Anda di halaman 1dari 20

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Strata Satu

Jurusan Teknik Industri

Disusun Oleh :
Khairol Mizan. Us NPM : 0714010005

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Industri Latansa agribisnis sudah memproduksikan jamur merang sejak tahun 2009 hingga saat ini masih terus berproduksi dengan produksinya yang kurang meningkat. Untuk itu perlu adanya modifikasi tata letak fasilitas produksi guna meningkatkan hasil produksi jamur merang. Berbagai persoalan yang terjadi dan dengan melihat masalah yang terjadi, maka penulis lebih cenderung membuat penelitian ini dengan judul : Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar. 1.2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana cara untuk meningkatkan produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis ? 2. Bagaimana cara memodifikasi tata letak alternatif untuk fasilitas produksi jamur merang yang lebih baik ? 3. Kendala apa yang dihadapi oleh Industri Latansa Agribisnis dalam memodifikasi tata letak fasilitas produksi ? Tujuan Penelitian 1. 2. 3. Guna mengetahui bagaimana cara untuk meningkatkan produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis ? Guna mengetahui bagaimana cara memodifikasi tata letak alternatif untuk fasilitas produksi jamur merang yang lebih baik ? Guna mengetahui kendala apa yang dihadapi oleh Industri Latansa Agribisnis dalam memodifikasi tata letak fasilitas produksi ?

1.3

1.4

Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi perusahaan adalah sebagai bahan pertimbangan dan masukan serta sebagai bahan informasi dan rekomendasi untuk selanjutnya menjadi referensi bagi perusahaan untuk mengambil keputusan. Manfaat bagi perguruan tinggi adalah sebagai bahan kajian penelitian selanjutnya dan juga sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai fasilitas produksi. Manfaat bagi mahasiswa adalah sebagai pengalaman dibidang akademis dalam pemecahan masalah yang dihadapi perusahaan dan sebagai bahan wacana keilmuan dalam penerapan teori yang ada.

2.

3.

1.5

Batasan Penelitian Agar pembahasan penelitian yang dilakukan terarah dan tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian yang dilakukan pada modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang.

1.6

Sistematika Penulisan Untuk mencapai tujuan sebagaimana yang di harapkan, maka penulisan ini di bagi dalam lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Merupakan pendahuluan yang meliputi Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Batasan Masalah, dan Sistematika Penulisan.

BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

Lanjutan

Berisi tentang teori-teori yang mendasari penelitian dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Teori-teori ini untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini mencakup Objek Penelitian dan Jenis Data, Metode Pengumpulan Data dan Metode Analisis Data. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Menggambarkan tentang subyek penelitian dengan disertai kondisi nyata pada tempat penelitian berlangsung, dan mengemukakan hasil pengolahan atau analisis data hasil penelitian dengan upaya pemecahan masalah atau tindakan terjadi sehingga mencapai perubahan yang diharapkan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Menyimpulkan hasil penelitian sesuai dengan tujuan/masalah penelitian yang telah disampaikan sebelumnya serta dengan berdasarkan hasil analisa yang diperoleh pada bab IV, dan memberikan saran dan tindak lanjut berdasarkan kesimpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatifnya. DAFTAR PUSTAKA

BAB IV

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN


2.1 Pengertian Modifikasi Modifikasi adalah cara merubah bentuk sebuah barang dari yang kurang menarik menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi aslinya, serta menampilkan bentuk yang lebih bagus dari aslinya. 2.2 Definisi Modifikasi Tata Letak Menurut Hendrarto (2008), Modifikasi tata letak dilakukan untuk mendapatkan hasil tata letak yang terbaik dan layak secara teknis maupun ekonomi. Untuk mendapatkan modifikasi tata letak yang terbaik maka dilakukan dengan cara membangkitkan alterntatif-alternatif tata letak yang mungkin terjadi. 2.3 Tujuan Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi 1. Menaikkan Output Produksi, suatu tata letak pabrik yang baik akan memberikan keluaran (output) yang lebih besar dengan ongkos yang sama atau lebih sedikit dengan jam kerja manusia dan mesin yang lebih kecil. Mengurangi Waktu Tunggu (Delay), tata letak yang terkoordinir dan terencana dengan baik akan dapat mengurangi waktu tunggu yang diakibatkan jarak ataupun waktu tempuh antar departemen. Mengurangi Proses Pemindahan Bahan (material handling), untuk merubah bahan baku menjadi produk jadi, akan memerlukan aktifitas pemindahan (movement) sekurang-kurangnya satu dari tiga elemen dasar sistem produksi yaitu: bahan baku, orang/pekerja, dan mesin/peralatan produksi.

2.

3.

2.4 Faktor-Faktor Terjadinya Modifikasi 1. Terjadinya perubahan desain produk secara terus-menerus. 2. Adanya perubahan volume permintaan. 3. Penggantian fasilitas agar selalu baru (up to date). 4. Adanya penambahan produk baru. 5. Adanya kondisi lingkungan kerja yang tidak memuaskan. 6. Resiko kecelakaan kerja dalam proses produksi. 7. Kebutuhan akan penghematan biaya. 8. Mendukung pergeseran/perluasan lokasi pasar produk perusahaan. 2.5 Pengertian Tata Letak Fasilitas Menurut Ampuh Hadiguna (2008 : 7), Tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai kumpulan unsur-unsur fisik yang diatur mengikuti aturan atau logika tertentu. Tata letak fasilitas merupakan bagian perancangan fasilitas yang lebih fokus pada pengaturan unsur-unsur fisik. Unsur-unsur fisik dapat berupa mesin, peralatan, meja, bangunan dan sebagainya. Aturan atau logika pengaturan dapat berupa ketetapan fungsi tujuan misalnya total jarak atau total biaya perpindahan bahan.

Lanjutan
Menurut Yenny (2007), Tata Letak Fasilitas adalah suatu pekerjaan, perencanaan, atau pelaksanaan untuk mengkombinasikan manusia, peralatan, bahan baku, dan semua pelayanan pembantu (supporting service) dalam usaha mencapai susunan yang optimal agar dapat menghasilkan penempatan yang efektif dan efesien. 2.6 Tipe-Tipe Tata Letak Fasilitas 1. Tata letak produk (product layout) Tata letak produk umumnya digunakan untuk pabrik yang memproduksi satu macam produk atau kelompok produk dalam jumlah yang besar dan waktu produksi yang lama.

2.

Tata Letak Proses (Process Layout)


Tata letak berdasarkan proses merupakan metode pengaturan dean penempatan fasilitas dimana fasilitas yang memiliki tipe dan spesifikasi sama ditempatkan kedalam satu departemen.

3.

Tata Letak Lokasi Tetap (Fix Potition Layout)

Tata letak tipe demikian mengondisikan bahwa yang tetap pada posisinya adalah material, sedangkan fasilitas produksi seperti mesin, peralatan, serta komponen-komponen pembantu lainnya bergerak menuju lokasi material atau komponen produk utama.

2.7

Pola Aliran Bahan Menurut Ampuh Hadiguna (2008 : 33), Dalam lingkungan aliran bahan, pertimbangan kritis yang perlu diperhatikan adalah pola umum aliran bahan. Pola umum aliran bahan dapat dipandang dari beberapa perspektif, yaitu aliran bahan pada stasiun kerja mandiri, aliran bahan pada departemen dan aliran bahan antar departemen. Pola umum aliran bahan untuk proses produksi umumnya dibedakan atas lima pola, yaitu : 1. Bentuk Garis Lurus (Straight line), dapat dipakai jika proses produksi berlangsung singkat, relatif sederhana, jarak perpindahan pendek dan hanya terdiri atas beberapa komponen atau peralatan produksi sedikit. 2. 3. 4. 5. Bentuk Zig-zag (Serpentine atau S-Shaped), sangat baik diterapkan bila aliran proses produksi lebih panjang dari pada panjang area yang tersedia. Bentuk U (U-Shaped), keterbatasan luas lantai yang tersedia. Bentuk Melingkar (Circular), diterapkan bila bertujuan mengambilkan material atau produk pada titik awal aliran produksi berlangsung. Bentuk Tak Menentu (Odd angle), sering ditemui pada pabrik-pabrik yang ada dengan tujuan memeroleh lintasan produksi yang pendek antar kelompok dari wilayah berdekatan.

BAB III METODELOGI PENELITIAN


3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Industri Latansa Agribisnis Budidaya Jamur Merang Gampong Menasah Baro Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. 3.2 Objek Penelitian Yang menjadi objek pada penelitian ini yang berhubungan dengan tata letak fasilitas produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis.

3.3 Metode Pengumpuian Data


1. Metode Pengamatan (Observasi), adalah alat pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki (Narbuko, 2008 : 70). Metode Wawancara (Interviu), adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keteranganketerangan (Narbuko, 2008 : 83).

2.

3.4 Agenda Penelitian Survey Keperusahaan, Pengumpulan data Perusahaan, Wawancara dengan Pimpinan Perusahaan, Pengolahan data, Evaluasi hasil pengolahan data dan Sidang.

3.5 Metode Analisis Data Menurut Suharsimi Arikunto (2005), Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang ini adalah metode deskriptif yang analisisnya dilakukan dengan teknik rekayasa. 3.5.1 Metode Analisis Data Sistem tata letak yang sudah ada akan diamati dengan tiga kriteria pengamatan yaitu , pada jarak antar departemen, biaya pemindahan bahan dan waktu proses produksi. 3.5.2 Modifikasi Tata Letak

Modifikasi tata letak dilakukan untuk mendapatkan hasil tata letak yang terbaik dan layak secara teknis maupun ekonomi.
3.5.2 Asumsi Sistem Tata Letak Asumsi yang digunakan dalam evaluasi dan modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang adalah : tidak ada proses pemindahan bahan dalam satu area kerja dan hasil evaluasi dari tata letak yang sudah ada, akan dijadikan sebagai dasar modifikasi tata letak selanjutnya.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Proses Produksi Pembuatan Media Tanam Jamur Merang Analisis tata letak pabrik dimulai pada tata letak yang sudah ada. Proses analisis dilakukan pada petani jamur merang Latansa Agribisnis. Kapasitas produksi yang telah dicapai oleh petani jamur Latansa Agribisnis sampai saat ini belum stabil, panen pertama pada setiap kumbung biasanya mencapai 10 20 Kg per hari, selanjutnya hasil panen meningkat mencapai 25 35 Kg per hari dan di akhir-akhir masa panen, hasil panen kembali menurun mencapai 20 10 Kg per hari.

Lanjutan
Untuk menghasilkan jamur merang harus melewati proses produksi yang dibagi dalam beberapa tahap. Gambar 4.1 Tata Letak Awal Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

Sumber : Industri Latansa Agribisnis budidaya jamur merang Kabupaten Aceh Besar (2010).

4.2

Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Latansa Agribisnis


Tata letak suatu pabrik yang terencana dengan baik akan menentukan efisiensi dan menjaga kelangsungan hidup ataupun kesuksesan dalam bekerja. Tata letak pada usaha budi daya jamur di daerah Aceh Besar belum terencana dengan baik sehingga menimbulkan permasalahan. Dilihat dari tata letak awal ada aktivitas yang jaraknya cukup jauh sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. 4.2.1 Jarak Pemindahan Bahan Jarak aliran bahan dari satu area ke area yang lain sebelum di modifikasi pada Industri Latansa Agribisnis budi daya jamur merang :
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
Sumber

Aliran Pemindahan Bahan Tempat Bahan Baku Ke Bak Perendaman Bak Perendaman Ke Tempat Fermentasi 1 Bak Perendaman Ke Tempat Fermentasi 2 Bak Perendaman Ke Tempat Fermentasi 3 Tempat Fermentasi 1 Ke Kumbung 1 Tempat Fermentasi 1 Ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 Ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 Ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 Ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 Ke Kumbung 4
: Industri Latansa Agribisnis budidaya jamur merang Kabupaten Aceh Besar (2011).

Jarak (m) 1 10 6 1 4,50 1,40 3,50 1,40 2 1,40

Ket

4.2.2

Aliran Bahan Proses aliran bahan yang selama ini masih berbentuk pola aliran bentuk S (S-Shape). Pola aliran proses ini sangat baik diterapkan bila aliran proses produksi lebih panjang dibandingkan dengan luas area kerja yang tersedia dan dapat mengatasi segala keterbatasan area kerja dan ukuran bangunan yang sudah ada, Apple, James M (1990 : 122). Jumlah aliran bahan yang terjadi selama proses produksi terdapat 3 buah yaitu dari tempat penumpukan bahan baku ke bak perendaman, dari bak perendaman ke tempat fermentasi, dari tempat fermentasi ke tempat penanaman jamur.

4.2.3

Pemindahan Bahan Untuk pemindahan merang dari tempat perendaman diangkut dengan gerobak sorong yang kapasitasnya 400 kg yang dikerjakan oleh 1 orang pekerja dengan kemampuan angkut gerobak 150 kg, maka untuk mencapai 1200 kg / 400 ikat jerami kering, pekerja tersebut harus melakukan pemindahan bahan sebanyak 8 kali dengan jarak 10 meter dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi 1 dan memakan waktu selama 40 menit untuk menyelesaikan.

4.2.4

Biaya Pemindahan Bahan Menurut Andriantantri, Emmalia (2008 : C-46) Untuk menyelesaikan permasalahan material handling pada tata letak awal, maka model jarak yang dipergunakan untuk menghitung jarak material handling adalah model Rectilinier Distance.

Lanjutan
Biaya pemindahan bahan yang terjadi pada tata letak awal (intial layout) Industri Latansa Agribisnis adalah :

4.2.5

Peta Aktivitas Aliran Bahan (Flow Activity Chart) Peta aktivitas proses aliran bahan dari tata letak awal dan hasil modifikasi digambarkan dalam sebuah peta aliran. Pada peta aliran ini dapat dilihat perbedaan antara peta aktivitas aliran bahan tata letak awal dengan tata letak hasil modifikasi.

4.2.6

Modifikasi Tata Letak Produksi Jamur Merang Modifikasi tata letak pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan komputer. Program yang digunakan adalah Microsoft Office Visio 2003, untuk membuat sketsa tata letak awal serta sketsa tata letak modifikasi.

4.3 Hasil Modifikasi Tata Letak Produksi Perbandingan tata letak akan dilihat pada jarak antar bangunan dan waktu, serta kelancaran pergerakan perpindahan material sehingga diperoleh suatu aliran bahan dan kondisi kerja yang teratur, aman dan nyaman, sehingga mampu menunjang upaya pencapaian tujuan pokok perusahaan.

Tata letak hasil modifikasi ini menggunakan pola aliran bentuk Garis Lurus karena proses produksinya pendek, relatif sederhana dan mengandung sedikit komponen atau beberapa peralatan produksi, Apple, James M (1990 : 121). Gambar 4.2 Tata Letak Hasil Modifikasi Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

Lanjutan

Lanjutan
Jarak aliran bahan dari satu area ke area yang lain sebelum di modifikasi pada Industri Latansa Agribisnis budi daya jamur merang : Jarak (m)
1 No 1. Aliran Pemindahan Bahan Tempat Bahan Baku Ke Bak Perendaman Ket

2.
3. 4. 5. 6. 7.

Bak Perendaman Ke Tempat Fermentasi 1


Bak Perendaman Ke Tempat Fermentasi 1 Tempat Fermentasi 1 Ke Kumbung 1 Tempat Fermentasi 1 Ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 Ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 2 Ke Kumbung 4

1
1 1,40 1,40 1,40 1,40

Lanjutan
Biaya pemindahan bahan yang terjadi pada tata letak fasilitas produksi Industri Latansa Agribisnis setelah dimodifikasi dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

Dari hasil modifikasi jarak material handling antara bak perendaman dengan tempat fermentasi 1 telah terjadi pengurangan jarak sebesar 9 meter, serta dari tempat fermentasi 1 ke kumbung 1 juga terjadi pengurangan jarak sebesar 3,10 meter dari tata letak awal. Hasil perhitungan biaya pemindahan bahan pada tata letak awal, upah yang didapat oleh pekerja per meter yaitu : Rp. 2.557,-. Sedangkan pada perhitungan biaya pemindahan bahan tata letak modifikasi, upah yang didapat oleh pekerja per meternya lebih besar yaitu : Rp. 6.711,-. Waktu proses produksi dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi 1 juga terjadi penurunan selama 20 menit dari pada waktu proses produksi sebelumnya 40 menit untuk menyelesaikan fermentasinya.

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 1. Jarak material handling dari bak perendaman ke tempat fermentasi 1 telah berkurang sebesar 9 meter, serta dari tempat fermentasi 1 ke kumbung 1 juga berkurang sebesar 3,10 meter dari tata letak awal. Biaya pemindahan bahan per meter pada tata letak awal dengan jarak 19,55 meter Rp. 2.557,-, setelah modifikasi jarak pemindahan bahannya menjadi 7,45 meter, biaya per meter Rp. 6.711,-. Jadi upah yang diterima oleh pekerja per meter lebih besar dari tata letak awal yaitu : Rp. 6.711,-

2.

3.

Waktu proses produksi dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi juga terjadi penurunan selama 20 menit dari pada waktu proses produksi sebelumnya 40 menit untuk menyelesaikan fermentasinya.
Pola aliran bahan pada tata letak awal berbentuk S (S--Shape), pola ini lebih panjang aliran proses produksinya dibandingkan dengan pola aliran bahan tata letak hasil modifikasi yang berbentuk Garis Lurus, pola ini proses produksinya lebih pendek, relatif sederhana. Sistem kerja harus dibenahi guna menyeimbangi efektif dan efesiensi sehingga mampu menunjang pencapaian tujuan pokok perusahaan. Perusahaan harus membangun jaringan dengan Lembaga-lembaga terkait dengan Pemerintah Daerah khususnya. Perusahaan membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan dalam satu periode proses produksi agar dapat menyediakan produk jamur dalam waktu atau periode tertentu secara kontinue. Limbah hasil produksi jamur merang belum banyak dimanfaatkan, jika memungkinkan ada penelitian lebih lanjut untuk mengolah hasil limbah tersebut.

4.

5.2

Saran
1. 2. 3.

4.