Anda di halaman 1dari 26

Tugas Kelompok

Problem Solving Startegy Mathematics

KAJIAN MATERI
HOW TO SOLVE IT: A NEW ASPECT OF
MATHEMATICAL METHOD

“MORE EXAMPLES (Halaman: 23-32)”

OLEH:

KELOMPOK 6

MATEMATIKA ICP
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI MAKSSAR

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Problematika pembelajaran matematika senantiasa menarik


diperbincangkan mengingat kegunaannya yang penting untuk
mengembangkan pola pikir dan prasyarat untuk mempelajari
ilmu-ilmu eksak lainnya, tetapi masih dirasakan sulit untuk
diajarkan secara mudah oleh guru dan sulit diterima sepenuhnya
oleh siswa. Kegunaan matematika bagi siswa adalah sesuatu yang
jelas yang tidak perlu dipersoalkan lagi, terlebih pada era
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Hal
yang terpenting untuk segera dipecahkan dalam masalah
pembelajaran matematika adalah bagaimanakah mengajarkan
matematika sehingga guru dan siswa senang dalam proses belajar
mengajar?

Jawabannya adalah diperlukan adanya pendekatan khusus


yang diterapkan oleh guru. Pendekatan yang dimaksud di sini
adalah metode. Metode merupakan cara yang dipergunakan guru
alam proses belajar mengajar dimana setiap guru akan
menggunakan metode ertentu dalam menyajikan bahan pelajaran
kepada siswanya. Hal ini akan memudahkan dalam mencapai
tujuan yang diharapkan.

Oleh karena itu diperlukan metode yang tepat. Pandangan


Gagne tentang metode belajar dikelompokkan menjadi 8 tipe.
Kedelapan tipe tersebut adalah belajar dengan: (1) isyarat (signal),
(2) stimulus respons, (3) rangkaian gerak (motor chaining), (4)
rangkaian verbal (verbal chaining), (5) memperbedakan
(discrimination learning), (6) pembentukan konsep (concept

2
formation), (7) pembentukan aturan (principle formation) dan (8)
pemecahan masalah (problem solving) (Ruseffendi, 1988). Terdapat
2 di antara 8 tipe belajar yang dikemukakan oleh Gagne yang erat
kaitannya dengan pendekatan pengajuan masalah matematika,
yaitu: (1) rangkaian verbal (verbal chaining) dan (2) pemecahan
masalah (problem solving).

Metode yang sangat tepat digunakan dalam proses belajar


mengajar matematika adalah metode pemcahan masalah (problem
solving), seperti yang dikatakan oleh P Manulu dalam bukunya
yang berjudul Strategi Mengajar dengan Pemecahan Masalah
bahwa “Pemecahan masalah yang bersifat matematika dapat
menolong siswa meningkatkan daya analisis dan dapat membantu
mereka dalam pemakaian daya ini pada berbagai situasi.
Pemecahan masalah juga dapat menolong siswa dalam
mempelajari fakta, ketrampilan, konsep dan prinsip matematika”.
Dalam makalah ini, penulis akan mencoba memaparkan
bebrapa contoh penerapan metode pemcahan masalah dalam
pembelajaran matematika denggan menggunakan beberapa
strategi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas,


penulis dapat merumuskan beberapa masalah, yaitu:

1. Bagaimana pemecahan masalah dengan mengkonstruksi


sebuah masalah?
2. Bagaimana pemecahan masalah dengan membuktikan
sebuah masalah?
3. Bagaimana pemecahan masalah dengan masalah
kecepatan?

3
C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas,


penulis dapat merumuskan beberapa masalah, yaitu:

1. Untuk mengetahui bagaimana pemecahan masalah


dengan cara mengkonstruksi sebuah masalah?
2. Untuk mengetahui bagaimana pemecahan masalah
dengan cara membuktikan sebuah masalah?
3. Untuk mengetahui bagaimana pemecahan masalah
dengan cara masalah kecepatan?

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Kajian Pustaka

Pengertian Pemecahan Masalah:


Pemecahan masalah menurut Posamentier (19999:98)
adalah suatu proses mengaplikasikan pengetahuan yang telah
diperoleh sebelumnya ke dalam situasi yang baru dan tidak
dikenal. Belajar memecahkan masalah adalah alasan utama
mempelajari matematika.Memecahkan soal cerita (word problem)
adalah salah satu bentuk proses pemecahan masalah, akan tetapi
siswa juga harus dihadapkan dengan masalah yang bukan berupa
soal cerita (nontex problem). Sehingga untuk menyelesaikan soal
yang bertipe masalah, kita memerlukan langkah-langkah
pemecahan masalah dan strategi pemecahan masalah.
Strategi Pemecahan Masalah:
Untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan
pendekatan pemecahan masalah, kita akan mengikuti langkah-
langkah dari Polya (1988) yang telah disusun secara hirarkis, yaitu
sebagai berikut:
 Langkah 1 : Memahami masalah
Untuk dapat memahami masalah, hal-hal yang harus
dilakukan adalah
 Identifikasi apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan
(dibuktikan)
 Memperkenalkan notasi yang cocok
 Memodelkan masalah dalam bentuk diagram atau
gambar.
 Memberikan ilustrasi atau contoh pada data berupa
definisi.

5
 Langkah 2 : Menyusun strategi
Hal-hal yang dilakukan ketika menyusun strategi
penyelesaian diantaranya
 Menyatakan kembali masalah itu ke dalam bentuk yang
lebih operasional
 Mengingat kembali apakah masalah yang dihadapi telah
dikenal dengan baik sebelumnya, baik masalah yang
sama maupun dalam bentuk yang berbeda.
 Menentukan definisi atau aturan yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
 Perhatikan apa yang harus dicari (dibuktikan), dapatkah
kita mengkondisikan sesuatu yang lebih sederhana
sehingga kita dapat memperoleh apa yang dicari
(dibuktikan).
 Menyelesaikan masalah dalam bentuk atau formulasi
yang lebih sederhana
 Mengembangkan data yang diberikan berdasarkan aturan
yang sudah diketahui
 Langkah 3 : Menjalankan strategi
Hal-hal yang dilakukan ketika menjalankan strategi
diantaranya:
 Lakukan rencana strategi itu untuk memperoleh
penyelesaian dari masalah
 Perhatikan apakah setiap langkah yang dilakukan sudah
benar (validitas argumen dapat dipertanggungjawabkan).
 Langkah 4 : Memeriksa hasil yang diperoleh
Hal-hal yang dilakukan dalam memeriksa penyelesaian yang
dihasilkan diantaranya
 Memeriksa validitas argumen pada setiap langkah yang
dilakukan

6
 Menggunakan hasil yang diperoleh pada kasus khusus
atau masalah lainnya
 Menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda.
Contoh Penerapan Pemecahan Masalah:
Dalam contoh penerapan masalah, Polya dalam bukunya
(1973:23) memaparkan beberapa contoh, yaitu:
1. Konstruksi masalah

Persegi berada dalam segitiga. Dua titik sudut dari persegi


dalam segitiga. Dua titik sudut dari persegi seharusnya
menjadi alas segitiga, dua titik sudut yang lain dari persegi
berada pada dua sisi lainnya dari segitiga, masing-masing
satu.

“Apa yang tidak diketahui?”

“Sebuah persegi”

“Segitiga yang terbentuk, hanya itu”

“Apa syaratnya?”

“Empat sudut dari persegi seharusnya berada pada keliling


dari segitiga, dua sudut pada alas, pada sudut di setiap dua
sisi lainnya.”

“Apa itu mungkin memenuhi kondisi tersebut?”

“Saya pikir begitu. Saya tidak terlalu yakin”

“Kamu sepertinya tidak bisa menyelesaikan masalah itu


dengan mudah. Jika kamu tidak dapat menyelesaikan
masalah yang diberikan, sebelumnya coba untuk
menyelesaikan masalah yang berhubungan. Dapatkah kamu
memenuhi bagian dari syarat tersebut?”

7
“Apa yang anda maksud bagian dari syarat?”

“Anda lihat, syarat itu difokuskan pada semua titik sudut


persegi. Berapa banyak titik sudut pada persegi?”

“Empat”

“Sebagian syarat akan difokuskan pada kurang dari empat


titik sudut. Gunakan sebagian syarat, keluarkan yang lain.
Bagian mana dari syarat yang mudah untuk dipenuhi?”

“Yang mudah adalah menggambar sebuah persegi dengan


dua titik sudut pada keliling segitiga atau bahkan satu
dengan tiga titik sudut pada keliling!”

“Gambar sebuah bangun”

Para siswa menggambar bangun 2

“Anda hanya menggunakan sebagian dari syarat, dan


mengeluarkan syarat lainnya. Sejauh mana yang tidak
diketahui sekarang?”

Gambar 2

“Persegi tersebut tidak dapat terbentuk jika pada keliling


segitiga hanya ada tiga titik sudut”

“Bagus! Gambar sebuah bangun”

Para siswa menggambar bangun 3

8
“Persegi, seperti yang anda katakan, tidak terbentuk hanya
dengan menggunakan sebagian syarat. Bagaimana dapat
mencobanya?”

…..

“Tiga sudut dari persegi yang anda buat berada pada keliling
segitiga tapi sudut keempat tidak berada pada tempat
seharusnya. Persegi itu, seperti yang anda katakan, tidak
dapat terbentuk, dapat bervariasi; yang sama adalah benar
dari sudut keempat. Bagaimana itu dapat bervariasi?”

……

“Coba secara eksperimen, jika anda inginkan. Gambar


persegi lagi dengan tiga sudut pada keliling dengan cara
yang sama sehingga ada dua persegi pada segitiga. Gambar
persegi kecil dan persegi besar. Apa yang tampaknya
menjadi lokus dari sudut keempat? Bagaimana dapat
bervariasi?”

Coba guru membawa siswa sangat dekat dengan ide


penyelesaian. Jika siswa dapat menebak lokus dari sudut
keempat yang merupakan garis lurus, berarti dia telah
menemukannya.

9
2. Pembuktian Masalah

Dua sudut yang berada pada bidang berbeda tetapi tiap sisi
dari salah satu bidang sejajar dengan sisi yang bersesuaian
pada bidang yang lain, dan juga memiliki arah yang sama.
Buktikan bahwa sudut-sudutnya sama.

Apa yang harus kita buktikan adalah teorema dasar


geometri solid. Masalah yang mungkin dapat diberikan
kepada siswa yang akrab dengan geometri bidang dan
mengenal beberapa fakta geometri bidang yang
mempersiapkan bagian-bagian dari teorema Euclid .
(Teorema yang telah dinyatakan dan akan dibuktikan pada
proposisi 10 buku XI Euclid). Tidak hanya pertanyaan dan
saran yang dikutip dari daftar dicetak miring tetapi juga
yang lainnya yang berhubungan dengan “masalah yang
ingin ditemukan”. (hubungannya adalah dikerjakan secara
sistematis dalam PENYELESAIAN MASALAH ,
PEMBUKTIAN MASALAH 5.6)

“Apa hipotesisnya?”

“Dua sudut pada bidang berbeda. Tiap sisi pada salah satu
bidang sejajar dengan sisi yang bersesuaian pada bidang
yang lain, dan juga memiliki arah yang sama.”

“Apa kesimpulannya?”

“Sudut-sudutnya sama.”

“Gambar bangun. Perkenalkan notasi yang sesuai.

“Siswa menggambar garis-garis pada gambar 4 dan


memilih, kurang lebihnya dibantu oleh guru, simbol-
simbolnya seperti gambar 4.”

10
“Apa hipotesisnya? Katakan, silahkan menggunakan notasi
anda.”

“A, B, C tidak berada pada bidang yang sama dengan A‟,


B‟, C‟ dan AB||A‟B‟, AC||A‟C‟. AB juga memiliki arah yang
sama dengan A‟B‟ dan AC sama dengan A‟C‟.”

“Apa kesimpulannya?”

“ ”

“Perhatikan kesimpulan! Dan coba memikirkan teorema


yang sama atau kesimpulan yang sama”

“jika dua segitiga kongruen, sudut-sudut yang bersesuaian


sama”

“Sangat bagus!! Sekarang ada teorema yang berkaitan


dengan kesimpulan anda dan pembuktian sebelumnya.
Dapatkah anda menggunakannya?”

