i

EDITORIAL
PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN DARI DIAGNOSIS HINGGA TATA LAKSANA Dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang pesat, kita perlu menambah pengetahuan dengan penelitian-penelitian terbaru. Dengan menambah informasi tentang penelitianpenelitian terbaru, diharapkan kita dapat mengelola pasien dengan tepat dan aman, mulai dari diagnosis hingga tatalaksananya. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang diagnosis, dalam edisi ini kami ketengahkan penelitian tentang perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberculin, validitas foto thorax proyeksi PA untuk menegakkan diagnosis emfisema pulmonum dan dislipidemia pada penderita stroke dengan demensia. Sedangkan untuk menambah pengetahuan kita tentang tatalaksana pasien, edisi ini memuat penelitian-penelitian tentang perbandingan efek ekstrak etanol dan eter biji tua pisang klutuk, efek ekstrak mahkota dewa, pengaruh kitosan olahan udang putih pada penurunan trigliserida plasma tikus dan aktivitas antimikroba daun cocor bebek.

i

Volume 1, No.1, Agustus 2009

ISSN 2085-8345

DAFTAR ISI
Editorial Daftar Isi Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Pujarini i ii 1 - 8

9 - 15

17 - 23

Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas, Rahadiyan W.B.

25 - 32

33 - 36

37 - 41

43 - 50

ii

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan E mail: wilmaabbas@yahoo.com Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant. Key Words: BCG, tuberculin, screening

Pendahuluan Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB paru yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB dan telah dibuktikan menderita TB di Asia kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). Perlu dilakukan peningkatan mutu program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TBParu). Strategi yang digunakan adalah pemutusan rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu,

diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik yang mudah dikerjakan dengan hasil yang cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan dengan biaya yang murah. Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein; (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7) Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer, 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntik an, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Mohammad Wildan 1

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis

5 80 Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. morbili. mengingat prevalensi kasus TB anak cukup besar. varisela. Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti Besar sampel: n : Keterangan : P Q Z² 1-Ü/2 d n karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di Indonesia. (2) Mungkin terdapat perbedaan hasil dengan hasil penelitian sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya perbedaan ras/ etnik. dan hampir semua responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3) Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji tersebut. (Z² 1-Ü/2) PQ d² 0. merupakan indikator yang kuat pada kontak tuberkulosis. (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa langsung diterapkan di Indonesia. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. sehingga lebih unggul bila dibandingkan dengan uji tuberkulin.8 1 . Uji BCG tidak terdapat anergi. Volume 1. Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah clinical disagreement.2 1. Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak 151 RSUP dr. aman. Shrivastava dkk.8) (0. pertusis.96 (derajat kepercayaan) 0.96² (0. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Pasien rawat jalan yang menderita tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke 1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik Paru 151 RSUP dr. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Kariadi Semarang.anak usia 12 tahun. difteri.1 1. Dikshit dan Surendra Singh (1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji Mantoux positif.sebagai alat diagnostik.2) : 62 0.P = 0. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji Mantoux positif. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana.1² : : : : : Prevalens 80% N : 100 X 62 : 77. Nomor 2. Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi yang dicurigai menderita tuberkulosis dan dilakukan uji Mantoux dan uji BCG. Selain itu uji BCG juga dapat langsung berguna sebagai profilaksis. Kariadi • Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 tahun dengan tinggi badan maksimal 145cm untuk anak laki-laki dan 137cm untuk anak perempuan 2 • Orang tua penridenta memberi ijin dan bersedia dilakukan pemeriksaan yang ditetapkan • Tempat tinggal di dalam kota Semarang Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: • Menderita penyakit TB berat. Tahun 2009 . terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti Indonesia. (1977) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. tifus abdominalis Biomedika. khususnya di RSUP Dokter Kariadi Semarang. Populasi studi adalah bayi umur 4 bulan .

dari 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5 tahun merupakan yang terbanyak. sedangkan Mohammad Wildan 3 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . untuk 1 pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. pembesaran kelenjar limfe (leher. sering berkeringat malam. Kariadi. pembesaran limfonodi nares. 2. malnutrisi (antropometri). wheezing. pembacaan setelah 72 jam dan setelah 7 hari Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF Radiologi RSUP dr. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan. nafsu makan membaik. Kariadi. kemudian kelompok umur 6-10 tahun. keluhan sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah satu dari: benjolan disekitar leher. Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5 tahun sebagian besar negatif dibanding positif. berat badan sulit naik (dalam 4 minggu terakhir). Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB. juga limfopeni. panas subfebril terutama malam hari yang berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang jelas. atau krepitasi pada pemeriksaan fisik paru. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu dari: tidak didapatkan kelainan. yaitu 3. densitas interstitial. Selain itu dijumpai peningkatan laju endap darah. terdapat diskonkruensi. Anak yang secara klinis menderita TB dengan hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif) diberikan pengobatan anti TB dan follow up sampai dengan 6 bulan pengobatan. 4. Kariadi bersamasama dengan uji Mantoux. perubahan parenkim dan atau konsolidasi alveolar. mata gatal dan merah dengan daerah kuning pada kelopak mata dan bengkak. Perhitungan nilai Kappa dengan menggunakan clinical disagreement. LED menurun. Perbaikan yang dinilai adalah: • Klinik: demam sub febril menghilang. inguinal. punggung.• Menderita penyakit keganasan • Mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka lama. 3. aksila. lekositosis berkurang. kelainan akibat perubahan mekanik. Rejimen pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR. nares). Sebaran Status Gizi Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding yang bergizi baik. yaitu 2:1. kelompok umur 6-10 tahun hasil uji positif dibanding negatif adalah 1:2. aksila. peningkatan sel mononuklear. pembacaan setelah 72 jam. Sedangkan pada sampel perempuan didapatkan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik. konjungtivitis fliktenularis. didapatkan gerak nafas asimetris. ronk i. mendapatkan vaksin • Penderita pindah tanpa diketahui alamat yang baru • Meninggal selama penelitian karena penyakit lain • Gizi buruk Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan Modifikasi Kriteria Starke (1994): 1. Secara keseluruhan sampel dengan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding sampel dengan gizi baik. dan paling sedikit kelompok umur >10 tahun. inguinal.5:1. berat badan bertambah (10% setelah pengobatan 2 bulan) • Laboratorim membaik: Hb meningkat. berair. kelainan fokal. Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian didapatkan hasilnya sebagai berikut: Sebaran Umur dan Jenis Kelamin Apabila dikelompokkan berdasarkan umur. pergeseran ke kiri berkurang • Gambaran radiologik membaik dibanding sebelumnya Pengelolaan dan analisis data menggunakan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test. Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin lakilaki dan perempuan relatif berimbang pada semua kelompok umur. sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak didapatkan pada sampel lakilaki dibanding sampel perempuan dengan perbandingan yang relatif berimbang. pleuritis. nyeri pada lutut dan selangkangan. Pe m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m m u n g k i n didapatkan anemi atau lekositosis. tetapi dengan perbandingan hampir sama/ separuh jumlah. palpasi dada pekak. gibbus/spondilitis. pembacaan dilakukan oleh seorang radiolog.

Sampel Biomedika.pada kelompok umur >10 tahun perbandingannya adalah 1:3 antara hasil positif dibanding negatif.649 Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulin negatif.701. kemudian persentasenya akan menjadi sama dengan bertambahnya umur (Stead.6%) sampel mengalami perbaikan laboratorik baik padda responden dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Proporsi hasil positif uji tuberkulin paling besar didapatkan pada kelompok umur 6-10 tahun. jumlah sampel juga berpengaruh terhadap hasil penelitian. yaitu bahwa morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5 tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan anak yang berumur lebih tua (Stead. pada sampel laki-laki dan perempuan relatif sama.008. Secara persentase menurut jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan gambaran populasi. kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21.0% dan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel atau 4%. Pada kelompok umur 6-10 tahun juga didapatkan hal yang sama. Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG.3%) tetapi perbandingannya relatif berimbang. Sedangkan persentase morbiditas terhadap penderita tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas pada penelitian ini relatif sama. Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun sebagian besar (96%) negatif dibanding positif.331 Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan 4 nilai p= 0. yaitu 48% sampel laki-laki dan 52% perempuan. dengan perbandingan 4:3. Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0. menyusul kelompok umur >10 tahun dan paling kecil pada kelompok umur < 5 tahun. Selain karakteristik sampel. keadaan ini sesuai dengan persentase gambaran populasi. Sebagian besar (95.58. 1993).22 dan nilai p = 0. Pada anak yang berumur lebih muda morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak lakilaki dibanding dengan anak perempuan. persentase sampel laki-laki dan perempuan adalah sama besar. Demikian juga pada sampel kelompok umur >10 tahun. Analisis Statistik Nilai Kappa Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 perhitungan nilai kappa data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan nilai kappa 0. Sebagian besar sampel mengalami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji BCG positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR.013 dengan nilai p= 0.605. dimana pada anak yang lebh besar persentase morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar (Stead. Nomor 2. Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Apabila dikelompokkan menurut menurut umur. Tahun 2009 . 1993). yaitu 1:1.0%. Volume 1. Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 tahun didapatkan nilai kappa . dengan pebandingan 6:5. Didapatkan proporsi konjungtivitis fliktenularis. Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0. dengan nilai p=0. 1993). Berdasarkan persentase menurut kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini sudah mencerminkan gambaran populasi.64. kelompok umur 6-10 tahun dan >10 tahun perbandingannya 100% positif. Pembahasan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel yang berumur <5 tahun persentase sampel perempuan (50.0. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding uji BCG negatif. Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0. 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun sebanyak 75 sampel atau 75. perbaikan radiologik dan laboratorik Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laboratorik baik pada responden dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR.7%) lebih banyak dibanding lakilaki (49.

Sedangkan pengaruh status gizi sampel terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang energi protein ringan. Pengaruh status gizi responden terhadap hasil uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8.0%.yang digunakan pada penelitian ini sudah diperhitungkan dengan beberapa persyaratan yang sesuai dengan rumus yang berlaku sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini sudah dianggap cukup.0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 3 sampel atau 3.12 dan p= 0. Keadaan lain yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar.77). Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 sampel atau 23.0%. jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau 1. Apabila dijumlahkan secara keseluruhan. didapatkan sampel dengan hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau 97. Sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan dengan hasil uji BCG positif. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya under diagnosis.0%.93 dan p= 0. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik uji clinical disagreement dengan membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang kecil (-0.64) mempunyai gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga uji chi square yang dilakukan kurang valid. (2) semua responden pada penelitian ini pernah mendapatkan vaksinasi BCG.0%. jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 74 sampel atau 74. tetapi apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis. sehingga mungkin lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG.008 dengan nilai p=0. sehingga tidak menggunakan baku emas. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita tuberkulosis dengan malnutrisi.013) dan nilai p= 0.05) yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan tidak bermakna.331. sedangkan sampel dengan hasil uji (tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 atau 24. dengan perbandingan 4:1. Apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel benar menderita penyakit tuberkulosis.22 dan p= 0.605. atau tidak menderita penyakit tuberkulosis. Shrivastava (1977) menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dibanding tuberkulin.58) dan 6-10 tahun (df= 0. Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang negatif lebih banyak didapatkan pada sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan. Semakin banyak sampel akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut. hasil uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding yang positif. Perhitungan statistik dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux). dengan menggunakan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0.0%. dengan perbandingan 3:1. tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0.331. Sedangkan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa memang benar sampel tersebut menderita penyakit tuberkulosis. Tetapi pada kedua keadaan tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1. Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang sama.701 (bermakna p=0. Mohammad Wildan 5 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya overdiagnosis. Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar 0. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tuberkulin positif. Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih banyak dibandimg yang positif. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji tuberkulin positif. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun (df= 1.

sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. Defisiensi nutrisi menekan salah satu atau lebih komponen respons hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM. Tahun 2009 . 1994). Efek samping uji BCG (Choudhary. Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus kelompok hemolitik atau stafilokokus. merupakan indikator yang kuat (96. Respons hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga rangkaian proses yang jelas.5 %). Ormerod (1994) mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis biasanya terjadi pada anak yang mengalami infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum sampai menekan komponen respons hipersensitivitas tipe lambat tersebut. perkembangan penyakit setelah dilakukan pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh (klinik. Dapat dijelaskan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. Jalur aferen melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen yang "diproses" makrofag. Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel (97. Nomor 2. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis. Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa respons terhadap vaksinasi BCG tidak berhubungan dengan umur. pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung kearah tuberkulosis.23% dari seluruh sampel yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%) dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. Konjungtivitis fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin.7 mm. Volume 1. Insiden Biomedika. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status imunologi pada sampel belum sampai menurun sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas reaksi hipersensitivitas. Dana S. Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62 sampel (77. sudah dikonsulkan ke Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis fliktenularis akibat tuberkulosis. Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak didapatkan pada penelitian ini. yang pada penelitian ini status imunologi tidak diteliti. 20 sampel (95. tetapi hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 mm). aman. 1994). Hal ini dapat dijelaskan bahwa indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding terhadap uji BCG.3% dan ulserasi 8%. 1994). sebagaimana yang didapatkan oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik. anamnesis. Suskind RM (1997) mendapatkan bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan subnormal akibat defisiensi diit protein akan menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkulin. Respons peradangan kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada sisi kulit yang diberi antigen. Hasil uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita ternyata negatif. sehingga tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin. dan faktor kemotaktik menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda reaksi positif (Grange JM. Jalur eferen ditandai dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang disuntikan intradermal. laboratorik.33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5 tahun. Sonmez (1994) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis fliktenularis. Insidensnya banyak terjadi pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 56 15 tahun (Ormerod LP. hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12-16 mm). yang pertama seorang anak perempuan berumur 8 tahun. hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Shrivastava dkk (1977). kasus yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus pertama. terjadi akibat respons infeksi primer tuberkulosis. Dengan demikian. radiologik perbaikan). 1977) didapatkan adenitis regional 3. sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur. tetapi pada kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan pengecatan ataupun biakan sekret mata.7%) pada kontak tuberkulosis. Sedangkan ukuran diameter ratarata hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh adalah 9. Krishna K.5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18 sampel (22.dan tidak dipengaruhi oleh status gizi.

tetapi secara statistik tidak bermakna 2. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak Saran 1.9% dan 100%. PAP-TB sebagai Penunjang Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. Clinical Tuberculosis. Badhari NR. Screening tuberculosis in infant and children.1 %. Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat diberikan pada semua anak tanpa khawatir terhadap komplikasinya. 3. 1999. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat yang telah berpengalaman. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG test. BGC test for diagnosis of childhood tuberculosis. Sedangkan pada responden dengan hasil uji BCG positif dan negatif. 13: 689-95. Evaluation of BCG test in childhood tuberculosis. Soekendar AW. California. Clinical Shrivastava DK. 1977. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini juga menggunakan sampel kontrol.5% dan 66. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut dengan menggunakan baku emas dan kontrol Daftar Pustaka Chandra RK. Perlu hati-hati dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an dan pengecatan kuman BTA 2. 1977. county of san diego. tetapi secara statistik tidak bermakna. Evaluation of diagnostic valve of BCG test in childhood tuberculosis. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8. Indian Pediatrics 14: 993-8. Immigration and tuberculosis among children on the united states-mexico border. New York: Plenum Press Choudhary AK. The Malnourished Child.1%. Choudhary AK. Respiratory Tuberculosis.8% dan 96. Indian Pediatrics Vol XIII No 9: 68795. Krishna K. perbaikan radiologik 82. Kenyon TA. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen BCG maupun PPDS 5TU secara biokimiawi sebelum disuntikkan 3. Journal of Tropical Pediatric. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding dengan proporsi hasil negatif uji BCG.8% dan 77. BCG test for diagnosis of chilhood tuberculosis. Newberne PM. 1979. Sebagai bukti tambahan (yang perlu dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif. perbaikan radiologik 95.7%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik juga dengan sebaran yang hampir sama. Indian Pediatrics. 1994. 1977.limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7. Semua responden pada penelitian ini telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya Simpulan dan Saran Simpulan 1. Leslie LS. Dalam: Davis PDO eds. Jakarta: Forum Diagnosticum Somnez. Christy C. Haas E. Dalam: Davis PDO eds. London: Chapman & Hall Medical Jaiswal S. New York: Raven Press Dikshit KP. 44: 40-2 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7 . 1993. Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine 150: 722-26 Committee on Infection Diseases. Shingwekar AG. Adapun keterbatasan-keterbatasan penelitian ini adalah: 1. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur 4. Pediatrics 93: 131-4 Dana S. 1994. 1996. 1998. Immunophysiology and Immunopathology of Tuberculosis. Suskind RM. Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar dibanding dengan proporsi hasil positif uji tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan tuberkulosis. The Malnourished Child in Overview Dalam: Suskind RM. 1994. Surendra Singh. Tidak diteliti status imunologi yang dapat berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji BCG maupun tuberkulin 6. Nutrition. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. 1977. 1997. Grange JM. tetapi kesalahan akibat teknik penyuntikan reagen tidak dipertimbangkan secara teliti 4. Screening for tuberculosis infection in urban children. Immunity and Infection Mechanism of Interaction. Pediatrics 104: 1-6 Ormerod LP. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh pada perbaikan status gizi 5.6%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik dengan sebaran yang sama. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol 2. 1977. Driver C.

Nomor 2. Dut AK. London: Chapman & Hall Medical Wong GWK. Oppenheimer SJ. 1994. Tahun 2009 . Dalam: Davis PDO eds. 1993. 1994. Volume 1. Childhood Tuberculosis. London: Chapman & Hall Medical 8 Biomedika.Stead WW. 1993. New York: Springer-Verlaag Tuberculosis. Epidemiology and Host Factors. Tuberculosis. Clinical Tuberculosis. Dalam: Schlossberg D.

bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Widjaja. severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Diagnosis emfisema berdasar pendekatan patologinya (diagnosis emfisema menggunakan p e n d e k a t a n p e m e r i k s a a n h i s t o p at o l o gi merupakan diagnosis pasti. Apabila pasien tidak mampu melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat. Abnormalitas pemeriksaan faal paru pada emfisema menunjukkan tanda obstruktif. emphysema was diagnosed if met with all criteria above. 30%< FEV1<50% predicted and very severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Samples of this study recruited were 192 subjects with range of age between 18-81 years old. At first chronic inflammatory induced changed the lung structure. The abnormality of lung structure can manifest in Posterio-anterior chest X-ray.3% in spesifisity. akan tetapi sangat Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum sulit dilakukan). accompanied by destruction of their walls. posterio-anterior projection. 154 men and 38 women.This study is a diagnostic test were that performed in Departement of Radiology RSUD Dr Moewardi Surakarta from July to October 2008. emphysema was diagnosed if Posterio-Anterior chest X-ray showed : 1)Hyperinflation 2) Hyperlucency 3) Decrease and flattened of diaphragma and 4) Tear drop appearance of the heart. 1996. Smoking habits was higher in emphysema Posterio-anterior chest X-ray group than non emphysema group. Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK.6% in sensitifity and 84. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) DEPKES RI 1992 menunjukkan angka kematian emfisema. Keywords: emphysema pulmonum. karena semakin bertambahnya penderita (Widjaja. This study maintained to get validity of Posterioanterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK) yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar. Barnes. Sulistyani Kusumaningrum 9 . The validity of Posterio-Anterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema was 90. 50%< FEV1<80% predicted. Kelainan yang mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata.Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum E mail: lilis_tomy@yahoo. moderate obstruction if FEV1/FVC < 70%.com Abstract Emphysema as a condition of lung characterized by abnormal. di negara maju merupakan masalah kesehatan utama. FEV1 > 80% predicted. validity Pendahuluan Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan kematian penderita emfisema belum menunjukkan penurunan. 126 subjects (66%) were diagnosed with emphysema and non emphysema were diagnosed in 66 subjects (34%). 1998). Spirometry showed obstruction with criteria of GOLD 2006. 1993). spirometry. mild obstruction if FEV1/ FVC < 70%. bersifat kronis progresif dan memberikan kecacatan yang menetap (Thurlbeck. Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. Posterio-Anterior chest X-ray has good validity to establish diagnosis emphysema. Posterio-Anterior chest Xray non emphysema with obstruction were diagnosed in 12 subjects (18%) and non obstruction were diagnosed in 54 subjects (82%). F r o m 1 9 2 s u b j e c t s performed Posterio-Anterior chest X-ray. 1994:Finlay. sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku emas (Senior. Posterio-anterior chest X-ray has good validity to establish change the lung structure. Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. permanent enlargement of airspaces distal to the terminal bronchiole. to determine either emphysema or non emphysema. 1993). Posterio-Anterior chest X-ray emphysema with obstruction were establishe in 117 subjects (93%) and non obstruction were diagnosed in 9 subjects (7%). FEV1< 30% or FEV1<50% predicted plus chronic respiratory failure.

Pada foto thorax PA dinyatakan emfisema pulmonum bila pada radiologi thorax ditemukan gambaran : diafragma turun dan mendatar hingga dapat mencapai di bawah costa XI aspek posterior atau di bawah costa VII aspek anterior (hiperinflasi. FEV1 > 80 % prediksi . Tujuan uji diagnostik ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi validitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. 1998). Keadaan inilah yang berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi paru. FEV 1 < 30 % prediksi atau FEV 1 < 50% disertai gagal pernafasan khronis Biomedika. obstruksi sedang bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . penambahan lusensi paru yang dapat dibandingkan dengan gambaran udara sekitar di luar tubuh yang ikut terekspose film (hiperlusensi). Hasil Spirometri/gangguan faal paru dikatakan obstruksi (emfisema pulmonum) ringan bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . deposisi dan bentuk remodelling kolagen.1997. nilai duga positif. sehingga apabila didapatkan hasil yang normal dapat dipergunakan untuk menyingkirkan adanya penyakit. Senior. Penghitungan dari variabel dilakukan dengan memakai tabel 2 x 2 Teknik Pemeriksaan Setiap subyek atau sampel penelitian menjalani prosedur pemeriksaan sebagai berik ut: Pemeriksaan radiologi thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. 30 % < FEV1 < 50 % prediksi. Destruksi serat elastin. 50 % < FEV1 < 80 % prediksi dan obstruksi berat bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Nilai kappa tersebut termasuk dalam kategori sangat baik Definisi operasional 1. Bentuk kelainan struktur yang dijumpai adalah destruksi serat elastin septum interalveoli dan ditemukannya peningkatan serat kolagen sebagai bentuk remodelling jaringan ikat paru akibat destruksi serat elastin tersebut. Material dan Desain Penelitian Jenis dan rancang penelitian yang dilakukan ialah uji diagnostik. 1995). gambaran jantung yang langsing disertai penurunan cardiothoracic ratio < 0.0. obstruksi sangat berat bila nilai FEV 1 / FVC < 70 %. nilai duga negatif. Interpretasi pembacaan hasil foto thorax PA dilakukan dokter spesialis radiologi sedangkan pemeriksaan faal paru dilakukan oleh dokter spesialis paru. diafragma turun dan mendatar). Penelitian dilakukan di RSU. sehingga apabila hasilnya abnormal dapat digunakan untuk menentukan adanya penyakit (Sastroasmoro. Penghitungan derajat kesesuaian (kappa) intra-observer dilakukan dengan perangkat lunak computer dan didapatkan kappa intra-observer 1. Moewardi Surakarta selama bulan Juli hingga Oktober 2008. Daerah Dr. Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman (network) jaringan ikat paru yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru (Finlay. Cara kerja pada tahap pertama. Untuk keperluan ini. Sebelum penelitian ini dimulai. penilaian foto thorax PA dilakukan dua kali. Uji diagnostik ini juga harus spesifik (kemungkinan hasil false positive kecil). r a s i o k e ce n d e r u n g a n p o s i t i f d a n r a s i o kecenderungan negatif dari foto thorax PA. Kelainan struktur jaringan dapat memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax proyeksi posterio-anterior (foto thorax PA). 1997. Senior. Nomor 2. Volume 1. Kelainan struktur parenkim diawali terjadinya inflamasi khronis yang akan mengakibatkan destruksi jaringan elastin dinding jalan napas. Dilakukan pemeriksaan faal paru (spirometri) FEV1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling. dilakukan uji keandalan intra-observer seorang dokter spesialis radiologi untuk menilai foto thorax PA. 1998).5 (tear drop appearance jantung) 2. Analisis data 10 dalam penelitian ini adalah sensitivitas. sehingga pendekatan pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri. merupakan kelainan yang mendasari terjadinya pembesaran ruang udara pada emfisema. uji diagnostik harus sensitif (kemungkinan false negative kecil). spesifisitas. pasien yang masuk kriteria inklusi dilakukan foto thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. saat pendaftaran penderita diseleksi berdasar kriteria inklusi dan eksklusi. Dilanjutkan pemeriksaan faal paru (spirometri) FE V1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Tahun 2009 .

Dibuat tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Selama periode Januari sampai dengan Desember 2004 didapatkan data dari catatan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 11 .Analisis Data Pengujian Hipotesis dengan Uji Diagnostik.

Karakteristik data dasar No 1 Data Dasar Subyek Penelitian Hasil Foto Thorax PA emfisema Hasil Foto Thorax PA Non emfisema Jenis Kelamin Laki-Laki: emfisema Non emfisema Perempuan: emfisema Non emfisema Umur : Maksimal Minimal Tingkat Pendidikan SD emfisema Non emfisema SMP emfisema Non emfisema SMA emfisema Non emfisema PT emfisema Non emfisema 5 Kebiasaan Merokok emfisema : Non emfisema : Jumlah 192 126 66 Prosentase 66 % 34 % 2 154 115 39 38 9 29 81 th 18 th 80 % 75 % 25 % 20 % 24 % 76 % 3 4 78 59 19 71 46 25 38 17 21 5 2 3 41 % 76 % 24 % 37 % 65 % 35 % 20 % 45 % 55 % 2% 40 % 60 % Ya Tidak Ya Tidak 109 17 63 3 87 % 13 % 95 % 5% Berdasar tabel di atas dapat diketahui penelitian ini terdiri dari 192 subyek. Nomor 2. seseorang akan semakin tahu tentang kesehatan. 12 Biomedika. Tahun 2009 .Hasil Penelitian Pada periode bulan Juli hingga Oktober 2008 didapatkan 192 subyek penelitian. Semakin tinggi tingkat pendidikan angka kejadian emfisema lebih rendah daripada non emfisema Hal tersebut mulai tampak pada tingkat pendidikan SMA. SMA (20%) dan PT (2%). Jenis kelamin laki-laki (80%) lebih banyak daripada perempuan (20%). 1. Umur subyek penelitian antara18 sampai 81 tahun. Karakteristik data dasar Tabel 1. dibuat tabel 2x2 berdasar hasil foto thorax PA emfisema dan non emfisema dan hasil spirometri obstruksi dan non obstruksi. Volume 1. Jumlah laki-laki dengan emfisema adalah 75 % sedangkan perempuan dengan emfisema 24 %. dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SD (41%) kemudian SMP (37%).

faktor eksogen misalnya rokok. di alveoli dapat timbul proses inflamasi. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat. Diantara semua faktor resiko tersebut. Kelompok emfisema sendiri diketahui mempunyai angka kebiasaan merokok cukup tinggi yaitu 87 %. dikalikan 100% adalah sebesar 84. Menurut Sharma (2006). Tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Obstruksi (+) 116 12 128 Hasil Spirometri Obstruksi (-) 10 54 64 Total 126 66 192 Foto Thorax PA emfisema (+) emfisema (-) Total Tabel 2x2 menunjukkan hasil pemeriksaan foto thorax PA dibandingkan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Disamping itu juga akan melepaskan Neutrophyl Chemotactic Factor (NCF) yang memobilisasi netrofil sehingga sekreasi elastase meningkat.Hautamaki. Kebiasaan merokok pada penelitian penulis ini belum bisa dimasukkan dalam faktor resiko. nilai Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 13 . hanya 13 % saja tanpa kebiasaan merokok. Kelompok emfisema pada pemeriksaan spirometri diketahui 117 (93%) dengan obstruksi dan 9 (7%) non obstruksi. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok dapat mencapai setiap bagian trakhea dan bronkhus sampai alveolus. polusi udara. Pembahasan Subyek penelitian sejumlah 192. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat (Samet. perlu dikembangkan pada penelitian lebih lanjut.3 % .1997) Kelompok non emfisema namun dengan kebiasaan merokok terdapat 95% dan tanpa merokok 5%. emfisema terjadi pada seseorang dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang perhari dan kebiasaan merokok tersebut sudah terjadi selama 20 tahun. Pendapat yang populer di Inggris (British hypothesis) menyatakan. emfisema hampir selalu disebabkan oleh asap rokok (Senior. dan dapat melepaskan oksidan yang akan menginaktifasi AAT sehingga terjadi proses perusakan elastin paru sebagai dasar kelainan emfisema (Fain. spesifisitas yaitu hasil true negative dibagi jumlah false positive dan true negative .2.dikalikan 100%. Aktivasi makrofag akan mengganggu keseimbangan protease anti protease. sehingga timbul proses inflamasi. Jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA namun menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 12 orang (false negative) dan jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 54 orang (true negative). dapat menjadi penyebab utama. bronkhus sampai alveolus perokok pasif. Kelompok emfisema tanpa kebiasaan merokok sejumlah 13 % karena perokok pasif mempunyai kemungkinan risiko yang sama dengan perokok aktif. Sensitivitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false negative . Jumlah pasien dengan emfisema pada foto thorax PA namun tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 10 orang (false positive). Bahkan dinyatakan. 2003.6 % . 1997). Jumlah subyek penelitian dengan hasil true positive yaitu pasien dengan emfisema pada foto thorax PA yang menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 116 orang. Uji diagnostik Tabel 2 . Apabila bahan toksik mencapai alveolus. perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pertanyaan berapa batang rokok yang dikonsumsi setiap harinya dan sudah berapa lama merokok. Aktifasi makrofag juga dapat disebabkan bahan polutan lain. rokok merupakan faktor paling dominan dibandingkan dengan yang lain. 1998). Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok juga dapat mencapai setiap bagian trakhea. Hal ini sesuai dengan teori tentang faktor penyebab terjadinya emfisema. lingkungan kerja berdebu. seperti debu dan polusi udara (Barnes. berdasarkan pemeriksaan foto thorax PA diketahui emfisema adalah 126 orang (66%) sedangkan non emfisema 66 orang (34%). 1991). dikalikan 100 % adalah sebesar 92. nilai prediksi positif yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false positive. Kelompok non emfisema pada pemeriksaan spirometri terdapat 12 (18%) dengan obstruksi dan 54 (82%) non obstruksi.0 % . adalah sebesar 90.

setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga menunjukkan tanda-tanda obstruksi sesuai dengan kelainan emfisema (hasil true positive tinggi).3 %. Aliran yang melalui saluran dapat menurun pada berbagai sebab.6 % dan spesifisitas 84. Pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih mudah.3 % . Tidak semua masyarakat bisa menjangkau pemeriksaan tersebut. Saran Perlu dipertimbangkan untuk mengalihkan pemeriksaan spirometri ke pemeriksaan foto thorax PA pada pasien emfisema pulmonum dengan sesak nafas yang tidak dapat melakukan manouver spirometri berkali-kali.4%.1. Volume 1. hal itu dikarenakan terdapat penyakit . gambaran hiperinflasi yang seolah-olah menyebabkan penurunan dan pendataran diafragma maupun tear drop appearance jantung disertai gambaran hiperlusensi juga dapat terlihat pada pasien normal dengan inspirasi dalam maupun atlet dewasa muda tanpa penyakit paru . Sejumlah 10 pasien (false positive) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran emfisema. Standar baku emas emfisema pulmonum secara anatomi saat ini adalah High Resolution Computed Tomography.8 % . Simpulan dan Saran Simpulan Pemeriksaan foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. mempunyai sensitivitas 90.6 % dan spesifisitas 83. Nomor 2. jalan nafas dapat diibaratkan seperti saluran karet. Pada penelitian uji diagnostik ini. Foto thorax PA juga merupakan pemeriksaan yang lebih mudah dan lebih sederhana dengan biaya yang sama dengan pemeriksaan spirometri. Nilai diagnostik foto thorax PA oleh karena itu lebih tinggi dibanding dengan spirometri. Definisi emfisema pulmonum menyebutkan kelainan paru secara anatomis. angka tersebut lebih tinggi daripada hipotesis yang menyebutk an 80 %. foto thorax PA mendeteksi kelainan emfisema tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru . sedangkan spirometri mendeteksi kelainan tersebut sebagai suatu kelainan dari fungsi faal paru. dikalikan 100 % adalah sebesar 81.penyakit di luar emfisema yang juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi jalan nafas (bronkhitis khronis. rasio kecenderungan negatif yaitu hasil false negative per jumlah true positive dan false negative dibagi spesifisitas adalah sebesar 0. didapatkan sensitivitas 90. Pada penelitian ini didapatkan nilai spesifisitas 84. sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan lain yang lebih terjangkau untuk masyarakat kurang mampu tetapi memilik i nilai diagnostik tinggi. lebih nyaman dan terjangkau bagi pasien dibandingkan spirometri. sensitivitas foto thorax adalah 80 %. Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas lebih tinggi daripada hipotesis. namun tidak semua rumah sakit di Indonesia memiliki alat tersebut. Biomedika. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri tidak didapatkan tanda-tanda obstruksi. Menurut Sharma (2006). foto thorax PA untuk mengetahui kelainan struktur paru pada 14 emfisema pulmonum memberikan manfaat yang lebih dibanding dengan uji yang sudah ada yaitu spirometri sebagai gold standard untuk mengetahui fungsi faal paru. ini dikarenakan sejumlah 54 pasien dengan gambaran foto thorax PA non emfisema setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (hasil true negative tinggi). Biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri didapatkan tanda-tanda obstruksi. Hal itu dimungkinkan karena menurut Enright (1987). dikarenakan pasien hanya melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan inspirasi tersebut saat foto diekspose tanpa harus melakukan manouver spirometri berkali-kali yang sulit dilakukan oleh pasien dengan sesak nafas.prediksi negatif yaitu hasil true negative dibagi jumlah false negative dan true negative . Menurut Enright (1987). Tahun 2009 . Sejumlah 12 pasien (false negative) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran non emfisema.8 . rasio kecenderungan positif yaitu sensitifitas dibagi hasil false positive per jumlah false positive dan true negative adalah sebesar 5. Penyempitan saluran dari dalam atau kompresi dari luar. Foto thorax PA pada pelaksanaan pemeriksaan juga lebih memberikan kenyamanan pada pasien. akan menurunkan aliran udara di dalam saluran tersebut. hal itu disebabkan karena sejumlah 116 pasien dengan gambaran foto thorax PA menunjukkan emfisema. asma).

Office Spirometry. FitzGerald. 1997. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease.Daftar Pustaka Barnes P. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Pulmonology Obstructive Airways Diseases. Requirement for Macrophage Elastase for Cigarette smoke Induced emfisema in Mice. 2000. 1996. cetakan ke-2. 157 : 139-47.. Philadelphia Finlay G.149: 1405-1415. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Philadelphia : 249-54. Am. Diagnostik Roentgen. FK. 227 : 2002-4. Med. Global Strategy for The Diagnosis. Majalah Penyakit Dalam. Respir. 1997... Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 15 . 2006. Jakarta : 267-268. 1993. Jakarta: Erlangga. Penelitian Epidemiologi : Pengaruh lingkungan pada PPOM.. Management and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Kobayashi K.physiology. Woolston C.Pathol. Hal :328-332 Sutton D. UNAIR Surabaya : 3-19.. London : 1-28. Shapiro S. Martin Dunitz Ltd. Lea & Febiger. 1991. WB Saunders Company.. Inc : 3 Hautamaki R. O'Donnell. Obstructive Airways Diseases. Elastin and Collagen Remodeling in emfisema A Scanning Electron Microscopy Study. Senior R. Samet J. O'Connor ... Senior R. Washington University School of Medicine. Care. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). 1995. 1981.. Crit.. Godfrey S.org/cgi/content/abstract Simon G... 1998. Sharma S.. Hayes J. Sastroasmoro S.. Texbook Radiology and Imaging : 168-172 Widjaja A. J. Ismael S... Smoking Mice Lead to emfisema Breakthrough. Am. 2003.. Cherniack NS. 1997. 1997. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.J.. Enright P. hhtp://ajplung. Anthonisen N. MCR Vision.. The Relationship of Smoking to COPD .

Nomor 2. Tahun 2009 . Volume 1.16 Biomedika.

Dislipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. education = junior high school (15/37%).. Sardjito General Hospital Jogjakarta.76mg/dl. Pujarini E mail: listyoasistpujarini@yahoo.1998). high LDL on 23/ 56. dalam penelitian prospective longitudinal community.5-6.2004). lowest. yaitu menyimpulkan hubungan yang lemah antara level High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan Low Density Lipoprotein Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Hypercholesterolemia found on 27/65.1% subjects. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas.9% subjects. LDL 242/66/121. HDL78/22/46.2004).5% pada pria dan 19. Most patient with stroke with dementia had abnormal lipid profile. psikiatri. Sardjito Jogjakarta Cholesterol (LDL-C) dengan demensia vaskular (Reitz et al. stroke.73mg/dl. The aim of this study is to get lipid profile of stroke patients with dementia in Dr. and average mean of lipid profile were : total cholesterole 327/130/208. Beberapa penelitian yang lain memberikan hasil yang kontroversial. Insidensi demensia pasca stroke bervariasi antara 23.9% subjects. Keywords: dyslipidemia.1%). HCTS examination reveal that most of lesion are ischemic lesion/infarct iskemik/imfark (23/56. Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR. age = 55-64 (19/47%). Sardjito Yogyakarta.1)..0%).based tentang LDL kolesterol dan risiko demensia dengan stroke. 1993) Abnormalitas lipid berperan dalam proses aterosklerosis kranioserebral. low HDL on 15/36.5% sampai dengan 61% (Schmid et al.. There were 41 subject. Penelitian di Lundby Swedia memperlihatkan angka risiko terkena demensia vaskular sepanjang hidup 34. Pujarini 17 . Dyslipidemia history was positive in 21/ 52.com Abstract There is rising in prevelence of dementia as changing of disease pattern from infection disease to degerenative disease. Sardjito Yogyakarta bulan Oktober sampai Desember 2007. dementia Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup akan menambah jumlah lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degenerasi atau neoplasma. Sardjito Jogjakarta Listyo A. fisik. Gangguan kognitif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan MMSE ( kurang 24).2004).94% pada wanita dengan semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam perhitungan (PERDOSSI. Penelitian terakhir memperlihatkan. kami ingin mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR Sardjito Yogyakarta. This study is descriptive study from patients medical record that were diagnosed by stroke with dementia in Dr Sardjito General Hospital. Sudah lama diketahui bahwa defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke. menyimpulkan bahwa peningkatan LDL kolesterol berhubungan dengan risiko demensia dengan stroke pada Penderita tua (RR:3. bahwa LDL dan trigliserid plasma tidak berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif. trigliserid 244/120/183. Material dan Desain Penelitian Merupakan kajian deskriptif dari catatan medis pasien yang terdiagnosa stroke dengan demensia yang dirawat di Unit Stroke RS DR. Demensia berdasarkan kriteria DSM-IV Listyo A. sedangkan HDL yang rendah dan kolesterol total yang tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif terutama fungsi bahasa (Reitz et al. Most of them are male (28/68%). marital status = married (40/98%) and occupation = retired (12/29%) . Dyslipidemia is one of the risk factors that take part in vascular dementia's process..1. 1992). Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat medis. high trygliceride on 34/82. Hasil lain didapatkan pada penelitian cohort.27mg/dl respectively.6% subjects. Moroney et al. demensia terjadi ratarata seperempat sampai sepertiga dari kasus stroke (Taternichi et al. 1999. pemeriksaan fisik dan Computed Tomografi (CT).97mg/dl. Highest.5% subjects. Peningkatan jumlah lansia akan menambah populasi Penderita demensia (Kaye. and mostly found in frontoparietal lobe (9/22. 95% CI: 1.

Karakteristik subyek menurut pekerjaan 18 Biomedika. Volume 1. Karakteristik subyek menurut umur Dari gambar 1 dan 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar subyek dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 (68%) dan berumur antara 55-64 tahun sebanyak 19 (47%). Nomor 2. Tahun 2009 . Karakteristik subyek menurut status perkawinan Gambar 5. Karakteristik subyek menurut jenis kelamin Gambar 2.Hasil Penelitian Dari penelitian kajian deskriptif ini didapatkan sebanyak 41 Penderita stroke dengan demensia. Karakteristik subyek menurut tingkat pendidikan Gambar 4. Gambar 3. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini : Gambar 1.

9 19.5 80. 4.6 17. Pujarini 19 .9%) Subyek. dan trigliserid tinggi sebanyak 34 (82.3 Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56.3 29.1 43.1 29.1%%).1 36. LDL tinggi sebanyak 23 (56.9 17.6 63. Tabel 3. Riwayat dislipidemia terdapat pada 21 (52.3 70.5%). Karakteristik faktor resiko vaskular Faktor resiko Riwayat dislipidemia Riwayat hipertensi Riwayat DM Status merokok ya tidak ya tidak ya tidak Perokok Mantan perokok Bukan perokok ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak Jumlah 21 19 23 18 8 33 6 7 28 12 25 27 14 15 26 23 18 34 7 Persen(%) 52.9 34. Tabel 2. Sardjito Jogjakarta Listyo A.1 65.6 56. dapat dilihat bahwa sebagian besar profil lipid memang abnormal. dapat kita ketahui sebanyak 15 (37%) Subyek dengan tingkat pendidikan SLTP.5 56.1%) Subyek.5 14.9%) Subyek.1 43. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. 40 (98%) Subyek sudah menikah dan 12 (29%) Subyek dengan pekerjaan sudah pensiunan. Hasil HCTS sesuai patologi lesi Patologi lesi Atrofi Iskemik / Infark Perdarahan Jumlah 6 23 12 Persen(%) 14.4 56.Sedangkan dari gambar 3.1 Gula darah tinggi Kolesterol total tinggi HDL rendah LDL tinggi Trigliserid tinggi Dari tabel tersebut diatas.9 82. Kolesterol total tinggi sebanyak 27 (65.1 67.5 47. 5.

9 12.9 12. Profil lipid pada subjek sesuai nilai minimal-maksimal Dari gambar 6. Gambar 6. lokasi lesi di regio frontoparietal. Tahun 2009 . LDL 23 Subyek. ternyata nilai maksimal kolesterol total. Gambar 7.2 Dari hasil HCTS.8 2. Tabel 4.0%) Subyek. Nomor 2. trigliserid 34 Subyek. ternyata sebanyak 9 (22. Hasil HCTS sesuai lokasi lesi Lokasi lesi Frontotemporalis Paraventrikuler Frontoparietal Parietotemporalis Parietooccipitalis Temporooccipitalis Capsula interna Ganglia basalis Occipitalis Parietalis Lain-lain Jumlah 3 3 9 4 3 2 5 4 1 2 5 Persen(%) 7. LDL dan trigleserid diatas 200 mg/dl dan nilai rata-rata termasuk borderline high-high.2 9.3 7.1%%).3 22. 20 Biomedika. Profil lipid subyek sesuai frekuensi yang abnormal Gambar 7 menyatakan sebagian besar Subyek mempunyai nilai profil lipid yang tinggi yaitu: kolesterol total 27 Subyek.4 4.Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56. Volume 1.3 4.8 7.0 9.

(ICD-X) demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak. anoksia atau hipoksia otak.0 Demensia vaskular onset akut. (3) F01.1 Demensiamulti-infark. B e b e r a p a h i p o t e s i s y a n g dikemukakan para ahli adalah : hipotesis genetik. perhatian. 2004). tidak harus dengan gangguan memori yang menonjol (PERDOSSI. yaitu berkisar 2540%. dengan penurunan fungsi kognisi mulai dari yang ringan sampai yang paling berat dan meliputi semua domain. fungsi kognitif berfluktuasi seperti anak tangga. sedangkan pada Penderita berpendidikan rendah nilai di bawah 24 baru mengindikasikan gangguan kognitif (Bouchard et al. Dalam 4 tahun terakhir beberapa ilmuwan membagi faktor risiko demensia vaskular dalam 4 kategori : 1) Faktor demografi. dislipidemia. Pada Penderita lanjut usia pasca stroke.Pembahasan Sesuai PPDGJ III.. 2) Satu atau lebih gangguan kognitif (afasia. merokok. daya pikir. hipotesis neurotransmiter (Diaz. (c) Tanda & gejala neurologis fokal atau pemeriksaan radiologis menunjukkan infark multipel di daerah kortek & subkortek. 1991). diantaranya volume kehilangan jaringan otak. (b) Gangguan kognitif pada a1 & a2 menyebabkan gangguan fungsi sosial & okupasional yang jelas dan penurunan tingkat kemampuan sebelumnya yang jelas. hipotesis vaskular dan metabolik.. PPDGJ III membagi demensia vaskular sebagai berikut : (1) F01. 3) Hubungan di antara kedua penyakit ini bermanifestasi atau berpengaruh dengan munculnya satu atau lebih keadaan berikut: onset demensia dalam tiga bulan mengikuti stroke.4 Demensia vaskular lainnya. Insiden dan prevalensi demensia vaskular dilaporkan berbeda-beda di berbagai negara. (4) F01. perilaku sosial atau motivasi.2000). penurunan mendadak fungsi kognitif. prevalensi demensia vaskular sekitar 25% (Konsensus Pengenalan Dini & Penatalaksanaan Demensia Vaskular. 1996). Demensia vaskular merupak an suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindrom demensia akibat iskemik. jumlah dan lokasi infark (Herbert et al. berbahasa. (2) F01. Mekanisme terjadinya demensia belum jelas s e p e n u h ny a . 2) Munculnya tanda fokal neurologik. 2) Faktor aterogenik ( hipertensi. untuk penderita berpendidikan tinggi nilai di bawah 27 mengindikasikan gangguan kognitif. hipotesis infeksi dan toksik. kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria NINDS-AIRENS (National Institut of Neurological Disorder and Stroke and Association Internationale pour la Recherche e t l'Enseigment en Neuroscience) (1991). Pujarini 21 . (5) F01. sebagai berikut : 1) Adanya demensia yang ditetapkan dengan penurunan daya ingat yang disertai dengan dua atau lebih gangguan kognitif: orientasi. dan daya kemampuan menilai. (2) F 01 Demensia vascular.2 Demensia vaskular subkortikal.3 Demensia vaskular campuran kortikal dan subkortikal. gangguan funfsi eksekutif. Kesadaran tidak berkabut. Kriteria diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV: (a) Adanya gangguan kognitif multipleks yang dicirikan oleh 2 keadaan berikut: 1) Gangguan memori. penyakit jantung. 3) Faktor non aterogenik. visuospasial. biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi. Sardjito Jogjakarta Untuk menentukan demensia vaskular. Menurut PPDGJIII / ICD X: (1) F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer. apraksia. praksia. bahasa. agnosia. Di Asia prevalensi demensia vaskular lebih tinggi daripada demensia Alzheimer. 2004). (3) F 02 Demensia pada penyakit lain yang tidak diketahui. daya orientasi. fungsi eksekutif dan kontrol motorik. daya pemahaman. Listyo A. 4) Faktor yang berhubungan dengan stroke. Nilai maksimal 30. M ini Mental State Examination (MMSE) merupakan tes yang mudah dan berguna di dalam klinik untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif. (4) F 03 Demensia yang tidak tergolongkan. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. biasanya bersifat kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang multipel) termasuk daya ingat. menopause tanpa terapi penggantian estrogen. diabetes.

Guyton.G. 2001 (mg/dl) LDL-C < 100 100-29 130-159 = 190 Kolesterol Total < 200 200-239 = 240 HDL C < 40 = 60 Trigliserid < 150 150-199 200-499 = 500 Optimal Hampir atau di atas normal Borderline high Very High Normal Borderline High High Low High Optimal Borderline high High Very High Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini merupakan kajian deskristif. New York.. http://www. Small S... dan kadar HDL rendah juga dijumpai pada hampir setengah Subyek) . Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apak ah didapatk an adanya hubungan antara profil lipid yang abnormal dari semuanya komponennya (kolesterol total.B. Text Book of Medical Physiology. Oldest-Old Healthy Brain Functio.. 1986. Neurology. google. Madrid Dunitz . 1991.. maka didapatkan keterbatasan-keterbatasan. 43 (2): 250-60. Tang M. Moroney..pp: 188-193. Tahun 2009 .J. Vascular Dementia: Diagnostic Criteria for Research Studies. T. Arch Neurol..C. American Heart Association. Typical Clinical Features.com. Arch Neurol. kadar LDL tinggi. Bell K. Merchant C. Nomor 2. Merck. E. LDL & Trigleserid) dengan kejadian demensia pada Penderita stroke. Daftar Pustaka Bouchad. Klasifikasi LDL-C. HDL.. M.(ed). Clinical Diagnosis and Managemen of Alzheimer's Disease. X. Karena penelitian ini hanya merupakan penelitian deskriptif dengan melihat catatan medis dan terbatas dalam rentang waktu tertentu. R. 1991. Kolesterol total dan Trigliserid menurut NCEP ATP III (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel). J.. 32(9): 632-7. Stern Y. Incidence and Risk Factors in the Canadian Study of Health an Aging.M. Ilif. London: Martin-Diaz. Kaye. JAMA. 1975. antara lain kelengkapan dalam penulisan rekam medis..C. L. & Rossor.Ltd 35-50. In: Gauthier S. A. 34: 1217-21.D. 1998.. NINDS-AIRENS International Workshop... dan ternyata sebagian besar Subyek dalam penelitian mempunyai nilai profil lipid yang abnormal ( kadar kolesterol total tinggi. 2000. 3: 1487-93. A. & Zihlka. & Maeyeux R. kadar trigliserid tinggi. 1999. W. Cerebral blood flow in Dementia. V. The Essential Brain. Sounders co Japan. HDL-C. Low Density Lipoprptein Cholesterol and the Risk of Dementia With Sroke. 7th ed...W.N. Herbert R et al. Hachinski. 1996.Tabel 1. Volume 1. 22 Biomedika.

. X. Cognitif Impairment After Acut Supratentorial Stroke: a 6-month follow up Clinical and Computed Tomography Study. Schmid. Luchsinger. & Freidl. J. Mechler.. 1993. PERKENNI. Arch Neurol. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Mellitus di Indonesia Reitz.. L.PERDOSSI... Sardjito Jogjakarta Listyo A.. Fazekas. 2004. 241(1)5-11 Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. P. R.. C. M. 1995. Eur Arch-Psychiatry-Clin-Neurosci.. Pujarini 23 . Relation of Plasma Lipid & Alzheimer Disease and Vascular Dementia. Toeng. R. & Mayen. F. Kinkel. W..X. 61: 705-14. Konsensus Pengenalan Dini dan Penatalaksanaan Demensia Vaskular. 2004.

24 Biomedika. Volume 1. Nomor 2. Tahun 2009 .

002 N using phenolftalein as indicator. and to compare the effect of both extract on rat gastric acid secretion in vitro.92 mg/kgBW. after which the treatment (histamine 10-6 M) was added to the unbuffered solution in each group. -5883. It was concluded that the etheric and ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana (Musa balbisiana Colla) showed an inhibitory effect on rat gastric acid secretion induced by histamine. The statistical analysis showed that the AUC0-80 of EESRKB and AESRKB were significantly (p<0. 5650 ± 3191. and the AUC0-80 of EESRKB III were not significantly different (p>0. anesthetized with ether inhalation. The H+ consentration was measured by titration with NaOH 0. 141.7 mg/kgBW.67 ± 2838.67 ± 3659. asetilkolin. dan famotidin).65 in DMSO group.The result showed that the total area under curve (AUC0-80) of H+ consentration was 14550 ± 692. sekresi bikarbonat. and then sacrified. Fifty four rats (3-4 month) of 150-250 g were used in this study.33 ± 80. -1116.05) than those of AESRKB III. The isolated preparation was stabilized for 1 hour and perfusate spilled out. has been studied for its ability to reduce gastric acid secretion.62 in etheric extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (EESRKB I group) equivalent to 1. 1991). agranulositopenia dan trombosito-penia.8 mg/kgBW).33 ± 760.70 in control group (saline).05) than those of AESRKB II.05) than those of AESRKB I.4 mg/kgBW). and 12683. pankreatitis akut. dan penghambat pompa proton (Atman. The rats were fasted and drinking water was given ad libitum for 24 hours before testing.22 in ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (AESRKB I group) equivalent to 8. Is the active compound hydrophylic or hydrophobic has not been known yet.64 in EESRKB II group (equivalent to 3.69 mg/kgBW). the AUC0-80 of EESRKB II were significantly higher (p<0.The aim of his study is to determine the effect of the seed of ripe kluthuk banana (musa balbisiana colla) etheric and ethanolic extract. nefritis interstisial.94 in EESRKB III group (equivalent to 7. Oleh karena itu. Sekresi asam lambung dikontrol oleh 3 agonis utama yaitu histamin. 4500 ± 2819. gastric acid secretion. pelapis dan pelindung permukaan mukosa (sukralfat). and collected for 10 minutes duration. the AUC0-80 was calculated and analyzed by ANOVA. according to the methods modified from Barocelli. This study was conducted using isolated Wistar rat stomach.36 in AESRKB III group (equivalent to 34. They were divided into 9 groups (6 rats each). Ulkus peptik yang masih sering ditemui di masyarakat terjadi karena ketidakseimbangan faktor agresif berupa meningkatan volume asam lambung. The H+ consentration elevation was expressed as mean ± SEM. penyekat reseptor Histamin H2 (simetidin. 8516.Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari E mail: do_must@yahoo. dan gastrin. 1994). 1998). histamine.45 in AESRKB II group (equivalent to 17. obat-obat antiulkus di atas mempunyai efek samping yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumor karsinoid.com Abstract Kluthuk banana (musa balbisiana colla). Keywords : musa balbisiana molla. ethanolic extract Pendahuluan Tukak lambung atau ulkus peptik merupakan keadaan kontinuitas mukosa lambung terputus (Laurence. a seeded banana. Pretreatment was added to the unbuffered mucosal solution for 30 minutes. 1964). masyarakat Domas Fitria Widyasari 25 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro . the AUC0-80 of EESRKB I were not significantly different (p>0. and the ethanolic extract showed an inhibitory effect more than those of etheric extract. known as basal H+ consentration . etheric extract. pepsin dan infeksi Helicobacter pylori dengan faktor defensif berupa integritas mukosa lambung. Perfusate from gastric lumen were collected every 10 minutes untill 80 minutes and H+ consentration were measured by mean of titration.67 ± 3444.33 ± 968. -1333. ranitidin.84 mg/kgBW).05) lower than those of control solution (except EESRKB II). dan prostaglandin (Price. Namun. The rats were weighted. mukus. selain harganya yang tidak murah (Dollery. Obat yang mengurangi sekresi asam lambung sebagai terapi ulkus peptik dapat dikelompokkan ke dalam golongan antasida (Al(OH)3 dan Mg(OH)2). The stomach was taken and suspended in an organ bath containing 37°C buffered serosal solution and bubbled with carbogen.28 in cimetidin group. The gastric lumen was perfused continuously with unbuffered mucosal solution 1 ml min-1 and bubbled with 100% O2. The perfusate was allowed to flow continuously.

pisang (Musa) telah dikenal masyarakat sebagai buah yang enak dimakan dan sebagai obat tradisional (Depkes RI. dianestesi. serta membandingkan keduanya. masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (3 ekor jantan. Tikus tersebut kemudian dipuasakan 24 jam sebelum percobaan dengan tetap diberi air minum secukupnya. Peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dinyatakan dalam mean ± SEM.84 mg/kgBB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK II).69 mg/kg BB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK III). 2002). kelompok VII dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang 34. Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. Tahun 2009 . Lalu masukkan bahan uji ke dalam larutan unbuffered mucosal untuk perfusi selama 30 menit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk. mengobati luka.4 µg/kgBB dalam unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi H+ asam lambung. 1982). kelompok II dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Volume 1. kelompok III dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi H+ nya dengan titrasi. Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur dengan menggunakan NaOH 0. 3 ekor betina). Modifikasi berupa penggantian system pengaliran larutan garam fisiologis (unbuffered mucosal) ke dalam lumen lambung tikus yang semula menggunakan pompa peristaltik. pada penelitian ini diganti dengan tetesan. dan berat 150-250 g sebanyak 54 ekor.mulai mencari alternatif pengobatan ulkus peptik dari obat-obat tradisional yang lebih murah dengan efek samping yang minimal. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi H+ basal. terhadap sekresi asam lambung tikus putih in vitro.2 % v/v dalam unbuffered mucosal.4 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK II). Material dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih atau rat (Rattus norvegicus) galur Wistar jenis kelamin betina dan jantan yang sama jumlahnya dengan umur 3-4 bulan. dan untuk pengobatan radang amandel (Sudarsono. Semua tikus dipilih acak dan dibagi 9 kelompok. Nomor 2. kelompok IV dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. 26 Biomedika. Uji ini menggunakan metode menurut Barocelli et al. Total luas area di bawah kurva menit ke-0 sampai menit ke-80(AUC 0-80 ) dihitung dan dianalisis menggunakan analisis varian. Kemudian semua kelompok diberikan perlakuan dengan histamin 736. Lumen lambung selalu diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml/menit dan diberi gelembung O 2 100%. Penelitian Sanyal et al. kelompok V dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. kemudian lambung tikus diangkat dan dipasang pada organ bath yang berisi larutan buffered serosal pada suhu 37Í dan C dialiri gas karbogen (O2 95% dan CO2 5%). kemudian diberi perlakuan dengan histamin 736. Pisang dapat digunakan sebagai obat sakit perut (sariawan perut dan maag).002 N dengan indikator fenolftalein. kelompok VIII (kelompok kontrol positif ) diberi praperlakuan dengan simetidin dalam unbuffered mucosal. Selama diberi perlakuan. kelompok VI dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. (1963) dan Elliot & Heward (1976) menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan produksi asam lambung dan menyembuhkan ulkus lambung.7 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK I). Penelitian Tjandrasari (1991) menunjukkan bahwa ekstrak air dan alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dapat menyembuhkan ulkus lambung tikus yang ditimbulkan oleh aspirin.92 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EEBPK I).4 µg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal. Penelitian dengan menggunakan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk belum pernah dilakukan. diare. Pengelompokan ini berdasarkan jenis praperlakuan yang diberikan. Secara tradisional. (1997) yang dimodifikasi sejak tikus dianestesi.8 mg/kg dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK III). Tikus ditimbang. Kelompok I (kelompok kontrol negatif garam fisiologis) diberi praperlakuan dengan larutan unbuffered mucosal. Kelompok IX (kelompok DMSO) diberi praperlakuan dengan dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. Penelitian yang dilakukan Sholikhah (2000) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001) menyatakan bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk muda mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro.

00 ±41.33 ±4.33 ±37.48 6.28 7 313.55 EEBPK III EABK I EABPK II EABPK III Simeti din DMSO Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 27 .51 -20.19 0.36 226.00 ±69.16 103.33 ±52.00 ±32.33 ±50.57 270.00 ±0.20 6 300.67 ±6.83 -16.27 40.30 23.25 -20.10 46.71 60.40 -20.85 5 250.33 ±15.00 ±6.33 ±49.00 156.33 ±41.67 ±38.33 ±19.56 -13.67 ±99.67 ±21.67 ±42.00 ±11.33 ±54.77 76.23 60.00 ±42.00 213.22 66.00 ±117.00 ±10.00 276.83 0.Hasil Penelitian Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.67 ±54.67 ±14.37 -13.23 -16.16 10.00 96.4 µg/kgBB tiap 10 menit pada seluruh kelompok praperlakuan Kelompok Garam Fisiologs EEBPK I EEBPK II 1 50.65 166.76 -13.00 ±88.33 ±55.36 -3.00 263.42 -10.33 ±47.83 -16.77 113.33 23.22 -20.33 ±42.98 35.00 ±6.25 100.00 ±29.77 -20.47 40.67 ±44.00 ±9.00 293.62 93.33 ±72.67 ±9.67 ±21.33 ±72.02 73. Tabel 1.15 73.30 -23.25 3.09 8 316.15 10 menit ke4 186.33 ±43.29 53.00 ±0.33 ±50.33 ±19.44 -110.53 53.33 ±44.58 26.00 ±0.55 -20.33 ±15.33 ±49.33 ±49.00 ±0.67 ±33.26 -20.00 ±6.67 ±50.08 -133.89 3 110.55 -123.28 170.00 ±42.67 ±82.00 ±53.00 ±54.00 ±4.33 ±44.00 ±0.75 -23.33 ±45.33 ±137.85 -123.33 ±69.33 ±20.86 73.55 93.33 ±48. Rerata peningkatan konsentrasi H+ (µEq) pada perfusat cairan lambung tikus putih (mean + SEM) sesudah perlakuan dengan histamin 736.62 20.67 ±15.30 2 86.29 -133.61 88.89 -3.97 -23.95 51.89 -13.33 +45.67 ±12.67 ±9.33 ±48.00 ±35.67 ±9.33 ±14.00 ±7.00 ±0.

3. 17. EABPK II= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. EEBPK I= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1.84 mg/kgBB.05) mulai dari 10 menit pertama setelah perlakuan dengan histamin. Simetidin= simetidin 27 mg/kgBB. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa histamin dapat meningkatkan sekresi H+ asam lambung. DMSO= dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0.05) sampai pada 10 menit ke-8.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan kenaikan yang bermakna (p>0. EABPK I= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. EEBPK II= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. Pada 10 menit ke-6 menunjukkan kenaikan yang konstan (p>0.05) dari 10 menit pertama berturut-turut sampai 10 menit ke-8. Tahun 2009 . Tampak rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih pada kelompok kontrol negatif garam fisiologis meningkat (p<0. Nomor 2. EEBPK III= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7.8mg/kgBB. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya yaitu Barocelli (1997) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001).7 mg/kgBB.92 mg/kgBB (EEBPK I).4 µg/kgBB Keterangan: Kontrol= larutan garam fisiologis unbuffered mucosal. Tabel 1 menyajikan rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung tikus putih (mean + SEM) tiap 10 menit sesudah perlakuan dengan histamin 736.69 mg/kgBB. dan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Peningkatan konsentrasi H+ per 10 menit pada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.92 mg/kgBB.69 mg/kgBB (EEBPK III).2% v/v dalam larutan unbuffered mucosal. Volume 1.7 mg/kgBB (EABPK I). Sedangk an grafik rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dari menit ke-10 sampai pada menit ke-80 pada semua kelompok praperlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Gambar 1. EABPK III= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 34. 7.4 mg/kgBB (EABPK II).Gambar 1.84 mg/kgBB (EEBPK II).4 µg/kgBB pada semua kelompok praperlakuan. 28 Biomedika.4 mg/kgBB. Rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin 736. 34.

45 EABPK III 14600 -1600 -6700 -700 -2500 -9800 -1116. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 1. Mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736. Gambar 2. 3.67 3659.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.Tabel 2. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.28 DMSO 13400 16600 12200 13300 10700 9900 12683.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak berbeda bermakna (p>0. 5.67 2838. Mean SEM KON TROL 15700 15500 13200 15700 15500 11700 14550 692.67 3444.4 µg/kgBB in vitro Kelompok Tikus 1.64 EEBPK III 200 500 3000 15300 15900 -1000 5650 3191.4 µg/kgBB invitro pada seluruh kelompok praperlakuan.4 µg/kgBB in vitro pada seluruh kelompok praperlakuan Gambar 2 menyajikan mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.33 80. maka semakin besar konsentrasi H+ di dalam cairan perfusat preparat lambung tikus putih tersebut.22 EABPK II -5600 -6900 -6900 -7800 -5600 -2500 -5883.65 Tabel 2 menunjukkan luas area di bawah kurva / Area Under Curve (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ perfusat cairan lambung tiap tikus pada seluruh kelompok yang ditimbulkan oleh histamin in vitro. 6. dan 7.36 SIMETIDI N -1100 -1100 -1300 -1500 -1500 -1500 -1333. Nilai AUC menggambarkan jumlah konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih dari 10 menit pertama sampai 10 menit ke-8 (AUC0-80).05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.7 mg/kgBB (EABPK I).62 EEBPK II 11900 -1400 21600 -1400 7300 13100 8516. Luas area di bawah kurva (AUC0-80) pada perfusat cairan lambung tiap tikus putih pada seluruh kelompok sesudah perlakuan dengan histamin 736.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih rendah (p<0. Semakin tinggi nilai AUC0-80.92 mg/kgBB (EEBPK I) dan 7.94 EABPK I 13700 12900 1400 1200 -1200 -1000 4500 2819.33 968. serta ekstrak etanol Domas Fitria Widyasari 29 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro . dan 34. dan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 7.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis. 17. 2. 4.8 mg/kgBB (EABPK III) lebih rendah (p<0.69 mg/kgBB. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.92 mg/kgBB.70 EEBPK I 2100 700 1350 -12100 -600 9400 141.4 mg/kgBB (EABPK II).33 760.

84 mg/kgBB (EEBPK II). ekstrak etanol dosis 8.7 mg/kgBB (EABPK I) lebih tinggi (p<0. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan ekstrak eter dosis 7.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.69 mg/kgBB (EEBPK III).05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 17.84 mg/kgBB.84 mg/kgBB dapat menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih tinggi (p<0.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.8 mg/kgBB (EABPK III). Nilai AUC0-80 kelompok simetidin lebih rendah (p<0. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang Biomedika.7 mg/kgBB (EABPK I).8 mg/kgBB (EABPK III).4 mg/kgBB (EABPK II) dan 34.7 mg/kgBB (EABPK I). Tahun 2009 . Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesalahan teknis di dalam penelitian Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.8 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.7 mg/kgBB (EABPK I) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro yang lebih lemah daripada ekstrak etanol dosis 17. tetapi tidak signifikan.69 mg/kgBB mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.69 mg/kgBB.4 mg/kgBB (EABPK II). sedangkan bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 8.7 mg/kgBB. dan 34.92 mg/kgBB (EEBPK I).4 mg/kgBB (EABPK II) . dan ekstrak etanol dosis 34.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan 7. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. sedangkan ekstrak eter dosis 3.05) dibandingkan dengan kelompok simetidin. Hal ini sesuai dengan Altman (1998) yang menyatakan bahwa simetidin mengurangi sekresi asam lambung karena simetidin merupakan antagonis reseptor histamin yang bekerja berkompetisi secara reversibel dengan histamin pada reseptor H2. 17.92 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang lebih kuat daripada ekstrak eter dosis 3. Volume 1.dosis 8. Ekstrak eter dosis 3. ekstrak etanol dosis 17. Hal ini mendukung hasil penelitian Sholikhah dan Ngatidjan (2001) yang menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh aspirin.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis. dan ekstrak etanol dosis 34.92 mg/kgBB (EEBPK I). Nilai AUC0-80 pada kelompok EEBPK I menunjukkan nilai yang ekstrim bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan lain. ekstrak etanol dosis 17.4 mg/kgBB (EABPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Sedangkan ekstrak etanol dosis 17.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. dan mempunyai kemampuan yang sama dengan ekstrak eter dosis 7.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34. Ekstrak eter dosis 3.84 mg/kgBB (EEBPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Hasil ini menunjukkan bahwa simetidin mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sama kuatnya dengan simetidin 27 mg/kgBB. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 30 dosis 17. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.05). sedangkan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.69 mg/kgBB (EEBPK III) menunjukkan hasil yang tidak berbeda (p>0.4 mg/kgBB (EABPK II).92 mg/kgBB (EEBPK I) lebih rendah (p<0. ekstrak etanol dosis 8.4 mg/kgBB. Nomor 2.05) daripada kelompok simetidin.4 mg/kgBB (EABPK II) dan tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.84 mg/kgBB dan 7.69 mg/kgBB (EEBPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ lebih lemah daripada simetidin 27 mg/kgBB. Pembahasan Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.

G. Drugs used in gastrointestinal disease. Dal Piaz V dan Impicciatore M. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan ½ pisang. Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. 7th ed.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 17. East Notwalk: The Appleton & Lange: 1017-29 Barocelli E. 1976. The influence of banana supplemented died on gastric ulcers in mice. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang lebih lemah daripada ekstrak etanol. 1991. Saran Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak-ekstrak lain biji pisang kluthuk terhadap s e k re s i a s a m l a m b u n g ( H + ) d a n p e r l u penambahan jumlah sampel (hewan coba) penelitian. Simpulan dan Saran Simpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. menyembuhkan ulkus serupa yang sudah ada. Pharm. Das PK. B. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Tjandrasari (1991) dan Sholikhah (2000) yang menunjukkan bahwa pisang kluthuk mempunyai efek mencegah dan menyembuhkan ulkus lambung tikus yang disebabkan aspirin. Ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk menunjukkan efek yang lebih besar daripada ekstrak eter.92 mg/kgBB (EEBPK I) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. Gupta KK. Pemanfaatan Tanaman Obat.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. J.8 mg/kgBB (EABPK III). Edisi 4. Nilai AUC00-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 7. 1963. dengan mengingat bahwa ekstraksi dengan etanol menyarikan zat aktif yang larut dalam air dan lemak. Volume 1. London: Academic Press Price SA. Jakarta: EGC Sanyal AK. 35(5): 487-92 Depkes RI. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Ballabeni V. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 1997. dalam Katzung. Buah pisang kluthuk muda dapat mencegah timbulnya ulkus lambung tikus akibat pemberian salisilat. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan efek penghambatan sekresi asam lambung yang lebih kuat daripada ekstrak eter. Banerji CR. 1998. Barlocco D. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. J.7 mg/kgBB (EABPK I). Res. Pharmacol 15: 775-6 Sanyal AK. Chowdhury NK. Chiavarini M. Perbandingan efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk dihitung berdasarkan nilai AUC0-80 pada kedua jenis ekstrak dengan dosis yang bersesuaian.. sedangkan ekstraksi dengan eter menyarikan zat aktif yang larut dalam lemak. Edisi II. Ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin 736. 1964. 1963. New York: Churchill Livingstone Elliot RC and Heward GJF. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 3. Study of antisecretory and antiulcer mechanism of new indenopiridazinone in rats. Pharmacol 15: 283-4 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 31 .05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 34. Banana and restrain ulcer in albino rats (letters to the editor). Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 1 pisang. Pharmacological Research Communication 8(2): 167-71 Laurence DR and Bocharah AL.4 mg/kgBB (EABPK II).05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Jakarta: Depkes RI Dollery SC. Pharm. Daftar Pustaka Altman D. Therapeutic Drugs. Pharmacol. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. 1994. 1982. dan dapat mengurangi volume sekresi asam lambung seperti halnya simetidin. Banana and experimental peptic ulcer. (Editor): Basic and Clinical Pharmacology. Vianello P. 2.84 mg/kgBB (EEBPK II) lebih tinggi (p<0.menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin in vitro seperti halnya simetidin.4 µg/kgBB in vitro. Kemungkinan besar zat aktif yang berefek penghambatan sekresi asam lambung bersifat hidrofilik. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 2 pisang.

sifatsifat dan penggunaan). Pharmacol 13: 318-9 Sholikhah EN dan Ngatidjan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 32 Biomedika. Sinha YK. Tumbuhan Obat II (hasil penelitian. 2001. Nomor 2. Volume 1. Pharm. Donatus IA. J.dan Purnomo. Skripsi Fakultas Farmasi. Das PK. 1991. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada Tjandrasari S. Efek ekstrak alkohol daging buah dan biji pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Sinha S. 1961. Cara kerja ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dalam mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro.Sanyal RK. Mediagama 2(3): 14-9 Sholikhah EN. 2000. Berkala Ilmu Kedokteran 33(2): 77-82 Sholikhah EN. Efek ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin in vitro. Ngatidjan. 2002. Gunawan D. Banana and gastic secretion (letters to the editor). 2000. Pramono S. Pengaruh ekstrak pisang kluthuk (Musa brachycarpa Beck) terhadap ulkus lambung tikus karena salisilat. Wahyuono S. Tesis Program Pasca Sarjana. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudarsono. Tahun 2009 .

917). Aktivasi dan proliferasi sel T di lien terjadi di selubung limfoid periarterioler lalu terjadi migrasi ke zona marginalis.2 ml/day (± 35 ìg extract). Penelitian membuktikan bahwa secara laboratoris senyawa flavonoid dapat meningkatkan produksi IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit (Lisdawati. P3 and P4 (p=0. dengan membandingkan hasil observasi pada Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. saponin.ac. But there were not on P3 and P4 ones. Lymphocytes from the spleen of all mice were isolated after 2 weeks treating. terutama di daerah pulpa putih. IL-2 juga merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B dan NK (Natural Killer). P1 and P2 (p=0. Penelitian terbaru menunjukkan proliferasi limfosit T juga dapat terjadi tanpa melalui IL-2.4 ml/day (± 70 ìg extract).8 ml/day (± 140 ìg extract). Keywords: lymphocyte proliferation.009). 2003) Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the post test only control group design. and P4 was group given mahkota dewa extract 1. 2002) Proliferasi limfosit T yang dirangsang oleh antigen.5 ml/day (± 280 ìg extract). dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya (Sepgana. 2005). On the giving of mahkota dewa's fruits extract there were significant increase of lymphocyte proliferations on BALB/C mice on P1 and P2 groups. dan sebagian lainnya akan bersirkulasi ke darah perifer.675). Lymphoblasts were counted in every 200 cells. Selain itu. consisted of 25 male mice which devided into 5 groups. K and P2 (p=0. P2 was group given mahkota dewa extract 0. dengan randomisasi sederhana. An experimental study with the post-test only control group design was carried out on experiment animal BALB/C mice.012). sedangkan pada kulit buahnya terkandung zat flavanoid. P3 was group given mahkota dewa extract 0. E mail: kedokteran@ums. mahkota dewa Pendahuluan Mahkota dewa atau Phaleria papuana merupakan tanaman obat tradisional yang banyak dipergunakan masyarakat untuk berbagai penyakit dan penambah stamina pada orang sehat. P1 and P3 (p=0. Menggunakan 5 kelompok. K and P4 (p=0. K was control group without treatment with mahkota dewa extract. And there were no significant differences in lymphoblasts count between K and P3 (p=0. Buah mahkota dewa mengandung zat kimia antara lain alkaloid. dan senyawa resin.028).7 Folikel limfoid lien kaya dengan sel B yang berperan dalam respon imun humoral.id Abstract Mahkota dewa (Phaleria papuana) fruits consists of chemicals that are able to increase lymphocytes proliferation.Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M.009).009). Penilaian dilakukan hanya pada saat post test. The objective of this study was to show the influence of Mahkota dewa's fruits extract in spleen lymphocytes proliferation of BALB/C mice. P1 and P4 (p=0. terpenoid. Saifulhaq M.028). There were significant differences in lymphoblasts count between K and P1 (p=0. terutama diatur oleh pengaruh IL-2 terhadap reseptor IL-2 yang dimiliki pada permukaan selnya.009). tannin. misalnya melalui IL-4 (Middleton. yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan.917). Akhir-akhir ini semakin banyak masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif karena harganya yang relatif murah dan manfaatnya memuaskan (Hartati. P2 and P4 (p=0. 2000) Lien merupakan salah satu organ limfoid sekunder yang di dalamnya terdapat limfosit T maupun limfosit B. Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas pengaruh buah mahkota dewa dalam memodulasi sistem imun sehingga dapat menjadi tambahan informasi dalam pertimbangan konsumsi tanaman obat. whereas P1 was group treated with mahkota dewa extract 0. Sebagian kecil sel T yang teraktivasi masuk ke dalam folikel limfoid. 33 . Mahkota dewa yang digunakan biasanya dicampur dengan berbagai bahan lain dalam satu ramuan dimana untuk setiap penyakit tidak sama. P2 and P3 (p=0.

5 15.8 ml/sonde/hari Perlakuan 4 (P4): diberi ekstrak mahkota dewa 1. dilakuk an pemeriksaan limfosit dengan menghitung jumlah limfoblas dalam 200 sel dari tiap preparat.4 + 4.5 26 14 10.34 P4 20 12. 1 Grafik rerata jumlah limfoblas 34 Biomedika. dan sehat.5 31. setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu. Lima kelompok mencit tersebut adalah : Kontrol (K) : diberi aquades namun tidak diberi ekstrak mahkota dewa.kelompok perlakuan dan kontrol. masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor.8 + 4. serta antar kelompok perlakuan.33 diberi ekstrak mahkota dewa 0.23 P1 39.05. Analisa statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Sampel penelitian diambil secara acak (random) dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi sebagai berikut: mencit strain BALB/C jantan.5 Gambar.11 24. Perlakuan 1 (P1): diberi ekstrak mahkota dewa 0.6 + 6.5 28 15. Sehingga jumlah total sampel sebanyak 25 ekor.5 41 33 37.5 10 13. Hasil Penelitian Hasil persentase jumlah limfoblas dalam 200 sel (limfosit dan limfoblas) semua kelompok ditampilkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 5 ekor per kelompok. yaitu uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney U. Mencit BALB/C sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok. Setelah itu.5 14 16. umur 8 minggu.5 27 22 20. Tiap kelompok mencit mendapatkan pakan standar dan minum yang sama secara ad libitum. Tahun 2009 .5 19 16 16.5 12.8 + 3. lalu dibuat persentasenya.4 ml/sonde/hari Tabel.2 ml/sonde/hari Perlakuan 2 (P2): diberi ekstrak mahkota dewa 0. Nomor 2.5 16.5 36.22 P3 20. Nilai signifikasi pada penelitian ini adalah apabila variabel yang dianalisis memiliki nilai p < 0. Perlakuan 3 (P3): P2 26.5 + 4.1 Persentase jumlah limfoblas semua kelompok mencit No 1 2 3 4 5 Rerata + SD K 23.5 ml/sonde/hari Mencit dibunuh untuk dilakukan pengambilan/isolasi splenosit (lien). Volume 1.

917) maupun dengan kelompok P4 (p=0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0. maupun P4.002 (p<0. Tabel.05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna. perbedaan bermakna juga didapat antara kelompok P2 dengan P3 (p=0.10 Adanya efek sitotoksik dan imunosupresan memungkinkan terjadinya hambatan terhadap proliferasi limfosit pada batas dosis tertentu. Hartati dkk (2002) membuktikan bahwa dalam mahkota dewa terdapat senyawa Phalerin yang mempunyai efek sitotoksik.012) dan P4 (0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0.028* 0.012* 0. P3.5 Hal inilah yang mungkin menyebabkan peningkatan jumlah limfoblas secara bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.675 P1 0.9 Middleton et al. yaitu antara kelompok K dengan P1 (p=0.8 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0. Saran Perlu dilakuk an penelitian yang menghubungkan tingkat toksisitas buah mahkota dewa dengan dosis ekstrak yang diberikan. Saifulhaq M. disebutkan bahwa senyawa flavonoid meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit. Sedangkan kelompok K tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4.2 ml/hari selama 2 minggu dibanding dengan kelompok kontrol yang tidak diberi ekstrak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0.028). dan P4 ( masing-masing p=0. Dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok P3 dan P4.028* 0.009* 0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol. Menurut penelitian Jiao et al.917).675) tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Begitu juga antara kelompok P3 dengan kelompok P4 (p=0. Demikian juga antara kelompok yang mendapat ekstrak mahkota dewa 1.917).009* P2 P3 P1 P2 P3 P4 * Bermakna 0. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pemberian ekstrak buah mahkota dewa didapatkan peningkatan proliferasi limfosit lien yang bermakna pada mencit BALB/C kelompok P1 dan P2.Dari Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase jumlah limfoblas pada kelompok P1 lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. menyebutkan bahwa senyawa flavonoid selain mempunyai efek imunostimulan juga memiliki efek imunosupresan. Pembahasan Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok mencit yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. Uji Kruskal Wallis didapatkan hasil p=0. Sedangkan kelompok P2 lebih besar dibandingkan dengan kelompok K. P3. Demikian juga antara kelompok yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.009).2 ml/hari dan 0.009) dan P2 (p=0. khususnya terhadap berbagai organ vital serta penelitian lebih lanjut untuk penggunaannya pada manusia sehat.675). Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. juga antara kelompok P1 dengan kelompok P2. antara kelompok yang diberikan ekstrak mahkota dewa 0.009).917 Selanjutnya pada uji Mann Whitney U (Tabel 2) dapat dilihat bahwa jumlah limfoblas pada kelompok K dibanding dengan kelompok P3 (p=0.009* 0.009* 0. Namun. 35 . Hal inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.028).028). Selain itu. Sedangkan pada kelompok lainnya didapatkan perbedaan yang bermakna.917 0. 2 Nilai p dari uji statistik Mann Whitney U jumlah limfoblas K 0.8 ml/hari dan 1.

Majalah farmasi Indonesia. Cetakan 1. M Sonlimar. Jakarta.52 (4): 673-751 Sepgana S. Simposium penelitian Tumbuhan obat III.mahkotadewa. In: Cellular and molecular immunology. 3rd ed. 2000. Alih Bahasa: Suryawidjaja. Sumastuti R. Pharmacological Reviews.nlm.Daftar Pustaka Abbas A. Yux. Baratawidjaja K. Diakses 20 Oktober 2002 Middleton E. Binarupa Aksara. Iwang S. and cancer. 1988.com/medika/online/i ndex-isi. Lichtman AH.gov/pubmed. Ed 4. Theoharides TC.P. Available at: URL:http://www. 1997. 2005. The effects of plant flavonoids on mammalian cells:implications for inflammation. WB Saunders. Volume 1. Jakarta Winarto W. JE. Ganthina. 2000.Accessed Juny 20. Universitas Indonesia. Rao KV. Segi praktis imunologi. Skrining fitokimia dan asam fenolat daun dewa/Gynura procumbens (Lour. From : http://www. Philadelphia. Phalerin. Mahkota dewa budi daya dan pemanfaatan untuk obat. Hamann MT. Imunologi dasar. Tahun 2009 .) merr. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta Hartati MS. heart disease. P. Diakses 20 Juni 2003 Weir DM.) toksisitas.ncbi. 1990. Wen J.tempointeraktif.15 Jiao Y. Influence of flavanoid of Astragalus membranaceus's stam and leaves on the function of cell mediated immunity in mice. Gandjar IG. Available at: URL:http://www.com/VPC/vivi. 2003. Pober JS. Jakarta 36 Biomedika. Boerl.] terhadap sel hela. 116-35.] leaves. Antigen presentation and cell antigen recognition.asp?file=art-3. Efek sitotoksik ekstrak buah dan daun mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Sceff) Boerl. Penebar Swadaya. Nomor 2. Mubarika S. a new benzophenoic glucoside isolated from the methanol ectract of mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff ). Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff ) Boerl.nih. efek antioksidan dan efek antikanker berdasarkan uji penapisan farmakologi. Kandaswami C. 2003 Lisdawati V. Wahyuono S.htm.

id Abstract Chitosan is a natural compound (aminopolysaccharide) earned through a process deacetylation base on chitin derived from processed shrimp white skin. and 5500 mg group. Sifat kitosan yang lain adalah mempunyai daya pengikatan lemak yang lebih tinggi dibandingkan serat lain sehingga mampu menghambat absorpsi lemak tubuh (Silvani. Budidaya udang di Indonesia telah berkembang pesat. whereas the negative control treatment with all groups is different (ñ<0. Seperti serat tanaman.ac. kitosan potensial untuk dijadikan sebagai obat penurun lemak (Rismana. This study is laboratory experimental. Dengan penggunaan kitosan yang merupakan hasil olahan dari udang tersebut. and have power fastening fat is higher than other fibers. Kitosan olahan kulit udang putih adalah senyawa alami (aminopolisakarida) yang diperoleh melalui proses deasetilasi basa pada kitin. (Nammi dkk. Dalam penelitian ini. ekor. Hal ini berarti bahwa kepala. are non-toxic. maka diharapkan dapat turut membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang. Banyaknya sampel 25 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. pembuatan k itosan banyak diusahakan masyarakat dengan menggunakan cangkang Crustaceae sp yang merupakan sumber utama zat kitin (Schiller dkk. Pada obesitas terjadi akumulasi energi tubuh yang berlebihan dalam bentuk trigliserida (Gibney. Dan bagaimana efektivitas variasi dosis kitosan terhadap penurunan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi. 2001). Material dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakuk an adalah eksperimental murni (Murti. dan mengurangi estetika lingkungan (Manjang. Subjek Penelitian 1. bersifat non toksik. 2006). 2002). Shoim Dasuki. Nurina Risanty E mail: m_shoim@ums. Nurina Risanty 37 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) . The sample consists of a negative control group. Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. 2006). penulis ingin meneliti apakah kitosan olahan kulit udang putih mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. berumur kira-kira 2 bulan dengan berat badan antara 100 200 gram. chitosan is able to decrease the triglyceride plasma level of white mouse (Rattus norvegicus) in second week. so capable of preventing absorption body fat. The effective dose is the 3500 mg. The results showed that positive control group with all the variations dose chitosan is not different (ñ>0. dan kulitnya. 2001). 2004). Keywords: chitosan. 2004). ekor. chitosan dose of 3500 mg. 4500 mg. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Shoim Dasuki. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih: M. This study aims to determine the effect chitosan to the triglyceride plasma level of white mouse. triglyceride. plasma of white mouse (Rattus norvegicus) Pendahuluan Salah satu penyebab obesitas yang saat ini dianggap sebagai penyakit kronis dunia modern adalah hasil dari pilihan gaya hidup yang banyak mengonsumsi lemak berlebihan dan sedikit olahraga.Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) M. Saat ini. menimbulkan bau. 1993). The conclusion. Dengan demikian. Fakultas Kedokteran. Laboratorium Biomedik III. Limbah udang tesebut dapat menjadi masalah pencemaran lingkungan.05). Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang telah dibuang kepala. Cara yang efektif untuk mengurangi kandungan kalori dari suatu diet menurunkan asupan lemak (Wardlaw dan Smith. dan biodegradabel (Shepherd dkk. 2. positive control group (Simvastatin). 1997). biodegradable. kitosan tidak dapat dicerna sehingga tidak memiliki nilai kalori.05). strain Wistar. dan kulit udang menjadi limbah.

kemudian kadar trigliserida plasma diukur dan didapatkan hasil yang dapat dilihat pada gambar 1. Dari uji tersebut didapatkan hasil p=0. Variabel bebas : Kitosan 2. kelompok 3 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 3500 mg. Kadar trigliserida pada kelompok 1 hingga 5 saat minggu ke 1 hingga minggu ke-4 terus meningkat. Variabel terikat : Kadar trigliserida plasma tikus putih. Fakultas Kedokteran UMS pada bulan Maret Mei 2009.05. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok. kelompok 4 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 4500 mg. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol negatif. Tingkat probalitas dari dua kelompok tikus dapat dilihat pada tabel 2. kelompok 5 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 5500 mg. Volume 1. Semua tikus putih ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan penelitian untuk menentukan dosis lemak kambing dan kitosan yang diberikan. didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel 2. Variabel luar : a. Dapat dikendalikan : makanan. u n t u k m e l i h a t d a n membandingkan penurunan kadar trigliserid antara dua kelompok perlakuan. Untuk mengetahui perubahan kadar trigliserid dilakukan perhitungan selisih dari waktu ke waktu. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 25 ekor dari strain yang sama yaitu wistar. genetik. Dari uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji M a n n W h i t n e y U. Nomor 2.Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok kontrol negatif. Dari perhitungan tersebut. Selanjutnya perlakuan terhadap tikus diberikan pada kelompok 1 hingga 5 mulai dari minggu pertama perlakuan hingga minggu ke empat. Data yang didapat dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dengan derajat kemaknaan p = 0. Tahun 2009 . Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik III. Hasil penimbangan berat badan tikus dianalisa secara statistik dan didapatkan rata-rata berat badan tikus. tidak diberi kitosan : kelompok kontrol positif. b Tidak dapat dikendalikan :gangguan fungsi empedu dan lipase. Berdasarkan data di atas kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis antara kelompok 1 hingga kelompok 5.068 berarti tidak ada perbedaan bermakna (p>0.05) terhadap berat badan tikus antara kelompok 1 hingga kelompok 5. 38 Biomedika. 3. kelompok 2 merupakan kelompok kontrol positif. kecuali pada kelompok 1 (kontrol -). Masing-masing kelompok berisi lima ekor tikus. diberi obat antilipidemia Simvastatin : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 3500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 4500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 5500 mg/hari : Identifikasi Variabel Penelitian 1. Rata-rata berat badan tikus dapat dilihat pada Tabel 1. Setiap kelompok ditempatkan pada kandang yang berbeda dan mempunyai faktor lingkungan (suhu dan kelembapan) yang sama agar faktorfaktor luar yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat ditekan seminimal mungkin. mulai minggu ke1 hingga minggu ke-2. Pada minggu ke 4 trigliserid turun. berumur kira-kira 3 bulan.

009 0. Rata-rata berat badan tikus putih sebelum perlakuan KELOMPOK I NO (KITOSAN 3500 MG) 1 120 2 168 3 158 4 156 5 168 RATA2 154 KELOMPOK II (KITOSAN 4500 MG) 135 153 156 165 143 150.05 0.05 0.05 0.140 0.231 0.009 0.4 KELOMPOK IV KONTROL (-) 146 119 123 148 145 136.2 KELOMPOK V KONTROL (+) 142 152 150 156 145 149 Gambar 1.05 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 39 . Kelompok Kelompok + KontrolKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg KelompokKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 5500 mg N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Median 0.108 0.009 0.Tabel 1. Perubahan trigliserida dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 Tabel 2.05 0.201 0.4 KELOMPOK III (KITOSAN 5500 MG) 130 147 123 129 133 132.833 0.05 0. Hasil uji Mann Whitney U.05 0.05 0.05 0.156 p 0.05 0.009 0.

Jakarta: EGC. Linder. Marks. Vorster. California: Benjamin Science Publishing. Manjang. 1993. dosis kitosan 4500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. yakni dosis 3500 mg 40 yang sudah mampu menurunkan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Daftar Pustaka Bray.B. Principles of Human Nutrition. L. Biokimia Harper. S. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. 2002. Jakarta: Hipokrates. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis lemak yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan efek kitosan terhadap jenis lemak yang berbeda. 2000. perbadaan kadar trigliserid plasma pada kelompok 1 sebagai kontrol negatif dengan semua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan.068.A. R. Buku Ajar Fisiologi Gybney. Oxford: Blackwell Science Hardjito.. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia. G. dilakukan perhitungan selisih kadar trigliserida masing-masing kelompok dari minggu ke minggu dengan melakukan uji Mann Whitney U. Dari hasil uji tersebut. berarti tidak ada perbedaan bermakna (p> 0. Jogjakarta: UGM press. Oxford: Blackwell Science.. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium murni sehingga setelah tikus putih diberi perlakuan. 1998. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini kitosan d e n g a n b e r b a g a i d o s i s m e m i k l i k i e fe k menghambat absorbsi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus). Saran 1. 4500 mg. Prosiding Kitin and Kitosan. J. Biomedika. Tahun 2009 . Jakarta: EGC.. Kok.E. dilakukan pemeriksaan terhadap kadar trigliserida plasma plasma pada minggu ke-1 hingga ke-4. A. Ganong. Oxford: Blackwell Science. Mayes. Guyton. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar lebih mewakili populasi. 3.. F. Antara kelompok dengan berbagai dosis kitosan yang diberikan dan perlakuan dengan simvastatin sama-sama terdapat penurunan yang signifikan. P. Volume 1. Jakarta: UI-Press. Rohm. 5500 mg dapat menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Limbah Udang. Perubahan kadar kadar trigliserid dosis kitosan 3500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Koolman. Murti. J. D.J. Jakarta: EGC. Hall.C. 1996. dosis kitosan 5500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. 2004. dosis kitosan 3500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. Kedokteran. H. 2000. 3. Dian Rakyat. Horton.D. 2. The Epidemic of Obesity.J. dosis kitosan 4500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. 2002. Eastwood.. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek kitosan terhadap kadar trigliserid plasma pada hewan coba yang lain. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. Jogjakarta: PT.Pembahasan Dari hasil statistik menggunakan uji Kruskal Wallis terhadap berat badan tikus sebelum perlakuan didapatkan hasil p= 0. K. 2003. William F. dosis kitosan 5500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. M. Metodologi Penelitian. Nomor 2. Jepang: Sukito. M. Macdiarmid. kontrol negatif dengan kontrol positif terdapat perbedaan. A.A. K. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 4500 tidak terdapat perbedaan. Dari data yang didapat. 2002. 2000.. Berdasararkan data penelitian. Hal ini dilakukan agar faktor gizi tidak mempengaruhi hasil penelitian. 4th ed. Kitosan.C. Principles of Biochemistry. Jakarta: EGC.H. Moran. Hirano. Human Anatomy and Physiology. Bogor: IPB. L. 2003. dosis kitosan 4500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. 1997. Introduction to Human Nutrition. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Dosis kitosan yang disarankan untuk aplikasi klinis adalah dosis terkecil. Simpulan dan Saran Simpulan 1. Dan Marks. 2. 2006. E. Kitosan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus) mulai minggu kedua setelah perlakuan. Marieb. 1998.H. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Oxford: Blackwell Science.05) antara masingmasing kelompok. Kitosan dengan dosis 3500 mg. D.

. 2006. Potofisiologi Kedokteran.. 2001. Pittler. Reader. Jakarta: EGC. Jakarta: Dian Rakyat. R. Nammi. The Potention of Shrimp Shell. Chitin and Chitinase. Potensi Kitosan Di Berbagai Bidang.M. A.. Sediaoetama. dan Ambar Sulistyawan. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 41 . Boston: McGraw Hill. Smith. 1999. Kristianto. U. G. U. J. Chitosan Funtional Properties.. Karya Tulis Mahasiswa UMS.. Harrison Principles of Internal Medicine. P. Surakarta. 2006. 1995. Wardlaw. 1997. Oxford: Pergamon press. Olefsky. 2001. Oxford: Blackwell Science. Contemporary Nutrition.H. Imam Prayitno. Karya Tulis Mahasiswa UMS. Silvani.A. Surakarta. M. Potensi Kitosan sebagai Produk Olahan Limbah Industri Udang di Bidang Kesehatan. John E. Dietary Suplement for Body-Weight Reduction. Sodeman. 2004.D. A. Boston: McGraw Hill. Rismana.A. Hamid. Petter A. Ilmu Gizi I. Sheperd.D. Oxford: Blackwell Science. S. 2000.M. R. Boston: Science Press. 1998. M. Schiller. Hidup Sehat di Era Millenium. Surakarta: Media Press. 2000..Muzarelli.

Tahun 2009 .42 Biomedika. Nomor 2. Volume 1.

Salah satu dari keanekaragaman hayati yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional adalah cocor bebek (Kalanchoe pinnata) Tanaman ini termasuk tanaman sukulen (mengandung air) yang berasal dari Madagaskar. The first step is standardizing each of 24 hours-aged Staphylococcus aureus dan Escherichia coli on BAP and Mc. while the researcher also places the oxoid disk containing the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) with 20%. then smearing using a sterile cotton-rid on Muller Hinton media.Farland. In conclusion. Tanaman ini terkenal dik arenak an cara Ratih P. sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. dan menurut penelitian memiliki efek samping relatif rendah serta adanya kandungan yang berbeda yang memiliki efek saling mendukung secara sinergis. bahan baku belum terstandar. Then the researcher measures the impeding zone which is formed after the incubation on 370°C for 1x24 hours. 60%. Rahadiyan W.2411 tanggal 17 Mei 2004). Rahadiyan W. 80% and 100% concentrations on the top of the plates. obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis.. Bacterias which are used are Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 11229. The result is that on the degrees of 80% and 100%. staphylococcus aureus. 2004).05) from the positive and negative controls. ekonomis. obat-obatan tradisional telah banyak digunakan dan menjadi budaya di Indonesia dalam bentuk ramuan jamu.B. the researcher analyzes the data using Mann-Whitney Non Parametry Test. Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis.00. 43 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro .Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalancho e pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas.5 Mc. E mail: pramuningtyas_dr@yahoo.com Abstract Cocor Bebek leaves (Kalanchoe pinnata) contains cinamic acid. flavonoid. Conkey medias in the standard of 0. Menurut penelitian obat-obatan tersebut banyak digunakan karena keberadaannya yang mudah didapat. alphatocopherol dan bufadienolide acid which are presumably able to impede a bacterial growth so that the ethanol extract of cocor bebek leaves are indicated having an antimicrobe effect. antibacteria. this research proves the existence of the antibacteria effect of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus growth in the concentrations of 80% and 100% and the nonexistence of the antibacteria effect on the Escherichia coli growth. This research purposes to find out the existence and nonexistence of the impeding power of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacterias growth. After that. escherichia coli Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat. The researcher uses an empty oxoid disk as a negative control.B. melainkan juga digunakan dalam fase preventif. Keywords: ethanol extract. The research method is Kirby Bauer by using an oxoid disk. Obat-obatan tradisional tersebut tidak hanya digunakan dalam fase pengobatan saja. an amoxicillin antibiotic disk on Staphylococcus aureus and a chloramphenicol on Escherichia coli as a positive control. HK.4. 40%. cocor bebek leaves (kalanchoe pinnata). Namun selain keuntungan yang dimilikinya. promotif dan rehabilitasi. Sejak ribuan tahun yang lalu.05. bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan seperti: efek farmakologisnya yang lemah. The research is laboratory experimental with the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) as the research subject. Staphylococcus aureus bacteria has a significant difference (p<0. belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme serta adanya potensi toksisitas oleh toksik endogen yang terkandung didalamnya (Katno.

Ambil 1 ose bakteri dari koloni kuman untuk masing-masing spesies kuman untuk kemudian masing-masing ditanam pada 0. triterpenes. steroid dan lipid. Biakan bakteri : Staphylococcus aureus ATCC 6538.5 Mc. seperangkat alat maserasi.reproduksinya melalui tunas daun (tunas adventif ). Bahan Bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut : a.5 ml media BHI cair dan dieramkan selama 5-8 jam pada suhu 37°C. Persiapan suspensi bakteri Ambil 1 ose bakteri dari biakan dan tanam pada media Mc. Pelaksanaan uji antibakteri Siapkan 2 plat media Muller Hilton yang kemudian pada plate pertama diolesi secara Biomedika.Conkey (Escherichia coli) dan media agar darah (Staphylococcus aureus). BHI. Escherichia coli ATCC 11229 . Determinasi tanaman Untuk memastikan bahan yang akan dijadikan bahan ekstrak adalah tanaman Kalanchoe 44 2. 3. 4. Sedangkan pada daunnya terkandung senyawa kimia yang disebut bufadienolides. Pada uji aktivitas bakteri ini digunakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri kokus gram positif (+) dan Escherichia coli yang merupakan bakteri batang gram negatif (-) (Jawetz et al. 2. alat timbang. Eramkan selama 24 jam pada suhu 37°C hingga didapatkan koloni kuman. disk antibiotik kloramfenikol 30 µg. Alat uji aktivitas bakteri : Ose kolong. Persiapan alat uji aktivitas antibakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. dan insektisida (Lana. Lakukan hal serupa pada biakan Escherichia coli.1968). Material dan Desain Penelitian Penelitian ini merupak an penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test design only karena peneliti memberi pelakuan terhadap subjek dan mengevaluasi hasil akhirnya. Bahan utama berupa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata). antitumor. tabung reaksi. aquades. Bufadienolides pada Kalanchoe pinnata memiliki potensi untuk digunakan sebagai antibakteri. Bahan penyari : Etanol 70%. Instrumen Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut : a. d. 80%. 40% dan 20% di laboratorium Farmakologi FK UMS. maka untuk membuktikan hal tersebut. Alat ekstraksi : Blender.Farland (108CFU/ml). aquades steril. Untuk kontrol negatif digunakan cakram kosong yang telah direndam dalam larutan akuades. penangas air b. dioleskan pada agar Muller Hilton dan diratakan. Farland. inkubator. dikocok sampai homogen untuk kemudian bandingkan dengan suspensi 0. Persiapan kontrol positif dan kontrol negatif Untuk kontrol positif terhadap kuman gram positif Staphylococcus aureus digunakan cakram amoksisilin 20 µg sedangkan kontrol positif terhadap kuman gram negatif Escherichia coli digunakan cakram kloramfenikol 30 µg. 2001).5 Mc. Kalanchoe kaya akan kandungan alkaloid. perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman tersebut. 60%. Sehubungan dengan adanya indikasi ekstrak daun Kalanchoe pinnata mempunyai daya anti bakteri. tabung reaksi . Nutrient Agar Plate. Cara Kerja 1. Standar 0. 5. NaCl fisiologis. 2005). Siapkan 2 ml NaCl fisiologis steril dalam tabung reaksi. Instrumentasi 1. b. Bahan uji aktivitas antibakteri : Media Muller Hinton. alkohol 70%. pinnata maka dilakukan determiansi tanaman di laboratorium Biologi FKIP UMS dengan menggunakan bahan acuan “Flora of Java” (Backer . flavonoid. Persiapan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata Dilakukan proses pembuatan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata melalui metode maserasi sehingga didapatkan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata dengan konsentransi 100%. pencegah kanker. disk antibiotik amoksisilin 20 µg. plat diameter 15 cm. disk oksoid kosong. Kemudian ambil beberapa ose bakteri Staphylococcus aureus dari biakan dan masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl fisiologis. Bakteri diambil dengan kapas lidi steril. 6. Selanjutnya rendam cakram kosong pada masing-masing konsentrasi ekstrak etanol Kalanchoe pinnata selama 15 menit. Nomor 2. BAP. Volume 1. Tahun 2009 . autoklaf . glikosida. c.

287b => Familia : Crassulaceae.6 5.Farland. 45 . 40%. Tabel 1: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe Staphylococcus aureus (mm) Replikasi Staphylococcus aureus 1 2 3 4 5 Órata-rata 0% 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4. Untuk plate yang kedua diolesi secara merata dengan bakteri Escherichia coli yang telah dibandingkan dengan standart 0. Hasil Penelitian A. 13b. 80%. Replikasi Uji antibakteri ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dilakukan sebanyak 5 kali ulangan sesuai dengan perhitungan dengan menggunakan rumus estimasi besar sampel.8 4.5 9 9. 3b. 60%.5 4 4. 6b.3 5. 12b.5 4 4.5 Mc. Rahadiyan W. 20%. 1988) B.5 34. 16b.2 5. kontrol positif dan kontrol negatif. Hasil tes terhadap biakan Staphylococcus aureus Hasil determinasi tersebut memiliki kunci determinasi : 1b. 1 ==> Genus : Kalanchoe 1 ==> Spesies : Kalanchoe pinnata L (Van Steenis.B.1 80% 5. 10b.8 37. 286a. Kemudian pada masing-masing plate diletakkan disk yang telah mengandung ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata 100%.5 4 4 4. 11b. Farland.5 5.. 7b. Atur jarak antar cakram sedemikian rupa agar tidak terlalu berdekatan.2 36.06 39. 7. Hasil Determinasi Telah dilakukan determinasi tanaman yang dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS dengan menggunakan sampel tanaman yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan ekstrak. 14b. Tjitrosoepomo.6 33. 2003.1 3 10.3 4 5. Selanjutnya inkubasi plate pada suhu 37°C selama 18-24 jam.merata dengan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dibandingkan dengan standar 0.14 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dalam satuan milimeter (mm).5 6 100% 5. 4b. 2b.7 10.5 Mc. Hasil Penelitian Penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperoleh hasil sebagai berikut.1 pinnata) terhadap Amoksisilin 8 7.

Oleh karena p < 0.054 0. • Uji Anova Dikarenakan varian data yang ada tidak homogen maka uji Anova tidak dapat dilakukan.018 dan pada konsentrasi 100% nilai p = 0. Data tersebut kemudian dianalisis pada á = 0. • Uji Non Parametri Kruskall-Wallis Untuk menilai data secara statistik maka kemudian data diolah dengan uji Non Parametri Krusk all-Wallis. Nomor 2.05 maka dapat disimpulkan bahwa varian yang ada adalah tidak homogen.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar varian data. Rerata diameter daya hambat tersebut secara berurutan dari konsentrasi ekstrak 40% hingga 100% adalah sebesar 41 mm. 1 2 3 4 5 Pembagian kelompok N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 P (Asymp.05.000.005.000 Oleh karena p < 0. Pada uji ini didapatkan p (Asymp. 51 mm dan 90. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol negatif (-) digunakan untuk menilai daya hambat antibakteri secara statistik. Kedua nilai p tersebut < 0. karena salah satu syarat untuk dapat 46 dilakukannya uji Anova adalah varian harus bersifat homogen. Sig) = 0.005 0. • Uji Non Parametri Mann-Whitney Untuk mencari data mana yang berbeda secara bermakna maka dilakukan uji Non Parametri Mann-Whitney.018 0.120 ternyata memiliki p (sig) = 0.6 mm. Didapatkan pada konsentrasi 80% nilai p (Asymp.317 0. Sig) 0. Volume 1.05 maka dapat disimpulkan Biomedika.009 Kontrol (-) 40% Kontrol (-) 60% Kontrol (-) 80% Kontrol (-) 100% Kontrol (+) 100% Dari grafik dan data diatas maka dapat diketahui bahwa pada biakan I terdapat daya hambat yang dimulai dari konsentrasi ekstrak sebesar 40% dan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kadar konsentrasi ekstrak. dan diperoleh hasil sebagai berikut : • Tes homogenitas varians Hasil analisis menunjukkan Levene Test hitung = 9. Sig) = 0.Grafik 1 : daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Staphylococcus aureus (mm) Tabel 2: Tes Mann-Whitney No. Tahun 2009 .6 mm. 45.

Didapatkan pada konsentrasi dengan daya hambat tertinggi memiliki p (Asymp. Perhitungan di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dengan kadar 80% dan 100% memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik. 47 .0 16..009.05 maka dapat disimpulkan bahwa potensi daya hambat antibakteri ekstrak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kontrol (+) yang berupa amoksisilin. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol positif (+) digunakan untuk menilai besarnya potensi daya hambat antibakteri.08 daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P.7 11.6 15.bahwa pada kedua konsentrasi tersebut memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik. Namun demikian apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol (+) potensi daya hambat ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masih jauh kurang efektif. Dalam hal ini berarti amoksisilin masih jauh lebih poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus bila dibandingkan daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek. Oleh karena p <0.B.8 17.3 16. Rahadiyan W. Hasil tes terhadap biakan Escherichia coli Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Tabel 3: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Replikasi Escherichia coli 1 2 3 4 5 Ó rata-rata Grafik 2 : 0% 4 4 4 4 4 4 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4 4 4 4 80% 4 4 4 4 4 4 100% 4 4 4 4 4 4 Kloramfenicol 19. Sig) = 0.

4.Pada data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap Escherichia coli dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dari konsentrasi 20% hingga konsentrasi 100% tidak memiliki daya hambat sama sekali terhadap biakan kuman Escherichia coli. Percobaan tersebut juga dilakukan baik terhadap biakan kuman Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dan hasil yang diperoleh adalah terbentuk zona hambat dengan diameter 5. sedangkan Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki lapisan yang lebih kompleks dan berlapis-lapis yaitu selaput sitoplasma. Hal ini menyebabkan tidak semua zat aktif terserap kedalam disk. Volume 1. namun pada biakan Escherichia coli tetap tidak ditemukan zona hambat sama sekali.6 mm (60%).06 mm (100%). Saluran tersebut memudahkan difusi pasif senyawa hidrofilik dengan BM rendah seperti gula dan asam amino. Hal tersebut tampak pada sifat ekstrak yang cepat mengendap apabila didiamkan. yaitu sebagian besar zat aktif ekstrak memiliki berat molekul (BM) tinggi sedangkan sebagian zat aktif ekstrak lainnya memiliki BM yang rendah. Namun daya hambat tersebut tidaklah bermakna signifikan apabila dibandingkan diameter daya hambat yang dihasilkan amoksisilin sebagai kontrol positif. dan selaput luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida. 7. lapisan peptidoglikan yang tebal dan simpai. Dikarenakan semua data yang diperoleh memiliki rerata yang tidak berbeda dari rerata variabel pembanding (kontrol negatif) maka data tersebut tidak dilanjutkan dengan penilaian data secara statistik. Selaput luar Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki karakteristik yang unik dimana pada selaput itu bersifat menolak molekul hidrofobik sekaligus hidrofilik dengan baik namun di lain pihak selaput ini memiliki saluran khusus yang mengandung molekul protein yang disebut porin. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan Escherichia coli sebagai gram (-) lebih bersifat resisten ( Jawetz. 2001). Kemungkinan yang lainnya adalah sifat ekstrak itu sendiri yang tidak homogen. lapisan tunggal peptidoglikan. Hal ini didukung oleh adanya pernyataan yang menyatakan bahwa cara ekstraksi dengan menggunakan etanol akan lebih banyak mengabsorbsi bahan kimia aktif dari bahan (Ansel. 60%. 80% dan 100%. Untuk bakteri Staphylococcus aureus diperoleh zona hambat dengan diameter 4 mm (20%).2 mm (80%) dan 8. Untuk bakteri Escherichia coli dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dengan berbagai konsentrasi tidak memiliki daya hambat sama sekali. Pembahasan Telah dilakukan penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. serta bufadienolide yang bekerja dengan merusak asam nukleat mikroba. 40%. 4. Sebagai pembanding telah dilakuk an percobaan dengan menggunakan metode sumuran dan Pour Plate dengan menggunakan ektrak yang sama dengan konsentrasi yang sama pula yaitu 20%. 4 mm (40%).8 mm (100%) pada biakan Staphylococcus aureus. Nomor 2.56 mm (80%) dan 9. sedangkan molekul yang besar seperti molekul antibiotika dan termasuk juga molekul zat aktif ekstrak daun cocor bebek akan mengalami kesulitan bahkan gagal untuk menembusnya. Sedangkan zat aktif yang diduga memiliki daya antibakteri adalah cinamic acid yang menghambat sintesis protein mikroba. dimana Staphylococcus aureus sebagai gram (+) memiliki 3 lapisan yaitu selaput sitoplasma. flavonoid dan alfatokoferol yang bekerja dengan menghambat metabolisme sel mikroba. et al. 1988). Adanya potensi kadar hambat ekstrak yang tidak bermakna bagi Staphylococcus aureus dan bahkan tidak adanya hambatan sama sekali bagi Escherichia coli dimungkinkan karena berbagai kandungan kimia daun cocor bebek sebagian 48 besar ikut terambil termasuk bahan kimia yang bersifat antagonis sehingga kandungan kimia bahan yang diharapkan mampu bersifat bakteriostatik ternetralkan. karena hanya zat aktif yang berada di dasar tabung yang terserap kedalam disk saat proses perendaman berlangsung. Pada grafik 1 dan 2 dapat dilihat gambaran dari diameter zona hambat pertumbuhan dalam berbagai konsentrasi dan reratanya. Adanya perbedaan dalam hal zona hambat yang dihasilkan antara bakteri Staphylococcus aureus gram (+) dengan bakteri Escherichia coli gram (-) dikarenakan adanya perbedaan komponen pada dinding sel kedua bakteri tersebut.1 mm (60%). Tahun 2009 . Hal tersebut dikarenakan kesemua kadar ekstrak tidak memiliki daya hambat maupun potensi terhadap biakan kuman Escherichia coli. Biomedika.

br Ansel.Penelitian ini seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Nur Hidayati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS tentang infusa daun cocor bebek yang memiliki daya hambat yang signifik an terhadap Staphylococcus aureus dari kadar infusa 20% 100% namun tetap tidak signifikan bagi Shigella dysentriae. 1997. 234-48. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat Tradisional.scielo. dari penelitian yang telah dilakukan oleh B. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak etanol daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya. Jogjakarta: Penerbit FK UGM Bonang. Jakarta: PT. Edisi Revisi. Selain itu. 2006. 211-7. maka dapat diambil simpulan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dimulai dari kadar 40% .F. 1994. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya dengan menggunakan cara ekstraksi yang berbeda.O.B.L. Toksisitas Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek Kalanchoe daigremontiana Hamet & Perrier. daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek bersifat lebih rendah. Pramono S. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis ekstrak tumbuhan yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya efek antibakteri pada kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli tersebut. 2005.bioline. Penerjemah Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Nigeria.unpad Ratih P. University of Ilorin. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Mikrobiologi Kedokteran. 1988.ioc. 1996. Balaji Raja yang dimuat dalam Jurnal Mikrobiologi dan Biotehnologi SpringerLink didapatkan bahwa ekstrak diethyl ether dari daun cocor bebek tidak memiliki daya hambat yang signifikan sedangkan pada ekstrak kloroform dan heksan dari daun cocor bebek sama sekali tidak memiliki daya hambat pada biakan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. J. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya antibakteri daun cocor bebek yang paling maksimal dapat diperoleh dari infusanya. et al. Seri 3. Instituto de Biofísica and Núcleo de Pesquisas d e P r o d u t o s N a t u r a i s U F R J . Katno. sedangk an terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ekstrak daun cocor bebek mulai dari kadar 20% . 16 (4). http://www. Skripsi. http://www...org. Setiawan. R. Daftar Pustaka Almeida. a minor substance from the leaves of Kalanchoe pinnata (Crassulaceae). Ana. 1999. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian tentang uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. 2003. Niaga Swadaya: 94-5 Hidayati. FKIP UMS. Alhassan Sani et al. Rev. Niaga Swadaya: 139-42 Da-Silva. Siti Nur. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik.100% terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus namun potensi antibakterinya tidak signifikan apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positifnya.fiocruz. Effect of Stem Bark Extracts of Enantia chloranta on Some Clinical Isolates.br Hariana.A. Saran 1. S. Hanya saja dibandingkan daya hambat yang dihasilkan oleh infusa daun cocor bebek. 2006. Rahadiyan W. 49 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . Chemical isolation of an apolar antileishmanial and lymphocytesuppressive substance present in the plant Kalanchoe pinnata. Koeswardono. Jakarta: Gramedia: 107-109 Dalimarta. Pinheiro. Melnick.P. 2008. Arief.memorias. Jakarta: Binarupa Aksara: 10463 Bagian Mikrobiologi.100% sama sekali tidak memiliki daya hambat. http://hpt. et al.. Uji Antibakteri Ekstrak Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Jilid I. 2. 1-octen-3-O-a-Larabinopyranosyl-b-glucopyranoside. Lana.C. Jawetz . Pendidikan Biologi. Bras. 2001. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. A.S. Jakarta: PT. Jogjakarta: Fakultas Farmasi UGM. Jakarta : UI press: 607-15 Atata. Farmacogn. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba Medika: 15-23.. 2008. M. Tumbuhan Obat & Khasiatnya. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.G. 2000. 3. http://www. G. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi 22. Muzitano. Department of Biological Sciences. E. H. Adelberg. Muthuvelan dan R.br Bagian Mikrobiologi.

Jakarta: MediaKom Quelab. Edisi 4 (dengan perbaikan). 2005. Raja.CO.G. Farmakologi dan Terapi. Bodeker. 1995.USDA.. Jakarta: PT. Alfabeta Taylor. Mc Farland Standar t. Gembong. 380-3 PDPERSI. Bandung: CV. Organic Chemistry: A Brief Introduction. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Setiabudy. 1999.. W.quelab. R. Tahun 2009 . Merlin L. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 571-83 Sugiyono. Mandiri Belajar SPSS. 8th Edition. http://www. Philadelphia: A Lange Medical Books: 91-102. Duwi. Volume 1.. Statistik untuk Penelitian. Leslie.Lans.com Schunack.BMJ.com 50 Biomedika.ethnobiomed. Traditional Herbal Medicines for Malaria. Ethnomedicines used in Trinidad and Tobago for urinary problems and diabetes mellitus.com ( 4 Agustus 2008) Wijayakusuma. Medical Microbiology and Immunology Examinationand Board Review. Atasi Asam Urat & Rematik ala Hembing. 2005. http://www. Vincent. G. http://www. K.ID Priyatno. 115-32 Muthuvelan. 314-5. Niaga Swadaya: 45 Willcox . New Jersey : Prentice Hall: 239. http://www. Nomor 2.com Ouellette. Cheryl A. http://www.. Plants Profile : Kalanchoe pinnata. Mayer. Obat Tradisional : Cocor bebek (Kalanchoe pinnata). Warren. 2008.PDPERSI. B.com Levinson. 2006.springerlink. H.com Tjitrosoepomo. 2001. 2nd edition. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). 1990. Edisi 2 diperbarui.. http://rain-tree. et al. 1998. Studies on the efficiency of different extraction procedures on the anti microbial activity of selected medicinal plants. 1993. R. Senyawa Obat Buku Pelajaran Kimia Farmasi. 2003. http://www. World J Microbiol Biotechnol 24: 283742. Database File for Kalanchoe. Hembing. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press: 192-3 United States Department of Agriculture. Robert J.S. 2005. 2004. 2008. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine.

Diberi nomor menurut urutan dalam naskah. keterangan ditempatkan di bawah gambar/bagan. para alumnus FK UMS. Naskah penelitian (karangan asli) harus meliputi: 1. 2) Diterima dengan perubahan ringan. Pernyataan terima kasih (kalau ada) 7. Keterangan tabel ditempatkan di atas tabel. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto semuanya dilampirkan terpisah dari naskah. Abstrak Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. dan mampu menerangkan isi tulisan. bawah. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. menyesuaikan. sebanyak-banyaknya 350 kata. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto dibuat dengan jelas dan rapi. Format Naskah Tulisan diketik pada kertas kuarto. Rujukan dalam teks dibuat berdasarkan model Harvard. Daftar pustaka 8. ukuran 12 tidak bolak-balik dan mencantumkan alamat email penulis. Pembahasan. maksud. kesimpulan dan saran 6. Diharapkan koreksi sudah bisa dikembalikan paling lama dalam 2 minggu. kajian pustaka. Pendahuluan. Abstrak penelitian berisi latar belakang. . berisi latar belakang. batas atas. laporan kasus. Dalam hal perubahan ringan bisa dilakukan oleh dewan redaksi. tujuan. Format naskah kajian pustaka. data klinis. khususnya dalam pendahuluan hendaknya memuat penjelasan problematik yang dikaji. dan kata kunci.5 cm. Kebangkitan Nasional no 101 Penumping Surakarta. diletakkan di bawah judul 2. Proses Review Naskah setelah dilakukan seleksi redaksional akan dikirim kepada reviewer (mitra bestari) untuk dinilai dan hasil penilaian bisa berupa: 1) Diterima tanpa perubahan. font Times New Roman. masalah. Abstrak ditulis dalam 1 paragraf. Lampiran-lampiran Naskah laporan kasus memuat latar belakang/alasan pelaporan kasus. baik dokter umum maupun spesialis. Pengiriman Berkas tulisan hendaknya dikirim rangkap dua disertai file dalam disket/CD dengan mempergunakan program Microsoft Word. dan manfaatnya serta pembahasan dari apa yang dikaji dan diakhiri dengan kesimpulan hasil kajian. Judul tulisan. atau dalam bahasa Inggris.PEDOMAN BAGI PENULIS BIOMEDIKA Inf ormasi Umum Jurnal Biomedika menerima makalah ilmiah dari para staf edukatif FK UMS. Bahan/ subyek/ pasien dan cara kerja 4. namun perubahan besar atau melengkapi kekurangan-kekurangan perlu dilakukan sendiri oleh penulis. FK UMS Jl. dibuat singkat bersifat informatif. tidak lebih dari tiga lembar. dialamatkan kepada Redaksi Biomedika. spasi dobel. Hasil penelitian 5. terdiri sekurang-kurangnya 100 kata. nama para penulis lengkap berikut gelar beserta alamat kantor/instansi/tempat kerja lain. serta manfaat penelitian 3. manfaat. material dan metode penelitian. Naskah yang telah dimuat di majalah lain tidak diperkenankan diterbitkan dalam majalah ini. 4) Ditolak. kesimpulan. dokter di seluruh Indonesia dan dari luar negeri. resensi buku dan tulisan lain dalam bidang kedokteran dan kesehatan). maksud & tujuan. ilustrasi serta diskusi. maksud & tujuan. Ketentuan Lain Redaksi berhak memperbaiki susunan naskah atau bahasa tanpa mengubah isinya. 3) Diterima dengan perubahanbesar. Diketik pada lembaran kertas terpisah dengan spasi ganda. dan samping masing-masing 2. Makalah dapat berupa karangan asli (penelitian. hasil penelitian. disertai keterangan yang jelas dan informatif. sekretariat Biomedika lantai 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful