Anda di halaman 1dari 9

MODEL HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KERAPATAN POHON

MANGROVE DENGAN POPULASI KEPITING (Scylla Serata)


(STUDI KASUS EKOSISTEM HUTAN MANGROVE
KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH)1
DR. ENDANG HILMI, SHUT, MSI2 DAN SUNARTO BUDI UTOYO3)

ABSTRACT

The mangrove ecosystem has functions are (1) production functions,


especially to fishery, forestry, plantation, agriculture, industry, minning and
resetelment, (2) ecology function as nursery gound, feeding ground, and spawning
ground, flora and fauna habitat. And (3) Physic functions, to minimalize effect of
aberasion, intrusion, etc. The one of functions of mangrove ecosystem is habitat of
mangrove crabs (Scylla serata).
The aim of this research is to know how relation between abundance of
mangrove tress and population of mangrove crabs.
The results of this research are (1) the tress dominace of mangrove forest
are Rhizophora apiculata Bl Rhizophora mucronata Lamk Bruguiera
gymnorrhiza (L.) Lamk Avicennia marina (Forsk.) Vierh, with abundance are 103
tress – 298 tress (2) the populations of mangrove crabs are 13 individual – 39
individual, (3) the relation model between abundance of mangrove tress and
population of mangrove crabs is Y= 8,535986337/(1- 0,002620491334*x) with
R2 = 0,9930731631.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan antara komponen darat
dan laut yang mempunyai banyak manfaat, dan merupakan mata rantai yang
sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologis di suatu perairan.
Fungsi hutan mangrove dapat dibedakan menjadi (1) Fungsi ekologis, (2) Fungsi
sosial ekonomi, (3) Fungsi fisik dan biotik. Menurut Dahuri (1996) dan Kusmana
(1995) bahwa peran dan fungsi hutan mangrove adalah (1) Fungsi produksi,
terutama untuk perikanan, kehutanan, perkebunan, pertanian, industri dan
tambang serta permukiman, (2) Fungsi lindung terutama untuk pengaturan iklim
pelindung fisik dan sumber hara, (3) Fungsi suaka alam terutama sebagai sumber
plasmanutfah, nursery ground dan feeding ground bagi biota laut.
Sebagai lingkungan fisik, hutan mangrove berperan sebagai penahan
ombak, penahan angin, penahan banjir, penetralisir pencemaran, perangkap
sedimen, dan penahan intrusi air asin. Sebaliknya peranannya di dalam
lingkungan biotik adalah sebagai habitat dan berkembangbiaknya berbagai macam
organisme air, berbagai jenis biota air, burung serta berbagi jenis mamalia. Untuk
potensi sosial ekonominya, hutan mangrove ditunjukkan dengan adanya
kemampuan untuk menghasilkan produk yang langsung dapat dinikmati oleh
masyarakat.

1. makalah seminar Biology acuatic di Unsoed tanggal


2. Staf Pengajar PSPK Unsoed
Hutan mangrove juga merupakan habitat lain mahluk hidup khususnya
mahluk hidup yang hidup di sekitar daerah genangan air yang berada di bawah
tegakan mangrove seperti ikan, kepiting, udang, kerang serta banyak lagi yang
lainnya. Fungi human mangrove dalai unstuck Spawing ground, nursery ground,
feeding ground dan shelter area dari biota perairan. Namun sangat disayangkan
laju konversi hutan mangrove dari tahun 1977 sampai tahun 1990-an sebesar 4%
pertahun. Faktor yang menyebabkannya adalah perubahan devisa negara dari
sektor nonmigas untuk menunjang laju pembangunan.
Pada tahun 1983 saja hutan mangrove dikonversi menjadi pertambakan
sebesar 420.00–840.000 ha (10–20%). Hal tersebut memberikan gambaran bahwa
permintaan terhadap hutan mangrove semakin meningkat, tidak hanya dari segi
produk, tetapi juga lahannya sendiri. Permintaan terhadap lahan hutan mangrove
lebih berpotensi merusak, termasuk kerusakan lingkungan pada lokasi tersebut
terutama lingkungan biotiknya dan berdampak luas terhadap lingkungan
sekitarnya sehingga mengganggu populasi mahluk hidup lainnya yang senantiasa
hidup di daerah hutan mangrove.

B. Permasalahan
Bagaimana hubungan kerapatan pohon di hutan mangrove terhadap
populasi kepiting bakau (Scylla serrata)
C. Hipotesis
Semakin tingkat kerapatan pohon mangrove maka populasi kepiting bakau
(Scylla serrata) maka semakin besar atau banyak.
D. Tujuan
Untuk mengetahui peranan dan hubungan antara kerapatan pohon
mangrove terhadap populasi kepiting bakau (Scylla serrata).

METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan di hutan mangrove Wana Wisata Tritih, BKPH Rawa
Timur Cilacap, KPH Banyumas Barat, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, pada
bulan Juni sampai Juli 2004.
B. Teknik Penariakan Contoh
Menggunakan stratifikasi berdasarkan tingkat kerapatan pohon bakau.
Pengambilan secara capture and recapture. Jumlah kelas kerapatan ada 3 (rapat,
sedang, dan jarang). Setiap tingkat kerapatan dibuat petak contoh ukuran
20 x 20 m.
C. Analisis Data
1. Analisis kerapatan pohon
Analisis kerapatan pohon dilakukan dengan menghitung tingkat kerapatan
per jenis dan kerapatan relatif.

2. Pendugaan Populasi Kepiting


Analisisnya dilakukan dengan mengunakan metode capture and recapture,
dimana populasi dari kepiting bakau dengan rumus sebagai berikut :
Σ (niMi)
N=
Σ Ri
Dimana :
N = besarnya populasi total.
Mi = jumlah individu total hewan yang tertangkap periode ke i ditambah periode
sebelumnya (n1 + n2 + n3)
ni = jumlah individu hewan yang tertangkap pada periode i.
Ri = adalah jumlah hewan yang tertangkap kembali pada periode ke i.
Untuk menghitung kesalahan (error) metode capture–recapture dapat
dilakukan dengan cara, menghitung kesalahan baku (standar error = SE)nya dari
besarnya populasi. Yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
1
SE =
1 (N − Mi) + (k − 1) / N − Σ (1 / (N − ni))

Dimana :
k : adalah jumlah periode sampling.
Mi : adalah jumlah total hewan yang tertanda.

3. Mengetahui Pola Penyebaran Populasi Kepiting


Analisis penyebaran populasi kepiting dilakukan dengan menggunakan
sebaran poisoon.
4. Membuat model hubungan antara tingkat kerapatan dengan populasi kepiting
Analisis hubungan antara tingkat kerapatan dengan potensi kepiting bakau
(Scylla serrata) adalah
Y = f (x)
Dimana :
Y = Kepiting bakau (Scylla serrata)
x = Tingkat kerapatan

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KERAPATAN POHON DENGAN


POLPULASI KEPITING
1. Kerapatan Pohon
a. Komunitas Dengan Tingkat Kerapatan Tinggi.
Potensi kerapatan pohon pada komunitas kerapatan tinggi dapat dilihat
pada Tabel 1.

Tabel 1. Kerapatan dan Kerapatan Relatif Tiap Jenis Pada Komunitas Dengan
Kerapatan Tinggi.
Jumlah
Individu Kerapatan Kerapatan
NO Jenis Nama Latin
(Pohon/ (K) Relatif (KR)
0,12Ha)
1 Bakau bandul Rhizophora mucronata Lamk 171 1425,00 57,38 %
2 Bakau kacang Rhizophora apiculata Bl 127 1058,33 42,62 %
Jumlah 298 2483,33 100 %

Berdasarkan Tabel 1, pada komunitas kerapatan tinggi hanya ditumbuhi


oleh jenis-jenis Rhizophora spp. Hal ini disebabkan titik pengamatan yang
diambil adalah pada hutan tanaman. Tingkat kerapatan tinggi dimiliki oleh jenis
Rhizophora mucronata Lamk diikuti oleh Rhizophora apiculata Bl, hal ini
disebabkan oleh jumlah individu Rhizophora mucronata Lamk yang jauh lebih
besar daripada Rhizophora apiculata Bl.

b. Komunitas Dengan Tingkat Kerapatan Sedang


Potensi kerapatan pohon pada komunitas kerapatan tinggi dapat dilihat
pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 pada komunitas kerapatan sedang ditumbuhi
oleh bayak jenis atau bervariasi, karena titik pengamatan yang diambil adalah
pada hutan alami. Tingkat kerapatan sedang dimiliki oleh jenis Rhizophora
apiculata (Bl) diikuti oleh Rhizophora mucronata (Lamk), Avicennia marina
(Forsk.) Vierh, Sonneratia alba Sm, Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk,
Bruguiera sexangula (Lour.) Poir dan Xylocarpus moluccensis (Lamk.) Roem
jumlah individu Rhizophora apiculata (Bl) dan Rhizophora mucronata (Lamk)
lebih besar dari jenis lainnya hal ini disebabkan oleh plot yang diambil masih
berdekatan dengan hutan tanaman.

Tabel 2. Kerapatan dan Kerapatan Relatif Tiap Jenis Pada Komunitas Dengan
Kerapatan Sedang.
Jumlah
Kerapatan
Individu Kerapatan
NO Jenis Nama Latin Relatif
(Pohon/ (K)
(KR)
0,12Ha)
1 Bakau kacang Rhizophora apiculata Bl 69 575,00 45,39 %
2 Bakau bandul Rhizophora mucronata Lamk 37 308,33 24,34 %
3 Api-api Avicennia marina (Forsk.) Vierh 25 208,33 16,45 %
4 Bogem Sonneratia alba Sm. 9 75,00 5,92 %
5 Tancang Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk 6 50,00 3,95 %
6 Tancang sukun Bruguiera sexangula (Lour.) Poir 5 41,67 3,29%
7 Nyirih Xylocarpus moluccensis Lamk. 1 8,33 0,66 %
Jumlah 152 1266,66 100 %

c. Komunitas Dengan Tingkat Kerapatan Rendah.


Potensi kerapatan pohon pada komunitas kerapatan tinggi dapat dilihat
pada Tabel 3.

Tabel 3. Kerapatan dan Kerapatan Relatif Tiap Jenis Pada Komunitas Dengan
Kerapatan Rendah.
Jumlah
Kerapatan
Individu Kerapatan
NO Jenis Nama Latin Relatif
(Pohon/ (K)
(KR)
0,12Ha)
1 Bakau kacang Rhizophora apiculata Bl 43 358,33 41,75 %
2 Bakau bandul Rhizophora mucronata Lamk 29 241,67 28,15 %
3 Tancang Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk 22 183,33 21,36 %
4 Api-api Avicennia marina (Forsk.) Vierh 9 75,00 8,74 %
Jumlah 103 858,33 100 %

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa pada komunitas kerapatan


rendah ditumbuhi oleh jenis yang masih cukup banyak, karena titik pengamatan
yang diambil adalah pada hutan alami. Tingkat kerapatan rendah dimiliki oleh
jenis Rhizophora apiculata (Bl) diikuti oleh Rhizophora mucronata (Lamk),
Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk dan Avicennia marina (Forsk.) Vierh, jumlah
individu Rhizophora apiculata (Bl) lebih besar dari jenis lainnya hal ini
disebabkan oleh plot yang diambil masih berdekatan dengan hutan tanaman serta
banyaknya pencurian phon yang berdiameter cukup besar seperti jenis Avicennia
marina (Forsk.) Vierh oeleh masyarakat sekitar untuk bahan bangunan dan kayu
bakar.
Dari semua hasil analisis jumlah total jenis dan jumlah total individu jenis,
dari tiap-tiap tingkat kerapatan yang telah diperoleh data seperti pada Tabel 4,
Gambar 1 dan 2.

Tabel 4. Jumlah Seluruh Jenis, Individu dan Kerapatan Dari Masing-masing


Komunitas Dengan Tingkat Kerapatan Yang Berbeda.

Komunitas Jumlah Jumlah Individu Kerapatan


jenis
Kerapatan Tinggi 2 298 Batang 2483,33
Kerapatan Sedang 7 152 Batang 1266,66
Kerapatan Rendah 4 103 Batang 858,33

300
Jum lah individu

250
200
150
100
50
0
Tinggi Sedang Rendah
Tingkat Kerapatan

Gambar 1. Diagram Jumlah Individu Seluruh Jenis di Masing-masing Tingkat


Kerapatan.

Dari hasil analisis data jumlah individu dari seluruh jenis, pada tingkat
kerapatan tinggi (komunitas I) jumlah individu paling banyak atau tertinggi yaitu
sebayak 298 batang dan disusul oleh tingkat kerapatan sedang (komunitas II)
yaitu sebayak 152 batang dan pada tingkat kerapatan rendah (komunitas III) yaitu
sebanyak 103 batang.

8
Jum lah Jenis

4
2

0
Tinggi Sedang Rendah
Tingkat Kerapatan

Gambar 2. Diagram Jumlah Jenis di Masing-masing Tingkat Kerapatan.


Dari hasil analisis data jumlah jenis tertinggi terdapat pada Tingkat
kerapatan sedang (komunitas II) yaitu sebanyak 7 jenis, disusul tingkat kerapatan
rendah (komunitas III) yaitu sebayak 5 jenis dan pada kerapatan tinggi (komunitas
I) yaitu sebanyak 2 jenis. Hal ini disebabkan karena penyebaran dari suatu jenis
lain sangat rendah serta pada hutan yang sudah tua kebanyakan didominasi oleh
jenis tertentu saja dan pada hutan mangrove yang tingkat kerapatan tinggi ruang
tumbuh dari jenis baru sangat sedikit jadi jenis baru tersebut akan terkalahkan
oleh jenis yang dominan dan pada hutan mangrove tegakan (pohon) yang pertama
kali tumbuh adalah jenis pohon Avicennia spp dan munculah jenis lainnya seperti
Sonneratia spp, Bruguiera, Xylocarpus spp dan jenis Rhizophora spp. Jenis
Rhizophora spp inilah yang akan mendoninasi suatu hutan mangrove.

2. Populasi Kepiting
a. Potensi Jumlah
Komunitas I
Besarnya populasi kepiting bakau yang terdapat pada tingkat kerapatan
pohon tinggi (komunitas I) dapat diduga yaitu sebanyak 39 ekor dengan tingkat
kesalahan bakunya sebesar 7 dengan selang kepercayaan besarnya populasinya
adalah berada pada interval 25 dan 53 ekor, sedangkan kepadatan populasi
kepiting bakau pada tingkat kerapatan tinggi (komunitas I) tersebut sebesar 325
ekor.
5.4.2. Komunitas II
Besarnya populasi kepiting bakau yang terdapat pada tingkat kerapatan
pohon sedang (komunitas II) dapat diduga yaitu sebanyak 13 ekor dengan tingkat
kesalahan bakunya sebesar 4 dengan selang kepercayaan besarnya populasinya
adalah berada pada interval 5 dan 21 ekor, sedangkan kepadatan populasi kepiting
bakau pada tingkat kerapatan sedang (komunitas II) tersebut sebesar 108 ekor.
5.4.3. Komunitas III
Besarnya populasi kepiting bakau yang terdapat pada tingkat kerapatan
pohon tinggi (komunitas I) dapat diduga yaitu sebanyak 13 ekor dengan tingkat
kesalahan bakunya sebesar 5 dengan selang kepercayaan besarnya populasinya
adalah berada pada interval 3 dan 23 ekor, sedangkan kepadatan populasi kepiting
bakau pada tingkat kerapatan rendah (komunitas III) tersebut sebesar 108 ekor.
Hasil dari alalisis kepiting bakau yang ada pada tiap-tiap plot dan pada
tingkat kerapatan yang berbeda tertera pada Tabel 5.
Dari hasil analisis data diatas kepadatan populasi dari kepiting bakau yang
tertinggi terdapat pada tingkat kerapatan tinggi yaitu tiga kali lebih tinggi dari
kerapatan sedang dan rendah yaitu sebesar 325 dan disusul oleh tingkat kerapatan
sedang dan rendah dengan hasil 108 ekor. Hal ini diduga bahwa kepiting bakau
sangat menyukai daerah kerapatan tinggi dengan jenis Rhizophora spp
dikareanakan perakaran dari jenis ini sangat rapat (akar tunjang) serta diduga pula
disebabkan oleh kandungan lumpur yang ada di bawah tegakan sangat sedikit
dan tanahnya agak keras yang di karenakan oleh bayaknya serabut dari akar
Rhizophora spp tersebut sedangkan kepiting bakau ini hidupnya kebanyakan di
dalam lubang, mereka menggali lubang untuk dijadikan tempat tinggalnya pada
waktu air laut surut dan pada waktu air laut pasang mereka keluar untuk mencari
makanan, dari prilaku hudupnya itulah kepiting bakau memerlukan keadaan
lingkungan yang menjamin mereka bertahan hidup dan berkembang biak serta di
duga pula dengan rapatnya hutan mangrove maka banyak pula serasah yang jatuh
di lantai hutan dan sebagai mana kepiting bakau ini adalah berperan sebagai
perombak dari serasah tersebut agar dapat terurai oleh jasat renik untuk diuraikan
menjadi humus ataupun hara dan juga semakin banyak serasah semakin banyak
pula bahan makanan yang terkandung di areal tersebut.

Tabel 5. Hasil Pendugaan Besarnya Populasi, Standar Error, Interval dan


Kepadatan Kepiting Bakau Pada Tiap-tiap Tingkat Kerapatan.
Besarnya
Tingkat Standar Kepadatan
Plot Populasi Interval
Komunitas Error (SE) (D)
(N)
IV
Tinggi V 39 7 25 dan 53 325
VI
I
Sedang II 13 4 5 dan 21 108
IX
III
Rendah VII 13 5 3 dan 23 108
VIII

400
Kepadatan Populasi

300

200
100
0
Tinggi Sedang Rendah
Tingkat Kerapatan

Gambar 3. Diagram Kepadatan Populasi Kepiting Bakau di Masing-masing


Tingkat Kerapatan.

b. Penyebaran populasi
Pola penyebaran dari kepiting bakau pada hutan mangrove Wana Wisata
Tritih dapat dilihat dari Gambar 4. Dari Gambar 4 dapat diduga bahwa pola
penyebaran kepiting bakau pada hutan mangrove Taman Wisata Tritih adalah
mengelompok, sebab perbedaan pola distribusi beberapa populasi yang memiliki
nilai X yang sama yaitu 8,7 individu/plot. Proporsi observasi pada p(0), p(1),
p(2), p(3), p(6), p(7), p(8), p(9), p(10), p(12), dan p(16), hasilnya lebih besar dari
p(0), p(1), p(2), p(3), p(6), p(7), p(8), p(9), p(10), p(12), dan p(16) hasil dari
distribusi poisson.
0.25

Proporsi plot yang berisi


0.2

X individu
0.15

0.1

0.05

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Jum lah Individu/plot, X

Poisson Observasi

Gambar 4. Grafik Pola Penyebaran Kepiting Bakau Hasil Observasi dan Poisson.

3. Model Hubungan antara kerapatan pohon dengan populasi kepiting


Model hubungan antara tingkat kerapatan (variabel X) dengan populasi
kepiting (Y) adalah sebagai berikut :
Y= 8,535986337/(1- 0,002620491334*x)
R2 = 0,9930731631
Diagram hasil analisis data tentang hubungan antara tingkat kerapatan
pohon dengan populasi kepiting bakau pada areal Wana Wisata Tritih, Cilacap
Jawa Tengah adalah sebagai berikut.

Gambar 5. Grafik Hubungan Antara Tingkat Kerapatan Pohon Dengan Populasi


Kepiting Bakau di Wana Waisata Tritih.

Dilihat dari kondisi di lapangan untuk hutan mangrove Wana Wisata Tritih
penutupan tajuk bisa dikatakan cukup rapat, ini dapat dilihat dari bentuk fisik
tegakan pohon dengan rata–rata diameter cukup besar dari jenis Rhizophora spp
dan Avicennia spp. Sehingga tercipta tingkat kerapatan yang cukup tinggi di areal
hutan mangrove Taman Wisata Tritih dan dimana hal ini dapat dijadikan tempat
kehidupan bagi kepiting bakau dan untuk berkembang biak sehingga pada tingkat
kerapatan pohon yang tinggi dari suatu hutan mangrove akan terdapat populasi
kepiting yang tinggi pula.
DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, R. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan secara


terpadu. Paradnya Paramita. Jakarta.

Karsy, A. 1996. Budidaya kepiting bakau dan Biologi Ringkas. Bhratara. Jakarta.

Hilmi, E. Dan Kusmana. 1999. Ekosistem Hutan Mangrove Antara Karakteristik,


Teknik Sampling dan Analisis Sistem. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Hilmi, E. 1998. Penentuan Lebar Optimal Jalur Hijau Mangrove Melalui


Pendekatan Sistem (studi Kasus Muara Angke Jakarta). Program
Pascasarjana IPB. Bogor.

Nybaken, J.W. 1986. Biologi Laut suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia. Jakarta