i

EDITORIAL
PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN DARI DIAGNOSIS HINGGA TATA LAKSANA Dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang pesat, kita perlu menambah pengetahuan dengan penelitian-penelitian terbaru. Dengan menambah informasi tentang penelitianpenelitian terbaru, diharapkan kita dapat mengelola pasien dengan tepat dan aman, mulai dari diagnosis hingga tatalaksananya. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang diagnosis, dalam edisi ini kami ketengahkan penelitian tentang perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberculin, validitas foto thorax proyeksi PA untuk menegakkan diagnosis emfisema pulmonum dan dislipidemia pada penderita stroke dengan demensia. Sedangkan untuk menambah pengetahuan kita tentang tatalaksana pasien, edisi ini memuat penelitian-penelitian tentang perbandingan efek ekstrak etanol dan eter biji tua pisang klutuk, efek ekstrak mahkota dewa, pengaruh kitosan olahan udang putih pada penurunan trigliserida plasma tikus dan aktivitas antimikroba daun cocor bebek.

i

Volume 1, No.1, Agustus 2009

ISSN 2085-8345

DAFTAR ISI
Editorial Daftar Isi Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Pujarini i ii 1 - 8

9 - 15

17 - 23

Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas, Rahadiyan W.B.

25 - 32

33 - 36

37 - 41

43 - 50

ii

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan E mail: wilmaabbas@yahoo.com Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant. Key Words: BCG, tuberculin, screening

Pendahuluan Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB paru yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB dan telah dibuktikan menderita TB di Asia kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). Perlu dilakukan peningkatan mutu program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TBParu). Strategi yang digunakan adalah pemutusan rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu,

diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik yang mudah dikerjakan dengan hasil yang cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan dengan biaya yang murah. Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein; (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7) Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer, 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntik an, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Mohammad Wildan 1

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis

mengingat prevalensi kasus TB anak cukup besar.5 80 Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85.anak usia 12 tahun. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak 151 RSUP dr. Kariadi Semarang. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti Besar sampel: n : Keterangan : P Q Z² 1-Ü/2 d n karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di Indonesia.2) : 62 0. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Pasien rawat jalan yang menderita tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke 1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik Paru 151 RSUP dr. merupakan indikator yang kuat pada kontak tuberkulosis. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. pertusis. dan hampir semua responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3) Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji tersebut.sebagai alat diagnostik.96² (0. Kariadi • Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 tahun dengan tinggi badan maksimal 145cm untuk anak laki-laki dan 137cm untuk anak perempuan 2 • Orang tua penridenta memberi ijin dan bersedia dilakukan pemeriksaan yang ditetapkan • Tempat tinggal di dalam kota Semarang Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: • Menderita penyakit TB berat. Volume 1. tifus abdominalis Biomedika.1 1. Nomor 2.1² : : : : : Prevalens 80% N : 100 X 62 : 77. varisela. morbili. Populasi studi adalah bayi umur 4 bulan . difteri.P = 0.8) (0. Selain itu uji BCG juga dapat langsung berguna sebagai profilaksis. (Z² 1-Ü/2) PQ d² 0. khususnya di RSUP Dokter Kariadi Semarang. (2) Mungkin terdapat perbedaan hasil dengan hasil penelitian sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya perbedaan ras/ etnik.2 1. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. sehingga lebih unggul bila dibandingkan dengan uji tuberkulin. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti Indonesia.8 1 . 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji Mantoux positif. Shrivastava dkk. Tahun 2009 . aman. Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi yang dicurigai menderita tuberkulosis dan dilakukan uji Mantoux dan uji BCG. Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah clinical disagreement. (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa langsung diterapkan di Indonesia. Uji BCG tidak terdapat anergi. (1977) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi.96 (derajat kepercayaan) 0. Dikshit dan Surendra Singh (1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji Mantoux positif.

panas subfebril terutama malam hari yang berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang jelas.5:1. Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. inguinal. 2. Kariadi. gibbus/spondilitis. Sedangkan pada sampel perempuan didapatkan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik. wheezing. mata gatal dan merah dengan daerah kuning pada kelopak mata dan bengkak. yaitu 3. Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5 tahun sebagian besar negatif dibanding positif. keluhan sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah satu dari: benjolan disekitar leher. dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak didapatkan pada sampel lakilaki dibanding sampel perempuan dengan perbandingan yang relatif berimbang. berat badan bertambah (10% setelah pengobatan 2 bulan) • Laboratorim membaik: Hb meningkat. pembacaan setelah 72 jam dan setelah 7 hari Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF Radiologi RSUP dr. sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. peningkatan sel mononuklear. Secara keseluruhan sampel dengan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding sampel dengan gizi baik. juga limfopeni. terdapat diskonkruensi. ronk i. Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin lakilaki dan perempuan relatif berimbang pada semua kelompok umur. pleuritis. pembacaan setelah 72 jam. nares). lekositosis berkurang. nyeri pada lutut dan selangkangan. pergeseran ke kiri berkurang • Gambaran radiologik membaik dibanding sebelumnya Pengelolaan dan analisis data menggunakan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test. atau krepitasi pada pemeriksaan fisik paru. perubahan parenkim dan atau konsolidasi alveolar. aksila. densitas interstitial. Anak yang secara klinis menderita TB dengan hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif) diberikan pengobatan anti TB dan follow up sampai dengan 6 bulan pengobatan. sering berkeringat malam. kelainan fokal. pembacaan dilakukan oleh seorang radiolog. Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB. yaitu 2:1. Sebaran Status Gizi Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding yang bergizi baik. malnutrisi (antropometri). nafsu makan membaik. Perbaikan yang dinilai adalah: • Klinik: demam sub febril menghilang. konjungtivitis fliktenularis. sedangkan Mohammad Wildan 3 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . kelainan akibat perubahan mekanik. LED menurun. dari 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5 tahun merupakan yang terbanyak. berat badan sulit naik (dalam 4 minggu terakhir). mendapatkan vaksin • Penderita pindah tanpa diketahui alamat yang baru • Meninggal selama penelitian karena penyakit lain • Gizi buruk Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan Modifikasi Kriteria Starke (1994): 1. 3. aksila. inguinal. kelompok umur 6-10 tahun hasil uji positif dibanding negatif adalah 1:2. Kariadi. pembesaran kelenjar limfe (leher. didapatkan gerak nafas asimetris. kemudian kelompok umur 6-10 tahun. Kariadi bersamasama dengan uji Mantoux. dan paling sedikit kelompok umur >10 tahun. punggung. Perhitungan nilai Kappa dengan menggunakan clinical disagreement. pembesaran limfonodi nares. Pe m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m m u n g k i n didapatkan anemi atau lekositosis. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian didapatkan hasilnya sebagai berikut: Sebaran Umur dan Jenis Kelamin Apabila dikelompokkan berdasarkan umur. untuk 1 pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. tetapi dengan perbandingan hampir sama/ separuh jumlah. palpasi dada pekak. Selain itu dijumpai peningkatan laju endap darah. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan. berair.• Menderita penyakit keganasan • Mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka lama. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu dari: tidak didapatkan kelainan. Rejimen pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR. 4.

Sedangkan persentase morbiditas terhadap penderita tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas pada penelitian ini relatif sama.3%) tetapi perbandingannya relatif berimbang. Pembahasan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel yang berumur <5 tahun persentase sampel perempuan (50. 1993). kelompok umur 6-10 tahun dan >10 tahun perbandingannya 100% positif. dengan perbandingan 4:3. kemudian persentasenya akan menjadi sama dengan bertambahnya umur (Stead.605.6%) sampel mengalami perbaikan laboratorik baik padda responden dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding uji BCG negatif. Demikian juga pada sampel kelompok umur >10 tahun. jumlah sampel juga berpengaruh terhadap hasil penelitian. kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21.013 dengan nilai p= 0.7%) lebih banyak dibanding lakilaki (49.58. 1993). Analisis Statistik Nilai Kappa Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 perhitungan nilai kappa data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan nilai kappa 0.pada kelompok umur >10 tahun perbandingannya adalah 1:3 antara hasil positif dibanding negatif. Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR.0% dan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel atau 4%. Sampel Biomedika. Selain karakteristik sampel. Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulin negatif. 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun sebanyak 75 sampel atau 75. yaitu 48% sampel laki-laki dan 52% perempuan. Apabila dikelompokkan menurut menurut umur. pada sampel laki-laki dan perempuan relatif sama. Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 tahun didapatkan nilai kappa . perbaikan radiologik dan laboratorik Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laboratorik baik pada responden dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR.22 dan nilai p = 0. Tahun 2009 . Volume 1.0. Nomor 2. Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun sebagian besar (96%) negatif dibanding positif. Didapatkan proporsi konjungtivitis fliktenularis. Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG.701. Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0.0%. Sebagian besar (95. menyusul kelompok umur >10 tahun dan paling kecil pada kelompok umur < 5 tahun. Berdasarkan persentase menurut kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini sudah mencerminkan gambaran populasi. 1993). Pada kelompok umur 6-10 tahun juga didapatkan hal yang sama. yaitu bahwa morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5 tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan anak yang berumur lebih tua (Stead. Proporsi hasil positif uji tuberkulin paling besar didapatkan pada kelompok umur 6-10 tahun. Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0. dengan pebandingan 6:5. persentase sampel laki-laki dan perempuan adalah sama besar. Secara persentase menurut jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan gambaran populasi. yaitu 1:1.649 Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik. dengan nilai p=0. Pada anak yang berumur lebih muda morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak lakilaki dibanding dengan anak perempuan.331 Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan 4 nilai p= 0. dimana pada anak yang lebh besar persentase morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar (Stead.008. keadaan ini sesuai dengan persentase gambaran populasi. Sebagian besar sampel mengalami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji BCG positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR.64.

12 dan p= 0. sehingga tidak menggunakan baku emas. Sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan dengan hasil uji BCG positif.0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 3 sampel atau 3.77). Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang negatif lebih banyak didapatkan pada sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan. Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang sama.22 dan p= 0.0%.008 dengan nilai p=0. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya under diagnosis. Apabila dijumlahkan secara keseluruhan. Keadaan lain yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya overdiagnosis. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji tuberkulin positif. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun (df= 1. Sedangkan pengaruh status gizi sampel terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang energi protein ringan. jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 74 sampel atau 74.013) dan nilai p= 0. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang kecil (-0. dengan menggunakan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 sampel atau 23. jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau 1.605. Mohammad Wildan 5 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tuberkulin positif. Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar 0. sehingga mungkin lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG. hasil uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding yang positif.58) dan 6-10 tahun (df= 0. dengan perbandingan 3:1. Tetapi pada kedua keadaan tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1. Shrivastava (1977) menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dibanding tuberkulin. didapatkan sampel dengan hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau 97.05) yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan tidak bermakna.0%. atau tidak menderita penyakit tuberkulosis. Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih banyak dibandimg yang positif.yang digunakan pada penelitian ini sudah diperhitungkan dengan beberapa persyaratan yang sesuai dengan rumus yang berlaku sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini sudah dianggap cukup. tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0.0%. Perhitungan statistik dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux). Sedangkan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa memang benar sampel tersebut menderita penyakit tuberkulosis.0%.331. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik uji clinical disagreement dengan membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG.701 (bermakna p=0.93 dan p= 0. sedangkan sampel dengan hasil uji (tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 atau 24.331.64) mempunyai gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga uji chi square yang dilakukan kurang valid. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita tuberkulosis dengan malnutrisi.0%. (2) semua responden pada penelitian ini pernah mendapatkan vaksinasi BCG. dengan perbandingan 4:1. tetapi apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Semakin banyak sampel akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut. Pengaruh status gizi responden terhadap hasil uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8. Apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel benar menderita penyakit tuberkulosis.

tetapi pada kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan pengecatan ataupun biakan sekret mata. Efek samping uji BCG (Choudhary. perkembangan penyakit setelah dilakukan pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh (klinik. Sedangkan ukuran diameter ratarata hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh adalah 9. Hal ini dapat dijelaskan bahwa indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding terhadap uji BCG. hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12-16 mm).5 %). Jalur aferen melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen yang "diproses" makrofag. tetapi hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 mm).7%) pada kontak tuberkulosis. Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62 sampel (77. pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung kearah tuberkulosis. 1994). kasus yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus pertama. anamnesis. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status imunologi pada sampel belum sampai menurun sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas reaksi hipersensitivitas. Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa respons terhadap vaksinasi BCG tidak berhubungan dengan umur. Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum sampai menekan komponen respons hipersensitivitas tipe lambat tersebut. sehingga tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis.dan tidak dipengaruhi oleh status gizi. dan faktor kemotaktik menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda reaksi positif (Grange JM. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus kelompok hemolitik atau stafilokokus. Respons hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga rangkaian proses yang jelas. Suskind RM (1997) mendapatkan bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan subnormal akibat defisiensi diit protein akan menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkulin. Dapat dijelaskan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. Sonmez (1994) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. Nomor 2.7 mm. Insiden Biomedika. sudah dikonsulkan ke Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis fliktenularis akibat tuberkulosis. Volume 1. radiologik perbaikan). Hasil uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita ternyata negatif. Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak didapatkan pada penelitian ini. aman.23% dari seluruh sampel yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%) dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun. yang pertama seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel (97. yang pada penelitian ini status imunologi tidak diteliti. Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis fliktenularis. sebagaimana yang didapatkan oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik. 1994). Jalur eferen ditandai dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang disuntikan intradermal. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. Insidensnya banyak terjadi pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 56 15 tahun (Ormerod LP.3% dan ulserasi 8%. terjadi akibat respons infeksi primer tuberkulosis.33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5 tahun.5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18 sampel (22. 1977) didapatkan adenitis regional 3. Dana S. Konjungtivitis fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin. laboratorik. merupakan indikator yang kuat (96. Dengan demikian. Defisiensi nutrisi menekan salah satu atau lebih komponen respons hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM. Ormerod (1994) mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis biasanya terjadi pada anak yang mengalami infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. Respons peradangan kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada sisi kulit yang diberi antigen. hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Shrivastava dkk (1977). Krishna K. Tahun 2009 . 1994). 20 sampel (95. sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur.

Christy C.1%. Indian Pediatrics 14: 993-8. Newberne PM. The Malnourished Child. 1997. BGC test for diagnosis of childhood tuberculosis. Pediatrics 93: 131-4 Dana S. county of san diego. perbaikan radiologik 82. New York: Plenum Press Choudhary AK. Journal of Tropical Pediatric.8% dan 96. 1996. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur 4. Sebagai bukti tambahan (yang perlu dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif. Jakarta: Forum Diagnosticum Somnez. Surendra Singh. Dalam: Davis PDO eds. Evaluation of diagnostic valve of BCG test in childhood tuberculosis. tetapi kesalahan akibat teknik penyuntikan reagen tidak dipertimbangkan secara teliti 4. Indian Pediatrics. Semua responden pada penelitian ini telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya Simpulan dan Saran Simpulan 1. London: Chapman & Hall Medical Jaiswal S. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini juga menggunakan sampel kontrol. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak Saran 1. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen BCG maupun PPDS 5TU secara biokimiawi sebelum disuntikkan 3. Evaluation of BCG test in childhood tuberculosis. Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat diberikan pada semua anak tanpa khawatir terhadap komplikasinya. Driver C. Shingwekar AG. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95.7%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik juga dengan sebaran yang hampir sama. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut dengan menggunakan baku emas dan kontrol Daftar Pustaka Chandra RK. 3. Respiratory Tuberculosis. 1999. Adapun keterbatasan-keterbatasan penelitian ini adalah: 1. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG test. Pediatrics 104: 1-6 Ormerod LP. 1994. 1977. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol 2. 1993. BCG test for diagnosis of chilhood tuberculosis. Screening for tuberculosis infection in urban children. Indian Pediatrics Vol XIII No 9: 68795. Immunity and Infection Mechanism of Interaction. 1979. The Malnourished Child in Overview Dalam: Suskind RM. Choudhary AK. Perlu hati-hati dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an dan pengecatan kuman BTA 2. Haas E. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding dengan proporsi hasil negatif uji BCG. Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine 150: 722-26 Committee on Infection Diseases. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8.8% dan 77. Immigration and tuberculosis among children on the united states-mexico border. Immunophysiology and Immunopathology of Tuberculosis. Kenyon TA. Grange JM. Clinical Shrivastava DK. 1998. tetapi secara statistik tidak bermakna 2. Tidak diteliti status imunologi yang dapat berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji BCG maupun tuberkulin 6. Nutrition. PAP-TB sebagai Penunjang Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. 1977. tetapi secara statistik tidak bermakna.6%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik dengan sebaran yang sama. Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar dibanding dengan proporsi hasil positif uji tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan tuberkulosis. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh pada perbaikan status gizi 5. perbaikan radiologik 95. 1977. Leslie LS. 1977. 1977. 1994.5% dan 66. 44: 40-2 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7 . Suskind RM. 1994. Clinical Tuberculosis. California. Dalam: Davis PDO eds. Screening tuberculosis in infant and children.9% dan 100%. 13: 689-95. Badhari NR. Krishna K. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat yang telah berpengalaman. New York: Raven Press Dikshit KP.limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7. Soekendar AW. Sedangkan pada responden dengan hasil uji BCG positif dan negatif.1 %.

Tuberculosis.Stead WW. Dalam: Davis PDO eds. Clinical Tuberculosis. London: Chapman & Hall Medical 8 Biomedika. London: Chapman & Hall Medical Wong GWK. Nomor 2. 1994. 1994. Dalam: Schlossberg D. Tahun 2009 . Volume 1. 1993. Oppenheimer SJ. Childhood Tuberculosis. 1993. New York: Springer-Verlaag Tuberculosis. Dut AK. Epidemiology and Host Factors.

Samples of this study recruited were 192 subjects with range of age between 18-81 years old.This study is a diagnostic test were that performed in Departement of Radiology RSUD Dr Moewardi Surakarta from July to October 2008. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK) yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar. The validity of Posterio-Anterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema was 90.3% in spesifisity.6% in sensitifity and 84. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. 1993). karena semakin bertambahnya penderita (Widjaja. 1994:Finlay. 1996. Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK. validity Pendahuluan Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan kematian penderita emfisema belum menunjukkan penurunan. 30%< FEV1<50% predicted and very severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. The abnormality of lung structure can manifest in Posterio-anterior chest X-ray. Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. FEV1 > 80% predicted. moderate obstruction if FEV1/FVC < 70%. spirometry. Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Widjaja. sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku emas (Senior. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. 1998). di negara maju merupakan masalah kesehatan utama. 126 subjects (66%) were diagnosed with emphysema and non emphysema were diagnosed in 66 subjects (34%). Kelainan yang mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata. emphysema was diagnosed if met with all criteria above. This study maintained to get validity of Posterioanterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema. mild obstruction if FEV1/ FVC < 70%. At first chronic inflammatory induced changed the lung structure. 154 men and 38 women. 50%< FEV1<80% predicted. 1993). posterio-anterior projection. permanent enlargement of airspaces distal to the terminal bronchiole. F r o m 1 9 2 s u b j e c t s performed Posterio-Anterior chest X-ray. Diagnosis emfisema berdasar pendekatan patologinya (diagnosis emfisema menggunakan p e n d e k a t a n p e m e r i k s a a n h i s t o p at o l o gi merupakan diagnosis pasti. Posterio-Anterior chest X-ray has good validity to establish diagnosis emphysema.com Abstract Emphysema as a condition of lung characterized by abnormal. Smoking habits was higher in emphysema Posterio-anterior chest X-ray group than non emphysema group.Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum E mail: lilis_tomy@yahoo. Keywords: emphysema pulmonum. Apabila pasien tidak mampu melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat. accompanied by destruction of their walls. emphysema was diagnosed if Posterio-Anterior chest X-ray showed : 1)Hyperinflation 2) Hyperlucency 3) Decrease and flattened of diaphragma and 4) Tear drop appearance of the heart. FEV1< 30% or FEV1<50% predicted plus chronic respiratory failure. severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Posterio-Anterior chest X-ray emphysema with obstruction were establishe in 117 subjects (93%) and non obstruction were diagnosed in 9 subjects (7%). Posterio-anterior chest X-ray has good validity to establish change the lung structure. to determine either emphysema or non emphysema. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) DEPKES RI 1992 menunjukkan angka kematian emfisema. Abnormalitas pemeriksaan faal paru pada emfisema menunjukkan tanda obstruktif. Sulistyani Kusumaningrum 9 . akan tetapi sangat Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum sulit dilakukan). Posterio-Anterior chest Xray non emphysema with obstruction were diagnosed in 12 subjects (18%) and non obstruction were diagnosed in 54 subjects (82%). bersifat kronis progresif dan memberikan kecacatan yang menetap (Thurlbeck. Barnes. Spirometry showed obstruction with criteria of GOLD 2006.

1998). penambahan lusensi paru yang dapat dibandingkan dengan gambaran udara sekitar di luar tubuh yang ikut terekspose film (hiperlusensi). 1998).5 (tear drop appearance jantung) 2. Interpretasi pembacaan hasil foto thorax PA dilakukan dokter spesialis radiologi sedangkan pemeriksaan faal paru dilakukan oleh dokter spesialis paru. diafragma turun dan mendatar). FEV 1 < 30 % prediksi atau FEV 1 < 50% disertai gagal pernafasan khronis Biomedika. Dilakukan pemeriksaan faal paru (spirometri) FEV1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Nomor 2. Sebelum penelitian ini dimulai. Kelainan struktur jaringan dapat memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax proyeksi posterio-anterior (foto thorax PA). Analisis data 10 dalam penelitian ini adalah sensitivitas. Bentuk kelainan struktur yang dijumpai adalah destruksi serat elastin septum interalveoli dan ditemukannya peningkatan serat kolagen sebagai bentuk remodelling jaringan ikat paru akibat destruksi serat elastin tersebut. Moewardi Surakarta selama bulan Juli hingga Oktober 2008. merupakan kelainan yang mendasari terjadinya pembesaran ruang udara pada emfisema. Tujuan uji diagnostik ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi validitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Tahun 2009 . sehingga pendekatan pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri. Senior. Kelainan struktur parenkim diawali terjadinya inflamasi khronis yang akan mengakibatkan destruksi jaringan elastin dinding jalan napas. penilaian foto thorax PA dilakukan dua kali. obstruksi sangat berat bila nilai FEV 1 / FVC < 70 %. Pada foto thorax PA dinyatakan emfisema pulmonum bila pada radiologi thorax ditemukan gambaran : diafragma turun dan mendatar hingga dapat mencapai di bawah costa XI aspek posterior atau di bawah costa VII aspek anterior (hiperinflasi. 50 % < FEV1 < 80 % prediksi dan obstruksi berat bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Volume 1. Daerah Dr. FEV1 > 80 % prediksi . r a s i o k e ce n d e r u n g a n p o s i t i f d a n r a s i o kecenderungan negatif dari foto thorax PA. deposisi dan bentuk remodelling kolagen. 30 % < FEV1 < 50 % prediksi. Hasil Spirometri/gangguan faal paru dikatakan obstruksi (emfisema pulmonum) ringan bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Uji diagnostik ini juga harus spesifik (kemungkinan hasil false positive kecil). uji diagnostik harus sensitif (kemungkinan false negative kecil). Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling. gambaran jantung yang langsing disertai penurunan cardiothoracic ratio < 0. Material dan Desain Penelitian Jenis dan rancang penelitian yang dilakukan ialah uji diagnostik. 1997. obstruksi sedang bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . dilakukan uji keandalan intra-observer seorang dokter spesialis radiologi untuk menilai foto thorax PA. Senior. Cara kerja pada tahap pertama. Penghitungan derajat kesesuaian (kappa) intra-observer dilakukan dengan perangkat lunak computer dan didapatkan kappa intra-observer 1. Penghitungan dari variabel dilakukan dengan memakai tabel 2 x 2 Teknik Pemeriksaan Setiap subyek atau sampel penelitian menjalani prosedur pemeriksaan sebagai berik ut: Pemeriksaan radiologi thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. Dilanjutkan pemeriksaan faal paru (spirometri) FE V1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). sehingga apabila didapatkan hasil yang normal dapat dipergunakan untuk menyingkirkan adanya penyakit. Penelitian dilakukan di RSU. Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman (network) jaringan ikat paru yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru (Finlay. Keadaan inilah yang berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi paru. 1995).0. Nilai kappa tersebut termasuk dalam kategori sangat baik Definisi operasional 1. nilai duga positif. Untuk keperluan ini. nilai duga negatif. pasien yang masuk kriteria inklusi dilakukan foto thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. spesifisitas. saat pendaftaran penderita diseleksi berdasar kriteria inklusi dan eksklusi. sehingga apabila hasilnya abnormal dapat digunakan untuk menentukan adanya penyakit (Sastroasmoro.1997. Destruksi serat elastin.

Analisis Data Pengujian Hipotesis dengan Uji Diagnostik. Dibuat tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Selama periode Januari sampai dengan Desember 2004 didapatkan data dari catatan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 11 .

Karakteristik data dasar No 1 Data Dasar Subyek Penelitian Hasil Foto Thorax PA emfisema Hasil Foto Thorax PA Non emfisema Jenis Kelamin Laki-Laki: emfisema Non emfisema Perempuan: emfisema Non emfisema Umur : Maksimal Minimal Tingkat Pendidikan SD emfisema Non emfisema SMP emfisema Non emfisema SMA emfisema Non emfisema PT emfisema Non emfisema 5 Kebiasaan Merokok emfisema : Non emfisema : Jumlah 192 126 66 Prosentase 66 % 34 % 2 154 115 39 38 9 29 81 th 18 th 80 % 75 % 25 % 20 % 24 % 76 % 3 4 78 59 19 71 46 25 38 17 21 5 2 3 41 % 76 % 24 % 37 % 65 % 35 % 20 % 45 % 55 % 2% 40 % 60 % Ya Tidak Ya Tidak 109 17 63 3 87 % 13 % 95 % 5% Berdasar tabel di atas dapat diketahui penelitian ini terdiri dari 192 subyek. dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan. Umur subyek penelitian antara18 sampai 81 tahun. Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SD (41%) kemudian SMP (37%). 1. Semakin tinggi tingkat pendidikan angka kejadian emfisema lebih rendah daripada non emfisema Hal tersebut mulai tampak pada tingkat pendidikan SMA. 12 Biomedika.Hasil Penelitian Pada periode bulan Juli hingga Oktober 2008 didapatkan 192 subyek penelitian. Jumlah laki-laki dengan emfisema adalah 75 % sedangkan perempuan dengan emfisema 24 %. SMA (20%) dan PT (2%). Karakteristik data dasar Tabel 1. dibuat tabel 2x2 berdasar hasil foto thorax PA emfisema dan non emfisema dan hasil spirometri obstruksi dan non obstruksi. Nomor 2. Volume 1. Jenis kelamin laki-laki (80%) lebih banyak daripada perempuan (20%). Tahun 2009 . seseorang akan semakin tahu tentang kesehatan.

bronkhus sampai alveolus perokok pasif. Jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA namun menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 12 orang (false negative) dan jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 54 orang (true negative). polusi udara.Hautamaki. Uji diagnostik Tabel 2 . nilai prediksi positif yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false positive. emfisema hampir selalu disebabkan oleh asap rokok (Senior. hanya 13 % saja tanpa kebiasaan merokok.dikalikan 100%. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok juga dapat mencapai setiap bagian trakhea. Kebiasaan merokok pada penelitian penulis ini belum bisa dimasukkan dalam faktor resiko. Sensitivitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false negative . terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat (Samet. faktor eksogen misalnya rokok. perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pertanyaan berapa batang rokok yang dikonsumsi setiap harinya dan sudah berapa lama merokok. Menurut Sharma (2006). di alveoli dapat timbul proses inflamasi. nilai Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 13 . Diantara semua faktor resiko tersebut. Kelompok emfisema pada pemeriksaan spirometri diketahui 117 (93%) dengan obstruksi dan 9 (7%) non obstruksi. Kelompok emfisema tanpa kebiasaan merokok sejumlah 13 % karena perokok pasif mempunyai kemungkinan risiko yang sama dengan perokok aktif. Hal ini sesuai dengan teori tentang faktor penyebab terjadinya emfisema. perlu dikembangkan pada penelitian lebih lanjut.1997) Kelompok non emfisema namun dengan kebiasaan merokok terdapat 95% dan tanpa merokok 5%.6 % . Aktivasi makrofag akan mengganggu keseimbangan protease anti protease. dapat menjadi penyebab utama. adalah sebesar 90. sehingga timbul proses inflamasi. Kelompok non emfisema pada pemeriksaan spirometri terdapat 12 (18%) dengan obstruksi dan 54 (82%) non obstruksi. Pendapat yang populer di Inggris (British hypothesis) menyatakan.0 % . dikalikan 100 % adalah sebesar 92.2. Kelompok emfisema sendiri diketahui mempunyai angka kebiasaan merokok cukup tinggi yaitu 87 %. seperti debu dan polusi udara (Barnes. Jumlah subyek penelitian dengan hasil true positive yaitu pasien dengan emfisema pada foto thorax PA yang menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 116 orang. berdasarkan pemeriksaan foto thorax PA diketahui emfisema adalah 126 orang (66%) sedangkan non emfisema 66 orang (34%). emfisema terjadi pada seseorang dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang perhari dan kebiasaan merokok tersebut sudah terjadi selama 20 tahun. Apabila bahan toksik mencapai alveolus. dikalikan 100% adalah sebesar 84. 1998). spesifisitas yaitu hasil true negative dibagi jumlah false positive dan true negative . Jumlah pasien dengan emfisema pada foto thorax PA namun tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 10 orang (false positive). Pembahasan Subyek penelitian sejumlah 192. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok dapat mencapai setiap bagian trakhea dan bronkhus sampai alveolus. 1991).3 % . Disamping itu juga akan melepaskan Neutrophyl Chemotactic Factor (NCF) yang memobilisasi netrofil sehingga sekreasi elastase meningkat. 2003. Tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Obstruksi (+) 116 12 128 Hasil Spirometri Obstruksi (-) 10 54 64 Total 126 66 192 Foto Thorax PA emfisema (+) emfisema (-) Total Tabel 2x2 menunjukkan hasil pemeriksaan foto thorax PA dibandingkan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. rokok merupakan faktor paling dominan dibandingkan dengan yang lain. lingkungan kerja berdebu. Aktifasi makrofag juga dapat disebabkan bahan polutan lain. 1997). Bahkan dinyatakan. dan dapat melepaskan oksidan yang akan menginaktifasi AAT sehingga terjadi proses perusakan elastin paru sebagai dasar kelainan emfisema (Fain.

