i

EDITORIAL
PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN DARI DIAGNOSIS HINGGA TATA LAKSANA Dalam rangka mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang pesat, kita perlu menambah pengetahuan dengan penelitian-penelitian terbaru. Dengan menambah informasi tentang penelitianpenelitian terbaru, diharapkan kita dapat mengelola pasien dengan tepat dan aman, mulai dari diagnosis hingga tatalaksananya. Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang diagnosis, dalam edisi ini kami ketengahkan penelitian tentang perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberculin, validitas foto thorax proyeksi PA untuk menegakkan diagnosis emfisema pulmonum dan dislipidemia pada penderita stroke dengan demensia. Sedangkan untuk menambah pengetahuan kita tentang tatalaksana pasien, edisi ini memuat penelitian-penelitian tentang perbandingan efek ekstrak etanol dan eter biji tua pisang klutuk, efek ekstrak mahkota dewa, pengaruh kitosan olahan udang putih pada penurunan trigliserida plasma tikus dan aktivitas antimikroba daun cocor bebek.

i

Volume 1, No.1, Agustus 2009

ISSN 2085-8345

DAFTAR ISI
Editorial Daftar Isi Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. Pujarini i ii 1 - 8

9 - 15

17 - 23

Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Saifulhaq M. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas, Rahadiyan W.B.

25 - 32

33 - 36

37 - 41

43 - 50

ii

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan E mail: wilmaabbas@yahoo.com Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant. Key Words: BCG, tuberculin, screening

Pendahuluan Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB paru yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB dan telah dibuktikan menderita TB di Asia kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). Perlu dilakukan peningkatan mutu program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TBParu). Strategi yang digunakan adalah pemutusan rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu,

diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik yang mudah dikerjakan dengan hasil yang cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan dengan biaya yang murah. Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein; (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7) Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer, 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntik an, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Mohammad Wildan 1

Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis

2 1. terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti Indonesia. Nomor 2. Tahun 2009 . Kariadi Semarang. mengingat prevalensi kasus TB anak cukup besar. pertusis.1² : : : : : Prevalens 80% N : 100 X 62 : 77. difteri. Populasi studi adalah bayi umur 4 bulan . (1977) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah clinical disagreement. aman. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. dan hampir semua responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3) Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji tersebut.8) (0.96 (derajat kepercayaan) 0. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. Dikshit dan Surendra Singh (1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji Mantoux positif. (Z² 1-Ü/2) PQ d² 0.anak usia 12 tahun.5 80 Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85. (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa langsung diterapkan di Indonesia. Shrivastava dkk. (2) Mungkin terdapat perbedaan hasil dengan hasil penelitian sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya perbedaan ras/ etnik.sebagai alat diagnostik. Kariadi • Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 tahun dengan tinggi badan maksimal 145cm untuk anak laki-laki dan 137cm untuk anak perempuan 2 • Orang tua penridenta memberi ijin dan bersedia dilakukan pemeriksaan yang ditetapkan • Tempat tinggal di dalam kota Semarang Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: • Menderita penyakit TB berat. tifus abdominalis Biomedika. merupakan indikator yang kuat pada kontak tuberkulosis. sehingga lebih unggul bila dibandingkan dengan uji tuberkulin. Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi yang dicurigai menderita tuberkulosis dan dilakukan uji Mantoux dan uji BCG. Uji BCG tidak terdapat anergi.2) : 62 0. Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak 151 RSUP dr.96² (0. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan. varisela. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Pasien rawat jalan yang menderita tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke 1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik Paru 151 RSUP dr. khususnya di RSUP Dokter Kariadi Semarang.P = 0. morbili. Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti Besar sampel: n : Keterangan : P Q Z² 1-Ü/2 d n karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa di Indonesia. Volume 1. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat.1 1.8 1 . Selain itu uji BCG juga dapat langsung berguna sebagai profilaksis. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji Mantoux positif.

tetapi dengan perbandingan hampir sama/ separuh jumlah. aksila. berat badan sulit naik (dalam 4 minggu terakhir). pleuritis. Sedangkan pada sampel perempuan didapatkan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik. nares). sering berkeringat malam. yaitu 2:1. untuk 1 pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. pembesaran kelenjar limfe (leher. Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB. ronk i. Kariadi bersamasama dengan uji Mantoux. densitas interstitial. pembacaan setelah 72 jam. dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak didapatkan pada sampel lakilaki dibanding sampel perempuan dengan perbandingan yang relatif berimbang. sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. Pe m e r i k s a a n l a b o r a t o r i u m m u n g k i n didapatkan anemi atau lekositosis. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian didapatkan hasilnya sebagai berikut: Sebaran Umur dan Jenis Kelamin Apabila dikelompokkan berdasarkan umur. juga limfopeni. atau krepitasi pada pemeriksaan fisik paru. terdapat diskonkruensi. Kariadi. Secara keseluruhan sampel dengan Kurang Energi Protein ringan lebih banyak dibanding sampel dengan gizi baik. 3. palpasi dada pekak. punggung. pergeseran ke kiri berkurang • Gambaran radiologik membaik dibanding sebelumnya Pengelolaan dan analisis data menggunakan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test. Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin lakilaki dan perempuan relatif berimbang pada semua kelompok umur. panas subfebril terutama malam hari yang berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang jelas.5:1. dari 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5 tahun merupakan yang terbanyak. nyeri pada lutut dan selangkangan. gibbus/spondilitis. yaitu 3. Perbaikan yang dinilai adalah: • Klinik: demam sub febril menghilang. LED menurun. Selain itu dijumpai peningkatan laju endap darah. 2. Kariadi. kelainan akibat perubahan mekanik. lekositosis berkurang. konjungtivitis fliktenularis. pembesaran limfonodi nares. mendapatkan vaksin • Penderita pindah tanpa diketahui alamat yang baru • Meninggal selama penelitian karena penyakit lain • Gizi buruk Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan Modifikasi Kriteria Starke (1994): 1. kelainan fokal. wheezing. nafsu makan membaik. berair. pembacaan setelah 72 jam dan setelah 7 hari Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF Radiologi RSUP dr. 4. Sebaran Status Gizi Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding yang bergizi baik. inguinal. perubahan parenkim dan atau konsolidasi alveolar. sedangkan Mohammad Wildan 3 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . keluhan sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah satu dari: benjolan disekitar leher.• Menderita penyakit keganasan • Mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka lama. berat badan bertambah (10% setelah pengobatan 2 bulan) • Laboratorim membaik: Hb meningkat. kelompok umur 6-10 tahun hasil uji positif dibanding negatif adalah 1:2. malnutrisi (antropometri). mata gatal dan merah dengan daerah kuning pada kelopak mata dan bengkak. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan. Anak yang secara klinis menderita TB dengan hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif) diberikan pengobatan anti TB dan follow up sampai dengan 6 bulan pengobatan. dan paling sedikit kelompok umur >10 tahun. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu dari: tidak didapatkan kelainan. Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5 tahun sebagian besar negatif dibanding positif. aksila. kemudian kelompok umur 6-10 tahun. Perhitungan nilai Kappa dengan menggunakan clinical disagreement. inguinal. pembacaan dilakukan oleh seorang radiolog. didapatkan gerak nafas asimetris. peningkatan sel mononuklear. Rejimen pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR. Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr.

Nomor 2. Berdasarkan persentase menurut kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini sudah mencerminkan gambaran populasi. menyusul kelompok umur >10 tahun dan paling kecil pada kelompok umur < 5 tahun. Didapatkan proporsi konjungtivitis fliktenularis.0%. Analisis Statistik Nilai Kappa Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 perhitungan nilai kappa data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan nilai kappa 0.7%) lebih banyak dibanding lakilaki (49. dengan nilai p=0. persentase sampel laki-laki dan perempuan adalah sama besar.331 Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan 4 nilai p= 0. yaitu 1:1. Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG.58.pada kelompok umur >10 tahun perbandingannya adalah 1:3 antara hasil positif dibanding negatif. Pada anak yang berumur lebih muda morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak lakilaki dibanding dengan anak perempuan. Sedangkan persentase morbiditas terhadap penderita tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas pada penelitian ini relatif sama. Sampel Biomedika. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding uji BCG negatif.0. jumlah sampel juga berpengaruh terhadap hasil penelitian.013 dengan nilai p= 0. kemudian persentasenya akan menjadi sama dengan bertambahnya umur (Stead.3%) tetapi perbandingannya relatif berimbang. kelompok umur 6-10 tahun dan >10 tahun perbandingannya 100% positif. Tahun 2009 . 1993). Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0. Proporsi hasil positif uji tuberkulin paling besar didapatkan pada kelompok umur 6-10 tahun. Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0. 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun sebanyak 75 sampel atau 75.0% dan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel atau 4%. dengan pebandingan 6:5. Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin hubungannya dengan status gizi pada anak umur <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0.605.64.22 dan nilai p = 0. Apabila dikelompokkan menurut menurut umur. Demikian juga pada sampel kelompok umur >10 tahun. kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21. dimana pada anak yang lebh besar persentase morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar (Stead. yaitu 48% sampel laki-laki dan 52% perempuan. Selain karakteristik sampel.701. Pembahasan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel yang berumur <5 tahun persentase sampel perempuan (50. 1993).6%) sampel mengalami perbaikan laboratorik baik padda responden dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 tahun didapatkan nilai kappa . dengan perbandingan 4:3. Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun sebagian besar (96%) negatif dibanding positif.008. 1993). Volume 1. keadaan ini sesuai dengan persentase gambaran populasi. Sebagian besar sampel mengalami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji BCG positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR.649 Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik. perbaikan radiologik dan laboratorik Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laboratorik baik pada responden dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. Sebagian besar (95. Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan radiologik baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. yaitu bahwa morbiditas terhadap penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5 tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan anak yang berumur lebih tua (Stead. Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulin negatif. Pada kelompok umur 6-10 tahun juga didapatkan hal yang sama. pada sampel laki-laki dan perempuan relatif sama. Secara persentase menurut jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan gambaran populasi.

tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. (2) semua responden pada penelitian ini pernah mendapatkan vaksinasi BCG. Sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan dengan hasil uji BCG positif. Sedangkan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa memang benar sampel tersebut menderita penyakit tuberkulosis. jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau 1. Shrivastava (1977) menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dibanding tuberkulin.12 dan p= 0.58) dan 6-10 tahun (df= 0.0%.701 (bermakna p=0. Apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel benar menderita penyakit tuberkulosis.008 dengan nilai p=0. dengan perbandingan 4:1. dengan menggunakan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil yang berbeda bermakna dengan p=0. Disimpulkan bahwa uji BCG merupakan bentuk protein natural sehingga reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan malnutrisi dan tuberkulosis yang berat.0%. sehingga mungkin lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG.605.93 dan p= 0. sedangkan sampel dengan hasil uji (tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 atau 24.013) dan nilai p= 0. hasil uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding yang positif. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji tuberkulin positif. Apabila dijumlahkan secara keseluruhan. Mohammad Wildan 5 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis . Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang sama.0%.0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 3 sampel atau 3.0%. atau tidak menderita penyakit tuberkulosis.22 dan p= 0. Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 sampel atau 23. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya overdiagnosis. Semakin banyak sampel akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut. Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang negatif lebih banyak didapatkan pada sampel dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan. Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih banyak dibandimg yang positif.331. Keadaan lain yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar. dengan perbandingan 3:1. Tetapi pada kedua keadaan tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1. Perhitungan statistik dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux). sehingga tidak menggunakan baku emas.yang digunakan pada penelitian ini sudah diperhitungkan dengan beberapa persyaratan yang sesuai dengan rumus yang berlaku sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini sudah dianggap cukup.64) mempunyai gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga uji chi square yang dilakukan kurang valid. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang kecil (-0.77). Sedangkan pengaruh status gizi sampel terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang energi protein ringan. didapatkan sampel dengan hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau 97. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita tuberkulosis dengan malnutrisi.0%. Demikian juga pada sampel yang berumur <5 tahun (df= 1. Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar 0.05) yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan tidak bermakna. Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik uji clinical disagreement dengan membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG. Pengaruh status gizi responden terhadap hasil uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8. Hal ini dapat terjadi akibat kemungkinan adanya under diagnosis. jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif adalah 74 sampel atau 74.331. tetapi apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis. 82% uji BCG positif pada meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tuberkulin positif.

Dana S. terjadi akibat respons infeksi primer tuberkulosis. Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum sampai menekan komponen respons hipersensitivitas tipe lambat tersebut. Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak didapatkan pada penelitian ini.33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5 tahun. Krishna K. Suskind RM (1997) mendapatkan bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan subnormal akibat defisiensi diit protein akan menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkulin. Nomor 2. Hasil uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita ternyata negatif.5 %). hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Shrivastava dkk (1977). terutama di negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis. pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung kearah tuberkulosis. radiologik perbaikan). 1994). Jalur eferen ditandai dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang disuntikan intradermal. laboratorik. anamnesis. reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan untuk penggunaan rutin di lapangan.3% dan ulserasi 8%. sebagaimana yang didapatkan oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik. Sedangkan ukuran diameter ratarata hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh adalah 9. 1994). Volume 1. 20 sampel (95. dan faktor kemotaktik menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda reaksi positif (Grange JM. Tahun 2009 . hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12-16 mm). kasus yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus pertama. 1977) didapatkan adenitis regional 3. Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62 sampel (77. Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa respons terhadap vaksinasi BCG tidak berhubungan dengan umur. 1994). Sonmez (1994) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. Konjungtivitis fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin. Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis fliktenularis. aman. Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel (97. Dapat dijelaskan bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi. yang pertama seorang anak perempuan berumur 8 tahun. merupakan indikator yang kuat (96.dan tidak dipengaruhi oleh status gizi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding terhadap uji BCG. sehingga BCG mempunyai keunggulan karena sederhana. Efek samping uji BCG (Choudhary.7 mm. Jalur aferen melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen yang "diproses" makrofag. sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur. perkembangan penyakit setelah dilakukan pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh (klinik. sudah dikonsulkan ke Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis fliktenularis akibat tuberkulosis. tetapi hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 mm).23% dari seluruh sampel yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%) dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun. Defisiensi nutrisi menekan salah satu atau lebih komponen respons hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM. Insidensnya banyak terjadi pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 56 15 tahun (Ormerod LP. Respons hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga rangkaian proses yang jelas.5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18 sampel (22. Dengan demikian. Ormerod (1994) mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis biasanya terjadi pada anak yang mengalami infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. Respons peradangan kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada sisi kulit yang diberi antigen. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status imunologi pada sampel belum sampai menurun sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas reaksi hipersensitivitas. sehingga tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin. tetapi pada kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan pengecatan ataupun biakan sekret mata. Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus kelompok hemolitik atau stafilokokus. Insiden Biomedika. jarang sekali menimbulkan efek samping dan reaksi yang berat.7%) pada kontak tuberkulosis. yang pada penelitian ini status imunologi tidak diteliti.

1994. tetapi secara statistik tidak bermakna. 1999. Sebagai bukti tambahan (yang perlu dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif. Grange JM. 1977. The Malnourished Child in Overview Dalam: Suskind RM.7%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik juga dengan sebaran yang hampir sama. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Kenyon TA. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut dengan menggunakan baku emas dan kontrol Daftar Pustaka Chandra RK.5% dan 66. Clinical Tuberculosis. tetapi kesalahan akibat teknik penyuntikan reagen tidak dipertimbangkan secara teliti 4. London: Chapman & Hall Medical Jaiswal S. 13: 689-95. Krishna K. Nutrition. Leslie LS. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding dengan proporsi hasil negatif uji BCG. 1977. Choudhary AK. tetapi secara statistik tidak bermakna 2. Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine 150: 722-26 Committee on Infection Diseases. California. 1979. Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar dibanding dengan proporsi hasil positif uji tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan tuberkulosis. Tidak diteliti status imunologi yang dapat berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji BCG maupun tuberkulin 6. Shingwekar AG. BGC test for diagnosis of childhood tuberculosis. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG test. Immigration and tuberculosis among children on the united states-mexico border. Dalam: Davis PDO eds. Christy C. Pediatrics 104: 1-6 Ormerod LP. perbaikan radiologik 95. Badhari NR. Indian Pediatrics. Haas E. 3. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini juga menggunakan sampel kontrol.9% dan 100%.1 %. 1977. Driver C. 1997. Indian Pediatrics 14: 993-8. 1994.limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat yang telah berpengalaman. 1977. Immunophysiology and Immunopathology of Tuberculosis.8% dan 77. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama pada semua kelompok umur 4. Sedangkan pada responden dengan hasil uji BCG positif dan negatif. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol 2.1%. New York: Plenum Press Choudhary AK. PAP-TB sebagai Penunjang Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. 1977. 1998. Evaluation of diagnostic valve of BCG test in childhood tuberculosis. Clinical Shrivastava DK. Perlu hati-hati dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an dan pengecatan kuman BTA 2. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8. Newberne PM. Indian Pediatrics Vol XIII No 9: 68795. Evaluation of BCG test in childhood tuberculosis. The Malnourished Child. Immunity and Infection Mechanism of Interaction. Surendra Singh.8% dan 96. Dalam: Davis PDO eds. Soekendar AW. Respiratory Tuberculosis. Adapun keterbatasan-keterbatasan penelitian ini adalah: 1. Screening for tuberculosis infection in urban children. BCG test for diagnosis of chilhood tuberculosis. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak Saran 1. 1993. 44: 40-2 Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7 . 1996. Jakarta: Forum Diagnosticum Somnez. Semua responden pada penelitian ini telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya Simpulan dan Saran Simpulan 1. Journal of Tropical Pediatric. Screening tuberculosis in infant and children. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen BCG maupun PPDS 5TU secara biokimiawi sebelum disuntikkan 3. Suskind RM. county of san diego. New York: Raven Press Dikshit KP. Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat diberikan pada semua anak tanpa khawatir terhadap komplikasinya. perbaikan radiologik 82. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh pada perbaikan status gizi 5. 1994. sebagian besar (perbaikan laboratorik 95. Pediatrics 93: 131-4 Dana S.6%) mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik dengan sebaran yang sama.

London: Chapman & Hall Medical 8 Biomedika. New York: Springer-Verlaag Tuberculosis. Clinical Tuberculosis. Dut AK. Nomor 2. 1993. Childhood Tuberculosis. Tuberculosis. Epidemiology and Host Factors. Oppenheimer SJ. Tahun 2009 . Dalam: Schlossberg D. London: Chapman & Hall Medical Wong GWK. 1994. 1993. Dalam: Davis PDO eds. 1994.Stead WW. Volume 1.

1993). emphysema was diagnosed if met with all criteria above.3% in spesifisity.6% in sensitifity and 84. 1996. mild obstruction if FEV1/ FVC < 70%. Posterio-Anterior chest X-ray has good validity to establish diagnosis emphysema. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. accompanied by destruction of their walls. 1994:Finlay. akan tetapi sangat Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum sulit dilakukan). Barnes. posterio-anterior projection. Diagnosis emfisema berdasar pendekatan patologinya (diagnosis emfisema menggunakan p e n d e k a t a n p e m e r i k s a a n h i s t o p at o l o gi merupakan diagnosis pasti. Abnormalitas pemeriksaan faal paru pada emfisema menunjukkan tanda obstruktif. Apabila pasien tidak mampu melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat. di negara maju merupakan masalah kesehatan utama. Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. Sulistyani Kusumaningrum 9 . Smoking habits was higher in emphysema Posterio-anterior chest X-ray group than non emphysema group. bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Widjaja. Posterio-anterior chest X-ray was a simple examination and cheap as good as spirometry for a gold standard. spirometry. validity Pendahuluan Dari tahun ke tahun angka kesakitan dan kematian penderita emfisema belum menunjukkan penurunan.This study is a diagnostic test were that performed in Departement of Radiology RSUD Dr Moewardi Surakarta from July to October 2008. 50%< FEV1<80% predicted. Keywords: emphysema pulmonum.com Abstract Emphysema as a condition of lung characterized by abnormal. F r o m 1 9 2 s u b j e c t s performed Posterio-Anterior chest X-ray. emphysema was diagnosed if Posterio-Anterior chest X-ray showed : 1)Hyperinflation 2) Hyperlucency 3) Decrease and flattened of diaphragma and 4) Tear drop appearance of the heart. The abnormality of lung structure can manifest in Posterio-anterior chest X-ray. severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. At first chronic inflammatory induced changed the lung structure.Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum E mail: lilis_tomy@yahoo. to determine either emphysema or non emphysema. FEV1< 30% or FEV1<50% predicted plus chronic respiratory failure. The validity of Posterio-Anterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema was 90. This study maintained to get validity of Posterioanterior chest X-ray to establish diagnosis of emphysema. moderate obstruction if FEV1/FVC < 70%. FEV1 > 80% predicted. sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku emas (Senior. bersifat kronis progresif dan memberikan kecacatan yang menetap (Thurlbeck. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK) yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar. Posterio-Anterior chest Xray non emphysema with obstruction were diagnosed in 12 subjects (18%) and non obstruction were diagnosed in 54 subjects (82%). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT ) DEPKES RI 1992 menunjukkan angka kematian emfisema. Samples of this study recruited were 192 subjects with range of age between 18-81 years old. 1998). Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. 126 subjects (66%) were diagnosed with emphysema and non emphysema were diagnosed in 66 subjects (34%). Spirometry showed obstruction with criteria of GOLD 2006. Posterio-anterior chest X-ray has good validity to establish change the lung structure. 154 men and 38 women. 1993). karena semakin bertambahnya penderita (Widjaja. Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK. permanent enlargement of airspaces distal to the terminal bronchiole. 30%< FEV1<50% predicted and very severe obstruction if FEV1/FVC < 70%. Kelainan yang mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata. Posterio-Anterior chest X-ray emphysema with obstruction were establishe in 117 subjects (93%) and non obstruction were diagnosed in 9 subjects (7%).

Tujuan uji diagnostik ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi validitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Penelitian dilakukan di RSU. nilai duga positif. Cara kerja pada tahap pertama. dilakukan uji keandalan intra-observer seorang dokter spesialis radiologi untuk menilai foto thorax PA. Daerah Dr. Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman (network) jaringan ikat paru yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru (Finlay. Senior. 1997. Untuk keperluan ini. FEV1 > 80 % prediksi . Keadaan inilah yang berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi paru. penambahan lusensi paru yang dapat dibandingkan dengan gambaran udara sekitar di luar tubuh yang ikut terekspose film (hiperlusensi). 30 % < FEV1 < 50 % prediksi. Nilai kappa tersebut termasuk dalam kategori sangat baik Definisi operasional 1. 1998). FEV 1 < 30 % prediksi atau FEV 1 < 50% disertai gagal pernafasan khronis Biomedika. saat pendaftaran penderita diseleksi berdasar kriteria inklusi dan eksklusi. nilai duga negatif. Penghitungan dari variabel dilakukan dengan memakai tabel 2 x 2 Teknik Pemeriksaan Setiap subyek atau sampel penelitian menjalani prosedur pemeriksaan sebagai berik ut: Pemeriksaan radiologi thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru. Moewardi Surakarta selama bulan Juli hingga Oktober 2008. Uji diagnostik ini juga harus spesifik (kemungkinan hasil false positive kecil). 1995). obstruksi sangat berat bila nilai FEV 1 / FVC < 70 %. sehingga apabila didapatkan hasil yang normal dapat dipergunakan untuk menyingkirkan adanya penyakit. Tahun 2009 . Dilanjutkan pemeriksaan faal paru (spirometri) FE V1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Dilakukan pemeriksaan faal paru (spirometri) FEV1 dan FVC untuk menegakkan adanya emfisema (obstruksi) dan non emfisema paru (non obstruksi). Sebelum penelitian ini dimulai. 50 % < FEV1 < 80 % prediksi dan obstruksi berat bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Hasil Spirometri/gangguan faal paru dikatakan obstruksi (emfisema pulmonum) ringan bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Destruksi serat elastin. Analisis data 10 dalam penelitian ini adalah sensitivitas. 1998). obstruksi sedang bila nilai FEV1 / FVC < 70 % . pasien yang masuk kriteria inklusi dilakukan foto thorax PA untuk menegakkan diagnosis emfisema dan non emfisema paru.1997. spesifisitas. Volume 1. deposisi dan bentuk remodelling kolagen. Interpretasi pembacaan hasil foto thorax PA dilakukan dokter spesialis radiologi sedangkan pemeriksaan faal paru dilakukan oleh dokter spesialis paru. penilaian foto thorax PA dilakukan dua kali. Senior. diafragma turun dan mendatar). merupakan kelainan yang mendasari terjadinya pembesaran ruang udara pada emfisema. sehingga pendekatan pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri. Penghitungan derajat kesesuaian (kappa) intra-observer dilakukan dengan perangkat lunak computer dan didapatkan kappa intra-observer 1. uji diagnostik harus sensitif (kemungkinan false negative kecil).0. r a s i o k e ce n d e r u n g a n p o s i t i f d a n r a s i o kecenderungan negatif dari foto thorax PA. Material dan Desain Penelitian Jenis dan rancang penelitian yang dilakukan ialah uji diagnostik. Kelainan struktur jaringan dapat memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax proyeksi posterio-anterior (foto thorax PA). Kelainan struktur parenkim diawali terjadinya inflamasi khronis yang akan mengakibatkan destruksi jaringan elastin dinding jalan napas.5 (tear drop appearance jantung) 2. Pada foto thorax PA dinyatakan emfisema pulmonum bila pada radiologi thorax ditemukan gambaran : diafragma turun dan mendatar hingga dapat mencapai di bawah costa XI aspek posterior atau di bawah costa VII aspek anterior (hiperinflasi. sehingga apabila hasilnya abnormal dapat digunakan untuk menentukan adanya penyakit (Sastroasmoro. Bentuk kelainan struktur yang dijumpai adalah destruksi serat elastin septum interalveoli dan ditemukannya peningkatan serat kolagen sebagai bentuk remodelling jaringan ikat paru akibat destruksi serat elastin tersebut. gambaran jantung yang langsing disertai penurunan cardiothoracic ratio < 0. Nomor 2.

Analisis Data Pengujian Hipotesis dengan Uji Diagnostik. Dibuat tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Selama periode Januari sampai dengan Desember 2004 didapatkan data dari catatan Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 11 .

Nomor 2. Karakteristik data dasar No 1 Data Dasar Subyek Penelitian Hasil Foto Thorax PA emfisema Hasil Foto Thorax PA Non emfisema Jenis Kelamin Laki-Laki: emfisema Non emfisema Perempuan: emfisema Non emfisema Umur : Maksimal Minimal Tingkat Pendidikan SD emfisema Non emfisema SMP emfisema Non emfisema SMA emfisema Non emfisema PT emfisema Non emfisema 5 Kebiasaan Merokok emfisema : Non emfisema : Jumlah 192 126 66 Prosentase 66 % 34 % 2 154 115 39 38 9 29 81 th 18 th 80 % 75 % 25 % 20 % 24 % 76 % 3 4 78 59 19 71 46 25 38 17 21 5 2 3 41 % 76 % 24 % 37 % 65 % 35 % 20 % 45 % 55 % 2% 40 % 60 % Ya Tidak Ya Tidak 109 17 63 3 87 % 13 % 95 % 5% Berdasar tabel di atas dapat diketahui penelitian ini terdiri dari 192 subyek. seseorang akan semakin tahu tentang kesehatan. 12 Biomedika. Tingkat pendidikan subyek terbanyak adalah SD (41%) kemudian SMP (37%). Jumlah laki-laki dengan emfisema adalah 75 % sedangkan perempuan dengan emfisema 24 %. Jenis kelamin laki-laki (80%) lebih banyak daripada perempuan (20%). Volume 1. Karakteristik data dasar Tabel 1.Hasil Penelitian Pada periode bulan Juli hingga Oktober 2008 didapatkan 192 subyek penelitian. dimungkinkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan. dibuat tabel 2x2 berdasar hasil foto thorax PA emfisema dan non emfisema dan hasil spirometri obstruksi dan non obstruksi. SMA (20%) dan PT (2%). Tahun 2009 . 1. Umur subyek penelitian antara18 sampai 81 tahun. Semakin tinggi tingkat pendidikan angka kejadian emfisema lebih rendah daripada non emfisema Hal tersebut mulai tampak pada tingkat pendidikan SMA.

Apabila bahan toksik mencapai alveolus. faktor eksogen misalnya rokok. polusi udara. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat. bronkhus sampai alveolus perokok pasif.6 % . berdasarkan pemeriksaan foto thorax PA diketahui emfisema adalah 126 orang (66%) sedangkan non emfisema 66 orang (34%). dapat menjadi penyebab utama. Menurut Sharma (2006). Kelompok emfisema tanpa kebiasaan merokok sejumlah 13 % karena perokok pasif mempunyai kemungkinan risiko yang sama dengan perokok aktif. Kelompok emfisema pada pemeriksaan spirometri diketahui 117 (93%) dengan obstruksi dan 9 (7%) non obstruksi. sehingga timbul proses inflamasi. Kelompok non emfisema pada pemeriksaan spirometri terdapat 12 (18%) dengan obstruksi dan 54 (82%) non obstruksi. Kelompok emfisema sendiri diketahui mempunyai angka kebiasaan merokok cukup tinggi yaitu 87 %. perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pertanyaan berapa batang rokok yang dikonsumsi setiap harinya dan sudah berapa lama merokok.0 % . hanya 13 % saja tanpa kebiasaan merokok.2. Sensitivitas foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false negative . adalah sebesar 90. seperti debu dan polusi udara (Barnes. Pendapat yang populer di Inggris (British hypothesis) menyatakan. Disamping itu juga akan melepaskan Neutrophyl Chemotactic Factor (NCF) yang memobilisasi netrofil sehingga sekreasi elastase meningkat. emfisema hampir selalu disebabkan oleh asap rokok (Senior. terjadi mobilisasi makrofag dan netrofil sehingga jumlah dan aktivitas sel fagosit tersebut meningkat (Samet. nilai prediksi positif yaitu hasil true positive dibagi jumlah true positive dan false positive. dan dapat melepaskan oksidan yang akan menginaktifasi AAT sehingga terjadi proses perusakan elastin paru sebagai dasar kelainan emfisema (Fain. Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok juga dapat mencapai setiap bagian trakhea. perlu dikembangkan pada penelitian lebih lanjut. spesifisitas yaitu hasil true negative dibagi jumlah false positive dan true negative . 1998). Diantara semua faktor resiko tersebut. 1997). Aktivasi makrofag akan mengganggu keseimbangan protease anti protease.1997) Kelompok non emfisema namun dengan kebiasaan merokok terdapat 95% dan tanpa merokok 5%. dikalikan 100 % adalah sebesar 92. emfisema terjadi pada seseorang dengan kebiasaan merokok lebih dari 20 batang perhari dan kebiasaan merokok tersebut sudah terjadi selama 20 tahun. nilai Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 13 . dikalikan 100% adalah sebesar 84.dikalikan 100%. 2003. di alveoli dapat timbul proses inflamasi. Pembahasan Subyek penelitian sejumlah 192. Uji diagnostik Tabel 2 . rokok merupakan faktor paling dominan dibandingkan dengan yang lain. Tabel 2 x 2 hasil foto thorax PA dibandingkan spirometri Obstruksi (+) 116 12 128 Hasil Spirometri Obstruksi (-) 10 54 64 Total 126 66 192 Foto Thorax PA emfisema (+) emfisema (-) Total Tabel 2x2 menunjukkan hasil pemeriksaan foto thorax PA dibandingkan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. 1991). Bahan toksik yang terdapat dalam asap rokok dapat mencapai setiap bagian trakhea dan bronkhus sampai alveolus. Jumlah subyek penelitian dengan hasil true positive yaitu pasien dengan emfisema pada foto thorax PA yang menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 116 orang. Hal ini sesuai dengan teori tentang faktor penyebab terjadinya emfisema. Bahkan dinyatakan.3 % .Hautamaki. Kebiasaan merokok pada penelitian penulis ini belum bisa dimasukkan dalam faktor resiko. Jumlah pasien dengan emfisema pada foto thorax PA namun tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 10 orang (false positive). Jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA namun menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 12 orang (false negative) dan jumlah pasien non emfisema pada foto thorax PA yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi pada pemeriksaan spirometri sebanyak 54 orang (true negative). lingkungan kerja berdebu. Aktifasi makrofag juga dapat disebabkan bahan polutan lain.

8 % . setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga menunjukkan tanda-tanda obstruksi sesuai dengan kelainan emfisema (hasil true positive tinggi). Pemeriksaan foto thorax PA diharapkan mampu memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum dan merupakan pemeriksaan yang lebih mudah. jalan nafas dapat diibaratkan seperti saluran karet. dikalikan 100 % adalah sebesar 81. Foto thorax PA juga merupakan pemeriksaan yang lebih mudah dan lebih sederhana dengan biaya yang sama dengan pemeriksaan spirometri. mempunyai sensitivitas 90. Definisi emfisema pulmonum menyebutkan kelainan paru secara anatomis. angka tersebut lebih tinggi daripada hipotesis yang menyebutk an 80 %.3 %. Volume 1.4%. foto thorax PA untuk mengetahui kelainan struktur paru pada 14 emfisema pulmonum memberikan manfaat yang lebih dibanding dengan uji yang sudah ada yaitu spirometri sebagai gold standard untuk mengetahui fungsi faal paru. sensitivitas foto thorax adalah 80 %. Sejumlah 10 pasien (false positive) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran emfisema. Pada penelitian ini didapatkan nilai spesifisitas 84. Hal itu dimungkinkan karena menurut Enright (1987). sedangkan spirometri mendeteksi kelainan tersebut sebagai suatu kelainan dari fungsi faal paru. lebih nyaman dan terjangkau bagi pasien dibandingkan spirometri.6 % dan spesifisitas 83. Tahun 2009 . Pada penelitian uji diagnostik ini. didapatkan sensitivitas 90. Aliran yang melalui saluran dapat menurun pada berbagai sebab. Menurut Enright (1987). Penyempitan saluran dari dalam atau kompresi dari luar. hal itu disebabkan karena sejumlah 116 pasien dengan gambaran foto thorax PA menunjukkan emfisema. Biomedika. Sejumlah 12 pasien (false negative) pada foto thorax PA menunjukkan gambaran non emfisema. Foto thorax PA pada pelaksanaan pemeriksaan juga lebih memberikan kenyamanan pada pasien. dikarenakan pasien hanya melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan inspirasi tersebut saat foto diekspose tanpa harus melakukan manouver spirometri berkali-kali yang sulit dilakukan oleh pasien dengan sesak nafas. gambaran hiperinflasi yang seolah-olah menyebabkan penurunan dan pendataran diafragma maupun tear drop appearance jantung disertai gambaran hiperlusensi juga dapat terlihat pada pasien normal dengan inspirasi dalam maupun atlet dewasa muda tanpa penyakit paru .3 % . rasio kecenderungan positif yaitu sensitifitas dibagi hasil false positive per jumlah false positive dan true negative adalah sebesar 5. Biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal. foto thorax PA mendeteksi kelainan emfisema tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru .8 . hal itu dikarenakan terdapat penyakit . Menurut Sharma (2006). Tidak semua masyarakat bisa menjangkau pemeriksaan tersebut.prediksi negatif yaitu hasil true negative dibagi jumlah false negative dan true negative . Saran Perlu dipertimbangkan untuk mengalihkan pemeriksaan spirometri ke pemeriksaan foto thorax PA pada pasien emfisema pulmonum dengan sesak nafas yang tidak dapat melakukan manouver spirometri berkali-kali. Nomor 2.penyakit di luar emfisema yang juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi jalan nafas (bronkhitis khronis. rasio kecenderungan negatif yaitu hasil false negative per jumlah true positive dan false negative dibagi spesifisitas adalah sebesar 0.1. Pada penelitian ini didapatkan nilai sensitivitas lebih tinggi daripada hipotesis. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri tidak didapatkan tanda-tanda obstruksi. akan menurunkan aliran udara di dalam saluran tersebut.6 % dan spesifisitas 84. Nilai diagnostik foto thorax PA oleh karena itu lebih tinggi dibanding dengan spirometri. ini dikarenakan sejumlah 54 pasien dengan gambaran foto thorax PA non emfisema setelah dilakukan pemeriksaan spirometri juga tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (hasil true negative tinggi). asma). namun tidak semua rumah sakit di Indonesia memiliki alat tersebut. namun setelah dilakukan pemeriksaan spirometri didapatkan tanda-tanda obstruksi. Simpulan dan Saran Simpulan Pemeriksaan foto thorax PA untuk mendiagnosis emfisema pulmonum. Standar baku emas emfisema pulmonum secara anatomi saat ini adalah High Resolution Computed Tomography. sehingga perlu dipertimbangkan pemeriksaan lain yang lebih terjangkau untuk masyarakat kurang mampu tetapi memilik i nilai diagnostik tinggi.

Management and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 1995. 1991..149: 1405-1415.. Crit.. Martin Dunitz Ltd. MCR Vision. Shapiro S. Obstructive Airways Diseases. Enright P. Philadelphia Finlay G. 1981. Med. Diagnostik Roentgen. Godfrey S. Elastin and Collagen Remodeling in emfisema A Scanning Electron Microscopy Study.physiology. FitzGerald. 157 : 139-47. Washington University School of Medicine.. Sastroasmoro S..org/cgi/content/abstract Simon G. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Global Strategy for The Diagnosis.. 2000.. Am.. Anthonisen N. 1997. Smoking Mice Lead to emfisema Breakthrough. Kobayashi K. Jakarta : 267-268. Care. Ismael S. O'Connor . 2006. cetakan ke-2. Hayes J. London : 1-28. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. 1993.. 1997. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Texbook Radiology and Imaging : 168-172 Widjaja A. 1997.. Hal :328-332 Sutton D.Daftar Pustaka Barnes P. 1996. 227 : 2002-4. Inc : 3 Hautamaki R. Penelitian Epidemiologi : Pengaruh lingkungan pada PPOM. Philadelphia : 249-54.. 1998. O'Donnell. Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior untuk Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum Sulistyani Kusumaningrum 15 . Chronic Obstructive Pulmonary Disease. hhtp://ajplung... Sharma S. Requirement for Macrophage Elastase for Cigarette smoke Induced emfisema in Mice.J. Lea & Febiger.. Pulmonology Obstructive Airways Diseases. The Relationship of Smoking to COPD . Samet J.. Cherniack NS.. FK. 2003. WB Saunders Company.. Respir.Pathol. 1997.. Majalah Penyakit Dalam. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Jakarta: Erlangga. Office Spirometry. Senior R. Am. J. Woolston C.. Senior R. UNAIR Surabaya : 3-19.

16 Biomedika. Nomor 2. Volume 1. Tahun 2009 .

Hasil lain didapatkan pada penelitian cohort. Moroney et al. Keywords: dyslipidemia. age = 55-64 (19/47%). HDL78/22/46.76mg/dl.1. LDL 242/66/121.5% sampai dengan 61% (Schmid et al. dalam penelitian prospective longitudinal community.6% subjects. low HDL on 15/36. Beberapa penelitian yang lain memberikan hasil yang kontroversial.73mg/dl.1% subjects. There were 41 subject. Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR.. This study is descriptive study from patients medical record that were diagnosed by stroke with dementia in Dr Sardjito General Hospital.Dislipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Listyo A. demensia terjadi ratarata seperempat sampai sepertiga dari kasus stroke (Taternichi et al. Sardjito Yogyakarta bulan Oktober sampai Desember 2007. Demensia berdasarkan kriteria DSM-IV Listyo A. Hypercholesterolemia found on 27/65. Sardjito General Hospital Jogjakarta. Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat medis. yaitu menyimpulkan hubungan yang lemah antara level High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan Low Density Lipoprotein Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Cholesterol (LDL-C) dengan demensia vaskular (Reitz et al. The aim of this study is to get lipid profile of stroke patients with dementia in Dr.2004). Penelitian di Lundby Swedia memperlihatkan angka risiko terkena demensia vaskular sepanjang hidup 34. trigliserid 244/120/183. Insidensi demensia pasca stroke bervariasi antara 23.94% pada wanita dengan semua tingkatan gangguan kognisi dimasukkan dalam perhitungan (PERDOSSI. lowest. Dyslipidemia is one of the risk factors that take part in vascular dementia's process. fisik. Sudah lama diketahui bahwa defisit kognisi dapat terjadi setelah serangan stroke. Material dan Desain Penelitian Merupakan kajian deskriptif dari catatan medis pasien yang terdiagnosa stroke dengan demensia yang dirawat di Unit Stroke RS DR. 1993) Abnormalitas lipid berperan dalam proses aterosklerosis kranioserebral. Most patient with stroke with dementia had abnormal lipid profile. Pujarini E mail: listyoasistpujarini@yahoo.. psikiatri.based tentang LDL kolesterol dan risiko demensia dengan stroke. Gangguan kognitif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan MMSE ( kurang 24). Highest. menyimpulkan bahwa peningkatan LDL kolesterol berhubungan dengan risiko demensia dengan stroke pada Penderita tua (RR:3. pemeriksaan fisik dan Computed Tomografi (CT). kami ingin mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium profil lipid pada Penderita stroke dengan demensia di RS DR Sardjito Yogyakarta. Pujarini 17 .0%). bahwa LDL dan trigliserid plasma tidak berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif. 1999. education = junior high school (15/37%).9% subjects..5-6. 1992). Dyslipidemia history was positive in 21/ 52. Most of them are male (28/68%). HCTS examination reveal that most of lesion are ischemic lesion/infarct iskemik/imfark (23/56. Peningkatan jumlah lansia akan menambah populasi Penderita demensia (Kaye.1%).com Abstract There is rising in prevelence of dementia as changing of disease pattern from infection disease to degerenative disease. stroke. high trygliceride on 34/82.5% pada pria dan 19. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas.. high LDL on 23/ 56. Sardjito Yogyakarta. marital status = married (40/98%) and occupation = retired (12/29%) .27mg/dl respectively.2004). 95% CI: 1.9% subjects. sedangkan HDL yang rendah dan kolesterol total yang tinggi berkaitan dengan fungsi kognitif terutama fungsi bahasa (Reitz et al.2004). and average mean of lipid profile were : total cholesterole 327/130/208. dementia Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup akan menambah jumlah lansia yang berdampak pada pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degenerasi atau neoplasma.97mg/dl.1). and mostly found in frontoparietal lobe (9/22.5% subjects.1998). Penelitian terakhir memperlihatkan.

Karakteristik subyek menurut umur Dari gambar 1 dan 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar subyek dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 (68%) dan berumur antara 55-64 tahun sebanyak 19 (47%). Tahun 2009 . Volume 1. Nomor 2. Gambar 3. Karakteristik subyek menurut pekerjaan 18 Biomedika. Karakteristik subyek menurut tingkat pendidikan Gambar 4. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini : Gambar 1.Hasil Penelitian Dari penelitian kajian deskriptif ini didapatkan sebanyak 41 Penderita stroke dengan demensia. Karakteristik subyek menurut status perkawinan Gambar 5. Karakteristik subyek menurut jenis kelamin Gambar 2.

1 43.9 19.1 29. dapat kita ketahui sebanyak 15 (37%) Subyek dengan tingkat pendidikan SLTP.5 80.9 17.3 29. 5.6 56.1 67.5 56.1%) Subyek. dan trigliserid tinggi sebanyak 34 (82. Riwayat dislipidemia terdapat pada 21 (52. Kolesterol total tinggi sebanyak 27 (65.5%). Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. LDL tinggi sebanyak 23 (56.9 34.9%) Subyek.Sedangkan dari gambar 3. 4.3 70.6 63.4 56. Karakteristik faktor resiko vaskular Faktor resiko Riwayat dislipidemia Riwayat hipertensi Riwayat DM Status merokok ya tidak ya tidak ya tidak Perokok Mantan perokok Bukan perokok ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak Jumlah 21 19 23 18 8 33 6 7 28 12 25 27 14 15 26 23 18 34 7 Persen(%) 52.6 17. Tabel 3.5 47. Tabel 2.1 65.1 Gula darah tinggi Kolesterol total tinggi HDL rendah LDL tinggi Trigliserid tinggi Dari tabel tersebut diatas. Pujarini 19 . Hasil HCTS sesuai patologi lesi Patologi lesi Atrofi Iskemik / Infark Perdarahan Jumlah 6 23 12 Persen(%) 14.1%%).3 Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56. Sardjito Jogjakarta Listyo A. 40 (98%) Subyek sudah menikah dan 12 (29%) Subyek dengan pekerjaan sudah pensiunan.1 43.1 36.5 14.9%) Subyek.9 82. dapat dilihat bahwa sebagian besar profil lipid memang abnormal.

Tahun 2009 .1%%).3 22. Tabel 4.9 12.2 Dari hasil HCTS. 20 Biomedika.3 7.4 4.0 9. Gambar 6. LDL 23 Subyek. Profil lipid pada subjek sesuai nilai minimal-maksimal Dari gambar 6.8 2. Profil lipid subyek sesuai frekuensi yang abnormal Gambar 7 menyatakan sebagian besar Subyek mempunyai nilai profil lipid yang tinggi yaitu: kolesterol total 27 Subyek.8 7. ternyata nilai maksimal kolesterol total. Hasil HCTS sesuai lokasi lesi Lokasi lesi Frontotemporalis Paraventrikuler Frontoparietal Parietotemporalis Parietooccipitalis Temporooccipitalis Capsula interna Ganglia basalis Occipitalis Parietalis Lain-lain Jumlah 3 3 9 4 3 2 5 4 1 2 5 Persen(%) 7. LDL dan trigleserid diatas 200 mg/dl dan nilai rata-rata termasuk borderline high-high.2 9. trigliserid 34 Subyek.3 4. ternyata sebanyak 9 (22.Tabel diatas menyatakan bahwa sebagian besar HCTS dengan patologi lesi berupa iskemik/infark sebesar 23 (56.0%) Subyek. Volume 1.9 12. Nomor 2. lokasi lesi di regio frontoparietal. Gambar 7.

Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. Sardjito Jogjakarta Untuk menentukan demensia vaskular. (5) F01. (2) F01. agnosia. untuk penderita berpendidikan tinggi nilai di bawah 27 mengindikasikan gangguan kognitif.2000). perilaku sosial atau motivasi. daya pemahaman.Pembahasan Sesuai PPDGJ III. fungsi eksekutif dan kontrol motorik. B e b e r a p a h i p o t e s i s y a n g dikemukakan para ahli adalah : hipotesis genetik. anoksia atau hipoksia otak. Dalam 4 tahun terakhir beberapa ilmuwan membagi faktor risiko demensia vaskular dalam 4 kategori : 1) Faktor demografi. daya pikir. Mekanisme terjadinya demensia belum jelas s e p e n u h ny a . Di Asia prevalensi demensia vaskular lebih tinggi daripada demensia Alzheimer. Kesadaran tidak berkabut. Listyo A. 2) Faktor aterogenik ( hipertensi. 3) Faktor non aterogenik. 2004). Pujarini 21 . kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria NINDS-AIRENS (National Institut of Neurological Disorder and Stroke and Association Internationale pour la Recherche e t l'Enseigment en Neuroscience) (1991). yaitu berkisar 2540%.(ICD-X) demensia adalah suatu sindrom akibat penyakit otak. (c) Tanda & gejala neurologis fokal atau pemeriksaan radiologis menunjukkan infark multipel di daerah kortek & subkortek. diabetes. fungsi kognitif berfluktuasi seperti anak tangga. Demensia vaskular merupak an suatu kelompok kondisi heterogen yang meliputi semua sindrom demensia akibat iskemik. (3) F01. Kriteria diagnosis demensia vaskular menurut DSM-IV: (a) Adanya gangguan kognitif multipleks yang dicirikan oleh 2 keadaan berikut: 1) Gangguan memori. 3) Hubungan di antara kedua penyakit ini bermanifestasi atau berpengaruh dengan munculnya satu atau lebih keadaan berikut: onset demensia dalam tiga bulan mengikuti stroke. sedangkan pada Penderita berpendidikan rendah nilai di bawah 24 baru mengindikasikan gangguan kognitif (Bouchard et al.2 Demensia vaskular subkortikal. apraksia. 2004). penyakit jantung. (b) Gangguan kognitif pada a1 & a2 menyebabkan gangguan fungsi sosial & okupasional yang jelas dan penurunan tingkat kemampuan sebelumnya yang jelas. Pada Penderita lanjut usia pasca stroke. berbahasa. PPDGJ III membagi demensia vaskular sebagai berikut : (1) F01. praksia. Insiden dan prevalensi demensia vaskular dilaporkan berbeda-beda di berbagai negara. tidak harus dengan gangguan memori yang menonjol (PERDOSSI. biasanya bersifat kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang multipel) termasuk daya ingat. hipotesis vaskular dan metabolik. (3) F 02 Demensia pada penyakit lain yang tidak diketahui. perhatian. (2) F 01 Demensia vascular. 4) Faktor yang berhubungan dengan stroke. 2) Munculnya tanda fokal neurologik. daya orientasi.3 Demensia vaskular campuran kortikal dan subkortikal.0 Demensia vaskular onset akut. Nilai maksimal 30. jumlah dan lokasi infark (Herbert et al. 1996). penurunan mendadak fungsi kognitif. dengan penurunan fungsi kognisi mulai dari yang ringan sampai yang paling berat dan meliputi semua domain. prevalensi demensia vaskular sekitar 25% (Konsensus Pengenalan Dini & Penatalaksanaan Demensia Vaskular. menopause tanpa terapi penggantian estrogen. visuospasial.. M ini Mental State Examination (MMSE) merupakan tes yang mudah dan berguna di dalam klinik untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif.4 Demensia vaskular lainnya. (4) F01. diantaranya volume kehilangan jaringan otak. gangguan funfsi eksekutif. dan daya kemampuan menilai. hipotesis neurotransmiter (Diaz. sebagai berikut : 1) Adanya demensia yang ditetapkan dengan penurunan daya ingat yang disertai dengan dua atau lebih gangguan kognitif: orientasi. Menurut PPDGJIII / ICD X: (1) F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer.1 Demensiamulti-infark. (4) F 03 Demensia yang tidak tergolongkan. 2) Satu atau lebih gangguan kognitif (afasia. biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi. dislipidemia. 1991).. bahasa. hipotesis infeksi dan toksik. merokok.

43 (2): 250-60. JAMA. Vascular Dementia: Diagnostic Criteria for Research Studies.. Stern Y.W. & Zihlka.pp: 188-193.. Kolesterol total dan Trigliserid menurut NCEP ATP III (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel). Herbert R et al. Moroney. Arch Neurol. 2001 (mg/dl) LDL-C < 100 100-29 130-159 = 190 Kolesterol Total < 200 200-239 = 240 HDL C < 40 = 60 Trigliserid < 150 150-199 200-499 = 500 Optimal Hampir atau di atas normal Borderline high Very High Normal Borderline High High Low High Optimal Borderline high High Very High Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini merupakan kajian deskristif.. http://www.(ed).. 1975. Tahun 2009 . R. New York. google. American Heart Association. Madrid Dunitz . LDL & Trigleserid) dengan kejadian demensia pada Penderita stroke. M.C. Nomor 2. Volume 1. A. Typical Clinical Features. 1998. Sounders co Japan. 7th ed..J. maka didapatkan keterbatasan-keterbatasan... Hachinski. 1991. Guyton. Small S. In: Gauthier S.B. J.. 22 Biomedika. 32(9): 632-7. 3: 1487-93. Bell K. Kaye. L.. HDL-C. antara lain kelengkapan dalam penulisan rekam medis. 2000. Klasifikasi LDL-C. 1986. dan kadar HDL rendah juga dijumpai pada hampir setengah Subyek) . 1991. Merchant C.D. Low Density Lipoprptein Cholesterol and the Risk of Dementia With Sroke. T. kadar LDL tinggi. The Essential Brain.M. Merck.G. Text Book of Medical Physiology. kadar trigliserid tinggi. Tang M. V. 1996. Cerebral blood flow in Dementia. Incidence and Risk Factors in the Canadian Study of Health an Aging. Karena penelitian ini hanya merupakan penelitian deskriptif dengan melihat catatan medis dan terbatas dalam rentang waktu tertentu..N. HDL. Daftar Pustaka Bouchad. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apak ah didapatk an adanya hubungan antara profil lipid yang abnormal dari semuanya komponennya (kolesterol total. Neurology. Clinical Diagnosis and Managemen of Alzheimer's Disease. A.com... & Maeyeux R. 34: 1217-21. E.Ltd 35-50.. & Rossor. Ilif. 1999.Tabel 1.C. X. Arch Neurol. dan ternyata sebagian besar Subyek dalam penelitian mempunyai nilai profil lipid yang abnormal ( kadar kolesterol total tinggi.. W. Oldest-Old Healthy Brain Functio. NINDS-AIRENS International Workshop.. London: Martin-Diaz.

Toeng. Fazekas. X. PERKENNI. Kinkel. 241(1)5-11 Dyslipidemia pada Penderita Stroke dengan Demensia di RS Dr. M. Mechler..PERDOSSI. Eur Arch-Psychiatry-Clin-Neurosci.. 1995. 1993. C. R. J. & Freidl. L. Schmid. 2004.. Sardjito Jogjakarta Listyo A.X. Luchsinger. R. Cognitif Impairment After Acut Supratentorial Stroke: a 6-month follow up Clinical and Computed Tomography Study. W.. Pujarini 23 . Konsensus Pengenalan Dini dan Penatalaksanaan Demensia Vaskular.. F.. 2004. P. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia pada Diabetes Mellitus di Indonesia Reitz. 61: 705-14.. Arch Neurol. & Mayen. Relation of Plasma Lipid & Alzheimer Disease and Vascular Dementia...

Tahun 2009 . Volume 1.24 Biomedika. Nomor 2.

and 12683.67 ± 3444. and to compare the effect of both extract on rat gastric acid secretion in vitro.92 mg/kgBW. Ulkus peptik yang masih sering ditemui di masyarakat terjadi karena ketidakseimbangan faktor agresif berupa meningkatan volume asam lambung.28 in cimetidin group.45 in AESRKB II group (equivalent to 17.67 ± 3659. -5883.The result showed that the total area under curve (AUC0-80) of H+ consentration was 14550 ± 692. It was concluded that the etheric and ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana (Musa balbisiana Colla) showed an inhibitory effect on rat gastric acid secretion induced by histamine. and then sacrified. The perfusate was allowed to flow continuously.8 mg/kgBW).33 ± 80. dan gastrin.7 mg/kgBW. selain harganya yang tidak murah (Dollery.64 in EESRKB II group (equivalent to 3.70 in control group (saline).69 mg/kgBW).33 ± 968. Keywords : musa balbisiana molla. Namun.84 mg/kgBW). penyekat reseptor Histamin H2 (simetidin. Obat yang mengurangi sekresi asam lambung sebagai terapi ulkus peptik dapat dikelompokkan ke dalam golongan antasida (Al(OH)3 dan Mg(OH)2). They were divided into 9 groups (6 rats each). dan prostaglandin (Price. 1998). -1333. after which the treatment (histamine 10-6 M) was added to the unbuffered solution in each group. has been studied for its ability to reduce gastric acid secretion. known as basal H+ consentration .05) than those of AESRKB II. anesthetized with ether inhalation. Is the active compound hydrophylic or hydrophobic has not been known yet. pepsin dan infeksi Helicobacter pylori dengan faktor defensif berupa integritas mukosa lambung.33 ± 760. 1964).62 in etheric extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (EESRKB I group) equivalent to 1. the AUC0-80 of EESRKB II were significantly higher (p<0. 4500 ± 2819. Oleh karena itu. Fifty four rats (3-4 month) of 150-250 g were used in this study. 1991). obat-obat antiulkus di atas mempunyai efek samping yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumor karsinoid. Perfusate from gastric lumen were collected every 10 minutes untill 80 minutes and H+ consentration were measured by mean of titration.67 ± 2838. Pretreatment was added to the unbuffered mucosal solution for 30 minutes. 141. The H+ consentration elevation was expressed as mean ± SEM. -1116. agranulositopenia dan trombosito-penia.05) lower than those of control solution (except EESRKB II). The H+ consentration was measured by titration with NaOH 0. The rats were weighted.Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari E mail: do_must@yahoo.94 in EESRKB III group (equivalent to 7. The isolated preparation was stabilized for 1 hour and perfusate spilled out. pankreatitis akut. sekresi bikarbonat. masyarakat Domas Fitria Widyasari 25 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro .05) than those of AESRKB III. the AUC0-80 was calculated and analyzed by ANOVA. the AUC0-80 of EESRKB I were not significantly different (p>0. asetilkolin. gastric acid secretion.22 in ethanolic extract of the seed of ripe kluthuk banana doses-1 group (AESRKB I group) equivalent to 8. The rats were fasted and drinking water was given ad libitum for 24 hours before testing. ethanolic extract Pendahuluan Tukak lambung atau ulkus peptik merupakan keadaan kontinuitas mukosa lambung terputus (Laurence.The aim of his study is to determine the effect of the seed of ripe kluthuk banana (musa balbisiana colla) etheric and ethanolic extract.002 N using phenolftalein as indicator.65 in DMSO group. 8516. histamine. The gastric lumen was perfused continuously with unbuffered mucosal solution 1 ml min-1 and bubbled with 100% O2. and the AUC0-80 of EESRKB III were not significantly different (p>0. according to the methods modified from Barocelli.com Abstract Kluthuk banana (musa balbisiana colla). 1994). etheric extract. Sekresi asam lambung dikontrol oleh 3 agonis utama yaitu histamin. The stomach was taken and suspended in an organ bath containing 37°C buffered serosal solution and bubbled with carbogen. mukus. a seeded banana. and the ethanolic extract showed an inhibitory effect more than those of etheric extract. ranitidin.05) than those of AESRKB I. and collected for 10 minutes duration.36 in AESRKB III group (equivalent to 34. This study was conducted using isolated Wistar rat stomach. dan penghambat pompa proton (Atman. 5650 ± 3191.4 mg/kgBW). dan famotidin). pelapis dan pelindung permukaan mukosa (sukralfat). The statistical analysis showed that the AUC0-80 of EESRKB and AESRKB were significantly (p<0. nefritis interstisial.

Tikus ditimbang. 1982). Peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dinyatakan dalam mean ± SEM. kelompok VIII (kelompok kontrol positif ) diberi praperlakuan dengan simetidin dalam unbuffered mucosal. Semua tikus dipilih acak dan dibagi 9 kelompok. kemudian lambung tikus diangkat dan dipasang pada organ bath yang berisi larutan buffered serosal pada suhu 37Í dan C dialiri gas karbogen (O2 95% dan CO2 5%). Perfusat dikumpulkan selama 10 menit dan diukur dengan menggunakan NaOH 0.69 mg/kg BB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK III). serta membandingkan keduanya. (1997) yang dimodifikasi sejak tikus dianestesi.84 mg/kgBB dalam unbuffered mucosal (kelompok EEBPK II).92 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EEBPK I). Penelitian Tjandrasari (1991) menunjukkan bahwa ekstrak air dan alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dapat menyembuhkan ulkus lambung tikus yang ditimbulkan oleh aspirin. Nomor 2.7 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK I). kelompok V dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. Kelompok I (kelompok kontrol negatif garam fisiologis) diberi praperlakuan dengan larutan unbuffered mucosal. Tikus tersebut kemudian dipuasakan 24 jam sebelum percobaan dengan tetap diberi air minum secukupnya. Volume 1. mengobati luka. Lalu masukkan bahan uji ke dalam larutan unbuffered mucosal untuk perfusi selama 30 menit. kelompok IV dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Pisang dapat digunakan sebagai obat sakit perut (sariawan perut dan maag). Penelitian dengan menggunakan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk belum pernah dilakukan.2 % v/v dalam unbuffered mucosal. Pengelompokan ini berdasarkan jenis praperlakuan yang diberikan. kelompok III dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3. 2002). pada penelitian ini diganti dengan tetesan. Penelitian Sanyal et al.4 µg/kgBB dalam unbuffered mucosal selama 80 menit untuk menstimulasi sekresi H+ asam lambung. cairan perfusat dari lambung dikumpulkan tiap 10 menit dan diukur konsentrasi H+ nya dengan titrasi. 26 Biomedika. diare. (1963) dan Elliot & Heward (1976) menunjukkan bahwa pisang dapat menurunkan produksi asam lambung dan menyembuhkan ulkus lambung. kelompok VII dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang 34.8 mg/kg dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK III). pisang (Musa) telah dikenal masyarakat sebagai buah yang enak dimakan dan sebagai obat tradisional (Depkes RI. dan untuk pengobatan radang amandel (Sudarsono. masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (3 ekor jantan. Secara tradisional. Total luas area di bawah kurva menit ke-0 sampai menit ke-80(AUC 0-80 ) dihitung dan dianalisis menggunakan analisis varian. kemudian diberi perlakuan dengan histamin 736. terhadap sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Lumen lambung selalu diperfusi dengan larutan unbuffered mucosal dengan kecepatan 1 ml/menit dan diberi gelembung O 2 100%. Modifikasi berupa penggantian system pengaliran larutan garam fisiologis (unbuffered mucosal) ke dalam lumen lambung tikus yang semula menggunakan pompa peristaltik. Kelompok IX (kelompok DMSO) diberi praperlakuan dengan dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0. Hasil yang didapat merupakan konsentrasi H+ basal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk. dianestesi. Kemudian semua kelompok diberikan perlakuan dengan histamin 736. kelompok VI dengan larutan ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17. Selama diberi perlakuan. Uji ini menggunakan metode menurut Barocelli et al.4 mg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal (kelompok EABPK II).002 N dengan indikator fenolftalein.4 µg/kgBB dalam larutan unbuffered mucosal. kelompok II dengan larutan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1.mulai mencari alternatif pengobatan ulkus peptik dari obat-obat tradisional yang lebih murah dengan efek samping yang minimal. Tahun 2009 . dan berat 150-250 g sebanyak 54 ekor. Preparat dibiarkan mencapai ekuilibrium selama 1 jam dan cairan perfusat dibuang. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih atau rat (Rattus norvegicus) galur Wistar jenis kelamin betina dan jantan yang sama jumlahnya dengan umur 3-4 bulan. Penelitian yang dilakukan Sholikhah (2000) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001) menyatakan bahwa ekstrak alkohol pisang kluthuk muda mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro. 3 ekor betina).

00 ±69.16 103.67 ±6.00 ±29.33 ±15.62 93. Rerata peningkatan konsentrasi H+ (µEq) pada perfusat cairan lambung tikus putih (mean + SEM) sesudah perlakuan dengan histamin 736.33 ±50.67 ±21.00 ±6.57 270.33 ±44.86 73.67 ±21. Tabel 1.19 0.00 ±42.00 ±32.67 ±15.00 ±41.77 113.15 10 menit ke4 186.00 ±88.53 53.67 ±54.28 170.30 -23.37 -13.33 ±19.00 ±35.33 ±49.44 -110.22 66.02 73.00 ±53.85 -123.4 µg/kgBB tiap 10 menit pada seluruh kelompok praperlakuan Kelompok Garam Fisiologs EEBPK I EEBPK II 1 50.Hasil Penelitian Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar di bawah ini.67 ±44.77 -20.51 -20.33 ±15.08 -133.33 ±72.67 ±12.61 88.00 213.29 -133.33 ±72.76 -13.67 ±38.89 -13.30 23.33 ±49.36 -3.33 ±48.67 ±9.85 5 250.00 ±4.30 2 86.00 ±11.33 ±49.89 3 110.27 40.26 -20.00 ±9.33 ±19.48 6.00 ±0.33 ±48.33 ±4.00 ±0.00 ±6.36 226.58 26.23 60.83 0.55 -20.67 ±33.33 ±137.00 293.33 ±41.00 276.95 51.00 96.67 ±9.62 20.33 ±54.33 ±14.33 ±42.28 7 313.00 ±10.00 ±117.00 ±7.98 35.25 100.00 ±0.65 166.83 -16.47 40.33 ±45.67 ±99.29 53.97 -23.67 ±42.67 ±50.77 76.75 -23.67 ±82.33 ±69.55 -123.33 ±43.33 ±50.00 ±42.40 -20.33 ±52.25 3.33 ±55.55 EEBPK III EABK I EABPK II EABPK III Simeti din DMSO Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 27 .42 -10.00 ±54.22 -20.33 ±20.23 -16.09 8 316.10 46.16 10.89 -3.56 -13.33 ±37.33 ±44.33 23.55 93.33 ±47.00 156.15 73.71 60.00 ±0.20 6 300.00 ±0.25 -20.67 ±9.33 +45.00 ±6.00 263.00 ±0.67 ±14.83 -16.

84 mg/kgBB.4 mg/kgBB (EABPK II).Gambar 1.8mg/kgBB. EABPK III= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 34.05) sampai pada 10 menit ke-8.7 mg/kgBB.05) dari 10 menit pertama berturut-turut sampai 10 menit ke-8.4 µg/kgBB Keterangan: Kontrol= larutan garam fisiologis unbuffered mucosal. 34. Tabel 1 menyajikan rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung tikus putih (mean + SEM) tiap 10 menit sesudah perlakuan dengan histamin 736. Volume 1.4 mg/kgBB.92 mg/kgBB (EEBPK I). DMSO= dimetil sulfoksida konsentrasi akhir 0.4 µg/kgBB pada semua kelompok praperlakuan. EEBPK II= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 3.7 mg/kgBB (EABPK I). Tampak rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih pada kelompok kontrol negatif garam fisiologis meningkat (p<0. EABPK I= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 8. 3.2% v/v dalam larutan unbuffered mucosal.8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan kenaikan yang bermakna (p>0. EEBPK III= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 7. Peningkatan konsentrasi H+ per 10 menit pada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1.69 mg/kgBB. EEBPK I= ekstrak eter biji tua pisang kluthuk 1. 7.69 mg/kgBB (EEBPK III).84 mg/kgBB (EEBPK II). 28 Biomedika. Simetidin= simetidin 27 mg/kgBB.92 mg/kgBB. dan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Tahun 2009 . Sedangk an grafik rerata peningkatan konsentrasi H+ cairan lambung dari menit ke-10 sampai pada menit ke-80 pada semua kelompok praperlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Gambar 1. Pada 10 menit ke-6 menunjukkan kenaikan yang konstan (p>0. Nomor 2. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa histamin dapat meningkatkan sekresi H+ asam lambung. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya yaitu Barocelli (1997) dan Sholikhah & Ngatidjan (2001). EABPK II= ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk 17.05) mulai dari 10 menit pertama setelah perlakuan dengan histamin. 17. Rerata peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin 736.

92 mg/kgBB.94 EABPK I 13700 12900 1400 1200 -1200 -1000 4500 2819.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.4 µg/kgBB in vitro Kelompok Tikus 1. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 1. 4.Tabel 2.67 2838.45 EABPK III 14600 -1600 -6700 -700 -2500 -9800 -1116.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak berbeda bermakna (p>0.70 EEBPK I 2100 700 1350 -12100 -600 9400 141.65 Tabel 2 menunjukkan luas area di bawah kurva / Area Under Curve (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ perfusat cairan lambung tiap tikus pada seluruh kelompok yang ditimbulkan oleh histamin in vitro.7 mg/kgBB (EABPK I). dan 7.4 µg/kgBB in vitro pada seluruh kelompok praperlakuan Gambar 2 menyajikan mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736. maka semakin besar konsentrasi H+ di dalam cairan perfusat preparat lambung tikus putih tersebut.33 760. 6.22 EABPK II -5600 -6900 -6900 -7800 -5600 -2500 -5883. serta ekstrak etanol Domas Fitria Widyasari 29 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro . 5. dan 34.8 mg/kgBB (EABPK III) lebih rendah (p<0. Semakin tinggi nilai AUC0-80. Luas area di bawah kurva (AUC0-80) pada perfusat cairan lambung tiap tikus putih pada seluruh kelompok sesudah perlakuan dengan histamin 736.69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih rendah (p<0.92 mg/kgBB (EEBPK I) dan 7. 3. 17.4 mg/kgBB (EABPK II).33 80.67 3659.36 SIMETIDI N -1100 -1100 -1300 -1500 -1500 -1500 -1333.4 µg/kgBB invitro pada seluruh kelompok praperlakuan. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.33 968.28 DMSO 13400 16600 12200 13300 10700 9900 12683. Gambar 2. Mean SEM KON TROL 15700 15500 13200 15700 15500 11700 14550 692.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis. 2.69 mg/kgBB.67 3444. dan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter biji tua pisang kluthuk dosis 7.64 EEBPK III 200 500 3000 15300 15900 -1000 5650 3191. Mean ± SEM luas area di bawah kurva (AUC0-80) peningkatan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sesudah perlakuan dengan histamin 736.62 EEBPK II 11900 -1400 21600 -1400 7300 13100 8516. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Nilai AUC menggambarkan jumlah konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih dari 10 menit pertama sampai 10 menit ke-8 (AUC0-80).05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.

84 mg/kgBB (EEBPK II). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 8.7 mg/kgBB (EABPK I).8 mg/kgBB (EABPK III) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. dan 34.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.92 mg/kgBB (EEBPK I).4 mg/kgBB (EABPK II). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1.7 mg/kgBB (EABPK I) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro yang lebih lemah daripada ekstrak etanol dosis 17. sedangkan ekstrak eter dosis 3. Hasil ini menunjukkan bahwa simetidin mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesalahan teknis di dalam penelitian Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. Sedangkan ekstrak etanol dosis 17.05).92 mg/kgBB (EEBPK I).69 mg/kgBB (EEBPK III) lebih tinggi (p<0.8 mg/kgBB (EABPK III).4 mg/kgBB (EABPK II) dan 34.7 mg/kgBB. ekstrak etanol dosis 17.4 mg/kgBB (EABPK II) . 17.4 mg/kgBB (EABPK II) dan tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. Nomor 2.92 mg/kgBB (EEBPK I) lebih rendah (p<0.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. Ekstrak eter dosis 3.8 mg/kgBB (EABPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih sama kuatnya dengan simetidin 27 mg/kgBB. sedangkan bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7. dan ekstrak etanol dosis 34.7 mg/kgBB (EABPK I).05) daripada kelompok simetidin.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 17. Hal ini mendukung hasil penelitian Sholikhah dan Ngatidjan (2001) yang menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk dapat mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh aspirin.84 mg/kgBB. tetapi tidak signifikan. Nilai AUC0-80 kelompok simetidin lebih rendah (p<0. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Nilai AUC0-80 pada kelompok EEBPK I menunjukkan nilai yang ekstrim bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan lain.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan 7. Pembahasan Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. ekstrak etanol dosis 17.69 mg/kgBB mempunyai kemampuan yang sama besar dalam menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak eter dosis 1. Tahun 2009 .69 mg/kgBB (EEBPK III) menunjukkan hasil yang tidak berbeda (p>0.4 mg/kgBB.05) dibandingkan dengan kelompok simetidin.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 7.05) daripada kelompok kontrol garam fisiologis.69 mg/kgBB.4 mg/kgBB (EABPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang Biomedika. Ekstrak eter dosis 3.84 mg/kgBB dan 7.69 mg/kgBB (EEBPK III) mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ lebih lemah daripada simetidin 27 mg/kgBB. ekstrak etanol dosis 8.69 mg/kgBB (EEBPK III).84 mg/kgBB dapat menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih. dan ekstrak etanol dosis 34.8 mg/kgBB (EABPK III). sedangkan nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3. dan mempunyai kemampuan yang sama dengan ekstrak eter dosis 7. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 3.92 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang lebih kuat daripada ekstrak eter dosis 3. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 30 dosis 17.8 mg/kgBB mempunyai kemampuan untuk menghambat kenaikan konsentrasi H+ pada perfusat cairan lambung tikus putih yang distimulasi oleh histamin in vitro. ekstrak etanol dosis 8. Volume 1. Hal ini sesuai dengan Altman (1998) yang menyatakan bahwa simetidin mengurangi sekresi asam lambung karena simetidin merupakan antagonis reseptor histamin yang bekerja berkompetisi secara reversibel dengan histamin pada reseptor H2.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 34.84 mg/kgBB (EEBPK II) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0.84 mg/kgBB (EEBPK II) dan ekstrak eter dosis 7.4 mg/kgBB (EABPK II).dosis 8.7 mg/kgBB (EABPK I) lebih tinggi (p<0.

4 µg/kgBB in vitro. Vianello P. sedangkan ekstraksi dengan eter menyarikan zat aktif yang larut dalam lemak. 1991. Das PK. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Tjandrasari (1991) dan Sholikhah (2000) yang menunjukkan bahwa pisang kluthuk mempunyai efek mencegah dan menyembuhkan ulkus lambung tikus yang disebabkan aspirin. 1976. 1964. Banana and restrain ulcer in albino rats (letters to the editor). 7th ed. 35(5): 487-92 Depkes RI. Chowdhury NK. Nilai AUC00-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 7. Nilai AUC0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter 3.4 mg/kgBB (EABPK II). Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. Jakarta: Depkes RI Dollery SC. Edisi 4. Banana and experimental peptic ulcer. Ballabeni V. Simpulan dan Saran Simpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Daftar Pustaka Altman D. Pharm.84 mg/kgBB (EEBPK II) lebih tinggi (p<0. Buah pisang kluthuk muda dapat mencegah timbulnya ulkus lambung tikus akibat pemberian salisilat. dengan mengingat bahwa ekstraksi dengan etanol menyarikan zat aktif yang larut dalam air dan lemak. 1982.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 34. Dal Piaz V dan Impicciatore M. Barlocco D. Edisi II. London: Academic Press Price SA. dan dapat mengurangi volume sekresi asam lambung seperti halnya simetidin.8 mg/kgBB (EABPK III). 1994. Perbandingan efek ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk dihitung berdasarkan nilai AUC0-80 pada kedua jenis ekstrak dengan dosis yang bersesuaian. Volume 1. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol memberikan efek penghambatan sekresi asam lambung yang lebih kuat daripada ekstrak eter. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang lebih lemah daripada ekstrak etanol. 1997. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 1 pisang. Pharmacol 15: 283-4 Perbandingan Efek Ekstrak Eter dengan Ekstrak Etanol Biji Tua Pisang Kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada Sekresi Asam Lambung Tikus Putih in vitro Domas Fitria Widyasari 31 . The influence of banana supplemented died on gastric ulcers in mice. New York: Churchill Livingstone Elliot RC and Heward GJF.G. Pemanfaatan Tanaman Obat. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan 2 pisang. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 1963. (Editor): Basic and Clinical Pharmacology. Drugs used in gastrointestinal disease. 1998. Ekstrak etanol biji tua pisang kluthuk menunjukkan efek yang lebih besar daripada ekstrak eter. Nilai AUC 0-80 kelompok praperlakuan dengan ekstrak eter dosis 1. Pharmacological Research Communication 8(2): 167-71 Laurence DR and Bocharah AL. menyembuhkan ulkus serupa yang sudah ada. 2. B.05) bila dibandingkan dengan kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol dosis 8. East Notwalk: The Appleton & Lange: 1017-29 Barocelli E.7 mg/kgBB (EABPK I).menunjukkan bahwa ekstrak alkohol biji pisang kluthuk mempunyai efek mengurangi sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin in vitro seperti halnya simetidin. Therapeutic Drugs. Banerji CR. Pharm. Ekstrak eter dan etanol biji tua pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan oleh histamin 736. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Kemungkinan besar zat aktif yang berefek penghambatan sekresi asam lambung bersifat hidrofilik. Jakarta: EGC Sanyal AK.. J.69 mg/kgBB (EEBPK III) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0. Study of antisecretory and antiulcer mechanism of new indenopiridazinone in rats. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis yang setara dengan ½ pisang. Res. Gupta KK. dalam Katzung. J.92 mg/kgBB (EEBPK I) tidak menunjukkan hasil yang berbeda bermakna (p>0. ekstrak eter memberikan efek penghambatan kenaikan konsentrasi H+ yang sama besar dengan ekstrak etanol. Chiavarini M. 1963. Pharmacol 15: 775-6 Sanyal AK.05) daripada kelompok praperlakuan dengan ekstrak etanol 17. Saran Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekstrak-ekstrak lain biji pisang kluthuk terhadap s e k re s i a s a m l a m b u n g ( H + ) d a n p e r l u penambahan jumlah sampel (hewan coba) penelitian. Pharmacol.

Nomor 2. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 32 Biomedika. J. Efek ekstrak alkohol daging buah dan biji pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih in vitro. 1991. 2001. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudarsono. Sinha S. Tumbuhan Obat II (hasil penelitian. 2000. Pramono S. Berkala Ilmu Kedokteran 33(2): 77-82 Sholikhah EN. Pengaruh ekstrak pisang kluthuk (Musa brachycarpa Beck) terhadap ulkus lambung tikus karena salisilat. Skripsi Fakultas Farmasi. Wahyuono S. Sinha YK.dan Purnomo. Das PK. Tahun 2009 . Mediagama 2(3): 14-9 Sholikhah EN. Pharmacol 13: 318-9 Sholikhah EN dan Ngatidjan. Pharm. Tesis Program Pasca Sarjana.Sanyal RK. 1961. 2002. Efek ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) pada sekresi asam lambung tikus putih yang ditimbulkan histamin in vitro. Volume 1. Cara kerja ekstrak alkohol pisang kluthuk (Musa balbisiana Colla) dalam mengurangi sekresi asam lambung tikus putih in vitro. Gunawan D. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional Universitas Gadjah Mada Tjandrasari S. Ngatidjan. Banana and gastic secretion (letters to the editor). 2000. sifatsifat dan penggunaan). Donatus IA.

mahkota dewa Pendahuluan Mahkota dewa atau Phaleria papuana merupakan tanaman obat tradisional yang banyak dipergunakan masyarakat untuk berbagai penyakit dan penambah stamina pada orang sehat. An experimental study with the post-test only control group design was carried out on experiment animal BALB/C mice. P3 and P4 (p=0. Saifulhaq M.id Abstract Mahkota dewa (Phaleria papuana) fruits consists of chemicals that are able to increase lymphocytes proliferation. Buah mahkota dewa mengandung zat kimia antara lain alkaloid. Mahkota dewa yang digunakan biasanya dicampur dengan berbagai bahan lain dalam satu ramuan dimana untuk setiap penyakit tidak sama.009).009). consisted of 25 male mice which devided into 5 groups. 33 . And there were no significant differences in lymphoblasts count between K and P3 (p=0. dan senyawa resin. misalnya melalui IL-4 (Middleton. Lymphocytes from the spleen of all mice were isolated after 2 weeks treating.4 ml/day (± 70 ìg extract). Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas pengaruh buah mahkota dewa dalam memodulasi sistem imun sehingga dapat menjadi tambahan informasi dalam pertimbangan konsumsi tanaman obat. 2003) Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the post test only control group design.675). saponin. Keywords: lymphocyte proliferation. Penelitian membuktikan bahwa secara laboratoris senyawa flavonoid dapat meningkatkan produksi IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit (Lisdawati.009). dengan membandingkan hasil observasi pada Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. dan sebagian lainnya akan bersirkulasi ke darah perifer. terpenoid.012). dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya (Sepgana. Aktivasi dan proliferasi sel T di lien terjadi di selubung limfoid periarterioler lalu terjadi migrasi ke zona marginalis. P2 and P4 (p=0. terutama di daerah pulpa putih.ac. P1 and P4 (p=0.8 ml/day (± 140 ìg extract). P2 and P3 (p=0.Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Penelitian terbaru menunjukkan proliferasi limfosit T juga dapat terjadi tanpa melalui IL-2. whereas P1 was group treated with mahkota dewa extract 0. K was control group without treatment with mahkota dewa extract. K and P2 (p=0. P1 and P2 (p=0. P2 was group given mahkota dewa extract 0. Lymphoblasts were counted in every 200 cells.028). P3 was group given mahkota dewa extract 0. IL-2 juga merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B dan NK (Natural Killer). But there were not on P3 and P4 ones. Menggunakan 5 kelompok. 2005). Sebagian kecil sel T yang teraktivasi masuk ke dalam folikel limfoid.5 ml/day (± 280 ìg extract). On the giving of mahkota dewa's fruits extract there were significant increase of lymphocyte proliferations on BALB/C mice on P1 and P2 groups.7 Folikel limfoid lien kaya dengan sel B yang berperan dalam respon imun humoral. Penilaian dilakukan hanya pada saat post test. K and P4 (p=0.917). There were significant differences in lymphoblasts count between K and P1 (p=0. P1 and P3 (p=0. and P4 was group given mahkota dewa extract 1. The objective of this study was to show the influence of Mahkota dewa's fruits extract in spleen lymphocytes proliferation of BALB/C mice. 2002) Proliferasi limfosit T yang dirangsang oleh antigen.009).917). tannin.028). dengan randomisasi sederhana. E mail: kedokteran@ums. terutama diatur oleh pengaruh IL-2 terhadap reseptor IL-2 yang dimiliki pada permukaan selnya. Selain itu. yaitu 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Akhir-akhir ini semakin banyak masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif karena harganya yang relatif murah dan manfaatnya memuaskan (Hartati. Saifulhaq M.2 ml/day (± 35 ìg extract). sedangkan pada kulit buahnya terkandung zat flavanoid. 2000) Lien merupakan salah satu organ limfoid sekunder yang di dalamnya terdapat limfosit T maupun limfosit B.

Tahun 2009 .2 ml/sonde/hari Perlakuan 2 (P2): diberi ekstrak mahkota dewa 0.5 19 16 16.5 16.8 ml/sonde/hari Perlakuan 4 (P4): diberi ekstrak mahkota dewa 1.5 27 22 20. serta antar kelompok perlakuan. masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor. lalu dibuat persentasenya. yaitu uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney U. Nomor 2.34 P4 20 12.5 12.23 P1 39.33 diberi ekstrak mahkota dewa 0. Perlakuan 3 (P3): P2 26. 1 Grafik rerata jumlah limfoblas 34 Biomedika. Sampel penelitian diambil secara acak (random) dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi sebagai berikut: mencit strain BALB/C jantan.6 + 6. Nilai signifikasi pada penelitian ini adalah apabila variabel yang dianalisis memiliki nilai p < 0. Setelah itu.8 + 4.5 36. Hasil Penelitian Hasil persentase jumlah limfoblas dalam 200 sel (limfosit dan limfoblas) semua kelompok ditampilkan pada Tabel 1 dan Gambar 1.5 15.5 Gambar.4 + 4. Mencit BALB/C sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok.kelompok perlakuan dan kontrol. Volume 1.5 41 33 37. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 5 ekor per kelompok.8 + 3.05. Lima kelompok mencit tersebut adalah : Kontrol (K) : diberi aquades namun tidak diberi ekstrak mahkota dewa.22 P3 20.11 24. umur 8 minggu.4 ml/sonde/hari Tabel. Tiap kelompok mencit mendapatkan pakan standar dan minum yang sama secara ad libitum. Analisa statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik.1 Persentase jumlah limfoblas semua kelompok mencit No 1 2 3 4 5 Rerata + SD K 23.5 26 14 10.5 14 16.5 + 4.5 10 13.5 28 15. setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu.5 31. Perlakuan 1 (P1): diberi ekstrak mahkota dewa 0. Sehingga jumlah total sampel sebanyak 25 ekor.5 ml/sonde/hari Mencit dibunuh untuk dilakukan pengambilan/isolasi splenosit (lien). dilakuk an pemeriksaan limfosit dengan menghitung jumlah limfoblas dalam 200 sel dari tiap preparat. dan sehat.

Dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kelompok P3 dan P4.8 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol tidak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0. Sedangkan kelompok K tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4. menyebutkan bahwa senyawa flavonoid selain mempunyai efek imunostimulan juga memiliki efek imunosupresan.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.009).917).Dari Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase jumlah limfoblas pada kelompok P1 lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. maupun P4. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. antara kelompok yang diberikan ekstrak mahkota dewa 0.10 Adanya efek sitotoksik dan imunosupresan memungkinkan terjadinya hambatan terhadap proliferasi limfosit pada batas dosis tertentu.917 Selanjutnya pada uji Mann Whitney U (Tabel 2) dapat dilihat bahwa jumlah limfoblas pada kelompok K dibanding dengan kelompok P3 (p=0.009) dan P2 (p=0. dan P4 ( masing-masing p=0. Demikian juga antara kelompok yang diberi ekstrak mahkota dewa 0. Demikian juga antara kelompok yang mendapat ekstrak mahkota dewa 1.9 Middleton et al.028).917).675) tidak terdapat perbedaan yang bermakna. 2 Nilai p dari uji statistik Mann Whitney U jumlah limfoblas K 0. Tabel. Namun.675 P1 0. khususnya terhadap berbagai organ vital serta penelitian lebih lanjut untuk penggunaannya pada manusia sehat. Sedangkan pada kelompok lainnya didapatkan perbedaan yang bermakna.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0. Uji Kruskal Wallis didapatkan hasil p=0. 35 .002 (p<0.4 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol.675).2 ml/hari selama 2 minggu dibanding dengan kelompok kontrol yang tidak diberi ekstrak didapatkan perbedaan jumlah limfoblas yang bermakna (p=0. Menurut penelitian Jiao et al.012) dan P4 (0.917) maupun dengan kelompok P4 (p=0.009). P3. Sedangkan kelompok P2 lebih besar dibandingkan dengan kelompok K.5 ml/hari selama 2 minggu dengan kelompok kontrol (p=0. Saran Perlu dilakuk an penelitian yang menghubungkan tingkat toksisitas buah mahkota dewa dengan dosis ekstrak yang diberikan.028* 0. Selain itu. yaitu antara kelompok K dengan P1 (p=0.009* 0.028* 0.917 0. Begitu juga antara kelompok P3 dengan kelompok P4 (p=0. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C M. Pembahasan Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok mencit yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.028).028). perbedaan bermakna juga didapat antara kelompok P2 dengan P3 (p=0. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pemberian ekstrak buah mahkota dewa didapatkan peningkatan proliferasi limfosit lien yang bermakna pada mencit BALB/C kelompok P1 dan P2.05) yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna.5 Hal inilah yang mungkin menyebabkan peningkatan jumlah limfoblas secara bermakna antara kelompok perlakuan yang diberi ekstrak mahkota dewa 0.009* P2 P3 P1 P2 P3 P4 * Bermakna 0. P3. Saifulhaq M.012* 0. Hartati dkk (2002) membuktikan bahwa dalam mahkota dewa terdapat senyawa Phalerin yang mempunyai efek sitotoksik.009* 0. disebutkan bahwa senyawa flavonoid meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit.2 ml/hari dan 0. juga antara kelompok P1 dengan kelompok P2.8 ml/hari dan 1.009* 0.

ncbi. WB Saunders. Pharmacological Reviews. Jakarta Winarto W. Diakses 20 Juni 2003 Weir DM. 2000.tempointeraktif.nlm. Diakses 20 Oktober 2002 Middleton E. a new benzophenoic glucoside isolated from the methanol ectract of mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff ). In: Cellular and molecular immunology. and cancer. Efek sitotoksik ekstrak buah dan daun mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Sceff) Boerl.) toksisitas. Penebar Swadaya. Pober JS. Yux.] leaves. 1997.htm. Jakarta 36 Biomedika. M Sonlimar. Boerl. Jakarta. Sumastuti R. 116-35. Wen J.15 Jiao Y. Gandjar IG. Lichtman AH. Baratawidjaja K.Accessed Juny 20. 1990. P. Cetakan 1. Alih Bahasa: Suryawidjaja. Volume 1.mahkotadewa. From : http://www.52 (4): 673-751 Sepgana S. 1988. Jakarta Hartati MS. 2005. Skrining fitokimia dan asam fenolat daun dewa/Gynura procumbens (Lour.gov/pubmed. Simposium penelitian Tumbuhan obat III. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff ) Boerl.com/VPC/vivi.P.] terhadap sel hela. Tahun 2009 . efek antioksidan dan efek antikanker berdasarkan uji penapisan farmakologi. 2003 Lisdawati V.Daftar Pustaka Abbas A. Theoharides TC. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Majalah farmasi Indonesia. 3rd ed. Mahkota dewa budi daya dan pemanfaatan untuk obat. Ganthina. Antigen presentation and cell antigen recognition. Philadelphia. heart disease.) merr. Available at: URL:http://www. 2000. Kandaswami C. Segi praktis imunologi. Rao KV. Mubarika S.nih.asp?file=art-3. Influence of flavanoid of Astragalus membranaceus's stam and leaves on the function of cell mediated immunity in mice. Hamann MT. Wahyuono S. Imunologi dasar. Nomor 2. Phalerin. Available at: URL:http://www.com/medika/online/i ndex-isi. The effects of plant flavonoids on mammalian cells:implications for inflammation. JE. Iwang S. Universitas Indonesia. Ed 4. Binarupa Aksara. 2003.

Fakultas Kedokteran. Material dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakuk an adalah eksperimental murni (Murti. Pada obesitas terjadi akumulasi energi tubuh yang berlebihan dalam bentuk trigliserida (Gibney. ekor. Dengan penggunaan kitosan yang merupakan hasil olahan dari udang tersebut. dan mengurangi estetika lingkungan (Manjang. kitosan potensial untuk dijadikan sebagai obat penurun lemak (Rismana. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi. chitosan is able to decrease the triglyceride plasma level of white mouse (Rattus norvegicus) in second week. 2004). 4500 mg. 2002). bersifat non toksik. 1993). The results showed that positive control group with all the variations dose chitosan is not different (ñ>0. 2004). Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat ini. ekor. Hal ini berarti bahwa kepala. Budidaya udang di Indonesia telah berkembang pesat. Dan bagaimana efektivitas variasi dosis kitosan terhadap penurunan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih. and 5500 mg group. triglyceride.Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) M. This study aims to determine the effect chitosan to the triglyceride plasma level of white mouse. so capable of preventing absorption body fat. 2006). menimbulkan bau. 2006). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih: M. Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan. strain Wistar. kitosan tidak dapat dicerna sehingga tidak memiliki nilai kalori. The sample consists of a negative control group. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang telah dibuang kepala. and have power fastening fat is higher than other fibers. chitosan dose of 3500 mg. dan biodegradabel (Shepherd dkk. Nurina Risanty 37 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) . Shoim Dasuki. Sifat kitosan yang lain adalah mempunyai daya pengikatan lemak yang lebih tinggi dibandingkan serat lain sehingga mampu menghambat absorpsi lemak tubuh (Silvani. This study is laboratory experimental. maka diharapkan dapat turut membantu menanggulangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang. Nurina Risanty E mail: m_shoim@ums. Dalam penelitian ini. are non-toxic. The effective dose is the 3500 mg. dan kulitnya. Shoim Dasuki. penulis ingin meneliti apakah kitosan olahan kulit udang putih mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida plasma setelah pemberian lemak pada hewan coba tikus putih.ac. Seperti serat tanaman. pembuatan k itosan banyak diusahakan masyarakat dengan menggunakan cangkang Crustaceae sp yang merupakan sumber utama zat kitin (Schiller dkk. 2. whereas the negative control treatment with all groups is different (ñ<0. Laboratorium Biomedik III. positive control group (Simvastatin). berumur kira-kira 2 bulan dengan berat badan antara 100 200 gram.05). Limbah udang tesebut dapat menjadi masalah pencemaran lingkungan. Cara yang efektif untuk mengurangi kandungan kalori dari suatu diet menurunkan asupan lemak (Wardlaw dan Smith. biodegradable. The conclusion. Subjek Penelitian 1. plasma of white mouse (Rattus norvegicus) Pendahuluan Salah satu penyebab obesitas yang saat ini dianggap sebagai penyakit kronis dunia modern adalah hasil dari pilihan gaya hidup yang banyak mengonsumsi lemak berlebihan dan sedikit olahraga.05). 2001). Keywords: chitosan. Banyaknya sampel 25 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. (Nammi dkk. Dengan demikian. 1997). Kitosan olahan kulit udang putih adalah senyawa alami (aminopolisakarida) yang diperoleh melalui proses deasetilasi basa pada kitin. dan kulit udang menjadi limbah. 2001).id Abstract Chitosan is a natural compound (aminopolysaccharide) earned through a process deacetylation base on chitin derived from processed shrimp white skin.

mulai minggu ke1 hingga minggu ke-2. tidak diberi kitosan : kelompok kontrol positif. Selanjutnya perlakuan terhadap tikus diberikan pada kelompok 1 hingga 5 mulai dari minggu pertama perlakuan hingga minggu ke empat. Variabel luar : a. diberi obat antilipidemia Simvastatin : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 3500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 4500 mg/hari : kelompok perlakuan dengan dosis kitosan 5500 mg/hari : Identifikasi Variabel Penelitian 1. genetik. didapatkan data yang dapat dilihat pada tabel 2. Kadar trigliserida pada kelompok 1 hingga 5 saat minggu ke 1 hingga minggu ke-4 terus meningkat.05) terhadap berat badan tikus antara kelompok 1 hingga kelompok 5. Variabel terikat : Kadar trigliserida plasma tikus putih. kelompok 3 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 3500 mg. Tahun 2009 . Untuk mengetahui perubahan kadar trigliserid dilakukan perhitungan selisih dari waktu ke waktu. Dapat dikendalikan : makanan.05. Masing-masing kelompok berisi lima ekor tikus. kelompok 2 merupakan kelompok kontrol positif. berumur kira-kira 3 bulan. Variabel bebas : Kitosan 2. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik III. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 25 ekor dari strain yang sama yaitu wistar. kelompok 4 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 4500 mg. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok. Tingkat probalitas dari dua kelompok tikus dapat dilihat pada tabel 2. Data yang didapat dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dengan derajat kemaknaan p = 0. Dari uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji M a n n W h i t n e y U. u n t u k m e l i h a t d a n membandingkan penurunan kadar trigliserid antara dua kelompok perlakuan. Pada minggu ke 4 trigliserid turun.Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V kelompok kontrol negatif. Dari perhitungan tersebut. kemudian kadar trigliserida plasma diukur dan didapatkan hasil yang dapat dilihat pada gambar 1. Semua tikus putih ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan penelitian untuk menentukan dosis lemak kambing dan kitosan yang diberikan. Rata-rata berat badan tikus dapat dilihat pada Tabel 1. Dari uji tersebut didapatkan hasil p=0.068 berarti tidak ada perbedaan bermakna (p>0. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol negatif. 3. Fakultas Kedokteran UMS pada bulan Maret Mei 2009. kecuali pada kelompok 1 (kontrol -). Hasil penimbangan berat badan tikus dianalisa secara statistik dan didapatkan rata-rata berat badan tikus. Nomor 2. Volume 1. Setiap kelompok ditempatkan pada kandang yang berbeda dan mempunyai faktor lingkungan (suhu dan kelembapan) yang sama agar faktorfaktor luar yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat ditekan seminimal mungkin. kelompok 5 merupakan tikus dengan perlakuan dosis kitosan 5500 mg. Berdasarkan data di atas kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis antara kelompok 1 hingga kelompok 5. 38 Biomedika. b Tidak dapat dikendalikan :gangguan fungsi empedu dan lipase.

05 0.05 0. Kelompok Kelompok + KontrolKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg KelompokKitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 3500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 4500 mg Kitosan dosis 5500 mg Kitosan dosis 5500 mg N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Median 0.231 0.009 0.Tabel 1.05 0.05 0.05 Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 39 .009 0. Hasil uji Mann Whitney U.4 KELOMPOK IV KONTROL (-) 146 119 123 148 145 136.833 0.2 KELOMPOK V KONTROL (+) 142 152 150 156 145 149 Gambar 1.05 0.009 0.009 0.05 0.05 0.140 0.201 0.05 0.4 KELOMPOK III (KITOSAN 5500 MG) 130 147 123 129 133 132. Perubahan trigliserida dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4 Tabel 2. Rata-rata berat badan tikus putih sebelum perlakuan KELOMPOK I NO (KITOSAN 3500 MG) 1 120 2 168 3 158 4 156 5 168 RATA2 154 KELOMPOK II (KITOSAN 4500 MG) 135 153 156 165 143 150.156 p 0.05 0.108 0.

2.Pembahasan Dari hasil statistik menggunakan uji Kruskal Wallis terhadap berat badan tikus sebelum perlakuan didapatkan hasil p= 0.. Oxford: Blackwell Science. Linder. P. Dosis kitosan yang disarankan untuk aplikasi klinis adalah dosis terkecil. Hirano. J. D. 2000. 2004. Metodologi Penelitian. Vorster. Introduction to Human Nutrition. Jakarta: EGC. Guyton. Biokimia Harper. 2002. William F. Murti. 2000. Simpulan dan Saran Simpulan 1. D. A. L. 4th ed. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 4500 tidak terdapat perbedaan. Jogjakarta: PT. Jakarta: EGC. Mayes. Oxford: Blackwell Science. dosis kitosan 3500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan.. Oxford: Blackwell Science.068. Jogjakarta: UGM press. 3. Human Anatomy and Physiology. 2006. Antara kelompok dengan berbagai dosis kitosan yang diberikan dan perlakuan dengan simvastatin sama-sama terdapat penurunan yang signifikan. Berdasararkan data penelitian. Kitosan. Principles of Human Nutrition. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Hal ini dilakukan agar faktor gizi tidak mempengaruhi hasil penelitian. Buku Ajar Fisiologi Gybney. 4500 mg.H. Dian Rakyat. 2003. Hall. R. Tahun 2009 .. 5500 mg dapat menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). dilakukan pemeriksaan terhadap kadar trigliserida plasma plasma pada minggu ke-1 hingga ke-4.05) antara masingmasing kelompok. 1993. 1997. E. Eastwood. Biomedika. Dari hasil uji tersebut. Prosiding Kitin and Kitosan. Moran. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Marks. G. kontrol negatif dengan kontrol positif terdapat perbedaan... Koolman. Horton. 2002. K. Kedokteran. Dari data yang didapat. 1996. M. Jakarta: EGC.. dosis kitosan 4500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan.E. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis lemak yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan efek kitosan terhadap jenis lemak yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium murni sehingga setelah tikus putih diberi perlakuan. Atlas Berwarna dan Teks Biokimia. The Epidemic of Obesity. 2.C. Jakarta: Hipokrates. Rohm. 2003. 1998. dosis kitosan 3500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. 3. H. dosis kitosan 5500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. Oxford: Blackwell Science Hardjito.D.A. Kok. yakni dosis 3500 mg 40 yang sudah mampu menurunkan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus). M.B. Dan Marks. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini kitosan d e n g a n b e r b a g a i d o s i s m e m i k l i k i e fe k menghambat absorbsi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus). J. Jepang: Sukito. F. Principles of Biochemistry. A.C. Ganong. 2000. S. Marieb. California: Benjamin Science Publishing. L. K. Perubahan kadar kadar trigliserid dosis kitosan 3500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. 1998. 2002.J.H. Limbah Udang. berarti tidak ada perbedaan bermakna (p> 0. Daftar Pustaka Bray. Kitosan mampu menurunkan kadar trigliserid plasma tikus putih (Rattus norvegicus) mulai minggu kedua setelah perlakuan. Volume 1. Macdiarmid. Manjang. dosis kitosan 5500 dengan kontrol negatif terdapat perbedaan. dosis kitosan 4500 dengan dosis kitosan 5500 tidak terdapat perbedaan. perbadaan kadar trigliserid plasma pada kelompok 1 sebagai kontrol negatif dengan semua kelompok terdapat perbedaan yang signifikan.J. Kitosan dengan dosis 3500 mg. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang lebih besar agar lebih mewakili populasi. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek kitosan terhadap kadar trigliserid plasma pada hewan coba yang lain. Bogor: IPB. Nomor 2. Saran 1. Jakarta: EGC. dosis kitosan 4500 dengan kontrol positif tidak terdapat perbedaan. dilakukan perhitungan selisih kadar trigliserida masing-masing kelompok dari minggu ke minggu dengan melakukan uji Mann Whitney U. Jakarta: UI-Press.A. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis.

The Potention of Shrimp Shell. Surakarta: Media Press. Jakarta: Dian Rakyat. Hamid. Boston: McGraw Hill. John E. 2000.H. Wardlaw.D. U. 2001. Petter A. M. R. Olefsky. U.. J. Potensi Kitosan sebagai Produk Olahan Limbah Industri Udang di Bidang Kesehatan. dan Ambar Sulistyawan. 1998. Sodeman. Nammi. Boston: Science Press. M. Potofisiologi Kedokteran. Surakarta.D. Oxford: Blackwell Science. Karya Tulis Mahasiswa UMS. Chitin and Chitinase. Sheperd. Dietary Suplement for Body-Weight Reduction. Imam Prayitno. Pittler. 2006. Reader. Contemporary Nutrition. Karya Tulis Mahasiswa UMS.M. Hidup Sehat di Era Millenium. Oxford: Blackwell Science... Potensi Kitosan Di Berbagai Bidang. Harrison Principles of Internal Medicine. A. 1999. Smith. 1997. Schiller. Surakarta. P. Chitosan Funtional Properties. Sediaoetama.A. A. Rismana. Silvani.. 2000. Kristianto.M. 2001. Oxford: Pergamon press. R.A. Jakarta: EGC.Muzarelli. G.. Pengaruh Kitosan Olahan Kulit Udang Putih terhadap Penurunan Kadar Trigliserida Plasma Tikus Putih (Rattus norvegicus) Nurina Risanty 41 . 2004. 1995. S. 2006. Ilmu Gizi I. Boston: McGraw Hill..

Tahun 2009 . Volume 1. Nomor 2.42 Biomedika.

com Abstract Cocor Bebek leaves (Kalanchoe pinnata) contains cinamic acid. escherichia coli Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang dapat diolah menjadi berbagai macam obat. The researcher uses an empty oxoid disk as a negative control. Tanaman ini terkenal dik arenak an cara Ratih P. 40%. In conclusion. antibacteria.05) from the positive and negative controls.Farland. an amoxicillin antibiotic disk on Staphylococcus aureus and a chloramphenicol on Escherichia coli as a positive control. The result is that on the degrees of 80% and 100%. 2004). flavonoid. promotif dan rehabilitasi. the researcher analyzes the data using Mann-Whitney Non Parametry Test.2411 tanggal 17 Mei 2004).Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalancho e pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih Pramuningtyas. staphylococcus aureus. alphatocopherol dan bufadienolide acid which are presumably able to impede a bacterial growth so that the ethanol extract of cocor bebek leaves are indicated having an antimicrobe effect. The research is laboratory experimental with the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) as the research subject. Namun selain keuntungan yang dimilikinya. Staphylococcus aureus bacteria has a significant difference (p<0.. 43 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro . The first step is standardizing each of 24 hours-aged Staphylococcus aureus dan Escherichia coli on BAP and Mc.5 Mc. melainkan juga digunakan dalam fase preventif. bahan baku belum terstandar. Rahadiyan W.4. ekonomis. obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis. E mail: pramuningtyas_dr@yahoo.B. HK. then smearing using a sterile cotton-rid on Muller Hinton media.00. Rahadiyan W. Obat-obatan tradisional tersebut tidak hanya digunakan dalam fase pengobatan saja. dan menurut penelitian memiliki efek samping relatif rendah serta adanya kandungan yang berbeda yang memiliki efek saling mendukung secara sinergis. 60%. Salah satu dari keanekaragaman hayati yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional adalah cocor bebek (Kalanchoe pinnata) Tanaman ini termasuk tanaman sukulen (mengandung air) yang berasal dari Madagaskar. Sejak ribuan tahun yang lalu. Keywords: ethanol extract. while the researcher also places the oxoid disk containing the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) with 20%. This research purposes to find out the existence and nonexistence of the impeding power of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacterias growth. Then the researcher measures the impeding zone which is formed after the incubation on 370°C for 1x24 hours. belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme serta adanya potensi toksisitas oleh toksik endogen yang terkandung didalamnya (Katno. Conkey medias in the standard of 0. bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan seperti: efek farmakologisnya yang lemah. After that.B. sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. cocor bebek leaves (kalanchoe pinnata). Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. 80% and 100% concentrations on the top of the plates. this research proves the existence of the antibacteria effect of the ethanol extract of cocor bebek leaves (Kalanchoe pinnata) on the Staphylococcus aureus growth in the concentrations of 80% and 100% and the nonexistence of the antibacteria effect on the Escherichia coli growth. Bacterias which are used are Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 11229. Menurut penelitian obat-obatan tersebut banyak digunakan karena keberadaannya yang mudah didapat.05. The research method is Kirby Bauer by using an oxoid disk. obat-obatan tradisional telah banyak digunakan dan menjadi budaya di Indonesia dalam bentuk ramuan jamu.

NaCl fisiologis. antitumor. Ambil 1 ose bakteri dari koloni kuman untuk masing-masing spesies kuman untuk kemudian masing-masing ditanam pada 0. 40% dan 20% di laboratorium Farmakologi FK UMS. Standar 0. 2001). Bahan Bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut : a. disk antibiotik amoksisilin 20 µg. Persiapan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata Dilakukan proses pembuatan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata melalui metode maserasi sehingga didapatkan ekstrak etanol Kalanchoe pinnata dengan konsentransi 100%. tabung reaksi . b. plat diameter 15 cm. dikocok sampai homogen untuk kemudian bandingkan dengan suspensi 0. c. Eramkan selama 24 jam pada suhu 37°C hingga didapatkan koloni kuman. pencegah kanker. 60%. Persiapan suspensi bakteri Ambil 1 ose bakteri dari biakan dan tanam pada media Mc. 6. Alat uji aktivitas bakteri : Ose kolong. 5. Persiapan alat uji aktivitas antibakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. 2005).Farland (108CFU/ml). Bufadienolides pada Kalanchoe pinnata memiliki potensi untuk digunakan sebagai antibakteri. inkubator. Nutrient Agar Plate.1968). BHI. Instrumen Instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Pada uji aktivitas bakteri ini digunakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri kokus gram positif (+) dan Escherichia coli yang merupakan bakteri batang gram negatif (-) (Jawetz et al.5 ml media BHI cair dan dieramkan selama 5-8 jam pada suhu 37°C. BAP.5 Mc. steroid dan lipid.reproduksinya melalui tunas daun (tunas adventif ). glikosida. Tahun 2009 . maka untuk membuktikan hal tersebut.5 Mc. 3. Alat ekstraksi : Blender. d. aquades. Selanjutnya rendam cakram kosong pada masing-masing konsentrasi ekstrak etanol Kalanchoe pinnata selama 15 menit. Farland. dioleskan pada agar Muller Hilton dan diratakan. Bahan uji aktivitas antibakteri : Media Muller Hinton. Biakan bakteri : Staphylococcus aureus ATCC 6538. Pelaksanaan uji antibakteri Siapkan 2 plat media Muller Hilton yang kemudian pada plate pertama diolesi secara Biomedika. disk oksoid kosong. Bakteri diambil dengan kapas lidi steril. autoklaf . alkohol 70%. Nomor 2. Determinasi tanaman Untuk memastikan bahan yang akan dijadikan bahan ekstrak adalah tanaman Kalanchoe 44 2. Bahan penyari : Etanol 70%. Siapkan 2 ml NaCl fisiologis steril dalam tabung reaksi. 4. Sehubungan dengan adanya indikasi ekstrak daun Kalanchoe pinnata mempunyai daya anti bakteri. aquades steril. Material dan Desain Penelitian Penelitian ini merupak an penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test design only karena peneliti memberi pelakuan terhadap subjek dan mengevaluasi hasil akhirnya. alat timbang. seperangkat alat maserasi. Bahan utama berupa daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata). 80%. tabung reaksi. Volume 1. Kemudian ambil beberapa ose bakteri Staphylococcus aureus dari biakan dan masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi NaCl fisiologis. Sedangkan pada daunnya terkandung senyawa kimia yang disebut bufadienolides. penangas air b. Kalanchoe kaya akan kandungan alkaloid.Conkey (Escherichia coli) dan media agar darah (Staphylococcus aureus). perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak tanaman tersebut. Persiapan kontrol positif dan kontrol negatif Untuk kontrol positif terhadap kuman gram positif Staphylococcus aureus digunakan cakram amoksisilin 20 µg sedangkan kontrol positif terhadap kuman gram negatif Escherichia coli digunakan cakram kloramfenikol 30 µg. flavonoid. disk antibiotik kloramfenikol 30 µg. 2. triterpenes. Cara Kerja 1. pinnata maka dilakukan determiansi tanaman di laboratorium Biologi FKIP UMS dengan menggunakan bahan acuan “Flora of Java” (Backer . Instrumentasi 1. dan insektisida (Lana. Lakukan hal serupa pada biakan Escherichia coli. Escherichia coli ATCC 11229 . Untuk kontrol negatif digunakan cakram kosong yang telah direndam dalam larutan akuades.

10b. 287b => Familia : Crassulaceae. Untuk plate yang kedua diolesi secara merata dengan bakteri Escherichia coli yang telah dibandingkan dengan standart 0.5 4 4. 6b.5 9 9.8 4. 1 ==> Genus : Kalanchoe 1 ==> Spesies : Kalanchoe pinnata L (Van Steenis. 4b.B. 11b. 1988) B. 13b.7 10. 45 .1 80% 5. 20%. Farland. Rahadiyan W.5 Mc. Hasil Penelitian Penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli diperoleh hasil sebagai berikut.06 39. Hasil Determinasi Telah dilakukan determinasi tanaman yang dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS dengan menggunakan sampel tanaman yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan ekstrak.5 5. kontrol positif dan kontrol negatif. 3b.8 37. 16b. 60%.2 36.1 3 10.Farland.6 5. 40%.5 4 4. 286a.merata dengan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dibandingkan dengan standar 0.3 5. Tabel 1: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe Staphylococcus aureus (mm) Replikasi Staphylococcus aureus 1 2 3 4 5 Órata-rata 0% 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4. Replikasi Uji antibakteri ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dilakukan sebanyak 5 kali ulangan sesuai dengan perhitungan dengan menggunakan rumus estimasi besar sampel. 7. Selanjutnya inkubasi plate pada suhu 37°C selama 18-24 jam. 14b. 2b.. 80%.5 6 100% 5.3 4 5.2 5. 2003. 7b. 12b. Kemudian pada masing-masing plate diletakkan disk yang telah mengandung ekstrak etanol daun Kalanchoe pinnata 100%.6 33. Hasil tes terhadap biakan Staphylococcus aureus Hasil determinasi tersebut memiliki kunci determinasi : 1b. Hasil Penelitian A. Tjitrosoepomo.5 34.1 pinnata) terhadap Amoksisilin 8 7. Atur jarak antar cakram sedemikian rupa agar tidak terlalu berdekatan.5 4 4 4.14 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dalam satuan milimeter (mm).5 Mc.

05 maka dapat disimpulkan bahwa varian yang ada adalah tidak homogen. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol negatif (-) digunakan untuk menilai daya hambat antibakteri secara statistik. • Uji Non Parametri Mann-Whitney Untuk mencari data mana yang berbeda secara bermakna maka dilakukan uji Non Parametri Mann-Whitney. Sig) = 0.317 0. Oleh karena p < 0.05. 45.005.6 mm.000. dan diperoleh hasil sebagai berikut : • Tes homogenitas varians Hasil analisis menunjukkan Levene Test hitung = 9. Tahun 2009 .6 mm. Nomor 2. Sig) = 0. Sig) 0.120 ternyata memiliki p (sig) = 0. Data tersebut kemudian dianalisis pada á = 0. • Uji Anova Dikarenakan varian data yang ada tidak homogen maka uji Anova tidak dapat dilakukan. Pada uji ini didapatkan p (Asymp. • Uji Non Parametri Kruskall-Wallis Untuk menilai data secara statistik maka kemudian data diolah dengan uji Non Parametri Krusk all-Wallis.054 0. 1 2 3 4 5 Pembagian kelompok N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 P (Asymp. Didapatkan pada konsentrasi 80% nilai p (Asymp.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar varian data.005 0. karena salah satu syarat untuk dapat 46 dilakukannya uji Anova adalah varian harus bersifat homogen.018 dan pada konsentrasi 100% nilai p = 0.Grafik 1 : daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Staphylococcus aureus (mm) Tabel 2: Tes Mann-Whitney No. 51 mm dan 90.009 Kontrol (-) 40% Kontrol (-) 60% Kontrol (-) 80% Kontrol (-) 100% Kontrol (+) 100% Dari grafik dan data diatas maka dapat diketahui bahwa pada biakan I terdapat daya hambat yang dimulai dari konsentrasi ekstrak sebesar 40% dan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kadar konsentrasi ekstrak.000 Oleh karena p < 0. Kedua nilai p tersebut < 0.05 maka dapat disimpulkan Biomedika.018 0. Rerata diameter daya hambat tersebut secara berurutan dari konsentrasi ekstrak 40% hingga 100% adalah sebesar 41 mm. Volume 1.

47 . Namun demikian apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol (+) potensi daya hambat ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus masih jauh kurang efektif. Dalam hal ini berarti amoksisilin masih jauh lebih poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus bila dibandingkan daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek. Rahadiyan W. Perhitungan di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dengan kadar 80% dan 100% memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik.8 17. Hasil tes terhadap biakan Escherichia coli Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Tabel 3: daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Replikasi Escherichia coli 1 2 3 4 5 Ó rata-rata Grafik 2 : 0% 4 4 4 4 4 4 20% 4 4 4 4 4 4 40% 4 4 4 4 4 4 60% 4 4 4 4 4 4 80% 4 4 4 4 4 4 100% 4 4 4 4 4 4 Kloramfenicol 19. Oleh karena p <0.3 16.7 11.B..6 15.05 maka dapat disimpulkan bahwa potensi daya hambat antibakteri ekstrak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kontrol (+) yang berupa amoksisilin. Pada uji yang dilakukan dengan pembanding kontrol positif (+) digunakan untuk menilai besarnya potensi daya hambat antibakteri. Didapatkan pada konsentrasi dengan daya hambat tertinggi memiliki p (Asymp.0 16.08 daya hambat antimikroba ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap Escherichia coli (mm) Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro Ratih P. Sig) = 0.bahwa pada kedua konsentrasi tersebut memiliki daya hambat yang bermakna secara statistik.009.

Hal ini didukung oleh adanya pernyataan yang menyatakan bahwa cara ekstraksi dengan menggunakan etanol akan lebih banyak mengabsorbsi bahan kimia aktif dari bahan (Ansel. yaitu sebagian besar zat aktif ekstrak memiliki berat molekul (BM) tinggi sedangkan sebagian zat aktif ekstrak lainnya memiliki BM yang rendah. 60%. flavonoid dan alfatokoferol yang bekerja dengan menghambat metabolisme sel mikroba. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan Escherichia coli sebagai gram (-) lebih bersifat resisten ( Jawetz. 1988). Sebagai pembanding telah dilakuk an percobaan dengan menggunakan metode sumuran dan Pour Plate dengan menggunakan ektrak yang sama dengan konsentrasi yang sama pula yaitu 20%. Sedangkan zat aktif yang diduga memiliki daya antibakteri adalah cinamic acid yang menghambat sintesis protein mikroba.56 mm (80%) dan 9. Namun daya hambat tersebut tidaklah bermakna signifikan apabila dibandingkan diameter daya hambat yang dihasilkan amoksisilin sebagai kontrol positif. Tahun 2009 . Selaput luar Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki karakteristik yang unik dimana pada selaput itu bersifat menolak molekul hidrofobik sekaligus hidrofilik dengan baik namun di lain pihak selaput ini memiliki saluran khusus yang mengandung molekul protein yang disebut porin. Pada grafik 1 dan 2 dapat dilihat gambaran dari diameter zona hambat pertumbuhan dalam berbagai konsentrasi dan reratanya. Untuk bakteri Escherichia coli dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dengan berbagai konsentrasi tidak memiliki daya hambat sama sekali. Dikarenakan semua data yang diperoleh memiliki rerata yang tidak berbeda dari rerata variabel pembanding (kontrol negatif) maka data tersebut tidak dilanjutkan dengan penilaian data secara statistik. dan selaput luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida. serta bufadienolide yang bekerja dengan merusak asam nukleat mikroba. Hal tersebut tampak pada sifat ekstrak yang cepat mengendap apabila didiamkan. Hal tersebut dikarenakan kesemua kadar ekstrak tidak memiliki daya hambat maupun potensi terhadap biakan kuman Escherichia coli. 4. 80% dan 100%. Saluran tersebut memudahkan difusi pasif senyawa hidrofilik dengan BM rendah seperti gula dan asam amino. Hal ini menyebabkan tidak semua zat aktif terserap kedalam disk. dimana Staphylococcus aureus sebagai gram (+) memiliki 3 lapisan yaitu selaput sitoplasma. sedangkan Escherichia coli sebagai gram (-) memiliki lapisan yang lebih kompleks dan berlapis-lapis yaitu selaput sitoplasma. lapisan peptidoglikan yang tebal dan simpai.Pada data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap Escherichia coli dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dari konsentrasi 20% hingga konsentrasi 100% tidak memiliki daya hambat sama sekali terhadap biakan kuman Escherichia coli.1 mm (60%). Nomor 2. et al.6 mm (60%). Untuk bakteri Staphylococcus aureus diperoleh zona hambat dengan diameter 4 mm (20%). Pembahasan Telah dilakukan penelitian mengenai efek antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro. karena hanya zat aktif yang berada di dasar tabung yang terserap kedalam disk saat proses perendaman berlangsung. 40%. lapisan tunggal peptidoglikan. sedangkan molekul yang besar seperti molekul antibiotika dan termasuk juga molekul zat aktif ekstrak daun cocor bebek akan mengalami kesulitan bahkan gagal untuk menembusnya. 4 mm (40%). Adanya potensi kadar hambat ekstrak yang tidak bermakna bagi Staphylococcus aureus dan bahkan tidak adanya hambatan sama sekali bagi Escherichia coli dimungkinkan karena berbagai kandungan kimia daun cocor bebek sebagian 48 besar ikut terambil termasuk bahan kimia yang bersifat antagonis sehingga kandungan kimia bahan yang diharapkan mampu bersifat bakteriostatik ternetralkan.06 mm (100%). 7.8 mm (100%) pada biakan Staphylococcus aureus. Percobaan tersebut juga dilakukan baik terhadap biakan kuman Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 dan hasil yang diperoleh adalah terbentuk zona hambat dengan diameter 5. namun pada biakan Escherichia coli tetap tidak ditemukan zona hambat sama sekali. Adanya perbedaan dalam hal zona hambat yang dihasilkan antara bakteri Staphylococcus aureus gram (+) dengan bakteri Escherichia coli gram (-) dikarenakan adanya perbedaan komponen pada dinding sel kedua bakteri tersebut.2 mm (80%) dan 8. Biomedika. 4. Kemungkinan yang lainnya adalah sifat ekstrak itu sendiri yang tidak homogen. Volume 1. 2001).

http://www. Hanya saja dibandingkan daya hambat yang dihasilkan oleh infusa daun cocor bebek. Jogjakarta: Penerbit FK UGM Bonang.ioc. dari penelitian yang telah dilakukan oleh B. 2008.100% terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus namun potensi antibakterinya tidak signifikan apabila dibandingkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positifnya.unpad Ratih P. Jawetz . J. G. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat Tradisional. Jakarta: PT. E. 2. M. Mikrobiologi Kedokteran. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jenis ekstrak tumbuhan yang berbeda sehingga dapat diketahui ada tidaknya efek antibakteri pada kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli tersebut.G. Koeswardono. FKIP UMS. Jogjakarta: Fakultas Farmasi UGM.C. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Edisi Revisi.. 1999. 2001. 1997. 16 (4). S. Pendidikan Biologi. Seri 3. A. Daftar Pustaka Almeida. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Saran 1. Niaga Swadaya: 94-5 Hidayati. et al. Niaga Swadaya: 139-42 Da-Silva. 1988. daya hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun cocor bebek bersifat lebih rendah.Penelitian ini seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Nur Hidayati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS tentang infusa daun cocor bebek yang memiliki daya hambat yang signifik an terhadap Staphylococcus aureus dari kadar infusa 20% 100% namun tetap tidak signifikan bagi Shigella dysentriae.scielo. Tumbuhan Obat & Khasiatnya. sedangk an terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ekstrak daun cocor bebek mulai dari kadar 20% . 211-7.br Bagian Mikrobiologi. Department of Biological Sciences. Arief. a minor substance from the leaves of Kalanchoe pinnata (Crassulaceae). Setiawan. 234-48.org. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak etanol daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya. Katno. 2003.fiocruz. Rev.. Melnick. Penerjemah Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.br Hariana. maka dapat diambil simpulan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dimulai dari kadar 40% .F. Jilid I. 2006.. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya antibakteri daun cocor bebek yang paling maksimal dapat diperoleh dari infusanya. http://www. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.. 2006. Mikrobiologi Kedokteran. et al. Jakarta: Salemba Medika: 15-23. 2000. http://hpt.O. Siti Nur.A. 1994. Edisi 22. 2005.P. H. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai efek daun cocor bebek terhadap biakan kuman lainnya dengan menggunakan cara ekstraksi yang berbeda. Jakarta: Gramedia: 107-109 Dalimarta. Muthuvelan dan R. University of Ilorin. 1996. 1-octen-3-O-a-Larabinopyranosyl-b-glucopyranoside.L. Jakarta : UI press: 607-15 Atata. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. 49 Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Atcc 6538 dan Escherichia coli Atcc 11229 Secara Invitro .br Ansel. Effect of Stem Bark Extracts of Enantia chloranta on Some Clinical Isolates. Instituto de Biofísica and Núcleo de Pesquisas d e P r o d u t o s N a t u r a i s U F R J . Selain itu. Lana.100% sama sekali tidak memiliki daya hambat. Rahadiyan W.memorias. Uji Antibakteri Ekstrak Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae. Chemical isolation of an apolar antileishmanial and lymphocytesuppressive substance present in the plant Kalanchoe pinnata. Adelberg. Toksisitas Fraksi Etil Asetat Daun Cocor Bebek Kalanchoe daigremontiana Hamet & Perrier. Jakarta: PT. Bras.bioline.S. Alhassan Sani et al. 3. Skripsi. Balaji Raja yang dimuat dalam Jurnal Mikrobiologi dan Biotehnologi SpringerLink didapatkan bahwa ekstrak diethyl ether dari daun cocor bebek tidak memiliki daya hambat yang signifikan sedangkan pada ekstrak kloroform dan heksan dari daun cocor bebek sama sekali tidak memiliki daya hambat pada biakan koloni bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Simpulan dan Saran Simpulan Dari hasil penelitian tentang uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 11229 secara invitro.B. Pinheiro. Ana. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. Nigeria. Muzitano. R. 2008. Jakarta: Binarupa Aksara: 10463 Bagian Mikrobiologi. Farmacogn. http://www. Pramono S.

G. Volume 1.com 50 Biomedika. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Setiabudy. Hembing. Senyawa Obat Buku Pelajaran Kimia Farmasi. R.ID Priyatno. 2005. 1998. Alfabeta Taylor. 2004. Bodeker.quelab. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).. Bandung: CV. Robert J. Tahun 2009 . 1999. Nomor 2.com ( 4 Agustus 2008) Wijayakusuma. 2nd edition. 2001. Obat Tradisional : Cocor bebek (Kalanchoe pinnata). Duwi.S. W. Merlin L.. Cheryl A. New Jersey : Prentice Hall: 239. 8th Edition. 2006.Lans. Philadelphia: A Lange Medical Books: 91-102. http://www. http://rain-tree.PDPERSI.G. K. http://www. 2008.com Levinson. Mayer. 314-5. http://www. Medical Microbiology and Immunology Examinationand Board Review. Mc Farland Standar t. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. Mandiri Belajar SPSS.USDA. http://www. 1993. B. Raja.BMJ. H. 1995. Studies on the efficiency of different extraction procedures on the anti microbial activity of selected medicinal plants. Vincent. Organic Chemistry: A Brief Introduction. Plants Profile : Kalanchoe pinnata. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press: 192-3 United States Department of Agriculture. 2008. World J Microbiol Biotechnol 24: 283742.ethnobiomed. 2005. Edisi 2 diperbarui. R. 115-32 Muthuvelan.com Tjitrosoepomo. Leslie.. Edisi 4 (dengan perbaikan). Niaga Swadaya: 45 Willcox .com Ouellette. Traditional Herbal Medicines for Malaria. Statistik untuk Penelitian. Database File for Kalanchoe..springerlink. Jakarta: PT. Atasi Asam Urat & Rematik ala Hembing. et al. Farmakologi dan Terapi. 380-3 PDPERSI. http://www. Warren.. http://www.com Schunack. Ethnomedicines used in Trinidad and Tobago for urinary problems and diabetes mellitus. 1990. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 571-83 Sugiyono. Jakarta: MediaKom Quelab.CO. 2003. Gembong. 2005.

Format naskah kajian pustaka. hasil penelitian. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto semuanya dilampirkan terpisah dari naskah. serta manfaat penelitian 3. dibuat singkat bersifat informatif. bawah. kajian pustaka. Abstrak ditulis dalam 1 paragraf. sekretariat Biomedika lantai 2. Dalam hal perubahan ringan bisa dilakukan oleh dewan redaksi. Pembahasan. dan samping masing-masing 2. tujuan. ilustrasi serta diskusi. . dan kata kunci. laporan kasus. kesimpulan. Ketentuan Lain Redaksi berhak memperbaiki susunan naskah atau bahasa tanpa mengubah isinya. Diberi nomor menurut urutan dalam naskah. Kebangkitan Nasional no 101 Penumping Surakarta. kesimpulan dan saran 6. Naskah yang telah dimuat di majalah lain tidak diperkenankan diterbitkan dalam majalah ini. Bahan/ subyek/ pasien dan cara kerja 4. sebanyak-banyaknya 350 kata.PEDOMAN BAGI PENULIS BIOMEDIKA Inf ormasi Umum Jurnal Biomedika menerima makalah ilmiah dari para staf edukatif FK UMS. batas atas. Pengiriman Berkas tulisan hendaknya dikirim rangkap dua disertai file dalam disket/CD dengan mempergunakan program Microsoft Word. dokter di seluruh Indonesia dan dari luar negeri. dan mampu menerangkan isi tulisan. para alumnus FK UMS. material dan metode penelitian. disertai keterangan yang jelas dan informatif. maksud & tujuan. Abstrak Abstrak dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. baik dokter umum maupun spesialis.5 cm. Hasil penelitian 5. masalah. terdiri sekurang-kurangnya 100 kata. Makalah dapat berupa karangan asli (penelitian. atau dalam bahasa Inggris. FK UMS Jl. Diharapkan koreksi sudah bisa dikembalikan paling lama dalam 2 minggu. ukuran 12 tidak bolak-balik dan mencantumkan alamat email penulis. Proses Review Naskah setelah dilakukan seleksi redaksional akan dikirim kepada reviewer (mitra bestari) untuk dinilai dan hasil penilaian bisa berupa: 1) Diterima tanpa perubahan. Abstrak penelitian berisi latar belakang. Daftar pustaka 8. khususnya dalam pendahuluan hendaknya memuat penjelasan problematik yang dikaji. Tabel/bagan/grafik/gambar/foto dibuat dengan jelas dan rapi. font Times New Roman. spasi dobel. Naskah penelitian (karangan asli) harus meliputi: 1. dialamatkan kepada Redaksi Biomedika. dan manfaatnya serta pembahasan dari apa yang dikaji dan diakhiri dengan kesimpulan hasil kajian. Diketik pada lembaran kertas terpisah dengan spasi ganda. Lampiran-lampiran Naskah laporan kasus memuat latar belakang/alasan pelaporan kasus. menyesuaikan. diletakkan di bawah judul 2. Rujukan dalam teks dibuat berdasarkan model Harvard. namun perubahan besar atau melengkapi kekurangan-kekurangan perlu dilakukan sendiri oleh penulis. Judul tulisan. Pendahuluan. maksud & tujuan. 3) Diterima dengan perubahanbesar. data klinis. 4) Ditolak. 2) Diterima dengan perubahan ringan. Keterangan tabel ditempatkan di atas tabel. manfaat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. maksud. nama para penulis lengkap berikut gelar beserta alamat kantor/instansi/tempat kerja lain. tidak lebih dari tiga lembar. berisi latar belakang. resensi buku dan tulisan lain dalam bidang kedokteran dan kesehatan). keterangan ditempatkan di bawah gambar/bagan. Pernyataan terima kasih (kalau ada) 7. Format Naskah Tulisan diketik pada kertas kuarto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful