Anda di halaman 1dari 12

Abu Ghibral Wiradinata MENJAGA NUSANTARA Mangrove untuk Atasi Intrusi Air Asin Kompas/SIWI NURBIAJANTI Sejumlah anak

tampak berjalan di sekitar sawah di wilayah Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, yang rusak terendam air rob, Rabu (14/9). Sejak empat tahun lalu, puluhan hektar sawah di wilayah itu tidak bisa ditanami karena tergenang air laut. Selain merusak sawah, rob juga mengakibatkan intrusi pada sumur warga, sehingga air sumur terasa asin dan tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Siwi Nurbiajanti Radi (60), warga RT 4 RW 6, Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, hanya bisa memandangi sawahnya yang tergenang air asin, Rabu (14/9). Sejak empat tahun lalu, sawah seluas satu bau (sekitar 7.800 meter persegi) yang menjadi sumber penghasilannya sudah tidak bisa diolah lagi. Tak hanya sawah, dua petak tambak bandeng miliknya juga sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, karena kadar air di dalamnya terlalu asin. Karena tak lagi bisa mengolah sawah dan tambak, saat ini Radi terpaksa bekerja serabutan. Ia memelihara kerbau milik tetangganya, dengan sistem bagi hasil. Istrinya, Sri Guntur (45), ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga, dengan menjadi buruh batik. Kerusakan sawah dan tambak, tidak hanya dialami Radi, tetapi juga ratusan petani lain di wilayah tersebut. Kondisi itu akibat masuknya air laut atau rob di wilayah Bandengan, yang berjarak sekitar satu kilometer dari laut. Berdasarkan data Paguyuban Masyarakat Pesisir Cinta Lingkungan (PMPCL) Pekalongan, yaitu LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup, luas sawah di Bandengan yang rusak terendam air laut sekitar 70 hektar. Rob tidak hanya mengakibatkan asinnya air tambak dan sawah, tetapi juga air sumur warga. Rob yang mengalir melalui sungai, menjalar kemudian meresap ke sumur-sumur milik warga, sehingga menimbulkan intrusi air laut. Akibatnya, air sumur warga menjadi asin dan tidak layak dikonsumsi. Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan Heru Sukamto mengatakan, berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jateng, tahun 2008, intrusi air laut di Kota Pekalongan mencapai radius dua kilometer. Sementara berdasarkan data PMPCL Pekalongan, intrusi air laut di Pekalongan pada 2010 sudah mencapai radius empat kilometer dari laut. Menurut Heru, terdapat beberapa kelurahan di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara dan Barat, yang terkena intrusi, yaitu Kelurahan Degayu, Bandengan, Panjang Baru, Panjang Wetan, Krapyak Lor, Pabean, Pasirsari, dan Dukuh. Seberapa dalam batas pencemaran memang belum ada penelitian, tetapi pada kedalaman 20 meter, kebanyakan air sumur sudah asin, katanya. Selain karena rob, intrusi air laut juga disebabkan pengeboran air tanah oleh rumah tangga maupun perusahaan. Pengeboran air tanah menimbulkan celah di dalam tanah yang memudahkan air laut meresap ke sumur warga. Saat ini, jumlah sumur bor berizin di wilayah Kota Pekalongan sekitar 140 unit. Radi yang sawah dan tambaknya asin juga merasakan dampak intrusi. Air sumurnya ikut asin dan tak dimanfaatkan, sehingga ia harus berlangganan air dari sumber air pengelolaan air minum berbasis masyarakat (Pansimas), dengan membayar iuran Rp 13.000 per bulan. Pansimas merupakan program bantuan pemerintah untuk masyarakat yang sumurnya terkena intrusi. Menurut Heru, Pansimas berupa sumur bor yang didirikan pada setiap kelurahan yang mengalami intrusi dengan kedalaman minimal 100 meter. Warga gratis mengambil air dari sumber tersebut, tetapi hanya diminta membayar iuran untuk pengelolaan. Intrusi air laut juga dirasakan sejumlah wilayah di Kabupaten Pekalongan. Suharjo (57), warga Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, berbatasan dengan pesisir Kota Pekalongan, mengaku, sejak delapan tahun lalu air sumur miliknya tidak dapat dimanfaatkan karena asin dan berbau bacin. Ia terpaksa berlangganan air dari PDAM dengan biaya Rp 70.000 per bulan. Hutan mangrove Buruknya kondisi lingkungan ini tak terlepas dari kehancuran hutan mangrove. Tahun 1960-an, hutan mangrove memiliki peranan yang penting dalam menjaga kondisi lingkungan di Kota Pekalongan, termasuk menekan meluasnya intrusi air laut. Kualitas air sumur di wilayah pesisir (dalam radius kurang dari 500 meter dari laut) masih bagus, dan layak digunakan untuk kebutuhan harian. Menurut dosen Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan, Hadi Pranggono, saat itu ketebalan hutan mangrove di pesisir utara Kota Pekalongan masih sekitar 100 hingga 200 meter dari garis pantai. Perubahan mulai terjadi pada 19601970 seiring dengan pembukaan lahan untuk tambak. Puncak penebangan mangrove secara besar-besaran terjadi tahun 1980- 1990-an, termasuk saat krisis moneter tahun 1998. Saat itu, produksi udang dari tambak masih melimpah, dan sebagian besar diekspor. Saat krisis moneter, nilai rupiah jatuh, sehingga banyak petani yang memperluas areal tambak udang. Hal itu mengakibatkan berkurangnya mangrove. Kini, di wilayah pantura Kota Pekalongan, nyaris tak tampak lagi hutan mangrove. Kebanyakan mangrove hanya ditemukan di tanggul-tanggul tambak.

Berkurangnya mangrove, menurut Hadi, mengakibatkan berkurangnya daya dukung lingkungan, sehingga memperparah terjadinya abrasi, rob, dan juga intrusi. Padahal untuk mengembalikan hutan mangrove, butuh waktu lama. Pertumbuhan bibit mangrove untuk mencapai ketinggian satu meter membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Permasalahan intrusi dan rob di kawasan pesisir Pekalongan ini sudah sangat serius. Bahkan, jika kasus rob dan intrusi tidak teratasi dengan benar, dalam 10 tahun ke depan, kawasan pesisir pada radius 1,5 kilometer dari laut bisa hilang terendam air. Saat ini, sawah di kawasan pesisir Pekalongan yang sudah hilang terendam air laut mencapai sekitar 300 hektar, sedangkan tambak yang hilang sekitar 60 hektar. Persoalan ini bisa diatasi dengan dua cara, yaitu membuat sabuk hijau di pantai dengan ketebalan minimal 100 meter, serta membatasi pengeboran air tanah, ujar Hadi. Selama ini, masyarakat sudah giat menanam mangrove di kawasan pesisir. Misalnya, PMPCL Pekalongan bersama warga di kawasan pesisir Pekalongan setiap tahun menanam mangrove secara swadaya. Mereka mencari dan menyiapkan bibit, lalu menanam dan memeliharanya. Menurut Koordinator PMPCL Pekalongan, Bangun Yudi, upaya tersebut sudah dimulai sejak 2004. Saat itu, ia bersama sekitar 12 warga di pesisir Pekalongan, menanam sekitar 50.000 bibit di pinggir pantai. Saat ini, bibit mangrove sudah tumbuh dengan ketinggian lebih dari dua meter. Masyarakat setempat akan terus diajak agar peduli terhadap keberadaan hutan mangrove. Sejak 2008, PMPCL juga mengajak siswa SD dan SMP menanam lima pohon mangrove per orang. Apabila kawasan itu kembali ditumbuhi mangrove yang lebat diyakini ekosistem pantai akan pulih, sehingga intrusi akan terkurangi. Ketika hutan (mangrove) kembali (lebat), air (tawar) akan kembali (membaik), tambahnya. Namun, Yudi mengakui, tidak mudah untuk mewujudkan impian itu. Kendala terbesar dalam penanaman mangrove di pantai, yaitu tingkat kematian tanaman yang bisa mencapai 40 persen. Tanaman yang mati membutuhkan penyulaman, sehingga akan membutuhkan biaya lagi untuk pengadaan bibit baru. Pemkot Pekalongan sejauh ini berupaya mengatasi intrusi air laut dengan membatasi izin pembuatan sumur. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Pengelolaan Air Tanah di Kota Pekalongan. Pemkot juga membentuk Tim Pengendali Pengelolaan Air Tanah. Perda itu efektif diberlakukan pada 1 Oktober 2011. Melalui perda tersebut, dibatasi pengambilan air tanah, serta membatasi tingkat kerapatan sumur bor di masyarakat http://www.facebook.com/topic.php?uid=45943103640&topic=20861 http://www.bpdas-pemalijratun.net/data/i_mangrove/Microsoft%20Word%20-%2002_Kondisi %20Umum.pdf

Rehabilitasi Lahan di Kabupaten Pekalongan


Jumat, 18 Maret 2011 11:25 Admin DP3K Kab. Pekalongan

Keadaan Wilayah Berdasarkan data tahun 2007 luas wilayah Kabupaten Pekalongan adalah 114.961,374 ha. Secara geografis letak Kabupaten Pekalongan pada koordinat 6 50' 29'' - 7 14' 47'' Lintang Selatan dan 109 28' 58" - 109 47' 46" Bujur Timur, dengan batas wilayah adminsitrasi sebagai berikut :
Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan

Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa dan Kota Pekalongan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pemalang Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara.

Secara Topografis, Kabupaten Pekalongan merupakan perpaduan antara wilayah datar diwilayah bagian utara dan sebagian merupakan wilayah dataran tinggi/pegunungan diwilayah bagian selatan yaitu diantaranya Kecamatan Petungkriyono dengan ketinggian 1.294 meter diatas permukaan laut dan merupakan wilayah perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Secara administrasi Kabupaten Pekalongan terdiri dari 19 kecamatan dan 283 desa/kelurahan. Hasil Kegiatan Gerhan Dari hasil pendataan, di Kabupaten Pekalongan Kegiatan Gerhan mulai di laksanakan pada Tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 yaitu berupa kegiatan sipil teknis dan vegetatif masingmasing kegiatan diuraikan per tahun sebagai berikut : Kegiatan GERHAN Tahun 2004 Kegiatan GERHAN tahun 2004 di Kabupaten Pekalongan adalah sebagai berikut : * Kegiatan Pembuatan Hutan Rakyat seluas 2.250 ha, dan * Kegiatan Pembuatan Sumur Resapan sebanyak 50 unit. Kegiatan GERHAN Tahun 2005 Kegiatan GERHAN tahun 2005 di Kabupaten Pekalongan adalah sebagai berikut : * Kegiatan Pembuatan Hutan Rakyat seluas 220 ha, * Kegiatan Hutan Rakyat Pengkayaan seluas 350 ha, * Kegiatan Rehabilitasi Mangrove seluas 150 ha, * Kegiatan Pembuatan Dam Penahan sebanyak 5 unit, dan * Kegiatan Pembuatan Sumur Resapan sebanyak 40 unit, Kegiatan GERHAN Tahun 2006 Kegiatan GERHAN tahun 2006 di Kabupaten Pekalongan adalah sebagai berikut : * Kegiatan Pembuatan Hutan Rakyat seluas 250 ha, * Kegiatan Hutan Rakyat Pengkayaan seluas 50 ha, * Kegiatan Rehabilitasi Mangrove seluas 25 ha, * Kegiatan Pembuatan Dam Penahan sebanyak 2 unit * Kegiatan Pembuatan Gully Plug sebanyak 10 unit Kegiatan GERHAN Tahun 2007 Kegiatan GERHAN tahun 2007 di Kabupaten Pekalongan adalah sebagai berikut : * Kegiatan Pembuatan Hutan Rakyat seluas 1.500 ha, * Kegiatan Hutan Rakyat Pengkayaan seluas 450 ha, * Kegiatan Rehabilitasi Mangrove seluas 450 ha, Kegiatan GERHAN Tahun 2008 Kegiatan GERHAN tahun 2008 di Kabupaten Pekalongan adalah sebagai berikut : * Kegiatan Pemeliharaan Hutan Rakyat I seluas 100 ha, * Kegiatan Pemeliharaan Hutan Rakyat Pengkayaan I seluas 50 ha, * Kegiatan Pemeliharaan Rehabilitasi Mangrove I seluas 25 ha,

* Kegiatan Pemeliharaan Hutan Rakyat Penanganan Pasca Bencana I seluas 150 ha. Kelembagaan Data Kelembagaan Kegiatan GERHAN Tahun 2003 - 2008 meliputi data mengenai kelompok tani pelaksana kegiatan GERHAN serta data Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ikut dalam kegiatan GERHAN sebagai tenaga pendamping kelompok tani.
http://dp3kkabpekalongan.net/kehutanan/3-eksternal-kehutanan/29-gerhan-di-kabupatenpekalongan-.html

Hutan mangrove rusak, rob mengancam


19Jun2008 Oleh: GoBlue Indonesia Kategori: Berita Terbaru

SEMARANG, KOMPAS- Dari 95.000 hektar kawasan hutan bakau di Provinsi Jawa Tengah, 61.000 hektar di antaranya masuk kategori rusak berat. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan menjadi areal industri, tambak, pertanian, serta p ermukiman. Reklamasi areal hutan bakau menjadi kawasan wisata juga menjadi penyebab kerusakan bakau yang memiliki fungsi utama menahan erosi dan abrasi air laut tersebut. Reklamasi yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan hidup sangat merusak ekosistem di kawasan pantai. Rusaknya hutan bakau, berdampak pula pada meluasnya banjir dan rob, ungkap Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono, Rabu (18/6) di Kota Semarang. Menurut Sri Puryono, perilaku masyarakat di kawasan pesisir dalam memanen bakau juga kurang memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian dan konservasi lingkungan hidup. Padahal, seharusnya, untuk setiap bakau yang ditebang harus dilakukan penanaman kembali. Dari data Dinas Kehutanan Jateng, terdapat 14 kabupaten/kota yang kawasan hutan bakaunya masuk kategori rusak berat, yakni Kabupaten Cilacap, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Demak, Jepara, Pati, Rembang, serta Kota tegal, Pekalongan, dan Semarang. Dari 14 daerah tersebut, kerusakan hutan bakau paling luas terjadi di Kabupaten Pati, yakni 17.000 hektar. Kerusakan hutan bakau di Kabupaten Demak juga cukup luas, mencapai 8.600 hektar. Pakar manajemen lingkungan hidup Universitas Diponegoro Prof Sudharto Hadi menilai, kerusakan hutan bakau di Jawa Tengah salah satunya disebabkan minimnya lahan pantai yang dimiliki pemerintah. Sekitar 65 persen dari kawasan pantai dimiliki oleh pihak swasta. Dengan demikian, fungsi kontrol pemerintah tidak bisa optimal, jelasnya.

Untuk memperbaiki ekosistem hutan bakau, pemerintah telah merehabilitasi sejumlah kawasan hutan bakau di Jawa Tengah. Pada tahun 2007, telah dianggarkan dana dari Departemen Kehutanan sebesar Rp 3 juta per hektar, untuk merehabilitasi sekitar 5.000 hektar lahan bakau. Untuk tahun 2008-2009, kita sedang mendorong rehabilitasi secara swadaya oleh masyarakat supaya mereka memiliki kesadaran mengenai pentingnya hutan bakau, kata Sri Puryono.
6 Responses to

Hari : Minggu, 27 November 2011, Pukul : 14 : 04 WIB


Ruang Terbuka Hijau Baru Capai 20 %

Redaksi by Radiokotabatik on Kamis, 27 Oktober 2011 | 18:57

Kawasan hutan dan ruang terbuka hijau di Kota Pekalongan baru mencapai 20 persen dari total luas wilayah kota batik. Pemkot terus berupaya agar pencapaian ruang terbuka hijau bisa mencapai 30 persen. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan Supriyono kepada Radio Kota Batik mengungkapkan, pihaknya belum bisa mencapai target karena kota Pekalongan merupakan wilayah perkotaan yang setiap jengkal tanahnya bernilai ekonomi tinggi dan berpotensi untuk dijadikan tempat usaha. Suriyono menjelaskan, sampai dengan saat ini pihaknya mengaku kesulitan mencari lahan yang kosong yang akan digunakan sebagai ruang terbuka hijau. Supriyono mengatakan untuk menambah ruang terbuka hijau, pihaknya akan menanam 5000 tanaman bakau di Panjang Wetan, Degayu, dan Krapyak Lor. Penanaman tanaman bakau ini bekerjasama dengan Pusat Penanaman Mangrove Denpasar Bali. Supriyono menambahkan, selain itu pihaknya tahun ini akan membuat delapan taman di tingkat RW dan taman kota di Poncol serta akan menambah hutan kota di wilayah kelurahan Tirto

Pencanagnan Rehabilitasi Mangrove Written by Administrator Saturday, 26 December 2009 07:21


Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun memiliki wilayah pantai dengan panjang 250 KM di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Secara administratif tersebar di 10 Kabupaten dan 3 kota, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Rembang. Jenis-jenis mangrove yang umumnya terdapat di wilayah pantura Jawa Tengah adalah jenis Rhizophora spp., Bruguierra spp., Avicennia spp., dan Excoecaria spp. Luas kawasan yang berpotensi mangrove kurang lebih sekitar 76.929,14 Ha, dimana sebagian besar (99 %) terletak di luar kawasan hutan dan sisanya (1 %) terletak di dalam kawasan hutan. Dari hasil inventarisasi kerusakan kawasan mangrove di lima provinsi yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan pada tahun 1998, diketahui bahwa hutan mangrove di pantai utara Jawa Tengah pada umumnya merupakan hutan mangrove miskin jenis karena hanya disusun oleh sedikit jenis pohon mangrove dengan jenis yang dominan adalah Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Sedikitnya jenis vegetasi penyusun hutan mangrove yang masih dapat dijumpai, serta sedikitnya jumlah tanaman yang masih ada di kawasan berpotensi mangrove merupakan salah satu indikasi bahwa kawasan berpotensi mangrove di pantai utara Jawa Tengah pada umumnya tergolong rusak berat dan rusak sedang dengan luas masing-masing 43.903,37 ha dan 32.502,98 ha. Upaya rehabilitasi hutan mangrove oleh Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun berdasarkan lokasi penanamannya dibedakan menjadi 3 jenis. yaitu : Rehabilitasi mangrove pada hamparan pantai berhadapan langsung dengan laut. Rehabilitasi mangrove pada kanan kiri saluran. Rehabilitasi mangrove pada areal petambakan dengan pola sytvofishery, merupakan rangkaian kegiatan terpadu antara usaha budidaya perikanan dengan upaya pelestarian mangrove.

Upaya rehabilitasi hutan mangrove yang telah dilaksanakan oleh Balai pengelolaan DAS Pemali Jratun dari tahun 2000 s/d 2005 melalui berbagai kegiatan disajikan pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel Kegiatan Rehabilitasi mangrove Wilayah BPDAS Pemali Jratun

Kabupaten / No 1 2 3 4 5 Kota Kab. Brebes Kab. Tegal Kota Tegal Kab. Pemalang Kab. Pekalongan 2000 30 50 -

Kegiatan Rehabilitasi Mangrove tahun (Ha) 2001 40 2002 150 30 50 2003 30 2004 500 500 2005 350 350 150 Total 1070 80 930 150

6 7 8 9 10 11 12 13

Kota Pekalongan Kab. Batang Kab. Kendal Kota Semarang Kab. Demak Kab. Jepara Kab. Pati Kab. Rembang JUMLAH

50 150 280

20 60

40 60 40 115 15 500

10 50 90

500 1500

100 150 200 200 300 325 400 100 2625

100 200 250 200 1030 365 565 115 5055

Disamping melalui penanaman dalam rangka pelestarian mangrove telah pula dilakukan penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah Pantai (RTRDP) di 4 Kabupaten yaitu di Kabupaten Brebes, Pemalang, Jepara dan Pati, dua diantaranya yaitu RTRDP Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pati telah disahkan menjadi peraturan daerah. Rencana Tata Ruang Daerah Pantai ini merupakan salah satu bahan masukan bagi Pemerintah Daerah setempat dalam mernberikan rekomendasi pemanfaatan lahan daerah pantai sesuai dengan fungsinya dengan tetap mempertimbangkan pemanfaatan lahan daerah pantai oleh masyarakat pada saat ini

Pada dasarnya hutan mangrove dapat memperbahuri dirinya secara alami melalui regenerasi dengan anakan-anakan mangrove. Tetapi laju kerusakan mangrove lebih cepat dan tidak dapat diimbangi dengan laju kecepatan pemulihan secara alami. Untuk itu diperlukan campur tangan manusia untuk mempercepat laju pemulihan kerusakan mangrove yaitu dengan melalukan rehabilitasi pada kawasan yang potensial mangrove yang mengalami kerusakan melalui GERHAN. Upaya rehabilitasi mangrove melalui GERHAN di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah adalah sebagai berikut

Tahun 2004
Sasaran rehabilitasi Mangrove kegiatan GNRHL / GERHAN Tahun 2004 seluas 1.500 ha dengan jumlah bibit 4.290.000 batang jenis Rhizophora sp dengan sasaran lokasi Kabupaten Brebes, Pemalang dan Demak. Tahun 2005 Sasaran Rehabilitasi Mangrove kegiatan GNRHL /GERHAN tahun 2005 seluas 2.625 ha dengan jumlah bibit sebanyak 8.190.000 batang jenis Rhizophora sp dan Avicennia sp dengan sasaran lokasi Kabupaten Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Kota Semarang dan Kota Pekalongan.

Artikel Terkait:
http://www.scribd.com/search?query=wilayah+mangrove+di+pekalongan

70 Persen Hutan Mangrove di Indonesia Rusak,Fadel Muhammad Siap Penjarakan Perusak Lingkungan Pantai
Sabtu, 20 Maret 2010 07:11

Kerusakan hutan mangrove di Indonesia mencapai 70% dari total potensi mangrove yang ada seluas 9,36 juta hektare. Yaitu 48% atau seluas 4,51 juta hektare rusak sedang dan 23% atau 2,15 juta hektare dalam kondisi rusak berat. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam keterangannya ketika membuka Jambore Mangrove di Pantai Depok, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (19/3), mengatakan kerusakan sebagian besar hutan mangrove di Indonesia diakibatkan oleh ulah manusia, baik berupa konversi mangrove menjadi pemanfaatan lain seperti pemukiman, industri, rekreasi dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang ada, demikian Fadel, dari potensi sumberdaya mangrove seluas 9,36 juta hektare tersebut, 3,7 juta hektare berada di kawasan hutan, sedangkan 5,66 juta hektare di luar kawasan hutan, oleh karenanya untuk mengembalikan hutan mangrove tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan terus menggalakkan penanaman kembali hutan mangrove yang telah rusak. "Kita sejak tahun 2003 hingga 2009 telah melakukan penanaman mangrove untuk rehabilitasi dan mitigasi wilayah Mangrove sebanyak 1,4 juta batang pohon, yaitu 1,15 juta batang untuk rehabilitasi kawasan pesisir dan 263,5 ribu batang untuk mitrigasi wilayah pesisir sehingga secara keseluruhan wilayah pesisir telah direhabilitasi seluas 280,1 hektare.," kata Fadel Muhammad. Lebih jauh Fadel mengatakan keberadaan ekosistem mangrove sangat penting, selain berfungsi sebagai tempat pemijahan biota laut juga mempunyai andil dalam perubahan iklim melalui penyerapan emisi CO2, oleh karenanya meskipun Jambore ini telah selesai namun keterlibatan masyarakat untuk merawat sangat penting, bahkan pihak swasta juga didorong untuk terlibat dalam program ini. Secara umum, menurut Fadel, keberadaan hutan mangrove sangat penting, selain sebagai penyerapan polutan, juga melindungi pantai dari abrasi, meredam ombak, arus serta menahan sedimen, disamping itu juga mangrove dapat meredam air lautr pasang yang mengakibatkan Rob serta tempat berkembangbiaknya biota laut.

Dalam kesempatan kunjungan ke Pekalongan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad juga menyerahkan 196 unit rumah ramah bencana kepada warga Jawa Tengah yaitu 50 unit di Kota Pekalongan, 25 unit di kabupaten Pekalongan, 41 unit di kabupaten Cilacap, 50 unit di kabupaten Brebes dan 30 Unit di Kabupaten Rembang. (AS/OL-R) sumber : http://www.rri.co.id/index.php? option=com_content&view=article&id=6926:70-persen-hutan-mangrove-diindonesia-rusak&catid=19:politik&Itemid=205. Fadel Muhammad Siap Penjarakan Perusak Lingkungan Pantai Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, menyatakan siap menyeret para perusak konservasi pesisir ke pengadilan. Langkah itu dia lakukan demi mengamankan ekosistem pantai di Indonesia yang mengalami kerusakan semakin parah. "Kami akan memenjarakan para pengusaha yang terbukti merusak ekosistem pantai karena kerusakan terindikasi adanya kesengajaan dari mereka," katanya di Pekalongan. Ia mengatakan, saat ini pemerintah secara gencar kampanye pengembalian ekosistem pantai yang dinilai sudah melebihi ambang kerusakan. Kerusakan parah ekosistem pantai itu, katanya, dibuktikan dengan abrasi pantai yang semakin luas hingga ke permukiman dan hilangnya ikan dari habitat pantai. "Pemukiman penduduk sekitar pantai terancam terendam sedangkan produksi ikan nelayan turun karena lari menjauh dari sekitar pantai," katanya.

Ia mengatakan, kementerian yang dipimpinnya bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan sudah menyiapkan puluhan juta bibit mangrove untuk membantu pengembalian ekosistem pantai. Bahkan, katanya, kampanye melalui gerakan penanaman mangrove itu juga melibatkan elemen generasi muda melalui pramuka, pelajar, dan santri. (ANT/A038) Sumber : http://antaranews.com/berita/1268942548/fadel-muhammad-siappenjarakan-perusak-lingkungan-pantai

News and Info


24 Desember 2010 | 12:44 wib

MANFAAT HUTAN BAKAU BAGI KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

MANFAAT HUTAN BAKAU BAGI KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Indonesia merupakan negara kepulauan, jumlah pulau di Indonesia mencapai ribuan. Banyaknya pulau pulau tentu akan diikuti dengan banyaknya garis pantai, dipantai pantai inilah hutan mangrove atau biasa kita sebut hutan bakau biasa tumbuh . Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan NO 60/Kpts/Dj/I/1978 hutan mangrove dikatakan sebagai hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut , yakni tergenang pada waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut.Dari pengertian ini maka jelas bahwa hutan mangrove merupakan formasi hutan yang khas daerah tropika dan sedikit sub tropika, terdapat di pantai rendah dan tenang, berlumpur dan sedikit berpasir serta mendapat pengaruh pasang surut air laut. Mangrove juga merupakan matarantai penting dalam

pemeliharaan keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Ekosistem mangrove sangatlah kompleks karena terkait dengan ekosistem darat dan ekositem lepas pantai diluarnya., maka hutan mangrove dapat dikatakan sebagai interfance ecosystem , yang menghubungkan daratan kearah pedalaman serta daerah pesisir muara, sehingga terbentuk ekosistem yang unik dan berfungsi ganda dalam lingkungan hidup. Ini disebabkan adanya pengaruh lautan dan daratan, sehingga terjadi interaksi komplek antara sifat fisik, kimia dan biologi. Hutan mangrove juga disebut coastal woodland atau tidal surut atau hutan bakau atau rawa garam atau intertidal zone karena merupakan tempat yang bergerak akibat terbentuknya tanah lumpur dan daratan secara terus menerus oleh tumbuhan sehingga secara perlahan tapi pasti akan menjadi semi daratan. Mangrove bisa juga disebut dengan vegetasi berjalan yang cenderung mendorong terbentuknya tanah timbul melalui suksesi alami atau buatan dengan terbentuknya vegetasi baru pada tanah timbul tersebut. Perusakan hutan bakau oleh ulah manusia untuk berbagai kepentingan seperti untuk areal pertambakan, pemanfaatan kayun untuk berbagai keperluan akan mengakibatkan efek negatif terhadap ekosistem disekitarnya seperti menurunnya produktifitas perikanan di dalamnya ini terbukti dari menurunnya produksi udang laut. Dari uraian diatas kita tahu bahwa hutan bakau begitu besar bermanfaat bagi kita . Manfaat kawasan hutan bakau bisa dinikmati karena fungsinya baik secara fungsi fisik maupun fungsi biologis . Fungsi fisik antara lain adalah dengan adanya kawasan hutan bakau maka bisa digunakan sebagai penjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai , mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap cemaran limbah B3 (bahan berbahaya beracun). Fungsi sebagai penahan gelombang secara alami yang dapat melindungi kawasan/daerah sekitar pantai yang berupa desa yang didalamnya mungkin terdapat areal tambak, pemukiman penduduk dan lainnya dari terjangan ombak dan gelombang laut yang kadang kadang cukup tinggi sehingga bisa merusak kawasan permukiman warga pantai itu sendiri. Coba bayangkan kalau terjadi tsunami di daerah kita Jawa tercinta ini , seperti yang sudah dialami saudara kita di Aceh sana. Betapa dasyatnya kerusakan yang ditimbulkan akibat gelombang besar tersebut apabila tidak ada pelindung di pantai sebagaimana bakau melindungi kawasan pantai dari kerusakan. Apabila kawasan hutan bakau berkurang maka akan timbul dampak negatif yang langsung dirasakan masyarakat sekitar pantai seperti secara perlahan akan terjadi abrasi sehingga bisa menghilangkan sebagian wilayah pesisir yang selama ini digunakan untuk berbagai keperluan. Selain abrasi juga bisa terjadi intrusi air laut dan gundulnya hutan bakau akan mengakibatkan pemanasan global dan juga akan mengakibatkan meningkatnya carbon ( CO2) Selain fungsi fisik, kawasan hutan bakau juga mempunyai fungsi biologis yaitu sebagai tempat berlindung yang nyaman dan aman bagi ikan pada saat berkembang biak. Disela sela tumbuhan

bakau (Rhizophoraceae sp) dan kayu api api merupakan habitat yang nyaman bagi kepiting bakau yang mempunyai nilai jual tinggi, pemahaman ini sudah banyak dipahami oleh masyarakat sekitar pantai, sehingga masyarakat disekitar hutan bakau tidak lagi menebang pohon bakau untuk keperluan rumah tangga dan lainnya, melainkan hanya mengambil ranting ranting pohon saja untuk kepentingan kayu bakar sehingga tidak mengganggu kelestarian hutan bakau yang sudah ada, bahkan perkembangan positif sangat terasa dengan adanya kesadaran masyarakat dan LSM untuk berbondong bondong menanam pohon bakau diarea /kawasan pantai yang masih terasa kosong. Kesadaran lain juga bisa kita lihat dengan tidak ada lagi muncul penggundulan hutan bakau untuk areal tambak dan fungsi bisnis lain. Kawasan hutan bakau merupakan kawasan yang subur karena biasanya berada di muara sungai sehingga merupakan tempat berkumpulnya partikel partikel organik atau endapan lumpur yang dibawa dari daerah hulu akan membawa nutrien dan detritus. Kondisi perairan yang subur ini akan membawa sejumlah sumberdaya seperti ikan, kepiting , udang dan biota akuatik lainnya untuk mencari makan. Selain mencari makan sumberdaya tersebut juga menjadikan hutan bakau menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk memijah dan menjadikan tempat ini sebagai tempat tumbuh dan berkembang. Dengan melihat kenyataan diatas maka sangatlah penting keberadaan kawasan hutan bakau di suatu wilayah untuk terus dilestarikan. Keberadaan hutan bakau selain memberikan manfaat secara fisik dan biologis juga juga memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat yang hidup disekitar sumberdaya hutan bakau yaitu sebagai penahan wilayah pesisir dari hantaman gelombang. Sedangkan bagi pemerintah dan pihak pihak lain yang terkait (stakeholder) usaha usaha yang dilakukan haruslah mengingat dan mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan akibat dari pemanfaatan sumberdaya pesisir. Apabila mau memanfaatkan kawasan hutan bakau untuk kepentingan apapun haruslah selalu bisa menjamin kualitas sumberdaya dalam menjalankan fungsinya baik fungsi fisik maupun fungsi biologis sehingga kelestarian kawasan hutan bakau tetap terpelihara agar bisa memberi nilai tambah secara sosial dan ekonomi dalam waktu yang panjang dan berkesimanbungan mengingat begitu besarnya fungsi hutan bakau bagi kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat disekitar pantai (PRATIWI)

http://diskanlut-jateng.go.id/index.php/read/news/detail/80