Anda di halaman 1dari 32

Askep Perdarahan Ante Partum Askep Perdarahan Ante Partum A.

Pengertian Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. Perdarahan Pada Trimester I Sekitar 20% wanita hamil mengalami perdarahan pada awal kehamilan dan separuhnya mengalami abortion. Abortus adalah pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) dengan berat badan janin <500 gram atau kehamilan kurang dari 20 minggu. Setiap perdarahan pada awal kehamilan dapat dianggap akan mengancam kelangsungan kehamilan. Dalam hal ini perlu diketahui hari pertama haid terakhir, tanda kehamilan riwayat keluarga berencana, riwayat ginokologi jumlah perdarahan. Demikian juga dalam hal ini perlu pemeriksaan penunjang seperti USG dan Test kehamilan, menyatakan apakah janin hidup atau memang suatu kehamilan. Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut: 1. Abortus iminen: Disini perdarahan minimal dengan nyeri/tidak, uterus sesuai umur kehamilan. 2. Abortus Insipien: Perdarahan denganan gumpalan, nyeri lebih kuat 3. Abortus Inkomplit: Perdarahan hebat dan sering menyebabkan syok 4. Abortus komplit: Perdarahan dan nyeri minimal seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. 5. Missed Abortion: Janin telah mati dalam kandungan selama 6-8 minggu tapi belum dikeluarkan, perdarahan minimal 6. Abortus infeksi/septik: Disertai tanda infeksi dan septik seperti demam sampai syok. Adapun sebagai penyebab dari abortus antara lainl: 1. kelainan mudigah, chromosom atau kelainan untuk fetus 2. incompetentio orificium uteri internum 3. penyakit sistemik pada ibu seperti diabetes melitus, lues 4. incompatibilitas faktor rhesus atau atau sistem ABO 5. kelainan uterus seperti myoma uteri 6. trauma fisik atau mental 7. usaha menggugurkan dari penderita dengan minum jamu, alkohol, obat-obatan atau memasukkan benda asing kedalam lobang kemaluan. 8. abortus habitualis oleh kekurangan produksi karbohidrat oleh endometrium. Menurut terjadinya abortus dapat dikategorikan dalam abortus habitualis, abortus artifisialis, abortus provacatus therapheuticus, abortus septik dan abortus provocatus criminalis. Abortus criminalis ini yang dilakukan abortus tanpa indikasi medis dan bertentangan dengan norma hukum yang berlaku. Hal ini sering terjadi pada wanita diluar perkawinan yang dilakukan oleh petugas kesehatan yang tidak bertanggung jawab demi uang. Pengeluaran hasil konsepsi diindikasikan pada abortus insipien, abortus inkomplit, missed abortion dan abortus dengan infeksi, demi keselamatan dari ibu. Pada Trimester II kehamilan perdarahan sering disebabkan partus prematurus, solusio plasenta, mola dan inkompetensi servik. Pada Trimester III (Perdarahan Ante Partum), adalah perdarahan setelah 29 minggu atau lebih, WHO, ini dapat terjadi oleh selusio plesenta atau plasenta previa. Perdarahan disini lebih berbahaya dibanding umur kehamilan kurang dari 28 minggu, sebab faktor plasenta, dimana perdarahan plasenta biasanya hebat sehingga mengganggu sirkulasi O2 dan CO2 serta nutrisi dari ibu kepada janin. Kasus ini harus ditangani oleh dokter spesialis dan ditunjang dengan pemeriksaan USG. B. Etiologi Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh : a. Bersumber dari kelainan plasenta a. Plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).

Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : a) Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta. b) Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. c) Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : Endometrium yang kurang baik Chorion leave yang peresisten Korpus luteum yang berreaksi lambat b. Solusi plasenta Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung kehamilan 28 minggu. Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain : a. Solusi plasenta ringan Tanpa rasa sakit Pendarahan kurang 500cc Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian Fibrinogen diatas 250 mg % b. Solusi plasenta sedang Bagian janin masih teraba Perdarahan antara 500 1000 cc Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian c. Solusi plasenta berat Abdomen nyeri-palpasi janin sukar Janin telah meninggal Plasenta lepas diatas 2/3 bagian Terjadi gangguan pembekuan darah d. Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begtu berbahaya, misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion, polip, varises yang pecah ). C. Patofisiologi a. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. b. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. D. Tanda dan Gejala a. Plasenta previa Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala Perdarahan berwarna merah segar Letak janin abnormal b. Solusi plasenta Perdarahan disertai rasa sakit Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterine

Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat Abdomen menjadi tegang Perdarahan berwarna kehitaman Sakit perut terus menerus E. Komplikasi 1. Plasenta previa Prolaps tali pusat Prolaps plasenta Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan Robekan-robekan jalan lahir Perdarahan post partum Infeksi karena perdarahan yang banyak Bayi prematuritas atau kelahiran mati a. Langsung - Perdarahan - Infeksi - Emboli dan obstetrik syok b. Komplikasi tidak langsung - Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post partum - Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum - Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia, F. Penatalaksanaan 1. Plasenta previa a) Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show ( perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rectal apalagi vaginal) b) Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup, belum inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Berikan obat-obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti. c) Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari premature. d) Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse darah ada. e) Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan. 2. Solusio plasenta a. Terapi konsrvatif Prinsip : Tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama, bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Sambil menunggu atau mengawasi berikan : 1. Morphin suntikan subkutan 2. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine, cardizol, dan pentazol. 3. Tranfuse darah. b. Terapi aktif Prinsip : Melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan perdarahan segera berhenti. Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta : 1) Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan. 2) Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks. 3) Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap, kepala sudah turun sampai hodge III-IV : a. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps. b. Janin meninggal : lakukan embriotomi

4) Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan : a. Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil b. Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, pembukaan masih kecil. c. Solusio plasenta dengan panggul sempit. d. Solusio plasenta dengan letak lintang. 5) Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan : a. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. b. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. 6) Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. 7) Pada hipofibrinogenemia berikan : a. Darah segar beberapa botol b. Plasma darah c. Fibrinogen Konsep Asuhan Kep. 1. Pengkajian Data Subjektif A. Data umum Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya. B. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. C. Riwayat kesehatan yang lalu D. Riwayat kehamilan - Haid terakhir - Keluhan - Imunisasi E. Riwayat keluarga - Riwayat penyakit ringan - Penyakit berat Keadaan psikososial - Dukungan keluarga - Pandangan terhadap kehamilan F. Riwayat persalinan G. Riwayat menstruasi - Haid pertama - Sirkulasi haid - Lamanya haid - Banyaknya darah haid - Nyeri - Haid terakhir H. Riwayat perkawinan - Status perkawinan - Kawin pertama - Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. a. Rambut dan kulit - Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra. - Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. - Laju pertumbuhan rambut berkurang. b. Wajah

- Mata : pucat, anemis - Hudung - Gigi dan mulut c. Leher d. Buah dada / payudara - Peningkatan pigmentasi areola putting susu - Bertambahnya ukuran dan noduler e. Jantung dan paru - Volume darah meningkat - Peningkatan frekuensi nadi - Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal. - Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. - Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas. - Diafragma meningga. - Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada. f. Abdomen Palpasi abdomen : - Menentukan letak janin - Menentukan tinggi fundus uteri g. Vagina - Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) - Hipertropi epithelium h. System musculoskeletal - Persendian tulang pinggul yang mengendur - Gaya berjalan yang canggung - Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. Khusus - Tinggi fundus uteri - Posisi dan persentasi janin - Panggul dan janin lahir - Denyut jantung janin 3. Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan inspekulo - Pemeriksaan radio isotopic - Ultrasonografi - Pemeriksaan dalam No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 1 Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim Klien tidak mengalami perdarahan berulang 1. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan

2. Kontrol tanda-tanda vital (TD, Nadi, Pernafasan, suhu)

3. Kontrol perdarahan pervaginam

4. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak

5. Monitor bunyi jantung janin

6. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan 1) Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan 2) Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan klien. 3) Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga dapat melakukan tindakan segera. 4) Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam mengatasi keadaan klien. 5) Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi gangguan perfusi pada plasenta 6) Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini.

2 Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder keharusan bedrest Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi 1. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutic 2. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar

3. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan

4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien

5. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan 1) Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan keperawatan. 2) dengan membantu kebutuhan klien seperti mandi, BAB,BAK,sehingga kebutuhan klien terpenuhi, 3) Dengan melibatkan keluarga, klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien merasa diperhatikan. 4) Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. 5) Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. 3 Resiko gawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta Gawat janin tidak terjadi 1. Istirahatkan klien

2. Anjurkan klien agar miring kekiri

3. Anjurkan klien untuk nafas dalam

4. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen

5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit 1) melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah 2) Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena ke jantung

3) Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi 4) Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat. 5) Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin. 4 Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut Rasa nyaman terpenuhi 1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien

2. Jelaskan pada klien penyebab nyeri

3. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka. 4. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara. 5. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam)

6. Kontrol vital sign klien

7. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik 1) Dengan mengkaji tingkat nyeri, kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya. 2) Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien. 3) Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri. 4) Dengan mengalihkan perhatian klien, diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri.

5) Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa nyeri dapat berkurang. 6) dengan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan klien untuk mengambil tindakan selanjutnya. 7) Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang. DAFTAR PUSTAKA Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Jakarta :EGC http://askepkukeperawatan.blogspot.com/2012/03/askep-perdarahan-ante-partum.html

Senin, 25 April 2011 ASKEP Perdarahan Antepartum BAB II ISI A. DEFINISI DAN KLASIFIKASI Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 28 minggu; oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya, yaitu plasenta previa dan solusi plasenta. Oleh karena itu klasifikasi klinis perdarahan antepartum dibagi sebagai berikut a. Plasenta previa b. Solusi plasenta c. Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya(idiopatik) seperti rupture sinus marginalis,plasenta letak rendah dan vasa previa. 1. Plasenta Previa Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri internal) Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 : Plasenta previa totalis :seluruh ostium internus ditutupi plasenta Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4cm diatas pinggir permukaan jalan lahir 1) 2) 3) Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : Umur dan paritas Hipoplasia Endometrium, bila kawin dan hamil pada usia muda Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan

manual plasenta 4) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. 5) Kehamilan janin kembar,. 6) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium 7) Kadang-kadang pada malnutrisi. 8) Riwayat perokok. Cirri-ciri plasenta previa : a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal f) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah h) Denyut jantung janin ada i) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina j) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 1. Solusi Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%. 2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. 3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan. 1. Faktor vaskuler (80-90%), yaitu toksemia gravidarum, glomerulo nefritis kronika, dan hipertensi esensial.Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas. 2. Faktor trauma: - Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli - Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau pertolongan persalinan. 3. Faktor paritas. Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi. 4. Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain. 5. Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.tor yang mempengaruhi solusi plasenta : Ciri-ciri solusi plasenta: a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus g) Denyut jantung janin biasanya tidak ada h) Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina i) Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul 1. Vasa Previa

Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Etiologi vasa previa belum jelas. Diagnosis vasa previa, Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi. Penatalaksanaan vasa previa, Sangat bergantung pada status janin. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin, tentukan lebih dahulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur, dilakukan persalinan pervaginam A. PATOFISIOLOGI 1. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. 2. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. B. DIAGNOSA DAN GEJALA KLINIS 1) Plasenta Previa Anamnesis - Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III) -Sifat perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang. Inspeksi/inspekulo - Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus) - Tampak anemis Palpasi abdomen - Janin sering blm cukup bulan, TFU masih rendah - Sering dijumpai kesalahan letak janin - Bagian terbawah janin belum turun . Pemeriksaan USG - Evaluasi letak dan posisi plasenta. - Posisi, presentasi, umur, tanda-tanda kehidupan janin. - Transabdominal ultrasonography 1) Solusio Plasenta Anamnesis . Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit, dimana plasenta terlepas. Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah.

Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi). Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain. Inspeksi Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan. Pucat, sianosis, keringat dingin. Kelihatan darah keluar pervaginam Palpasi TFU naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun diluar his. Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas. Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang. Auskultasi Sulit, karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga. Pemeriksaan dalam Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup. Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun diluar his. Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa. Pemeriksaan umum. Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok. Nadi cepat, kecil, dan filiformis. Pemeriksaan Ultrasonography (USG). Ultrasonography adalah suatu metode yang penting untuk mengetahui adanya pendarahan di dalam uterus. Kualitas dan sensitifitas ultrasonografi dalam mendeteksi solusio plasenta telah meningkat secra signifikan belakangan ini. Tetapi bagaimanapun juga ini bukan metode yang sempurna dan sensitif untuk mendeteksi solusio plasenta, tercatat hanya 25% kasus solusio plasenta yang ditegakkan dengan USG.Solusio plasenta tampak sebagai gambaran gumpalan darah retroplacental, tetapi tidak semua solusio plasenta yang di USG ditemukan gambaran seperti di atas. Pada fase akut, suatu perdarahan biasanya hyperechoic, atau bahkan isoechoic, maka kita bandingkan dengan plasenta. Gambaran konsisten yang mendukung diagnosa solusio plasenta antara lain adalah; gumpalan hematom retroplasenta (hyperochoic hingga isoechoic pada fase akut, dan berubah menjadi hypoechoic dalam satu minggu), gambaran perdarahan tersembunyi, gambaran perdarahan yang meluas. Manfaat lainnya adalah USG dapat dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain perdarahan antepartum. Pemeriksaan laboratorium . Urin albumin (+); pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit. Darah Hb menurun (anemi), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, test kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan test kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%). Pemeriksaan plasenta Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanya. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

A. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Plasenta Previa Penatalaksanaan konservatif (mis.istirahat di tempat tidur sepanjang masa hamil) biasanya dilakukan jika janin belum cukup matang karena perdarahan biasanya perdarahan spontan awal pada plasenta previa tidak mengancam kehidupan ibu dan janin. Jika paru-paru janin sudah matur dan kemungkinan hidup besar, pelahiran bisa dilakukan. Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan, ibu biasanya tetap tinggal di Rumah sakit dibawah supervisi yang ketat. Durasi kehamilan harus dipastikan dan , kecuali dalam keadaan kondisi kedaruratan, kehamilan ditunda sampai setelah minggu ke-36, biasanya dilakukan pelahiran sesaria bagi ibu dengan plasenta previa. (Cunningham, dkk, 1993) 2. Solusio plasenta Pengobatan tergantung pada status ibu dan janin. Bila ada stress distress janin, perdarahan berat, koagulopati, kemajuan persalinan yang buruk, atau peningkatan tonus rahim istirahat,dilakukan persalinan sesaria. Jika ibu secara hemodinamik stabil,kelahiran pervaginam bisa diusahakan jika janin hidup dan tidak dalam keadaan distress akut, atau jika janin mati. Penggantian cairan harus dilakukan secara agresif bila terjadi perdarahan. Darah dan ringer laktat diberikan dalam jumlah yang dapat mempertahankan haluaran urine 30 sampai 60ml per jam dan nilai hematokrit kira-kira 30% (Lowe, Cunningham,199) ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a) Data Subjektif A. Data umum Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya. B. Keluhan utama Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu. C. Riwayat kesehatan yang lalu D. Riwayat kehamilan - Haid terakhir - Keluhan - Imunisasi E. Riwayat keluarga - Riwayat penyakit ringan - Penyakit berat Keadaan psikososial - Dukungan keluarga - Pandangan terhadap kehamilan F. Riwayat persalinan G. Riwayat menstruasi - Haid pertama - Sirkulasi haid - Lamanya haid - Banyaknya darah haid - Nyeri - Haid terakhir H. Riwayat perkawinan - Status perkawinan - Kawin pertama - Lama kawin Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. Umum

Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. a. Rambut dan kulit - Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra. - Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. - Laju pertumbuhan rambut berkurang. b. Wajah - Mata : pucat, anemis - Hidung - Gigi dan mulut c. Leher d. Buah dada / payudara - Peningkatan pigmentasi areola putting susu - Bertambahnya ukuran dan noduler e. Jantung dan paru - Volume darah meningkat - Peningkatan frekuensi nadi - Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal. - Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. - Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas. - Diafragma meninggi - Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada. f. Abdomen Palpasi abdomen : b.) - Menentukan letak janin - Menentukan tinggi fundus uteri g. Vagina - Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) - Hipertropi epithelium h. System musculoskeletal - Persendian tulang pinggul yang mengendur - Gaya berjalan yang canggung - Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. Khusus - Tinggi fundus uteri - Posisi dan persentasi janin - Panggul dan janin lahir - Denyut jantung janin 3. Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan inspekulo - Pemeriksaan radio isotopic - Ultrasonografi - Pemeriksaan dalam 2. Diagnosa keperawatan v Resiko tinggi cedera (janin) Yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat perdarahan v Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa v Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa v Rasa takut, berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan Diri dan bayinya 3. Intervensi 1. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus, mencakup tanda-tanda vital, tanpa perdarahan. haluaran perkemihan, pelacakan pemantauan elektronik, dan tanda persalinan. 2. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. 3. Pemberian cairan Intra Vena atau produk darah sesuai pesanan.

4. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : - Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? - Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? - Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? - Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? - Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? - Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? - Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung, memposisikan dengan bantal, pengalihan aktivitas. 4. Evaluasi 1. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat, serta terapi mulai diberikan. 2. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. http://tinevitamehi.blogspot.com/2011/04/askep-perdarahan-antepartum.html ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke-28 dan awal partus. Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini . Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi. Walaupun perdarahan vaginal setelah minggu ke29 harus dianggap mempunyai potensi serius . perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum yaitu; Plasenta previa Soluto plasenta 3.1. Plasenta previa 3.1.1 Pengertian Pada keaadaan normal . Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. 3.1.2. Etiologi Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa yaitu : Parista Makin banyak parista ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa Usia ibu pada saat hamil. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih, makin besar kemungkinan kehamilan plasenta previa. Umur dam paritas - Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th. - Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah - Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang. Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium. Kadang-kadang pada malnutrisi Klasifikasi Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu,plasenta previa dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu : 1) Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jarngan plasenta

2) Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta 3) Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan 4) Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium internum. 5) 3.1.3. Manifestasi klinis Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga. Pasien yang dating dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sunsang) Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan. Sebagian besar kasus, janinnya masih hidup. Gejala utama Perdarahan yang terjadi berwarna segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama Komplikasi Anemia karena perdarahan Syok Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat. 3.1.4. Patofisiologi Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan . Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya kehamilan . Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis. Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi dan akan menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta. 3.1.5. Manajemen Therapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kiri, tidak melakukan sanggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut missal batuk,mengedan karena sulit buang air besar) Gambar 35.3 Skema Penanganan Plasenta previa Pasang infuse cairan Nacl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan proposal. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan trasfusi darah. Bila tidak teratasi, upayakan penyelamatan optimal. Bila teratasi, perhatikan usia kehamilan. Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjetan, usia gestasi <37 minggu, taksiran berat janin <2.500 g, maka : Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi bertahap. Beri kortikosteroid 12 mg intravena per hari salma 3 hari Bila pendarahan berulang, lakukan PDMO. Bila ada kontraksi, tangani seperti persalinan preterm

Bila tidak ada renjetan, usia gestasi 37 minggu atau lebih,taksirkan berat janin 2.500 g atau lebih, lakukan PDMO. Bila ternyata previa, lakukan persalinan perabdominan. Bila bukan, usahakan partus pervaginam. 3.1.6. Asuhan keperawatan Perawatan adalah pelayanan esensial dilakukan oleh perawatan propesional. Bagi individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan profesinya. Pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien HAP atas indikasi plasenta previa akan berhasil apabila asuhan keperawatan yang diberikan baik dan benar. Berdasarkan hal ini perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang penyakit klien dan tindakan apa saja yang harus dilakukan, selain itu perawat harus berfikir dan bekerja secara dinamis. Proses kererawatan digunakan oleh perawat untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien, secara tuntas yang didasari prinsip-prinsip ilmiah sertamempertimbangkan klien sebagai makluk yang utuh (bio, psiko, social, dan spiritual) dan bersifat unik. Penerapan proses keperawatan klien ni adalah empat tahap yaitu pengkajian, intervestasi dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan data perkelompok dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama pengkajian adalah untuk memberi gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan yang memungkinkan perawat merencanakan asal keperawatan pada klien HAP. Langkah pertama dalam pengkajian terhadap klien HAP adalah mengumpulkan data. Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu : a. Identitas umum b. Riwayat kesehatan 1. Riwayat kesehatan dahulu - Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang berulang-ulang. - Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM, Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti hepatitis. - Kemungkinan pernah mengalami abortus 2. Riwayat kesehatan sekarang - Biasanya terjadi perdarahan tanpa alasan - Perdarahan tanpa rasa nyeri - Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu. 3. Riwakat kesehatan keluarga - Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya. - Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini - Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda. - Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM, Hemofilia dan penyakit menular. 4. Riwayar Obstetri Riwayat Haid/Menstruasi - Minarche : 12 th - Siklus : 28 hari - Lamanya : 7 hari - Baunya : amis - Keluhan pada haid : tidak ada keluhan nyeri haid 5. Riwayat kehamilan dan persalinan - Multigravida - Kemungkinan abortus

- Kemungkinan pernah melakukan curettage 6. Riwayat nipas - Lochea Rubra Bagaimana baunya, amis - Banyaknya 2 kali ganti duk besar - Tentang laktasi Colostrum ada c. Pemeriksaan tanda-tanda vital - Suhu tubuh, suhu akan meningkat jika terjadi infeksi - Tekanan darah, akan menurun jika ditemui adanya tanda syok - Pernapasan, nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi - Nadi, nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok d. Pemeriksaan fisik - Kepala, seperti warna, keadaan dan kebersihan - Muka, biasanya terdapat cloasmagrafidarum, muka kelihatan pucat. - Mata biasanya konjugtiva anemis - Thorak, biasanya bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal - Abdomen Inspeksi : terdapat strie gravidarum Palpasi : v Leopoid I : Janin sering belum cukup bulan,jadi fundus uteri masih rendah v Leopoid II : Sering dijumpai kesalahan letak v Leopoid III : Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul. v Leopoid IV : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul Perkusi : Reflek lutut +/+ Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat. Normal 120.160 - Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda - Ekstremitas. Kemungkinan udema atau varies. Kemungkinan akral dingin. e. Pemeriksaan penunjang - Data laboraturium, memungkinkan Hb rendah. Hb yang normal (12-14gr%) leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3). Trombosit menurun (normal 250 ribu 500 ribu). f. Data sosial ekonomi Plaesnta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan menengah kebawah , hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya. Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain : 1. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim ( Susan Martin Tucker,dkk 1988:523) 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri. Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326) 3. Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda Jual Carpenito,2000: 1127) post seksio. 4. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin Tucker,dkk 1988 : 624). 5. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371) 6. Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap luka operasi sesarea. 7. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan Martin Tucker,dkk 1988).

2. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah bagian selanjutnya dari proses keperawatan. Dan hasil pengkajian seorang perawat mampu menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien. Perencanaan ini dikembangkan sesuai dengan kebutuhan klien dan mengatasi masalahnya. Adapun rencana tindakan dari diagnosa tersebut adalah : DX I Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim Tujuan : Klien tidak mengalami perdarahan berulang Intervensi : 1. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan 2. Kontrol tanda-tanda vital (TD, Nadi, Pernafasan, suhu) Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan klien. 3. Kontrol perdarahan pervaginam Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga dapat melakukan tindakan segera. 4. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam mengatasi keadaan klien. 5. Monitor bunyi jantung janin Rasional : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi gangguan perfusi pada plasenta 6. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini. DX II Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder keharusan bedres Tujuan : Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi Intervensi : 1. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutik Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan keperawatan. 2. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar Rasional :D engan membantu kebutuhan klien seperti mandi, BAB,BAK,sehingga kebutuhan klien terpenuhi, 3. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan Rasional : Dengan melibatkan keluarga, klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien merasa diperhatikan. 4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien

Rasional : Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. 5. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan Rasional : Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. DX III Resiko rawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darak ke plasenta Tujuan : Gawat janin tidak terjadi Intervensi : 1. Istirahatkan klien Rasional : melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah 2. Anjurkan klien agar miring kekiri Rasional : Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena ke jantung 3. Anjurkan klien untuk nafas dalam Rasional : Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi 4. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen Rasional : Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat. 5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit Rasional : Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin. DX IV Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi Intervensi : 1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri, kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya. 2. Jelaskan pada klien penyebab nyeri Rasional : Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien. 3. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka. Rasional : Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri. 4. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara. Rasional: Dengan mengalihkan perhatian klien, diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri 5. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam) Rasional : Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa nyeri dapat berkurang. 6. Kontrol vital sign klien Rasional :D engan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan klien untuk mengambil tindakan selanjutnya. 7. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik

Rasional : Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang. 3.2. Solusio Plasenta 3.2.1. Pengertian Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya 3.2.2. Etiologi Belum diketahui pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, dekompresi terus mendadak, anomali atau tumor uterus, difisiensi gizi, merokok, konsumsi alcohol, penyalahgunaan kokain, serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika. 3.2.3. Patofisiologi Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam basalis yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan,kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah. Hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta. Karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban. 3.2.4. Manifestasi Klinis Anamnesis : perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan pervaginam yang banyak, syok dak kematian janin intrauterine. Pemeriksaan fisik tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok. Pemeriksaan obstetric : nyeri tekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai atau tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah. 3.2.5. Manajemen Terapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk anjuran pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misalnya batuk, mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus cairan NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, berikan cairan peronai. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat pendarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.Bila terdapat rejatan,segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah. Bila tidak teratasi, Upayakan Penyelamatan optimal bila teratasi. Perhatikan keadaan janin.Setelah rejatan diatasi, pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama. Bila rejatan tidak dapat diatasi, upayakan tindakan penyelamatan yang optimal.Setelah syok teratasi dan janin mati, lihat pembukaan. Bila lebih dari 6 cm,pecahkan ketuban lalu infuse oksitosin. Bila kurang dari 6cm lakukan seksio sesarea.Bila tak terdapat rejatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr.Penanganan berdasarkan berat atau ringannya penyakit yaitu : a). Solusio Plasenta Ringan Ekspektatif, bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, kontraksi uterus tidak ada, janin hidup) dengan tirah baring atasi anemia dan KTG serial,lalu tunggu persalinan spontan. Aktif, bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, uterus berkontraksi, dapat mengancam ibu/janin). Usahakan partus pervaginam dengan amniotomi atau infuse oksitosin bila memungkinkan. Jika terus pendarahan,skor pelvic kurang dari 5 atau persalinan masih lama, lakukan seksio sesarea. b). Solusio plasenta sedang/berat

Resusitasi cairan Atasi anemia dengan pemberian transfuse darah Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam, perabdominan bila tak dapat Bila terdapat rejatan, usia gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2.500 gr atau lebih. Pikirkan partus perabdominan bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama. Prognosis Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya perdarahan, derajat kelainan pembekuan darah, ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia, tersembunyi tidaknya perdarahan. Dan jarak antara terjadinya solusio plasentae sampai pengosongan uterus. Diperkirakan resiko kematian ibi 0.5-5% dan kematian janin 5080%. 3.2.6. Asuhan Keperawatan a). Pengkajian 1). Data Biografi Demografi Usia, jenis kelamin, pekerjaan serta identitas lain yang mendukug. 2). Riwayat Kesehatan Riwayat penyakit dahulu(DM,gagal ginjal dan hipertensi) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat kehamilan yang lalu Riwayat ginekologis Status kesehatan sekarang Riwayat status nutrisi 3). Kebiasaan (merokok, penggunaan obat-obatan dan alkohol) 4). Status psikologis 5). Kepercayaan Keagamaan 6). Pemeriksaan Fisik Vital sign (TD, nadi, respirasi dan suhu) Tinggi badan dan berat badan (sebelum hamil dan setelah hamil) Sistem kardiovaskuler, hipotensi, tachicardi, dan cyanosis) Sistem perkemihan (intake dan output) Sistem integument (udem,pucat, kulit dingin) Sistem reproduksi (pemeriksa leopoid I IV, kontraksi uterus yang meningkat. Status serviks, perdarahan dengan darah warna merah kehitaman. Fundus uteri yang makin tinggi). Status janin (DJJ menurun, pergerakan janin menurun). 7). Pemeriksaan penunjang (EKG,USG, laboraturium{darah lengkap, urine, dan kimia darah}) b). Diagnosa Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan serta umum berhubungan dengan hipovelemik shock. 2) Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah 3) Kecemasan berhubungan dengan kemungkinan efek negatif dari perdarahan atau pengeluaran kehamilan 4) Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuatnya pada plasenta c). Intervensi Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan secara umum berhubungan dengan hipovolemik shock Tujuan : pefusi jaringan adekuat Kriteria : Tanda vital dalam batas normal Kulit hangat dan kering Nadi perifer adekuat

Tindakan mandiri : a). Monitor tanda vital (TD, nadi, nafas,suhu, dan palpasi nadi perifer secara rutin) R : permonitoran tanda vital dapat menunjukkan indikasi terjadinya pemulihan atau penurunan sirkulasi b.) Kaji dan catat perdarahan pervaginam dan peningkatan tinggi fundus uteri. R : Sebagai petunjuk untuk tindakan kedaruratan selanjutnya c.) Monitor intake dan output untuk memperbaiki sirkulasi volume cairan. R : pemberian intake cairan (secara parenatal) dapat membantu mempertahankan volume sirkulasi Tindakan kolaborasi : a. Pemberian oksigen sesuai indikasi R : Pemberian oksigen dapat meningkatkan sirkulasi O2 pada jaringan b. Pemberian tranfusi darah sesuai indikasi R : pemberian tranfusi darah dapat membantu sirkulasi ke jaringan 2). Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah Tujuan : perfusi jaringan adekuatnya dan perdarahan teratasi Kriteria : Keadaan umum ibu baik Pembekuan darah normal Tanda vital dalam batas normal Sirkulasi darah baik Tindakan mandiri : a. Kaji dan monitor perdarahan pervaginam yang abnormal R : dapat dijadikan sebagai indikator dari faktor kegagalan pembekuan darah b. Monitor sirkulasi darah serta tanda DIC (turunnya tingkat kekenyalan fibrinogen, pertambahan prothrombin, tromboplastin dan pembekuan darah) R : dapat mengintervensi tindakan selanjutnya yang cepat dan sesuai dengan masalah yang ditemukan. c. Pemberian trasfusi dan komponen darah sesuai dengan indikasi R : tranfusi darah dapat membantu pengurangan faktor pembekuan karena proses pembekuan yang abnormal . d. Pemberian obat sesuai dengan indikasi R : pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi kegagalan faktor pembekuan darah 3). Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuat pada plasenta Tujuan : perfusi oksigen pada janin adekuat Kriteria : DJJ normal (120-160 x/menit) Kebutuhan oksigen janin terpenuhi Kontraksi uterus normal HIS normal Pergerakan janin baik Tindakan mandiri : a) Monitor DJJ dan pergerakan janin R : gangguan perfusi plasenta dapat menurunkan oksigenisasi pada janin, sehingga pergerakan janin dan DJJ tidak normal

b). Anjurkan ibu mempertahankan posisi tidur lateral R : posisi lateral dapat memberikan sirkulasi yang optimum pada uterus dan plasenta Tindakan kolaborasi : a). Pemberian Oksigen sesuai indikasi R : pemberian oksigen akan membantu sirkulasi oksigen ke janin menjadi adekuat b). Menyiapkan klien untuk memeriksakan amniosintesis jika diperlukan R : pemeriksaan amniosintesis dapat dijadikan indicator kegawatan darurat janin. c). Persiapkan klien untuk dilakukan tindakan emergensi seperti section caesaria R : tindakan section merupakan salah satu alternative menghindari terjadinya fetal distress BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HYPEREMESIS 4.1. Pengertian Hyperemasis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trismeter 1. Kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 dari 1.000 kehamilan. 4.2. Etiologi Belum diketahui pasti, namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain : a) Faktor predisposisi, yaitu pamigravida, mola hidatidosa,dan kehamilan ganda b) Faktor organic, yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan metabolic akibat hamil dan resistansi ibu yang menurun c) Faktor psikologi 4.3. Patofisiologi Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, hipokloremia.,penurunan klorida urin. Selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang mengurangi perfusi darah kejaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksit. Pemakaian cadangan karbonhidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensu muntah marusak hepar. Selaput lender esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal. 4.4 Manifestasi klinis Menurut berat ringannya gejala, hiperemisis grafidarum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu : a) Tingkat I Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, nafsu makan tak ada, berat badan turun dan nyeri apigastrium. Frekwensi nadi pasien naik sekitar 100 x/menit, tekanan darah sistolik turun, turgor kulit berkurang, lidah kering dan mata cekung. b) Tingkat II Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang naik dan mata sedikit icterik. Berat badan pasien turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oliguria, konstipasi, dan napas bau aseton. c) Tingkat III. Kesadaran pasien menurun dari samnolen sampai koma, muntah berhenti nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tekanan darah makin turun. 4.5 Penatalaksanaan

Bila pencegahan tidak berhasil, maka diperlukan pengobatan yaitu : a) Penderita diisolasi dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Kalori yang diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2 3 liter sehari. b) Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan c) Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik, coba berikan makanan dan minimaman yang sedikit demi sedikit ditambah. d) Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital e) Dianjurkan pemberian vitamin B1 Dan B6 ditambah f) Berikan terapi psikologis untuk meyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilankan rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis. 4.6. Asuhan Keperawatan Pengkajian Pengkajian pendekatan yang sistemik untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama dari pengkajian adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan perawat merencanakan asuhan keperawatan pada klien. Langkah pertama dalam pengkajian klien hyperemisis gravidarum adalah mengumpulkan data. Adapaun data-data yang akan dikumpulkan adalah : a) Data Riwayat Kesehatan. 1. Data Riwayat kesehatan sekarang Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh klien sesuai dengan gejala-gejala pada hyperemisis gravidarum yaitu : mual, muntah yang terus menerus, merasa lemah dan kelelahan, merasa haus, terasa asam dimulut, konstipasi dan demam.Kemudian dapat juga ditemukan berat badan yang menurun, turgor kulit yang jelek, gangguan elektrolit. Terjadinya oliguria, tachicardi mata cekung dan ikterik. 2. Riwayat kesehatan dahulu Kemungkinan klien pernah mengalami hioremisis gravidarum sebelumnya. Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah. 3. Riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga b) Data fisik biologis Data yang dapat ditemui pada klien hiperemisis gravidarum adalah mammae membesar, hiperpikmentasi areola mammae, terdapat cloasma gravidarum, mukosa membrane dan bibir kering, turgor jelek, mata cekung dan sedikit ikterik, klien terlihat lemah dan lelah, tachycardia, hipotensi, pusing kehilangan kesadaran dan terasa asam di mulut. c) Riwayat menstruasi Kemungkinan menarche usia 12 14 th Siklus 28 30 hari Lamanya 5 7 hari Banyaknya 2 3 kali ganti duk Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri, sakit kepala, muntah. d) Riwayat perkawinan Kemungkinan terjadi pada perkawinan usia muda e) Riwayat kehamilan dan persalinan Hamil muda : Klien pusing, mual, muntah dan tidak ada nafsu makan.

Hamil tua : Pemeriksaan umum terhadap klien tentang berat badan, tekanan darah dan tingkat kesadaran. f) Data psikologis Riwayat psikologis sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa klien sehubungan dengan reaksi dan perilaku klien terhadap kehamilan. Keadaan jiwa klien yang labil, mudah marah, cemas, dan takut akan kegagalan persalinan, mudah menangis, sedih dan kecewa dapat memperberat mual dan muntah. Pola pertahanan diri yang digunakan klien hiperemisis gravidarum tergantung kepada pengalaman klien terhadap kehamilan dan dukungan dari keluarga serta perawat. g) Data sosial ekonomi. Hiperemisis gravidarum bisa terjadi pada semua tingkat ekonomi. Namun pada umumnya terjadi pada ekonomi tingkat menengah ke bawah, hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki. h) Data penunjang Data penunjang didapat dari hasil laboratorium yaitu pemeriksaan darah dan urine. Pemeriksaan darah yaitu nilai haemoglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukkan homokonsentrasi yang berkaitan dengan dehidrasi. Pemeriksaan urinalisa yaitu urine yang sedikit dan mempunyai konsentrasi yang tinggi sebagai akibat dehidrasi. Terdapatnya aseton dalam urine. Diagnosa Keperawatan Dari pengkajian yang telah diuraikan maka ada beberapa kemungkinan diagnosa keperawatan yaitu: 1) Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekuat (ireneM. Bobak, 1995: 637) 2) perubahan nutrisi ; b/d mual dan muntah yang terus menerus (Irene M.Bobak :638) 3) gangguan rasa nyaman : nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang ( Marie S Jaffe . 1989 hal 37 ) 4) Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat ( Marie S . Jaffe . 1989 hal 37 ) 5) Tidak efektif nya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu ( Sharon J Reeder .1987 hal 748) 6) Potensial perubahan nutrisi fetal b/d berkurang nya peredaran darah makanan ke janin ( ( Sharon J Reeder .1987 hal 748) Perencanaan 1) Kekurangan cairan dan elektrolit b/d muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekwat Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terganggu Intervensi : Istirahatkan klien di tempat yang nyaman Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi.Kerja metabolisme tidak meningkat sehingga tidak merangsang untuk tidak terjadinya mual dan muntah Monitor vital sign serta tanda tanda dehidrasi Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui keadaan umum klien dan sejauh mana kekurangan cairan pada klien.Tekanan darah menurun, suhu meningkat dan nadi meningkat merupakan tanda-tanda dehidrasi dan hipovolemia Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian infuse Rasoinal : Pemberian cairan infuse dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat

Monitor tetesan cairan infuse Rasional : Jumlah dan tetesan infuse yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan atau kekurangan cairan pada sistim sirkulasi. Catat intek dan out put Rasional : Dengan mengetahui intek dan out put cairan diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh. Setelah 24 jam pertama anjurkan minum tiap-tiap jam Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral 2). Perubahan nutrisi ; Kurang dari keburuhan tubuh b/d muntah yang terus menerus Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi : Kaji kebutuhan nutrisi klien Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat diamati sejauh mana kekurangan nutrisi pada klien dan tindakan selanjutnya. Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana kekurangan nutrisi akibat muntah yang berlebiahan. Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi kerja peristaltik usus serta memudah kan penyerapan makanan . Berikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi. Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menambah nafsu makan . Beri makanan yang tidak berlemak dan tidak berminyak. Rasional : makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pencernaan sehingga muntah berkurang. Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (seperti roti dan biscuit ) Rasional : makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan dapat mengurangi mual dan muntah . Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mau menghabiskan makanan Timbang berat badan klien. Rasional : Dengan menimbang berat badan dapat diketahui keseimbangan berat badan sesuai usia kehamilan dan pengaruh nutrisi. 3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang. Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi . Intervensi : Kaji tingkat nyeri. Rasional : dengan mengkaji tingkat nyeri dapat diketahui tingkat nyeri pada klien dan tindakan selanjutnya .

Atur posisi klien dengan kepala lebihtinggi selama 30 menit setelah makan Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada gastroinstestinal sehingga mengurangi muntah yang berulang . Perhatikan kebersihan mulut klien sebelumdan sesudah muntah . Rasional : Kebersihan mulut yang baik dan terpelihara dapat menimbulkan ras nyaman dan muntah berkurang . Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan klien dapat melupakan rasa nyeri akibat muntah yang berulang. Anjurkan klien untuk beristirahat dan batasi pengunjung Rasional : Dengan istirahat yang cukup dan membatasi pengunjung dapat menambah ketenangan klien . Kolaborasi pemberian obat anti emetik dan sedative dengan dokter Rasional : Obat anti emetic mengurangi muntah danobat sedative membuat klien tenang sehingga mengurangi rasa nyeri . 4). Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat. Tujuan :Eliminasi teratur. Intervensi : Kaji pola eliminasi klien Rasional : Untuk mengetahui kebiasaan eliminasi sehari hari Anjurkan klien makan buah-buahan dan sayuran Rasional : Dengan memakan buah-buahan dan sayuran yang banyak dapat melancarkan BAB. Anjurkan klien untuk menghabiskan diet yang diberikan. Rasional : Dengan menghabiskan diet yang diberikan intek makanan adekwat dan konstipasi tidak terjadi Anjurkan klien banyak minum Rasional : Cairan yang banyak memperlunak veses sehingga mencegah komplikasi Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pencahar. Rasional : Pemberian obat pencahar dapat melancarkan BAB 5). Tidak efektifnya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu. Tujuan: Pola pertahanan diri afektif Intervensi : Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilan. Rasional : Dengan mengungkapkan perasaan klien dapat diketahui reaksi klien terhadap kehamilan Dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian Rasional : Klien merasa diperhatikkan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalah. Diskusikan bersama klien tentang masalah yang dihadapi dan pemecahan masalah yang dilakukan Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui pola pertahanan diri klien dalam menghadapi masalahnya Bantu klien dalam memecahkan masalahnya terutama yang berhubungan dengan kehamilan

Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah klien da[pat menemukan pola pertahanan diri yang efektif. Dukung klien jika pemecahkan masalah konstruktif Rasional : Akan menambah percaya diri dalam melakukan pemecahan masalah. Libatkan keluarga dalam kehamilan klien Rasional : Keluarga dapat diajak bekerja sama dalam memberikan dorongan pada klien terhadap kehamilannya. Kolaborasi dengan ahli psikiatri jika diperlukan Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan factor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab masalah. 6).Potensi perubahan nutrisi vetal b/d Berkurangnya peredaran darah dan makanan ke janin Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu Intervensi : Jelaskan pada klien pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin Rasional : Agar klien menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin dank lien mengetahui kebutuhan nutrisinya. Periksa Fundus uteri Rasional : Untuk mengetahui fundus uteri yang sesuai dengan kehamilan Monitor denyut jantung janin Rasional : Denyut jantung yang masih dalam keadaan normal dan aktif menandakan janin masih dalam keadaan baik. BAB V GANGGUAN HEMATOLOGI 1. ANEMIA DALAM KEHAMILAN Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang, seseorang di sebut menderita anemia bika kadar hemoglobin ( HB ) kurang dari 10 gr%, di sebut anemia berat, atau bila kurang dari 6 gr%, di sebut anemia gravis . Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. Angka-angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan, hematokrit dan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Penyebab anemia umumnya adalah: Kurang gizi (malnutrisi ) Kurang zat besi dalam diet Malabsorbsi kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu, haid dll. Penyakit penyakit kronik: tbc, paru, cacing usus, malaria dll. Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah (hyperemia / hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan pertambahan tersebut adalah: Plasma darah bertambah: 30% Sel-sel darah bertambah : 18% Hemoglobin bertambah : 19% Secara fisiologis pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan , persalinan , dan Nifas: Keguguran

Partus Prematurus Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan Syok Afibrinogenemia dan hipofibrinogenimia Infeksi intrapartum dan dalam nifas Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal. Pengaruh Anemia terhadap hasil konsepsi Hasil konsepsi (janin, plasenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir darah merah dan pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini membutuhkan 1\10 dari seluruh besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati, limfa,dan sumsum tulang Selama masih mempunyai cukup persediaan besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah: Keguguran Kematian jann dalam kandungan Kematian janin waktu lahir Kematian perinatal tinggi Prematuritas Dapatterjadi cacat bawaan Cadangan besi kurang Klasifikasi Anemia dalam kehamilan Anemia defisiensi besi (62,3%) Anemia megaloblastik (29,05) Anemia hipoplastik (8,0%) Anemia hemolitik ( sel sickle) (0,7%) Anemia defisiensi besi (62,3%) Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak di jumpai. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. Pengobatan Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil, hamil, dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah: FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15mg-15mg. LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg. Kemasan zat besi dapat di berikan peroral atau parenteral. Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x0,20mg. Parenteral: di berikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik, kemasan diberikan secara intra muskuler atau intravena. Kemasan ini antara lain : imferon, jectover, dan ferrigen. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik tau pernisiosa. Penyebany adalah karena kekurangan asam folik, jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik Pengobatan: asam folik 15-30mg per hari vitamin B12 31 tablet per hari sulvas ferosus 31 tablet per hari pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat di berikan tranfusi darah.

Anemia hipoplastik Anemia hipoplastik disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru, untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan: Darah tepi lengkap Pemeriksaan pungsi sternal Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain. Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya ini disebabkan oleh : Faktor intracorpusculer : dijumpai pada anemia hemolitik heriditer ; talasemia; anemia sickle ( sabit); hemoglobinopati C, D,G, H , I; dan parasismal nocturnal hemoglobinuria. Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan dapat beserta obat-obatan ; leukemia, dll Gejala utama adalah : Anemia dengan kelainan- kelainan gambaran darah, kelemahan, kelelahan serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. II LEOKEMIA DAN KEHAMILAN Leokemia dan kehamilan tidak begitu saling mempengaruhi, namun pada wanita leukemia, bila hamil, harus memeriksakan diri secara lebih teratur dan lebih sering, karena ancaman terhadap kehamilan dan jiwanya tetap ada. Terhadap hasil konsepsi dapat terjadi abortus dan prematuritas. Bahaya perdarahan paska persalinan cukup besar, karena pada leukemia terjadi gangguan pembekuan darah. Prognosis untuk ibu dan janin tidak begiti baik. Sampai sat ini belum ada obat-obat yang memuaskan terhadap leukemia. Cara pengobatan adalah : Radiasi : ini sangat membehayakan janin dalam kandungan, karena akan menimbulkan kelainan teratogenik atau kematian janin dalam kandungan. Bila akan diberikan terapi radiasi dan kemoterapi, sebaiknya terlebih dulu hasil konsepsi dikeluarkan ( abortus terapeutik) Transfusi darah Kemoterapi dan sirtotastika Anti metabilit Kortikosteroid Pencegahan Wanita leukemia sebaiknya jangan hamil Dianjurkan memakai kontrasepsi / tubektomi HEMOSTATIS DAN KELAINAN PEMBEKUAN DARAH Penyakit ini adalah terhentinya atau penghentian aliran darah dari pembuluh darah yang terbuka atau terluka. Ada 3 faktor dalam proses hemostasis: 1. Faktor ekstra vaskuler : factor jaringan seperti kulit, otot, subkutis dan jaringan lain. 2. Faktor vaskuler yaitu dinding pembuluh darah 3. Faktor intra vaskuler yaitu : zat yang terdapat dalam pembuluh darah: Implementasi Setelah rencana tindakan keperawatan selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang diterapkan. Tindakan keperawatan harus mendetail agar semua tenaga perawatan dapat menjalankan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat dapat langsung melaksanakannya pada

klien dan perawat dapat mendelegasikannya kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi dengan perawat. Evaluasi Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan peilaku klien dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yangh ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera dimodifikasi. BAB VI PENUTUP 5.1. Kesimpulan Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan . penyakit ini mungkin timbul pada triwulan ketiga kehamilan , tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya karea molahidatidosa.( Winknjosastro, 1997:282) Perdarahan antepartum (HAP) merupakan perdarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan mingggu ke -28 dan awal partus . Penyebab utama perdarahan antepartum adalah: Plasenta previa. Solutio plasenta. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan seharihari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk . Gangguan hematology adalah kelainan darah yang dapat ditemui pada ibu hamil yang dapat menyebabkan kematiaqn pada janin maupun pada ibu. Keempat factor diatas harus diwaspadai bila terjadi pada masa kehamilan dan perlu penanganan lebih dini . 5.2. Sasaran Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre-eklamsia, perdarahan antepartum , hyperemesis, gangguan hematologi di perlukan pengkajian secara lengkap agar dapat menetapkan diagnosa keperawatan secara cepat dan tepat terhadap klien sehingga tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak. http://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada-pasienperdarahan-antepartum/