“Saya kira begitu tapi saya tidak cukup mengerti


bagaimana caranya.”

11
“Haruskah anda memperkenalkan beberapa elemen
tambahan lainnya sehingga memungkinkan untuk
digunakan?”

….

“Nah, teorema yang anda kutip mengenai segitiga, tentang


sepasang segitiga yang kongruen. Apakah anda mempunyai
sebuah segitiga pada gambar?”

“Tidak. Tetapi saya bisa memperlihatkan beberapa.


Misalkan B ke C, dan B‟ ke C‟. Sehingga ada dua segitiga,

“Bagus. Apa yang sesuai untuk segitiga?”

“Untuk membuktikan kesimpulan , “ ”

“Bagus! Jika anda ingin membuktikannya, jenis segitiga


apa yang dibutuhkan?”

Gambar 5

“Segitiga kongruen. Ya, tentu saja. Saya dapat memilih B,


C, B‟, C‟ sehingga

12
“Sangat baik! Sekarang, apa yang ingin anda buktikan?”

“Saya ingin membuktikan bahwa segitiga-segitiga itu


kongruen,

Jika saya dapat membuktikannya, kesimpulan


akan segera terlihat.”

“Baik! Anda mempunyai tujuan baru, tujuan dengan


kesimpulan yang baru. Perhatikan kesimpulan! dan coba
untuk memikirkan teorema yang sama atau kesimpulan
yang sama”

“Dua segitiga kongruen jika ada tiga sisi dari salah satu
segitiga sama dengan sisi-sisi dari segitiga yang lain.”

“Baik. Pilihan anda mungkin salah. Sekarang ada teorema


yang berkaitan dengan kesimpulan anda dan pembuktian
sebelumnya. Dapatkah anda menggunakannya?”

“Saya dapat menggunakannya jika saya mengetahui bahwa


.”

“Benar. Jadi apa tujuan anda?”

“Untuk membuktikan .”

“Coba untuk memikirkan teorema yang sama atau


kesimpulan yang sama”

“Ya, saya tahu sebuah teorema yang dapat


menyelesaikan….. maka ada dua garis yang sama. Tapi
tidak sesuai”

13
“Dapatkah anda memperlihatkan beberapa elemen
tambahan lainnya sehingga memungkinkan untuk
digunakan?”

…..

“Anda lihat, bagaimana anda dapat membuktikan


ketika tidak ada hubungan antara BC dan B‟C‟ pada
gambar?”

…..

“Dapatkah anda menggunakan hipotesis? Apa


hipotesisnya?

“Misalkan bahwa AB||A‟B‟, AC||A‟C „. Ya, tentu saja, saya


harus menggunakannya.”

“Apakah anda menggunakan seluruh hipotesis? Anda


mengatakan bahwa AB||A‟B‟. Apakah itu semua yang anda
tahu tentang garis-garis ini?”

“Tidak, AB juga sama dengan A‟B‟, dengan konstruksi.


Garis-garis tersebut parallel dan sama satu sama lain.
Begitu juga AC dan A‟C‟.”

“Dua garis sejajar dengan panjang yang sama merupakan


konfigurasi yang menarik . Pernahkah anda lihat
sebelumnya?”

“Tentu saja! Ya! Jajar genjang! Dimisalkan A ke A‟, B ke B‟,


dan C ke C‟.”

“Ide ini tidak terlalu buruk. Berapa banyak jajar genjang


yang anda ketahui pada gambar?”

14
“Dua. Bukan, Tiga. Bukan, Dua. Maksud saya, ada dua
yang dapat dibuktikan bahwa gambar tersebut jajar
genjang. Yang ketiga tampak jajar genjan; saya harap saya
dapat membuktikan bahwa ada satu berbentuk jajar
genjang dan pembuktian selesai.”

Kita bisa menyimpulkan berdasarkan jawaban mereka


sebelumnya bahwa siswa-siswa tersebut cerdas. Tetapi
setelah pernyataan terakhir, tidak dapat diragukan.

Siswa ini mampu menebak hasil matematika dan dengan


jelas mampu membedakan anatra pembuktian dan
menebak. Dia juga tahu bahwa hipotesis tersebut bisa lebih
atau kurang masuk akal. Sesungguhnya, dia mendapatkan
keuntungan dari kelas matematika. Dia memiliki beberapa
pengalaman dalam memecahkan masalah, dia dapat
memikirkan dan mengeksplorasi ide yang baik.

3. Masalah Kecepatan

Air mengalir ke dalam wadah kerucut di kecepatan r.


Wadah memiliki bentuk kerucut lingkaran tegak, dengan
dasar horisontal, titik sudut mengarah ke bawah, jari-jari
alasnya adalah a, ketinggian kerucut b. Temukan
kecepatan di mana permukaannya naik ketika kedalaman
air y. Akhirnya, didapatkan nilai numerik dari yang tidak
diketahui dengan mengandaikan bahwa a=4 ft, b = 3 ft, r =
2 cu. Ft. Per menit, dan y = 1 ft.

15
Para siswa diharuskan mengetahui aturan sederhana
diferensiasi dan gagasan "laju perubahan"

"Data apa?"

"Jari-jari dari alas sebuah kerucut adalah a=4 ft.,


ketinggian kerucut b = 3 ft., kecepatan di mana air
mengalir ke dalam wadah kerucut adalah r = 2 cu. Ft. Per
menit, dan kedalaman air pada saat tertentu, y = 1 ft. "

"Benar. Pernyataan masalah tampaknya menyarankan


bahwa Anda seharusnya mengabaikan, menyatakan hal
yang tidak diketahui dalam notasi a, b, r, y dan akhirnya,
setelah menyatakan hal-hal yang tidak diketahui dalam
notasi huruf, disarankan. Sekarang, apa yang tidak
diketahui? "

"Kecepatan di mana permukaan meningkat ketika


kedalaman air adalah y."

"Apa itu? Bisakah Anda mengungkapkannya dengan


kalimat yang lain? "

"Kecepatan di mana kedalaman air semakin meningkat."

16
"Apa itu? Bisakah Anda mengatakannya kembali dengan
kalimat yang berbeda? "

"Laju perubahan kedalaman air."

"Itu benar, laju perubahan y. Tapi apa itu laju


perubahan? Kembali ke definisi. "

"Derivatif adalah fungsi laju perubahan."

"Benar. Sekarang, apakah y adalah fungsi? Seperti yang


kita katakan sebelumnya, kita harus mengabaikan nilai
numerik dari y. Dapatkah Anda bayangkan bahwa y
mengalami perubahan? "

"Ya, y, kedalaman air, meningkat seiring dengan


berjalannya waktu."

"Dengan demikian, y adalah fungsi dari apa?"

"Dari waktu t."

"Bagus. Perkenalkan notasi yang cocok. Bagaimana Anda


akan menulis 'laju perubahan y' dalam simbol matematika?
"

"dy/dt"

"Bagus. Dengan demikian, y adalah hal yang anda tidak


ketahui.Anda harus menyatakannya dalam a, b, r, y.
Dengan kata lain, salah satu dari data tersebut adalah
'kecepatan'. Yang mana? "
"r adalah kecepatan di mana air mengalir ke dalam
wadah."

17
"Apa itu? bisa anda mengatakannya dengan istilah lain? "

"r adalah laju perubahan volume air dalam wadah."

"Apa itu? Bisakah Anda menyatakannya kembali sekali


lagi dengan kalimat yang berbeda? Bagaimana anda akan
menuliskannya dalam notasi yang sesuai? "

"r=dV/dt"

"Apa itu V?"

"Volume air di wadah pada waktu t."

"Bagus. Dengan demikian, Anda harus menyatakan dy/dt


dalam a, b, dV/dt, y.Bagaimana Anda akan melakukan itu?
"

....

"Jika Anda tidak dapat memecahkan masalah yang


diusulkan, pertama cobalah untuk menyelesaikan
beberapa masalah terkait. Jika Anda belum melihat
beberapa koneksi sederhana yang dapat berfungsi sebagai
batu loncatan. "

...

"Apakah Anda tidak melihat bahwa terdapat koneksi yang


lain?Sebagai contoh, adalah y dan V yang berdiri sendiri
satu sama lain? "

"Tidak. Ketika y meningkat, V harus meningkat juga. "

18
"Jadi, terdapat koneksi. Apa koneksinya? "

"Nah, V adalah volume kerucut dengan ketinggian y. Tapi


saya belum mengetahui jari-jari dari alasnya. "

"Anda dapat mempertimbangkan itu. Sebut saja itu


sebagai x. "

"V = "

"Benar. Sekarang, bagaimana dengan x? Apakah x tidak


ada hubungannya dengan y?

"Tidak Bila kedalaman air, y, meningkatkan jari-jari


permukaan bebas, x, meningkat juga. "

"Jadi, terdapat koneksi juga.Apa koneksinya?

"Tentu saja, segitiga yang sama.

x : y=a : b."

"Satu koneksi lagi, Anda lihat. Saya tidak akan kehilangan


keuntungan dari itu. Jangan lupa anda ingin mengetahui
hubungan antara V dan y. "

"Saya punya

19
"Sangat baik. Hal ini terlihat seperti batu loncatan, bukan?
Tetapi Anda seharusnya tidak melupakan tujuan Anda.
Apa yang tidak diketahui? "

"Baik, dy/dt."

"Kau harus menemukan hubungan antara dy/dt, dV/dt,


dan kuantitas lainnya. Dan di sini Anda memiliki
hubungan antara y, V, dan jumlah lainnya. Apa yang
harus dilakukan? "

"Turunkan! Tentu saja!

Ini dia. "

"Baik! Dan bagaimana dengan nilai-nilai numeriknya? "

"Jika a=4, b=3, dV/dt=r=2, y=1, the

B. Pembahasan
1. Mengkonstruksi masalah
Mengkonstruksi artinya membangun sebuah masalah.
Masalah yang diberikan pada contoh pertama adalah
mengenai bangun persegi dalam segitiga. Yang jadi

20
pertanyaan adalah bagaimana menggambarkan model
bangun seperti itu?
Dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan
masalah:
 Memahami masalah
- Bagaimana bentuk bangun segitiga tersebut?
- Bagimana bentuk bangun persegi tersebut?
- Bagaimana caranya menggambar sebuah bangun
persegi dalam sebuah segi tiga?
- Apa syarat-syarat yang dibutuhkan untuk
sehingga bangun tersebut dapat terbentuk?
 Menyusun strategi
- Syarat yang dibutuhkan adalah bahwa empat
sudut dari persegi seharusnya berada pada
keliling dari segitiga, dua sudut pada alas, pada
sudut di setiap dua sisi lainnya.
 Menjalankan strategi
- Gambar sebuah segitiga dengan tiga titik sudut.
- Gambar sebuah persegi yang mana dua titik
sudut dari persegi tersebut menjadi alas segitiga,
dua titik sudut yang lain dari perdegi terxebut
berada pada dua sisi lainnya dari segitiga
sebelumnya.
- Untuk lebih memperjelas, coba gambar sebuah
persegi lagi di salah satu sudut segitiga tetapi
masih tetap memperhatikan syarat yang
diberikan
 Memeriksa kembali
- Perhatikan bangun yang terbentuk, apakah
sudah merupakan persegi yang dimaksud.

21
2. Pembuktian masalah
Pembuktian matematika adalah suatu cara formal untuk
mengungkapkan alasan dan justifikasi khusus. Dengan
mengembangkan ide, melihat tanda-tanda, membuat
kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua
cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami
matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal.
Untuk itu sangat diperlukan kemampuan siswa
membuat argumen-argumen yang meliputi deduksi logis
yang kuat tentang kesimpulan suatu hipotesis.
Masalah yang diberikan oleh guru di sini adalah
bagaimanakah bahwa sebuah bangun dikatakan
kongruen?
 Memahami masalah
- Perhatikan syarat-syarat kapan bangun itu
dikatakan kongruen
- Perhatikan teorema yang digunakan
 Menyusun strategi
- Menyusun hipotesis sementara bahwa akan ada
sudut yang bersesuaian.
- Memberikan simbol-simbol
- Perkenalkan notasi yang sesuai

 Menjalankan strategi
- Menggambar sebuah segitiga lengkap dengan
notasi-notasinya
- Menggambar sebuah segitiga lagi yang memiliki
bentuk yang sama dengan bangun sebelumnya
tapi dengan notasi yang berbeda.

22
- Dapat dilihat bahwa, A, B, C tidak berada pada
bidang yang sama dengan A‟, B‟, C‟ dan AB||A‟B‟,
AC||A‟C‟. AB juga memiliki arah yang sama
dengan A‟B‟ dan AC sama dengan A‟C‟.
- Kesimpulannya . Hal ini sesuai
denga teorema yang mengatakan bahwa “jika dua
segitiga kongruen, sudut-sudut yang bersesuaian
sama.
- Kesimpulan sama denga hipotesi semula
 Memeriksa kembali
- Periksa kembali kesimpulan yang didapatkan
apakah sama dengan hipotesis semula.
3. Masalah kecepatan
Maslah yang diberikan adalah mengenai air yang
mengalir dalam suatu wadah kerucut, yang kemudian
ingin diketahui berapa kecepatan dari air tersebut.
 Memahami masalah
- Berapa kecepatan air yang berada dalam wadah
berbentuk kerucut tersebut.
- Kecepatan dimana permukaan meningkat ketika
kedalam air diketahui atau laju perubahan
kedalaman air. (r)
 Menyusun strategi
- Kumpulkan semua data yang diketahui dari soal
a = 4 ft.
b = 3 ft.
r = 2 cu. Ft.
y = 1 ft.
- y merupakan fingsi dari t, jadi
dy/dt
r = dy/dt

23
- V yang dimaksud adalah volume
r = dV/dt
- V adalah kerucut dengan ketinggian y. Karena jari-
jari dari alas kerucut belum diketahui, maka
dimisalkan dengan x.

V= x : y=a : b

 Menjalankan strategi
- menemukan hubungan antara dy/dt, dV/dt, dan
kuantitas lainnya.
- Turunkan

- Masukkan nilai numeriknya


Jika a=4, b=3, dV/dt=r=2, y=1, the

 Memeriksa kembali
- Periksa lagi setiap rumus yang dihasilkan
- Priksa hasil yang diperoleh

24
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan penjelasn materi di bab


sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:
Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
mengkonstruksi masalah, pembuktian masalah, dan penyelesaian
masalah dengan cara biasa atau langsung menggunakan rumus
yanga ada.
Mengkonstruksi masalah yang dimaksud adalah bagaimana
membangun sebuah masalah yang diberikan menjadi lebih mudah
untuk dimengerti yang kemudian dipecahkan dengan langkah-
langkah pemecahan maslah yang diberikan.
Strategi pemecahan masalah dengan pembuktian adalah
suatu cara formal untuk mengungkapkan alasan dan justifikasi
khusus. Dengan mengembangkan ide, melihat tanda-tanda,
membuat kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua
cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami
matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal.
Dan strategi pemecahan maslah yang terkahir yaitu dengan
langsung menerapkan rumus-rumus yang bersesuaian dengan
masalah yang diberikan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Polya,G. 1971. How to Sove it: A New Aspect of Mathematical


Method. Princetown University Press.

Krismanto. 2003. Beberapa Teknik, Model, dan Strategi dalam


pembelajaran Matematika. Departemen Pendidikan Nasional.

Rossyana, Ratih Meitasari. 2009. Kemampuan Pembuktian dan


Pemecahan Masalah Matematika. Malang.

http://www.doocu.com/pdf/search/contoh+makalah+metode+pe
mbuktian+matematika

http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/01/mengajar-melalui-
penyelesaian-soal-1.html

http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id
=1867%3Apendekatan-kontekstual-dalam-pembelajaran-
matematika-untuk-meningkatkan-berpikir-kritis-pada-
siswa-sekolah-dasar&catid=159%3Aartikel-
kontributor&Itemid=228

26