Anda di halaman 1dari 12

1.

Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang diciptakan sempurna oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan dibekali akal dan pikiran, manusia terus berkembang dan terus berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang belum terpecahkan. Hausnya manusia akan teknologi membawa manusia akhirnya dapat menciptakan sebuah alat yang dapat memindahkan benda atau orang dari satu tempat ke tempat lainnya melalui udara. Sekitar 228 (dua ratus dua puluh delapan) tahun yang lalu, 2 (dua) inventor asal Perancis, Jean Francois Pilatre de Rozier dan Francois Laurent, berhasil menerbangkan balon udara panas berawak manusia yang mampu terbang di langit Kota Paris selama 25 (dua puluh lima) menit.1 Sebelumnya, pada September 1783, dua bersaudara Montgolfier mengangkut seekor domba, ayam jantan dan bebek di dalam balon udara sebagai eksperimen, dan hewanhewan tersebut berhasil mengangkasa dengan balon udara selama delapan menit dan dapat mendarat dengan selamat. Tidak hanya berhenti disitu saja, perkembangan dunia penerbangan mencatat banyak hal yang fantastis, salah satunya adalah di Kill Devil Hill, dekat Kitty Hawk, North Carolina, 17 Desember 1903, dua mekanik sepeda yang berasal dari Dayton Ohio berhasil menerbangkan pesawat terbang pertama di dunia.2 Kedua inventor hebat tersebut yaitu Orville Wright dan Wilbur Wright. Walaupun mereka bukan orang yang pertama membuat pesawat percobaan, akan tetapi Wright bersaudara adalah orang yang pertama menemukan kendali pesawat sehingga pesawat terbang dengan sayap yang terpasang kaku bisa dikendalikan. Setelah pesawat dapat terbang di udara membawa muatannya dengan sempurna, dimana hal tersebut dapat menjawab pertanyaan manusia mengenai udara yang ada di atas, pada tahun 1926, Robert Goddard, seorang insinyur dari Amerika Serikat meluncurkan roket pertama di Auburn, Massachusetts. Roket ini menggunakan minyak dan oksigen dan dapat meluncur hingga ketinggian 12 (dua belas) meter. Selanjutnya, Goddard merancang roket yang lebih besar dan lebih cepat, hingga dapat terbang sampai ketinggian 2 (dua) kilometer. 3 Roket pertama kali dibuat di Cina pada abad ke-13, dan semenjak awal roket digunakan sebagai senjata perang untuk membawa bahan-bahan peledak dan diarahkan ke arah musuh.
http://dunia.vivanews.com/news/read/265968-21-11-1783--penerbangan-balon-udara-pertama, diakses pada tanggal 8 Desember 2011. 2 Chappy Hakim. Berdaulat Di Udara: Membangun Citra Penerbangan Nasional. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010. Hal. 3. 3 http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/Transportasi/roket/, diakses pada tanggal 8 Desember 2011.
1

