i

EDITORIAL
PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN DARI DIAGNOSIS HINGGA TATA LAKSANA Dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang pesat, kita perlu menambah pengetahuan dengan penelitian-penelitian terbaru. Dengan menambah informasi tentang penelitianpenelitian terbaru, diharapkan kita dapat mengelola pasien dengan tepat dan aman, mulai dari diagnosis hingga tatalaksananya. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang diagnosis, dalam edisi ini kami ketengahkan penelitian tentang perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberculin, validitas foto thorax proyeksi PA untuk menegakkan diagnosis emfisema pulmonum dan dislipidemia pada penderita stroke dengan demensia. Sedangkan untuk menambah pengetahuan kita tentang tatalaksana pasien, edisi ini memuat penelitian-penelitian tentang perbandingan efek ekstrak etanol dan eter biji tua pisang klutuk, efek ekstrak mahkota dewa, pengaruh kitosan olahan udang putih pada penurunan trigliserida plasma tikus dan aktivitas antimikroba daun cocor bebek.

i

Volume 1, No.1, Agustus 2009

ISSN 2085-8345

DAFTAR ISI
Editorial Daftar Isi Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Pujarini i ii 1 - 8

9 - 15

17 - 23

Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas, Rahadiyan W.B.

25 - 32

33 - 36

37 - 41

43 - 50

ii

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan E mail: wilmaabbas@yahoo.com Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant. Key Words: BCG, tuberculin, screening

Pendahuluan Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB paru yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB dan telah dibuktikan menderita TB di Asia kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). Perlu dilakukan peningkatan mutu program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TBParu). Strategi yang digunakan adalah pemutusan rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu,

diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik yang mudah dikerjakan dengan hasil yang cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan dengan biaya yang murah. Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein; (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7) Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer, 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntik an, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Mohammad Wildan 1

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis

Uji BCG tidak terdapat anergi. morbili.1 1.1² : : : : : Prevalens 80% N : 100 X 62 : 77. khususnya di RSUP Dokter Kariadi Semarang. difteri. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. sehingga lebih unggul bila dibandingkan dengan uji tuberkulin. tifus abdominalis Biomedika. pertusis. merupakan indikator yang kuat pada kontak tuberkulosis. mengingat prevalensi kasus TB anak cukup besar. Selain itu uji BCG juga dapat langsung berguna sebagai profilaksis. aman. Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti Besar sampel: n : Keterangan : P Q Z² 1-Ü/2 d n karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di Indonesia.anak usia 12 tahun. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti Indonesia. dan hampir semua responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3) Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji tersebut. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan.sebagai alat diagnostik.96² (0.P = 0.5 80 Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85. Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah clinical disagreement. Tahun 2009 . Populasi studi adalah bayi umur 4 bulan . Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak 151 RSUP dr.8) (0. varisela. Shrivastava dkk.2) : 62 0. (2) Mungkin terdapat perbedaan hasil dengan hasil penelitian sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya perbedaan ras/ etnik. Dikshit dan Surendra Singh (1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji Mantoux positif. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. Nomor 2. Kariadi • Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 tahun dengan tinggi badan maksimal 145cm untuk anak laki-laki dan 137cm untuk anak perempuan 2 • Orang tua penridenta memberi ijin dan bersedia dilakukan pemeriksaan yang ditetapkan • Tempat tinggal di dalam kota Semarang Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: • Menderita penyakit TB berat. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji Mantoux positif. Volume 1. Kariadi Semarang. (1977) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi.8 1 .96 (derajat kepercayaan) 0. (Z² 1-Ü/2) PQ d² 0. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Pasien rawat jalan yang menderita tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke 1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik Paru 151 RSUP dr. (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa langsung diterapkan di Indonesia. Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi yang dicurigai menderita tuberkulosis dan dilakukan uji Mantoux dan uji BCG.2 1.

3. pembacaan setelah 72 jam. dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak didapatkan pada sampel lakilaki dibanding sampel perempuan dengan perbandingan yang relatif berimbang. aksila. tetapi dengan perbandingan hampir sama/ separuh jumlah. panas subfebril terutama malam hari yang berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang jelas. peningkatan sel mononuklear. berair. kelainan akibat perubahan mekanik. wheezing. 4. gibbus/spondilitis. mata gatal dan merah dengan daerah kuning pada kelopak mata dan bengkak. ronk i. inguinal. pembesaran limfonodi nares. Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB. Sedangkan pada sampel perempuan didapatkan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik. pembesaran kelenjar limfe (leher. Selain itu dijumpai peningkatan laju endap darah. Pe m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m m u n g k i n didapatkan anemi atau lekositosis. pembacaan setelah 72 jam dan setelah 7 hari Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF Radiologi RSUP dr. Rejimen pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR.• Menderita penyakit keganasan • Mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka lama. konjungtivitis fliktenularis. nyeri pada lutut dan selangkangan. kemudian kelompok umur 6-10 tahun. Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. LED menurun. Sebaran Status Gizi Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding yang bergizi baik. Kariadi bersamasama dengan uji Mantoux. densitas interstitial. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian didapatkan hasilnya sebagai berikut: Sebaran Umur dan Jenis Kelamin Apabila dikelompokkan berdasarkan umur. Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5 tahun sebagian besar negatif dibanding positif. lekositosis berkurang. atau krepitasi pada pemeriksaan fisik paru. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan. juga limfopeni. nafsu makan membaik. malnutrisi (antropometri). yaitu 3.5:1. Kariadi. mendapatkan vaksin • Penderita pindah tanpa diketahui alamat yang baru • Meninggal selama penelitian karena penyakit lain • Gizi buruk Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan Modifikasi Kriteria Starke (1994): 1. untuk 1 pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. didapatkan gerak nafas asimetris. berat badan sulit naik (dalam 4 minggu terakhir). sering berkeringat malam. keluhan sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah satu dari: benjolan disekitar leher. punggung. Perhitungan nilai Kappa dengan menggunakan clinical disagreement. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu dari: tidak didapatkan kelainan. aksila. perubahan parenkim dan atau konsolidasi alveolar. Perbaikan yang dinilai adalah: • Klinik: demam sub febril menghilang. pembacaan dilakukan oleh seorang radiolog. pergeseran ke kiri berkurang • Gambaran radiologik membaik dibanding sebelumnya Pengelolaan dan analisis data menggunakan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test. pleuritis. nares). dari 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5 tahun merupakan yang terbanyak. terdapat diskonkruensi. sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. Anak yang secara klinis menderita TB dengan hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif) diberikan pengobatan anti TB dan follow up sampai dengan 6 bulan pengobatan. dan paling sedikit kelompok umur >10 tahun. kelainan fokal. yaitu 2:1. palpasi dada pekak. Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin lakilaki dan perempuan relatif berimbang pada semua kelompok umur. berat badan bertambah (10% setelah pengobatan 2 bulan) • Laboratorim membaik: Hb meningkat. Secara keseluruhan sampel dengan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding sampel dengan gizi baik. Kariadi. inguinal. 2. sedangkan Mohammad Wildan 3 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . kelompok umur 6-10 tahun hasil uji positif dibanding negatif adalah 1:2.

Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Analisis Statistik Nilai Kappa Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 perhitungan nilai kappa data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan nilai kappa 0. yaitu 1:1. Selain karakteristik sampel. Nomor 2. kelompok umur 6-10 tahun dan >10 tahun perbandingannya 100% positif. yaitu bahwa morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5 tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan anak yang berumur lebih tua (Stead. menyusul kelompok umur >10 tahun dan paling kecil pada kelompok umur < 5 tahun.64. keadaan ini sesuai dengan persentase gambaran populasi. Pada kelompok umur 6-10 tahun juga didapatkan hal yang sama. Berdasarkan persentase menurut kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini sudah mencerminkan gambaran populasi. Volume 1. pada sampel laki-laki dan perempuan relatif sama. dengan pebandingan 6:5. Proporsi hasil positif uji tuberkulin paling besar didapatkan pada kelompok umur 6-10 tahun. Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0.58. Sedangkan persentase morbiditas terhadap penderita tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas pada penelitian ini relatif sama. Pada anak yang berumur lebih muda morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak lakilaki dibanding dengan anak perempuan.pada kelompok umur >10 tahun perbandingannya adalah 1:3 antara hasil positif dibanding negatif. yaitu 48% sampel laki-laki dan 52% perempuan. Pembahasan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel yang berumur <5 tahun persentase sampel perempuan (50.605. 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun sebanyak 75 sampel atau 75. dimana pada anak yang lebh besar persentase morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar (Stead. Secara persentase menurut jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan gambaran populasi. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding uji BCG negatif. 1993). kemudian persentasenya akan menjadi sama dengan bertambahnya umur (Stead.0. Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0.331 Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan 4 nilai p= 0. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulin negatif. 1993). Tahun 2009 . kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21.013 dengan nilai p= 0.649 Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik. Sampel Biomedika.22 dan nilai p = 0. persentase sampel laki-laki dan perempuan adalah sama besar. dengan nilai p=0. jumlah sampel juga berpengaruh terhadap hasil penelitian. Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0. perbaikan radiologik dan laboratorik Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laboratorik baik pada responden dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Apabila dikelompokkan menurut menurut umur.008.701. Sebagian besar sampel mengalami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji BCG positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR.6%) sampel mengalami perbaikan laboratorik baik padda responden dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 tahun didapatkan nilai kappa . 1993). dengan perbandingan 4:3.3%) tetapi perbandingannya relatif berimbang. Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG. Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun sebagian besar (96%) negatif dibanding positif. Didapatkan proporsi konjungtivitis fliktenularis. Sebagian besar (95.7%) lebih banyak dibanding lakilaki (49.0% dan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel atau 4%. Demikian juga pada sampel kelompok umur >10 tahun.0%.

Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar 0. Apabila dijumlahkan secara keseluruhan.0%. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji tuberkulin positif.0%.0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 3 sampel atau 3. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita tuberkulosis dengan malnutrisi. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang kecil (-0.77). dengan perbandingan 4:1.93 dan p= 0. Apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel benar menderita penyakit tuberkulosis.12 dan p= 0. dengan perbandingan 3:1.64) mempunyai gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga uji chi square yang dilakukan kurang valid. sehingga mungkin lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG. Tetapi pada kedua keadaan tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1. sedangkan sampel dengan hasil uji (tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 atau 24. Sedangkan pengaruh status gizi sampel terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang energi protein ringan. Perhitungan statistik dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux). hasil uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding yang positif. jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau 1. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya overdiagnosis. Sedangkan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa memang benar sampel tersebut menderita penyakit tuberkulosis. Keadaan lain yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar. Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang negatif lebih banyak didapatkan pada sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan.0%.331. Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih banyak dibandimg yang positif.05) yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan tidak bermakna.331. tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. Semakin banyak sampel akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut. Sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan dengan hasil uji BCG positif. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat.58) dan 6-10 tahun (df= 0. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tuberkulin positif.008 dengan nilai p=0.0%. jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 74 sampel atau 74.22 dan p= 0. sehingga tidak menggunakan baku emas.yang digunakan pada penelitian ini sudah diperhitungkan dengan beberapa persyaratan yang sesuai dengan rumus yang berlaku sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini sudah dianggap cukup. atau tidak menderita penyakit tuberkulosis. Mohammad Wildan 5 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis .013) dan nilai p= 0. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun (df= 1. tetapi apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya under diagnosis.605. Pengaruh status gizi responden terhadap hasil uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8. Shrivastava (1977) menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dibanding tuberkulin.701 (bermakna p=0. (2) semua responden pada penelitian ini pernah mendapatkan vaksinasi BCG. dengan menggunakan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. didapatkan sampel dengan hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau 97. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik uji clinical disagreement dengan membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG. Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang sama.0%. Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 sampel atau 23.

tetapi hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 mm). Hasil uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita ternyata negatif. yang pertama seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Insidensnya banyak terjadi pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 56 15 tahun (Ormerod LP. sebagaimana yang didapatkan oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik. Suskind RM (1997) mendapatkan bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan subnormal akibat defisiensi diit protein akan menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkulin. Volume 1. merupakan indikator yang kuat (96.5 %). hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Shrivastava dkk (1977).3% dan ulserasi 8%. Tahun 2009 . Jalur aferen melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen yang "diproses" makrofag. Dapat dijelaskan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung kearah tuberkulosis. Sedangkan ukuran diameter ratarata hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh adalah 9. radiologik perbaikan). Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus kelompok hemolitik atau stafilokokus. Jalur eferen ditandai dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang disuntikan intradermal.7 mm.23% dari seluruh sampel yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%) dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun. dan faktor kemotaktik menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda reaksi positif (Grange JM.7%) pada kontak tuberkulosis. Ormerod (1994) mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis biasanya terjadi pada anak yang mengalami infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. terjadi akibat respons infeksi primer tuberkulosis. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat. 20 sampel (95. tetapi pada kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan pengecatan ataupun biakan sekret mata. Krishna K. Defisiensi nutrisi menekan salah satu atau lebih komponen respons hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM. 1994). Konjungtivitis fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin. Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum sampai menekan komponen respons hipersensitivitas tipe lambat tersebut. Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak didapatkan pada penelitian ini. kasus yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus pertama. yang pada penelitian ini status imunologi tidak diteliti. 1994). Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status imunologi pada sampel belum sampai menurun sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas reaksi hipersensitivitas. Insiden Biomedika. Respons hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga rangkaian proses yang jelas. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. Nomor 2. Efek samping uji BCG (Choudhary. hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12-16 mm). Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis fliktenularis. Hal ini dapat dijelaskan bahwa indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding terhadap uji BCG. 1994). Dengan demikian. aman. anamnesis.33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5 tahun. 1977) didapatkan adenitis regional 3. Dana S. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. sudah dikonsulkan ke Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis fliktenularis akibat tuberkulosis. Sonmez (1994) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62 sampel (77.dan tidak dipengaruhi oleh status gizi. Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa respons terhadap vaksinasi BCG tidak berhubungan dengan umur. Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel (97. sehingga tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin.5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18 sampel (22. laboratorik. sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur. perkembangan penyakit setelah dilakukan pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh (klinik. Respons peradangan kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada sisi kulit yang diberi antigen. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis.

Pediatrics 104: 1-6 Ormerod LP. Surendra Singh. tetapi kesalahan akibat teknik penyuntikan reagen tidak dipertimbangkan secara teliti 4. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut dengan menggunakan baku emas dan kontrol Daftar Pustaka Chandra RK. Haas E. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Screening for tuberculosis infection in urban children. Soekendar AW. Semua responden pada penelitian ini telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya Simpulan dan Saran Simpulan 1. tetapi secara statistik tidak bermakna. Clinical Shrivastava DK. 1994. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat yang telah berpengalaman. New York: Plenum Press Choudhary AK. Badhari NR. 3. PAP-TB sebagai Penunjang Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. BGC test for diagnosis of childhood tuberculosis. BCG test for diagnosis of chilhood tuberculosis. 1999. London: Chapman & Hall Medical Jaiswal S. Suskind RM. perbaikan radiologik 82. 1977. California. Dalam: Davis PDO eds. Respiratory Tuberculosis. Indian Pediatrics Vol XIII No 9: 68795. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG test. Sedangkan pada responden dengan hasil uji BCG positif dan negatif. 1977. Kenyon TA. 1996. Immunity and Infection Mechanism of Interaction. Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat diberikan pada semua anak tanpa khawatir terhadap komplikasinya. Journal of Tropical Pediatric. New York: Raven Press Dikshit KP. 1979. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol 2. Immigration and tuberculosis among children on the united states-mexico border.1 %. The Malnourished Child in Overview Dalam: Suskind RM. tetapi secara statistik tidak bermakna 2.8% dan 96. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur 4.8% dan 77. Indian Pediatrics. Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar dibanding dengan proporsi hasil positif uji tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan tuberkulosis. Evaluation of diagnostic valve of BCG test in childhood tuberculosis. Driver C. Adapun keterbatasan-keterbatasan penelitian ini adalah: 1. Leslie LS. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak Saran 1. Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine 150: 722-26 Committee on Infection Diseases. Christy C.9% dan 100%. Jakarta: Forum Diagnosticum Somnez. 13: 689-95. Indian Pediatrics 14: 993-8. Nutrition. Clinical Tuberculosis. 1994. 1998. Krishna K. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding dengan proporsi hasil negatif uji BCG. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen BCG maupun PPDS 5TU secara biokimiawi sebelum disuntikkan 3. Sebagai bukti tambahan (yang perlu dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini juga menggunakan sampel kontrol. 1977. Newberne PM. 1997.6%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik dengan sebaran yang sama. 1994. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh pada perbaikan status gizi 5. 1977. Shingwekar AG.limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Immunophysiology and Immunopathology of Tuberculosis.7%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik juga dengan sebaran yang hampir sama. Tidak diteliti status imunologi yang dapat berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji BCG maupun tuberkulin 6. Perlu hati-hati dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an dan pengecatan kuman BTA 2. Pediatrics 93: 131-4 Dana S. Grange JM. perbaikan radiologik 95. Choudhary AK.1%.5% dan 66. Dalam: Davis PDO eds. 1993. county of san diego. The Malnourished Child. 44: 40-2 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7 . Screening tuberculosis in infant and children. 1977. Evaluation of BCG test in childhood tuberculosis.

Tahun 2009 . Oppenheimer SJ. Epidemiology and Host Factors. 1994. New York: Springer-Verlaag Tuberculosis. 1993. Dalam: Davis PDO eds. Clinical Tuberculosis. Tuberculosis. Nomor 2. London: Chapman & Hall Medical 8 Biomedika. London: Chapman & Hall Medical Wong GWK. Childhood Tuberculosis.Stead WW. Dut AK. 1993. 1994. Dalam: Schlossberg D. Volume 1.

permanent enlargement of airspaces distal to the terminal bronchiole. akan tetapi sangat Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum sulit dilakukan). FEV1< 30% or FEV1<50% predicted plus chronic respiratory failure. 1993).6% in sensitifity and 84. severe obstruction if FEV1/FVC < 70%.com Abstract Emphysema as a condition of lung characterized by abnormal. 50%< FEV1<80% predicted. Smoking habits was higher in emphysema Posterio-anterior chest X-ray group than non emphysema group. F r o m 1 9 2 s u b j e c t s performed Posterio-Anterior chest X-ray. Spirometry showed obstruction with criteria of GOLD 2006. Keywords: emphysema pulmonum. Posterio-anterior chest X-ray has good validity to establish change the lung structure. Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. The validity of Posterio-Anterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema was 90. 126 subjects (66%) were diagnosed with emphysema and non emphysema were diagnosed in 66 subjects (34%).Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum E mail: lilis_tomy@yahoo. Posterio-Anterior chest X-ray emphysema with obstruction were establishe in 117 subjects (93%) and non obstruction were diagnosed in 9 subjects (7%). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) DEPKES RI 1992 menunjukkan angka kematian emfisema. 1994:Finlay. Diagnosis emfisema berdasar pendekatan patologinya (diagnosis emfisema menggunakan p e n d e k a t a n p e m e r i k s a a n h i s t o p at o l o gi merupakan diagnosis pasti. bersifat kronis progresif dan memberikan kecacatan yang menetap (Thurlbeck. At first chronic inflammatory induced changed the lung structure. 1993). Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK. posterio-anterior projection. FEV1 > 80% predicted. di negara maju merupakan masalah kesehatan utama. sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku emas (Senior. Posterio-Anterior chest Xray non emphysema with obstruction were diagnosed in 12 subjects (18%) and non obstruction were diagnosed in 54 subjects (82%). accompanied by destruction of their walls. to determine either emphysema or non emphysema. karena semakin bertambahnya penderita (Widjaja.3% in spesifisity. validity Pendahuluan Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan kematian penderita emfisema belum menunjukkan penurunan. emphysema was diagnosed if met with all criteria above. The abnormality of lung structure can manifest in Posterio-anterior chest X-ray. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. Posterio-Anterior chest X-ray has good validity to establish diagnosis emphysema. Barnes. emphysema was diagnosed if Posterio-Anterior chest X-ray showed : 1)Hyperinflation 2) Hyperlucency 3) Decrease and flattened of diaphragma and 4) Tear drop appearance of the heart. mild obstruction if FEV1/ FVC < 70%. 1998). bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Widjaja. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK) yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar. Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. spirometry. Abnormalitas pemeriksaan faal paru pada emfisema menunjukkan tanda obstruktif. This study maintained to get validity of Posterioanterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema. 154 men and 38 women. Sulistyani Kusumaningrum 9 . 30%< FEV1<50% predicted and very severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Samples of this study recruited were 192 subjects with range of age between 18-81 years old.This study is a diagnostic test were that performed in Departement of Radiology RSUD Dr Moewardi Surakarta from July to October 2008. Apabila pasien tidak mampu melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat. moderate obstruction if FEV1/FVC < 70%. Kelainan yang mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. 1996.

r a s i o k e ce n d e r u n g a n p o s i t i f d a n r a s i o kecenderungan negatif dari foto thorax PA. Hasil Spirometri/gangguan faal paru dikatakan obstruksi (emfisema pulmonum) ringan bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . penambahan lusensi paru yang dapat dibandingkan dengan gambaran udara sekitar di luar tubuh yang ikut terekspose film (hiperlusensi). dilakukan uji keandalan intra-observer seorang dokter spesialis radiologi untuk menilai foto thorax PA. Material dan Desain Penelitian Jenis dan rancang penelitian yang dilakukan ialah uji diagnostik. 30 % < FEV1 < 50 % prediksi. Untuk keperluan ini. Volume 1. Sebelum penelitian ini dimulai. FEV 1 < 30 % prediksi atau FEV 1 < 50% disertai gagal pernafasan khronis Biomedika. uji diagnostik harus sensitif (kemungkinan false negative kecil).0. merupakan kelainan yang mendasari terjadinya pembesaran ruang udara pada emfisema. pasien yang masuk kriteria inklusi dilakukan foto thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. FEV1 > 80 % prediksi . Interpretasi pembacaan hasil foto thorax PA dilakukan dokter spesialis radiologi sedangkan pemeriksaan faal paru dilakukan oleh dokter spesialis paru. Nomor 2. Pada foto thorax PA dinyatakan emfisema pulmonum bila pada radiologi thorax ditemukan gambaran : diafragma turun dan mendatar hingga dapat mencapai di bawah costa XI aspek posterior atau di bawah costa VII aspek anterior (hiperinflasi. diafragma turun dan mendatar). 1995). Daerah Dr.5 (tear drop appearance jantung) 2. penilaian foto thorax PA dilakukan dua kali. Uji diagnostik ini juga harus spesifik (kemungkinan hasil false positive kecil). gambaran jantung yang langsing disertai penurunan cardiothoracic ratio < 0. Senior. Penghitungan dari variabel dilakukan dengan memakai tabel 2 x 2 Teknik Pemeriksaan Setiap subyek atau sampel penelitian menjalani prosedur pemeriksaan sebagai berik ut: Pemeriksaan radiologi thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. saat pendaftaran penderita diseleksi berdasar kriteria inklusi dan eksklusi. Destruksi serat elastin. Cara kerja pada tahap pertama. Penelitian dilakukan di RSU. Dilakukan pemeriksaan faal paru (spirometri) FEV1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Nilai kappa tersebut termasuk dalam kategori sangat baik Definisi operasional 1. nilai duga negatif. 50 % < FEV1 < 80 % prediksi dan obstruksi berat bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Bentuk kelainan struktur yang dijumpai adalah destruksi serat elastin septum interalveoli dan ditemukannya peningkatan serat kolagen sebagai bentuk remodelling jaringan ikat paru akibat destruksi serat elastin tersebut. Kelainan struktur jaringan dapat memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax proyeksi posterio-anterior (foto thorax PA). sehingga pendekatan pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri. Analisis data 10 dalam penelitian ini adalah sensitivitas. sehingga apabila didapatkan hasil yang normal dapat dipergunakan untuk menyingkirkan adanya penyakit. sehingga apabila hasilnya abnormal dapat digunakan untuk menentukan adanya penyakit (Sastroasmoro. obstruksi sangat berat bila nilai FEV 1 / FVC < 70 %. obstruksi sedang bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . 1998). 1997. deposisi dan bentuk remodelling kolagen. Senior. Penghitungan derajat kesesuaian (kappa) intra-observer dilakukan dengan perangkat lunak computer dan didapatkan kappa intra-observer 1.1997. Tahun 2009 . Dilanjutkan pemeriksaan faal paru (spirometri) FE V1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Tujuan uji diagnostik ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi validitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman (network) jaringan ikat paru yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru (Finlay. 1998). nilai duga positif. Keadaan inilah yang berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi paru. spesifisitas. Moewardi Surakarta selama bulan Juli hingga Oktober 2008. Kelainan struktur parenkim diawali terjadinya inflamasi khronis yang akan mengakibatkan destruksi jaringan elastin dinding jalan napas. Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling.

Analisis Data Pengujian Hipotesis dengan Uji Diagnostik. Dibuat tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Selama periode Januari sampai dengan Desember 2004 didapatkan data dari catatan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 11 .

Semakin tinggi tingkat pendidikan angka kejadian emfisema lebih rendah daripada non emfisema Hal tersebut mulai tampak pada tingkat pendidikan SMA. Volume 1. Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SD (41%) kemudian SMP (37%). 1. Jenis kelamin laki-laki (80%) lebih banyak daripada perempuan (20%). dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan.Hasil Penelitian Pada periode bulan Juli hingga Oktober 2008 didapatkan 192 subyek penelitian. seseorang akan semakin tahu tentang kesehatan. Karakteristik data dasar Tabel 1. Umur subyek penelitian antara18 sampai 81 tahun. SMA (20%) dan PT (2%). Tahun 2009 . 12 Biomedika. dibuat tabel 2x2 berdasar hasil foto thorax PA emfisema dan non emfisema dan hasil spirometri obstruksi dan non obstruksi. Nomor 2. Jumlah laki-laki dengan emfisema adalah 75 % sedangkan perempuan dengan emfisema 24 %. Karakteristik data dasar No 1 Data Dasar Subyek Penelitian Hasil Foto Thorax PA emfisema Hasil Foto Thorax PA Non emfisema Jenis Kelamin Laki-Laki: emfisema Non emfisema Perempuan: emfisema Non emfisema Umur : Maksimal Minimal Tingkat Pendidikan SD emfisema Non emfisema SMP emfisema Non emfisema SMA emfisema Non emfisema PT emfisema Non emfisema 5 Kebiasaan Merokok emfisema : Non emfisema : Jumlah 192 126 66 Prosentase 66 % 34 % 2 154 115 39 38 9 29 81 th 18 th 80 % 75 % 25 % 20 % 24 % 76 % 3 4 78 59 19 71 46 25 38 17 21 5 2 3 41 % 76 % 24 % 37 % 65 % 35 % 20 % 45 % 55 % 2% 40 % 60 % Ya Tidak Ya Tidak 109 17 63 3 87 % 13 % 95 % 5% Berdasar tabel di atas dapat diketahui penelitian ini terdiri dari 192 subyek.

perlu dikembangkan pada penelitian lebih lanjut. spesifisitas yaitu hasil true negative dibagi jumlah false positive dan true negative . 1991). 1997). bronkhus sampai alveolus perokok pasif.6 % . polusi udara. Aktivasi makrofag akan mengganggu keseimbangan protease anti protease. 1998). Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok dapat mencapai setiap bagian trakhea dan bronkhus sampai alveolus. dikalikan 100 % adalah sebesar 92.dikalikan 100%. rokok merupakan faktor paling dominan dibandingkan dengan yang lain.1997) Kelompok non emfisema namun dengan kebiasaan merokok terdapat 95% dan tanpa merokok 5%. faktor eksogen misalnya rokok. Jumlah subyek penelitian dengan hasil true positive yaitu pasien dengan emfisema pada foto thorax PA yang menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 116 orang.2. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat (Samet. Apabila bahan toksik mencapai alveolus.3 % .Hautamaki. Disamping itu juga akan melepaskan Neutrophyl Chemotactic Factor (NCF) yang memobilisasi netrofil sehingga sekreasi elastase meningkat. di alveoli dapat timbul proses inflamasi. berdasarkan pemeriksaan foto thorax PA diketahui emfisema adalah 126 orang (66%) sedangkan non emfisema 66 orang (34%). Pembahasan Subyek penelitian sejumlah 192. Aktifasi makrofag juga dapat disebabkan bahan polutan lain. Jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA namun menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 12 orang (false negative) dan jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 54 orang (true negative). emfisema hampir selalu disebabkan oleh asap rokok (Senior. dapat menjadi penyebab utama. Bahkan dinyatakan. Menurut Sharma (2006). Jumlah pasien dengan emfisema pada foto thorax PA namun tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 10 orang (false positive). Kelompok emfisema sendiri diketahui mempunyai angka kebiasaan merokok cukup tinggi yaitu 87 %. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat. Hal ini sesuai dengan teori tentang faktor penyebab terjadinya emfisema. Sensitivitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false negative . seperti debu dan polusi udara (Barnes. nilai prediksi positif yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false positive. Uji diagnostik Tabel 2 . emfisema terjadi pada seseorang dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang perhari dan kebiasaan merokok tersebut sudah terjadi selama 20 tahun. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok juga dapat mencapai setiap bagian trakhea. sehingga timbul proses inflamasi. Tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Obstruksi (+) 116 12 128 Hasil Spirometri Obstruksi (-) 10 54 64 Total 126 66 192 Foto Thorax PA emfisema (+) emfisema (-) Total Tabel 2x2 menunjukkan hasil pemeriksaan foto thorax PA dibandingkan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pertanyaan berapa batang rokok yang dikonsumsi setiap harinya dan sudah berapa lama merokok. Kelompok emfisema tanpa kebiasaan merokok sejumlah 13 % karena perokok pasif mempunyai kemungkinan risiko yang sama dengan perokok aktif. lingkungan kerja berdebu. dan dapat melepaskan oksidan yang akan menginaktifasi AAT sehingga terjadi proses perusakan elastin paru sebagai dasar kelainan emfisema (Fain. dikalikan 100% adalah sebesar 84. Kelompok emfisema pada pemeriksaan spirometri diketahui 117 (93%) dengan obstruksi dan 9 (7%) non obstruksi. 2003. Kelompok non emfisema pada pemeriksaan spirometri terdapat 12 (18%) dengan obstruksi dan 54 (82%) non obstruksi. adalah sebesar 90.0 % . Diantara semua faktor resiko tersebut. Pendapat yang populer di Inggris (British hypothesis) menyatakan. hanya 13 % saja tanpa kebiasaan merokok. nilai Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 13 . Kebiasaan merokok pada penelitian penulis ini belum bisa dimasukkan dalam faktor resiko.

Aliran yang melalui saluran dapat menurun pada berbagai sebab. jalan nafas dapat diibaratkan seperti saluran karet. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri tidak didapatkan tanda-tanda obstruksi.4%.1. asma). Tahun 2009 . Hal itu dimungkinkan karena menurut Enright (1987). akan menurunkan aliran udara di dalam saluran tersebut. rasio kecenderungan negatif yaitu hasil false negative per jumlah true positive dan false negative dibagi spesifisitas adalah sebesar 0. sensitivitas foto thorax adalah 80 %. ini dikarenakan sejumlah 54 pasien dengan gambaran foto thorax PA non emfisema setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (hasil true negative tinggi).8 % .8 . Pada penelitian ini didapatkan nilai spesifisitas 84. Sejumlah 10 pasien (false positive) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran emfisema. Pada penelitian uji diagnostik ini. namun tidak semua rumah sakit di Indonesia memiliki alat tersebut.prediksi negatif yaitu hasil true negative dibagi jumlah false negative dan true negative . Menurut Sharma (2006). rasio kecenderungan positif yaitu sensitifitas dibagi hasil false positive per jumlah false positive dan true negative adalah sebesar 5. setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga menunjukkan tanda-tanda obstruksi sesuai dengan kelainan emfisema (hasil true positive tinggi). Definisi emfisema pulmonum menyebutkan kelainan paru secara anatomis. Simpulan dan Saran Simpulan Pemeriksaan foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Tidak semua masyarakat bisa menjangkau pemeriksaan tersebut. lebih nyaman dan terjangkau bagi pasien dibandingkan spirometri. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri didapatkan tanda-tanda obstruksi. Biomedika.penyakit di luar emfisema yang juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi jalan nafas (bronkhitis khronis. Foto thorax PA pada pelaksanaan pemeriksaan juga lebih memberikan kenyamanan pada pasien. Foto thorax PA juga merupakan pemeriksaan yang lebih mudah dan lebih sederhana dengan biaya yang sama dengan pemeriksaan spirometri. Saran Perlu dipertimbangkan untuk mengalihkan pemeriksaan spirometri ke pemeriksaan foto thorax PA pada pasien emfisema pulmonum dengan sesak nafas yang tidak dapat melakukan manouver spirometri berkali-kali. gambaran hiperinflasi yang seolah-olah menyebabkan penurunan dan pendataran diafragma maupun tear drop appearance jantung disertai gambaran hiperlusensi juga dapat terlihat pada pasien normal dengan inspirasi dalam maupun atlet dewasa muda tanpa penyakit paru . dikalikan 100 % adalah sebesar 81. Menurut Enright (1987). Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas lebih tinggi daripada hipotesis.3 %.6 % dan spesifisitas 84. Nilai diagnostik foto thorax PA oleh karena itu lebih tinggi dibanding dengan spirometri. Pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih mudah. dikarenakan pasien hanya melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan inspirasi tersebut saat foto diekspose tanpa harus melakukan manouver spirometri berkali-kali yang sulit dilakukan oleh pasien dengan sesak nafas. sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan lain yang lebih terjangkau untuk masyarakat kurang mampu tetapi memilik i nilai diagnostik tinggi. Nomor 2. Sejumlah 12 pasien (false negative) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran non emfisema. hal itu disebabkan karena sejumlah 116 pasien dengan gambaran foto thorax PA menunjukkan emfisema. sedangkan spirometri mendeteksi kelainan tersebut sebagai suatu kelainan dari fungsi faal paru. angka tersebut lebih tinggi daripada hipotesis yang menyebutk an 80 %. mempunyai sensitivitas 90. Standar baku emas emfisema pulmonum secara anatomi saat ini adalah High Resolution Computed Tomography. Volume 1. hal itu dikarenakan terdapat penyakit . Biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal. Penyempitan saluran dari dalam atau kompresi dari luar.3 % . foto thorax PA mendeteksi kelainan emfisema tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru . didapatkan sensitivitas 90. foto thorax PA untuk mengetahui kelainan struktur paru pada 14 emfisema pulmonum memberikan manfaat yang lebih dibanding dengan uji yang sudah ada yaitu spirometri sebagai gold standard untuk mengetahui fungsi faal paru.6 % dan spesifisitas 83.

J. 1993. Jakarta : 267-268...Pathol. Enright P. 157 : 139-47. Senior R. Philadelphia : 249-54. Senior R... Majalah Penyakit Dalam. Texbook Radiology and Imaging : 168-172 Widjaja A. MCR Vision. London : 1-28. 2003. cetakan ke-2. Lea & Febiger. 1997.. 1997. Elastin and Collagen Remodeling in emfisema A Scanning Electron Microscopy Study. O'Donnell.. 1998. Jakarta: Erlangga. Washington University School of Medicine. Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 15 . Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Samet J. Pulmonology Obstructive Airways Diseases. FitzGerald. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Management and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Crit. Sharma S. Philadelphia Finlay G. The Relationship of Smoking to COPD . Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Cherniack NS. 1997. Penelitian Epidemiologi : Pengaruh lingkungan pada PPOM.J..physiology. Am. Sastroasmoro S. Anthonisen N. 1981. Respir. Inc : 3 Hautamaki R.... Martin Dunitz Ltd.Daftar Pustaka Barnes P.org/cgi/content/abstract Simon G. Requirement for Macrophage Elastase for Cigarette smoke Induced emfisema in Mice. Diagnostik Roentgen. Woolston C.. 1997. hhtp://ajplung. 1996.. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . O'Connor . Obstructive Airways Diseases. 2006. Smoking Mice Lead to emfisema Breakthrough. 227 : 2002-4. Shapiro S. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. 2000. Office Spirometry... Godfrey S. Ismael S. Med. 1991. Am. Care. 1995...149: 1405-1415. WB Saunders Company. UNAIR Surabaya : 3-19. FK.. Global Strategy for The Diagnosis... Kobayashi K. Hal :328-332 Sutton D. Hayes J.

Tahun 2009 . Nomor 2.16 Biomedika. Volume 1.

high LDL on 23/ 56. Beberapa penelitian yang lain memberikan hasil yang kontroversial. marital status = married (40/98%) and occupation = retired (12/29%) . HCTS examination reveal that most of lesion are ischemic lesion/infarct iskemik/imfark (23/56. demensia terjadi ratarata seperempat sampai sepertiga dari kasus stroke (Taternichi et al.. Penelitian di Lundby Swedia memperlihatkan angka risiko terkena demensia vaskular sepanjang hidup 34. This study is descriptive study from patients medical record that were diagnosed by stroke with dementia in Dr Sardjito General Hospital. dementia Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup akan menambah jumlah lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degenerasi atau neoplasma. and mostly found in frontoparietal lobe (9/22. and average mean of lipid profile were : total cholesterole 327/130/208. Dyslipidemia history was positive in 21/ 52.1. fisik. Sardjito General Hospital Jogjakarta.2004). Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat medis. stroke. lowest. There were 41 subject. sedangkan HDL yang rendah dan kolesterol total yang tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif terutama fungsi bahasa (Reitz et al. Material dan Desain Penelitian Merupakan kajian deskriptif dari catatan medis pasien yang terdiagnosa stroke dengan demensia yang dirawat di Unit Stroke RS DR. Most patient with stroke with dementia had abnormal lipid profile. Sudah lama diketahui bahwa defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke.5% pada pria dan 19.1%). Demensia berdasarkan kriteria DSM-IV Listyo A.1% subjects.5% subjects. 1992). pemeriksaan fisik dan Computed Tomografi (CT).73mg/dl. Peningkatan jumlah lansia akan menambah populasi Penderita demensia (Kaye.9% subjects. Most of them are male (28/68%). Berdasarkan latar belakang tersebut diatas. Sardjito Yogyakarta. bahwa LDL dan trigliserid plasma tidak berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif.6% subjects.1998). Penelitian terakhir memperlihatkan. 95% CI: 1.com Abstract There is rising in prevelence of dementia as changing of disease pattern from infection disease to degerenative disease. Keywords: dyslipidemia. age = 55-64 (19/47%).based tentang LDL kolesterol dan risiko demensia dengan stroke. low HDL on 15/36. Hasil lain didapatkan pada penelitian cohort. Gangguan kognitif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan MMSE ( kurang 24). yaitu menyimpulkan hubungan yang lemah antara level High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan Low Density Lipoprotein Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.5% sampai dengan 61% (Schmid et al. Insidensi demensia pasca stroke bervariasi antara 23. Sardjito Yogyakarta bulan Oktober sampai Desember 2007. high trygliceride on 34/82. dalam penelitian prospective longitudinal community.9% subjects. HDL78/22/46. The aim of this study is to get lipid profile of stroke patients with dementia in Dr. 1999.27mg/dl respectively. Sardjito Jogjakarta Listyo A. menyimpulkan bahwa peningkatan LDL kolesterol berhubungan dengan risiko demensia dengan stroke pada Penderita tua (RR:3.76mg/dl. trigliserid 244/120/183.94% pada wanita dengan semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam perhitungan (PERDOSSI.97mg/dl. education = junior high school (15/37%). Highest. LDL 242/66/121. Pujarini E mail: listyoasistpujarini@yahoo..Dislipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.0%). psikiatri. Sardjito Jogjakarta Cholesterol (LDL-C) dengan demensia vaskular (Reitz et al. Pujarini 17 .2004). Moroney et al. Hypercholesterolemia found on 27/65. 1993) Abnormalitas lipid berperan dalam proses aterosklerosis kranioserebral. Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR.2004).. Dyslipidemia is one of the risk factors that take part in vascular dementia's process..1). kami ingin mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR Sardjito Yogyakarta.5-6.

Karakteristik subyek menurut pekerjaan 18 Biomedika. Gambar 3. Karakteristik subyek menurut jenis kelamin Gambar 2. Karakteristik subyek menurut umur Dari gambar 1 dan 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar subyek dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 (68%) dan berumur antara 55-64 tahun sebanyak 19 (47%).Hasil Penelitian Dari penelitian kajian deskriptif ini didapatkan sebanyak 41 Penderita stroke dengan demensia. Volume 1. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini : Gambar 1. Karakteristik subyek menurut tingkat pendidikan Gambar 4. Karakteristik subyek menurut status perkawinan Gambar 5. Tahun 2009 . Nomor 2.

4. Hasil HCTS sesuai patologi lesi Patologi lesi Atrofi Iskemik / Infark Perdarahan Jumlah 6 23 12 Persen(%) 14.9 82.9%) Subyek.9 17. Kolesterol total tinggi sebanyak 27 (65. Tabel 2. Riwayat dislipidemia terdapat pada 21 (52.1 43.5%).5 47.Sedangkan dari gambar 3.4 56. LDL tinggi sebanyak 23 (56.6 56.9 34. dan trigliserid tinggi sebanyak 34 (82.3 Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56. Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. 5.9%) Subyek.1%) Subyek.5 14. 40 (98%) Subyek sudah menikah dan 12 (29%) Subyek dengan pekerjaan sudah pensiunan.1 67. dapat kita ketahui sebanyak 15 (37%) Subyek dengan tingkat pendidikan SLTP.1 43.6 63.1%%).5 80.1 36.5 56.6 17.1 Gula darah tinggi Kolesterol total tinggi HDL rendah LDL tinggi Trigliserid tinggi Dari tabel tersebut diatas. Tabel 3.3 70. Sardjito Jogjakarta Listyo A.9 19.1 29. Pujarini 19 . Karakteristik faktor resiko vaskular Faktor resiko Riwayat dislipidemia Riwayat hipertensi Riwayat DM Status merokok ya tidak ya tidak ya tidak Perokok Mantan perokok Bukan perokok ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak Jumlah 21 19 23 18 8 33 6 7 28 12 25 27 14 15 26 23 18 34 7 Persen(%) 52.3 29.1 65. dapat dilihat bahwa sebagian besar profil lipid memang abnormal.

Hasil HCTS sesuai lokasi lesi Lokasi lesi Frontotemporalis Paraventrikuler Frontoparietal Parietotemporalis Parietooccipitalis Temporooccipitalis Capsula interna Ganglia basalis Occipitalis Parietalis Lain-lain Jumlah 3 3 9 4 3 2 5 4 1 2 5 Persen(%) 7. lokasi lesi di regio frontoparietal.8 7.3 22. Profil lipid pada subjek sesuai nilai minimal-maksimal Dari gambar 6. Gambar 6. ternyata sebanyak 9 (22. 20 Biomedika.1%%).3 7.9 12. Profil lipid subyek sesuai frekuensi yang abnormal Gambar 7 menyatakan sebagian besar Subyek mempunyai nilai profil lipid yang tinggi yaitu: kolesterol total 27 Subyek. Tahun 2009 . LDL dan trigleserid diatas 200 mg/dl dan nilai rata-rata termasuk borderline high-high.0%) Subyek.8 2. Volume 1.9 12.4 4.3 4. LDL 23 Subyek. Gambar 7. Tabel 4.Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56.2 9.0 9. ternyata nilai maksimal kolesterol total.2 Dari hasil HCTS. Nomor 2. trigliserid 34 Subyek.

(b) Gangguan kognitif pada a1 & a2 menyebabkan gangguan fungsi sosial & okupasional yang jelas dan penurunan tingkat kemampuan sebelumnya yang jelas. diabetes. (3) F01. Demensia vaskular merupak an suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindrom demensia akibat iskemik.2 Demensia vaskular subkortikal. Di Asia prevalensi demensia vaskular lebih tinggi daripada demensia Alzheimer. sebagai berikut : 1) Adanya demensia yang ditetapkan dengan penurunan daya ingat yang disertai dengan dua atau lebih gangguan kognitif: orientasi.Pembahasan Sesuai PPDGJ III..4 Demensia vaskular lainnya.(ICD-X) demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak. (3) F 02 Demensia pada penyakit lain yang tidak diketahui. (2) F01. B e b e r a p a h i p o t e s i s y a n g dikemukakan para ahli adalah : hipotesis genetik. Dalam 4 tahun terakhir beberapa ilmuwan membagi faktor risiko demensia vaskular dalam 4 kategori : 1) Faktor demografi. tidak harus dengan gangguan memori yang menonjol (PERDOSSI. Pujarini 21 . 2) Faktor aterogenik ( hipertensi. perilaku sosial atau motivasi. diantaranya volume kehilangan jaringan otak. PPDGJ III membagi demensia vaskular sebagai berikut : (1) F01. 1996). fungsi kognitif berfluktuasi seperti anak tangga. (2) F 01 Demensia vascular. Listyo A. apraksia. hipotesis neurotransmiter (Diaz.3 Demensia vaskular campuran kortikal dan subkortikal. (4) F01. Kriteria diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV: (a) Adanya gangguan kognitif multipleks yang dicirikan oleh 2 keadaan berikut: 1) Gangguan memori. Menurut PPDGJIII / ICD X: (1) F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer. menopause tanpa terapi penggantian estrogen. anoksia atau hipoksia otak. untuk penderita berpendidikan tinggi nilai di bawah 27 mengindikasikan gangguan kognitif. hipotesis infeksi dan toksik. praksia. jumlah dan lokasi infark (Herbert et al. (4) F 03 Demensia yang tidak tergolongkan.. biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi. yaitu berkisar 2540%. 4) Faktor yang berhubungan dengan stroke. sedangkan pada Penderita berpendidikan rendah nilai di bawah 24 baru mengindikasikan gangguan kognitif (Bouchard et al. 2004). dan daya kemampuan menilai. daya orientasi.0 Demensia vaskular onset akut. fungsi eksekutif dan kontrol motorik. 2) Munculnya tanda fokal neurologik. daya pikir. penurunan mendadak fungsi kognitif. M ini Mental State Examination (MMSE) merupakan tes yang mudah dan berguna di dalam klinik untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif. 3) Faktor non aterogenik. penyakit jantung. 2) Satu atau lebih gangguan kognitif (afasia. visuospasial. Insiden dan prevalensi demensia vaskular dilaporkan berbeda-beda di berbagai negara. Kesadaran tidak berkabut. merokok. dislipidemia. agnosia. biasanya bersifat kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang multipel) termasuk daya ingat. 2004). prevalensi demensia vaskular sekitar 25% (Konsensus Pengenalan Dini & Penatalaksanaan Demensia Vaskular. Pada Penderita lanjut usia pasca stroke.1 Demensiamulti-infark. berbahasa. Nilai maksimal 30. Sardjito Jogjakarta Untuk menentukan demensia vaskular. gangguan funfsi eksekutif. dengan penurunan fungsi kognisi mulai dari yang ringan sampai yang paling berat dan meliputi semua domain. daya pemahaman. (c) Tanda & gejala neurologis fokal atau pemeriksaan radiologis menunjukkan infark multipel di daerah kortek & subkortek. hipotesis vaskular dan metabolik. perhatian. (5) F01.2000). Mekanisme terjadinya demensia belum jelas s e p e n u h ny a . 3) Hubungan di antara kedua penyakit ini bermanifestasi atau berpengaruh dengan munculnya satu atau lebih keadaan berikut: onset demensia dalam tiga bulan mengikuti stroke. 1991). bahasa. kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria NINDS-AIRENS (National Institut of Neurological Disorder and Stroke and Association Internationale pour la Recherche e t l'Enseigment en Neuroscience) (1991). Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr.

Low Density Lipoprptein Cholesterol and the Risk of Dementia With Sroke. M.J. 22 Biomedika. R.. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apak ah didapatk an adanya hubungan antara profil lipid yang abnormal dari semuanya komponennya (kolesterol total... Kolesterol total dan Trigliserid menurut NCEP ATP III (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel). Bell K. Text Book of Medical Physiology... J.M.W. Neurology.pp: 188-193. 3: 1487-93. Stern Y. dan kadar HDL rendah juga dijumpai pada hampir setengah Subyek) . Karena penelitian ini hanya merupakan penelitian deskriptif dengan melihat catatan medis dan terbatas dalam rentang waktu tertentu. Merchant C. 7th ed. In: Gauthier S. Arch Neurol. Moroney. HDL.Tabel 1. 1975. & Zihlka.. Tahun 2009 . 43 (2): 250-60. Guyton. Volume 1.. Ilif.. google. A. dan ternyata sebagian besar Subyek dalam penelitian mempunyai nilai profil lipid yang abnormal ( kadar kolesterol total tinggi. 1996. Nomor 2. A.. 1986.C. Merck. Arch Neurol. Madrid Dunitz . Typical Clinical Features. 34: 1217-21. Herbert R et al.D. London: Martin-Diaz. New York. 2001 (mg/dl) LDL-C < 100 100-29 130-159 = 190 Kolesterol Total < 200 200-239 = 240 HDL C < 40 = 60 Trigliserid < 150 150-199 200-499 = 500 Optimal Hampir atau di atas normal Borderline high Very High Normal Borderline High High Low High Optimal Borderline high High Very High Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini merupakan kajian deskristif. X. E. LDL & Trigleserid) dengan kejadian demensia pada Penderita stroke. Hachinski.. & Maeyeux R. Vascular Dementia: Diagnostic Criteria for Research Studies.. Clinical Diagnosis and Managemen of Alzheimer's Disease. HDL-C. http://www. 32(9): 632-7.G.. American Heart Association. Small S. Kaye. antara lain kelengkapan dalam penulisan rekam medis. T. kadar trigliserid tinggi.Ltd 35-50. V... Incidence and Risk Factors in the Canadian Study of Health an Aging. JAMA.com. 1991. L. The Essential Brain. Sounders co Japan. maka didapatkan keterbatasan-keterbatasan. 1991. NINDS-AIRENS International Workshop. Tang M.B.. & Rossor. Daftar Pustaka Bouchad. Cerebral blood flow in Dementia. 2000. 1998. W. Oldest-Old Healthy Brain Functio.(ed). kadar LDL tinggi.N. 1999. Klasifikasi LDL-C.C.

Fazekas. & Freidl. 2004. Kinkel. Schmid. X. L... Arch Neurol. Pujarini 23 .. W. M. F. R. 241(1)5-11 Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A.. 1993. Eur Arch-Psychiatry-Clin-Neurosci.PERDOSSI. & Mayen.. 61: 705-14. Relation of Plasma Lipid & Alzheimer Disease and Vascular Dementia. PERKENNI.X. Mechler.. Cognitif Impairment After Acut Supratentorial Stroke: a 6-month follow up Clinical and Computed Tomography Study. Konsensus Pengenalan Dini dan Penatalaksanaan Demensia Vaskular. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Mellitus di Indonesia Reitz.. J. 2004.. R.. C. 1995. Luchsinger. P. Toeng.

Nomor 2. Tahun 2009 .24 Biomedika. Volume 1.

pankreatitis akut. The gastric lumen was perfused continuously with unbuffered mucosal solution 1 ml min-1 and bubbled with 100% O2.36 in AESRKB III group (equivalent to 34. and 12683. This study was conducted using isolated Wistar rat stomach. -1333.28 in cimetidin group.84 mg/kgBW). The rats were fasted and drinking water was given ad libitum for 24 hours before testing. selain harganya yang tidak murah (Dollery. The H+ consentration was measured by titration with NaOH 0. Fifty four rats (3-4 month) of 150-250 g were used in this study. Ulkus peptik yang masih sering ditemui di masyarakat terjadi karena ketidakseimbangan faktor agresif berupa meningkatan volume asam lambung. The statistical analysis showed that the AUC0-80 of EESRKB and AESRKB were significantly (p<0. sekresi bikarbonat. dan penghambat pompa proton (Atman. and the ethanolic extract showed an inhibitory effect more than those of etheric extract.67 ± 2838. the AUC0-80 was calculated and analyzed by ANOVA.94 in EESRKB III group (equivalent to 7. -1116. and to compare the effect of both extract on rat gastric acid secretion in vitro. Is the active compound hydrophylic or hydrophobic has not been known yet.33 ± 80.Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari E mail: do_must@yahoo. agranulositopenia dan trombosito-penia. and then sacrified.05) than those of AESRKB I.33 ± 968. gastric acid secretion. pelapis dan pelindung permukaan mukosa (sukralfat). after which the treatment (histamine 10-6 M) was added to the unbuffered solution in each group.22 in ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (AESRKB I group) equivalent to 8. 4500 ± 2819. 1998). and collected for 10 minutes duration. mukus.05) lower than those of control solution (except EESRKB II). 1994). The stomach was taken and suspended in an organ bath containing 37°C buffered serosal solution and bubbled with carbogen.45 in AESRKB II group (equivalent to 17. Oleh karena itu. obat-obat antiulkus di atas mempunyai efek samping yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumor karsinoid. Keywords : musa balbisiana molla. It was concluded that the etheric and ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana (Musa balbisiana Colla) showed an inhibitory effect on rat gastric acid secretion induced by histamine. dan gastrin.67 ± 3444. 8516. Sekresi asam lambung dikontrol oleh 3 agonis utama yaitu histamin. Namun. The H+ consentration elevation was expressed as mean ± SEM.33 ± 760.The result showed that the total area under curve (AUC0-80) of H+ consentration was 14550 ± 692.8 mg/kgBW). The isolated preparation was stabilized for 1 hour and perfusate spilled out. known as basal H+ consentration . histamine. the AUC0-80 of EESRKB I were not significantly different (p>0. ethanolic extract Pendahuluan Tukak lambung atau ulkus peptik merupakan keadaan kontinuitas mukosa lambung terputus (Laurence. a seeded banana. asetilkolin. Perfusate from gastric lumen were collected every 10 minutes untill 80 minutes and H+ consentration were measured by mean of titration. The rats were weighted. 5650 ± 3191. dan prostaglandin (Price. -5883.92 mg/kgBW. nefritis interstisial. and the AUC0-80 of EESRKB III were not significantly different (p>0.002 N using phenolftalein as indicator.64 in EESRKB II group (equivalent to 3. anesthetized with ether inhalation. 141. dan famotidin).7 mg/kgBW.4 mg/kgBW). pepsin dan infeksi Helicobacter pylori dengan faktor defensif berupa integritas mukosa lambung.67 ± 3659.65 in DMSO group. the AUC0-80 of EESRKB II were significantly higher (p<0.62 in etheric extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (EESRKB I group) equivalent to 1.05) than those of AESRKB II. masyarakat Domas Fitria Widyasari 25 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro . 1991).70 in control group (saline). penyekat reseptor Histamin H2 (simetidin. Obat yang mengurangi sekresi asam lambung sebagai terapi ulkus peptik dapat dikelompokkan ke dalam golongan antasida (Al(OH)3 dan Mg(OH)2). The perfusate was allowed to flow continuously. etheric extract. They were divided into 9 groups (6 rats each). ranitidin. according to the methods modified from Barocelli.com Abstract Kluthuk banana (musa balbisiana colla).The aim of his study is to determine the effect of the seed of ripe kluthuk banana (musa balbisiana colla) etheric and ethanolic extract.05) than those of AESRKB III. has been studied for its ability to reduce gastric acid secretion. Pretreatment was added to the unbuffered mucosal solution for 30 minutes. 1964).69 mg/kgBW).

1982). Peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dinyatakan dalam mean ± SEM. masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (3 ekor jantan.69 mg/kg BB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK III).2 % v/v dalam unbuffered mucosal.8 mg/kg dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK III). Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. dan berat 150-250 g sebanyak 54 ekor.7 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK I). Semua tikus dipilih acak dan dibagi 9 kelompok. Pengelompokan ini berdasarkan jenis praperlakuan yang diberikan. kemudian lambung tikus diangkat dan dipasang pada organ bath yang berisi larutan buffered serosal pada suhu 37Í dan C dialiri gas karbogen (O2 95% dan CO2 5%). pada penelitian ini diganti dengan tetesan. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi H+ basal. kelompok VI dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. Selama diberi perlakuan. kelompok IV dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Kelompok IX (kelompok DMSO) diberi praperlakuan dengan dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. diare. Tahun 2009 . Nomor 2. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk. kelompok II dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Tikus tersebut kemudian dipuasakan 24 jam sebelum percobaan dengan tetap diberi air minum secukupnya.92 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EEBPK I). kelompok V dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. Kemudian semua kelompok diberikan perlakuan dengan histamin 736. (1963) dan Elliot & Heward (1976) menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan produksi asam lambung dan menyembuhkan ulkus lambung. 2002). kelompok III dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. Total luas area di bawah kurva menit ke-0 sampai menit ke-80(AUC 0-80 ) dihitung dan dianalisis menggunakan analisis varian.84 mg/kgBB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK II). kelompok VII dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang 34. terhadap sekresi asam lambung tikus putih in vitro. mengobati luka. Penelitian yang dilakukan Sholikhah (2000) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001) menyatakan bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk muda mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro. serta membandingkan keduanya.4 µg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal. (1997) yang dimodifikasi sejak tikus dianestesi. Penelitian Tjandrasari (1991) menunjukkan bahwa ekstrak air dan alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dapat menyembuhkan ulkus lambung tikus yang ditimbulkan oleh aspirin. Pisang dapat digunakan sebagai obat sakit perut (sariawan perut dan maag). Penelitian Sanyal et al.002 N dengan indikator fenolftalein. kemudian diberi perlakuan dengan histamin 736. dianestesi. Kelompok I (kelompok kontrol negatif garam fisiologis) diberi praperlakuan dengan larutan unbuffered mucosal.4 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK II). Secara tradisional. 26 Biomedika. Penelitian dengan menggunakan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk belum pernah dilakukan. dan untuk pengobatan radang amandel (Sudarsono. Modifikasi berupa penggantian system pengaliran larutan garam fisiologis (unbuffered mucosal) ke dalam lumen lambung tikus yang semula menggunakan pompa peristaltik. Uji ini menggunakan metode menurut Barocelli et al. Volume 1. Lumen lambung selalu diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml/menit dan diberi gelembung O 2 100%. cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi H+ nya dengan titrasi. pisang (Musa) telah dikenal masyarakat sebagai buah yang enak dimakan dan sebagai obat tradisional (Depkes RI. Lalu masukkan bahan uji ke dalam larutan unbuffered mucosal untuk perfusi selama 30 menit. Tikus ditimbang. 3 ekor betina).mulai mencari alternatif pengobatan ulkus peptik dari obat-obat tradisional yang lebih murah dengan efek samping yang minimal. Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur dengan menggunakan NaOH 0. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih atau rat (Rattus norvegicus) galur Wistar jenis kelamin betina dan jantan yang sama jumlahnya dengan umur 3-4 bulan. kelompok VIII (kelompok kontrol positif ) diberi praperlakuan dengan simetidin dalam unbuffered mucosal.4 µg/kgBB dalam unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi H+ asam lambung.

00 ±42.76 -13.67 ±9.33 ±4.33 ±43.40 -20.22 -20.33 ±37.77 76.61 88.62 20.16 10.00 ±7.67 ±38.67 ±99.20 6 300.33 ±137.33 23.16 103.00 ±54.Hasil Penelitian Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.89 -3.98 35.29 -133.36 -3.00 156.56 -13.30 2 86.29 53.00 ±29.33 ±42.67 ±9.25 -20.00 263.85 5 250.33 ±44.67 ±9.00 ±88.77 -20.00 ±69.00 ±41.23 60.33 ±44.33 ±48.26 -20.28 7 313.4 µg/kgBB tiap 10 menit pada seluruh kelompok praperlakuan Kelompok Garam Fisiologs EEBPK I EEBPK II 1 50.37 -13.33 ±55.19 0.30 23.67 ±44.36 226.33 ±49.00 ±32.67 ±50.67 ±82.33 ±52.33 ±48.33 ±49.10 46.67 ±54.25 3.75 -23.58 26.48 6.55 -123.62 93.33 ±69.28 170.00 ±9.67 ±6.00 276.67 ±33.89 3 110.00 ±6.33 ±15.33 ±49.33 ±72.42 -10.30 -23.27 40.09 8 316.67 ±42.83 -16.33 ±19.71 60.67 ±21.00 ±42.95 51.67 ±15.00 ±35.85 -123.00 96.02 73.08 -133.25 100.86 73.00 ±0.67 ±14.00 ±0.97 -23.33 ±47.55 -20.00 ±53.33 ±72.55 EEBPK III EABK I EABPK II EABPK III Simeti din DMSO Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 27 .22 66.33 ±41.33 ±14.00 ±6.15 10 menit ke4 186.33 ±20.83 0.00 ±6.15 73.33 ±54.33 ±45. Rerata peningkatan konsentrasi H+ (µEq) pada perfusat cairan lambung tikus putih (mean + SEM) sesudah perlakuan dengan histamin 736.33 ±19.00 ±117.00 213.33 ±15.44 -110.33 ±50.00 ±0.33 ±50.51 -20.77 113.67 ±12.00 ±0.00 ±11.23 -16.00 ±0.67 ±21.00 ±0.33 +45.65 166.00 293. Tabel 1.55 93.83 -16.47 40.53 53.57 270.00 ±10.89 -13.00 ±4.

2% v/v dalam larutan unbuffered mucosal.4 µg/kgBB pada semua kelompok praperlakuan. Peningkatan konsentrasi H+ per 10 menit pada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Tabel 1 menyajikan rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung tikus putih (mean + SEM) tiap 10 menit sesudah perlakuan dengan histamin 736.8mg/kgBB. Volume 1.84 mg/kgBB (EEBPK II).4 mg/kgBB (EABPK II). EABPK II= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17.05) dari 10 menit pertama berturut-turut sampai 10 menit ke-8.05) sampai pada 10 menit ke-8. Sedangk an grafik rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dari menit ke-10 sampai pada menit ke-80 pada semua kelompok praperlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Gambar 1.Gambar 1. dan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Tampak rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih pada kelompok kontrol negatif garam fisiologis meningkat (p<0. DMSO= dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya yaitu Barocelli (1997) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001). 28 Biomedika.69 mg/kgBB.69 mg/kgBB (EEBPK III). EABPK III= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 34.7 mg/kgBB (EABPK I). Simetidin= simetidin 27 mg/kgBB. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa histamin dapat meningkatkan sekresi H+ asam lambung. 3.84 mg/kgBB. EEBPK II= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. Rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin 736.4 mg/kgBB.7 mg/kgBB. 7. 17. 34.92 mg/kgBB. EEBPK III= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Tahun 2009 .05) mulai dari 10 menit pertama setelah perlakuan dengan histamin.4 µg/kgBB Keterangan: Kontrol= larutan garam fisiologis unbuffered mucosal. EEBPK I= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. Pada 10 menit ke-6 menunjukkan kenaikan yang konstan (p>0.92 mg/kgBB (EEBPK I). EABPK I= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. Nomor 2.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan kenaikan yang bermakna (p>0.

8 mg/kgBB (EABPK III) lebih rendah (p<0. 5.92 mg/kgBB (EEBPK I) dan 7. dan 7.4 µg/kgBB invitro pada seluruh kelompok praperlakuan.33 80. Semakin tinggi nilai AUC0-80.92 mg/kgBB.22 EABPK II -5600 -6900 -6900 -7800 -5600 -2500 -5883. Mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.67 2838.36 SIMETIDI N -1100 -1100 -1300 -1500 -1500 -1500 -1333. Gambar 2. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.67 3659.94 EABPK I 13700 12900 1400 1200 -1200 -1000 4500 2819. Mean SEM KON TROL 15700 15500 13200 15700 15500 11700 14550 692.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.4 µg/kgBB in vitro pada seluruh kelompok praperlakuan Gambar 2 menyajikan mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.65 Tabel 2 menunjukkan luas area di bawah kurva / Area Under Curve (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ perfusat cairan lambung tiap tikus pada seluruh kelompok yang ditimbulkan oleh histamin in vitro.28 DMSO 13400 16600 12200 13300 10700 9900 12683.4 µg/kgBB in vitro Kelompok Tikus 1. maka semakin besar konsentrasi H+ di dalam cairan perfusat preparat lambung tikus putih tersebut.62 EEBPK II 11900 -1400 21600 -1400 7300 13100 8516.64 EEBPK III 200 500 3000 15300 15900 -1000 5650 3191. serta ekstrak etanol Domas Fitria Widyasari 29 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro .70 EEBPK I 2100 700 1350 -12100 -600 9400 141. 3. dan 34.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih rendah (p<0. dan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 7.33 968. Luas area di bawah kurva (AUC0-80) pada perfusat cairan lambung tiap tikus putih pada seluruh kelompok sesudah perlakuan dengan histamin 736.4 mg/kgBB (EABPK II).45 EABPK III 14600 -1600 -6700 -700 -2500 -9800 -1116.7 mg/kgBB (EABPK I). 4.33 760.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak berbeda bermakna (p>0. 2. Nilai AUC menggambarkan jumlah konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih dari 10 menit pertama sampai 10 menit ke-8 (AUC0-80).Tabel 2.69 mg/kgBB.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 1.67 3444. 17. 6.

Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesalahan teknis di dalam penelitian Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.69 mg/kgBB (EEBPK III). Nomor 2. Ekstrak eter dosis 3. Nilai AUC0-80 kelompok simetidin lebih rendah (p<0. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang Biomedika.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 30 dosis 17.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.4 mg/kgBB (EABPK II).7 mg/kgBB (EABPK I) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro yang lebih lemah daripada ekstrak etanol dosis 17.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan 7.84 mg/kgBB.dosis 8. 17.4 mg/kgBB (EABPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.92 mg/kgBB (EEBPK I).8 mg/kgBB (EABPK III). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 8. Hal ini sesuai dengan Altman (1998) yang menyatakan bahwa simetidin mengurangi sekresi asam lambung karena simetidin merupakan antagonis reseptor histamin yang bekerja berkompetisi secara reversibel dengan histamin pada reseptor H2.84 mg/kgBB (EEBPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Hal ini mendukung hasil penelitian Sholikhah dan Ngatidjan (2001) yang menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh aspirin.84 mg/kgBB (EEBPK II).8 mg/kgBB (EABPK III).05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34. ekstrak etanol dosis 17.92 mg/kgBB (EEBPK I).7 mg/kgBB.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sama kuatnya dengan simetidin 27 mg/kgBB. ekstrak etanol dosis 8. Hasil ini menunjukkan bahwa simetidin mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. sedangkan bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.7 mg/kgBB (EABPK I). Volume 1. Pembahasan Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1. sedangkan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.4 mg/kgBB (EABPK II) .8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.69 mg/kgBB mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.05). sedangkan ekstrak eter dosis 3.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih tinggi (p<0. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.84 mg/kgBB dan 7.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan ekstrak eter dosis 7. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. Sedangkan ekstrak etanol dosis 17. Ekstrak eter dosis 3. ekstrak etanol dosis 8.69 mg/kgBB (EEBPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ lebih lemah daripada simetidin 27 mg/kgBB.69 mg/kgBB (EEBPK III) menunjukkan hasil yang tidak berbeda (p>0.69 mg/kgBB. dan mempunyai kemampuan yang sama dengan ekstrak eter dosis 7.4 mg/kgBB. dan ekstrak etanol dosis 34.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 17. tetapi tidak signifikan.7 mg/kgBB (EABPK I). Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.92 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang lebih kuat daripada ekstrak eter dosis 3.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.7 mg/kgBB (EABPK I) lebih tinggi (p<0. ekstrak etanol dosis 17.05) daripada kelompok simetidin. dan 34.4 mg/kgBB (EABPK II) dan tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.4 mg/kgBB (EABPK II).05) dibandingkan dengan kelompok simetidin. Nilai AUC0-80 pada kelompok EEBPK I menunjukkan nilai yang ekstrim bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan lain.84 mg/kgBB dapat menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih. Tahun 2009 . dan ekstrak etanol dosis 34.92 mg/kgBB (EEBPK I) lebih rendah (p<0.4 mg/kgBB (EABPK II) dan 34.8 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro.

Ballabeni V.menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin in vitro seperti halnya simetidin. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. 7th ed. 1976. The influence of banana supplemented died on gastric ulcers in mice. (Editor): Basic and Clinical Pharmacology. Daftar Pustaka Altman D. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan ½ pisang. menyembuhkan ulkus serupa yang sudah ada. dan dapat mengurangi volume sekresi asam lambung seperti halnya simetidin. Pemanfaatan Tanaman Obat. 1991. 1963. Pharmacological Research Communication 8(2): 167-71 Laurence DR and Bocharah AL. Simpulan dan Saran Simpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin 736. London: Academic Press Price SA. Kemungkinan besar zat aktif yang berefek penghambatan sekresi asam lambung bersifat hidrofilik. Barlocco D. 1982.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Saran Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak-ekstrak lain biji pisang kluthuk terhadap s e k re s i a s a m l a m b u n g ( H + ) d a n p e r l u penambahan jumlah sampel (hewan coba) penelitian. Edisi II.7 mg/kgBB (EABPK I). J.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. 1994. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang lebih lemah daripada ekstrak etanol.4 µg/kgBB in vitro. 1963. Banana and restrain ulcer in albino rats (letters to the editor). dalam Katzung. Banana and experimental peptic ulcer.. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 3. 1964. Pharmacol 15: 775-6 Sanyal AK. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.G.92 mg/kgBB (EEBPK I) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. Dal Piaz V dan Impicciatore M. 35(5): 487-92 Depkes RI. Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. 1997. Pharm. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Vianello P. Drugs used in gastrointestinal disease. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. East Notwalk: The Appleton & Lange: 1017-29 Barocelli E. Volume 1. Study of antisecretory and antiulcer mechanism of new indenopiridazinone in rats.4 mg/kgBB (EABPK II). Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 1 pisang. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan efek penghambatan sekresi asam lambung yang lebih kuat daripada ekstrak eter. 2. Jakarta: Depkes RI Dollery SC. J. Chowdhury NK. dengan mengingat bahwa ekstraksi dengan etanol menyarikan zat aktif yang larut dalam air dan lemak. Ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk menunjukkan efek yang lebih besar daripada ekstrak eter. B. Das PK. Pharmacol. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Tjandrasari (1991) dan Sholikhah (2000) yang menunjukkan bahwa pisang kluthuk mempunyai efek mencegah dan menyembuhkan ulkus lambung tikus yang disebabkan aspirin. Therapeutic Drugs. Chiavarini M. New York: Churchill Livingstone Elliot RC and Heward GJF. Res. Jakarta: EGC Sanyal AK. Buah pisang kluthuk muda dapat mencegah timbulnya ulkus lambung tikus akibat pemberian salisilat. Perbandingan efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk dihitung berdasarkan nilai AUC0-80 pada kedua jenis ekstrak dengan dosis yang bersesuaian. Pharmacol 15: 283-4 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 31 .84 mg/kgBB (EEBPK II) lebih tinggi (p<0. Banerji CR.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 17.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 34. Pharm.8 mg/kgBB (EABPK III). Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 2 pisang. 1998. sedangkan ekstraksi dengan eter menyarikan zat aktif yang larut dalam lemak. Nilai AUC00-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 7. Edisi 4. Gupta KK.

Sinha S. 2000. Wahyuono S. sifatsifat dan penggunaan). 2002. 1961. Ngatidjan. Pramono S. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada Tjandrasari S. Efek ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin in vitro. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudarsono. Mediagama 2(3): 14-9 Sholikhah EN. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 32 Biomedika. Skripsi Fakultas Farmasi. Volume 1. Nomor 2. Tumbuhan Obat II (hasil penelitian. Donatus IA. Sinha YK. Berkala Ilmu Kedokteran 33(2): 77-82 Sholikhah EN. J. 2000. Das PK. 1991. Banana and gastic secretion (letters to the editor). Efek ekstrak alkohol daging buah dan biji pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Pharm. Cara kerja ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dalam mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro.Sanyal RK.dan Purnomo. 2001. Pengaruh ekstrak pisang kluthuk (Musa brachycarpa Beck) terhadap ulkus lambung tikus karena salisilat. Gunawan D. Tesis Program Pasca Sarjana. Tahun 2009 . Pharmacol 13: 318-9 Sholikhah EN dan Ngatidjan.

P2 and P4 (p=0.8 ml/day (± 140 ìg extract). And there were no significant differences in lymphoblasts count between K and P3 (p=0.2 ml/day (± 35 ìg extract).009). K was control group without treatment with mahkota dewa extract. Aktivasi dan proliferasi sel T di lien terjadi di selubung limfoid periarterioler lalu terjadi migrasi ke zona marginalis. misalnya melalui IL-4 (Middleton. P1 and P3 (p=0. dan senyawa resin. The objective of this study was to show the influence of Mahkota dewa's fruits extract in spleen lymphocytes proliferation of BALB/C mice. 2003) Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the post test only control group design.675).009).5 ml/day (± 280 ìg extract). saponin.012). Sebagian kecil sel T yang teraktivasi masuk ke dalam folikel limfoid. IL-2 juga merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B dan NK (Natural Killer). terutama diatur oleh pengaruh IL-2 terhadap reseptor IL-2 yang dimiliki pada permukaan selnya.917). Penelitian membuktikan bahwa secara laboratoris senyawa flavonoid dapat meningkatkan produksi IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit (Lisdawati. P3 was group given mahkota dewa extract 0. Lymphocytes from the spleen of all mice were isolated after 2 weeks treating. Mahkota dewa yang digunakan biasanya dicampur dengan berbagai bahan lain dalam satu ramuan dimana untuk setiap penyakit tidak sama. Penelitian terbaru menunjukkan proliferasi limfosit T juga dapat terjadi tanpa melalui IL-2.id Abstract Mahkota dewa (Phaleria papuana) fruits consists of chemicals that are able to increase lymphocytes proliferation. On the giving of mahkota dewa's fruits extract there were significant increase of lymphocyte proliferations on BALB/C mice on P1 and P2 groups.009). P1 and P2 (p=0. K and P4 (p=0. P2 and P3 (p=0. sedangkan pada kulit buahnya terkandung zat flavanoid. Penilaian dilakukan hanya pada saat post test. 2005). 33 . An experimental study with the post-test only control group design was carried out on experiment animal BALB/C mice. dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya (Sepgana. Lymphoblasts were counted in every 200 cells.7 Folikel limfoid lien kaya dengan sel B yang berperan dalam respon imun humoral. Menggunakan 5 kelompok. yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan.4 ml/day (± 70 ìg extract). dengan membandingkan hasil observasi pada Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M.028). terutama di daerah pulpa putih. mahkota dewa Pendahuluan Mahkota dewa atau Phaleria papuana merupakan tanaman obat tradisional yang banyak dipergunakan masyarakat untuk berbagai penyakit dan penambah stamina pada orang sehat. Akhir-akhir ini semakin banyak masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif karena harganya yang relatif murah dan manfaatnya memuaskan (Hartati. tannin. E mail: kedokteran@ums.028). Saifulhaq M. whereas P1 was group treated with mahkota dewa extract 0. Buah mahkota dewa mengandung zat kimia antara lain alkaloid. consisted of 25 male mice which devided into 5 groups. P3 and P4 (p=0. dengan randomisasi sederhana. There were significant differences in lymphoblasts count between K and P1 (p=0. Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas pengaruh buah mahkota dewa dalam memodulasi sistem imun sehingga dapat menjadi tambahan informasi dalam pertimbangan konsumsi tanaman obat. and P4 was group given mahkota dewa extract 1. 2000) Lien merupakan salah satu organ limfoid sekunder yang di dalamnya terdapat limfosit T maupun limfosit B.917).Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. P1 and P4 (p=0. Selain itu. dan sebagian lainnya akan bersirkulasi ke darah perifer.009). P2 was group given mahkota dewa extract 0. Keywords: lymphocyte proliferation.ac. K and P2 (p=0. 2002) Proliferasi limfosit T yang dirangsang oleh antigen. terpenoid. Saifulhaq M. But there were not on P3 and P4 ones.

Sampel penelitian diambil secara acak (random) dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi sebagai berikut: mencit strain BALB/C jantan. dan sehat.5 14 16.5 31.1 Persentase jumlah limfoblas semua kelompok mencit No 1 2 3 4 5 Rerata + SD K 23.5 41 33 37.5 36.23 P1 39.5 Gambar. setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu. masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 5 ekor per kelompok.5 26 14 10. 1 Grafik rerata jumlah limfoblas 34 Biomedika. umur 8 minggu. Nomor 2.2 ml/sonde/hari Perlakuan 2 (P2): diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 ml/sonde/hari Mencit dibunuh untuk dilakukan pengambilan/isolasi splenosit (lien). Sehingga jumlah total sampel sebanyak 25 ekor.34 P4 20 12. Tiap kelompok mencit mendapatkan pakan standar dan minum yang sama secara ad libitum.5 19 16 16. yaitu uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney U. Lima kelompok mencit tersebut adalah : Kontrol (K) : diberi aquades namun tidak diberi ekstrak mahkota dewa.8 + 4.11 24.33 diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 + 4.5 10 13.4 + 4. Hasil Penelitian Hasil persentase jumlah limfoblas dalam 200 sel (limfosit dan limfoblas) semua kelompok ditampilkan pada Tabel 1 dan Gambar 1.22 P3 20.5 28 15. dilakuk an pemeriksaan limfosit dengan menghitung jumlah limfoblas dalam 200 sel dari tiap preparat. Setelah itu.5 12. lalu dibuat persentasenya.5 27 22 20.6 + 6.4 ml/sonde/hari Tabel.5 16. Volume 1. Nilai signifikasi pada penelitian ini adalah apabila variabel yang dianalisis memiliki nilai p < 0.8 + 3.05. Mencit BALB/C sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok. serta antar kelompok perlakuan.kelompok perlakuan dan kontrol. Tahun 2009 .8 ml/sonde/hari Perlakuan 4 (P4): diberi ekstrak mahkota dewa 1. Perlakuan 3 (P3): P2 26. Analisa statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Perlakuan 1 (P1): diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 15.

dan P4 ( masing-masing p=0.Dari Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase jumlah limfoblas pada kelompok P1 lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya.8 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0.675) tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Menurut penelitian Jiao et al. 2 Nilai p dari uji statistik Mann Whitney U jumlah limfoblas K 0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol. P3.917) maupun dengan kelompok P4 (p=0.675 P1 0.8 ml/hari dan 1.009* 0. disebutkan bahwa senyawa flavonoid meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit.917 Selanjutnya pada uji Mann Whitney U (Tabel 2) dapat dilihat bahwa jumlah limfoblas pada kelompok K dibanding dengan kelompok P3 (p=0.012) dan P4 (0. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pemberian ekstrak buah mahkota dewa didapatkan peningkatan proliferasi limfosit lien yang bermakna pada mencit BALB/C kelompok P1 dan P2. menyebutkan bahwa senyawa flavonoid selain mempunyai efek imunostimulan juga memiliki efek imunosupresan. Dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok P3 dan P4. Pembahasan Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok mencit yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. 35 . Sedangkan kelompok P2 lebih besar dibandingkan dengan kelompok K.009).5 Hal inilah yang mungkin menyebabkan peningkatan jumlah limfoblas secara bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0.2 ml/hari dan 0.028* 0. Hartati dkk (2002) membuktikan bahwa dalam mahkota dewa terdapat senyawa Phalerin yang mempunyai efek sitotoksik.10 Adanya efek sitotoksik dan imunosupresan memungkinkan terjadinya hambatan terhadap proliferasi limfosit pada batas dosis tertentu. Sedangkan kelompok K tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4. Saifulhaq M.009* 0. maupun P4.917). Tabel.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0. Demikian juga antara kelompok yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.002 (p<0. perbedaan bermakna juga didapat antara kelompok P2 dengan P3 (p=0.05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna.009) dan P2 (p=0.2 ml/hari selama 2 minggu dibanding dengan kelompok kontrol yang tidak diberi ekstrak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0.012* 0. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M.028). yaitu antara kelompok K dengan P1 (p=0. antara kelompok yang diberikan ekstrak mahkota dewa 0.009).009* P2 P3 P1 P2 P3 P4 * Bermakna 0. juga antara kelompok P1 dengan kelompok P2.675). Saran Perlu dilakuk an penelitian yang menghubungkan tingkat toksisitas buah mahkota dewa dengan dosis ekstrak yang diberikan.028* 0.009* 0. Namun. Uji Kruskal Wallis didapatkan hasil p=0. P3.917 0. Demikian juga antara kelompok yang mendapat ekstrak mahkota dewa 1. Sedangkan pada kelompok lainnya didapatkan perbedaan yang bermakna.917).028).9 Middleton et al. Begitu juga antara kelompok P3 dengan kelompok P4 (p=0. Selain itu.028). Hal inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol. khususnya terhadap berbagai organ vital serta penelitian lebih lanjut untuk penggunaannya pada manusia sehat.

Philadelphia. 2003 Lisdawati V. Binarupa Aksara. Phalerin. M Sonlimar. Antigen presentation and cell antigen recognition. Lichtman AH. Jakarta 36 Biomedika. Diakses 20 Juni 2003 Weir DM. 116-35. Simposium penelitian Tumbuhan obat III. 3rd ed. 2000. 1997. a new benzophenoic glucoside isolated from the methanol ectract of mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff ). Hamann MT. Penebar Swadaya.P.gov/pubmed. Diakses 20 Oktober 2002 Middleton E. 2000. Gandjar IG. WB Saunders. Baratawidjaja K. Mubarika S. Kandaswami C.) merr. 1990. Imunologi dasar.] leaves. 1988. The effects of plant flavonoids on mammalian cells:implications for inflammation. Boerl. Jakarta Winarto W. Wahyuono S. Tahun 2009 .ncbi. Sumastuti R.htm.15 Jiao Y. Ganthina.nlm. P. Yux. Alih Bahasa: Suryawidjaja. JE. Jakarta Hartati MS. Influence of flavanoid of Astragalus membranaceus's stam and leaves on the function of cell mediated immunity in mice. Efek sitotoksik ekstrak buah dan daun mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Sceff) Boerl. Rao KV. efek antioksidan dan efek antikanker berdasarkan uji penapisan farmakologi. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff ) Boerl.asp?file=art-3. From : http://www. Wen J. Theoharides TC.] terhadap sel hela. Segi praktis imunologi. Skrining fitokimia dan asam fenolat daun dewa/Gynura procumbens (Lour. Jakarta. Ed 4. Iwang S. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pharmacological Reviews. Universitas Indonesia.Daftar Pustaka Abbas A. Cetakan 1.mahkotadewa. 2005. Mahkota dewa budi daya dan pemanfaatan untuk obat.tempointeraktif.com/VPC/vivi. Pober JS. Nomor 2.com/medika/online/i ndex-isi.Accessed Juny 20. In: Cellular and molecular immunology. Majalah farmasi Indonesia. heart disease. Available at: URL:http://www.nih. and cancer.52 (4): 673-751 Sepgana S.) toksisitas. Available at: URL:http://www. Volume 1. 2003.

triglyceride. 2002). so capable of preventing absorption body fat. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang telah dibuang kepala. Sifat kitosan yang lain adalah mempunyai daya pengikatan lemak yang lebih tinggi dibandingkan serat lain sehingga mampu menghambat absorpsi lemak tubuh (Silvani. Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. The results showed that positive control group with all the variations dose chitosan is not different (ñ>0. This study aims to determine the effect chitosan to the triglyceride plasma level of white mouse. chitosan dose of 3500 mg. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi. positive control group (Simvastatin). Hal ini berarti bahwa kepala. The effective dose is the 3500 mg. 2001). whereas the negative control treatment with all groups is different (ñ<0. ekor. 2004).ac. Keywords: chitosan. dan kulit udang menjadi limbah. strain Wistar. are non-toxic. Kitosan olahan kulit udang putih adalah senyawa alami (aminopolisakarida) yang diperoleh melalui proses deasetilasi basa pada kitin. Dan bagaimana efektivitas variasi dosis kitosan terhadap penurunan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. 2006). dan kulitnya. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih: M. 4500 mg.id Abstract Chitosan is a natural compound (aminopolysaccharide) earned through a process deacetylation base on chitin derived from processed shrimp white skin. berumur kira-kira 2 bulan dengan berat badan antara 100 200 gram. biodegradable. menimbulkan bau. Material dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakuk an adalah eksperimental murni (Murti. kitosan potensial untuk dijadikan sebagai obat penurun lemak (Rismana. Dengan penggunaan kitosan yang merupakan hasil olahan dari udang tersebut. kitosan tidak dapat dicerna sehingga tidak memiliki nilai kalori. Laboratorium Biomedik III. 2001). plasma of white mouse (Rattus norvegicus) Pendahuluan Salah satu penyebab obesitas yang saat ini dianggap sebagai penyakit kronis dunia modern adalah hasil dari pilihan gaya hidup yang banyak mengonsumsi lemak berlebihan dan sedikit olahraga. 2004). Banyaknya sampel 25 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. Saat ini. pembuatan k itosan banyak diusahakan masyarakat dengan menggunakan cangkang Crustaceae sp yang merupakan sumber utama zat kitin (Schiller dkk.05).Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) M. Cara yang efektif untuk mengurangi kandungan kalori dari suatu diet menurunkan asupan lemak (Wardlaw dan Smith. Budidaya udang di Indonesia telah berkembang pesat. Nurina Risanty 37 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) . Dalam penelitian ini. Seperti serat tanaman. chitosan is able to decrease the triglyceride plasma level of white mouse (Rattus norvegicus) in second week. ekor. This study is laboratory experimental. Dengan demikian. maka diharapkan dapat turut membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang. (Nammi dkk. Shoim Dasuki.05). and 5500 mg group. dan mengurangi estetika lingkungan (Manjang. Nurina Risanty E mail: m_shoim@ums. Pada obesitas terjadi akumulasi energi tubuh yang berlebihan dalam bentuk trigliserida (Gibney. bersifat non toksik. 1997). The sample consists of a negative control group. Fakultas Kedokteran. Subjek Penelitian 1. 2006). and have power fastening fat is higher than other fibers. dan biodegradabel (Shepherd dkk. Shoim Dasuki. 1993). The conclusion. penulis ingin meneliti apakah kitosan olahan kulit udang putih mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. Limbah udang tesebut dapat menjadi masalah pencemaran lingkungan. 2.

Semua tikus putih ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan penelitian untuk menentukan dosis lemak kambing dan kitosan yang diberikan. Dapat dikendalikan : makanan. tidak diberi kitosan : kelompok kontrol positif. Rata-rata berat badan tikus dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan data di atas kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis antara kelompok 1 hingga kelompok 5. Tingkat probalitas dari dua kelompok tikus dapat dilihat pada tabel 2. Variabel luar : a.05) terhadap berat badan tikus antara kelompok 1 hingga kelompok 5. genetik.068 berarti tidak ada perbedaan bermakna (p>0. Tahun 2009 . Nomor 2. didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel 2. Selanjutnya perlakuan terhadap tikus diberikan pada kelompok 1 hingga 5 mulai dari minggu pertama perlakuan hingga minggu ke empat.05. Dari uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji M a n n W h i t n e y U. Dari perhitungan tersebut. Variabel terikat : Kadar trigliserida plasma tikus putih. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik III. Dari uji tersebut didapatkan hasil p=0. berumur kira-kira 3 bulan. kelompok 3 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 3500 mg. Hasil penimbangan berat badan tikus dianalisa secara statistik dan didapatkan rata-rata berat badan tikus. kemudian kadar trigliserida plasma diukur dan didapatkan hasil yang dapat dilihat pada gambar 1. 38 Biomedika. Untuk mengetahui perubahan kadar trigliserid dilakukan perhitungan selisih dari waktu ke waktu. kelompok 5 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 5500 mg. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 25 ekor dari strain yang sama yaitu wistar. Fakultas Kedokteran UMS pada bulan Maret Mei 2009.Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok kontrol negatif. mulai minggu ke1 hingga minggu ke-2. 3. b Tidak dapat dikendalikan :gangguan fungsi empedu dan lipase. Data yang didapat dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dengan derajat kemaknaan p = 0. kelompok 4 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 4500 mg. Kadar trigliserida pada kelompok 1 hingga 5 saat minggu ke 1 hingga minggu ke-4 terus meningkat. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol negatif. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok. u n t u k m e l i h a t d a n membandingkan penurunan kadar trigliserid antara dua kelompok perlakuan. diberi obat antilipidemia Simvastatin : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 3500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 4500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 5500 mg/hari : Identifikasi Variabel Penelitian 1. Volume 1. Pada minggu ke 4 trigliserid turun. kecuali pada kelompok 1 (kontrol -). kelompok 2 merupakan kelompok kontrol positif. Masing-masing kelompok berisi lima ekor tikus. Setiap kelompok ditempatkan pada kandang yang berbeda dan mempunyai faktor lingkungan (suhu dan kelembapan) yang sama agar faktorfaktor luar yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat ditekan seminimal mungkin. Variabel bebas : Kitosan 2.

05 0. Hasil uji Mann Whitney U.009 0.05 0.833 0.009 0.05 0.201 0. Perubahan trigliserida dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 Tabel 2. Rata-rata berat badan tikus putih sebelum perlakuan KELOMPOK I NO (KITOSAN 3500 MG) 1 120 2 168 3 158 4 156 5 168 RATA2 154 KELOMPOK II (KITOSAN 4500 MG) 135 153 156 165 143 150.Tabel 1.156 p 0.4 KELOMPOK IV KONTROL (-) 146 119 123 148 145 136.05 0.05 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 39 .2 KELOMPOK V KONTROL (+) 142 152 150 156 145 149 Gambar 1.231 0.4 KELOMPOK III (KITOSAN 5500 MG) 130 147 123 129 133 132.108 0.05 0.05 0.009 0. Kelompok Kelompok + KontrolKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg KelompokKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 5500 mg N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Median 0.140 0.05 0.05 0.05 0.009 0.

3. P. 2000. A.H. 2003. D. Oxford: Blackwell Science. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 4500 tidak terdapat perbedaan. 4500 mg. perbadaan kadar trigliserid plasma pada kelompok 1 sebagai kontrol negatif dengan semua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan. Linder. Prosiding Kitin and Kitosan. 3. Kitosan.. Metodologi Penelitian.068. K.. Dari data yang didapat. Ganong. E. A. dosis kitosan 5500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. R. 2002.. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium murni sehingga setelah tikus putih diberi perlakuan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar lebih mewakili populasi. Dosis kitosan yang disarankan untuk aplikasi klinis adalah dosis terkecil. 1998. Biomedika.J.Pembahasan Dari hasil statistik menggunakan uji Kruskal Wallis terhadap berat badan tikus sebelum perlakuan didapatkan hasil p= 0. dilakukan perhitungan selisih kadar trigliserida masing-masing kelompok dari minggu ke minggu dengan melakukan uji Mann Whitney U. S. Buku Ajar Fisiologi Gybney. Jakarta: EGC.D. Mayes. Oxford: Blackwell Science. Human Anatomy and Physiology. 1998. Oxford: Blackwell Science Hardjito. Marks. Jogjakarta: PT. Guyton. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis lemak yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan efek kitosan terhadap jenis lemak yang berbeda.B.H. Bogor: IPB. Saran 1. G. Vorster. dilakukan pemeriksaan terhadap kadar trigliserida plasma plasma pada minggu ke-1 hingga ke-4. berarti tidak ada perbedaan bermakna (p> 0.C. D. 2006. 2.J. dosis kitosan 4500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan.A. 2002. Jepang: Sukito. Tahun 2009 . dosis kitosan 4500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Manjang. Simpulan dan Saran Simpulan 1. L. J. Jakarta: EGC. J.A. Daftar Pustaka Bray. Horton. 5500 mg dapat menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). Marieb. Perubahan kadar kadar trigliserid dosis kitosan 3500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia. Biokimia Harper. Moran. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. Murti. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. Introduction to Human Nutrition.. Kok. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Macdiarmid. 1993. Rohm. Koolman. 2004. Hall. F.. kontrol negatif dengan kontrol positif terdapat perbedaan. 1997. dosis kitosan 3500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. Jakarta: Hipokrates. M. Principles of Human Nutrition. 2002. Hirano. Jakarta: UI-Press. Oxford: Blackwell Science. 4th ed.05) antara masingmasing kelompok. 1996. Jakarta: EGC. Kedokteran. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Berdasararkan data penelitian. The Epidemic of Obesity. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek kitosan terhadap kadar trigliserid plasma pada hewan coba yang lain. dosis kitosan 5500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Limbah Udang. California: Benjamin Science Publishing.E. Dan Marks. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini kitosan d e n g a n b e r b a g a i d o s i s m e m i k l i k i e fe k menghambat absorbsi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus). Jakarta: EGC. Antara kelompok dengan berbagai dosis kitosan yang diberikan dan perlakuan dengan simvastatin sama-sama terdapat penurunan yang signifikan. Kitosan dengan dosis 3500 mg. dosis kitosan 4500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. 2000. Jogjakarta: UGM press. Volume 1. Dian Rakyat. K. 2003. 2000. 2.C. H. M. yakni dosis 3500 mg 40 yang sudah mampu menurunkan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus).. Dari hasil uji tersebut. Principles of Biochemistry. L. William F. Nomor 2. Kitosan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus) mulai minggu kedua setelah perlakuan. Eastwood. Hal ini dilakukan agar faktor gizi tidak mempengaruhi hasil penelitian.

.D. Imam Prayitno.M. 2001.. 1995. Kristianto. dan Ambar Sulistyawan. Wardlaw.D. 2000. 2001. Oxford: Pergamon press. 1997. Hidup Sehat di Era Millenium.. Boston: McGraw Hill. Oxford: Blackwell Science. Pittler. Sodeman. Surakarta. R. Potofisiologi Kedokteran. Harrison Principles of Internal Medicine. A. Reader.. Petter A. Sediaoetama. U. A. Hamid.. Chitin and Chitinase. Karya Tulis Mahasiswa UMS. M. Potensi Kitosan sebagai Produk Olahan Limbah Industri Udang di Bidang Kesehatan. Schiller. John E. Olefsky. Chitosan Funtional Properties. Jakarta: EGC. Karya Tulis Mahasiswa UMS. Contemporary Nutrition.A. 1998. Boston: Science Press. Jakarta: Dian Rakyat. Smith. M.H. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 41 . R. Surakarta. 2006. 2000.M. J. Rismana. 2004. Surakarta: Media Press. G.. P. Nammi. Dietary Suplement for Body-Weight Reduction. Sheperd. Potensi Kitosan Di Berbagai Bidang. U. Boston: McGraw Hill.Muzarelli. The Potention of Shrimp Shell.A. 1999. Silvani. S. Ilmu Gizi I. 2006. Oxford: Blackwell Science.

Tahun 2009 .42 Biomedika. Nomor 2. Volume 1.

Tanaman ini terkenal dik arenak an cara Ratih P. this research proves the existence of the antibacteria effect of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus growth in the concentrations of 80% and 100% and the nonexistence of the antibacteria effect on the Escherichia coli growth. HK. In conclusion. Namun selain keuntungan yang dimilikinya. antibacteria. The research method is Kirby Bauer by using an oxoid disk. then smearing using a sterile cotton-rid on Muller Hinton media. After that.5 Mc. 80% and 100% concentrations on the top of the plates. promotif dan rehabilitasi. obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis. melainkan juga digunakan dalam fase preventif. bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan seperti: efek farmakologisnya yang lemah. Then the researcher measures the impeding zone which is formed after the incubation on 370°C for 1x24 hours. 40%.4. escherichia coli Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat. Staphylococcus aureus bacteria has a significant difference (p<0. Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. 43 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme serta adanya potensi toksisitas oleh toksik endogen yang terkandung didalamnya (Katno. The researcher uses an empty oxoid disk as a negative control. Rahadiyan W.B. an amoxicillin antibiotic disk on Staphylococcus aureus and a chloramphenicol on Escherichia coli as a positive control.com Abstract Cocor Bebek leaves (Kalanchoe pinnata) contains cinamic acid.00. cocor bebek leaves (kalanchoe pinnata).2411 tanggal 17 Mei 2004). Menurut penelitian obat-obatan tersebut banyak digunakan karena keberadaannya yang mudah didapat. 2004). dan menurut penelitian memiliki efek samping relatif rendah serta adanya kandungan yang berbeda yang memiliki efek saling mendukung secara sinergis. Keywords: ethanol extract. Salah satu dari keanekaragaman hayati yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional adalah cocor bebek (Kalanchoe pinnata) Tanaman ini termasuk tanaman sukulen (mengandung air) yang berasal dari Madagaskar. ekonomis. This research purposes to find out the existence and nonexistence of the impeding power of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacterias growth.Farland.05) from the positive and negative controls. staphylococcus aureus. Obat-obatan tradisional tersebut tidak hanya digunakan dalam fase pengobatan saja. Sejak ribuan tahun yang lalu.05. 60%. bahan baku belum terstandar.Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalancho e pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas. The result is that on the degrees of 80% and 100%. flavonoid. alphatocopherol dan bufadienolide acid which are presumably able to impede a bacterial growth so that the ethanol extract of cocor bebek leaves are indicated having an antimicrobe effect. sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. E mail: pramuningtyas_dr@yahoo. while the researcher also places the oxoid disk containing the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) with 20%. The first step is standardizing each of 24 hours-aged Staphylococcus aureus dan Escherichia coli on BAP and Mc. Rahadiyan W. obat-obatan tradisional telah banyak digunakan dan menjadi budaya di Indonesia dalam bentuk ramuan jamu.B. Conkey medias in the standard of 0. Bacterias which are used are Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 11229. the researcher analyzes the data using Mann-Whitney Non Parametry Test.. The research is laboratory experimental with the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) as the research subject.

Tahun 2009 . disk antibiotik amoksisilin 20 µg. penangas air b. 3. dikocok sampai homogen untuk kemudian bandingkan dengan suspensi 0. Bahan uji aktivitas antibakteri : Media Muller Hinton. Selanjutnya rendam cakram kosong pada masing-masing konsentrasi ekstrak etanol Kalanchoe pinnata selama 15 menit. Instrumentasi 1. inkubator. 5. BHI. Pelaksanaan uji antibakteri Siapkan 2 plat media Muller Hilton yang kemudian pada plate pertama diolesi secara Biomedika.Farland (108CFU/ml). 80%. alat timbang. Ambil 1 ose bakteri dari koloni kuman untuk masing-masing spesies kuman untuk kemudian masing-masing ditanam pada 0. Bahan utama berupa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata). BAP. antitumor. Bufadienolides pada Kalanchoe pinnata memiliki potensi untuk digunakan sebagai antibakteri. Kalanchoe kaya akan kandungan alkaloid. Persiapan alat uji aktivitas antibakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Cara Kerja 1. Farland. Lakukan hal serupa pada biakan Escherichia coli. triterpenes. aquades.5 Mc. Pada uji aktivitas bakteri ini digunakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri kokus gram positif (+) dan Escherichia coli yang merupakan bakteri batang gram negatif (-) (Jawetz et al. alkohol 70%. Bakteri diambil dengan kapas lidi steril. tabung reaksi. 6. Nutrient Agar Plate. Volume 1. glikosida. Alat uji aktivitas bakteri : Ose kolong. Instrumen Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Sehubungan dengan adanya indikasi ekstrak daun Kalanchoe pinnata mempunyai daya anti bakteri. 2005). 40% dan 20% di laboratorium Farmakologi FK UMS. pencegah kanker. Determinasi tanaman Untuk memastikan bahan yang akan dijadikan bahan ekstrak adalah tanaman Kalanchoe 44 2. d.1968). 4. Biakan bakteri : Staphylococcus aureus ATCC 6538. disk antibiotik kloramfenikol 30 µg. 2001). dioleskan pada agar Muller Hilton dan diratakan.reproduksinya melalui tunas daun (tunas adventif ). Bahan Bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut : a. Standar 0. b.5 Mc. Siapkan 2 ml NaCl fisiologis steril dalam tabung reaksi. disk oksoid kosong. plat diameter 15 cm. dan insektisida (Lana. seperangkat alat maserasi. maka untuk membuktikan hal tersebut. Persiapan suspensi bakteri Ambil 1 ose bakteri dari biakan dan tanam pada media Mc. NaCl fisiologis. Eramkan selama 24 jam pada suhu 37°C hingga didapatkan koloni kuman. steroid dan lipid. Persiapan kontrol positif dan kontrol negatif Untuk kontrol positif terhadap kuman gram positif Staphylococcus aureus digunakan cakram amoksisilin 20 µg sedangkan kontrol positif terhadap kuman gram negatif Escherichia coli digunakan cakram kloramfenikol 30 µg. Bahan penyari : Etanol 70%. 2. Sedangkan pada daunnya terkandung senyawa kimia yang disebut bufadienolides. tabung reaksi . Alat ekstraksi : Blender. 60%. flavonoid. Nomor 2. pinnata maka dilakukan determiansi tanaman di laboratorium Biologi FKIP UMS dengan menggunakan bahan acuan “Flora of Java” (Backer . Escherichia coli ATCC 11229 .Conkey (Escherichia coli) dan media agar darah (Staphylococcus aureus). aquades steril. c.5 ml media BHI cair dan dieramkan selama 5-8 jam pada suhu 37°C. autoklaf . perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman tersebut. Untuk kontrol negatif digunakan cakram kosong yang telah direndam dalam larutan akuades. Kemudian ambil beberapa ose bakteri Staphylococcus aureus dari biakan dan masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl fisiologis. Persiapan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata Dilakukan proses pembuatan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata melalui metode maserasi sehingga didapatkan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata dengan konsentransi 100%. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini merupak an penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test design only karena peneliti memberi pelakuan terhadap subjek dan mengevaluasi hasil akhirnya.

Selanjutnya inkubasi plate pada suhu 37°C selama 18-24 jam.2 5.6 5. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dalam satuan milimeter (mm).1 80% 5.5 Mc. 1 ==> Genus : Kalanchoe 1 ==> Spesies : Kalanchoe pinnata L (Van Steenis. Hasil tes terhadap biakan Staphylococcus aureus Hasil determinasi tersebut memiliki kunci determinasi : 1b.5 4 4.3 5. 3b.merata dengan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dibandingkan dengan standar 0.14 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Tabel 1: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe Staphylococcus aureus (mm) Replikasi Staphylococcus aureus 1 2 3 4 5 Órata-rata 0% 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4.. Hasil Penelitian A. Untuk plate yang kedua diolesi secara merata dengan bakteri Escherichia coli yang telah dibandingkan dengan standart 0. 80%.3 4 5. 1988) B.5 Mc.8 4.5 34. 60%. 286a. 40%. 12b. Farland.8 37.B.1 3 10. Rahadiyan W. 20%. 287b => Familia : Crassulaceae.1 pinnata) terhadap Amoksisilin 8 7. Atur jarak antar cakram sedemikian rupa agar tidak terlalu berdekatan.2 36. Replikasi Uji antibakteri ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dilakukan sebanyak 5 kali ulangan sesuai dengan perhitungan dengan menggunakan rumus estimasi besar sampel.5 9 9. 11b. 14b. Kemudian pada masing-masing plate diletakkan disk yang telah mengandung ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata 100%. 10b. kontrol positif dan kontrol negatif. Tjitrosoepomo. 2003.5 4 4.5 4 4 4.7 10. 45 .06 39. 2b. 7. 7b. Hasil Determinasi Telah dilakukan determinasi tanaman yang dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS dengan menggunakan sampel tanaman yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan ekstrak. 16b. Hasil Penelitian Penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperoleh hasil sebagai berikut. 13b.5 5.6 33. 6b. 4b.Farland.5 6 100% 5.

• Uji Non Parametri Kruskall-Wallis Untuk menilai data secara statistik maka kemudian data diolah dengan uji Non Parametri Krusk all-Wallis. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol negatif (-) digunakan untuk menilai daya hambat antibakteri secara statistik. Volume 1. Tahun 2009 . Data tersebut kemudian dianalisis pada á = 0. 45.018 dan pada konsentrasi 100% nilai p = 0. Oleh karena p < 0.009 Kontrol (-) 40% Kontrol (-) 60% Kontrol (-) 80% Kontrol (-) 100% Kontrol (+) 100% Dari grafik dan data diatas maka dapat diketahui bahwa pada biakan I terdapat daya hambat yang dimulai dari konsentrasi ekstrak sebesar 40% dan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kadar konsentrasi ekstrak.6 mm.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar varian data.6 mm. Didapatkan pada konsentrasi 80% nilai p (Asymp. Pada uji ini didapatkan p (Asymp. Kedua nilai p tersebut < 0. Sig) = 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa varian yang ada adalah tidak homogen.05 maka dapat disimpulkan Biomedika.05. • Uji Anova Dikarenakan varian data yang ada tidak homogen maka uji Anova tidak dapat dilakukan. Sig) = 0. Nomor 2.120 ternyata memiliki p (sig) = 0.317 0. karena salah satu syarat untuk dapat 46 dilakukannya uji Anova adalah varian harus bersifat homogen.Grafik 1 : daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Staphylococcus aureus (mm) Tabel 2: Tes Mann-Whitney No.000 Oleh karena p < 0.005. • Uji Non Parametri Mann-Whitney Untuk mencari data mana yang berbeda secara bermakna maka dilakukan uji Non Parametri Mann-Whitney.000.054 0. Rerata diameter daya hambat tersebut secara berurutan dari konsentrasi ekstrak 40% hingga 100% adalah sebesar 41 mm. Sig) 0.005 0. 51 mm dan 90. 1 2 3 4 5 Pembagian kelompok N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 P (Asymp.018 0. dan diperoleh hasil sebagai berikut : • Tes homogenitas varians Hasil analisis menunjukkan Levene Test hitung = 9.

05 maka dapat disimpulkan bahwa potensi daya hambat antibakteri ekstrak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kontrol (+) yang berupa amoksisilin.7 11.0 16. Rahadiyan W.08 daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Oleh karena p <0.B. Namun demikian apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol (+) potensi daya hambat ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masih jauh kurang efektif.3 16.bahwa pada kedua konsentrasi tersebut memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik. Sig) = 0.8 17. 47 . Dalam hal ini berarti amoksisilin masih jauh lebih poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus bila dibandingkan daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek. Didapatkan pada konsentrasi dengan daya hambat tertinggi memiliki p (Asymp.009. Hasil tes terhadap biakan Escherichia coli Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Tabel 3: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Replikasi Escherichia coli 1 2 3 4 5 Ó rata-rata Grafik 2 : 0% 4 4 4 4 4 4 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4 4 4 4 80% 4 4 4 4 4 4 100% 4 4 4 4 4 4 Kloramfenicol 19.6 15. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol positif (+) digunakan untuk menilai besarnya potensi daya hambat antibakteri.. Perhitungan di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dengan kadar 80% dan 100% memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik.

Percobaan tersebut juga dilakukan baik terhadap biakan kuman Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dan hasil yang diperoleh adalah terbentuk zona hambat dengan diameter 5. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan Escherichia coli sebagai gram (-) lebih bersifat resisten ( Jawetz. Hal tersebut dikarenakan kesemua kadar ekstrak tidak memiliki daya hambat maupun potensi terhadap biakan kuman Escherichia coli. 1988). lapisan peptidoglikan yang tebal dan simpai. 4 mm (40%). flavonoid dan alfatokoferol yang bekerja dengan menghambat metabolisme sel mikroba. Untuk bakteri Escherichia coli dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dengan berbagai konsentrasi tidak memiliki daya hambat sama sekali. 40%. Nomor 2.6 mm (60%). 60%. karena hanya zat aktif yang berada di dasar tabung yang terserap kedalam disk saat proses perendaman berlangsung. Tahun 2009 . 80% dan 100%. Untuk bakteri Staphylococcus aureus diperoleh zona hambat dengan diameter 4 mm (20%). Kemungkinan yang lainnya adalah sifat ekstrak itu sendiri yang tidak homogen. yaitu sebagian besar zat aktif ekstrak memiliki berat molekul (BM) tinggi sedangkan sebagian zat aktif ekstrak lainnya memiliki BM yang rendah.8 mm (100%) pada biakan Staphylococcus aureus. 4. sedangkan molekul yang besar seperti molekul antibiotika dan termasuk juga molekul zat aktif ekstrak daun cocor bebek akan mengalami kesulitan bahkan gagal untuk menembusnya. Saluran tersebut memudahkan difusi pasif senyawa hidrofilik dengan BM rendah seperti gula dan asam amino. dan selaput luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida. dimana Staphylococcus aureus sebagai gram (+) memiliki 3 lapisan yaitu selaput sitoplasma. Adanya perbedaan dalam hal zona hambat yang dihasilkan antara bakteri Staphylococcus aureus gram (+) dengan bakteri Escherichia coli gram (-) dikarenakan adanya perbedaan komponen pada dinding sel kedua bakteri tersebut. Selaput luar Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki karakteristik yang unik dimana pada selaput itu bersifat menolak molekul hidrofobik sekaligus hidrofilik dengan baik namun di lain pihak selaput ini memiliki saluran khusus yang mengandung molekul protein yang disebut porin. et al. 2001). namun pada biakan Escherichia coli tetap tidak ditemukan zona hambat sama sekali. 7. Pada grafik 1 dan 2 dapat dilihat gambaran dari diameter zona hambat pertumbuhan dalam berbagai konsentrasi dan reratanya. lapisan tunggal peptidoglikan.Pada data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap Escherichia coli dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dari konsentrasi 20% hingga konsentrasi 100% tidak memiliki daya hambat sama sekali terhadap biakan kuman Escherichia coli.2 mm (80%) dan 8. Hal ini didukung oleh adanya pernyataan yang menyatakan bahwa cara ekstraksi dengan menggunakan etanol akan lebih banyak mengabsorbsi bahan kimia aktif dari bahan (Ansel. Sebagai pembanding telah dilakuk an percobaan dengan menggunakan metode sumuran dan Pour Plate dengan menggunakan ektrak yang sama dengan konsentrasi yang sama pula yaitu 20%. Namun daya hambat tersebut tidaklah bermakna signifikan apabila dibandingkan diameter daya hambat yang dihasilkan amoksisilin sebagai kontrol positif.56 mm (80%) dan 9. Sedangkan zat aktif yang diduga memiliki daya antibakteri adalah cinamic acid yang menghambat sintesis protein mikroba. Volume 1. 4.1 mm (60%). sedangkan Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki lapisan yang lebih kompleks dan berlapis-lapis yaitu selaput sitoplasma. Pembahasan Telah dilakukan penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. Hal tersebut tampak pada sifat ekstrak yang cepat mengendap apabila didiamkan. Dikarenakan semua data yang diperoleh memiliki rerata yang tidak berbeda dari rerata variabel pembanding (kontrol negatif) maka data tersebut tidak dilanjutkan dengan penilaian data secara statistik. Biomedika. Adanya potensi kadar hambat ekstrak yang tidak bermakna bagi Staphylococcus aureus dan bahkan tidak adanya hambatan sama sekali bagi Escherichia coli dimungkinkan karena berbagai kandungan kimia daun cocor bebek sebagian 48 besar ikut terambil termasuk bahan kimia yang bersifat antagonis sehingga kandungan kimia bahan yang diharapkan mampu bersifat bakteriostatik ternetralkan. serta bufadienolide yang bekerja dengan merusak asam nukleat mikroba.06 mm (100%). Hal ini menyebabkan tidak semua zat aktif terserap kedalam disk.

Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak etanol daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya. Niaga Swadaya: 139-42 Da-Silva. 3.org.Penelitian ini seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Nur Hidayati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS tentang infusa daun cocor bebek yang memiliki daya hambat yang signifik an terhadap Staphylococcus aureus dari kadar infusa 20% 100% namun tetap tidak signifikan bagi Shigella dysentriae. 1994.unpad Ratih P. 1988.100% sama sekali tidak memiliki daya hambat. Tumbuhan Obat & Khasiatnya. M.. Mikrobiologi Kedokteran. Siti Nur. Jogjakarta: Penerbit FK UGM Bonang. Jogjakarta: Fakultas Farmasi UGM. Lana. FKIP UMS. et al. Muzitano.. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis ekstrak tumbuhan yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya efek antibakteri pada kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli tersebut. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat Tradisional. Jawetz . http://www.L. 2. Jakarta: Gramedia: 107-109 Dalimarta.O. Saran 1. Jakarta : UI press: 607-15 Atata. http://hpt. 2000.fiocruz. Niaga Swadaya: 94-5 Hidayati. Balaji Raja yang dimuat dalam Jurnal Mikrobiologi dan Biotehnologi SpringerLink didapatkan bahwa ekstrak diethyl ether dari daun cocor bebek tidak memiliki daya hambat yang signifikan sedangkan pada ekstrak kloroform dan heksan dari daun cocor bebek sama sekali tidak memiliki daya hambat pada biakan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Melnick. et al. Jakarta: Salemba Medika: 15-23. Pendidikan Biologi. 49 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . 2001. E. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya antibakteri daun cocor bebek yang paling maksimal dapat diperoleh dari infusanya.100% terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus namun potensi antibakterinya tidak signifikan apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positifnya. Koeswardono. 16 (4). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.A. Instituto de Biofísica and Núcleo de Pesquisas d e P r o d u t o s N a t u r a i s U F R J . Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Rahadiyan W.C. Jakarta: PT. Alhassan Sani et al. Adelberg. 2008. Effect of Stem Bark Extracts of Enantia chloranta on Some Clinical Isolates.br Hariana. Uji Antibakteri Ekstrak Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Rev. Jakarta: Binarupa Aksara: 10463 Bagian Mikrobiologi. maka dapat diambil simpulan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dimulai dari kadar 40% .B. Setiawan. Edisi 22. 2003. 234-48. Mikrobiologi Kedokteran. J. University of Ilorin. 211-7.S. 1-octen-3-O-a-Larabinopyranosyl-b-glucopyranoside.bioline. Pramono S. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya dengan menggunakan cara ekstraksi yang berbeda.ioc. 2008. 2005.memorias.scielo. Nigeria. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. Skripsi. H. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Daftar Pustaka Almeida. Penerjemah Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. a minor substance from the leaves of Kalanchoe pinnata (Crassulaceae). Hanya saja dibandingkan daya hambat yang dihasilkan oleh infusa daun cocor bebek. Jakarta: PT. http://www. A.F. Muthuvelan dan R. http://www.br Bagian Mikrobiologi.. 1996. dari penelitian yang telah dilakukan oleh B. Pinheiro. 1999. 2006. R. Ana. Seri 3. Department of Biological Sciences.P. Selain itu.G..br Ansel. Katno. Jilid I. Chemical isolation of an apolar antileishmanial and lymphocytesuppressive substance present in the plant Kalanchoe pinnata. 1997. daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek bersifat lebih rendah. Edisi Revisi. Farmacogn. 2006. Toksisitas Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek Kalanchoe daigremontiana Hamet & Perrier. Bras. G. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian tentang uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. Arief. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. S. sedangk an terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ekstrak daun cocor bebek mulai dari kadar 20% .

http://www. Hembing. Mandiri Belajar SPSS. 2005.com Schunack. Farmakologi dan Terapi. Mayer. Ethnomedicines used in Trinidad and Tobago for urinary problems and diabetes mellitus. Cheryl A. R. et al. 1995.com Tjitrosoepomo. Medical Microbiology and Immunology Examinationand Board Review. Merlin L.com Ouellette. Senyawa Obat Buku Pelajaran Kimia Farmasi. Philadelphia: A Lange Medical Books: 91-102. Database File for Kalanchoe. Gembong.USDA. Vincent. Edisi 2 diperbarui.. http://rain-tree..PDPERSI.com ( 4 Agustus 2008) Wijayakusuma. K.ID Priyatno. B. Nomor 2. Edisi 4 (dengan perbaikan). 2005. Tahun 2009 .springerlink. W. Alfabeta Taylor.ethnobiomed.. Duwi. Traditional Herbal Medicines for Malaria. New Jersey : Prentice Hall: 239. Leslie. World J Microbiol Biotechnol 24: 283742. http://www.CO. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Raja. Jakarta: PT.. Robert J. 380-3 PDPERSI. http://www.Lans. 8th Edition. 115-32 Muthuvelan. 2005. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Setiabudy. 1993.BMJ. R.S. Bandung: CV. Obat Tradisional : Cocor bebek (Kalanchoe pinnata).com Levinson.com 50 Biomedika. 2008. Bodeker. Atasi Asam Urat & Rematik ala Hembing. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 571-83 Sugiyono. 2008. Plants Profile : Kalanchoe pinnata. 2nd edition. 2001. http://www. G. Organic Chemistry: A Brief Introduction. 1990.G.. 2003. http://www. Niaga Swadaya: 45 Willcox . Warren.quelab. Volume 1. 2006. 2004. 314-5. H. Jakarta: MediaKom Quelab. Studies on the efficiency of different extraction procedures on the anti microbial activity of selected medicinal plants. http://www. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press: 192-3 United States Department of Agriculture. 1999. Statistik untuk Penelitian. Mc Farland Standar t. 1998.

spasi dobel. Naskah penelitian (karangan asli) harus meliputi: 1. para alumnus FK UMS. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto dibuat dengan jelas dan rapi. FK UMS Jl. Kebangkitan Nasional no 101 Penumping Surakarta. dialamatkan kepada Redaksi Biomedika. Dalam hal perubahan ringan bisa dilakukan oleh dewan redaksi. Makalah dapat berupa karangan asli (penelitian.PEDOMAN BAGI PENULIS BIOMEDIKA Inf ormasi Umum Jurnal Biomedika menerima makalah ilmiah dari para staf edukatif FK UMS. . kajian pustaka. Pendahuluan. tujuan. maksud. ukuran 12 tidak bolak-balik dan mencantumkan alamat email penulis. Pembahasan. tidak lebih dari tiga lembar. berisi latar belakang. Diberi nomor menurut urutan dalam naskah. diletakkan di bawah judul 2. Pengiriman Berkas tulisan hendaknya dikirim rangkap dua disertai file dalam disket/CD dengan mempergunakan program Microsoft Word. dokter di seluruh Indonesia dan dari luar negeri. Proses Review Naskah setelah dilakukan seleksi redaksional akan dikirim kepada reviewer (mitra bestari) untuk dinilai dan hasil penilaian bisa berupa: 1) Diterima tanpa perubahan. Hasil penelitian 5. Ketentuan Lain Redaksi berhak memperbaiki susunan naskah atau bahasa tanpa mengubah isinya. resensi buku dan tulisan lain dalam bidang kedokteran dan kesehatan). keterangan ditempatkan di bawah gambar/bagan. 2) Diterima dengan perubahan ringan. Diharapkan koreksi sudah bisa dikembalikan paling lama dalam 2 minggu. masalah. maksud & tujuan. laporan kasus. sebanyak-banyaknya 350 kata. Rujukan dalam teks dibuat berdasarkan model Harvard. data klinis. kesimpulan dan saran 6. menyesuaikan. Keterangan tabel ditempatkan di atas tabel. khususnya dalam pendahuluan hendaknya memuat penjelasan problematik yang dikaji.5 cm. Abstrak ditulis dalam 1 paragraf. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto semuanya dilampirkan terpisah dari naskah. serta manfaat penelitian 3. dan kata kunci. hasil penelitian. Pernyataan terima kasih (kalau ada) 7. Lampiran-lampiran Naskah laporan kasus memuat latar belakang/alasan pelaporan kasus. sekretariat Biomedika lantai 2. Diketik pada lembaran kertas terpisah dengan spasi ganda. atau dalam bahasa Inggris. maksud & tujuan. disertai keterangan yang jelas dan informatif. dibuat singkat bersifat informatif. font Times New Roman. Abstrak Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Format Naskah Tulisan diketik pada kertas kuarto. kesimpulan. Format naskah kajian pustaka. manfaat. Abstrak penelitian berisi latar belakang. bawah. baik dokter umum maupun spesialis. Bahan/ subyek/ pasien dan cara kerja 4. material dan metode penelitian. dan mampu menerangkan isi tulisan. dan manfaatnya serta pembahasan dari apa yang dikaji dan diakhiri dengan kesimpulan hasil kajian. namun perubahan besar atau melengkapi kekurangan-kekurangan perlu dilakukan sendiri oleh penulis. ilustrasi serta diskusi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. 3) Diterima dengan perubahanbesar. 4) Ditolak. Judul tulisan. nama para penulis lengkap berikut gelar beserta alamat kantor/instansi/tempat kerja lain. batas atas. dan samping masing-masing 2. Naskah yang telah dimuat di majalah lain tidak diperkenankan diterbitkan dalam majalah ini. terdiri sekurang-kurangnya 100 kata. Daftar pustaka 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful