Anda di halaman 1dari 2

Audit Forensik Kasus Century

Senin, 28 November 2011 00:00 WIB


Komentar: 10 0 0

ADA dua sisi skandal Bank Century, yaitu politik dan hukum. Di bidang politik, DPR sudah menjatuhkan vonis bahwa pengucuran dana talangan Rp6,7 triliun untuk Bank Century pada 2008 bermasalah. Akan tetapi, vonis politik itu sama sekali tidak berkorelasi dengan sisi hukum. Persoalan hukum skandal Century ternyata jauh lebih rumit atau sengaja dibuat rumit. Lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan Agung, dan kepolisian selalu kelebihan alasan untuk tidak menemukan indikasi yang bisa membawa skandal Century menjadi kasus pidana korupsi. Itulah sebabnya audit forensik yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan dipercaya sebagai obat penambah tenaga dalam menuntaskan kasus Century secara hukum. Lewat audit itu diharapkan bisa terjawab, apakah benar ada aliran uang dana talangan Bank Century untuk partai politik dan calon presiden tertentu. Namun, audit forensik yang dilakukan BPK sejak Agustus itu tak kunjung tuntas. Ia baru selesai 60%. BPK, yang semula berjanji menyelesaikannya pada akhir November, meminta tambahan waktu hingga 23 Desember 2011. Sulit diterima bahwa penambahan waktu itu semata alasan teknis audit. Orang lebih percaya bahwa ada motif politik di balik itu. Motif itu terkait perkembangan konstelasi politik di DPR. Audit forensik yang dilakukan BPK itu atas permintaan Tim Pengawas Kasus Century DPR. Padahal, masa tugas tim itu berakhir pada 7 Desember dan DPR memasuki masa reses pada 17 Desember. Hasil audit forensik itu mesti diserahkan kepada pihak yang meminta, yaitu Tim Pengawas Kasus Century DPR. Jika DPR tidak memperpanjang masa tugas tim pengawas, kepada siapa hasil audit forensik itu diserahkan? Di sini terbuka celah formal prosedural untuk DPR bersilat lidah menolak hasil audit forensik itu. Perpanjangan masa tugas tim pengawas itu mesti diputuskan dalam rapat paripurna DPR, sedangkan konstelasi politik di Senayan berubah setelah perombakan kabinet. Bukan mustahil suara mayoritas dalam rapat paripurna tidak menghendaki perpanjangan masa tugas tim pengawas. Jika itu yang terjadi, dokumen audit forensik itu masuk keranjang sampah. Persoalan lain ialah pada 17 Desember DPR memasuki masa reses. Itu artinya BPK baru bisa menyerahkan hasil audit kepada DPR pada pertengahan Januari 2012 saat dewan memasuki masa sidang. Pada saat itu KPK pun baru berganti pimpinan. Pimpinan KPK baru dilantik pada 17 Desember. Itu artinya, hasil audit forensik belum tentu otomatis dijadikan sebagai fakta hukum oleh pimpinan KPK yang baru. Mereka akan mempelajari kasus Century dari awal

lagi. Tidak ada jalan lain, BPK harus menyelesaikan audit forensik Century pada awal Desember, yaitu sebelum Tim Pengawas Kasus Century DPR dinyatakan purnatugas. Jangan sampai karena kelambanan bekerja BPK justru menyelamatkan kasus Century.