batu Penghalang terbesar untuk menguasai rempah-rempah di Indonesia timur. dan setelah berperang habis-habisan mempertahankan Negaranya melawan beberapa koalisi kerajaan yang dipimpin oleh belanda, akhirnya Gowa-Tallo (Makassar)terdesak dan dengan terpaksa menanda tangani perjanjian Bungayya. Sebenarnya jejak kehadiran Makassar sudah dapat dilihat didalam kitab Nagara kartagama yang di tulis oleh Empu Prapanca pada abad ke14. Sejak tahun 2004 Kota Makassar sudah mulai melakukan pembangunan sarana-sarana publik yang baru dan berkualitas. Hal ini dilakukan berdasarkan pada slogan Kota Makassar yaitu Great Expectation City. Sejak saat itu dimulailah pembangunan mulai dari Menara Balaikota sekarang sudah difungsikan, Graha Pena Fajar yang juga merupakan gedung tertinggi di Makassar, Pelataran Losari, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Pelebaran Jalan tol yang menghubungkan Kota Makassar ke Bandara dan juga GOR Sudiang.

V - 20

Namun masih ada beberapa bagungan yang sementara dikerjakan dan yang akan dikerjakan seperti Kalla Tower, Menara Bosowa, Perubahan Lapangan Karebosi, Pembangunan Trans Kalla yang merupakan Family Entertainment Center pertama di Indonesia, Center Point of Makassar (Equilibrium) yang akan memberikan ikon baru bagi Kota Makassar selain Pantai Losari. Penambahan 2 pelataran di Pantai Losari. 2. Kependudukan a. Kondisi Eksisting Berdasarkan data BPS tahun 2008, jumlah penduduk Kota Makassar sebanyak 1.253.656 jiwa. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,65 % dari setahun sebelumnya. Kecamatan Tamalate menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu dengan 152.197 Jiwa, disusul oleh kecamatan Rappocini (142.958), Tallo (135.315 jiwa) dan

Panakukkang (132.479).

Namun, pertumbuhan penduduk yang paling

pesat dalam 8 tahun terakhir ini di alami oleh Kecamatan Biringkaya. Di kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Maros ini, angka pertumbuhan penduduknya sebesar 3,54 %. Posisinya yang berada di daerah peripheral atau perbatasan, memang memungkinkan masuknya

penduduk dari luar Kota Makassar untuk kemudian bermukim. Mobilitas penduduk yang ingin mendekatkan diri dengan daerah ibukota, biasanya menjadikan wilayah pheriperal sebagai pijakan awal. Apalagi memang, daya tarik Kota Makassar bagi warga diluar kota, semakin hari semakin besar saja. Sementara itu, peningkatan jumlah

penduduk yang paling rendah dialami oleh kecamatan Ujung Pandang, dimana peningkatannya rata-ratanya hanya sekitar 0,32 %. Angka ini jauh dibawah pertumbuhan rata-rata kota Nakassar secara umum dalam 8 tahun terakhir yang besarnya 1,65 %.
Tabel 5-8 Jumlah Penduduk tahun 2007 dan 2008 di tiap Kecamatan Kota Makassar

Dari segi kepadatan penduduk, Kecamatan Makassar merupakan wilayah yang terpadat di Kota Makassar. Angka kepadatannya mencapai 32.900 jiwa/Km2. Angka ini jauh melampuai angka kepadatan Kota Makassar yang hanya 7.132 /km2. Sementara untuk kecamatan dengan angka kepadatan paling rendah, adalah kecamatan Biringkanaya. Di kecamatan ini kepadatan penduduknya berada pada angka 2.670 jiwa/km persegi.

V - 21

Tabel 5-9 Komposisi jumlah penduduk berdasarkan Umur di Kota Makassar.
UMUR 0 4 5 9 10 14 15 19 20 24 25 29 30 34 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65+ JUM LAH LAKI-LAKI 66076 67321 52437 51661 67292 51697 48900 48496 37272 29275 26767 20034 12836 21240 601304 PEREMPUAN 55733 63769 62959 60558 70667 66637 57362 47364 44140 26867 28494 20493 14826 32483 652352 TOTAL 121809 131090 115396 112219 137959 118334 106262 95860 81412 56142 55262 40526 27662 53723 1253656

Dari

komposisi

kependudukannya,

jumlah

perempuan di Kota Makassar sebesar 652.352 jiwa, sedangkan laki-laki sebanyak 601.304. Porsi

terbesar penduduk Kota Makassar berada pada usia 20-24 tahun. Memang, dari data yang ada

bisa terlihat bahwa jumlah terbesar komposisi penduduk Kota Makassar berada pada usia 29 tahun ke bawah. Termasuk juga pada usia anakanak (0-15 tahun). Satu kesimpulan yang diperoleh dari data ini, bahwa dimasa mendatang, Kota Makassar akan mengalami kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi dari saat ini.
Gambar 5-7 Grafik Perbandingan Jumlah Penduduk Laki Laki dan Perempuan di Kota Makassar.

b. Proyeksi Kependudukan Penghitungan proyeksi penduduk per kawasan sesuai dengan arahan yang ingin dicapai dalam RTRWK Makassar dilakukan dengan cara memproyeksikan jumlah penduduk berdasarkan tingkat pertumbuhannya di setiap kawasan selama rentang waktu 2010-2030. Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa tingkat pertumbuhan penduduk kota erat kaitannya dengan jumlah dan tingkat kelahiran, kematian, dan migrasi yang terjadi pada kota ini. Adapun tahapan-tahapan yang dilalui dalam penghitungan proyeksi penduduk Kota Makassar untuk jangka waktu 2010-2030 adalah sebagai berikut: 1) Menghitung tingkat pertambahan penduduk Alamiah (sudah termasuk komponen migrasi neto). Formulasi yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan penduduk untuk setiap periode waktu yaitu: Pt = Po . (1 +r)n Dimana : Pt Po n r = Jumlah penduduk tahun ke-t = Jumlah penduduk tahun dasar = kurun waktu = Tingkat pertumbuhan penduduk (0,01)

V - 22

2)

Membuat asumsi bahwa kebijakan percepatan pengembangan perekonomian (melalui penggalian secara intensif potensi-potensi yang dimiliki seperti pariwisata, perdagangan dan jasa, industri, hasil laut dan lain-lain) serta kebijakan ketenagakerjaan (pemberian berbagai bentuk insentif untuk membuka peluang usaha baru dan sekaligus menyerap tenaga kerja) mempunyai dampak positif kepada pertumbuhan penduduk di ruang Kota Makassar.

3)

Menghitung proyeksi penduduk khususnya untuk wilayah Kota Makassar berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduknya. Berdasarkan tahapan dan asumsi yang dikemukakan dalam perhitungan proyeksi di atas, maka dapat diperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan proyeksi jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan ruangnya untuk kurun waktu 2010-2030 dari masing-masing kawasan dalam RTRW Makassar. Selanjutnya, dari data dan informasi ini nantinya bisa digunakan sebagai dasar RUJUKAN BARU dalam menentukan arah kebijakan pembangunan kota yang berkesesuaian dengan kebutuhan dasar kota dan masyarakatnya. Dalam melakukan proyeksi jumlah penduduk Makassar, hal yang paling mendasar yang perlu diperhitungkan dari output nilai proyeksi tersebut adalah bagaimana kota meng‖upgarade‖ kemampuannya agar bisa beradaptasi dengan tingkat jumlah penduduk yang terus bertambah dengan tingkat kemampuan kota yang semakin terbatas. Berikut ini, akan dikemukakan proyeksi jumlah penduduk dimulai dari tahun dasar 2010 hingga tahun 2030. Terbagi dan tersebar dalam wilayah masing-masing kawasan dalam RTRW Makassar (terencana dalam 12 Kawasan Terpadu).

Tabel 5-10 Prediksi Jumlah Penduduk Tahun 2008 -2030 di Kota Makassar

PREDIKSI JUMLAH PENDUDUK 2008-2030 (JIWA) TAHUN TAHUN TAHUN KAWASAN TERPADU 2008 2015 2020 Kawasan Pusat Kota 289.324,57 310.195,10 326.018,17 Kawasan Permukiman Tepadu 355.014,05 380.623,11 400.038,71 Kawasan Pelabuhan Terpadu 28.750,92 30.824,87 32.397,25 Kawasan Bandara Terpadu 110.216,44 118.166,95 124.194,65 Kawasan Maritim Terpadu 23.232,01 24.907,86 26.178,41 Kawasan Industri Terpadu 136.089,57 145.906,44 153.349,14 Kawasan Pergudangan Terpadu 64.180,07 68.809,72 72.319,71 Kawasan Pendidikan Terpadu 69.387,04 74.392,30 78.187,05 Kawasan Budaya Terpadu 1.204,36 1.291,24 1.357,11 Kawasan Olahraga Terpadu 79.420,02 85.149,01 89.492,46 Kawasan Bisnis dan Pariwisata 11.899,67 12.758,06 13.408,85 Kawasan Bisnis Global Terpadu 68.928,83 73.901,04 77.670,73 JUMLAH LUAS 1.253.656 1.344.089 1.412.651

TAHUN 2025 342.648,38 420.444,71 34.049,84 130.529,82 27.513,77 161.171,48 76.008,74 82.175,38 1.426,33 94.057,48 14.092,84 81.863,72 1.484.710

TAHUN 2030 360.126,85 441.891,61 35.786,72 137.188,16 28.917,25 169.392,85 79.885,95 86.367,15 1.499,09 98.855,35 14.811,71 85.796,81 1.560.446

3. Pendidikan Peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia banyak ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan mudah di akses. Kebijakan sekolah gratis yang di canangkan oleh pemerintah daerah,

berimplikasi mpada peningkatan jumlah penyerapan anak sekolah. Pada tahun 2008/2009 di Kota Makassar, jumlah Sekolah Dasar sebanyak 448 unit dengan jumlah guru sebanyak 5.747 orang dan jumlah murid sebanyak 148.179 orang. Jumlah SLTP sebanyak 172 unit dengan jumlah guru sebanyak 4.369 orang dan jumlah murid sebanyak 59.878 orang. Jumlah SLTA 110 unit dengan jumlah guru sebanyak 1.589 orang dan jumlah murid sebanyak 41.738 orang.
V - 23

Untuk mencapai target peningkatan kualitas SDM di Kota Makassar, penyediaan pendidikan gratis tidaklah cukup. Namun diperlukan juga peningkatan kualitas dari sistem pembelajaran. Menyangkut kualitas guru pengajar, sarana dan prasarana, serta penciptaan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan berwawasan informatif. 4. Kesehatan Upaya memenuhi kebutuhan akan sarana dan fasilitas kesehatan bagi masyarakat Kota Makassar terlihat dari giatnya pembanguna sarana dan prasarana tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2008 di Kota Makassar terdapat 15 Rumah Sakit, yang terdiri dari 7 Rumah Sakit Pemerintah/ABRI, 7 Rumah Sakit Swasta serta 1 Rumah Sakit khusus lainnya. Jumlah Puskesmas pada tahun 2008, dari 116 unit puskesmas dapat di kategorikan menjadi 37 puskesmas, 42 puskesmas pembantu dan puskesmas keliling 37 buah. Di samping sarana kesehatan, ada sumber daya manusia di bidang kesehatan seperti dokter praktek sebanyak 3.329 orang dan bidan praktek sebanyak 168 orang. Dalam pelaksanaan Keluarga Berencana (KB), jumlah akseptor KB baru secara keseluruhan pada tahun 2008 sebanyak 39.060 orang yang terdiri dari 1.235 orang memakai IUD, 19 orang memakai MOP, 638 orang memakai MOW, 1.688 orang memakai IMP, 14.551 orang memakai PIL, 21.837 orang memakai suntikan dan 2.672 orang yang memakai kondom. Sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi untuk mengendalikan angka kelahiran harus terus dilakukan. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk di Kota Makassar. Kepadatan penduduk (over crowded) yang berlebihan, bisa membawa dampak sosial yang buruk bagi masyarakat secara keseluruhannya. 5. A g a m a Kota masyarakat sudah lama dikenal sebagai kota berlandaskan nilai-nilai religius. Kesadaran akan pentingnya membangun kehidupan beragama di Kota Makassar, tercermin pada giatnya pembangunan sarana peribadatan. Perkembangan pembangunan dibidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat Islam berupa mesjid dan mushalla pada tahun 2008 masing-masing berjumlah 849 buah dan 114 buah. Tempat peribadatan Kristen berupa gereja masing-masing 90 buah gereja protestan dan 32 buah gereja katholik. Tempat peribadatan untuk agama Budha dan Hindu masing-masing berjumlah 15 buah dan 3 buah. Hanya saja, aspek terpenting dari semua itu, adalah bagaimana membangun sebuah pemahaman keberagaman dan keberagamaan. Hal ini terkait dengan sikap toleransi dan saling menghargai eksistensi yang lain. 6. Sosial Lainnya Di Kota Makassar pada tahun 2008 jumlah anak asuh yang tercatat yang ditampung di 84 Panti Asuhan ada sebanyak 4.100 anak yang diasuh. Sedangkan jumlah gelandangan/ pengemis dan anak jalanan di Kota Makassar tahun 2008 sebanyak 340 orang dan 869 orang. Jumlah kerugian yang diakibatkan oleh penyebab kebakaran tahun 2008 telah tercatat sebanyak 97 kali dan jumlah korban yang meninggal sebanyak 188 orang. Sementara itu, Jumlah narapidana menurut jenis hukuman dilembaga

pemasyarakatan ada 423 orang (laki-laki 423 orang dan tidak ada perempuan).

V - 24

Jumlah pelanggaran lalu lintas pada tahun 2008 sebanyak 71.561 kasus. Adapun jumlah kecelakaan sebanyak 2.001 kasus dengan korban meninggal 1.042 orang, luka berat 625 orang dan luka ringan 1.536 orang.

Gambar 5-8. Anjungan Pantai Losari merupakan keunggulan ruang yang menyerap wisatawan

E. KAJIAN EKONOMI WILAYAH a. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Komponen balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan. Semua komponen tersebut dijumlahkan sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak tak langsung lainnya. Dalam pengertian PDRB, kecuali faktor pendapatan, termasuk pula komponen penyusutan dan pajak tidak langsung. PDRB merupakan salah satu pencerminan kemajuan ekonomi suatu daerah. Berdasarkan hasil penghitungan PDRB tahun 2008, nilai PDRB Kota Makassar atas dasar harga berlaku telah mencapai Rp.26.068,221 miliar rupiah. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2008, nilainya sebesar Rp 13.561,827 milliar rupiah. Struktur ekonomi bias memberikan gambaran masing-masing sektor dalam pembentukan total PDRB suatu daerah. Semakin besar persentase suatu sektor semakin besar pula pengaruh sektor tersebut dalam perekonomian daerah.
Tabel 5-11 Perkembangan PDRB Kota Makassar.
TAHUN PDRB SUL SEL PDRB KOTA MAKASSAR PERSENTASE MAKASSAR THDP SUL SEL

2004 2005 2006 2007 2008

48.509.525,38 52.042.724,45 60.902.828,80 69.271.924,56 85.143.191,27

13.127.238,54 15.744.193,91 18.165.876,32 20.794.721,30 26.068.221,49

27,06 30,25 29,83 30,02 30,62

PDRB Kota Makassar selama ini telah memberikan sumbangsih yang besar bagi PDRB Propinsi Sulawesi Selatan secara keseluruhan. Untuk tahun 2008 ini presentasenya sekitar 30,62 %. Angka ini meningkat 0,60 % dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan pesat sektor ekonomi yang di alami oleh Kota Makassar memang memberikan dampak yang signifikan terhadap kenaikan ini.

V - 25

Sektor penggerak utama ekonomi di Kota Makassar masih di kuasai oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel. Kontribusi sektor ini berada pada angka 29,06 %. Menyusul setelah sektor perdagangan, restoran dan hotel itu, adalah sektor industri pengolahan dengan angka konstribusi 22,24 %. Gambaran besaran porsi sumbangsih dari tiap sektornya pada tahun 2008 bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 5-9 Grafik sektor penggerak ekonomi di Kota Makassar

Sektor industri dapat dibedakan atas industri Besar, Sedang, Kecil dan Rumahtangga. Data mengenai industry Besar dan Sedang tersedia setiap tahun yang dikumpulkan dengan cara sensus lengkap. Sedangkan data industri Kecil dan Rumah tangga tidak tersedia setiap tahun. Perusahaan industri di Kota Makassar tahun 2008 sebanyak 18 buah dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 306 orang. Nilai output industri besar/sedang pada tahun 2008 sebesar 217.074.096.000 rupiah dengan nilai tambah atas harga pasar sebesar 160.068.434.000 rupiah.
Tabel 5-12 Jumlah Industri Berdasarkan Kecamatan, 2008

KECAMATAN
No

RATA – RATA PERUSAHAAN 2 1 2 2 6 5 18
TENAGA KERJA NILAI INPUT NILAI OUTPUT NILAI TAMBAH

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR UJUNG PANDANG WAJO BONTOALA UJUNG TANAH TALLO PANAKKUKANG MANGGALA BIRINGKANAYA TAMALANREA JUMLAH

31 27 5 3 19 16 101

9.704.520 271.000 219.090 295.500 3.026.541 374.046 13.890.697

84.553.000 2.400.000 315.000 688.000 4.465.016 3.354.400 95.775.416

71.350.000 2.129.000 95.910 392.500 1.438.474 1.126.353 76.532.237

Sumber: BPS, 2008

V - 26

Berdasarkan Tabel 5-12 menunjukkan bahwa industri yang berada di Kota Makassar tersebar di 14 kecamatan. Namun tidak semua kecamatan terdapat perusahaan industri. Daerah tersebut seperti Mamajang, Tamalate, makassar dan lain-lain. Perusahaan industri lebih terkosentrasi di Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea dengan masing-masing sebanyak 6 dan 5 perusahaan. Kecamatan Mariso merupakan daerah yang memiliki pendapatan terbesar dibidang industri. Jenis industri makanan dan minuman menjadikan daerah ini maju lebih pesat, hal ini di picu oleh letaknya yang berada di jantung kota dan dekat dengan objek pariwisata Makassar, seperti Anjungan Losari, Pantai Tanjung Bunga dan dekat dengan Mall. Industri makanan dan minuman yang dimaksud, seperti Cafe, Restoran, Hotel dana beberapa warung makan lainnya. Dengan pendapatan yang demikian tentunya dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB Kota Makassar. b. Angka Inflasi Sementara itu, angka inflasi sepanjang tahun 2008 lalu di Kota Makassar, mencapai angka tertingginya pada bulan Juni, yaitu pada angka 3,39 persen. Kenaikan itu umumnya disumbangkan oleh komioditi bahan makanan, dengan angka kenaikan yang mencapai 3,83 %. Sedangkan pada sektor perumahan, angka inflasinya berada pada posisi 3,08 %. Sebaliknya, angka inflasi terendah bagi Kota Makassar di tahun 2008 lalu, terjadi pada medio bulan Oktober. Pada bulan itu angkanya berada pada titik minus (-0,18 %). Sebulan berselang, persentase inflasi secara umum di kota ini belum bergerak dari posisi minus, yaitu 1013. Dan pada akhir tahun, Kota Makassar mencatat inflasi umum sebesar 0,46 %. c. Kredit Usaha Kota Makassar mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan sampai mencapai angka 10,5%. Angka ini bahkan jauh melampuai target dan pencapaian pertumbuhan ekonomi secara nasional yang hanya 5,5 %. Trend positif pada pertumbuhan ekonomi itu, sangat mungkin untuk terus berlanjut pada tahun 2009 ini. Indikasi itu bisa terlihat pada pengucuran kredit pada beberapa sektor yang juga mengalami peningkatan. Untuk sektor UMKM misalnya, pada triwulan I tahun 2009 lalu share kreditnya sebesar 71,69 %. Sedangkan untuk

penyalurannya sendiri, masih terjadi pada sektor konsumsi dan perdagangan, dimana masing-masing sebesar 57 % dan 28 %. Menurut data yang tersedia, jumlah rekening UMKM saat ini mencapai Rp. 567,1 miliar. Dari jumlah itu, Kredit usaha kecil mendominasi jumlah rekening dengan proporsi sebesar 44,68%. Sementara itu, pengucuran Kredit usaha Rakyat atau KUR sampai dengan periode Maret 2009 lalu mencapai angka Rp 739 Miliar, dengan angka pengembaliannya yang sudah melampaui separuhnnya, yakni Rp 429 Miliar rupiah. Pengembalian ini mengindikasikan bahwa secara umum tidak ada masalah berarti dalam membangun sektor usaha di Makassar. mandiri. Berdasarkan data KBI Makassar, jumlah kredit konsumsi hingga Maret 2009 tercatat mencapai Rp12,97 triliun.Sementara kredit untuk modal kerja dan investasi sebagai kegiatan produktif masing-masing hanya tersalurkan Rp12,2 triliun dan Rp6triliun.Share kredit konsumsi untuk kredit per jenis penggunaan ini mencapai Rp41,09%. Kota ini sangat prospektus untuk berinvestasi dan menggerakkan usaha-usaha

V - 27

F. KAJIAN SUMBER DAYA BUATAN 1. Kajian Jaringan Transportasi a. Transportasi Darat Melihat kondisi real jalur transportasi di Kota Makassar, pemerintah di daerah melakukan strategi dan upaya dengan cara memperlebar jalan beberapa tempat, khususnya jalan utama. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mengurangi tingkat kemacetan jalur

transportasi kota. Sebagai contoh, diadakannya proyek pelebaran Jalan di Jalan Urip Sumoharjo menjadi 22 meter. Ini merupakan lanjutan dari pembangunan fly over. Selain itu dilakukan pula Penggalian di dekat Taman Makam Pahlawan dan pagar Bosowa. Setelah pelebaran, Jalan Urip Sumoharjo tetap dua jalur. Khusus jalur kiri dari arah depan Kantor Gubernur Sulsel sampai ke jembatan Sungai Pampang, badan jalan dibuat selebar 12 meter. Jalur kanannya diperlebar menjadi 10 meter. Sementara mulai dari arah depan Kantor Gubernur ke Tugu Adipura, pelebaran jalur kiri dan kanan jalan masingmasing 10 meter. Pelebarannya menggunakan konstruksi beton yang dilapisi aspal. Dengan dilakukan pembangunan dan pelebaran jalan di jalan utama setidaknya memberikan kontribusi yang bernilai positip bagi masyarakat Kota Makassar. Beberapa faktor yang mempengaruhi transportasi darat di Kota Makassar hubungannya dengan aktivitas masyarakat antara lain: Besar Bangkitan – Tarikan Pergerakan Masyarakat Besar bangkitan – tarikan pergerakan masyarakat di Kota Makassar yang dilakukan dengan pendekatan analisis kategori, disajikan pada Tabel 5-13 dan Gambar 2.21 berikut :

Tabel 5-13. Bangkitan – Tarikan Pergerakan Kota Makassar Besar Pergerakan (Orang) Tarikan 57,286 51,632 91,430 89,156 80,506 33,117 29,482 70,021 52,144 124,823 86,497 88,613 112,949 69,661 1,037,316 Bangkitan 45,896 51,173 125,561 118,839 69,868 24,269 29,671 49,536 39,810 111,378 112,965 80,421 104,144 73,785 1,037,316

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Nama Kecamatan KEC. MARISO KEC. MAMAJANG KEC. TAMALATE KEC. RAPPOCINI KEC. MAKASSAR KEC. UJUNG PANDANG KEC. WAJO KEC. BONTOALA KEC. UJUNG TANAH KEC. TALLO KEC. PANAKKUKANG KEC. MANGGALA KEC. BIRINGKANAYA KEC. TAMALANREA JUMLAH

V - 28

140,000

JUMLAH PENDUDUK (ORG)

120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0

Gambar 5-10. Bangkitan – Tarikan Pergerakan Kota Makassar

Tabel 5-13 dan Gambar 5-10 memperlihatkan bahwa dari jumlah penduduk Kota Makassar sebesar 1.193.434 jiwa (BPS Makassar, 2006), terdapat seabanyak 1.037.316 jiwa atau sebesar 86,9% penduduk yang melakukan pergerakan/perjalanan dari dan ke tempat tinggalnya dalam sehari. Tabel dan gambar tersebut juga memperlihatkan bahwa terdapat 5 (lima) kecamatan yang mempunyai bangkitan – tarikan pergerakan terbesar di Kota Makassar, yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tallo, Kecamatan Rappocini, Kecamatan Biringkanaya, dan Kecamatan Panakukang, dengan jumlah pergerakan rerata di atas 10.000 orang per-hari. Sebaran Pergerakan Masyarakat Sebaran pergerakan masyarakat di Kota Makassar yang dilakukan dengan pendekatan survai wawancara rumah tangga yang kemudian dianalisis dan dimodelkan dengan metode furness, disajikan pada Tabel 5-14 dalam bentuk Matriks Asal – Tujuan (MAT) Pergerakan dan Garis Keinginan Perjalan Penduduk sebagaimana divisualisasikan dalam Gambar 5-11. berikut

Tabel 5-14. Matriks Asal-Tujuan Pergerakan Penduduk Kota Makassar 2007
ZONA

6 KEC. UJUNG PANDANG

11 KEC. PANAKKUKANG

13 KEC. BIRINGKANAYA

9 KEC. UJUNG TANAH

14 KEC. TAMALANREA
1,013 421 4,190 3,900 1,821 674 197 3,000 686 1,837 8,430 2,310 21,298 19,883 69,661

12 KEC. MANGGALA

2 KEC. MAMAJANG

5 KEC. MAKASSAR

8 KEC. BONTOALA

4 KEC. RAPPOCINI

3 KEC. TAMALATE

1 KEC. MARISO

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

KEC. MARISO KEC. MAMAJANG KEC. TAMALATE KEC. RAPPOCINI KEC. MAKASSAR KEC. UJUNG PANDANG KEC. WAJO KEC. BONTOALA KEC. UJUNG TANAH KEC. TALLO KEC. PANAKKUKANG KEC. MANGGALA KEC. BIRINGKANAYA KEC. TAMALANREA JUMLAH

21,476 10,150 2,031 4,244 1,656 1,849 1,396 471 1,030 1,169 4,707 866 3,465 2,777 57,286

4,826 13,752 9,268 7,686 2,070 1,386 984 706 858 1,670 4,450 578 1,121 2,277 51,632

4,971 3,695 50,021 12,848 5,050 1,436 537 588 686 1,169 4,407 2,021 1,223 2,777 91,430

1,689 6,128 16,251 24,089 4,056 2,173 1,181 4,412 858 4,175 14,121 4,765 1,121 4,138 89,156

2,172 3,228 6,094 12,618 25,662 1,849 1,092 2,471 3,260 6,345 8,644 1,877 2,751 2,444 80,506

1,448 2,479 6,221 1,835 3,477 7,794 1,056 647 1,544 668 3,937 289 306 1,416 33,117

1,158 281 1,523 459 2,070 824 13,422 1,294 2,402 501 1,412 144 1,325 2,666 29,482

772 1,544 2,793 5,162 6,291 1,037 2,720 17,532 4,633 17,533 5,777 866 1,223 2,138 70,021

1,158 2,011 2,285 3,900 2,235 2,423 4,241 4,001 8,408 12,524 4,108 1,877 917 2,055 52,144

1,448 2,807 7,237 16,289 3,063 587 895 8,295 7,550 52,767 12,366 722 6,216 4,582 124,823

10 KEC. TALLO

7 KEC. WAJO

ASAL . . . . TUJUAN

AR I AM SO KE AJ C AN .T AM G KE C . R ALA TE AP KE KE P C C . M OC .U AK INI JU NG AS SA PA R N DA K N G KE EC .W C KE .B AJ O C O N .U JU T O AL NG A TA KE N KE AH C C .P AN . T A LL A O KE KK U KE C. M KA NG C . B AN G IR G IN AL KE G C KA A .T AM NA AL YA AN R EA .M
NAMA KECAMATAN TARIKAN BANGKITAN

KE C

KE C

.M

JUMLAH

1,737 2,058 7,490 14,798 6,291 1,012 823 3,883 515 2,505 21,481 10,395 4,484 9,025 86,497

869 702 3,301 5,735 3,063 587 591 1,000 686 1,002 11,596 51,833 2,344 5,304 88,613

1,158 1,918 6,856 5,277 3,063 637 537 1,235 6,692 7,514 7,531 1,877 56,352 12,302 112,949

45,896 51,173 125,561 118,839 69,868 24,269 29,671 49,536 39,810 111,378 112,965 80,421 104,144 73,785 1,037,316

V - 29

Gambar 5-11. Garis Keinginan Perjalanan Penduduk Kota Makassar 2007

Tabel 5-14 dan Gambar 5-11 di atas memperlihatkan bahwa asal – tujuan pergerakan terbesar di Kota Makassar terjadi pada pergerakan Kecamatan Biringkanaya – Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Rappocini – Kecamatan Panakukang, Kecamatan Rappocini – Kecamatan Tamalate, Kecamatan Rappocini – Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Tallo – Kecamatan Bontoala. b. Transportasi Laut 1) Posisi dan Wilayah Kerja Pelabuhan Soekarno – Hatta Posisi dan wilayah kerja Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar dapat dilihat secara visual pada gambar berikut :

Gambar 5-12. Lokasi Pelabuhan Soekarno-Hatta

V - 30

Adapun wilayah kerja Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 5-15. Wilayah Kerja Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar A KANTOR PELABUHAN PT. PELABUHAN INDONESIA IV (PERSERO) CABANG MAKASSAR JL. SOEKARNO NO 1 MAKASSAR- SULAWESI SELATAN PT. PELABUHAN INDONESIA IV (PERSERO) KAWASAN PAOTERE JL. SABUTUNG MAKASSAR- SULAWESI SELATAN TIDAK ADA DUKS

B

WILAYAH / SATUAN KERJA

C

DUKS

Berdasarkan SK KM 85 Tahun 1999, Tanggal 13/10/1999, maka wilayah Master Plan Pelabuhan Soekarno Hatta meliputi : Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan, dengan luas Perairan adalah 2.978 Ha dan luas daratan yang dikuasai adalah 1.192.933 M2. Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, dengan luas perairan adalah 39.740 Ha. 2) Kondisi Operasional Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar Kondisi operasional arus penumpang dan barang yang terjadi di Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar pada periode waktu tahun 2002 – 2006 disajikan pada Tabel dan Gambar berikut :

Tabel 5-16. Data Operasional Pelabuhan Makassar Thn 2002 – 2006

Gambar 5-13. Data Arus Kapal di Pelabuhan Makasar Tahun 2002 - 2006

V - 31

Gambar 5-13, memperlihatkan bahwa arus kunjungan kapal (Call) dalam 5 (lima) tahun terakhir mengalami kecenderungan penurunan, dimana pada tahun 2006 penurunan yang terjadi cukup drastis/signifikan. Demikian pula hal yang sama terjadi pada arus kapal dengan satuan Grt (Gambar 5-14).

Gambar 5-14. Data Arus Kapal di Pelabuhan Makasar Thn. 2002 - 2006

Gambar 5-15. Volume Ekspor - Impor Pelabuhan Makassar Thn. 2002 - 2006

Gambar 5-15, memperlihatkan bahwa jumlah impor jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah impor. Namun demikian, kecenderungan volume ekspor – impor dari tahun 2002 hingga tahun 2006 relatif sama. Dimana kecenderungan yang terjadi adalah bahwa dari tahun 2002 hingga tahun 2004 volume ekspor – impor mengalami peningkatan dari 1.649.313 ton hingga 1.949.766 ton. Namun dari tahun 2004 hingga tahun 2006, volume ekspor – impor mengalami penurunan. Penurunan drastis atau signifikan terjadi dari tahun 2005 ke tahun 2006, dimana volume total ekspor – impor sebesar 1.726.645 ton pada tahun 2005 turun menjadi 842.317 ton pada tahun 2006.

V - 32

Gambar 5-16. Volume Bongkar - Muat Pelabuhan Makasar Thn. 2002 - 2006

Gambar 5-16, memperlihatkan bahwa jumlah volume bongkar lebih besar dibandingkan dengan jumlah volume muat. Namun demikian, kecenderungan volume bongkar - muat dari tahun 2002 hingga tahun 2006 relatif sama. Dimana kecenderungan yang terjadi adalah bahwa dari tahun 2002 hingga tahun 2005 besar volume total bongkar – muat barang mengalami peningkatan dari 5.773.459 ton hingga 7.955.157 ton. Namun dari tahun 2005 ke tahun 2006, volume total bongkar – muat barang mengalami penurunan yang cukup drastis/signifikan, dimana volume total bongkar – muat barang pada tahun 2006 turun menjadi sebesar 3.672.024 ton. Gambar 5-17, memperlihatkan bahwa kecenderungan jumlah arus penumpang di Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar dari tahun 2002 hingga tahun 2006 secara keseluruhan mengalami penurunan. Grafik memperlihatkan bahwa meskipun pada tahun 2005 sedikit terjadi peningkatan jumlah penumpang dari tahun 2004, namun peningkatan tersebut tidak signifikan. Pada tahun 2006 justru terjadi penurunan jumlah penumpang yang sangat drastis/signifikan dari jumlah penumpang tahun 2005 sebesar 426.262 orang untuk penumpang naik dan 348.048 orang untuk penumpang turun, turun menjadi 131.482 orang untuk penumpang naik dan 168.631 orang untuk penumpang turun. Grafik juga memperlihatkan bahwa jumlah penumpang naik relatif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penumpang turun.

Gambar 5-17. Jumlah Penumpang Pelabuhan Makasar Tahun 2002 - 2006

Data kondisi operasional pelabuhan tersebut di atas, sangat ditentukan oleh kondisi potensi hinterland Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar yang meliputi potensi sebagaimana disajikan pada Tabel berikut :

V - 33

Tabel 5-17. Jenis Potensi Hinterland Pelabuhan Soekarno – Hatta Makassar

c. Transportasi Udara Bandara Hasanuddin adalah bandar udara yang terletak 30 km dari Kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan. Bandara ini dioperasikan oleh PT. Angkasa Pura I. Meskipun berstatus bandara internasional, sejak 28 Oktober 2006 tidak ada lagi rute internasional kecuali penerbangan haji setelah rute internasional terakhir Hasanuddin, Makassar-Singapura ditutup Garuda Indonesia karena merugi. Sebelumnya, Silk Air dan Malaysia Airlines telah terlebih dahulu menutup jalur internasional mereka ke Hasanuddin.
1) Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara

a. Trend Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 1991 - 2005 Pergerakan lalu lintas angkutan udara, baik dalam bentuk penumpang orang, bagasi, kargo, barang pos, mulai tahun 1991 hingga tahun 2005, disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 5-18a. Pergerakan Angkutan Udara BU Hasanuddin 1991s/d 1998
PESAWAT DATANG BERANGKAT LOKAL JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN PENUMPANG DATANG BERANGKAT TRANSIT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN BAGASI BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN KARGO BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN POS BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN 878,877 900,107 1,778,984 21,684 1.23% 1,041,776 975,779 2,017,555 238,571 13.41% 931,900 1,099,267 2,031,167 13,612 0.67% 835,977 1,000,046 1,836,023 -195,144 -9.61% 705,072 901,702 1,606,774 -229,249 -12.49% 874,320 1,011,172 1,885,492 278,718 17.35% 1,226,893 1,289,310 2,516,203 630,711 33.45% 897,793 1,194,653 2,092,446 -423,757 -16.84% 10,068,210 9,453,269 19,521,479 -957,398 -4.67% 9,505,740 10,176,489 19,682,229 160,750 0.82% 9,631,374 10,843,448 20,474,822 792,593 4.03% 9,597,952 13,400,812 22,998,764 2,523,942 12.33% 11,027,436 16,266,046 27,293,482 4,294,718 18.67% 12,844,328 20,517,599 33,361,927 6,068,445 22.23% 13,624,830 18,635,727 32,260,557 -1,101,370 -3.30% 10,548,340 17,216,650 27,764,990 -4,495,567 -13.94% 4,336,712 6,190,293 10,527,005 77,345 0.77% 4,535,369 6,983,685 11,519,054 992,049 9.42% 5,171,497 8,016,584 13,188,081 1,669,027 14.49% 5,832,753 9,397,626 15,230,379 2,042,298 15.49% 7,134,824 11,325,322 18,460,146 3,229,767 21.21% 7,749,414 12,502,717 20,252,131 1,791,985 9.71% 8,609,215 11,338,312 19,947,527 -304,604 -1.50% 5,832,186 4,780,765 10,612,951 -9,334,576 -46.80% 364,536 273,631 299,108 937,275 73,140 8.60% 395,724 293,815 316,903 1,006,442 69,167 7.38% 424,318 327,440 367,795 1,119,553 113,111 11.24% 474,906 385,981 417,042 1,277,929 158,376 14.15% 563,755 465,531 492,710 1,521,996 244,067 19.10% 610,628 517,866 514,617 1,643,111 121,115 7.96% 580,029 522,051 525,925 1,628,005 -15,106 -0.92% 399,623 327,967 355,036 1,082,626 -545,379 -33.50% 1991 10,269 10,232 2,751 23,252 1,651 7% 1992 10,733 10,729 1,921 23,383 131 0.56% 1993 12,192 12,177 1,654 26,023 2,640 11.29% 1994 13,722 13,703 1,201 28,626 2,603 10.00% 1995 15,003 14,967 1,914 31,884 3,258 11.38% 1996 16,204 16,175 1,410 33,789 1,905 5.97% 1997 16,900 16,972 1,524 35,396 1,607 4.76% 1998 10,680 10,676 1,022 22,378 -13,018 -36.78%

Tabel 5-18b. Pergerakan Angkutan Udara BU Hasanuddin 1999s/d 2005

V - 34

Rata2 PESAWAT DATANG BERANGKAT LOKAL JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN PENUMPANG DATANG BERANGKAT TRANSIT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN BAGASI BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN KARGO BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN POS BONGKAR MUAT JUMLAH KENAIKAN / TAHUN % KENAIKAN 886,196 1,471,396 2,357,592 265,146 12.67% 657,520 1,069,203 1,726,723 -630,869 -26.76% 704,758 874,147 1,578,905 -147,818 -8.56% 697,685 476,450 1,174,135 -404,770 -25.64% 570,575 763,007 1,333,582 159,447 13.58% 617,676 633,735 1,251,411 -82,171 -6.16% 479,887 576,451 1,056,338 -195,073 -15.59% -2% 9,356,985 17,454,094 26,811,079 -953,911 -3.44% 10,393,911 17,210,457 27,604,368 793,289 2.96% 11,563,001 19,720,503 31,283,504 3,679,136 13.33% 10,993,568 12,892,435 23,886,003 -7,397,501 -23.65% 13,349,248 21,641,843 34,991,091 3,707,587 11.85% 14,603,356 23,035,493 37,638,849 13,752,846 57.58% 16,284,835 26,183,666 42,468,501 7,477,410 21.37% 8% 5,184,690 3,890,152 9,074,842 -1,538,109 -14.49% 6,567,962 4,973,289 11,541,251 2,466,409 27.18% 7,684,198 6,022,638 13,706,836 2,165,585 18.76% 9,775,342 8,487,542 18,262,884 4,556,048 33.24% 13,598,554 21,102,278 34,700,832 20,993,996 114.95% 18,165,333 27,596,725 45,762,058 27,499,174 79.25% 18,126,038 27,473,645 45,599,683 10,898,851 23.82% 20% 343,137 295,695 289,058 927,890 -154,736 -14.29% 429,977 370,748 311,095 1,111,820 183,930 19.82% 526,916 456,214 355,082 1,338,212 226,392 20.36% 700,085 645,485 469,656 1,815,226 477,014 35.65% 990,560 926,631 653,836 2,571,027 755,801 41.64% 1,381,326 1,322,792 904,280 3,608,398 1,037,371 40.35% 1,370,665 1,278,648 947,925 3,597,238 -11,160 -0.31% 12% 1999 8,484 8,445 894 17,823 -4,555 -20.35% 2000 9,954 9,910 582 20,446 2,623 14.72% 2001 12,369 12,348 378 25,095 4,649 22.74% 2002 14,736 14,734 427 29,897 4,802 19.14% 2003 19,534 19,478 272 39,284 9,387 31.40% 2004 23,618 23,584 76 47,278 7,994 20.35% 2005 21,422 21,412 106 42,940 -4,338 -9.18% 6% Kenaika n

Secara visual volume arus lalu lintas angkutan udara untuk setiap jenis lalu lintas tersebut di atas beserta trend kenaikannya disajikan pada gambar-gambar berikut :
50,000

Jumlah Pesawat (Buah)

45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Tahun

Gambar 5-18. Trend Arus Lalu Lintas Pesawat di Bandara Hasanuddin

V - 35

4,000,000

Jumlah Penumpang (Orang)

3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998 Tahun

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Gambar 5-19. Trend Arus Lalu Lintas Penumpang di Bandara Hasanuddin

50,000,000 45,000,000
Jumlah Bagasi (kg)

40,000,000 35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 5-20. Trend Arus Lalu Lintas Bagasi di Bandara Hasanuddin

45,000,000 40,000,000

Jumlah Kargo (kg)

35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998 Tahun

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Gambar 5-21. Trend Arus Lalu Lintas Kargo di Bandara Hasanuddin

3,000,000

Jumlah Barang Pos (kg)

2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998 Tahun

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Gambar 5-22. Trend Arus Lalu Lintas Barang Pos di Bandara Hasanuddin

V - 36

Tingkat Kenaikan Lali Udara (%)

120% 100% 80% 60% 40% 20% 0%

-20% -40% -60% 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Tahun
Pesawat Penumpang Bagasi Kargo Pos

Gambar 5-23. Trend Kenaikan Arus Lalu Lintas di Bandara Hasanuddin

Tabel 5-18 dan Gambar 5-18 – 5-23, memperlihatkan bahwa kecenderungan atau trend jumlah arus lalu lintas angkutan udara mulai dari jenis penumpang, bagasi, kargo, barang dan barang pos dari tahun 1991 hingga tahun 2005 mempunyai kecenderungan yang relatif sama yaitu mengalami peningkatan dari tahun 1991 hingga tahun 1997. Namun akibat krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1997, maka jumlah arus lalu lintas angkutan udara cenderung mengalami penurunan dari tahun 1997 hingga tahun 1999. Upaya pemulihan ekonomi Indonesia yang dilakukan oleh Pemerintah juga mulai berdampak pada volume arus lalu lintas tranportasi udara, yang diperlihatkan dengan terjadinya peningkatan dari tahun 1999 hingga ke tahun 2004. Namun jumlah volume bagasi penumpang dari tahun 2004 hingga tahun 2005 cenderung relatif turun. 2) Lintasan Rute Maminasata Angkutan Umum Perkotaan Angkutan umum perkotaan adalah angkutan umum yang melintasi 2 atau lebih wilayah administratif kota atau kabupaten yang berdekatan. Dalam hal ini, untuk Kota Makassar terdapat berbagai trayek angkutan umum perkotaan yang bergerak dalam wilayah Metropolitan Mamminasata (Kota Makassar, Kota Maros, Kota Sungguminasa dan Kota Takalar), baik dari jenis kendaraan mikrolet, maupun dari jenis kendaraan bus (Bus DAMRI). Adapaun indikator karakteristik dari angkutan perkotaan yang menuju dan meninggalkan Kota Makassar, diuraikan sebagai berikut : a. Lintasan Rute Lintasan rute dari berbagai trayek angkutan perkotaan jenis mikrolet di wilayah Mamminasata yang berstatus sebagai angkutan dalam propinsi (AKDP) disajikan pada Tabel dan Gambar 5-24.
Tabel 5-19. Lintasan Rute Angkutan Perkotaan di Mamminasata
No 1 2 Nama Trayek Maros – Makassar via Perintis Maros – Makassar via Tol Lintasan Rute Rute Pergi Rute Pulang Terminal Marusu – Jl. TRD – Jl. Perintis K. – Perintis K. – TRD Terminal Marusu Term. Marusu – Jl. Sutami TRD – Jl. Sutami – – TRD Terminal Marusu Term. Bajiminasa – Jl. St. Jl. B. Saraung – Jl. Lompo Alauddin – Jl. A. Tonro – Battang – Jl. BWK – Jl. Jl. Kumala – Jl. Ratulangi Sudirman – Jl. Landak – Jl. – Jl. Sudirman – Jl. B. Veteran – Jl. St. Alauddin – Saraung Ter. Bajiminasa

3

Sungguminasa – Makassar

V - 37

4

Takalar – Makassar

5

Makassar Mall – Sungguminasa

Term.Takalar – Sungguminasa - Jl. St. Alauddin – Jl. A. Tonro – Jl. Kumala – Jl. Ratulangi – Jl. Sudirman – Jl. B. Saraung Term. Bajiminasa – Jl. St. Alauddin – Jl. A. Pettarani – Jl. Urip – Jl. BWK – Jl. Sudirman – Makassar Mall

Jl. Bulusaraung – Jl. Lompobattang – Jl. BWK – Jl. Sudirman – Jl. Landak – Jl. Veteran – Jl. St. Alauddin –Sungguminasa Term. Takalar Makassar Mall – Jl. B. Saraung– Jl. Urip – Jl. Pettarani – Jl. St. Alauddin – Ter. Bajiminasa

Tabel 5-19 di atas memperlihatkan bahwa terdapat 5 trayek angkutan perkotaan jenis mikrolet yang beroperasi yaitu : Trayek Makassar – Maros via Jl. Perintis dan via Jl. Sutami, Trayek Makassar - Takalar, dan Trayek Makassar – Sungguminasa (Gowa) yang terdiri atas jenis moda yaitu moda mikrolet dan moda bus DAMRI.
Terminal Maros

Kondisi Eksisting Rute AKDP Trayek Maros – Makassar

Rute AKDP Trayek Maros – Makassar via Tol Termina l Regiona l Daya (TRD)

Perumahan Sudiang

Pasar Butung

Pasar Pannampu

Rute Trayek Maros – Makassar via Perintis

Eks Terminal Panaikang Makassar Mall

Kampus Unhas

Perumahan BTP

Gambar 5-24a. Lintasan Rute Trayek Makassar - Maros KONDISI Eksisting Rute AKDP Trayek Sungguminasa – Makassar

Ter min al Cap pa Bun gay a

Terminal Malengke Rute AKDPri Trayek Sungguminasa – Makassar

Lapa ngan Kare bosi

RSU Labuang Baji

Gambar 5-24b. Lintasan Rute Trayek Makassar – Sungguminasa

V - 38

Ke Makassar

Gambar 5-24c. Lintasan Rute Trayek Makassar - Takalar

b. Jenis Armada dan Kapasitas Jenis armada dan kapasitas tempat duduk (seat) dari armada angkutan umum perkotaan di wilayah Kota Makassar dan sekitarnya disajikan pada Tabel 5-20 berikut :
Tabel 5-20. Jenis Armada Angkutan Perkotaan di Mamminasata

No

Nama Trayek AKDP Maros – Makassar via Perintis Maros – Makassar via Tol Sungguminasa – Makassar Takalar – Makassar Makassar Mall - Sungguminasa

Jenis Armada

Kapasitas (Seat)

1 2 3 4 5

Mikrolet Mikrolet Mikrolet Mikrolet Bus DAMRI

12 12 12 12 40

Tabel 5-20 memperlihatkan bahwa dari 5 jenis trayej angkutan perkotaan, terdapat 4 trayek dengan jenis armada mikrolet dan 1 trayek dengan jenis bus, dengan kapasitas 12 seat untuk mikrolet dan 40 seat untuk bus. c. Jumlah Armada Jumlah armada angkutan perkotaan baik jenis mikrolet maupun jenis bus di wilayah Makassar dan sekitarnya disajikan pada Tabel 5-21 berikut :

V - 39

Tabel 5-21. Jumlah Armada Angkutan Perkotaan di Makassar No 1 2 3 4 5 Trayek AKDP Maros – Makassar via Perintis Maros – Makassar via Sutami Sungguminasa – Makassar Takalar – Makassar Makassar Mall - Sungguminasa Jumlah Armada (Unit) 423 224 860 298 6

Tabel 5-21 di atas memperlihatkan bahwa jumlah armada angkutan umum perkotaan untuk trayek Maros – Makassar sebesar 423 unit (trayek via Jl. Perintis) dan 224 unit (trayek via Jl. Sutami). Untuk Trayek Sungguminasa – Makassar, terdapat 860 unit bagi jenis armada mikrolet dan 6 unit bagi armada bus. Adapun untuk Trayek Takalar – Makassar, terdapat sebesar 298 unit. 3) Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 2007 Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara (LLAU) Khusus Kedatangan & Keberangkatan di Bandara Hasanuddin Makassar berdasarkan Asal Penerbangan pada bulan April 2007, disajikan pada Tabel 5-22.
Tabel 5-22 Lalu Lintas Berdasarkan Asal Penerbangan April 2007
Asal CGK SUB KDI PLW Kota JKT/SOEKARNO-HATTA SURABAYA KENDARI PALU Aerodrome WIII WARR WAWW WAML WAMM WASS WADD WAPP WABB WAMG WABP WALL WAMT WAWS WASR WARJ WIHH Jumlah 551 265 124 119 108 75 71 67 62 60 56 42 40 33 31 30 13 Asal Kota Aerodrome Jumlah WAMW WRK WIA 9 8 6 4 4 WRRA WAJJ YPDI WATC WARI 3 2 2 1 1 1 WSSS WADB WARA WADA 1 1 1 1 1

LUW LUWUK KOE KUPANG/ELTARI MLG ABDULRAHMAN SALEH RTA RETURN TO APRON XXL LOKAL AMI MATARAM/SELAPARANG DJJ JAYAPURA DRW DARWIN MOF MAUMERE MDN MADIUN RTB RETURN TO BASE SIN SINGAPURA BMU BIMA XMA MADIUN XRE REMBIGA DIL DILLI

MDC MANADO SOQ SORONG DPS DENPASAR

AMQ AMBON BIK GTO TIM BPN TTE SKO BIAK GORONTALO TIMIKA/TEMBAGAPURA BALIKPAPAN TERNATE SOROAKO

MKW MANOKWARI JOG HLP JOGYAKARTA JKT/HALIM PK

Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara (LLAU) Khusus Kedatangan & Keberangkatan di Bandara Hasanuddin Makassar berdasarkan Asal Penerbangan pada bulan April 2007, disajikan pada Tabel 2.45.

V - 40

Tabel 5-23. Lalu Lintas Berdasarkan Tujuan Penerbangan April 2007
Tujuan (*) Kota (*) CGK SUB KDI MDC PLW DPS BIK SOQ GTO TIM AMQ BPN TTE SKO JOG MKW HLP LUW Aerodrome (*) Jumlah Tujuan (*) Kota (*) 548 KOE 292 MLG 125 SOC 123 RTA 118 XXL 69 AMI 62 PSJ 62 KKB 62 KUL 55 MDN 43 DRW 41 RTB 41 DJJ 33 SIN 30 SRG 29 XRE 14 PUM 11 KUPANG/ELTARI Aerodrome (*) Jumlah WRK 8 5 4 4 4 2 1 1 1 WARI YPDI 1 1 1 WAJJ WSSS WARS WADA WAWP 1 1 1 1 1

JKT/SOEKARNO-HATTA WIII SURABAYA KENDARI MANADO PALU DENPASAR BIAK SORONG GORONTALO WARR WAWW WAMM WAML WADD WABB WASS WAMG

ABDULRAHMAN SALEH WIA SOLO RETURN TO APRON LOKAL MATARAM/SELAPARANG WRRA POSO KINIBALU KUALA LUMPUR MADIUN DARWIN RETURN TO BASE JAYAPURA SINGAPURA SEMARANG REMBIGA POMALA WAMP WARQ

TIMIKA/TEMBAGAPURA WABP AMBON BALIKPAPAN TERNATE SOROAKO JOGYAKARTA MANOKWARI JKT/HALIM PK LUWUK WAPP WALL WAMT WAWS WARJ WASR WIHH WAMW

Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara (LLAU) Khusus Kedatangan & Keberangkatan di Bandara Hasanuddin Makassar berdasarkan Operator Penerbangan pada bulan April 2007, disajikan pada Tabel 2.46.
Tabel 5-24. Lalu Lintas Berdasarkan Operator Penerbangan April 2007
Kode (*) Operator (*) LNI MNA GIA BTV SJY XAR DHI WON AFE XAU LION AIR MERPATI GARUDA BATAVIA AIR SRIWIJAYA AIR EXPRESS AIR ADAM AIR WINGS AIR AIR FAST TNI-AU Jumlah Rata #Hari Kode (*) Operator (*) 838 838 510 356 240 140 132 116 100 94 28 28 17 12 8 5 4 4 3 3 PAS MDL TGN XAL XXD XXI TWI XDU XPO RPX PELITA AIR SERV MANDALA AIRLINES TRIGANA AIR TNI - AL POLDA INTERNASIONAL LAIN TRANS WISATA DITJENUD POLRI RPX Jumlah Rata #Hari 87 58 31 13 10 6 6 6 4 2 3 2 1 0 0 0 0 1 0 0

V - 41

2. Kajian Jaringan Listrik Pemenuhan energi dalam bentuk listrik merupakan salah satu indikator kemajuan suatu kota. Pemenuhan

kebutuhan listrik tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga tetapi juga untuk industri. Berdasarkan data BPS 2008 (Gambar 5-25), jumlah pelanggan sambungan baru sebesar 12792 pelanggan sedangkan untuk tambahan daya sebesar 2290 pelanggan dengan jumlah daya listrik yang digunakan sebesar 1.208.539.708 Kwh. Dari tahun 2006 hingga 2008 terjadi peningkatan pelanggan sambungan baru secara signifikan dibandingkan dengan pelanggan tambahan baru. Peningkatan jumlah pelanggan listrik perlu direspon oleh pemerintah guna menjawab kebutuhan listrik masyarakat dengan meningkatkan produksi daya listrik melalui pembangunan pembangkit listrik baru, mengusahakan sumber energi alternatif teknologi elektronik yang hemat listrik. yang dapat dikonversi menjadi energi listrik dan penerapan-penerapan

Gambar 5-25 Pertumbuhan jumlah Pelanggan PLN

(Sumber BPS Tahun 2008)

3. Kajian Jaringan Telekomunikasi Pembangunan sarana komunikasi diarahkan untuk meningkatkan kelancaran arus informasi dari suatu daerah ke daerah lainnya. Kelancaran arus informasi dapat memperlancar aktifitas perekonomian di suatu wilayah. a. Media Pos Bila dilihat dari data kantor pos, pada tahun 2008, banyaknya surat pos yang dikirim secara keseluruhan sebanyak 1.827.858 buah, untuk surat dalam negeri sebanyak 1.812.290 dan 15.568 buah surat luar negeri. Sementara jumlah surat yang diterima secara keseluruhan sebanyak 2.349.581 surat dalam negeri.dan luar negeri. Masing-masing sebanyak 2.331.051 surat dalam negeri dan 18.530 surat luar negeri.
Tabel 5-25 Jumlah penggunaan media komunikasi surat di Kantor Pos

JENIS SURAT POS I. DALAM NEGERI 1.1. BIASA 1.2. KILAT 1.3. KILAT KHUSUS 1.4. TERCATAT BIASA II. LUAR NEGERI 2.1. POS UDARA 2.2. E M S/Biasa 2.3. TERCATAT JUMLAH-Total ( I + II )
Sumber: BPS, 2008

2005 943.656 93.455 356.486 4.671

2006 437.871 135.553 493.546 5.848

2007 1.193.076 146.556 468.719 22.939

2008 1.002.473 112.741 678.637 18.439

0 13.064 13.775 11.432 14.037 2.555 2.913 3.097 3.129 2.621 1.039 1.415.434 1.088.437 1.850.599 1.827..858

V - 42

Gambar 5-26 Grafik Jenis Surat Pos Dalam Negeri

Berdasarkan gambar 5-26 menunjukkan bahwa pemanfaatan telkomunikasi surat pos dalam negeri mengalami fluktuasi dan cenderung menurun. Dengan kemajuan tekhnologi yang super canggih di bidang telekomunikasi memungkinkan surat pos mengalami penurunan, karena dianggap aksesnya cukup lama dengan biaya relatif mahal. Sehingga penggunaan dalam bidang ini kurang diminati lagi oleh masyarakat.

Gambar 5-27 Grafik Jenis Surat Pos Luar Negeri

Berdasarkan gambar 5-27 menunjukkan bahwa penggunaan jasa pos surat untuk akses ke luar negeri di Kota Makassar fluktuatif. Pada tahun 2006 penggunaan jasa EMS cenderung stabil. Perbandingan penggunaan jasa pos udara dengan jasa EMS tahun 2006 – 2008 terlihat cukup signifikan. Jika dilihat dari tahun sebelumnya (tahun 2005) penggunan jasa EMS/biasa sebanyak 14.037 buah, Secara total (gambar 5.28), penggunaan jasa pos surat dalam negeri dan luar negeri di Kota Makassar fluktuatif dalam empat tahun terakhir. Terjadi penurunan dari tahun 2007 ke tahun 2008. Hal ini disebabkan karena penggunaan jasa via pos dianggap sudah tidak efektif lagi. Keberadaan perusahanperusahaanhan serupa (TIKI), juga turut berperan dalam
Gambar 5-28 Grafik Total Jumlah Surat

menurunnya jumlah pengguna surat pos. Apalagi, masyarakat

banyak beranggapan kalau sistem pengiriman melalui perusahan jasa pengiriman swasta ini lebih canggih dan lebih baik dibandingkan dengan jasa pos.

V - 43

b. Sambungan Telepon
Tabel 5-26 Jumlah Sambungan Telepon Kandatel di Kota Makassar

Tahun

Pelanggan

Line in Service

Connected Line 107.414 126.270 129.679 129.033 *) 286.100

2003 101.706 106.206 2004 120.076 124.997 2005 123.376 128.302 2006 122.756 127.707 2007 *) *) 2008 196.787 198.353 Sumber: BPS, 2008 Keterangan: *) tidak ada data

Berdasarkan Tabel 5-26, menunjukkan bahwa jumlah pelanggan sambungan telepon untuk Line in Service Kota Makassar mengalami peningkatan dari tahun 2006 – 2008 sebanyak 70.646 sambungan yang tersebar di seluruh wilayah makassar, sedangkan untuk Connected Line peningkatan tersebut sebanyak 157.067 buah sambungan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kebutuhan masyarakat terhadap sambungan telepon cukup signifikan. c. Gelombang Radio Keberadaan regulasi yang mengatur penggunaan frekuensi radio, telah menertibkan keberadaan stasiun radio yang ada di Kota Makassar. Menurut data yang dilansir dari AC Nielsen, di Kota Makassar saat ini terdapat sekitar 34 Radio siaran yang mengudara pada 3 jenis jenis gelombang. Yaitu MW, SW dan FM. Secara lebih rinci, jumlah stasiun Radio yang mengudara pada MW sebanyak 4 stasiun, di SW 3 stasiun dan pada gelombang FM sebanyak 22 Stasiun Radio.
Gelombang Radio Nama Stasiun Radio RRI PRO 1 Radio Christy Ria Radio Suara As'adiyah Radio Suara Victoria PRO 1 - 4757 kHz PRO 1 - 9552 kHz Radio Forum Madama Radio Rema Radio Fajar Radio Swara Medika Radio Swara Celebes Radio De Javu Radio Tudang Sipulung RRI PRO 4 Radio Nursery Swara Radio PRO 1 Radio Bharata Radio Suara Sonata Two Radio Radio Venus Nusantara Radio PRO 2 Radio Metro Bersatu Radio Delta Radio SQ FM Radio SMART FM Radio Al Ihwan Radio Telstar FM Radio SPFM Radio Merkurius Radio Prambors Radio Gamasi Radio RRI PRO 3 Radio Savana FM Radio Maestro Radio EBS FM Radio Matrix Radio Kharisma

Medium Wave

Tabel 5-27 Nama Stasiun Radio Berdasarkan Gelombang Radio

Short Wave

Frequency Modulation

4. Kajian Sumber Daya Air Bersih

V - 44

Sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat Kota Makassar pada saat sekarang ini yaitu berasal dari sumur, PDAM dan sumur bor. Berdasarkan data dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kota Makassar sampai dengan akhir tahun 2008 jumlah pelanggan PDAM Kota Makassar sebanyak 140.457 pelanggan, dengan jumlah total Air yang disalurkan sepanjang tahun 2008 sebanyak 35.664.607 m3. Persentase volume air terbesar yang disalurkan oleh PDAM adalah pelanggan rumah tangga, persentasenya mencapai 81% dari persentase keseluruhan.

Sedangkan yang lainnya merupakan Pemakaian pelanggan dalam bidang Bisnis, Industri, Pemerintah, Sosial, dengan masing-masing persentasenya mencapai 9%, 1 %, 5%, 4%.

Gambar 5-29 Persentase Volume Air yang disalurkan PDAM untuk Kategori Pelanggan Tabel 5-28 Jumlah Volume Air Minum Yang Disalurkan Oleh Pdam Menurut Bulan dan Nilai di Kota Makassar (2008)

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember jumlah 2008 2007

Volume Air Minum yang Disalurkan (m3) 3.004.802 2.900.389 2.804.968 2.820.618 2.963.584 3.012.564 3.016.120 3.035.097 3.097.750 3.090.143 2.915.915 3.002.657 35.664.607 33.575.620

Nilai (Rp) 10.639.954.777 10.119.771.982 9.702.698.981 9.685.390.315 10.430.304.585 10.476.050.380 10.336.403.474 10.764.369.534 10.917.071.760 10.630.984.861 10.137.044.117 10.575.343.614 124.415.388.380 114.973.934,570

Sumber: BPS, 2008

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah air minum yang disalurkan oleh PDAM sepanjang tahun 20072008 mengalami peningkatan sebesar 3,02% atau sebanyak 2088987 m3. Pemakaian terbanyak terjadi pada bulan September 2008. Sedangkan jika dilihat dari segi Rupiah kenaikan tersebut mencapai Rp 3.943.974.482

V - 45

5. Kajian Jaringan Prasarana Wilayah Kota a. Sistem Drainase Kota Makassar Kanal merupakan jantung dari sistem drainase Kota Makassar. Oleh sebab itu sistem pola air kanal perkotaan lebih diperhatikan guna menjaga kestabilan dan keseimbangan lingkungan. Melihat kondisi real kanal saat ini cukup memprihatinkan, karena telah terjadi sedimentasi dan pencemaran yang menurut standarisasi lingkungan dan kesehatan telah melewati ambang batas. Pendangkalan sedimen bukan hanya di daerah hilir, tetapi juga di daerah hulu. Hal ini di sebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak bersahabat dengan lingkungan, yakni sampah dalam bentuk anorganik. Hal ini sesuai hasil study Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar, bahwa dari 14 kilometer (km) kanal yang membelah kota dari selatan ke utara, Jongaya hingga Pannampu hampir 70 persen di antaranya sudah dipenuhi endapan lumpur. Dari lima sampai enam meter kedalaman kanal, dua sampai tiga meter di antaranya merupakan tanah endapan. "Dengan berkurangnya daya tampung saluran utama (tersier) bisa mempercepat genangan air di wilayah yang berada di seputar kanal," dan ini menjadi ancaman serius terhadap keseimbangan pola air kanal dengan pendangkalan (proses sedimentasi di sepanjang kanal dengan relief rendah). Dengan kondisi seperti ini perlu dilakukan tindakan dan mitigasi sistem pengairan yang tepat dan berbasis lingkungan. b. Sarana Kesehatan Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan bisa dilihat dari 2 aspek kesehatan yaitu sarana kesehatan dan sumber daya manusia. Pada tahun 2008 di Kota Makassar terdapat 15 Rumah Sakit, yang terdiri dari 7 Rumah Sakit Pemerintah/ABRI, 7 Rumah Sakit Swasta serta 1 Rumah Sakit khusus lainnya. Jumlah Puskesmas pada tahun 2008, dari 116 unit puskesmas dapat di kategorikan menjadi 37 puskesmas, 42 puskesmas pembantu dan puskesmas keliling 37 buah. Di samping sarana kesehatan, ada sumber daya manusia di bidang kesehatan seperti dokter praktek sebanyak 3.329 orang dan bidan praktek sebanyak 168 orang. Dalam pelaksanaan Keluarga Berencana (KB), jumlah akseptor KB baru secara keseluruhan pada tahun 2008 sebanyak 39.060 orang yang terdiri dari 1.235 orang memakai IUD, 19 orang memakai MOP, 638 orang memakai MOW, 1.688 orang memakai IMP, 14.551 orang memakai PIL, 21.837 orang memakai suntikan dan 2.672 orang yang memakai kondom. Berdasarkan data dari BPS, 2008 menunjukkan bahwa pengembangan sarana kesehatan tidak hanya dari fasilitas kesehatan yang lengkap namun di picu juga dengan peningkatan kualitas maupun kuantitas dari sumber daya manusianya. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keseimbangan antara pelayanan dokter terhadap pasien. Selain itu peran dokter dan oknum kesehatan lainnya terhadap pemerintah, yaitu dengan menggalakkan program KB guna mengurangi tingkat laju pertumbuhan penduduk. Peran serta ini memberikan dampak yang positif terhadap pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan keluarga sejahterah di Kota Makassar.

V - 46

Tabel 5-29 Sarana Kesehatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 SARANA KESEHATAN Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Jiwa Rumah Sakit Bersalin RS. Khusus Lainnya Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Balai Pengobatan Apotik Toko Obat Dokter Praktek Total Sumber : BPS, 2008 Jumlah (Unit) 16 1 13 1 37 41 39 4 275 85 3329 3841

c. Sarana Pendidikan Pembangunan bidang pendidikan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 menggambarkan peran strategis pendidikan dalam meningkatkan daya saing bangsa pada tingkat dunia. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa pembangunan sumberdaya manusia akan mempengaruhi dan menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial, karena manusia merupakan subyek dan obyek dari seluruh kegiatan produktif tersebut. Berdasarkan data yang ada, partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini berkaitan dengan dengan berbagai program pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah untuk lebih meningkatkan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat mengenyam bangku pendidikan. Keputusan stratejik dalam bidang pendidikan di Kota Makassar telah diambil oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan dengan meluncurkan program pendidikan gratis. Diharapkan dengan adanya program ini rasio tingkat pendidikan yang berhasil ditamatkan penduduk Sulawesi akan terus mengalami peningkatan dan perbaikan. Data tahun 2008/2009 menunjukkan bahwa di Kota Makassar jumlah Sekolah Dasar sebanyak 448 unit dengan jumlah guru sebanyak 5.747 orang dan jumlah murid sebanyak 148.179 orang. Jumlah SLTP sebanyak 172 unit dengan jumlah guru sebanyak 4.369 orang dan jumlah murid sebanyak 59.878 orang. Jumlah SLTA 110 unit dengan jumlah guru sebanyak 1.589 orang dan jumlah murid sebanyak 41.738 orang.
Tabel 5-30 Rasio Jumlah Guru Terhadap Murid

GURU SD SLTP SLTA

MURID

RASIO 1 : 26 1 : 14 1 : 26

5.747 4.369 1.589

148.179 59.878 41.738

Sumber: Analisis Konsultan Berdasarkan Data BPS, 2008/2009

V - 47

Tabel 5-31 Standarisasi Rasio Jumlah Guru Terhadap Jumlah Murid

Tingkatan SD SLTP SLTA

Rasio 1:15 1:13 1:15

Sumber: Diknas,2008

Berdasarkan standarisasi nasional kualitas pelayanan guru terhadap murid dikatakan mendekati kondisi ideal untuk SLTP, dalam artian bahwa tingkat daya serap siswa terhadap materi pelajaran cukup baik. Sedangkan untuk siswa SD dan SLTA, tingkat rasio guru terhadap murid menunjukkan kurang ideal. Dalam artian bahwa efektifitas pelayanan terhadap daya serap materi siswa kurang baik. Semakin kecil rasio guru terhadap murid akan semakin besar tingkat kualitas murid. Usaha yang dilakukan pemerintah terhadap peningkatan mutu pendidikan di Kota Makassar, PEMDA mengaluarkan kebijakan dengan membuka penerimaan CPNS 2009 sebanyak 195 orang untuk golongan strata satu (S1) dan diploma dua (D2) kualifikasi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan keseimbangan rasio guru terhadap murid. Dimana tingkat kebutuhan guru semakin meningkat setiap periode/tahunnya. d. Sarana Peribadatan Perkembangan pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Jumlah tempat peribadatan umat Islam di Makassar sampai dengan tahun 2008 mencapai 1.249 masjid dan 114 musholla. Tempat peribadatan untuk umat lainnya meliputi 32 gereja Katholik, 90 gereja Protestan, 3 Pura, 15 Wihara dan 5 klenteng. Keberadaan tempat peribadatan masing-masing agama yang mengalami peningkatan mengindikasikan bahwa terdapat kebutuhan bagi masyarakat Kota Makassar untuk melaksanakan dan menjalankan agamanya melalui ibadah di tempat peribadatan. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif terhadap ketersediaan sumberdaya manusia yang didukung dengan kesehatan (fisik dan jiwa) dan kesehatan spiritual.
Tabel 5-32 Jumlah sarana ibadah di Kota Makassar
Sarana Peribadatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 KECAMATAN MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR UJUNG PANDANG WAJO BONTOALA UJUNG TANAH TALLO PANAKKUKANG MANGGALA BIRINGKANAYA TAMALANREA Total Mesjid 36 37 104 486 35 21 24 20 33 66 85 78 129 95 1249 0 Langgar Musholla 2 6 15 19 1 14 3 8 3 5 7 3 10 18 114 7 9 90 5 14 2 3 1 4 6 3 3 1 32 2 3 15 5 Gereja Protestan 2 5 1 3 27 15 3 Gereja Katolik 2 1 3 2 1 6 7 3 2 1 Pura Wihara 1 Klenteng

Sumber : BPS 2009

V - 48

G. KAJIAN STRUKTUR DAN PRODUKTIVITAS POLA RUANG Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang dimana pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Pola ruang merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumberdaya alam di suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Dalam UU penataan ruang secara jelas sudah lebih tegas dinyatakan bahwa pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Karakter dan innerbeauty wilayah yang dimiilki merupakan suatu kebanggaan yang harus dimanfaatkan dan lestarikan. Sehingga melahirkan keunggulan-keunggulan yang tentunya dapat membawa nilai positif tersendiri dalam suatu wilayah dalam segala aspek. Wujud dari pola pemanfaatan ruang tersebut teridentifikasi dari keunggulan dan keunikan lokal yang ada, yaitu dengan mengklasifikasikan pola ruang menjadi 12 kawsan terpadu. a. Keunggulan dan Keunikan Lokal Kebutuhan ruang kota berkembang sesuai dengan karakter dan anatomi fisik, sehingga menuntut pemenuhan kebutuhan ruang yang memiliki keunggulan dan keunikan lokal dalam bentuk pembagian kawasan terpadu yang fungsional dan operasional. Secara administratif Kota Makassar terbagi menjadi 13 kawasan terpadu, antara lain: 1) Kawasan Pusat Kota Dengan branding kawasan ‖Karebosi, Pantai Losari dan Fort Rotterdam‖, merupakan kawasan yang tumbuh sebagai pusat kota dengan percampuran berbagai kegiatan, memiliki fungsi strategis dalam peruntukannya seperti kegiatan pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta kegiatan pelayanan kota. Mencakup wilayah Kecamatan Wajo, Bontoala, Ujung Pandang, Mariso, Makassar, Ujung Tanah, dan Tamalate. 2) Kawasan Permukiman Terpadu Dengan branding kawasan ‖LAKUCINI‖ , merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pemusatan dan pengembangan cluster-cluster permukiman atau tempat

tinggal/hunian beserta prasarana dan sarana lingkungannya yang terstruktur secara terpadu. Mencakup wilayah Kecamatan Manggala, Panakukang, Rappocini dan Tamalate. 3) Kawasan Pelabuhan Terpadu Dengan branding kawasan ‖Paotere‖ merupakan kawasan yang diarahkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas kepelabuhanan dan segala

persyaratannya. Mencakup wilayah Kecamatan Ujung Tanah dan Wajo.

V - 49

4) Kawasan Bandara Terpadu Dengan branding kawasan ‖Bandara Internasional Sultan Hasanuddin‖, merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas bandara dan segala persyaratannya. Mencakup wilayah Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea. 5) Kawasan Maritim Terpadu Dengan branding kawasan ‖Politeknik Ilmu Pelayaran‖, merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan kemaritiman yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Biringkanaya. 6) Kawasan Industri Terpadu Dengan branding kawasan ‖Kawasan Industri Makassar (KIMA)‖, merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan industri yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Tamalanrea dan Biringkanaya 7) Kawasan Pergudangan Terpadu Dengan branding kawasan ‖Sutami‖ Adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pergudangan yang dilengkapi dengan kegiatankegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya dan Tallo. 8) Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu Dengan branding kawasan ‖Perguruan-perguruan tinggi‖ , merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pendidikan tinggi yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Panakukang, Tamalanrea dan Tallo. 9) Kawasan Budaya Terpadu Dengan branding kawasan ‖Somba Opu‖,merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan budaya yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalate. Mencakup wilayah Kecamatan

V - 50

10) Kawasan Olahraga Terpadu Dengan branding Adalah kawasan ‖Barombong‖ yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan olahraga yang dilengkapi dengan kegiatankegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalate 11) Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu Dengan branding kawasan ‖Gowa Makassar Tourism Development (GMTD)‖, merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalate. 12) Kawasan Bisnis dan Global Terpadu Dengan branding kawasan ‖Pantai Losari, Center Point Of Indonesia, Trans Studio, merupakan kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan

pengembangan berbagai kegiatan bisnis global yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Mariso. b. Anatomi dan Otonomi Ruang Secara anatomi ruang Kota Makassar yang terbagi menjadi 13 kawasan terpadu, dimana Pantai Losari sebagai identitas Kota Makassar dan Bandara Soekarno-Hattta sebagai Pintu Utama memasuki kawasan-kawasan terpadu lainnya yang ada di Kota Makassar. Operasionalisasi 13 kawasan terpadu ditunjang oleh sektor jalur transportasi darat, laut dan udara yang tidak hanya menghubungkan antar kawasan tetapi juga yang ada diluar kawasan terpadu. Apresiasi tatanan nilai perencanaan yang disegmentasi dalam konotasi otonomi ruang mengandung maksud bahwa nilai-nilai substansial kawasan yang diangkat berdasarkan karakteristik, nilai fungsi ruang berlaku secara penuh dalam formulasi yang utuh dalam peran ruang yang dimainkannya. Dari kebutuhan ini, ruang makassar terpola menurut pemanfaatan dan karakteristik pertumbuhan alami dan buatannya, yang terdiri atas kawasan pulau dengan keunggulan eco-marine, kawasan pantai merupakan daerah front, dimana pantai selatan merupakan perpaduan pertumbuhan pembangunan jasa bertaraf global dan daerah pantai utara Untia merupakan konsentrasi pengembangan kemaritiman serta pembagian daerah lain yang berada dibagian timur Kota Makassar.

V - 51

c. Metamorphosis dan organism ruang Suatu bentuk analisis yang meformulasikan denyut pergerakan atau pertumbuhan suatu kawasan dengan rating waktu tertentu yang disesuaikan berdasarkan kepentingan prioritas pencapaian tujuan ruang dengan

Gambar 5-30 Lapangan Karebosi yang Telah Berkembang Menjadi Pusat Kegiatan Masyarakat dan Kegiatan Perniagaan.

Organism ruang : ruang tersebut hidup tanpa meninggalkan peran lamanya menjadi satu kesatuan system pencapaian tujuannya Time line metamorphosis ruang ekonomi, transportasi, social. Oleh karena itu, arah dan perkembangan ruang Makassar berkembang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pendudukya yang dalam kelanjutannya membutuhkan lahan untuk pemenuhannya. Pertumbuhan pembangunan Makassar turut merubah fungsi dan struktur ruang menjadi lebih bernilai ekonomi tinggi dan juga beberapa diantaranya menyebabkan penurunan kwalitas lingkungan ruang ekologinya. Perubahan fungsi lahan dari resapan air menjadi daerah pemukiman terjadi didaerah Toddopuli, Antang, Kelurahan Bung, dan daerah sekitar sungai Tallo yang kini termanfaatkan untuk pemukiman. Perubahan lahan yang dari lahan kurang produktif menjadi daerah LandBank adalah daerah Tanjung Bunga. Tanjung bunga telah menjadi kota Baru dibagian pesisir selatan Kota Makassar yang mengintegrasikan konsep pembangunan perdagangan (mall GTC), Jasa & Pemukiman (Perumahan Tanjung Bunga) dan wisata bahari (Pantai Akkarena). Perubahan daerah tanjung bunga telah meningkatkan nilai prospectus kawasan terutama didaerah pesisir Makassar yang juga telah memicu bertumbuhnya kawasan Tanjung Merdeka dan Tanjung Bayang sebagai daerah wisata bahari. Berbeda dengan daerah lainnya, Pantai Losari (Anjungan) mengalami pertumbuhan kawasan kearah pantai dengan perluasan reklamasi sejauh 73 meter , dan menyediakan lahan 0,74 ha untuk kebutuhan Anjungan Losari. Konsep revitalisasi losari memicu pertumbuhan kawasan sekitarnya yang ditandai dengan hadirnya gedung convention center (Celebes Convention Centre ) Trans Studio Park, dan rencana kehadiran CenterPoint Of Indonesia yang juga melakukan pembanguan kearah laut dengan rencana luas lahan 150 Ha.

V - 52

d. Positioning dan profesionalisme ruang Dari segi posisinya Kota Makassar sangat diuntungkan karena kota ini merupakan titik pusat antara wilayah barat dan timur serta antara wilayah utara dan selatan. Dengan letak yang strategis kota ini dapat berperan dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik yang bersifat regional maupun internasional serta sebagai pengendali roda kegiatan ekonomi melalui pengembangan agromaritim dan agro industri di kawasan timur Indonesia. Untuk menunjang semua itu diperlukan profesionalisme ruang penataan kawasan yang berdasarkan daya dukung dan fungsi peruntukannya. Adanya dukungan sumber daya hayati laut Kepulauan Spermonde seperti terumbu karang yang memiliki persentase tutupan karang berkisar 5-60% , menjadikan kota ini sebagai salah satu kawasan yang berperan dalam Coralreefs Triangle Initiative (CTI). CTI merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan dalam melestarikan terumbu karang demi kelangsungan keanekaragaman hayati laut. Nantinya CTI ini dapat menjadi ―land mark‖ baru bagi kota ini. Oleh karena itu pengembangan kawasan ini menuntut adanya perlakuan kawasan yang sesuai dengan sumber daya ekologi yang dimilikinya. e. Prospektus dan engineering ruang Sebagai sebuah kota yang ingin dikenal luas secara global, Makassar dituntut untuk memiliki keunggulan-

keunggulan lokal yang bisa diterima secara global. Selama ini Makassar banyak dikenal sebagai kota maritim dengan latar sejarah dan tradisi budaya yang kuat. Keberadaan banyak situs sejarah seperti Benteng Somba Opu, dan Benteng Fort Rotterdam, merupakan bentuk afiliasi masa lalu antara Kota Makassar dengan peradaban dunia luar. Sementara itu, keunggulan Maritim dari Kota Makassar tercermin dari keberadaan kampus PIP yang merupakan Instistusi pendidikan pelayaran terbesar di Asia. Dengan kapasitas yang besar ini, kampus PIP bisa melahirkan alumni-alumni pelayaran dengan keunggulan baik secara kualitas dan kuantitas. Persebaran para alumni PIP di dunia pelayaran global dengan segenap kualitas dan keterampilannya, tentu saja akan turut mempopulerkan nama Kota ini di komunitas dunia. Perubahan visi Kota Makassar untuk bertransformasi menjadi kota dunia yang berlandaskan kearifan lokal,

menuntut adanya tata kelola ruang yang baru. Konsep penataan ruang yang baru itu, tentu saja juga harus mengadopsi tuntutan baru perihal arah pembangunan Kota Makassar sebagaimana yang tertera dalam Visi dan Misi Kota Makassar. Proses tata kelola lahan dan transformasi kawasan merupakan aspek penting yang harus terpenuhi. Diawali dengan analisis terhadap kondisi faktual dan prospek dari setiap lahan yang ada, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan lahan tersebut dengan mengacu pada peruntukan kawasan secara umum. Proses ini lazim

disebut sebagai proses engineering wilayah atau kawasan. Yaitu, bagaimana mentransformasi sebuah lahan untuk bisa mendukung daya guna dan peruntukan kawasan secara umum.

V - 53

f. EcoBisnis dan Tourism Merupakan suatu analisis substansial perencanaan ruang kota yang berkelanjutan dengan memadukan aspek ekologi, bisnis dan tourism satu kawasan. Sehingga nantinya pemanfaaatan ruang tersebut tidak hanya memberikan peluang bisnis bagi para investor dan peluang peningkatan nilai ekologi satu kawasan, tetapi memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut sebagai sarana pariwisata yang mampu menghilangkan kejenuhan yang dialami masyarakat perkotaan dan menciptakan akselerasi pemanfaatan kawasan. g. Bioritmik dan Ekoritmik Karakteristik bioritmik dan ekoritmik merupakan pola alami ruang yang terbentuk dari keberadaan ekosistem darat, ekosistem pesisir, ekosistem estuaria, ekosistem laut dangkal dan ekosistem terumbukarang yang

melengkapi keutuhan Makassar sebagai daerah maritime dengan potensi ekologi dan bioekologi tinggi yang menunjang produktivitas lahan dan tersedianya fauna atau biota yang hidup. Kawasan pantai memiliki pendekatan atas usaha memanfaatkan lahan untuk pembangunan, dan menjaga karakteristik ekosistem pantai dengan usaha mengurangi dampak pencemaran yang dapat terjadi akibat buangan, sehingga dalam pengelolaan kawasan pantai system ekologi kawasan harus diadopsi untuk menunjang keberlanjutan lingkungan pantai. H. KAJIAN TATA GUNA LAHAN Sebagai kota metropolitan di kawasan Timur Indonesia, Kota Makassar memiliki luas lahan keseluruhan mencapai ± 17.577 Ha. Mayoritasnya merupakan lahan-lahan yang sudah terbangun, dengan komposisi ruang padat dan ruang kosongnya relatif besar perbedaannya. Pengaruh urbanisasi yang kian meningkat, mempengaruhi pola pemanfaatan lahan di ruang kota. Sehingga mengakibatkan tingginya penggunaan lahan atau terjadi peralihan fungsi ruang kota menjadi kawasan pemukiman. Seperti jalur hijau yang banyak diubah fungsikan menjadi tempat bermukim dan atau menjadi tempat berusaha. Berikut ini penggunaan lahan yang ada di Kota Makassar (Tabel 5-33 )
Tabel 5-33 Penggunaan Lahan di Kota Makassar
Penggunaan Lahan Luas Area (Ha) Persentase Terhadap Luas Kota Makassar (%) 42,5

Pekarangan/Lahan untuk Bangunan dan Halaman Sekitarnya Tegal / kebun / ladang / huma Lahan sawah Penggembalaan padang rumput Lahan sementara tidak diusahakan Lahan tanaman kayu – kayuan Perkebunan Rawa – rawa ( yang tidak ditanami )

7.481 1.016 2.700 194 104

5,8 15,4 1,1 0,6

Tambak Kolam / tebat / empang Lainnya

1.360 4.722

77 26,9

Sumber Makassar dalam Angka Tahun 2008

V - 54

Selain faktor urbanisasi, pengalihfungsian lahan juga dipengaruhi oleh faktor tingkat aktivitas dan kepentingan masyarakat di dalamnya, sehingga berdampak pada metamorfosis ruang kota. Beberapa daerah tersebut diantaranya : a. Daerah tambak yang berada di sebelah utara kota telah berubah menjadi daerah pemukiman penduduk. Hal ini disebabkan karena produktivitas tambak menurun yang diakibatkan oleh tingginya pencemaran air dan tanah di daerah tersebut serta miskin kandungan unsur hara. Untuk itu perlu dilakukan pemindahan kawasan budidaya ke daerah lain yang masih produktif. b. Daerah kawasan hijau yang berada disebelah timur dan tengah kota telah berubah menjadi daerah pemukiman. Hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya daerah resapan air. Untuk itu dibutuhkan suatu usaha pembangunan media penyimpanan air (water storage) /situ/bendungan pada kawasan yang belum terbangun (dapat dilihat pada Gambar 5.31)

Gambar 5-31 Peta Kawasan Tidak Terbangun Kota Makassar, 2007

c. Perkembangan Kota Makassar ke wilayah Timur didominasi oleh pembangunan ruko dan mengambil pola umum linear dengan mengikuti ruas jalan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pembangunan yang tidak terarah pengambilan lahan yang kurang sesuai. d. Pola pembangunan yang tidak teratur juga terdapat di Kecamatan Mariso. Tepatnya di sekitar pelabuhan Paotere hingga ke pinggiran kanal. Pembangunan yang tidak tepat di kawasan ini telah mengakibatkan penurunan nilai aksesibilitas dan estetika ruang kota, serta penurunan kestabilan lereng di sekitar daerah aliran sungai akibat telah bertransportasi pemukiman penduduk. e. Perkembangan Kota Makassar ke wilayah Barat ditujukan ke arah bisnis jasa yang ditandai dengan banyaknya restoran dan hotel, yang memberikan kontribusi buangan limbah ke perairan Pantai Losari. I. KAJIAN BENCANA DAN UPAYA MITIGASI a. Bahaya Kenaikan Muka Air Laut (Sea level rise) Kenaikan muka air laut tinggi telah terjadi dibeberapa daerah dan pulau di Indonesia, seperti hilangnya salah satu pulau di Maluku, di Pulau Bonetambung Makassar telah terjadi perubahan garis pantai dan air masuk hingga daratan pulau. Untuk daerah pesisir Makassar ancaman terbesar berada dipantai Selatan yaitu Tanjung Bunga dan Pantai Akkarena yang saat ini juga dipengaruhi oleh abrasi pantai. Hal ini juga akan semakin parah karena pantai tersebut tidak memiliki pelindung pantai seperti mangrove ataupun tanggul laut yang dapat meredam gelombang

V - 55

pantai dan mengurangi pengaruh kenaikan muka air laut. Sementara dipantai bagian Utara yang merupakan pantai landai, telah terdapat vegetasi mangrove sebagai barier atau penghalang walaupun dalam jumlah kepadatan yang semakin menurun. Dalam analisis ilmuwan didunia melalui forum UNFCC, bahwa dalam 100 tahun kedepan kenaikan muka air laut setinggi 110 cm sebagai akibat peningkatan suhu global sebesar 6o C, dan kejadiannya akan mengancam pulau dan daerah pesisir yang dapat merendam daratan hingga batas ketinggian diatas muka air laut rata rata. Untuk daerah Makassar dengan ketinggian muka air laut rata rata saat ini dalam kisaran 157 cm, maka dalam prediksi 100 tahun kedepan, tinggi muka air laut rata rata meningkat hingga 267 cm, yang mengakibatkann ancaman terhadap daerah relief rendah dan ketinggian diatas permukaan air laut dibawah 2,5 meter. Adapun daerah yang terancam bencana kenaikan air laut adalah sebagai berikut:
Tabel 5-34 Ancaman Sea Level Rise

Sumber:Badan Pusat Statistik 2009

Gambar 5-32 Peta Ancaman Kenaikan Muka Air Laut, 2007

V - 56

Gambar 5-33 Upaya Mitigasi Ketinggian Muka Air Laut dengan Pembangunan Revitalisasi Pantai Losari

b. Bahaya Banjir Kejadian banjir berpotensi terjadi pada daerah dengan serapan rendah dan daerah sekitar sungai yang terjadi akibat meluapnya air melewati badan sungai pada waktu musim hujan dan mengakibatkan genangan yang biasa disertai dengan lumpur. Ruang rencana berada pada daerah dengan vegetasi yang baik dengan tumbuhan alami mangrove, merupakan daerah yang jauh dari titik banjir ataupun sumber genangan. Titik genangan yang berpotensi banjir terletak dibagian Antam dan Tamalanrea sebelah timur Kota Makassar , serta di DAS Sungai Tallo, sementara kemungkinan terjadinya luapan yang berasal dari kanal juga sangat rendah dimana kanal terdekat berada di daerah Pannampu yang bermuara di laut.

Gambar 5-34 Peta Potensi Banjir Kota Makassar, 2008 (Sumber : Hasil Penelitian)

V - 57

Kota Makassar termasuk daerah yang rawan dengan bahaya banjir dan genangan air. Selain karena wilayahnya memang berada dekat dengan pantai dan berada pada dataran rendah juga menjadi tempat muara dari beberapa sungai (Jeneberang dan Tallo) didalamnya. Setelah kejadian longsoran Gunung Bawakaraeng, hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir itu pada umumnya terjadi pada bulan Desember- Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap tahunnya. Beberapa banjir besar yang pernah terjadi di antaranya adalah pada tahun 1967 dan tahun 1976, sedangkan pada tahun 1983 dan 1986 telah pula terjadi banjir yang walaupun tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1976. Banjir yang cukup besar yang terjadi di Kota Makassar beberapa tahun terakhir ini adalah yang terjadi pada tahun 1999 dan tahun 2000, dimana sebagian besar wilayah kota mengalami kebanjiran Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir pada umumnya merupakan

daerah rendah,dahulu berupa empang atau daerah rawa-rawa yang kemudian berkembang menjadi daerah permukiman. Daerah-daerah itu terletak di sepanjang daerah aliran Sungai Tello dan daerah aliran Sungai Jenneberang serta sepanjang Sungai Pampang. Daerah langganan banjir selanjutnya adalah daerah-daerah hulu atau bagian tengah dari suatu daerah layanan (catchment area), daerah tersebut seperti kawasan Antang, Minasa Upa dan lain-lain. Langganan banjir lainnya adalah sekitar Pelabuhan dan sekitar Jalan Tol dan beberapa kawasan kota lainnya Dengan adanya genangan di beberapa lokasi di Kota Makassar terutama di kawasan wilayah kota baru merupakan salah satu indicator kemampuan drainase yang ada saat ini tidak mampu lagi menampung arus air, baik saluran primer maupun saluran sekunder. Faktor utama yang mengakibatkan terjadinya genangan adalah air hujan tidak mengalir karena disebabkan di samping topografi yang relatif datar juga karena kemampuan saluran itu sendiri. Saluran kanal yang ada di Kota Makassar (Tabel 18.2) tidak dapat berfungsi secara optimal untuk dapat menampung buangan saluran primer dan sekunder karena banyaknya sampah yang menghambat aliran air buangan. Kejadian banjir saat ini telah berkurang intensitasnya akibat keterlambatan musim hujan, namun perlu dipertimbangkan akan hujam yang datang secara tiba tiba yang dapat mengakibatkan banjir, daerah daerah potensi banjir tinggi memerlukan pengendalian fisik lingkungan yang adaptif terhadap banjir berupa saluran tertutup dan saluran drainase yang dalam dan lebih lebar. Potensi terhadap kejadian banjir juga dimiliki oleh daerah dengan zona resapan rendah, terutama pada daerah dengan ketinggian lebih rendah dari daerah sekitarnya yakni bagian utara dari Kecamatan Panakkukang, bagian barat dan timur Kecamatan tamalanrea serta bagian utara dan barat dari Kecamatan Biringkanaya. Daerah ini disusun oleh litologi batuan vulkanik dimana sebagian besar lahannya digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkantoran, naiaga pemukiman dan pendidikan. Walaupun wilayah ini tergolong zona resapan rendah termasuk daerah berpotensi banjir, namun beberapa lokasi kecil peluangnya untuk mengalami banjir. Hal ini dapat terjadi karena daerah tersebut berada pada topografi yang cukup tinggi. Berdasarkan zonasi tersebut diketahui bahwa wilayah yang perlu dikonservasi sebagai daerah resapan dan cocok untuk pengembangan adalah wilayah dengan luas lahan terbuka yang cukup lebar, laju infiltrasi tinggi dan dengan kondisi topografi tinggi. Wilayah - wilayah tersebut diantaranya adalah di Kecamatan Manggala dan Biringkanaya.

V - 58

Gambar 5-35 Peta Laju Infiltrasi, 2008 (Sumber : Hasil Penelitian)

Gambar 5-36 Peta Resapan Air Kota Makassar, 2008 (Sumber: Hasil Penelitian)

Zona laju infiltrasi tinggi dengan nilai berkisar antara 80,1 – 124 mm/jam. Zona ini menempati wilayah bagian barat, sebagian kecil d bagian tenggara dan utara Kota Makassar. Litologi penyusun umumnya adalah endapan aluvial berupa endapan pasir pantai dan sungai. Kondisi topografi bergelombang lemah ingá datar. Zona laju infiltrasi sedang dengan nilai berkisar antara 40,1 – 80 mm/jam. Zona ini menempati wilayah bagian tengah dan bagian timur Kota Makassar. Batuan penyusun zona ini adalah umumnya endapan aluvial rawa dengan kemiringan lereng landai.

V - 59

Zona laju infiltrasi rendah dengan nilai antara 0,1 – 40 mm/jam. Zona ini menempati wilayah yang luas yaitu sebagian besar wilayah utara, tengah dan timur Kota Makassar. Wilayah ini tersusun oleh batuan vulkanik, aluvial rawa dengan kondisi muka iartanah sangat dangkal dan bahkan berupa daerah rawa. Walaupun berada pada elevasi yang tinggi, karena kelerengan agak besar dan tutupan soil agak tipis, maka laju infiltrasinya rendah. Penentuan zona didasarkan pada tingkat laju infiltrasi, luas lahan terbuka, kedudukan muka air tanah dan kondisi topografi daerah tersebut. a). Zona resapan tinggi terutama berada di Kecamatan Manggala dan Tamalanrea bagian timur, Tamalate bagian selatan serta sebagian kecil dari Kecamatan Rappocini dan Biringkanaya dengan luas 245,82 ha. Kriteria penetapan wilayah ini memiliki laju infiltrasi tinggi, lahan terbuka yang cukup luas serta kondisi topografi yang tinggi. Jika hujan turun, besar kemungkinan daerah - daerah ini akan terbebas dari banjir karena kemampuannya untuk menampung curah hujan tinggi. b) Untuk kategori daerah dengan zona resapan sedang berada di Kecamatan Biringkanaya bagian timur. Luas wilayah yang termasuk kedalam zona ini adalah 3360,97 Ha. Lahan terbuka yang ada di daerah ini masih terbilang luas dan laju infiltrasinyapun termasuk dalam kategori sedang. c) Daerah lainnya yang berada di koridor tengah memanjang ke bagian Utara Kota Makassar, termasuk dalam kategori daerah zona resapan rendah. Luas wilayah zona ini adalah 4955,23 Ha. Wialayah ini meliputi Kecamatan Manggala bagian barat, Panakkukang, Tamalanrea dan Biringkanaya, yang dicirikan oleh laju infiltrasi rendah dan kelembaban tanah tinggi (berada pada daerah pengaliran sungai dan sebagian besar lahan di daerah ini digunakan untuk kegiatan pertanian dan perkotaan) c. Kemungkinan Bahaya Longsor Daerah Untia merupakan relief datar dengan tingkat kemiringan 0-2% berada dalam daerah aman terhadap lonsoran. Daerah lonsor umumnya terjadi pada daerah dengan kemiringan lereng diatas 40% sebagaimana kejadian di tahun 2004 di Gunung Bawakaraeng Kabupaten Gowa. Pantai Untia berada pada ruang pesisir sehingga sangat aman dari bahaya lonsor yang selama ini banyak terjadi pada daerah pegunungan dengan tingkat kemiringan lahan yang tinggi, oleh karenanya dengan kemiringan tersebut memungkinkan adanya pemanfaatan ruang yang aman dari bencana alam seperti longsor.

Gambar 5-37 Peta waduk Bili-bili

V - 60

Longsoran Gunung Bawakaraeng ini meluncurkan 300 juta m3 tanah dan pasir melalui Sungai Jeneberang atas – Waduk Bili-bili – Sungai Jeneberang bawah, yang bermuara di Makassar akan memberi dampak perubahan besar terhadap morfologi pantai Makassar Terjadinya Longsor Gunung Bawakaraeng telah meluncurkan ± 300 juta m3 tanah dan pasir melalui Sungai Jeneberang atas – Waduk Bili-Bili - Sungai Jeneberang bawah, yang bermuara di Makassar akan memberi dampak perubahan besar terhadap morfologi Pantai. d. Kemungkinan Bahaya Gempa

Kedalaman < 50 Km 50 - 100 Km 100-200 Km 200-300 Km > 300 Km Km

Gambar 5-38 Peta Sebaran Gempa yang Pernah Terjadi di Pulau Sulawesi

Berdasarkan hasil Simulasi WinITDB (version 5.11 of July 31, 2004) (Gambar 5-38) terlihat bahwa Makassar aman dari ancaman gempa, sehingga sangat prospectus untuk pengembangan kawasan PIP Makassar. Daerah rawan gempa yang terdekat berada di (Teluk Mandar) sebelah barat kawasan dengan jarak cukup jauh yaitu ± 250 Km dan pusat gempa berkisar pada kedalaman 50 – 100 Km. Meskipun Makassar aman dari ancaman gempa, tetapi tetap harus mempertimbangkan prinsip mitigasi dalam merancang kawasan ini. Strategi mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana sebagai berikut: 1) Zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan penggunaan lahan 2) Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan 3) Pembangunan fasilitas umum denggan standar kualitas yang tinggi 4) Masyarakat waspada terhadap resiko gempa bumi e. Kemungkinan Bahaya Tsunami Meskipun berada dalam Ring of fire, Makassar tidak memiliki gunung aktif yang berpotensi menimbulkan gempa dan tidak terdapat gunung berapi dan daerah vulkanik yang aktif dalam kawasan darat dan laut. Kota Makassar hanya mendapat pengaruh dari aktivitas gunung berapi atau daerah vulkanik yang aktif di daerah Majene (Teluk Mandar) dengan potensi pengaruh kecil karena berjarak jauh 250 Km dikedalaman < 50, dan 50-100 m. Kejadian gempa yang terjadi di daerah Ring of Fire yang terdapat dalam lingkup Pulau Sulawesi dan sekitarnya memiliki pengaruh sangat rendah tehadap ruang rencana oleh karena jarak dari lokasi yang sangat jauh dan intensitas rendah.

V - 61

Intensitas Tsunami 3-4 2.5 - <3 1 - <2.5 0 -1 - >-2 Km

Gambar 5-39 Peta Sebaran Tsunami di Pulau Sulawesi

Berdasarkan hasil Simulasi WinITDB (version 5.11 of July 31, 2004) (Gambar 5-12) terlihat bahwa Kota Makassar cukup aman dari ancaman tsunami, tetapi harus tetap mempertimbangkan kemungkinan adanya ancaman gelombang kiriman dari pusat kejadian. Ancaman kawasan perencananaan terhadap bahaya tsunami berada di sebelah Selatan yaitu sumbawa (sebelah Selatan kawasan perencanaan, karena titik tsunami yang berada di Sumbawa memiliki intensitas tsunami yang tinggi. Untuk melihat pengaruh terjadinya tsunami terhadap kawasan perencanaan dapat dilihat pada simulasi pergerakan gelombang akibat tsunami di beberapa titik tsunami yang terdekat, seperti dibawah:

5-40a

5-40 b

Gambar 5-40 a. Simulasi pergerakan gelombang tsunami berpusat di Donggala (Sulteng) Gambar 5-40 b. Simulasi pergerakan gelombang yang berpusat di daerah Toli-Toli {Pada titik tsunami pada titik ini mempunyai intensitas tsunami (2 – >3), untuk titik kejadian di barat Laut Flores gelombang yang dimunculkan tidak terlalu berpengaruh dengan lokasi perencanaan}

V - 62

5-41 a

5-41b

Gambar 5-41 a. Simulasi pergerakan gelombang tsunami berpusat di barat Laut Flores Gambar 5-41 b. Simulasi pergerakan gelombang yang berpusat di daerah Majene {Pada titik tsunami pada titik ini mempunyai intensitas tsunami (1 – <2.5), untuk titik kejadian di barat Laut Flores gelombang yang dimunculkan tidak terlalu berpengaruh ke kawasan, tetapi pengaruh cukup besar datang dari titik kejadian di Majene dengan bangkitan gelombang yang cukup besar}

5-42a

5-42b

Gambar 5-42 a. Simulasi pergerakan gelombang tsunami berpusat di daerah Maluku, Gambar 5-42b. Simulasi pergerakan gelombang yang berpusat di daerah Buol - Toli-toli {Pada titik tsunami pada titik ini mempunyai intensitas tsunami yang cukup tinggi (1 – <2.5). terlihat pada kedua gambar bahwa bangkitan gelombang yang dimuncul dari titik kejadian di Maluku lumayan besar, sedang dari titik Buol – Toli-toli kurang berpengaruh }

V - 63

Melihat

ancaman tsunami cukup berpegaruh ke daerah kawasan walapun bukan pusat lokasi, maka ancaman

tsunami harus dipertimbangkan dalam setiap aktivitas pembangunan fisik di Kota Makassar. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana tsunami sebagai berikut a. Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami b. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai meredam gaya air tsunami c. Perancangan bangunan yang tahan terhadap bahaya tsunami d. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda tsunami e. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami Kekuatan Tsunami sangat bergantung pada kekuatan gempa bawah laut, patahan dan intensitas letupan serta jarak pengaruh terhadap daerah sekitar. Kejadian Tsunami di Aceh yang terjadi di tahun 2004 sebelah barat Indonesia menjadi momentum antisipasi dalam perencanaan kawasan. Keberadaan ruang rencana yang terletak pada bagian tengah merupakan zona aman terhadap kejadian Tsunami oleh karena tidak berada dalam gunung aktif bawah laut, sumber terjadinya tsunami terdekat berada di laut Flores dan Teluk Mandar. Laut Flores berada dibagian Selatan Kota Makassar memiliki pengaruh akan intensitas tinggi untuk mendapatkan pengaruhnya oleh karena penjalaran gelombang langsung masuk kedalam selat Makassar. Potensi tsunami yang terjadi di daerah lain di Indonesia patut kita adaptasi untuk itu dengan memperhatikan:  Perancangan bangunan yang tahan terhadap bahaya tsunami  Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda tsunami  Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami f. Kemungkinan Bahaya ROB Bahaya limpahan air pasang surut yang terjadi akibat naiknya pasang surut yang disertai dengan genangan air pada saat hujan sehingga mengakibatkan daerah mendapatkan limpasan air yang berasal dari air laut. Kejadian ini

berpotensi terjadi pada daerah pesisir yang rendah dan tidak memiliki saluran pembuangan air baik, daerah dengan penurunan permukaan pantai, daerah tanpa perlindungan fisik dari arus pasang air laut dan daerah pesisir dengan ruang esapan rendah. Kawasan Tallo pantai utara dan dan kawasan tanjung bunga pantai selatan Kota Makassar merupakan daerah dengan garis pantai rendah dan memungkinkan adanya bahaya banjir ROB yang masuk lewat saluran drainase, sungai dan outlet kota yang dapat membahayakan pemukiman masyarakat. Tumbuhan mangrove di pantai utara Makassar menjadi barier terhadap arus pasang sehingga air tidak masuk jauh kedaratan. Kawasan Untia miliki potensi sangat rendah akan bahaya Rob oleh karena adanya barier mangrove sepanjang garis pantai. g. Kemungkinan Bahaya Abrasi Mengidentifikasi abrasi dilakukan dengan melihat faktor-faktor kejadiannya. Kawasan pantai Makassar dapat dibagi atas daerah pantai utara yang diwakili pantai untia, dan pantai selatan merupakan daerah tanjung bunga. Pantai Untia merupakan daerah teluk yang menjorok masuk kedalam daratan memiliki pengaruh gelombang rendah karena telah hanya mendapat pengaruh dari ombak pecah dengan tinggi gelombang interval 1,1 sampai 1,5 m, sementara arus yang terjadi sekitar pantai Untia juga dengan kecepatan rendah berkisar 0,051 sampai 0,10 m/det (76,79 %). Meskipun arus tergolong rendah namun untuk ruang rencana patut mempertimbangkan akan arus residu yang merupakan arus sisa saat terjadnya pasang yang mengarah keutara berupa arus susur pantai. Di sekitar ruang pantai utara tidak terdapat daerah abrasi, yang diketahui melalui adanya tumbuhan mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantai dan agent transpor sedimen dengan kekuatan relatif rendah.

V - 64

Gambar 5-43 Peta titik terjadinya abrasi pantai di Kota Makassar, 2008

Pantai selatan Makassar dengan daerah Pantai Maccini Sombala (Tanjung Bayang, Pantai Akkarena, Tanjung Bunga dan Pantai Losari) merupakan daerah berpasir dengan tingkat kemungkinan abrasi tinggi karena daerah ini memiliki porositas tinggi. Karakteristik angkutan sedimen mempengaruhi kejadian abrasi terutama didaerah tanjung bunga dan Akarena. Pantai terkikis dan sedimenya terdistribusi kearah utara dan masuk kepantai losari. Proses tersebut dijelaskan dalam proses angkutan sediment. Angkutan sedimen di pantai Tanjung Bayang, Pantai Akkarena, dan Tanjung Bayang banyak terakumulasi di Pantai Losari dan daerah pelabuhan. Daerah Tanjung Bayang yang banyak mendapat akumulasi lansung dari sungai

Jeneberang berkisar 94.53 gr/L/Hari, Pantai Akkarena dengan angkutan tertinggi 245.09 gr/L/Hari dan Tanjung Bunga berkisar 119.144 gr/L/Hari. Sedangkan Pantai Losari yang kini lebih sebagai bejana sedimen akibat kondisi perairan yang semi tertutup lebih rendah di banding pantai yang lain, yaitu 11.3706 gr/L/Hari akibat jarak antara muara sungai Je’neBerang sebagai sumber sedimen sangat jauh dan kondisi perairan yang sangat tenang dan tidak banyak mendapat pengaruh dari faktor oseanografi seperti arus perairan yang merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam proses transport sedimen. Tanjung Bayang dengan panjang pantai +1,20 Kilometer berada pada bagian utara sungai Jeneberang memiliki tekstur pasir, Lankoke (2006) menuliskan bahwa Tanjung Bayang dicirikan oleh morfologi pantai yang bervariasi dari pantai yang bergelombang kuat, bergelombang lemah sampai pantai lurus dengan kemiringan dasar pantai bervariasi, landai, sedikit terjal hingga relatif lebih terjal. Faktor faktor yang mempengaruhi angkutan sedimen, oleh dinamika air laut di mana air laut banyak mendapat pengaruh ekstrinsik seperti keadaan keadaan atmosfer sangat menentukan kondisi ini, angin, curah hujan, musim dan lain sebagainya. Angin berhembus dengan arah dominan dari barat laut dan di ikuti dari barat serta barat daya telah membuat pola arus yang bergerak dari selatan pantai menuju utara pantai Makassar.

V - 65

Gambar 5-44 Gradasi perubahan garis pantai di Pesisir Tanjung BUnga dari tahun 1989—2004

Pola tersebut membentuk sebaran angkutan sedimen dan proses terjadinya perubahan garis pantai (erosi dan akresi) yang ada di sepanjang pantai tanjung bayang hingga pantai Losari Makassar. Kondisi pantai yang terbuka di Tanjung Bayang, Pantai Akkarena dan Tanjung Bunga sangat memudahkan terjadinya perubahan garis pantai oleh tenagatenaga pengangkutan, pada pengamatan selama penelitian di dapatkan adanya daerah-daerah yang tererosi dengan potensi keberlanjutan erosi yang semakin meningkat. Peningkatan kejadian semakin berkurangnya daratan di sekitaran Tanjung Bunga di juga di sebabkan oleh kurangnya deposisi sedimen yang berasal dari sungai Jeneberang sehingga kalau dulunya terjadi akresi hingga membentuk delta yang sangat besar sekarang justru sebaliknya, terjadi setelah adanya bangunan bendungan Bili Bili di aliran sungai Jeneberang dan penutupan muara sungai bagian utara. Peningkatan sedimen tersuspensi di pantai Losari oleh karena daerah ini merupakan daerah yang menampung banyak jenis sedimen tersuspensi dari berbagi sumber yang didukung dengan semakin melemahnya arus didaerah tersebut. h. Kemungkinan Bahaya Angin Topan Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis antara garis balik utara dan Selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa yang banyak terjadi di dataran asia Timur seperti Cina dan Jepang. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai. Makassar berada dibawah garis katulistiwa dengan kecepatan maksimum angin yaitu berkisar antara 15-39 m/det, terjadi pada bulan Desember hingga Bulan Februari, dengan kecepatan angin rata rata 2,9 m/det relatif, dengan interval nilai kecepatan angin maksimum ini dapat dikatakan di Makassar tidak terjadi angin topan.

V - 66

i. Bahaya Kebakaran Kebakaran merupakan kejadian yang diakibatkan adanya pemicu api, udara dan dan material. Kebakaran di Kota Makassar umumnya terjadi pada pemukiman padat, daerah pergudangan, dan daerah perniagaan tradisional (Pasar). Hingga tahun 2008, tercatat 63 kasus kebakaran dengan factor kejadian berupa, sambungan listrik yang kurang bagus sehingga memicu koslet dan arus pendek, akibat kelalaian pada alat rumah tangga seperti kompor yang meledak, Dan kasus kebakaran tertinggi adalah listrik yang dipicu dari arus pendek sebanyak 49 kasus sepanjang tahun. Dari segi besar dampak kebakaran,ditahun 2008 tercatat 185 orang meninggal dunia saat kejadian kebakaran di Tallo. Kecamatan Tallo merupakan daerah padat pemukiman dan sambungan listrik yang belum tertata bai, sehingga terdapat sambungan liar yang dapat memicu terjadinya arus pendek.
Tabel 5-35 Penyebab Kebakaran di Kota Makassar tahun 2008

NO KECAMATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR UJUNG PANDANG WAJO BONTOALA UJUNG TANAH

Listrik
2 1 6 4 2 5 4 2 4 5 3 7 4

PENYEBAB KEBAKARAN Kompor Minyak Kompor Gas Lampu Minyak JUMLAH
1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 7 5 4 6 4 0 2 6 8 3 7 6

10 TALLO 11 PANAKKUKANG 12 MANGGALA 13 BIRINGKANAYA 14 TAMALANREA

JUMLAH TAHUN 2008
TAHUN 2006

49 43

7 14

6 2

1

63
59

Sumber : data Badan Pusat Statistik, 2008

Dari tahun 2006 hingga tahun 2008, kasus kebakaran semakin meningkat jumlahnya, oleh karenanya persmasalahan kebakaran harus dijawab dengan strategi ruang nyang adaptif terhadapp kebakaran dengan menyediakan fire alarm kawasan, hydrant fire dan zona evakuasi untuk daerah yang rentan kebakaran. j. Bahaya konflik Sosial
Tabel 5-36 Jumlah Pelanggaran Hukum dan Konflik Sosial yang Terjadi di Kota Makassar.
JENISKEJAHATAN/ NO PELANGGARAN 1 KEBAKARAN 2 PERZINAHAN 3 PERJUDIAN 4 PEMBUNUHAN 5 PENGANIAYAAN BERAT 6 PENGANIAYAAN RINGAN 7 PENCURIAN BERAT 8 PENCURIAN RINGAN 9 PENCURIAN DENGAN KEKERASAN 10 PENGGELAPAN 11 PENIPUAN 12 PENGRUSAKAN 13 PENADAHAN 14 KEJAHATAN 15 PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR 16 PELANGGARAN LALU LINTAS 17 KECELAKAAN LALU LINTAS JUMLAH 2006 55 29 86 30 803 405 640 756 390 374 703 187 2 315 379 35000 442 40596 14 19 81 39 615 378 246 362 95 249 432 134 13 236 47 32039 308 35307 2007 36 23 83 23 643 317 715 705 368 352 705 171 14 1806 372 33125 704 40162 8 17 70 31 476 296 321 336 104 184 356 108 16 1366 37 31343 528 35597 31 14 85 22 405 194 468 481 335 214 371 76 4 1318 382 20974 680 26054 2008 6 6 70 22 285 164 252 250 86 140 201 44 9 1133 43 19771 486 22968
Dilaporkan Diselesaikan Dilaporkan Diselesaikan Dilaporkan Diselesaikan

V - 67

Makassar sebagai daerah pembauran warga dari multietnis, menempati perkotaan dengan kebutuhan tinggi dan tingkat persaingan hidup yang juga semakin meningkat tiap tahunnya akibat kepastian pendapatan yang rendah dan tuntutan kebutuhan tinggi. Jelas ini mengawali munculnya polemic social dari kemiskinan dan rendahnya kualitas sumberdaya serta kurang berfungsinya nilai budaya dan hokum dalam masyarakat menyebabkan Kota Makassar memiliki 17 jenis kajahatan atau pelanggaran, dengan jenis pelanggaran tertinggi yaitu pelanggaran lalulintas sejumlah 20974 kasus yang dilaporkan dan diselesaikan sejumla 19771 kasus. Untuk kasus tindak kejahatan

terhadap masyarakat, berupa penganiayaan berat dan pencurian ringan yang masing masing sejumlah 405 kasus dan 481 kasus, sementara kasus dengan tingkat pelaporan terendah yaitu permasalahan penadahan dengan jumlah pelaporan 4 kasus.

J. KAJIAN KEMAMPUAN LAHAN a. SKL morfologi

Gambar 5-45 Peta SKL Morfologi, 2008

Berdasarkan gambar 5-45, kawasan Makassar sebagian besar memiliki kemampuan lahan morfologi sedang. Dalam artian bahwa tingkat kemiringan lereng daerah tersebut berkisar 0-2% dengan topografi relief datar. Kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan daerah pemukiman, pengembangan kawasan perdagangan atau pusat kota. Daerah tersebut terutama daerah bagian barat Kota Makssar, sebagai contoh kecamtan Mariso, Manggala dl.

V - 68

b. SKL kemudahan dikerjakan

Gambar 5-46 Peta SKL Kemudahan Dikerjakan, 2008

Berdasarkan gambar peta 5-46, menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Makassar memiliki kemampuan lahan yang sedang berdasarkan kemudahan dikerjakan untuk direncanakan sebagai kawasan pembangunan karena memiliki relief yang datar dan struktur penyusun jenis tanahnya memiliki tingkat permeabilitas yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa sebgaian besar wilayah Kota Makassar mudah untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial ataupun budaya. c. SKL Kestabilan Pondasi

Gambar 5-47 Peta SKL Kestabilan Pondasi, 2008

Berdasarkan gambar peta 5-47, menunjukkan bahwa wilayah kecamatan Biringkanaya, Kecamatan. Manggala utara dan Kecamatan.Panakukang sebelah timur khususnya memiliki kestabilan pondasi yang cukup stabil. Karena

kawasan ini tersusun oleh jenis tanah ultisol, yang sifatnya mudah terkompaksi antar partikelnya, tetapi tanah jenis seperti ini menghambat pertumbuhan tanaman sehingga tidak potensial untuk di jadikan kawasan

pertanian/perkebunan.

V - 69

d. SKL Terhadap Erosi

Gambar 5-48 Peta SKL Erosi, 2008

Berdasarkan gambar peta 5-48, wilayah utara (kecamatan Biringkanaya) dan timur (kecamatan Manggala) Kota Makassar rentan terhadap erosi. Sesuai dengan jenis dan struktur tanah, kawasan ini tersusun oleh jenis tanah ultisol. Tanah ultisol memiliki karakteristik partikel tanah yang relatif halus, porositas kecil sehingga daya kohesif antar partikel tinggi. e. SKL Untuk Drainase

Gambar 5-49 Peta SKL Drainase, 2008

Berdasarkan gambar peta 5-49, menunjukkan bahwa kawasan sekitar Kecamatan Panakukang, Keacamatan Rappocini, Kecamatan Mariso, Kecamatan Wajo dan Kecamatan Ujung Pandang memiliki kemampuan drainase rendah. Karena secara topografi daerah-daerah tersebut berelief datar, sehingga sistem alirannya lambat.

V - 70

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful