Anda di halaman 1dari 17

KONDISI LUKA DAN BENCANA KECELAKAAN LALU LINTAS DARAT Disusun guna memenuhi tugas Epidemiologi Bencana dan

Kedaruratan

Oleh: Andika Fisma Prayoga 082110101086

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JEMBER 2011

BAB I. PENDAHULUAN 1. Gambaran Umum Kecelakaan Lalu Lintas Secara garis besar kecelakaan lalu lintas dapat terjadi di darat, laut, dan udara. Dalam paper ini saya hanya membahas kecelakaan lalu lintas di darat. Menurut Yusherman, 2008 , kecelakaan lalu lintas adalah kejadian bertabraknya kendaraan darat yang tidak terduga dan tidak diinginkan. Sedangkan menurut Wikipedia, kecelakaan lalu lintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor yang dapat dioperasikan di darat bertabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah peristiwa bertabraknya kendaraan darat dengan benda lain yang tidak terduga, tidak diinginkan, dan menimbulkan kerugian. Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan. Pada tahun 2020 diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena kecelakaan. Angka kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan merupakan indikator penting dalam status kesehatan. (Yusherman, 2008) 2. Masalah Kecelakaan Lalu Lintas Pada tahun 2002, 90% dari kematian global karena kecelakaan lalu lintas terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah sampai sedang. Cedera karena kecelakaan lalu lintas secara tidak seimbang menimpa golongan miskin di negaranegara tersebut, dengan sebagian besar korban ialah pemakai jalan yang rentan seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, anak-anak, dan penumpang. (Yusherman, 2008) Masalah dan beban karena kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut wilayah secara geografi. Lebih dari separuh kematian karena kecelakaan lalu lintas jalan terjadi di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat dan angka tertinggi kecelakaan terjadi di wilayah Afrika. (Yusherman, 2008) Dampak ekonomi karena kecelakaan lalu lintas meliputi biaya perawatan kesehatan yang lama, kehilangan pencari nafkah, kehilangan pendapatan karena

kecacatan yang secara bersama menyebabkan keluarga korban menjadi miskin dan hal ini biasanya terjadi di negara-negara yang tingkat ekonominya rendah sampai sedang. Secara ekonomi kerugian karena kecelakaan lalu lintas tersebut sekitar 1-2,5% dari pendapatan domestik bruto. Sedangkan di Indonesia, kerugian ekonomi karena kecelakaan pada tahun 2002 diperkirakan sebesar 2,91%. (Yusherman, 2008) Kecelakaan lalu lintas dapat kapan saja dan dimana saja. Namun kecelakaan itu lebih sering pada keadaan manusia bergerak atau berlalu lintas. Lalu lintas ini hampir terjadi setiap saat dalam kehidupan manusia. Lalu lintas ini dapat terjadi di darat, laut, dan udara. Namun dewasa ini perhatian masih lebih banyak ditujukan pada lalu lintas darat. Perhatian dunia pada masalah kecelakaan lalu lintas juga cukup besar. Sekurang-kurangnya WHO sendiri memberi perhatian khusus pada tahun 1993 dengan mengambil kecelakaan sebagai tema hari Kesehatan Dunia (7 April): Sayangi Hidup, Hindari Kelalaian dan Kekerasan (Bustan, 2007) Sebagai suatu masalah kesehatan masyarakat, beberapa masalah penting kecelakaan lalu lintas adalah: 1. Kecelakaan lalu lintas adalah suatu masalah yang luas dan cukup rancu (kompleks). 2. Sekitar 90% disebabkan oleh faktor manusia (human factor). 3. Dapat terjadi di semua tempat di mana manusia bergerak di darat, tidak hanya di jalan raya. 4. Angaka kejadian dan kematian tinggi. Setiap hari ada 30 orang mati di jalanan Indonesia. Angka kematian yang tinggi, terutama dengan cidera kepala. Kejadian yang ditemukan sekitar 40.000 kasus setahun atau 100-150 kasus perhari dengan 30 korban jiwa, 54 luka berat, 76 luka ringan.

Bab II. PEMBAHASAN 1. Definisi Kecelakaan Lalu Lintas Darat Kecelakaan lalu lintas darat dalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor yang dapat dioperasikan di darat bertabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Kadang kecelakaan ini dapat mengakibatkan luka-luka atau kematian manusia atau binatang. Kecelakaan lalu-lintas menelan korban jiwa sekitar 1,2 juta manusia setiap tahun menurut WHO. Diperkirakan lebih dari satu juta orang di belahan bumi terbunuh dalam satu tahun akibat kecelakaan lalu lintas dijalan raya dan sekitar lima belas juta orang terluka. Kerugian finansial yang terjadi pada masyarakat terutama untuk pengobatan beberapa penyakit-penyakit mayor yang lain. Jumlah kecelakaan tiap mobil di jalan raya bervariasi jumlahnya dari satu negara ke negara lain. Gambaran yang paling jelek terjadi di beberapa Negara berkembang dimana angka kecelakaan yang fatal tiap mobil yang terjadi dijalan raya berkisar lebih dari seratus kali yang terjadi pada Negara berkembang (Mant, 2006). 2. Faktor Risiko Kecelakaan Lalu Lintas Secara umum ada empat faktor penyebab utama kecelakaan lalu lintas di darat. Keempat faktor tersebut adalah faktor manusia, kendaraan, jalan, dan kondisi lingkungan. Ditemukan kontribusi masing-masing faktor: manusia/pengemudi 75%, 5% faktor kendaraan, 5% kondisi jalan, 1% kondisi lingkungan, dan faktor lainnya (Bustan, 2007) Berikut ini adalah segitiga epidemiologi kecelakaan lalu lintas host

agent

environment

Host dalam segitiga tersebut adalah manusia. Agentnya adalah perilaku manusia yang aman, kondisi kendaraan yang tidak baik. Environment dalam segitiga tersebut adalah kondisi lingkungan alam yang berbahaya misalnya lingkungan pegunungan dengan kondisi jalan yang menanjak, berliku,dan menurun. 2.1 Faktor Manusia Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu.Selain itu manusia sebagai pengguna jalan raya sering sekali lalai dalam mengendarai kendaraan, tidak sedikit angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pengemudi kendaraan dalam keadaan mabuk, mengantuk, dan mudah terpancing oleh ulah pengguna jalan lain sehingga memancing pengemudi tersebut untuk balapan. Faktor manusia ini dapat dibagi menjadi tiga macam yakni faktor pengemudi, penumpang, dan pemakai jalan. 2.1.1 Faktor Pengemudi Faktor pengemudi yang dapat menyebabkan kecelakaan adalah adanya target dari perusahaan tempat pengemudi tersebut bekerja. Target ini dibagi menjadi dua macam yakni target setoran dan target waktu. Target setoran ini biasanya berlaku bagi pengemudi kendaraan pengangkut manusia seperti bus, taksi, dan mikrolet, sedangkan target waktu berlaku bagi pengemudi kendaraan pengangkut barang seperti truk, pick up, dll. Misalnya untuk menempuh perjalanan dari Bondowoso ke Surabaya sebuah truk tebu harus menempuh waktu maksimal 6,5 jam. Jika truk tersebut terlambat sampai di tempat tujuan dan mengakibatkan sejumlah cabai yang dibawa busuk, maka awak bus akan terkena hukuman berupa pemotongan gaji seharga cabai yang rusak tersebut. Target

setoran adalah sejumlah uang yang harus mampu diperoleh oleh sebuah armada kendaraan umum yang biasanya terdiri dari tiga orang awak yakni sopir, kernet, dan kondektur. Misalnya, dalam sehari, sebuah bus Restu dengan trayek Surabaya-Jember diharuskan mendapat uang sebesar Rp 500.000,00 untuk disetorkan ke perusahaan, jika ada sisa maka sisanya tersebut adalah hak awak bus dengan pembagian sopir 50%, kondektur 30%, dan kernet 20%. Para awak bus ini dibebani waktu kerja 10 jam per hari dengan 4 hari kerja dan 3 hari libur dalam seminggu. (Surya edisi 14-9-2011). Dengan sistem seperti mau tidak mau sopir akan kebut-kebutan di jalan raya untuk memenuhi target setoran tersebut. Sistem pengupahan yang berlaku dalam PO bus ada tiga macam yakni sistem bumel, premi, dan sistem premi plus dropping. Sistem bumel berlaku dengan cara awak bus tidak dibekali uang, melainkan mencari uang sendiri. Sopir akan memburu penumpang habis-habisan agar ada uang sisa setoran. Bus rata-rata cepat rusak karena sopir asal bawa. Kondisi seperti ini sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sistem premi berlaku dengan cara solar dibayar perusahaan sehingga cenderung membuat sopir suka tancap gas yang mengakibatkan bus cepat aus. Namun, penumpang akan puas karena bus cepat sampai tujuan. Sistem ini adalah sistem yang paling banyak diterapkan oleh PO bus. Namun, sistem ini juga masih berisiko tinggi menimbulkan kecelakaan lalu lintas karena kebiasaan sopir bus yang suka tancap gas. Sistem yang paling aman adalah sistem premi plus dropping yang diberlakukan dengan cara solar dan kebutuhan operasional dipasok perusahaan, awak bus dibayar setiap rit. Dengan sistem ini, sopir akan berhemat solar sehingga bus berjalan lambat. Sistem ini adalah yang paling aman untuk menghindari kecelakaan lalu lintas. Namun, sistem ini dapat membuat penumpang kecewa karena bus yang ditumpanginya berjalan lambat sehingga terlambat sampai di tujuan. Faktor pengemudi lain yang merupakan faktor risiko kecelakaan lalu lintas adalah kurangnya keterampilan mengemudi, gangguan kesehatan pada pengemudi (mabuk, mengantuk, lelah), dan tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM).

2.1.2 Faktor Penumpang Faktor penumpang dapat menjadi salah satu faktor risiko kecelakaan lalu lintas apabila jumlah penumpang melebihi kapasitas kendaraan. Secara psikologis ada juga kemungkinan penumpang mengganggu pengemudi (Bustan, 2007). 2.1.3 Faktor Pemakai Jalan Pemakai jalan di Indonesia bukan saja terjadi dari kendaraan. Di sana ada pejalan kaki atau pengendara sepeda. Selain itu jalan raya dapat menjadi tempat numpang pedagang kaki lima, peminta-minta, dan semacamnya. Hal ini membuat semakin semrawutnya keadaan di jalanan. Jalan umum juga dipakai sebagai sarana perparkiran. Tidak jarang terjadi, mobil terparkir mendapat tabrakan (Bustan, 2007). 2.2 Faktor Kendaraan Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, dan perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor ini, hendaknya dilakukan perawatan secara rutin dan perbaikan kendaraan secara memadai. Selain itu juga diperlukan adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara reguler. Diantara semua jenis kendaraan darat, sepeda motor adalah kendaraan yang paling sering mengalami kecelakaan lalu lintas (Bustan, 2007). 2.3 Faktor Jalan Faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang rusak/berlobang sangat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai sepeda motor.

Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Royke Lumowa, 10 persen kecelakaan di jalan raya di DKI Jakarta terjadi karena kondisi jalan yang rusak. "Kecelakaan itu ada beberapa sebab seperti karena manusia, kendaraan, kurangnya penerangan jalan atau cuaca. Sekitar 10 persen kecelakaan jalan akibat kerusakan jalan," kata Royke kepada wartawan (dikutip dari detikNews edisi 7-8-2011). Keadaan jalan yang berkaitan dengan kemungkinan kecelakaan lalu lintas berupa: 1. Struktur: datar/mendaki/menurun; lurus/berkelok-kelok. 2. Kondisi: baik/berlubang. 3. Luas: lorong, jalan tol. 4. Status: jalan desa, jalan provinsi/negara (Bustan, 2007) 2.4 Faktor Lingkungan Hujan dapat memengaruhi kinerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah pegunungan. Selain itu kondisi alam pegunungan dengan jalan berkelok-kelok juga dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. 3. Statistik Kecelakaan Lalu Lintas Data Kepolisian RI tahun 2009 menyebutkan, sepanjang tahun itu terjadi sedikitnya 57.726 kasus kecelakaan di jalan raya. Artinya, dalam setiap 9,1 menit sekali terjadi satu kasus kecelakaan.(Departemen Perhubungan, 2010). Jika dihitung dari pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia tahun itu, kerugian ekonominya mencapai lebih dari Rp 81 triliun. Jumlah tersebut meliputi perhitungan potensi kehilangan pendapatan para korban kecelakaan, perbaikan

fasilitas infrastruktur yang rusak akibat kecelakaan, rusaknya sarana transportasi yang terlibat kecelakaan, serta unsur lainnya. (Departemen Perhubungan, 2010). Badan kesehatan dunia WHO mencatat, hingga saat ini lebih dari 1,2 juta nyawa hilang di jalan raya dalam setahun, dan sebanyak 50 juta orang lainnya menderita luka berat. Dari seluruh kasus kecelakaan yang ada, 90 persen di antaranya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kerugian materiil yang ditimbulkan mencapai sekitar 3 persen dari PDB tiap-tiap negara. (Departemen Perhubungan, 2010). Kondisi inilah yang memicu PBB untuk mengeluarkan resolusi dengan membentuk Global Road Safety Partnership (GRSP) di bawah pengawasan WHO pada tahun 2006, dengan tujuan utama menekan angka kecelakaan dan tingkat fatalitas yang ditimbulkan terhadap korban-korbannya. PBB meminta negaranegara anggotanya untuk membuat kebijakan-kebijakan strategis baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk meminimalisasi jumlah maupun akibat yang ditimbulkan dari kecelakaan jalan raya. (Departemen Perhubungan, 2010) Kemudian di Indonesia diterjemahkan dengan membentuk suatu kelompok partnership yang namanya juga Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia atau dengan falsafahnya yang dikenal sebagai Gotong Royong Selamatkan Pengguna Jalan. (Departemen Perhubungan, 2010). Kecelakaan lalu lintas dapat terjadi kapan saja. Namun terdapat saat-saat dimana jumlah dapat meningkat seperti pada saat menjelang Idul fitri dimana terjadi arus mudik besar-besaran. Seperti yang disebutkan Posko Mudik Lebaran Departemen Perhubungan pada seluruh akses jalan tol di Pulau Jawa Tahun 2009, mencatat jumlah kecelakaan yang meningkat 54 persen dari rentang waktu yang sama pada tahun lalu.(Kompas, 2009). Khusus untuk tahun 2011 jumlah kecelakaan yang terjadi saat musim mudik Idul Fitri tahun 2011 meningkat sekira 34,61 persen dibandingkan dengan tahun 2010. Data kecelakaan lalu lintas yang dicatat selama Operasi Ketupat sejak H-7 hingga hari H lebaran mencapai 2773 kecelakaan. Jumlah kecelakaan naik 713 atau 34,61%, tahun 2010 sebanyak 2060 dan tahun 2011 sebanyak 2773

kecelakaan, kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Ketut Untung Yoga Ana dalam keterangan yang diterima okezone, Kamis (1/9/2011). Salah satu PO bus yang cukup fenomenal karena sering mengalami kecelakaan lalu lintas adalah PO Sumber Kencono. Berikut data Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur, terkait kecelakaan yang melibatkan bus Sumber Kencono, periode Januari-September 2011: 9 Januari 2011, po.Sumber Kencono vs sepeda motor, TKP:Trowulan, 1 luka ringan 24 Januari 2011, po Sumber Kencono, TKP:Sby-Madiun km 143-144 Mejayan-Madiun, meninggal dunia 1, luka ringan 1 26 Januari 2011, po Sumber Kencono vs motor, TKP:Mantingan, Madiun, meninggal dunia 1 30 Januari 2011, po Sumber Kencono vs motor, TKP:Raya Simpang Bagor, Nganjuk, meninggal dunia 1 5 Februari 2011, po Sumber Kencono vs truk, TKP:Mantingan, Ngawi, luka berat 2, luka ringan 24 Februari 2011, po Sumber Kencono, TKP:Raya ds.Plumpung, Jombang, luka ringan 6 7 Maret 2011, po Sumber Kencono vs truk, TKP:Raya Singkalan, Balong Bendo, luka berat 2 13 Maret 2011, po Sumber Kencono vs motor, TKP:Mojoagung, Jombang, luka ringan 1 21 Maret 2011, po Sumber Kencono vs truk gandeng vs sepeda motor, TKP:by pass Puri, Mojokerto, luka ringan 1 9 April 2011, po Sumber Kencono vs warung, TKP:Simpang 3, Jombang, luka ringan 2 12 April 2011, po Sumber Kencana vs penumpang bus, TKP:Wilangan, Nganjuk 24 April 2011, po Sumber Kencono vs penumpang bus, Nganjuk

29 April 2011, po Sumber Kencono, TKP:Saradan, Madiun, meninggal dunia 1

12 Mei 2011, po Sumber Kencono vs motor, Desa Bayem, Magetan, luka ringan 1

13 Mei 2011, TKP:Maospati, Magetan, luka ringan 7 22 Mei 2011, po Sumber Kencono, TKP:ds.Pajaran, Madiun, meninggal dunia 10, luka berat 1, luka ringan 2

24 Juni 2011, sepeda motor vs motor, TKP:Paron, Nganjuk, luka ringan 1 18 Juli 2011, po Sumber Kencono vs motor, TKP:Desa Maron, Magetan, luka berat 1

28 Agustus 2011, po Sumber Kencono, TKP:Desa Jeruk Gulung, Bale Rejo, Madiun, luka ringan 1

2 September 2011, po Sumber Kencono, TKP:Sugih Waras, Saradan, Madiun, luka ringan 1

12 September 2011, po Sumber Kencono vs mini bus, TKP:by pass Desa Kenanten Puri, Mojokerto, meninggal dunia 20, luka berat 5, luka ringan 7 orang (http://news.okezone.com diakses tanggal 15 September 2011) Berikut ini adalah data jumlah kecelakaan, korban mati, luka berat, luka

ringan, dan kerugian materi yang diderita tahun 1992-2009.

Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999*) 2000 2001 2002 2003

Jumlah Kecelakaan 19 920 17 323 17 469 16 510 15 291 17 101 14 858 12 675 12 649 12 791 12 267 13 399

Korban Mati 9 819 10 038 11 004 10 990 10 869 12 308 11 694 9 917 9 536 9 522 8 762 9 856

Luka Berat 13 363 11 453 11 055 9 952 8 968 9 913 8 878 7 329 7 100 6 656 6 012 6 142

Luka Ringan 14 846 13 037 12 215 11 873 10 374 12 699 10 609 9 385 9 518 9 181 8 929 8 694

Kerugian Materi (Juta Rp) 15 077 14 714 16 544 17 745 18 411 20 848 26 941 32 755 36 281 37 617 41 030 45 778

2004 2005 2006 2007 2008 2009

17 732 91 623 87 020 49 553 59 164 62 960

11 204 16 115 15 762 16 955 20 188 19 979

8 983 35 891 33 282 20 181 23 440 23 469

12 084 51 317 52 310 46 827 55 731 62 936

53 044 51 556 81 848 103 289 131 207 136 285

Sumber : Kantor Kepolisiian Republik Indonesia


*)

sejak 1999 tidak termasuk Timor-Timur

4. Kondisi Luka Kecelakaan Lalu Lintas Distribusi dan beratnya luka yang diderita oleh pengendara kendaraan pada kecelakaan lalu lintas di jalan raya akan bergantung pada seberapa besar kekuataan yang dialami subyek dan arah dari mana mereka datangnya. Kekuatan akan secara langsung berhubungan dengan kecepatan pada waktu terjadinya impact, apakah hanya berupa tipe kecelakaan tunggal atau melibatkan benturan dengan satu atau lebih kendaraan lainnya. Luka akibat impact primer mungkin lebih sering dipengaruhi oleh pengaruh dari kecepatan kendaraan, oleh kerusakan yang terjadi, oleh desain interior dari kabin atau oleh apakah ada atau tidak perlengkapan keamanan dalam kendaraan. Distribusi dan beratnya luka akan dipengaruhi oleh : Dimana tempat duduk orang yang mengalami kecelakaan; Arah dari impact yang terjadi; Desain dari kabin; Kekuatan dari impact; Keadaan kendaraan setelah terjadinya impact; Apakah terjadi sesuatu yang terlempar dari kendaraan;

Penggunaan sistem keamanan; dan Keterlibatan dari beberapa faktor yang lain seperti kebakaran atau masuknya keras ke dalam kabin, seperti kayu, tongkat, dan lain-lain (Mant, 2006)

Bagian tubuh yang mengalami luka/cedera dapat dikategorikan menjadi empat bagian yakni kepala, badan, tangan, dan kaki. Menurut Riskesdas, 2007, dalam Riyadina,2009, bagian tubuh yang paling sering mengalami cedera saat terjadi kecelakaan lalu lintas adalah kaki. Proporsi bagian tubuh yang mengalami cedera adalah sebagai berikut: Bagian tubuh yang cedera Kepala Badan Tangan Kaki Frekuensi 4089 2130 9947 13281 Persentase 19,6% 10,2% 47,8% 63,8%

Jenis cedera yang paling sering terjadi saat kecelakaan lalu lintas (Riskesdas, 2007, dalam Riyadina, 2009). Jenis luka/cedera Benturan/memar Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir/teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lain-lain Frekuensi 10202 13716 5567 389 4378 1770 212 303 355 Presentase 49,0% 65,9% 26,7% 1,9% 21,0% 8,5% 1,0% 1,5% 1,7%

Berikut ini adalah gambar-gambar tentang kondisi luka, korban meninggal dan kerugian yang ditimbulkan akibat kecelakaan lalu lintas.

(Luka Terbuka)

(Jenazah istri Saipul Jamil)

(Jenazah Nike Ardilla)

(Mobil Saipul Jamil)

(Bus Sumber Kencono) 5. Upaya Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas Untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas, berbagai upaya dapat dilakukan berupa: 1. Safety fasilities seperti helmet, seat belt, sidewalk (koridor), over head bridge (jembatan penyeberangan), trafic signal (rambu jalanan). 2. Penggunaan helm. 3. Law enforcement/peraturan (Bustan, 2007).

Peraturan lalu lintas masih terus berkembang memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketika awal wajib helm ingin diterapkan terdapat ''rejeksi''/penolakan dari masyarakat. Peraturan pemakaian tali ikat pinggang pada pengendara motor juga sudah dianjurkan tetapi masih diacuhkan (Bustan, 2007).

DAFTAR PUSTAKA Amelia, R. E. Mei. 2011. Jalan Rusak Jadi Biang Kerok 10 Persen Kecelakaan. [serial online]. www.detikNews.com (7 Agustus 2011) Anonim. 2011. Kecelakaan Lalu Lintas. [serial online]. www.wikipedia.com (14 September 2011) Arif, Saiful. 2011. Sopir Ugal-ugalan Karena Kejar Setoran? [serial www.surya.com (13 September 2011) Bustan, M. N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta. Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Timur. 2011. Kecelakaan yang Melibatkan Bus Sumber Kencono, periode Januari-September 2011. Kantor Kepolisian Republik Indonesia. 2010. Jumlah Kecelakaan, Koban Mati, Luka Berat, Luka Ringan, dan Kerugian Materi yang Diderita Tahun 1992- 2009. Mant, A. Keint. 2006. Luka dan Kematian Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan. Jakarta. Dian Rakyat. Riyadina, Woro, dkk. 2009. Pola dan Determinan Sosiodemografi Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia, Volume 59, Nomor: 10, Oktober 2009. Yusherman, Jasni. 2008. Epidemiologi Kecelakaan Lalu. [serial online]www.dokterbandung.com (diakses tanggal 14 September 2011) online]