Anda di halaman 1dari 11

Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.

(Heni Susiati, dkk.)


376
EVALUASI SEBARAN THERMAL DI PERAIRAN SEMENANJUNG MURIA
DALAM RENCANA PEMBANGUNAN PLTN
Heni Susiati
1
, Wahyu Pandoe
2
, dan Yarianto SBS.
1
1
Pusat Pengembangan Energi Nuklir-BATAN,
Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan Jakarta 12710, Email: heni_susiati@batan.go.id
2
Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT)
ABSTRAK
EVALUASI SEBARAN THERMAL DI PERAIRAN SEMENANJUNG MURIA DALAM RENCANA
PEMBANGUNAN PLTN. PLTN Muria direncanakan dibangun di Semenanjung Muria - Jawa Tengah
dengan mengambil air laut sebagai pendingin pembangkit listrik (power plant), serta membuangnya kembali
ke laut. Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya sirkulasi masuknya kembali air panas ke intake, maka
perlu dilakukan kajian dispersi termal dalam rangka perencanaan tersebut. Dalam kajian ini dilakukan
pemodelan numerik untuk mengetahui pola sebaran thermal yang keluar dari outlet PLTN. Pemodelan
dilakukan dengan satu intake dan dua outlet pada musim barat dan musim timur. Asumsi yang digunakan
adalah sangat konservatif, dimana buangan thermal dilepas ke laut tanpa melalui paritan (yang fungsinya
untuk menurunkan suhu sebelum dilepas ke laut). Masing-masing dimodelkan untuk beberapa fasa pasang
surut dengan skenario debit aliran yang masuk dari intake (Q
in
) = 73 m
3
/detik, debit aliran yang keluar dari
outlet (Q
out
) = 73 m
3
/detik, suhu polutan yang keluar dari outlet = 36,9
0
C, temperatur air laut aktual =
29,8
0
C, temperatur seimbang laut-udara = 29,0
0
C dan kecepatan angin (w) = 2 m/detik. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa pada musim timur tidak terjadi limpahan air panas dari outlet yang masuk ke intake,
sedangkan pada musim barat intake masih terpengaruh limpahan air dari outlet 1
0
C lebih panas
dibandingkan temperatur air laut normal. Pada musim barat luas penyebaran panas terhadap lingkungan (>
1
0
C) sejauh 2,5 km dari outlet ke arah timur. Sedangkan pada musim barat penyebaran panas yang signifikan
terhadap lingkungan (> 1
o
C) adalah sejauh 5 km dari outlet ke arah barat. Tetapi secara keseluruhan suhu
permukaan laut masih dibawah batas ambang yang diijinkan (Kep.Men. LH No. 54 tahun 2004).
Kata kunci: sebaran, thermal, PLTN, pemodelan numerik
ABSTRACT
EVALUATION OF THERMAL DISTRIBUTION AT THE MURIA PENINSULA COAST IN NPPs
DEVELOPMENT. Muria NPPs are planned to be built on the Muria Peninsula - Central Java by taking
sea water as cooling power plants, and throw it back into the sea. To explore the possibilities of re-entry of
the circulation of hot water to the intake, it is necessary to study the thermal dispersion within the framework
of those plans. In this study, numerical modeling to determine thermal distribution pattern that comes out
from NPP outlet. The modelling using a single intake and two outlets on the west and east monsoon season.
The assumptions are very conservative, in which thermal effluent released into the sea without going through
the trenches (whose function is to reduce the temperature prior to disposal into the sea). Each modeled for
several tidal phase with the incoming flow rate scenario at the intake (Q
in
) = 73 m
3
/sec., the exit flow rate
from the outlet (Q
out
) = 73 m
3
/sec., the temperature of pollutants coming out of outlets = 36,9
0
C, the actual
sea water temperature = 29,8
0
C, balanced sea-air temperature = 29,0
0
C and wind speed (w) = 2 m / sec. The
simulation results show that the season does not occur east of the outlet hot water overflows into the intake,
while the west monsoon is affected by the abundant water intake from the outlet 1
0
C hotter than normal
seawater temperatures. Spread widely in the west season heat to the environment (> 1
0
C) as far as 2,5 km
from the outlet to the east. While in the west monsoon heat spread significantly to the environment (> 1
0
C) is
5 km from the outlet to the west. But overall, sea surface temperature was still below the allowable threshold
(Kep.Men. LH No. 54 years in 2004).
Key words: dispersion, thermal, nuclear power plants, numerical modeling
PENDAHULUAN
Pembangkit listrik seperti PLTU maupun
PLTGU selain memasok kebutuhan listrik juga
menghasilkan limbah panas dan langsung dibuang
ke badan air, demikian juga dengan operasional
PLTN. Pembuangan air limbah secara langsung
ke badan air sekitarnya tanpa melalui proses
pendinginan kembali dapat menyebabkan
pengaruh baik langsung maupun tidak langsung
berupa perubahan kualitas perairan maupun
Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910
Hal. 376-386
377
pengaruh terhadap organisme yang hidup di
dalam badan airnya[1].
Untuk mempersiapkan pembangunan PLTN
di Semenanjung Muria, Jepara sebagai calon
tapak lokasi PLTN, evaluasi perkiraan terjadinya
peristiwa tersebut juga harus dipersiapkan sejak
dini. Hal ini sangat penting karena rancang
bangun PLTN mensyaratkan sumber air sebagai
bagian tak terpisah dari sistem kerjanya. Oleh
karenanya sebagai salah satu alternatif, PLTN
dibangun di tapak yang berdekatan dengan
sungai, danau, atau laut. Untuk PLTN Muria
direncanakan sebagai sumber air pendingin
diambil dari air laut di perairan Semenanjung
Muria.
Studi yang menjelaskan karakteristik
oseanografi dan kualitas air laut di lokasi tapak
PLTN, seperti kondisi dinamika transpor sebaran
termal merupakan kegiatan yang akan digunakan
sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan
PLTN. Limbah thermal sering menimbulkan
masalah pada beberapa biota yang berada di
perairan. Penelitian tentang sifat dan dinamika
transpor thermal sangat diperlukan untuk
mengetahui pola arah transpor sebaran thermal
dari hasil pendingin pembangkit.
Sebaran thermal melalui pemodelan numerik
untuk menggambarkan kondisi hidrodinamika
perairan dengan software sudah banyak
dikembangkan. Pemodelan numerik dua dimensi
dengan perangkat lunak yang tersedia saat ini
sangat memungkinkan untuk dilakukan, salah
satunya adalah dengan menggunakan perangkat
lunak Surface Water Modelling System (SMS).
Untuk mengetahui aspek hidrodinamika
digunakan pendekatan model matematis
hidrodinamika dan simulasi transport thermal.
Pada penelitian ini disimulasikan model
hidrodinamika dan model sebaran thermal di
perairan Semenanjung Muria.
Mekanisme transport thermal yang terjadi di
perairan pantai Semenanjung Muria merupakan
bagian dari sifat fisika yang dapat dipengaruhi
oleh pasang surut (pasut), gelombang, debit
sungai, salinitas, kedalaman perairan, batimetri,
sumber thermal, bangunan pantai dan perubahan
pantai itu sendiri. Oleh karena itu dalam rangka
persiapan pembangunan PLTN, untuk monitoring
lingkungan perairan pantai salah satu indikator
fisis yang harus menjadi perhatian adalah proses
transport thermal selain faktor terkait lainnya. Hal
ini juga merupakan salah satu evaluasi dalam
rekayasa perlindungan pantai.
Penelitian dengan pemodelan ini diperlukan
sebagai studi awal untuk mengetahui fenomena
fisik perairan yang selanjutnya dapat digunakan
untuk studi lebih lanjut baik pada tahap konstruksi
maupun operasional PLTN.
TEORI
Suhu Sebagai Faktor Lingkungan
Suhu merupakan faktor penting di lingkungan
bahari karena secara langsung mempengaruhi
proses faali biota, terutama laju metabolisme dan
reproduksi, dan secara tidak langsung melalui
faktor-faktor lingkungan lain seperti kelarutan
gas, viskositas air dan sebaran densitas air. Suhu
ambient untuk suatu wilayah spesifik berkaitan
dengan faktor-faktor oseanografi dan geografi,
dan dapat spesifik ekosistem.
Menurut Hukum Vant Hoff, kenaikan suhu
10 akan menaikkan kecepatan reksi kimia dua
kali lipat. Walaupun hukum ini tidak dapat
diterapkan begitu saja terhadap biota, namun
dapat diperkirakan bahwa perubahan suhu
lingkungan dapat mempengaruhi proses-proses
hayati di dalam organisme karena proses-proses
tersebut banyak yang bersifat kimiawi. Suhu juga
merupakan faktor pembatas terhadap sebaran
biota dan mempengaruhi viscositas air. Viscositas
air menurun dengan meningkatnya suhu.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, suhu
merupakan faktor ekologis yang penting.
Suhu seringkali merupakan faktor fisik
penentu dalam reproduksi, pertumbuhan,
pendewasaan dan umur biota. Meskipun
demikian, pengaruh suhu tidak sama untuk semua
biota. Sebagai contoh, suhu dapat mempengaruhi
pola perkembang-biakan. Suhu tinggi pada musim
panas menetukan perkembang-biakan biota-biota
di wilayah berlintang tinggi, sedangkan suhu
rendah pada musim dingin menentukan
perkembang-biakan spesies-spesies di wilayah
berlintang rendah. Spesies-spesies ugahari
(temperate) biasanya aktif bereproduksi pada
musim panas, sedangkan spesies-spesies tropis
bereproduksi sepanjang tahun.
Suhu merupakan salah satu dari faktor-faktor
lingkungan utama dalam perkembangan hewan
tropis. Di wilayah dimana gradien suhu tidak
terlalu nyata, zona-sebaran fauna tidak
mempunyai batas yang tajam tetapi bercampur
dengan zona transisi yang luas. Batas-batas zonasi
fauna litoral ditentukan oleh iklim dan kondisi
hidrografi perairan[2].
Pencemaran Limbah Air Thermal
Seperti telah diuraikan di depan bahwa
pembangkit listrik dalam proses pendinginan
menghasilkan limbah air thermal, yang berasal
dari produksinya, akan menimbulkan pencemaran
di perairan sekitarnya. Pada umumnya
pembangkit listrik sering dibangun di dekat
perairan pantai atau estuari. Pembangkit listrik
dengan siklus uap yang menggunakan sistem
sirkuit terbuka sekali jalan (once through cooling
system) suhu limbah air thermal hampir selalu
Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.
(Heni Susiati, dkk.)
378
lebih tinggi daripada suhu air sekitarnya (ambient
level). AT suhu berkisar 5 sampai 40
0
C, pada
kenaikan suhu yang tiba-tiba sangat
mempengaruhi berbagai sifat fisika dan kimia
yang berhubungan dengan kualitas air seperti
densitas, viskositas, oksigen terlarut, karbon
dioksida, pH serta biota perairan. Terjadinya
perubahan sifat fisika kimia perairan sudah tentu
berpengaruh terhadap kehidupan organisme yang
dikandungnya.
Luas pengaruh limbah thermal tergantung
pada beberapa faktor yaitu volume air limbah,
temperatur air limbah, temperatur air tempat
pembuangan limbah, arus atau sirkulasi massa air
tempat pembuangan limbah thermal.
Pembangunan pembangkit listrik di wilayah
pesisir akan memberikan ancaman terhadap
keberadaan ekosistem laut (hutan mangrove,
padang lamun dan terumbu karang) yang
diakibatkan peningkatan suhu air buangan/ limbah
thermal dari sistem pendingin pembangkit listrik.
Peningkatan suhu perairan ini dapat menyebabkan
kematian bagi komunitas biota bentik maupun
pelajik yang sensitif terhadap perubahan suhu.
Peningkatan suhu juga berpengaruh terhadap
proses metabolisme dan pola perilaku organisme.
TATA KERJA
Daerah Studi
PLTN Semenanjung Muria terletak di Jepara,
Jawa Tengah dengan outletnya direncanakan
berada pada koordinat (6
o
25 23,0 LS, 110
o
47
12,0 BT) dan (6
o
25 23.0 LS, 110
o
47 12,0
BT), sedangkan pada intakenya (6
o
25 23.0 LS,
110
o
48 21,0 BT) yang kesemuanya berada di
perairan pantai Semenanjung Muria. Kedalamn
perairan pantai Semenanjung Muria bervariasi
antara 1 meter di tepi garis pantai sampai dengan
13 meter ke arah utara (lepas pantai). Secara garis
besar, peta batimetri dan lokasi model dapat
dilihat pada Gambar 1.
Desain Model
Daerah model meliputi wilayah perairan
sekitar PLTN Muria dan PLTU Tanjung Jati
dengan batas-batas lintang dan bujur sebagai
berikut :
Batas utara : 6.405
0
LS
Batas selatan : 6.427
0
LS
Batas barat : 110.716
0
BT
Batas timur : 110.811
0
BT
Daerah model ini terbagi menjadi 141 x 81
grid (148 grid arah barat-timur dan 81 grid arah
utara-selatan) dengan ukuran tiap grid dx = dy =
100 m. Langkah waktu perhitungan (dt) yang
digunakan adalah 2 detik. Dengan lama simulasi 7
hari.
Skenario Model
Model hidrodinamika dan dispersi temperatur
disimulasikan dengan memasukkan data pasang
surut, angin, dan debit air di intake dan outlet.
Simulasi dilakukan dalam berbagai skenario dengan
memperhatikan kondisi pasang surut dan angin
musim, yaitu: skenario 1 : Musim Timur dan
skenario 2 : Musim Barat.
Masing-masing skenario dimodelkan dalam kondisi
beberapa fasa pasut, yaitu :
- Air menuju ke pasang
- Air pasang tertinggi
- Air menuju ke surut
- Air surut terendah
Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910
Hal. 376-386
379
Semua skenario simulasi dilakukan dengan data di
bawah ini:
- Debit aliran yang masuk dari intake (Q
in
) =
73 m
3
/detik
- Debit aliran yang keluar dari outlet (Q
out
) =
73 m
3
/detik
- Suhu Polutan yang keluar dari outlet = 36,9
0
C
- Temperatur air laut aktual = 29,8
0
C
- Temperatur seimbang laut-udara = 29,0
0
C
- Kecepatan angin (w) = 2 m/detik
Tahapan Simulasi Model Hidrodinamika
Model hidrodinamika dijalankan untuk
mensimulasi arus yang dibangkitkan oleh aliran dari
buangan air pendingin PLTN. Debit air pendingin
ini mempengaruhi sirkulasi arus di dekat mulut
intake dan outlet PLTN di perairan pantai. Arus di
perairan pantai dipengaruhi pula oleh pasang surut
dan angin yang bertiup diatas laut. Gelombang laut
sebenarnya juga mempengaruhi arus laut di dekat
pantai, tapi dalam model yang telah dijalankan
pengaruh arus yang dibangkitkan oleh gelombang
dianggap kecil.
Gerak sirkulasi arus di perairan pantai yang
dangkal diasumsikan sebagai aliran masa air yang
bercampur sempurna (homogen) mulai dari
permukaan laut sampai kedasar perairan dan
pengaruh angin dipermukaan diasumsikan
mencapai dasar laut. Oleh karena itu persamaan
model yang dipakai adalah persamaan yang
diintegrasikan terhadap kedalaman. Dalam model
ini air laut dianggap sebagai fluida yang tak
mampu mampat (incompresible fluid).
Metode Permodelan Numerik Penjalaran
Gelombang dan Arus
Model ADCIRC-2DTR digunakan untuk
menghitung sirkulasi air laut di daerah studi.
ADCIRC adalah model elemen hingga (finite
element) yang digunakan untuk menghitung
sirkulasi air (laut) untuk memecahkan persamaan
perairan dangkal (shallow water equation) pada
grid yang tidak terstruktur. Modul hidrodinamik
memberikan solusi tinggi muka air, kecepatan rata
kedalaman U dan V. Elevasi muka air dipecahkan
dalam persamaan kontinuitas yang terintegrasi
secara vertikal menggunakan formulasi GWCE
(Generalized Wave Continuity Equation):
( ) ( )
0 =
c
c
+
c
c
+
c
c
y
VH
x
UH
t
q
(1a)
Gambar 1. Lokasi Studi Di Kawasan Jepara dan Muria
Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.
(Heni Susiati, dkk.)
380
Persamaan konservasi momentum terintegrasi
secara vertikal dalam bentuk non-konservatif
adalah:
( )
(

+ + + +
c
c
=
c
c
+
c
c
+
c
c
H H H
D
H
M
g
p
x
fV
y
U
V
x
U
U
t
U
bx sx x x
e
s
0 0 0

t

t
oq q

(1b)
( )
(

+ + + +
c
c
=
c
c
+
c
c
+
c
c
H H H
D
H
M
g
p
y
fU
y
V
V
x
U
V
t
V by sy y y
e
s
0 0 0

t

t
oq q

(1c)
dimana U dan V adalah kecepatan lateral rata-
kedalaman dalam arah x dan y., q adalah
elevasi permukaan laut relative terhadap geoid, f
= parameter Coriolis; H = kedalaman air dari
muka air hingga dasar, Mx dan My adalah term
depth-integrated lateral momentum diffusion
terms; Dx dan Dy = depth-integrated lateral
momentum dispersion terms; g = akselerasi
gravitasi; ps = tekanan atmosfir di permukaan air,
o = effective Earth elasticity factor; q
e
=
Newtonian equilibrium tide potential;
o
=
referensi density; t
sx
dan t
sy
= applied free surface
stress; t
bx
dan t
by
= lateral bottom stress terms,
yang dihitung dengan persamaan:
( ) U V U C
o f bx
2 / 1
2 2
+ = t
(2a)
( ) V V U C
o f by
2 / 1
2 2
+ = t
(2b)
dimana Cf adalah bottom friction coefficient.
Transpor dan Dispersi Temperatur.
Persamaan temperatur rata-kedalaman diberikan
sebagai:
SS
y
HT
h
D
y x
HT
h
D
x y
HT
V
x
HT
U
t
HT
+
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
c
c
=
c
c
+
c
c
+
c
c
(3)
dimana C adalah depth-averaged thermal
concentration (g/l atau kg/m
3
); SS adalah
source/sink term. Dh adalah koefisien dispersi
horizontal untuk temperatur (m
2
/s), dimana
koefisien ini diasumsikan konstan terhadap ruang
dan waktu.
Pembuatan model matematik menggunakan
perangkat lunak SMS 8.1. dibagi pada tiga tahap
proses, yaitu tahap permodelan serta
parameternya (pre-processing unit), tahap
pemrosesan program komputasi (running) dan
tahap tampilan hasil running (post-processing
unit).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi tapak PLTN berada tepat di tepi
pantai, sehingga diperkirakan akan berdampak
pada kondisi hidrooseanografi perairan di
sekitarnya sehingga perlu kajian kondisi hidro-
oseanografi sebagai bagian dari kajian awal
dampak hidro-oseanografi untuk masukan
AMDAL.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No.51 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air
Laut mensyaratkan bahwa kenaikan temperatur
air yang digunakan dalam proses industri dibatasi
maksimal 2C. Dalam kaitannya dengan proses
pembangkitan daya listrik terutama PLTU
ataupun PLTN, keputusan ini membawa
konsekuensi yang perlu dijelaskan dari berbagai
sisi.
Sebagai sumber dampak adalah
penggunaan air laut dalam jumlah dan debit yang
besar sebagai bagian dari water cooling system
PLTN. Air laut yang diambil dari water intake
bersuhu ambien, disirkulasi untuk mengekstraksi
panas yang harus dibuang dari PLTN. Air
pendingin yang panas dibuang melalui kanal ke
water outlet sehingga tersebar ke badan air. Untuk
memprakirakan dampak sebaran panas ini perlu
dilakukan simulasi numerik dispersi panas.
Data primer untuk tujuan simulasi diperoleh
dengan melakukan pengukuran langsung di
lapangan yang meliputi: pemeruman, pengukuran
pasang surut dan arus.
Grid yang digunakan sebagai domain
adalah triangular grid. Pembuatan grid dibuat
menggunakan perangkat lunak SMS 8.1 seperti
telah diuraikan pada bab sebelumnya. Seperti
disajikan pada Gambar 2, grid mencakup daerah
yang cukup luas dengan batas wilayah di perairan
Tegal di sisi batas barat hingga perairan Gresik di
batas timur. Bentang daerah pemodelan dari batas
barat ke batas timur adalah sekitar 473 km.
Batas terbuka (open boundary) dibuat
setengah lingkaran di laut Jawa dari batas barat
hingga batas timur. Panjang batas terbuka adalah
~270 km sepanjang pantai dan 230 km kearah laut
(offshore), dengan jumlah node sebanyak 31 titik
yang jaraknya bervariasi dari 2 km didekat pantai
hingga 15 km di laut terbuka. Jumlah nodes dalam
domain model adalah 16.509 titik dan jumlah
elemen sekitar 31.506 elemen segitiga. Kerapatan
elemen segitiga bervariasi dari jarak 50 m di
sekitar rencana pipa outlet PLTN hingga jarak 25
km di batas terbuka.
Garis pantai merupakan gabungan dari data
garis pantai hasil pemetaan garis pantai di sekitar
lokasi rencana dan data garis pantai dunia skala
1:250.000 yang dikeluarkan oleh NOAA.
Kedalaman laut pada grid merupakan hasil
interpolasi dari peta batimetri yang tersedia.
Simulasi dilakukan pada dua musim: musim barat
dan timur, dimana kedua musim tersebut memiliki
karakteristik angin yang sangat berbeda. Saat
musim barat angin bertiup dari arah barat-barat
laut sedangkan saat musim timur angin bertiup
secara dominan dari arah timur. Dalam
pemodelan ini angin diasumsikan konstan dalam
ruang dan waktu.
Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910
Hal. 376-386
381
Gambar 2. Triangulated grid untuk perairan
daerah Jepara dan sekitarnya
Selain angin, model dikendalikan oleh
gaya pasang surut sepanjang batas terbuka.
Komponen pasang surut yang digunakan dalam
simulasi berjumlah 8 komponen yaitu: 4
komponen pasang surut harian (diurnal): K1, O1,
P1, Q1, dan 4 komponen setengah harian (semi
diurnal): L2, M2, N2 dan S2. Discharge air panas
dari pipa pembuangan air pendingin PLTN
diasumsikan memiliki volume aliran keluar
(discharge) yang konstan dalam ruang dan waktu.
Hasil simulasi disajikan pada uraian berikut.
Musim Angin Barat
Pada simulasi ini, sirkulasi hidrodinamika
digerakkan oleh amplitudo dan phase pasang surut
di semua titik batas terbuka pada saat awal
simulasi (t=0) dan angin barat yang bertiup secara
konstan dalam ruang dan waktu dengan kecepatan
angin U = 5,2 m/s, dan arah 110N. Gambar 3.
menunjukkan arah dan besaran angin yang
digunakan dalam simulasi di musin barat.
Discharge air panas dengan temperatur konstan T
= 36,7 C dengan volume buangan sebesar 73
m
3
/detik. Temperatur air laut sekeliling (ambient
sea water temperature) saat awal simulasi adalah
: T
w
= 29C
Gambar 3. Arah dan kecepatan angin di area
(domain) pemodelan saat musim barat.
Simulasi dilakukan selama 5 hari, time step 4
detik dan output setiap 1 jam. Penyebaran
temperatur didominasi oleh aliran air yang
bergerak dari outlet sehingga penyebarannya
bergerak ke satu arah saja dominan ke arah timur,
dengan interval kecepatan 0,01 sampai 1,06
m/det.
Saat kondisi awal, penyebaran thermal masih
disekitar outlet sebagaimana disajikan pada
Gambar 4 saat t=1 jam. Pada simulasi jam
pertama hingga jam ke delapan suhu di sekitar
outlet yang masih besar sekitar 36-36,7
o
C dengan
jarak 1 km dari outlet ke arah timur.
Pada jam ke sembilan hingga jam ke
enambelas penyebaran suhu disekitar outlet
mengalami pengurangan jarak, hanya 10 m dari
outlet dibandingkan kondisi sejam sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa persebaran suhunya
tidak sebesar pada awal simulasi.
Gambar 4. Sebaran termal saat kondisi awal t=1 jam di
musim barat. Warna mengindikasikan temparatur air
antara 29C hingga 38C.
Pada saat t=12 jam (Gambar 5), penyebaran
temperatur dari outlet mengalami penyebaran
sejauh 1 km dari outlet hampir merata ke segala
arah karena pengaruh angin lebih kecil dari
dominasi kecepatan arus discharge dari outlet.
Hal ini dapat terjadi karena arus yang
dihasilkan sangat kecil, yaitu kurang dari 1 m/s,
sehingga arus dari outlet mendominasi pergerakan
Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.
(Heni Susiati, dkk.)
382
tempertur. Dapat dilihat bahwa luas penyebaran
panas yang signifikan terhadap lingkungan AT 0,0
1,0
o
C yang terbesar dengan jauh penyebaran 1
km dari outlet merambat merata ke arah timur.
Luas penyebaran AT = (1,0 2,0)
o
C dengan jarak
penyebaran 2,1 km merambat ke arah timur. Jarak
penyebaran temperatur dengan AT di atas 2,0
o
C
mencapai sekitar 3,5 km ke arah timur dan 4,2 km
ke arah timur laut. Berdasarkan hasil simulasi
terlihat bahwa suhu daerah intake akan
meningkat, menjadi sekitar 36,7
0
C (peningkatan
sebesar 7,7
0
C) dibandingkan kondisi awal. Hal ini
terjadi karena suhu yang keluar dari outlet
menyebar ke segala arah, termasuk masuk
kembali ke daerah intake.
Gambar 5. Sebaran termal saat kondisi awal
t=12-jam di musim barat.
Gambar 6. Sebaran termal saat kondisi t=24-jam
(1 hari) di musim barat.
Pada saat t=48 jam, penyebaran termal semakin
jauh ke arah timur (Gambar 6). Kenaikan
temperatur air laut hingga T=29,5-30,0C terlihat
jauh ke timur antara 4 km-10 km. Penyebaran
panas menaikkan temperatur hingga T=30,5C
terlihat hingga 4 km ke arah timur dari outlet.
Gambar 6. Sebaran termal saat kondisi t=48-jam
(2 hari) di musim barat.
Pada saat t=72 jam atau t=3 hari, penyebaran
termal semakin jauh ke arah timur. Lihat Gambar
7. Kenaikan temperatur air laut hingga T=29,5-
30,0C terlihat jauh sedkitar 18 km ke arah ke
timur hingga sisi tenggara P. Mandalika dengan
lebar penjalaran sekitar 2 km sejajar pantai.
Penyebaran panas menaikkan temperatur hingga
T=30,5C terlihat hingga 5 km ke arah timur dari
outlet. Temperatur sekitar outlet bervariasi dari
30,5C hingga 37C.
Gambar 7. Sebaran termal saat kondisi t=72-
jam (3 hari) di musim barat.
Pada akhir hari ke 4 atau saat t=96 jam,
penyebaran termal semakin jauh ke arah timur
(Gambar 8). Kenaikan temperatur air laut hingga
T=29,5-30,0C terlihat jauh sekitar 20 km ke arah
ke timur hingga daerah pantai Margorejo dengan
lebar penjalaran sekitar 2km sejajar pantai.
Penyebaran panas menaikkan temperatur hingga
T=31C terlihat hingga 3 km ke arah timur dari
outlet. Temperatur sekitar outlet bervariasi dari
31C hingga 37C.
Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910
Hal. 376-386
383
Gambar 8. Sebaran termal saat kondisi t=96-jam
(4 hari) di musim barat.
Warna mengindikasikan temparatur air antara
29C hingga 38C.
Pada akhir simulasi di hari ke 5 atau saat t=120
jam, penyebaran termal semakin jauh ke arah
timur hingga 28 km dari outlet hingga perairan
Juwana (Gambar 9). Kenaikan temperatur air laut
hingga T=29,5 30,0C terlihat ke arah ke timur
hingga daerah pantai Juwana dengan lebar
penjalaran sekitar 2 km sejajar pantai. Penyebaran
panas menaikkan temperatur hingga menjadi
T=31C terlihat hingga 5 km ke arah timur dari
outlet. Temperatur sekitar outlet bervariasi dari
31C hingga 37C. Dapat terlihat disini bahwa
setelah simulasi 5 hari terjadi kenaikan temperatur
air laut hingga 2C dari ambient temperature di
sekitar outlet hingga radius 2-5 km.
Musim Angin Timuran
Pada simulasi ini, sirkulasi hidrodinamika
digerakkan oleh amplitudo dan phase pasang surut
di semua titik batas terbuka pada saat awal
simulasi (t=0) dan angin timur yang bertiup secara
konstan dalam ruang dan waktu dengan kecepatan
angin U = 4.8m/s, dan arah 270N. Gambar 10
menunjukkan arah dan besaran angin yang
digunakan dalam simulasi di musin timur ini.
Discharge/buangan air panas dengan temperatur
konstan T = 36,7 C dengan volume buangan
sebesar 73 m
3
/detik. Temperatur air laut sekeliling
(ambient sea water temperature) saat awal
simulasi adalah : T
w
= 29C.
Gambar 9. Sebaran termal saat kondisi t=120-jam
(5 hari) di musim barat. Warna mengindikasikan
temparatur air antara 29C hingga 38C.
Simulasi dilakukan selama 5 hari, time step 4
detik dan output setiap 1 jam. Penyebaran
temperatur didominasi oleh aliran air yang
bergerak dari outlet sehingga penyebarannya
bergerak ke satu arah saja dominan ke arah barat,
dengan interval kecepatan 0,01 sampai 1,06
m/det.
Gambar 10. Arah dan kecepatan angin di area
(domain) pemodelan saat musim barat.
Saat kondisi awal, penyebaran thermal masih
di sekitar outlet, hampir sama dengan situasi pada
musim barat sebagaimana disajikan pada Gambar
10 saat t=1-jam. Pada simulasi jam pertama
hingga jam ke delapan suhu di sekitar outlet yang
masih besar sekitar 36-36,7
o
C dengan jarak 1 km
dari outlet ke arah barat.
Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.
(Heni Susiati, dkk.)
384
Pada jam ke sembilan hingga jam ke enambelas
penyebaran suhu disekitar outlet mengalami
pengurangan jarak, hanya 10 m dari outlet
dibandingkan kondisi sejam sebelumnya. Hal ini
menunjukkan bahwa persebaran suhunya tidak
sebesar pada awal simulasi. Pada saat t=12 jam
(Gambar 11), penyebaran temperatur dari outlet
mengalami penyebaran sejauh 1 km dari outlet
hampir merata ke segala arah karena pengaruh
angin lebih kecil dari dominasi kecepatan arus
discharge dari outlet.
Gambar 4.11. Sebaran termal saat kondisi awal
t=12-jam di musim timur.
Warna mengindikasikan temparatur air antara
29C hingga 38C.
Hal ini dapat terjadi karena arus yang dihasilkan
sangat kecil, yaitu kurang dari 1 m/s, sehingga
arus dari outlet mendominasi pergerakan
tempertur. Dapat dilihat bahwa luas penyebaran
panas yang signifikan terhadap lingkungan AT 0,0
1,0
o
C yang terbesar dengan jauh penyebaran 1
km dari outlet merambat merata ke arah barat.
Luas penyebaran AT = (1,0 2,0)
o
C dengan jarak
penyebaran 2,1 km merambat ke arah barat. Jarak
penyebaran temperatur dengan AT di atas 2,0
o
C
mencapai sekitar 3,5 km ke arah barat dan 4,2 km
ke arah barat daya. Berdasarkan hasil simulasi
terlihat bahwa suhu daerah intake akan meningkat
sampai sekitar 36,7
0
C (peningkatan sebesar
7,7
0
C) dibandingkan kondisi awal. Hal ini terjadi
karena suhu yang keluar dari outlet menyebar ke
segala arah, termasuk masuk kembali ke daerah
intake.
Hasil simulasi pada jam ke tujuh belas
hingga jam ke dua puluh empat menunjukkan
bahwa suhunya tidak mengalami penyebaran yang
signifikan di sekitar outlet kurang dari 10 m,
namun pengaruh suhunya menyebar hingga ke
arah barat/barat daya termasuk intake dengan
jarak 3,5 km dengan suhu mencapai 30
o
C. Arah
arus yang bergerak dari timur ke barat karena
dominasi angin di laut lepas jauh dari outlet
menyebabkan penyebaran termal selanjutnya
mengikuti pola yang sama. Simulasi dalam waktu
satu hari (t=24 jam), seperti disajikan pada
Gambar 12, menghasilkan penyebaran menuju
arah barat mencapai jarak sejauh 5,3 km ke arah
barat dan suhu di sekitar 30
o
C.
Gambar 12. Sebaran termal saat kondisi t=24-jam
(1 hari) di musim timur. Warna mengindikasikan
temparatur air antara 29C hingga 38C.
Pada saat t=48 jam, penyebaran termal semakin
jauh ke arah barat. Lihat Gambar 13. Kenaikan
temperatur air laut hingga T=29,5-30,0C terlihat
jauh ke timur antara 2 km 9,3 km. Penyebaran
panas menaikkan temperatur hingga T=30,5C
terlihat hingga 2 km ke arah barat dari outlet.
Gambar 13. Sebaran termal saat kondisi t=48 jam
(2 hari) di musim timur.
Pada saat t=72 jam atau t=3 hari, penyebaran
termal semakin jauh ke arah barat (Gambar 14).
Kenaikan temperatur air laut hingga T=29,5-
30,0C terlihat jauh sekitar 15 km ke arah ke barat
daya hingga sisi barat pantai Jepara dengan lebar
penjalaran sekitar 2 km sejajar pantai. Penyebaran
panas menaikkan temperatur hingga T=30,5C
terlihat hingga 2 km ke arah barat dari outlet.
Temperatur sekitar outlet bervariasi dari 30,5C
hingga 37C.
Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910
Hal. 376-386
385
Gambar 14. Sebaran termal saat kondisi t=72-jam
(3 hari) di musim timur. Warna mengindikasikan
temparatur air antara 29C hingga 38C.
Pada akhir hari ke 4 atau saat t=96 jam,
penyebaran termal semakin jauh ke arah barat
daya (Gambar 15). Kenaikan temperatur air laut
hingga T=29,5-30,0C terlihat jauh sekitar 20 km
ke arah ke barat daya hingga daerah pantai Jepara
dengan lebar penjalaran sekitar 2 km sejajar
pantai. Penyebaran panas menaikkan temperatur
hingga T=31C terlihat hingga 3 km ke arah barat
daya dari outlet. Temperatur sekitar outlet
bervariasi dari 31C hingga 37C.
Sebaran panas ke arah barat daya terlihat
tidak menerus (discontinuity) karena pengaruh
arus pasang-surut sejajar pantai yang dominan ke
arah timur, sehingga longshore current ke arah
barat daya akan berganti secara periodik sesaat
kearah timur laut saat arus pasang surut
maksimum. Akibatnya terjadi pembalikan arus
sesaat dari dominasi ke arah barat daya menjadi
ke arah timur laut. Saat terjadinya periode ini,
sebaran panas menjadi melebar sekitar 3 km arah
laut.
Gambar 15. Sebaran termal saat kondisi t=96-jam
(4 hari) di musim timur.
Pada akhir simulasi di hari ke-5 atau saat t=120
jam, penyebaran termal semakin jauh ke arah
barat daya hingga 28 km dari outlet hingga
perairan Jepara (Gambar 16). Kenaikan
temperatur air laut hingga T=29,5-30,0C terlihat
ke arah ke barat hingga daerah pantai Jepara
dengan lebar penjalaran sekitar 2 km sejajar
pantai. Penyebaran panas menaikkan temperatur
hingga T=31C terlihat hingga 5 km ke arah timur
dari outlet. Temperatur sekitar outlet bervariasi
dari 31C hingga 37C. Dapat terlihat disini
bahwa setelah simulasi 5-hari terjadi kenaikan
temperatur air laut hingga 2C dari ambient
temperature di sekitar outlet hingga radius 2-5
km.
Gambar 16. Sebaran termal saat kondisi t=120-
jam (5 hari) di musim timur.
KESIMPULAN
1. Simulasi pada musim timur menunjukkan
bahwa massa air menyebar ke arah barat.
Hampir tidak ada limpahan dari outlet yang
masuk ke intake karena angin yang berasal
dari timur, jadi hampir tidak terjadi
resirkulasi air pendingin.
2. Simulasi pada musim barat menunjukkan
bahwa penyebaran suhu bergerak ke arah
timur laut karena pengaruh angin yang
dominan. Pernyataan ini didukung oleh plot
suhu di intake, yang menunjukkan
peningkatan suhu rata-rata sebesar 1.0
0
C.
3. Pada kondisi pasut di musim barat dapat
dilihat bahwa luas penyebaran panas PLTN
Muria yang signifikan terhadap lingkungan
(diatas 1.0
o
C) maksimum dengan jauh
penyebaran 2.5 km dari outlet ke arah Timur.
Simulasi dalam waktu satu hari menghasilkan
penyebaran menuju arah timur dengan suhu
disekitar 32
o
C.
Evaluasi Sebaran Thermal Di Perairan Semenanjung Muria.
(Heni Susiati, dkk.)
386
4. Pada kondisi pasut di musim timur dapat
dilihat bahwa luas penyebaran panas PLTN
Muria yang signifikan terhadap lingkungan
(diatas 1.0
o
C) maksimum dengan jauh
penyebaran 5 km dari outlet ke arah barat.
Simulasi dalam waktu satu hari menghasilkan
penyebaran menuju arah barat dengan suhu
sekitar 34
o
C.
Rekomendasi
1. Hasil simulasi secara umum telah
menggambarkan pola sebaran air pendingin
di Semenanjung Muria, walaupun demikian
hasil ini masih memerlukan pengujian
(verifikasi) lebih rinci lagi.
2. Data yang diperlukan untuk verifikasi model
adalah arus, pasang surut, sebaran
temperatur, angin, debit sungai, debit intake
dan outlet yang berupa data time series (deret
waktu) serta batimetri terbaru di tiap lokasi.
3. Software sebaran termal disusun dan
dijalankan dengan data temperatur yang bisa
divariasikan, tetapi dengan kondisi sirkulasi
arus, untuk tiap musim, berbagai kondisi
pasang surut dan debit intake outlet tertentu
yang telah ditentukan dari hasil simulasi
model hidrodinamika sebelumnya yang
disimpan dalam bentuk file. Sirkulasi arus
tersebut disimulasikan dengan input data
pasang surut, angin, debit intake dan outlet,
serta batimetri sehingga jika ingin
memvariasikan data-data tersebut diperlukan
menjalankan model hidrodinamika yang baru
yang harus dikerjakan secara khusus.
4. Keakuratan data pendukung untuk
menjalankan model secara umum masih perlu
ditingkatkan, misalnya data debit intake-
outlet pembangkit sebaiknya diambil dari
data pengukuran lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
1. HUBOYO, H.S., ZAMAN, B., Analisis
Sebaran Temperatur dan Salinitas Air
Limbah PLTU_PLTGU Berdasarkan Sistem
Pemetaan Spasial (Studi Kasus: PLTU-
PLTGU Tambak Lorok Semarang), Program
Studi Teknik Lingkungan FT. UNDIP,
Semarang (2008).
2. HARDY, R.N., Temperature and animal life.
The Camelot Press Ltd. Southampton, U.K.
33 pp (1979).
3. ASTUTI, P.: 1998, Model Penyebaran Panas
di Perairan Muara Karang Jakarta Utara
dengan Menerapkan Metoda Quickest. Tesis
Magister, Program Magister Oseanografi
dan Sains Atmosfer, Departemen
Geofisika dan Meteorologi, Institut
Teknologi Bandung.
4. JAMES, A.: 1993, An Introduction to Water
Quality Modelling, second Edition, John
Wiley & Son, Chichester, England.
5. KOUTITAS. C.G.: 1988, Mathematical
Models In Coastal Engineering. Arisstotle
University, Pentech Press. London.
6. KOWALIK, Z., dan MURTY, T.S.: 1993,
Numerical Modelling of Ocean Dynamics.
World Scientific. Singapore.
7. LEONARD, B.P.: 1978, Elliptic systems :
Finite-Difference Method, Departement of
Mechanical Engineering, The University of
Akron, Akton, Ohio.
8. Leonard, B.P.: 1979, A Stable and Accurate
Convective Modelling Procedure Based on
Qudratic Upstream Interpolation, A Journal
of Computer Methods in Applied Mechanics
and Engineering, North-Holland Publishing
Company.
9. SUTISNA, H.:1988, Simulasi Hidrodinamika
Teluk Jakarta Menggunakan Metode Beda
Hingga Ke Arah Hulu. Tugas Akhir, Program
Studi Oseanografi, Departemen Geofisika
dan Meteorologi, Institut Teknologi
Bandung.
10. Van Leer, Bram., 1985. On Numerical
Dispersion by Upwind Differencing. Dept. of
Mathematics and Informatics of Delft
University.
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
Bagaimana pengevaluasian di pantai dari
pelepasan air ?
(Findah R. Sholikhah ITS )
Jawaban:
Evaluasi dipantai dari pelepasan air pendingin
PLTN dilakukan dengan monitoring temperatur
air laut. Air yang dilepaskan di perairan sesuai
dengan peraturan Kep. Men LH No. 54 tahun
2004, kenaikan suhu perairan tidak boleh lebih
dari 2
o
C