Anda di halaman 1dari 2

Manifestasi Klinis Pneumonia, baik viral maupun bakterial, didahului gejala infeksi saluran pernapasan atas, seperti rhinitis

dan batuk.d Setelah itu dapat timbul peningkatan suhu tubuh, takipnea, peningkatan usaha napas, serta sianosis bila sudah lanjut.a,b,c,d Peningkatan suhu tubuh yang terjadi umumnya lebih tinggi pada infeksi bakterial dibandingkan dengan viral.d Takipnea harus dihitung selama satu menit penuh dan saat pasien berada dalam kondisi tenang. Berdasarkan World Health Organization (WHO), takipnea didefinisikan sebagai berikut:a,b,c Laju pernapasan > 50 kali per menit pada usia 2-12 bulan Laju pernapasan > 40 kali per menit pada usia 1-5 tahun Laju pernapasan > 30 kali per menit pada usia > 5 tahun Peningkatan usaha napas dapat dilihat dari timbulnya retraksi interkostal, subkostal, suprasternal, napas cuping hidung, dan penggunaan otot-otot napas tambahan.d Anamnesis pasien dengan pneumonia harus ditanyakan juga mengenai umur pasien, status imunisasi, riwayat penyakit sebelumnya (sering didahului infeksi saluran pernapasan atas), perawatan yang telah dilakukan, tempat tinggal, riwayat paparan, riwayat bepergian, dan riwayat pemakaian antibiotik.a Anamnesis lain meliputi mannifestasi klinis di luar pernapasan seperti letargi, tidak napsu makan, muntah, diare, nyeri perut, iritabilitas, dan dehidrasi.a Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda toksik seperti takipnea, suhu yang meningkat, retraksi, grunting, dan penggunaan otot aksesorius. Pada auskultasi dapat ditemukan suara napas yang menurun dengan tipe bronkial, serta timbulnya ronki. Seiring dengan bertambah parahnya penyakit, dapat timbul efusi pleura, empiema, atau piopneumotoraks, sehingga ditemukan pula pekak dada, dan pleural friction rub.a,d Selain pemeriksaan di atas, juga perlu dilakukan pemeriksaan tanda-tanda dehidrasi dan hipoksis. Berdasarkan temuan di atas, indikasi rawat untuk pasien pneumonia adalah:c Anak yang sakit dengan muntah dan dehidrasi serta gangguan usus Takipnea Retraksi dinding dada dan grunting SaO2 < 92% Pemeriksaan radiologis Menurut American Thoracic Society (ATS), pada semua pasien dengan pneumonia, harus dilakukan pemeriksaan rontgen dada. Jenis rontgen dada yang diperlukan untuk pasien

pneumonia adalah posisi posteroanterior dan lateral. Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis dan komplikasi pneumonia.b Konsolidasi satu lobus paru umumnya disebabkan etiologi bakteri (umumnya pneumococcus).a,c,d Sedangkan infiltrat interstitial bilateral umumnya disebabkan etiologi viral.a,d

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan non-spesifik yang dapat dilakukan meliputi penghitungan jumlah leukosit, hitung jenis, C-reactive protein (CRP), laju endap darah (LED), dan prokalsitonin.c Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis dapat membedakan etiologi bakterial dan viral, walaupun tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Jumlah leukosit pada infeksi virus umumnya masih berjumlah di bawah 20.000/ul dengan dominan limfosit, sedangkan pada etiologi bakterial umumnya berkisar antara 15.000-40.000/ul dengan dominan granulosit.d Karena tidak dapat membedakan etiologi viral dan bakterial, pemeriksaan yang lain sebaiknya tidak rutin untuk dilakukan. Pemeriksaan elektrolit, ureum, kreatinin dan analisis gas darah hanya dilakukan pada kondisi dehidrasi dan pada pasien yang tampak sakit berat.c Terdapat beberapa macam modalitas yang tersedia untuk memastikan etiologi penyebab pneumonia. Pemeriksaan kultur dapat dilakukan pada darah dan sputum dilakukan untuk memastikan jenis kuman yang menginfeksi. Kultur darah kurang baik dilakukan karena hanya positif pada 4-10% kasus.b,c,d Kultur sputum seringkali tidak menunjukkan hasil positif dan tidak menunjukkan kuman yang infeksi saluran pernapasan bawah, dikarenakan sulit mengambil sputum dari saluran pernapasan bawah, sputum yang diambil kadang terkontaminasi dari saluran penapasan atas, terlalu banyak saliva dalam sediaan sputum, seringkali pasien telah meminum obat-obatan sebelumnya, dan etiologi viral.b Metode pemeriksaan yang tersedia berupa polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi antigen pada darah, nasofaring, dan cairan pleura masih jarang dilakukan karena keterbatasan fasilitas dan dana. Pemeriksaan lain seperti analisis cairan pleura, seologi, dan urinalisis juga tidak rutin dilakukan.a,b,c

a. Community-Acquired Pneumonia in Infants and Children b. Diagnosis and Treatment of Community-Acquired Pneumonia c. Management of Community-Acquired Pneumonia in Children d. Nelson