Anda di halaman 1dari 6

SEBERAPA BAIK STATEMENT (LAPORAN) No 33 LABA MENJELASKAN RETURN SAHAM?

Abstrak Data Akuntansi penyesuaian untuk inflasi di mandatkan (diharuskan) oleh Statement Financial Accounting Standard Board potensial menyediakan informasi berharga untuk mengetahui dampak inflasi terhadap pendapatan dan return saham. Pada faktanya, data ini mencerminkan pengaruh inflasi pada aset tetap, seperti invetory, property, plant and equipment, that are not treated explicitly by historical cost measures. (persediaan, aktiva tetap, yang tidak diobati secara eksplisit dengan langkah-langkah perolehan.) Dapatkah data Statement no. 33 menyediakan informasi mengenai biaya laba historis ? peneliti mengkalkulasikan dengan korelasi cross-section di antara return saham aktual (sebenarnya) dan 7 variabel laba- biaya laba historis ditambah 6 Statement No 33 dalam pengukuran pendapatan. Hasilnya mengindikasikan bahwa biaya laba historis mendominasi pengukuran laba yang lainnya. Faktanya, pengetahuan dari Statement No. 33 data tidak signifikan mengingkatkan kemampuan dari biaya laba historis dalam menjelaskan return saham. Bertentangan dengan, biaya laba historis menjelaskan kekuatan yang disediakan oleh data FASB.

Penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa penggantian biaya laba berasal dari pengungkapan wajib oleh Securities & Exchange Commission Accounting Series Release N0. 190. (ASR 190) tidak cukup untuk menjelaskan return dari pasar saham Yang disediakan oleh biaya laba historis. Sejak 1979, FASb Statement No.33 mensyaratkan pengungkapan sebagai pengaruh dari perubahan harga dalam laporan annual (tahunan). Tetapi ada sedikit bukti kecil yang menganalisa data seperti itu. Penelitian ini berpusat (berkonsentrasi) pada kemampuan berbagai pengukuran laba yang berasal dari FASb Statement No.33 data untuk menjelaskan return saham untuk tahun 1979 sampai 1982. TEORINYA Mengacu pada FASB, tujuan umum dari laporan keuangan, dan pengukuran pendapatan pada faktanya, adalah menyediakan informasi bagi investor mengenai besaran, waktu dan ketidakpastian dari prospektif aliran kas. Informasi laba ini bisa mempengaruhi analisis dan penilaian investor, yang nantinya bisa berpengaruh pada harga saham. Pada hal tertentu , harga saham merefleksikan kolektif atau konsensus, penilaian dari analisis dan yang lainnya sebagai kekuatan laba saham di masa depan. Perubahan dalam harga saham (return) merefleksikan perubahan dalam ekspektasi investor mengacu pada kekuatan laba masa depan. Dua kondisi harus disyaratkan jika laba mengandung informasi. Pertama, laba yang dilaporkan harus berbeda dengan return yang diharapkan. Kedua, porsi untuk hal yang tidak diekspektasikan dari laba harus mampu dalam merubah ekspektasi tentang kekuatan laba masa depan. Riset sebelumnya telah mendemonstrasikan bahwa perubahan yang tidak diharapkan dalam biaya laba historis menjelaskan secara signifikan perubahan harga saham. Penemuan ini, salah satu

hasil empiris yang robust yang diobservasi dalam penelitian harga sekuritas, adalah konsisten dengan persepsi bahwa laba menyediakan informasi tentang prospektif aliran kas dan kekuatan laba masa depan. Telah ditegaskan bahwa berbagai macam bentuk laba yang disesuaikan untuk inflasi ( dan untuk perubahan harga dari aset yang spesifik) menyediakan informasi dalam kinerja operasi diluar yang disediakan oleh biaya laba historis. Kenyataannya, biaya laba historis tidak merefleksikan pengaruh dari inflasi pada aset tetap seperti inventory, property, plant dan perlengkapan. The merit of Statements No.33 data rest upon two major considerations. The potential value of such data lies in their ability to provide information about the effects of inflation upon the prospective cash flows, hence the value of firms securities. But measurement errors can creep into the data and impair their potential informational content. Which effect dominates? The answer depends upon the magnitude of unanticipated inflation relative to the magnitude of the measurement errors. We conducted an empirical analysis to provide evidence on this issue. (Kelebihan Laporan No.33 data yang bersandar pada dua pertimbangan utama. Nilai potensial

dari data tersebut terletak pada kemampuan mereka untuk menyediakan informasi tentang dampak inflasi pada arus kas prospektif, maka nilai efek perusahaan. Tapi kesalahan pengukuran bisa merambat ke dalam data dan merusak isi potensi informasi. efek yang mana mendominasi? Jawabannya tergantung pada besarnya inflasi yang tak terduga relatif terhadap besarnya kesalahan pengukuran. Kami melakukan analisis empiris untuk memberikan bukti tentang masalah ini.)

Datanya Dari 1.137 perusahaan nonkeuangan yang tersedia di FSAB Statement No. 33 rekaman penelitian, kami memilih perusahaan dengan 31 desember akhir tahun fiskal dan dengan komponen yang segera di komputasi semua dari ketujuh variable laba (dijelaskan diatas) dalam tahun tersebut. Untuk setiap perusahaan, return saham dikalkulasikan sebagai annual cash dividend ditambah capital gains atau lossess divided by price at the end of the previous year. 7 variabel digunakan untuk menjelaskan return saham-biaya laba historis (HC) ditambah 6 pengukuran laba berdasarkan Statement No.33 (PRE, PREP, CD, CDP, POST, POSTP). PRE mewakili perubahan persentase dalam perlembar pendapatan dari melanjutkan operational dalam current cost; penyesuaian dibuat untuk current cost dalam depresiasi dan biaya barang terjual. CD adalah perubahan persentase setiap lembar pendapatan dalam melanjutkan operational dibawah nilai dollar yang tetap, dengan penyesuaian dibuat pada depresiasi dan biaya barang terjual untuk merefleksikan perubahan pada level harga secara umum sejak tanggal akuisisi aset. PREP dan CDP menunjukkan penyesuaian penyesuaian untuk purchasing power gain (or loss). Purchasing power gain or loss (Daya beli keuntungan atau kerugian ) ditambahkan untuk pendapatan dalam melanjutkan operational dalam situasi keduanya baik current cost (PREP) dan

constant dollar (CDP), dan jumlah laba yang baru menunjukkan kondisi dari perubahan persentase dalam setiap lembar figure. POST Adalah current cost yang disesuaikan untuk menahan gains. Pendapatan dari melanjutkan operasi dibawah current cost tidak termasuk menahan gain atau loss merujuk pada perubahan dalam current cost dari aset dalam setahun. Pengukura yang lebih komprehensif dari pendapatan termasuk gains. The gross holdinhg gain (sebelum merefleksikan pengaruh dari perubahan dalam indek harga secara umum) adalah ditambahkan dari pendapatan dalam melanjutkan operational dibawah current cost, dan angka hasilnya adalah dibagi dengan aset bersih (net aset) (secara esential adalah ekuitas pemegang saham) dibawah current cost untuk mendapatkan variabel POST.

Pendapatan dari melanjutkan operasional setelah daya beli gain dan loss disesuaikan adalah perlu juga penyesuaian dengan menambahkan the net holding gain (gain bersih yang disimpan) (setelah merefleksikan pengaruh dari perubahan dalam indeks harga secara umum). Angka hasilnya selanjutnya dibagi dengan aset bersih dibawah current cost untuk memperoleh variabel POSTP. Biaya laba historis tersedia bagi pemegang saham biasa sebelum item luar biasa diekspresikan dalam peruabahan persentase dalam setiap lembar angka (jumlah), untuk variabel HC. Sebagai catatan, manfaat dari Statament No.33 data rest on trade off diantara besaran dari inflasi yang tidak diantisipasi dan kesalahan pengukuran dalam data. Setiap pengukuran laba menunjukkan laternatid yang tidak sempurna. Persoalannya bukan saja pengukuran laba yang mana memiliki konten infomasi yang terhebat (terlengkap). Lebih baik, persoalan pad Statement No.33 variabel laba menyediakan informasi yang tidak cukup untuk biaya laba historis. HASILNYA Kami menggunakan korelasi cross-sectonal diantara return saham dan setiap pengukuran pendapatan. Table 1 menyajikan koefisien korelasi, yang mengindikasikan pengembangan dimana perbedaan dalam return saham lintas perusahaan dalam tahun yang ada bisa dijelaskan oleh setiap variabel laba. HC mempunyai nilai korelasi lebih tinggi dari 6 variabel Statement No.33 dalam lintas 4 tahun. Pengecualian satu-satunya adalah perilaku dari PRE di tahun 1981, yang mempunyai nilai korelasi sama denga return saham sebagai mana HC. PRE tidak bisa menggambarkan kinerja dari tahun lainnya. Kekuatan menjelaskan dari biaya historis adalah baik sekali dalam hal tersebut bersaing melawan 6 penantang dan mungkin diharapkan untuk lose occasionally simply by chance. (kehilangan kadang-kadang hanya secara kebetulan) Korelasi sederhana ini menyarankan biaya pendapatan historis punya kekuatan menjelaskan yang lebih baik dengan memperhatikan return saham dengan rivalnya yang lain. Bagaimanapun juga, perlakuan perspektif variabel laba yang lain sebagai kompetitor dan tidak menjawab pertanyaan dari gain dalam menggunakan lebih dari satu pengukuran laba. Ketika kita memiliki pengetahuan tentang HC, apakah gain lebih jauh mempunyai kekuatan penjelas dengan mengetahui juga variable Statement No. 33 .

Untuk menjawab pertanyaan, kami membandingkan proporsi dari kemampuan varian dalam menjelaskan (R-squared) dibawah 2 regresi. Regresi pertama hanya menggunnakan HC laba untuk menjelaskan perbedaaan cross-sectional dalam return. Regresi yang kedua termasuk baik laba HC dan satu tambahan variabel laba dalam Statement No.33. kami menguji untuk menentukan jika peningkatan R squared adalah signifikan. Tabel II membandingkan R-square dicapai hanya dengn menggunakan R-squared ditambah setiap variabel dalam Statemen No.33. untuk tahun 1979 sampai 1982, HC mempunyai R-squared yaitu 23, 22, 9 dan 21 persen. Penambahan POSTP memberikan peningkatan dengan 8, 3, 0 dan 1 persen, secara berturut-turut. Tak satupun variabel dalam Statemen No. 33 mampu menambahkan kekuatan penjelas yang signifikan dalam basis yang konsisten. PRE, PREP, CD dan CDP tidak menyediakan penambahan kekuatan penjelas yang signifikan dalam 4 tahun. POST memberikan penambahan yang signifikan hanya satu tahun. POSTP signifikan hanya 2 tahun pertama., tetapi tidak signifikan di 2 tahun terakhir. Meskipun tidak dilaporkan (dibahas) disini, tanda dari koefisien regresi terhadap variabel pada Statement No.33 mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Kami juga menggunakan analisis regresi berganda, dimana semua variabel dimasukkan dalam persamaan tunggal. hasilnya sama dengan yang ada di tabel II. Secara esential tidak ada peningkatan dalam proporsi variance dalam menjelaskan diluar hasil yang disajikan di tabel II, secara garis besar karena variabel pada Statement No.33 berkorelasi antara satu dengan yang lainnya dan termasuk ke 6 variabel dari pada hanya satu variabel. Kami juga membahas pertanyaan kekuatan penjelas incremental dari HC yang tersedia dalam variabel Statement No 33. Hasil yang terdapat dalam tabel II juga timbul karena HC dan variabel pada Statement No. 33 dengan korelasi yang sangat tinggi antara satu variabel dengan yang lainny yang berarti tak satupun diuntungkan dengan penambahan variabel ke dua. Dari satu perspektif, mengetahui kekuatan penjelas incremental dari HC sedikit lebih penting, sejak HC disediakan secara umum dalam laaporan keuangan dan data Statement No.33 hanya diharapkan menjadi pelengkap saja. Dari hasil statistik murni terlihat, bagaimanapun juga, jika HC tidak menyediakan kekuatan penjelas tambahan yang disediakan oleh variabel lainnya kami ada perbedaan yang digunakan. Yang lebih penting, memeriksa kekuatan penjelas incremental dari laba HC mungkin menyediakan pandangan yang lebih dalam tentang tingkatan hasil dari yang dilaporkan pada tabel II hanya mengarah pada korelasi yang tinggi diantara HC dan setiap variabel laba dalam Statement No.33. jika hasilnya mengarah pada korelasi yang tinggi, selanjutnya laba HC tidak bisa diharapkan mempunyai kekuatan penjelas incremental dibandingkan dengan variabel yang disediakan oleh Statement No.33. Kami membandingkan R-squared satu variabel Statement No.33 dengan R-squared yang berlaku ketika variabel digunakan dalam konjugasi dengan HC. Tabel III menyajikan hasil. Untuk 1979 sampai 1982, POSTP dengan R-squared 21, 12, 0,04, dan 3 persen; penambahan HC meningkatkan Raquared yaitu 10, 13, 9 dan 19 persen, secara berturut-turut. Bagaimanapunjuga variabel dalam Statement No.33 digunakan, penambahan Laba HC secara signifikan meningkatkan R-squared selama 4 tahun, dengan hanya ada satu pengecualian.

Pada tahun 1981 peningkatan R-squared dengan mengacu pada PRE yang signifikan pada 5,3 persen (itu hanya meleset dari konvensioanl 5 persen). Data laba HC menyediakan kekuatan penjelas incremental daripada yang tersedia dalam laba Statement no.33 lebih jauh, koefisien regresi dari HC (tidak disajikan disini) adalah positif tanpa pengecualian. Hasil dan laporan dalam tabel II mengindikasikan bahwa tidaklah menjadi suatu masalah perbedaan yang mengacu pada kumpulan data yang digunakan dalam menjelaskan return saham. Data HC mendominasi data Stetement No.33 dalam konteks ini. Kekuatan penjelas dari biaya laba historis adalah signifikan, variabel Statement No.33 termasuk dalam regresi. Dengankontras, tak satupun variabel dalam Statement No. 33 mampu menjelaskan return saham yang mengacu pada laba biaya historis. Hasil kombinasi menyarankan bahwa korelasi yang tinggi diantara variabel yang ada pada Statement No.33 dan HC tidak menjadi alasan semata-mata dari kinerja yang rendah pada variabel yang ada dalam FASB. Untuk meyakinkan, ada korelasi. Disamping itu, bagaimanapun juga, HC menunjukkan kekuatan penjelas incremental ; yang tidak bisa dijelaskan oleh data FASB. Lebih jauh, dalm kontras pada variabel yang ada dalam Statement No.33, data HC menunjukkan stabilitas dalam tanda koefisien regresi. Perbedaan dalam kualitas data mungkin menjadi penjelasan lain untuk perbedaan dalam kekuatan penjelas incremental.

Implikasi Variabel yang ada dalam Statement No. 33 tidak menyediakan informasi lebih jauh dari apa yang telah disediakan oleh biaya laba historis, ketika kekuatan penjelas ditentukan dalam kondisi untuk menjelaskan return saham yang cross-sectional. Hasil negatif biasanya sulit untuk diinterprestasikan. Apakah sesungguhnya tidak ada kekuatan penjelas incremental atau kami gagal untuk mendeteksinya karena beberapa kekurangan dalam desain riset kami? Penelitian sebelumnya menggunakan berbagai macam jenis analisis lainnya juga menemukan tidak ada efek. Lebih jauh, penemuan kami konsisten dengan penelitian sebelumnya dalam data ASR 190 dananalisa yang tidak menggunakan data Statement No.33. Sangatlah penting untuk bahwa hasil ini tidak bisa diimplikasikan. Mereka tidak menyatakan secara tidak langsung bahwa tidak penting untuk membuat penyesuaian untuk inflasi dalam analisis harga sekuritas. Mereka tidak secara langsung menyatakan bahwa analis tidak membuat penyesuaian untuk inflasi dalam analisis mereka. Mereka secara tidak langsung menyatakan bahwa, jika penyesuaian dibuat , data Statement No. 33 tidak dapat menangkap proses penyesuaian dengan sangat baik atau besaran penyesuaian adalah kecil (sedikit). Ketika mungkin bahwa hasilnya berbeda untuk 1982 secara relatif dibandingkan tahun sebelumnya, merka tidak. Besaran inflasi yang tidak diharapkan masih terlalu sedikit (kecil) material, bahkan pada 1982, atau besaran kesalahan data pengukuran pada Statament No.33 besar sehingga cukup untuk meliputi nilai infomasi yang potensial. What does the future hold for the statement No.33 disclosures? (Apa masa depan untuk memegang pernyataan No.33 pengungkapan?) FASB telgh memilih untuk memperluas perubahan

pengungkapan harga diluar 1984. Akankah kinerjA data lebih baik di masa depan? Jawabannya tergantung dalam besarnya dari inflasi yang tidak diharapkan dan dalam pembuktian dari kualitas data.