Definisi emfisema pulmonum menyebutkan kelainan paru secara anatomis. rasio kecenderungan positif yaitu sensitifitas dibagi hasil false positive per jumlah false positive dan true negative adalah sebesar 5. angka tersebut lebih tinggi daripada hipotesis yang menyebutk an 80 %.8 . Foto thorax PA pada pelaksanaan pemeriksaan juga lebih memberikan kenyamanan pada pasien.4%. hal itu disebabkan karena sejumlah 116 pasien dengan gambaran foto thorax PA menunjukkan emfisema. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri tidak didapatkan tanda-tanda obstruksi. Biomedika. foto thorax PA mendeteksi kelainan emfisema tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru . Foto thorax PA juga merupakan pemeriksaan yang lebih mudah dan lebih sederhana dengan biaya yang sama dengan pemeriksaan spirometri. Volume 1.6 % dan spesifisitas 84.8 % . Saran Perlu dipertimbangkan untuk mengalihkan pemeriksaan spirometri ke pemeriksaan foto thorax PA pada pasien emfisema pulmonum dengan sesak nafas yang tidak dapat melakukan manouver spirometri berkali-kali. ini dikarenakan sejumlah 54 pasien dengan gambaran foto thorax PA non emfisema setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (hasil true negative tinggi).6 % dan spesifisitas 83. Nilai diagnostik foto thorax PA oleh karena itu lebih tinggi dibanding dengan spirometri. namun tidak semua rumah sakit di Indonesia memiliki alat tersebut. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri didapatkan tanda-tanda obstruksi. asma). dikarenakan pasien hanya melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan inspirasi tersebut saat foto diekspose tanpa harus melakukan manouver spirometri berkali-kali yang sulit dilakukan oleh pasien dengan sesak nafas. Pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih mudah. setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga menunjukkan tanda-tanda obstruksi sesuai dengan kelainan emfisema (hasil true positive tinggi).3 % .penyakit di luar emfisema yang juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi jalan nafas (bronkhitis khronis.1. gambaran hiperinflasi yang seolah-olah menyebabkan penurunan dan pendataran diafragma maupun tear drop appearance jantung disertai gambaran hiperlusensi juga dapat terlihat pada pasien normal dengan inspirasi dalam maupun atlet dewasa muda tanpa penyakit paru . Pada penelitian uji diagnostik ini. Menurut Enright (1987). Tidak semua masyarakat bisa menjangkau pemeriksaan tersebut. akan menurunkan aliran udara di dalam saluran tersebut. Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas lebih tinggi daripada hipotesis. Tahun 2009 . Biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal. sedangkan spirometri mendeteksi kelainan tersebut sebagai suatu kelainan dari fungsi faal paru. Menurut Sharma (2006). lebih nyaman dan terjangkau bagi pasien dibandingkan spirometri. rasio kecenderungan negatif yaitu hasil false negative per jumlah true positive dan false negative dibagi spesifisitas adalah sebesar 0. dikalikan 100 % adalah sebesar 81. hal itu dikarenakan terdapat penyakit . didapatkan sensitivitas 90. Sejumlah 12 pasien (false negative) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran non emfisema.prediksi negatif yaitu hasil true negative dibagi jumlah false negative dan true negative . Hal itu dimungkinkan karena menurut Enright (1987). sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan lain yang lebih terjangkau untuk masyarakat kurang mampu tetapi memilik i nilai diagnostik tinggi. Penyempitan saluran dari dalam atau kompresi dari luar. sensitivitas foto thorax adalah 80 %. Aliran yang melalui saluran dapat menurun pada berbagai sebab.3 %. Nomor 2. mempunyai sensitivitas 90. Sejumlah 10 pasien (false positive) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran emfisema. Standar baku emas emfisema pulmonum secara anatomi saat ini adalah High Resolution Computed Tomography. jalan nafas dapat diibaratkan seperti saluran karet. foto thorax PA untuk mengetahui kelainan struktur paru pada 14 emfisema pulmonum memberikan manfaat yang lebih dibanding dengan uji yang sudah ada yaitu spirometri sebagai gold standard untuk mengetahui fungsi faal paru. Pada penelitian ini didapatkan nilai spesifisitas 84. Simpulan dan Saran Simpulan Pemeriksaan foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum.

1997. 1995.org/cgi/content/abstract Simon G. Care. Woolston C. Washington University School of Medicine... O'Connor . London : 1-28.physiology. 1998. Am. cetakan ke-2.. MCR Vision. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Senior R. Enright P. WB Saunders Company. Ismael S. O'Donnell. FK.J. 227 : 2002-4..Pathol. 1997. J. Requirement for Macrophage Elastase for Cigarette smoke Induced emfisema in Mice. Pulmonology Obstructive Airways Diseases. Martin Dunitz Ltd. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)... Hal :328-332 Sutton D. Cherniack NS.. 157 : 139-47. Jakarta : 267-268. Smoking Mice Lead to emfisema Breakthrough. Anthonisen N. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 1997. 2003. Majalah Penyakit Dalam. 2000. Philadelphia Finlay G. FitzGerald.. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Hayes J. Crit.149: 1405-1415. 1997. Global Strategy for The Diagnosis. 1991. The Relationship of Smoking to COPD . Texbook Radiology and Imaging : 168-172 Widjaja A. Office Spirometry.. 2006. Senior R. Diagnostik Roentgen... Samet J. Sharma S. Obstructive Airways Diseases.. UNAIR Surabaya : 3-19. hhtp://ajplung. Shapiro S. Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 15 .. Philadelphia : 249-54. 1993.Daftar Pustaka Barnes P. Lea & Febiger. Sastroasmoro S... Am. 1996.. Godfrey S. Kobayashi K. Med. Elastin and Collagen Remodeling in emfisema A Scanning Electron Microscopy Study. Inc : 3 Hautamaki R. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.. Jakarta: Erlangga. Respir. Management and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease.. 1981. Penelitian Epidemiologi : Pengaruh lingkungan pada PPOM..

Tahun 2009 . Volume 1.16 Biomedika. Nomor 2.

5% sampai dengan 61% (Schmid et al. Sardjito Yogyakarta bulan Oktober sampai Desember 2007. dementia Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup akan menambah jumlah lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degenerasi atau neoplasma. This study is descriptive study from patients medical record that were diagnosed by stroke with dementia in Dr Sardjito General Hospital. psikiatri.1. 1999. high trygliceride on 34/82.based tentang LDL kolesterol dan risiko demensia dengan stroke. fisik.1). Sardjito General Hospital Jogjakarta. sedangkan HDL yang rendah dan kolesterol total yang tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif terutama fungsi bahasa (Reitz et al. Dyslipidemia is one of the risk factors that take part in vascular dementia's process.. Sudah lama diketahui bahwa defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke.2004). menyimpulkan bahwa peningkatan LDL kolesterol berhubungan dengan risiko demensia dengan stroke pada Penderita tua (RR:3.76mg/dl. education = junior high school (15/37%). stroke.Dislipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.. HCTS examination reveal that most of lesion are ischemic lesion/infarct iskemik/imfark (23/56.com Abstract There is rising in prevelence of dementia as changing of disease pattern from infection disease to degerenative disease. Keywords: dyslipidemia. demensia terjadi ratarata seperempat sampai sepertiga dari kasus stroke (Taternichi et al. Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR. pemeriksaan fisik dan Computed Tomografi (CT). dalam penelitian prospective longitudinal community.5-6. Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat medis. Hasil lain didapatkan pada penelitian cohort.73mg/dl. and average mean of lipid profile were : total cholesterole 327/130/208. age = 55-64 (19/47%). marital status = married (40/98%) and occupation = retired (12/29%) . trigliserid 244/120/183. 1992). bahwa LDL dan trigliserid plasma tidak berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif. Hypercholesterolemia found on 27/65. Most patient with stroke with dementia had abnormal lipid profile. Material dan Desain Penelitian Merupakan kajian deskriptif dari catatan medis pasien yang terdiagnosa stroke dengan demensia yang dirawat di Unit Stroke RS DR. Gangguan kognitif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan MMSE ( kurang 24). and mostly found in frontoparietal lobe (9/22.5% subjects. Most of them are male (28/68%).94% pada wanita dengan semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam perhitungan (PERDOSSI. HDL78/22/46. Pujarini E mail: listyoasistpujarini@yahoo. Sardjito Jogjakarta Cholesterol (LDL-C) dengan demensia vaskular (Reitz et al. Insidensi demensia pasca stroke bervariasi antara 23. yaitu menyimpulkan hubungan yang lemah antara level High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan Low Density Lipoprotein Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. low HDL on 15/36. There were 41 subject.97mg/dl.1% subjects. The aim of this study is to get lipid profile of stroke patients with dementia in Dr.2004). Dyslipidemia history was positive in 21/ 52.0%).1%).2004). 95% CI: 1. lowest. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas. Penelitian terakhir memperlihatkan. Highest.27mg/dl respectively. Pujarini 17 . LDL 242/66/121. Peningkatan jumlah lansia akan menambah populasi Penderita demensia (Kaye. Penelitian di Lundby Swedia memperlihatkan angka risiko terkena demensia vaskular sepanjang hidup 34.9% subjects. Sardjito Yogyakarta.9% subjects. kami ingin mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR Sardjito Yogyakarta.5% pada pria dan 19. high LDL on 23/ 56. Beberapa penelitian yang lain memberikan hasil yang kontroversial. Demensia berdasarkan kriteria DSM-IV Listyo A..1998). 1993) Abnormalitas lipid berperan dalam proses aterosklerosis kranioserebral. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Moroney et al.6% subjects..

Tahun 2009 . Nomor 2. Karakteristik subyek menurut pekerjaan 18 Biomedika.Hasil Penelitian Dari penelitian kajian deskriptif ini didapatkan sebanyak 41 Penderita stroke dengan demensia. Volume 1. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini : Gambar 1. Karakteristik subyek menurut status perkawinan Gambar 5. Karakteristik subyek menurut tingkat pendidikan Gambar 4. Karakteristik subyek menurut jenis kelamin Gambar 2. Gambar 3. Karakteristik subyek menurut umur Dari gambar 1 dan 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar subyek dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 (68%) dan berumur antara 55-64 tahun sebanyak 19 (47%).

5 56.3 70. 4. Riwayat dislipidemia terdapat pada 21 (52.6 63.6 56.5 80. dapat dilihat bahwa sebagian besar profil lipid memang abnormal. 40 (98%) Subyek sudah menikah dan 12 (29%) Subyek dengan pekerjaan sudah pensiunan.1 65.5%). dapat kita ketahui sebanyak 15 (37%) Subyek dengan tingkat pendidikan SLTP.3 29. Karakteristik faktor resiko vaskular Faktor resiko Riwayat dislipidemia Riwayat hipertensi Riwayat DM Status merokok ya tidak ya tidak ya tidak Perokok Mantan perokok Bukan perokok ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak Jumlah 21 19 23 18 8 33 6 7 28 12 25 27 14 15 26 23 18 34 7 Persen(%) 52. Tabel 3.9%) Subyek.4 56.1%%).9 19.Sedangkan dari gambar 3. Kolesterol total tinggi sebanyak 27 (65.5 14.1 29.1%) Subyek. Pujarini 19 . Tabel 2.9%) Subyek.1 43. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A.9 82.1 43.3 Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56. 5.9 34.1 36.5 47. dan trigliserid tinggi sebanyak 34 (82.9 17. LDL tinggi sebanyak 23 (56. Hasil HCTS sesuai patologi lesi Patologi lesi Atrofi Iskemik / Infark Perdarahan Jumlah 6 23 12 Persen(%) 14.6 17.1 Gula darah tinggi Kolesterol total tinggi HDL rendah LDL tinggi Trigliserid tinggi Dari tabel tersebut diatas.1 67.

9 12.3 4. Hasil HCTS sesuai lokasi lesi Lokasi lesi Frontotemporalis Paraventrikuler Frontoparietal Parietotemporalis Parietooccipitalis Temporooccipitalis Capsula interna Ganglia basalis Occipitalis Parietalis Lain-lain Jumlah 3 3 9 4 3 2 5 4 1 2 5 Persen(%) 7. LDL 23 Subyek.3 22. lokasi lesi di regio frontoparietal.0%) Subyek. trigliserid 34 Subyek.0 9. 20 Biomedika. ternyata nilai maksimal kolesterol total. ternyata sebanyak 9 (22. Volume 1. Tabel 4.8 7.3 7.1%%). Nomor 2.4 4. Profil lipid pada subjek sesuai nilai minimal-maksimal Dari gambar 6. Tahun 2009 .Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56. Gambar 6.2 9. Profil lipid subyek sesuai frekuensi yang abnormal Gambar 7 menyatakan sebagian besar Subyek mempunyai nilai profil lipid yang tinggi yaitu: kolesterol total 27 Subyek. LDL dan trigleserid diatas 200 mg/dl dan nilai rata-rata termasuk borderline high-high.2 Dari hasil HCTS.8 2.9 12. Gambar 7.

hipotesis infeksi dan toksik. 2) Satu atau lebih gangguan kognitif (afasia. (b) Gangguan kognitif pada a1 & a2 menyebabkan gangguan fungsi sosial & okupasional yang jelas dan penurunan tingkat kemampuan sebelumnya yang jelas. fungsi kognitif berfluktuasi seperti anak tangga. 2) Munculnya tanda fokal neurologik. 2004). Kesadaran tidak berkabut. berbahasa. fungsi eksekutif dan kontrol motorik. (4) F 03 Demensia yang tidak tergolongkan. menopause tanpa terapi penggantian estrogen. Pujarini 21 . 2004). Mekanisme terjadinya demensia belum jelas s e p e n u h ny a . Menurut PPDGJIII / ICD X: (1) F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer. Sardjito Jogjakarta Untuk menentukan demensia vaskular.. biasanya bersifat kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang multipel) termasuk daya ingat. gangguan funfsi eksekutif.1 Demensiamulti-infark. praksia. Di Asia prevalensi demensia vaskular lebih tinggi daripada demensia Alzheimer.2000). 3) Hubungan di antara kedua penyakit ini bermanifestasi atau berpengaruh dengan munculnya satu atau lebih keadaan berikut: onset demensia dalam tiga bulan mengikuti stroke.2 Demensia vaskular subkortikal. B e b e r a p a h i p o t e s i s y a n g dikemukakan para ahli adalah : hipotesis genetik. perilaku sosial atau motivasi. (5) F01. yaitu berkisar 2540%.Pembahasan Sesuai PPDGJ III. bahasa. hipotesis neurotransmiter (Diaz. 1996). M ini Mental State Examination (MMSE) merupakan tes yang mudah dan berguna di dalam klinik untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif. (3) F 02 Demensia pada penyakit lain yang tidak diketahui. daya orientasi. 2) Faktor aterogenik ( hipertensi. Kriteria diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV: (a) Adanya gangguan kognitif multipleks yang dicirikan oleh 2 keadaan berikut: 1) Gangguan memori. penyakit jantung. Listyo A. dan daya kemampuan menilai. perhatian. merokok. 1991). kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria NINDS-AIRENS (National Institut of Neurological Disorder and Stroke and Association Internationale pour la Recherche e t l'Enseigment en Neuroscience) (1991). Pada Penderita lanjut usia pasca stroke.(ICD-X) demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak.4 Demensia vaskular lainnya.0 Demensia vaskular onset akut. 3) Faktor non aterogenik. Insiden dan prevalensi demensia vaskular dilaporkan berbeda-beda di berbagai negara. diantaranya volume kehilangan jaringan otak.3 Demensia vaskular campuran kortikal dan subkortikal. biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi. daya pikir. dengan penurunan fungsi kognisi mulai dari yang ringan sampai yang paling berat dan meliputi semua domain. agnosia. hipotesis vaskular dan metabolik. (2) F01. (c) Tanda & gejala neurologis fokal atau pemeriksaan radiologis menunjukkan infark multipel di daerah kortek & subkortek. sebagai berikut : 1) Adanya demensia yang ditetapkan dengan penurunan daya ingat yang disertai dengan dua atau lebih gangguan kognitif: orientasi. (4) F01. Dalam 4 tahun terakhir beberapa ilmuwan membagi faktor risiko demensia vaskular dalam 4 kategori : 1) Faktor demografi. anoksia atau hipoksia otak. tidak harus dengan gangguan memori yang menonjol (PERDOSSI. apraksia. Demensia vaskular merupak an suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindrom demensia akibat iskemik. (2) F 01 Demensia vascular. daya pemahaman. diabetes. Nilai maksimal 30. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. penurunan mendadak fungsi kognitif. (3) F01. PPDGJ III membagi demensia vaskular sebagai berikut : (1) F01. dislipidemia. 4) Faktor yang berhubungan dengan stroke.. untuk penderita berpendidikan tinggi nilai di bawah 27 mengindikasikan gangguan kognitif. visuospasial. jumlah dan lokasi infark (Herbert et al. sedangkan pada Penderita berpendidikan rendah nilai di bawah 24 baru mengindikasikan gangguan kognitif (Bouchard et al. prevalensi demensia vaskular sekitar 25% (Konsensus Pengenalan Dini & Penatalaksanaan Demensia Vaskular.

1975.pp: 188-193. 7th ed. W.. Clinical Diagnosis and Managemen of Alzheimer's Disease. 1991. NINDS-AIRENS International Workshop. Herbert R et al. 32(9): 632-7. Bell K. Arch Neurol. 1999. A.G.(ed). Oldest-Old Healthy Brain Functio. Arch Neurol. 1986.C. Typical Clinical Features.. 43 (2): 250-60. T. E. American Heart Association. 2001 (mg/dl) LDL-C < 100 100-29 130-159 = 190 Kolesterol Total < 200 200-239 = 240 HDL C < 40 = 60 Trigliserid < 150 150-199 200-499 = 500 Optimal Hampir atau di atas normal Borderline high Very High Normal Borderline High High Low High Optimal Borderline high High Very High Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini merupakan kajian deskristif. X. Cerebral blood flow in Dementia. Klasifikasi LDL-C.. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apak ah didapatk an adanya hubungan antara profil lipid yang abnormal dari semuanya komponennya (kolesterol total.C. Stern Y. Kolesterol total dan Trigliserid menurut NCEP ATP III (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel).. Merck. Kaye. London: Martin-Diaz. 2000. JAMA.Ltd 35-50. The Essential Brain. New York. kadar LDL tinggi. & Zihlka. Incidence and Risk Factors in the Canadian Study of Health an Aging. Moroney. V....W. Ilif. 1998. http://www. Karena penelitian ini hanya merupakan penelitian deskriptif dengan melihat catatan medis dan terbatas dalam rentang waktu tertentu. Daftar Pustaka Bouchad. LDL & Trigleserid) dengan kejadian demensia pada Penderita stroke. antara lain kelengkapan dalam penulisan rekam medis. Vascular Dementia: Diagnostic Criteria for Research Studies.. Nomor 2.. HDL-C. J. R. Neurology. Guyton. dan kadar HDL rendah juga dijumpai pada hampir setengah Subyek) . Small S. Tang M.com. 22 Biomedika. In: Gauthier S. maka didapatkan keterbatasan-keterbatasan. Merchant C. Hachinski. L. kadar trigliserid tinggi.. M.J. 3: 1487-93.M. 1996. & Maeyeux R. Volume 1.B. Madrid Dunitz .. HDL. Low Density Lipoprptein Cholesterol and the Risk of Dementia With Sroke. Text Book of Medical Physiology. Sounders co Japan. A...D. google. 34: 1217-21.. Tahun 2009 .N.. 1991.Tabel 1. dan ternyata sebagian besar Subyek dalam penelitian mempunyai nilai profil lipid yang abnormal ( kadar kolesterol total tinggi. & Rossor.

F.. L.. W. C. R.. J. Kinkel. Relation of Plasma Lipid & Alzheimer Disease and Vascular Dementia.. M. P. Luchsinger.. 1993. & Mayen. Toeng.. Konsensus Pengenalan Dini dan Penatalaksanaan Demensia Vaskular. & Freidl. Schmid. 2004.. Pujarini 23 . X. Sardjito Jogjakarta Listyo A. 61: 705-14. 2004. 241(1)5-11 Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.X. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Mellitus di Indonesia Reitz. R. PERKENNI. Eur Arch-Psychiatry-Clin-Neurosci. Fazekas. 1995. Cognitif Impairment After Acut Supratentorial Stroke: a 6-month follow up Clinical and Computed Tomography Study.. Mechler. Arch Neurol.PERDOSSI..

Nomor 2.24 Biomedika. Tahun 2009 . Volume 1.

62 in etheric extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (EESRKB I group) equivalent to 1.69 mg/kgBW).002 N using phenolftalein as indicator. Obat yang mengurangi sekresi asam lambung sebagai terapi ulkus peptik dapat dikelompokkan ke dalam golongan antasida (Al(OH)3 dan Mg(OH)2).92 mg/kgBW. Fifty four rats (3-4 month) of 150-250 g were used in this study. penyekat reseptor Histamin H2 (simetidin. and 12683. Ulkus peptik yang masih sering ditemui di masyarakat terjadi karena ketidakseimbangan faktor agresif berupa meningkatan volume asam lambung. and to compare the effect of both extract on rat gastric acid secretion in vitro. after which the treatment (histamine 10-6 M) was added to the unbuffered solution in each group.36 in AESRKB III group (equivalent to 34.67 ± 2838. obat-obat antiulkus di atas mempunyai efek samping yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumor karsinoid. Oleh karena itu. The gastric lumen was perfused continuously with unbuffered mucosal solution 1 ml min-1 and bubbled with 100% O2. The perfusate was allowed to flow continuously. and the AUC0-80 of EESRKB III were not significantly different (p>0. the AUC0-80 of EESRKB II were significantly higher (p<0. etheric extract.33 ± 760.22 in ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (AESRKB I group) equivalent to 8. 1991). 1998). The H+ consentration was measured by titration with NaOH 0. Sekresi asam lambung dikontrol oleh 3 agonis utama yaitu histamin. The rats were fasted and drinking water was given ad libitum for 24 hours before testing. known as basal H+ consentration . This study was conducted using isolated Wistar rat stomach. 1964). The isolated preparation was stabilized for 1 hour and perfusate spilled out. The H+ consentration elevation was expressed as mean ± SEM.45 in AESRKB II group (equivalent to 17.64 in EESRKB II group (equivalent to 3. They were divided into 9 groups (6 rats each). The stomach was taken and suspended in an organ bath containing 37°C buffered serosal solution and bubbled with carbogen. Is the active compound hydrophylic or hydrophobic has not been known yet. -5883.The aim of his study is to determine the effect of the seed of ripe kluthuk banana (musa balbisiana colla) etheric and ethanolic extract.70 in control group (saline). pankreatitis akut. Pretreatment was added to the unbuffered mucosal solution for 30 minutes. ethanolic extract Pendahuluan Tukak lambung atau ulkus peptik merupakan keadaan kontinuitas mukosa lambung terputus (Laurence. 8516.05) lower than those of control solution (except EESRKB II).com Abstract Kluthuk banana (musa balbisiana colla). asetilkolin.Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari E mail: do_must@yahoo. sekresi bikarbonat.8 mg/kgBW).05) than those of AESRKB I. The statistical analysis showed that the AUC0-80 of EESRKB and AESRKB were significantly (p<0.65 in DMSO group. according to the methods modified from Barocelli. nefritis interstisial. pepsin dan infeksi Helicobacter pylori dengan faktor defensif berupa integritas mukosa lambung. anesthetized with ether inhalation. 5650 ± 3191.33 ± 80. dan prostaglandin (Price. 1994).7 mg/kgBW. It was concluded that the etheric and ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana (Musa balbisiana Colla) showed an inhibitory effect on rat gastric acid secretion induced by histamine. the AUC0-80 of EESRKB I were not significantly different (p>0. masyarakat Domas Fitria Widyasari 25 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro . selain harganya yang tidak murah (Dollery. dan penghambat pompa proton (Atman. a seeded banana.94 in EESRKB III group (equivalent to 7.33 ± 968. 4500 ± 2819. pelapis dan pelindung permukaan mukosa (sukralfat). gastric acid secretion.05) than those of AESRKB II.The result showed that the total area under curve (AUC0-80) of H+ consentration was 14550 ± 692. Keywords : musa balbisiana molla.28 in cimetidin group.67 ± 3659. has been studied for its ability to reduce gastric acid secretion.05) than those of AESRKB III. -1116. The rats were weighted.67 ± 3444. 141. -1333. histamine. and collected for 10 minutes duration. dan gastrin. agranulositopenia dan trombosito-penia.84 mg/kgBW).4 mg/kgBW). and then sacrified. and the ethanolic extract showed an inhibitory effect more than those of etheric extract. the AUC0-80 was calculated and analyzed by ANOVA. dan famotidin). Perfusate from gastric lumen were collected every 10 minutes untill 80 minutes and H+ consentration were measured by mean of titration. ranitidin. Namun. mukus.

kemudian diberi perlakuan dengan histamin 736. (1997) yang dimodifikasi sejak tikus dianestesi. Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. pisang (Musa) telah dikenal masyarakat sebagai buah yang enak dimakan dan sebagai obat tradisional (Depkes RI. Uji ini menggunakan metode menurut Barocelli et al. Pengelompokan ini berdasarkan jenis praperlakuan yang diberikan. Tikus ditimbang. Secara tradisional. kelompok VII dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang 34. Lumen lambung selalu diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml/menit dan diberi gelembung O 2 100%. cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi H+ nya dengan titrasi. Penelitian Sanyal et al.84 mg/kgBB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK II). Penelitian Tjandrasari (1991) menunjukkan bahwa ekstrak air dan alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dapat menyembuhkan ulkus lambung tikus yang ditimbulkan oleh aspirin. Tahun 2009 . 1982). kelompok V dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8.4 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK II). dan berat 150-250 g sebanyak 54 ekor. 26 Biomedika.69 mg/kg BB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK III). kelompok III dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. kelompok IV dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Penelitian yang dilakukan Sholikhah (2000) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001) menyatakan bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk muda mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro.7 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK I). Lalu masukkan bahan uji ke dalam larutan unbuffered mucosal untuk perfusi selama 30 menit. mengobati luka. dan untuk pengobatan radang amandel (Sudarsono. pada penelitian ini diganti dengan tetesan. Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur dengan menggunakan NaOH 0.8 mg/kg dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK III). 3 ekor betina). Semua tikus dipilih acak dan dibagi 9 kelompok.002 N dengan indikator fenolftalein. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih atau rat (Rattus norvegicus) galur Wistar jenis kelamin betina dan jantan yang sama jumlahnya dengan umur 3-4 bulan. (1963) dan Elliot & Heward (1976) menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan produksi asam lambung dan menyembuhkan ulkus lambung. kemudian lambung tikus diangkat dan dipasang pada organ bath yang berisi larutan buffered serosal pada suhu 37Í dan C dialiri gas karbogen (O2 95% dan CO2 5%). Pisang dapat digunakan sebagai obat sakit perut (sariawan perut dan maag). kelompok II dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Kelompok I (kelompok kontrol negatif garam fisiologis) diberi praperlakuan dengan larutan unbuffered mucosal. Nomor 2.mulai mencari alternatif pengobatan ulkus peptik dari obat-obat tradisional yang lebih murah dengan efek samping yang minimal. Volume 1. dianestesi. terhadap sekresi asam lambung tikus putih in vitro.92 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EEBPK I). Kemudian semua kelompok diberikan perlakuan dengan histamin 736. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk. 2002).4 µg/kgBB dalam unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi H+ asam lambung. diare. Kelompok IX (kelompok DMSO) diberi praperlakuan dengan dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. Tikus tersebut kemudian dipuasakan 24 jam sebelum percobaan dengan tetap diberi air minum secukupnya. Peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dinyatakan dalam mean ± SEM. Modifikasi berupa penggantian system pengaliran larutan garam fisiologis (unbuffered mucosal) ke dalam lumen lambung tikus yang semula menggunakan pompa peristaltik. Selama diberi perlakuan.2 % v/v dalam unbuffered mucosal. kelompok VI dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. serta membandingkan keduanya. Penelitian dengan menggunakan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk belum pernah dilakukan.4 µg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi H+ basal. Total luas area di bawah kurva menit ke-0 sampai menit ke-80(AUC 0-80 ) dihitung dan dianalisis menggunakan analisis varian. masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (3 ekor jantan. kelompok VIII (kelompok kontrol positif ) diberi praperlakuan dengan simetidin dalam unbuffered mucosal.

65 166.00 ±69.30 -23.77 -20.55 EEBPK III EABK I EABPK II EABPK III Simeti din DMSO Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 27 .33 23.89 3 110.00 ±117.02 73.55 -20.27 40.33 ±49.00 ±9.95 51.22 66.67 ±9.00 ±11.25 3.33 ±15.33 ±50.10 46.33 +45.00 ±35.33 ±14.33 ±37.33 ±47.77 76.00 ±6.23 -16.00 96.55 93.67 ±9.30 2 86.26 -20.08 -133.00 293.33 ±72.00 ±0.33 ±4.42 -10.97 -23.00 ±32.61 88.89 -13.33 ±54.85 -123.36 -3.00 ±0. Rerata peningkatan konsentrasi H+ (µEq) pada perfusat cairan lambung tikus putih (mean + SEM) sesudah perlakuan dengan histamin 736.56 -13.67 ±14.33 ±44.55 -123.51 -20.77 113.67 ±42.29 -133.00 ±29.83 -16.00 ±0.09 8 316.85 5 250.33 ±50.30 23.33 ±19.33 ±55.67 ±21.33 ±48.67 ±15.00 ±53.89 -3.67 ±33.00 ±0.4 µg/kgBB tiap 10 menit pada seluruh kelompok praperlakuan Kelompok Garam Fisiologs EEBPK I EEBPK II 1 50.00 ±42.16 10.57 270.48 6.00 276.36 226.67 ±6.00 ±0.83 0.00 ±7.00 ±41.71 60.53 53.00 ±6.33 ±72.33 ±44.44 -110.00 ±6.33 ±69.23 60.00 ±4.40 -20.58 26.67 ±99.28 7 313.33 ±52.22 -20.47 40.Hasil Penelitian Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.67 ±54.33 ±20.67 ±50. Tabel 1.25 -20.16 103.83 -16.25 100.62 93.15 10 menit ke4 186.15 73.00 ±42.67 ±9.67 ±21.67 ±38.67 ±82.33 ±19.00 ±88.20 6 300.33 ±49.33 ±41.76 -13.37 -13.75 -23.67 ±12.19 0.86 73.00 263.62 20.00 ±54.33 ±43.33 ±49.33 ±15.00 213.33 ±42.00 156.28 170.00 ±10.67 ±44.00 ±0.33 ±48.29 53.33 ±45.98 35.33 ±137.

