Anda di halaman 1dari 2

Pruritus adalah manifestasi umum dari penyakit kulit termasuk ekzim serotik, dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi.

Pengobatan yang efektif dapat mencegah induksi awal dari komplikasi pruritus seperti liken simplek kronik dan impetigo. Pasien dewasa terutama orang tua dengan pruritus yang parah yang tidak merespon terhadap terapi konservatif harus dievaluasi untuk penyakit sistemik yang mendasari. Penyebab pruritus sistemik termasuk uremia kolestasis, polisitemia vera, limfoma Hodgkin, hipertiroidisme dan human immunodeficiency virus (HIV). Biopsi kerokan kulit atau kultur dapat diindikasikan jika terdapat lesi pada kulit. Uji diagnostik diarahkan pada evaluasi klinis dan termasuk hitung darah lengkap dan pengukuran TSH (thyroid-stimulating hormone), bilirubin serum, fosfatase alkali serum, kreatinin, dan tingkat nitrogen urea dalam darah. Radiografi thorak dan uji infeksi HIV mungkin diindikasikan pada beberapa pasien. Managemen pruritus non-spesifik diarahkan terutama untuk mencegah xerosis. Pengelolaan pruritus dengan penyakit spesifik ditetapkan untuk kondisi sistemik tertentu termasuk uremia dan kolestasis. Pruritus adalah masalah dermatologi umum yang insidesinya meningkat berdasarkan umur. Pada beberapa pasien, kondisi mungkin dapat begitu parah yang mempengaruhi tidur dan kualitas hidup. Sementara pruritus paling sering terjadi pada penyakit kulit, mungkin hal tersebut juga menjadi petunjuk dermatologi penting untuk adanya penyakit sistemik yang mendasari. Patofisiologi Pruritus berasal dari bawah syaraf akhiran bebas kulit, yang paling banyak berkonsentrasi di pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Sensasi pruritus dihantarkan serat C ke tanduk dorsal sumsum tulang belakang dan kemudian ke korteks serebral melalui jalur spinothalmic.1 Pruritus menghasilkan respon reflek spinal, yaitu garukan yang merupakan bawaan reflek tendon dalam.2 Terlepas dari penyebabnya, pruritus sering diperburuk dengan peradangan kulit, kering atau kondisi lingkungan yang panas, vasodilatasi kulit, dan stres psikologi.3 Terdapat mekanisme tunggal yang tidak dapat menjelaskan seluruh penyebab pruritus. Histamin, yang mana dikeluarkan oleh sel mast pada seseorang dengan urtikaria dan reaksi alergi lainnya. Secara klasik hal ini di tampakkan dengan pruritus. Bagaimanapun, dengan pengecualian kondisi alergi tertentu, histamin harus dipertimbangkan sebagai satu-satunya dari beberapa mediator kimia gatal. Kemunculan serotonin sebagai komponen kunci dari pruritus yang terjadi pada beberapa penyakit, termasuk polisitemia vera, uremia, kolestasis, limfoma, dan morfin terkait pruritus. Inhibitor serotonin seperti Cyproheptadine (periactin), pizotifen, paroxetine (paxil), dan ondansetron (zofran) telah terbukti efektif dalam mengobati beberapa dari kondisi pruritus tersebut. 2 Opioid memicu pruritus pada sebanyak 90% pasien yang menerima suntikan narkotika intraspinal. Suntikan opioid intravena dan intradermal juga dapat menyebabkan gatal-gatal.2 Antagonis narkotika telah digunakan dan sukses menghilangkan pruritus pada pasien dengan kolestasis.4