Nama-nama ilmuwan barat yang mempunyai peran cukup nyata dalam perkembangan roket, diantaranya adalah Robert Anderson. Ilmuwan Inggris ini pada tahun 1696 membuat cetakan roket dan campuran bahan bakar roket yang disebut propelan.4 Memasuki tahun 1806, roket sudah digunakan oleh armada Napoleon, namun hasilnya belum sempurna dan akurat untuk menembak sasaran. Barulah kemudian pada awal abad ke-20, muncul dua orang ilmuwan yang bermimpi menggunakan roket untuk ke ruang angkasa, yaitu Konstantin Tsiolkovsky dari Rusia dan Robert Goddard dari Amerika Serikat.5 Pada saat Perang Dunia II, di bawah kepemimpinan Adolf Hitler, Jerman menghabiskan dana yang sangat besar untuk pengembangan roket. Tahun 1942, Jerman meluncurkan roket A-4 yang mencapai ketinggian 95 (sembilan puluh lima) kilometer di Peenemunde, Laut Baltik. Roket tersebut menjadi roket pertama buatan manusia yang meninggalkan atmosfer bumi dan dikenal sebagai Vergeltungswaffe Zwei (V-2), senjata pembalas dendam. Wernher von Braun menjadi ketua tim pengembangan roket Jerman yang merancang misil. Selama berlangsungnya Perang Dunia II, sebanyak 1403 (seribu empat ratus tiga) buah roket V-2 ditembakkan ke Kota London yang kemudian banyak menimbulkan korban dan kerusakan infrastruktur.6 Setelah Perang Dunia II, dengan kalahnya Jerman dan sekutunya, maka teknologi roket ini dibawa ke Uni Soviet dan Amerika Serikat. Di bawah dua negara besar tersebut roket mengalami perkembangan yang sangat pesat dan signifikan. Amerika Serikat dan UniSoviet mengembangkan roket untuk peluru kendali pada tahun 1950 dan roket itu dapat terbang di angkasa hingga ketinggian 100 kilometer dan roket harus memiliki kecepatan minimal 400 km/jam untuk menghindari gravitasi bumi. Di tangan Konstantin Tsiolkovsky, Uni Soviet kemudian berhasil meluncurkan roket pembawa satelit Sputnik ke orbit di ruang angkasa pada 4 Oktober 1957. Keberhasilan peluncuran satelit untuk pertama kali itu disusul peluncuran roket yang membawa Sputnik II. Dan pada tahun 1961, dengan menggunakan roket A-1, kosmonot pertama Rusia, Yuri Alexeyevich Gagarin, menjadi orang pertama di dunia yang pergi ke luar angkasa. Sedangkan Amerika Serikat pada tahun 1969, dengan menggunakan roket Saturnus V yang membawa pesawat Apollo yang diawaki oleh Neil Alden Amstrong dan Edwin Aldrin membuat sejarah yang selalu diingat oleh setiap manusia

http://engineeringtown.com/kids/index.php/penemuan/104-sejarah-ditemukannya-roket, diakses pada tanggal 8 Desember 2011. 5 Ibid. 6 Ibid.

dengan menjadi manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969. Selain Amerika Serikat dan Rusia, Indonesia ternyata juga memiliki kontribusi bagi perkembangan teknologi ruang angkasa. Hal itu dibuktikan dengan telah diluncurkannya satelit pertama Palapa A1 pada tanggal 9 Juli 1976 yang kemudian membuat Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang menggunakan satelit komunikasi domestiknya sendiri. Peluncuran satelit Palapa A1 masih disusul dengan peluncuran Palapa B1. Namun demikian, karena masih tidak stabilnya kondisi negara Indonesia itu sendiri, Indonesia kekmudian gagal melakukan alih teknologi dan sekarang kembali bertindak sebagai konsumen. Roket dan sesuatu yang berhubungan dengannya sesungguhnya identik sekali dengan perang, seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, ketika Perang Dunia II berlangsung, Jerman menggunakan teknologi roket melalui misil untuk menghancurkan Kota London sehingga menimbulkan kerusakan yang hebat. Dan setelah Perang Dunia II berakhir, timbul kembali Perang Dingin (Cold War) antara Blok Barat dan Blok Timur yang secara langsung ataupun tidak langsung telah memicu kedua negara adi kuasa tersebut untuk terus mengembangkan roket ke bentuk yang sempurna hingga dapat menjelajahi ruang angkasa dan mengungkap misteri di baliknya. Berakhirnya Perang Dingin diantara Blok Barat dan Blok Timur tersebut ternyata tidak dengan sendirinya menghidupkan harapan bahwa dunia akan menuju ke arah perdamaian dan kerukunan yang abadi, karena yang terjadi justru semakin pesatnya tingkat kenaikan anggaran militer dan melonjaknya volume jual beli persenjataan di dunia. Pengingkatan anggaran persenjataan yang mendorong lahirnya upaya mempersenjatai luar angkasa adalah salah satu hal yang paling mencemaskan situasi keamanan luar angkasa di masa sekarang ini. Pada tanggal 18 Desember 1958, The United Nations General Assembly menyadari betapa pentingnya kerjasama dari seluruh negara di dunia untuk menciptakan suatu konvensi internasional yang mengatur mengenai luar angkasa. Karena apabila ruang angkasa digunakan untuk kepentingan negara tertentu saja maka akan sangat berakibat fatal bagi seluruh negara lainnya. Hanya kegiatan dengan tujuan perdamaian untuk seluruh umat manusia lah yang diperbolehkan untuk dilakukan di luar angkasa.

2. Pembahasan Hukum angkasa merupakan hukum yang baru dimulai pada tahun 1960-an. Setelah peluncuran Spunik pada tahun 1957, empat tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1961, Uni Sovyet kembali melakukan kegiatan yang terkait dengan luar angkasa, yaitu peluncuran manusia pertama bernama Yuri Gagarin ke luar angkasa. Serangkaian kegiatan-kegiatan luar angkasa tersebut telah mendorong dan mengharuskan negara-negara di dunia bersama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membuat suatu pengaturan mengenai perkara yang sama sekali baru ini.7 Bersamaan dengan kemajuan yang telah dicapai oleh manusia melalui roket, satelit dan teknologi lainnya, haruslah diikuti oleh terciptanya hukum yang mengatur hal-hal tersebut. Kemajuan manusia di ruang angkasa menjadi alasan utama terhadap perkembangan hukum angkasa.8 Setelah dikeluarkannya beberapa resolusi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), akhirnya negara-negara di seluruh dunia pada tahun 1967 sepakat untuk melakukan kodifikasi hukum mengenai ruang angkasa yang dituangkan ke dalam Perjanjian Ruang Luar Angksa (Outer Space Treaty 1967). Secara tradisional, pengajaran hukum angkasa di berbagai Universitas lebih sering disatukan dengan pengajaran hukum udara, seperti misalnya di universitas-universitas di Belanda dan juga di Indonesia sendiri. Akan tetapi sesungguhnya hukum udara dan hukum angkasa merupakan dua rezim hukum yang berbeda. Berbeda dengan di Amerika, dimana hukum angkasa (space law) di beberapa Sekolah Hukum disana telah sejak lama diajarkan secara mandiri dan dalam pengertian terpisah dari hukum udara. Secara ilmiah, para ahli telah dapat membuktikan bahwa dimensi ruang udara tidak sama dengan dimensi ruang angkasa. Bermula dari kenyataan tersebut, membawa konsekuensi pada pembedaan pengaturan hukum dan prinsip-prinsip hukum yang berlaku di kedua ruang tersebut.9 Sebagai contohnya, di dalam ruang udara dianut prinsip kedaulatan negara, dimana negara berdaulat penuh dan eksklusif terhadap ruang udara yang ada di atasnya, sedangkan di dalam ruang angkasa, prinsip kedaulatan negara tersebut tidak dapat diterapkan dan tidak diakui karen hal tersebut sesuai dengan apa yang diatur di dalam Pasal 2 Space Treaty yang mengatakan bahwa ruang angkasa, termasuk bulan dan benda ruang angkasa lainnya, tidak dapat diklaim sebagai kedaulatan suatu negara dengan cara dan alasan apapun.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18095/perlindungan-haki-di-angkasa-luar-ditinjau-dariasasasas-umum-paten, diakses pada tanggal 11 Desember 2011. 8 Hikmahanto Juwana. Perluasan Ruang Lingkup Hukum Angkasa. UNISIA No. 18 Tahun XIII Triwulan 3, 1993. 9 Ibid.
7

