i

EDITORIAL
PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN DARI DIAGNOSIS HINGGA TATA LAKSANA Dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang pesat, kita perlu menambah pengetahuan dengan penelitian-penelitian terbaru. Dengan menambah informasi tentang penelitianpenelitian terbaru, diharapkan kita dapat mengelola pasien dengan tepat dan aman, mulai dari diagnosis hingga tatalaksananya. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang diagnosis, dalam edisi ini kami ketengahkan penelitian tentang perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberculin, validitas foto thorax proyeksi PA untuk menegakkan diagnosis emfisema pulmonum dan dislipidemia pada penderita stroke dengan demensia. Sedangkan untuk menambah pengetahuan kita tentang tatalaksana pasien, edisi ini memuat penelitian-penelitian tentang perbandingan efek ekstrak etanol dan eter biji tua pisang klutuk, efek ekstrak mahkota dewa, pengaruh kitosan olahan udang putih pada penurunan trigliserida plasma tikus dan aktivitas antimikroba daun cocor bebek.

i

Volume 1, No.1, Agustus 2009

ISSN 2085-8345

DAFTAR ISI
Editorial Daftar Isi Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Pujarini i ii 1 - 8

9 - 15

17 - 23

Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas, Rahadiyan W.B.

25 - 32

33 - 36

37 - 41

43 - 50

ii

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan E mail: wilmaabbas@yahoo.com Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant. Key Words: BCG, tuberculin, screening

Pendahuluan Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB paru yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB dan telah dibuktikan menderita TB di Asia kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). Perlu dilakukan peningkatan mutu program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TBParu). Strategi yang digunakan adalah pemutusan rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu,

diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik yang mudah dikerjakan dengan hasil yang cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan dengan biaya yang murah. Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein; (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7) Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer, 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntik an, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Mohammad Wildan 1

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis

Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak 151 RSUP dr. Kariadi Semarang. (1977) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa langsung diterapkan di Indonesia. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. khususnya di RSUP Dokter Kariadi Semarang. difteri.8) (0. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji Mantoux positif. tifus abdominalis Biomedika. Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah clinical disagreement. sehingga lebih unggul bila dibandingkan dengan uji tuberkulin.1 1. Tahun 2009 .5 80 Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85. Dikshit dan Surendra Singh (1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji Mantoux positif. (Z² 1-Ü/2) PQ d² 0.2 1.2) : 62 0. Populasi studi adalah bayi umur 4 bulan . varisela.1² : : : : : Prevalens 80% N : 100 X 62 : 77.96² (0. Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti Besar sampel: n : Keterangan : P Q Z² 1-Ü/2 d n karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di Indonesia. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Pasien rawat jalan yang menderita tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke 1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik Paru 151 RSUP dr. Uji BCG tidak terdapat anergi. Nomor 2. pertusis.P = 0.sebagai alat diagnostik. merupakan indikator yang kuat pada kontak tuberkulosis. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Selain itu uji BCG juga dapat langsung berguna sebagai profilaksis. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. mengingat prevalensi kasus TB anak cukup besar. Shrivastava dkk. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. (2) Mungkin terdapat perbedaan hasil dengan hasil penelitian sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya perbedaan ras/ etnik.96 (derajat kepercayaan) 0. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti Indonesia. aman. Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi yang dicurigai menderita tuberkulosis dan dilakukan uji Mantoux dan uji BCG.8 1 . morbili.anak usia 12 tahun. dan hampir semua responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3) Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji tersebut. Volume 1. Kariadi • Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 tahun dengan tinggi badan maksimal 145cm untuk anak laki-laki dan 137cm untuk anak perempuan 2 • Orang tua penridenta memberi ijin dan bersedia dilakukan pemeriksaan yang ditetapkan • Tempat tinggal di dalam kota Semarang Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: • Menderita penyakit TB berat.

2. sedangkan Mohammad Wildan 3 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . nyeri pada lutut dan selangkangan. Kariadi bersamasama dengan uji Mantoux. nafsu makan membaik. yaitu 3. berair. 3. keluhan sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah satu dari: benjolan disekitar leher. untuk 1 pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. peningkatan sel mononuklear. tetapi dengan perbandingan hampir sama/ separuh jumlah. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan. lekositosis berkurang. Secara keseluruhan sampel dengan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding sampel dengan gizi baik. mendapatkan vaksin • Penderita pindah tanpa diketahui alamat yang baru • Meninggal selama penelitian karena penyakit lain • Gizi buruk Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan Modifikasi Kriteria Starke (1994): 1. palpasi dada pekak. berat badan sulit naik (dalam 4 minggu terakhir). perubahan parenkim dan atau konsolidasi alveolar. sering berkeringat malam. yaitu 2:1. Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin lakilaki dan perempuan relatif berimbang pada semua kelompok umur. Rejimen pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR. dan paling sedikit kelompok umur >10 tahun. gibbus/spondilitis. pembesaran limfonodi nares. dari 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5 tahun merupakan yang terbanyak. pembesaran kelenjar limfe (leher. Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. Sedangkan pada sampel perempuan didapatkan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik. punggung. kemudian kelompok umur 6-10 tahun. sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. kelompok umur 6-10 tahun hasil uji positif dibanding negatif adalah 1:2.5:1. malnutrisi (antropometri). Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5 tahun sebagian besar negatif dibanding positif. konjungtivitis fliktenularis. 4. LED menurun. Kariadi. panas subfebril terutama malam hari yang berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang jelas. ronk i. juga limfopeni. terdapat diskonkruensi. dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak didapatkan pada sampel lakilaki dibanding sampel perempuan dengan perbandingan yang relatif berimbang. Selain itu dijumpai peningkatan laju endap darah. pergeseran ke kiri berkurang • Gambaran radiologik membaik dibanding sebelumnya Pengelolaan dan analisis data menggunakan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian didapatkan hasilnya sebagai berikut: Sebaran Umur dan Jenis Kelamin Apabila dikelompokkan berdasarkan umur. kelainan akibat perubahan mekanik. atau krepitasi pada pemeriksaan fisik paru. Perbaikan yang dinilai adalah: • Klinik: demam sub febril menghilang. kelainan fokal. pembacaan setelah 72 jam. Sebaran Status Gizi Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding yang bergizi baik.• Menderita penyakit keganasan • Mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka lama. Perhitungan nilai Kappa dengan menggunakan clinical disagreement. berat badan bertambah (10% setelah pengobatan 2 bulan) • Laboratorim membaik: Hb meningkat. didapatkan gerak nafas asimetris. pembacaan setelah 72 jam dan setelah 7 hari Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF Radiologi RSUP dr. nares). wheezing. inguinal. pleuritis. Pe m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m m u n g k i n didapatkan anemi atau lekositosis. aksila. pembacaan dilakukan oleh seorang radiolog. aksila. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu dari: tidak didapatkan kelainan. densitas interstitial. Kariadi. Anak yang secara klinis menderita TB dengan hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif) diberikan pengobatan anti TB dan follow up sampai dengan 6 bulan pengobatan. inguinal. mata gatal dan merah dengan daerah kuning pada kelopak mata dan bengkak. Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB.

kemudian persentasenya akan menjadi sama dengan bertambahnya umur (Stead. dimana pada anak yang lebh besar persentase morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar (Stead. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulin negatif. 1993). perbaikan radiologik dan laboratorik Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laboratorik baik pada responden dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Sampel Biomedika.013 dengan nilai p= 0. Sedangkan persentase morbiditas terhadap penderita tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas pada penelitian ini relatif sama.0. Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun sebagian besar (96%) negatif dibanding positif. Apabila dikelompokkan menurut menurut umur.008. Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0. pada sampel laki-laki dan perempuan relatif sama. Didapatkan proporsi konjungtivitis fliktenularis.64.701.649 Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik. Analisis Statistik Nilai Kappa Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 perhitungan nilai kappa data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan nilai kappa 0.58. Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0. persentase sampel laki-laki dan perempuan adalah sama besar.7%) lebih banyak dibanding lakilaki (49. kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21. yaitu 1:1. 1993). 1993). dengan pebandingan 6:5. menyusul kelompok umur >10 tahun dan paling kecil pada kelompok umur < 5 tahun. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding uji BCG negatif. dengan perbandingan 4:3. dengan nilai p=0. Tahun 2009 . Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0. Sebagian besar sampel mengalami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji BCG positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Selain karakteristik sampel. Pada anak yang berumur lebih muda morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak lakilaki dibanding dengan anak perempuan.0%. Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG. 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun sebanyak 75 sampel atau 75.331 Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan 4 nilai p= 0.pada kelompok umur >10 tahun perbandingannya adalah 1:3 antara hasil positif dibanding negatif.605. Demikian juga pada sampel kelompok umur >10 tahun. keadaan ini sesuai dengan persentase gambaran populasi. Nomor 2. Secara persentase menurut jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan gambaran populasi. yaitu 48% sampel laki-laki dan 52% perempuan. Pada kelompok umur 6-10 tahun juga didapatkan hal yang sama. Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 tahun didapatkan nilai kappa . Volume 1.3%) tetapi perbandingannya relatif berimbang. Pembahasan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel yang berumur <5 tahun persentase sampel perempuan (50.0% dan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel atau 4%.6%) sampel mengalami perbaikan laboratorik baik padda responden dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Berdasarkan persentase menurut kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini sudah mencerminkan gambaran populasi. Sebagian besar (95. jumlah sampel juga berpengaruh terhadap hasil penelitian. Proporsi hasil positif uji tuberkulin paling besar didapatkan pada kelompok umur 6-10 tahun. kelompok umur 6-10 tahun dan >10 tahun perbandingannya 100% positif. yaitu bahwa morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5 tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan anak yang berumur lebih tua (Stead.22 dan nilai p = 0.

0%. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik uji clinical disagreement dengan membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG.008 dengan nilai p=0. Apabila dijumlahkan secara keseluruhan.77). Perhitungan statistik dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux). jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 74 sampel atau 74. atau tidak menderita penyakit tuberkulosis. Pengaruh status gizi responden terhadap hasil uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8. Tetapi pada kedua keadaan tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1.12 dan p= 0. Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang sama. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya overdiagnosis.58) dan 6-10 tahun (df= 0. Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih banyak dibandimg yang positif. sehingga mungkin lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG. Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar 0. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang kecil (-0. jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau 1. Keadaan lain yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar. tetapi apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis.331. didapatkan sampel dengan hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau 97. Sedangkan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa memang benar sampel tersebut menderita penyakit tuberkulosis. dengan perbandingan 3:1. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun (df= 1. Mohammad Wildan 5 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat.93 dan p= 0. dengan menggunakan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji tuberkulin positif.331.05) yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan tidak bermakna. hasil uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding yang positif.0%. Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang negatif lebih banyak didapatkan pada sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan.701 (bermakna p=0. sedangkan sampel dengan hasil uji (tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 atau 24. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita tuberkulosis dengan malnutrisi.0%.yang digunakan pada penelitian ini sudah diperhitungkan dengan beberapa persyaratan yang sesuai dengan rumus yang berlaku sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini sudah dianggap cukup. Sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan dengan hasil uji BCG positif.013) dan nilai p= 0.605.0%.0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 3 sampel atau 3. (2) semua responden pada penelitian ini pernah mendapatkan vaksinasi BCG. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya under diagnosis. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tuberkulin positif. Sedangkan pengaruh status gizi sampel terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang energi protein ringan. Semakin banyak sampel akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut.22 dan p= 0. Shrivastava (1977) menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dibanding tuberkulin. Apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel benar menderita penyakit tuberkulosis. sehingga tidak menggunakan baku emas. dengan perbandingan 4:1.64) mempunyai gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga uji chi square yang dilakukan kurang valid. Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 sampel atau 23. tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0.0%.

hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Shrivastava dkk (1977).3% dan ulserasi 8%. tetapi pada kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan pengecatan ataupun biakan sekret mata. Insidensnya banyak terjadi pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 56 15 tahun (Ormerod LP. Volume 1. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. Nomor 2. Respons peradangan kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada sisi kulit yang diberi antigen. perkembangan penyakit setelah dilakukan pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh (klinik.33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5 tahun. 1977) didapatkan adenitis regional 3. merupakan indikator yang kuat (96. Dengan demikian. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. Dapat dijelaskan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. dan faktor kemotaktik menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda reaksi positif (Grange JM. sudah dikonsulkan ke Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis fliktenularis akibat tuberkulosis. Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa respons terhadap vaksinasi BCG tidak berhubungan dengan umur. 1994).23% dari seluruh sampel yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%) dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun. Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak didapatkan pada penelitian ini.7 mm. Dana S.5 %). Hasil uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita ternyata negatif. Tahun 2009 . Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62 sampel (77. Insiden Biomedika. yang pada penelitian ini status imunologi tidak diteliti. Ormerod (1994) mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis biasanya terjadi pada anak yang mengalami infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. Jalur aferen melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen yang "diproses" makrofag. Sedangkan ukuran diameter ratarata hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh adalah 9. Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel (97. Konjungtivitis fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin.7%) pada kontak tuberkulosis. terjadi akibat respons infeksi primer tuberkulosis. Respons hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga rangkaian proses yang jelas. Krishna K. Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum sampai menekan komponen respons hipersensitivitas tipe lambat tersebut.dan tidak dipengaruhi oleh status gizi. pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung kearah tuberkulosis. yang pertama seorang anak perempuan berumur 8 tahun.5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18 sampel (22. laboratorik. hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12-16 mm). sehingga tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin. sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur. radiologik perbaikan). Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus kelompok hemolitik atau stafilokokus. Suskind RM (1997) mendapatkan bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan subnormal akibat defisiensi diit protein akan menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkulin. Sonmez (1994) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. 20 sampel (95. Defisiensi nutrisi menekan salah satu atau lebih komponen respons hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status imunologi pada sampel belum sampai menurun sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas reaksi hipersensitivitas. Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis fliktenularis. aman. kasus yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus pertama. Jalur eferen ditandai dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang disuntikan intradermal. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. tetapi hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 mm). 1994). terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis. anamnesis. Hal ini dapat dijelaskan bahwa indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding terhadap uji BCG. 1994). Efek samping uji BCG (Choudhary. sebagaimana yang didapatkan oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik.

Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar dibanding dengan proporsi hasil positif uji tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan tuberkulosis. Evaluation of diagnostic valve of BCG test in childhood tuberculosis. Dalam: Davis PDO eds. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Pediatrics 93: 131-4 Dana S. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG test. Screening for tuberculosis infection in urban children. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak Saran 1. perbaikan radiologik 82. Nutrition. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut dengan menggunakan baku emas dan kontrol Daftar Pustaka Chandra RK. 1994.6%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik dengan sebaran yang sama.7%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik juga dengan sebaran yang hampir sama.limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7. Newberne PM. 44: 40-2 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7 . sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. London: Chapman & Hall Medical Jaiswal S. Choudhary AK. The Malnourished Child. Respiratory Tuberculosis. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat yang telah berpengalaman. 1998. Grange JM. Christy C. Pediatrics 104: 1-6 Ormerod LP. tetapi secara statistik tidak bermakna 2. Immigration and tuberculosis among children on the united states-mexico border. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini juga menggunakan sampel kontrol. Leslie LS. Indian Pediatrics. Tidak diteliti status imunologi yang dapat berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji BCG maupun tuberkulin 6. 1994. Indian Pediatrics 14: 993-8. 1996.1 %. California. Suskind RM. Journal of Tropical Pediatric. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol 2. tetapi secara statistik tidak bermakna.9% dan 100%. New York: Raven Press Dikshit KP. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding dengan proporsi hasil negatif uji BCG. Sedangkan pada responden dengan hasil uji BCG positif dan negatif. Shingwekar AG. perbaikan radiologik 95. Indian Pediatrics Vol XIII No 9: 68795. Kenyon TA. 1993. county of san diego. 13: 689-95. Adapun keterbatasan-keterbatasan penelitian ini adalah: 1. Surendra Singh. Perlu hati-hati dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an dan pengecatan kuman BTA 2. 1994. Immunity and Infection Mechanism of Interaction. The Malnourished Child in Overview Dalam: Suskind RM. 1997. 1977. Krishna K. New York: Plenum Press Choudhary AK. 3. Screening tuberculosis in infant and children. Immunophysiology and Immunopathology of Tuberculosis. Evaluation of BCG test in childhood tuberculosis. Badhari NR. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh pada perbaikan status gizi 5. Clinical Shrivastava DK. 1979. Soekendar AW. BGC test for diagnosis of childhood tuberculosis. Jakarta: Forum Diagnosticum Somnez. Driver C. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen BCG maupun PPDS 5TU secara biokimiawi sebelum disuntikkan 3. 1999.8% dan 77.5% dan 66. PAP-TB sebagai Penunjang Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. Clinical Tuberculosis. Semua responden pada penelitian ini telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya Simpulan dan Saran Simpulan 1.1%. BCG test for diagnosis of chilhood tuberculosis. tetapi kesalahan akibat teknik penyuntikan reagen tidak dipertimbangkan secara teliti 4. Haas E. 1977. Dalam: Davis PDO eds. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur 4. Sebagai bukti tambahan (yang perlu dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif. Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat diberikan pada semua anak tanpa khawatir terhadap komplikasinya. 1977. Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine 150: 722-26 Committee on Infection Diseases. 1977. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8. 1977.8% dan 96.

Oppenheimer SJ. London: Chapman & Hall Medical 8 Biomedika. 1993. New York: Springer-Verlaag Tuberculosis. Childhood Tuberculosis. Dalam: Schlossberg D. 1993. Tuberculosis. Nomor 2. Dalam: Davis PDO eds. Tahun 2009 . Epidemiology and Host Factors. 1994. London: Chapman & Hall Medical Wong GWK. Volume 1.Stead WW. Dut AK. Clinical Tuberculosis. 1994.

The abnormality of lung structure can manifest in Posterio-anterior chest X-ray. 1993). Posterio-Anterior chest X-ray emphysema with obstruction were establishe in 117 subjects (93%) and non obstruction were diagnosed in 9 subjects (7%). bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Widjaja. severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Posterio-Anterior chest X-ray has good validity to establish diagnosis emphysema. emphysema was diagnosed if met with all criteria above. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK) yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar. FEV1 > 80% predicted. Apabila pasien tidak mampu melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat. spirometry.This study is a diagnostic test were that performed in Departement of Radiology RSUD Dr Moewardi Surakarta from July to October 2008. to determine either emphysema or non emphysema.Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum E mail: lilis_tomy@yahoo. 1996. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) DEPKES RI 1992 menunjukkan angka kematian emfisema. This study maintained to get validity of Posterioanterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema. 50%< FEV1<80% predicted. FEV1< 30% or FEV1<50% predicted plus chronic respiratory failure. karena semakin bertambahnya penderita (Widjaja.6% in sensitifity and 84. accompanied by destruction of their walls. validity Pendahuluan Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan kematian penderita emfisema belum menunjukkan penurunan. 154 men and 38 women. bersifat kronis progresif dan memberikan kecacatan yang menetap (Thurlbeck. Posterio-anterior chest X-ray has good validity to establish change the lung structure. Diagnosis emfisema berdasar pendekatan patologinya (diagnosis emfisema menggunakan p e n d e k a t a n p e m e r i k s a a n h i s t o p at o l o gi merupakan diagnosis pasti. Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. Sulistyani Kusumaningrum 9 .com Abstract Emphysema as a condition of lung characterized by abnormal. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. Keywords: emphysema pulmonum. akan tetapi sangat Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum sulit dilakukan). 30%< FEV1<50% predicted and very severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. mild obstruction if FEV1/ FVC < 70%. moderate obstruction if FEV1/FVC < 70%. 126 subjects (66%) were diagnosed with emphysema and non emphysema were diagnosed in 66 subjects (34%). 1994:Finlay. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. di negara maju merupakan masalah kesehatan utama. Posterio-Anterior chest Xray non emphysema with obstruction were diagnosed in 12 subjects (18%) and non obstruction were diagnosed in 54 subjects (82%). 1998). F r o m 1 9 2 s u b j e c t s performed Posterio-Anterior chest X-ray. sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku emas (Senior. Barnes. Kelainan yang mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata. emphysema was diagnosed if Posterio-Anterior chest X-ray showed : 1)Hyperinflation 2) Hyperlucency 3) Decrease and flattened of diaphragma and 4) Tear drop appearance of the heart. Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK.3% in spesifisity. At first chronic inflammatory induced changed the lung structure. Spirometry showed obstruction with criteria of GOLD 2006. permanent enlargement of airspaces distal to the terminal bronchiole. The validity of Posterio-Anterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema was 90. Abnormalitas pemeriksaan faal paru pada emfisema menunjukkan tanda obstruktif. 1993). posterio-anterior projection. Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. Smoking habits was higher in emphysema Posterio-anterior chest X-ray group than non emphysema group. Samples of this study recruited were 192 subjects with range of age between 18-81 years old.

1995). sehingga pendekatan pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri. Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling. sehingga apabila hasilnya abnormal dapat digunakan untuk menentukan adanya penyakit (Sastroasmoro. nilai duga negatif. FEV 1 < 30 % prediksi atau FEV 1 < 50% disertai gagal pernafasan khronis Biomedika.1997. gambaran jantung yang langsing disertai penurunan cardiothoracic ratio < 0. Kelainan struktur parenkim diawali terjadinya inflamasi khronis yang akan mengakibatkan destruksi jaringan elastin dinding jalan napas. Tujuan uji diagnostik ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi validitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. 1997. Moewardi Surakarta selama bulan Juli hingga Oktober 2008.5 (tear drop appearance jantung) 2. 50 % < FEV1 < 80 % prediksi dan obstruksi berat bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . pasien yang masuk kriteria inklusi dilakukan foto thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. diafragma turun dan mendatar). 30 % < FEV1 < 50 % prediksi. dilakukan uji keandalan intra-observer seorang dokter spesialis radiologi untuk menilai foto thorax PA. Senior. Keadaan inilah yang berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi paru. Daerah Dr. Interpretasi pembacaan hasil foto thorax PA dilakukan dokter spesialis radiologi sedangkan pemeriksaan faal paru dilakukan oleh dokter spesialis paru. 1998). Penghitungan derajat kesesuaian (kappa) intra-observer dilakukan dengan perangkat lunak computer dan didapatkan kappa intra-observer 1. penilaian foto thorax PA dilakukan dua kali. Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman (network) jaringan ikat paru yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru (Finlay. Destruksi serat elastin. Penghitungan dari variabel dilakukan dengan memakai tabel 2 x 2 Teknik Pemeriksaan Setiap subyek atau sampel penelitian menjalani prosedur pemeriksaan sebagai berik ut: Pemeriksaan radiologi thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. Bentuk kelainan struktur yang dijumpai adalah destruksi serat elastin septum interalveoli dan ditemukannya peningkatan serat kolagen sebagai bentuk remodelling jaringan ikat paru akibat destruksi serat elastin tersebut. Dilanjutkan pemeriksaan faal paru (spirometri) FE V1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). nilai duga positif. Analisis data 10 dalam penelitian ini adalah sensitivitas. Sebelum penelitian ini dimulai. r a s i o k e ce n d e r u n g a n p o s i t i f d a n r a s i o kecenderungan negatif dari foto thorax PA. Volume 1. Pada foto thorax PA dinyatakan emfisema pulmonum bila pada radiologi thorax ditemukan gambaran : diafragma turun dan mendatar hingga dapat mencapai di bawah costa XI aspek posterior atau di bawah costa VII aspek anterior (hiperinflasi. Senior. Untuk keperluan ini. spesifisitas. Kelainan struktur jaringan dapat memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax proyeksi posterio-anterior (foto thorax PA). Material dan Desain Penelitian Jenis dan rancang penelitian yang dilakukan ialah uji diagnostik. Penelitian dilakukan di RSU. Nomor 2. Uji diagnostik ini juga harus spesifik (kemungkinan hasil false positive kecil). deposisi dan bentuk remodelling kolagen. Tahun 2009 . sehingga apabila didapatkan hasil yang normal dapat dipergunakan untuk menyingkirkan adanya penyakit. 1998). uji diagnostik harus sensitif (kemungkinan false negative kecil). FEV1 > 80 % prediksi . merupakan kelainan yang mendasari terjadinya pembesaran ruang udara pada emfisema. obstruksi sangat berat bila nilai FEV 1 / FVC < 70 %. saat pendaftaran penderita diseleksi berdasar kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pemeriksaan faal paru (spirometri) FEV1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Nilai kappa tersebut termasuk dalam kategori sangat baik Definisi operasional 1. obstruksi sedang bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Hasil Spirometri/gangguan faal paru dikatakan obstruksi (emfisema pulmonum) ringan bila nilai FEV1 / FVC < 70 % .0. Cara kerja pada tahap pertama. penambahan lusensi paru yang dapat dibandingkan dengan gambaran udara sekitar di luar tubuh yang ikut terekspose film (hiperlusensi).

Dibuat tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Selama periode Januari sampai dengan Desember 2004 didapatkan data dari catatan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 11 .Analisis Data Pengujian Hipotesis dengan Uji Diagnostik.

Hasil Penelitian Pada periode bulan Juli hingga Oktober 2008 didapatkan 192 subyek penelitian. Umur subyek penelitian antara18 sampai 81 tahun. Jumlah laki-laki dengan emfisema adalah 75 % sedangkan perempuan dengan emfisema 24 %. seseorang akan semakin tahu tentang kesehatan. Jenis kelamin laki-laki (80%) lebih banyak daripada perempuan (20%). Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SD (41%) kemudian SMP (37%). Volume 1. Nomor 2. Tahun 2009 . dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan. SMA (20%) dan PT (2%). Karakteristik data dasar Tabel 1. 1. dibuat tabel 2x2 berdasar hasil foto thorax PA emfisema dan non emfisema dan hasil spirometri obstruksi dan non obstruksi. Semakin tinggi tingkat pendidikan angka kejadian emfisema lebih rendah daripada non emfisema Hal tersebut mulai tampak pada tingkat pendidikan SMA. Karakteristik data dasar No 1 Data Dasar Subyek Penelitian Hasil Foto Thorax PA emfisema Hasil Foto Thorax PA Non emfisema Jenis Kelamin Laki-Laki: emfisema Non emfisema Perempuan: emfisema Non emfisema Umur : Maksimal Minimal Tingkat Pendidikan SD emfisema Non emfisema SMP emfisema Non emfisema SMA emfisema Non emfisema PT emfisema Non emfisema 5 Kebiasaan Merokok emfisema : Non emfisema : Jumlah 192 126 66 Prosentase 66 % 34 % 2 154 115 39 38 9 29 81 th 18 th 80 % 75 % 25 % 20 % 24 % 76 % 3 4 78 59 19 71 46 25 38 17 21 5 2 3 41 % 76 % 24 % 37 % 65 % 35 % 20 % 45 % 55 % 2% 40 % 60 % Ya Tidak Ya Tidak 109 17 63 3 87 % 13 % 95 % 5% Berdasar tabel di atas dapat diketahui penelitian ini terdiri dari 192 subyek. 12 Biomedika.

Kelompok non emfisema pada pemeriksaan spirometri terdapat 12 (18%) dengan obstruksi dan 54 (82%) non obstruksi. Sensitivitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false negative . Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok dapat mencapai setiap bagian trakhea dan bronkhus sampai alveolus. Menurut Sharma (2006). Jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA namun menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 12 orang (false negative) dan jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 54 orang (true negative). Aktivasi makrofag akan mengganggu keseimbangan protease anti protease. faktor eksogen misalnya rokok. di alveoli dapat timbul proses inflamasi. dapat menjadi penyebab utama. seperti debu dan polusi udara (Barnes. nilai Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 13 . Jumlah subyek penelitian dengan hasil true positive yaitu pasien dengan emfisema pada foto thorax PA yang menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 116 orang. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat. Kelompok emfisema tanpa kebiasaan merokok sejumlah 13 % karena perokok pasif mempunyai kemungkinan risiko yang sama dengan perokok aktif. Kebiasaan merokok pada penelitian penulis ini belum bisa dimasukkan dalam faktor resiko. perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pertanyaan berapa batang rokok yang dikonsumsi setiap harinya dan sudah berapa lama merokok. 1997). spesifisitas yaitu hasil true negative dibagi jumlah false positive dan true negative . Pembahasan Subyek penelitian sejumlah 192.dikalikan 100%. nilai prediksi positif yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false positive. Kelompok emfisema sendiri diketahui mempunyai angka kebiasaan merokok cukup tinggi yaitu 87 %. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat (Samet. Jumlah pasien dengan emfisema pada foto thorax PA namun tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 10 orang (false positive). hanya 13 % saja tanpa kebiasaan merokok. dikalikan 100 % adalah sebesar 92. emfisema terjadi pada seseorang dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang perhari dan kebiasaan merokok tersebut sudah terjadi selama 20 tahun. perlu dikembangkan pada penelitian lebih lanjut. Tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Obstruksi (+) 116 12 128 Hasil Spirometri Obstruksi (-) 10 54 64 Total 126 66 192 Foto Thorax PA emfisema (+) emfisema (-) Total Tabel 2x2 menunjukkan hasil pemeriksaan foto thorax PA dibandingkan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Diantara semua faktor resiko tersebut.0 % . dan dapat melepaskan oksidan yang akan menginaktifasi AAT sehingga terjadi proses perusakan elastin paru sebagai dasar kelainan emfisema (Fain. 1998). lingkungan kerja berdebu. bronkhus sampai alveolus perokok pasif. Kelompok emfisema pada pemeriksaan spirometri diketahui 117 (93%) dengan obstruksi dan 9 (7%) non obstruksi. Bahkan dinyatakan. rokok merupakan faktor paling dominan dibandingkan dengan yang lain. Apabila bahan toksik mencapai alveolus. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok juga dapat mencapai setiap bagian trakhea. adalah sebesar 90. Pendapat yang populer di Inggris (British hypothesis) menyatakan. polusi udara.2.6 % . sehingga timbul proses inflamasi. 1991).Hautamaki.3 % . emfisema hampir selalu disebabkan oleh asap rokok (Senior. 2003. Hal ini sesuai dengan teori tentang faktor penyebab terjadinya emfisema.1997) Kelompok non emfisema namun dengan kebiasaan merokok terdapat 95% dan tanpa merokok 5%. Disamping itu juga akan melepaskan Neutrophyl Chemotactic Factor (NCF) yang memobilisasi netrofil sehingga sekreasi elastase meningkat. Aktifasi makrofag juga dapat disebabkan bahan polutan lain. dikalikan 100% adalah sebesar 84. berdasarkan pemeriksaan foto thorax PA diketahui emfisema adalah 126 orang (66%) sedangkan non emfisema 66 orang (34%). Uji diagnostik Tabel 2 .

foto thorax PA untuk mengetahui kelainan struktur paru pada 14 emfisema pulmonum memberikan manfaat yang lebih dibanding dengan uji yang sudah ada yaitu spirometri sebagai gold standard untuk mengetahui fungsi faal paru. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri tidak didapatkan tanda-tanda obstruksi. Foto thorax PA juga merupakan pemeriksaan yang lebih mudah dan lebih sederhana dengan biaya yang sama dengan pemeriksaan spirometri. Sejumlah 10 pasien (false positive) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran emfisema.4%. Definisi emfisema pulmonum menyebutkan kelainan paru secara anatomis.6 % dan spesifisitas 83. angka tersebut lebih tinggi daripada hipotesis yang menyebutk an 80 %. Sejumlah 12 pasien (false negative) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran non emfisema. setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga menunjukkan tanda-tanda obstruksi sesuai dengan kelainan emfisema (hasil true positive tinggi). sedangkan spirometri mendeteksi kelainan tersebut sebagai suatu kelainan dari fungsi faal paru. mempunyai sensitivitas 90. Biomedika. Standar baku emas emfisema pulmonum secara anatomi saat ini adalah High Resolution Computed Tomography. Saran Perlu dipertimbangkan untuk mengalihkan pemeriksaan spirometri ke pemeriksaan foto thorax PA pada pasien emfisema pulmonum dengan sesak nafas yang tidak dapat melakukan manouver spirometri berkali-kali. gambaran hiperinflasi yang seolah-olah menyebabkan penurunan dan pendataran diafragma maupun tear drop appearance jantung disertai gambaran hiperlusensi juga dapat terlihat pada pasien normal dengan inspirasi dalam maupun atlet dewasa muda tanpa penyakit paru . sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan lain yang lebih terjangkau untuk masyarakat kurang mampu tetapi memilik i nilai diagnostik tinggi. didapatkan sensitivitas 90. dikarenakan pasien hanya melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan inspirasi tersebut saat foto diekspose tanpa harus melakukan manouver spirometri berkali-kali yang sulit dilakukan oleh pasien dengan sesak nafas. asma). Menurut Sharma (2006).3 % . Biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal. lebih nyaman dan terjangkau bagi pasien dibandingkan spirometri. jalan nafas dapat diibaratkan seperti saluran karet. Tidak semua masyarakat bisa menjangkau pemeriksaan tersebut. Nilai diagnostik foto thorax PA oleh karena itu lebih tinggi dibanding dengan spirometri.3 %. akan menurunkan aliran udara di dalam saluran tersebut. foto thorax PA mendeteksi kelainan emfisema tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru . Menurut Enright (1987). Tahun 2009 . Penyempitan saluran dari dalam atau kompresi dari luar. Hal itu dimungkinkan karena menurut Enright (1987). rasio kecenderungan negatif yaitu hasil false negative per jumlah true positive dan false negative dibagi spesifisitas adalah sebesar 0. Foto thorax PA pada pelaksanaan pemeriksaan juga lebih memberikan kenyamanan pada pasien.8 . Pada penelitian ini didapatkan nilai spesifisitas 84. Simpulan dan Saran Simpulan Pemeriksaan foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Volume 1.penyakit di luar emfisema yang juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi jalan nafas (bronkhitis khronis. Nomor 2. Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas lebih tinggi daripada hipotesis. rasio kecenderungan positif yaitu sensitifitas dibagi hasil false positive per jumlah false positive dan true negative adalah sebesar 5.8 % . ini dikarenakan sejumlah 54 pasien dengan gambaran foto thorax PA non emfisema setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (hasil true negative tinggi). hal itu dikarenakan terdapat penyakit .1. namun tidak semua rumah sakit di Indonesia memiliki alat tersebut.6 % dan spesifisitas 84.prediksi negatif yaitu hasil true negative dibagi jumlah false negative dan true negative . sensitivitas foto thorax adalah 80 %. Pada penelitian uji diagnostik ini. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri didapatkan tanda-tanda obstruksi. hal itu disebabkan karena sejumlah 116 pasien dengan gambaran foto thorax PA menunjukkan emfisema. dikalikan 100 % adalah sebesar 81. Pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih mudah. Aliran yang melalui saluran dapat menurun pada berbagai sebab.

.149: 1405-1415. MCR Vision. FitzGerald.physiology. Senior R.. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Med. Woolston C. O'Connor . Hayes J. Smoking Mice Lead to emfisema Breakthrough. Jakarta: Erlangga. O'Donnell. FK. 2003.org/cgi/content/abstract Simon G. Management and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Enright P. Kobayashi K.. Elastin and Collagen Remodeling in emfisema A Scanning Electron Microscopy Study. 1996. Jakarta : 267-268. Philadelphia : 249-54. UNAIR Surabaya : 3-19. Penelitian Epidemiologi : Pengaruh lingkungan pada PPOM. Washington University School of Medicine... hhtp://ajplung. cetakan ke-2. Samet J.. Diagnostik Roentgen. 1997. Obstructive Airways Diseases.. 1998. The Relationship of Smoking to COPD ... 2006. 1991. J. Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 15 . 1997. Cherniack NS.Daftar Pustaka Barnes P. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Inc : 3 Hautamaki R.. Am... Respir. Crit. 227 : 2002-4. Majalah Penyakit Dalam. 1997. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Philadelphia Finlay G. 1995. Lea & Febiger.. Am. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. WB Saunders Company.. Sastroasmoro S. 1993. Godfrey S.. Global Strategy for The Diagnosis. Ismael S. 1981..Pathol. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. 157 : 139-47.J. Pulmonology Obstructive Airways Diseases. 1997. Requirement for Macrophage Elastase for Cigarette smoke Induced emfisema in Mice.. Care. London : 1-28. Office Spirometry. Texbook Radiology and Imaging : 168-172 Widjaja A. Martin Dunitz Ltd. Shapiro S... Hal :328-332 Sutton D. Sharma S. Senior R. Anthonisen N. 2000.

Tahun 2009 .16 Biomedika. Volume 1. Nomor 2.

trigliserid 244/120/183. Dyslipidemia is one of the risk factors that take part in vascular dementia's process. lowest.5% pada pria dan 19. dementia Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup akan menambah jumlah lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degenerasi atau neoplasma. Penelitian di Lundby Swedia memperlihatkan angka risiko terkena demensia vaskular sepanjang hidup 34.. age = 55-64 (19/47%). psikiatri.1% subjects.2004). menyimpulkan bahwa peningkatan LDL kolesterol berhubungan dengan risiko demensia dengan stroke pada Penderita tua (RR:3. 1999. Penelitian terakhir memperlihatkan.Dislipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Demensia berdasarkan kriteria DSM-IV Listyo A. and mostly found in frontoparietal lobe (9/22. Dyslipidemia history was positive in 21/ 52.. Sardjito Yogyakarta bulan Oktober sampai Desember 2007. high LDL on 23/ 56. Sardjito Jogjakarta Cholesterol (LDL-C) dengan demensia vaskular (Reitz et al.2004). marital status = married (40/98%) and occupation = retired (12/29%) . bahwa LDL dan trigliserid plasma tidak berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif. LDL 242/66/121. 1993) Abnormalitas lipid berperan dalam proses aterosklerosis kranioserebral.com Abstract There is rising in prevelence of dementia as changing of disease pattern from infection disease to degerenative disease. Peningkatan jumlah lansia akan menambah populasi Penderita demensia (Kaye. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas. Pujarini E mail: listyoasistpujarini@yahoo. Highest.9% subjects.based tentang LDL kolesterol dan risiko demensia dengan stroke. Sardjito General Hospital Jogjakarta. Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR. Pujarini 17 . HDL78/22/46.0%). Most patient with stroke with dementia had abnormal lipid profile. kami ingin mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR Sardjito Yogyakarta. demensia terjadi ratarata seperempat sampai sepertiga dari kasus stroke (Taternichi et al. and average mean of lipid profile were : total cholesterole 327/130/208.5% sampai dengan 61% (Schmid et al. Sudah lama diketahui bahwa defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke.73mg/dl. 95% CI: 1. sedangkan HDL yang rendah dan kolesterol total yang tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif terutama fungsi bahasa (Reitz et al. high trygliceride on 34/82..6% subjects. Hasil lain didapatkan pada penelitian cohort.1.27mg/dl respectively. 1992). low HDL on 15/36. Gangguan kognitif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan MMSE ( kurang 24). Hypercholesterolemia found on 27/65. Most of them are male (28/68%). dalam penelitian prospective longitudinal community.97mg/dl. Sardjito Yogyakarta. yaitu menyimpulkan hubungan yang lemah antara level High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan Low Density Lipoprotein Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.9% subjects.1%).1998).5-6. education = junior high school (15/37%). Beberapa penelitian yang lain memberikan hasil yang kontroversial.76mg/dl. Sardjito Jogjakarta Listyo A. pemeriksaan fisik dan Computed Tomografi (CT).2004).1). fisik. stroke. Keywords: dyslipidemia. Insidensi demensia pasca stroke bervariasi antara 23.. Material dan Desain Penelitian Merupakan kajian deskriptif dari catatan medis pasien yang terdiagnosa stroke dengan demensia yang dirawat di Unit Stroke RS DR. This study is descriptive study from patients medical record that were diagnosed by stroke with dementia in Dr Sardjito General Hospital.94% pada wanita dengan semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam perhitungan (PERDOSSI. Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat medis. There were 41 subject.5% subjects. Moroney et al. HCTS examination reveal that most of lesion are ischemic lesion/infarct iskemik/imfark (23/56. The aim of this study is to get lipid profile of stroke patients with dementia in Dr.

Hasil Penelitian Dari penelitian kajian deskriptif ini didapatkan sebanyak 41 Penderita stroke dengan demensia. Karakteristik subyek menurut status perkawinan Gambar 5. Gambar 3. Karakteristik subyek menurut pekerjaan 18 Biomedika. Karakteristik subyek menurut tingkat pendidikan Gambar 4. Nomor 2. Tahun 2009 . Volume 1. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini : Gambar 1. Karakteristik subyek menurut jenis kelamin Gambar 2. Karakteristik subyek menurut umur Dari gambar 1 dan 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar subyek dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 (68%) dan berumur antara 55-64 tahun sebanyak 19 (47%).

1 43. Karakteristik faktor resiko vaskular Faktor resiko Riwayat dislipidemia Riwayat hipertensi Riwayat DM Status merokok ya tidak ya tidak ya tidak Perokok Mantan perokok Bukan perokok ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak Jumlah 21 19 23 18 8 33 6 7 28 12 25 27 14 15 26 23 18 34 7 Persen(%) 52.5 14.6 56. dapat dilihat bahwa sebagian besar profil lipid memang abnormal. Tabel 3. 5.3 70.9%) Subyek. 4.9 17.Sedangkan dari gambar 3. Tabel 2.1 36.6 17.1 29.9%) Subyek.5 80. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A.6 63. LDL tinggi sebanyak 23 (56.9 82.1%%). Pujarini 19 . Riwayat dislipidemia terdapat pada 21 (52. dan trigliserid tinggi sebanyak 34 (82.9 34.3 Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56.1 65.5 56. Kolesterol total tinggi sebanyak 27 (65.5 47.1 67. 40 (98%) Subyek sudah menikah dan 12 (29%) Subyek dengan pekerjaan sudah pensiunan.3 29.1 43. Hasil HCTS sesuai patologi lesi Patologi lesi Atrofi Iskemik / Infark Perdarahan Jumlah 6 23 12 Persen(%) 14.5%).1 Gula darah tinggi Kolesterol total tinggi HDL rendah LDL tinggi Trigliserid tinggi Dari tabel tersebut diatas.4 56.9 19.1%) Subyek. dapat kita ketahui sebanyak 15 (37%) Subyek dengan tingkat pendidikan SLTP.

0 9. Gambar 7. Profil lipid pada subjek sesuai nilai minimal-maksimal Dari gambar 6.4 4. lokasi lesi di regio frontoparietal.0%) Subyek. Tabel 4.3 4. ternyata nilai maksimal kolesterol total.1%%).2 Dari hasil HCTS.Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56.8 7.3 7.9 12. ternyata sebanyak 9 (22. LDL 23 Subyek. trigliserid 34 Subyek.3 22. Profil lipid subyek sesuai frekuensi yang abnormal Gambar 7 menyatakan sebagian besar Subyek mempunyai nilai profil lipid yang tinggi yaitu: kolesterol total 27 Subyek. Gambar 6. Hasil HCTS sesuai lokasi lesi Lokasi lesi Frontotemporalis Paraventrikuler Frontoparietal Parietotemporalis Parietooccipitalis Temporooccipitalis Capsula interna Ganglia basalis Occipitalis Parietalis Lain-lain Jumlah 3 3 9 4 3 2 5 4 1 2 5 Persen(%) 7. Tahun 2009 . LDL dan trigleserid diatas 200 mg/dl dan nilai rata-rata termasuk borderline high-high.9 12.2 9.8 2. 20 Biomedika. Volume 1. Nomor 2.

PPDGJ III membagi demensia vaskular sebagai berikut : (1) F01. Menurut PPDGJIII / ICD X: (1) F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer. 4) Faktor yang berhubungan dengan stroke. (c) Tanda & gejala neurologis fokal atau pemeriksaan radiologis menunjukkan infark multipel di daerah kortek & subkortek. berbahasa. daya pikir. 2) Satu atau lebih gangguan kognitif (afasia. visuospasial. 1996). (5) F01. apraksia. Di Asia prevalensi demensia vaskular lebih tinggi daripada demensia Alzheimer.Pembahasan Sesuai PPDGJ III. sedangkan pada Penderita berpendidikan rendah nilai di bawah 24 baru mengindikasikan gangguan kognitif (Bouchard et al. M ini Mental State Examination (MMSE) merupakan tes yang mudah dan berguna di dalam klinik untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif. biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi. (4) F01.3 Demensia vaskular campuran kortikal dan subkortikal. biasanya bersifat kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang multipel) termasuk daya ingat. Dalam 4 tahun terakhir beberapa ilmuwan membagi faktor risiko demensia vaskular dalam 4 kategori : 1) Faktor demografi. 2004). prevalensi demensia vaskular sekitar 25% (Konsensus Pengenalan Dini & Penatalaksanaan Demensia Vaskular. bahasa. dengan penurunan fungsi kognisi mulai dari yang ringan sampai yang paling berat dan meliputi semua domain. 2) Munculnya tanda fokal neurologik.1 Demensiamulti-infark. Kesadaran tidak berkabut. (3) F 02 Demensia pada penyakit lain yang tidak diketahui. daya pemahaman. diabetes. menopause tanpa terapi penggantian estrogen.. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. dan daya kemampuan menilai. (3) F01. kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria NINDS-AIRENS (National Institut of Neurological Disorder and Stroke and Association Internationale pour la Recherche e t l'Enseigment en Neuroscience) (1991). 3) Hubungan di antara kedua penyakit ini bermanifestasi atau berpengaruh dengan munculnya satu atau lebih keadaan berikut: onset demensia dalam tiga bulan mengikuti stroke. perhatian. fungsi kognitif berfluktuasi seperti anak tangga. merokok. Insiden dan prevalensi demensia vaskular dilaporkan berbeda-beda di berbagai negara.0 Demensia vaskular onset akut. (2) F01. sebagai berikut : 1) Adanya demensia yang ditetapkan dengan penurunan daya ingat yang disertai dengan dua atau lebih gangguan kognitif: orientasi. (4) F 03 Demensia yang tidak tergolongkan. diantaranya volume kehilangan jaringan otak. 3) Faktor non aterogenik. Listyo A. daya orientasi. 1991). penurunan mendadak fungsi kognitif.2000). Demensia vaskular merupak an suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindrom demensia akibat iskemik. perilaku sosial atau motivasi. tidak harus dengan gangguan memori yang menonjol (PERDOSSI. Mekanisme terjadinya demensia belum jelas s e p e n u h ny a . hipotesis neurotransmiter (Diaz. agnosia. dislipidemia. untuk penderita berpendidikan tinggi nilai di bawah 27 mengindikasikan gangguan kognitif. (b) Gangguan kognitif pada a1 & a2 menyebabkan gangguan fungsi sosial & okupasional yang jelas dan penurunan tingkat kemampuan sebelumnya yang jelas.. Pada Penderita lanjut usia pasca stroke. yaitu berkisar 2540%. praksia. fungsi eksekutif dan kontrol motorik. Pujarini 21 . B e b e r a p a h i p o t e s i s y a n g dikemukakan para ahli adalah : hipotesis genetik. gangguan funfsi eksekutif. 2004). penyakit jantung.2 Demensia vaskular subkortikal. Sardjito Jogjakarta Untuk menentukan demensia vaskular. anoksia atau hipoksia otak. Kriteria diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV: (a) Adanya gangguan kognitif multipleks yang dicirikan oleh 2 keadaan berikut: 1) Gangguan memori.4 Demensia vaskular lainnya. (2) F 01 Demensia vascular. hipotesis vaskular dan metabolik. hipotesis infeksi dan toksik.(ICD-X) demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak. jumlah dan lokasi infark (Herbert et al. 2) Faktor aterogenik ( hipertensi. Nilai maksimal 30.

(ed). X. Kaye. The Essential Brain. & Rossor. Small S. M.. http://www. 1999. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apak ah didapatk an adanya hubungan antara profil lipid yang abnormal dari semuanya komponennya (kolesterol total. & Maeyeux R. Tahun 2009 . Cerebral blood flow in Dementia. 1991. Typical Clinical Features. E.G. Hachinski. google.Tabel 1.Ltd 35-50. Nomor 2. Text Book of Medical Physiology. L.. maka didapatkan keterbatasan-keterbatasan. HDL. Vascular Dementia: Diagnostic Criteria for Research Studies. Guyton. Neurology. NINDS-AIRENS International Workshop. 34: 1217-21. Ilif.. JAMA.pp: 188-193. T.. 1998. kadar trigliserid tinggi.. New York. Tang M. V.C. 43 (2): 250-60. W.. Merchant C.N. Bell K. dan kadar HDL rendah juga dijumpai pada hampir setengah Subyek) .. Sounders co Japan. Madrid Dunitz . A. Low Density Lipoprptein Cholesterol and the Risk of Dementia With Sroke. 1996. Volume 1. 7th ed. Merck.W. London: Martin-Diaz.B. Daftar Pustaka Bouchad.. dan ternyata sebagian besar Subyek dalam penelitian mempunyai nilai profil lipid yang abnormal ( kadar kolesterol total tinggi. Arch Neurol. 1986. 22 Biomedika.. Clinical Diagnosis and Managemen of Alzheimer's Disease.. Karena penelitian ini hanya merupakan penelitian deskriptif dengan melihat catatan medis dan terbatas dalam rentang waktu tertentu. R. & Zihlka. LDL & Trigleserid) dengan kejadian demensia pada Penderita stroke.. Arch Neurol. A.C. 1975.. Klasifikasi LDL-C. American Heart Association.M. 1991.D.J. Herbert R et al. 32(9): 632-7. Kolesterol total dan Trigliserid menurut NCEP ATP III (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel). HDL-C.. Incidence and Risk Factors in the Canadian Study of Health an Aging. 2001 (mg/dl) LDL-C < 100 100-29 130-159 = 190 Kolesterol Total < 200 200-239 = 240 HDL C < 40 = 60 Trigliserid < 150 150-199 200-499 = 500 Optimal Hampir atau di atas normal Borderline high Very High Normal Borderline High High Low High Optimal Borderline high High Very High Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini merupakan kajian deskristif. Moroney. kadar LDL tinggi..com.. J. antara lain kelengkapan dalam penulisan rekam medis. Stern Y. 2000. Oldest-Old Healthy Brain Functio. 3: 1487-93. In: Gauthier S.

& Mayen.. Mechler. PERKENNI.. Konsensus Pengenalan Dini dan Penatalaksanaan Demensia Vaskular.. P. R.X. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Eur Arch-Psychiatry-Clin-Neurosci. X. 2004. 1993. Luchsinger. 241(1)5-11 Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. 1995. Pujarini 23 . Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Mellitus di Indonesia Reitz. F. Relation of Plasma Lipid & Alzheimer Disease and Vascular Dementia. L. M.. R..PERDOSSI. W... Toeng. Arch Neurol. C. 2004. Kinkel. Cognitif Impairment After Acut Supratentorial Stroke: a 6-month follow up Clinical and Computed Tomography Study. Fazekas. 61: 705-14. & Freidl... J. Schmid.

Volume 1. Tahun 2009 . Nomor 2.24 Biomedika.

and 12683. 1991). known as basal H+ consentration . the AUC0-80 was calculated and analyzed by ANOVA. and to compare the effect of both extract on rat gastric acid secretion in vitro. The perfusate was allowed to flow continuously.8 mg/kgBW).65 in DMSO group.33 ± 760. Oleh karena itu.70 in control group (saline). a seeded banana. Namun. 5650 ± 3191. after which the treatment (histamine 10-6 M) was added to the unbuffered solution in each group. Keywords : musa balbisiana molla. selain harganya yang tidak murah (Dollery.The aim of his study is to determine the effect of the seed of ripe kluthuk banana (musa balbisiana colla) etheric and ethanolic extract.7 mg/kgBW. Sekresi asam lambung dikontrol oleh 3 agonis utama yaitu histamin. This study was conducted using isolated Wistar rat stomach.28 in cimetidin group.002 N using phenolftalein as indicator. etheric extract.36 in AESRKB III group (equivalent to 34. -1333. The H+ consentration elevation was expressed as mean ± SEM. according to the methods modified from Barocelli. dan famotidin).33 ± 968. pankreatitis akut. asetilkolin. The stomach was taken and suspended in an organ bath containing 37°C buffered serosal solution and bubbled with carbogen.Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari E mail: do_must@yahoo. 8516. masyarakat Domas Fitria Widyasari 25 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro .94 in EESRKB III group (equivalent to 7. histamine. 1964).45 in AESRKB II group (equivalent to 17. Pretreatment was added to the unbuffered mucosal solution for 30 minutes. The statistical analysis showed that the AUC0-80 of EESRKB and AESRKB were significantly (p<0. sekresi bikarbonat. Is the active compound hydrophylic or hydrophobic has not been known yet.92 mg/kgBW.33 ± 80. anesthetized with ether inhalation. The isolated preparation was stabilized for 1 hour and perfusate spilled out. has been studied for its ability to reduce gastric acid secretion. Obat yang mengurangi sekresi asam lambung sebagai terapi ulkus peptik dapat dikelompokkan ke dalam golongan antasida (Al(OH)3 dan Mg(OH)2).67 ± 3444. mukus.05) than those of AESRKB II. They were divided into 9 groups (6 rats each). Perfusate from gastric lumen were collected every 10 minutes untill 80 minutes and H+ consentration were measured by mean of titration. The rats were fasted and drinking water was given ad libitum for 24 hours before testing. 4500 ± 2819. It was concluded that the etheric and ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana (Musa balbisiana Colla) showed an inhibitory effect on rat gastric acid secretion induced by histamine. 141. The gastric lumen was perfused continuously with unbuffered mucosal solution 1 ml min-1 and bubbled with 100% O2. dan gastrin. penyekat reseptor Histamin H2 (simetidin. 1998).84 mg/kgBW).05) than those of AESRKB III. Fifty four rats (3-4 month) of 150-250 g were used in this study. the AUC0-80 of EESRKB II were significantly higher (p<0. The rats were weighted.com Abstract Kluthuk banana (musa balbisiana colla). Ulkus peptik yang masih sering ditemui di masyarakat terjadi karena ketidakseimbangan faktor agresif berupa meningkatan volume asam lambung. gastric acid secretion. ranitidin. and the ethanolic extract showed an inhibitory effect more than those of etheric extract. and collected for 10 minutes duration. pepsin dan infeksi Helicobacter pylori dengan faktor defensif berupa integritas mukosa lambung. and then sacrified. and the AUC0-80 of EESRKB III were not significantly different (p>0.05) lower than those of control solution (except EESRKB II). nefritis interstisial. The H+ consentration was measured by titration with NaOH 0. agranulositopenia dan trombosito-penia.67 ± 3659. ethanolic extract Pendahuluan Tukak lambung atau ulkus peptik merupakan keadaan kontinuitas mukosa lambung terputus (Laurence. dan prostaglandin (Price. the AUC0-80 of EESRKB I were not significantly different (p>0.22 in ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (AESRKB I group) equivalent to 8. dan penghambat pompa proton (Atman. obat-obat antiulkus di atas mempunyai efek samping yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumor karsinoid.69 mg/kgBW). -5883.The result showed that the total area under curve (AUC0-80) of H+ consentration was 14550 ± 692.4 mg/kgBW).62 in etheric extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (EESRKB I group) equivalent to 1. 1994). pelapis dan pelindung permukaan mukosa (sukralfat). -1116.64 in EESRKB II group (equivalent to 3.67 ± 2838.05) than those of AESRKB I.

terhadap sekresi asam lambung tikus putih in vitro.8 mg/kg dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK III). Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. (1963) dan Elliot & Heward (1976) menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan produksi asam lambung dan menyembuhkan ulkus lambung. (1997) yang dimodifikasi sejak tikus dianestesi. Secara tradisional. Pengelompokan ini berdasarkan jenis praperlakuan yang diberikan. pisang (Musa) telah dikenal masyarakat sebagai buah yang enak dimakan dan sebagai obat tradisional (Depkes RI. diare. kemudian diberi perlakuan dengan histamin 736. Kelompok I (kelompok kontrol negatif garam fisiologis) diberi praperlakuan dengan larutan unbuffered mucosal. Lumen lambung selalu diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml/menit dan diberi gelembung O 2 100%.4 µg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal.84 mg/kgBB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK II). Penelitian yang dilakukan Sholikhah (2000) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001) menyatakan bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk muda mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Volume 1. kemudian lambung tikus diangkat dan dipasang pada organ bath yang berisi larutan buffered serosal pada suhu 37Í dan C dialiri gas karbogen (O2 95% dan CO2 5%). Material dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih atau rat (Rattus norvegicus) galur Wistar jenis kelamin betina dan jantan yang sama jumlahnya dengan umur 3-4 bulan. kelompok III dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. Penelitian Sanyal et al. Semua tikus dipilih acak dan dibagi 9 kelompok.69 mg/kg BB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK III). Kelompok IX (kelompok DMSO) diberi praperlakuan dengan dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. kelompok VIII (kelompok kontrol positif ) diberi praperlakuan dengan simetidin dalam unbuffered mucosal. masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (3 ekor jantan. dan berat 150-250 g sebanyak 54 ekor. Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur dengan menggunakan NaOH 0.mulai mencari alternatif pengobatan ulkus peptik dari obat-obat tradisional yang lebih murah dengan efek samping yang minimal. 1982). 26 Biomedika. Total luas area di bawah kurva menit ke-0 sampai menit ke-80(AUC 0-80 ) dihitung dan dianalisis menggunakan analisis varian.4 µg/kgBB dalam unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi H+ asam lambung.7 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK I). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk. kelompok VII dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang 34. Nomor 2. dianestesi. cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi H+ nya dengan titrasi. Selama diberi perlakuan. kelompok II dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Tahun 2009 . pada penelitian ini diganti dengan tetesan. dan untuk pengobatan radang amandel (Sudarsono.002 N dengan indikator fenolftalein. Pisang dapat digunakan sebagai obat sakit perut (sariawan perut dan maag). kelompok VI dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. serta membandingkan keduanya. kelompok IV dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Lalu masukkan bahan uji ke dalam larutan unbuffered mucosal untuk perfusi selama 30 menit. Tikus ditimbang. Uji ini menggunakan metode menurut Barocelli et al.2 % v/v dalam unbuffered mucosal. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi H+ basal. Penelitian dengan menggunakan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk belum pernah dilakukan.4 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK II). mengobati luka. Modifikasi berupa penggantian system pengaliran larutan garam fisiologis (unbuffered mucosal) ke dalam lumen lambung tikus yang semula menggunakan pompa peristaltik. kelompok V dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. Tikus tersebut kemudian dipuasakan 24 jam sebelum percobaan dengan tetap diberi air minum secukupnya. 2002).92 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EEBPK I). 3 ekor betina). Peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dinyatakan dalam mean ± SEM. Kemudian semua kelompok diberikan perlakuan dengan histamin 736. Penelitian Tjandrasari (1991) menunjukkan bahwa ekstrak air dan alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dapat menyembuhkan ulkus lambung tikus yang ditimbulkan oleh aspirin.

62 93.53 53.25 -20.00 ±0.33 ±44.51 -20.33 ±49.00 ±41.67 ±9.33 ±49.75 -23.33 23.00 263.67 ±21.27 40.89 -13.00 ±7.44 -110.33 ±50.00 ±53.40 -20.67 ±50.33 ±72.00 ±29.67 ±33.71 60.48 6.00 ±69.00 156.15 73.16 103.67 ±54.76 -13.95 51.29 -133.67 ±6.56 -13.00 ±42.00 213.98 35.33 ±44.33 ±19.55 93.16 10.67 ±99.30 2 86.33 ±54.00 ±0. Rerata peningkatan konsentrasi H+ (µEq) pada perfusat cairan lambung tikus putih (mean + SEM) sesudah perlakuan dengan histamin 736.33 ±48.33 ±50.36 -3.67 ±44.33 ±4.33 ±41.00 ±0.00 ±10.33 ±15.4 µg/kgBB tiap 10 menit pada seluruh kelompok praperlakuan Kelompok Garam Fisiologs EEBPK I EEBPK II 1 50.15 10 menit ke4 186.89 3 110.97 -23.89 -3.33 ±14.33 ±20.00 96.67 ±12.47 40.42 -10.67 ±9.58 26.02 73.00 ±6. Tabel 1.85 5 250.33 ±15.28 170.33 +45.19 0.22 -20.00 276.00 293.00 ±117.33 ±69.83 0.33 ±47.00 ±0.09 8 316.33 ±37.00 ±35.67 ±21.00 ±0.37 -13.00 ±54.67 ±9.30 23.65 166.00 ±32.55 -20.33 ±19.61 88.33 ±49.33 ±52.57 270.25 3.28 7 313.00 ±9.55 -123.08 -133.33 ±48.83 -16.30 -23.25 100.20 6 300.Hasil Penelitian Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.33 ±55.36 226.26 -20.86 73.33 ±43.00 ±11.67 ±82.67 ±14.77 76.33 ±42.67 ±15.77 113.29 53.22 66.10 46.00 ±88.00 ±6.00 ±0.77 -20.83 -16.33 ±45.23 -16.62 20.00 ±4.85 -123.00 ±6.00 ±42.55 EEBPK III EABK I EABPK II EABPK III Simeti din DMSO Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 27 .33 ±137.23 60.33 ±72.67 ±42.67 ±38.

69 mg/kgBB (EEBPK III). Volume 1. Sedangk an grafik rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dari menit ke-10 sampai pada menit ke-80 pada semua kelompok praperlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Gambar 1. Pada 10 menit ke-6 menunjukkan kenaikan yang konstan (p>0.8mg/kgBB. Tahun 2009 .4 mg/kgBB (EABPK II). EABPK III= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 34. EABPK II= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17.2% v/v dalam larutan unbuffered mucosal. 3.Gambar 1. Simetidin= simetidin 27 mg/kgBB. EEBPK I= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1.4 mg/kgBB. Rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin 736. 28 Biomedika.92 mg/kgBB.05) sampai pada 10 menit ke-8. EEBPK III= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7.4 µg/kgBB Keterangan: Kontrol= larutan garam fisiologis unbuffered mucosal.92 mg/kgBB (EEBPK I). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya yaitu Barocelli (1997) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001). 7.4 µg/kgBB pada semua kelompok praperlakuan. Tabel 1 menyajikan rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung tikus putih (mean + SEM) tiap 10 menit sesudah perlakuan dengan histamin 736.05) dari 10 menit pertama berturut-turut sampai 10 menit ke-8.84 mg/kgBB (EEBPK II).8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan kenaikan yang bermakna (p>0. 17.7 mg/kgBB (EABPK I).69 mg/kgBB. Nomor 2. DMSO= dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. EEBPK II= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa histamin dapat meningkatkan sekresi H+ asam lambung. dan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.7 mg/kgBB. Tampak rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih pada kelompok kontrol negatif garam fisiologis meningkat (p<0.84 mg/kgBB. 34.05) mulai dari 10 menit pertama setelah perlakuan dengan histamin. EABPK I= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. Peningkatan konsentrasi H+ per 10 menit pada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.

5.65 Tabel 2 menunjukkan luas area di bawah kurva / Area Under Curve (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ perfusat cairan lambung tiap tikus pada seluruh kelompok yang ditimbulkan oleh histamin in vitro. Mean SEM KON TROL 15700 15500 13200 15700 15500 11700 14550 692. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. dan 7.45 EABPK III 14600 -1600 -6700 -700 -2500 -9800 -1116.62 EEBPK II 11900 -1400 21600 -1400 7300 13100 8516. dan 34. Luas area di bawah kurva (AUC0-80) pada perfusat cairan lambung tiap tikus putih pada seluruh kelompok sesudah perlakuan dengan histamin 736.92 mg/kgBB.28 DMSO 13400 16600 12200 13300 10700 9900 12683. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 1.67 3444. 3. Semakin tinggi nilai AUC0-80.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.92 mg/kgBB (EEBPK I) dan 7.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.33 760. Gambar 2.8 mg/kgBB (EABPK III) lebih rendah (p<0.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih rendah (p<0.4 µg/kgBB in vitro pada seluruh kelompok praperlakuan Gambar 2 menyajikan mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.69 mg/kgBB. dan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 7.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak berbeda bermakna (p>0. 2. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.94 EABPK I 13700 12900 1400 1200 -1200 -1000 4500 2819. 4.67 3659.64 EEBPK III 200 500 3000 15300 15900 -1000 5650 3191. serta ekstrak etanol Domas Fitria Widyasari 29 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro .33 968.Tabel 2. 6.70 EEBPK I 2100 700 1350 -12100 -600 9400 141.4 mg/kgBB (EABPK II).36 SIMETIDI N -1100 -1100 -1300 -1500 -1500 -1500 -1333.67 2838. Nilai AUC menggambarkan jumlah konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih dari 10 menit pertama sampai 10 menit ke-8 (AUC0-80).4 µg/kgBB in vitro Kelompok Tikus 1. Mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.33 80.4 µg/kgBB invitro pada seluruh kelompok praperlakuan. 17.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.22 EABPK II -5600 -6900 -6900 -7800 -5600 -2500 -5883.7 mg/kgBB (EABPK I). maka semakin besar konsentrasi H+ di dalam cairan perfusat preparat lambung tikus putih tersebut.

Pembahasan Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.84 mg/kgBB (EEBPK II). Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.69 mg/kgBB. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang Biomedika. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.8 mg/kgBB (EABPK III).4 mg/kgBB (EABPK II) dan 34.84 mg/kgBB (EEBPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0.4 mg/kgBB (EABPK II). dan 34. Tahun 2009 .7 mg/kgBB (EABPK I). ekstrak etanol dosis 17. dan ekstrak etanol dosis 34.05). ekstrak etanol dosis 17.4 mg/kgBB (EABPK II) dan tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.7 mg/kgBB.84 mg/kgBB dapat menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 17.7 mg/kgBB (EABPK I) lebih tinggi (p<0. sedangkan ekstrak eter dosis 3.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. Hal ini sesuai dengan Altman (1998) yang menyatakan bahwa simetidin mengurangi sekresi asam lambung karena simetidin merupakan antagonis reseptor histamin yang bekerja berkompetisi secara reversibel dengan histamin pada reseptor H2. Hasil ini menunjukkan bahwa simetidin mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.8 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesalahan teknis di dalam penelitian Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1. Nilai AUC0-80 kelompok simetidin lebih rendah (p<0. dan mempunyai kemampuan yang sama dengan ekstrak eter dosis 7.92 mg/kgBB (EEBPK I) lebih rendah (p<0. dan ekstrak etanol dosis 34.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan ekstrak eter dosis 7.92 mg/kgBB (EEBPK I). Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 30 dosis 17.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis. tetapi tidak signifikan.4 mg/kgBB (EABPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.92 mg/kgBB (EEBPK I). Ekstrak eter dosis 3.05) daripada kelompok simetidin. Sedangkan ekstrak etanol dosis 17. Hal ini mendukung hasil penelitian Sholikhah dan Ngatidjan (2001) yang menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh aspirin. 17. Nomor 2.7 mg/kgBB (EABPK I).4 mg/kgBB (EABPK II).05) dibandingkan dengan kelompok simetidin.69 mg/kgBB (EEBPK III).dosis 8.84 mg/kgBB. sedangkan bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.84 mg/kgBB dan 7.69 mg/kgBB mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.4 mg/kgBB.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sama kuatnya dengan simetidin 27 mg/kgBB. ekstrak etanol dosis 8. Volume 1.69 mg/kgBB (EEBPK III) menunjukkan hasil yang tidak berbeda (p>0.8 mg/kgBB (EABPK III). ekstrak etanol dosis 8. Nilai AUC0-80 pada kelompok EEBPK I menunjukkan nilai yang ekstrim bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan lain.4 mg/kgBB (EABPK II) .92 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang lebih kuat daripada ekstrak eter dosis 3.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih tinggi (p<0.7 mg/kgBB (EABPK I) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro yang lebih lemah daripada ekstrak etanol dosis 17.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan 7. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 8. Ekstrak eter dosis 3. sedangkan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.69 mg/kgBB (EEBPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ lebih lemah daripada simetidin 27 mg/kgBB.

Jakarta: Depkes RI Dollery SC.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 34. Das PK.4 µg/kgBB in vitro. Pharmacol. Banana and experimental peptic ulcer. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Volume 1. 1964. Study of antisecretory and antiulcer mechanism of new indenopiridazinone in rats. J. menyembuhkan ulkus serupa yang sudah ada. Banana and restrain ulcer in albino rats (letters to the editor). 1976. Saran Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak-ekstrak lain biji pisang kluthuk terhadap s e k re s i a s a m l a m b u n g ( H + ) d a n p e r l u penambahan jumlah sampel (hewan coba) penelitian. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. 1991. Kemungkinan besar zat aktif yang berefek penghambatan sekresi asam lambung bersifat hidrofilik. Gupta KK. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 1 pisang. Jakarta: EGC Sanyal AK. Simpulan dan Saran Simpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Pharmacological Research Communication 8(2): 167-71 Laurence DR and Bocharah AL.92 mg/kgBB (EEBPK I) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. 1963. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. sedangkan ekstraksi dengan eter menyarikan zat aktif yang larut dalam lemak. Edisi II. Pharmacol 15: 775-6 Sanyal AK. 7th ed. Res. Vianello P. East Notwalk: The Appleton & Lange: 1017-29 Barocelli E. 1963. Pemanfaatan Tanaman Obat. Dal Piaz V dan Impicciatore M. Daftar Pustaka Altman D. 1994. 2. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan ½ pisang.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Buah pisang kluthuk muda dapat mencegah timbulnya ulkus lambung tikus akibat pemberian salisilat.7 mg/kgBB (EABPK I). 1982. J.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin 736. dengan mengingat bahwa ekstraksi dengan etanol menyarikan zat aktif yang larut dalam air dan lemak. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Drugs used in gastrointestinal disease. Ballabeni V. Edisi 4. Therapeutic Drugs. dalam Katzung. Banerji CR. Pharm. B. 35(5): 487-92 Depkes RI. dan dapat mengurangi volume sekresi asam lambung seperti halnya simetidin. Chiavarini M. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Tjandrasari (1991) dan Sholikhah (2000) yang menunjukkan bahwa pisang kluthuk mempunyai efek mencegah dan menyembuhkan ulkus lambung tikus yang disebabkan aspirin. The influence of banana supplemented died on gastric ulcers in mice.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 17. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 3.G. New York: Churchill Livingstone Elliot RC and Heward GJF. Barlocco D.84 mg/kgBB (EEBPK II) lebih tinggi (p<0. Perbandingan efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk dihitung berdasarkan nilai AUC0-80 pada kedua jenis ekstrak dengan dosis yang bersesuaian.4 mg/kgBB (EABPK II). ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang lebih lemah daripada ekstrak etanol. Chowdhury NK. London: Academic Press Price SA.menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin in vitro seperti halnya simetidin.8 mg/kgBB (EABPK III). Nilai AUC00-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 7.. Pharmacol 15: 283-4 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 31 . (Editor): Basic and Clinical Pharmacology. 1998. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 2 pisang. 1997. Ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk menunjukkan efek yang lebih besar daripada ekstrak eter. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan efek penghambatan sekresi asam lambung yang lebih kuat daripada ekstrak eter. Pharm.

Banana and gastic secretion (letters to the editor). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 32 Biomedika. Pengaruh ekstrak pisang kluthuk (Musa brachycarpa Beck) terhadap ulkus lambung tikus karena salisilat. Pramono S. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada Tjandrasari S. Tesis Program Pasca Sarjana. Gunawan D. Cara kerja ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dalam mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro.Sanyal RK. Sinha S. Skripsi Fakultas Farmasi. Mediagama 2(3): 14-9 Sholikhah EN. 1991. Volume 1. 2001. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudarsono. Pharmacol 13: 318-9 Sholikhah EN dan Ngatidjan. Wahyuono S. Ngatidjan. Tumbuhan Obat II (hasil penelitian. Donatus IA. 2000. 2000. Nomor 2. Berkala Ilmu Kedokteran 33(2): 77-82 Sholikhah EN. Sinha YK. sifatsifat dan penggunaan). Efek ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin in vitro. Efek ekstrak alkohol daging buah dan biji pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih in vitro.dan Purnomo. 2002. Tahun 2009 . Pharm. J. 1961. Das PK.

dengan membandingkan hasil observasi pada Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. P2 and P3 (p=0. P1 and P2 (p=0.Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M.8 ml/day (± 140 ìg extract). 2002) Proliferasi limfosit T yang dirangsang oleh antigen. E mail: kedokteran@ums.009). dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya (Sepgana.009).7 Folikel limfoid lien kaya dengan sel B yang berperan dalam respon imun humoral. Saifulhaq M.ac. Aktivasi dan proliferasi sel T di lien terjadi di selubung limfoid periarterioler lalu terjadi migrasi ke zona marginalis. yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Akhir-akhir ini semakin banyak masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif karena harganya yang relatif murah dan manfaatnya memuaskan (Hartati. dengan randomisasi sederhana.009). An experimental study with the post-test only control group design was carried out on experiment animal BALB/C mice.917).id Abstract Mahkota dewa (Phaleria papuana) fruits consists of chemicals that are able to increase lymphocytes proliferation. K and P4 (p=0.028). Buah mahkota dewa mengandung zat kimia antara lain alkaloid.012).5 ml/day (± 280 ìg extract). The objective of this study was to show the influence of Mahkota dewa's fruits extract in spleen lymphocytes proliferation of BALB/C mice. P2 was group given mahkota dewa extract 0. and P4 was group given mahkota dewa extract 1. Saifulhaq M.009). On the giving of mahkota dewa's fruits extract there were significant increase of lymphocyte proliferations on BALB/C mice on P1 and P2 groups. dan senyawa resin. P2 and P4 (p=0. tannin. P3 and P4 (p=0.675). consisted of 25 male mice which devided into 5 groups. K and P2 (p=0. Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas pengaruh buah mahkota dewa dalam memodulasi sistem imun sehingga dapat menjadi tambahan informasi dalam pertimbangan konsumsi tanaman obat. terutama di daerah pulpa putih. Penelitian terbaru menunjukkan proliferasi limfosit T juga dapat terjadi tanpa melalui IL-2. 2005). Lymphocytes from the spleen of all mice were isolated after 2 weeks treating.4 ml/day (± 70 ìg extract). K was control group without treatment with mahkota dewa extract. Menggunakan 5 kelompok. But there were not on P3 and P4 ones. Penilaian dilakukan hanya pada saat post test. sedangkan pada kulit buahnya terkandung zat flavanoid. Keywords: lymphocyte proliferation. Penelitian membuktikan bahwa secara laboratoris senyawa flavonoid dapat meningkatkan produksi IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit (Lisdawati. 2000) Lien merupakan salah satu organ limfoid sekunder yang di dalamnya terdapat limfosit T maupun limfosit B. dan sebagian lainnya akan bersirkulasi ke darah perifer. terpenoid.917). terutama diatur oleh pengaruh IL-2 terhadap reseptor IL-2 yang dimiliki pada permukaan selnya. Mahkota dewa yang digunakan biasanya dicampur dengan berbagai bahan lain dalam satu ramuan dimana untuk setiap penyakit tidak sama. saponin. There were significant differences in lymphoblasts count between K and P1 (p=0. Selain itu. P1 and P4 (p=0. whereas P1 was group treated with mahkota dewa extract 0. mahkota dewa Pendahuluan Mahkota dewa atau Phaleria papuana merupakan tanaman obat tradisional yang banyak dipergunakan masyarakat untuk berbagai penyakit dan penambah stamina pada orang sehat. IL-2 juga merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B dan NK (Natural Killer). 2003) Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the post test only control group design. misalnya melalui IL-4 (Middleton. Lymphoblasts were counted in every 200 cells.028). P1 and P3 (p=0. Sebagian kecil sel T yang teraktivasi masuk ke dalam folikel limfoid. P3 was group given mahkota dewa extract 0.2 ml/day (± 35 ìg extract). 33 . And there were no significant differences in lymphoblasts count between K and P3 (p=0.

5 12.8 + 3.8 ml/sonde/hari Perlakuan 4 (P4): diberi ekstrak mahkota dewa 1.4 + 4.11 24. Tiap kelompok mencit mendapatkan pakan standar dan minum yang sama secara ad libitum.5 27 22 20. Lima kelompok mencit tersebut adalah : Kontrol (K) : diberi aquades namun tidak diberi ekstrak mahkota dewa.8 + 4. yaitu uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney U. lalu dibuat persentasenya. setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu.6 + 6. 1 Grafik rerata jumlah limfoblas 34 Biomedika.4 ml/sonde/hari Tabel. Hasil Penelitian Hasil persentase jumlah limfoblas dalam 200 sel (limfosit dan limfoblas) semua kelompok ditampilkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Nomor 2.5 16.5 36.5 + 4.5 41 33 37.5 ml/sonde/hari Mencit dibunuh untuk dilakukan pengambilan/isolasi splenosit (lien).kelompok perlakuan dan kontrol. Analisa statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 5 ekor per kelompok.5 31.5 Gambar.5 14 16. Sehingga jumlah total sampel sebanyak 25 ekor. Volume 1.5 26 14 10. umur 8 minggu.2 ml/sonde/hari Perlakuan 2 (P2): diberi ekstrak mahkota dewa 0. serta antar kelompok perlakuan. dilakuk an pemeriksaan limfosit dengan menghitung jumlah limfoblas dalam 200 sel dari tiap preparat. Perlakuan 3 (P3): P2 26.5 15.34 P4 20 12. Setelah itu. masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor. Mencit BALB/C sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok. dan sehat. Tahun 2009 .5 28 15.23 P1 39. Sampel penelitian diambil secara acak (random) dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi sebagai berikut: mencit strain BALB/C jantan.5 10 13. Nilai signifikasi pada penelitian ini adalah apabila variabel yang dianalisis memiliki nilai p < 0. Perlakuan 1 (P1): diberi ekstrak mahkota dewa 0.05.1 Persentase jumlah limfoblas semua kelompok mencit No 1 2 3 4 5 Rerata + SD K 23.22 P3 20.5 19 16 16.33 diberi ekstrak mahkota dewa 0.

917). yaitu antara kelompok K dengan P1 (p=0.917 0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.028).028).009* P2 P3 P1 P2 P3 P4 * Bermakna 0.2 ml/hari dan 0. Begitu juga antara kelompok P3 dengan kelompok P4 (p=0. Saran Perlu dilakuk an penelitian yang menghubungkan tingkat toksisitas buah mahkota dewa dengan dosis ekstrak yang diberikan.8 ml/hari dan 1.5 Hal inilah yang mungkin menyebabkan peningkatan jumlah limfoblas secara bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. Demikian juga antara kelompok yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.917) maupun dengan kelompok P4 (p=0.917 Selanjutnya pada uji Mann Whitney U (Tabel 2) dapat dilihat bahwa jumlah limfoblas pada kelompok K dibanding dengan kelompok P3 (p=0. Menurut penelitian Jiao et al.917). Sedangkan pada kelompok lainnya didapatkan perbedaan yang bermakna. Demikian juga antara kelompok yang mendapat ekstrak mahkota dewa 1. Pembahasan Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok mencit yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. Sedangkan kelompok K tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4.10 Adanya efek sitotoksik dan imunosupresan memungkinkan terjadinya hambatan terhadap proliferasi limfosit pada batas dosis tertentu. Hartati dkk (2002) membuktikan bahwa dalam mahkota dewa terdapat senyawa Phalerin yang mempunyai efek sitotoksik.675).009* 0. P3.675 P1 0. P3.009) dan P2 (p=0. Namun.009). Saifulhaq M. Dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok P3 dan P4. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. antara kelompok yang diberikan ekstrak mahkota dewa 0.8 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0. khususnya terhadap berbagai organ vital serta penelitian lebih lanjut untuk penggunaannya pada manusia sehat. maupun P4. perbedaan bermakna juga didapat antara kelompok P2 dengan P3 (p=0. Sedangkan kelompok P2 lebih besar dibandingkan dengan kelompok K.2 ml/hari selama 2 minggu dibanding dengan kelompok kontrol yang tidak diberi ekstrak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0. dan P4 ( masing-masing p=0.012) dan P4 (0. disebutkan bahwa senyawa flavonoid meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit.009* 0.05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna.009).5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0.012* 0.028).Dari Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase jumlah limfoblas pada kelompok P1 lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Selain itu. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pemberian ekstrak buah mahkota dewa didapatkan peningkatan proliferasi limfosit lien yang bermakna pada mencit BALB/C kelompok P1 dan P2.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.028* 0.002 (p<0. 35 .675) tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Tabel. juga antara kelompok P1 dengan kelompok P2. menyebutkan bahwa senyawa flavonoid selain mempunyai efek imunostimulan juga memiliki efek imunosupresan.028* 0.9 Middleton et al.009* 0. Uji Kruskal Wallis didapatkan hasil p=0. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. 2 Nilai p dari uji statistik Mann Whitney U jumlah limfoblas K 0.

) merr. P. Skrining fitokimia dan asam fenolat daun dewa/Gynura procumbens (Lour.tempointeraktif. 2000. Jakarta 36 Biomedika. Segi praktis imunologi. 1988. 2005. Majalah farmasi Indonesia. In: Cellular and molecular immunology. Kandaswami C. Universitas Indonesia. Mahkota dewa budi daya dan pemanfaatan untuk obat. Diakses 20 Oktober 2002 Middleton E. Influence of flavanoid of Astragalus membranaceus's stam and leaves on the function of cell mediated immunity in mice.P. 2003. Phalerin. Boerl. heart disease.52 (4): 673-751 Sepgana S. Diakses 20 Juni 2003 Weir DM. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.) toksisitas.mahkotadewa. 1990. 116-35. Hamann MT. Baratawidjaja K. JE.] leaves. Antigen presentation and cell antigen recognition. Yux. efek antioksidan dan efek antikanker berdasarkan uji penapisan farmakologi.nlm. 2003 Lisdawati V. Wahyuono S. Imunologi dasar. Wen J.com/VPC/vivi.] terhadap sel hela. The effects of plant flavonoids on mammalian cells:implications for inflammation. 3rd ed.asp?file=art-3. Efek sitotoksik ekstrak buah dan daun mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Sceff) Boerl. Sumastuti R. Pharmacological Reviews.ncbi.Accessed Juny 20. From : http://www. Mubarika S. 2000.htm. 1997. Simposium penelitian Tumbuhan obat III.nih. Jakarta Hartati MS. Gandjar IG. Pober JS. a new benzophenoic glucoside isolated from the methanol ectract of mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff ). Nomor 2.com/medika/online/i ndex-isi. and cancer. Philadelphia.15 Jiao Y. Rao KV. Lichtman AH. Available at: URL:http://www. Tahun 2009 . Binarupa Aksara.gov/pubmed. Ed 4. Penebar Swadaya. WB Saunders. Alih Bahasa: Suryawidjaja. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff ) Boerl. Theoharides TC. Iwang S. Volume 1.Daftar Pustaka Abbas A. Ganthina. Jakarta Winarto W. Cetakan 1. Jakarta. Available at: URL:http://www. M Sonlimar.

biodegradable. kitosan tidak dapat dicerna sehingga tidak memiliki nilai kalori. dan mengurangi estetika lingkungan (Manjang. Laboratorium Biomedik III. Shoim Dasuki. Hal ini berarti bahwa kepala. 2004). whereas the negative control treatment with all groups is different (ñ<0. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi. Pada obesitas terjadi akumulasi energi tubuh yang berlebihan dalam bentuk trigliserida (Gibney. The results showed that positive control group with all the variations dose chitosan is not different (ñ>0. maka diharapkan dapat turut membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang. Fakultas Kedokteran.05). Nurina Risanty 37 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) . and 5500 mg group. 2002). Dengan demikian. strain Wistar. kitosan potensial untuk dijadikan sebagai obat penurun lemak (Rismana. 2001). so capable of preventing absorption body fat. 1997). Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. Cara yang efektif untuk mengurangi kandungan kalori dari suatu diet menurunkan asupan lemak (Wardlaw dan Smith. chitosan dose of 3500 mg. dan biodegradabel (Shepherd dkk. Subjek Penelitian 1. ekor. Limbah udang tesebut dapat menjadi masalah pencemaran lingkungan. Keywords: chitosan. This study aims to determine the effect chitosan to the triglyceride plasma level of white mouse. This study is laboratory experimental. The effective dose is the 3500 mg. 4500 mg. Banyaknya sampel 25 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. Material dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakuk an adalah eksperimental murni (Murti. berumur kira-kira 2 bulan dengan berat badan antara 100 200 gram. dan kulitnya. Universitas Muhammadiyah Surakarta. menimbulkan bau. chitosan is able to decrease the triglyceride plasma level of white mouse (Rattus norvegicus) in second week. The sample consists of a negative control group. dan kulit udang menjadi limbah. Saat ini. (Nammi dkk. Shoim Dasuki. penulis ingin meneliti apakah kitosan olahan kulit udang putih mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. positive control group (Simvastatin). Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang telah dibuang kepala. The conclusion. Budidaya udang di Indonesia telah berkembang pesat. Sifat kitosan yang lain adalah mempunyai daya pengikatan lemak yang lebih tinggi dibandingkan serat lain sehingga mampu menghambat absorpsi lemak tubuh (Silvani. ekor. Nurina Risanty E mail: m_shoim@ums.Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) M.ac. 2006). Dan bagaimana efektivitas variasi dosis kitosan terhadap penurunan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. plasma of white mouse (Rattus norvegicus) Pendahuluan Salah satu penyebab obesitas yang saat ini dianggap sebagai penyakit kronis dunia modern adalah hasil dari pilihan gaya hidup yang banyak mengonsumsi lemak berlebihan dan sedikit olahraga. and have power fastening fat is higher than other fibers. bersifat non toksik. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih: M. 1993). Dalam penelitian ini. 2006). Kitosan olahan kulit udang putih adalah senyawa alami (aminopolisakarida) yang diperoleh melalui proses deasetilasi basa pada kitin. 2. pembuatan k itosan banyak diusahakan masyarakat dengan menggunakan cangkang Crustaceae sp yang merupakan sumber utama zat kitin (Schiller dkk.05). Dengan penggunaan kitosan yang merupakan hasil olahan dari udang tersebut.id Abstract Chitosan is a natural compound (aminopolysaccharide) earned through a process deacetylation base on chitin derived from processed shrimp white skin. are non-toxic. 2001). triglyceride. Seperti serat tanaman. 2004).

3. Untuk mengetahui perubahan kadar trigliserid dilakukan perhitungan selisih dari waktu ke waktu. Data yang didapat dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dengan derajat kemaknaan p = 0. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 25 ekor dari strain yang sama yaitu wistar. Berdasarkan data di atas kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis antara kelompok 1 hingga kelompok 5. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok. Variabel bebas : Kitosan 2. Dapat dikendalikan : makanan. b Tidak dapat dikendalikan :gangguan fungsi empedu dan lipase. Hasil penimbangan berat badan tikus dianalisa secara statistik dan didapatkan rata-rata berat badan tikus. Tahun 2009 . didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel 2. Rata-rata berat badan tikus dapat dilihat pada Tabel 1. mulai minggu ke1 hingga minggu ke-2. Masing-masing kelompok berisi lima ekor tikus. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol negatif.Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok kontrol negatif. u n t u k m e l i h a t d a n membandingkan penurunan kadar trigliserid antara dua kelompok perlakuan. Pada minggu ke 4 trigliserid turun. Dari perhitungan tersebut. Semua tikus putih ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan penelitian untuk menentukan dosis lemak kambing dan kitosan yang diberikan. Volume 1. 38 Biomedika. Dari uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji M a n n W h i t n e y U. Kadar trigliserida pada kelompok 1 hingga 5 saat minggu ke 1 hingga minggu ke-4 terus meningkat.05) terhadap berat badan tikus antara kelompok 1 hingga kelompok 5. Nomor 2. kelompok 5 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 5500 mg.068 berarti tidak ada perbedaan bermakna (p>0. Tingkat probalitas dari dua kelompok tikus dapat dilihat pada tabel 2. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik III. kecuali pada kelompok 1 (kontrol -).05. Fakultas Kedokteran UMS pada bulan Maret Mei 2009. berumur kira-kira 3 bulan. Dari uji tersebut didapatkan hasil p=0. kelompok 4 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 4500 mg. kelompok 3 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 3500 mg. Variabel terikat : Kadar trigliserida plasma tikus putih. kemudian kadar trigliserida plasma diukur dan didapatkan hasil yang dapat dilihat pada gambar 1. Setiap kelompok ditempatkan pada kandang yang berbeda dan mempunyai faktor lingkungan (suhu dan kelembapan) yang sama agar faktorfaktor luar yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat ditekan seminimal mungkin. Selanjutnya perlakuan terhadap tikus diberikan pada kelompok 1 hingga 5 mulai dari minggu pertama perlakuan hingga minggu ke empat. genetik. tidak diberi kitosan : kelompok kontrol positif. diberi obat antilipidemia Simvastatin : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 3500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 4500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 5500 mg/hari : Identifikasi Variabel Penelitian 1. kelompok 2 merupakan kelompok kontrol positif. Variabel luar : a.

05 0.2 KELOMPOK V KONTROL (+) 142 152 150 156 145 149 Gambar 1.Tabel 1.05 0.009 0. Perubahan trigliserida dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 Tabel 2.009 0.05 0.009 0.05 0.05 0.05 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 39 .108 0. Rata-rata berat badan tikus putih sebelum perlakuan KELOMPOK I NO (KITOSAN 3500 MG) 1 120 2 168 3 158 4 156 5 168 RATA2 154 KELOMPOK II (KITOSAN 4500 MG) 135 153 156 165 143 150.05 0.4 KELOMPOK IV KONTROL (-) 146 119 123 148 145 136.833 0.05 0.05 0.201 0.009 0.4 KELOMPOK III (KITOSAN 5500 MG) 130 147 123 129 133 132. Kelompok Kelompok + KontrolKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg KelompokKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 5500 mg N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Median 0.05 0. Hasil uji Mann Whitney U.140 0.231 0.156 p 0.

Horton. William F.A. Metodologi Penelitian. Jakarta: EGC. Oxford: Blackwell Science.A.Pembahasan Dari hasil statistik menggunakan uji Kruskal Wallis terhadap berat badan tikus sebelum perlakuan didapatkan hasil p= 0. Manjang. Mayes. Jogjakarta: UGM press.068.C. Buku Ajar Fisiologi Gybney. Jakarta: EGC. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Perubahan kadar kadar trigliserid dosis kitosan 3500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Kitosan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus) mulai minggu kedua setelah perlakuan.J. 4500 mg. D. 2006. L. dosis kitosan 5500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. 2003. K. Kedokteran. Oxford: Blackwell Science. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium murni sehingga setelah tikus putih diberi perlakuan. Hal ini dilakukan agar faktor gizi tidak mempengaruhi hasil penelitian. Kok. Biokimia Harper. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 4500 tidak terdapat perbedaan. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek kitosan terhadap kadar trigliserid plasma pada hewan coba yang lain. L. Simpulan dan Saran Simpulan 1. Murti. G. 1996. berarti tidak ada perbedaan bermakna (p> 0. Kitosan dengan dosis 3500 mg. Dian Rakyat. California: Benjamin Science Publishing. Nomor 2. A. 1998. 2004. K. M. H. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini kitosan d e n g a n b e r b a g a i d o s i s m e m i k l i k i e fe k menghambat absorbsi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus).. Daftar Pustaka Bray. Introduction to Human Nutrition.D.. Rohm. Hall. Jogjakarta: PT. M. J.. P. 2000. Dari data yang didapat. Dari hasil uji tersebut. 2. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. R.H. 4th ed. 2000. Oxford: Blackwell Science. Principles of Human Nutrition. F. S. Oxford: Blackwell Science Hardjito. Tahun 2009 . perbadaan kadar trigliserid plasma pada kelompok 1 sebagai kontrol negatif dengan semua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan. Principles of Biochemistry. 2000. Jakarta: EGC. 3. Kitosan. Jepang: Sukito. 1998.. dosis kitosan 4500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia.H.E. J. 3.. Dan Marks.J. Jakarta: UI-Press. 2002. 2002. 2. dosis kitosan 4500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. Koolman.C. Antara kelompok dengan berbagai dosis kitosan yang diberikan dan perlakuan dengan simvastatin sama-sama terdapat penurunan yang signifikan.B. Dosis kitosan yang disarankan untuk aplikasi klinis adalah dosis terkecil. Jakarta: EGC. Biomedika. Saran 1. Marks. kontrol negatif dengan kontrol positif terdapat perbedaan. Hirano. dosis kitosan 3500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. Volume 1. Bogor: IPB. 2003. Ganong. dosis kitosan 5500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. dilakukan pemeriksaan terhadap kadar trigliserida plasma plasma pada minggu ke-1 hingga ke-4. A. The Epidemic of Obesity. D. dilakukan perhitungan selisih kadar trigliserida masing-masing kelompok dari minggu ke minggu dengan melakukan uji Mann Whitney U. Prosiding Kitin and Kitosan. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis lemak yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan efek kitosan terhadap jenis lemak yang berbeda.. 1993. dosis kitosan 4500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Jakarta: Hipokrates. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. Macdiarmid. Marieb. Guyton. 1997. Eastwood. Limbah Udang. yakni dosis 3500 mg 40 yang sudah mampu menurunkan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Berdasararkan data penelitian. Vorster.05) antara masingmasing kelompok. Human Anatomy and Physiology. 2002. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar lebih mewakili populasi. E. Linder. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 5500 mg dapat menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Moran.

1995. Chitosan Funtional Properties. Oxford: Blackwell Science. P. Silvani.. M. 2001. Olefsky.D.A. 2000. 2006.D. Pittler. Oxford: Pergamon press. Surakarta. Sheperd. Wardlaw.. 1998. Schiller. The Potention of Shrimp Shell. Sodeman. Jakarta: EGC. Karya Tulis Mahasiswa UMS. Surakarta: Media Press. Smith. Sediaoetama. Hamid. 1997. S. Potensi Kitosan sebagai Produk Olahan Limbah Industri Udang di Bidang Kesehatan. Potofisiologi Kedokteran. Ilmu Gizi I. Surakarta.. 2000. Harrison Principles of Internal Medicine.M. U. Karya Tulis Mahasiswa UMS.M.. Potensi Kitosan Di Berbagai Bidang. Boston: Science Press. Oxford: Blackwell Science. G. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 41 . Kristianto. J. Dietary Suplement for Body-Weight Reduction. Nammi. U. 1999. 2006..H. dan Ambar Sulistyawan. A. John E.A. Reader. Imam Prayitno. Contemporary Nutrition.. 2004. 2001. R. Hidup Sehat di Era Millenium. A. Rismana. Chitin and Chitinase. Boston: McGraw Hill. Boston: McGraw Hill. Jakarta: Dian Rakyat.Muzarelli. M. R. Petter A.

Nomor 2. Tahun 2009 .42 Biomedika. Volume 1.

05) from the positive and negative controls. Conkey medias in the standard of 0. 43 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . Namun selain keuntungan yang dimilikinya. Menurut penelitian obat-obatan tersebut banyak digunakan karena keberadaannya yang mudah didapat. bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan seperti: efek farmakologisnya yang lemah. 2004). In conclusion. The first step is standardizing each of 24 hours-aged Staphylococcus aureus dan Escherichia coli on BAP and Mc. This research purposes to find out the existence and nonexistence of the impeding power of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacterias growth. Obat-obatan tradisional tersebut tidak hanya digunakan dalam fase pengobatan saja. Rahadiyan W. Bacterias which are used are Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 11229.com Abstract Cocor Bebek leaves (Kalanchoe pinnata) contains cinamic acid. while the researcher also places the oxoid disk containing the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) with 20%. Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. this research proves the existence of the antibacteria effect of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus growth in the concentrations of 80% and 100% and the nonexistence of the antibacteria effect on the Escherichia coli growth. the researcher analyzes the data using Mann-Whitney Non Parametry Test.Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalancho e pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas.2411 tanggal 17 Mei 2004). promotif dan rehabilitasi. melainkan juga digunakan dalam fase preventif. obat-obatan tradisional telah banyak digunakan dan menjadi budaya di Indonesia dalam bentuk ramuan jamu. Salah satu dari keanekaragaman hayati yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional adalah cocor bebek (Kalanchoe pinnata) Tanaman ini termasuk tanaman sukulen (mengandung air) yang berasal dari Madagaskar. After that. The research is laboratory experimental with the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) as the research subject. belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme serta adanya potensi toksisitas oleh toksik endogen yang terkandung didalamnya (Katno. escherichia coli Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat. obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis. cocor bebek leaves (kalanchoe pinnata). Keywords: ethanol extract. flavonoid. an amoxicillin antibiotic disk on Staphylococcus aureus and a chloramphenicol on Escherichia coli as a positive control. HK. ekonomis.05. Sejak ribuan tahun yang lalu.B. Then the researcher measures the impeding zone which is formed after the incubation on 370°C for 1x24 hours. The research method is Kirby Bauer by using an oxoid disk.. The result is that on the degrees of 80% and 100%. Rahadiyan W.5 Mc. antibacteria.4. alphatocopherol dan bufadienolide acid which are presumably able to impede a bacterial growth so that the ethanol extract of cocor bebek leaves are indicated having an antimicrobe effect. bahan baku belum terstandar. dan menurut penelitian memiliki efek samping relatif rendah serta adanya kandungan yang berbeda yang memiliki efek saling mendukung secara sinergis.00. sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. The researcher uses an empty oxoid disk as a negative control. 80% and 100% concentrations on the top of the plates. Staphylococcus aureus bacteria has a significant difference (p<0. 60%. E mail: pramuningtyas_dr@yahoo. 40%.Farland.B. Tanaman ini terkenal dik arenak an cara Ratih P. staphylococcus aureus. then smearing using a sterile cotton-rid on Muller Hinton media.

pinnata maka dilakukan determiansi tanaman di laboratorium Biologi FKIP UMS dengan menggunakan bahan acuan “Flora of Java” (Backer . 2005). Biakan bakteri : Staphylococcus aureus ATCC 6538. Eramkan selama 24 jam pada suhu 37°C hingga didapatkan koloni kuman. 4. 60%. tabung reaksi . 5. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini merupak an penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test design only karena peneliti memberi pelakuan terhadap subjek dan mengevaluasi hasil akhirnya. b. inkubator. disk oksoid kosong. Ambil 1 ose bakteri dari koloni kuman untuk masing-masing spesies kuman untuk kemudian masing-masing ditanam pada 0. 80%. Persiapan kontrol positif dan kontrol negatif Untuk kontrol positif terhadap kuman gram positif Staphylococcus aureus digunakan cakram amoksisilin 20 µg sedangkan kontrol positif terhadap kuman gram negatif Escherichia coli digunakan cakram kloramfenikol 30 µg. Untuk kontrol negatif digunakan cakram kosong yang telah direndam dalam larutan akuades. Alat uji aktivitas bakteri : Ose kolong. antitumor. Alat ekstraksi : Blender. d. aquades steril. disk antibiotik kloramfenikol 30 µg. 40% dan 20% di laboratorium Farmakologi FK UMS. plat diameter 15 cm. Bahan utama berupa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata).Farland (108CFU/ml).reproduksinya melalui tunas daun (tunas adventif ). penangas air b. seperangkat alat maserasi. Sedangkan pada daunnya terkandung senyawa kimia yang disebut bufadienolides. Siapkan 2 ml NaCl fisiologis steril dalam tabung reaksi. c. Farland. Pada uji aktivitas bakteri ini digunakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri kokus gram positif (+) dan Escherichia coli yang merupakan bakteri batang gram negatif (-) (Jawetz et al.5 Mc. Kemudian ambil beberapa ose bakteri Staphylococcus aureus dari biakan dan masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl fisiologis. NaCl fisiologis.Conkey (Escherichia coli) dan media agar darah (Staphylococcus aureus). Bakteri diambil dengan kapas lidi steril. Instrumentasi 1. Determinasi tanaman Untuk memastikan bahan yang akan dijadikan bahan ekstrak adalah tanaman Kalanchoe 44 2. maka untuk membuktikan hal tersebut.5 Mc. 6. Persiapan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata Dilakukan proses pembuatan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata melalui metode maserasi sehingga didapatkan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata dengan konsentransi 100%.5 ml media BHI cair dan dieramkan selama 5-8 jam pada suhu 37°C. Tahun 2009 . perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman tersebut. flavonoid. Selanjutnya rendam cakram kosong pada masing-masing konsentrasi ekstrak etanol Kalanchoe pinnata selama 15 menit.1968). glikosida. BHI. alkohol 70%. Bahan Bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut : a. 2. Bahan uji aktivitas antibakteri : Media Muller Hinton. alat timbang. Standar 0. dan insektisida (Lana. Volume 1. aquades. steroid dan lipid. 3. Kalanchoe kaya akan kandungan alkaloid. pencegah kanker. dioleskan pada agar Muller Hilton dan diratakan. BAP. Bufadienolides pada Kalanchoe pinnata memiliki potensi untuk digunakan sebagai antibakteri. Persiapan suspensi bakteri Ambil 1 ose bakteri dari biakan dan tanam pada media Mc. disk antibiotik amoksisilin 20 µg. 2001). Nomor 2. Persiapan alat uji aktivitas antibakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Lakukan hal serupa pada biakan Escherichia coli. triterpenes. tabung reaksi. Escherichia coli ATCC 11229 . Cara Kerja 1. Bahan penyari : Etanol 70%. Pelaksanaan uji antibakteri Siapkan 2 plat media Muller Hilton yang kemudian pada plate pertama diolesi secara Biomedika. autoklaf . Nutrient Agar Plate. Sehubungan dengan adanya indikasi ekstrak daun Kalanchoe pinnata mempunyai daya anti bakteri. dikocok sampai homogen untuk kemudian bandingkan dengan suspensi 0. Instrumen Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut : a.

7.5 Mc. Untuk plate yang kedua diolesi secara merata dengan bakteri Escherichia coli yang telah dibandingkan dengan standart 0. Replikasi Uji antibakteri ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dilakukan sebanyak 5 kali ulangan sesuai dengan perhitungan dengan menggunakan rumus estimasi besar sampel.8 37.merata dengan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dibandingkan dengan standar 0. Rahadiyan W. 1988) B. 11b. Kemudian pada masing-masing plate diletakkan disk yang telah mengandung ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata 100%.1 pinnata) terhadap Amoksisilin 8 7.2 5.5 4 4 4.5 6 100% 5. Hasil Penelitian A. Hasil tes terhadap biakan Staphylococcus aureus Hasil determinasi tersebut memiliki kunci determinasi : 1b.5 Mc. 20%. Tjitrosoepomo. 3b.14 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. 2003. 2b.5 5.Farland. kontrol positif dan kontrol negatif.5 9 9. 287b => Familia : Crassulaceae. 1 ==> Genus : Kalanchoe 1 ==> Spesies : Kalanchoe pinnata L (Van Steenis. 10b.06 39. Atur jarak antar cakram sedemikian rupa agar tidak terlalu berdekatan.5 4 4. 286a.. Hasil Determinasi Telah dilakukan determinasi tanaman yang dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS dengan menggunakan sampel tanaman yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan ekstrak.1 3 10. 60%. 80%. 40%.5 34. 7b.7 10. Hasil Penelitian Penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperoleh hasil sebagai berikut. 6b.6 5. 45 .8 4.3 5.B. Farland. 13b. Tabel 1: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe Staphylococcus aureus (mm) Replikasi Staphylococcus aureus 1 2 3 4 5 Órata-rata 0% 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4.3 4 5.6 33.1 80% 5.5 4 4. 14b. 12b. Selanjutnya inkubasi plate pada suhu 37°C selama 18-24 jam. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dalam satuan milimeter (mm). 4b. 16b.2 36.

005 0.317 0.000.120 ternyata memiliki p (sig) = 0. Pada uji ini didapatkan p (Asymp.6 mm. Nomor 2.05 maka dapat disimpulkan bahwa varian yang ada adalah tidak homogen.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar varian data. • Uji Non Parametri Kruskall-Wallis Untuk menilai data secara statistik maka kemudian data diolah dengan uji Non Parametri Krusk all-Wallis. • Uji Anova Dikarenakan varian data yang ada tidak homogen maka uji Anova tidak dapat dilakukan. Didapatkan pada konsentrasi 80% nilai p (Asymp. Sig) = 0. karena salah satu syarat untuk dapat 46 dilakukannya uji Anova adalah varian harus bersifat homogen.Grafik 1 : daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Staphylococcus aureus (mm) Tabel 2: Tes Mann-Whitney No.005. Kedua nilai p tersebut < 0. Rerata diameter daya hambat tersebut secara berurutan dari konsentrasi ekstrak 40% hingga 100% adalah sebesar 41 mm. Volume 1. dan diperoleh hasil sebagai berikut : • Tes homogenitas varians Hasil analisis menunjukkan Levene Test hitung = 9.018 dan pada konsentrasi 100% nilai p = 0. Data tersebut kemudian dianalisis pada á = 0.054 0. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol negatif (-) digunakan untuk menilai daya hambat antibakteri secara statistik. Sig) = 0.6 mm. Sig) 0. 51 mm dan 90. Tahun 2009 .018 0.009 Kontrol (-) 40% Kontrol (-) 60% Kontrol (-) 80% Kontrol (-) 100% Kontrol (+) 100% Dari grafik dan data diatas maka dapat diketahui bahwa pada biakan I terdapat daya hambat yang dimulai dari konsentrasi ekstrak sebesar 40% dan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kadar konsentrasi ekstrak. 1 2 3 4 5 Pembagian kelompok N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 P (Asymp.05 maka dapat disimpulkan Biomedika.000 Oleh karena p < 0.05. Oleh karena p < 0. 45. • Uji Non Parametri Mann-Whitney Untuk mencari data mana yang berbeda secara bermakna maka dilakukan uji Non Parametri Mann-Whitney.

3 16.05 maka dapat disimpulkan bahwa potensi daya hambat antibakteri ekstrak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kontrol (+) yang berupa amoksisilin. Sig) = 0.08 daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Namun demikian apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol (+) potensi daya hambat ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masih jauh kurang efektif.B. 47 . Dalam hal ini berarti amoksisilin masih jauh lebih poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus bila dibandingkan daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek.bahwa pada kedua konsentrasi tersebut memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik.8 17. Rahadiyan W.7 11.6 15.009.. Hasil tes terhadap biakan Escherichia coli Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Tabel 3: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Replikasi Escherichia coli 1 2 3 4 5 Ó rata-rata Grafik 2 : 0% 4 4 4 4 4 4 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4 4 4 4 80% 4 4 4 4 4 4 100% 4 4 4 4 4 4 Kloramfenicol 19. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol positif (+) digunakan untuk menilai besarnya potensi daya hambat antibakteri. Perhitungan di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dengan kadar 80% dan 100% memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik. Didapatkan pada konsentrasi dengan daya hambat tertinggi memiliki p (Asymp.0 16. Oleh karena p <0.

1 mm (60%). Namun daya hambat tersebut tidaklah bermakna signifikan apabila dibandingkan diameter daya hambat yang dihasilkan amoksisilin sebagai kontrol positif.2 mm (80%) dan 8. Biomedika. Hal ini didukung oleh adanya pernyataan yang menyatakan bahwa cara ekstraksi dengan menggunakan etanol akan lebih banyak mengabsorbsi bahan kimia aktif dari bahan (Ansel. Adanya perbedaan dalam hal zona hambat yang dihasilkan antara bakteri Staphylococcus aureus gram (+) dengan bakteri Escherichia coli gram (-) dikarenakan adanya perbedaan komponen pada dinding sel kedua bakteri tersebut. Tahun 2009 . karena hanya zat aktif yang berada di dasar tabung yang terserap kedalam disk saat proses perendaman berlangsung. Untuk bakteri Escherichia coli dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dengan berbagai konsentrasi tidak memiliki daya hambat sama sekali. flavonoid dan alfatokoferol yang bekerja dengan menghambat metabolisme sel mikroba. sedangkan molekul yang besar seperti molekul antibiotika dan termasuk juga molekul zat aktif ekstrak daun cocor bebek akan mengalami kesulitan bahkan gagal untuk menembusnya. Volume 1. 80% dan 100%. Sedangkan zat aktif yang diduga memiliki daya antibakteri adalah cinamic acid yang menghambat sintesis protein mikroba. et al. 4.56 mm (80%) dan 9. 7.6 mm (60%). Saluran tersebut memudahkan difusi pasif senyawa hidrofilik dengan BM rendah seperti gula dan asam amino. lapisan peptidoglikan yang tebal dan simpai.06 mm (100%). lapisan tunggal peptidoglikan. Hal ini menyebabkan tidak semua zat aktif terserap kedalam disk. Untuk bakteri Staphylococcus aureus diperoleh zona hambat dengan diameter 4 mm (20%). dimana Staphylococcus aureus sebagai gram (+) memiliki 3 lapisan yaitu selaput sitoplasma. 40%. Nomor 2. Percobaan tersebut juga dilakukan baik terhadap biakan kuman Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dan hasil yang diperoleh adalah terbentuk zona hambat dengan diameter 5. dan selaput luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida. sedangkan Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki lapisan yang lebih kompleks dan berlapis-lapis yaitu selaput sitoplasma.Pada data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap Escherichia coli dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dari konsentrasi 20% hingga konsentrasi 100% tidak memiliki daya hambat sama sekali terhadap biakan kuman Escherichia coli. Hal tersebut dikarenakan kesemua kadar ekstrak tidak memiliki daya hambat maupun potensi terhadap biakan kuman Escherichia coli. 4. Sebagai pembanding telah dilakuk an percobaan dengan menggunakan metode sumuran dan Pour Plate dengan menggunakan ektrak yang sama dengan konsentrasi yang sama pula yaitu 20%. namun pada biakan Escherichia coli tetap tidak ditemukan zona hambat sama sekali. Kemungkinan yang lainnya adalah sifat ekstrak itu sendiri yang tidak homogen. Selaput luar Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki karakteristik yang unik dimana pada selaput itu bersifat menolak molekul hidrofobik sekaligus hidrofilik dengan baik namun di lain pihak selaput ini memiliki saluran khusus yang mengandung molekul protein yang disebut porin. yaitu sebagian besar zat aktif ekstrak memiliki berat molekul (BM) tinggi sedangkan sebagian zat aktif ekstrak lainnya memiliki BM yang rendah. Pada grafik 1 dan 2 dapat dilihat gambaran dari diameter zona hambat pertumbuhan dalam berbagai konsentrasi dan reratanya. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan Escherichia coli sebagai gram (-) lebih bersifat resisten ( Jawetz. Dikarenakan semua data yang diperoleh memiliki rerata yang tidak berbeda dari rerata variabel pembanding (kontrol negatif) maka data tersebut tidak dilanjutkan dengan penilaian data secara statistik. 2001). 1988). serta bufadienolide yang bekerja dengan merusak asam nukleat mikroba. Pembahasan Telah dilakukan penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. 60%.8 mm (100%) pada biakan Staphylococcus aureus. 4 mm (40%). Hal tersebut tampak pada sifat ekstrak yang cepat mengendap apabila didiamkan. Adanya potensi kadar hambat ekstrak yang tidak bermakna bagi Staphylococcus aureus dan bahkan tidak adanya hambatan sama sekali bagi Escherichia coli dimungkinkan karena berbagai kandungan kimia daun cocor bebek sebagian 48 besar ikut terambil termasuk bahan kimia yang bersifat antagonis sehingga kandungan kimia bahan yang diharapkan mampu bersifat bakteriostatik ternetralkan.

Siti Nur. Skripsi. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat Tradisional. Balaji Raja yang dimuat dalam Jurnal Mikrobiologi dan Biotehnologi SpringerLink didapatkan bahwa ekstrak diethyl ether dari daun cocor bebek tidak memiliki daya hambat yang signifikan sedangkan pada ekstrak kloroform dan heksan dari daun cocor bebek sama sekali tidak memiliki daya hambat pada biakan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Mikrobiologi Kedokteran. 2008. Jakarta: Gramedia: 107-109 Dalimarta. Department of Biological Sciences. Effect of Stem Bark Extracts of Enantia chloranta on Some Clinical Isolates. E. Jogjakarta: Fakultas Farmasi UGM. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 2000. Melnick.scielo.. Farmacogn. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Selain itu. Niaga Swadaya: 139-42 Da-Silva. Saran 1. http://www.100% sama sekali tidak memiliki daya hambat. 234-48. Katno. 2005. Setiawan.. 1997. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya dengan menggunakan cara ekstraksi yang berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya antibakteri daun cocor bebek yang paling maksimal dapat diperoleh dari infusanya. 1994. Seri 3.Penelitian ini seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Nur Hidayati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS tentang infusa daun cocor bebek yang memiliki daya hambat yang signifik an terhadap Staphylococcus aureus dari kadar infusa 20% 100% namun tetap tidak signifikan bagi Shigella dysentriae. J. 211-7. http://hpt. S. Rahadiyan W. Jakarta : UI press: 607-15 Atata. R. maka dapat diambil simpulan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dimulai dari kadar 40% . 2006. 16 (4). a minor substance from the leaves of Kalanchoe pinnata (Crassulaceae). et al. sedangk an terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ekstrak daun cocor bebek mulai dari kadar 20% . et al. Pendidikan Biologi. Muzitano.unpad Ratih P.O. 2003. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. Nigeria. Instituto de Biofísica and Núcleo de Pesquisas d e P r o d u t o s N a t u r a i s U F R J . 1988. Edisi Revisi. H.bioline. 2001. http://www. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.S. Mikrobiologi Kedokteran.br Bagian Mikrobiologi.ioc. Arief. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian tentang uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro.. G. Jakarta: PT. Toksisitas Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek Kalanchoe daigremontiana Hamet & Perrier. M. 1996.. Adelberg. Edisi 22. Penerjemah Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2006.C. Koeswardono. Ana. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak etanol daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya. University of Ilorin.G. http://www. Uji Antibakteri Ekstrak Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Daftar Pustaka Almeida. FKIP UMS. Jogjakarta: Penerbit FK UGM Bonang. Hanya saja dibandingkan daya hambat yang dihasilkan oleh infusa daun cocor bebek. Chemical isolation of an apolar antileishmanial and lymphocytesuppressive substance present in the plant Kalanchoe pinnata.memorias. Bras. daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek bersifat lebih rendah. 2008. 3. Muthuvelan dan R. Pinheiro. Alhassan Sani et al.P.br Ansel. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara: 10463 Bagian Mikrobiologi. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis ekstrak tumbuhan yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya efek antibakteri pada kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli tersebut. Jilid I.L. 49 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . 1-octen-3-O-a-Larabinopyranosyl-b-glucopyranoside. Jawetz . Rev. Jakarta: Salemba Medika: 15-23. Niaga Swadaya: 94-5 Hidayati. Pramono S. A. Lana.A.fiocruz. Tumbuhan Obat & Khasiatnya.100% terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus namun potensi antibakterinya tidak signifikan apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positifnya.org. dari penelitian yang telah dilakukan oleh B. 2.B.F. Jakarta: PT. 1999.br Hariana.

http://www. 314-5. Statistik untuk Penelitian.Lans.BMJ. Leslie. 2005. Nomor 2.com Ouellette. 380-3 PDPERSI. Obat Tradisional : Cocor bebek (Kalanchoe pinnata). http://www. K. Organic Chemistry: A Brief Introduction.PDPERSI. 2008.com Schunack. http://www.com 50 Biomedika. 1993. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press: 192-3 United States Department of Agriculture. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Setiabudy. Volume 1. Medical Microbiology and Immunology Examinationand Board Review. Database File for Kalanchoe. et al. http://www. 2006. 115-32 Muthuvelan. R. 8th Edition. 1998. Gembong. Farmakologi dan Terapi. R. B. Cheryl A. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine.. World J Microbiol Biotechnol 24: 283742. Edisi 2 diperbarui. 2003.S. 2001.. 2004. Jakarta: MediaKom Quelab. 2005. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 571-83 Sugiyono. Duwi. Warren. 1990. Plants Profile : Kalanchoe pinnata. Edisi 4 (dengan perbaikan). Mandiri Belajar SPSS.com Levinson. Hembing.ethnobiomed. Raja. 1999.com ( 4 Agustus 2008) Wijayakusuma..com Tjitrosoepomo. New Jersey : Prentice Hall: 239. Bodeker.. http://www. Niaga Swadaya: 45 Willcox . Jakarta: PT. Mayer.quelab. G. Senyawa Obat Buku Pelajaran Kimia Farmasi. Traditional Herbal Medicines for Malaria. 1995.. Bandung: CV. W. Merlin L. 2008. Alfabeta Taylor. http://rain-tree. H. Vincent. Ethnomedicines used in Trinidad and Tobago for urinary problems and diabetes mellitus. Atasi Asam Urat & Rematik ala Hembing.springerlink. http://www.ID Priyatno. Robert J. Mc Farland Standar t. 2nd edition.CO.USDA. 2005. Studies on the efficiency of different extraction procedures on the anti microbial activity of selected medicinal plants. Tahun 2009 . Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).G. Philadelphia: A Lange Medical Books: 91-102.

dibuat singkat bersifat informatif. 2) Diterima dengan perubahan ringan. berisi latar belakang. nama para penulis lengkap berikut gelar beserta alamat kantor/instansi/tempat kerja lain. sebanyak-banyaknya 350 kata. Naskah penelitian (karangan asli) harus meliputi: 1. baik dokter umum maupun spesialis. manfaat. dialamatkan kepada Redaksi Biomedika. maksud & tujuan. Dalam hal perubahan ringan bisa dilakukan oleh dewan redaksi. Abstrak ditulis dalam 1 paragraf. tujuan. kajian pustaka. Diharapkan koreksi sudah bisa dikembalikan paling lama dalam 2 minggu. font Times New Roman. laporan kasus. Kebangkitan Nasional no 101 Penumping Surakarta. spasi dobel. dan kata kunci. menyesuaikan. FK UMS Jl. ilustrasi serta diskusi. Daftar pustaka 8. Format naskah kajian pustaka. Proses Review Naskah setelah dilakukan seleksi redaksional akan dikirim kepada reviewer (mitra bestari) untuk dinilai dan hasil penilaian bisa berupa: 1) Diterima tanpa perubahan. kesimpulan dan saran 6. terdiri sekurang-kurangnya 100 kata. 4) Ditolak. Pendahuluan. dan samping masing-masing 2. Pengiriman Berkas tulisan hendaknya dikirim rangkap dua disertai file dalam disket/CD dengan mempergunakan program Microsoft Word. Format Naskah Tulisan diketik pada kertas kuarto. para alumnus FK UMS. dan manfaatnya serta pembahasan dari apa yang dikaji dan diakhiri dengan kesimpulan hasil kajian. 3) Diterima dengan perubahanbesar. tidak lebih dari tiga lembar. Keterangan tabel ditempatkan di atas tabel.5 cm. data klinis. Diketik pada lembaran kertas terpisah dengan spasi ganda. Bahan/ subyek/ pasien dan cara kerja 4. masalah. hasil penelitian. disertai keterangan yang jelas dan informatif. maksud. sekretariat Biomedika lantai 2.PEDOMAN BAGI PENULIS BIOMEDIKA Inf ormasi Umum Jurnal Biomedika menerima makalah ilmiah dari para staf edukatif FK UMS. Ketentuan Lain Redaksi berhak memperbaiki susunan naskah atau bahasa tanpa mengubah isinya. dan mampu menerangkan isi tulisan. material dan metode penelitian. Abstrak Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. keterangan ditempatkan di bawah gambar/bagan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. ukuran 12 tidak bolak-balik dan mencantumkan alamat email penulis. dokter di seluruh Indonesia dan dari luar negeri. Hasil penelitian 5. diletakkan di bawah judul 2. serta manfaat penelitian 3. maksud & tujuan. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto dibuat dengan jelas dan rapi. Pernyataan terima kasih (kalau ada) 7. Judul tulisan. khususnya dalam pendahuluan hendaknya memuat penjelasan problematik yang dikaji. Naskah yang telah dimuat di majalah lain tidak diperkenankan diterbitkan dalam majalah ini. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto semuanya dilampirkan terpisah dari naskah. Lampiran-lampiran Naskah laporan kasus memuat latar belakang/alasan pelaporan kasus. Rujukan dalam teks dibuat berdasarkan model Harvard. bawah. atau dalam bahasa Inggris. kesimpulan. Diberi nomor menurut urutan dalam naskah. Pembahasan. batas atas. Abstrak penelitian berisi latar belakang. . namun perubahan besar atau melengkapi kekurangan-kekurangan perlu dilakukan sendiri oleh penulis. Makalah dapat berupa karangan asli (penelitian. resensi buku dan tulisan lain dalam bidang kedokteran dan kesehatan).