Anda di halaman 1dari 2

Learning Objective 7 Penilaian Piutang Wesel Perusahaan biasanya menggunakan salah satu dari metode collective assessment (persentase

penjualan atau persentase piutang) untuk mengukur impairment. Piutang jangka panjang terkadang memiliki masalah lain dalam pengestimasian, nilai dari piutang wesel mungkin akan berubah dari waktu ke waktu karena amortisasi diskonto atau premi. Hal ini akan menyebabkan perbedaan yang cukup signifikan antara fair value dan biaya amortisasi. Pada piutang jangka panjang, impairment test biasanya dilakukan pada dasar individual assessment bukan pada dasar collective assessment. Kerugian impairment dihitung sebagai selisih antara nilai buku dari piutang dan present value dari estimasi aliran kas di masa mendatang didiskonto pada tingkat bunga efektif. Present value dari piutang wesel yang didiskonto pada tingkat suku bunga efektif yang sebenarnya umumnya akan berbeda dengan fair value dari piutang. Market rate dari suku bunga diskonto akan berbeda dari tingkat suku bunga efektif yang sebenarnya.

Learning Objective 5 Persentase Piutang Prosedur ini menghasilkan estimasi realizable value dari piutang secara akurat. Tetapi, tidak sesuai dengan konsep matching cost dan pendapatan. Metode ini melaporkan piutang pada laporan posisi keuangan pada cash realizable value. Perusahaan biasanya menggunakan metode ini dengan satu composite rate yang menunjukkan besar piutang tak tertagih. Atau dapat menggunakan tabel umur piutang yang memberikan persentase berbeda sesuai dengan kategori umur piutang. Proses Evaluasi Impairment Perusahaan melihat piutang untuk impairment di setiap periode pelaporan dan memulai impairment dengan mempertimbangkan apakah bukti objektif mengindikasikan bahwa satu atau lebih kerugian telah terjadi. Contoh kerugian yang mungkin terjadi adalah: 1. Masalah keuangan yang signifikan dari pelanggan. 2. Default pembayaran. 3. Negosiasi kembali mengenai jatuh tempo piutang karena kesulitan keuangan yang dialami pelanggan. 4. Penurunan dari estimasi aliran kas di masa mendatang dari sejumlah piutang sejak pengakuan awal. IASB mensyaratkan bahwa impairment harus dilakukan sebagai berikut: 1. Piutang yang secara individu signifikan harus dipisah impairment-nya. 2. Piutang yang tidak di-impairment harus dimasukkan ke dalam kelompok asset dengan karakteristik risiko kredit yang sama dan dikelompokkan untuk di-impairment. 3. Semua piutang yang tidak digunakan secara individu harus dikelompokkan untuk impairment.