Anda di halaman 1dari 6

DEDIK HARIYANTO 110511427022 PTM / A1

KONSTRUKTIVISTIK Pengertian dan Tujuan Konstruktivistik a. Pengertian Konstruktivistik Konstruksi berarti bersifat membangun. Menurut Tran Vui, konstruktivistik adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas pengalamanpengalaman sendiri, sedangkan teori konstruktivistik adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Menurut Glasersfeld (dalam Beetencourt, 1989 dan Matthews, 1994), konstruktivistik adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri dan juga menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas), pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Lebih jauh Von Glasersfeld (collette & ciappatta, 1994) mengemukakan bahwa constructivists stress that human contruct the objects and relationship that they perceive to the extent that their conceptions fit the environtment. Menurut Parkay (1995), konstruktivis memandang bahwa dalam belajar, siswa secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri. Belajar merupakan kerja mental secara aktif. . Menurut Martin. Et. Al (1994), konstruktivistik menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan yang baru.

b. Tujuan Konstruktivistik - Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu

sendiri. - Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawaban dari pertanyaan tersebut. - Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. - Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. - Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

Prinsip dan Ciri Pengajaran Konstruktivistik a. Prinsip pengajaran kontruktivistik Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivistik yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: 1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. 2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa sendiri untuk menalar. 3) Siswa aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah. 4) Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar. 5) Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan. 6) Mencari dan menilai pendapat siswa. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang

memanjatnya.

b. Ciri pengajaran konstruktivistik - Memberi peluang kepada siswa membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya. - Menggalakkan soal atau ide dari siswa dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. - Menyokong pembelajaran secara koperatif pada sikap dan pembawaan siswa. - Menggalakkan dan menerima daya usaha serta autonomi siswa. - Menggalakkan siswa bertanya dan berdialog antara siswa dan guru. - Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran. - Menggalakkan proses inkuiri siswa melalui kajian dan eksperimen.

Proses Belajar Menurut Konstruktivistik Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktivistik dan dari aspek-aspek si pelajar, peranan guru, dan sarana belajar, 1. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepaslepas. 2. Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si pelajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. 3. Peranan guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak

mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.

4. Sarana belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.

Pandangan Kontruktivistik tentang Belajar dan Pembelajaran, Lingkungan belajar, Strategi Belajar dan Evaluasi a. Pandangan konstrktivistik tentang belajar dan pembelajaran - Pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. - Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. - Siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

b. Pandangan konstruktivistik tentang lingkungan belajar - Ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan, - Siswa harus bebas. - Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungna belajar. - Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. - Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. pelajar adalah subjek yang harus memapu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar.

- Kontrol belajar dipegang oleh pelajar.

c. Pandangan konstruktivistik tentang strategi belajar - Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. - Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan dan ide-ide siswa. - Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. - Pembelajaran menekankan pada proses.

d. Pandangan konstruktivistik tentang evaluasi - Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergen, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar - Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugastugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. - Evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Kelebihan dan Kelemahan, serta Kendala dalam Pengajaran Konstruktivistik a. Kelebihan Pengajaran Konstruktivistik Berfikir: Dalam proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan masalah. Paham: Oleh kerena siswa terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Ingat: Oleh kerana siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin siswa melalui pendekatan ini membina sendiri kepahaman mereka. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.

Kemahiran sosial: Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru.

Seronok: Oleh karena mereka terlibat secara terus, mereka paham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan merasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. b. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. c. Kendala-kendala 1) Sulit mengubah kebiasaan dan keyakinan guru. 2) Guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivistik. 3) Adanya anggapan guru bahwa penggunaan metode dan pendekatan baru dalam pembelajaran akan menggunakan waktu yang lebih besar. 4) Banyaknya pelajaran yang harus dipelajari siswa merupakan kendala yang cukup serius. 5) Pembelajaran berbasis konstruktivistik mensyaratkan perubahan sistem evaluasi yang mungkin belum dapat diterapkan oleh guru. 6) Siswa telah terkondisi untuk bersikap menunggu informasi (transfer pengetahuan dari guru). 7) Budaya negatif di lingkungan rumah juga merupakan suatu kendala