Anda di halaman 1dari 5

PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN Pengertian Umum Pendidikan Kejuruan Keragaman pengertian dan segala implikasinya di kalanagan masyarakat

mengenai pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia muncul sebagai produk sejarah perkemba gannya yang panjang. Dalam kebijaksanaan pendidikan yang diambil pada masa itu, SMTP Teknik dan Kejuruan makin dikurangi jumlahnya dan kemudian di integrasikan ke SMTP Umum secara bertahap, dan SMTA Teknologi dan Kejuruan dipertahankan dan bahkan dikembangkan secara besar-besaran di Pelita Keempat. Meskipun dalam kenyataan objektif sampai dengan tahun 1987 masih ada beberapa ST yang bertahan atau dipertahankan eksistensinya dan ada beberapa jenis SMTA yang secara substantif belum tergarap dengan tuintas perkembangannya, namun ada semacam pengertian operasional bahwa yang dimaksud dengan pendidikan teknologi dan kejuruan adalah sekolah-sekolah yang tersebut di ditambah dengan penambahan jenis/program studi baru yang saat ini diperkirakan meliputi 160 jenis program tersebar di 2092 sekolah negeri dan swasta, dengan daya tampung melebihi 760.000 siswa. Dengan demikian sebenarnya istilah pendidikan teknologi sudah tercakup dalam istilah pendidikan kejuruan, sehingga pemakaian istilah pendidikan teknologi dan kejuruan sebenarnya secara konseptual tidak menambah kejelasan wawasan, kalau tidak boleh dikatakan cenderung membingungkan. Dengan kata lain, istilah ini hanya menunjukkan penggabungan secara operasional kelompok sekolah-sekolah kejuruan teknologi (ST, STM, STMP) di satu pihak dan sekolah-sekolah kejuruan lainnya (SKKP, SKKA, SMTK, SMEA, dan sebagainya) di lain pihak. Landasan Eksistensi Pendidikan Kejuruan Untuk dapat lebih memahami pendidikan kejuruan sebagai suatu sistem, perlu dikaji konsep-konsep yang melandasi eksistensinya yaitu meliputi : 1. Pendidikan dan asumsi tentang anak didik Pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu bentuk interaksi sosial yang telah melembaga semenjak sejarah manusia itu sendiri.

Cara hidup atau yang secara umum disebut budaya, tidak dapat diwariskan begitu secara biologis, melainkan harus dipelajari melalui interaksi dalam keluarga, kelompok bermain, sekolah dan masyarakat luas. Dalam hubungan ini pendidikan secara luas memang diartikan sebagai suatu proses sosialisasi yang memungkinkan seseorang mempelajari cara hidupnya, dan secara implisit berarti proses pendidikan itu akan berlangsung seumur hidup semenjak manusia dilahirkan sampai ajalnya tiba.

Fungsi Pendidikan Formal Sekolah sebagai lembaga pedidikan formal mempunyai kondisi tertentu yang menyebabkan proses belajar- mengajar yang terjadi di dalamnya berbeda dengan yang terjadi dalam lingkungan keluarga, kelompok bermain dan di masyarakat. Kelima fungsi pendidikan yang akan disebut di bawah ini merupakan sintesis dari pandangan-pandangan yang berkembang tentang peranan pendidikan pada umumnya dan pendidikan formal pada khususnya. 1. Trasmisi kultur (budaya) Sekolah terutama berfungsi sebagai agen pewarisan dan pelestarian budaya. 2. Transmisi skill Bentuk persekolahan yang pertama mungkin sudah mulai dikenal pada zaman manusia primitif, dimana orang-orang yang mempunyai kelebihan dalam skillskill tertentu dalam rangka usahanya untuk menguasai dan mengendalikn alam sekitarnya demi kepentingannya akan mengambil anak-anak muda di sekitarnya untuk membantu sekaligus di bimbing dalam mempelajari skill- skill tersebut sebagai magang. Dari sinilah sebenarnya bermula lembaga yang bernama sekolah dan disusul kemudian oleh berkembangnya profesi mengajar. 3. Transmisi nilai dan keyakinan Sekolah juga menekankan tentang sistem nilai dan keyakinan seperti kejuruan, sifat hemat, suka bekerja keras, keberanian yang dilandasi kebenaran dan sebagainya.

4. Persiapan untuk hidup produktif Sekolah mempunyai fungsi untuk mengarahkan dan mengalokasikan generasi muda yang dididinya ke berbagai karier atau pekerjaan yang menanti di masyarakat. Fungsi ini juga jelas tercermin dalam sistem penilaian, dimana tingkat pendidikan dasar nilai diberikan berdasarkan kapasitas atau potensi untuk berprestasi dan di tingkat pendidikan selanjutnya nilai lebih di tekankan pada jenis prestasi yang ditekankan pada jenis prestasi yang dicapai. 5. Pemupukan interaksi kelompok Semua individu memerlukan proses interaksi antar sesama dan sekolah menyediakan iklim yang sehat sebagai ajang interaksi di kalangan anak-anak sampai mereka menjelang dewasa. Kelima fungsi pendidikan tersebut di atas secara stimulan dapat bekembang melalui dua elemen pokok kegiatan yaitu pendidikan formal dan informal. Yang pertama ditandai dengan program-program yang lebih terstruktur dan lembaga kegiatan persekolahan, sedangkan kedua lebih banyak terjadi di luar diding skolah dan biasanya terlepas dari kegiatan pendidikan yang terencana. Asumsi Tentang Anak Didik Salah satu dimensi pokok yang tercakup dalam fondasi pendidikan kejuruan adalah asumsi-asumsi dasar atau konsep tentang hakikat anak didik. Hal ini penting untuk dikemukakan karena asumsi-asumsi inilah yang menentukan langkah dan strategi dalam perencanaan, organisasi dan pelaksanaan program pendidikan kejuruan. Diantara asumsi-asumsi yang cukup terkenal ada suatu pandangan yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya tidak menyukai kegiatan belajar formal dan sedapat mungkin akan menghindarinya. Menurut anggapan ini untuk dapat belajar anak didik harus dipaksa, diberi motivasi bahkan kalau perlu dengan menggunakan ancamanancaman. Tugas guru sebagai implikasi dari anggapan ini ialah memperkenalkan mereka kepada khasanah ilmu pengetahuan yang sudah terkumpul dan terstruktur agar dengan demikian mereka dapat berangsur-angsur menyukai kegiatan belajar.

2. Konteks sosial pendidikan kejuruan Untuk dapat memahami konteks sosial pendidikan kejuruan dapat ditinjau dari hubungannya dengan tiga komponen utama yaitu: manusia, masyarakat, teknologi. Sejalan dengan itu teknologi muncul atau diciptakan mausia dalam usahanya untuk mengadakan perubahan, penegembangan ataupun penyesuaian ke kondisi sosial yang baru tersebut. Jadi pada dasarnya isi proses pendidikan yang berlangsung diharapkan dapat mencakup transfer hasil kebudayaan, gagasan, nilai, dan norma untuk dapat menutup jurang antara orang tua dengan anaknya, antara kelompok dengan pribadi atau perorangan dan antara generaasi yang lebih tua dengan generasi yang lebih tua de ngan generasi penerus yang lebih muda. Sejalan dengan perkembangan struktur lapangan kerja dari generasi yang satu ke generasi yang menggantikannya, berubah pula sikap manusia terhadap dunia pekerjaan termasuk sikap dan penilainnya terhadap jenis-jenis pekerjaan yang ada, cara kerja yang harus dipertahankan dan yang harus dipertahankan dan yang harus diganti dengan cara baru untuk kemudian diwariskan ke generasi pekerjaan selanjutnya. Jadi secara ringkan pendididkan kejuruan dapat disimpulkan dapat timbul berdasarkan evolusi tuntutan masyarakat melalui dua institusi sosial. Disalah satu pihak ialah institusi sosial yang berupa struktur pekerjaan dengan organisasi.pembagian peran atau tugas dan perilaku yang berkaitan dengan pemilihan, perolehan dan pemantapan karier.

3. Dimensi ekonomi pendidikan kejuruan Mungkin tidak semua oarang setuju jika dikatakan bahwa basis yang mendasarai diselenggarakan pendidikan kejuruan adalah suatu basis ekonomi, dalam hal ini kebijakan untuk mengalokasikan sumber daya manusia sesuai dengan pekerjaan yang terdapat dalam struktur masyarakat tertentu. Dengan demikian usaha untuk mengembangkan sumberdaya manusia sehingga tenaga, skill dan penetahuannya dapat dimanfaatkan dalam proses produksi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat dengan sendirinya adalah masalah ekonomi yag penting.

Perbedaan pendekatan antara model pertumbuhan ekonomi (GNP approach) dan model pengembangan sumberdaya manusia (human resource development) ini sangat relevan dengan prinip-prinsip pendidikan kejuruan dan selayaknya difahami secara mendalam setiap praktisi maupun teoritisi dalam bidang pendidikan kejuruan. Singkatnya meskipun dalam praktek kenyataan sehari- hari pendidikan kejuruan berkecimpung dengan konsep-konsep kependidikan namun karena tujuan akhir, penilaian proses, dan justifikasi prospeknya semuanya berkaitan kriteria ekonomi, maka mau tidak mau dimensi ekonomi pendidikan kejuruan harus mendapatkan porsi perhatian dan pemikira yang proporsional.

4. Pendidikan kejuruan dan ketenagakerjaan Ditinjau dari konstelasi sosial yang saling erat bekaitan satu sama lain, dapatlah dikemukakan bahwa suatu kebijakan tentang ketenagakerjaan menyangkut

pengembangan dan pemanfaatan manusia sebagai salah satu sumberdaya ekonomis sekaligus sebagai sumber penghasilan bagi individu dan keluarga. Pendidikan kejuruan memfokuskan usahanya pada komponen kedua yaitu peyelenggara program pendidikan dan latihan untuk pengembangan sumberdaya manusia. Untuk itulah pendididkan kejuruan tidak seharusnya mendidik anak didiknya denagn seperangkat skill atau kemampuan yang spesifik untuk pekerjaan tertentu saja karena yang demikian ini biasanya lalu kurang memperhatikan perkembangan kemampuan spesifik secara terpisah dari totalitas pribadi anak didik akan berarti memberi bekal yang sangat terbatas bagi masa depannya sebagai tenaga kerja. PROSPEK PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Ditinjau dari sejarahnya pendidikan teknik di tingkat menengah di indonesia udah ada sejak zaman penjajahan sebagai bentuk awal dari pendididkan kejuruhan dibidang teknologi. Dalam perkembangan selanjutnya didirikan pula sekolah-sekolah kejuruan di tingkat menengah atas seperti Sekolah Teknik Menengah (STM), Sekolah Guru Atas (SGA) dan kemudian menjadi Sekolah Penndidkan Guru (SPG) yang ada sekarang. Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) dan masih banyak lagi jenis-jenis sekolah yang lain.