84 mg/kgBB.92 mg/kgBB (EEBPK I). Simetidin= simetidin 27 mg/kgBB. Tabel 1 menyajikan rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung tikus putih (mean + SEM) tiap 10 menit sesudah perlakuan dengan histamin 736.7 mg/kgBB (EABPK I). Hasil ini dapat menunjukkan bahwa histamin dapat meningkatkan sekresi H+ asam lambung.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan kenaikan yang bermakna (p>0. Pada 10 menit ke-6 menunjukkan kenaikan yang konstan (p>0.69 mg/kgBB (EEBPK III).69 mg/kgBB. EEBPK III= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Volume 1.05) sampai pada 10 menit ke-8. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya yaitu Barocelli (1997) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001). EEBPK II= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. 17.4 mg/kgBB. 28 Biomedika.Gambar 1.4 µg/kgBB pada semua kelompok praperlakuan. Tampak rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih pada kelompok kontrol negatif garam fisiologis meningkat (p<0. DMSO= dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0.8mg/kgBB. 7. Rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin 736.05) dari 10 menit pertama berturut-turut sampai 10 menit ke-8. 3. EABPK I= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. EEBPK I= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Sedangk an grafik rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dari menit ke-10 sampai pada menit ke-80 pada semua kelompok praperlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Gambar 1. Peningkatan konsentrasi H+ per 10 menit pada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Nomor 2.05) mulai dari 10 menit pertama setelah perlakuan dengan histamin. EABPK III= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 34.4 µg/kgBB Keterangan: Kontrol= larutan garam fisiologis unbuffered mucosal.7 mg/kgBB. 34.2% v/v dalam larutan unbuffered mucosal.84 mg/kgBB (EEBPK II).4 mg/kgBB (EABPK II). EABPK II= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17.92 mg/kgBB. Tahun 2009 . dan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.

maka semakin besar konsentrasi H+ di dalam cairan perfusat preparat lambung tikus putih tersebut.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.62 EEBPK II 11900 -1400 21600 -1400 7300 13100 8516. dan 34. 3.92 mg/kgBB. Gambar 2.67 2838. serta ekstrak etanol Domas Fitria Widyasari 29 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro .05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.70 EEBPK I 2100 700 1350 -12100 -600 9400 141.67 3659. 6. Mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.Tabel 2. 2. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.28 DMSO 13400 16600 12200 13300 10700 9900 12683.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih rendah (p<0. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 1.7 mg/kgBB (EABPK I).45 EABPK III 14600 -1600 -6700 -700 -2500 -9800 -1116.8 mg/kgBB (EABPK III) lebih rendah (p<0. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1. dan 7.67 3444.36 SIMETIDI N -1100 -1100 -1300 -1500 -1500 -1500 -1333.22 EABPK II -5600 -6900 -6900 -7800 -5600 -2500 -5883.4 µg/kgBB in vitro pada seluruh kelompok praperlakuan Gambar 2 menyajikan mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736. 4.92 mg/kgBB (EEBPK I) dan 7. Semakin tinggi nilai AUC0-80. 5. Mean SEM KON TROL 15700 15500 13200 15700 15500 11700 14550 692.4 µg/kgBB invitro pada seluruh kelompok praperlakuan.69 mg/kgBB. Nilai AUC menggambarkan jumlah konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih dari 10 menit pertama sampai 10 menit ke-8 (AUC0-80).69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak berbeda bermakna (p>0.64 EEBPK III 200 500 3000 15300 15900 -1000 5650 3191.33 968.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.33 760. dan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 7.94 EABPK I 13700 12900 1400 1200 -1200 -1000 4500 2819.4 mg/kgBB (EABPK II). Luas area di bawah kurva (AUC0-80) pada perfusat cairan lambung tiap tikus putih pada seluruh kelompok sesudah perlakuan dengan histamin 736.65 Tabel 2 menunjukkan luas area di bawah kurva / Area Under Curve (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ perfusat cairan lambung tiap tikus pada seluruh kelompok yang ditimbulkan oleh histamin in vitro.4 µg/kgBB in vitro Kelompok Tikus 1. 17.33 80.

4 mg/kgBB (EABPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Hal ini sesuai dengan Altman (1998) yang menyatakan bahwa simetidin mengurangi sekresi asam lambung karena simetidin merupakan antagonis reseptor histamin yang bekerja berkompetisi secara reversibel dengan histamin pada reseptor H2. Volume 1.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih tinggi (p<0. Tahun 2009 . ekstrak etanol dosis 17.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.8 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. sedangkan bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.8 mg/kgBB (EABPK III).69 mg/kgBB (EEBPK III).05) dibandingkan dengan kelompok simetidin. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang Biomedika.4 mg/kgBB.84 mg/kgBB (EEBPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0.7 mg/kgBB (EABPK I) lebih tinggi (p<0. Nomor 2.84 mg/kgBB dapat menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih.7 mg/kgBB (EABPK I).84 mg/kgBB (EEBPK II). ekstrak etanol dosis 8. dan 34.69 mg/kgBB (EEBPK III) menunjukkan hasil yang tidak berbeda (p>0. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. 17. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 30 dosis 17.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sama kuatnya dengan simetidin 27 mg/kgBB. ekstrak etanol dosis 8. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.05) daripada kelompok simetidin.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan 7.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. Hal ini mendukung hasil penelitian Sholikhah dan Ngatidjan (2001) yang menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh aspirin. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 8.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 17.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan ekstrak eter dosis 7.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.7 mg/kgBB.92 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang lebih kuat daripada ekstrak eter dosis 3.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. dan mempunyai kemampuan yang sama dengan ekstrak eter dosis 7.69 mg/kgBB (EEBPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ lebih lemah daripada simetidin 27 mg/kgBB.8 mg/kgBB (EABPK III).05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34. Sedangkan ekstrak etanol dosis 17.4 mg/kgBB (EABPK II) dan 34.84 mg/kgBB. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesalahan teknis di dalam penelitian Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Ekstrak eter dosis 3. Hasil ini menunjukkan bahwa simetidin mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. Ekstrak eter dosis 3.7 mg/kgBB (EABPK I) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro yang lebih lemah daripada ekstrak etanol dosis 17. Nilai AUC0-80 kelompok simetidin lebih rendah (p<0. dan ekstrak etanol dosis 34.4 mg/kgBB (EABPK II) dan tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. sedangkan ekstrak eter dosis 3.69 mg/kgBB mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.dosis 8. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.4 mg/kgBB (EABPK II) .92 mg/kgBB (EEBPK I). dan ekstrak etanol dosis 34.84 mg/kgBB dan 7.4 mg/kgBB (EABPK II). Nilai AUC0-80 pada kelompok EEBPK I menunjukkan nilai yang ekstrim bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan lain. ekstrak etanol dosis 17.92 mg/kgBB (EEBPK I).05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.69 mg/kgBB.4 mg/kgBB (EABPK II). Pembahasan Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.7 mg/kgBB (EABPK I).92 mg/kgBB (EEBPK I) lebih rendah (p<0. sedangkan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.05). tetapi tidak signifikan.

7 mg/kgBB (EABPK I). The influence of banana supplemented died on gastric ulcers in mice. Banana and restrain ulcer in albino rats (letters to the editor).84 mg/kgBB (EEBPK II) lebih tinggi (p<0. B. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 1 pisang. Nilai AUC00-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 7.4 µg/kgBB in vitro. East Notwalk: The Appleton & Lange: 1017-29 Barocelli E. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 17. dalam Katzung.8 mg/kgBB (EABPK III). Banerji CR. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang lebih lemah daripada ekstrak etanol. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin 736. sedangkan ekstraksi dengan eter menyarikan zat aktif yang larut dalam lemak. 1964. 7th ed. Perbandingan efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk dihitung berdasarkan nilai AUC0-80 pada kedua jenis ekstrak dengan dosis yang bersesuaian. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 3.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 34.menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin in vitro seperti halnya simetidin. 1998. J. Barlocco D. New York: Churchill Livingstone Elliot RC and Heward GJF. Pharm. menyembuhkan ulkus serupa yang sudah ada. London: Academic Press Price SA. 1963. Chowdhury NK. dan dapat mengurangi volume sekresi asam lambung seperti halnya simetidin. Dal Piaz V dan Impicciatore M. Das PK. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Tjandrasari (1991) dan Sholikhah (2000) yang menunjukkan bahwa pisang kluthuk mempunyai efek mencegah dan menyembuhkan ulkus lambung tikus yang disebabkan aspirin. Chiavarini M. 2. Pharmacol. Pemanfaatan Tanaman Obat.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk menunjukkan efek yang lebih besar daripada ekstrak eter. Res. Pharmacol 15: 283-4 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 31 . Jakarta: EGC Sanyal AK. 1991. Daftar Pustaka Altman D. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 2 pisang. 1976. Saran Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak-ekstrak lain biji pisang kluthuk terhadap s e k re s i a s a m l a m b u n g ( H + ) d a n p e r l u penambahan jumlah sampel (hewan coba) penelitian. Pharm. Edisi 4. Drugs used in gastrointestinal disease. J. Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. Therapeutic Drugs. Gupta KK. Pharmacol 15: 775-6 Sanyal AK.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. 1994.92 mg/kgBB (EEBPK I) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. 1982. Edisi II. dengan mengingat bahwa ekstraksi dengan etanol menyarikan zat aktif yang larut dalam air dan lemak. Ballabeni V. Volume 1. Simpulan dan Saran Simpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Banana and experimental peptic ulcer. Buah pisang kluthuk muda dapat mencegah timbulnya ulkus lambung tikus akibat pemberian salisilat. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan ½ pisang. 35(5): 487-92 Depkes RI. Kemungkinan besar zat aktif yang berefek penghambatan sekresi asam lambung bersifat hidrofilik. (Editor): Basic and Clinical Pharmacology.G.4 mg/kgBB (EABPK II). 1963. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan efek penghambatan sekresi asam lambung yang lebih kuat daripada ekstrak eter. Jakarta: Depkes RI Dollery SC. Vianello P. 1997.. Study of antisecretory and antiulcer mechanism of new indenopiridazinone in rats. Pharmacological Research Communication 8(2): 167-71 Laurence DR and Bocharah AL.

Tumbuhan Obat II (hasil penelitian. Volume 1. 1961.dan Purnomo. Wahyuono S. 2001. Efek ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin in vitro.Sanyal RK. Banana and gastic secretion (letters to the editor). 2000. Pharm. Tesis Program Pasca Sarjana. Efek ekstrak alkohol daging buah dan biji pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada Tjandrasari S. 1991. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 32 Biomedika. Ngatidjan. Pramono S. Tahun 2009 . Donatus IA. Gunawan D. Pengaruh ekstrak pisang kluthuk (Musa brachycarpa Beck) terhadap ulkus lambung tikus karena salisilat. Berkala Ilmu Kedokteran 33(2): 77-82 Sholikhah EN. Nomor 2. Pharmacol 13: 318-9 Sholikhah EN dan Ngatidjan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudarsono. Mediagama 2(3): 14-9 Sholikhah EN. Sinha S. 2002. Cara kerja ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dalam mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Skripsi Fakultas Farmasi. 2000. Das PK. J. sifatsifat dan penggunaan). Sinha YK.

2002) Proliferasi limfosit T yang dirangsang oleh antigen.028).7 Folikel limfoid lien kaya dengan sel B yang berperan dalam respon imun humoral. E mail: kedokteran@ums. There were significant differences in lymphoblasts count between K and P1 (p=0.ac. consisted of 25 male mice which devided into 5 groups. 2005).009). P1 and P4 (p=0. yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Penelitian terbaru menunjukkan proliferasi limfosit T juga dapat terjadi tanpa melalui IL-2. P3 was group given mahkota dewa extract 0. Akhir-akhir ini semakin banyak masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif karena harganya yang relatif murah dan manfaatnya memuaskan (Hartati. dan sebagian lainnya akan bersirkulasi ke darah perifer. P2 and P4 (p=0. K and P4 (p=0. Lymphoblasts were counted in every 200 cells. Lymphocytes from the spleen of all mice were isolated after 2 weeks treating.009). K and P2 (p=0. Penelitian membuktikan bahwa secara laboratoris senyawa flavonoid dapat meningkatkan produksi IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit (Lisdawati. Saifulhaq M. dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya (Sepgana. sedangkan pada kulit buahnya terkandung zat flavanoid. tannin. Aktivasi dan proliferasi sel T di lien terjadi di selubung limfoid periarterioler lalu terjadi migrasi ke zona marginalis. Buah mahkota dewa mengandung zat kimia antara lain alkaloid. mahkota dewa Pendahuluan Mahkota dewa atau Phaleria papuana merupakan tanaman obat tradisional yang banyak dipergunakan masyarakat untuk berbagai penyakit dan penambah stamina pada orang sehat. K was control group without treatment with mahkota dewa extract. P1 and P3 (p=0. whereas P1 was group treated with mahkota dewa extract 0.2 ml/day (± 35 ìg extract). dan senyawa resin.8 ml/day (± 140 ìg extract). 2000) Lien merupakan salah satu organ limfoid sekunder yang di dalamnya terdapat limfosit T maupun limfosit B. saponin. terpenoid. Sebagian kecil sel T yang teraktivasi masuk ke dalam folikel limfoid. The objective of this study was to show the influence of Mahkota dewa's fruits extract in spleen lymphocytes proliferation of BALB/C mice.028). 2003) Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the post test only control group design. Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas pengaruh buah mahkota dewa dalam memodulasi sistem imun sehingga dapat menjadi tambahan informasi dalam pertimbangan konsumsi tanaman obat. terutama di daerah pulpa putih. 33 .917). Keywords: lymphocyte proliferation.009). dengan randomisasi sederhana. terutama diatur oleh pengaruh IL-2 terhadap reseptor IL-2 yang dimiliki pada permukaan selnya. and P4 was group given mahkota dewa extract 1. Selain itu. dengan membandingkan hasil observasi pada Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M.012). P3 and P4 (p=0. misalnya melalui IL-4 (Middleton. An experimental study with the post-test only control group design was carried out on experiment animal BALB/C mice. And there were no significant differences in lymphoblasts count between K and P3 (p=0. P1 and P2 (p=0.675).id Abstract Mahkota dewa (Phaleria papuana) fruits consists of chemicals that are able to increase lymphocytes proliferation. Penilaian dilakukan hanya pada saat post test. P2 was group given mahkota dewa extract 0.4 ml/day (± 70 ìg extract). Mahkota dewa yang digunakan biasanya dicampur dengan berbagai bahan lain dalam satu ramuan dimana untuk setiap penyakit tidak sama. Saifulhaq M. Menggunakan 5 kelompok.009). P2 and P3 (p=0. IL-2 juga merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B dan NK (Natural Killer).5 ml/day (± 280 ìg extract).917).Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. On the giving of mahkota dewa's fruits extract there were significant increase of lymphocyte proliferations on BALB/C mice on P1 and P2 groups. But there were not on P3 and P4 ones.

Perlakuan 3 (P3): P2 26. umur 8 minggu.5 27 22 20.5 26 14 10. Lima kelompok mencit tersebut adalah : Kontrol (K) : diberi aquades namun tidak diberi ekstrak mahkota dewa.33 diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 ml/sonde/hari Mencit dibunuh untuk dilakukan pengambilan/isolasi splenosit (lien). Sehingga jumlah total sampel sebanyak 25 ekor.5 14 16.5 41 33 37. dilakuk an pemeriksaan limfosit dengan menghitung jumlah limfoblas dalam 200 sel dari tiap preparat.5 15. yaitu uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney U.5 36. Setelah itu. Tiap kelompok mencit mendapatkan pakan standar dan minum yang sama secara ad libitum.05. Sampel penelitian diambil secara acak (random) dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi sebagai berikut: mencit strain BALB/C jantan. Nilai signifikasi pada penelitian ini adalah apabila variabel yang dianalisis memiliki nilai p < 0. Nomor 2. Volume 1. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 5 ekor per kelompok.5 + 4.5 10 13.11 24.34 P4 20 12.22 P3 20.5 16.5 31.5 12.1 Persentase jumlah limfoblas semua kelompok mencit No 1 2 3 4 5 Rerata + SD K 23. Tahun 2009 . Hasil Penelitian Hasil persentase jumlah limfoblas dalam 200 sel (limfosit dan limfoblas) semua kelompok ditampilkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Analisa statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. serta antar kelompok perlakuan.8 + 3. 1 Grafik rerata jumlah limfoblas 34 Biomedika. dan sehat. Perlakuan 1 (P1): diberi ekstrak mahkota dewa 0. setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu.kelompok perlakuan dan kontrol. lalu dibuat persentasenya.23 P1 39.8 ml/sonde/hari Perlakuan 4 (P4): diberi ekstrak mahkota dewa 1. masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor.5 Gambar.5 19 16 16.4 ml/sonde/hari Tabel.8 + 4.2 ml/sonde/hari Perlakuan 2 (P2): diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 28 15.4 + 4.6 + 6. Mencit BALB/C sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok.

Demikian juga antara kelompok yang mendapat ekstrak mahkota dewa 1.009* P2 P3 P1 P2 P3 P4 * Bermakna 0. P3. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pemberian ekstrak buah mahkota dewa didapatkan peningkatan proliferasi limfosit lien yang bermakna pada mencit BALB/C kelompok P1 dan P2.917 0.675) tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Sedangkan kelompok K tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.917).002 (p<0.10 Adanya efek sitotoksik dan imunosupresan memungkinkan terjadinya hambatan terhadap proliferasi limfosit pada batas dosis tertentu. 2 Nilai p dari uji statistik Mann Whitney U jumlah limfoblas K 0.675).028). disebutkan bahwa senyawa flavonoid meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit. 35 . Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saran Perlu dilakuk an penelitian yang menghubungkan tingkat toksisitas buah mahkota dewa dengan dosis ekstrak yang diberikan.2 ml/hari dan 0.8 ml/hari dan 1.009* 0.009).917) maupun dengan kelompok P4 (p=0.917 Selanjutnya pada uji Mann Whitney U (Tabel 2) dapat dilihat bahwa jumlah limfoblas pada kelompok K dibanding dengan kelompok P3 (p=0. Saifulhaq M.675 P1 0.028).5 Hal inilah yang mungkin menyebabkan peningkatan jumlah limfoblas secara bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. khususnya terhadap berbagai organ vital serta penelitian lebih lanjut untuk penggunaannya pada manusia sehat.028).Dari Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase jumlah limfoblas pada kelompok P1 lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Tabel. Sedangkan kelompok P2 lebih besar dibandingkan dengan kelompok K. Selain itu.009* 0. menyebutkan bahwa senyawa flavonoid selain mempunyai efek imunostimulan juga memiliki efek imunosupresan. Menurut penelitian Jiao et al.8 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0.012* 0. Begitu juga antara kelompok P3 dengan kelompok P4 (p=0. Namun. Demikian juga antara kelompok yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.028* 0. perbedaan bermakna juga didapat antara kelompok P2 dengan P3 (p=0.9 Middleton et al. Dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok P3 dan P4.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna.009* 0. Hartati dkk (2002) membuktikan bahwa dalam mahkota dewa terdapat senyawa Phalerin yang mempunyai efek sitotoksik.009). Pembahasan Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok mencit yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.012) dan P4 (0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0. yaitu antara kelompok K dengan P1 (p=0. Sedangkan pada kelompok lainnya didapatkan perbedaan yang bermakna. antara kelompok yang diberikan ekstrak mahkota dewa 0. maupun P4. P3. Uji Kruskal Wallis didapatkan hasil p=0.2 ml/hari selama 2 minggu dibanding dengan kelompok kontrol yang tidak diberi ekstrak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0.028* 0. juga antara kelompok P1 dengan kelompok P2. dan P4 ( masing-masing p=0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.917).009) dan P2 (p=0.

2003. WB Saunders. Baratawidjaja K. 2000.) toksisitas.mahkotadewa. Pober JS. Efek sitotoksik ekstrak buah dan daun mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Sceff) Boerl. Lichtman AH. Hamann MT. heart disease. Jakarta Winarto W. Diakses 20 Juni 2003 Weir DM. 3rd ed. Cetakan 1. Binarupa Aksara. Mahkota dewa budi daya dan pemanfaatan untuk obat. 2005. Available at: URL:http://www.asp?file=art-3.) merr.] leaves. Universitas Indonesia. Kandaswami C. Nomor 2. M Sonlimar. Wahyuono S. Iwang S. Boerl.15 Jiao Y. Available at: URL:http://www. Sumastuti R. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff ) Boerl. Alih Bahasa: Suryawidjaja. 2000.nlm. 1990. Tahun 2009 .nih. Influence of flavanoid of Astragalus membranaceus's stam and leaves on the function of cell mediated immunity in mice. Philadelphia. 1997.] terhadap sel hela. JE. Imunologi dasar.52 (4): 673-751 Sepgana S.com/VPC/vivi. From : http://www. Theoharides TC. Penebar Swadaya. and cancer. The effects of plant flavonoids on mammalian cells:implications for inflammation. P. Yux.com/medika/online/i ndex-isi. efek antioksidan dan efek antikanker berdasarkan uji penapisan farmakologi. Antigen presentation and cell antigen recognition. In: Cellular and molecular immunology. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1988. 116-35. Rao KV. Mubarika S. Wen J. 2003 Lisdawati V. Segi praktis imunologi. a new benzophenoic glucoside isolated from the methanol ectract of mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff ).gov/pubmed. Skrining fitokimia dan asam fenolat daun dewa/Gynura procumbens (Lour.P. Majalah farmasi Indonesia. Jakarta Hartati MS. Ed 4. Simposium penelitian Tumbuhan obat III. Jakarta 36 Biomedika. Jakarta. Pharmacological Reviews.Accessed Juny 20.ncbi. Volume 1. Ganthina.Daftar Pustaka Abbas A.tempointeraktif. Gandjar IG. Diakses 20 Oktober 2002 Middleton E. Phalerin.htm.

and have power fastening fat is higher than other fibers. dan kulit udang menjadi limbah. Nurina Risanty 37 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) . biodegradable. Universitas Muhammadiyah Surakarta. maka diharapkan dapat turut membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang. 2004).id Abstract Chitosan is a natural compound (aminopolysaccharide) earned through a process deacetylation base on chitin derived from processed shrimp white skin. The sample consists of a negative control group. 2. Material dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakuk an adalah eksperimental murni (Murti. pembuatan k itosan banyak diusahakan masyarakat dengan menggunakan cangkang Crustaceae sp yang merupakan sumber utama zat kitin (Schiller dkk. triglyceride. Shoim Dasuki. Keywords: chitosan. Nurina Risanty E mail: m_shoim@ums. penulis ingin meneliti apakah kitosan olahan kulit udang putih mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. whereas the negative control treatment with all groups is different (ñ<0. positive control group (Simvastatin). Fakultas Kedokteran. chitosan dose of 3500 mg. menimbulkan bau.Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) M. Shoim Dasuki. Dengan demikian. dan mengurangi estetika lingkungan (Manjang. chitosan is able to decrease the triglyceride plasma level of white mouse (Rattus norvegicus) in second week. Laboratorium Biomedik III. The effective dose is the 3500 mg.ac. so capable of preventing absorption body fat. 2002). and 5500 mg group. strain Wistar. Pada obesitas terjadi akumulasi energi tubuh yang berlebihan dalam bentuk trigliserida (Gibney. 4500 mg. 2006). 1997). 2001). ekor.05). The results showed that positive control group with all the variations dose chitosan is not different (ñ>0. are non-toxic. Banyaknya sampel 25 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. Hal ini berarti bahwa kepala. 2006). Kitosan olahan kulit udang putih adalah senyawa alami (aminopolisakarida) yang diperoleh melalui proses deasetilasi basa pada kitin. 2004). dan kulitnya. Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. 1993). kitosan potensial untuk dijadikan sebagai obat penurun lemak (Rismana. This study aims to determine the effect chitosan to the triglyceride plasma level of white mouse. Subjek Penelitian 1. The conclusion. Dengan penggunaan kitosan yang merupakan hasil olahan dari udang tersebut. Budidaya udang di Indonesia telah berkembang pesat. dan biodegradabel (Shepherd dkk. ekor. Dan bagaimana efektivitas variasi dosis kitosan terhadap penurunan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. This study is laboratory experimental. plasma of white mouse (Rattus norvegicus) Pendahuluan Salah satu penyebab obesitas yang saat ini dianggap sebagai penyakit kronis dunia modern adalah hasil dari pilihan gaya hidup yang banyak mengonsumsi lemak berlebihan dan sedikit olahraga. bersifat non toksik. Saat ini.05). 2001). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih: M. Dalam penelitian ini. Limbah udang tesebut dapat menjadi masalah pencemaran lingkungan. berumur kira-kira 2 bulan dengan berat badan antara 100 200 gram. Sifat kitosan yang lain adalah mempunyai daya pengikatan lemak yang lebih tinggi dibandingkan serat lain sehingga mampu menghambat absorpsi lemak tubuh (Silvani. Seperti serat tanaman. Cara yang efektif untuk mengurangi kandungan kalori dari suatu diet menurunkan asupan lemak (Wardlaw dan Smith. kitosan tidak dapat dicerna sehingga tidak memiliki nilai kalori. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang telah dibuang kepala. (Nammi dkk.

Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik III. u n t u k m e l i h a t d a n membandingkan penurunan kadar trigliserid antara dua kelompok perlakuan.05. Dapat dikendalikan : makanan. Rata-rata berat badan tikus dapat dilihat pada Tabel 1. tidak diberi kitosan : kelompok kontrol positif.068 berarti tidak ada perbedaan bermakna (p>0. Dari perhitungan tersebut. Selanjutnya perlakuan terhadap tikus diberikan pada kelompok 1 hingga 5 mulai dari minggu pertama perlakuan hingga minggu ke empat. Pada minggu ke 4 trigliserid turun. kelompok 3 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 3500 mg. Dari uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji M a n n W h i t n e y U. Semua tikus putih ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan penelitian untuk menentukan dosis lemak kambing dan kitosan yang diberikan. Nomor 2. Variabel terikat : Kadar trigliserida plasma tikus putih. diberi obat antilipidemia Simvastatin : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 3500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 4500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 5500 mg/hari : Identifikasi Variabel Penelitian 1. kecuali pada kelompok 1 (kontrol -). 38 Biomedika. Berdasarkan data di atas kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis antara kelompok 1 hingga kelompok 5. mulai minggu ke1 hingga minggu ke-2. kelompok 4 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 4500 mg. 3. Kadar trigliserida pada kelompok 1 hingga 5 saat minggu ke 1 hingga minggu ke-4 terus meningkat. kelompok 2 merupakan kelompok kontrol positif. Data yang didapat dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dengan derajat kemaknaan p = 0. Tahun 2009 . b Tidak dapat dikendalikan :gangguan fungsi empedu dan lipase. Hasil penimbangan berat badan tikus dianalisa secara statistik dan didapatkan rata-rata berat badan tikus. Setiap kelompok ditempatkan pada kandang yang berbeda dan mempunyai faktor lingkungan (suhu dan kelembapan) yang sama agar faktorfaktor luar yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat ditekan seminimal mungkin. Volume 1. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol negatif. Fakultas Kedokteran UMS pada bulan Maret Mei 2009. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 25 ekor dari strain yang sama yaitu wistar. Tingkat probalitas dari dua kelompok tikus dapat dilihat pada tabel 2. didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel 2. berumur kira-kira 3 bulan. Masing-masing kelompok berisi lima ekor tikus. kelompok 5 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 5500 mg. Variabel bebas : Kitosan 2.Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok kontrol negatif. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok. Untuk mengetahui perubahan kadar trigliserid dilakukan perhitungan selisih dari waktu ke waktu. genetik. Variabel luar : a. kemudian kadar trigliserida plasma diukur dan didapatkan hasil yang dapat dilihat pada gambar 1.05) terhadap berat badan tikus antara kelompok 1 hingga kelompok 5. Dari uji tersebut didapatkan hasil p=0.

05 0.05 0.05 0.05 0.833 0. Perubahan trigliserida dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 Tabel 2.108 0.231 0. Rata-rata berat badan tikus putih sebelum perlakuan KELOMPOK I NO (KITOSAN 3500 MG) 1 120 2 168 3 158 4 156 5 168 RATA2 154 KELOMPOK II (KITOSAN 4500 MG) 135 153 156 165 143 150. Kelompok Kelompok + KontrolKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg KelompokKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 5500 mg N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Median 0.05 0.05 0.05 0.05 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 39 .05 0.201 0.4 KELOMPOK IV KONTROL (-) 146 119 123 148 145 136.009 0.2 KELOMPOK V KONTROL (+) 142 152 150 156 145 149 Gambar 1.156 p 0.140 0.Tabel 1.05 0. Hasil uji Mann Whitney U.009 0.009 0.009 0.4 KELOMPOK III (KITOSAN 5500 MG) 130 147 123 129 133 132.

Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. J. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis lemak yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan efek kitosan terhadap jenis lemak yang berbeda. Macdiarmid. dosis kitosan 4500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. A. 2006. Tahun 2009 . Kitosan. dosis kitosan 5500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. 2002. G. 2003. dosis kitosan 3500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. Antara kelompok dengan berbagai dosis kitosan yang diberikan dan perlakuan dengan simvastatin sama-sama terdapat penurunan yang signifikan. H. kontrol negatif dengan kontrol positif terdapat perbedaan. 1997. Nomor 2. P. Bogor: IPB. Daftar Pustaka Bray. 1998. 1996.C.H.J. R. Dosis kitosan yang disarankan untuk aplikasi klinis adalah dosis terkecil. Prosiding Kitin and Kitosan. 2002. Kok.D. Jakarta: EGC. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 4500 tidak terdapat perbedaan. 2. Mayes. Metodologi Penelitian. Horton.. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia.C. Volume 1.. Manjang. F. Oxford: Blackwell Science. Principles of Human Nutrition. M.B. 3. Oxford: Blackwell Science. Oxford: Blackwell Science. Jakarta: EGC.E. Jepang: Sukito. Saran 1. 2000. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini kitosan d e n g a n b e r b a g a i d o s i s m e m i k l i k i e fe k menghambat absorbsi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus). Jakarta: EGC. D. M. Vorster. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. Marieb.H. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek kitosan terhadap kadar trigliserid plasma pada hewan coba yang lain. Jakarta: EGC. 2000. E. 3. Principles of Biochemistry. Buku Ajar Fisiologi Gybney. D. Murti.. Dari hasil uji tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium murni sehingga setelah tikus putih diberi perlakuan. J. 2003. Biokimia Harper. 2. Jakarta: UI-Press. yakni dosis 3500 mg 40 yang sudah mampu menurunkan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Kitosan dengan dosis 3500 mg. Koolman. Jakarta: Hipokrates. Dan Marks. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. K. dosis kitosan 4500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. Human Anatomy and Physiology.05) antara masingmasing kelompok. 4th ed. Hirano. L. 1998. Ganong.. Hal ini dilakukan agar faktor gizi tidak mempengaruhi hasil penelitian.Pembahasan Dari hasil statistik menggunakan uji Kruskal Wallis terhadap berat badan tikus sebelum perlakuan didapatkan hasil p= 0. Berdasararkan data penelitian. Biomedika. S.. K. Dian Rakyat. Jogjakarta: UGM press. William F..A. Simpulan dan Saran Simpulan 1. California: Benjamin Science Publishing. perbadaan kadar trigliserid plasma pada kelompok 1 sebagai kontrol negatif dengan semua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan. 2000. dilakukan pemeriksaan terhadap kadar trigliserida plasma plasma pada minggu ke-1 hingga ke-4. The Epidemic of Obesity. Introduction to Human Nutrition. Kitosan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus) mulai minggu kedua setelah perlakuan. Eastwood. Moran. Kedokteran. Rohm. Guyton.068. A. L. Jogjakarta: PT. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar lebih mewakili populasi. dilakukan perhitungan selisih kadar trigliserida masing-masing kelompok dari minggu ke minggu dengan melakukan uji Mann Whitney U. 5500 mg dapat menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). 2004. 4500 mg. dosis kitosan 5500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. 2002. Linder. Hall. Limbah Udang.A. Oxford: Blackwell Science Hardjito. 1993. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Marks. Perubahan kadar kadar trigliserid dosis kitosan 3500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. dosis kitosan 4500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. berarti tidak ada perbedaan bermakna (p> 0. Dari data yang didapat.J.

Harrison Principles of Internal Medicine. Ilmu Gizi I.D. A. 1997. 2001. M. The Potention of Shrimp Shell. 2006. Potofisiologi Kedokteran.. Chitin and Chitinase.Muzarelli. 1999. Surakarta.. Potensi Kitosan sebagai Produk Olahan Limbah Industri Udang di Bidang Kesehatan. Silvani. A. R. Sediaoetama. John E.. Potensi Kitosan Di Berbagai Bidang. U. 1998. 1995. Surakarta: Media Press. Smith. Schiller. 2000. Hidup Sehat di Era Millenium. Rismana. Kristianto. Surakarta. Karya Tulis Mahasiswa UMS.. Wardlaw. Petter A. J. P. Nammi. Dietary Suplement for Body-Weight Reduction..A. Oxford: Blackwell Science. 2004.M. R.D. Jakarta: EGC. Boston: McGraw Hill. S.H.M. Contemporary Nutrition.. Boston: McGraw Hill. Oxford: Blackwell Science. 2006. Olefsky. Reader.A. M. Imam Prayitno. dan Ambar Sulistyawan. Jakarta: Dian Rakyat. 2001. Chitosan Funtional Properties. 2000. Oxford: Pergamon press. Karya Tulis Mahasiswa UMS. Pittler. Hamid. Boston: Science Press. U. G. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 41 . Sodeman. Sheperd.

Volume 1.42 Biomedika. Nomor 2. Tahun 2009 .

2004). belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme serta adanya potensi toksisitas oleh toksik endogen yang terkandung didalamnya (Katno. obat-obatan tradisional telah banyak digunakan dan menjadi budaya di Indonesia dalam bentuk ramuan jamu. sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. alphatocopherol dan bufadienolide acid which are presumably able to impede a bacterial growth so that the ethanol extract of cocor bebek leaves are indicated having an antimicrobe effect. The research is laboratory experimental with the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) as the research subject. while the researcher also places the oxoid disk containing the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) with 20%. Keywords: ethanol extract. Bacterias which are used are Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 11229. Rahadiyan W.05.5 Mc. Obat-obatan tradisional tersebut tidak hanya digunakan dalam fase pengobatan saja. an amoxicillin antibiotic disk on Staphylococcus aureus and a chloramphenicol on Escherichia coli as a positive control. then smearing using a sterile cotton-rid on Muller Hinton media. ekonomis. Namun selain keuntungan yang dimilikinya. staphylococcus aureus.00. 80% and 100% concentrations on the top of the plates. 60%. bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan seperti: efek farmakologisnya yang lemah.B. 43 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro .4. Staphylococcus aureus bacteria has a significant difference (p<0. 40%.Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalancho e pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas. The researcher uses an empty oxoid disk as a negative control. flavonoid. antibacteria. Rahadiyan W. the researcher analyzes the data using Mann-Whitney Non Parametry Test.Farland. Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. HK. Tanaman ini terkenal dik arenak an cara Ratih P. Sejak ribuan tahun yang lalu. The first step is standardizing each of 24 hours-aged Staphylococcus aureus dan Escherichia coli on BAP and Mc. this research proves the existence of the antibacteria effect of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus growth in the concentrations of 80% and 100% and the nonexistence of the antibacteria effect on the Escherichia coli growth. After that. In conclusion. Menurut penelitian obat-obatan tersebut banyak digunakan karena keberadaannya yang mudah didapat.05) from the positive and negative controls. bahan baku belum terstandar. Then the researcher measures the impeding zone which is formed after the incubation on 370°C for 1x24 hours. The result is that on the degrees of 80% and 100%. Conkey medias in the standard of 0. E mail: pramuningtyas_dr@yahoo. escherichia coli Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat. dan menurut penelitian memiliki efek samping relatif rendah serta adanya kandungan yang berbeda yang memiliki efek saling mendukung secara sinergis. obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis.2411 tanggal 17 Mei 2004).com Abstract Cocor Bebek leaves (Kalanchoe pinnata) contains cinamic acid. promotif dan rehabilitasi. This research purposes to find out the existence and nonexistence of the impeding power of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacterias growth. melainkan juga digunakan dalam fase preventif. cocor bebek leaves (kalanchoe pinnata).. Salah satu dari keanekaragaman hayati yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional adalah cocor bebek (Kalanchoe pinnata) Tanaman ini termasuk tanaman sukulen (mengandung air) yang berasal dari Madagaskar.B. The research method is Kirby Bauer by using an oxoid disk.

Nomor 2. dioleskan pada agar Muller Hilton dan diratakan. 5.Conkey (Escherichia coli) dan media agar darah (Staphylococcus aureus). glikosida. autoklaf . alkohol 70%. maka untuk membuktikan hal tersebut. alat timbang. Sedangkan pada daunnya terkandung senyawa kimia yang disebut bufadienolides. Alat uji aktivitas bakteri : Ose kolong. Escherichia coli ATCC 11229 . aquades steril. Biakan bakteri : Staphylococcus aureus ATCC 6538. BAP. Standar 0. Untuk kontrol negatif digunakan cakram kosong yang telah direndam dalam larutan akuades. pinnata maka dilakukan determiansi tanaman di laboratorium Biologi FKIP UMS dengan menggunakan bahan acuan “Flora of Java” (Backer . 2. Instrumen Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut : a. aquades. c.reproduksinya melalui tunas daun (tunas adventif ). NaCl fisiologis. plat diameter 15 cm. Selanjutnya rendam cakram kosong pada masing-masing konsentrasi ekstrak etanol Kalanchoe pinnata selama 15 menit. disk antibiotik amoksisilin 20 µg. Bahan penyari : Etanol 70%. 40% dan 20% di laboratorium Farmakologi FK UMS.Farland (108CFU/ml). Alat ekstraksi : Blender. Persiapan suspensi bakteri Ambil 1 ose bakteri dari biakan dan tanam pada media Mc. Bakteri diambil dengan kapas lidi steril. d. seperangkat alat maserasi. dikocok sampai homogen untuk kemudian bandingkan dengan suspensi 0. dan insektisida (Lana. 3. Ambil 1 ose bakteri dari koloni kuman untuk masing-masing spesies kuman untuk kemudian masing-masing ditanam pada 0. Bufadienolides pada Kalanchoe pinnata memiliki potensi untuk digunakan sebagai antibakteri. Eramkan selama 24 jam pada suhu 37°C hingga didapatkan koloni kuman. 2005). antitumor. Bahan Bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut : a. Kalanchoe kaya akan kandungan alkaloid. Siapkan 2 ml NaCl fisiologis steril dalam tabung reaksi. Bahan utama berupa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata). 60%. inkubator. Volume 1. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini merupak an penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test design only karena peneliti memberi pelakuan terhadap subjek dan mengevaluasi hasil akhirnya. perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman tersebut. tabung reaksi. pencegah kanker. BHI. tabung reaksi . Farland. Kemudian ambil beberapa ose bakteri Staphylococcus aureus dari biakan dan masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl fisiologis. b. Pada uji aktivitas bakteri ini digunakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri kokus gram positif (+) dan Escherichia coli yang merupakan bakteri batang gram negatif (-) (Jawetz et al. Persiapan kontrol positif dan kontrol negatif Untuk kontrol positif terhadap kuman gram positif Staphylococcus aureus digunakan cakram amoksisilin 20 µg sedangkan kontrol positif terhadap kuman gram negatif Escherichia coli digunakan cakram kloramfenikol 30 µg. Nutrient Agar Plate.5 ml media BHI cair dan dieramkan selama 5-8 jam pada suhu 37°C. penangas air b. Cara Kerja 1. 4. disk antibiotik kloramfenikol 30 µg. Determinasi tanaman Untuk memastikan bahan yang akan dijadikan bahan ekstrak adalah tanaman Kalanchoe 44 2. Sehubungan dengan adanya indikasi ekstrak daun Kalanchoe pinnata mempunyai daya anti bakteri. 80%.1968).5 Mc. Lakukan hal serupa pada biakan Escherichia coli. 2001). Persiapan alat uji aktivitas antibakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Tahun 2009 . Pelaksanaan uji antibakteri Siapkan 2 plat media Muller Hilton yang kemudian pada plate pertama diolesi secara Biomedika. 6. steroid dan lipid. Persiapan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata Dilakukan proses pembuatan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata melalui metode maserasi sehingga didapatkan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata dengan konsentransi 100%. Instrumentasi 1. flavonoid. disk oksoid kosong.5 Mc. Bahan uji aktivitas antibakteri : Media Muller Hinton. triterpenes.

Tjitrosoepomo.5 9 9.5 Mc.B. 10b. 3b. 6b.6 33.3 4 5. 2003. 16b. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dalam satuan milimeter (mm).3 5. Farland. 40%. 14b. 12b.1 pinnata) terhadap Amoksisilin 8 7. 80%.1 80% 5. 60%.1 3 10. Hasil Penelitian Penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperoleh hasil sebagai berikut.5 Mc. Selanjutnya inkubasi plate pada suhu 37°C selama 18-24 jam.06 39.merata dengan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dibandingkan dengan standar 0. Kemudian pada masing-masing plate diletakkan disk yang telah mengandung ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata 100%.2 36.14 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Hasil Determinasi Telah dilakukan determinasi tanaman yang dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS dengan menggunakan sampel tanaman yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan ekstrak.7 10. 45 . 2b.5 4 4 4. Tabel 1: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe Staphylococcus aureus (mm) Replikasi Staphylococcus aureus 1 2 3 4 5 Órata-rata 0% 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4.8 4. 7. 11b. 287b => Familia : Crassulaceae.5 5. kontrol positif dan kontrol negatif. 1 ==> Genus : Kalanchoe 1 ==> Spesies : Kalanchoe pinnata L (Van Steenis. Untuk plate yang kedua diolesi secara merata dengan bakteri Escherichia coli yang telah dibandingkan dengan standart 0. 7b.5 4 4.5 6 100% 5.5 34. Hasil tes terhadap biakan Staphylococcus aureus Hasil determinasi tersebut memiliki kunci determinasi : 1b. 20%.5 4 4. Atur jarak antar cakram sedemikian rupa agar tidak terlalu berdekatan..Farland.2 5. Hasil Penelitian A.6 5. 4b. Replikasi Uji antibakteri ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dilakukan sebanyak 5 kali ulangan sesuai dengan perhitungan dengan menggunakan rumus estimasi besar sampel. Rahadiyan W. 1988) B. 286a.8 37. 13b.

05. 51 mm dan 90. Didapatkan pada konsentrasi 80% nilai p (Asymp.009 Kontrol (-) 40% Kontrol (-) 60% Kontrol (-) 80% Kontrol (-) 100% Kontrol (+) 100% Dari grafik dan data diatas maka dapat diketahui bahwa pada biakan I terdapat daya hambat yang dimulai dari konsentrasi ekstrak sebesar 40% dan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kadar konsentrasi ekstrak.6 mm. Data tersebut kemudian dianalisis pada á = 0. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol negatif (-) digunakan untuk menilai daya hambat antibakteri secara statistik. karena salah satu syarat untuk dapat 46 dilakukannya uji Anova adalah varian harus bersifat homogen. Kedua nilai p tersebut < 0. Sig) = 0.005.05 maka dapat disimpulkan bahwa varian yang ada adalah tidak homogen.05 maka dapat disimpulkan Biomedika. Rerata diameter daya hambat tersebut secara berurutan dari konsentrasi ekstrak 40% hingga 100% adalah sebesar 41 mm.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar varian data. Sig) = 0. dan diperoleh hasil sebagai berikut : • Tes homogenitas varians Hasil analisis menunjukkan Levene Test hitung = 9.018 dan pada konsentrasi 100% nilai p = 0. 45. • Uji Anova Dikarenakan varian data yang ada tidak homogen maka uji Anova tidak dapat dilakukan.000. • Uji Non Parametri Kruskall-Wallis Untuk menilai data secara statistik maka kemudian data diolah dengan uji Non Parametri Krusk all-Wallis. Nomor 2.Grafik 1 : daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Staphylococcus aureus (mm) Tabel 2: Tes Mann-Whitney No. Pada uji ini didapatkan p (Asymp. 1 2 3 4 5 Pembagian kelompok N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 P (Asymp.000 Oleh karena p < 0.120 ternyata memiliki p (sig) = 0.6 mm. Tahun 2009 . Oleh karena p < 0.054 0.005 0. Volume 1.317 0. Sig) 0. • Uji Non Parametri Mann-Whitney Untuk mencari data mana yang berbeda secara bermakna maka dilakukan uji Non Parametri Mann-Whitney.018 0.

Namun demikian apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol (+) potensi daya hambat ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masih jauh kurang efektif. Sig) = 0. Rahadiyan W. Oleh karena p <0. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol positif (+) digunakan untuk menilai besarnya potensi daya hambat antibakteri..B.7 11.6 15. Hasil tes terhadap biakan Escherichia coli Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Tabel 3: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Replikasi Escherichia coli 1 2 3 4 5 Ó rata-rata Grafik 2 : 0% 4 4 4 4 4 4 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4 4 4 4 80% 4 4 4 4 4 4 100% 4 4 4 4 4 4 Kloramfenicol 19.08 daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P.bahwa pada kedua konsentrasi tersebut memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik. Didapatkan pada konsentrasi dengan daya hambat tertinggi memiliki p (Asymp.0 16.8 17.009. Dalam hal ini berarti amoksisilin masih jauh lebih poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus bila dibandingkan daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek.3 16. 47 .05 maka dapat disimpulkan bahwa potensi daya hambat antibakteri ekstrak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kontrol (+) yang berupa amoksisilin. Perhitungan di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dengan kadar 80% dan 100% memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik.

Adanya perbedaan dalam hal zona hambat yang dihasilkan antara bakteri Staphylococcus aureus gram (+) dengan bakteri Escherichia coli gram (-) dikarenakan adanya perbedaan komponen pada dinding sel kedua bakteri tersebut. serta bufadienolide yang bekerja dengan merusak asam nukleat mikroba. sedangkan Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki lapisan yang lebih kompleks dan berlapis-lapis yaitu selaput sitoplasma.8 mm (100%) pada biakan Staphylococcus aureus. Pada grafik 1 dan 2 dapat dilihat gambaran dari diameter zona hambat pertumbuhan dalam berbagai konsentrasi dan reratanya. Nomor 2. Adanya potensi kadar hambat ekstrak yang tidak bermakna bagi Staphylococcus aureus dan bahkan tidak adanya hambatan sama sekali bagi Escherichia coli dimungkinkan karena berbagai kandungan kimia daun cocor bebek sebagian 48 besar ikut terambil termasuk bahan kimia yang bersifat antagonis sehingga kandungan kimia bahan yang diharapkan mampu bersifat bakteriostatik ternetralkan. 1988). dan selaput luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida. et al.56 mm (80%) dan 9. Untuk bakteri Staphylococcus aureus diperoleh zona hambat dengan diameter 4 mm (20%). Namun daya hambat tersebut tidaklah bermakna signifikan apabila dibandingkan diameter daya hambat yang dihasilkan amoksisilin sebagai kontrol positif. 2001). Hal tersebut tampak pada sifat ekstrak yang cepat mengendap apabila didiamkan.2 mm (80%) dan 8. namun pada biakan Escherichia coli tetap tidak ditemukan zona hambat sama sekali. Hal tersebut dikarenakan kesemua kadar ekstrak tidak memiliki daya hambat maupun potensi terhadap biakan kuman Escherichia coli. Kemungkinan yang lainnya adalah sifat ekstrak itu sendiri yang tidak homogen. yaitu sebagian besar zat aktif ekstrak memiliki berat molekul (BM) tinggi sedangkan sebagian zat aktif ekstrak lainnya memiliki BM yang rendah. karena hanya zat aktif yang berada di dasar tabung yang terserap kedalam disk saat proses perendaman berlangsung. 80% dan 100%. 4 mm (40%). Sedangkan zat aktif yang diduga memiliki daya antibakteri adalah cinamic acid yang menghambat sintesis protein mikroba.1 mm (60%). 40%. 4.6 mm (60%). Tahun 2009 . Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan Escherichia coli sebagai gram (-) lebih bersifat resisten ( Jawetz.06 mm (100%). lapisan tunggal peptidoglikan. 7. 60%. Pembahasan Telah dilakukan penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. Untuk bakteri Escherichia coli dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dengan berbagai konsentrasi tidak memiliki daya hambat sama sekali. 4. Dikarenakan semua data yang diperoleh memiliki rerata yang tidak berbeda dari rerata variabel pembanding (kontrol negatif) maka data tersebut tidak dilanjutkan dengan penilaian data secara statistik. Sebagai pembanding telah dilakuk an percobaan dengan menggunakan metode sumuran dan Pour Plate dengan menggunakan ektrak yang sama dengan konsentrasi yang sama pula yaitu 20%. Percobaan tersebut juga dilakukan baik terhadap biakan kuman Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dan hasil yang diperoleh adalah terbentuk zona hambat dengan diameter 5. lapisan peptidoglikan yang tebal dan simpai. Hal ini didukung oleh adanya pernyataan yang menyatakan bahwa cara ekstraksi dengan menggunakan etanol akan lebih banyak mengabsorbsi bahan kimia aktif dari bahan (Ansel. Biomedika. Selaput luar Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki karakteristik yang unik dimana pada selaput itu bersifat menolak molekul hidrofobik sekaligus hidrofilik dengan baik namun di lain pihak selaput ini memiliki saluran khusus yang mengandung molekul protein yang disebut porin. dimana Staphylococcus aureus sebagai gram (+) memiliki 3 lapisan yaitu selaput sitoplasma. Volume 1. sedangkan molekul yang besar seperti molekul antibiotika dan termasuk juga molekul zat aktif ekstrak daun cocor bebek akan mengalami kesulitan bahkan gagal untuk menembusnya. flavonoid dan alfatokoferol yang bekerja dengan menghambat metabolisme sel mikroba. Hal ini menyebabkan tidak semua zat aktif terserap kedalam disk. Saluran tersebut memudahkan difusi pasif senyawa hidrofilik dengan BM rendah seperti gula dan asam amino.Pada data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap Escherichia coli dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dari konsentrasi 20% hingga konsentrasi 100% tidak memiliki daya hambat sama sekali terhadap biakan kuman Escherichia coli.

org. a minor substance from the leaves of Kalanchoe pinnata (Crassulaceae). Niaga Swadaya: 139-42 Da-Silva. Jakarta : UI press: 607-15 Atata.scielo.br Bagian Mikrobiologi. Jogjakarta: Penerbit FK UGM Bonang. Rahadiyan W. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Melnick. 1997. Hanya saja dibandingkan daya hambat yang dihasilkan oleh infusa daun cocor bebek. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis ekstrak tumbuhan yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya efek antibakteri pada kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli tersebut. Alhassan Sani et al. Saran 1. Jogjakarta: Fakultas Farmasi UGM. Jakarta: Salemba Medika: 15-23. Muthuvelan dan R. Adelberg.memorias. 2006. Uji Antibakteri Ekstrak Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Pinheiro. http://www. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Seri 3.C. 2008. Katno. Siti Nur. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat Tradisional. Muzitano. et al. 2003. Pramono S. 2008. 2. 2000. 49 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro .bioline. Koeswardono. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya dengan menggunakan cara ekstraksi yang berbeda. Tumbuhan Obat & Khasiatnya. Arief. http://www. Nigeria. H. dari penelitian yang telah dilakukan oleh B. Farmacogn. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. Pendidikan Biologi.100% sama sekali tidak memiliki daya hambat. Mikrobiologi Kedokteran.A. Bras. 16 (4).O. 1996. Jakarta: PT. 234-48. daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek bersifat lebih rendah. Effect of Stem Bark Extracts of Enantia chloranta on Some Clinical Isolates. 3. http://www. Skripsi. J.L. 1999. et al. Toksisitas Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek Kalanchoe daigremontiana Hamet & Perrier.B. Jakarta: PT.br Hariana. Edisi Revisi. 211-7. Jakarta: Binarupa Aksara: 10463 Bagian Mikrobiologi. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya antibakteri daun cocor bebek yang paling maksimal dapat diperoleh dari infusanya. E.P. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak etanol daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya. Lana. 2006. A.ioc..S. University of Ilorin. Niaga Swadaya: 94-5 Hidayati. Edisi 22.fiocruz.. 1-octen-3-O-a-Larabinopyranosyl-b-glucopyranoside. Mikrobiologi Kedokteran. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran.. Selain itu. Jawetz . 2005. sedangk an terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ekstrak daun cocor bebek mulai dari kadar 20% . http://hpt. maka dapat diambil simpulan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dimulai dari kadar 40% . M. Instituto de Biofísica and Núcleo de Pesquisas d e P r o d u t o s N a t u r a i s U F R J . Daftar Pustaka Almeida. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian tentang uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. FKIP UMS. Penerjemah Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Setiawan.F. Department of Biological Sciences. Ana. S. 1988. Jakarta: Gramedia: 107-109 Dalimarta.unpad Ratih P. Balaji Raja yang dimuat dalam Jurnal Mikrobiologi dan Biotehnologi SpringerLink didapatkan bahwa ekstrak diethyl ether dari daun cocor bebek tidak memiliki daya hambat yang signifikan sedangkan pada ekstrak kloroform dan heksan dari daun cocor bebek sama sekali tidak memiliki daya hambat pada biakan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Penelitian ini seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Nur Hidayati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS tentang infusa daun cocor bebek yang memiliki daya hambat yang signifik an terhadap Staphylococcus aureus dari kadar infusa 20% 100% namun tetap tidak signifikan bagi Shigella dysentriae. Jilid I. 1994. Rev. Chemical isolation of an apolar antileishmanial and lymphocytesuppressive substance present in the plant Kalanchoe pinnata.. G.br Ansel. 2001. R.100% terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus namun potensi antibakterinya tidak signifikan apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positifnya.G.

Mc Farland Standar t. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. B. G. Ethnomedicines used in Trinidad and Tobago for urinary problems and diabetes mellitus. 2005.. R. 380-3 PDPERSI. 1998. 2003. Tahun 2009 . Organic Chemistry: A Brief Introduction. 2008.com 50 Biomedika.PDPERSI. Gembong. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Setiabudy. Mandiri Belajar SPSS.Lans.com Schunack. Studies on the efficiency of different extraction procedures on the anti microbial activity of selected medicinal plants. Obat Tradisional : Cocor bebek (Kalanchoe pinnata). K. 2006. W. Robert J. Volume 1. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: MediaKom Quelab. R. 2005.com Tjitrosoepomo. 2nd edition. Statistik untuk Penelitian. Vincent. 8th Edition. http://rain-tree. Hembing. Atasi Asam Urat & Rematik ala Hembing.ethnobiomed. H. Jakarta: PT.com Ouellette. Edisi 4 (dengan perbaikan). 2008. Mayer. Cheryl A.com Levinson. Database File for Kalanchoe.CO. 2004. 314-5. Bandung: CV. Nomor 2. http://www.. Plants Profile : Kalanchoe pinnata. Raja.ID Priyatno. http://www. Merlin L. Philadelphia: A Lange Medical Books: 91-102. http://www.springerlink. http://www.USDA. 2005. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Edisi 2 diperbarui. 1990. http://www. 2001. Niaga Swadaya: 45 Willcox . World J Microbiol Biotechnol 24: 283742.G.BMJ. New Jersey : Prentice Hall: 239. Medical Microbiology and Immunology Examinationand Board Review. Traditional Herbal Medicines for Malaria.quelab.. Duwi. 1993. et al. Alfabeta Taylor. 1999.com ( 4 Agustus 2008) Wijayakusuma. 115-32 Muthuvelan. http://www. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 571-83 Sugiyono.S... Bodeker. Warren. 1995. Leslie. Senyawa Obat Buku Pelajaran Kimia Farmasi. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press: 192-3 United States Department of Agriculture.

Judul tulisan. Lampiran-lampiran Naskah laporan kasus memuat latar belakang/alasan pelaporan kasus. nama para penulis lengkap berikut gelar beserta alamat kantor/instansi/tempat kerja lain. Daftar pustaka 8. font Times New Roman. Proses Review Naskah setelah dilakukan seleksi redaksional akan dikirim kepada reviewer (mitra bestari) untuk dinilai dan hasil penilaian bisa berupa: 1) Diterima tanpa perubahan. Pendahuluan. Hasil penelitian 5. diletakkan di bawah judul 2. disertai keterangan yang jelas dan informatif. laporan kasus. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Abstrak Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto dibuat dengan jelas dan rapi. dan kata kunci. baik dokter umum maupun spesialis. Bahan/ subyek/ pasien dan cara kerja 4. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto semuanya dilampirkan terpisah dari naskah. atau dalam bahasa Inggris. hasil penelitian. material dan metode penelitian. kesimpulan dan saran 6. dibuat singkat bersifat informatif. Rujukan dalam teks dibuat berdasarkan model Harvard. tujuan. Ketentuan Lain Redaksi berhak memperbaiki susunan naskah atau bahasa tanpa mengubah isinya. dan manfaatnya serta pembahasan dari apa yang dikaji dan diakhiri dengan kesimpulan hasil kajian. dan mampu menerangkan isi tulisan. kajian pustaka. 4) Ditolak. spasi dobel. Keterangan tabel ditempatkan di atas tabel. ilustrasi serta diskusi. data klinis. . Format naskah kajian pustaka. berisi latar belakang. menyesuaikan. Naskah yang telah dimuat di majalah lain tidak diperkenankan diterbitkan dalam majalah ini. resensi buku dan tulisan lain dalam bidang kedokteran dan kesehatan). dan samping masing-masing 2. para alumnus FK UMS. maksud & tujuan. Abstrak ditulis dalam 1 paragraf. Pernyataan terima kasih (kalau ada) 7. dialamatkan kepada Redaksi Biomedika. Diberi nomor menurut urutan dalam naskah. serta manfaat penelitian 3.PEDOMAN BAGI PENULIS BIOMEDIKA Inf ormasi Umum Jurnal Biomedika menerima makalah ilmiah dari para staf edukatif FK UMS. kesimpulan. ukuran 12 tidak bolak-balik dan mencantumkan alamat email penulis. maksud. Abstrak penelitian berisi latar belakang. bawah. maksud & tujuan. Pembahasan. Naskah penelitian (karangan asli) harus meliputi: 1. sekretariat Biomedika lantai 2. sebanyak-banyaknya 350 kata. Makalah dapat berupa karangan asli (penelitian. Kebangkitan Nasional no 101 Penumping Surakarta.5 cm. FK UMS Jl. terdiri sekurang-kurangnya 100 kata. manfaat. Diketik pada lembaran kertas terpisah dengan spasi ganda. namun perubahan besar atau melengkapi kekurangan-kekurangan perlu dilakukan sendiri oleh penulis. 3) Diterima dengan perubahanbesar. 2) Diterima dengan perubahan ringan. Diharapkan koreksi sudah bisa dikembalikan paling lama dalam 2 minggu. Dalam hal perubahan ringan bisa dilakukan oleh dewan redaksi. Format Naskah Tulisan diketik pada kertas kuarto. batas atas. tidak lebih dari tiga lembar. khususnya dalam pendahuluan hendaknya memuat penjelasan problematik yang dikaji. dokter di seluruh Indonesia dan dari luar negeri. Pengiriman Berkas tulisan hendaknya dikirim rangkap dua disertai file dalam disket/CD dengan mempergunakan program Microsoft Word. masalah. keterangan ditempatkan di bawah gambar/bagan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful