Anda di halaman 1dari 29

TUGAS PBL

LETIH (FATIGUE)

Disusun oleh : KELOMPOK 5 No.


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Nama
Dwi Nifsiatul Afrida Fenty Sulistyo Hertanti I Nyoman Yudiartono Riva Nita Harmila Dinar Mustika Nuri Lahar Satrya Wiranagara Adelbertus Putra Bali Indra Sukma Tenggara I Gede Ardi Pratama Hartaz Zasika Ekosari Andri Hery Gunawan Nina Awinda Lia

NPM
08700107 08700109 08700113 08700115 08700117 08700119 08700121 08700123 08700125 08700127 08700129 08700131

PEMBIMBING TUTOR: Drh. Bagus Uda Palgunadi, M. Kes.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA TAHUN AKADEMIK 2009/2010


1

KATA PENGANTAR

Segenap rasa puja dan puji syukur kami panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, makalah dan hasil diskusi PBL kelompok kami selesai tepat pada waktunya. Adapun makalah ini disajikan beberapa hasil diskusi terkait dengan skenario 1 yaitu Letih (Fatigue). Serta beberapa klarifikasi istilah dan pembahasan masalah skenario 1 yang menitikberatkan pada kemampuan mahasiswa kedokteran dalam penegakan diagnosis mulai dari proses anamnesa hingga tercapainya suatu hipotesa akhir dalam kasus Letih (Fatigue) ini. Di mana, akan disajikan juga beberapa penatalaksanaan dari kasus tersebut. Diharapkan semoga hasil diskusi kelompok kami yang berbentuk makalah ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh pembaca. Akhir kata, Tidak ada gading yang tak retak. Kami sadar akan kekurangan kami dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik itu rekan rekan, tutor serta para narasumber.

Surabaya, April 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I SKENARIO 1

Seorang pasien anak berusia 11 tahun, dibawa oleh ibunya datang ke tempat praktik anda di puskesmas karena mengeluh sering pusing dan tampak pucat. Nilai rapor sekolahnya menurun. Pasien sendiri merasakan cepat lelah, kalau main bola rasanya mau pingsan.

BAB II KATA KUNCI

Pada skenario 1 ini, kami menemukan kata kunci yang akan kami bahas lebih lanjut, kata kunci tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Pusing 2. Pucat 3. Lelah 4. Pingsan

BAB III IDENTIFIKASI ISTILAH

1. Pusing : - berat di kepala - sensasi seperti berputar - nyeri di kepala 2. Pucat : Lebih putih atau lebih terang dari biasanya karena kekurangan sel darah merah. 3. Lelah : Kondisi dimana kekuatan menurun yang dirasakan tidak seperti biasanya. Bisa karena ATP yang kurang, bahan pembentuk ATP kurang, bahan pembakar (O2) kurang, atau bahan pengangut O2 (hemoglobin) kurang. 4. Pingsan : Kehilangan kesadaran karena oksiden di otak turun.

BAB IV MINIMAL PROBLEM

Pada skenario 1 ini, kami menemukan problem yang akan kami bahas lebih lanjut, problem tersebut antara lain sebagai berikut : Apa saja penyebab letih dan bagaimana terjadinya ? Penyakit apa saja yang menimbulkan letih ? Bagaimana cara menentukan diagnosa pastinya ? Bagaimana prinsip pengobatan dan terapi pada kasus ini ? Bagaimana cara pencegahan masalah ini ?

BAB V PEMBAHASAN

A.

Batasan Dalam laporan ini akan dibahas masalah penyebab lelah

B.

Anatomi/ Histologi / Fisiologi / Patofisiologi/ Patomekanisme DARAH Darah adalah bagian dari tubuh manusia yang berbentuk cair dimana memiliki 2 bagian yaitu bagian padat yang terdiri dari sel- sel darah itu sendiri dan bagian cair yang terdiri dari plasma darah. Plasma darah mengandung protein plasma, ion-ion elektrolit serta berbagai substansi yang diperlukan oleh tubuh. Sel darah sendiri terdiri dari: eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keping darah). Eritrosit: Eritrosit atau sel darah merah dibentuk di sumsum tulang dengan CFU-E yang mengandung prekursor eritrosit pertama kali yaitu Pronormoblast. Pronormoblast akan membelah dan berdifferensiasi menjadi Eritrosit matur yang tidak berinti dengan mengikat Hb yang selanjutnya akan berfungsi sebagai pengikat Oksigen. Hemoglobin dibentuk dari Heme yaitu lingkaran protoporfirin yang mengikat ion Fe di tengahnya dan globin yaitu suatu asam amino yang terdapat dalam pool. Hemoglobin akan memberi warna kemerahan pada bagian perifer eritrosit (2/3 perifer sel) sedangkan bagian yang tidak tersaturasi oleh hemoglobin akan terwarna lebih pucat pada bagian inti sel (1/3 tengah sel). Eritrosit yang mengandung Hb berfungsi untuk mengikat O2 dan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Leukosit: Leukosit atau sel darah putih adalah sel- sel dengan morfologi lebih besar dari eritrosit. Seperti halnya eritrosit Leukosit juga dibentuk di sumsum tulang dengan regulasi oleh GM-CSF (Granulosit Monosit- Colony Stimulating Factor) dimana sel mieloid ini akan berdiferensiasi menjadi 3 sel yaitu: Granulosit, Monosit, dan Megakariosit. Sedangkan leukosit yang lain berfungsi untuk membentuk sistem kekebalan tubuh/antibodi yaitu Limfosit berasal dari LSC (Limfoid Stem Cell). Granulosit terdiri dari 3 jenis sel berdasarkan bentuk inti dan sitoplasmanya, yaitu: Netrofil, Eosinofil, dan Basofil. 8

Netrofil adalah sel darah putih yang berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap infeksi atau peradangan, memiliki inti sel yang terfragmentasi dengan sitoplasma yang halus. Eosinofil berfungsi untuk reaksi alergi dan infeksi parasitik, dimana memiliki 2 inti yang terhubung oleh kromatin- kromatin halus dengan sitoplasma yang lebih kasar dan berwarna halus. Sedangkan Basofil memiliki morfologi yang lebih spesifik lagi dengan sel yang dipenuhi sitoplasma dengan granul- granul yang berwarna biru hampir menutupi seluruh sel. Fungsi dari basofil ini adalah berperan dalam reaksi alergai dengan melepaskan granul- granulnya yang mengandung substansi yang dapat meningkatkan permeabilitas vasculer. Basofil yang terdapat dalam jaringan ekstramedullar disebut dengan sel mast. Monosit memiliki sel yang berukuran besar dengan inti yang menyerupai kacang atau ginjal. Fungsi dari monosit ini adalah perannya dalam sistem fagositosis zat/antigen asing. Monosit yang terdapat dalam jaringan disebut Makrofag. Limfosit adalah leukosit yang berfungsi untuk membentuk antibodi. Ada dua jenis limfosit yaitu Limfosit-T yang berperan dalam imunitas seluler dan Limfosit B yangberperan dalam imunitas humoral. Megakariosit adalah sel terbesar dalam sumsum tulang dimana dalam differensiasinya mengalami pembelahan inti tanpa diikuti pembelahan sel sehingga terbentuk sel besar dengan inti yan banyak. Membran- membran batas sitoplasma (dekarmasi) akan membentuk trombosit yang berasal dari pecahan megakariosit.

C. Pemeriksaan Fisik Penyakit Nama Umur Pekerjaan Alamat Identitas Pasien : An. Ponari : 11 tahun : pelajar : desa Blambang Mojokerto (daerah perkebunan)

Jenis Kelamin : laki-laki Anamnesa Keluhan utama : - Lemah Riwayat penyakit sekarang : Terasa lemah sejak 3 minggu yang lalu - Semakin hari semakin lemah dan tampak pucat - Akhir-akhir ini sulit berkonsentrasi dan sering melamun - Kalau melakukan aktivitas agak berat cepat lelah dan sempat mau pingsan - Sering pusing - Sering gatal-gatal - Terkadang tampak seperti sesak dapas - Timbul bintik-bintik merah (ruam) di seluruh tubuh - Tidak ada batuk - Tidak sering terbangun kalau malam karena sering kencing - Pasien tidak sedang stress - Satu bulan ini tampak kurus - Perut agak membuncit - Nafsu makan mulai turun - BAB seperti ada cacing Riwayat penyakit dahulu : - Sebelumnya tidak pernah mengalami seperti ini - Belum pernah operasi 10

Riwayat penyakit keluarga : - Adiknya dulu pernah sakit seperti ini, tapi sekarang sudah sembuh setelah berobat ke dokter. Riwayat Sosial-Ekonomi : - Kondisi lingkungan perkebunan - Kebersihan kurang, tidak ada jamban - Sebelum makan tidak mencuci tangan pakai sabun - Sering main di tanah tidak pakai sandal Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : lemah, letih, lesu, tampak pucat. Vital Sign

Tensi : 100/60 mmHg

Nadi : 90 x/menit Respiratory rate

: 18 x/menit

Suhu : 37 C Kepala/leher : anemi + /icterus - /cyanosis - /dyspnea Ada pembesaran kelenjar getah bening Thoraks : - Cor : tidak ada pembesaran S1/S2single Murmur ( - ) - Pulmo : simetris Suara napas vesikuler ( + ) nyeri tekan ( - ) nyeri ketuk ( - ) Ronkhi ( - ) Wheezing ( - ) 11

Abdomen : - Simetris - Hepar, lien, ren - Meteorismus ( - ) - Bising usus normal UG Ekstremitas : Normal : akral normal Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah Lengkap - Penurunan nilai Hb, HCT, dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) - Pemeriksaan darah tepi menunjukkan Anemia Hipokrom Mikrositer - Eosinofilia Pemeriksaan Besi Serum SI dan TIBC - Kadar besi serum menurun dan TIBC meningkat Pemeriksaan Feces - Ditemukan telur cacing tambang Pemeriksaan EKG : Normal : tidak teraba

12

BAB VI HIPOTESIS AWAL DAN DIFFERENTIAL DIAGNOSIS


A. Hipotesis Awal Diagnosa fisiologisnya adalah Anemia Hipokromik-mikrositik. Sedangkan diagnosa kausalnya adalah Infeksi Cacing Tambang. B. Diagnosa Banding 1. Anemia Aplastik 2. Anemia Sel Sabit 3. Kwasiorkor

13

BAB VII ANALISIS DARI DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

A. GEJALA KLINIS 1. Anemia Aplastik Anemia aplastik adalah anemia normokromik normositik yang disebabkan oleh disfungsi sumsum tulang sehingga sel-sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik mungkin hanya mengenai sel-sel darah merah, atau mungkin berkaitan dengan defisiensi semua jenis sel darah (pansitopenia). Penyebabnya adalah perusakan sumsum tulang oleh proses otoimun, kanker sumsum tulang, defisiensi vitamin, berbagai obat, radiasi, atau kemoterapi. Gejala klinis a. Tanda-tanda sistemik anemia yang klasik - Peningkatan kecepatan denyut jantung karena tubuh berusaha memberi oksigen lebih banyak ke jaringan. - Peningkatan kecepatan pernapasan karena tubuh berusaha menyediakan lebih banyak oksigen kepada darah. - Pusing akibat berkurangnya aliran darah ke otak. - Rasa lelah karena meningkatnya oksigenasi berbagai organ termasuk otot jantung dan rangka. - Kulit pucat karena berkurangnya oksigenasi. - Mual akibat penurunan aliran darah saluran cerna dan susunan saraf pusat. - Penurunan kualitas rambut dan kulit. b. Apabila trombosit dan sel darah putih juga terkena, maka ada gejala tambahan - Perdarahan dan mudahnya timbul memar. - Infeksi berulang. - Luka kulit dan selaput lendir yang sulit sembuh. 2. Anemia Sel Sabit Anemia sel sabit adalah suatu gangguan resesif autosom yang disebabkan oleh pewarisan dua salinan gen hemoglobin defektif, satu dari masing-masing orang tua. Hemoglobin yang cacat tersebut, yang diberi nama Hemoglobin S (Hb S), menjadi 14

kaku dan membentuk konfigurasi seperti sabit apabila terpajan oksigen berkadar rendah. Sel darah merah pada anemia sel sabit ini kehilangan kemampuannya berubah bentuk sewaktu melewati pembuluh darah yang sempit sehingga aliran darah ke jaringan di sekitarnya tersumbat. Hal ini menyebabkan iskemia dan infark (kematian sel) di berbagai prgan tubuh, terutama tulang dan limpa. Rangsangan yang sering menyebabkan terbentuknya sel sabit adalah stres fisik, demam, atau trauma. Gejala klinis a. Terdapat tanda-tanda sistemik anemia. b. Nyeri hebat akibat sumbatan vaskular pada serangan-serangan penyakit. c. Infeksi bakteri berulang. d. Splenomegali karena limpa membersihkan sel-sel yang mati. 3. Kwashiorkor Kwashiorkor lebih banyak terdapat pada usia dua hingga tiga tahun yang sering terjadi pada anak yang terlambat menyapih sehingga komposisi gizi makanan tidak seimbang terutama dalam hal protein. Gejala klinis
- Pertumbuhan terhambat

- Otot-otot berkurang dan melemah - Edema terutama pada perut, kaki dan tangan - Muka bulat seperti bulan - Gangguan psikomotor - Anak apatis - Tidak ada nafsu makan - Tidak gembira dan suka merengek - Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman dan terkupas

15

- Rambut mengalami depigmentasi, menjadi lurus, kusam, halus dan mudah rontok. - Hati membesar dan berlemak - Sering disertai : infeksi, anemia, diare

16

BAB VIII TESIS AKHIR

Berdasarkan riwayat penyakit pemeriksaan fisik yang teliti maka dapat ditegakkan diagnosa akhir yaitu : Anemia Hipokromik-mikrositik. Anemia adalah suatu sindroma klinik dimana terjadi penurunan kuantitas dan atau kualitas eritrosit sehingga kapasitas darah untuk melakukan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan oksigen jaringan menurun. Pengurangan massa sel darah merah ini dapat terjadi apabila destruksi atau hilangnya eritrosit melebihi kemampuan sumsum tulang menggantikan sel- sel ini. Karakteristik dan tingkat keparahan anemia ditentukan oleh 3 parameter utama yaitu : Hemoglobin (Hb), jumlah eritrosit itu sendri (RBC), dan Hematokrit (HCT/PCV). Anemia dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Berdasarkan proses/mekanismenya a. b. c. Anemia karena Gangguan produksi = Gangguan pada Sumsul Tulang yang Anemia karena destruksi Eritrosit meningkat = Anemia Hemolitik Anemia karena hilangnya darah = Anemia pada perdarahan akut/kronis menyebabkan An. Aplastik atau gangguan penyediaan eritropoetin

2. Berdasarkan Patofisiologisnya a. b. c. d. Anemia karena gangguan SIH = Anemia Aplastik Anemia karena gangguan proliferasi Normoblast = Anemia Megaloblastik Anemia karena deffisiensi Hb = Anemia deffisiensi Besi Anemia karena peningkatan Hemolisis

3. Berdasarkan morfologi Eritrosit Didasarkan pada hasil indeks eritrosit, yaitu: MCV = Menunjukkan ukuran rata- rata Eritrosit, harga normal : 80-100 fl Menunjukkan ukuran eritrosit yang (mikrositer), atau lebih besar (makrositer) MCH = Jumlah rata- rata Hb dalam Ertrosit, harga normal: 27-32 pg 17 normal (normositer), lebih kecil

Menunjukkan tingkat saturasi Hb oleh eritrosit apakah normal (normokrom), atau lebih sedikit (Hipokrom) MCHC = Konsentrasi rata-rata Hb, harga normal: 30-35% Klasifikasi Anemianya sebagai berikut: a. Anemia Hipkromik Mikrositer (MCV< 80 fl ; MCH< 27 pg ) - Anemia deffisiensi besi - Anemia karena penyakit kronik - Tallasemia - Anemia Sideroblastik b. Anemia Normokromik Normositer (MCV: 80-100 fl ; MCH: 27-32 pg) Anemia Aplastik Anemia Hemolitik Anemia Myeloptisik Anemia pasca perdarahan akut Anemia pada Lekemi akut

c. Anemia Makrositer (MCV > 100 fl) Anemia Megaloblastik Anemia Pernisiosa

Anemia Hipokromik Mikrositer Adalah salah satu jenis anemia dimana ukuran rata- rata yang lebih kecil dari normal dengan massa dan saturasi Hb rata- rata tiap selnya lebih rendah atau kepucatan yang lebih sedikit. Gangguan pada pengadaan Hb untuk sel darah merah merupakan patofisiologi utama pada jenis anemia ini. Hb dibentuk dari heme dan globin, suatu asam amino yang terdapat dalam pool. Heme sendiri dibentuk dari lingkaran protoforfirin yang mengandung Fe di tengahnya. Jadi pengadaan Hb yang kurang dapat disebabkan oleh deffisiensi besi (Fe2+) dan atau asam amino yang membentuk lingkaran protoforfirin dan globin. Akibat kekurangan besi maka eritrosit yang terbentuk menjadi lebih kecil atau mikrositer, hal ini disebabkan hanya sedikit besi yang terikat dalam lingkaran protoporfirin dan enzim penentu kecepatan sintesa Heme (ferokatalase) memerlukan besi untuk menghentikan sintesa heme. Maka apabila terjadi kekurangan besi, pembelahan sel akan berlanjut selama beberapa siklus 18

tambahan dan menghasilkan sel-sel yan lebih kecil. Karena jumlah besi yang tersedia juga kurang memadai, jumlah hemoglobin di setiap sel juga berkurang sehingga terjadi hipokromik. Pada beberapa jenis anemia hipokromik mikrositer, kasus Anemia Deffisiensi Besi merupakan kausa utama penyebab morfologi eritrosit yang demikian. Anemia Defisiensi Besi Merupakan kasus anemia paling sering dijumpai, dimana timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh atau faktor diet yang kurang. Etiologi: 1. Perdarahan kronk - Saluran cerna: tukak peptik, hemoroid, infeksi cacing tambang - Saluran UG wanita: menorrhagi atau metrohagi - Saluran kemih: hematuria 2. Faktor nutrisi Rendah diet tinggi serat, Vitamin C dan makanan yang mengandung protein 3. Kebutuhan yang meningkat Masa kehamilan, atau anak masa pertumbuhan 4. Malabsorbsi besi Gastrektomi, kolitis kronik, atau ulkus peptikum Gejala yang ditimbulkan umumnya sama seperti penderita anemia pada umumnya yaitu pucat pada mukosa bibir, faring, telapak tangan, dasar kuku, konjunctiva, cepat lelah, lesu, sakit kepala dan rasanya mau pingsan. Namun terdapat beberapa gejala khas yang menandai penyakit ini: a. Koilonychia: kuku sendok b. Atrofi papil lidah c. Stomatitis angularis: sariawan di ujung mulut d. Disfagia: nafsu makan menurun e. Atrofi mukosa gaster Kelima gejala ini tidak selalu ada secara bersamaan tetapi salah satunya pasti menyertai keadaan anemia jenis ini. Untuk kasus infeksi cacing tambang yang berhabitat di mukosa usus halus. Cacing dewasa dengan morfologi kepala yang mempunyai gigi penghisap dan alat pengait (bursa copulatrix) akan mengaitkan dirinya di mukosa duodenum atau jejunum (tergantung species cacing 19

tambangnya) untuk memakan sari- sari makanan yang diserap usus, selain itu perlekatannya pada dinding usus akan menyebabkan dinding usus terluka, cedera kapiler usus dan apabila infeksi dilakukan oleh banyak banyak cacing maka akan terjadi perdarahan organ dalam intraluminal intestine, akibatnya seseorang atau anak- anak yang sedang masa pertumbuhan cenderung akan mederita anemia. Dan anemia yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang adalah Anemia Hipokromik Mikrositer. Hasil pemeriksaan Laboratorium untuk menegakkan diagnosis Anemia deffisiensi besi: 1. Penurunan Hb, Hematokrit (HCT), dan indeks eritrosit Penurunan Hb < 10 g/dl, disebabkan karena kurangnya besi yang digunakan untuk sintesa Hb. Penurunan Hematokrit < 40%, karena bentuk eritrosit yang lebih kecil dari normal dalam jumlah sel yang sama dalam keadaan normal maka dapat dipastikan rasio eritrosit per plasma darah akan menurun. Penurunan MCV < 80 fl, MCH < 27 pg, dan MCHC < 30% yang mengindikasikan ukuran eritrosit yang lebih kecil. 2. Eosinofilia pada hitung jenis Leukosit Peningkatan Eosinofil pada kasus Anemia ini disebabkan karena infeksi parasit cacing yang menstimulasi peningkatan jumlah eosinofil dalam fungsinya untuk menghancurkan parasit dengan mekanisme penghancuran ekstraseluler 3. Bentukan Eritrosit yang lebih kecil dengan Central Palor (CP) > garis tengah Peningkatan kepucatan Hb disebabkan oleh penurunan Hb. Hemoglobin yang normala hanya mewarnai 2/3 bagian perifer sel, apabila kadarnya menurun maka kepucatan sel (Central Palor) akan meningkat.

20

4. Penurunan Serum Iron (SI) 5. Peningkatan TIBC (Total Iron Binding Capacity) Karena Besi yang beredar dalam serum sangat sedikit, maka kemampuan transferin untuk mengikat besi akan meningkat. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan besi serum dalam keadaan normal kembali. 6. Penurunan Feritin (dalam serum/sumsum tulang) Feritin adalah suatu protein yang terdapat dalam serum ataupun sumsum tulang. Dimana pada keadaan normal akan berikatan dengan besi dan sifatnya lebih sebagai simpanan simpanan besi bukan untuk pengikatan besi seperti yang dilakakan oleh Transferin. Penurunan Feritin mengindikasikan penurunan jumlah simpanan besi dalam serum ataupun dalam sumsum tulang. 7. Pemeriksaan simpanan besi dalam Sumsum Tulang Pada hapusan sumsum tulang dengan pengecatan Bryliant Cresyl Blue akan didapatkan penurunan jumlah besi jaringan dengan warna kuning kecoklatan.

21

PATOMEKANISME Injury pada mukosa usus

Infeksi cacing tambang Memakan sari- sari makanan (tertutama zat besi)

Deffisiensi Fe

Fe yang masuk lingkaran protoporfirin

Gangguan fungsi enzim ferokatalase

Hb yang terbentuk

bentuk Eritrosit yang dihasilkan lebih kecil Bentuk Eritrosit lebih kecil dengan kepucatan yang lebih besar dari normal (CP > garis tengah)

Ikatan HbO2

Oksigenasi Jaringan

Cepat lelah, letih, lesu

22

BAB IX MEKANISME DIAGNOSIS

Anamnesa

Keluhan Utama

Lelah

Riwayat Penyakit Sekarang

-dirasakan sejak 3 minggu -disertai pusing dan mau pingsan - cepat lelah pada aktivitas yang agak berat - Berat badan menurun -Nafsu makan menurun - Ada sesak nafas - Ada bintik- bintik merah di sekujur tubuh dan gatal

DD: -Anemia -Hipotensi - Penurunan CO -Hipotiroid DM tipe II

Riwayat Penyakit Dahulu

Sebelumnya tidak pernah kena penyakit yang seperti ini

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Sosial

Adik pernah menderita penyakit yang sama - Lingkungan perkebunan - Sanitasi kurang -BAB di tanah -Sering main tanpa alas kaki Curiga infeksi cacingan

23

Pemeriksaan Fisik

Vital Sign : Suhu = 370C Tekanan Darah = 100/60 mmHg RR = 18 kali/menit Denyut Nadi = 90 kali/menit

Kepala: a/ic/d = +/-/-/Leher: Tanpa pembesaran KGB

Thorax: -Cor : S1,S2 normal Nyeri dada (-) - Pulmo : Suara vesikuler, ronki (-), Wheezing (-) Abdomen: -Simetris -Tidak ada pembesaran organ vital -Tidak ada meteorismus -Bising usus Normal Genital: Normal Ekstremitas: -Acral hangat - tanpa edema extremitas

24

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Darah Lengkap

Serum

Feses

-Penurunan Hb, HCT dan indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) -diff.count: shift to the left

-Serum Iron (SI) menurun -Peningkatan TIBC

-Ditemukan telur cacing

Anemia Deffiseinsi Besi Akibat Infeksi Cacing Tambang

25

BAB X METODE TERAPI

A. Tujuan Penatalaksanaan Tujuan pengobatan Anemia Hipokromik-mikrositik adalah untuk melakukan proses penyembuhan serta untuk menjaga kondisi berat badan anak tersebut. B. Prinsip Tindakan Medis 1. Melakukan proses penyembuhan a. Medica mentosa obat cacing : - Albendazole single dose of 400 mg po - Mebendazole 100 mg po bid selama 3 hari - Pyrantel pamoate 11mg/kg po sekali sehari (maksimum 1 gram) untuk 3 hari obat gatal : - Antihistamin - hidroksizina dihidroklorida 50-100 mg per hari - difenhidramina 5 mg/kgBB/hr dgn dosis maksimal 300 mg/hr. vitamin : - Asam Askorbat 3x100 mg/hr b. Suportif Ditujukan untuk memberi asupan gizi yang cukup terutama zat besi yang banyak hilang selama terjadi anemia: - Makanan tinggi karbohidrat: Nasi, umbi- umbian, kacang- kacangan, mie, roti, dan sebagainya. - makanan tinggi protein: daging, ikan, telur, kacang kedele, susu, gandum, jagung, dsb. - makanan tinggi zat besi, misalnya sayur bayam - makanan tinggi vitamin C: buah- buahan seperti jeruk, belimbing, dsb. Selain status gizi faktor dari sanitasi lingkungan juga perlu diperhatikan dimana perlu memberikan edukasi pentingnya memelihara kesahatan pada lingkungan sekitar seperti, selalu memakai alas kaki, buang air besar pada tempatnya yaitu 26

jamban dan tidak pada tanah, serta selalu melakukan kegiatan gotong royong untuk pembersihan lingkungan. c. Pemantauan Setelah diberikan terapi hendaknya pasien si anak perlu dipantau kondisi kesehatannya dengan cara menyuruhnya untuk datang kembali dalam kurun waktu 2 minggu setelah pengobatan dilakukan. Hal ini untuk mengetahui kondisi atau perkembangan kesehatan si anak setelah diterapi. 2. Memperhatikan kondisi berat badan Setelah diterapi dan diberikan tindakan suportif berupa peningkatan asupan gizi si anak maka diharapkan berat badan yang tadinya menurun dapat meningkat kembali sesuai dengan standar usianya

27

BAB XI PROGNOSA DAN KOMPLIKASI

Komplikasi Untuk penderita cacing tamabang, apabila keadaan berlangsung kronik dapat terjadi suatu pneumonitis. Hal ini diakibatkan oleh migrasinya larva cacing melalui pembuluh darah atau sirkulasi hingga akhirnya menembus kapiler paru. Prognosis Dalam kasus ini prognosis dapat dikatakan baik apabila terapi yang diberikan sesuai dengan penyebab terjadinya anemia dan suportif yang diberikan kepada pasien dilakukan dengan baik oleh si pasien. Sedangkan, apabila terapi yang diberikan tidak sesuai dan pada saat monitoring datang dengan sejumlah komplikasi sehingga mempersulit kemungkinan untuk sembuh secara total.

28

DAFTAR PUSTAKA

Burnside, Mc Glynn. 1995. Adams Diagnosis Fisik. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Elizabeth J.Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Guyton, Arthur C., Hall, John E. 2007. Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Laboratorium Anatomi FK UWKS. 2008. Anatomi 2. Fakultas Kedokteran UWKS : Surabaya. Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Ketiga. Media Aesculapius : Jakarta. Sacher, Ronald A. dan Mc Pherson Richard A. 2007. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

29