Anda di halaman 1dari 18

1 BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Islam pada masa 711-1490 M pernah mencatat satu-satunya lembaran tercemerlang di dalam sejarah pemikiran orang Eropa dan pada abad pertengahan, the golden age (masa keemasan).1 Spanyol mencapai puncak keemasan dibawah pemerintahan keluarga Bani Umayyah terutama pada masa Abd Rahman I (756-788), Abd Rahman III (921-961), dan al-Hakam II (961-976 M), ketika itu ibukota Spanyol, Cordova bersinar bagai cahaya kilau kemilau, sementara bumi Eropa tenggelam dalam kegelapan.2 Masa kemajuan dan keemasan tersebut diakui oleh dunia luar, baik dari orang-orang Kristen maupun dari dalam sendiri. Akan tetapi, meskipun pemerintah tersebut pernah berjaya dan bergensi di Eropa, namun harus diakui pula bahwa pemerintahan tersebut juga mengalami kemunduran. Hal demikian juga terjadi pada penguasaan Islam di Sicilia yang secara resmi dikuasai pada bulan Rabiul Awal 212 H./827 M. dan sejak itulah Sicilia berada dalam kekuasaan Bani Aghlab. Dengan dikuasainya Sicilia, maka daerah sekitar Palermo yang dikuasai pada tahun 216 H dijadikan sebagai ibukota Sicilia.3 Kemudian setelah Dinasti Aghlabiyah diusir oleh Dinasti Fatimiyyah di Tunisia pada 909, Sicilia menjadi salah satu propinsi Dinasti Fatimiyah. Namun pendudukan orang-orang Arab atas Sicilia tidak berlangsung lama seperti pendudukan mereka di Spanyol. Setelah Islam berkuasa di Sicilia, wilayah tersebut mengalami perkembangan yang pesat. Akan tetapi perkembangan Islam di Sicilia juga pada akhirnya mengalami

Philip K. Hitty, History Of Arabs, (London : Rotledge dan Kegan Paul, 1980), h. 527. Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam; Studi Kritis dan Refleksi Historis. (Cet. II; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998), h. 215. 3 A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jilid II (Cet. I; Jakarta : Pustaka al-Husna, 1983)h. 282.
2

2 kemunduran hingga keruntuhan. Sejarah masuk, kemajuan serta kemunduran islam di spanyol dan sicilia menjadi tema utama dalam tulisan ini. B. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas maka penulis dapat merumuskan masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini sebagai berikut: 1. Bagaiamanakah sejarah masuknya Islam di Spanyol dan Sicilia? 2. Kemajuan-kemajuan apa sajakah yang dicapai oleh ummat Islam di Spanyol dan Sicilia?
3. Apakah penyebab kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol dan

Sicilia?

3 BAB II PEMBAHASAN A. Islam di Spanyol 1. Masuknya Islam di Spanyol Umat Islam mulai memasuki Spanyol pada pemerintahan al-Walid I dari dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada masa pemerintahannya, umat Islam mulai melancarkan ekspansi ke Barat. Dalam proses ekspansi ke Spanyol, tiga kesatria Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu : Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif bin Malik dikenal sebagai perintis dan penyelidik masuknya Islam di Spanyol. Sedangkan Tariq bin Ziyad adalah panglima perang yang menaklukkan Spanyol. Sementara Musa bin Nushair adalah pemegang tampuk kekuasaan di Afrika Utara ketika itu yang menjadi pusat gerakan ekspansi ke Spanyol. Menurut catatan sejarah bahwa ketika Musa Ibn Nushair memerintahkan di Afrika Utara, terjadi perselisihan antara Gubernur Cueta (Yulian) dengan Roderick raja Spanyol.4 Raja Roderick memerintah sewenang-wenang, ia telah memecat dan membunuh raja Witiza, sehingga Gubernur Cueta yakni Yulian menjadi marah dan meminta bantuan dan perlindungan kepada Musa Ibn Nushair dalam membebaskan negaranya (Spanyol) dari tirani Roderick.5 Inilah yang telah membuka pintu bagi daulah Umayyah untuk menguasai Spanyol khususnya dan Eropa umumnya.6 Kerjasama antara Yulian dengan Musa Ibn Nushair, telah mendapat persetujuan dari khalifah al-Walid. Atas dasar itulah sehingga Musa Ibn Nushair memerintahkan Tarif Ibn Abd. Malik untuk melakukan penjajakan atau penyelidikan di pantai selatan (Spanyol) dan sekaligus untuk mengkaji kesetiaan Yulian terhadap kerjasama yang telah dicetuskan. Maka disusunlah suatu kekuatan militer yang terdiri
4 5

Ibid, h. 158 Amer Ali, Short History Of The Saralens ( New Delhi : Kalam Mahal, 1981), h. 108. 6 Philip K Hitti, History Of The Arabs, op. Cit. h. 492-494

4 dari 400 orang tentara infanteri dan 100 orang kavalery serta diberangkatkan dengan menggunakan kapal laut milik Yulian, memasuki pantai selatan Spanyol pada bulan Juli 710 M. Misi Tarif berhasil dengan baik dan lancar. Sebagai bukti kedatangan Tarif ke Spanyol, maka diabadikanlah namanya menjadi nama sebuah semenanjung di Spanyol, yaitu semenanjung Tarifah.7 Sebagai tindak lanjut dari penyerangan Tharif, maka pada tahun 711 M, Musa Ibn Nushair mengutus panglima Tariq Ibn Ziyad, untuk melakukan agresi ke Andalusia (Spanyol), dengan jumlah pasukan yang lebih besar, yakni sekitar 7.000 pasukan. Pasukan Tariq memasuki Spanyol melalui Cuetadan berhasil mendarat di daerah perbukitan, yang hingga kini dinamakan dengan Gibraltar atau Jabal Thariq.8 Melihat hal itu, Raja Roderick menyadari ancaman dan bahaya yang menghadangnya, maka iapun mempersiapkan 100.000 pasukan. Tariq dan pasukannya didaratan Spanyol dihadang oleh 25.000 pasukan raja Roderick. Melihat jumlah pasukan yang tidak berimbang, maka Thariq minta bantuan kepada Musa Ibn Nushair, tetapi hanya Musa dapat mengirim 5000 prajurit, sehingga jumlah pasukan Tariq berjumlah 12.000 pasukan.9 Selisih jumlah pasukan yang tidak berimbang itu, tidak menjadikan Thariq surut dan gentar. Pasukan berani mati Thariq bin Ziyad terus bergerak maju sampai bertemu dengan angkatan perang raja Roderick di tepi sungai kecil (orang Arab menyebutnya dengan Wadi Bekka) dekat Guadalete yang mengalir ke selat Cape Trafalagar. Dalam pertempuran itu, Thariq dan pasukannya berhasil mengalahkan Roderick dan iapun terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 M. dengan kekalahan Roderick, pintu Spanyol terbuka lebar. Thariq dan pasukannya yang terdiri dari bangsa Barbar,10 terus bergerak maju menaklukkan kota-kota penting di Cordova,
7 8

Lihat, Ibid., Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Cet. II; Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), h.

90 Hasan Ibrahim Hasan, Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Djahdan Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam ( Cet. I; Yogyakarta : Kota kembang, 1989), h. 90 Bangsa Barbar adalah kelompok pengelana yang menempati wilayah Afrika Utara yang sebagian besar menempati gurun sahara di wilayah negara al-Jazair, Libia Nigeria,Maroko, dan
10 9

5 Granada, dan Toledo.11 Selanjutnya dengan penuh keberaanian terus menaklukkan satu persatu sebagian besar daerah Spanyol, antara lain Avignori Lyons dan pulaupulau yang terdapat di laut tengah seperti Majorca, Corsica, Sardini, Crete, Rhodes, Cyrus dan lain-lain. Melihat keberhasilan pasukan Tariq Ibn Ziyad dalam melaksanakan operasinya di Spanyol, maka pada bulan Juni 712 M. Musa Ibn Nushair mengarahkan pasukannya pula ke Spanyol sebanyak 10.000 orang prajurit, melaui jalan yang tidak dilalui oleh Tariq Ibn Ziyad. Pasukan Musa melalui pantai Barat Spanyol dan berhasil menaklukkan kota-kota Madinah Sidonia, Carmona, Merida, dan Sevilla. Pasukan ini akhirnya bertemu dengan pasukan Tariq di dekat kota Teledo. Dengan bergabungnya kedua pasukan ini, maka kedudukan angkatan perang muslim di Spanyol semakin kuat. Mereka meneruskan ekspansinya ke bagian utara Spanyol yaitu Saragoza,Tarrogana, Barcelona, Aragon, Leon, Austria, dan Galecia,12 bahkan mereka telah sampai ke perbatasan Spanyol dan Perancis. Pada waktu Tariq Ibn ziyad dan Musa Ibn Nushair memenangkan pertempuran dan menguasai kota-kota Andalusia. Sejak itulah Spanyol mulai dikuasai oleh Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dari sini dibangun peradaban yang menjadikan bangsa Spanyol mencapai kemajuan yang signifikan. 2. Fase-Fase Kekuasaan Islam di Spanyol Penguasaan Islam di Spanyol merupakan penguasaan yang terlama dalam sejarah peradaban Islam (780 tahun). Hal tersebut tentu telah melahirkan berbagai bentuk rezim dan kebijakan politik dan keagamaan yang beragama. Berikut penulis mengemukakan fase-fase pemerintah Islam di Spanyol13: a. Fase Pertama (711-755 M)

Tunisia.
11 12

Lihat, Hasan Bin Ibrahim Hasan, Op. Cit., h. 91 Lihat, Ibid.,. 13 Badri Yatim, op.Cit, h. 98-100

6 Fase ini berada dibawah kepemimpinan Spanyol berada di bawah pemerintahan wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Stabilitas pemerintahan dan ekonomi belum tercapai dengan baik. Karena masih banyak gangguan baik dari dalam maupun yang datangnya dari luar. Fase ini kemudian berakhir dengan datangnya Abd alRahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 755M. b. Fase Kedua (755-912 M) Fase ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan yang bergelar amir (panglima atau gubernur), akan tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama diberi gelar Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 755 M. pada fase ini umat Islam telah mencapai kemajuan-kemajuan baik dari segi politik maupun sosial kebudayan. Berdiri misalnya masjid Cordova , dan lembaga-lembaga militer yang kokoh serta ilmu pengetahuan. c. Fase Ketiga (912-1013 M) Fase ini berlangsung mulai pemerintahan Abd a-Rahman III yang bergelar An-Nashir, sampai kemudian munculnya raja-raja kelompok (muluk al-taif) . fase ini Spanyol berada di bawah beberapa rezim, yaitu dibawah kepemimpinan Abd Rahman an-Nashir 961 M. Hakam II 976 M, dan Hisyam 1009 M. Di fase inilah Spanyol mencapai puncak kejayaan menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Spanyol mencapai kecemerlangannya di berbagai bidang, baik pengetahuan, politik, agama dan budaya. Penerjemahan kitabkitab secara besar-besaran dilakukan. d. Fase Keempat (1013-1086 M) Fase ini mulai menjadi titik awal kemunduran Spanyol. Bermula dari muculnya raja-raja kecil yang terus mengancam disentegrasi politik pemerintahan Spanyol, misalnya Abbadiyah di Seville. Hal ini kemudian

7 dimanfaatkan oleh umat Kristen untuk terus mengkonsolidasikan diri untuk menyerang Spanyol.
e. Fase Kelima (1086-1248 M)

Fase ini Spanyol telah terpecah kepada negara-negara kecil, akan tetapi masih ada kerajaan yang masih bertahan yaitu kekuasaan dinasti Murabithun 1143M. Akan tetapi pada akhirnya umat Islam tidak mampu membendung serangan umat Kristen yang semakin besar. Sehingga pada tahun 1238 M Corodova jatuh setelah kejatuhan Seville pada tahun 1248 M. Pada fase ini Seluruh Spanyol kecuali Granada jatuh ke tangan Kristen. f. Fase Keenam (1248-1492 M) Fase ini kekuatan umat Islam hanya di daerah Granada, di bawah kekuasaan dinasti bani Ahmar 1492 M, inilah yang menjadi basis terakhir pertahanan Islam. Namun pada akhirnya Granada jatuh ke tangan kepada Ferdinand dan Isabella (umat Kristen). Setelah itu umat Islam mengalami inkuisisi masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol.
3. Kemajuan Umat Islam di Spanyol

Dalam kurun waktu yang cukup panjang (780 tahun lebih) umat Islam berkuasa di Spanyol, telah menunjukkan prestasi gemilang yang mengantarkan Spanyol mencapai pumncak kejayaannya. Bahkan pengaruhnya telah membawa Eropa mencapai kemajuan-kemajuan. Diantara prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh umat Islam di Spanyol adalah : a. Prestasi di bidang ilmu pengetahuan yang meliputi; Filsafat, Sains, Fiqhi, bahasa, Sastra, Musik dan lain-lain. tempat-tempat pendidikan dibangun seperti sekolah, perpustakaan dan lain-lain. disamping itu, kegiatan-kegiatan ilmiah terus digalakkan. b. Prestasi di bidang perdagangan dan pertanian, seperti pasar-pasar, dan jalan dibangun, sistem irigasi dikembangkan, pengembangan tekstil, dan lain-lain.

8
c. Prestasi di bidang keagamaan, misalnya dibangun masjid-masjid

Cordova, masjid Seville, bahkan menurut sejarah bangunan masjid yang indah mencapai 491 buah.
d. Prestasi di bidang pembangunan fisik, seperti dibangun Istana al-

Hamra, kota zahrah, istana Jafariyah, istana al-Makmun, istana Toledo dan lain-lain.14 Dari beberapa prestasi yang telah dicapai tersebut, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : a. Adanya pemerintahan kuat dan berwibawa yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan Islam, seperti Abdurrahman alDakhil, Abdurrahman al-Wasith, Abdurrahman al-Nashier. b. Adanya penguasa pelopor bagi kegiatan-kegiatan ilmiah. diantaranya adalah penguasa dinasti Umayyah di Spanyol Muhammad Ibnu Abd. Rahman dan al-hakam II al-Muntashir.
c. Toleransi beragama ditegakkan oleh penguasa penganut agama

Kristen dan Yahudi. Sehingga dengan penuh rasa tanggung jawab mereka ikut berpartisipasi dalam membangun peradaban di Spanyol.15 d. Adanya hubungan intelektual yang baik antara Spanyol dan Baghdag dalam membangun peradaban dan kesatuan budaya dunia Islam. kendatipun keduanya mempunyai persaingan politik yang sengit. Terbukti, tidak jarang buku-buku dan gagasan-gagasan dari timur dibawa ke barat, demikian pula sebaliknya.
4. Kemunduran dan Kehancuran Islam di Spanyol

a. Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Masa kemunduran Islam di Spanyol merupakan sejarah gelap Islam Spanyol. Karena masa kemunduran itulah yang menjadi cikal bakal (baca : embrio) lenyapnya
Ibid, h. 104 Ibid, h. 105-106. Dikatakan bahwa orang Kristen dan Yahudi disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing.
15 14

9 Islam secara total di Spanyol. Kemunduran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor, sebagai berikut : 1). Konflik Islam dengan Kristen. Para penguasa muslim sudah merasa puas dengan hasil upeti yang mereka dapat dari kerajaan-kerajaan Kristen yang telah ditaklukkan, sehingga upaya Islamisasi terhenti. Membiarkan Kristen tetap mempertahankan hukum dan adat mereka. Demikian pula kehadiran orang Arab Islam di Spanyol secara tidak langsung membangun kesadaran kebangsaan orang-orang Kristen Spanyol. Wilayah kekuasaan Islam di Spanyol yang berbatasan dengan Kristen di Utara, selalu mendapat serangan dimana ada kesempatan. Serbuan yang dilakukan oleh Raja Alfonso VI berhasil merebut Toledo dari dinasti Zunniyah pada tahun 1085 M. pada tahun 1238, Kristen juga berhasil menguasai Sevilla dan menyusul Cordova pada tahun 1248 M.16 setelah Cordova jatuh di tangan Kristen, Islam masih dapat bertahan di Granada selama lebih dari dua abad, yaitu pada masa kekuasaan Bani Ahmar. Pada tanggal 2 Januari 1492 Granada takluk kepada Kristen, setelah kerajaan Aragon dan Castilian bersatu menyerang Islam pada tahun 1469. Dengan jatuhnya Granada menandai jatuhnya Islam sebagai politik dan agama di Spanyol. Demikian seterusnya sampai Islam benar-benar hilang dan musnah di Spanyol, terutama oleh Raja Philip III menguasai orang-orang Islam di Spanyol secara paksa dengan dua pilihan masuk Kristen atau keluar dari Spanyol. 2). Keterpurukan ekonomi. Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa hanya mengkonsentrasikan diri pada pembangunan ilmu pengetahuan secara serius. Sementara sektor ekonomi tidak

A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jilid II (Cet. I; Jakarta : Pustaka al-Husna, 1983) h. 76

16

10 diperhatikan, akibatnya timbul krisis ekonomi yang memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer. 3). Tidak adanya ideologi pemersatu. Politik yang dijalankan oleh Bani Umayyah di Damaskus adalah orang-orang Arab (Islam) tidak pernah menerima orang pribumi sebagaimana di tempat lain para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, suatu perilaku politik yang dinilai merendahkan dan diskriminatif. Akibatnya kelompokkelompok non Arab selalu menggerogoti dan merusak perdamaian. 4). Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan. Hal ini berimplikasi terjadinya perebutan kekuasaan oleh para ahli waris. 5). Munculnya dinasti-dinasti kecil. Munculnya dinasti kecil di Spanyol menyebabkan terjadinya disintegrasi yang pada gilirannya menjadi penyebab lemahnya Islam di Spanyol. Terdapatnya sejumlah dinasti lokal berkuasa di daerah bagian Spanyol. Terjadinya persaingan antara dinasti kecil yang ada, memberikan peluang bagi umat Kristiani untuk melaksanakan politik adu domba.17 6). Keterpencilan Spanyol menyebabkan terisolir dari dunia Islam yang lain. secara politik selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang dapat membendung kekuatan Kristen di Spanyol.18 B. Islam di Sicilia 1. Masuknya Islam di Sicilia Serangan pertama ke Sicilia tercatat pada tahun 652, ketika kota Siracuasa dimasuki. Hal ini terjadi setelah orang-orang Arab memiliki angkatan perang yang mampu menandingi angkatan perang Bizantium. Kemudian disusul serbuan
G.E. Bosworth, The Islamic Dinasties Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Dinasti-Dinasti Islam ( Bandung : Mizan,1993), h. 35
18 17

Badrin Yatim, op.cit. 118

11 berikutnya dan hanya sampai kepada awal abad ke sembilan dan pada waktu itu kekuatan kaum muslimin diarahkan pada tujuan-tujuan lain. Selanjutnya dinasti Aghlabiyah yang berkuasa di Tunis dari tahun 800 M969 M dibentuk oleh Ibrahim ibn Aghlab, gubernur yang diangkat oleh Harun alRasyid.19 Dinasti ini menyerang dan menguasai Sicilia dilatar belakangi oleh adanya ketegangan intern penguasa Romawi yang pada waktu itu Bani Aghlab diperintah oleh Amir Ziyadatullah.20 Pada tahun 211 H. Kaisar Romawi di Konstantinopel memerintah Konstantin (gubernur Sicilia) untuk menangkap seorang perwira yang bernama Fimi. Reaksi tersebut disambut oleh Fimi dan selanjutnya memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Sicilia, maka terjadilah kontak senjata antara pasukan Fimi dengan pasukan yang dipimpin oleh Balata yang dibantu oleh Michael, keduanya memerangi Fimi dan penguasa kota Saragossa. Fimi merasa kesulitan menghadapi musuhnya, maka dia meminta bantuan kepada Ziyadatullah untuk memberikan perlindungan kepadanya dan menawarkan kepada Ziyadatullah untuk menguasai Sicilia. Kesempatan ini tidak disia-siakan dan segera mengirim bantuan yang dipimpin oleh Asad bin Furat.21 Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal 212 H./827 M. dan sejak itulah Sicilia berada dalam kekuasaan Bani Aghlab. Dengan dikuasainya Sicilia, maka daerah sekitar Palermo yang dikuasai pada tahun 216 H dijadikan sebagai ibukota Sicilia.22 Kemudian setelah Dinasti Aghlabiyah diusir oleh Dinasti Fatimiyyah di Tunisia pada 909, Sicilia menjadi salah satu propinsi Dinasti Fatimiyah. Jadi pendudukan orang-orang Arab atas Sicilia tidak berlangsung lama seperti pendudukan mereka di Spanyol. 2. Rezim Islam di Sicilia
Harun Nasution, op. cit., h. 75. C.E. Bosworth, op. cit. h. 46. 21 Abdul Hali Uways, Analisa Runtuhnya Daulah Islam. (Cet. II; Solo: Pustaka Mantiq, 1992), h. 126. 22 Ahmad Syalabi, op. cit., h. 282.
20 19

12 Selama Sicilia berada di bawah kekuasan Islam telah banyak mengalami beberapa fase dan corak kekuasaan dari berbagai dinasti Islam, diantaranya: a. Dinasti Aghlabid (berkuasa 827 M- 909 M) Selama 82 tahun , Sicilia berada dalam kekuasaan Dinasti Aghlabid yang berpusat di Tunisia. Di saat berada di bawah kekuasaan Dinasti Aghlabid, populasi penduduk Sicilia semakin bertambah seiring dengan datangnya imigran muslim dari Afrika, Asia, Spanyol dan Barbar. Dinasti Aghlabi menempatkan seorang Amir sebagai pejabat gubernur di ibu kota Sicilia, Palermo. Di setiap kota di Sicilia dilengkapi dengan sebuah dewan kota benama gema. Ketika Islam berkuasa banyak penduduk Sicilia yang menganut agama Islam, sebagian lainnya tetap memeluk agama Kristen. Pada era tersebut, mulai diperkenalkan land reform atau reformasi agrarian. Hal tersebut dilakukan agar tanah tak Cuma dikuasai oleh orang kaya saja. Ini demi mewujudkan masyarakat dan pemerintahan Islam yang berkeadilan. Irigasi juga mulai diperkenalkan, sehingga sector pertanian berkembang pesat. Pada abad ke 10 M, Sicilia menjadi provinsi di Italia yang paling padat penduduknya dengan jumlah yang hampir mencapai 300 ribu jiwa. 23
b.

Dinasti Fatimiyah (berkuasa 909 M- 965 M)

Pada tahun 909 M, kekuasaan dinasti Aghlabid dari Afrika di Sicilia diambil alih oleh Dinasti Fatimiyah. Wilayah tersebut awalanya menjadi bagian dari provinsi Fatimiyah yang berpusat di Mesir. Empat tahun berkuasa, gubernur Fatimiyah diusir dari Palermo, kepulauan itu kemudian mendeklarasika kemerdekaannya di bawah kepemimpinan seorang Emir bernama Ahmed Ibnu Kohrob. Sicilia kembali dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah pad tahun 917 M. selama dua puluh tahun lamanya, Sicilia dipimpin oleh seorang gubernur Fatimiyah. Walaupun pada akhirnya pada tahun 937 M, bangsa Barbar mengambil alih Sicilia.24
23 24

Meisusilo, Sicilia kota dengan 300 Masjid, www. -SiciliaBalerm._com, 22 Januari 2009 Ibid

13 c. Emirat Sicilia (berkuasa 965 M- 1091 M)

Sejak tahun 948 M, khalifah Fatimiyah, Ismail al-Mansur mengangkat Hassan al-Kalbi sebagai emir Sicilia. Secara defakto, Emirat Sicilia terlepas dari pemerintahan Fatimiyah di Mesir. Lalu dia digantikan Emir yang baru bernama Abu al-Qasim (964 M-982 M), pada masa kedua emir itu berkuasa, Sicilia Muslim bertempur dengan Bizantium. Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. pada tahun 1061 M, Sicilia lepas dari tangan umat Islam. 25 3. Kemajuan Islam di Sicilia Setelah Islam berkuasa di Sicilia, wilayah tersebut mengalami perkembangan yang pesat. Sicilia merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Di sana banyak perguruan tinggi dan Mesjid didirikan, di Palermo terdapat 300 mesjid, mesjid tersebut tiap hari ramai dikunjungi oleh kaum muslim untuk beribadah.26 Beragam suku dan etnis, seperti orang Sicilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, Negro berbaur dalam toleransi dan keharmonisan. Tidak ada pembantaian terhadap penduduk yang beragama Nasrani. Penduduk Sicilia yang beragama Nasrani dilindungi dan dihormati kebebasannya dalam menjalankan aktivitas peibadatan. Penguasa muslim hanya membebankan pajak kepada penganut agama Nasrani. Hak milik dan usaha mereka dilindungi oleh penguasa muslim. Begitupula dengan warga Yahudi yang berada di bawah kawasan kota pantai. Penguasa muslim menghormati hak hidup dan melindungi kebebasan umat beragama lain dalam menjalankan ibadah. Sejak berada di dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordova. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tidak hanya menjadi tempat peribadatan semata. Masjid-masjid itu

Ibid Bernard Lewis, Islam The Prophet Muhammad to the Capture Of Constantinople. (Londong: The Macmillan, 1974), h. 88-91.
26

25

14 juga berfungsi sebagai sarana pendidikan (sekolah), tempat bersemainya pengetahuan dan peradaban. Data sejarah tentang kemajuan yang dicapai di Sicilia antara lain dapat dilihat:
a.

Di bidang ilmu pengetahuan, Sicilia memiliki universitas Islam

terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa dari berbagai penjuru Eropa dan dunia. Di lian sisi Sicilia juga mejadi berkah bagi peradaban Barat. Wilayah otonomi di selatan Italia itu menjadi gerbang transfer ilmu pengetahuan dari duni muslim ke dunia barat. Maka tidak mengherankan University of Balerm, sebuah perguruan tinggi Islam di Sicilia menjadi obor pengetahuan dan peradaban Islam Sicilia.
b.

Di bidang pertanian, para petani dan sarjana muslim memperkenalkan

tehnik-tehnik baru pertanian serta benih tanaman yang unggul. Buah jeruk merupakan komoditas agrobisinis terkemuka yang dihasilkan para petani Sicilia. Diperkenalkanlah juga bangunan irigasi oleh para sarjana muslim, dan hingga hari ini warisan tersebut masih terus digunakan walaupun muslim tidak lagi berkuasa di sana. c. d. Dalam bidang bahasa yaitu Nahwu, dikenal nama Muhammad bin Untuk memelihara stabilitas di kawasan Sicilia dan sekitarnya, Khurazan dan dalam bidang Fiqh, terdapat Muhammad bin al-Hasan bin Ali. khalifah al-Muiz Li Dinillah menerapkan hukum dengan bijaksana dan memperlakukan warga negara Sicilia dengan sebaik-baiknya. e. Toleransi dalam kehidupan beragama di Sicilia yang sangat kuat. Dalam bidang ekonomian Sicilia merupakan daerah produktif, Keadaan ini berlangsung hingga jatuhnya Islam ke tangan Kristen.
f.

penghasil buah-buahan, emas, perak, timah, air raksa dan hasil tambang lainnya. Hasil bumi dari Sicilia di ekspor ke negara lain dan dalam hal petrolium masih mengimpor dari negara lain. Dari aspek ekonomi, kehadiran

15 Islam di Sicilia membawa berkah bagi kemajuan perekonomian Sicilia. Hal tersebut bisa dilihat dari industri tekstil yang semakin berkembang pesat, industri kerajinan menjadi identitas swadaya ekonomi masyarakat Sicilia. Sicilia menjadi persimpangan rute perdagangan bersama dengan Tunisia.27 3. Kemunduran dan Kehancuran Islam di Sicilia Walaupun wilayah Sicilia memperoleh banyak kemajuan di bawah kekuasan Daulah Fatimiyah, namun juga banyak terjadi kekacauan baik dari pihak Islam sendiri maupun dari luar Islam. Sebagai contoh Ahmad ibn Qurhub yang mengatakan diri sebagai penguasa Sicilia dan mengajak warganmya untuk setia kepada alMuqtadir (Khalifah Abbasiyah) dan menolak untuk taat kepada Fatimiyyah. Faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap kemunduran bahkan mengantarkan keruntuhan Islam di Sicilia adalah usaha penguasa Kristen untuk mengembalikan Sicilia ke pangkuannya.28 Keadaan tersebut didukung pula dengan munculnya penguasa-penguasa daerah yang bersekongkol dengan Romawi tersebut seperti ibn al-Samah untuk memenuhi ambisinya untuk meminta bantuan kepada orang Normandiah, juga ibn Hanud, penguasa Durance yang menyatakan setia kepada Roger, penguasa Normandiah pada waktu itu.29 Semuanya itu merupakan penyebab kehancuran kekuasaan Islam di Sicilia hingga akhirnya satu demi satu jatuh ketangan penguasa Kristen. Kebesaran yang telah diraih oleh Islam di Sicilia ternyata tidak mampu menahan kehancurannya, yang diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain: a. Pertentangan antara suku-suku Arab dalam Islam yang dahulunya membangun toleransi dan persaudaraan dengan kokoh, karena konflik

Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayan Islam. (Cet. I; Yogyakarta : Kota Kembang, 1989), h. 232. 28 Ibid, h.108. 29 Lihat Abdul Halim Uwais, op. Cit, h. 128-129.
27

16 kepentingan perlahan lahan kemudian memudar dan berbuah menjadi permusahan.30 b. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk non Islam. perjanjian hidup bersama yang dibangun dengan umat Islam dinodahi dengan keserakahan dan eksploitasi melalui pajak yang teramat tinggi. Sehingga mereka perlahan secara diam-diam membangun kekuatan untuk melakukan perlawanan dan pemberontakan untuk merebut Sicilia .31 3. Tidak jelasnya system pemerintahan yang diterapkan oleh berbagai rezim yang memerintah Sicilia. Pengaturannnya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian Khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga Istana.32 Sehingga umat Islam sukar mengendalikan dan mengurus administrasi dengan baik, tambah lagi dengan sedikitnya jumlah penguasa yang berwibawa untuk dapat menguasai sepenuhnya wilayah yang luas itu. 5. Latar belakang terbentuknya kedaulatan Islam di Sicilia tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik yang terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Islam. 6. Setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Sicilia, maka segala bentuk peradaban Islam telah dihancurkan oleh orang-orang Kristen. Sebagian dari peradaban Islam yang masih tersisa, ternyata cukup berpengaruh dalam kebangkitan dunia Eropa hingga sekarang ini.

3 30 K Ali, Study of islamic History, diterjemahkan oleh ghufron A. Masadi, Sejarah Islam, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2000), h.169-170 3 31 (Watt, 1990:28). 3 32 Philip K Hitti., op. Cit, h. 281

17 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari beberapa uraian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.

Masuknya Islam di Spanyol dan Sicilia ditandai dengan adanya

penaklukan daerah-daerah tersebut dari pemerintah yang bertindak sewenang-wenang. Sehingga menjadikan Islam sebagai pimpinan pemerintahan di kedua tempat tersebut.
2.

Islam di Spanyol dan Sicilia mencapai puncak kejayaannya

disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain; adanya pemerintahan kuat dan berwibawa yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan Islam, adanya penguasa menjadi pelopor bagi kegiatan-kegiatan ilmiah, toleransi beragama ditegakkan oleh penguasa. 3. Kemunduran dan keruntuhan yang dialami Islam di Spanyol dan Sicilia tidak lepas dari ummat islam sendiri sehingga membuat para penentang pemerintahan islam dapat lebih mudah menghancurkan islam yang telah rapuh akibat masalah yang terjadi pada tubuh Islam itu sendiri.

18 DAFTAR PUSTAKA

Ali, Amer, Short History Of The Saralens, New Delhi : Kalam Mahal, 1981 Ali,K. Study of islamic History, diterjemahkan oleh ghufron A. Masadi, Sejarah Islam, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2000 Abdul Halim, Uways, Analisa Runtuhnya Daulah Islam. Cet. II; Solo: Pustaka Mantiq, 1992 Bosworth, G.E., The Islamic Dinasties Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul: Dinasti-Dinasti Islam, Bandung : Mizan,1993 Hasan, Ibrahim Hasan, Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Djahdan Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam, Cet. I; Yogyakarta : Kota kembang, 1989 Hitti, Philip K., History of Arabs, London : Rotledge dan Kegan Paul, 1980 Meisusilo, Sicilia kota dengan 300 Masjid, www. -SiciliaBalerm._com, 22 Januari 2009 Syalabi, Ahmad, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, Edisi Terjemah, Jakarta : Pustaka al-Husna, 1982 Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet. II; Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994