Setelah terbentuk dan berlakunya Treaty on Principles Governing the Activities of the States in the Exploration and Use of Outer Space atau yang dikenal dengan Outer Space Treaty 1967, terbentuk pula beberapa perjanjian internasional lainnya yang mengatur mengenai ruang angksa. Adapun perjanjian-perjanjian internasional yang telah dihasilkan oleh masyarakat internasional mengenai ruang angkasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Agreement on the Rescue of Astronauts, the Return of Astronauts and the Return of Objects Launched Into Outer Space (Rescue Agreement) yang mulai berlaku tanggal 3 Desember 1968; 2. Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects (Liability Convention), mulai berlaku tanggal 1 September 1972; 3. Convention on Registration of Objects Launched Into Outer Space (Registration Convention), yang mulai berlaku tanggal 15 September 1976; dan 4. Agreement Governing the Activities of States on the Moon and Other Celestial Bodies (Moon Agreement), yang mulai berlaku tanggal 11 Juli 1984. Hukum angkasa yang ada dewasa ini apabila dibandingkan dengan kemajuan dari kegiatan yang diaturnya masih sangat jauh dari memadai. Harus diakui bahwa hukum angkasa dapat dikatakan sedikit menyimpang dari pola yang dialami oleh hukum udara dan hukum laut. Perkembangan hukum angkasa untuk selanjutnya harus memperhitungkan faktor-faktor yang benar-benar nyata sebelum diformulasikan dalam bentuk hukum tertulis. Kegiatan manusia di ruang angkasa pada saat ini telah memasuki suatu era komersialisasi pemanfaatan ruang angkasa. Dengan dimasukinya era ini, menurut Prof. Hikmahanto Juwana, maka hukum angkasa dirasakan perlu mendapatkan perluasan ruang lingkup kajiannya. Paling sedikit ada 3 penyebabnya yaitu sebagai berikut: 1. Perusahaan swasta sebagai pelaku kegiatan manusia di ruang angkasa. 2. Hukum nasional yang mengatur keegiatan manusia di ruang angkasa. 3. Cakupan kegiatan manusia di ruang angkasa. Hukum ruang angkasa adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara, untuk menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari segala aktifitas yang tertuju kepada ruang angkasa dan di ruang angkasa aktifitas tersebut demi

kepentingan seluruh umat manusia, untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan, terrestrial dan non terrestrial, dimana pun aktifitas itu dilakukan. Ruang angkasa dipandang sebagai suatu keseluruhan yang utuh, yang dalam lingkupnya mencakup benda-benda langit lainnya. Juga terdapat definisi Hukum Angkasa (Aerospace Law) yang berusaha untuk mencakup kedua bidang ilmu hukum itu, secara gabungan menjadi bagian hukum tunggal. Perjanjian mengenai Hukum Ruang Angkasa lebih dikenal sebagai Space Treaty 1967 yang ditandatangani pada tanggal 27 Januari 1967 dan berlaku sejak 10 Oktober 1967. Pesatnya perkembangan teknologi dalam bidang penerbangan mendorong adanya keinginan negara-negara maju untuk melakukan penerbangan lintas wilayah udara yaitu ruang angkasa, yang kemudian diikuti oleh pesawat ruang angkasa Amerika Serikat. Namun usaha-usaha yang dilakukan oleh negara-negara maju tersebut, kemudian dianggap sebagai ancama oleh negara-negara lain terhadap keamanan mereka. Oleh karenanya, dibentuklah sebuah komite melalui PBB guna merancang peraturan-peraturan bagi semua kegiatan dalam bidang ruang angkasa ini.10 Seperti hal nya dalam setiap kegiatan tertentu yang menghendaki tata cara pengaturan dan ketertiban, maka demikian juga dengan usaha-usaha manusia dalam melakukan pemanfaatan ruang angkasa untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidupnya. Apalagi ketika setiap manusia memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari angkasa. Istilah Hukum Angkasa ini memiliki beberapa ruang lingkup, diantaranya adalah sebagai berikut:11 1. 2.
3.

Sifat dan luas wilayah ruang angkasa dimana Hukum Angkasa diberlakukan; Bentuk kegiatan manusia yang diatur dalam ruang angkasa tersebut; Bentuk alat penerbangan (flight instrumentalities), seperti pesawat ruang

angkasa untuk ruang angkasa yang memiliki keterkaitan sehingga menjadikannya sebagai objek Hukum Angkasa. Berikut adalah pendapat beberapa ahli mengenai Hukum Angkasa yaitu: a. P. Zukhov : Space law may be defined as a sum total of rules of international

law governing relations between states and international organizations in


I.H. Ph. Diederiks Verschoor. Persamaan dan Perbedaan Antara Hukum Udara dan Hukum Ruang Angkasa, Sinar Grafika. Hal. 10. 11 Seri Kumpulan Presentasi Kelompok Kelas Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tahun 2010.
10

connection with their space activities and establishing a regime of international law for outer space and other celestial bodies. b. M. Lachs : Space law is the law meant to regulate relations between states to

determine their right and duties resulting from all activities directed towards outer space and within it. And to do so in the interest of mankind as a whole, to offer protection to life, terrestrial and non terrestrial, wherever it may exist.
c.

John C. Cooper : Aerospace Law is the body of legal principles and rulesm

from time to time effective, which govern and regulate: 1.) aerospace : its relationship to land and water areas on the surface of the earth, the extent and characters of the right of individuals and states to use and control such space, or parts thereof or celestial bodies there in, for flights or other purpose; 2.) flight : instrumentalities with which the flight is effected, including their nationality, ownership, use or control; 3.) the relationship of every kind affecting or between individuals, communities or states arising from the existence or facilities uses in connection therewith or to make flight effective. Menurut Outer Space Treaty 1967, bahwa seluruh aktifitas-aktifitas

keruangangkasaan hanya dapat dilakukan sesuai dengan UN Chapter (Piagam PBB) dan prinsip-prinsip hukum internasional, namun demikian masalah kedaulatan sangat erat kaitannya dengan beberapa aktifitas keruangangkasaan. Karena di dalam hukum ruang angkasa, kita menghadapi suatu fakta bahwa kebebasan eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa berada dalam lingkup hubungan antar negara yang berkedaulatan sama atas wilayah ruang angkasa itu. Dengan kata lain, bahwa yang dinamakan sebagai wilayah ruang angkasa tersebut adalah milik semua negara yang tidak dapat dikuasai secara sepihak dengan alasan apapun juga oleh suatu negara tertentu. Outer Space Treaty 1967 juga mengadopsi suatu prinsip yaitu prinsip kebebasan yang terangkum dalam kalimat sebagai berikut, Ruang angkasa termasuk bulan dan benda-benda langit lain, bebas untuk dieksplorasi dan pemanfaatan oleh setiap negara dan ruang angkasa, termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya itu tidak dapat dimiliki oleh negara-negara manapun juga, dengan alasan pemakaian atau pendudukan atau dengan cara apapun. Kepemilikan atas ruang angkasa dan benda-benda langit lainnya tidak dapat dibenarkan. Adapun beberapa prinsip-prinsip umum hukum angkasa yang terdapat di dalam Outer Space Treaty 1967 adalah sebagai berikut:12
12 Hukum Angkasa : Modul, Bahan Bacaan dan Dokumen, disusun oleh Hikmahanto Juwana. Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

1.

Prinsip non diskriminasi : bahwa angkasa termasuk bulan dan benda-benda

langit lainnya harus dimanfaatkan untuk kepentingan semua bangsa dan negara, tanpa membeda-bedakan tingkat ekonomo dan teknologi diantara mereka. 2. Prinsip persamaan (equality) : bahwa antariksa termasuk bulan dan benda-

benda langit lainnya dinyatakan bebas untuk dimanfaatkan oleh setiap negara atas dasar persamaan. 3. Prinsip kerjasama : bahwa kerjasama antara negara-negara harus melandasi

kebebasan untuk melakukan penelitian ilmiah atas angkasa, termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya. 4. Prinsip larangan kepemilikan nasional atas angkasa termasuk bulan dan

benda-benda langit lainnya (national non appropriation principle). Prinsip tersebut terdapat di dalam Artikel 2 Outer Space Treaty 1967. Dengan asas ini tertutuplah setiap usaha negara untuk melakukan klaim atas kepemilikan bagian manapun dari antariksa, termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya, baik melalui tuntutan kedaulatan, pendudukan, fakta penguasaan atau dengan cara-cara lain.
5.

Asas rule of law di dalam Artikel 3 Outer Space Treaty 1967 yang

menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan negara-negara dalam kaitan dengan angkasa harus berlandaskan hukum internasional, termasuk Piagam PBB, demi memelihara perdamaian dan keamanan dunia serta membina kerjasama dan solidaritas antar negara. Hukum udara internasional mengenal beberapa teori delimitasi ruang udara dan ruang angkasa, antara lain Schater Air Space Theory diperkenalkan oleh Oscar Scahater. Jenks Free Space Theory (teori ruang angkasa bebas) diperkenalkan oleh C Wilfred Jenks, Haley;s International Unanimity Theory (teori persetujuan internasional) diperkenalkan oleh John Cobb Cooper.

3. Kesimpulan
a. Kemajuan manusia hingga menghasilkan suatu penemuan-penemuan seperti

pesawat, roket dan satelit merupakan sebuah breakthrough yang langsung berdampak pada apa yang dinamakan sebagai hukum yang mengaturnya. Kegiatan-kegiatan manusia dewasa ini yang dapat dilakukan hingga ke ruang angkasa lah yang kemudian menjadi dasar terciptanya instrumen hukum internasional guna mengaturnya hingga dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh setiap bangsa tanpa merugikan salah satu atau seluruh negara di dunia.
b. Proses pembentukan hukum ruang angkasa didasarkan terutama pada hukum

internasional. Oleh karena itu, peranan hukum internasional sangat menentukan dan diterapkan pada bagian-bagian yang masih kurang atau belum diatur mengenai pihak-pihak yang berhubungan atas suatu kepentingan tertentu.13
c. Proses pembentukan hukum ruang angkasa bergerak ke arah dua tahap. Tahap

pertama ditandai oleh pengajuan serentetan resolusi oleh Majelis Umum dimana resolusi ini meliputi petunjuk-petunjuk dan cara-cara meningkatkan kerja sama internasional serta penetapan prinsip-prinsip dasar tentang pengaturannya. Tahapan selanjutnya adalah dengan diterimanya deklarasi prinsip-prinsip hukum untuk mengatur kegiatan-kegiatan negara di ruang angkasa yang berhubungan dengan penyelidikan dan penggunaan ruang angkasa.
d. Hukum angkasa dan hukum udara seyogyanya dipisahkan karena keduanya

memiliki dua rezim hukum yang berbeda. Karena sesungguhnya hukum angkasa akan hanya meliputi hukum yang berkenaan dengan kegiatan manusia di ruang angkasa dan kegiatan-kegiatan lain di bumi yang menunjang kegiatan manusia di ruang angkasa.14 e. Prinsip yang melekat pada hukum ruang angkasa berbeda dengan prinsip yang melekat pada hukum udara, dimana pada ruang angkasa tidak dapat suatu negara mengklaim bahwa angkasa dan/atau beserta benda-benda langit lainnya merupakan bagian dari kedaulatan mereka. Hanya demi tujuan kepentingan
Priyatna Abdurrasyid, Loc. Cit, Hal. 15. Hikmahanto Juwana. Perluasan Ruang Lingkup Hukum Angkasa. UNISIA No. 18 Tahun XIII Triwulan 3, 1993.
14 13

bersama dan kepentingan seluruh umat manusia lah suatu negara dapat melakukan kegiatan di luar angkasa.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HUKUM ANGKASA AKIBAT KEMAJUAN PENCAPAIAN MANUSIA DALAM BIDANG TEKNOLOGI

Oleh: Olviani Shahnara 0706 278 411

Jakarta, 11 Desember 2011 Tugas Akhir Mata Kuliah Hukum Udara dan Angkasa